Anda di halaman 1dari 5

Apotek Kimia Farma 315 Padangsidimpuan merupakan salah satu fasilitas pelayanan

kefarmasian yang berada di wilayah kota Padangsidimpuan tepatnya di Jalan Merdeka No. 5.
Lokasi apotek dinilai sebagai lokasi yang cukup strategis karena terletak di pusat kota, dekat
dengan pasar, berada di tepi jalan raya, jalan menuju apotek ramai oleh pengendara dan
dilewati banyak kendaraan umum. Hal ini menjadi peluang apotek untuk menambah jumlah
pelanggan. Keberadaan apotek bisa dikenali dengan adanya dua papan nama yang terpasang
di apotek dan neon box di depan halaman apotek.
Lingkungan sekitar apotek merupakan lingkungan yang padat penduduknya, dihuni
oleh penduduk asli maupun pendatang yang menyewa kos. Tingkat kepadatan penduduk
tersebut mempengaruhi jumlah domestic customer apotek. Di dalam apotek juga terdapat
beberapa sarana pelayanan kesehatan seperti praktek dokter umum, dokter spesialis THT dan
spesialis obgyn. Sarana pelayanan kesehatan tersebut menguntungkan apotek karena dapat
menambah jumlah resep yang masuk. Selain sarana pelayanan kesehatan tersebut, di sekitar
lingkungan apotek juga terdapat apotek kompetitor seperti apotek rahmah dan apotek bintang.
Keberadaan apotek kompetitor menyebabkan masyarakat memiliki banyak alternatif dalam
memilih apotek.
Lokasi apotek yang strategis dan desain eksterior yang baik juga dibutuhkan untuk
menjaring pelanggan, yang diharapkan bisa menjadi regular costumer. Apotek memiliki
desain eskterior yang tidak menimbulkan kesan mahal terhadap produk yang dijual di apotek,
mengingat masyarakat yang tinggal di sekitar apotek merupakan masyarakat dari kalangan
ekonomi menengah kebawah. Dari luar apotek, terlihat obat disusun rapi, tampak penuh di
lemari dan etalase sehingga memberi kesan lengkap akan ketersediaan obat.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No 1027 tahun 2004, apotek harus memiliki
ruang tunggu yang nyaman bagi pelanggan, ruang racikan, ruang tertutup untuk konseling
bagi pelanggan yang dilengkapi dengan meja dan kursi serta lemari untuk menyimpan catatan
medikasi pelanggan, keranjang sampah dan tempat untuk mendisplai informasi bagi
pelanggan termasuk penempatan brosur/materi informasi. Sarana dan prasarana di apotek
kimia farma 315 Padangsidimpuan terdiri dari ruang tunggu, ruang racik, meja kasir, meja
kerja apoteker, lemari untuk menyimpan catatan medis pelanggan, ruang istirahat karyawan,
toilet, wastafel, halaman parkir dan keranjang sampah. Ruang tunggu yang ada di apotek ini
berupa deretan bangku yang disediakan untuk pelanggan selama menunggu obat diracik,
namun ruang tunggu yang ada tidak memadai karena jumlah bangku yang terlalu sedikit
sehingga membuat pelanggan kurang nyaman. Selain itu ruang untuk konseling dan tempat
untuk mendisplai informasi bagi pelanggan termasuk penempatan brosur/materi informasi

tidak ada. Halaman parkir yang ada cukup luas sehingga sehingga memudahkan pengunjung
untuk parkir secara aman dan gratis. Apoteker atau karyawan ketika melayani pelanggan,
baik pada saat menyerahkan ataupun memberikan informasi obat, hanya dibatasi meja kasir
yang ketinggiannya disesuaikan dengan kenyamanan pelanggan dan karyawan. Warna cat
apotek yang dominan putih dan pohon di halaman sekitar apotek memberikan kesan bersih,
teduh dan asri pada apotek. Dengan demikian, secara umum sarana dan prasarana di apotek
belum sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1027/MENKES/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
Desain interior apotek dinilai cukup baik. Kondisinya yang bersih dan rapi dapat
memberikan kenyamanan bagi karyawan dan pelanggan. Kerapihan Apotek dapat dilihat dari
penyusunan obatnya. Penyusunan obat dikelompokan berdasarkan obat OTC (Over The
Counter), obat ethical, obat narkotika dan psikotropika, obat untuk pemakaian topikal, jamu,
obat untuk racikan dan obat yang membutuhkan penyimpanan khusus di lemari pendingin.
