Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Di era globalisasi tahun 2020 mendatang, kesehatan

kerja

merupakan salah satu prasyarat yang ditetapkan dalam hubungan ekonomi


perdagangan barang dan jasa antar negara yang harus dipenuhi oleh seluruh
negara anggotanya, termasuk bangsa Indonesia. Untuk mengantisipasi hal
tersebut serta mewujudkan perlindungan masyarakat pekerja Indonesia; telah
ditetapkan Visi Indonesia Sehat 2015 yaitu gambaran masyarakat Indonesia di
masa depan, yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat,
memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta
memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Pelaksanaan kesehatan kerja merupakan salah satu bentuk upaya
untuk menciptakan tempat atau lingkungan kerja yang aman, sehat, bebas dari
pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi atau terbebas dari
kejadian kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya
dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja suatu perusahaan atau
tempat kerja.
Dalam penjelasan undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang
kesehatan yang telah mengamanatkan antara lain bahwa setiap tempat kerja
harus melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan
kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan disekitarnya
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalahnya,yaitu:
1. Apa konsep keperawatan kesehatan kerja?
2. Apa saja program kesehatan kerja yang ada?
3. Bagaimana Asuhan keperawatan kesehatan kerja?

1.3 TUJUAN
1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mempelajari dan mengetahui mengenai konsep dan program


kesehatan kerja dan dapat mengaplikasikannya didalam asuhan keperawatan.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui konsep keperawatan kesehatan kerja.
2. Menegetahui program keshatan kerja yang ada.
3. Mengetahui asuhan keperawatan kesehatan kerja
1.4 METODE PENULISAN
Metode penulisan pada makalah ini sesuai dengan literature, penulisannya
berdasarkan referensi dari beberapa buku dan internet.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KONSEP KEPERAWATAN KESEHATAN KERJA


Kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kesehatan atau
kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar pekerja memperoleh
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik atau mental maupun
sosial dalam usaha-usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit-penyakit
akibat kerja, gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor
pekerjaan dan lapangan kerja, serta penyakit-penyakit umum (dalam buku
Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat)
2.1.1 Upaya Dasar Kesehatan Kerja
Upaya kesehatan kerja adalah upaya penyerasian antara
kapasitas, beban, dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja
secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat
disekelilingnya, agar dieroleh produktifitas kerja yang optimal (UndangUndang Kesehatan Tahun 1992). Konsep dasar dari upaya kesehatan
kerja ini adalah mengidentifikasi permasalahn, mengevaluasi, dan
dilanjutkan dengan tindakan pengendalian. Sasaran kesehatan kerja
adalah manusia dan meliputi aspek kesehatan dari pekerja itu sendiri.
2.1.2 Ruang Lingkup Kesehatan Kerja
Kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara
pekerja dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun
fsikis dalam hal cara atau metode,proses,dan kondisi pekerjaan yang
bertujuam untuk:
1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat
pekerja

disemua

lapangan

kerja

setinggi-tingginya

baik

fisik,mental,maupun kesejahteraan sosialnya.


2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja
yang diakibatkan oleh keadaan atau kondisi lingkungan kerjanya

3. Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam


pekerjaanya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktorfaktor yang membahayakan kesehatan.
4. Menempatkan dan memelihara pekerja di suatu lingkungan pekerjaan
yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.
Dalam Permenaker No.3 tahun 1982 disebutkan tugas pokok
kesehatan kerja antara lain:
1. Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian pekerjaan terhadap
2.
3.
4.
5.

tenaga kerja.
Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja.
Pembinaan dan pengawasan perlengkapan sanitasi
Pembinaan dan pengawasan perlengkapan kesehatan kerja.
Memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat
kerja, pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta

penyelenggaraan makanan ditempat kerja.


6. Memberikan laporan berkala tentang pelayanan kesehatan kerja kepada
pengurus.
7. Memberikan saran dan masukan kepada manajemen dan fungsi terkait
terhadap permasalahan yang berhubungan dengan aspek kesehatan
kerja.

