Anda di halaman 1dari 19

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata

Periode 5 Oktober - 7 November 2015


RS Family Medical Center (FMC), Sentul

Laporan Kasus
KATARAK SENILIS HIPERMATUR OS

Oleh:
Chintia Septiani Thintarso
112014093

Pembimbing :
dr. Michael I.L., Sp.M

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen


Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Telp. 021-56942061

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA


(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)
Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebon Jeruk Jakarta Barat
KEPANITERAAN KLINIK
1

STATUS ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
Hari/Tanggal Ujian/Presentasi Kasus : Oktober 2015
SMF ILMU PENYAKIT MATA
Rumah Sakit Family Medical Center-Sentul
Nama
NIM

: Chintia Septiani Thintarso


: 11-2014-093

Dr. Pembimbing/Penguji

: dr. Michael I.L., Sp.M

Tanda Tangan
.....................................

STATUS PASIEN
I.

IDENTITAS
Nama

: Tn L

Umur

: 58 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Tidak bekerja

Alamat

: Kebon kelapa Cimandala

Tanggal Pemeriksaan : 15 Oktober 2015


II. ANAMNESIS
Keluhan Utama

Mata kiri buram sejak 6 bulan SMRS


Keluhan tambahan :
Tidak ada
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien merasa bahwa mata kiri buram sejak 6 bulan yang lalu, penglihatan dirasa
buram secara perlahan - lahan, dan dirasakan semakin parah sejak 3 bulan yang
lalu. Sebelumnya OS dapat melihat tulisan-tulisan besar namun saat ini OS
mengaku hanya dapat melihat sinar yang datang saja. Saat ini OS sudah tidak
mengkonsumsi obat penurun gula darah selama 2 bulan karena gula darahnya
2

sudah terkontrol, tetapi OS masih mengkonsumsi obat penurun tekanan darah


setiap pagi 1/2 tablet.
Riwayat Penyakit Dahulu
a. Umum
1. Asthma

: tidak ada

2. Alergi

: tidak ada

3. DM

: Sejak 6 bulan yang lalu

4. Hipertensi

: Sejak 8 tahun yang lalu

5. Dislipidemia

: tidak ada

b. Mata
6. Riwayat sakit mata sebelumnya

: tidak ada

7. Riwayat penggunaan kaca mata

: tidak ada

8. Riwayat operasi mata

: tidak ada

9. Riwayat trauma mata sebelumnya

: tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga:


Penyakit mata serupa

: tidak ada

Penyakit mata lainnya

: tidak ada

Asthma

: tidak ada

Alergi

: tidak ada

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. STATUS GENERALIS
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda Vital

: Tekanan Darah

: 120/90mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Respirasi

: 18 x/menit

Suhu

: 36,7oC

Kepala/leher

: Pembesaran KGB tidak ada

Thorax, Jantung

: dalam batas normal

Paru

: dalam batas normal

Abdomen

: dalam batas normal


3

Ekstremitas

: dalam batas normal

B. STATUS OPTHALMOLOGIS
KETERANGAN

OD

OS

1.VISUS
AxisVisus
1/~
0,63 PH= 0,8
Koreksi
TidakDikoreksi
Addisi
TidakDikoreksi
DistansiaPupil
61
KacamataLama
TidakPernahMenggunakanKacamata
2.KEDUDUKANBOLAMATA
Eksoftalmus

Enoftalmus

Deviasi

GerakanBolaMata
Normal
3.SUPERSILIA
Warna
Hitam
Simetris
Simetris
4.PALPEBRASUPERIORDANINFERIOR
Edema

