Anda di halaman 1dari 20

penyuluhperikanan-wk.weebly.com/materi-penyuluhan-perikanan.

html

Pembenihan Ikan Gurami

Ikan Gurame (Osphronemus goramy) dikenal sebagai ikan air tawar yang sangat
populer
dan
digemari
oleh
masyarakat
umumnya
bahkan
sampai
diseluruh Asia Tenggara dan Asia Selatan. Ikan Gurame ini merupakan keluarga
Anabantidae, keturunan Helostoma dan bangsa Labyrinthici, berasal dari perairan
daerah Sunda (Jawa Barat,Indonesia), dan menyebar ke Malaysia, Thailands,
Ceylon dan Australia.
Mengingat ikan gurame ini enak dan lezat rasanya maka tidak heran jika
perminataan dari para konsumen semakin banyak dan bertambah bahkan hingga
kini Ikan gurami merupakan ikan yang cukup istimewa dan menjadi ikan faforit
sebagai rajanya ikan air tawar.
Untuk postingan kita pada kesempatan ini penyuluh akan menjelaskan tentang
Usaha Pembenihan Ikan gurami.

Kegiatan usaha pembenihan ikan Gurami ini memegang peranan penting dalam
penyediaan benih yang akan dibesarkan sampai ukuran konsumsi. Pada umumnya
Kendala pembenihan gurami di kolam adalah tingginya tingkat mortalitas, terutama
dari larvahasil tetasan sampai benih ukuran 1 cm. Salah satu cara mengatasinya
adalah dengan penerapan teknik memelihara benih kecil (larva) dengan
menggunakan akuarium, bak semen atau paso seperti halnya pada ikan hias.
Dengan teknik ini maka semua tahap pembenihan mulai dari penetasan telur sampai

pendederan benih dapat dikontrol secara efektif. Penggunan air dengan kualitas
yang baik menjadi penunjang keberhasilan pembenihan gurami.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam usaha pembenihan khususnya ikan
Gurame adalah sebagai berikut:
1. Persiapan Kolam Pemijahan
Persiapan kolam untuk pemijahan induk ikan gurami meliputi :
a. Pengeringan kolam
Sebelum dilakukan pemijahan kolam perlu dikeringkan terlebih dahulu. Pengeringan
kolam pemijahan sebaiknya dilakukan selama 2 3 hari. Adapun maksud dan tujuan
dari pada pengeringan kolam ini adalah untuk:
1. Membunuh hama dan sumber penyakit yang terdapat pada kolam.
2. Menghilangkan nitrit yang ada di dasar kolam,
3. Memberikan suasana baru bagi induk ikan gurami yang akan dipijahkan, karena
tanah yang kering akan memiliki bau yang khas saat terendam air yang akan
merangsang induk ikan untuk memijah, dan menumbuhkan kelekap (plankton) di
pinggir-pinggir kolam sebagai persediaan pakan bagi induk gurami, dan induk siap
dimasukkan ke kolam pemijahan.
b. Pembersihan
Sebelum
pemijahan
dilakukan
Kolam
juga
perlu
dilakukan
Pembersihan termasuk pada pematang yang dimulai dari rumput-rumput liar agar
tidak dijadikan tempat penempelan sarang telur oleh induk gurami atau tempat
persembunyian hama pengganggu dan juga supaya bersih dari gangguan hama
penyakit.
c. Pengisian air kolam
Pengisian air kolam ini dilakukan dengan ketinggian 70 100 cm, sehingga gurami
memerlukan perairan yang airnya relatif dalam bagi pergerakannya tersebut.
d. Memasang kerangka sarang dan bahan pembentuk sarang,
Memasang kerangka sarang dan bahan pembentuk sarang serta tidak jauh dari
sosog, dibuat para-para daribambu untuk meletakkan ijuk, sabut kelapa atau bahan
sejenis yang dapat dijadikan sarang oleh induk gurami untuk memudahkan induk
gurami membuat sarang dan meletakkan telur.
2. Seleksi Induk
Gurami yang akan dijadikan induk berumur kurang lebih 4 tahun dengan berat 2 3
kg untuk jantan, dan umurminimal 3 tahun dengan berat 2 2,5 kg untuk betina
Masa produksi optimal induk betina berlangsung selama 5 7 tahun.
Ciri-ciri fisik induk jantan dan betina pada ikan gurami :
a. Induk gurami jantan : dahi menonjol (nonong), dagu tebal (lebih menonjol), perut
meruncing, susunan sisik normal (rebah) gerakan lincah.
b. Induk gurami betina : dahi lebih rata (tidak ada tonjolan), dagu tidak menebal,
perut membundar, susunan sisik agak terbuka, gerakan agak lamban.

