Anda di halaman 1dari 2

RESUME

FENOMENA UMUM PADA SISTEM KULTUR JARINGAN TANAMAN


Beberapa fenomena umum yang sering terjadi di dalam sistem kultur
jaringan tanaman antara lain adalah Habituasi Sitokinin, Vitrifikasi, Nekrosis,
Fasiasi, dan Keragaman Somaklon.
Pemberian sitokinin pada konsentrasi yang relatif rendah secara
berkepanjangan atau peningkatan takaran sitokinin yang bertujuan meningkatkan
laju perbanyakan dapat menimbulkan hasil yang tidak diinginkan. Karakteristik
kultur yang mengalami habituasi sitokinin sebagai akibat kurangnya pembentukan
akar dan terjadinya hambatan pada respon pembungaan. Fenomena habituasi
sitokinin memiliki konsekuensi penting pada sistem kultur jaringan, sehingga
eksplan-eksplan yang mengalami habituasi harus segera diberi perlakuan untuk
menormalkan planlet-planlet yang dihasilkan. Misalnya dengan perlakuan 123,03

M IBA selama 4 minggu terhadap kultur pucuk Kalmia latifolia yang


mengalami habituasi menghasilkan proporsi planlet normal yang tinggi,
merangsang pertumbuhan akar, dan mengurangi pembentukan pucuk majemuk.
Vitrifikasi merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan dua macam
proses yang berkaitan dengan bahan tanaman yang dikulturkan secara in vitro.
Pertama, terhadap ketidaknormalan morfologi serta fungsi fisiologis dari organ
dan jaringan tertentu. Kedua, yaitu transisi dari keadaan cair ke keadaan padat,
seperti terbentuknya es selama proses kreopreservasi. Vitrifikasi adalah salah satu
hambatan dalam penyebarluasan penerapan teknik kultur jaringan untuk
perbanyakan tanaman. Vitrifikasi terjadi oleh beberapa faktor, yaitu tingkat
konsentrasi sitokinin yang terlalu tinggi, rendahnya potensial matriks, dan
meningkatnya konsentrasi etilen di dalam wadah kultur. Vitrifikasi merupakan
konsekuensi dari rendahnya kandungan lilin pada jaringan tanaman yang
dihasilkan. Terjadinya vitrifikasi berkaitan pula dengan kadar amonium dan
kandungan uap air di dalam wadah kultur. Sejumlah jalan keluar untuk mengatasi
vitrifikasi antara lain dengan peningkatan konsentrasi bahan pemadat medium
(agar) dapat memperbaiki keadaan dengan menurunkan kadar air dan mengurangi

penyerapan sitokinin. Akan tetapi dapat mengakibatkan terhambatnya laju


pertumbuhan eksplan. Ventilasi wadah kultur pun berpengaruh pada
perkembangan kultur melalui peningkatan difusi air dan pelepasan metabolit
sekunder, seperti etilen keluar dari wadah kultur.
Nekrosis dicirikan oleh matinya jaringan pada tepi daun dan pucuk. Gejala
awal dari fenomena ini adalah terjadinya nekrosis berwarna cokelat pucat yang
berkembang pada ujung dan tepi daun muda sebelum terjadi nekrosis yang lebih
merata pada keseluruhan meristem yang akhirnya berwarna hitam dan mati.
Penyebab utama terjadinya nekrosis adalah defisiensi unsur hara, terutama
defisiensi boron dan kalsium. Penggunaan medium fase ganda dapat digunakan
untuk mengatasi nekrosis pucuk.
Fasiasi adalah peristiwa menyatunya dua atau lebih palnlet (embrio) yang
berdekatan. Fenomena ini terjadi akibat terlalu tingginya kerapatan populasi
embrio somatik di dalam wadah kultur pada medium padat. Fasiasi dapat diatasi
dengan sering melakukan subkultur, dan dengan memindahkan kultur medium ke
medium cair yang digojog sehingga setiap embrio terpisah-pisah satu sama lain
dan tumbuh menjadi individu-individu normal.
Istilah keragaman somaklon digunakan terhadap serangkaian fenomena,
seperti keragaman numerik dan struktur kromosom, perubahan pada genom inti
ataupun genom organel, atau pemecahan struktur kimera dan perubahanperubahan yang timbul akibat eliminasi penyakit. Keragaman somaklon
merupakan suatu sumber bagi keragaman genetik yang sangat berguna bagi upaya
pemuliaan tanaman. Namun, keragaman ini merupakan suatu hal yang tidak
diinginkan pada mikropropagasi karena menghalangi penggunaan embriogenesis
somatik dan teknologi benih sintetis, serta membuat evaluasi genetik semakin
rumit. Sistem yang menggunakan pucuk adventif atau perbanyakan melalui kalus,
sel, dan protoplas sering menimbulkan keragaman yang tinggi pada tanaman yang
diregenerasikan. Dengan mengontrol pembentukan kalus, frekuensi keragaman
dapat dikendalikan.