Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Oral Hygiene
1 . Defenisi Oral Hygiene
Kebersihan gigi dan mulut (oral hygiene) merupakan suatu pemeliharaan
kebersihan dan hygiene struktur gigi dan mulut melalui sikat gigi, stimulasi
jaringan, pemijatan gusi, hidroterapi, dan prosedur lain yang berfungsi untuk
mempertahankan gigi dan kesehatan mulut (Dorlan, 2002). Kebersihan rongga
mulut merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya karies gigi.
Penelitian secara epidemiologi mengenai karies gigi dan penyakit periodontal,
diperlukan suatu metode dan kriteria untuk mengetahui status kesehatan gigi
seseorang atau masyarakat (Manson dan Elley, 1993).
Gigi merupakan struktur penting karena termasuk dalam rongga mulut kita
dan dengan demikian gigi termasuk badan kita. Kesehatan gigi baru penting
apabila ia menyumbang kesehatan gigi geligi secara keseluruhan dengan demikian
menyumbang kesehatan umum dan kesejahteraan manusia (Houwink,dkk, 1993).
Houwink, dkk (1993) menyatakan bahwa tujuan kesehatan gigi dan mulut
adalah menghilangkan plak secara teratur untuk mencegah agar plak tidak
tertimbun dan lama kelamaan menyebabkan kerusakan pada jaringan.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebersihan Gigi dan Mulut
Faktor yang mempengaruhi kebersihan gigi dan mulut yaitu adanya
penumpukan sisa-sisa makanan, plak, kalkulus, material alba dan stain pada
permukaan gigi geligi (Caranza, 2002).

a. Sisa-sisa makanan (food debris)


Sisa-sisa makanan akan segera dilarutkan oleh enzim-enzim bakterial, dan
dibersihkan dari rongga mulut, namun masih terdapat sisa-sisa makanan yang
tertinggal pada gigi dan mukosa. Hal-hal yang mempengaruhi kecepatan
pembersihan makanan dalam mulut ialah aliran saliva, lidah, pipi serta susunan
gigi geligi dalam lengkung rahang (Houwink,dkk, 1993).
b. Plak
Plak adalah semua yang tertinggal pada gigi dan gingiva setelah berkumur
kuat. Plak yang sangat tipis (kurang dari 10-20 ) baru kelihatan dengan
pewarnaan. Plak terdiri dari warna putih lunak, kekuning-kuningan, hijau maupun
berbutiran (Houwink,dkk, 1993).
c. Kalkulus
Kalkulus adalah massa yang mengalami kalsifikasi yang terbentuk dan
melekat pada permukaan gigi, dan objek solid lainnya yang ada dalam rongga
mulut, misalnya gigi tiruan dan restorasi (Manson dan Eley, 1993).
d. Material Alba
Material alba merupakan deposit yang jarang dan lunak, berwarna
kekuningan, dan dapat ditemukan pada rongga mulut yang kurang terjaga
kebersihannya (Manson dan Eley, 1993).
e. Stain Gigi
Substansi yang membentuk stain yang melekat erat pada permukaan gigi
sangat banyak dan harus dibersihkan secara khusus. Stain mempunyai estetik
yang kurang baik tetapi tidak menyebabkan iritasi gingiva maupun berfungsi
sebagai fokus deposisi plak (Manson dan Eley, 1993).

3. Faktor resiko untuk masalah oral hygiene (Perry dan Potter, 2005)
a. Masalah umum
1) Karies gigi
Karries

gigi

merupakan

masalah

umum

pada

orang

muda,perkembangan lubang merupakan proses patologi yang mellibatkan


kerusakan email gigi dikarenakan kekurangan kalsium.
2) Penyakit periodontal
Adalah penyakit jaringan sekitar gigi, seperti peradangan membran
periodontal.
3) Plak
Adalah transparan dan melekat pada gigi, khususnya dekat dasar
kepala gigi pada margin gusi
4) Halitosis
Merupakan bau napas, hal ini merupakan masalah umum rongga
mulut akibat hygiene mulut yang buruk, makanan tertentu atau
proses nfeksi
5) Keilosis
Merupakan gangguan bibir retak, trutama pada sudut mulut
b. Masalah mulut lain
1) Stomatitis
Kondisi peradangan pada mulut karena kontak dengan pengiritasi,
defisiensi vitamin, infeksi.
2) Glosisits

