Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Saat ini praktek perawat komunitas dan kebanyakan para pekerja komunitas di
seluruh dunia di landasi oleh konsep kemitraan, kerjasama, pemberdayaan. Bersama pihak
terkait lainnya dalam komunitasnya mereka berupaya dengan sungguh-sungguh untuk
mencapai sehat untuk semua. Tujuan mereka hanya dapat di capai mana kala hak asasi semua
pihak, khususnya para wanita, anak-anak serta semua orang yang terpinggirkan dan lemah di
tingkatkan dan di lindungi. Dengan kata lain, perawat komunitas mengarahkan upaya-upaya
mereka untuk mencapai keadilan social dan kesamaan untuk semua. Untuk mencapai tujuan
ini, perawat komunitas sangat memahami bahwa berbagai upaya peningkatan kesehatan
seharusnya di dasarkan kepada konteks yang lebih luas. Pada aspek social ekonomi untuk
masyarakat setempat, regional, maupun masalah isu global. Pada batasan suatu Negara dalam
pandangan tradisional secara berangsur hilang dan pembatasan lain juga di tinggalkan, dasar
keterkaitan dunia kita berserta berbagai permasalahannya dapat di lihat secara mudah dalam
kerjasama internasional, regional, maupun setempat untuk memecahkan berbagai persoalan.
Pada saat yang sama dunia kita cenderung mengalami ketidakstabilan politik dibandingkan
dengan situasi sebelum perang dingin, yang masih relative muda untuk mengidentifikasi
mana teman dan mana musuh kita. Format baru dari nasionalisme, identitas suku,
fundamentalisme agama, maupun fasisme bermunculan kembali dan mengancam harapan
dunia baru yang menginginkan kedamaian dan keadilan untuk semua.
Visi Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah memandirikan masyarakat
untuk hidup sehat dengan misi membuat rakyat sehat. Guna mewujudkan visi dan misi
tersebut berbagai program kesehatan telahdikembangkan termasuk pelayanan kesehatan di
rumah. Pelayanan kesehatan dirumah merupakan program yang sudah ada dan perlu
dikembangkan, karena telahmenjadi kebutuhan masyarakat, Salah satu bentuk pelayanan
kesehatan yangsesuai dan memasyarakat serta menyentuh kebutuhan masyarakat yakni
melalui pelayanan keperawatan Kesehatan di rumah atau Home Care.
Berbagai faktor yang mendorong perkembangannya sesuai dengan kebutuhan
masyarakat yaitumelalui pelayanan keperawatan kesehatan di rumah.Hasil kajian Depkes RI
tahun 2000 diperoleh hasil : 97,7 % menyatakan perlu dikembangkan pelayanan kesehatan di
rumah, 87,3 % mengatakan bahwa perlu standarisasi tenaga, sarana dan pelayanan, serta 91,9
% menyatakan pengelola keperawatan kesehatan di rumah memerluka ijin oprasional.
4

Berbagaifaktor
dirumahatara

yang
lain

mendorong
:

perkembangan

Kebutuhan

pelayanan

masyarakat,

keperawatan

perkembangan

IPTEK

kesehatan
bidang

kesehatan,tersedianya SDM kesehatan yang mampu memberi pelayanan kesehatan di rumah


B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui konsep keperawatan komunitas mengenai teori dan praktik
2. Tujuan Khusus
a.

Menegetahui definisi keperawatan komunitas

b. Mengetahui tujuan keperawatan komunitas


c.

Mengetahui sasaran, ruang lingkup, falsafah dan filosofi keperawatan komunitas

d. Mengetahui prinsip pemberian pelayanan keperawatan komunitas


e.

Mengetahui tatanan praktik dalam keperawatan kesehatan komunitas

f.

Mengetahui konsep model keperawatan yang dapat digunakan dalam pemberian

keperrawatan komunitas
g.

Mengetahui prinsip kperawatan komunitas serta mengetahui sistem rujukan

masyarakat.
h.

Mengetahui konsep aspek keterkinian dalam praktik keperawatan komunitas

mengenai teori dan praktik.

BAB II
5

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Keperawatan Komunitas
WHO ( World Health Organitation ) 1974 : mencakup perawatan kesehatan keluarga
( Nurse Health Family ) dan juga meliputi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat luas,
membantu masyarakat mengidentifikasi masalah kesehatan sendiri serta memecahkan
masalah kesehatan tersebut sesuai dengan kemampuan yang ada pada mereka sebelum
mereka meminta bantuan pada orang lain.
Departemen kesehatan RI ( 1986 ) : keperawatan kesehatan masyarakat adalah suatu
upaya pelayanan keperawatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang
dilaksanakan oleh perawat dengan mengikutsertakan team kesehatan lainnya dan masyarakat
untuk memperoleh tingkat kesehatan yang lebih tinggi dari individu, keluarga dan
masyarakat.
Winslow ( 1920 ) adalah seorang ahli kesehatan masyarakat, yang membuat batasan
sampai saat ini relevan, yakni public health atau kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni
mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan efisiensi hidup melalui upaya
pengorganisasian masyarakat untuk :
1. Kelompok kelompok masyarakat yang terkoordinir
2. Perbaikan kesehatan lingkungan
3. Mencegah dan memberantas penyakit menular
4. Memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat atau perseorangan
5. Dilaksanakan dengan mengkoordinasikan tenaga kesehatan dalam satu wadah padaan
pelayanan kesehatan masyarakat yang mampu menumbuhkan swadaya masyarakat untuk
peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara optimal.