2.1.3 Kapasitas Kerja, Beban Kerja, Lingkungan Kerja


Kapasitas kerja,beban kerja, dan lingkungan kerja merupakan
tiga komponen utama dalam system kesehatan kerja. Dimana hubungan
interaktif dan serasi antara ketiga komponen tersebut akan menghasilkan

kesehatan kerja yang baik dan optimal.Kapasitas kerja yang baik seperti
status kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik serta kemampuan fisik
yang prima diperlukan agar pekerja dapat melakukan pekerjaannya
dengan baik.
Beban kerja meliputi beban kerja fisik maupun mental. Akibat
beban kerja terlalu berat atau kemampuan fisik yang terlalu lemah dapat
mengakibatkan seseorang pekerja menderita gangguan atau penyakit
akibat kerja.Kondisi lingkungan kerja yaitu keadaan lingkungan tempat
kerja pada saat bekerja, misalnya panas,debu,zat kimia dan lain-lain,
dapat merupakan bebam tambahan trhadap pekerja. Beban beban
tambahan tersebut secara sendiri-sendiri atau bersama sama menjadi
gangguan atau penyakit akibat kerja.
Perhatian yang baik pada kesehatan kerja dan perlindungan
risiko bahaya di tempat kerja menjadikan pekerja dapat lebih nyaman
dalam bekerja. Dalam Undang-undang No. 36 tahun 2009 dinyatakan
bahwa kesehatan kerja diselenggarakan agar setiap pekerja dapat bekerja
secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat
sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal sejalan
dengan program perlindungan tenaga kerja.

2.1.4

Tujuan Penerapan Keperawatan Kesehatan Kerja


International Labor Organization (ILO) dan WHO (1995)
menyatakan

kesehatan

kerja

bertujuan

untuk

peningkatan

dan

pemeliharaan derajat kesehatan fisik, mental dan sosial yang setinggi-

tingginya bagi pekerja disemua jenis pekerjaan, pencegahan terhadap


gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan;
perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor
yang merugikan kesehatan dan penempatan serta pemeliharaan pekerja
dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi
dan psikologisnya. Secara umum tujuan keperawatan kesehatan kerja
adalah menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif. Kegiatankegiatan hygiene perusahaan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut
1. Pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit dan kecelakaan
akibat kerja.
2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan tenaga kerja.
3. Perawatan dan mempertinggi efisiensi dan daya produktivitas tenaga
kerja.
4. Pemberantasan kelelahan tenaga kerja.
5. Meningkatkan kegairahan serta kenikamatan kerja.
6. Perlindungan masyarakat sekitar perusahaan dari bahaya-bahaya
pencemaran yang bersal dari perusahaan.
7. Perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin
ditimbulkan oleh produk-produk industri.
8. Pemeliharaan dan peningkatan higene dan sanitasi perusahaan seperti
kebersihan, pembuangan limbah, sumber air bersih dan sebagainya.

2.1.5

Penyakit Akibat Kerja


Menurut Per 01/Men/1981 yang dimaksud Penyakit akibat kerja
adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan
kerja. Penyakit akibat kerja dapat ditemukan atau didiagnosis sewaktu
dilaksanakan pemeriksaan kesehatan kerja. Diagnosis penyakit akibat
kerja ditegakkan

melalui serangkaian pemeriksaan

klinis

dan

pemeriksaan kondisi pekerja serta lingkungannya untuk membuktikan


6

adanya

hubungan

sebab

akibat

antara

penyakit

dan

pekerjaannya.setelah ditegakkan diagnosis penyakit akibat kerja oleh


dokter pemeriksa maka dokter wajib membuat laporan medik yang
bersifat rahasia (Kep 333/Men/1989).
Agar penyakit akibat kerja tidak terulang kembali diderita oleh
tenaga kerja yang berada dibawah pimpinannya, maka pengurus wajib
dengan segara melakukan tindakan-tindakan preventif. Dalam hal ini
pengurus

wajib

menyediakan

secara

cuma-cuma

semua

alat

perlindungan diri yang diwajibkan penggunaanya oleh tenaga kerja


yang berada dibawah pimpinannya (Per 01/Men/1981).
Penyakit akibat kerja
Menurut peraturan menteri tenaga kerja RI Nomor:PER01/MEN/1981 tentang kewajiban melapor penyakit akibat kerja bahwa
yang di maksud dengan penyakit akibat kerja (PAK) adalah setiap
penyakit

yang

di

sebabkan

oleh

pekerjaan

atau

lingkungan

kerja.beberapa cirri penyakit akibat kerja adalah di pengaruhi oleh


populasi pekerja; di sebabkan oleh penyebab yang spesifik;di tentukan
oleh

pemajanann

di

tempat

kerja;ada

atau

tidaknya

kompensasi.contohnya adalah keracunan timbel(Pb),asbestosis dan


silikosis (B.Sugeng, 2003).

Jenis penyakit akibat kerja


Dalam peraturan menteri tenaga kerja dan transmigrasi nomor:
PER-01/MEN/1981 dicantumkan 30 jenis penyakit, sedangkan pada
keputusan presiden RI no. 22/1993 tentang penyakit yang timbul karena
hubungan kerja memuat jenis penyakit yang sama dengan tambahan
penyakit yang disebabkan bahan kimia lainnya termasuk bahan obat.
Jenis-jenis penyakit akibat kerja tersebut adalah berikut ini:
1. Pneumokoniosis disebabkan oleh debu mineral pembentukan jaringan
parut (silikosis, antrakosilikosis, asbestosis) dan silikotuberkulosis yang
silikosisnya merupakan factor utama penyebab cacat atau kematian
7

2. Penyakit paru dan saluran pernapasan (bronkopulmoner) yang disebabkan


oleh debu logam keras
3. Penyakit paru dan saluran pernapasan (bronkopulmoner) atau byssinosis
yang disebabkan oleh debu kapas, vlas, henep (serat yang diperoleh dari
batang tanaman cannabis sativa), dan sisal (serat yang diperoleh dari
tumbuhan Agave sisalana, biasanya dibuat tali)
4. Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitisasi dan
perangsang yang dikenal yang berada dalam proses pekerjaan.
5. Alveolitis alergika yang disebabkan oleh factor dari luar sebagai akibat
penghirupan debu organic
6. Penyakit yang disebabkan oleh beriliun (Be) atau persenyawaannya yang
beracun
7. Penyakit yang disebabkan oleh cadmium (Cd) atau persenyawaan yang
beracun.
8. Penyakit yang disebabkan oleh fosforus (P) atau persenyawaan yang
beracun.
9. Penyakit yang disebabkan oleh kromium (Cr) atau persenyawaan yang
beracun
10. Penyakit yang disebabkan oleh mangan (Mn) atau persenyawaan yang
beracun
11. Penyakit yang disebabkan oleh arsenic (As) atau persenyawaan yang
beracun
12. Penyakit yang disebabkan oleh raksa atau merkurium (Hg) atau
persenyawaan yang beracun
13. Penyakit yang disebabkan oleh timbel atau lumbung (Pb) atau
persenyawaan yang beracun
14. Penyakit yang disebabkan oleh fluorin (F) atau persenyawaan yang
beracun
15. Penyakit yang disebabkan oleh karbon disulfida
16. Penyakit yang disebabkan oleh derifat halogen dari persenyewaan
hidrokarbon alifatik atau aromatic yang beracun
17. Penyakit yang disebabkan oleh benzena atau homolognya yang beracun
18. Penyakit yang disebabkan oleh derifat nitro dan amina dari benzene atau
homolognya yang beracun
19. Penyakit yang disebabkan oleh nitrogliserin atau ester asam nitrat lainnya
20. Penyakit yang disebabkan oleh alcohol, atau keton

