Anda di halaman 1dari 14

JURNAL PRAKTIKUM EVALUASI TEKSTIL 1

UJI KERUSAKAN SERAT WOOL PEWARNAAN DENGAN INDIGO


CARMINE,ACID RED DAN PENGGELEMBUNGAN KOH
AMONIAKAL

Nama

: Aji Setiawan

Npm

: 14020087

Dosen

: Khairul U., S.ST.

Assisten

: Eka O., S.ST


Samuel M., S.ST

Grup

: 2K4

POLITEKNIK SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL


BANDUNG
2016

TEORI PENDAHULUAN
Wol merupakan serat yang dihasilkan dari rambut biri-biri yang merupakan
serat yang halus, biasanya keriting dan tumbuh terus menerus dan dipotong tiap
tahunnya. Struktur kimia wol tersusun dari asam amino dan keratin, diantara rantai
utama terdapat ikatan silang berupa ikatan sistina/jembatan belerang (hal ini tidak
dimiliki oleh sutera).
Komposisi serat wol :
Komposisi
Wol/serat
Air
Lilin
Keringat
Debu/kotoran

Merino
49 %
10 %
16 %
6%
19 %

Cross bed
61 %
12 %
11 %
8%
8%

Sifat Fisika Serat Wol


Dalam keadaan kering kekuatan wol 1,2 1,7 g/denier dengan mulur 30 40
%, dan dalam keadaan basah kekuatan wol 0,8 1,4 g/denier dengan mulur 50 70 %.
Dalam air dingin elastisitas sempurna (penarikan 70 % masih kembali ke panjang
semula). Sifat lainnya adalah :

MR standar 16 % dan menyerap lembab sampai 33 % tanpa terasa basah.


Berat jenis tanpa medula 1,304.
Indeks bias sejajar sumbu serat 1,553 dan yang tegak lurus adalah1,542.
Dapat menggumpal.
Kekuatan berkurang dan dapat berwarna kuning akibat sinar matahari.
Merupakan isolator panas yang baik.
Sedangkan sifat-sifat kimia serat sutera sebagai berikut :
Menggelembung dalam air.
Dapat bereaksi dengan asam maupun basa karena bersifat amfoter.
Garam kalsium dan magnesium pada air dapat menyebabkan yellowing.
Dapat rusak oleh oksidator dan reduktor.

Sifat Kimia Serat Wol


Seperti protein-protein lain, wol bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan
asam ataupun basa. Adsorpsi asam atau basa akan memutuskan ikatan garam, tetapi
dapat kembali lagi. Wol tahan asam, kecuali asam pekat panas dapat memutuskan ikatan
peptide. Didalam larutan alkali, ikatan silang disulfida mudah sekali putus sehingga wol

mudah rusak oleh alkali. Di dalam larutan natrium hidroksida 5 % mendidih wol segera
larut.
Wol peka terhadap zat-zat oksidator. Zat-zat oksidator kuat akan merusak serat,
karena putusnya ikatan lintang sistina. Dibanding dengan serat lain, wol paling tahan
terhadap serangan jamur dan bakteri.
Seperti serat protein lain, struktur dasar serat ini merupakan pengulangan unit
CHR-NH-CO-R bervariasi dari rantai samping. Analisa wol menunjukkan bahwa
komposisinya adalah 50% karbon, 22-25% oksigen, 16-17% nitrogen, 7% hidrogen,
dan 3-4% belerang.
Kerusakan wol lebih kompleks daripada selulosa. seperti telah diketahui wol
mempunyai jembatan cystine, jembatan garam dan rantai polipeptida. wol dapat
diserang oleh alkali, oksidator, chlor, reduktor, hama dan jamur. Kerusakan dapat
terjadi pada sifat clastis, cystine, jembatan garam, dan rantai poli peptida.
a.

Kerusakan pada sifat elastis.