Peradangan lidah hasil karena infeksi atau cidera, seperti luka


bakar atau gigitan.
3) Gingivitis
Peradangan gusi biasanya akibat hygiene mulut yang buruk atau
defisiensi vitamin.
4) Indikator Kebersihan Gigi dan Mulut
Indikator yang biasa digunakan mengukur tingkat kebersihan mulut
seseorang atau masyarakat adalah menggunakan indeks Oral Hygiene Index
Simplified (OHI-S) dari Grenee and Vermillion (Manson dan Eley, 1993).
Pemeriksaan OHI yang diperiksa semua permukaan gigi, sedangkan pada
OHI-S hanya enam gigi yang telah diseleksi dan dianggap telah mewakili baik
segmen anterior maupun segmen posterior dari seluruh gigi di dalam rongga
mulut (WHO Oral Health Country, 2006).
OHI-S sama dengan OHI yang terdiri dari dua komponen yaitu Debris
Index Simplified (DI-S) dan Calculus Index Simplified (CI-S). Masing-masing
komponen mempunyai skala 0-3. Gigi yang diperiksa ada enam buah dengan
perincian yang telah ditentukan sebelumnya, empat gigi diperiksa permukaan
bukal atau fasialnya (Molar satu atas kanan, insisivus satu atas kanan, molar satu
atas kiri dan insisivus satu bawah kiri) dan dua gigi diperiksa pada permukaan
lingualnya (Molar satu bawah kanan dan kiri) (WHO Oral Health Country, 2006).
a. Penilaian DI-S
Pemeriksaan dilakukan dengan meletakkan sonde pada permukaan gigi
daerah 1/3 insisal atau oklusal dan digerakkan menuju daerah 1/3 gingival atau
servikal. Skoring untuk DI-S sesuai dengan kriteria berikut:
0 = tidak terdapat debris atau stain

1 = terdapat debris lunak yang menutupi tidak lebih dari 1/3 bagian permukaan
gigi ataupun terdapat stain tanpa debris yang menutupi permukaan gigi.
2 = terdapat debris lunak yang menutupi lebih dari 1/3 bagian permukaan gigi
tetapi tidak boleh lebih dari 2/3 bagian permukaan gigi.
3 = terdapat debris lunak menutupi lebih dari 2/3 bagian permukaan gigi.
Skor DI-S per individu didapat dengan menunjukkan skor permukaan
gigi dan membaginya dengan jumlah gigi yang diperiksa (WHO Oral Health
Country, 2006).
b. Penilaian CI-S
Pemeriksaan dilakukan dengan menentukan terlebih dahulu apakah
kalkulus termasuk kalkulus supragingival atau subgingival. Pemeriksaan
dilakukan dengan menggerakkan sonde yang meliputi daerah separuh keliling
gigi.
Skoring untuk CI-S sesuai dengan kriteria
berikut: 0 = tidak terdapat kalkulus
1 = terdapat kalkulus supragingival yang menutupi tidak lebih dari 1/3 bagian
permukaan gigi.
2 = terdapat kalkuklus supragingival yang menutupi lebih dari 1/3 bagian
permukaan gigi namun tidak lebih dari 2/3 bagian permukaan gigi ataupun
terdapat bercak kalkulus individual yang terletak subgingival disekitar
bagian leher gigi atau keduanya.
3 = terdapat kalkulus supragingival yang menutupi lebih dari 2/3 bagian
permukaan gigi atau adanya kalkulus subgingival yang tebal dan
melingkar di bagian servikal gigi atau keduanya.

Skor CI-S per individu didapatkan dengan menjumlahkan skor yang


didapat dan kemudian membaginya dengan jumlah gigi yang diperiksa (WHO
Oral Health Country, 2006).
c. Penentuan Nilai OHI-S
Skor OHI-S per individu merupakan penjumlahan dari skor DI-S dan CIS. Kisaran nilai untuk DI-S dan CI-S yaitu antara 0-3, sehingga nilai OHI-S
berkisar antara 0-6 (WHO Oral Health Country, 2006). Rumus skor OHI-S
secara umum adalah:
OHI-S = DI-S + CI-S
Tabel A.1 Tingkat Kebersihan Mulut secara klinis dalam kaitannya dengan
OHI-S
Nilai

Kriteria Klinis

0,0 1,2

Baik

1,3 3,0

Sedang

3,1 -6,0

Buruk

(Sumber: Moeslehzadeh dalam WHO Oral Health Country, 2006)


B. Merokok
1. Definisi Rokok
Rokok adalah hasil olahan tembakau yang terbungkus, dihasilkan dari
tanaman Nicotiana Tabacum, Nicotiana Rustica dan spesies lainnya atau
sintetisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan
(Heryani, 2014).