B. Tujuan keperawatan komunitas


Keperawatan komunitas merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan yang dilakukan
sebagai upaya dalam pencegahan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui
pelayanan keperawatan langsung (direction) terhadap individu, keluarga dan kelompok
didalam konteks komunitas serta perhatian lagsung terhadap kesehatan seluruh masyarakat
dan mempertimbangkan masalah atau isu kesehatan masyarakat yang dapat mempengaruhi

individu, keluarga serta masyarakat. Tujuan keperawatan adalah untuk pencegahan dan
peningkatan kesehatan masyarakat melalui upaya:
1. Pelayanan keperawatan secara langsung ( direct care ) terhadap individu, keluarga dan
kelompok dalam konteks komunitas.
2. Perhatian langsung terhadap kesehatan seluruh masyarakat ( health general community )
dan mempertimbangkan bagaimana masalah atau isu kesehatan masyarakat dapat
mempengaruhi keluarga, individu dan kelompok.
Dan selanjutnya secara spesifik diharapkan : individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat mempunyai kemampuan untuk :
1. Mengidentifikasi masalah kesehatan yang dialami
2. Menetapkan masalah kesehatan dan memprioritaskan masalah tersebut
3. Merumuskan serta memecahkan masalah
4. Menanggulangi masalah kesehatan yang mereka alami
5. Mengevaluasi sejauh mana pemecahan maslah yang mereka hadapi yang akhirnya dapat
meningkatkan kemampuan dalam memelihara kesehatan secara mandiri ( self care )

C. Sasaran keperawatan komunitas


Seluruh masyarakat termasuk individu, keluarga dan kelompok baik yang sehat maupun
yang sakit khususnya mereka yang beresiko tinggi dalam masyarakat.
1. Individu
Individu adalah anggota keluarga sebagai kesatuan utuh dari aspek biologi, psikologi,
soaial dan spiritual. Maka peran perawat adalah membantu agar individu dapat memenuhi
kebutuhan dasarnya karena kelemahan fisik dan mental yang dialami, keterbatasan
pengetahuannya dan kurangnya kemampuan menuju kemandirian. Perawat memberikan
asuhan keperawatan kepada individu yang mempunyai masalah kesehatan tertentu
(misalnya TBC, ibu hamil d1l) yang dijumpai di poliklinik, Puskesmas dengan sasaran
dan pusat perhatian pada masalah kesehatan dan pemecahan masalah kesehatan individu.
2. Keluarga
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala kepala
keluarga, anggota keluarga lainnya yang berkumpul dan tinggal dalam satu rumah tangga
karena pertalian darah dan ikatan perkawinan atau adopsi. Antara keluarga satu dan yang
7

lainya saling tergantung dan berinteraksi, bila salah satu atau beberapa anggota keluarga
mempunyai masalah kesehatan maka akan berpengaruh terhadap anggota yang lainya dan
keluarga yang ada disekitarnya. Dari permasalahan tersebut, maka keluarga merupakan
fokus pelayanan kesehatan yang strategis :
a. Keluarga sebagai lembaga yang perlu diperhitungkan
b. Keluarga mempunyai peran utama dalam pemeliharaan kesehatan seluruh anggota
keluarga
c. Masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan
d. Keluarga sebagai tempat penggambilan keputusan dalam perawatan kesehatan
e. Keluarga merupakan perantara yang efektif dalam berbagai usaha usaha kesehatan
masyarakat.
Prioritas pelayanan Perawatan Kesehatan Masyarakat difokuskan pada keluarga
rawan yaitu :
a. Keluarga yang belum terjangkau pelayanan kesehatan, yaitu keluarga dengan: ibu
hamil yang belum ANC, ibu nifas yang persalinannya ditolong oleh dukun dan
neonatusnya, balita tertentu, penyakit kronis menular yang tidak bisa diintervensi oleh
program, penyakit endemis, penyakit kronis tidak menular atau keluarga dengan
kecacatan tertentu (mental atau fisik).
b. Keluarga dengan resiko tinggi, yaitu keluarga dengan ibu hamil yang memiliki masalah
gizi, seperti anemia gizi be-rat (HB kurang dari 8 gr%) ataupun Kurang Energi Kronis
(KEK), keluarga dengan ibu hamil resiko tinggi seperti perdarahan, infeksi, hipertensi,
keluarga dengan balita dengan BGM, keluarga dengan neonates BBLR, keluarga
dengan usia lanjut jompo atau keluarga dengan kasus percobaan bunuh diri.
c. Keluarga dengan tindak lanjut perawatan
3. Kelompok khusus
Yaitu sekumpulan individu yang mempunyai kesamaan jenis kelamin,
umur, permasalahan, kegiatan yang terorganisasi yang sangat rawan terhadap masalah
kesehatan antara lain :
a. Kelompok khusus dengan kebutuhan kesehatan khusus sebagai akibat perkembangan
dan pertumbuhan seperti : ibu hamil, bayi baru lahir, anak balita, anak usia sekolah dan
usia lansia atau lanjut usia.
b. Kelompok dengan kesehatan khusus yang memerlukan pengawasan dan bimbingan
serta asuhan keperawatan, antara lain : kasus penyakit kelamin, tuberculosis, AIDS,
kusta dan lain lain.

4. Masyarakat
Sasaran masyarakat adalah masyarakat yang rentan atau mempunyai resiko tingg
terhadap timbulnya mnasalah kesehatan sebagai berikut:

Masyarakat di suatu wilayah (RT, RW, kelurahan, desa) yang mempunyai:


Jumlah bayi meninggal lebih tinggi dibandingkan daerah lain
Jumlah penderita penyakit tertentu lebih tinggi dibandingkan daerah lain
Cakupan pelayanan kesehatan lebih rendah dari rendah lain
Masyarakat di daerah endemis penyakit menular (malaria, diare, demam berdarah,

dan lainnya).
Masyarakat di lokasi atau barak pegunungan akibat bencana atau akibat lainnya.
Masyarakat didaerah dengan kondisi geografi sulit antara lain daerah terpencil dan

perbatasan.
Masyarakat di daerah pemukiman baru dengan transportasi sulit seperti daerah
transmigrasi.