Selain itu, juga tersedia perbekalan farmasi, produk kosmetik dan produk bayi.
Obat OTC disusun di etalase bagian depan apotek dengan memperhatikan estetika,
bentuk dan warna kemasan obat agar tampak menarik dari luar. Sebagian besar obat OTC
disusun berdasarkan efek farmakologinya dan bentuk sediaan. Penyusunan obat OTC
seharusnya disertai papan nama yang menunjukkan kegunaanya sehingga memudahkan
pelanggan untuk mencari obat yang dibutuhkannya. Selain itu papan nama ini juga
seharusnya pada bagian kasir dan penyerahan obat.
Obat ethical yang terdiri dari obat generik dan obat nama dagang disimpan di bagian
dalam apotek. Obat ethical disusun secara alphabetis dengan kartu stok yang disisipkan di
dalam kotak obat. Penempatan obat generik dan obat nama dagang dipisahkan. Adanya
penyusunan obat secara alphabetis atau berdasarkan efek farmakologi, fast moving serta
pemisahan penempatan obat generik dan obat nama dagang akan memudahkan karyawan
dalam pengambilan obat dan mempercepat gerak karyawan dalam memberikan pelayanan
kepada pelanggan. Hal ini tentunya akan memuaskan serta menambah kepercayaan
pelanggan terhadap apotek.
Penyimpanan obat harus memperhatikan kestabilan obat agar kualitas obat tetap
terjaga. Untuk tujuan tersebut, apotek memiliki sebuah lemari pendingin. Lemari pendingin
ini digunakan untuk menyimpan obat-obat yang membutuhkan suhu khusus dalam
penyimpanannya seperti suppositoria, ovula dan insulin untuk menjaga stabilitas obat-obat
tersebut. Penyimpanan dan penyusunan obat yang rapi juga dilakukan dengan memperhatikan
kemudahan dalam mengambil obat sehingga mempercepat pelayanan resep.

Penyusunan obat di apotek dilakukan berdasarkan jenis obat (OTC atau ethical), bentuk
sediaan, efek farmakologi. Obat seperti salep, krim dan obat tetes mata diletakkan di etalase
khusus agar mempermudah karyawan dalam melayani konsumen. Beberapa obat yang
memiliki efek farmakologi serupa diletakkan berdekatan. Beberapa obatobat yang memiliki
harga cukup tinggi ada diletakkan di etalase yang dekat dengan pengunjung sehingga
memiliki kerawanan untuk dicuri. Adanya pemisahan terhadap penyusunan dan penempatan
obat tersebut juga berguna untuk mencegah terjadinya medication error tetapi untuk
penandaan obat obat LASA tidak ada. Berbeda dengan kartu stok obat ethical, kartu stok obat
OTC tidak diletakkan di samping obat, melainkan disimpan terpisah agar susunan obat tetap
terjaga kerapihannya.
Obat-obat golongan narkotika dan psikotropika diletakkan di lemari khusus yang
dilengkapi kunci dan diletakkan ditempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum. Hal ini
sebenarnya tidak sesuai dengan yang ditetapkan oleh Permenkes No 3 tahun 2015 tentang
peredaran, penyimpanan, pemusnahan dan pelaporan narkotika, psikotropika dan prekursor
farmasi. Menurut permenkes tersebut lemari khusus tersebut harus terbuat dari bahan yang
kuat, tidak mudah dipindahkan dan mempunyai 2 (dua) buah kunci yang berbeda, kunci
lemari khusus dikuasai oleh Apoteker penanggung jawab/Apoteker yang ditunjuk dan
pegawai lain yang dikuasakan serta tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika dilarang
digunakan untuk menyimpan barang selain narkotika dan selain psikotropika.