2. Bahan Baku Rokok


Bahan baku yang digunakan untuk membuat rokok adalah sebagai berikut:
a. Tembakau
Jenis tembakau yang dibudidayakan dan berkembang di Indonesia
termasuk dalam spesies Nicotiana tabacum (Santika, 2011).
b.

Cengkeh
Bagian yang biasa digunakan adalah bunga yang belum mekar. Bunga
cengkeh dipetik dengan tangan oleh para pekerja, kemudian dikeringkan di
bawah sinar matahari, kemudian cengkeh ditimbang dan dirajang dengan
mesin sebelum ditambahkan ke dalam campuran tembakau untuk
membuat rokok kretek (Anonim, 2013).

c. Saus Rahasia
Saus ini terbuat dari beraneka rempah dan ekstrak buah-buahan untuk
menciptakan aroma serta cita rasa tertentu. Saus ini yang menjadi pembeda
antara setiap merek dan varian kretek (Anonim, 2013).
3. Kandungan Rokok
Rokok maupun asap rokok terdiri dari bahan-bahan kimia. Asap
pembakaran rokok mengandung 4000 bahan kimia yang terbukti aktif beracun
secara farmakologis. Bahan kimia hasil pembakaran tembakau diantaranya adalah
nikotin, tar, dan karbon monoksida lah yang termasuk zat paling berbahaya
(Kusuma, 2011)
a. Nikotin
Kenikmatan yang timbul pada perokok disebabkan oleh adanya
kandungan nikotin dalam rokok. Komponen yang paling banyak dijumpai di
dalam tembakau ini adalah suatu alkaloid alami yang bersifat toksis dan

berbentuk cairan. Nikotin berupa cairan yang tidak berwarna dan mudah
menguap.
Nikotin juga termasuk bahan yang menimbulkan ketergantungan psikis,
karena bersifat adiktif bahkan sama adiktifnya dengan heroin dan kokain.
Selain menimbulkan ketergantungan psikis, nikotin juga dapat memberikan
sensasi ketenangan bagi perokok (Kusuma, 2011)
Konsumsi tembakau yang secara alami mengandung nikotin dapat
menghambat perlekatan dan pertumbuhan sel fibroblast ligamen periodontal.
Nikotin

dapat

mengakibatkan

pembuluh

darah

perifer

mengalami

vasokonstriksi, sehingga mengurangi tanda klinis pada gingivitis. Hal tersebut


disebabkan karena aliran darah yang membawa oksigen ke gingiva terhambat.
Kandungan nikotin dapat ditemukan dalam rongga mulut. Nikotin terkandung
dalam saliva dan gingival crevicular fluidberupa kotinin yang merupakan hasil
metabolisme nikotin.
b. Tar
Bahan kimia dalam komponen padat asap rokok yang bersifat
karsinogenik adalah tar. Tar yang tersusun dari senyawa kimia organik dan
anorganik merupakan campuran dari beberapa zat yang secara bersama
membentuk suatu massa yang dapat melekat. Pada saat rokok dihisap,
tarmasuk ke rongga mulut sebagai uap padat yang setelah dingin akan menjadi
padat dan membentuk endapan berwarna coklat pada permukaan gigi, saluran
napas, dan paru-paru. Komponen tarmengandung radikal bebas, yang
berhubungan dengan risiko timbulnya kanker (Kusuma, 2011)
Tar sebagai sisa hasil pembakaran akan meninggalkan noda pada gigi
perokok menjadi kuning kecoklatan, juga menimbulkan masalah dalam
rongga mulut seperti gingivitis.

