Anda di halaman 1dari 13

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Komoditas pertanian di Indonesia cukup melimpah. Indonesia merupakan salah
satu penghasil jagung terbesar di dunia. Hal ini banyak bergantung dari sifat tanaman dan
kemampuan petani dalam menangani hasil panennya. Untuk itu penanganan pasca panen
hasil pertanian yang cepat harus dimaksimalkan, dengan maksud untuk mengurangi
kerusakan maupun penyusutan yang erat kaitannya dengan kualitas dan kuantitas hasil
olah atau hasil akhir yang akan dipasarkan. Seiring dengan kemajuan teknologi tepat
guna banyak ditemukan alat-alat teknologi yang diciptakan untuk mengolah hasil
pertanian, hal ini disebabkan oleh meningkatnya hasil tani sehingga timbullah pemikiran
untuk mengolah hasil tani tersebut sebelum dipasarkan, tujuannya tidak lain untuk
meringankan dalam pekerjaan (Tomi, 2013).
Jagung merupakan kebutuhan yang cukup penting bagi kehidupan manusia dan
merupakan komoditi tanaman pangan kedua setelah padi. Akhir-akhir ini tanaman jagung
semakin meningkat penggunaannya, sebab hamper seluruh bagian tanaman dapat
dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan seperti pembuatan pupuk kompos, kayu
bakar, turus (lanjaran), bahan kertas dan sayuran bahan dasar/bahan olahan untuk minyak
goreng, tepung maizena, ethanol, dextrin, aseton, gliserol, perekat, tekstil dan asam
organik bahan listrik nabati. Jagung menempati posisi penting dalam perekonomian
nasional, khususnya untuk mendukung perekonomian Sumatera Utara, karena merupakan
sumber karbohidrat sebagai bahan baku industri pangan, pakan ternak, unggas dan ikan.
Peningkatan produksi pertanian, khususnya tanaman jagung, sangat ditentukan oleh
meningkatnya pengetahuan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan serta permintaan
pasar. Disamping itu para peneliti dan ilmuan selalu berupaya mencari keunggulan
produksi serta keunggulan lainnya. Tidaklah mengherankan apabila setiap saat muncul
varietas unggul yang baru dan selalu meminta tanggapan dari para petani selaku manajer
dan sekaligus melaksanakan usaha taninya seluruh provinsi di Indonesia dengan luas
areal bervariasi (Tumbuan, Hayado et al 2015).
Menurut (Aqil, M2010) Peningkatan produksi jagung yang tidak diikuti dengan
penanganan pasca panen yang baik menyebabkan peluang kerusakan biji akibat
kesalahan penanganan dapat mencapai 12-15% dari total produksi. Lebih lanjut, diantara
semua tahapan pasca panen, segmen pemipilan yang paling tinggi peluang kehilangan
hasilnya yang mencapai 8% sehingga proses ini dianggap sebagai proses kritis dalam
penanganan pascapanen. Perkiraan kehilangan hasil akibat susut pada proses pemipilan
mencapai 630 ribu ton 720 ribu ton per tahun. Kondisi alat pemipil yang juga tidak
memenuhi standar (konstruksi sarangan dan silinder pemipil) juga berpeluang merusak
biji.
Proses pemipilan jagung secara manual menyebabkan cepat terjadi kelelahan pada
petani. Menurut (Tarwaka, 2004) kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh
agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah
istirahat. Untuk menghindari tingkat kelelahan, maka harus dihindarkan sikap kerja yang
bersifat statis dan diupayakan sikap kerja yang lebih dinamis. Hal ini dapat dilakukan
dengan merubah sikap kerja yang statis menjadi sikap kerja yang lebih bervariasi atau

dinamis, sehingga sirkulasi darah dan oksigen dapat berjalan normal ke seluruh anggota
tubuh.
Pemisahan biji yang akan digunakan sehingga benih terutama penanaman dengan
mesin penanam, biasanya membutuhkan keseragaman bentuk dan ukuran butirnya. Maka
pemisahan ini sangat penting untuk menambah efisiensi penanaman dengan mesin. Ada
berbagai cara membersihkan atau memisahkan jagung dari campuran kotoran. Tetapi
pemisahan dengan cara ditampi seperti pada proses pembersihan padi, akan mendapatkan
hasil yang baik (Aak, 2009). Berdasarkan pemaparan diatas dilakuknalah praktikum
kinerja alat pemipil dan pengukuran susut pemipilan jagung untuk mengetahuai seberapa
susut berat selama proses pemipilan jagung

Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk:
1. Mengukur susut tercecer dan susut mutu pada proses perontokan/pemipilan.
2. Analisa kinerja mesin perontok/pemipil.