Alkali menyebabkan wol melarut, gas chlor merubah wol menjadi membran yang
elastis dan sangat mulur yang larut perlahan-lahan dalam air. Kehilangan sifat elastis
membawa konsentrasi :
-

Bahan menjadi lebih mudah diserang asam dan lebih mudah dicelup.

Sisik-sisik melekat satu sama lain dan mudah hilang karena gesekan sehingga
merugikan sifat pemakaian wol.

b.

Kerusakan pada cystine (jembatan disulfida).


Ada tiga macam reaksi, yaitu :
-

Oksidasi.
R-S-S-R R SO-S-R R SO2 SR R SO-SO R disulfoksida
R SO2 SOR R SO2SO2R disulfon.
Disulfoksida dapat bereaksi dengan Pb-asetat membentuk Pb.S yang coklat tua.
sedangkan tingkat terakhir dari dioksidasi (R SO2SO2R) tidak dapat bereaksi. Hal
ini terjadi pada oksidasi dengan H2O2.

Hydrolisa.

R-S-S-R R S H+
Hasil akhir (RSOH) larut dalam alkali sehingga kerusakan karena alkali
bertambah tinggi. H2S yang terjadi dapat bereaksi dengan Pb asetat membentuk
PbS. Hal ini dapat terjadi karena hidrolisa oleh uap air atau air mendidih, atau
oleh alkali. Kerusakan oleh sinar matahari merupakan campuran oksidasi dan
hidrolisa.
-

Reduksi.
Na2SO3
R-S-S-R RSNa + R-S-SO3Na
Hal ini terjadi selama pengerjaan dengan Na-sulfit atau bisulfit.
Oksidasi mengurangi total belerangyang bereaksi seperti belerang bebas dan
(dalam beberapa hal) belerang yang bereaksi sebagai H2S. Oksidasi juga
menaikkan kadar sulfat, belerang yang larut dalam alkali dan total zat yang larut
dalam alkali.

c.

Kerusakan pada jembatan garam.


Hidrolisa jembatan garam disebabkan oleh pengaruh uap air, asam, air mendidih dan
agak sedikit oleh pengerjaan dengan alkali. Cara penentuan kerusakan ini berdasarkan
pada total zat terlarut dalam alkali, dan kadar amino sebagai RNHR dan R-NH 2-OOCR. Pengerjaan dengan asam tidak menyebabkan pengrusakan struktur, tetapi
menyebabkan pembentukan garam, dan berkaitan dengan gugus NH 2 sehingga
menurunkan bilangan jodium. Oksidasi, Reduksi pengaruh sinar, pengaruh uap, semua
bertendensi menaikkan kelarutan dalam alkali.

d.

Kerusakan pada rantai Peptida.


Pemutusan rantai peptide menjadi lebih pendek disebabkan oleh serangan uap air, asam
air mendidih dan lain-lain. Efek kimianya sama seperti yang dihasilkan oleh kerusakan

pada gugus amino dan jembatan garam. Penggunaan viskositas untuk mengetahui
pemecahan rantai molekul ternyata tidak membawa hasil.
e.

Kerusakan pada gugus amino.


Diazotasi dan pemecahan senyawa diazo menyebabkan penurunan kadar amino primer
dan karena itu mengurangi daya celup dengan zat warna asam. Bilangan jodium juga
turun. Oksidasi juga mengurangi kadar amino.

f.

Analisa-analisa yang dilakukan.


Untuk memberikan kerusakan wol dapat dilakukan analisa-analisa sebagai berikut :
-

Pengujian pada sifat elastis


1.

Alworden reaction (reaksi Alworden).

2.

Stalin penetration.

Pengujian kerusakan cystine.


1.

Total sulfur.

2.

Sulfur yang larut dalam alkali.

3.

Sulfur yang bereaksi sebagai S bebas.

4.

Sulfur

yang

bereaksi

sebagai

H2S

(dengan

membentuk PbS).
5.
-

Lood extension diagram S (% Relative Works).