c. Karbon monoksida
Gas karbon monoksida tidak berwarna dan tidak berbau namun sangat
berbahaya. Gas karbon monoksida dalam asap rokok dapat bersatu dengan
darah serta menghambat suplai oksigen ke paru-paru. Karbon monoksida yang
terhirup saat merokok akan terikat dengan hemoglobin dalam darah sehingga
disebut karboksilhemoglobin yang berpengaruh pada sistem pertukaran
hemoglobin.
Peningkatan tekanan darah juga menjadi salah satu akibat dari terikatnya
karbon monoksida dengan hemoglobin. Daya afinitas dari karbon monoksida
dengan hemoglobin sekitar dua ratus kali lebih kuat dibanding dengan daya
afinitas oksigen terhadap hemoglobin. Hal tersebut sangat merugikan
kesehatan tubuh sebab suplai okisgen yang diedarkan ke seluruh organ dan
jaringan tubuh berkurang (Kusuma, 2011)
4. Jenis Rokok
Menurut Mustikaningrum (2010) jenis rokok dibagi menjadi delapan, yaitu:
a. Rokok
Merupakan sediaan tembakau yang banyak digunakan.
b. Rokok Organik
Merupakan jenis rokok yang dianggap tidak mengandung bahan adiktif
sehingga dinilai lebih aman dibanding rokok modern
c. Rokok Gulungan atau Lintingan
Peningkatan penggunaan rokok dengan cara melinting sendiri ini sebagian
besar disebabkan oleh budaya dan faktor finansial.

d. Bidis

Bidis berasal dari India dan beberapa negara Asia Tenggara. Bidis dihisap
lebih intensif dibandingkan rokok biasa, sehingga terjadi peningkatan
pemasukan nikotin yang dapat menyebabkan efek kardiovaskuler.
e. Kretek
Mengandung 40% cengkeh dan 60% tembakau. Cengkeh menimbulkan
aroma yang enak, sehingga kretek dihisap lebih dalam daripada rokok
biasa.
f. Cerutu
Kandungan tembakaunya lebih banyak dibandingkan jenis lainnya,
seringkali cerutu hanya mengandung tembakau saja.
g.

Pipa
Asap yang dihasilkan pipa lebih basa jika dibandingkan asap rokok biasa,
sehingga tidak perlu hisapan yang langsung untuk mendapatkan kadar
nikotin yang tinggi dalam tubuh.

h. Pipa Air
Sediaan ini telah digunakan berabad-abad dengan persepsi bahwa cara ini
sangat aman. Beberapa nama lokal yang sering digunakan adalah hookah,
bhang, narghile, shisha.
5. Dampak Rokok Bagi Kesehatan
Menurut Center of Desease Control (CDC) dalam Octafrida (2011) merokok
membahayakan setiap organ di dalam tubuh. Merokok menyebabkan penyakit
dan memperburuk kesehatan,seperti :
a. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)
PPOK sudah terjadi pada 15% perokok. Individu yang merokok mengalami
penurunan pada Forced Expiratory Volume in second

(FEV1), dimana kira-kira hampir 90% perokok berisiko menderita PPOK


(Saleh, 2011).
b. Gigi
Hubungan antara merokok dengan kejadian karies, berkaitan dengan
penurunan fungsi saliva yang berperan dalam proteksi gigi. Risiko
terjadinya kehilangan gigi pada perokok, tiga kali lebih tinggi dibanding
pada bukan perokok (Andina, 2012).
c. Mata
Rokok merupakan penyebab penyakit katarak nuklear, yang terjadi di bagian
tengah lensa. Meskipun mekanisme penyebab tidak diketahui, banyak logam
dan bahan kimia lainnya yang terdapat dalam asap rokok dapat merusak
protein lensa (Muhibah, 2011).
d. Sistem Reproduksi
Merokok akan mengurangi terjadinya konsepsi, fertilitas pria maupun
wanita. Pada wanita hamil yang merokok, anak yang dikandung akan
mengalami penuruan berat badan, lahir prematur, bahkan kematian janin
(Anggraini, 2013).
6. Pengaruh Merokok Terhadap Kondisi Jaringan Lunak Rongga Mulut
Termasuk Gingiva
a. Gingiva
Pengaruh asap rokok secara langsung adalah iritasi terhadap gusi dan
secara tidak langsung melalui produk-produk rokok seperti nikotin yang
sudah masuk melalui aliran darah, ludah, dan perlekatan gusi pada
permukaan gigi dan akar, jaringan pendukung gigi yang sehat seperti gusi,
selaput gigi, semen gigi dan tulang tempat tertanamnya gigi menjadi rusak