METODE PRAKTIKUM
Waktu dan tempat praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada hari senin 10 Oktober 2016 di Laboratorium
Lapangan Lewi Kopo Intitut Pertanian Boogor
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada pemipilan jagung antara lain adalah perontok mekanis,
timbangan, alas plastik untuk mengumpulkan hasil pipilan, terpal ukuran 8x8 m dan 5x5
m, moisture tester untuk mengukur kadar air biji jagung, tachometer untuk mengukur
RPM mesin, penampi untuk memisahkan jagung dari kotorannya. Sedangkan bahan yang
digunakan dalam praktikum ini adalah jagung tongkol.

Prosedur Kerja
Prosedur Pemipilan Jagung
Mulai

Persiapkan alat pemipil,


dan jagung tongkol
Hamparkan terpal 8x8 m
Hamparkan terpal 5x5 m diatas terpal 8x8 m

Letakkan alat perontok diatas terpal 5x5 m dengan posisi yang tepat

Timbang jagung tongkol (B1)


Hidupkan mesin perontok
Masukkan jagung ke mesin perontok
Catat jam mulai (t1) dan tinggi BBM1

Ukur kecepatan putar silinder

Catat jam selesai (t2)


dan tinggi BBM2

-Berat jagung pipil (B2) (kg)


-Berat tongkol (B3) (kg)
- Berat kotoran (B4) (kg)

Jagung pipil
% Kadar air

Kumpulkan dan timbang jagung pipil


diluar alas 5x5 m
T1
Untuk sampel tongkol,
ambil seberat 10 kg
Pipil jagung yang
tertinggal pada tongkol
Timbang (T2)

Untuk sampel kotoran,


ambil seberat 1 kg
Pisahkan biji dan timbang (T3)

Selesai
Gambar 2.1 Diagram alir proses pemipilan jagung

Prosedur Analisis Mutu Fisik Jagung


Mulai
Persiapkan biji jagung yang
sudah bersih

Ambil 500 g jagung pipil hasil


pemipilan mekanis
Aduk dan ambil secara
acak 100 g
Pisahkan dan hitung
- Biji utuh
- Biji rusak
- Biji warna lain
- kotoran
Presentase biji utuh (%)
Presentase biji rusak (%)
Presentase biji warna lain (%)
Presentase kotoran (%)

Selesai
Gambar 2.2 Diagram alir proses analisis mutu fisik jagung pemipilan mekanis

Prosedur Pengukuran Kadar Air dan Rendemen


Mulai
Persiapkan 1000 g jagung
tongkol

Pipil dengan tangan, timbang


rendemen dan kadar air

Rendemen (%)
Kadar air (%)

Selesai
Gambar 2.3 Diagram alir proses pengukuran kadar air dan rendemen jagung yang
dipipil manual

