Anda di halaman 1dari 21

Geologi Regional Lembar Pangkajene dan watampone bagian barat

GEOLOGI REGIONAL

Daerah penelitian ini secara umum keadaan geomorfologi, Stratigrafi dan struktur
geologinya termasuk dalam peta geologi Lembar Pangkajene dan Watampone Bagian Barat.
Geomorfologi Regional
Pada Lembar Pangkajene dan Watampone bagian Barat (Rab. Sukamto,1982) pada
pegunungan bagian barat menempati hampir setengahnya luas daerah, yang melebar dibagian
selatan (50 km) dan menyempit dibagian Utara (22 km) dengan puncak tertingginya 1694 m dan
ketinggian rataratanya 1500 m dari permukaan laut. Pembentuknya sebagian besar batuan
gunungapi. Di lereng barat dan di beberapa tempat di lereng timur terdapat topografi karst yang
mencerminkan adanya batugamping. Di antara topografi karst pada lereng barat terdapat
perbukitan yang dibentuk oleh batuan pada zaman Pra-Tersier. Pegunungan ini dibatasi oleh
dataran Pangkajene Maros yang luas, dan sebagian merupakan lanjutan di dataran sekitarnya.
Pegunungan yang di Timur relatif lebih sempit dan lebih rendah, dengan puncaknya rata
rata setinggi 700 m dari permukaan air laut, sedangkan yang tertinggi adalah 787 m dimana
sebagian besar pegunungan ini tersusun dari batuan gunungapi. Di bagian selatannya selebar 20
km dan lebih tinggi, tetapi ke Utara menyempit dan merendah dan akhirnya menunjam ke bawah
batas antara lembah Walanae dan dataran Bone. Pada bagian Utara pegunungan ini mempunyai
topografi karst yang permukaanya sebagian berkerucut. Batasnya pada bagian Timurlaut adalah
dataran Bone yang luas dan menempati hampir sepertiga bagian Timur.

Lembah Walanae yang memisahkan kedua pegunungan tersebut dibagian Utara selebar
35 km, tetapi di bagian Selatan hanya 10 km. Ditengah terdapat Sungai Walanae yang mengalir
ke Utara. Sedangkan bagian Selatan berupa berbukitan rendah dan dibagian Utara terdapat
dataran alluvium yang sangat luas yang mengelilingi Danau Tempe.
Stratigrafi Regional
Untuk Stratigrafi Regional daerah penelitian disusun oleh berbagai jenis litologi dari
berbagai formasi yang ergolongke dalam satuan batuan tertentu berikut akan dibahas mengenai
stratigrafi regional daerah penelitian berdasarkan batuan tertua ke yang termuda.
1. Kompleks Basement
Kompleks basement terdiri atas dua satuan batuan berdasarkan proses pembentukanya,
antara lain :

a. Satuan Sekis (Batuan Malihan)

Sebagian besar terdiri atas sekis dan sedikit gneiss, dimana secara megaskopis terlihat mineralmineral diantaranya glaikopan, garnet, epidot, mika dan klorit. Batuan malihan ini umumnya
berpandanan miring ke arah Timur-Laut, sebagian besar trebreksikan dan tersesarnaikan kea rah
Barat-daya, satuan ini tebalnya tidak kurang dari 2000 meter dan bersentuhan dengan sebagian
batuan disekitarnya. Penarikan kalium/argon diperoleh umur 111 juta tahun (Obradovich, 1974).
b. Satuan Ultrabasa

Peridotit, sebagian besar terserpentinitkan, berwarna hijau tua sampai kehitaman, sebagian besar
terbreksikan dan tergerus melalui sesar naik kea rah Barat-daya. Pada bagian yang pejal terlihat
terlihat struktur berlapis dan beberapa tempat mengandung lensa kromit. Satuan ini tebalnya
tidak kurang dari 2500 meter, dan mempunyai sentuhan sesar dengan batuan disekitarnya.
c. Satuan intrusi Trakit

Terobosan trakit berupa stok, sill dan retas. Bertekstur porfiri kasar dengan fenokris sanidin
dengan warna putih keabuan sampai sampai kelabu muda. Di Tanete Riaja Trakit menerobos
batugamping formasi Tonasa dan di Utara Soppeng menerobos batuan gunungapi Soppeng
(Tmsv). Penarikan Kalium/Argon trakit menghasilkan umur 10,9 juta tahun.
2. Formasi Balangbaru
Sedimen tipe Flysch, dimana batupasir berselingan dengan batulanau, batulempung,
serpih bersisipan konglomerat, Tuva dan lava, dibeberapa tempat konglomerat dengan susunan
basalt, andesit, diorite, serpih, sekis kuarsa dan basement batupasir, pada umumnya padat dan
sebagian serpih terkesikan, formasi ini mempunyai ketebalan sekitar 2000 meter, tertindih tidak
selaras formasi Mallawa dan batuan gunungapi terpropilitkan, dan menindih tidak selaras
kompleks tektonik Bantimala. Berdasarkan fasiesnya Formasi Balangbarrutelah dibagi menjadi
tiga anggota yaitu Anggota Bua, Anggota Panggalungan dan anggota Allup (Hasan 1991),
Anggota Bua dicirikan oleh selaras oleh batugamping Temt, dan menindih tidak selaras batuan
sediment kb dan batuan gunungapi Tpv.
3. Formasi Tonasa
Terdiri atas batugamping koral pejal, sebgian terhablurkan, berwarna putih dan kelabu
muda, batugamping bioklastika dan kalkarenit, berwarna putih coklat muda dan kelabu muda,
sebagian berlapis dan berselingan dengan napal globigerina tufaan, bagian bawahnya

mengandung

batugamping

berbitumen,

setempat

bersisipan

breksi

batugamping

dan

batugamping pasiran. Di daerah Ralla ditemukan batugamping yang mengandung banyak