NyeriTekan

Ektropion

Entropion

Blefarospasme

Trikiasis

Sikatriks

PuctumLakrimal
Normal
FissuraPalpebra

TesAnel
TidakDilakukan
5.KONJUNGTIVASUPERIORDANINFERIOR
Hiperemis

Folikel

Papil

Sikatriks

Hordeolum

Kalazion

6.KONJUNGTIVABULBI
Sekret

InjeksiKonjungtiba

InjeksiSiliar

PendarahanSubkonjungtiva

Pterigium

Pinguekula

Nevuspigmentosa

KistaDermoid

7.SKLERA
Warna
Ikterik
NyeriTekan
8.KORNEA
Kejernihan
Permukaan
Ukuran
Sensibilitas
Infiltrat
KeratikPresipitat
SIkatriks
Ulkus
Perforasi
ArcusSenilis
Edema
TesPlacido
9.BILIKMATADEPAN
Kedalaman
Kejernihan
Hifema
Hipopion
EfekTyndal
10.IRIS
Warna
Kripre
Sinekia
Koloboma
11.PUPIL
Letak
Bentuk
Ukuran
ReflekCahayaLangsung
ReflekCahayaTakLangsung
12.LENSA
Kejernihan
Letak
TesShadow
13.BADANKACA
Kejernihan
14.FUNDUSOCCULI
Batas
Warna
Ekskavasio
RasioArteri:vena
C/Drasio
MakulaLutea

Putihbening

Jernih
Rata
Normal

Tidakada

Dalam
Jernih

Jernih
Rata
Normal

Tidakada

Tidakada
Tidakada
Tidakdilakukan

Dalam
Jernih

Coklattua

+
+
Jernih

Simetris
Bulat
Isokor

Ditengah

+
+
Keruh
+

Jernih
Jelas
Kuningmerah

1:1
0,6
+

Tidakdapatdinilai

Retina
Eksudat
Pendarahan
Sikatriks
Ablasio
15.PALPASI
NyeriTekan
MassaTumor
TensiOcculi
TonometriSchiots
16.KAMPUSVISI
TesKonfrontasi

10/7.5
Normal

OD

10/7,5
Tidakdapatdinilai

OS

IV. PEMERIKSAAN LAIN


Tidak Dilakukan
V.

RESUME
Anamnesis
Seorang laki-laki berumur 58 tahun datang dengan keluhan mata kiri buram sejak 6
bulan yang lalu SMRS. OS memiliki riwayat hipertensi dan Diabetes Mellitus.
Dari status oftalmologis didapatkan :
OD

PEMERIKSAAN

OS

0,63 PH=0,8

Visus

1/~

Jernih

Lensa

keruh

Tes Shadow

VI. DIAGNOSIS KERJA


Katarak senilis Hipermatur OS
6

VII. DIAGNOSIS BANDING


Tidak ada
VIII. PEMERIKSAAN ANJURAN
Pemeriksaan Retinometri
IX.

PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
-

Tidak diberikan

Non medikamentosa
-

Tindakan pembedahan

Edukasi:
1. Pasien memakai obat yang diberikan sesudah operasi katarak
2. Pasien memakai kacamata yang telah dikoreksi.
IX. PROGNOSIS
OCCULI DEXTRA (OD)

OCCULI SINISTRA (OS)

Ad Vitam

Bonam

Bonam

Ad Fungsionam

Dubia bonam

Dubia bonam

Ad Sanationam

Dubia bonam

Dubia bonam

PENDAHULUAN
Katarak merupakan penyebab sedikitnya 50% kasus kebutaan diseluruh dunia. Seiring
dengan peningkatan usia harapan hidup, jumlah orang yang terkena semakin bertambah.
Katarak mengenai semua umur dan pada orang tua pada usia lanjut. Makin lanjut usia
seseorang makin besar kemungkinan mendapatkan katarak. Pada saat ini katarak banyak
ditemukan pada masyarakat. Hal ini akibat bertambahnya manula sebagai dampak dari
meningkatnya kesejahteraan. Sayangnya tidak ada cara untuk mencegah atau menekan laju
pertumbuhan katarak. Walaupun pemberian antioksidan oral dianggap menjanjikan, studistudi klinis saat ini menyimpulkan bahwa zat-zat tersebut tidak berefek pada pertumbuhan
katarak.

