Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN GLIKOSIDA SAPONIN, TRITERPENOID


DAN STEROID
(Ekstrak Sapindus rarak DC)

Kelompok 4 / FARMASI E

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

I.

Judul

Kegiatan : Identifikasi Senyawa Golongan Glikosida Saponin, Triterpenoid,dan

Steroid (Ekstrak Sapindus rarak DC)


II.

Tujuan Kegiatan :

Agar mahasiswa mampu melakukan identifikasi senyawa golongan

glikosida saponin, triterpenoid, dan steroid dalam tanaman.


III.

Tinjauan Pustaka :
a. Tanaman Sapindus rarak
Divisi
: Spermatophyta
Subdivisi
: Angiospermae
Kelas
: Dycotyledonae
Bangsa
: Sapindales

Suku
: Sapindaceae
Marga
: Sapindus
Spesies
: Sapindus rarak
Sapindus rarak merupakan jenis tumbuhan yang dapat tumbuh dengan baik pada
semua hampirjenis tanah dan dalam keadaan iklim. Salah satu kandungan yang terdapat
dalam tanaman ini adalah saponin, saponin dapat menghasilkan busa yang khusus
digunakan sebagai pencuci. Pada bagian bijinya di uji secara kualitatif menghasilkan
adanya reaksi yang dapat digunakan sebagai deterjen. Dan pada bagian buahnya terdapat
senyawa triterpen alkaloid, steroid, antrakinon, fenol, tannin, flavonoid, dan minyak
atsiri.
Tumbuhan Rerak ( Sapindus rarak DC) adalah tumbuhan yang dikenal karna
kegunaan bijinya yang dipakai sebagai

detergen tradisional , tanamana ini berasal dari

asia tenggara dan dapat tumbuh baik dalam iklim tropis diindonesia. Tumbuhan lerak
berbentuk pohon rata-rata memliki tinggi 10-42 meter , buahnya berbentuk bulat dengan
diameter 2- 2 cm buah berbentuk bulat, tekturnya sedikit berkerut dan bermunyak. Buah
yang muda berwarna hijau dan akan berubah menjadi coklat kehitaman ketika telah tua.
Daging buahnya banyak mengandung air , mempunyai rasa pahit dan termasuk alkaloid
beracun jika masuk dalam pembuluh darah. Satu buah memiliki satu biji berkulit keras
berwana hitam mengkilat dengan diamer 1 cm.
Biji lerak mengandung saponin yang beracun juga dapat menghasilkan busa dan
berfungsi sebagai bahan pencuci kain batik. Kandungan racun pada biji lerak (sapotoksin)
dapat digunakan sebagai insektisida. Kulit buah lerak dapat digunakan untuk mengurangi
jerawat dan kudis. Kulit buah, biji, kulit batang dan daun Sapindus lerak mengandung
saponin dan flavonoida, kulit buahnya juga mengandung alkaloid dan polifenol,
sedangkan kulit batang dan daunnya mengandung tanin.
Presentase senyawa aktif pada lerak :

No.

Senyawa Aktif

Presentase Senyawa
Aktif

1
2
3
4
b. Senyawa

Saponin
Alkaloid
Ateroid
Triterpen

12%
1%
0,036%
0,029%

Glikosida merupakan salah satu kandungan aktif tanaman yang termasuk dalam
kelompok metabolit sekunder. Glikosida adalah senyawa yang terdiri atas gabungan dua
bagian senyawa, yaitu gula dan bukan gula. Bagian gula biasa disebut glikon sedangkan
bagian bukan gula disebut sebagai aglikon atau genin. Apabila glikon dan aglikon saling
terikat maka senyawa ini disebut sebagai glikosida.
1. Glikosida Saponin
Glikosida saponin adalah glikosida yang aglikonnya berupa sapogenin. Glikosida
saponin bisa berupa saponin steroid maupun saponin triterpenoid. Saponin adalah
segolongan senyawa glikosida yang mempunyai struktur steroid dan mempunyai
sifat-sifat khas. Saponin ada pada seluruh tanaman dengan konsentrasi tinggi pada
bagian-bagian tertentu, dan dipengaruhi oleh varietas tanaman dan tahap
pertumbuhan. Fungsi dalam tumbuh-tumbuhan tidak diketahui mungkin sebagai
penyimpan karbohidrat atau merupakan weste product dan metabolism tumbuhtumbuhan kemungkinan lain adalah sebagai pelindung terhadap serangan serangga.

