Anda di halaman 1dari 4

ATEROSKLEROSIS

Aterosklerosis adalah penyakit akibat respon peradangan pada pembuluh darah, bersifat
progresif, yang ditandai dengan deposit massa kolagen, kolesterol, produk buangan sel dan
kalsium, disertai proliferasi miosit yang menimbulkan penebalan dan pengerasan dinding
arteri, sehingga mengakibatkan kekakuan dan kerapuhan arteri (Stary, 2000). Pembuluh darah
yang sering terkena aterosklerosis diantaranya arteri koroner, aorta, dan arteri serebrum
(Corwin, 2005).

Mekanisme pembentukan aterosklerosis diawali dengan tingginya kadar kolesterol


dalam darah yang dibawa oleh lipoprotein berdensitas rendah (LDL). LDL kemudian
memasukkan kolesterol ke dalam sel epitel pembuluh darah. Kolesterol ini dianggap sebagai
benda asing sehingga menarik monosit masuk ke dalam epitel lumen. Monosit itu kemudian
akan berubah menjadi makrofag yang akan menghasilkan senyawa superoksida yang dapat
mengoksidasi LDL. LDL yang teroksidasi ini mengeluarkan kolesterol yang kemudian
difagosit oleh makrofag menjadi sel busa. Kolesterol yang tinggi akan terus menyebabkan sel
busa terakumulasi semakin banyak pada sel epitel pembuluh darah. Sel busa ini mengganggu
elastisitas pembuluh darah dan menyebabkan kekakuan. Kekakuan ini menyebabkan retak
dan luka pada pembuluh darah luka ini menyebabkan aktifnya sistem pembekuan darah
sehingga terbentuk trombus. Trombus yang terbentuk pada dinding pembuluh darah
menyebabkan permukaan lumen menjadi tidak rata (membentuk tonjolan). Trombus akan
menyebabkan ion kalsium dalam aliran darah tertimbun membentuk ateroma yang
menyebabkan penyempitan lumen pembuluh darah. Trombus ini dapat terlepas dan terbawa
hingga ke kapiler dan menyebabkan penyumbatan pembuluh darah kapiler (Corwin, 2005).

Komplikasi pada sistem kardiovaskuler berkaitan erat dengan terjadinya aterosklerosis.


Pada tahap awal umumnya terjadi hipertensi, kemudian dapat juga terjadi iskemia, angina
pektoris, kardiomegali, jantung koroner serta terjadinya aliran darah balik ke paru-paru.
HIPERTENSI
Definisi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik
lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali
pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang.
Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat
menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan
otak (menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang
memadai. Banyak pasien hipertensi dengan tekanan darah tidak terkontrol dan jumlahnya
terus meningkat. Oleh karena itu, partisipasi semua pihak, baik dokter dari berbagai bidang
peminatan hipertensi, pemerintah, swasta maupun masyarakat diperlukan agar hipertensi
dapat dikendalikan (PERKI, 2015).
Menurut American Heart Association (AHA), penduduk Amerika yang berusia diatas
20 tahun menderita hipertensi telah mencapai angka hingga 74,5 juta jiwa, namun hampir
sekitar 90-95% kasus tidak diketahui penyebabnya. Hipertensi merupakan silent killer
dimana gejala dapat bervariasi pada masing-masing individu dan hampir sama dengan gejala
penyakit lainnya (AHA, 2010).
Tekanan darah bergantung pada kecepatan denyut jantung, volume sekuncup, dan
tahanan perifer, maka peningkatan salah satu dari tiga faktor tersebut yang tidak
dikompensasi akan menyebabkan tekanan darah tinggi. Peningkatan frekuensi denyut jantung
dapat terjadi karena perangsangan yang abnormal saraf atau hormon pada nodus SA.
Peningkatan kecepatan denyut jantung yang berlangsung kronik sering menyertai keadaan
hipertiroidisme. Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama dapat terjadi apabila
terdapat peningkatan volume plasma yang berkepanjangan, akibat gangguan penanganan
garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam yang berlebihan. Peningkatan pelepasan renin
atau aldosteron atau penurunan aliran darah ke ginjal dapat mengubah penanganan air dan
mineral oleh ginjal. Penambahan volume darah akan meningkatkan volume diastolik akhir
sehingga terjadi peningkatan volume sekuncup dan tekanan darah. Selain itu pada penderita
DM diamana darah menjadi kental akibat kadar gula yang tinggi akan menambah
kontraktilitas otot jantung sehingga tekanan darah meningkat. Pada retensi elektrolit
viskositas darah akan meningkat (Gunawan, 2001).