Anatomi Lensa

Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular, tak berwarna dan hampir transparan
sempurna. Bersama dengan kornea, lensa berfungsi untuk menfokuskan cahaya ke elemen
sensoris retina Tebalnya sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm. Di belakang iris digantung
oleh zonula, yang menghubungkannya dengan
korpus siliaris. Di sebelah anterior lensa terdapat
humour aqueus dan di sebelah posteriornya
vitreous. Kapsul lensa adalah suatu membran
semipermeabel yang memperbolehkan air dan
elektrolit masuk.1
Di

bagian

depan

terdapat

selapis

epitel

subkapsular. Nukleus lensa lebih keras daripada


korteksnya. Sesuai dengan bertambahnya usia,
serat-serat lamelar subepitel terus diproduksi, sehingga lensa semakin lama semakin besar
dan kurang elastik. Nukleus dan korteks terbentuk dari lamela konsentris yang panjang.
Garis-garis persambungan yang terbentuk dengan persambungan lamela ini ujung ke ujung
berbentuk Y bila dilihat dengan slitlamp. Bentuk Y ini tegak di anterior dan terbalik di
posterior1. Lensa ditahan di tempatnya oleh ligamentum yang dikenal sebagai zonula (zonula
Zinnii), yang tersusun dari banyak fibril dari permukaan korpus siliaris dan menyisip ke
dalam ekuator lensa.1
Enam puluh lima persen lensa terdiri dari air, sekitar 35% protein (kandungan protein
tertinggi di antara aringan-jaringan tubuh), dan sedikit sekali mineral yang biasa ada di
jaringan tubuh lainnya. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa daripada di kebanyakan

jaringan lain. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun
tereduksi.1 Lensa tida ada serat nyeri, pembuluh darah atau saraf di lensa.1
Pemeriksaan klinis
Pemeriksaan Oftalmologis

Lensa. Semakin sedikit lensa keruh semakin besar bayangan iris pada lensa yang
keruh. Sentolop disinarkan pada pupil dengan sudut 45 0, dengan dataran iris. Bila
letak bayangan jauh dan besar berarti katarak imatur. Sedangkan bayang kecil dan
dekat pupil berarti lensa katarak

Iris dan bilik mata depan

Shadow Test

Funduskopi

Lapang pandang

Respon pupil

TIO

Uji Anel

Biometri dan integritas kornea

matur.

Gejala Klinis
1. Penurunan tajam penglihatan tergantung dari tipe katarak:

Katarak polar kortikal dan anterior


Kelainan tampak mencolok namun gangguan penglihatan biasanya ringan

Katarak polar posterior dan subkapsul posterior


Kelainan tampak ringan, gangguan penglihatan biasanya berat

Katarak sklerosis nukleus

Menyebabkan peningkatan miopia


2. Peningkatan sensitivitas terhadap cahaya: terutama pada katarak subkapsular posterior
dan katarak kortikal
3. Pergeseran miopi (myopic shift): perjalanan katarak dapat meningkatkan kekuatan dioptri
lensa sehingga menyebabkan terjadinya miopia ringan sampai sedang atau pergeseran
miopia.

4. Pada pasien dengan presbiopi bisa terjadi peningkatan kemampuan membaca dekat
sehingga tidak memerlukan kacamata bacanya, disebut second sight.
5. Penglihatan ganda (diplopia) monokular
6. Rabun senja1
Klasifikasi katarak
Berdasarkan usia pasien , katarak terbagi menjadi :
1. Katarak kongenital yaitu katarak yang terlihat pada usia dibawah 1 tahun.
2. Katarak juvenile yaitu katarak yang terlihat pada usia diatas 1 tahun dan dibawah 40
tahun.
3. Katarak presenil yaitu katarak sesudah usia 30-40 tahun.
4. Katarak senil yaitu katarak yang mulai terjadi pada usia 50 tahun.
Sebagian besar katarak tidak dapat dilihat oleh pengamat awam sampai menjadi cukup
padat (matur atau hipermatur) dan menimbulkan kebutaan. Namun, katarak, pada stadium
perkembangannya yang paling dini, dapat diketahui melalui pupil yang didilatasi maksimum
dengan oftalmoskop, kaca pembesar, atau slitlamp.
Fundus okuli menjadi semakin sulit dilihat seiring dengan semakin padatnya kekeruhan
lensa, sampai refleks fundus sama sekali hilang. Pada stadium ini katarak biasanya telah
matang dan pupil mungkin tampak putih.
Derajat klinis pembentukan katarak, dengan menganggap bahwa tidak terdapat penyakit
mata lain, dinilai terutama dengan uji ketajaman penglihatan Snellen. Secara umum,
penurunan ketajaman penglihatan berhubungan langsung dengan kepadatan katarak.