D. Asumsi Keperawatan Kesehatan Komunitas


Asumsi mengenai keperawatan kesehatan komunitas yang dikemukakan ANA (1980)
yaitu keperawatan kesehatan komunitas merupakan system pelayanan kesehatan yang
kompleks, keperawatan kesehatan komunitas merupakan subsistem pelayanan kesehatan.
Penentuan kebijakan kesehatan seharusnya melibatkan penerima pelayanan, perawat dan
klien membentuk hubungan kerja sama yang menunjang pelayanan kesehatan, lingkungan
mempunyai pengaruh terhadap kesehatan klien, serta kesehatan menjadi tanggung jawab
setiap individu.
E. Karakteristik Keperawatan
Keperawatan komunitas memiliki beberapa karakteristik, yaitu pelayanan keperawatan
yang diberikan berorientasi kepada pelayanan kelompok, fokus pelayanan utama adalah
peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, asuhan keperawatan diberikan secara
komprehensif dan berkelanjutan dengan melibatkan partisipasi klien/masyarakat, klien
memiliki otonomi yang tinggi, fokus perhatian dalam pelayanan keperawatan lebih kearah
pelayanan pada kondisi sehat, pelayanan memerlukan kolaborasi interdisiplin, perawat secara
langsung dapat mengkaji dan mengintervensi klien dan lingkungannya dan pelayanan
didasarkan pada kewaspadaan epidemiologi.
9

F. Prinsip Pemberian Pelayanan Keperawatan Kesehatan Komunitas


Pada

saat

memberikan

pelayanan

kesehatan,

perawat

komunitas

harus

rnempertimbangkan beberapa prinsip, yaitu kemanfaatan dimana semua tindakan dalam


asuhan keperawatan harus memberikan manfaat yang besar bagi komunitas, pelayanan
keperawatan kesehatan komunitas dilakukan bekerjasama dengan klien dalam waktu yang
panjang dan bersifat berkelanjutan serta melakukan kerjasama lintas program dan lintas
sektoral, asuhan keperawatan diberikan secara langsung mengkaji dan intervensi, klien dan,
lingkungannya termasuk lingkungan sosial, ekonomi serta fisik mempunyai tujuan utama
peningkatan kesehatan, pelayanan keperawatan komunitas juga harus memperhatikan prinsip
keadilan dimana tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan kemampuan atau kapasitas dari
komunitas itu. sendiri, prinsip yang lanilla yaitu otonomi dimana klien atau komunitas diberi
kebebasan dalam memilih atau melaksanakan beberapa alternatif terbaik dalam
menyelesaikan masalah kesehatan yang ada.
Prinsip dasar lainnya dalam keperawatan kesehatan komunitas, yaitu :
1. Keluarga adalah unit utama dalam pelayanan kesehatan masyarakat
2. Sasaran terdiri dari, individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
3. Perawat kesehatan bekerja dengan masyarakat bukan bekerja untuk masyarakat
4. Pelayanan keperawatan yang diberikan lebih menekankan pada upaya promotif dan
preventif dengan tidak melupakan upaya kuratif dan rehabilitatif.
5. Dasar utama dalam pelayanan perawatan kesehatan masyarakat adalah menggunakan
pendekatan pemecahan masalah yang dituangkan dalam proses keperawatan.
6. Kegiatan utama perawatan kesehatan komunitas adalah dimasyarakat dan bukan di
rumah sakit.
7. Klien adalah masyarakat secara keseluruhan bark yang sakit maupun yang sehat.
8. Perawatan kesehatan masyarakat ditekankan kepada pembinaan perilaku hidup sehat
masyarakat.
9. Tujuan perawatan kesehatan komunitas adalah meningkatkan fungsi kehidupan sehingga
dapat meningkatkan derajat kesehatan seoptimal mungkin.
10. Perawat kesehatan komunitas tidak bekerja secara sendiri tetapi bekerja secara tim.
11. Sebagian besar waktu dari seorang perawat kesehatan komunitas digunakan untuk
kegiatan meningkatkan kesehatan, pencegahan penyakit, melayani masyarakat yang sehat
atau yang sakit, penduduk sakit yang tidak berobat ke puskesmas, pasien yang baru
kembali dari rumah sakit.
10

12. Kunjungan rumah sangat penting.


13. Pendidikan kesehatan merupakan kegiatan utama.
14. Pelayanan perawatan kesehatan komunitas harus mengacu pada sistem pelayanan
kesehatan yang ada.
15. Pelaksanaan asuhan keperawatan dilakukan di institusi pelayanan kesehatan yaitu
puskesmas, institusi seperti sekolah, panti, dan lainnya dimana keluarga sebagai unit
pelayanan.
G. Tatanan Praktik Dalam Keperawatan Kesehatan Komunitas
Perawat kesehatan komunitas melakukan pekerjaan pada berbagai posisi dengan fokus
utama klien individu, keluarga, dan komunitas. (Archer, 1976). Tatanan praktik dalam
keperawatan kesehatan komunitas sangat luas, karena pada semua tatanan perawat komunitas
dapat memberikan pelayanan dengan penekanan tingkat pencegahan primer, sekunder dan
tertier. Perawat yang bekerja di komunitas dapat bekerja sebagai perawat keluarga, perawat
sekolah, perawat kesehatan kerja atau pegawai gerontology.
1. Perawat Keluarga
Keperawatan kesehatan keluarga adalah tingkat keperawatan tingkat kesehatan
masyarakat yang dipusatkan pada keluarga sebagai satu kesatuan yang dirawat dengan
sehat sebagai tujuan pelayanan dan perawatan sebagai upaya (Bailon dan Maglaya, 1978).
Perawat keluarga adalah perawat terregistrasi dan telah lulus dalam bidang keperawatan
yang dipersiapkan untuk praktik memberikan pelayanan individu dan keluarga
disepanjang rentang sehat sakit.
Peran yang dilakukan perawat keluarga adalah melaksanakan asuhan keperawatan
keluarga, berpartisipasi dan menggunakan hasil riset, mengembangkan dan melaksanakan
kebijakan dibidang kesehatan, kepemimpinan, pendidikan, case management dan
konsultasi.
2. Perawat Kesehatan Sekolah
Keperawatan sekolah adalah keperawatan yang difokuskan pada anak ditatanan
pendidikan guna memenuhi kebutuhan anak dengan mengikut sertakan keluarga maupun
masyarakat sekolah dalam perencanaan pelayanan (Logan, BB, 1986). Fokus utama
perawat kesehatan sekolah adalah siswa dan lingkungannya dan sasaran penunjang adalah
guru dan kader.