serpihan skis dan batuan ultramafik, Batugamping berlapis sebagian mengandung banyak
foraminifera kecil dan dan beberapa lapisan napal pasiran mengandung banyak kerang
(pelecipoda) dan siput (Gastropoda) besar. Batugamping pejal pada umumnya terkekarkan kuat,
di daerah Tanete Riaja, terdapat tiga jalur napal yang berselingan dengan jalur batugamping
berlapis.
Berdasarkan atas kandungan fosilnya, menunjukan kisaran umur Eosen Awal (Ta.2)
sampai Miosen Tengah (Tf). Dan lingkungan neritik dangkal hingga dalam dan laguna, tebal
formasi diperkirakan tidak kurang dari 3000 meter, menindih selaras batuan Formasi Mallawa
dan tertindih tidak selaras oleh formasi Camba, diterobosi oleh sill, retas dan stoc batuan
bekuyang bersusunan basalt, trakit dan diorite.
Batugamping Formasi Tonasa oleh Wilson (1995) dibagi menjadi lima bagian
berdasarkan fasiesnya. Biru area kabupaten Bone, Ralla area kabupaten Barru, Central area
Kabupaten Pangkep, Pattunuang Asuearea kabupaten Maros dan Nasara Area Kabupaten
Jeneponto. Daerah lokasi penelitian disusun oleh fasies redeposit terdiri dari batugamping
fragmental berselingan dengan napal, dibeberapa tempat menunjukan batugamping dengan
komponen foram besar, algae serta koral.
5. Formasi Camba
Terdiri atas batuan sediment laut berselingan dengan batuan gunungapi, batupasir tufa
berselingan dengan tufa, batupasir, batulanau, batulempung, konglomerat dan breksi gunung api,
dan setempat dengan batubara berwarna beraneka, putih, cokla, kuning, kelabu muda sampai

kehitaman umunya mengeraas kuat dan sebagian kurang padat, berlapis dengan tebal antara
4cm-100cm.
Tufanya berbutir halus hingga lapilli, tufa lempungan berwarna merah mengandung
banyak mineral Biotit, Konglomerat dan breksinya terutama komponen andesit dan basal dengan
ukuran antara 2 cm-40 cm. Batugamping pasiran dan batupasir gampingan mengandung pecahan
coral dan molusca. Batulempung gampingan kelabu tua dan napal mengandung pecahan foram
kecil dan molusca. Fosil-fosil yang ditemukan pada satuan ini menunjukan kisaran umur Miosen
Tengah Miosen Akhir (N.9-N.15) pada lingkungan neritik. Ketebalan satuan sekitar 5000
meter. Menindih tidak selaras batugamping Formasi Tonasa (Temt) dan formasi Mallawa (Tem),
Mendatar berangsur berubah menjadi bagian bawah dari formasi Walanae (Tmpw). Diterobos
oleh retas, sill dan stock bersusunan basalt piroksin, andesit dan diorite.
Anggota Batuan Gunungapi
Batuan gunungapi bersisipan sediment laut, breksi gunungapi, lava, konglomerat
gunungapi dan tufa, berbutir halus hingga lapili, bersisipan batupasir tufaan, batupasir
gampingan, batulempung mengnadung sisa tumbuhan batugamping dan napal. Batuanya
bersusunan basalt dan diorite, berwarna kelabu muda, kelabu tua dan coklat. Penarikan
kaluim/argon pada batuan basalt oleh Indonesian Golf Oil berumur 17,7 juta tahun dasit dan
andesit berumur 8,93 juta tahun dan 9,92 juta tahun(Obradovich, 1972) dan basalt dari Barru
menghasilkan 6,2 juta tahun (Leewen 1978).
Beberapa lapisan batupasir dan batulempung pasiran mengandung molusca dan sebagian
koral, sisipan tufa gampingan, batupasir tufa gampingan, batupasir gampingan, batupasir

lempungan, napal dan mengandung fosil foraminifera. Berdasarkan atas fosil tersebut dan
penarikan radiometri menunjukan umur satuan ini adalah Miosen Tengah-Miosen Akhir.
Batuannya diendapkan kedalam lingkungan neritik sebagai fasies gunungapi Formasi
Camba , menindih tidak selaras batugamping Formasi Camba dan batuan Formasi Mallawa,
sebagian terbentuk dalam lingkungan darat, setempat breksi gunungapi mengandung sepian
batugamping tebal diperkirakan sekitar 4000 meter.
6. Endapan Undak
Terdiri atas kerikil, pasir dan lempung membentuk datarn rendah bergelombang disebelah
Utara Pangkajene. Satuan ini dapat dibedakan secara morfologi dari endapan alluvium yang
lebih muda.
7. Eandapan Alluvium Danau Dan Pantai
Terdiri atas lempung, Lanau, Lumpur pasirdan kerikil disepanjang sungai-sungai besar
dan pantai. Endapan pantai setempat mengandung sisa kerang dan batugamping koral.
Struktur Geologi Regional
Lengan Selatan Pulau Sulawesi secara struktural dibagi atas dua bagian yaitu Lengan
selatan bagian Utara dan Lengan Selatan bagian Selatan yang sangat berbeda struktur geologinya
(Van Bemellen, 1949).
Lengan selatan bagian Utara berhubungan dengan orogen, sedangkan Lengan Selatan
bagian Selatan memperlihatkan hubungan kearah jalur orogen yang merupakan sistem
pegunungan Sunda.

Perkembangan struktur Lengan Selatan bagian Utara pulau Sulawesi di mulai pada
zaman Kapur, yaitu terjadinya perlipatan geosinklin disertai dengan kegiatan vulkanik bawah
laut dan intrusi Gabro. Bukti adanya intrusi ini terlihat pada singkapan disepanjang pantai Utara
Selatan Teluk Bone.
Batuan tua yang masih dapat diketahui kedudukan struktur stratigrafi dan tektonikanya
adalah sedimen flysch Formasi Balangbaru dan Formasi Marada, bagian bawah tidak selaras
menindih batuan yang lebih tua, dan bagian atasnya ditindih tak selaras oleh batuan yang lebih
muda. Batuan yang lebih tua merupakan masa yang terimfikasi melalui sejumlah sesar sungkup,
terbreksikan, tergerus dan sebagian mencampur dengan malange. Berdasarkan himpunan
batuannya diduga Formasi Balangbaru dan Formasi Marada merupakan endapan lereng didalam
sistem busur palung pada zaman Kapur Akhir, dan gejala ini menunjukkan bahwa Malange
didaerah Bantimala terjadi sebelum Kapur Akhir.
Pada kala Palaeosen kegiatan gunungapi bawa laut yang hasil erupsinya dapat terlihat di
timur Bantimala dan daerah Barru (Lembar Ujung Pandang, Benteng dan Sinjai). Pada bagian
barat berupa tepi dataran yang dicirikan oleh endapan darat dan batubara pada Formasi Mallawa,
sedangkan di daerah timur, berupa cekungan laut dangkal tempat pengendapan batuan klastik
bersisipan Karbonat formasi Salokalupang. Pengendapan formasi Mallawa mungkin hanya
berlangsung selama awal Pliosen, sedangkan Formasi Salokalupang berlangsung hingga
Oligosen akhir.
Sejak Eosen Akhir sampai Miosen Awal di daerah Barat terendapkan batuan karbonat
yang luas. Dimana hal ini menunjukkan bahwa daerah ini merupakan paparan laut dangkal yang
luas, yang kemudian berangsur angsur menurun atau mengalami pendangkalan sejalan dengan
adanya proses pengendapan yang terjadi.