Tabel 1. Grading Jenis Katarak2

10

Diagnosis katarak dapat ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi.


1. Anamnesis riwayat perjalanan penyakit pasien.
2. Tajam penglihatan dengan dan tanpa koreksi.
3. Pemeriksaan segmen anterior dengan senter atau slit lamp didapatkan kekeruhan
lensa. Pada pemeriksaan shadow test dengan membuat sudut 450 , bayangan iris jatuh
ke lensa sehingga shadow test postif yang berarti katarak masih imatur. Sedangkan
apabila shadow test negative menunjukkan katarak sudah matur.
4. Pemeriksaan reflex pupil langsung dan tidak langsung menunjukkan positif. Apabila
terdapat relative afferent pupillary defect perlu dipikirkan adanya kelainan patologis
lain yang menganggu tajam penglihatan.2

Katarak senilis
Katarak yang biasanya dimulai pada usia 50 tahun. Pada katarak ini kedua mata dapat
terlihat dengan derajat kekeruhan yang sama ataupun berbeda. Proses degenerasi pada lensa
terlihat pada beberapa stadium katarak senil.

Stadium Katarak Senilis

11

Katarak senilis terdiri dari beberapa stadium, yaitu:


1. Katarak insipien
Kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeruji menuju korteks anterior dan posterior
(katarak kortikal).
2. Katarak intumesen
Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa degeneratif menyerap air.
Lensa yang membengkak dan membesar akan mendorong iris sehingga bilik mata
menjadi dangkal, hal ini dapat menimbulkan penyulit berupa glaukoma.
3. Katarak imatur
Lensa sebagian keruh, belum mengenai seluruh lapisan lensa. Volume lensa bertambah
akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif.
4. Katarak matur
Kekeruhan telah mengenai seluruh lapisan lensa. Bila
katarak imatur atau intumesen tidak dikeluarkan maka
cairan akan keluar sehingga ukuran lensa kembali
normal dan terjadi kalsifikasi lensa. Bilik mata depan
kembali normal, tidak terdapat bayangan iris pada
lensa yang keruh sehingga shadow test menjadi
negatif.
5. Katarak hipermatur
Massa lensa yang berdegenerasi mencair dan keluar dari kapsul lensa sehingga ukuran
lensa mengecil.

6. Katarak Morgagni
Jika katarak hipermatur tidak dikeluarkan, akan terjadi
pengerutan dan korteks telah mencair sehingga nukleus
lensa akan turun dari tempatnya dalam kapsul lensa. 2

12

Etiologi katarak bersifat multifaktorial dan sampai saat ini belum sepenuhnya diketahui
secara pasti Salah satu teori tentang etiologi katarak senilis yang banyak berkembang
belakangan ini adalah mekanisme stres oksidatif. Stres oksidatif adalah suatu keadaan
ketidakseimbangan antara radikal bebas dengan antioksidan . Lensa mata sangat sensitif
terhadap terjadinya stres oksidatif. Lensa mata normal dilengkapi perlindungan dan sistem
antioksidan untuk melawan stres oksidatif. Seiring bertambahnya usia dan adanya paparan
yang terus-menerus oleh agen dari luar, akan menyebabkan gangguan mekanisme proteksi
antioksidan lensa mata sehingga terjadi akumulasi radikal bebas yang berlebihan.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terbentuknya katarak dengan cepat yaitu
seperti penyakit diabetes, radang mata , trauma mata , riwayat keluarga dengan katarak,
pemakaian steroid yang lama, merokok , pembedahan mata lainnya , terpajan banyak sinar
ultraviolet. kerusakan oksidatif ( dari proses radikal bebas), dan malnutrisi. Berdasarkan
penelitian World Health Organization (WHO), kurang lebih 37 juta penduduk dunia
mengalami kebutaan, dan 47,8% dari jumlah tersebut disebabkan oleh katarak.3