11

3. Perawat Kesehatan Kerja


Perawatan kesehatan kerja adalah penerapan prinsip-prinsip keperawatan dalam
memelihara kelestarian kesehatan tenaga kerja dalam segala bidang pekerjaan. Perawat
kesehatan kerja mengaplikasikan praktik keperawatan dalam upaya memenuhi kebutuhan
unik individu, kelompok dan masyarakat ditatanan industri, pabrik, tempat kerja, tempat
konstruksi, universitas dan lain-lain.
4. Perawat Gerontologi
Perawatan gerontologi atau gerontik adalah ilmu yang mempelajari dan
memberikan pelayanan kepada orang lanjut usia yang dapat terjadi diberbagai tatanan
dan membantu orang lanjut usia tersebut untuk mencapai dan mempertahankan fungsi
yang optimal.
Lingkup praktik keperawatan gerontologi adalah memberikan asuhan
keperawatan, melaksanakan advokasi dan bekerja untuk memaksimalkan kemampuan
atau kemandirian lanjut usia, meningkatkan dan mempertahankan kesehatan,
mencegah dan meminimalkan kecacatan dan menunjang proses kematian yang
bermartabat.
H. Sistem Rujukan
Adalah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan
pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus penyakit atau masalah
kesehatan secara vertikal maupun horizontal. Pelayanan kesehatan masyarakat terdiri dari 3
bentuk yaitu :
1. Pelayanan kesehatan tingkat pertama ( primary health care )
Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan
masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka atau promosi kesehatan.
Oleh karena jumlah kelompok ini didalam suatu populasi sangat besar ( lebih kurang
85% ), pelayanan yang diperlukan oleh kelompok ini bersifat pelayanan kesehatan dasar
( basic health services ), atau juga merupakan pelayanan kesehatan primer atau utama
( primary health care ). Bentuk pelayanan ini di Indonesia adalah puskesmas yaitu
puskesmas pembantu, puskesmas keliling dan balkesmas.
2. Pelayanan kesehatan tingkat kedua ( secondary health service )
Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan oleh kelompok masyarakat yang
memerlukan perawatan inap yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan
12

primer. Bentuk pelayanan ini misalnya rumah sakit tipe C dan D memerlukan tersedianya
tenaga tenaga spesialis.
3. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga ( tertiary health service )
Pelayanan kesehatan ini diperlukan oleh kelompok masyarakat atau pasien yang tidak dapat
ditangani oleh pelayanan kesehatan sekunder. Pelayanan sudah komplek dan memerlukan
tenaga tenaga super spesialis.

I.

Tren dan Isu Keperawatan Komunitas


Isu yang masih mungkin dihadapi keadaan geografi negara Indonesia yang terdiri dari
ribuan pulau yang terpencar-pencar, merupakan salah satu tantangan dalam upaya
pembangunan nasional terutama dalam pembangunan kesehatan.
Pembangunan Kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi tingginya. Selain itu pembangunan Kesehatan juga merupakan upaya untuk
memenuhi salah satu hak rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai
dengan amanat Undang Undang Dasar 1945 dan Undang Undang Nomor 23 tahun 1992
tentang kesehatan Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk
peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang diukur dengan Indeks Pembangunan
Manusia (IPM). Keadaan lain di Negara Indonesia yang masih merupakan masalah yang
harus dihadapi dalam permasalahan Bidang Kesehatan meliputi :
1. Masih cukup tingginya disparitas status kesehatan antar tingkat sosial ekonomi.
Permasalahan pembangunan sosial dan budaya yang menjadi perhatian utama antara lain
adalah masih rendahnya derajat kesehatan dan status gizi serta tingkat kesejahteraan
sosial masyarakat; masih rentannya ketahanan budaya dan belum diberdayakannya
kesenian dan pariwisata secara optimal; masih rendahnya kedudukan dan peranan
perempuan di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan; masih rendahnya partisipasi
aktif pemuda dalam pembangunan nasional, belum membudayanya olahraga dan masih
rendahnya prestasi olahraga.
Berbagai permasalahan tersebut akan diatasi melalui pelaksanaan berbagai program
pembangunan yang mengacu pada arah kebijakan sosial dan budaya yang telah
diamanatkan dalam GBHN 19992004. Strategi yang digunakan dalam melaksanakan
pembangunan bidang sosial dan budaya adalah desentralisasi; peningkatan peran
13

masyarakat termasuk dunia usaha; pemberdayaan masyarakat termasuk pemberdayaan


perempuan dan keluarga; penguatan kelembagaan termasuk peningkatan koordinasi
antarsektor dan antarlembaga.
Lingkungan sosial budaya yang erat kaitannya dengan masalah kesehatan harus
dilihat dari segi kehidupan masyarakat secara luas. Faktor-faktor keasyarakatan tersebuit
antara lain struktur sosial, ekonomi dan budaya. Ini meliputi kecerdasan rakyat, kesadaran
rakyat untuk memlihara kesehatan dirinya sendiri.
Makin bertambah tinggi tingkat pendidikan masyarakat kan tercipta perilaku dan
sikap yang baik terhadapa hidup sehat yang menguntungkan uipaya kesehatan.
Masyarakat agraris pada umumnya lebih lamban menanggapi perubahan nilai sosila
budaya termasuk ekonomi, hingga sulit mengatasi masalah kemiskinan maupun
pengembangan sosial dan budaya, yang justru berpengaruh pada sikap dan perilaku hidup
sehat.
2. Mobilitas penduduk yang cukup tinggi ;
Upaya pengendalian pertumbuhan telah berhasil dengan baik terutama melalui
gerakan Keluarga Berencana. Namun pertambahan jumlah penduduk dan perbandingan
penduduk usia muda yang masih besar, serta penyebaran peduduk yang masih belum
merata, menimbulkan masalah. Perbandingan jumlah penduduk wanita dan pria, tidak
akan banyak berubah dari keadaan sekarang, yaitu 100 orang wanita terhadap 96,8 pria.
Jumlah penduduk berusia 40 tahun keatas, secara relatif akan bertambah. Ini berarti
perlunya peningkatan pelayanan untuk penyakit-penyakit tidak menular seperti kanker,
penyakit jantung, dan penyakit degeneratif lainnya yang biasa diderita oleh penduduk
berusia 40 tahun keatas, yang relatif lebih mahal pelayanannya dibandingkan dengan
penyakit menular.
Dengan demikian ciri kependudukan di Indonesia sampai sekarang masih
cenderung bergerak lamban dari penduduk usia muda ke arah penduduk usia tua. Karena
itu upaya kesehatan masih ditujukan terutama kepada penyakit-penyakit yang banyak
dideriita oleh anak-anak di bawah usia 5 tahun, dengan tidak melupakan pula berbagai
penyakit yang lazim diderita oleh golongan umur produktif yang makin besar jumlahnya
serta perubahan ciri-ciri penyakit di masa akan dating
3. Kondisi kesehatan lingkungan masih rendah;
Pencemaran lingkungan dewasa ini selain terutama disebabkan karena kebiasaan
membuang kotoran yang tidak semestinya juga disebabkan oleh pencemaran air dan
tanah serta udara karena bahan buangan industri, limbah pertanian dan pertambangan
serta pencemaran udara karena kenderaan bermotor.

