Anda di halaman 1dari 15

PENGENALAN GEJALA DAN TANDA PENYAKIT

(TANAMAN PERKEBUNAN)
(Laporan Praktikum Bioekologi Penyakit Tumbuhan)

Oleh
Sinta Alvianti
1514121018
Kelompok 4

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2016

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gejala merupakan perubahan awal akibat serangan organisme contohnya yaitu
perubahan bentuk, dan kelayuan pada tanaman. Tanaman dapat menunjukan
kelompok gejala yang membentuk gambaran penyakit atau sindrom penyakit yang di
sebakan oleh penyebab abiotik dan biotik. Tanaman dikatakan sakit bila ada
perubahan seluruh atau sebagian organ tanaman yang menyebabkan terganggunya
kegiatan fisiologis sehari-hari.
Pengenalan gejala dan tanda penyakit pada tanaman perkebunan sangat penting
dipelajari karena membantu kita untuk mengidentifikasi penyakit yang menyerang
tanaman tersebut. Setiap penyakit memiliki gejala yang berbeda. Setiap jenis penyakit
tentunya memiliki langkah pengendalian yang berbeda. Pengendalian harus
disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Contoh penyakit yang menyerang tanaman
perkebunan yaitu gugur daun karet, karat daun tebu, jamur akar putih, karat daun
kopi, dan busuk buah kakao.
Praktikum pengenalan gejala dan tanda penyakit tanaman perkebunan dilakukan pada
tanggal 3 Oktober 2016 di Laboratorium Hama Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian
Universitas Lampung. Tujuan praktikum ini yaitu mengetahui jenis penyakit penting
tanaman perkebunan serta mengetahui dan mengenali perbedaan antara gejala dan
tanda penyakit. Alat yang dibutuhkan berupa alat tulis, mikroskop majemuk, kaca
preparat, jarum pentul dan pipet tetes.

1.2 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan praktikum pengenalan gejala dan tanda penyakit (tanaman pangan)
sebagai berikut :
1. Mengetahui jenis penyakit penting tanaman perkebunan
2. Mengetahui dan mengenali gejala dan tanda penyakit

II. METODOLOGI PRAKTIKUM

2.1 Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu alat tulis, mikroskop majemuk,
kaca preparat, jarum pentul dan pipet tetes.
Sedangkan bahan yang dibutuhkan berupa air dan bagian tanaman yang menunjukkan
gejala, baik preparat ataupun foto.

2.2 Cara Kerja


Adapun cara kerja yang harus dilakukan pada praktikum ini yaitu :
Pengamatan Makroskopis
1. Mengamati dan menggambar gejala penyakit tanaman yang ada
2. Mengelompokkan jenis gejala (nekrosia, hypoplasia, dan hiperplasia)
3. Menulis nama penyakit dan patogen penyebabnya
Pengamatan Mikroskopis
1. Mengamati tanda penyakit di bawah mikroskop
2. Meneteskan air di atas bagian tanaman yang bergejala lalu mengorek dengan
menggunakan jarum, kemudian air/suspensi tersebut diambil menggunakan pipet
tetes
3. Meletakkan suspensi tersebut diatas kaca preparat lalu menutup dengan cover
glass lalu mengamati di bawah mikroskop

4. Mengamati bentuk spora atau hifa


5. Menggambar/memoto
6.

7. III. HASIL DAN PEMBAHASAN


8.
9.
10.
11. 3.1 Hasil Pengamatan
12.
13. Adapun hasil pengamatan yang diperoleh pada praktikum ini sebagai berikut :
14.
N

15. Foto
18.

16. Keterangan
19. I. Patogen Penyebab :

17.

Corynespora cassicola

(Gugur Daun Karet)


20. II. Jenis Gejala : Nekrosia
22.

21.
2

23. I. Patogen Penyebab :


Puccinia kuehnii (Karat
Daun Tebu)
24. II. Jenis Gejala : Nekrosia

26.

27. I. Patogen Penyebab :


Rigidoporus lignosus (Jamur
Akar Putih)

25.

28. II. Jenis Gejala : Nekrosia

30. Penampang makroskopis

29.
4

31.

Hemileia vastatrix (Karat

32.
33.
34.
35.
36.
37.
38. Penampang mikroskopis
39.

Daun Kopi)

43.
42.
5

46.