PEMBAHASAN
Pemipilan jagung merupakan tahapan pada pasca panen jagung
yang mempunyai peluang susut hasil yang paling tinggi. Peluang
kehilangan hasil ini antara lain terjadi dalam bentuk biji jagung tidak
terpipil, biji jagung terpental jauh keuar dari lubang pengeluaran biji
pada mesin pemipil, hingga biji terbawa pada lubang blower. Kegiatan
pemipilan jagung secara teknis dapat dilakukan secara manual oleh
tenaga manusia dan secara mekanis dengan bantuan alat/mesin
perontok/pemipil jagung modifikasi. Selain membutuhkan mesin itu
sendiri, cara pemipilan/perontokan secara mekanis juga membutuhkan
alas berbahan palstik untuk dibentangkan di sekitar wilayah
pengoperasian.
Alat pemipil jagung bertujuan untuk biji dari tongkol buah sehingga diperoleh biji
yang bersih. Untuk memisahkan tongkol dengan biji, alat pemipil jagung mekanis ini
mengunakan motor listrik sebagai tenaga penggerak dan prinsip kerja pemipilan di
lakukan antara permukaan jagung yang diam dan permukaan mata pemipil yang terus
berputar (dinamis) dan proses sortasi antara biji dan tongkol terjadi di mata pemipil,
untuk biji jatuh langsung kebawah penampungan saluran pengeluaran biji dan tongkol
langsung diteruskan melalui saluran pengeluaran tongkol.
Mesin pemipil jagung ini mempunyai fungsi utama yaitu sebagai pemisah biji
jagung dari dongkolnya. Mesin ini di buat sedemikian rupa untuk mempermudah dalam
proses pemipilann jagung. Mesin ini digerakan oleh sebuah motor penggerak yang
menggunakan daya listrik untuk proses kerjanya. Prinsip kerja mesin ini adalah dengan
cara mendorong buah jagung ke arah mata pemipil yang di gerakan oleh sebuah motor
listrik dengan tranmisi puli dan sabuk serta sebuah poros. Dengan gerak putar tersebut
dan bentuk mata pemipil yang di buat sedemikian rupa, sehingga dapat memisahkan biji
jagung dari dongkolnya (Tomi, 2013)
Mesin pemipil memiliki komponen dan fungsinya masing-masing
diantaranya: jari-jari pemipil yang berperan sebagai perontok jagung
saat mesin berputar dan jagung dimasukkan ke dalam pengumpan;
pengumpan, sebagai tempat atau lubang masuknya jagung yang akan
dipipil; saringan, sebagai saringan jagung yang sudah rontok oleh jari
pemipil sehingga bisa terpisah dari bonggolnya; lubang keluar bonggol,
sebagai tempat keluarnya bonggol jagung yang telah terpisah dengan
bijinya; mur dan baut, sebagai pengikat antar komponen; bantalan
poros, sebagai tempat poros yang menahan poros agar tidak goyang
atau bergeser; pulley mesin, penghubung transmisi pada motor;
rangka mesin, sebagai penopang semua komponen mesin; lubang
keluar jagung, sebagai lubang keluar biji jagung hasil pipilan yang
sudah terpisah dari bonggolnya; van belt, sebagai penghubung pulley
mesin dengan pulley perontok; mesin penggerak, sebagai sumber
penggerak dari alat (Muhammad, 2015).
Mesin pemipil jagung yang digunakan pada praktikum ini adalah
jenis KUBOTA dengan tenaga diesel 5.5 HP dengan kapasitas kerja

mesin 1196,78 kg/jam. Mesin pemipil jangung pada praktikum ini tidak
memiliki sekat yang berfungsi untuk menahan biji jagung sehingga
tidak ikut keluar bersama tongkol pada saat mesin bekerja. Hal
tersebut mengakibatkan mesin beroperasi tidak optimal. Salah satu
komponen pada mesin pemipil/perontok yang penting untuk
diperhatikan adalah bentuk dan kontruksi gigi pemipil karena sangat
berpengaruh terhadap kinerja alat dalam merontok jagung. Selain itu
penting juga dalam memperhatikan jarak ujung gigi pemipil dengan
sarangan, karena apabila jaraknya terlalu renggang akan dapat
menyebabkan susut yang tinggi akibat banyaknya jumlah biji jagung
yang tidak ikut terpipil, sedangkan apabila terlalu rapat akan
mengakibatkan tingginya persentase biji yang pecah. Alat ini juga
tidak bekerja secara maskimal dikarenakan terdapatnya gigi perontok
yang telah hilang atau patah. Faktor kadar air pada jagung sangat
penting dalam menentukan hasil pipilan. Kadar air yang tinggi akan
menghasilkan kapasitas hasil pemipilan yang rendah. Untuk
menghasilkan hasil pipilan yang baik, sebaiknya dilakukan pemipilan
dengan kadar air 15-17% karena pada kadar air tersebut biji jagung
mudah lepas dari jenggel dan kulit biji lebih keras serta kotorannya
lebih ringan, sehingga persentase kotoran akan menjadi rendah.
Kecepatan putaran silinder selalu berbanding lurus dengan persentase
butir pecah dan kapasitas pemipilan. Penggunaan putaran (rpm) yang
tinggi pada proses pemipilan akan menghasilkan persentase butir
pecar dan kapasitas pemipilan yang tinggi. Oleh karena itu dalam
kegiatan pemipilan perlu kesesuaian antara kecepatan (rpm) silinder
pipil dengan kadar air jagung yang akan dipil. Untuk mendapatkan
mutu pipilan jagung yang baik, putaran silinder pipil sebaiknya 600
700 rpm dengan kadar air biji jagung 15 17 % (Silvia et al 2014)
Pada proses pemipilan jagung menggunakan alat mekanis
pekerja yang terlibat dalam proses didalamnya berkisar 3-4 orang
yang. Para pekerja tersebut mempunyai tugas masing-masing mulai
dari mengumpan jagung, hingga mengupulkan ahsil pemipilan jagung
sehingga tidak akan mengeluarkan banyak biaya untuk satu kali
peroses pemipilan jagung.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum dan pembasan dapat ditarik kesimpulan sebagai