karena terganggunya fungsi normal mekanisme pertahanan tubuh terhadap


infeksi dan dapat merangsang tubuh untuk menghancurkan jaringan sehat di
sekitarnya.
Asap panas yang berhembus terus menerus ke dalam rongga mulut
merupakan rangsangan panas yang menyebabkan perubahan aliran darah
dan mengurangi pengeluaran ludah. Penyempitan pembuluh darah yang
disebabkan nikotin mengakibatkan berkurangnya aliran darah di gusi
sehingga meningkatkan kecenderungan timbulnya penyakit gusi. Tar
dalam asap rokok juga memperbesar peluang terjadinya radang gusi, yaitu
penyakit gusi yang paling sering terjadi disebabkan oleh plak bakteri dan
faktor lain yang dapat menyebabkan bertumpuknya plak di sekitar gusi.
Penumpukkan plak juga dapat menyebabkan terjadinya resesi gingiva.
Nikotin dapat ditemukan pada permukaan akar gigi dan hasil metabolitnya
yakni kotinin dapat ditemukan pada cairan gusi. Nikotin dari rokok
merangsang simpatik ganglia untuk memproduksi neurotransmitter. Ini
mempengaruhi -reseptor pada pembuluh darah yang menyebabkan
vasokonstriksi.Vasokonstriksi pembuluh darah perifer yang disebabkan
oleh merokok dapat juga mempengaruhi jaringan periodontal (Pejcic,
2007).
b. Mukosa
Merokok merupakan salah satu faktor penyebab leukoplakia yaitu
suatu bercak putih atau plak pada mukosa mulut yang tidak dapat dihapus.
Hal ini bisa dijumpai pada usia 30-70 tahun yang mayoritas penderitanya

pria terutama yang perokok. Menurut penelitian Silverman dari semua


kasus Leukoplakia 95% adalah perokok. Iritasi yang terus menerus dari
hasil pembakaran tembakau menyebabkan penebalan pada jaringan
mukosa mulut. Sebelum gejala klinis terlihat, iritasi dari asap tembakau ini
menyerang sel-sel epitel mukosa sehingga aktifitasnya meningkat. Gejala
ini baru terlihat bila aktifitas seluler bertambah dan epitel menjadi tebal,
terutama tampak pada mukosa bukal (mukosa yang menghadap pipi) dan
pada dasar mulut. Perubahan mukosa mulut terlihat sebagai bercak putih.
Bercak putih tersebut mungkin disebabkan karena epitel yang tebal jenuh
dengan saliva (air ludah). Para ahli mengatakan bahwa leukoplakia
merupakan lesi pra-ganas di dalam mulut. Perubahan leukoplakia menjadi
ganas 3-6%.
c. Mukosa Palatum
Bagian dari palatum durum terlihat menjadi putih, dan terlihat
beberapa area menonjol dengan pusat berwarna merah. Area merah ini
merupakan

iritasi

dari

kelenjar

saliva

minor

dimana

saluran

pembukaannya mengalami inflamasi karena panas asap rokok. Kelainan


ini disebut nicotinic stomatitis. Penggunaan nama leukokeratosis
nikotinik palatal adalah tidak tepat, karena nikotin bukan merupakan
faktor yang menyebabkan berkembangnya hiperkeratosis yang merupakan
karakteristik dari lesi ini. Smokers palate merupakan reaksi kimia-termal
dari mukosa palatal, yang banyak disebabkan oleh merokok pipa. Kondisi
ini juga dapat terlihat bukan hanya pada perokok, akan tetapi seseorang