Fasilitas lain di ruang dalam apotek yakni terdapat ruang peracikan. Di dalam ruang
peracikan ini terdapat meja racik serta perlengkapan meracik seperti alu, mortar, sudip,
timbangan, kertas perkamen, kapsul dan pot. Selain itu, terdapat sebuah meja besar yang
digunakan untuk berdiskusi dan melakukan pembukuan. Terdapat pula telepon dan faksimili
yang sengaja disediakan bagi karyawan untuk memesan obat serta menerima pesan dari
instansi lain.
APA dibantu oleh 2 orang asisten apoteker setiap shiftnya dalam melaksanakan
pelayanan kefarmasian. Dalam melakukan pelayanan kefarmasian, apoteker dan asisten
apoteker telah memenuhi persyaratan administrasi seperti STRA, SIPA dan STRTTK.
Pelayanan yang diberikan kepada pelanggan dilakukan dengan sebaik mungkin, misalnya
sambutan yang ramah dari karyawan apotek, pelayanan yang cepat, pemberian informasi obat
yang jelas, sehingga pelanggan merasa diperhatikan dan merasa puas yang akhirnya banyak
di antara pelanggan yang kembali lagi ke apotek dan menjadi regular customer.
APA bertugas mengevaluasi pemasukan dan pengeluaran uang dan barang serta
memberikan masukan kepada karyawan apotek akan hal tersebut. Terkadang karyawan

apotek berdiskusi dengan APA untuk menambah pengetahuan mereka terutama dalam hal
meningkatkan pelayanan, sehingga tetap memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan
walaupun APA sedang tidak berada di tempat. Hubungan kekeluargaan antara APA dan
karyawan juga terjalin dengan baik sehingga mereka memiliki sense of belonging terhadap
apotek. Dengan suasana kerja yang mendukung, karyawan dan APA dapat memberikan
pelayanan yang optimal kepada pelanggan. Pelanggan akan merasa puas terhadap pelayanan
yang diberikan oleh apotek dan tentunya hal ini akan memberi nilai lebih bagi apotek.
Pengelolaan obat yang optimal menjadi salah satu hal yang penting agar ketersediaan
obat terjaga dengan baik. Pengelolaan obat di apotek berjalan dengan baik dan diikuti dengan
administrasi yang baik. Pengelolaan obat diawali dengan perencanaan. Perencanaan obat
dilakukan berdasarkan data yang terdapat pada buku penolakan dan buku pesanan. Stok obat
yang habis dan permintaan obat tertentu dari masyarakat yang belum tersedia di apotek
dicatat dalam buku penolakan sedangkan untuk obat ethical dicatat dalam buku pesanan.
Pertimbangan jenis dan jumlah obat yang akan dipesan untuk pengadaan obat juga
dipengaruhi oleh anggaran yang ada, harga obat, pola peresepan dokter dan jumlah
persediaan minimum obat. Hal tersebut dilakukan agar apotek memiliki ketersediaan obat
yang lengkap, sehingga akan memberikan pelayanan yang optimal kepada pelanggan serta
akan menambah kepercayaan pelanggan. Dalam pengelolaan sediaan obat di apotek,
pengadaan merupakan hal yang sangat penting. Pengadaan obat di apotek dilakukan dengan
pemesanan obat ke PBF atau ke gudang kimia farma Medan. Obat dapat dipesan melalui
telepon, email ataupun dipesan secara langsung lewat karyawan PBF (sales) yang secara rutin
berkunjung ke apotek.