Sedangkan pada daerah bagian Timur terjadi proses gunungapi yang dimulai sejak
Miosen Akhir dimana hal ini ditunjukkan pada daerah Kalamiseng dan Soppeng. Akhir kegiatan
gunungapi ini diikuti oleh tektonik yang menyebabkan terjadinya permulaan terban Walanae
yang kemudian menjadi cekungan tempat pembentukan Formasi Walanae. Peristiwa ini
kemungkinan besar berlangsung sejak awal Miosen Tengah, dan mengalami penurunan perlahan
lahan selama terjadi proses sedimentasi sampai Kala Pliosen. Proses menurunnya Terban
Walanae dibatasi oleh dua sistem sesar normal, yaitu sesar Walanae yang seluruhnya nampak
hingga sekarang disebelah Timur, dan sesar Soppeng yang hanya tersingkap tidak menerus di
sebelah barat.
Selama terbentuknya Terban Walanae, ditumur kegiatan gunungapi yang hanya terjadi dibagian
sealatan sedangkan di bagian barat terjadi kegiatan gunungapi yang hampir merata dari selatan
ke utara, dan ini berlangsung dari Miosen Tengah sdampai Pliosen. Dimana hal ini, bentuk
kerucutnya masih dapat diamati di daerah sebelah barat yang diantaranya Puncak Maros dan
Gunung Tondongkarambu serta tebing melingkar yang mengelilingi gunung Benrong yang
berada di utara gunung Tondongkarambu dan ini mungkin merupakan sisa kaldera.
Sejak Miosen Tengah terjadi sesar utama yang mempunyai arah Utara Baratlaut dan tumbuh
sampai setelah Pliosen. Perlipatan besar yang berarah hampir sejajar dengan sesar utama
diperkirakan terbentuk sehubungan adanya tekanan mendatar yang kira kira berarah Timur
Barat pada waktu sebelum Akhir Pliosen. Tekanan ini mengakibatkan pula adanya sesar sungkup
lokal yang menyesarkan batuan pra Kapur Akhir di daerah Bantimala ke atas batuan Tersier.
Perlipatan penyesaran yang relatif lebih kecil dibagian timur Lembah Walanae dan dibagian barat
timur Lembah Walanae dan dibagian barat pegunungan Barat, yang berarah Baratlaut Tenggara
dan merencong, kemungkinan besar terjadi oleh gerakan mendatar ke kanan sepanjang sesar
besar.

A. GEOMORFOLOGI REGIONAL
Bentuk morfologi yang menonjol di daerah lembar Ujung Pandang, Benteng dan

Sinjai adalah kerucut gunungapi Lompobatang, yang menjulang mencapai ketinggian 2876 m
di atas muka laut. Kerucut gunungapi ini dari kejauhan masih memperlihatkan bentuk aslinya,
dan menempati lebih kurang 1/3 daerah lembar. Pada potret udara terlihat dengan jelas adanya
beberapa kerucut parasit, yang kelihatannya lebih muda dari kerucut induknya, bersebaran di
sepanjang jalur utara-selatan melewati puncak Gunung Lompobatang. Kerucut gunungapi
Lompobatang ini tersusun oleh batuan gunungapi berumur Plistosen.
Dua buah bentuk kerucut tererosi yang lebih sempit sebarannya terdapat di sebelah barat
dan sebelah utara Gunung Lompobatang. Di sebelah barat terdapat Gunung Baturape, mencapai
ketinggian 1124 m dan di sebelah utara terdapat Gunung Cindako, mencapai ketinggian 1500 m.
kedua bentuk kerucut tererosi ini disusun oleh batuan gunungapi berumur Pliosen.
Di bagian utara lembar terdapat 2 daerah yang tercirikan oleh topografi kars, yang
dibentuk oleh batugamping Formasi Tonasa. Kedua daerah bertopografi kars ini dipisahkan oleh
pegunungan yang tersusun oleh batuan gunungapi berumur Miosen sampai Pliosen.
Daerah sebelah barat Gunung Cindako dan sebelah utara Gunung Baturape merupakan
daerah berbukit, kasar di bagian timur dan halus di bagian barat. Bagian timur mencapai
ketinggian kira-kira 500 m, sedangkan bagian barat kurang dari 50 m di atas muka laut dan
hampir merupakan suatu dataran. Bentuk morfologi ini disusun oleh batuan klastika gunungapi
berumur Miosen. Bukit-bukit memanjang yang tersebar di daerah ini mengarah Gunung Cindako
dan Gunung Baturape berupa retas-retas basal.
Pesisir barat merupakan dataran rendah yang sebagian besar terdiri dari daerah rawa dan
daerah pasang-surut. Beberapa sungai besar membentuk daerah banjir di dataran ini. Bagian
timurnya terdapat bukit-bukit terisolir yang tersusun oleh batuan klastika gunungapi berumur
Miosen dan Pliosen.
Pesisir baratdaya ditempati oleh morfologi berbukit memanjang rendah dengan arah
umum kira-kira baratlaut-tenggara. Pantainya berliku-liku membentuk beberapa teluk, yang