yang sering mengkonsumsi air panas juga dapat menderita hal ini. Fase
awal dari lesi ini terlihat sebagai eritema palatal, mukosa palatal menjadi
berwarna putih keabu-abuan. Dapat juga terlihat lekukan dan cekungan
yang sangat jelas. Mukosa menjadi menebal dan terlihat nodul dengan
bagian tengah yang memerah (Reichart & Philipsen, 2000).
d. Mukosa bukal
Merokok dengan tembakau merupakan salah satu penyebab utama
dari pigmentasi melanin pada pasien. Komponen pada tembakau
menstimulasi melanosit untuk memproduksi melanin. Perokok tembakau
memiliki permukaan mukosa mulut yang lebih berpigmen daripada bukan
perokok. Area berwarna coklat, abu-abu, atau hitam terlokalisir pada
gingival atau mukosa mulut lain termasuk bukal dan sulit dibedakan
dengan melanoplakia. Gingival anterior labial merupakan lokasi yang
paling sering ditemukan smokers mucosal melanosis (Wood and Goaz,
1997). Smokers melanosis mempunyai karakteristik berupa perubahan
warna pada permukaan mukosa yang terekspos. Kondisi ini bukan
merupakan kondisi fisiologis yang normal, tapi merupakan hasil dari
deposisi melanin pada lapisan basalis mukosa. Hubungan smokers
melanosis dan perubahan inflamasi yang dihasilkan dari panas,
penghirupan asap, dan penyerapan pigmen eksogen tidak dapat dibedakan.
Smokers melanosis menyerang orang dewasa yang merupakan perokok
berat, tampak sebagai patch yang menyebar hingga beberapa sentimeter
(Langlais and Miller, 2003).

e. Mukosa Lidah
Pada perokok berat, merokok menyebabkan rangsangan pada
papilla filiformis (tonjolan/juntai pada lidah bagian atas) sehingga menjadi
lebih panjang (hipertropi). Disini hasil pembakaran rokok yang berwarna
hitam kecoklatan mudah dideposit, sehingga perokok sukar merasakan
rasa pahit, asin, dan manis, karena rusaknya ujung sensoris dari alat perasa
(Mulyawati, 2004).
7. Efek Rokok terhadap Kesehatan Gigi dan Mulut
Merokok

dapat

mengganggu

keseimbangan

fisiologis

rongga

mulut,termasuk gigi dan mulut. Efek rokok terhadap kesehatan gigi dan mulut
dipengaruhi oleh intensitas dan lamanya merokok, kuantitas jumlah rokok yang
dikonsumsi dalam sehari, jenis rokok yang dikonsumsi, dan bagaimana
prosedur

merokok

nya. Sehingga, semakin banyak jumlah rokok yang

dikonsumsi, semakin sering intensitas merokok dan lamanya merokok secara


langsung dapat meningkatkan kejadian kerusakan pada gigi dan mulut. Rokok
dapat menimbulkan gangguan pada mukosa di sekitar rongga mulut yang
mudah terpapar efek langsung dari rokok tersebut (Kusuma, 2011).
Zat karsinogenik pada rokok dapat mempengaruhi secara langsung
pertahanan tubuh host, kerusakan matriks ekstraseluler, dan proses alamiah
penyembuhan luka. Merokok dapat menyebabkan penurunan fungsi imun
saliva yaitu penurunan sel PMN, penurunan antibodi dalam saliva seperti IgA
dan IgG serta penurunan rasio CD4+/CD8 pada komposisi cairan saliva
sehingga dapat meningkatkan akumulasi jumlah bakteri anaerob pada rongga
mulut. Merokok juga dapat meningkatkan produksi sitokin proinflamasi berupa
TNF alfa, IL 1, dan PGE sehingga dapat menyebabkan

kerusakan

pada

matriks

ekstraseluler.

Merokok

juga

dapat menyebabkan perubahan

vaskularisasi gingival yaitu dilatasi pembuluh darah kapiler yang disertai


dengan akumulasi mediator proinflamasi pada gingival. Apabila terjadi
berkelanjutan,

maka

dapat

memicu

proses

inflamasi

berlebih

pada

gingival (gingivitis). Jika terjadi terus menerus, dapat mengakibatkan penipisan


kolagen pada jaringan lunak gingival yang terpapar serta memungkinkan
juga timbulnya periodontitis (Kusuma, 2011).
Efek panas yang ditimbulkan akibat merokok dapat menyebabkan
kerusakan lokal pada mukosa mulut, yaitu meningkatkan laju aliran saliva dan
konsentrasi ion kalsium pada saliva perokok. Rongga mulut yang sering
terpapar oleh asap rokok dan komponen yang terkandung di dalamnya dapat
menjadi toksik bagi jaringan lunak pada sekitar rongga mulut sehingga dapat
mempengaruhi status kesehatan dan kebersihan rongga mulut (Kusuma, 2011).
Sedangkan