Pemesanan obat secara langsung melalui sales yang datang ke apotek dilakukan dengan
menggunakan surat pesanan, sedangkan pemesanan melalui telepon, surat pesanan diberikan
saat obat diantar ke apotek. Pada umumnya pemesanan obat dilakukan apabila stok obat telah
mencapai stok persediaan minimum atau obat dalam kondisi habis. Jika obat-obat berada
dalam kondisi tersebut harus segera ditulis dalam buku defecta. Obat-obatan yang akan
dipesan ke PBF harus disesuaikan jumlah dan jenisnya dengan kebutuhan apotek. Jumlah
obat yang dipesan juga dipengaruhi oleh tingkat penjualan obat dan diskon dari PBF. Apabila
suatu obat termasuk obat yang laku terjual (fast moving) dan PBF menawarkan adanya
diskon, maka pemesanan obat tersebut dapat diperbanyak jumlahnya untuk memenuhi
kebutuhan stok satu bulan. Setiap pemesanan obat ke PBF harus memenuhi batas kredit yang
ditentukan, yaitu memenuhi jumlah minimal pemesanan sehingga obat dapat dikirim.

Obat yang datang selanjutnya diterima oleh karyawan apotek dan diperiksa
kesesuaiannya dengan daftar obat yang ada di buku pemesanan. Pengecekan juga dilakukan
terhadap barang yang datang dengan faktur pembelian yang meliputi jenis barang, merk,
ukuran sediaan, jumlah, harga satuan, jumlah harga per jenis barang dan jumlah harga
keseluruhan obat yang tertera di dalam faktur. Jika obat yang datang tersebut sudah sesuai,
maka faktur ditandatangani dan diberi stempel oleh karyawan apotek yang menandakan
bahwa obat telah diterima. Jika terdapat obat yang tidak sesuai pesanan, kemasan/obat rusak,
atau tanggal kadaluarsanya terlalu dekat, maka obat tersebut dikembalikan kepada PBF yang
bersangkutan.
Pelayanan yang terdapat di kimia farma 315 Padangsidimpuan meliputi pelayanan
penjualan tunai (Obat OTC, swamedikasi, resep, enggrow/penjualan dalam jumlah besar),
pelayanan penjualan kredit yaitu instansi (PLN), asuransi (BPJS, In health) serta pelayanan
pemeriksaan gula darah, kolesterol dan asam urat. Untuk pelayanan swamedikasi, jika yang
diminta tidak ada, pasien akan ditawarkan obat dengan komposisi sama dengan nama dagang
yang berbeda. Jika pasien setuju, harga dikonfirmasikan kepada pasien dan obatnya langsung
disiapkan bila pasien setuju. Untuk pelayanan resep, harga juga akan terlebih dahulu
dikonfirmasikan kepada pasien. Proses skrining resep baik secara administrasi, farmasetik
dan klinis tidak terlalu dilakukan oleh apoteker atau asisten apoteker. Pasien diberikan
informasi mengenai indikasi, cara penggunaan obat, jangka waktu pemakaian, makanan
minuman yang dianjurkan atau dihindari ataupun saran terapi nonfarmakologis lainnya pada
saat penyerahan obat. Hal tersebut penting dilakukan agar terapi farmakologi pasien berjalan
dengan optimal dan menghindari terjadinya medication error. Pada pelayanan resep, apoteker
atau asisten apoteker meminta alamat dan nomor telepon pasien, khususnya pada resep yang
mengandung obat narkotika dan psikotropika. Hal ini bertujuan untuk mempermudah apotek
melakukan pemantauan jika ada obat yang salah dan untuk kepentingan pengarsipan.
Pelayanan tambahan di apotek yakni pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan asam urat,
pemeriksaan gula darah dan pemeriksaan kolesterol. Pemeriksaan darah dilakukan oleh
perawat dokter yang terdapat di apotek dengan menggunakan kit khusus sehingga hasilnya
dapat diketahui segera. Pelayanan kefarmasian yang belum dilaksanakan oleh apotek kimia
farma 315 Padangsidimpuan adalah konseling, home care, pemantauan terapi obat dan
monitoring efek samping obat sehingga apotek kimia farma 315 Padangsidimpuan belum
melakukan sebagian besar standar pelayanan kefarmasian sesuai Permenkes No. 35 tahun
2014 tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek.