Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU PEMULIAAN TERNAK


ACARA III
RIPITABILITAS

Disusun oleh:
Kelompok VIII
Praditya Wisnu Aji
Ardha Adi Krisna Putra
Karina Rani Wijayanti
Dwi Rahayu
Taqy Haidar R Fanani

PT/06531
PT/06643
PT/06658
PT/06662
PT/06829

Asisten Pendamping : Irene Vitalis O

LABORATORIUM GENETIKA DAN PEMULIAAN TERNAK


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
Ripitabilitas merupakan sebuah ukuran kekuatan hubungan antara
ukuran yang berulang-ulang pada suatu sifat dalam populasi (Pallawaruka,
1999). Ripitabilias (r) merupakan suatu pengukuran kesamaan antara
pengukuran suatu sifat yang diukur berkali-kali pada ternak yang sama
selama ternak tersebut hidup (Noor, 2008). Nilai ripitabilitas suatu sifat akan
ditentukan oleh keragaman komponen-komponen penyusunnya, yaitu
komponen genetik yang terdiri atas gen aditif, dominan, dan epistasis serta
komponen lingkungan, yang bersifat permanen maupun yang bersifat
sementara (Warwick et al., 1995). Besar nilai ripitabilitas suatu sifat
dipengaruhi oleh besar nilai heritabilitas sifat yang sama. Semakin besar nilai
ripitabilitas, semakin besar pula nilai heritabilitas untuk sifat yang sama. Nilai
ripitabilitas merupakan batas maksimal dari nilai heritabilitas. Nilai ripitabilitas
berkisar antara 0-1 (Noor, 2008).
Ripitabilitas dapat juga dihitung dari regresi data pengukuran yang
lebih akhir terhadap pengukuran sebelumnya. Nilai inilah yang akan
digunakan sebagai pendekatan terhadap nilai ripitabilitas (Warwick et al.,
1995). Nilai ripitabilitas terbagi dalam tiga kategori, rendah (0,0-0,2), sedang
(0,2-0,4), dan tinggi (di atas 0,4) (Warwick et al., 1995). Warwick et al, (1995)
menyatakan bahwa ripitabilitas suatu sifat berguna dalam memperkirakan
produktivitas ternak pada masa yang akan datang berdasarkan satu atau
lebih catatan produksi. Ripitabilitas menduga nilai maksimum heritabilitas
yang dihitung dalam rata-rata beberapa kali pengukuran (Warwick et al.,
1995). Ripitabilitas digunakan untuk menduga kemampuan produksi dalam
masa produksi seekor ternak MPPA (Most Probable Producing Ability), dan
untuk meningkatkan ketepatan seleksi (Martojo dan Mansjoer, 1995)

BAB III
MATERI DAN METODE
Materi
Materi yang digunakan dalam praktikum Ilmu Pemuliaan Ternak adalah
sebagai berikut.
Alat. Alat yang digunakan pada praktikum Ilmu Pemuliaan Ternak
adalah alat tulis dan kalkulator scientific.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum Ilmu Pemuliaan
Ternak adalah buku tugas praktikum.
Metode
Kegiatan praktikum Ilmu Pemuliaan Ternak di kelas meliputi kegiatan
mengerjakan soal-soal yang telah disusun oleh asisten berdasarkan literatur
yang digunakan. Materi yang diestimasi yaitu Ripitabilitas. Rumus ripitabilitas
dapat ditulis sebagai berikut:
r=

SPxy
(SSx)(SSy)