14

Pencemaran makanan dan minuman dapat terjadi karena hygiene dan sanitasi yang
belum memadai, pemakaian bahan tambahan, pemakaian pestisida untuk menyelamatkan
produksi pangan dan keadaan lingkungan yang makin tercemar.
Mengenai perumahan, bahwa dewasa ini masih banyak penduduk menempati rumah
dan pemukiman yang tidak layak, yang merugikan kondisi kesehatan diri sendiri dan
lingkungan.

4. Perilaku hidup sehat masyarakat yang masih rendah;


Berdasarkan batasan perilaku dari Skiner tersebut, maka perilaku kesehatan
adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus objek yang berkaitan
dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman, serta
lingkungan. dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi tiga
kelompok.
a. Tidak merokok. merokok adalah kebiasaan jelek yang mengakibatkan berbagai macam
penyakit. Ironisnya kebiasaan merokok ini, khususnya di Indonesia seolah-olah sudah
membudaya. Hampir 50% penduduk Indonesia usia dewasa merokok. bahkan dari hasil
suatu penelitian, sekitar 15% remaja kita telah merokok. inilah tantangan pendidikan
kesehatan kita.
b.

Tidak minum-minuman keras dan narkoba. Kebiasaan minuman keras dan


mengkonsumsi narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya lainnya) juga cenderung
meningkat. Sekitar 1% penduduk Indonesia dewasa diperkirakan sudah mempunyai
kebiasaan minuman keras ini.
Istirahat cukup. dengan meningkatnya kebutuhan hidup akibat tuntutan untuk
penyesuaian lingkungan modern, mengharuskan orang untuk bekerja keras dan
berlebihan, sehingga kurang waktu istirahat. hal ini dapat juga membahayakan
kesehatan.Mengendalikan stres. Stres akan terjadi pada siapa saja, dan akibatnya
bermacam-macam bagi kesehatan. Lebih-lebih sebagai akibat dari tuntutan hidup yang
keras seperti diuraikan di atas. Kecenderungan stres akan meningkat pada setiap orang.
stres tidak dapat kita hindari, maka yang penting agar stres tidak menyebabkan
gangguan kesehatan, kita harus dapat mengendalikan atau mengelola stres dengan
kegiatan-kegiatan yang positif.

c. Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan, misalnya : tidak bergantiganti pasangan dalam hubungan seks, penyesuaian diri kita dengan lingkungan, dan
15

sebagainya. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yaitu Upaya untuk memberikan
pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga,
kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi
dan melakukan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku melalui
pendekatan pimpinan (advocacy), bina suasana (social support) dan pemberdayaan
masyarakat (empowerment) sebagai suatu upaya untuk membantu masyarakat
mengenali dan mengetahui masalahnya sendiri, dalam tatanan rumah tangga, agar dapat
menerapkan cara-cara hidup sehat dalam rangka menjaga, memelihara dan
meningkatkan kesehatannya.
5. Keterbatasan pelayanan kesehatan

; Dalam rangka pemerataan pengembangan dan

pembinaan kesehatan masyarakat, khususnya yang berpenghasilan rendah, telah dibangun


Pusat-Pusat Kesehatan Masyarakat. Dewasa ini seluruh kecamatan sudah mempunyai
sekurang-kurangnya sebuah Puskesmas serta beberapa Puskesmas Pembantu. Jangkauan
upaya pelayanan Puskesmas dan Puskemsas pemantu masih belum memadai terutama di
daerah pedesaan yang sulit perhubungannya atau daerah terpencil. Untuk mengatasi itu
diadakan Puskesmas Keliling dan Polindes untuk membantu memberiakan pelayanan
kepeda penduduk. Namun belum semua desa bisa terjangkau.
Upaya pelayanan kesehatan yang mmenyeluruh dan terpadu hanya mungkin
diwujudkan jika sistem rujukan dikembangkan dengan meningkatkan sarana dalam arti
luas, yakni pengembangan rumah sakit yang memenuhi syarat medis teknis serta
kejelasan tanggung jawab antara Puskesmas dan Rumah sakit, baik pemerintah maupun
swasta.
6. Jumlah tenaga kesehatan masih kurang merata, masih rendahnya kualitas pelayanan
kesehatan di Puskesmas dan jaringannya, masih rendahnya kinerja SDM Kesehatan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa baik tenaga medis maupun tenaga paramedis
jumlah dan mutunya serta pemerataannya masih belum memadai. Hampir seluruh dokter
dan sebagian besar tenaga paramedis adalah pegawai negeri, sedangkan banyak tenaga
medis merangkap melayani usaha kesehatan swasta. Hal ini dapat mengurangi mutu
pelayanan kesehatan-kesehatan pemerintah. Perbandingan jumlah dokter dan paramedis
serta tenaga kesehatan lainnya terhadap jumlah penduduk masih jauh dari memuaskan.
Pola ketenagaan untuk unit-unit pelayanan kesehatan serta pendidikan dan latihannya
masih perlu dimantapkan.
16