mudah dibedakan dari pantai daerah lain pada lembar ini. Daerah ini disusun oleh batuan
karbonat dari Formasi Tonasa.
Secara fisiografi pesisir timur merupakan penghubung antara Lembah Walanae di utara,
dan Pulau Selayar di selatan. Di bagian utara, daerah berbukit rendah dari Lembah Walanae
menjadi lebih sempit dibanding yang di utara (Lembar Pangkajene dan Watampone bagian
Barat), dan menerus di sepanjang pesisir timur Lembar Ujung Pandang, Benteng dan Sinjai ini.
Pegunungan sebelah timur dari Lembar Pangkajene dan Watampone bagian Barat berakhir di
bagian utara pesisir timur lembar ini.
Bagian selatan pesisir timur membentuk suatu tanjung yang ditempati sebagian besar
oleh daerah berbukit kerucut dan sedikit topografi kars. Bentuk morfologi semacam ini
ditemukan ini ditemukan pula di bagian baratlaut Pulau Selayar. Teras pantai dapat diamati di
daerah ini sejumlah anatara 3 dan 5 buah. Bentuk morfologi ini disusun oleh batugamping
berumur Miosen Akhir-Pliosen.
Pulau Selayar mempunyai bentuk memanjang utara-selatan, yang secara fisiografi
merupakan lanjutan dari pegunungan sebelah timur di Lembar Pangkajene dan watampone
bagian Barat. Bagian timur rata-rata berdongkak lebih tinggi dengan puncak tertinggi 608 m, dan
bagian barat lebih rendah. Pantai timur rata-rata terjal dan pantai barat landai; secara garis besar
membentuk morfologi lereng-miring ke arah barat.
B. STRATIGRAFI REGIONAL
Tatanan Stratigrafi
Satuan batuan tertua yang telah diketahui umurnya adalah batuan sedimen flysch Kapur
Atas yang dipetakan sebagai Formasi Marada (Km). Batuan malihan (S) belum diketahui
umurnya, apakah lebih tua atau lebih muda dari pada Formasi Marada; yang jelas diterobos oleh
granodiorit yang diduga berumur Miosen (19 2 juta tahun). Hubungan Formasi Marada dengan
satuan batuan yang lebih muda, yaitu Formasi Salo Kalupang dan Batuan Gunungapi
Terpropilitkan tidak begitu jelas, kemungkinan tak selaras.
Formasi Salo Kalupang (Teos) yang diperkirakan berumur Eosen Awal-Oligosen Akhir
berfasies sedimen laut, dan diperkirakan setara dalam umur dengan bagian bawah Formasi

Tonasa (Temt). Formasi Salo Kalupang terjadi di sebelah timur Lembah Walanae dan Formasi
Tonasa terjadi di sebelah baratnya.
Satuan batuan berumur Eosen Akhir sampai Miosen Tengah menindih tak selaras batuan
yang lebih tua. Berdasarkan sebaran daerah singkapannya, diperkirakan batuan karbonat yang
dipetakan sebagai Formasi Tonasa (Temt) terjadi pada daerah yang luas di lembar ini. Formasi
Tonasa ini diendapkan sejak Eosen Akhir berlangsung hingga Miosen Tengah, menghasilkan
endapan karbonat yang tebalnya tidak kurang dari 1750 m. Pada kala Miosen Awal rupanya
terjadi endapan batuan gunungapi di daerah timur yang menyusun Batuan Gunungapi
Kalamiseng (Tmkv).
Satuan batuan berumur Miosen Tengah sampai Pliosen menyusun Formasi Camba (Tmc)
yang tebalnya mencapai 4250 m dan menindih tak selaras batuan-batuan yang lebih tua. Formasi
ini disusun oleh batuan sedimen laut berselingan dengan klastika gunungapi, yang menyamping
beralih menjadi dominan batuan gunungapi. (Tmcv). Batuan sedimen laut berasosiasi dengan
karbonat mulai diendapkan sejak Miosen Akhir sampai Pliosen di cekungan Walanae (Tmpw)
dan Anggota Selayar (Tmps).
Batuan gunungapi berumur Pliosen terjadi secara setempat, dan menyusun Batuan
Gunungapi Baturape-Cindako (Tpbv). Satuan batuan gunungapi yang termuda adalah yang
menyusun Batuan Gunungapi Lompobatang (Qlv), berumur Plistosen. Sedimen termuda lainnya
adalah endapan aluvium dan pantai (Qac).
Perian Satuan Peta
Endapan Permukaan
Qac

ENDAPAN ALUVIUM, RAWA DAN PANTAI: kerikil, pasir, lempung, lumpur dan
batugamping koral; terbentuk dalam lingkungan sungai, rawa, pantai dan delta. Di
sekitar Bantaeng, Bulukumba dan Sungai Berang endapan aluviumnya terutama terdiri
dari rombakan batuan gunungapi Gunung Lompobatang; di dataran pantai barat terdapat
endapan rawa yang sangat luas.

Batuan Sedimen dan Batuan Gunungapi

Km

FORMASI MARADA (T.M. VAN LEEUWEN, 1974): batuan sedimen bersifat flysch;
perselingan batupasir, batulanau, arkose, grewake, serpih dan konglomerat; bersisipan
batupasir dan batulanau gampingan, tufa, lava dan breksi yang bersusunan basal, andesit
dan trakit. Batupasir dan batulanau berwarna kelabu muda sampai kehitaman; serpih
berwarna kelabu tua sampai coklat tua; konglomerat tersusun oleh andesit dan basal;
lava dan breksi terpropilitkan kuat dengan mineral sekunder berupa karbonat, silikat,
serisit, klorit dan epidot.
Fosil Globotruncana dari batupasir gampingan yang dikenali oleh PT Shell
menunjukkan umur Kapur Akhir, dan diendapkan di lingkungan neritik dalam (T.M. Van
Leeuwen, hubungan tertulis, 1978). Formasi ini diduga tebalnya tidak kurang 1000 m.

Teos

FORMASI SALO KALUPANG: batupasir, serpih dan batulempung berselingan dengan


konglomerat gunungapi, breksi dan tufa, bersisipan lava, batugamping dan napal;
batulempung, serpih dan batupasirnya di beberapa tempat dicirikan oleh warna merah,
coklat, kelabu dan hitam; setempat mengandung fosil moluska dan foraminifera di
dalam sisipan batugamping dan napal; pada umumnya gampingan, padat, dan sebagian
dengan urat kalsit, sebagian dari serpihnya sabakan; kebanyakan lapisannya terlipat kuat
dengan kemiringan antara 20o-75o.
Fosil dari Formasi Salo Kalupang yang dikenali D. Kadar (hubungan tertulis,
1974) pada contoh batuan Td.140, terdiri dari: Asterocyclina matanzensis COLE,
Discocyclina dispansa (SOWERBY), D. javana (VERBEEK), Nummulites sp.,
Pellatispira madaraszi (HANTKEN), Heterostegina sipanensis COLE, dan Globigerina
sp. Gabungan fosil ini menunjukkan umur Eosen Akhir (Tb). Formasi Salo Kalupang
yang tersingkap di daerah Lembar Pangkajene dan Watampone bagian Barat
mengandung fosil yang berumur Eosen Awal smapai Oligosen Akhir. Formasi ini
tebalnya tidak kurang dari 1500 m, sebagai lanjutan dari daerah lembar Pangkajene dan
Watampone bagian Barat sebelah utaranya; ditindih tak selaras oleh batuan dari Formasi
Walanae dan dibatasi oleh sesar dari batuan gunungapi Tmkv.

Temt

FORMASI TONASA: batugamping, sebagian berlapis dan sebagian pejal; koral,


bioklastika, dan kalkarenit, dengan sisipan napal globigerina, batugamping kaya foram

besar, batugamping pasiran, setempat dengan moluska; kebanyakan putih dan kelabu
muda, sebagian kelabu tua dan coklat. Perlapisan baik setebal anatara 10 cm dan 30 cm,
terlipat lemah dengan kemiringan lapisan rata-rata kurang dari 25o; di daerah Jeneponto
batugamping berlapis berselingan dengan napal globigerina.
Fosil dari Formasi Tonasa dikenali oleh D. Kadar (hubungan tertulis, 1973,
1974, 1975), dan oleh Purnamaningsih (hubungan tertulis, 1974). Contoh-contoh yang
dianalisa fosilnya adalah: La.8, La.35, Lb.1, Lb.49, Lb.83, Lc.44, Lc.97, Lc.114, Td.37,
Td.161, dan Td.167. Fosil-fosil yang dikenali termasuk: Discocyclina sp., Nummulites
sp., Heterostegina sp., Flosculinella sp., Spiroclypeus sp., S. orbitoides DOUVILLE,
Lepidocyclina sp., L. ephippoides JONES & CHAPMAN, L. verbeeki NEWTON &
HOLLAND, L. cf. sumatrensis JONES & CHAPMAN, Miogypsina sp., Globigerina
sp., Gn. Tripartite COCH, Globoquadrina altispira (CHUSMAN & JARVIS),
Amphistegina sp., Cycloclypeus sp., dan Operculina sp. Gabungan fosil tersebut
menunjukkan umur berkisar dari Eosen sampai Miosen Tengah (Ta-Tf), dan lingkungan
pengendapan neritik dangkal sampai dalam dan sebagian laguna.
Formasi ini tebalnya tidak kurang dari 1750 m, tak selaras menindih batuan
Gunungapi Terpropilitkan (Tpv) dan ditindih oleh Formasi Camba (Tmc); di beberapa
tempat diterobos oleh retas, sil dan stok bersusunan basal dan diorit; berkembang baik di
sekitar Tonasa di daerah Lembar Pangkajene dan Watampone bagian Barat, sebelah
utaranya.
Tmc

FORMASI CAMBA: batuan sedimen laut berselingan dengan batuan gunungapi,


batupasir tufaan berselingan dengan tufa, batupasir dan batulempung; bersisipan napal,
batugamping, konglomerat dan breksi gunungapi, dan batubara; warna beraneka dari
putih, coklat, merah, kelabu muda sampai kehitaman, umumnya mengeras kuat;
berlapis-lapis dengan tebal antara 4 cm dan 100 cm. Tufa berbutir halus hingga lapili;
tufa lempungan berwarna merah mengandung banyak mineral biotit; konglomerat dan
breksinya terutama berkomponen andesit dan basal dengan ukuran antara 2 cm dan 30
cm; batugamping pasiran mengandung koral dan moluska; batulempung kelabu tua dan
napal mengandung fosil foram kecil; sisipan batubara setebal 40 cm ditemukan di
Sungai Maros.

Fosil dari Formasi Camba yang dikenali oleh D. Kadar (hubungan tertulis,
1974, 1975) dan Purnamaningsih (hubungan tertulis, 1975), pada contoh batuan La.3,
La.24, La.125, dan La.448/4, terdiri dari: Goloborotalia mayeri CUSHMAN &
ELLISOR, Gl. Praefoksi BLOW & MANNER, Gl. Siakensis (LEROY), Flosculinella
bontangensis (RUTTEN), Globigerina venezuelana HEDBERG, Globoquadrina
altispira (CUSHMAN & JARVIS), Orbulina universa DORBIGNY, O. suturalis
BRONNIMANN, Cellanthus cratuculatus FICHTEL & MOLL, dan Elphidium
advenum (CHUSMAN). Gabungan fosil tersebut menunjukkan umur Miosen Tengah
(Tf). Lagi pula ditemukan fosil foraminifera jenis yang lain, ostrakoda dan moluska
dalam formasi ini. Kemungkinan Formasi Camba di daerah ini berumur sama dengan
yang di Lembar Pangkajene dan Watampone bagian Barat yaitu Miosen Tengah sampai
Miosen Akhir.
Formasi ini adalah lanjutan dari Formasi Camba yang terletak di Lembar
Pangkajene dan bagian Barat Watampone sebelah utaranya, kira-kira 4250 m tebalnya;
diterobos oleh retas basal piroksen setebal antara -30 m, dan membentuk bukit-bukit
memanjang. Lapisan batupasir kompak (10-75 cm) dengan sisipan batupasir tufa (1-2
cm) dan konglomerat berkomponen basal dan andesit, yang tersingkap di Pulau Selayar
diperkirakan termasuk satuan Tmc.
Tmcv, Batuan Gunungapi Formasi Camba: breksi gunungapi, lava,
konglomerat dan tufa berbutir halus hingga lapili, bersisipan batuan sedimen laut berupa
batupasir tufaan, batupasir gampingan dan batulempung yang mengandung sisa
tumbuhan. Bagian bawahnya lebih banyak mengandung breksi gunungapi dan lava yang
berkomposisi andesit dan basal; konglomerat juga berkomponen andesit dan basal
dengan ukuran 3-50 cm; tufa berlapis baik, terdiri tufa litik, tufa kristal dan tufa vitrik.
Bagian atasnya mengandung ignimbrit bersifat trakit dan tefrit leusit; ignimbrite
berstruktur kekar maniang, berwarna kelabu kecoklatan dan coklat tua, tefrit lusit
berstruktur aliran dengan permukaan berkerak roti, berwarna hitam. Satuan Tmcv ini
termasuk yang dipetakan oleh T.M. Van Leeuwen (hubungan tertulis, 1978) sebagai
Batuan Gunungapi Soppo, Batuan Gunungapi Pamusureng dan Batuan Gunungapi
Lemo. Breksi gunungapi yang tersingkap di Pulau Selayar mungkin termasuk formasi
ini; breksinya sangat kompak, sebagian gampingan, berkomponen basal amfibol, basal

