Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS KASUS

TESLA MOTORS STRATEGY TO REVOLUTIONIZE THE GLOBAL


AUTOMATIVE INDUSTRY

TUGAS STRATEGIC MANAGEMENT

OLEH :
IDAYU RAHMADEWI (16/402020/PEK/21555)
EKO PUTRI SETIANI (16/402009/PEK/21544)

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2016
ANALISIS SWOT
1. Strength:

a. Memiliki pengalaman yang baik dalam industri otomotif global yang fokus
terhadap mobil listrik.
b. Memiliki CEO dengan pengalaman yang sangat baik, Elon Musk sebelumnya telah
menemukan PayPal dan SpaceX, ia memililki track record yang baik.
c. Tesla Motor dapat mendesain mobil listrik yang hebat. Mobil model S yang
diproduksi Tesla di tahun 2013 memenangkan penghargaan sebagai Trends Car of
the Year.
d. Mobil listrik yang diproduksi Tesla Motor merupakan mobil ramah lingkungan,
dimana menggunakan energi listrik sehingga tidak mengeluarkan emisi karbon.
2. Weakness:
a. Tesla motor hanya mengeluarkan mobil listrik, dan masyarakat di dunia masih
banyak yang belum mengenal mobil listrik.
b. Supercharger station untuk mengisi batrai mobil listrik masih sedikit, Tesla Motor
sudah berupaya untuk membangun Supercharger station, ini mirip dengan SPBU
namun khusus untuk mobil listrik.
c. Kurangnya pengenalan brand name dari Tesla Motor, dibandingkan dengan
kompetitornya, Tesla belum banyak dikenal di industri otomotif.
3. Opportunities:
a. Harga bahan bakar minyak terus naik, karena supply minyak yang terbatas dan
merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Karena itu mobil
listrik merupakan pilihan yang cocok sebagai pengganti mobil berbahan bakar
minyak. Sehingga mobil listrik merupakan kendaraan yang lebih efisien.
b. Masyarakat semakin peduli dengan lingkungan, karena mobil listrik ini ramah
lingkungan maka hal tersebut menjadi nilai tambah bagi Tesla Motor.
c. Potensi penjualan di pasar Internasional melalui franchise, penjualan di Amerika
Serikat cukup baik, maka tidak menutup kemungkinan untuk menjual mobil listrik
ini di pasar internasional seperti ke negara eropa maupun asia.
d. Adanya dukungan dari berbagai pihak untuk menciptakan kendaraan yang ramah
lingkungan. Hal ini berkaitan dengan pemanasan global yan semakin mengancam
bumi, sehingga perlu adanya tindakan untuk mengurangi pemanasan global
tersebut.
4. Threats:
a. Memiliki kompetitor yang sangat kuat. Banyak perusahaan otomotif yang telah ada
seperti dan Lexus yang mulai merilis kendaraan yang ramah lingkungan. Beberapa
perusahaan tersebut memiliki modal yang lebih banyak dari pada Tesla Motor.
Selain itu perusahaan kopetitor tersebut juga masih memproduksi kendaraan
berbahan bakar minyak, selagi bahan bakar tersebut harganya tidak naik, maka
perusahaan tersebut tetap mendapat keuntungan.

b. Perekonomian dunia masih lemah, sedangkan mobil listrik membutuhkan biaya


yang cukup mahal.
c. Membutuhkan perubahan kebiasaan dari konsumer, ketika menggunakan mobil
listrik maka perlu waktu beberapa jam untuk mengisi batrai, berbeda dengan mobil
berbahan bakar minyak yang hanya perlu beberapa menit untuk pengisian bahan
bakar.
FIVE FORCE ANALYSIS
1. Competition from rival seller
a. Industri manufaktur yang sudah ada mencoba untuk ikut membuat mobil listrik,
namun karena Tesla Motor memiliki pengalaman yang lebih banyak, maka mereka
kalah dengan mobil listrik milik Tesla Motor.
b. Banyak kompetitor yang memproduksi mobil berbahan bakar minyak.
c. Belum ada kompetitor yang berfokus pada produksi mobil listrik
Jadi, kompetisi dengan pesaing: sangat rendah.
2. Competition from potential new entrants
a. Memerlukan biaya yang tinggi untuk memproduksi mobil listrik, sehingga indutri
otomotif perlu berpikir ulang untuk mengembangkan mobil listrik.
b. Pengisian batrai pada mobil listrik memerlukan waktu yang lama sehingga
membuat mobil ini tidak atraktif dibandingkan mobil berbahan bakar minyak. Hal
ini membuat industri otomotif lebih tertarik memproduksi mobil berbahan bakar
minyak.
c. Perlu pembangunan infrastruktur untuk membuat supercharger station, hal ini
membuat indutri otomotif berpikir ulang untuk memproduksi mobil listrik.
Jadi, kompetisi dengan pendatang baru: rendah.
3. Competition from producers of substitute product
a. Hanya 1% mobil listrik yang diproduksi dari total industri mobil yang ada.
Walaupun mobil listrik sudah mulai dikenal, namun belum bisa mengalahkan mobil
listrik berbahan bakar minyak.
b. Mobil berbahan bakar minyak secara umum lebih murah dibandingkan mobil
listrik, apalagi belum adanya infrastruktur supercharger station untuk mobil listrik,
sehingga konsumen berpikir ulang untuk membeli mobil listrik.
Jadi, kompetisi dengan produk subtitusi: sangat tinggi.
4. Supplier bargaining power

