Anda di halaman 1dari 5

Tutorial Klinik-BPH (Benign Hyperplasia Prostat)

Neni Setiyowati-20110310011
Problem

Anamnesis :
Os datang sadar
dengan keluhan
utama BAK tidak
tuntas sejak 2
minggu yang lalu.
Pasien juga
mengeluh nyeri
dan panas saat
BAK. Dan
akhirnya pasien
memakai kateter
urin karena tidak
bisa berkemih.

Hipotesis

Mekanisme

Diagnosis
BPH
(Benign
Hyperplasia
Prostat)
grade 4

Etiologi
Teori yang umum digunakan
adalah bahwa BPH bersifat
multifactorial dan dipengaruhi
sistem endokrin. Terdapat
korelasi positif antara kadar
testosterone bebas dan estrogen
dengan ukuran volume BPH.
Selain itu, penuaan
menyebabkan peningkatan
kadar estrogen yang
menginduksi reseptor androgen
sehingga meingkatkan
sensitivitas prostat terhadap
testosterone bebas.
Patofisiologi

Pemeriksaan
Fisik
-KU = sedang,
-Kesadaran = CM
-BP = 110/80

Kelenjar prostat di bawah


kandung kemih dan ditembus
uretra

BPH menyebabkan obstruksi


pada leher vesika urinaria dan
uretra

Bp. Kmd 59 tahun


Tegalan Pedak RT 63 Trimurti Srandakan
Data
Tambahan
Hematologi
Hb 14.1
AL 8.04
AE 4.94
AT 351
HMT 41.7

Problem
Learning Issue
Definition
1. Bagaimana 1. Penegakan diagnosis BPH
a. Anamnesis
penegakan
Tanyakan keluhan utama dan
diagnosis
berapa lama keluhan dirasakan.
BPH?
Tanyakan pula gejala iritasi dan
2. Bagaimana
obstruksi, riwayat penyakit lain
penatalak
sanaan
dan penyakit pada saluran
pada BPH?
urogenital.
Hitung jenis
Alat diagnostic yang luas
Eosinofil 4
digunakan untuk menilai gejala
Basofil
1
pada penderita BPH adalah sistem
Batang
6
skor yang dikeluarkan WHO
Segmen 65
dengan nama International
Limfosit 20
Prostate Symptom Score (IPSS)
Monosit 4
b. Pemeriksaan fisik
Colok dubur : Pelaporan yang
Gol. Darah : B
dilakukan adalah adanya
pembesaran prostat,
Hemostasis
konsitensinya, da nada/tidaknya
PPT 13.3
nodul.
APTT 29.1
Selain itu dapat dilakukan
Control
PPT
pemeriksaan region suprapubik
13.7
untuk menilai distensi vesika
Control APTT
c. Pemeriksaan penunjang
-Prostate specific antigen (PSA) :
31.4
Menilai perjalanan penyakit
BPH selanjutnya. Nilai PSA >4
Fungsi Ginjal
mg/mL merupakan indikasi
Ureum 21

Problem Solving
1.Dari anamnesis
ditemukan pasien
mengeluh BAK
terputus-putus
(tidak tuntas) sejak
2 minggu yang lalu.
Pasien juga
mengeluh nyeri dan
panas saat BAK.
Dan akhirnya
pasien memakai
kateter urin karena
tidak bisa
berkemih.
Dari pemeriksaan
rectal tocher,
terdapat
pembesaran prostat
dan batas atas
prostat tidak teraba,
konsistensi prostat
kenyal, simestris,
dan tidak ada
nodul. Pasien
mengalami retensi

Tutorial Klinik-BPH (Benign Hyperplasia Prostat)


Neni Setiyowati-20110310011

Bp. Kmd 59 tahun


Tegalan Pedak RT 63 Trimurti Srandakan
Creatinin 0.80

mmHg

Gejala
Obstruksi

gejala
iritasi

GDS : 82

-HR = 88x/m
-RR = 20 x/m
-T = 36,2oC

Status Generalis
-Kepala : simetris
-Mata :
Conjungtiva
pucat (-/-),
SI (-/-)
-Mulut :
Mukosa pucat
(-), sianosis (-)
-Thorax :
Pulmo : simetris,