Sifat-sifat Saponin :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Mempunyai rasa pahit


Dalam larutan air membentuk busa stabil
Menghemolisa eritrosit
Merupakan racun kuat untuk ikan dan amfibi
Membentuk persenyawaan dengan kolesterol dan hidroksiteroid lainya
Sulit untuk dimurnikan dan diidentifikasi
Berat molekul relative tinggi dan analisi hanya menghasilkan formula empiris
yang mendekati

Toksisitasnya mungkin karena dapat merendahkan tegangan permukaan (Surface


tenstn) dengan hidrolisis lengkap akan dihasilkan sapogenin (aglikon) dan
karbohidrat (heksosa, pentose, dan Saccharic acid) (Kim Nio,1989 Saponin bila
terhidrolisis akan menghasilkan aglikon yang disebut sapogenin. Ini. Saponin yang
berpotensi keras atau beracun seringkali disebut sebagai sapotoksin. Struktur kimiawi
Berdasarkan struktur aglikonnya (sapogeninnya), saponin dapat dibedakan menjadi 2
macam yaitu

a. Tipe steroid
Tersusun atas inti steroid (C27) dengan molekul karbohidrat. Steroid saponin
dihidrolisis menghasilkan satu aglikon yang dikenal sebagai sapogenin. Saponin
jenis ini memiliki aglikon berupa steroid yang di peroleh dari metabolisme
sekunder tumbuhan. Jembatan ini juga sering disebut dengan glikosida jantung,
hal ini disebabkan karena memiliki efek kuat terhadap jantung.

b. Tipe triterpenoid
Tersusun atas inti triterpenoid dengan molekul karbohidrat. Dihidrolisis
menghasilkan suatu aglikon yang disebut sapogenin ini merupakan suatu senyawa
yang mudah dikristalkan lewat asetilasi sehingga dapat dimurnikan. Tipe saponin
ini adalah turunan-amyrine.

2. Glikosida Steroid
Glikosida steroid adalah glikosida yang aglikonnya berupa steroid. Glikosida
steroid disebut juga glikosida jantung karena memiliki daya kerja kuat dan spesifik
terhadap otot jantung. Struktur Kimiawi Secara kimiawi bentuk struktur glikosida
jantung sangat mirip dengan asam empedu yaitu bagian gula yang menempel pada
posisi tiga dari inti steroid dan bagian aglikonnya berupa steroid yang terdiri dari dua
tipe yaitu tipe kardenolida dan tipe bufadienolida. Tipe kardenolida merupakan
steroid yang mengandung atom C-23 dengan rantai samping terdiri dari lingkaran
lakton 5-anggota yang tidak jenuh dan alfa-beta menempel pada atom C nomor 17

bentuk beta. Sementara tipe bufadienolida berupa homolog dari kardenolida dengan
atom C-24 dan mempunyai rantai samping lingkaran keton 6-anggota tidak jenuh
ganda yang menempel pada atom C nomor 17.
3. Glikosida triterpenoid
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan
isopren, dimana kerangka karbonnya dibangun oleh dua atau lebih satuan C5 tersebut.
Senyawa terpenoid terdapat bebas dalam jaringan tanaman, tetapi banyak diantaranya
yang terdapat sebagai alkohol, aldehid (Harbone,1987), glikosida dan ester asam
aromatik (Sastrohamidjojo, 1996). Struktur Kimia Isopren Triterpenoid merupakan
senyawa yang tidak berwarna, berbentuk kristal, bertitik leleh tinggi dan optik aktif,
yang umumnya sukar dicirikan karena tidak mempunyai kereaktifan kimia.
Kebanyakan senyawa ini memberikan warna hijau- biru dengan pereaksi
Liebermann-Burchard (asam asetat anhidrid-asam sulfat pekat) (Harborne, 1987).
c. Cara Identifikasi
Steroid adalah triterpen yang kerangka dasarnya system cincin siklopentana.
Untuk pendeteksian senyawa steroid dengan KLT cukup dengan melarutkannya
dengan etanol lau bercak nodanya di semprot dengan penampak noda anisaldehid
sulfat dan di panaskan. Apabila positif maka noda berwarna merah atau ungu.
Untuk uji saponin dapat dilakukan dengan uji busa sedangkan uji Lieberman
burchard untuk uji steroid atau terpenoid.
Berikut ini adalah cara menghitung Rf
Rf =

IV.

jarak yang ditempu h solute


jarak yang ditempu h solvent

Alat dan Bahan


Alat
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Tabung reaksi
Corong
Kapas basah
Penangas air
Penotol mikro
Lempeng KLT
Gelas ukur
Pipet tetes

(Harborne 1996)

i. Chamber
j. Erlenmeyer

V.