Kriteria kualitatif
a. Warna : badan berwarna kecoklatan dan bagian perut berwarna putih keperakan
atau kekuning-kuningan.
b. Bentuk tubuh : pipih vertikal.
c. Asal : hasil pembesaran benih sebar yang berasal dari induk ikan kelas induk
dasar.
d. Kesehatan : anggota atau organ tubuh lengkap, tubuh tidak cacat dan tidak ada
kelainan bentuk, alat kelamin tidak cacat (rusak), tubuh bebas dari jasad patogen,
insang bersih, tubuh tidak bengkak/memar dan tidak berlumut, tutup insang normal
dan tubuh berlendir
Kriteria kuantitatif
a. Umur : Jantan (24-30 bulan) dan betina (30-36 bulan)
b. Panjang standar : jantan (30-35 cm) dan betina (30-35 cm)
c. Bobot badan : jantan (1,5-2,0 kg)dan betina (2,0-2,5 kg)
d. Fekunditas : 1.500-2.500 butir/kg (betina)
e. Diameter telur : 1,4-1,9 mm (betina)
3. Pemijahan
Induk dapat dipelihara pada kolam tembok/ tanah, baik secara massal maupun
berpasangan dengan sistemsekat. Kolam pemeliharaan induk sekaligus berfungsi
untuk kolam pemijahan dengan kepadatan penebaran 1 ekor/m2. Untuk kegiatan
pemijahan dapat menggunakan perbandingan induk jantan : betina = 1 : 3-4.
Pakan yang diberikan berupa pelet terapung (kadar protein 28% sebanyak 2%
biomass/hari dan daun sente/talas sebanyak 5% bobot biomass/hari.
Untuk memudahkan induk jantan membangun sarang, kolam induk diberi tempat
dan bahan sarang.
Tempat sarang berupa keranjang plastik bulat diameter 20-25 cm atau tempat lain
yang serupa yang ditempatkan pada kedalaman 10-15 cm dibawah permukaan air.
Induk jantan akan mencari tempat yang aman dan tenang untuk membuat sarang
sebagai tempat menyimpan telur, dengan memungut bahan sarang (ijuk, sabut
kelapa dll) yang telah dipersiapkan di atas permukaan kolam.
Sarang yang telah berisi telur dapat ditandai bila pada permukaan air di atas sarang
terdapat lapisan minyak. Lapisan minyak tersebut berasal dari telur-telur yang
pecah. Selain itu sarang yang telah berisi telur biasanya tertutup bahan sarang
( ijuk ) yang dibuat oleh induk jantan, dan induk jantan akan menjaga sarang
tersebut. Sarang yang telah berisi telur dipindahkan ke dalam waskom atau ember
untuk diambil telurnya dan selanjutnya memindahkan telur ke tempat penetasan.
4. Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva

Bila sudah dipastikan bahwa sarang sudah berisi telur,


maka sarang dapat dipanen untuk dipindahkan ke tempat penetasan telur. Panen
dilakukan dengan mengangkat sarang secara hati-hati ke dalam ember yang berisi

air kolam. Penggunaan air kolam dimaksudkan agar kondisi air tidak berubah (sama)
untuk mengurangi kematian telur.
Untuk membedakan telur yang hidup dan mati dapat dilihat dari warnanya. Telur
yang hidup berwarna kuning cerah bening atau transparan, telur yag mati/rusak
berwarna kusam, kuning muda agak keputih-putihan.
Telur mengalami kematian karena tidak dibuahi. Telur tersebut dengan cepat
diserang cendawan berwarna putih yang disebut Saprolegnia. Setelah terserang,
telur mati akan membusuk dan akan mengganggu perkembangan telur yang hidup.
Wadah penetasan yang digunakan bisa berupa bak-bak atau ember plastik, paso,
atau akuarium. Kepadatan telur 150-175 butir per liter. Wadah penetasan ini telah
dipersiapkan 1-2 hari sebelumnya dengan diisi air kolamdan air bersih. Ketinggian
air disarankan sekitar 20 cm, kemudian diberi larutan methylene blue sebanyak 1 cc/
liter untuk mensucihamakan air di wadah penetasan. Sehari sebelum telur
dimasukkan, air dalam bak penetasan diaerasi terlebih dahulu agar cukup
mengandung oksigen. Telur akan menetas dalam waktu 30 36 jam.
Setelah telur menetas, terbentuk larva yang masih mempunyai kantong kuning telur.
Kuning telur akan habis 10 - 12 hari kemudian dan pada saat itulah larva mulai
membutuhkan pakan yang disesuaikan dengan bukaan mulut ikan..
Fitoplankton dan zooplankton merupakan pakan alami yang dapat diperoleh dengan
cara memupuk kolam dengan pupuk kandang, misalnya kotoran ayam pedaging.
Pakan selanjutnya yang diberikan pada larva adalah cacing sutera, dapat pula
diberikan pelet yang dihaluskan, agar ukurannya sesuai dengan bukaan mulut ikan
5. Parameter Kualitas Air
Dalam SNI : 01-6485.3-2000 tentang Produksi Benih Ikan Gurami Kelas Benih
Sebar disebutkan bahwa kualitas air media untuk :
a. Media pemijahan
1. Suhu : 25C - 30C
2. Nilai pH : 6,5 8,0
3. Laju pergantian air : 10 % - 15 % per hari
b. Media penetasan telur
1. Suhu : 29C - 30C
2. Nilai pH : 6,7 8,6
3. Waktu penetasan telur : 36 48 jam
4. Ketinggian air : 15 cm 20 cm
c. Media pemeliharaan larva
1. Suhu : 29C - 30C
2. Nilai pH : 6,5 8,0
3. Ketinggian air : 15 cm 20 cm
d. Media Pendederan Benih
1. Suhu : 25C - 30C
2. Nilai pH : 6,5 8,5
3. Ketinggian air : 40 cm 60 cm

