Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

PENYAKIT INFEKSIUS I
(IPH 323)
Identifikasi Bakteri pada Susu yang Diperah dari Sapi Mastitis

Oleh:
Kelompok C3
Joen F. Peranginangin

B04100057

Annisa Fithri Lubis

B04100058

Nisa Bila Sabrina Haisya

B04100059

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT HEWAN


DAN KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Mastitis adalah peradangan pada ambing yang biasanya disebabkan oleh
infeksi kuman. Banyak kuman yang dapat menyebabkan mastitis termasuk bakteri,
kapang, dan khamir. Staphylococcus aureus (S. aureus) dan Streptococcus
agalactiae (Str. Agalactiae) merupakan bakteri penyebab utama mastitis pada
sapi perah yang menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar akibat
penurunan produkai susu. Watts et al. (1986) melaporkan bahwa S. aureus
merupakan patogen utama yang sering menyebabkan mastitis subklinis dan
kronis. Keberadaan S. aureus dalam susu sangat membahayakan bagi masyarakat
karena diketahui bahwa kuman ini mengandung berbagai macam enterotoksin
yang menyebabkan toxic shock syndrome. Staphylococcus aureus memproduksi
eksoprotein yang dibagi menjadi 2 kelompok utama yaitu kelompok (enzim
koagulase, lipase, hialuronidase, stafilokinase (fibrinolisin) dan nuclease) dan
kelompok eksotoksin (leukosidin, eksfoliatif toksin, enterotoksin dan toxic schock
syndrome toxin-1 (TSST-1)). Staphylococcus aureus merupakan salah satu
penyebab utama mastitis pada sapi perah yang menimbulkan kerugian ekonomi
yang cukup besar akibat turunnya produksi susu.
Proses mastitis hampir selalu dimulai dengan masuknya mikroorganisme ke
dalam kelenjar melalui lubang puting (sphincter puting). Sphincter puting
berfungsi untuk menahan infeksi kuman. Pada dasarnya, kelenjar mammae sudah
dilengkapi perangkat pertahanan, sehingga air susu tetap steril. Perangkat
pertahanan yang dimiliki oleh kelenjar mammae, antara lain : perangkat
pertahanan mekanis, seluler dan perangkat pertahanan yang tidak tersifat (non
spesifik). Tingkat pertahanan kelenjar mammae mencapai titik terendah saat
sesudah pemerahan, karena sphincter masih terbuka beberapa saat, sel darah
putih, antibodi serta enzim juga habis, ikut terperah. Akibat keadaan yang tidak
bersih, membuat agen bakteri bisa memasuki mammae melalui puting yang masih
terbuka. Oleh karena itu, identifikasi bakteri pada susu perlu dilakukan untuk
mengetahui bakteri penyebab terjadinya mastitis agar nantinya sebagai dokter
hewan dapat menentukan tindakan untuk menangani lebih lanjut kausa mastitis
tersebut.
Tujuan
Melatih mahasiswa untuk melakukan isolasi dan identifikasi agen penyebab
penyakit mastitis serta dapat melakukan pewarnaan gram dan uji-uji terkait
identifikasi bakteri.