a. Pemasok batrai sangat sedikit, perlu biaya dan teknologi yang tinggi untuk bisa
memproduksi batrai dengan kualifikasi yang tinggi.
b. Pemasok supercharhing station juga masih sangat sedikit, perlu infrastruktur dan
biaya yang tinggi untuk bisa membangun supercharger station ini.
c. Pemasok komponen mobil listrik juga masih sangat sedikit, bahkan hanya Tesla
yang berfokus memproduksi komponen yang dibutuhkan mobil listrik.
Jadi, daya tawar menawat pemasok: sangat tinggi
5. Customer bargaining power
a. Produk yang ditawarkan sangat beragam, hal ini membuat customer bebas memilih
merk dan spesifikasi mobil yang diinginkan.
b. Kualitas produk seperti jarak tempuh, umur batrai, kenyamanan dan style dari
mobil listrik merupakan hal penting untuk diperhatikan pembeli.
c. Pembeli bebas mengganti mobil, dan harga yang ditawarkan memiliki rentang yang
serupa, sehingga pembeli mudah membandingkan antar mobil.
Jadi, daya tawar menawar pembeli: tinggi

GENERIC COMPETITIVE STRATEGIES


1. Cost Leadership
Mobil listrik memerlukan biaya yang tinggi dalam produksinya, hal ini tidak mungkin untuk
berkompetisi dengan mobil murah yang berbahan bakar minyak. Namun, Tesla Motor telah
melakukan beberapa strategi untuk meminimalisasi biaya yang dikeluarkan. Salah satu caranya
adalah dengan menekan biaya lithium-ion battery pack, karena komponen ini yang paling
mahal. Selain itu, untuk strategi Supply Chain, Tesla Motor yang awalnya memiliki lebih dari
300 supplier dari komponen mobilnya mulai membuat single source supplier, ini diperkirakan
akan selesai antara satu sampai dua tahun. Tesla Motor juga menggabungkan retail stores dan
service center untuk mobil listrik, hal ini dilakukan untuk meminimalisasi biaya inventory.
Tahun 2014 Tesla Motor melakukan kerja sama dengan Panasonic Corp., Daimer AG (induk
dari Mercedez-Benz) dan Toyota Motor Corp., kerja sama ini dilakukan untuk menciptakan
mobil listrik dengan biaya yang lebih efisien. Dan pada akhirnya Tesla Motor berhasil
memproduksi mobil listrik dengan harga yang tidak beda jauh dengan Nissan, Chevrolet, Ford,
BMW dll namun memiliki jarak tempuh yang lebih jauh dibandingkan mobil-mobil tersebut.
2. Differentiation
Tesla Motor hanya membuat mobil listrik yang ramah lingkungan. Berbeda dengan industri
otomotif lain yang juga memproduksi mobil berbahan bakar minyak. Tesla telah
memperkenalkan dua jenis mobil listrik, yaitu Tesla Roadster dan Model S. Penjualan Roadster
berakhir pada Desember 2012, dan setelah itu Tesla Motor hanya memproduksi dan

memasarkan Model S. Model S ini lebih unggul dari pada model sebelumnya. Hal ini terbukti
dengan diperolehnya penghargaan sebagai Car of the Year tahun 2013 oleh automobile
magazine. The National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) tahun 2013 juga
memberikan bintang 5 atas safety riding pada mobil Model S ini. Dari penelitian kepada para
konsumer juga memperoleh nilai 99 dari 100 poin atas mobil Model S ini. Tesla motor juga
membuat design dan engineering mobil yang berbeda dari mobil lain, ia membuat mobil listrik
lebih menarik, bahkan ia mengangkat mantan eksekutif Apple untuk menjadi senior direktur
dalam mendesain mobil listrik Tesla Motor.
3. Focus
Tesla Motor berfokus pada customer yang green-minded, untuk itu ia berfokus pembuatan
mobil listrik saja. Individu yang mulai sadar akan bahaya emisi karbon maka akan berpindah
dari mobil yan berbahan bakar minyak ke mobil listrik yang ramah lingkungan. Tesla Motor
berfokus pada tujuan jangka panjang, yaitu dengan mempertahankan image dan reputasi
perusahaan. Tesla Motor juga menjalin hubungan baik dengan customer untuk membangun
brand loyalty. Pada akhirnya Tesla Motor berharap individu semakin banyak memilih mobil
listrik yang ramah linkungan, sebagai alternatif untuk mengurangi pemanasan global.