4. Kecerahan : > 30 cm
Bagi
anda
yang
ingin
Mengetahui Tehnik
Gurami silahkan Klik DISINI

Budidaya

Ikan

Demikian sampai disini dulu semoga bermanfaat

Tehnik Budidaya Ikan Gurami

Sejalan dengan Program kementerian Kelautan dan


Perikanan dalam rangka mewujudkan Visi dan misinya Yaitu Indonesia sebagai penghasil
produk perikanan terbesar di Dunia hingga tahun 2015, maka banyak sekali kegiatan yang
harus dilakukan, mulai dari sistim Penangkapan hingga pada sistim Budidayanya, sehingga
semua akan tercapai sebagaimana mestinya.
Salah satu yang harus dilakukan guna tercapainya Visi dan Misi tersebut adalah dengan
memberikan informasi teknologi yang harus disosialisasikan kepada masyarakat, sehingga
akan mempermudah bagi mereka dalam mengetrapkan teknologi perikanan yang di
inginkan sesuai dengan kebutuhan mereka. Oleh karena itu postingan kali ini saya sajikan
dengan mengambil judul " Tehnik Budidaya Ikan Gurami".
Postingan ini diharapkan akan dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan atau
wawasan bagi siapa saja yang ingin atau sedang mencari informasi tentang tehnik
Budidaya tersebut, demikian kiranya semoga ada juga manfaatnya.

1.SEJARAH SINGKAT
Gurame merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, bentuk badan pipih lebar, bagian
punggung berwarna merahsawo dan bagian perut berwarnakekuning-kuningan/ keperakperakan. Ikan gurame merupakan keluarga Anabantidae, keturunan Helostoma dan bangsa
Labyrinthici. Ikan gurami berasal dari perairan daerah Sunda (Jawa Barat, Indonesia), dan
menyebar ke Malaysia, Thailands, Ceylon dan Australia. Pertumbuhan ikan gurame agak
lambat dibanding ikan air tawar jenis lain. Di Indonesia, orang Jawa menyebutnya gurami,
Gurameh, orang Sumatra ikan kalau, kala, kalui, sedangkan di Kalimantan disebut Kalui.
Orang Inggris menyebutnya Giant Gouramy, karena ukurannya yang besar sampai
mencapai berat 5 kg.

2. SENTRA PERIKANAN

Daerah di Indonesia yang menjadi sentra perikanan yaitu: Sumatera, NTB dan Jawa.
Sedangkan di luar negeri yaitu: Thailand, Jepang dan Filipina.

3. JENIS
Klasifikasi ikan gurame adalah sebagai berikut:
1.

Klas : Pisces

2.

Sub Kelas : Teleostei

3.

Ordo : Labyrinthici

4.

Sub Ordo : Anabantoidae

5.

Famili : Anabantidae

6.

Genus : Osphronemus

7.

Species : Osphronemus goramy (Lacepede)

Jenis gurami yang sudah dikenal masyarakat diantaranya: gurami angsa, gurami jepun,
blausafir, paris, bastar dan porselen. Empat terakhir banyak dikembangkan di Jawa Barat,
khususnya Bogor. Dibanding gurame jenis lain, porselen lebih unggul dalam menghasilkan
telur. Jika induk bastar dalam tiap sarangnya hanya mampu menghasilkan 2000-3000 butir
telur, porselen mampu 10.000 butir. Karena itu masyarakat menyebutnya sebagai top of the
pop, dan paling banyak diunggulkan.

4. MANFAAT
Sebagai sumber penyediaan protein hewani.

5. PERSYARATAN LOKASI
1.

Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak
berporos dan cukup mengandung humus. Jenis tanah tersebut dapat menahan
massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding
kolam.

2.

Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk
memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.

3.

Ikan gurame dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian
50-400 m dpl.

4.

Kualitas air untuk pemeliharaan ikan gurame harus bersih dan dasar kolam tidak
berlumpur, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan
minyak/limbah pabrik.

5.

Kolam dengan kedalaman 70-100 cm dan sistem pengairannya yang mengalir


sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan gurame. Untuk
pemeliharaan secara tradisional pada kolam khusus, debit air yang diperkenankan
adalah 3 liter/detik, sedangkan untuk pemeliharaan secara polikultur, debit air yang
ideal adalah antara 6-12 liter/detik.

6.

Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 6,5-8.

7.

Suhu air yang baik berkisar antara 24-28 derajat C.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA


1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1. Kolam
Jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan gurame antara lain:

2. Kolam penyimpanan induk


Kolam ini berfungsi untuk menyimpan induk dalam mempersiapkan kematangan telur dan
memelihara kesehatan induk, kolam berupa kolam tanah yang luasnya sekitar 10 meter
persegi, kedalamam minimal 50 cm dan kepadatan kolam induk 20 ekor betina dan 10 ekor
jantan.