Manifestasi klinis
Gejala obstruksi :
-Miksi terputus-putus
-Hesitancy
-Mengedan saat mulai miksi
-Berkurangnya kekuatan dan
pancaran urin
-Sensasi tidak selesai berkemih,
-Menetes pada akhir miksi
-Miksi ganda (berkemih untuk
kedua kalinya dalam waktu < 2
jam)
Gejala iritasi:
-Frekuensi : sering miksi
-Urgensi
-Nokturia
-Inkontinensia

tindakan biopsi prostat.


USG/ kateter untuk menilai
volume urin residual
- Transrectal/ Transabdominal
Ultrasonography
(TRUS/TAUS) : mengukur
volume prostat dan menemukan
gambaran hipoekoik
2. Penatalaksanaan BPH :
Derajat berat gejala klinis dibagi
menjadi empat:
Derajat
Colok dubur
Sisa
volume
urin
I
Penonjolan prostat, <50 mL
batas atas mudah
diraba
II
Penonjolan prostat
50-100
mL
jelas, batas atas
dapat dicapai
III
Batas atas prostat
>100 mL
tidak dapat diraba
IV
Retensi
urin
total
-

Elektrolit
Natrium 146.1
Kalium 3.90
Klorida 108.8
SERO
IMUNOLOGI
HEPATITIS
HbsAg Titer :
Negatip (0.00)
Ro thorax PA :
Pulmo dan besar
cor normal

WHO menganjurkan klasifikasi untuk


menentukan berat gangguan miksi yang
disebut WHO PSS. Terapi non bedah
dianjurkan bila WHO PSS di bawah 15.
Terapi bedah dianjurkan bila WHO PSS
25 ke atas atau bila timbul obstruksi.

urin total sehingga


ditegakkan
diagnosis BPH
grade 4.

2.Penatalaksanaan
pada pasien ini
adalah dengan open
prostatectomy,
karena pasien
mengalami BPH
grade 4.

Tutorial Klinik-BPH (Benign Hyperplasia Prostat)


Neni Setiyowati-20110310011
vesikuler +/+
Cor : S1-S2
reguler, bising (-)
-Abdomen : supel
(+), BU +, nyeri
tekan
suprasimfisis(+),
hepatomegali (-),
splenomegali (-)
-Ekstremitas :
Akral hangat (+),
Edema (-),
CR>2 detik

Rectal Toucher :
Mukosa rectum
licin, terdapat
pembesaran
prostat dan batas
atas prostat tidak
teraba,

Bp. Kmd 59 tahun


Tegalan Pedak RT 63 Trimurti Srandakan
-Penderita derajat 1 biasanya diberikan
pengobatan konservatif
-Derajat 2 merupakan indikasi
melakukan pembedahan. Kadang
derajat 2 dapat dapat dicoba dengan
pengobatan konservatif.
-Derajat 3 dapat dikerjakan reseksi
endoskopik, jika prostat sudah cukup
besar, sebaiknya dilakukan pembedahan
terbuka
Derajat 4, tindakan pertama adalah
membebaskan penderita dari retensi
urin total dengan memasang kateter
atau sistotomi, setelah itu dilakukan
terapi definitif dengan TUR atau
pembedahan terbuka.

Tutorial Klinik-BPH (Benign Hyperplasia Prostat)


Neni Setiyowati-20110310011
konsistensi
prostat kenyal,
simestris, dan
tidak ada nodul.

Penatalaksanaan
-Infus RL 20 tpm
-Injeksi
ciprofloxacin 200
mg/12 jam
-Inj ketorolac 30
mg/12 jam
-Rencana operasi
open
prostatectomy

Bp. Kmd 59 tahun


Tegalan Pedak RT 63 Trimurti Srandakan

Tutorial Klinik-BPH (Benign Hyperplasia Prostat)


Neni Setiyowati-20110310011

Bp. Kmd 59 tahun


Tegalan Pedak RT 63 Trimurti Srandakan