piroksen dan andesit (0,5-30 cm), bermasa dasar tufa yang mengandung biotit dan
piroksen.
Fosil yang dikenali oleh D. Kadar (hubungan tertulis, 1971) dari A. 75 dan
A.76.b termasuk: Amphistegina s., Globigerinids, Operculina sp., Orbulina universa
DORBIGNY, Rotalia sp., dan Gastropoda. Penarikan jejak belah dari contoh ignimbrit
menghasilkan umur 13 2 juta tahun dan K-Ar dari contoh lava menghasilkan umur 6,2
juta tahun (T.M. van Leeuwen, hubungan tertulis, 1978). Data paleontologi dan
radiometri tersebut menunjukkan umur Miosen Tengah sampai Miosen Akhir.
Satuan ini mempunyai tebal sekitar 2500 m dan merupakan fasies gunungapi
dari pada Formasi Camba yang berkembang baik di daerah sebelah utaranya (Lembar
Pangkajene dan Watampone bagian Barat); lapisannya kebanyakan terlipat lemah,
dengan kemiringan kurang dari 20o; menindih tak selaras batugamping Formasi Tonasa
(Temt) dan batuan yang lebih tua.
Tmpw FORMASI WALANAE: perselingan batupasir, konglomerat, dan tufa, dengan sisipan
batulanau, batulempung, batugamping, napal dan lignit; batupasir berbutir sedang
sampai kasar, umumnya gampingan dan agak kompak, berkomposisi sebagian andesit
dan sebagian lainnya banyak mengandung kuarsa; tufanya berkisar dari tufa breksi, tufa
lapili dan tufa kristal yang banyak mengandung biotit; konglomerat berkomponen
andesit, trakit dan basal, dengan ukuran -70 cm, rata-rata 10 cm.
Formasi ini terdapat di bagian timur, sebagai lanjutan dari lembah Sungai
Walanae di lembar Pangkajene dan Watampone bagian Barat sebelah utaranya. Di
daerah utara banyak mengandung tufa, di bagian tengah banyak mengandung batupasir,
dan di bagian selatan sampai di Pulau Selayar batuannya berjemari dengan batugamping
Anggota Selayar (Tmps); kebanyakan batuannya berlapis baik, terlipat lemah dengan
kemiringan antara 10o-20o, dan membentuk perbukitan dengan ketinggian rata-rata 250
m di atas muka laut; tebal formasi ini sekitar 2500 m. Di Pulau Selayar formasi ini
terutama terdiri dari lapisan-lapisan batupasir tufaan (10-65 cm) dengan sisipan napal;
batupasirnya mengandung kuarsa, biotit, amfibol dan piroksen.
Fosil dari Formasi Walanae yang dikenali oleh Purnamaningsih (hubungan
tertulis, 1975) pada contoh batuan La.457 dan La.468, terdiri dari: Globigerina sp.,

Globorotalia menardii (DORBIGNY), Gl. tumida (BRADY), Globoquadrina altispira


(CUSHMAN & JARVIS), Globigerinoides immaturus LEROY, Gl. obliquus BOLLI,
dan Orbulina universa DORBIGNY. Gabungan fosil tersebut menunjukkan umur
berkisar dari Miosen Akhir sampai Pliosen (N18-N20). Lagi pula ditemukan jenis
foraminifera yang lain, ganggang, dan koral dalam formasi ini.
Tmps, Anggota Selayar Formasi Walanae: batugamping pejal, batugamping
koral dan kalkarenit, dengan sisipan napal dan batupasir gampingan; umumnya putih,
sebagian coklat dan merah; setempat mengandung moluska. Di sebelah timur
Bulukumba dan di Pulau Selayar terlihat batugamping ini relatif lebih muda dari pada
batupasir Formasi Walanae, tetapi di beberapa tempat terlihat adanya hubungan
menjemari.
Fosil dari Anggota Selayar yang dikenali oleh Purnamaningsih (hubungan
tertulis, 1975) pada contoh batuan La.437, La.438 dan La.479, terdiri dari: Globigerina
nephentes TODD, Globorotalia acostaensis BLOW, Gl. dutertrei (DORBIGNY), Gl.
margaritae BOLLI & BERMUDEZ, Gl. menardii (DORBIGNY), Gl. scitula
(BRADY), Gl. tumida (BRADY), Globoquadrina altispira (CUSHMAN & JARVIS),
Gn. dehiscens (CHAPMANN-PARR-COLLINS), Globigerinoides extremus BOLLI &
BERMUDEZ, Gd. immaturus LEROY, Gd. obliquus BOLLI, Gd. ruber (DORBIGNY),
Gd. sacculifer (BRADY), Gd. trilobus (REUSS), Biorbulina bilobata (DORBIGNY),
Orbulina universa (DORBIGNY), Hastigerina aequilateralis (BRADY), Pulleniatina
primalis BANNER & BLOW, Sphaeroidinellopsis seminulina SCHWAGER, dan
Sphaeroidinella Subdehiscens BLOW. Gabungan fosil tersebut menunjukkan umur
berkisar dari Miosen Akhir sampai Pliosen Awal (N16-N19).
Tebal satuan diperkirakan sekitar 2000 m. Di Kepulauan Ara dan di ujung utara
Pulau Selayar ditemukan undak-undak pantai pada batugamping; paling sedikit ada 3
atau 4 undak pantai. Daerah batugamping ini membentuk perbukitan rendah dengan
ketinggian rata-rata 150 m, dan yang paling tinggi 400 m di Pulau Selayar.
Batuan Gunungapi
Tpv