TINJAUAN PUSTAKA
Mastitis
Mastitis merupakan peradangan yang terjadi pada kelenjar ambing. Mastitis
dapat menyebabkan beberapa kerugian seperti penurunan produksi susu,
penurunan kualitas susu, biaya untuk pengobatan, susu yang terbuang akibat
terapi antibiotik dan penyembuhan beberapa infeksi mastitis yang sulit sehingga
sapi diafkir lebih awal (Subronto 2003). Mastitis dapat dibagi menjadi dua, yaitu
mastitis yang bersifat klinis dengan gejala klinis yang jelas, dan mastitis yang
bersifat subklinis dengan gejala yang tidak terlihat. Mastitis subklinis dapat
disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme seperi bakteri, kapang dan
khamir. Tingkat keparahan mastitis sangat dipengaruhi oleh mikroorganisme
penyebabnya. Contoh bakteri penyebab mastitis yaitu Streptococcus agalactiae
dan Staphylococcus aureus (Songer & Post 2005).
Pewarnaan Gram
Pewarnaan Gram digunakan untuk menentukan jenis bakteri Gram positif
dan bakteri Gram negatif. Zat yang digunakan dalam pewarnaan ini yaitu kristal
violet, lugol, aseton alkohol, dan safranin.
Blood Agar
Media Blood Agar adalah media selektif yang mengandung darah, pepton,
dan gliserol, serta antibiotik seperti cephalexin atau penicillin.
Uji Katalase
Uji katalase digunakan untuk mengidentifikasi bakteri kokus Gram positif
yang mampu menghasilkan enzim katalase untuk memecah hidrogen peroksida
(H2O2) hasil metabolisme sel bakteri secara aerobik. Hasil uji katalase positif
ditandai dengan pembentukan gelembung udara.
Uji Glukosa Mikroaerofilik
Uji glukosa mikroaerofilik digunakan untuk mengetahui kemampuan
penggunaan oksigen oleh bakteri untuk melakukan metabolisme karbohidrat.
Tabung berisi larutan glukosa yang telah ditambah isolat bakteri dimasukkan
dalam anaerobic jar bersama dengan lilin yang menyala sebagai indikator
keberadaan oksigen di dalam jar. Lilin yang padam mengindikasikan bahwa kadar
oksigen di dalam jar minimal, sehingga tercipta suasana yang miskin oksigen di
dalam jar. Setelah lilin mati, jar diinkubasi dalam inkubator dengan suhu 37C
selama 24 jam. Hasil positif fermentasi glukosa dapat dilihat dengan perubahan
warna media menjadi kuning.

Uji Koagulasi
Uji koagulase digunakan untuk melihat kemampuan bakteri yang
menghasilkan enzim yang dapat menggumpalkan fibrin. Uji koagulase dilakukan
dengan cara, dari media agar darah diinokulasi 1-3 koloni bakteri ke dalam media
Brain Heart Infusion (BHI). Kemudian diencerkan 1 mL plasma dengan 4 mL
aquadest, lalu dipipet 0,5 mL dan masukkan ke dalam biakan BHI dan
dihomogenkan. Selanjutnya diinkubasi pada suhu 37C selama 24 jam.
Pembentukan gumpalan diamati pada medium, adanya gumpalan seperti awan
menunjukkan hasil positif.
Manitol Salt Agar
Manitol Salt Agar (MSA) merupakan media differensial selektif.
Konsentrasi garam yang tinggi (7,5%) pada MSA digunakan untuk
mengidentifikasi bakteri Staphylococcus yang mampu bertahan pada konsentrasi
saline yang tinggi. MSA juga mengandung gula manitol dan indikator pH fenol
red. Jika organisme yang tumbuh merupakan organisme yang mampu
memfermentasi manitol, maka akan merubah fenol red yang ada dalam agar
menjadi warna kuning. Uji MSA bertujuan untuk mengetahui kemampuan bakteri
untuk memfermentasi karbohidrat dan juga kemampuan untuk hidup pada kadar
garam tinggi.

METODOLOGI DAN MATERIAL


Metode Kerja

Susu

Blood Agar

Isolat Murni

Pewarnaan
Gram

Gram Positif

Gram Negatif

Kokus

Uji Katalase

Batang

Berspora

Positif
(Micrococcaceae)

Uji Glukosa Mikroaerofilik


Positif
(Staphylococcus)

Uji Glukosa Mikroaerofilik


Negatif
(Micrococcus)

Uji Koagulasi (BHI)


Positif

Uji Koagulasi (BHI)


Negatif

Staphylococcus
Patogen

Staphylococcus
Non-Patogen

MSA
(Manitol Salt Agar)

S. aureus
(koloni kuning)

S. epidermidis
(koloni merah)

Tidak berspora

Negatif
(Streptococcaceae)

Uji CAMP

Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah ose, gelas objek,
tabung kimia, cawan petri, bunsen, serta mikroskop. Bahan-bahan yang digunakan
dalam praktikum ini adalah sampel susu yang diduga tercemar bakteri
Staphylococcus sp. atau Streptococcus sp., media agar Darah, media agar miring,
pewarna crystal blue, lugol, safranin, acetone alcohol, aquades, kertas saring,
minyak imersi, xylol, media agar MSA, larutan gula, BHI, serum darah kelinci.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Pengamatan
Uji
Blood Agar