21. Penyakit yang disebabkan oleh gas atau uap penyebab asfiksia atau
keracunan seperti karbon monoksida, hydrogen sianida, hydrogen sulfide
atau derifatnya yang beracun, amoniak, seng, braso, dan nikel.
22. Kelainan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan
23. Penyakit yang disebabkan oleh getaran mekanik (kelainan-kelainan otot,
urat, tulang persendian, dan pembuluh darah tepi atau saraf tepi)
24. Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang bertekanan
tinggi.
25. Penyakit yang disebabkan oleh radiasi elektromagnetik dan radiasi yang
mengion
26. Penyakit kulit (dermatosis) yang disebabkan oleh fisik, kimiawi, atau
biologis.
27. Kanker kulit epitelioma primer yang disebabkan oleh ter, pic, bitumen,
minyak mineral, antrasena, atau persenyawaan, produk, dan residu zat-zat
tersebut
28. Kanker paru atau mesotelioma yang disebabkan oleh asbes
29. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit yang
terdapat dalam suatu pekerjaan yang memiliki resiko kontaminasi khusus
30. Penyakit yang disebabkan oleh suhu tinggi atau rendah, panas radiasi, atau
kelembapan udara yang tinggi.
31. Penyakit yang disebabkan oleh bahan kimia lainnya termasuk bahan obat.
2.1.6

Fungsi Dan Tugas Perawat Dalam Keselamatan Dan Kesehatan


Kerja
Fungsi dan tugas perawat dalam usaha keselamatan dan kesehatan kerja

(K3) di industri adalah sebagai berikut (Nasrul Efendi, 1998)


Fungsi perawat
- Mengkaji masalah kesehatan
- Menyusun rencana asuhan keperawatan pekerja.
- Melaksanakan pelayanan kesehatan dan keperawatan terhadap pekerja.
- Melakukan penilaian terhadap asuhan keperawatan yang telah di
lakukan.
Tugas perawat
- Mengawasi lingkungan pekerja
- Memelihara fasilitas kesehatan perusahaan.
- Membantu dokter dalam pemeriksaan kesehatan pekerja.
- Membantu melakukan penilaian terhadap keadaan kesehatan pekerja.

2.1.7

Merencanakan dan melaksanakan kunjungan rumah dan perawatan di


rumah kepada pekerja dan keluarga pekerja yang mempunyai masalah
kesehatan.
Ikut berperan dalam penyelanggaraan pendidikan K3 terhadap pekerja.
Ikut berperan dalam usaha keselamatan kerja.
Memberikan pendidikan kesehatan mengenai KB terhadap pekerja dan
keluarganya.
Membantu usaha penyelidikan kesehatan pekerja.
Mengoordinasi dan mengawasi pelaksanaan K3.

Upaya-Upaya Pencegahan Penyakit Akibat Kerja


1. Subtitusi
Yaitu mengganti bahan-bahan berbahya dengan bahan-bahan yang
kurang berbahaya atau tidak berbahay sama seklai, misalnya karbon
tetraklorida diganti dengan triklor etilen.
2. Ventilasi umum
Yaitu
mengalirkan
udara sebanyak-banyaknya

menururt

perhitungan ke alam ruangan kerja, agar bahan-bahan yang


berbahaya ini lebih rendah dari kadar yang membahayakan, yaitu
kadar pada nilai ambang batas.
3. Ventilasi Keluar setempat
Adalah alt yang dapat mengisap udara dari suatu tempat kerja
tertentu, agar bahan-bahan yang berbahaya dari tempat tersebut
dapat dialirkan keluar.
4. Isolasi
Adalah dengan cara

mengisolasi

proses

perusahaan

yang

membahayakan, misalnya isolasi mesin yang hiruk pikuk, sehingga


kegaduhan yang disebabkannya menurun dan tidak menjadi
gangguan pekerja.
5. Pakai Alat Pelindung
Alat pelindung dalam pekerjaan dapt berupa, kacamata, masker,
helm, sarung tangan, sepatu atau pakaian,khususyang di desain
untuk oekerjaan tertentu.
6. Pemeriksaan sebelum kerja

10

Yaitu pemeriksaan kesehatan pada calon pekerja untuk mengetahui


apakah calon pekerja tersebut sesuai dengan pekerjaan yang akan
diberikan baik fisik maupun mentalnya.
7. Pemeriksaan kesehatan secara berkala
Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan secara berkalaa
terhadap pekerja apakah ada gangguan kesehatan yang timbul
akibat pekerjaan yang dilakukan. Dapat dialkukan setiap 6 bulan
sekali atau 1 tahun sekali, atau disesuaikan dengan kebutuhan.
8. Penerangan sebelum bekerja
Penenrangan sebelum bekerja bertujuan agar pekerja mengetahui
dan memeatuhi peraturan-peraturan, sehingga dalam bekerja lebih
hati-hati dan tidak terkena penyakit penykit akibat pekerjaan.
9. Pendidikan Kesehatan
Penkes kepada pekerja sangat penting untuk keslamatan dalam
bekerja,

sehingga

pekerja

waspada

dalam

melkasankan

pekerjaannya.
2.2 PROGRAM KESEHATAN KERJA
Berikut ini adalah penerapan konseplima tingkatan pencengahan
penyakit (five level of prevention diesheases) pada penyakit akibat kerja.
a. Peningkatan kesehatan (haealtha promotion). Misalnya: pendidikan
kesehatan, meningkatkan gizi yang baik, pengembangan kepribadian,
perusahaan yang sehat dan memadai, rekreasi,lingkungan kerja yang
memadai, penyeluhan perkawinandan pendidikan seksual, konsultasi
tentang keturunan dan pemeriksaan kesehatan periodik.
b. Perlindungan khusus (specific protection). Misalnya: imunisasi, higiene
perorangan, sanitasi lingkungan, serta proteksi terhadap bahaya dan
kecelakaan kerja.
c. Diagnosis (deteksi) dini dan pengobatan tepat (early diagnosis and
prompt treatment). Misalnya: diagnosis dini setiap keluhan dan
pengobatan segera serta pembatasan titik-titk lemah untuk mencegah
terjadinya komplikasi.
d. Membatasi kemungkinan cacat (disability limitation). Misalnya:
memriksa dan mengobati tenaga kerja secara komprehensif, mengobati
tenaga kerja secara sempurna, dan pendidikan kesehatan.
e. Pemulihan kesehatan (rehabilitation). Misalnya: rehabilitasi dan
mempekerjakan kembali para pekerja yang menderita cacat. Sedapat

11

mungkin perusahaan mencoba menempatan karyawan-karyawan cacat di


jabatan-jabatan yang sesuai.

2.3 ASUHAN KEPERAWATAN


Diagnosis spesifik penyakit akibat kerja
Secara teknis penegagakan diagnosis di lakukan dengan cara berikut
ini ( B. Sugeng,2003).
a. Anamesis (wawancara) meliputi identitas, rowayat kesehatan, riwayat
penyakit, dan keluhan yang dialami saat ini .
b. Riwayat pekerjaan (kunci awal diagnosis)
- Sejak pertama kali bekerja
- Kapan , bilamana, apa yang dikerjakan, bahan yang digunakan,
jenis bahaya yang ada, kejadian sama pada pekerja lain, pemakaian
alat pelindung diri, cara melakukan perkerjaan, pekerjaan lain yang
dilakukan, kegemaram (hobi) dan kebiasaan lain (merokok,
alcohol).
- Sesuai tingkat pengetahuan, pemahaman pekerjaan.
c. Membandinkan gejala penyakit sewaktu bekerja dan dalam keadaan
tidak bekerja
- Pada saat bekerja maka gejala timbul atau menjadi lebih berat ,
tetapi pada saat tidak bekerja atau istirahat maka gejala berkurang
-

atau hilang .
Perhatikan juga kemungkinan pemajanan diluar tempat kerja .
Informasi tentang ini dapat ditanyakan dalam anamesis atau dari

data penyakit di perusahaan .


d. Pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan catatan
- Tanda dan gejala yang muncul mungkin tidak spesifik
- Pemeriksaan laboratorium penunjang membantu diagnosis klinis
- Dugaan adanya penyakit akibat kerja dilakukan juga melalui
pemeriksaan
e. Tahap Pengkajian :
- Lingkungan kerja : kebersihan, sanitasi
- Pemeriksaan kes (awal,berkala,khusus)
- Jaminan kesehatan
- Pemakaian APD
- Proses kerja
- Keluhan pekerja
- Kecelakaan yg sering terjadi

12

- P3K
- Jam kerja
f. Analisa Data :
- Analisa masalah berdasarkan data fokus :
Misal : Kecelakaan kerja yg sering terjadi, Perilaku yg tidak sehat,
Lingkungan yg tidak sehat,Penyakit akibat kerja,Pengetahuan yg
kurang, Kurangnya fasilitas pendukung
g. Perumusan Diagnosa :
Contoh diagnosa :
-

Resiko peningkatan penyakit akibat kerja b/d kurang pengetahuan


pekerja & perusahaan ttg standar keselamatan dan kesehatan kerja

penggunaan APD, posisi kerja yg benar,Fasilitas kerja.


h. Rencana keperawatan :
Prioritas masalah menggunakan skoring
i. Intervensi :
- Pendidikan kesehatan
- Skrining
- Pembekalan kader P3K
Contoh Diagnosa kesehatan kerja :
Dx : Resiko peningkatan penyakit akibat kerja b/d kurang pengetahuan pekerja &
perusahaan Ttg standar K3, APD, fasilitas kerja
Dx : Resiko keracunan b/d kurang pengetahuan pekerja & perusahaan Ttg standar
K3, APD, fasilitas kerja
Dx : resiko gangguan pendengaran b/d kurang pengetahuan pekerja & perusahaan
Ttg standar K3, APD, fasilitas kerja
Dx : Resiko gangguan pernafasan b/d kurang pengetahuan pekerja & perusahaan
Ttg standar K3, APD, fasilitas kerja
Dx: Resiko fraktur b/d kurang pengetahuan pekerja & perusahaan Ttg standar K3,
APD, fasilitas kerja
Dx: Resiko cedera kepala b/d kurang pengetahuan pekerja & perusahaan Ttg
standar K3, APD, fasilitas kerja
Dx: Resiko Infeksi nosokomial b/d kurang pengetahuan pekerja & perusahaan Ttg
standar K3, APD, fasilitas kerja
13

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Kesehatan kerja adalah ilmu yang mendalami masalah hubungan dua arah
antara pekerjaan dan kesehatan.Kapasitas kerja merupakan status kesehatan kerja
dan gizi kerja yang baik serta kemampuan fisik yang prima diperlukan agar
pekerja dapat melakukan pekerjaannya dengan baik.Beban kerja merupakan beban
kerja fisik maupun mental. Akibat beban kerja terlalu berat atau kemampuan fisik
yang terlalu lemah dapat mengakibatkan seseorang pekerja menderita gangguan
atau penyakit akibat kerja.
Kondisi lingkungan kerja yaitu keadaan lingkungan tempat kerja, misalnya
panas,debu,zat kimia dan lain-lain, dapat merupakan bebam tambahan trhadap
pekerja. Beban - beban tambahan tersebut secara sendiri-sendiri atau bersama
sama menjadi gangguan atau penyakit akibat kerja

14

Program Pelayanan kesehatan kerja lebih ditekankan pada pelayanan Sasaran


kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi Tenaga Kerja & orang lain yg berada
di tempat kerja , terjadinya kecelakaan kerja , peledakan, penyakit akibat kerja
kebakaran, & polusi yang memberi dampak negatif terhadap korban, keluarga
korban, perusahaan, teman sekerja korban, pemerintah, & masyarakat.
3.2 SARAN
Agar tercipta tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran
lingkungan, perlu dilakukan pelaksanaan upaya Kesehatan sehingga dapat
mengurangi atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja

yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja


Lebih memperdalam lagi pengetahuan tentang Kesehatan melalui
Pendidikan dan Pelatihan terkait Kesehatan kerja

DAFTAR PUSTAKA
Harington. 2005. Buku saku Kesehatan Kerja. Jakarta: EGC
Sumamur. 1990 Keselamatan kerja dan pencegahan kecelakaan. Jakarta: CV
Haji Masagung
Buqhari. 2007 Manajement Kesehatan Kerja & Alat Pelindung Diri. USU
REPOSITORI.
Blog Dorin Mutoif, Jurusan Kesling Poltekkes Yogyakarta.Perundang-undangan
keselamatan dan kesehatan kerja.

15