Pengujian untuk kerusakan pada jembatan garam.


1.

Total nitrogen.

2.

Zat terlarut dalam alkali.

3.

Nilai jodium.

4.

Load extion diagram (% Relative Works).

Pengujian untuk pemutusan peptida.


1.

hasil yang tak normal pada pengujian 3b, 5 dan 9c.

2.

Hasil yang tak normal dari % R.W.

Pengujian reaksi rutrogen.


1.

nihydrin test.

Pengujian kerusakan karena sinar.

Pengujian kerusakan karena asam.

Pengujian kerusakan karena oksidasi.

Pengujian kerusakan wol secara umum.

Pb-asetat

1.

Pemeriksaan dengan mikroskop.

2.

Penggelembungan dalam air

3.

Total zat terlarut dalam alkali.

Pengujian secara fisika kimia.


1.

% Reduksi kerja diagram load extention pada penaikkan dalam


asam.

2.

Supercontraction.

3.

Permanent set.

Pengujian terhadap serat wol


Sebab terpenting yang mengakibatkan kerusakan kimia pada serat wol adalah
alkali, walaupun kerusakan kimia dapat juga diakibatkan karena asam, khlor atau
hipokhlorit, peroksida dan pengaruh cahaya.
Penyebab Kerusakan pada serat wol :
1. Alkali
Wol tidak tahan alkali kuat (NaOH dan KOH) maupun alkali lemah (Na 2CO3 dan
NH4OH dalam waktu lama)
Mekanisme terajdi kerusakan :
Adanya alkali menyebabkan sisik pada wol menjadi terbuka lalu menjadi garam amino
karboksilat. (sisik wol terbuka menjadi gelembung lalu pecah menjadi blister). Contoh :
Wol + NaOH 5% suhu mendidih.
2. Oksidator
Dapat menyerang jembatan sistin dengan mengoksidasi semua gugus disulfida
sehingga terhidrolisa membentuk asam sisteat (asam perasetat, Cl aktif dan
Halogen)
H2O2

Oksidasi wol Gugus sulfida

Bentuk

H2SO4

3. Asam
Wol tahan terhadap asam (larutan asam 5% mendidih selam 2 jam karena belum
membentuk hidrolisa), tapi akan rusak dalam waktu lama dan dengan pH yang
sangat pekat.(terjadi hidrolisa pada kerati membentuk asam asam amino).
4. Air
Air dapat menghidrolisa jembatan sulfida terutama bila air berupa uap panas, dalam
air mendidih ditambah dengan tekanan maka wol akan rusak permanen
5. Reduktor
Reduktor (NaHSO4) dapat menyerang jembatan sistina dengan oksidasi terbentuk
sistin kembali.

R + NaHSO 3

Na

H +R

S
S

SO 3H atau
SO 3Na

Dalam bentuk umum :


reduktor

R' + 2H

6.

RSH +R'SH

OH

R + H2O

Serangga
Wol mudah/tidak tahan serangga karena sebagian besar wol terdiri dari keratin yang
dapat digunakan sebagai sumber makanan. Kerusakannya berupa lubang-lubang
kecil, kadang menempel pada setiap lipatan bahan. Untuk menghindari kerusakan,
ikatan disulfida diubah menjadi beslio eter.

reduksi

oksidasi
HBr

[CH2]n S

Beberapa cara pengujian kerusakan wol yang penting atau sederhana, yaitu sebagai
berikut :

C.I Acid Red 1


Serat yang tidak rusak tetap tidak terwarnai , kecuali beberapa serat yang sisiksisiknya terlepas. Sedangkan serat yang rusak dan wol yang dikhlorinasi akan berwarna
merah, degan ketuaan warna yang tergantung pada derajat kerusakannya.

