Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH TEKNOLOGI PAKAN

Teknologi Pengolahan Konsentrat Secara Kimiawi

Oleh:
Kelas F
Kelompok 4
Henry Geofrin Lase

200110120299

Ramdhani

200110120301

Ummi Subarkah

200110120303

Silvia Grestamara

200110110305

Adi Suwandi

200110110306

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2014

I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Sebuah peternakan bisa sukses bila manajemen dalam segala hal seimbang.

Manajemen yang termasuk dalam manajemen yang paling penting adalah manajemen
pakan, karena pakan termasuk komponen yang paling tinggi menyerap biaya dalam
sebuah peternakan. Selain itu, pengaruh pakan sangat dominan dibandingkan dengan
manajemen yang lain. Pakan yang baik adalah pakan yang dapat memnuhi kebutuhan
ternak baik secara kuantitas dan kualitas. Bila pakan yang diberikan kurang baik
maka produktivitas ternak itu sendiri menjadi terganggu. Kebutuhan pakan pada
setiap ternak ditentukan dari beberapa faktor seperti : berat, fase pertumbuhan atau
reproduksi dan laju pertumbuhan. Semua zat pakan dibutuhkan dalam proporsi yang
seimbang satu sama lain. Oleh karenanya, tidak ekonomis bila memberikan zat pakan
dalam jumlah yang berlebihan dibanding dengan zat pakan lainnya.
Di Indonesia, kendala yang sering dihadapi pada pakan adalah ketersediaan
bahan pakan yang tidak menentu khususnya hijauan, yaitu pada musim hujan
produksi pakan sangat melimpah dan pada musi panas produksi pakan sangat minim
bahkan sampai tidak ada. Oleh karena itu, perlu pengolahan bahan pakan agar bisa
digunakan secara efektif dan efisien. Tujuan pengolahan lainnya adalah mengisolasi
zat dalam bahan pakan, meningkatkan palatabilitas ternak, memperpanjang waktu
penyimpanan, menambah nilai gizi pakan, meningkatkan daya cerna dan mengubah
ukuran dan betuk. Pengolahan bahan pakan dibagi menjadi 3 cara pengolahan, yaitu
pengolahan secara fisik, kimiawi dan biologi. Pengolahan yang dibahas dalam
makalah ini adalah pengolahan bahan pakan secara kimia. Makalah ini dibuat oleh
kelompok kami agar pembaca dapat memperdalam ilmunya dalam segi pengolahan
pakan secara kimia.

1.2.

Identifikasi Masalah
Untuk mempermudah dalam penyusunan makalah ini, maka kami

mengidentifikasi masalah sebagai berikut :


1) Apa yang dimaksud dengan pengolahan bahan pakan khususnya konsentrat
secara kimiawi ?
2) Sebutkan macam-macam cara pengolahan bahan pakan khususnya konsentrat
secara kimiawi ?
3) Apa proses yang terjadi dan perubahan komposisi zat zat makanan selama
pengolahan bahan pakan khususnya konsentrat secara kimiawi ?
Maksud dan Tujuan
Makalah ini di susun dengan maksud dan tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui teknologi pengolahan bahan pakan khususnya konsentrat

1.3.

secara kimia
2. Untuk mengetahui macam-macam cara pengolahan bahan pakan khususnya
konsentrat secara kimiawi.
3. Untuk mengetahui proses yang terjadi perubahan komposisi zat-zat makanan
selama pengolahan bahan pakan khususnya konsentrat secara kimiawi.

II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bahan Pakan
Pakan adalah bahan makanan tunggal atau campuran, baik yang diolah
maupun yang tidak diolah, yang diberikan kepada hewan untuk kelangsungan hidup,
berproduksi, dan berkembang biak. Pakan merupakan faktor utama dalam
keberhasilan usaha pengembangan peternakan disamping faktor bibit dan tatalaksana.
Pakan yang berkualitas akan sangat mendukung peningkatan produksi maupun
reproduksi ternak (Anggorodi, 1985).
Tillman et al (1998) mengatakan bahwa pakan atau makanan ternak adalah
bahan yang dapat dimakan, dicerna dan dapat digunakan oleh ternak. Secara umum
bahan makanan ternak adalah bahan yang dapat dimakan, tetapi tidak semua
komponen dalam bahan makanan ternak tersebut dapat dicerna oleh ternak. Bahan
makanan ternak mengandung zat makanan dan merupakan istilah umum, sedangkan
komponen dalam bahan makanan ternak tersebut dapat digunakan oleh ternak disebut
zat makanan. Selanjutnya Badan Standarisasi Nasional juga mendefinisikan bahan
pakan adalah bahan-bahan hasil pertanian, perikanan, peternakan dan hasil industri
yang mengandung zat gizi dan layak dipergunakan sebagai pakan, yang telah maupun
belum diolah.
Produktivitas ternak, terutama pada masa pertumbuhan, dan keampuan
produksinya dipengaruhi oleh faktor genetik (30%) dan lingkungan (70%). Pengaruh
faktor lingkugan antara terdiri ats pakan, teknik pemeliharaan, kesehatan dan iklim.
Di antara faktor lingkungan tersebut, pakan mempunyai pengaruh yang paling besar
yaitu sekitar 60 %. Besarnya pengaruh pakan ini membuktikan bahwa produksi
ternak yang tinggi tidak bisa tercapai tanpa pemberian pakan yang memenuhi
persyaratan kualitas dan kuantitas. Pengetahuan tentang jenisdan nilai nutrisi pakan

diperlukan dalam rangka memberikan pakan yang sesuai dengan kebutuhan ternak.
(Edi, 2011)
Sukria dan Krisna (2009) menyatakan bahwa komposisi kimia bahan makanan
ternak sangat beragam karena bergantung pada varietas, kondisi tanah, pupuk, iklim,
lama penyimpanan, waktu panen dan pola tanam. Pengaruh iklim dan kondisi ekologi
sangat menentukan ketersediaan hijauan sebagai pakan ternak di suatu wilayah
sehingga hijauan makanan ternak tidak dapat tersedia sepanjang tahun. Pada musim
penghujan produksi hijauan berlimpah dan sebaliknya di musim kering atau kemarau
hijauan sebagai sumber pakan ternak harus menghilang. Ketersediaan hijauan secara
kuantitas dan kualitas juga dipengaruhi oleh pembatasan lahan tanaman pakan karena
penggunaan lahan untuk tanaman pakan masih bersaing dengan tanaman pangan.
2.2 Konsentrat
Konsentrat merupakan bahan pakan atau campuran bahan pakan yang
mengandung serat kasar kurang dari 18 persen, TDN lebih dari 6 persen, dan
berperan menutup kekurangan nutrien yang belum terpenuhi dari hijauan. Konsentrat
adalah pakan yang mengandung nutrien tinggi dengan kadar serat kasar rendah.
Konsentrat atau pakan penguat adalah terdiri dari biji-bijian dan limbah hasil proses
industri bahan pangan seperti jagung giling, tepung kedelai, menir, dedak, bekatul,
bungkil kelapa, tetes dan umbi. Peranan konsentrat adalah untuk meningkatkan nilai
nutrien yang rendah agar memenuhi kebutuhan normal hewan untuk tumbuh dan
berkembang secara sehat (Akoso, 1996).
Tujuan dari pemberian konsentrat pada sapi potong adalah agar sapi dapat
cepat dijual, untuk memenuhi permintaan tertentu terhadap kualitas karkas sebagai
hasil penggemukan (Parakkasi, 1999).
Konsentrat dibedakan dua kelompok, yaitu konsentrat sumber enegi
(carbonaseous

concentrate)