Sistem pengelolaan tenaga kesehatan yang baru dirintis belum sepenuhnya


memungkinkan pembinaan tenaga kesehatan berdasarkan sistem karier dan prestasi
kerja. Dengan meningkatnya kecepatan pembangunan bidang kesehatan sebagi bagian
dari pembangunan nsional, kiranya masalah ketenagaan tersebut juga akan cenderung
meningkat pula. Karena itu masalah ketenagaan perlu mendapatkan prioritas
penggarapan baik untuk jangka pendek maupun menengah dan jangka panjang.
7. Pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada belum optimal ;
Pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan, atau sering
disebut perilaku pencairan pengobatan (health seeking behavior). Perilaku ini adalah
menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau
kecelakaan. tindakan atau perilaku ini dmulai dari mengobati sendiri (self treatment)
sampai mencari pengobatan ke luar negeri.Fasilitas kesehatan sebagi salah satu sumber
daya kesehatan sampai dewasa ini telah dikembangkan tahap demi tahap sesuai dengan
keperluan. Jumlah dan fungsi rumah sakit baik pemerintah maupun swasta telah pula
ditingkatkan. Peningkatan rumah sakit ini merupakan salah satu kegiatan dari
peningkatan upaya kesehatan rujukan, yang dimaksudkan untuk lebih menunjang upaya
kesehatan Puskesmas. Demikian pula fasilitas kesehatan lainnya seperti laboratorium ,
kantor, perumahan dinas, fasilitas pendidikan dan latihan dan yang lainnya telah pula
ditingkatkan. Namun pamanfaatan terhadap fasiltas tersebut masih belum optimal, hal ini
dapat kita lihat dari sedikitnya jumlah kunjungan rawat jalan di Puskesmas dibandingkan
dengan kunjungan ke praktek pribadi medis maupun paramedis. Selain itu masih adanya
pemanfaatan pengobatan pada praktik perdukunan pada sebagain masyarakat di pedesaan.
8. Akses masyarakat untuk mencapai fasilitas kesehatan yang ada belum optimal.
Akses yang dimaksud adalah sarana pendukung seperti sarana jalan dan transfortasi yang
masih belum baik dan kurang. Di daerah terbelakang dan terpencil sampai saat ini untuk
sarana jalan dan transfortasi dapat dikatakan kurang mendukung. Untuk mencapai
fasilitas kesehatan terkadang membutuhkan waktu berhari-hari hanya untuk mengobati
sakit sanak keluarga masyarakat di desa terpencil tersebut. Permasalah ini tidak lepas juga
dengan letak geografis darah tersebut. Selain itu tidak semua desa tertinggal atau
terpencil ditempatkan petugas kesehatan dikarenakan masih kurangnya tenaga kesehatan.
9. Peran lintas sektor dalam bidang kesehatan belum optimal.
Di antara faktor-faktor yang perlu mendapatkan perhatian dalam pembangunan amntara
lain adalah kertja sama lintas sektor. Kerja sama yang dimaksud adalah kerja sama
berbagao sektor pembangunan, kerjasama pemerintah dengan masyarakat termasuk
17

swasta. Yang masih perlu ditingkatkan adalah kerja sama lintas sektor yang
diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta, baik dari segi teknis opersional maupun
administratif, ketengaan dan kejelasan mekanisme kerja bahkan termasuk aspek-aspek
hukum yang dapat memantapkan kerja sama secara luas. Kerja sama llintas sektor sering
sukar diwujudkan jika kerja sama tersebut tidak didasari oleh saling pengertian dan
keterbukaan yang mendalam antara komponen yang terlibat serta tidak ada kejelasan
tentang tujuan bersama. Peran yang harus dilakukan oleh masing-masing komponen
dalam kerja sama itu dan mekanisme kerjanya perlu dirumuskan.
J. Trend Keperawatan Komunitas dan Implikasinya di Indonesia
Perawatan kesehatan menurut Ruth B. Freeman (1961) adalah sebagai suatu
lapangan khusus di bidang kesehatan, keterampilan hubungan antar manusia
danketerampilan

terorganisasi

diterapkan

dalam

hubungan

yang

serasi

kepadaketerampilan anggota profesi kesehatan lain dan kepada tenaga sosial demi
untuk memelihara kesehatan masyarakat. Oleh karenanya perawatan kesehatan
masyarakatditujukan

kepada

yangmempengaruhi

kesehatan

kesehatan, pemeliharaan
pelayanankeperawatan

individu-individu,
terhadap

kesehatan,
berkelanjutan

keluarga,

keseluruhan

penyuluhan
dipergunakan

kelompok-kelompok

penduduk,

kesehatan,
dalam

peningkatan

koordinasi
pendekatan

dan
yang

menyeluruhterhadap keluarga, kelompok dan masyarakat.


Pengembangan kesehatan masyarakat di Indonesia yang telah dijalankanselama
ini masih memperlihatkan adanya ketidaksesuaian antara pendekatan pembangunan
kesehatan

masyarakat

dengan

tanggapan

masyarakat,

manfaat

yangdiperoleh

masyarakat, dan partisipasi masyarakat yang diharapkan. Meskipun didalam Undangundang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan telah ditegaskan bahwatujuan
pembangunan kesehatan masyarakat salah satunya adalah meningkatkankemandirian
masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya. Oleh karena itu pemerintah maupun
pihak-pihak yang memiliki perhatian cukup besar terhadap pembangunan kesehatan
masyarakat termasuk perawat spesialis comunitas perlumencoba mencari terobosan yang
kreatif agar program-program tersebut dapatdilaksanakan secara optimal dan
berkesinambungan.Salah satu intervensi keperawatan komunitas di Indonesia yang
belum banyak digali adalah kemampuan perawat spesialis komunitas dalam membangun
jejaringkemitraan di masyarakat. Padahal, membina hubungan dan bekerja sama
denganelemen lain dalam masyarakat merupakan salah satu pendekatan yang
memiliki pengaruh signifikan pada keberhasilan program pengembangan kesehatan
18

masyarakat(Kahan & Goodstadt, 2001). Pada bagian lain Ervin (2002) menegaskan
bahwa perawat spesialis komunitas memiliki tugas yang sangat penting untuk
membangundan membina kemitraan dengan anggota masyarakat. Bahkan Ervin
mengatakan bahwa kemitraan merupakan tujuan utama dalam konsep masyarakat
sebagai sebuahsumber daya yang perlu dioptimalkan (community-as-resource) dimana
perawat spesialis komunitas harus memiliki ketrampilan memahami dan bekerja
bersamaanggota masyarakat dalam menciptakan perubahan di masyarakat. Terdapat
limamodel kemitraan yang menurut anggapan penulis cenderung dapat dipahami
sebagaisebuah ideologi kemitraan, sebab model tersebut merupakan azas dan nafas
kitadalam membangun kemitraan dengan anggota masyarakat lainnya. Model kemitraan
tersebut antara lain:
1. Kepemimpinan (manageralism) (Rees, 2005),
2. Pluralism baru (new-pluralism)
3. Radikalisme berorientasi pada Negara (state-oriented radicalism)
4. Kewirausahaan (entrepreneurialism)
5. Dan membangun gerakan (movement-building) (Batsler dan Randall,1992).
Berkaitan

dengan

praktik

keperawatan

komunitas

di

atas,

maka

modelkemitraan yang sesuai untuk mengorganisasi elemen masyarakat dalam


upaya pengembangan derajat kesehatan masyarakat dalam jangka panjang adalah
modelkewirausahaan (entrepreneurialism). Model kewirausahaan memiliki dua prinsip
utama, yaitu prinsip otonomi (autonomy) kemudian diterjemahkan sebagai upaya
advokasi masyarakat dan prinsip penentuan nasib sendiri (self-determination)
yangselanjutnya diterjemahkan sebagai prinsip kewirausahaan.
Praktik keperawatanmandiri atau kelompok hubungannya dengan anggota
masyarakat dapat dipandangsebagai sebuah institusi yang memiliki dua misi sekaligus,
yaitu sebagai institusiekonomi dan institusi yang dapat memberikan pembelaan pada
kepentinganmasyarakat terutama berkaitan dengan azas keadilan sosial dan azas
pemerataan bidang kesehatan. Oleh karenanya praktik keperawatan sebagai institusi
sangatterpengaruh dengan dinamika perkembangan masyarakat (William, 2004;
Korsching& Allen, 2004), dan perkembangan kemasyarakatan tentunya juga
akanmempengaruhi

bentuk

dan

konteks

kemitraan

yang

berpeluang

dikembangkan(Robinson, 2005) sesuai dengan slogan National Council for Voluntary


Organizations(NCVO) yang berbunyi : New Times, New Challenges (Batsler dan
Randall, 1992). Pada bagian lain, saat ini mulai terlihat kecenderungan adanya
19

perubahan pola permintaan pelayanan kesehatan pada golongan masyarakat tertentu


dari pelayanan kesehatan tradisional di rumah sakit beralih ke pelayanan keperawatan
dirumah disebabkan karena terjadinya peningkatan pembiayaan kesehatan yang
cukup besar dibanding sebelumnya (Depkes RI, 2004a, 2004b; Sharkey, 2000;
MacAdam,2000).Sedangkan secara filosofis, saat ini telah terjadi perubahan
paradigma sakit yangmenitikberatkan pada upaya kuratif ke arah paradigma sehat
yang melihat penyakitdan gejala sebagai informasi dan bukan sebagai fokus pelayanan
(Cohen, 1996).
Sehingga situasi tersebut dapat dijadikan peluang untuk mengembangkan
praktik keperawatan komunitas beserta pendekatan kemitraan yang sesuai di Indonesia.
K. Model praktik keterkinian/trend dan isu dalam keperawatan komunitas
Konsep dasar tentang tren (trend) adalah hal yang sangat mendasar dalam berbagai
pendekatan analisa berbasis teknikal. Semua aspek yang ada bertujuan sama yaitu untuk
membantu mengukur tren suatu hal atau topik, dalam rangka berpartisipasi

dalam tren

tersebut. Anda mungkin sering mendengar istilah populer seperti always

trade in the

direction of the trend, never buck the trend, atau the trend is your friend. Tulisan
singkat ini mencoba mengupas dan mendefinisikan apa yang dimaksud dengan

tren

dan mengklasifikasikannya dalam beberapa kategori.


Secara umum, tren adalah ke arah mana sesuatu bergerak. Tapi kita membutuhkan
definisi yang lebih akurat untuk dapat memanfaatkannya dalam analisa teknikal. Pertama
yang harus diingat adalah bahwa gerakan kepopuleran atau sesuatu yang aktual tidak
berbentuk garis lurus ke satu arah. Melainkan bergerak dalam bentuk serangkaian zigzag.
Gerakan Zigzag ini membentuk rangkaian gelombang yang berurutan, dengan puncak
(peak/top) dan tembusan (through) yang cukup jelas. Arah peak dan through ini yang
menentukan tren. Peak dan trough ini bergerak naik turun, atau menyamping (sideways).
Arah gerakan inilah yang memberitahukan kita tentang sebuah tren. Sebuah tren menaik
(uptrend) didefinisikan sebagai serangkaian urutan peak dan through yang menaik.
Tren menurun (downtrend) adalah kebalikannya, yaitu serangkaian peak dan through
yang semakin menurun. Adapun serangkaian peak dan through yang cenderung
menyamping disebut sebagai sideways/ranging. Namun tren yang dimaksud disini adalah
tren yang bergerak naik yang ditandai dengan peak dan trough.
Jadi, Tren keperawatan komunitas adalah sesuatu yang sedang booming, actual, dan
sedang hangat diperbincangkan dalam ruang lingkup keperawatan komunitas. Isu adalah
suatu peristiwa atau kejadian yang dapat diperkirakan terjadi atau tidak terjadi di masa
20

mendatang, yang menyangkut ekonomi, moneter, sosial, politik, hukum, pembangunan


nasional, bencana alam, hari kiamat, kematian, ataupun tentang krisis.
Secara sederhana isu dapat diartikan sebagai sebuah persoalan, atau isu dapat juga
dikatakan sebagai sebuah masalah, sesuatu yang sedang menjadi perhatian, yang terlintas
khabar, desas desus atau banyak lagi peristilahan lain. Isu berarti sebuah pokok
persoalan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Tahun 1997, isu adalah masalah
yang dikedepankan. Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 1993, isu adalah :
1. Masalah yang dikedepankan untuk ditangani;
2. Kabar angin yang tidak jelas asal usulnya dan tidak terjamin kebenarannya;
3. Kabar, desas-desus.
Dalam praktiknya, aktual memiliki beberapa makna antara lain: benar terjadi atau
akan terjadi, sedang menjadi perhatian orang banyak dan merupakan berita hangat. Jadi,
isu keperawatan komunitas adalah suatu masalah yang dikedepankan untuk ditangani
ataudesas - desus dalam ruang lingkup keperawatan komunitas.