Tatalaksana katarak senilis


Tatalaksana utama terhadap katarak adalah pembedahan. Tidak ada manfaat dari
suplementasi nutrisi atau terapi farmakologi dalam mencegah atau memperlambat
progresivitas katarak. Pembedahan dilakukan bila ada indikasi bedah, seperti katarak yang
telah menggangu pekerjaan sehari-hari dan menganggu kehidupan sosial, walaupun katarak
dalam keadaan belum matur dan juga pada katarak yang telah menimbulkan penyulit seperti
pada katarak intumesen yang menimbulkan glaukoma dan uveitis.
Bedah Katarak
Bedah katarak sudah berubah secara dramatis pada 20 tahun terakhir ini, yang prinsipnya
disebabkan oleh adanya mikroskop operasi, instrumentasi yang lebih baik, benang jahit yang
lebih baik, serta lebih baiknya lensa intraokuler. Dalam bedah katarak, lensa diangkat dari
mata (eksraksi lensa) dengan prosedur intrakapsular atau ekstrakapsular.3
Ekstraksi Katarak Intrakapsular dan Ekstraksi Katarak Ekstrakapsular
Teknik ini jarang dilakukan lagi sekarang. Lensa diangkat in toto, yakni di dalam
kapsulnya, melalui insisi limbus superior 140 hingga 160 derajat. Pada ekstraksi
ektrakapsular, juga dilakukan insisi limbus posterior, bagian anterior kapsul dipotong dan

13

diangkat, nukleus diekstraksi, dan korteks lensa dibuang dari mata dengan irigasi dengan atau
tanpa aspirasi, sehingga menyisakan kapsul posterior.
Beberapa pasien mengalami kekeruhan sekunder di kapsul psterior dan memerlukan disisi
dengan laser neodymium: YAG.
Gambar : Ekstraksi Katarak Intrakapsular3

Gambar : Ekstraksi Katarak Ekstrakapsular3

14

Fakoemulsifikasi
Fakofragementasi dan fakomulsifikasi dengan irigasi atau aspirasi (atau keduanya)
adalah teknik ekstrakapsular yang menggunakan getaran-getaran ultrasonik untuk
mengangkat nukleus dan korteks melalui insisi lumbus yang kecil (2-5 mm), sehingga
mempermudah penyembuhan luka pascaoperasi. Teknik ini bermanfaat pada katarak
kongenital, traumatik, dan kebanyakan katarak senilis. Teknik ini kurang efektif pada katarak
senilis yang padat, dan keuntungan insisi lumbus yang kecil agak berkurang kalau akan
dimasukkan lensa intraokuler, meskipun sekarang lebih sering digunakan lensa intraokuler
fleksibel yang dapat dimasukkan melalui insisi kecil seperti itu.
Pada beberapa tahun silam, operasi ekstrakapsular telah menggantikan prosedur
intrakapsular sebagai jenis bedah katarak yang paling sering. Alasan utamanya adalah bahwa
apabila kapsul anterior utuh, ahli bedah dapat memasukkan lensa intraokuler ke dalam
kamera posterior. Insidensi komplikasi pasca-operasi, seperti ablasio retina dan edema
makula sistoid, lebih kecil kalau kapsul posteriornya utuh.3

Gambar: Fakoemulsifikasi
Lensa Intraokular
Lebih

dari

90%

dari

Amerika Serikat, atau lebih

semua

operasi

katarak

di

dari 1 juta per tahun, diikuti

dengan implantasi lensa intraokuler. Membaiknya teknik bedah dan implan lensa yang
semakin membaik memainkan peranan yang besar dalam kemajuan ini. Akan tetapi,
perangsang utamanya adalah kerugian yang ditimbulkan oleh kacamata afakia, antara lain:
pembesaran bayangan, aberasi sferis, lapangan pandang terbatas, dan tidak adanya
kemungkinan menggunakan lensa binokuler bila mata lainnya fakik.
Sekitar 90% implan berada di kamera posterior dan 10% di kamera anterior. Ada banyak
lensa, tetapi semuanya terdiri dari dua bagian dasar: optik sferis, dan biasanya dibuat dari
polimetilmetakrilat; dan footplates atau haptik untuk menahan lensa dari posisinya.
15