dan

konsentrat

sumber

protein

(proteinaseous

concentrate). Carbonaseous concentrate merupakan konsentrat yang mengandung


energi tinggi, protein rendah dengan protein kasar kurang dari 20 persen dan serat
kasar 18 persen, sedangkan proteinaseous concentrate adalah konsentrat yang
mengandung protein tinggi dengan protein kasar lebih dari 2 persen (Prawirokusumo,
1994).
2.3 Pengolahan Bahan Pakan Secara Kimiawi
Teknologi pengolahan pakan bertujuan untuk meningkatkan kualitas dari
bahan pakan yang akan diberikan kepada ternak yang akan mengkonsumsi pakan.
Terdapat beberapa cara pengolahan limbah pertanian terkait teknologi pengolahan
pakan guna meningkatkan nilai gizi limbah tersebut, diantaranya dengan (1)
perlakuan fisik mekanik melalui pencacahan, penggilingan, perendaman, perebusan,
pelleting, dan Y-iridiasi (2) perlakuan kimia dengan menggunakan asam atau basa
kuat, (3) perlakuan biologis seperti pengolahan dengan jamur, enzim, white root fungi
maupun dengan bolus/isi rumen, dan (4) gabungan berbagai perlakuan (Sutrisno,
1993).
Teknologi pengolahan pakan merupakan dasar teknologi untuk mengolah
limbah pertanian, perkebunan maupun agroindustri dalam pemanfaatannya sebagai
pakan, karena kita mengetahui bahwa limbah memiliki kelemahan walaupun
ketersediaannya dilapangan cukup melimpah dan memiliki peluang untuk
dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak. Kelemahan limbah tersebut yakni
memiliki kandungan serat kasarnya yang tinggi termasuk selulosa, lignin, dan tanin
yang sangat sukar dicerna oleh ternak ruminansia, dan ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan sebelum limbah tersebut digunakan seperti ketersediaan, kontinuitas
pengadaan, kandungan gizi, kemungkinan adanya faktor pembatas seperti zat racun
atau zat anti nutrisi, serta perlu tidaknya bahan diolah sebelum dapat digunakan
sebagai pakan ternak.

Menindak lanjuti bagaimana mengatasi permasalahan tentang rendahnya


kualitas dari limbah pertanian, diperlukan suatu upaya penerapan teknologi guna
meningkatkan kualitas dari limbah pertanian yakni melalui aplikasi atau penerapan
teknologi pengolahan pakan. Penerapan teknologi pengolahan pakan itu sendiri
haruslah teknologi pengolahan yang mudah diaplikasikan mengingat penguasaan
teknologi untuk memanfaatkan limbah menjadi bahan pakan alternatif ini belum
sepenuhnya dikuasai oleh petani peternak, dan kita mengetahui bahwa tingkat
pendidikan peternak rata-rata masih rendah, sehingga teknologi yang diturunkan
kepada peternak haruslah mudah dilaksanakan dan dimengerti oleh peternak-peternak
yang akan mengaplikasikan teknologi pengolahan pakan yang ingin kita canangkan.
Limbah pertanian yang sering dimanfatkan sebagai pakan ternak ruminansia
adalah jerami padi, jerami jagung, jerami kacang tanah, jerami kedelai, daun ketela
pohoh serta lainnya. jenis limbah perkebunan memiliki potesi yang besar untuk
dimanfaatkan sebagai pakan adalah bungkil kelapa sawit, kulit nanas, kulit kopi,
cacao, jerami tebu dan lain sebagainya. Amoniasi merupakan salah satu contoh
penerapan teknologi dengan perlakuan secara kimia terhadap limbah pertanian.
Amoniasi merupakan suatu perlakuan kimia yang dilakukan untuk meningkatkan
nilai gizi dan kecernaan limbah berserat tinggi.
Amoniasi adalah cara pengolahan pakan secara kimia yakni menggunakan
amoniak (NH3) sebagai bahan kimia yang digunakan untuk meningkatkan daya cerna
dari bahan pakan berserat sekaligus meningkatkan kadar N (proteinnya). Cara ini
mempunyai keuntungan yaitu: sederhana, mudah dilakukan, murah (sumber diambil
dari urea), juga sebagai pengawet, anti aflatoksin, tidak mencemari lingkungan dan
efisien (dapat meningkatkan kecernaan sampai 80%). Amoniak dapat membebaskan
ikatan antara lignin dengan selulosa dan hemiselulosa, sehingga memudahkan
pencernaan oleh selulase mikroorganisme rumen. Amoniak akan terserap dan dan
berikatan dengan gugus asetil dari bahan pakan, kemudian membentuk garam
amonium asetat yang pada akhirnya terhitung sebagai protein bahan (Komar, 1984).

III
PEMBAHASAN
3.1 Teknologi Pengolahan Konsentrat Secara Kimiawi
Pengolahan limbah industri dan pertanian untuk dijadikan bahan pakan yang
bernilai gizi diperlukan proses pengolahan dengan cara perlakuan tertentu, salah
satunya yaitu pengolahan secara kimiawi. Adapun keuntungan dari perlakuan
pengolahan secara kimiawi adalah dapat meningkatkan daya cerna dan efiensi
penggunaan limbah industri dan pertanian. Sebagai contoh pada limbah kulit udang
perlakuan perendaman dengan bahan kimia dapat menghancurkan atau meregangkan
ikatan protein sehingga dapat meningkatkan daya cerna. Selain itu, pengolahan
kimiawi pada limbah kulit udang dapat memperkecil partikel kalsium dan
mengurangi kandungan lemak. Akan tetapi, pengolahan bahan pakan secara kimiawi
juga dapat menimbulkan kerugian. Berikut adalah tabel keuntungan dan kerugian
pengolahan bahan paka secara kimiawi.
N

Keuntungan

o
1.

Proses reaksi dapat dilakukan dengan Polusi dan memiliki tigkat korosif

2.

cepat
Biaya
dengan

lebih

Kerugian

murah

pengolahan

yang tinggi
dibandingkan Terjadinya
secara

depolimerisasi

yang

fisik berlebihan

maupun mikrobiologi
Tabel 1. Keuntungan dan Kerugian Pengolahan secara Kimiawi
Pengolahan konsentrat secara kimia adalah pengolahan konsentrat dengan
cara penambahan zat kimia. Zat kimia yang sering digunakan adalah zat kimia yang
bersifat asam dan basa. Zat kimia yang bersifat asam yangg biasa digunakan adalah
H2SO4, HCl, Asam Propionat, Asam Formiat dan lain-lain. Sedangkan zat kimia yang
bersifat basa yang biasa digunakan adalah NaOH, KOH dan lain-lain.Pengolahan
konsentrat secara kimia dilakukan dengan proses basah atau wet processing dan

proses dingin, karena biasanya zat kimia yang digunakan biasanya berbentuk liquid.
Pengolahan basah-dingin diantaranya adalah dengan alkali treatment, dan Acid
treatment yang akan dibahas pada sub bab selanjutnya.
3.2 Macam Macam Perlakuan Pengolahan Secara Kimiawi
Perlakuan dalam pengolahan secara kimiawi dibagi menjadi 2 perlakuan yaitu
perlakuan dengan asam dan perlakuan dengan basa. Setiap perlakuan memiliki hasil
maupun reaksi yang berbeda pula. Berikut ini akan dijelaskan macam macam
perlakuan dalam pengolahan secara kimiawi.
1. Perlakuan dengan menggunakan asam.
Jenis asam yang digunakan dapat berupa asam lemah maupun asam kuat.
Tetapi lebih sering digunakan asam lemah seperti CH 3COOH dan
HCOOH karena lebih aman dibandingan dengan asam kuat (H 2SO4, HCN
dan HCl) karena memiliki sifat korosif yang tinggi.
2. Perlakuan dengan menggunakan basa.
Jenis basa yang digunakan dapat berupa basa kuat maupun basa lemah.
Jenis basa kuat yang biasa digunakan adalah NaOH, KOH. Sedangkan
basa lemah yang biasa digunakan adalah NH4OH. Pada perlakuan degan
basa kuat akan terjadi proses pemasakan yang biasa dikenal dengan
proses Soaking. Sedangkan perlakuan dengan menggunakan basa lemah
dikenal dengan proses amoniasi.
3.3 Proses yang Terjadi dan Perubahan Komposisi Zat Zat Makanan Selama
Pengolahan Secara Kimiawi
Proses yang terjadi selama pengolahan dalam setiap bahan berbeda-beda,
tergantung tujuan yang ingin dicapai setelah bahan diolah. Proses yang terjadi dalam
pengolahan konsentrat secara kimia diantaranya sebagai berikut :
1) Memberikan proteksi

Salah satu contoh pengolahan secara kimia untuk memberikan proteksi


terhadap konsentrat adalah dengan penambahan tanin atau folmaldehida pada
pakan yang mengandung protein. Proses yang terjadi adalah proses
insolubisasi, proses ini berguna agar protein lebih sedikit terdegradasi dalam
rumen karena dalam rumen protein dalam pakan banyak yang terdegradasi,
yang tidak terdegradasi disebut protein bypass yang nantinya akan diserap
dalam usus halus.
2) Mengubah struktur
Salah satu contohnya adalah penghilangan kitin dalam udang. Penghilangan
kitin sebagai pembatas bisa dilakukan dengan cara biologis dan kimia. Secara
kimia bisa dilakukan dengan melarutkan dalam asam pekat seperti asam
sulfat, asam nitrit, asam fosfat dan asam formiat anhidrous, karena kitin tidak
larut air, asam anorganik encer, asam organik, alkali pekat dan pelarut organik.
Kitin yang larut dalam asam pekat dapat terdegradasi menjadi monomernya
dan memutuskan gugus asetil.Kitin menjadi sebuah polimer berunit N-Asetil
Glukosamin

3) Deproteinasi
Deproteinasi adalah proses pelepasan protein dari ikatan kitin limbah udang.
Protein yang terdapat pada limbah udang dapat berikatan secara fisik dan
kovalen. Protein yang terikat secara kovalen dapat didegradasi dengan

perlakuan kimia yaitu pelarutan dalam larutan basa kuat atau dengan
perlakuan biologis.
4) Mengubah Ikatan dalam pakan
Salah satu contohnya adalah pengolahan bulu ayam menjadi tepung bulu yang
kandungan proteinnya cukup tinggi. Pada bulu ayam perlu dilakukan
pengolaha untuk memecah ikatan sulfur dari sistin yang terkandung dalam
bulu ayam. Karena dalam bulu ayam ada penghambat yaitu keratin. Perlakuan
secara kimia pada bulu ayam yaitu dengan perlakuan asam dan basa
(NaOH,HCl) atau dengan teknik hidrolisis dengan asam akali.
3.3.1 Perubahan Komposisi Zat Zat Makanan dengan Perlakuan Basa
Penambahan alkali seperti NaOH, KOH, Ca(OH)2, ammonia anhydarious
(gas atau cairan), urea, garam ammonium ataupun bahan lain pada proses pengolahan
pakan secara kimia menyebabkan suasana basa yang ditandai dengan pH > 7.
Perlakuan dengan penambahan alkali dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
Dengan cara basah (wet processing) yaitu dengan cara perendaman.
Dengan cara kering (dry processing) yaitu dengan cara penyemprotan.
Dalam

perendaman

biasanya

digunakan

perendaman

pendek

yaitu

perendaman sekitar 12-24 jam. Dalam alkali treatment biasanya dilakukan dengan
penyemprotan zat kimia basa seperti NaOH, dengan konsentrasi 2-4%, alkali lain
yang biasa digunakan adalah amoniak. Dalam acid treatment atau perlakuan asam
biasanya dilakukan dengan pencampuran zat kimia bersifat asam tapi yang organik
seperti formiat, propionat, asetat dan lain-lain.

Pengolahan dengan penambahan alkali juga dapat dilakukan dengan


menambahkan ammonia. Pada hal ini ammonia berfungsi sebagai fungisidal dan
bakterisida sehingga dapat mengawetkan bahan pakan. Pada proses ini ammonia
dapat berikatan dengan gugus asetat dari bahan pakan sehingga menjadi garam
ammonium asetat dan dapat menjadi sumber nitrogen pada bakteri rumen untuk
hewan ruminansia. Pada penambahan ammonia pada bahan pakan dapat
meningkatkan jumlah zat makanan tercerna (TDN) sebesar 3-23%. Selain itu dapat
juga meningkatkan konsumsi pakan sebesar 20-27%.
Penambahan alkali dapat meningkatkan koefisien cerna, hal ini disebabkan
oleh larutnya sebagian silikat dan lignin, bengkaknya jaringan yang diakibatkan oleh
lepasnya sebagian ikatan hidrogen diantara molekul selulosa dan terhidariolisisnya
ikatan ester pada gugus asam uronat diantara selulosa dan hemiselulosa yang
memudahkan penetrasi enzim pencernaan.
Secara skematis pada prinsipnya kerja alkali adalah sebagai berikut (Murni, dkk,
2008) :
1.

Memutuskan sebagian ikatan antara selulosa dan hemiselulosa dengan lignin san
silica

2.

Esterifikasi gugus asetil dengan membentuk asam uronat

3.

Merombak struktur dinding sel, melalui pengembangan jaringan serat dan


memudahkan penetrasi molekul enzim mikroorganisme.
Deproteinasi merupakan suatu proses yang bertujuan untuk menghilangkan atau

melarutkan protein semaksimal mungkin dari substrat, biasa dilakukan dengan


menggunakan larutan kimia yang bersifat basa. Larutan basa kuat NaOH merupakan
alkali paling efektif dalam meningkatkan kecernaan limbah pertanian dan industri
karena mampu membengkakkan ikatan lignoselulosa menjadi lebih besar sehingga
kecernaannya meningkat (Soedjono dkk., 1985). NaOH mampu memperbesar volume

partikel bahan (substrat), sehingga ikatan antar komponen menjadi renggang, juga
mampu menghidrolisis gugus asetil pada khitin. (Winarti, 1992).
Sama dengan pendapat Krik dan Othmer (1953), bahwa bahan kimia yang
umum dipakai untuk menghidrolisis protein adalah HCl dengan konsentrasi 0,6-3N.
Keuntungan pemakaian HCl adalah konsentrasi HCl yang di butuhkan lebih kecil,
sebagian HCl atau asam yang tersisa pada bahan makanan dapat dihilangkan dan
dinetralkan dengan NaOH yang bersifat basa, sehingga menghasilkan garam yang
merupakan flavouring agent bagi bahan makanan tersebut.
a. Perlakuan dengan larutan NaOH
Cacahan jerami atau hijauan kering ditebarkan di atas lantai atau hamparan plastik
tebal, larutan NaOH 3-4% dalam air dalam jumlah yang sama (3-4% berat jerami).
Larutan disemprotkan sambil jerami diaduk agar merata. Biarkan 3-4 jam untuk
bereaksi. Jerami perlakuan alkali siap diberikan kepada ternak. Tindakan
pencegahan NaOH korosif, dengan menjaga kulit agar tidak terpapar. Gunakan
sepatu bot, kaus tangan plastik dan masker muka saat pencampuran.
b. Perlakuan dengan lime (kapur)
CaO dan Ca(OH)2 adalah basa lemah, perlu konsentrasi lebih tinggi dan waktu
lebih lama. Hasilnya tidak menunjukkan peningkatan nilai nutrisi yang diinginkan.
Kandungan Ca yang lebih tinggi pada produk ini juga bermasalah pada pemberian
pakan.
c. Perlakuan Amonia (amoniasi)
Perlakuan ini telah diteliti sistematis sejak 1930-an di Jerman. Dosis yang
optimum untuk mengolah limbah lignoselulosa dari beberapa penelitian yaitu 1,5%
amonia atau 3,5% urea-amonia terhidariolisis.
3.3.2 Perubahan Komposisi Zat Zat Makanan dengan Perlakuan Asam

Pada penambahan asam atau perlakuan asam dengan menggunakan bahan


kimia asam baik berupa asam kuat atau pun asam organik pada bahan pakan dapat
menyebabkan pH turun menjadi pH<5,0. Penambahan asam akan mengakibatkan
meningkatnya kualitas bahan pakan yang memiliki kualitas rendah, karena asam yang
diberikan dapat memecah atau merenggangkan ikatan serat kasar dan protein kasar
yang relatif sulit untuk dicerna. Selain itu dapat pula meningkatkan potensi kecernaan
dinding sel pakan konsentrat sumber energi.
Selain hal diatas terdapat beberapa hal yang perlu di perhatikan yaitu :

Bahan kimia yang digunakan bersifat korosif: kadang-kadang bersifat toksik


dan adanya residu mineral.