1. Home Care
Kesehatan merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap manusia, hal ini
tercermin dari banyaknya jumlah penderita yang datang ke pelayanan kesehatan untuk
mendapatkan pengobatan dan perawatan.Mereka datang dari berbagai golongan yang
berbeda, mulai dari golongan ekonomi kelas tinggi hingga ekonomi kelas bawah.
Sebagaimana pencanangan Gerakan Pembangunan Berwawasan Kesehatan pada
1Maret 1999 oleh presiden RI, yang salah satu strateginya adalahPembangunan
Kesehatan Nasional Menuju Indonesia Sehat Tahun 2012dan diperkuat oleh perubahan
amandemen UUD 1945, tap MPR No.3 th2000 dan Tap MPR No. VI tahun 2002,
membuktikan kuatnya kepedulian pemerintah akan arti pentingnya sebuah bangsa yang
sehat. Semakin banyaknya pelayanan kesehatan saat ini menyebabkan berbagai
pelayanan memberikan service yang lebih memuaskan pelanggan, hal ini menyebabkan
tingginya tarif rumah sakit yang tidak mampu ditanggung oleh masyarakat biasa / kelas
menengah ke bawah. Tingginya jumlah pasien yang masuk ke rumah sakit dan
kurangnya perawatan yangdiberikan pada rumah sakit menyebabkan LOS (length of
21

stay/lama

tinggaldi

RS)

menjadi

semakin

panjang

sehingga

banyak

di

antara penderita/keluarga merasa keberatan dengan biaya yang harus dibayar


untuk biaya perawatan. Hal ini terjadi hampir di semua bangsal perawatan.
Di sisi lain rumah sakit dan institusi pelayanan kesehatan untuk meningkatkan
kualitasnya, salah satu caranya dengan melakukan evaluasi terhadap peningkatan Bed
Occupancy Rates, peningkatan rawat jalan pasca bedah, pemulangan pasien lebih
awal, yang merupakan trend untuk peningkatan mutu pelayanan (Setyawati, 2004).
Selain itu kasus penyakit terminal yang tidak efektif dan tidak efisien di rawat di
Rumah Sakit diharapkan untuk mengikuti perawatan di rumah. Hasil penelitian Rini
dan Alin (2008) pada pasien pasca stroke menyatakan mereka membutuhkan program
pelayanan home care yang dilakukan oleh home care agency karena pihak keluarga
kurang mampu melaksanakan perawatan dan rehabilitasi pasca stroke secara mandiri di
rumah selain juga karena keterbatasan waktu yang ada. Adapun penelitian
Megawati(2004) pada pasien yang sedang mengikuti home care di rumah sakit, mereka
setuju adanya home care dengan biaya lebih murah. Menurut Depkes RI (2002)
mendefinisikan bahwa home care adalah pelayanan kesehatan yang berkesinambungan
dan komprehensif diberikan kepada individu, keluarga, di tempat tinggal mereka
yang bertujuan

untuk

meningkatkan,

mempertahankan,

memulihkan

kesehatan/memaksimalkan kemandirian dan meminimalkan kecacatan akibat dari


penyakit.
Layanan diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien/keluarga yang direncanakan,
dikoordinir, oleh pemberi layanan melalui staff yang diatur berdasarkan perjanjian
bersama. Salah satu tujuan dari pelayanan keperawatan professional adalah
memberikan pelayanan keperawatan yang holistic (menyeluruh) bio, psiko, sosio, dan
cultural kepada individu, kelompok dan masyarakat sesuai dengan kebutuhan dasarnya.
Pelayanan yang bersifat holistic ini akan lebih lengkap dengan pemberian pelayanan
keperawatan lanjutan dirumah dengan home health care. Mengingat hal-hal tersebut
diatas, maka Home health Care sebagai jembatan antara rumah sakit dan masyarakat
dalam sektor kesehatan harus berperan aktif dalam ikut mendukung program
pembangunan di masa yang akan datang, namun dengan tidak mengabaikan aspek
sosial dan menjaga martabat moral etika sesuai dengan etika ketimuran yang ada
dimasyarakat. Berdasarkan pertimbangan yang ada sudah selayaknya terbentuk suatu
jasa pelayanan yang bersifat sosial sekaligus ekonomis yaitu dengan adanya
jasa pelayanan home health care. Oleh karena itu jasa pelayanan kesehatan
22

yang bersifat sosial tetapi tetap memperhatikan nilai ekonomis maka perlu disusun
dalam suatu perencanaan baik.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa, home care
merupakan bagian integral dari pelayanan keperawatan yang dilakukan oleh perawat
untuk membantu individu, keluarga dan masyarakat mencapai kemandirian dalam
menyelesaikan masalah kesehatan yang mereka hadapi.
Perawatan di rumah dan didesa selain dapat mengurangi kecemasan juga dapat
menghemat biaya dari beberapa segi misal biaya kamar, biaya transpor dan biaya lainlain yang terkait dengan penjaga yang sakit.Tetapi perlu diingat bahwa pasien yang dapat
layanan home care adalah pasien yang secara medis dinyatakan aman untuk dirawat di
rumah dengan kondisi rumah yang memadai.
B. Saran
23

Dengan terselesaikannya makalah ini mengenai konsep keperawatan aspek


keterkinian dalam praktik keperawatan komunitas,

tentu banyak kesalahan dan

kekuarangan dalama penulisan makalah ini,kami berharap ketersediaan semua membantu


kami untuk memberikan sumbangsih berupa saran. Atas semuanya kami sampaikan
terimakasih

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Kurikulum dan Modul Pelatihan Pos
Kesehatan (poskestren). Jakarta: Depkes RI

24