Lensa kamera posterior umunya digunakan pada prosedur ekstrakapsular. Kombinasi ini
lebih disukai daripada lensa kamera anterior karena insidensi komplikasi yang mengganggu
padangan lebih kecil, seperti hifema, glaukoma sekunder, edema makula, dan blok pupil.
Insidensi kerusakan kornea dan keratopati bulosa pseudofakik pada pasien dengan lensa
kamera posterior juga lebih kecil. Akan tetapi, jenis lensa kamera anterior yang lebih baru
sudah menurunkan insidensi komplikasi-komplikasi ini. Lensa kamera anterior digunakan
pada pasien-pasien yang menjalani bedah intrakapsular atau jika kapsul psoterior sudah
ruptur tanpa sengaja pada saat pembedahan ekstrakapsular.
Kontraindikasi untuk implantasi lensa intraokular antara lain uveitis berulang, retinopati
diabetik proliferatif, rubeosis iridis, dan glaukoma neovaskular. Pasien dengan glaukoma
sudut terbuka dan hipertensi okuler dapat menerima lensa intraokuler, tetapi lensa kamera
posterior lebih disukai. Usia dianggap merupakan kontraindikasi relatif, tetapi semakin muda
saja, pasien menerima lensa intraokuler setiap tahunnya.
Sebagai pengganti lensa intraokuler adalah lensa kontak, tetapi banyak pasien usia lanjut
tidak dapat menerima atau memasanganya dengan mudah. Pada keadaan-keadaan tertentu,
kalau tidak dapat digunakan lensa intraokuler atau lensa kontak, digunakan kacamata afakia.3

Gambar: Lensa intraokuler


Sumber: www.edow.com/html/cataracts.html
Indikasi dilakukannya pembedahan :
-

Penurunan fungsi penglihatan yang tidak dapat lagi ditolerir pasien karena menganggu
aktivitas sehari-hari.

Adanya anisometropia yang bermakna secara klinis.

Kekeruhan lensa menyulitkan pemeriksaan segmen posterior.

Terjadinya komplikasi terkait lensa seperti peradangan atau glaukoma sekunder.

Kontraindikasi pembedahan :
-

Penurunan fungsi penglihatan yang masih dapat ditoleransi oleh pasien.

Tindakan bedah diperkirakan tidak akan memperbaiki tajam penglihatan dan tidak ada
indikasi bedah lainnya.

16

Pasien tidak dapat menjalani bedah dengan aman karena keadaan media atau kelainan
okular lainnya yang ada di pasien.

Perawatan pasca bedah yang sesuai tidak bisa didapatkan oleh pasien.

Persiapan pasien yang akan melakukan tindakan pembedahan adalah sebagai berikut :
-

Uji anel positif. Dimana tidak terjadi obstruksi fungsi ekskresi saluran lakrimal
sehingga tidak ada dakriosistitis

Tidak ada infeksi disekitar mata seperti keratitis, konjungtivitis, blefaritis, hordeolum
dan kalazion.