Keterangan:
SPxy = Sum of Product
SSx

= Sum of Square x

SSy

= Sum of Square y

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Praktikum dilakukan dengan mengerjakan soal yang telah disiapkan
asisten pada buku tugas. Soal yang dikerjakan merupakan soal estimasi nilai
ripitabilitas sifat kuantitatif berdasarkan metode korelasi antar kelas. Berikut
ini adalah data terkoreksi dari berat sapih Domba Ekor Gemuk (DEG) dengan
menggunakan 10 sampel induk dengan masing-masing sebanyak 2 ekor
anaknya:
Tabel 1. Hasil Perhitungan Estimasi Nilai Ripitabilitas Metode Korelasi Antar
Kelas
N
10

r
0.02

SE
0.3332

Kurnianto (2010) menyatakan bahwa terdapat dua metode pendugaan


ripitabilitas, yaitu korelasi antar kelas (interclass correlation) dan korelasi
dalam kelas (intraclass correlation). Kurnianto (2010) menjelaskan bahwa
korelasi antar kelas digunakan untuk menduga nilai ripitabilitas sifat dari
sekelompok individu, dimana setiap individu hanya mempunyai dua catatan
penampilan dari sifat tersebut, sedangkan korelasi antar kelas digunakan
apabila

setiap

individu

mempunyai

lebih

dari

dua

data

hasil

pengukuran/penimbangan produksi. Data yang gunakan dalam praktikum


merupakan dua data terkoreksi dari berat sapih Domba Ekor Gemuk (DEG).
Berdasarkan literatur, metode yang digunakan sudah sesuai.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil estimasi
nilai ripitabilitas sebesar 0.02 dan S. E. 0.3332. Hal ini dapat diartikan bahwa
Nilai ripitabilitas sebesar 2% dipengaruhi oleh ragam genetik dan ragam
lingkungan permanen, dan 98% dipengaruhi oleh ragam lingkungan
temporer. Lambe et al., (2016) menyatakan bahwa nilai ripitabilitas berat
sapih domba adalah sebesar 0.02 dengan S. E. 0.16. Hariyono (2015)

menyatakan bahwa nilai ripitabilitas domba ekor gemuk adalah 0.02 dengan
S. E. 0.41. Berdasarkan literatur, nilai heritabilitas yang didapat termasuk
kisaran normal.
Nilai ripitabilitas terbagi dalam tiga kategori, rendah (0,0-0,2), sedang
(0,2-0,4), dan tinggi (di atas 0,4) (Warwick et al., 1995). Nilai ripitabilitas yang
didapat pada praktikum adalah sebesar 0.02. Hasil ini menurut literatur
termasuk dalam nilai ripitabilitas kategori rendah. Hasil ini tidak bisa dijadikan
acuan karena termasuk dalam kategori rendah, dan harus diperhatikan
kembali data yang diambil. Hal ini sesuai dengan pendapat Ardika et al.,
(2011) yang menyatakan bahwa nilai ripitabilitas yang tergolong rendah tidak
bida dijadikan acuan dan perlu diperhatikan manajemennya. Ardika et al.,
(2011) menambahkan bahwa nilai heritabilitas dan ripitabilitas yang rendah
tidak akan berguna bagi kriteria seleksi. Hartosubroto (1994) menambahkan
bahwa apabila seekor ternak menunjukkan keunggulan pada sifat yang
mempunyai nilai ripitabilitas tinggi, maka dapat diharapkan bahwa anaknya
kelak akan mempunyai keunggulan dalam hal sifat tersebut. Sebaliknya bila
nilai parameter genetik dari suatu sifat tersebut rendah, belum tentu anak
keturunannya mempunyai keunggulan dalam sifat tersebut.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diketahui bahwa nilai
ripitabilitas merupakan sifat dari suatu individi yang terus mengalami
pengulangan sepanjang hidupnya, sehingga dipengaruhi oleh ragam genetik,
lingkungan permanen dan lingkungan temporer. Sifat yang muncul tidak
hanya dipengaruhi genetik saja, tetapi juga lingkungan. Warwick et al., (1995)
menyatakan bahwa nilai ripitabilitas suatu sifat akan ditentukan oleh
keragaman komponen-komponen penyusunnya, yaitu komponen genetik
yang terdiri atas gen aditif, dominan, dan epistasis serta komponen
lingkungan, yang bersifat permanen maupun yang bersifat sementara.
Pallawaruka (1999) menambahkan bahwa keragaman nilai suatu sifat
mempengaruhi nilai dugaan ripitabilitas, semakin beragam data, maka

semakin rendah nilai ripitabilitas dan akan sebaliknya. Nilai ripitabilitas dapat
ditingkatkan, untuk meningkatkan nilai ripitabilitas dapat dilakukan dengan
mengupayakan lingkungan (manajemen pemeliharaan, kandang, pemberian
pakan) yang seseragam mungkin antar individu (Pallawaruka, 1999). Hasil
yang didapat sudah sesuai dengan literatur.

BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diketahui nilai ripitabilitas
yang diperoleh dengan metode korelasi antar kelas sebesar 0.02 dengan SE
0.3332. Hal ini dapat diartikan bahwa Nilai ripitabilitas sebesar 2%
dipengaruhi oleh ragam genetik dan ragam lingkungan permanen, dan 98%
dipengaruhi oleh ragam lingkungan temporer. Nilai ripitabilitas yang didapat
pada praktikum adalah sebesar 0.02, termasuk dalam nilai ripitabilitas
kategori rendah.

DAFTAR PUSTAKA
Ardika, N., R. R. Indrawati dan J. Djegho. 2011. Parameter genetik sifat
produksi dan reproduksi sapi bali di Daerah Bali. Fakultas Peternakan
Universitas Udayana. Bali. Vol. 14. No. 1.
Hardjosubroto. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT.
Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta
Hariyono, D. N. H. 2015. Estimasi Ripitabilitas Sifat Pertumbuhan Domba
Ekor Gemuk di PT HRL Internasional Pacet, Mojokerto, Jawa Timur.
Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Kurnianto, E. 2010. Buku Ajar Ilmu Pemuliaan Ternak. Universitas
Diponegoro. Semarang
Lambe, N. R., J. Coningon., S. C. Bishop., A. Waterhouse and G. Simm.
2016. A genetik analysis of material behavior score in Scottish
Backface sheep. British Society of Animal Science. Scotland.
Martojo, H & S. S. Manjoer. 1995. Ilmu Pemuliaan Ternak. Sisdiknas, Intim.
Bogor.
Noor, R. R. 2008. Genetika Ternak. Cetakan ke-4. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Pallawaruka, 1999. Ilmu Pemuliaan Ternak Perah. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Warwick ,E. J. M. Astuti, W. Hardjosubroto. 1995. Pemuliaan Ternak.
Universitas Gajah Mada Press, Yogyakarta.

LAMPIRAN PERHITUNGAN
Berikut adalah data terkoreksi dari berat sapih Domba Ekor Gemuk
(DEG) dengan menggunakan 10 sampel induk dengan masing-masing
sebanyak 2 anaknya:
Induk

Berat Sapih dari Keturunan


I(x)
II(y)
3.69
4.59
2.07
5.48
5.43
4.59
5.15
6.20
3.49
3.98
4.95
4.08
3.78
3.65
5.56
3.80
2.56
4.59
5.86
4.08

116
157
162
165
251
272
336
410
419
478
1. Tentukan
N
= 10
x
= 3.69 + ..+ 5.86 = 44.54
x2 = 3.692 + .+ 5.862 = 208.97
y
= 4.59 + + 4.08 = 45.04
2
y
= 4.592 + + 4.082 = 208.57
xy = (3.69 x 4.59) + .+ (5.86 x 4.08) = 200.76
K
=2

2. Tentukan Sum of Squares, Sum of Product dan Standar Deviasi


SSx = x2 ((x)2/N)
= 208.97 (44.542/10)
= 10.59
SSy = y2 - ((y)2/N)
= 208.57 (45.04/10)
= 5.71
SPxy = xy ( (x x y)/N)
= 200.76 (44.54 x 45.04)/N)
= 0.15

x2

= SSx/(N-1)
= 10.59/(10-1)
= 0.63
y2
= SSy/(N-1)
= 5.71/(10-1)
= 0.63
3. Hitung r (Ripitabilitas)
SPxy
0.16
r=
=
=0 .02
( SSx)(SSy) (10.59)(5.71)
2
2
S.E.(r) = (1r ) (1+ ( k1 ) r )
k (k 1)(N 1)
2

2
2
= (10.02) (1+ ( 21 ) 0.02)
2(21)(101)
2

= 0.3332