Kolam pemijahan
Kolam berupa kolam tanah yang luasnya 200/300 meter persegi dan kepadatan kolam induk
1 ekor memerlukan 2-10 meter persegi (tergantung dari sistim pemijahan). Adapun syarat
kolam pemijahan adalah suhu air berkisar antara 24-28 derajat C; kedalaman air 75-100 cm;
dasar kolam sebaiknya berpasir. Tempatkan sarana penempel telur berupa injuk atau
ranting-ranting.

Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan


Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam antara 30-50 cm.
Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama pemeliharaan di dalam kolam
pendederan/ipukan antara 3-4 minggu, pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.

Kolam pembesaran

Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan membesarkan benih
selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam pemeliharaan ini diperlukan beberapa
kolam jaring 1,251,5 cm. Jumlah penebaran bibit sebaiknya tidak lebih dari 10 ekor/meter
persegi.

Kolam/tempat pemberokan
Merupakan tempat pembersihan ikan sebelum dipasarkan Adapun cara pembuatan kolam
adalah sebagai berikut:
1.

Ukurlah tanah 10 x 10 m (100 m 2 ).

2.

Buatlah pematangnya dengan ukuran; bagian atas lebarnya 0,5 m, bagian bawahnya
1 m dan tingginya 1 m.

3.

Pasanglah pipa/bambu besar untuk pemasukan dan pengeluaran air. Aturlah tinggi
rendahnya, agar mudah memasukkan dan mengeluarkan air.

4.

Cangkullah tanah dasar kolam induk agar gembur, lalu diratakan lagi. Tanah akan
jadi lembut setelah diairi, sehingga lobang-lobang tanah akan tertutup, dan air tidak
keluar akibat bocor dari pori-pori itu. Dasar kolam dibuat miring ke arah pintu keluar
air.

5.

Buatlah saluran ditengah-tengah kolam induk, memanjang dari pintu masuk air ke
pintu keluar. Lebar saluran itu 0,5 m dan dalamnya 15 cm.

6.

Keringkanlah kolam induk dengan 2 karung pupuk kandang yang disebarkan merata,
kemudian air dimasukkan. Biarkan selama 1 minggu, agar pupuk hancur dan
meresap ke tanah dan membentuk lumut, serta menguji agar kolam tidask bocor.
Tinggi air 0,75-1 m.

Peralatan
Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan gurame diantaranya adalah:
jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu untuk menampung sementara induk
maupun benih), seser, ember-ember, baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil
(gram) dan besar (Kg), cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur
kadar kekeruhan. Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap
ikan gurame antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan panglembangan
diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba
kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk
tempat penempelan telur yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan
telur secara terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan penyabetan
dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk menangkap
benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap ikan), lambit dari jaring nilon
(untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur

satu minggu keatas), seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring
berbentuk segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).

Pembibitan
Pemilihan IndukCiri-ciri induk ikan gurame yang baik adalah sebagai berikut:
1.

Memiliki sifat pertumbuhan yang cepat.

2.

Bentuk badan normal (perbandingan panjang dan berat badan ideal).

3.

Ukuran kepala relatif kecil

4.

Susunan sisik teratur,licin, warna cerah dan mengkilap serta tidakluka.

5.

Gerakan normal dan lincah.

6.

Bentuk bibir indah sepertipisang, bermulut kecil dan tidak berjanggut.

7.

Berumur antara 2-5 tahun.


Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah sebagai berikut:

Betina
1.

Dahi meninjol.

2.

Dasar sirip dada terang gelap kehitaman.

3.

Dagu putih kecoklatan.

4.

Jika diletakkan pada tempat datar ekor hanya bergerak-gerak.

5.

Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.

Jantan
1.

Dahi menonjol.

2.

Dasar sirip dada terang keputihan.

3.

Dagu kuning.

4.

Jika diletakkan pada tempat datar ekor akan naik.

5.

Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.

Pemeliharaan Induk
Induk-induk terpilih (20-30 ekor untuk kolam seluas 10 m 2 ) disimpan dalam kolam
penyimpanan induk. Beri makanan selama dalam penampungan. Untuk setiap induk dengan
berat antara 2-3 kg diberi makanan daun-daunan sebanyak 1/3 kg setiap hari pada sore

hari. Makanan tambahan berupa dedak halus yang diseduh air panas diberikan 2 kali
seminggu dengan takaran 1/2 blekminyak tanah setiap kali pemberian.

Pembenihan
Bila proses pematangan gonada (kandung telur dan sperma) di kolam penampungan sudah
mencapai puncaknya, induk segera dimasukkan dalam kolam pemijahan. Adapun cara
pemijjahan ikan gurame adalah sebagai berikut:
1.

Kolam dikeringkan terlebih dahulu selama 5 hari, perbaiki tanggul dan dasar kolam.

2.

Lakukan pengapuran dan pemupukan. Pemupukan dasar dengan pupuk kandang


dosis 7,5 kg/100 meter persegi dan biarkan selama 3 hari.

3.

Tanami dasar kolam dengan tanaman ganggang buntut anjng

4.

Isikan air yang telah dicampur dengan pupuk buatan TSP sebantak 500 gram/100
meter persegi, biarkan selama 1 minggu kemudian isikan air hingga kedalaman 75
cm.

5.

Untuk kolam seluas 100 meter persegi bisa disebar induk sebanyak 30 ekor betina
dan 10 ekor jantan. Setelah pemijahan berlangsung, 1-2 hari induk betina akan
melepaskan telur-telurnya ke dalam sarang yangkemudian disemproti sperma oleh si
jantan sehingga terjadi pembuahan sel telur. 20-30 hari kemudian, induk-induk yang
terpelihara baik akan berpijah lagi dan beberapa hari kemudian telur akan menetas.

Pemeliharaan Bibit
Benih-benih yang telah berumur 1-2 bulan sejak menetas dapat dibesarkan pada kolam
pendederan atau disawah sebagai penyelang. Dalam pelaksanaan pendederan adalah
melakukan pengeringan kolam atau sawah, pemupukan, perbaikan pematang dan
pemasangan saringan atau perbaikan pipa-pipa pada pintu pemasukan atau pengeluaran
air. Setelah persiapan selesai, benih ditebarkan dengan kepadatan 30 ekor/meter persegi
dengan ukuran benih 5-10 cm pada kolam pendederan. Makanan yang dapat diberikan
selama pemeliharaan adalah rayap atau daun-daunan yang telah dilunakkan dengan dosis
20-30% berat badan rata-rata. Makanan tambahan berupa dedak halus yang diseduh air
panas diberikan 1 kali seminggu dengan takaran 1 blek minyak tanah untuk 100 ekor benih.
Lamanya pendederan sekitar 1-2 bulan.

Pemeliharaan Pembesaran
Pemeliharaan pembesaran dapat dilakukan secara polikultur maupun monokultur.

Polikultur

Ikan gurame dipeliharan bersama ikan tawes, ikan mas, nilem, mujair atau lele. Cara ini
lebih menguntungkan karena pertumbuhan ikan gurame yang cukup lambat.

MonokulturPada pemeliharaan gurame tersendiri, bibit yang disebar minimal harus


berumur 2 bulan. Penebaran bibit sejumlah 500 ekor (ukuran 10-15 cm) diperlukan luas
kolam sekitar 1500 meter persegi

Pemupukan
Pemupukan dapat dilakukan dengan bahan kimia dan pupuk kandang. Pada umumnya
pemupukan hanya dilakukan 1 kali dalam setiap pemeliharaan, dengan maksud untuk
meningkatkan makanan alami bagi hewan peliharaan. Tahap pertama pemupukan dilakukan
pada waktu kolam dikeringkan. Pada saat ini pupuk yang diberikan adalah pupuk kandang
sebanyak 7,5 kg untuk tiap 100 m 2 kolam, air disisakan sedikit demi sedikit sampai
mencapai ketinggian 10 cm dan dibiarkan selama 3 hari. Pada tahap berikutnya pemupukan
dilakukan dengan menggunakan pupuk buatan seperti TSP atau pupuk Urea sebanyak 500
gram untuk setiap 100 m 2 kolam. Pemberian kedua pupuk tersebut ditebarkan merata ke
setiap dasar dan sudut kolam.

Pemberian Pakan
Makanan pokok ikan gurame berupa pelet yang dapat diatur gizinya, namun di daerah yang
agak sulit memperoleh pelet, daun-daunan merupakan alternatif yang sangat baik untuk
dijadikan makanan ikan, diantaranya: daun pepaya, keladi, ketela pohon, genjer, kimpul,
kangkung, ubi jalar, ketimun, labu dan dadap. Pemberian makanan yang teratur dengan
kualitas dan kuantitas yang tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan tubuh ikan lebih cepat.
Induk-induk gurame yang sehat dan terjamin makanannya dapat dipijahkan dua kali setahun
berturut-turut selama 5 tahun.

Pemeliharaan Kolam/Tambak
Setiap habis panen, kolam dibersihkan/kuras. setelah itu dilakukan pemupukan agar
mempengaruhi kesuburan kolam, sehingga bila benih disebarkan, kesuburan ikan akan
terjamin dan pertumbuhan ikan akan cepat.

7. HAMA DAN PENYAKIT


Penyakit
Gangguan yang dapat menyebabkan matinya ikan adalah penyakit yang disebut penyakit
non parasiter dan penyakit yang disebabkan parasit. Gangguan-gangguan non parasiter
bisa berupa pencemaran air seperti adanya gas-gas beracun berupa asam belerang atau
amoniak; kerusakan akibat penangkapan atau kelainan tubuh karena keturunan.
Penanggulangannya adalah dengan mendeteksi keadaan kolam dan perilaku ikan-ikan
tersebut. Memang diperlukan pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk

mengetahuinya. ikan-ikan yang sakit biasanya menjadi kurus dan lamban gerakannya.
Gangguan lain yang berupa penyakit parasiter, yang diakibatkan oleh bakteri, virus, jamur
dan berbagai mikroorganisme lainnya. Bila ikan terkena penyakit yang disebabkan parasit,
dapat dikenali sebagai berikut:
1.

Penyakit pada kulit; pada bagian-bagian tertentu berwarna merah terutama di bagian
dada, perut dan pangkal sirip.

2.

Penyakit pada insang; tutup insang mengembang. Lembaran insang menjadi pucat,
kadang-kadang tampak semburat merah dan kelabu

3.

Penyakit pada organ dalam; perut ikan membengkak, sisik berdiri. Pencegahan
timbulnya penyakit ini dapat dilakukan dengan mengangkat ikan dan melakukan
penjemuran kolam beberapa hari agar parasit pada segala stadium mati. Parasit
yang menempel pada tubuh ikan dapat disiangi dengan pinset. Pengobatan bagi
ikan-ikan yang sudah cukup memprihatikan keadaannya, dapat dilakukan dengan
menggunakan bahan kimia diantaranya:

Pengobatan dengan Kalium Permanganat (PK)


Sediakan air sumur atau sumber air lainnya yang bersih dalam bak penampungan sesuai
dengan berat ikan yang akan diobati.
Buat larutan PK sebanyak 2 gram/10 liter atau 1,5 sdt/100 l air.
Rendam ikan yang akan diobati dalam larutan tersebut selama 30-60 menit dengan diawasi
terus menerus.
Bila belum sembuh betul, pengobatan ulang dapat dilakukan 3 atau 4 hari kemudian.

Pengobatan dengan Neguvon. Ikan direndam pada larutan neguvon dengan 2-3,5% selama
3 mernit. Untuk pembe-rantasan parasit di kolam, bahan tersebut dilarutkan dalam air
hingga konsentrasi 0,1% Neguvon lalu disiramkan ke dalam kolam yang telah dikeringkan.
Biarkan selama 2 hari.
Pengobatan dengan garam dapur. Hal ini dilakukan di pedesaan yang sulit mendapatkan
bahan-bahan kimia. Caranya:
1.

Siapkan wadah yang diisi air bersih. setiap 100 cc air bersih dicampurkan 1-2 gram
(NaCl), diaduk sampai rata;

2.

IKan yang sakit direndam dalam larutan tersebut. Tetapi karena obat ini berbahaya,
lamanya perendaman cukup 5-10 menit saja.

3.

Setelah itu segera ikan dipindahkan ke wadah yang berisi air bersih untuk
selanjutnya dipindahkan kembali ke dalam kolam;

4.

Pengobatan ulang dapat dilakukan 3-4 hari kemudian dengan cara yang sama.

Hama
Bagi benih gurame musuh yang paling utama adalah gangguan dari ikan liar/pemangsa dan
beberapa jenis ikan peliharaan seperti tawes, gurame dan sepat. Musuh lainnya adalah
biawak, katak, ular dan bermacam-macam burung pemangsa.
8. PANEN
Penangkapan
Pemanenan benih dapat dilakukan setelah benih berumur 1 bulan. Caranya dengan
menyurutkan air sedikit demi sedikit sementara saluran air masuk diperkecil. Pasanglah
jaring lembut di pintu pengeluaran untuk menampung benih atau bisa juga dengan membuat
parit di tengah kolam menuju ke lubang pengeluaran. Bibit yang terawat baik bisa mencapai
bobot 0,3 gram/ekor pada saat dipanen. Pemanenan hasil pembesaran ikan gurame sangat
tersantung dari ukuran yang diminta konsumen. Umumnya pemanenan dilakukan setelah
ikan berumur 2-3 tahun, ikan yang berumur 2 tahun mempunyai panjang sekitar 25 cm dan
berat 0,3 kg/ekor, sedangkan untuk ikan yang berumur 3 tahun panjangnya sekitar 35 cm
dan berat badan 0,7 kg/ekor. Untuk ikan berumur 4 tahun panjangnya dapat mencapai 40
cm dan berat 1.5 kg/ekor. Adapun cara penangkapan: air disurutkan sedikit demi sedikit,
penangkapan dilakukan pada pagi hari. Hindari cara penangkapan yang dapat
menyebabkan ikan terluka.

Pembersihan
Setelah air kolam surut, benih digiring masuk ke petak kecil. Kemudian diserok dan
dimasukkan ke dalam keranjang panen. Biasanya waktu panen tidak hanya gurame saja
yang tertangkap, sehingga sebelum ikan dimasukkan ke kolam pemberokan, harus diseleksi
dan dibersihkan terlebih dahulu. Pembersihan benih dilakukan selama 1 hari. tujuannya
agar ikan tidak mabuk sewaktu diangkut ke pasar. Lamanya pembersihan disesuaikan
dengan besarnya benih.

9. PASCAPANEN
Penanganan ikan hidup
Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam keadaan hidup.
Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke konsumen dalam keadaan hidup,
segar dan sehat antara lain:
1.

Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat C.

2.

Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.

3.

Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.

Penanganan ikan segar

Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang perlu
diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
1.

Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.

2.

Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.

3.

Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak dekat (2 jam
perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan daun pisang/plastik. Untuk
pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan seng atau fiberglass. Kapasitas kotak
maksimum 50 kg dengan tinggi kotak maksimum 50 cm.

Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.
Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan jumlah es dan
ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian ikan disusun di atas lapisan es
ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding
kotak diberi es, demikian juga antara ikan dengan penutup kotak. Sedangkan hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam pananganan pascapanen benih adalah sebagai berikut:
1.

Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan tidak cacat.
Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong plastik (sistem tertutup)
atau keramba (sistem terbuka).

2.

Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama dan penyakit
serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan air sumur yang telah
diaerasi semalam.

3.

Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari. Gunakan
tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan dengan aerasi yang baik.
Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan
ukuran tersebut, bak pemberokan dapat menampung benih ikan mas sejumlah
50006000 ekor dengan ukuran 3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus
disesuaikan dengan ukuran benihnya.

4.

Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi menjadi dua


bagian, yaitu:

Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak memerlukan waktu yang
lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan
dapat untuk mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.

Sistem tertutup
Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu lebih dari 4-5 jam,
menggunakan kantong plastik. Volume media pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter

yang diberi buffer Na2(hpo)4.1H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang
diangkut dengan kantong plastik:
1.

Masukkan air bersih ke dalam kantong plastik kemudian benih;

2.

Hilangkan udara dengan menekan kantong plastik ke permukaan air;

3.

Alirkan oksigen dari tabung dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume
keseluruhan rongga (air:oksigen=1:2);

4.

Kantong plastik lalu diikat.

5.

Kantong plastik dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan.
Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat diisi 2
buah
kantong
plastik.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan adalah
sebagai berikut:

1.

Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin dalam 10 liter
air bersih).

2.

Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam setempat sedikit
demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong plastik terjadi perlahan-lahan.

3.

Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1-2 menit.

4.

Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan benih ikan
diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan dengan tetrasiklin 25
ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli dapat juga digunakan obat lain
seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau formalin sebanyak 4% selama 3-5 menit.

Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.


Demikian semoga bermanfaat
Terima kasih

Teknik Pendederan dan Pembesaran Ikan Gurame

JENIS
Jenis gurame yang umum terdapat dilingkungan petani terdiri dari 4 jenis antara lain:
1.

BLUE SAFIR

2.

ANGSA

3.

BASTER

4.

BATU

HABITAT
Digolongkan ikan DATARAN RENDAH dan OMNIVORA
Habitat alami : Sungai, Danau dan Rawa
Temperatur optimum 27-30 C, pH 7-8, kandungan oksigen 4-5 ppm.
Lebih menyukai kola, dengan dasar tanah
Menyukai air yang tenang dengan kedalaman 70-100 cm
Peka terhadap cahaya terutama pada malam hari dan perubahan kualitas air
mendadak
Kebiasaan makan mempunyai sifat yang cenderung kearah aktif pada kondisi
menjelang gelap
Menyukai pakan yang ada di permukaan

Hindari penangkapan saat hujan


TEKNIK PENDEDERAN
PERSIAPAN
Luas kolam 100-150 m2, konstruksi dasar kolam tidak disemen
Pematangan kolam tidak berumput. Dinding bentuk trapezium. Dinding bagian
dalam dibuat halus/rata dengan cara di KEDOK TEPLOK
Tinggi pematang 80-100 cm
Dasar kolam tidak terlalu berlumpur
Lakukan pengolahan tanah dasar kolam dengan pengapuran dosis 100-200
gram/m2 dan pemupukan pupuk kandang 500-100 gram/m2
Setelah pengolahan tanah dasar, lakukan pengairan sampai kedalaman 50-60 cm.
Selanjutnya pemasukan air dipertahankan mengalir dengan debit sekitar 1 liter/detik
(untuk kolam 100-150 m2)
PEMILIHAN BENIH TEBAR
Kegiatan pemilihan benih tebar merupakan hal yang sangat vital yang perlu
diperhatikan kesalahan dalam pemilihan benih tebaran akan berdampak buruk
terhadap produksi yang diharapkan. Untuk itu perlu diperhatikan antara lain :
Kondisi benih benih sehat, tidak cacat/luka dan lincah.
Warna tidak terlalu hitam,sisik lengkap/tidak ada yang lepas. Tubuh tidak kaku
Proses penangkapan hati-hati dan dilakukan saat kondisi tidak terlalu terik.
Sebaiknya penangkapan tidak dilakukan saat hujan
Pengangkutan benih dilakukan pagi/sore hari.
PENEBARAN BENIH
Penebaran benih sebaaiknya dilakukan pada pagi/sore hari. Sebelum benih ditebar
dikolam, laukan penyusuaian suhu air dalam wadah angkut dengan suhu air kolam
pemeliharaan. Untuk tahap pendederan kepadatan benih 10-20 ekor/m2 dengan
ukuran benih 50-75gr/ekor.
PEMELIHARAAN
Pakan
Pakan yang diberikan terdiri dari 2 macam yaitu pakan buatan dan pakan hijauan.
Pakan buatan yang diberikan sebaiknya pakan terapung (grower) dengan jumlah
pemberian 3-5%/hari dengan frekuensi pemberian 2 kali yaitu jam 06.00 dan 17.00.
Hijauan yang diberikan berupa jenis daunt talas-talasan, lemna minor dan Azolla.
Jumlah pemberian sekitar 5%hari.
KESEHATAN IKAN
Untuk menekan tingkat kematian akibat serangan penyakit, sebaiknya dilakukan
menggunakan garam dapur dengan dosis 20-25 ppm setiap minggu.
PEMANENAN