Tekanan bola mata normal atau tidak terdapat glaucoma

Tekanan darah sistolik 160 mmHg dan diastolic 100 mmHg

Gula darah telah terkontrol

Tidak batuk terutama pada saat pembedahan4

Perawatan Pasca-Operasi
Jika digunakan teknik insisi kecil, masa penyembuhan pasca-operasi biasanya lebih
pendek. Pasien dapat bebas rawat jalan pada hari itu juga, tetapi dianjurkan untuk hati-hati
dalam bergerak, menghindari peregangan atau mengangkat benda berat selama sekitar satu
bulan. Mata pasien dibalut selama beberapa hari. Namun jika pasien sudah merasa nyaman,
balutan dapat dibuang pada hari yang sama dengan operasi. Setelah itu mata pasien
dilindungi dengan kacamata atau dengan pelindung lain selama sehari. Perlindungan pada
malam hari dengan pelindung dari logam diperlukan selama beberapa minggu. Kacamata
sementara dapat digunakan beberapa hari setelah operasi, tetapi biasanya pasien melihat
dengan cukup baik melalui lensa intraokuler sambil menantikan kacamata permanen
(biasanya disediakan 6-8 minggu setelah operasi).
Komplikasi bedah katarak
Sekitar 2% pasien bedah katarak mengalami ablatio retinae regmatogenosa, diduga akibat
pergerakan vitreus ke anterior selama atau sesudah pembedahan. Pasien biasanya mengeluh
adanya kilatan sinar, fotopsia, hilangnya penglihatan perifer, dan hilangnya penglihatan
sentral bila macula terlepas. Dikatakan bedah katarak menyebabkan kehilangan vitreus
sekitar 1%. Ablatio retina sering terjadi setelah ruptur kapsul, kehilangan vitreus, dan
viterektomi anterior. Ruptur kapsul saat bedah katarak dapat mengakibatkan pergeseran
materi lensa atau seluruh lensa kedalam vitreus. Peradangan dan glaucoma fakolitik biasa
dapat terjadi, kecuali bila hanya sejumlah kecil korteks yang mengalami dislokasi. Vitrektomi
17

dan fakofragmentasi sangat efektif untuk mengangkat materi lensa yang terdislokasi
posterior.
Endoftalmitis dapat terjadi dalam satu sampai beberapa hari setelah operasi katarak dan
dengan cepat dapat menyebabkan kehilangan mata bila tidak dikenali dan segera diobati.
Sebagian besar kasus, paling baik diatasi dengan melakukan sadap vitreus (vitreus tap) untuk
biakan dan uji sensitivitas serta injeksi antibiotic intravitreal. Beberapa kasus dapat juga
diatasi dengan vitrektomi. Pasien yang terinfeksi organisme yang agresif sering kehilangan
matanya walaupun dilakukan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat. Setiap pasien dengan
nyeri, penurunan penglihatan, dan peradangan yang terus meningkat harus segera dilihat
apakah terdapat endoftalmitis.4
Kesimpulan
Katarak merupakan penyakit pada mata yang terjadi akibat kekeruhan pada lensa.
Faktor usia merupakan penyebab tersering katarak di samping faktor lain seperti penyakit
sistemik, kelainan genetik, kongenital, dan toksin.
Hingga saat ini katarak belum dapat dicegah. Namun, beberapa faktor risiko dapat
dihindari agar katarak tidak terjadi secara dini. Faktor risiko tersebut antara lain rokok
pajanan terhadap sinar matahari, dan penyakit sistemik. Pengobatan satu-satunya untuk
menyembuhkan katarak adalah dengan operasi. Beberapa teknik yang digunakan yaitu
ektraksi katarak intrakapsular (Intracapsular Cataract Extraction/ICCE), ekstraksi katarak
ekstrakapsular (Extracapsular Cataract Extraction/ECCE), dan fakoemulsifikasi. Dengan
adanya teknik bedah katarak, angka kesembuhan pasien mencapai 90%. Keberhasilan ini
akan terus dikembangkan sehingga prevalensi katarak dapat dikurangi.
Referensi
1. Morosidi SA, Paliyama MF. Ilmu penyakit mata. Jakarta; Fakultas kedokteran
UKRIDA, 2011 : 59-60.
2. Pambudy IM, Irawati Y. Dalam: Tanto C, Liwang F, Hanifati S, Pradipta EA. Kapita
selekta kedokteran essentials of medicine. Ed. 4. Jakarta: Media Aesculapius
Universitas Indonesia, 2014: 385-7.

18

3. Salmon JF. Glaucoma. In: Riordan-Eva P, Cunningham ET [editor]. Vaughan &


Asburys general ophthalmology. 18th ed. New York: The McGraw-Hill Companies,
2011: 533-68.
4. Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu penyakit mata. Ed. 4. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 2013: 169-74.

19