berikut:

DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Alif AA. 2015. Rancang Bangun Mesin Pemipil Jagung Skala
UKM. JRM. Surabaya. Vol. 02 No. 3:5-9
AAK. 2009. Teknik Bercocok Tanam Jagung. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
Tarwaka, et al 2004. Ergonomi untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas,
Uniba Press, Surakarta

LAMPIRAN

Tabel 1. Data spesifikasi teknis alat pemipil jagung


Data Teknis
Diameter silinder perontok (cm)
Panjang silinder perontok (cm)
Jumlah baris gigi perontok (buah)
Jumlah gigi tiap baris (buah)
Diameter gigi perontok (cm)
Tinggi gigi perontok (cm)
Jarak gigi ke saringan (cm)
Diameter puli pada silinder (cm)
Lebar alat
*Tanpa Hopper (cm)
*Dengan Hopper (cm)
Panjang alat (cm)
Tinggi alat (cm)
Tenaga Penggerak
Berat alat termasuk Engine (kg)
Kecepatan Putar Silinder (RPM)
Kapasitas Kerja (kg/jam)
Kebutuhan BBM (Liter/jam)
Kebutuhan tenaga (orang)

28
54
8
8
1.2
65
2
30
65
111
113
131
Diesel Engine 5.5 HP
623
1196.78
2.24
4

Waktu pemipilan = 3 menit 55 detik = 235 detik = 0.0653 jam

Kapasitas kerja perontokan =

berat input
waktu

78,15 kg
0,0653 jam

Kebutuhan BBM selama 235 detik = 146 ml = 0.146 Liter


1 jam = 3600 detik
3600
235

= 15.319

Kebutuhan BBM selama 1 jam = 0.146 Liter x 15.319


= 2.24 Liter

= 1196.78 kg/jam

Tabel 2. Data Hasil Pengukuran Pipilan Jagung Secara Mekanis


Data
Berat jagung pipil (B2)
Berat tongkol (B3)
Berat kotoran (B4)
Tercecer diluar plastik (T1)
Tertinggal di tongkol (T2)
Tercecer sebagai kotoran (T3)
Waktu yang dibutuhkan
Kadar air setelah pemipilan

Satuan
kg
kg
kg
kg
kg
kg
jam
%

63.90
11.15
0.2
1.35
0
0.4
0.0653
24.3

TP)

1. Susut tercecer praktis (

B1 ( B 2 B3 B 4)
B2

78.15 (63.9 11.15 0.2)


x100%
63.9

= 4.538 %

2. Perhitungan kapasitas perontokan =


=

Berat input
78.15 kg
=
waktu
0.0653 jam

1196,78 kg / jam

Tabel 3. Data hasil pengukuran pipilan jagung secara manual


Data
Kadar air sebelum dipipil
Berat jagung tongkol
Berat bonggol
Berat biji pipilan

Satuan
%
kg
kg
kg

23.1
1.038
0.164
0.875

Tabel 4. Persentase susut tercecer


Jagung
Hasil pipilan
Tercecer 1
Tercecer 2
Tercecer 3

Tekni
Manual
Mekanis

Berat
Kg/kg cuplikan
0
0.4
Total

Kg/B1
63.90
1.35
0
0.24
65.49

Parameter Mutu
Butir utuh
Butir rusak
Butir utuh
Butir rusak
Kotoran
Warna lain

Susut Tercecer
(%)
2.06
0.00
0.61
2.67
Persentase Mutu (%)
99.14
0.86
79.55
20.25
0.2
0

Anda mungkin juga menyukai