Hasil
Koloni
Terpisah

Keterangan
Ukuran : 4 mm
Bentuk : bulat
Permukaan : halus
Aspek : mengilat
Tepi : rata
Elevasi : cembung
Sifat tembus cahaya :
opaque (tidak)
Pigmentasi : putih
keabu-abuan

Pewarnaan Gram

Gram
Positif

Warna : Ungu
Bentuk : Kokus
Koloni : Bergerombol

Uji Katalase
Uji Koagulasi

Positif
Positif

Terbentuk gelembung
Terkoagulasi

Foto

Uji Glukosa
mikroaerofilik

Positif

Larutan glukosa
berubah warna menjadi
oranye (kekuningan)

Uji Manitol Salt


Agar

Positif

Agar berubah menjadi


warna kuning

Pembahasan
Susu yang diperah dari sapi mastitis kemudian diidentifikasi jenis bakteri
yang terkandung di dalamnya. Pertama, bakteri dari sampel susu ditanam di media
Blood Agar untuk mendapatkan koloni yang terpisah dengan ciri ukuran koloni
sedang (4 mm), bentuk bulat, permukaan halus, aspek mengilat, tepi rata, elevasi
cembung, tidak tembus cahaya dan warna putih keabu-abuan. Koloni terpisah
tersebut kemudian ditanam kembali pada subculture untuk mendapatkan isolat
murni. Untuk memastikan isolat tersebut benar-benar murni maka dilakukan
pewarnaan gram. Hasil yang didapatkan yaitu bakteri bersifat gram positif,
berwarna ungu, bentuk kokus, dan koloni bergerombol. Bakteri gram positif
terbagi menjadi 2, yaitu yang berbentuk kokus dan yang berbentuk batang. Untuk
membedakan keduanya perlu dilakukan uji katalase. Hasil yang didapatkan positif
dengan terbentuknya gelembung udara. Dari hasil positif katalase ini, dapat
ditentukan bahwa bakteri tersebut termasuk ke dalam Micrococcaceae. Bakteri
golongan Micrococcaceae ini sendiri terdiri atas 2 genus yaitu Staphylococcus sp.
dan Micrococcus sp.. Tahap selanjutnya untuk mengidentifikasi genus bakteri
tersebut dengan uji Glukosa Mikroaerofilik. Hasil yang didapatkan yaitu larutan
glukosa berubah warna menjadi kekuningan yang menunjukkan hasil positif. Dari

hasil ini dapat ditentukan bahwa bakteri tersebut masuk ke dalam genus
Staphylococcus. Bakteri Staphylococcus terdiri atas bakteri patogen dan nonpatogen. Untuk membedakannya dilakukan uji koagulasi menggunakan media
Brain Heart Infusion (BHI) yang ditambahkan plasma kelinci dan isolat bakteri
yang akan diuji. Hasil yang didapatkan yaitu positif yang menunjukkan adanya
koagulasi dan menunjukkan bahwa bakteri tersebut termasuk ke dalam bakteri
Staphylococcus patogen. Tahap terakhir yaitu penanaman isolat pada media
Manitol Salt Agar (MSA). Uji ini digunakan untuk membedakan antara
Staphylococcus aureus (koloni kuning) dengan Staphylococcus epidermidis
(koloni merah). Hasil yang didapatkan yaitu bakteri yang tumbuh merubah media
MSA menjadi warna kuning, sehingga dapat disimpulkan bahwa bakteri tersebut
adalah Staphylococcus aureus.

KESIMPULAN
Hasil dari identifikasi bakteri menyatakan bahwa susu tercemar bakteri
Staphylococcus aureus. Identifikasi bakteri ini dilakukan dengan serangkaian uji
yaitu uji katalase, uji glukosa mikroaerofilik, uji koagulasi dan uji dengan MSA.

DAFTAR PUSTAKA
Songer JG, Post KW. 2005. Veterinary Microbiology Bacterial and Fungal
Agents of Animal Disease. Elsevier Saunders.
Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak I. Yogyakarta: Gajah Mada Univ Pr.
Watts JL, Yancey RL. 1994. Identification of veterinary pathogens by use of
commercial identification system and new trends in antimicrobial
susceptibility testing of veterinary pathogens. Clin. Microbiol. Rev. 7: 346
356.