40. I. Patogen Penyebab :

41. II. Jenis Gejala : Nekrosia

44. I. Patogen Penyebab :


Phytophthora palmivora
(Karat Daun Kopi)
45. II. Jenis Gejala : Nekrosia

47.
48. 3.2 Pembahasan
49.
50. Gugur daun karet disebabkan cendawan Corynespora casssiicola memiliki
hifa berwarna hitam. Mula-mula penyakit ini diketahui berjangkit di
perkebunan karet di Malaysia pada tahun 1960. Dari Malaysia, penyakit ini
menyebar ke India pada tahun 1961 dan pada tahun 1969 kedapatan
menyerang perkebunan karet di Nigeria. Pada tahun 1980 penyakit ini masuk
ke Sumatera Utara, tahun 1982 ke Jawa Tengah, dan 1984 ke Jawa
Barat.Penyebaran penyakit ini melalui spora yang terbawa terbang oleh angin.
Meskipun serangannya bisa dikatakan lambat, penyakit ini dianggap sebagai
salah satu penyakit yang berbahaya. Cendawan ini mempunyai inang yang
banyak, seperti singkong, akasia, angsana, dan pepaya. Gejala serangan
penyakit ini tampak dari daun muda yang berbercak hitam seperti menyirip,
lemas, pucat, ujungnya mati, dan akhirnya menggulung. Serangan pada daun
tua juga menunjukkan gejala berbercak hitam dan menyirip. Bercak ini akan
meluas sejajar urat daun dan kadang-kadang tidak teratur. Pusat bercak
berwarna cokelat atau kelabu, kering, dan berlubang. Daun-daun tersebut
menjadi kuning, cokelat kemerahan, dan akhirnya gugur. Jenis gejalanya yaitu
nekrosia (Sujatno, 2004).
51.
52. Jamur akar putih (JAP) membentuk tubuhnya seperti kipas tebal dengan
warna dipermukaan atasnya berwarna cokelat kekuning-kuningan pucat dan
permukaan bawahnya berwarna cokelat kemerahan. Struktur serat memiliki
tebal 2,8 4,5 m dengan tepi agak tipis dan berwarna kuning putih. Sifat

JAP agak berkayu dengan zona pertumbuhan sesuai dengan sekat yang tebal.
Rigidoporus lignosus jamur yang bersifat parasit fakultatif, artinya dapat
hidup sebagai saprofit yang kemudian menjadi parasit. Jamur lignosus atau
Rigidoporus lignosus tidak dapat bertahan hidup apabila tidak ada sumber
makanan. Bila belum ada inang jamur ini bertahan di sisa-sisa tunggul. Inang
Rigidoporus lignosus yaitu tanaman karet, singkong, dan flamboyan. Jenis
gejalanya yaitu nekrosia.
53. Gejala jamur akar putih yaitu
55.

54. 1. Tanaman mati mendadak seperti tersiram air panas


2.
Daun berwarna hijau gelap dan kusam serta keriput, dengan permukaan

56.

daun menelungkup
3. Terbentuk buah lebih awal pada tanaman muda yang seharusnya bukan

57.

waktu yang tepat untuk berbuah dengan tajuk tipis


4. Akar membusuk, lunak dan berwarna cokelat

58.

5.

Jika sistem perakaran dibuka, maka akan terlihat benang-benang berwarna

putih kekuning-kuningan yang menyerupai akar rambut yang menempel kuat


pada akar (Semangun, 2008).
59.
60. Jamur yang hifanya bersekat dan mengadakan pembiakan sexual dengan
membentuk basidium yang menghasilkan basidiospora. Basidiospora yang
tubuh buahnya dibentuk di bawah epidermis dan bila spora masak menekan
epidermis hingga pecah, salah satu anggotanya adalah Hemileia vastatrix
penyebab penyakit karat daun kopi terutama di tempat-tempat yang sangat
lembab. Hemileia vastatrix termasuk dalam cendawan filum Basidomycetes.
Basidimycotina mempunyai bentuk uniseluler dan multiseluler dan dapat
bereproduksi secara generatif dan vegetatif. Cara perkembangbiakan

generatifnya dengan menggunakan spora seksual, yang disebut basidiopora


atau sporofida. Basidioporan dihasilkan secara eksternal pada struktur satu
atau empat sel penghasil basidiopora yang di sebut basidium. Tanaman
inang Hemileia vastatrix yaitu

Jagung, gandum, kacang tanah dan kopi.

Gejala karat daun kopi yaitu adanya bercak-bercak berwarna kuning muda
pada sisi bawah daunnya, kemudian berubah menjadi kuning tua. Di bagian
ini terbentuk tepung berwarna jingga cerah (oranye). Bercak yang sudah tua
berwarna coklat tua sampai hitam, dan kering. Daun-daun yang terserang
parah kemudian gugur dan tanaman menjadi gundul. Tanaman yang demikian
menjadi kehabisan cadangan pati dalam akar-akar dan rantingrantingnya,
akhirnya tanaman mati. Jenis gejalanya yaitu nekrosia (Sukamto, 1998).
61.
62. Phytophthora merupakan marga yang memiliki sporangium yang jelas
berbentuk seperti buah jeruk nipis dengan tonjolan di ujungnya. Sporangium
ini tidak tahan kering, jika ada air maka sporangium ini akan melepaskan
zoospora-nya. Zoospora berenang-renang kemudian membentuk kista pada
permukaan tanaman dan akhirnya berkecambah dengan menghasilkan hifa
yang pipih yang masuk ke dalam jaringan inang . Phytophtora palmivora
memiliki kisaran inang yang luas dapat menyerang 138 spesies tumbuhan
yang termasuk ke dalam bermacam-macam family. Untuk dapat berkembang
biak, cendawan ini memerlukan temperatur dan kelembaban udara. Tanaman
inang Phytophtora palmivora yaitu durian dan kelapa. nfeksi P. palmivora
pada buah menunjukkan gejala bercak berwarna kelabu kehitaman. Biasanya
bercak tersebut terdapat pada ujung buah. Bercak mengandung air yang
kemudian berkembang sehingga menunjukkan warna hitam. Bagian buah