Produk yang dihasilkan bersifat asam sehingga perlu diangin-anginkan sebelum


diberikan ke ternak.
Asam sianida seperti halida hidrogen, adalah zat molekular yang kovalen,

namun mampu terdisosiasi dalam larutan air, merupakan gas yang sangat beracun
(meskipun kurang beracun dari H2S), tidak bewarna dan terbentuk bila sianida
direaksikan dengan sianida. Dalam larutan air, HCN adalah asam yang sangat lemah,
pK 25= 9,21 dan larutan sianida yang larut terhidrolisis tidak terbatas namun cairan
murninya adalah asam yang kuat.
HCN adalah suatu racun kuat yang menyebabkan asfiksia. Asam ini akan
mengganggu oksidasi (pengakutan O2) ke jaringan dengan jalan mengikat enzym
sitokrom oksidasi. Oleh karena adanya ikatan ini, O2 tidak dapat digunakan oleh
jaringan sehingga organ yang sensitif terhadap kekurangan O 2 akan sangat menderita
terutama jaringan otak. Akibatnya akan terlihat pada permukaan suatu tingkat
stimulasi daripada susunan saraf pusat yang disusul oleh tingkat depresi dan akhirnya
timbul kejang oleh hypoxia dan kematian oleh kegagalan pernafasan terkadang dapat
timbul detak jantung yang ireguler.

IV
KESIMPULAN
Pengolahan konsentrat secara kimia adalah pengolahan konsentrat dengan

cara penambahan zat kimia.


Perlakuan dalam pengolahan secara kimiawi dibagi menjadi 2 perlakuan yaitu

perlakuan dengan asam dan perlakuan dengan basa.


Proses yang terjadi dalam pengolahan konsentrat secara kimia diantaranya
sebagai berikut :
1. Memberikan proteksi
2. Mengubah struktur
3. Deproteinasi
4. Mengubah Ikatan dalam pakan
Perbedaan kompisisi dalam bahan pakan, pada penambahan ammonia pada
bahan pakan dapat meningkatkan jumlah zat makanan tercerna (TDN) sebesar
3-23%. Selain itu dapat juga meningkatkan konsumsi pakan sebesar 20-27%
dan pada penambahan asam dapat memecah atau merenggangkan ikatan serat
kasar dan protein kasar yang relatif sulit untuk dicerna. Selain itu dapat pula
meningkatkan potensi kecernaan dinding sel pakan konsentrat sumber energi.

DAFTAR PUSTAKA
Akoso, B., T. 1996. Kesehatan Sapi. Kanisius, Yogyakarta.
Anggorodi, H., 1985. Ilmu Makanan ternak Unggas, PT. Gramedia, Pustaka Utama,
Jakarta.
Komar, A. 1984. Teknologi Pengolahan Jerami. Yayasan Dian Grahita. Indonesia.
Krik, R.E. and D.F. Othmer. 1953. Encyclopedia of Chemical Technology. Vol. XI.
The Interscience Publ. Inc., New York.
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. UI Press Jakarta.
Prawirokusumo, S., 1994. Ilmu Gizi Komparatif. BPFE Yogyakarta.
R. Murni, Suparjo, dan Akmal. 2008. Buku Ajar Teknologi Pemanfaatan Limbah
Untuk Pakan. Laboratorium Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas
Jambi. Jambi.
Soedjono, M., R. Utomo dam S.P.S. Budhi. 1985. Pengaruh Perlakuan Alkali
Terhadap Kecernaan In Vitro Bagasse. Pr oceeding Seminar Pemanfaatan
Limbah Tebu untuk Pakan Ternak . Pusat Penelitian Pengembangan
Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian departemen
Pertanian, Bogor.
Sukria, A. H dan Krisna. R. 2009. Sumber dan Ketersediaan Bahan Baku Pakan di
Indonesia.Bogor. IPB Press.
Sutrisno, dkk. 1993. Teknoloi Pascapanen Pengolahan Jagung. Buletin Teknik
Sukamadi. Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. No 1, Tahun 1993.
Tillman.D.A, Hari Hartadi, Soedomo Reksohadiprojo, Soeharto Prawirokusumo dan
Soekanto

Lebdosoekojo.

1991,1998. Ilmu

Makanan

Ternak

Dasar. Gadjah Mada University Press. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.

Winarti, R. 1992. Pengaruh konsentrasi NaOH dan Waktu Deasetilasi Khitin


Terhadap Pembentukan Khitosan. Skripsi S1. Fakultas Teknolo gi Pertanian
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

LAMPIRAN