BATUAN GUNUNGAPI TERPROPILITKAN: breksi, lava dan tufa, mengandung lebih


banyak tufa di bagian atasnya dan lebih banyak lava di bagian bawahnya, kebanyakan

bersifat andesit dan sebagian trakit; bersisipan serpih dan batugamping di bagian
atasnya; komponen breksi beraneka ukuran dari beberapa cm sampai lebih dari 50 cm,
tersemen oleh tufa yang kurang dari 50%; lava dan breksi berwarna kelabu tua sampai
kelabu kehijauan, sangat terbreksikan dan terpropilitkan, mengandung barik-barik
karbonat dan silikat.
Satuan ini tebalnya sekitar 400 m, ditindih tak selaras oleh batugamping Eosen
Formasi Tonasa, dan diterobos oleh batuan granodiorit gd; disebut Batuan Gunungapi
Langi oleh van Leeuwen (1974). Penarikan jejak belah sebuah contoh tufa dari bagian
bawah satuan menghasilkan umur 63 juta tahun atau Paleosen (T.M. van Leeuwen,
hubungan tertulis, 1978).
Tmkv BATUAN GUNUNGAPI KALIMISENG: lava dan breksi, dengan sisipan tufa,
batupasir, batulempung dan napal; kebanyakan bersusunan basal dan sebagian andesit,
kelabu tua hingga kelabu kehijauan, umumnya kasat mata, kebanyakan terubah,
amigdaloidal dengan mineral sekunder karbonat dan silikat; sebagian lavanya
menunjukkan struktur bantal.
Satuan batuan ini tersingkap di sepanjang daerah pegunungan sebelah timur
Lembah Walanae, sebagai lanjutan dari Tmkv yang tersingkap bagus di daerah utaranya
(Lembar Pangkajene dan Watampone bagian Barat); terpisahkan oleh jalur sesar dari
batuan sedimen dan karbonat Formasi Salo Kalupang (Eosen-Oligosen) di bagian
baratnya; diterobos oleh retas dan stok bersusunan basal, andesit dan diorit. Satuan
batuan ini diperkirakan berumur Miosen Awal; tebal satuan di lembar Pangkajene dan
Watampone bagian Barat tidak kurang dari 4250 m.
Tpbv BATUAN GUNUNGAPI BATURAPECINDAKO : lava dan breksi, dengan sisipan
sedikit tufa dan konglomerat, bersusunan basal, sebagian besar porfiri dengan fenokris
piroksen besar-besar sampai 1 cm dan sebagian kecil kasatmata, kelabu tua kehijauan
hingga hitam warnanya; lava sebagian berkekar maniang dan sebagian berkekar lapis,
pada umumnya breksi berkomponen kasar, dari 15 cm sampai 60 cm, terutama basal dan
sedikit andesit, dengan semen tufa berbutir kasar sampai lapili, banyak mengandung
pecahan piroksen.

Komplek terobosan diorite berupa stok dan retas di Baturape dan Cindako
diperkirakan merupakan bekas pusat erupsi (Tpbc); batuan di sekitarnya terubah kuat,
amygdaloidal dengan mineral sekunder zeolit dan kalsit; mineral galena di Baturape
kemungkinan berhubungan dengan terobosan diorite itu; daerah sekitar Baturape dan
Cindako batuannya didominasi oleh lava Tpbl. Satuan ini tidak kurang dari 1250 m
tebalnya dan berdasarkan posisi stratigrafinya kira-kira berumur Pliosen Akhir.
Qlv

BATUAN GUNUNGAPI LOMPOBATANG: aglomerat, lava, breksi, endapan lahar dan


tufa, membentuk kerucut gunungapi strato dengan puncak tertinggi 2950 m di atas muka
laut; batuannya sebagian besar berkomposisi andesit dan sebagian basal, lavanya ada
yang berlubang-lubang seperti yang disebelah barat Sinjai dan ada yang berlapis; lava
yang terdapat kira-kira 2 km sebelah utara Bantaeng berstruktur bantal; setempat
breksi dan tufanya mengandung banyak biotit.
Bentuk morfologi tubuh gunungapi masih jelas dapat dilihat pada potret udara;
(Qlvc) adalah pusat erupsi yang memperlihatkan bentuk kubah lava; bentuk kerucut
parasit memperlihatkan paling sedikit ada 2 perioda kegiatan erupsi, yaitu Qlvpl dan
Qlvp2. Di daerah sekitar pusat erupsi batuannya terutama terdiri dari lava dan aglomerat
(Qlv), dan di daerah yang agak jauh terdiri terutama dari breksi, endapan lahar dan tufa
(Qlvb). Berdasarkan posisi stratigrafinya diperkirakan batuan gunungapi ini berumur
Plistosen.

Batuan Terobosan
gd

GRANODIORIT : terobosan granodiorit, batuannya berwarna kelabu muda, di bawah


mikroskop terlihat adanya feldspar, kuarsa, biotit, sedikit piroksen dan hornblende,
dengan mineral pengiring zirkon, apatit dan magnetit; mengandung senolit bersifat
diorite, diterobos retas aplit, sebagian yang lebih bersifat diorite mengalami kaolinisasi.
Batuan terobosan ini tersingkap di sekitar Birru, menerobos batuan dari Formasi
Marada (Km) dan Batuan Gunungapi Terpropilitkan (Tpv), tetapi tidak ada kontak
dengan batugamping Formasi Tonasa (Temt). Penarikan jejak belah dari contoh
granodioritnya yang menghasilkan umur 19 2 juta tahun memberikan dugaan bahwa

penerobosan batuan ini berlangsung di kala Miosen Awal (T.M. van Leeuwen, hubungan
tertulis, 1987).
d