Pemanenan dilakukan setelah benih mencapai berat


200-250 gram/ekor. Berat demikian dapat dicapai dengan pemeliharaan yang baik
dan intensif selama 3-3,5 bulan. Konversi pakan untuk tahap ini sekitar 2-3.
Mortalitas berkisar 5-10%.
Pemanenan sebaiknya dilakukan pagi/sore hari dengan memperhatikan hal-hal sbb.
Tidak dalam kondisi hujan .
Kedalaman air dipertahankan setinggi 20-30 cm.
Penangkapan dilakukan hati-hati. Diusahakan sisik tidak lepas.
Gunakan alat tangkap dari bahan yang halus.
Masukkan daun-daun kering untuk memudahkan penangkapan.
TEKNIK PEMBESARAN

Luas kolam optimal sekitar 200 m2. Kolam tanah


Kedalaman air 70-80 cm
Dasar kolam tidak terlalu berlumpur
Persiapan kolam seperti pada tahapan pendederan
Kepadatan benih tebar (ukuran 200-300 gram/ekor) 1-2 kg/m2
Pakan yang diberikan berupa pakan buatan terapung (Finisher) dengan jumlah
pemberian 2-3%. Hijauan diberikan berupa daunt talas-talasan sebanyak 5-10% tiap
2hari sekali. Waktu pemberian pakan 06.00 dan 17.00
Lama pemeliharaan 3-3,5 bulan. Ukuran panen 600-700 gram/ekor.
Saat pemanenan sebaiknya tidak menggunakan alat tangkap
sumber: Bp4k sukabum

Pelaku Utama dan Penyuluh Perikanan Kab/Kota se NTB Magang Budidaya Air
Tawar
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Penyuluhan Perikanan - Dibaca: 80 kali

Penyuluhan sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan


memajukan kesejahteraan warga negara Republik Indonesia. Untuk itu,
pemerintah berkewajiban menyelenggarakan penyuluhan di bidang pertanian,
perikanan dan kehutanan. Dimana penyuluhan sebagai proses pembelajaran
bagi pelaku utama (petani, peternak, pekebun, nelayan, pembudidaya ikan,
pengolah ikan, dan masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan) dan
pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan
dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan
sumberdaya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi
usaha, pendapatan dan kesejahteraan serta meningkatkan kesadaran dalam
pelestarian fungsi lingkungan hidup.
Salah satunya, yaitu dilaksanakan magang budidaya air tawar bagi pelaku
utama dan penyuluh perikanan kabupaten/kota Se NTB. Dengan peserta magang
30 orang yang terdiri dari 20 pelaku utama dan 10 penyuluh perikanan pada
tanggal 23 s/d 25 Februari 2016. Magang budidaya air tawar difokuskan di
kelompok budidaya ikan air tawar Embung Biru Dusun Embung Pas Sigerongan
Kec. Lingsar Kab. Lombok Barat.
Pada prinsipnya, kelompok budidaya ikan air tawar embung biru merupakan
kelompok budidaya ikan yang cukup berhasil dalam perkembangan usaha
kelompok. Dilihat dengan perkembangan yang didukung oleh inovasi-inovasi
baru ilmu teknologi budidaya ikan (ikan hias maupun ikan konsumsi) serta
agribisnis pemasarannya. Hal ini dibuktukan dengan berdirinya Koperasi Serba
Usaha (KSU) Embung Biru tahun 2008 dan Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan
dan Perikanan (P2MKP) Puspasari Embung Biru pada tahun 2014.
Peserta magang akan menggali, bertukar ilmu pengetahuan dan pengalaman
yang dimilki masing-masing peserta selama 3 hari. Karena dengan melalui
kegiatan magang melihat, mendengarkan secara langsung yang dibuktikan
dilapangan akan dapat memberikan pengetahuan keberhasilan secara optimal
untuk dipraktikan pada masing-masing kabupaten/kota asal peserta..
Secara langsung maupun tidak langsung akan menjadi magan sebagai media
penyuluhan yang bersinergikan dalam pembagunan daerah. Hal tersebut,
dikatakan oleh ketua kelompok budidaya ikan air tawar embung biru H.
Faturahman saat memberikan materi kepada peserta magang bahwa
organisasi/kelompok yang baik dan kuat merupakan organisasi/kelompok yang
tumbuh melalui bawah secara bertahap dengan penuh keseriusan dan
ketekunan membangun organisasi/kelompok. Karena akan memberikan dampak
positif kepada pembangnan daerah/desa seperti memperluas lapangan
kerja/lapangan berusaha, meningkatkan kesejahteraan pereknomian
keluarga/anggota pembudidaya ikan, pengolah ikan dan mengentaskan
kemiskinan khususnya di pedesaan.

Sehingga dengan dilakukan kegiatan magang dapat meningkatkan sumber


daya manusia (SDM) baik pelaku uatam dan penyuluh secara berkualitas,
handal, serta berkemampuan manajerial, kewirausahaan, dan organisasi bisnis.
Selain itu, akan mampu membangun usaha dari hulu sampai dengan hilir yang
berdaya saing tinggi dan mampu berperan serta dalam melestarikan lingkungan
hidup sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (Syamsul Riyadi,
S.TP).

Ioenesis androenesis triploidisasi poliplodisasi


Sex reversal aplikasi ormon streroid
Testoteron maskulinisasi. Momokultur ukan jantan
Estroen feminisasi. Monokulturikan betina

Ibrid