Bahan
a.
Air suling
b.
H2SO4 pekat
c.
Kiesel gel GF 254
d.
Anisaldehida asam sulfat
e.
Ekstrak Sapindus rarak DC
f.
Etanol
g.
Asam asetat anhidrat
h.
HCl 2 N
i.
n-heksana-etil asetat (4:1)
Prosedur Kerja
a. Uji Buih
1. Ekstrak sebanyak 0.2 gram dimasukkan tabung reaksi, kemudian ditambah air suling
10 ml, dikocok kuat-kuat selama kira-kira 30 detik.
2. Tes Buih positif mengandung saponin bila terjadi buih yang stabil Selama lebih dari
30 menit dengan tinggi 3 cm diatas permukaan cairan.
b. Reaksi Warna
1. Preparasi sampel :
0.5 gram ekstrak di larutkan dalam 15 ml etanol, lalu dibagi menjadi tiga bagian
masing-masing 5 ml, disebut sebagai larutan IIA, IIB, dan IIC
2. Uji Liebermann-Burchard
1. Larutan IIA digunakan sebagai blanko, larutan IIB sebanyak 5 ml ditambah 3
tetes asam asetat anhidrat dan 1 tetes H2SO4 pekat, amati perubahan warna yang
terjadi. Kemudian kocok perlahan dan diamati terjadinya perubahan warna.
2. Terjadinya perubahan warna hijau biru menunjukkan adanya saponin steroid,
warna merah menunjukkan adanya saponin triterpenoid dan warna kuning muda
menunjukkan adanya saponin triterpenoid / steroid jenuh.
3. Uji Salkowski
1. larutan IIA digunakan sebagai blanko, larutan IIC sebanyak 5 ml ditambah 1-2 ml
H2SO4 pekat melalui dinding tabung reaksi.
2. Adanya steroid tak jenuh ditandai dengan timbulnya cincin warna merah.
c. Kromatografi Lapis Tipis
a. Identifikasi Sapogenin steraoid / triterpenoid
1. Ekstrak sebanyak 0.5 gram ditambah 5 ml HCl 2N, dididihkan dan tutup dengan
corong berisi kapas basah selama 50 menit.untuk menghidrolisis saponin.
2. Setelah dingin, tambahkan ammonia sampai basa, kemudian ekstraksi dengan 4-5
ml n-heksana sebanyak 2x, lalu uapkan sampai tinggal 0.5 ml, totolkan pada plat
KLT.
Fase diam

: Kiesel Gel 254

Fase gerak

: n-heksana-etil asetat (4:1)

Penampak noda
: - Anisal dehida asam sulfat (dengan pemanasan)
3. Adanya sapogennin ditunjukkan dengan terjadinya warna merah ungu (ungu)
untuk anesaldehida asam sulfat.
b. Identifikasi terpenoid / steroid bebas KLT
1. Sedikit ekstrak ditambah beberapa tetes etano, diaduk sampai larut, totolkan pada
fase diam.
2. Uji kromatografi lapis tipis ini menggunakan :
Fase diam
: Kiesel Gel 254
Fase gerak
: n-heksana-etil asetat (4:1)
Penampak Noda
: - Anisal dehida asam sulfat (dengan pemanasan)
3. Adanya tepenoid / steroid ditunjukkan dengan terjadinya warna merah ungu atau
ungu.

VI.

Skema Kerja
Uji Buih

Dikocok kuat sampai


dengan 30 detik
Ekstrak sebanyak 0,2 g

Dimasukkan
kedalam tabung
reaksi dan
ditambah air suling
10 ml

Nb : Tes buih positif mengandung saponin bila terjadi buih yang stabil selama lebih dari 30 menit dengan
tinggi 3 cm diatas permukaan cairan.