menjadi busuk dan biji pun turut membusuk. Pembentukan spora terlihat
dengan adanya warna putih di atas bercak hitam yang telah meluas. Pada
temperatur 27,5 sampai 30o C pertumbuhan spora ini sangat cepat. Infeksi P.
palmivora dicirikan dengan adanya bercak berwarna coklat yang mulai dari
bagian mana saja. Jaringan yang tidak terinfeksi tampak jelas dan dibatasi
oleh permukaan kasar, tetapi bercak dapat berkembang dengan cepat dan
seringkali menampakkan pembusukan yang menyeluruh dan berwarna hitam.
Pertumbuhan cendawan pada bagian-bagian luar kakao lebih cepat, tetapi
infeksi yang menyeluruh dapat menyebabkan kerusakan pada biji. Busuk buah
dapat ditemukan pada semua tingkatan buah, sejak buah masih kecil sampai
menjelang masak warna buah berubah, umumnya mulai ujung buah atau dekat
dengan tangkai kemudian meluas keseluruh permukaan buah dan akhirnya
buah menjadi hitam. Pada permukaan buah yang sakit dan menjadi hitam tadi
timbul lapisan berwarna putih tepung yang merupakan cendawan sekunder
yang banyak membentuk spora. Jenis gejalanya yaitu nekrosia (Rijadi, 2009).
63. Puccinia kuehnii membentuk urediosorus panjang atau bulat panjang pada
daun. Epidermis pecah sebagian dan massa spora dibebaskan yang
menyebabkan urediosorus berwarna coklat atau coklat tua. Urediosorus yang
masak berubah menjadi hitam bila teliospora terbentuk. Puccinia kuehnii
diketahui membentuk piknidium dan aesium pada lebih kurang 30 jenis
oxalis, termasuk oxalis, O. corniculata. piknium pada kedua sisi daun,
mengelompok sampailebih kurang 6 pada suatu tenpat yang garis tengahnya
sampai 0,5 mm di pusat bercak. Aesiium hanya pada sisi bawah daun,
mengelilingi piknium, pada zone yang lebarnya sampai 2 mm, berebentuk
mangkuk, garis tengahnya 0,15-0,2 mm. aesiospora bulat atau jorong, bergaris

tengah 12-24 mikrometer, berdinding hialin, berjerawat, tebal 1-2 mikrometer.


Gejala karat daun tebu adalah adanya garis-garis berwarna cokelat, sempit
dan pendek pada daun tanaman tebu. Pada daun yang terserang, proses
fotosintesis terganggu sehingga menurunkan pembentukan gula. Penularan
penyakit banyak dibantu oleh angin dan kelembapan yang tinggi. Inang
Puccinia kuehnii yaitu tanaman tebu, dan jagung. Jenis gejalanya yaitu
nekrosia (Sudiatso, 1983).
64.

65. IV. KESIMPULAN


66.
67.
68.
69. Adapun kesimpulan yang dapat diambil pada praktikum ini sebagai berikut:
1. Penyakit penting yang menyerang tanaman perkebunan antara lain gugur daun
karet, karat daun tebu, jamur akar putih, karat daun kopi, dan busuk buah kakao.
2. Gugur daun karet gejalanya bercak hitam dan meluas pada tulang daun; karat daun
tebu memiliki gejala garis berwarna coklat dan sempit pada daun; jamur akar putih
menunjukkan gejala daun kusam, melengkung kebawah, menguning dan rontok
lalu akar busuk dan mudah rebah; karat daun kopi gejalanya yaitu bercak berwarna
kuning coklat dan mongering; busuk buah kakao gejalanya buah busuk, terdapat
bercak dan pangkal busuk coklat berkerut.
70.

71. DAFTAR PUSTAKA


72.
73.

Rijadi, Subiantoro. 2009. Penyakit Penting pada Tanaman Kakao. Politeknik


Negeri Lampung. Bandar Lampung.
74.

75.

Semangun, H. 2008. Penyakit-penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia.


Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
76.

77.

Sudiatso, S. 1983. Bertanam Tebu. Departemen Agronomi. Fakultas Pertanian.


Institut Pertanian Bogor. Bogor.
78.

79.

Sujatno, dkk. 2004. Pengenalan Penyakit Penting dan Cara Pengendaliannya


Tanaman Karet. Balai Penelitian Karet. Sungei Putih.
80.
81. Sukamto, S. 1998. Pengelolaan Penyakit Tanaman Kopi. PUSLIT KOKA.
Jakarta.
82.

83.
84.
85.
86. LAMPIRAN
87.
88.