dampak

merokok

yang

terus

menerus

dapat

meningkatkan keparahan rusaknya jaringan periodontal. Diantaranya adalah


sebagai berikut :
a) Poket
Penambahan celah antara gigi dan gusi atau yang biasa disebut sulkus
gingival.
b) Inflamasi gingival
Derajat keparahan dari inflamasi gingival sangat dipengaruhi oleh status
oral hygiene subjek nya.Jika status oral hygiene buruk, maka semakin
tinggi kemungkinan timbulnya inflamasi gingival. Sedangkan jika status

oral hygiene baik, maka semakin rendah kemungkinan timbulnya


inflamasigingival.
c) Resesi gingival
Biasanya menyertai gangguan periodontal, yaitu periodontitis.
C. Perokok
1. Definisi Perokok
Perokok adalah seseorang yang suka merokok, disebut perokok aktif bila
orang tersebut yang merokok secara aktif, dan disebut perokok pasif bila orang
tersebut hanya menerima asap rokok saja, bukan melakukan aktivitas merokok
sendiri (KBBI, 2012).
Definisi lain dari perokok adalah mereka yang merokok setiap hari untuk
jangka waktu minimal enam bulan selama hidupnya masih merokok saat survei
dilakukan (Octafrida, 2011).
2. Klasifikasi Perokok
Bustan (2007), membagi perokok dibagi atas tiga kategori, yaitu ringan (1batang perhari), sedang (11-20 batang perhari) dan berat (lebih dari 20 batang
perhari). Klasifikasi perokok juga dapat ditentukan oleh Indeks Brinkman (IB)
dengan rumus: jumlah rata-rata konsumsi rokok perhari (batang) x lama
merokok (tahun), dengan hasil ringan (0-199), sedang (200-599) dan berat
(>600).
3. Tipe Kondisi Perokok
Menurut Syafiie (2009) ada empat perilaku merokok, yaitu:
a. Kondisi perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif
Terdapat tiga sub tipe perokok yang menjadikan rokok sebagai penambah
kenikmatan yang sudah didapat, seperti merokok setelah makan atau minum
kopi, merokok untuk sekedar menyenangkan perasaan, dan suatu
kenikmatan seorang perokok saat memegang rokoknya.

b. Kondisi merokok yang dipengaruhi oleh perasaan negatif

Perokok merokok saat marah, cemas dan gelisah. Rokok dianggap


BeRbagai penyelamat.
c. Kondisi merokok yang adiktif
Mereka yang sudah adiksi, akan menambah dosis rokok yang digunakan
setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang.
d. Kondisi merokok yang sudah menjadi kebiasaan.
Mereka menggunakan rokok bukan karena untuk mengendalikan
perasaan, tetapi karena benar-benar sudah menjadi kebiasaannya rutin. Ia
menghidupkan api rokoknya bila rokok yang sebelumnya telah benarbenar habis.
4. Kategori Perokok
a. Perokok Pasif
Perokok pasif dalah asap rokok yang di hirup oleh seseorang yang tidak
merokok (Pasive Smoker). Asap rokok merupakan polutan bagi manusia dan
lingkungan sekitarnya. Asap rokok lebih berbahaya terhadap perokok pasif
daripada perokok aktif. Asap rokok sigaret kemungkinan besar berbahaya
terhadap mereka yang bukan perokok, terutama di tempat tertutup. Asap rokok
yang dihembusan oleh perokok aktif dan terhirup oleh perokok pasif, lima kali
lebih banyak mengandung karbon monoksida, empat kali lebih banyak
mengandung tar dan nikotin (Wardoyo, 1996).
b. Perokok Aktif
Menurut (Bustan,M.N., 2000) rokok aktif adalah asap rokok yang berasal
dari isapan perokok atau asap utama pada rokok yang dihisap (mainstream).
Dari pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perokok aktif adalah
orang yang merokok dan langsung menghisap rokok serta bisa mengakibatkan
bahaya bagi kesehatan diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