Reaksi Warna
1.) Preparasi Sampel
Dibagi menjadi tiga bagian
masing-masing 5ml
Ekstrak sebanyak 0,5 g

Dilarutkan dalam
15 ml etanol

II A
Blanko

II
C

II
B

2.) Uji Liebermann-Burchard

Larutan II B

Ditambahka
n 3 tetes as.
Asetat
anhidrat

Ditambahka
n 1 tetes
H2SO4
pekat

Diamati perubahan yang


terjadi. Kemudian dikocok
perlahan dan diamati perubahan
warna yang terjadi lagi

3.) Uji Salkowski

Larutan II C

Larutan II C sebanyak 5
ml ditambahkan 1-2 ml
H2SO4 pekat melalui
dinding tabung reaksi

Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


1.) Identifikasi Sapogenin Steroid/Triterpenoid

Ekstrak
sebanyak 0,5

Dimasukkan
kedalam tabung
reaksi

Setelah dingin ditambahkan


ammonia sampai basa

Ditambahkan 5 ml
HCl 2 N

Didihkan diatas penangas


air dan telah ditutup dengan
corong berisi kapas basah
selama 50 menit

Dipipet
fase
kloroform
(cairan
yang
berada
Ekstraksi
dengan
5 ml
n-heksana
sebanyak
Ditotolkan
pada
plat KLT
diatas)
dan
diuapkan
di
lemari
asam,
lalu
Dilakukan
eluasi
dan dilihatpelan-pelan)
pada Sinar
UV
2x (disertai
pengocokan
diuapkan sampai
tinggal
254 nmdengan
dan 365
nm 0,5 ml

2.) Identifikasi terpenoid/ steroid bebas secara KLT


Sedikit ekstrak ditambahkan dengan nheksan -1 ml dilarutkan dalam vial.
Apabila belum larut harus di ultrasonik

Ditotolkan pada fase diam


(Plat KLT)

VII.

Hasil
a.

Pada saat preparasi sampel sebelum ditambahkan air suling

b.

pada saat setelah ditambah 10ml air suling terdapat buih

yang stabil selama 30 menit dengan tinggi 3cm diatas


permukaan cairan

c.

0,5gram ekstrak dilarutkan dalam 15ml etanol, lalu dibagi

menjadi tiga bagian masing-masing 5ml, disebut sebagai


larutan II A, II B, dan II C. larutan II A bertinda sebagai blanko.

d.

II
C

II
B

II
A

II
C

II
A

Setelah ditambahkan 3 tetes asam asetat anhidrat dan 1 tetes

H2SO4 pekat, terdapat endapan merah pada larutan, tetapi


setelah dikocok warna berubah hamper seperti blanko (kuning
muda)

II
B

II
A

e.

Proses hidrolisis

Didihkan dan tutup dengan corong yang berisi kapas basah

f.

penotolan pada plat KLT dilihat pada UV 254nm

g.

penampak visual noda setelah dilakukan penyemprotan

dengan penampak noda anisaldehid asam sulfat dan dipanaskan


atau dibakar

h.

penampakan noda setelah eluasi disemprot dengan

anisaldehid asam sulfat dan dipanaskan lalu diamati dengan UV


365nm

i.

hasil akhir untuk perhitungan Rf, terdapat 5 noda

VIII. Pembahasan
Praktikum kali ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya senyawa golongan glikosida
saponin, triterpenoid dan steroid pada ekstrak Sapindus rarak DC atau disebut lerak/klerek
dalam bahasa indonesia. Terdapat 3 jenis pengujian untuk mengidentifikasi senyawasenyawa yang ada dalam ekstrak klerek.
Pada praktikum kali ini

kelompok kami melakukan identifikasi senyawa golongan

glikosida saponin, triterpenoid, dan steroid dalam tanaman. Glikosida adalah salah satu
kandungan aktif tanaman yang termasuk dalam kelompok metabolit sekunder. Glikosida
adalah senyawa yang terdiri atas gabungan dua bagian senyawa, yaitu gula dan bukan gula.
Glikosida saponin adalah glikosida yang aglikonnya berupa sapogenin. Glikosida saponin
bisa berupa saponin steroid maupun saponin triterpenoid. Saponin adalah segolongan
senyawa glikosida yang mempunyai struktur steroid dan mempunyai sifat-sifat khas, salah
satunya adalah adanya busa. Untuk uji saponin dilakukan uji buih dengan cara Ekstrak
sebanyak 0.2 gram dimasukkan tabung reaksi, kemudian ditambah air suling 10 ml, dikocok
kuat-kuat selama kira-kira 30 detik. Tes Buih positif mengandung saponin bila terjadi buih
yang stabil selama lebih dari 30 menit dengan tinggi 3 cm diatas permukaan cairan. Pada
kelompok kami didapatkan setinggi 5 cm buih selama 30 menit.
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isopren,
dimana kerangka karbonnya dibangun oleh dua atau lebih satuan C5 tersebut. Senyawa
terpenoid terdapat bebas dalam jaringan tanaman, tetapi banyak diantaranya yang terdapat