Perubahaan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh darah perifer bertanggung
jawab pada perubahaan tekanan darah yang terjadi pada lanjut usia. Perubahaan tersebut
meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot
polos pembuluh darah yang menyebabkan penurunan distensi dan daya regang pembuluh
darah. Akibat hal tersebut, aorta dan arteri besar mengalami penurunan kemampuan dalam
mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) sehingga
mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer (Corwin, 2005).
Peningkatan tahanan perifer yang berlangsung lama dapat terjadi pada peningkatan
rangsangan saraf atau hormon pada arteriol atau responsivitas berlebihan dari arteriol
terhadap perangsangan normal. Peningkatan tahanan perifer juga disebabkan oleh kekakuan
dinding pembuluh darah karena plak yang menenpel pada pembuluh darah dan menurunkan
laju alir darah sehingga mencetuskan faktor lokal yang menyebabkan vasokonstriksi sehingga
tahanan perifer meningkat dan terjadi tekanan darah tinggi. Hipertensi dapat ditimbulkan
akibat aterosklerosis karena pembentukan trombus, jaringan parut, dan proliferasi sel otot
polos yang menyebabkan lumen arteri berkurang serta resistensi terhadap aliran darah yang
melintasi arteri meningkat. Ventrikel kiri harus memompa secara lebih kuat untuk
menghasilkan cukup gaya yang mendorong darah melewati sistem vaskular yang menyempit
sehingga dapat timbul hipertensi. Hipertensi juga dapat dipengaruhi oleh viskositas darah
yang meningkat (Corwin, 2005).
Pada pemeriksaan fisik, tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah yang
tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti perdarahan, eksudat,
penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus berat dapat ditemukan edema pupil (edema
pada diskus optikus). Menurut Price, gejala hipertensi antara lain sakit kepala bagian
belakang, kaku kuduk, sulit tidur, gelisah, kepala pusing, dada berdebar-debar, lemas, sesak
nafas, berkeringat dan pusing (Price, 2005).
Gejala-gejala penyakit yang biasa terjadi baik pada penderita hipertensi maupun pada
seseorang dengan tekanan darah yang normal hipertensi yaitu sakit kepala, gelisah, jantung
berdebar, perdarahan hidung, sulit tidur, sesak nafas, cepat marah, telinga berdenging, tekuk
terasa berat, berdebar dan sering kencing di malam hari. Gejala akibat komplikasi hipertensi
yang pernah dijumpai meliputi gangguan penglihatan, saraf, jantung, fungsi ginjal dan
gangguan serebral (otak) yang mengakibatkan kejang dan pendarahan pembuluh darah otak
yang mengakibatkan kelumpuhan dan gangguan kesadaran hingga koma. Sebagian besar
gejala klinis timbul setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun adalah nyeri kepala saat

terjaga, kadang kadang disertai mual dan muntah yang disebabkan peningkatan tekanan darah
intrakranial (Corwin, 2005)

American Heart Association, 2010, Heart Disease and Stroke Statistics_2010 Update: A
Report

From

the

American

Heart

Association,

Available

from:

http://circ.ahajournals.org/cgi/content/full/121/7/e46, Diakses tanggal 24 Mei 2016.


Corwin, E., 2005, Buku Saku Patofisiologi, EGC, Jakarta.
Gunawan, L., 2001, Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi, Kanisius, Yogyakarta.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, 2015, Pedoman Tatalaksana
Hipertensi Pada Penyakit Kardiovaskular, PP PERKI, Jakarta.
Price, S., dan Wilson, L., 2005, Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 6,
EGC, Jakarta.
Stary, HC., et al., 2000, A Definition of Initial, Fatty Streak, and Intermediate Lesions of
Atherosclerosis, A report from the committee on vascular lesions of the council on
atherosclerosis AHA, http://www.americanheart.org, Diakses tanggal 24 Mei 2016.