DIORIT : terobosan diorite, kebanyakan berupa stok dan sebagian retas atau sil;
singkapannya ditemukan di sebelah ditemukan di sebelah timur Maros, menerobos
batugamping Formasi Tonasa (Temt); umumnya berwarna kelabu, berteksur porfir,
dengan fenokris amfibol dan biotit, sebagian berkekar meniang.
Penearikan Kalium / Argon pada biotit dari aplit (lokasi 2) dan diorite (lokasi 3)
menunjukkan umur masing-masing 9,21 dan 7,74 juta tahun atau Miosen Akhir (J.D.
Obradovich hubungan tertulis, 1974).

t/a

TRAKIT DAN ANDESIT : terobosan trakit dan andesit berupa retas dan stok; trakit
berwarna putih, bertekstur porfir dengan fenokris sanidin sampai sepanjang 1 cm; andesit
berwarna kelabu tua, bertekstur porfir dengan fenokris amfibol dan biotit. Batuan ini
tersingkap di daerah sebelah baratdaya Sinjai, dan menerobos batuan gunungapi Formasi
Camba (Tmcv).
BASAL terobosan basal berupa retas, sil dan stok, bertekstur porfir dengan fenokris
piroksen kasar mencapai ukuran lebih dari 1 cm, berwarna kelabu tua kehitaman dan
kehijauan; sebagian dicirikan oleh struktur kekar meniang, beberapa di antaranya
mempunyai tekstur gabro. Terobosan basal di sekitar Jene Berang berupa kelompok retas
yang mempunyai arah kira-kira radier memusat ke Baturape dan Cindako; sedangkan
yang di sebelah utara Jeneponto berupa stok.
Semua terobosan basal menerobos batuan dari Formasi Camba (Tmc). Penarikan
Kalium/Argon pada batuan basal, dari lokasi 1 dan 4, dan gabro dari lokasi 5
menunjukkan umur masing-masing 7,5, 6,99 dan 7,36 juta tahun, atau Miosen Akhir
(Indonesi Gulf Oil Co., hubungan tertulis, 1972; J.D. Obradovich, hubungan tertulis,
1974). Ini menandakan bahwa kemungkinan besar penerobosan basal berlangsung sejak
Miosen Akhir sampai Pliosen Akhir.

Batuan Malihan

BATUAN MALIHAN KONTAK : batutanduk yang berkomposisi mineral-mineral


antofilit, kordiorit, epidotit, garnet, kuarsa, feldspar, muscovite dan karbonat; berwarna
kelabu kehijauan sampai hijau tua, tersingkap di daerah yang sempit ( 2 km 2), pada
kontak dengan granodiorit (gd) dan dibatasi oleh sesar dari batuan gunungapi Tmcv.
Batutanduk ini mengandung banyak lensa magnetit.

C. STRUKTUR GEOLOGI REGIONAL


Batuan tertua yang tersingkap di daerah ini adalah sedimen flysch Formasi Marada,
berumur Kapur Atas. Asosiasi batuannya memberikan petunjuk suatu endepan lereng bawah laut,
ketika kegiatan magma sudah mulai pada waktu itu. Kegiatan magma berkembang menjadi suatu
gunungapi pada waktu kira-kira 63 juta tahun, dan menghasilkan Batuan Gunungapi
Terpropilitkan.
Lembah Walanae di Lembar Pangkajene dan Watampone bagian Barat sebelah utaranya
menerus ke Lembar Ujung Pandang, Benteng dan Sinjai, melalui Sinjai di pesisir timur. Lembah
ini memisahkan batuan berumur Eosen, yaitu sedimen klastika Formasi Salo Kalupang di
sebelah timur dari sedimen karbonat Formasi Tonasa di sebelah baratnya. Rupanya pada Kala
Eosen daerah sebelah barat Lembah Walanae merupakan suatu paparan laut dangkal, dan daerah
sebelah timurnya merupakan suatu cekungan sedimentasi dekat daratan.
Paparan laut dangkal Eosen meluas hamper ke seluruh daerah lembar peta, yang buktinya
ditunjukkan oleh sebaran Formasi Tonasa di sebelah barat Birru, sebelah timur Maros dan di
sekitar Takalar. Endapan paparan berkembang selama Eosen sampai Miosen Tengah.
Sedimentasi klastika di sebelah timur Lembah Walanae rupanya berhenti pada Akhir Oligosen,
dan diikuti oleh kegiatan gunungapi yang menghasilkan Formasi Kalamiseng.
Akhir daripada kegiatan gunungapi Miosen Awal diikuti oleh tektonik yang
menyebabkan terjadinya permulaan terban Walanae, yang kemudian menjadi cekungan di mana
Formasi walanae terbentuk. Peristiwa ini kemungkinan besar berlangsung sejak awal Miosen
Tengah, dan menurun perlahan selama sedimentasi sampai kala Pliosen.
Menurunnya cekungan Walanae dibarengi oleh kegiatan gunungapi yang terjadi secara
luas di sebelah baratnya dan mungkin secara local di sebelah timurnya. Peristiwa ini terjadi
selama Miosen Tengah sampai Pliosen. Semula gunungapinya terjadi di bawah laut, dan

kemungkinan sebagian muncul di permukaan pada kala Pliosen. Kegiatan gunungapi selama
Miosen menghasilkan Formasi Camba, dan selama Pliosen menghasilkan Batuan Gunungapi
Baturape-Cindako. Kelompok retas basal berbentuk berbentuk radier memusat ke G. Cindako
dan G. Baturape, terjadinya gerakan mengkubah pada kala Pliosen.
Kegiatan gunungapi di daerah ini masih berlangsung sampai kala Plistosen,
menghasilkan Batuan Gunungapi Lompobattang. Berhentinya kegiatan magma pada akhir
Plistosen, diikuti oleh suatu tektonik yang menghasilkan sesar-sesar en echelon (merencong)
yang melalui G. Lompobattang berarah utara-selatan. Sesar-sesar en echelon mungkin sebagai
akibat dari suatu gerakan mendatar dekstral daripada batuan alas pesisir barat Lembah Walanae.
Sejak kala Pliosen pesisir barat ujung lengan Sulawesi Selatan ini merupakan dataran stabil, yang
pada kala Holosen hanya terjadi endapan aluvium dan rawa-rawa.