5. Tahapan Perilaku Merokok


Menurut Leventhal & Clearly dalam Mustikaningrum (2010) terdapat empat
tahap seseorang menjadi perokok, yaitu:
a. Tahap Persiapan
Seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai merokok
dengan cara mendengar, melihat atau dari hasil bacaan. Hal ini bagi mereka
menimbulkan minat untuk merokok.
b.Tahap Inisiasi
Tahap perintisan merokok yaitu tahap apakah seseorang akan meneruskan
atau tidak terhadap perilaku merokok.
c. Tahap Menjadi Perokok
Seseorang telah mengonsumsi rokok sebanyak empat batang per hari maka
mempunyai kecenderungan menjadi perokok.
d. Tahap Pemeliharaan
Pada tahap ini merokok sudah menjadi salah satu bagian dari
carapengaturan diri.
6. Faktor yang mempengaruhi kebiasaan merokok
a. Faktor biologis, salah satu zat yang terdapat dalam rokok adalah nikotin
yang dapat mempengaruhi perasaan atau kebiasaan dan berperan penting
pada ketergantungan merokok.
b. Faktor lingkungan sosial, lingkungan sosial berpengaruh terhadap sikap,
kepercayaan dan perhatian individu pada perokok. Faktor psikososial dari
merokok yang dirasakan antara lain lebih diterima dalam lingkungan
teman dan merasa lebih nyaman.

c. Faktor psikologis, merokok dapat dianggap meningkatkan konsentrasi atau


menghalau rasa kantuk, mengakrabkan suasana, juga dapat memberikan
kesan berwibawa.
d. Faktor Demografis, faktor ini meliputi umur dan jenis kelamin, orang
merokok pada usia dewasa semakin banyak. Faktor Sosial-Kultural,
kebiasaan budaya, kelas sosial, tingkat pendidikan, gengsi pekerjaan.
e. Faktor Sosial Politik, menambahkan kesadaran umum berakibat pada
langkah-langkah politik yang bersifat melindungi bagi orang-orang yang
tidak merokok dan usaha melancarkan kampanye-kampanye promosi
kesehatan untuk mengurangi perilaku merokok.
7. Tahapan Berhenti Merokok
Berikut tahapan-tahapan dalam upaya berhenti merokok sebagai
perubahan perilaku perokok yang mengacu pada teori Prochaska:
a. Prekontemplasi
Perokok belum merencanakan berhenti merokok.
b. Kontemplasi
Perokok mulai mempertimbangkan untuk berhenti merokok dan berniat
untuk berhenti merokok.
c. Preparasi atau Persiapan
Perokok berencana berhenti merokok dan sudah mempersiapkan diri untuk
berhenti merokok.
d. Aksi
Perokok sudah mulai berhenti merokok.
e. Pemeliharaan
Perokok telah mempertahankan perubahan perilaku (berhenti merokok)
selama minimal enam bulan.

8. Program Berhenti Merokok (PBM)


Menurut Sadikin (2008) langkah awal dalam PBM dikenal sebagai
intervensi singkat yang dalam guideline dari US Departement of Health and
Human Service disebut sebagai langkah 5A yaitu:
1. Ask (tanyakan)
Merupakan langkah untuk memastikan apakah klien/pasien anda merokok
dan menggali motivasinya untuk berhenti merokok, termasuk identifikasi
dan dokumentasi klien setiap kontrol (Sabri, 2011).
2. Advise (anjurkan)
Menasehati klien untuk berhenti merokok. Gunakan pendekatan secara
personal, kuat, dan jelas dalam menganjurkan klien untuk berhenti merokok
(Sabri, 2011).
3. Assess (evaluasi)
Nilai kesiapan klien untuk berhenti merokok, gunakan daftar tanya yang
dimaksudkan untuk melihat kesiapan klien untuk berhenti merokok. Klien
yang sedang dan tengah merokok, evaluasi keinginan untuk berhenti saat ini
(Sabri, 2011).
4. Assist (bantu)
Membantu klien berhenti merokok. Klien yang berniat berhenti merokok,
tawarkan pengobatan dan konseling yang bisa membantu klien berhenti
merokok. Klien yang belum berniat untuk berhenti, berikan motivasi untuk
meningkatkan keinginan berhenti merokok, begitu juga klien yang baru
berhenti merokok dan menghadapi kendala, untuk mencegah klien merokok
kembali (Sabri, 2011).
5. Arrange (susun) Susunlah semua langkah yang sudah dan akan dilakukan
oleh pasien untuk menghentikan kebiasaan merokoknya.