sebagai alkohol, aldehid, glikosida dan ester asam aromatic. Sedangakn Glikosida steroid
adalah glikosida yang aglikonnya berupa steroid. Glikosida steroid disebut juga glikosida
jantung karena memiliki daya kerja kuat dan spesifik terhadap otot jantung.
Triterpenoid dan steroid dapat di uji dengan test Lieberman- burchard dan Uji Salkowski.
Mula-mula 0.5 gram ekstrak di larutkan dalam 15 ml etanol, lalu dibagi menjadi tiga bagian
masing-masing 5 ml, disebut sebagai larutan IIA, IIB, dan IIC. Kemudian Larutan IIA
digunakan sebagai blanko, larutan IIb sebanyak 5 ml ditambah 3 tetes asam asetat anhidrat
dan 1 tetes H2SO4 pekat, amati perubahan warna yang terjadi. Kemudian kocok perlahan dan
diamati terjadinya perubahan warna.

Pada kelompok kami terdapat warna merah

menunjukkan adanya saponin triterpenoid ( uji Lieberman- burchard). Yang kedua, larutan
IIA digunakan sebagai blanko, larutan IIC sebanyak 5 ml ditambah 1-2 ml H 2SO4 pekat
melalui dinding tabung reaksi. Adanya steroid tak jenuh ditandai dengan timbulnya cincin
warna merah (Uji Salkowski ). Untuk uji menggunakan KLT dilakukan 2 kali uji. Pertama
Identifikasi Sapogenin steraoid / triterpenoid. Mula-mula ekstrak sebanyak 0.5 gram
ditambah 5 ml HCl 2N, dididihkan dan tutup dengan corong berisi kapas basah selama 50
menit.untuk menghidrolisis saponin. Setelah dingin, tambahkan ammonia sampai basa,
kemudian ekstraksi dengan 4-5 ml n-heksana sebanyak 2x, ambil filtrate lalu uapkan sampai
tinggal 0.5 ml, totolkan pada plat KLT. Adanya sapogennin ditunjukkan dengan terjadinya
warna merah ungu (ungu) untuk anesaldehida asam sulfat. Dan didapatkan nilai Rf
Noda 1 : Rf =

2,8
7

= 0,4cm

Noda 2 : Rf =

3,2
7

= 0.46cm

Noda 3 : Rf =

3,9
7

= 0.56cm

Noda 4 : Rf =

5,6
7

= 0.8cm

Noda 5 : Rf =

6,5
7

= 0.93cm

Yang kedua, Identifikasi terpenoid / steroid bebas KLT. Sedikit ekstrak ditambah beberpa
tetes etano, diaduk sampai larut, totolkan pada fase diam. Adanya tepenoid / steroid
ditunjukkan dengan terjadinya warna merah ungu atau ungu. Dan didapatkan nilai Rf yaitu
0,76cm.
I.

Kesimpulan
1. Dari uji buih didapatkan hasil positif pada ekstrak Sapindus rarak mengandung saponin
yang dibuktikan dengan adanya buih yang permanen selama 30 menit setinggi 5 cm
2. Dari uji reaksi warna. Larutan IIB yang di uji dengan uji Lieberman-burchard
menunjukkan adanya endapan merah ungu yang membuktikan adanya golongan saponin
triterpenoid namun setelah pengocokan warna menjadi kuning muda sama seperti blanko.
3. Dari uji reaksi warna. Larutan IIc yang diuji dengan uji salwoski menunjukkan adanya
cincin merah kecoklatan yang membuktikan adanyaa steroid tak jenuh.
4. Identifikasi menggunakan KLT
a. Pada sapogenin steroid / triterpenoid ditunjukkan adanya noda kuning dan noda ungu
b. Pada steroid bebas dan triterpenoid dengan KLT positif menunjukkan adanya noda
berwarna ungu.
5. Uji KLT I Rf :
Noda 1 = 0,4cm
Noda 2 = 0.46cm
Noda 3 = 0.56cm
Noda 4 = 0.8cm
Noda 5 = 0.93cm
Uji KLT II Rf : 0,76cm