Indigo Carmine
Larutan jenuh indigo carmine yang diasamkan dengan asam sulfat 1N 40 ml/L,
akan mewarnai wol yang rusak karena asam, alkali, hipoklorit asam atau peroksida,
dengan warna biru yang jelas. Pengamtan akan lebih jelas apabila diamati dibawah
mikroskop dengan penyinaran sudut lebar yang menggunakan medium gliserol pekat.
Penggelembungan dengan kalium hidroksida amoniakal
Wol yang rusak karena asam dengan cepat menggelembung dengan
gelembung yang sangat besar, dan gelembung-gelembung tersebut segera timbul
disepanjang serat. Seluruh reaksi tersebut berlangsung dalam 2-5 menit. Wol yang tidak
rusak hanya menggelembung dan setelah 5 menit akan tampak garis-garis memanjang
dari lapisan fibrilnya. Setelah 10 menit timbul beberapa gelembung didalam serat, dan
dalam waktu 20 menit berkembang menjadi blister.
Berdasarkan keadaan dari kerusakan kimia, maka dapat dibedakan tiga jenis hasil
pengujian :

Serat tidak berubah, tetapi kelihatan seperti kaca dan sisik-sisiknya lebih jelas:
kerusakan serat disebabkan karena alkali atau panas.

Pada serat terdapat retakan-retakan memanjang : serat tidak rusak, kerusakan


yang terjadi bukan karena kimia atau karena oksidasi.

Pada serat terjadi penggelembungan yang besar, kemudian menimbulkan banyak


retakan-retakan dan terjadi blister, akhirnya terurai : kerusakan yang terjadi
disebabkan oleh asam.

UJI KERUSAKAN WOOL


UJI PENGGELEMBUNGAN KOH

I.

II.

III.

Maksud dan Tujuan


Untuk mengamati mekanisme terjadi kerusakan serat wol pada penggelembungan
KOH Amoniakal.
Alat dan bahan
Serat Wool
Mikroskop
Kaca preparat
Larutan KOH Amoniakal
Cara Kerja
Contoh uji yang rusak dan tidak rusak di letakan pada kaca objek tutup dengan
kaca penutup.
Tetesi dengan KOH Amoniakal sebagai medium.
Panaskan dengan oven pada suhu 40C selama 2-3 menit.
Amati di bawah mikroskop.

IV.

Data Percobaan
Penggelembungan KOH Amoniakal
Asam

Baik
Baik Air

H2O2
Panas

Kaporit

Hipoklorit asam

Hipoklorit Basa

Alkali

V.

VI.

Diskusi
Pada percobaan penggelembungan dengan KOH wol yang rusak karena asam akan
menggelembung dengan cepat dan sangat besar, sehingga pada serat wol mengalami
kerusakan yaitu terlihat bersisik, terjadi blister, transformasi dan seperti kaca . Serat
yang terjadi blister adalah serat wool yang rusak karena asam, hipoklorit basa. Serat
yang terlihat bersisik yaitu serat rusak karena asam, baik, H2O2, alkali, panas,
hipoklorit basa, hipoklorit asam dan kaporit, serat yang bersisik pada umumnya
semua serat mengalami kerusakan. Serat yang rusak dan terjadi tertransformasi serat
wool hipoklorit basa, asam dan H2O2. , Apabila serat tidak berubah, tetapi terlihat
seperti kaca dan sisiknya jelas menunjukkan kerusakan oleh alkali atau panas. Pada
percobaan ini kerusakan karena asam terjadi blister dan terjadi penggelembungan
.

Kesimpulan

Pada uji penggelembungan KOH amoniakal wol yang paling rusak terdapat pada wol
yag rusak karena asam dapat dilihat dengan adanya penggelembugan yang sangat
besar dan adanya blister. Sedangkan wol yang baik terdapat pada wol baik, wol yang
rusak karena H2O2 dan kaporit, dapat dilihat setelah didiamkan tampak garis
membujur.
.

Daftar Pustaka
Pedoman Jurnal Praktikum Evaluasi Kimia 1