Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Kegiatan imunisasi di indonesia dimulai di Pulau Jawa dengan vaksin
cacar dimulai pada tahun 1956. Pada tahun 1972, Indonesia telah berhasil
membasmi penyakit cacar. Selanjutnya mulai dikembangkan vaksinasi antara
cacar dan BCG. Pelaksanaa vaksinasi ini ditetapkan secara nasional pada
tahun 1973. Bulan April 1974, Indonesia resmi di nyatakan bebas cacar oleh
WHO. Pada tahun (1972) juga dilakukan studi pencegahan terhadap Tetanus
Neonatorium dengan memberikan suntikan Tetanus Toxoid (TT) pada wanita
dewasa di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tahun 1976 mulai dikembangkan
imunisasi DPT di beberapa kecamatan yang di dahului oleh pulau Bangka di
Sumatera

Selatan,

Tahun

1977

ditentukan

sebagai

fase

persiapan.

Pengembangan Program Imunisasi (PPI). Tahun 1980 program imunisasi rutin


terus

dikembangkan

dengan

memberikan

tujuh

jenis

antigen

yaitu

BCG,DPT,Polio,Campak,Hepatitis B,TT dan DT.


Program imunisasi merupakan upaya pencegahan penyakit yang sudah
tertera dalam undang-undang kesehatan No. 23 Tahun 1992, Paradigma
Sehat dilaksanakan melalui beberapa kegiatan antara lain pemberantasan
penyakit. Salah satu upaya pemberantasan penyakit menular adalah upaya
pengebalan (imunisasi).
Sasaran dan tujuan umum dari program imunisasi ini adalah turunnya
angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat Penyakit yang Dapat Dicegah
Dengan Imunisasi (PD3I). dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
upaya imunisasi dapat semakin efektif, bermutu, dan efisien.
Upaya imunisasi diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1956. Dengan
upaya imunisasi terbukti bahwa penyakit cacar telah terbasmi dan Indonesia
dinyatakan bebas dari penyakit cacar sejak tahun 1974. Mulai tahun 1977,
upaya imunisasi diperluas menjadi program pengembangan imunisasi dalam
rangka pencegahan penularan terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan
Imunisasi (PD3I) yaitu Tuberculosis, Difteri, Pertusis, Campak, Polio, Tetanus,
serta Hepatitis B.

Di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam Kota Solok, penatalaksanaan


program imunisasi sudah sangat efektif, hanya sedikit sekali balita yang tidak
di imunisasi hingga usia 9 bulan. Tetapi pemberian imunisasi pentavalen belum
begitu optimal, itu dikarenakan imunisasi ini tergolong baru, yaitu baru di
gunakan di Indonesia pertengahan 2014, sehingga masyarakat masih banyak
yang awam dan belum mengetahui imunisasi jenis ini.
1.2.

Tujuan
1. Menemukan penyebab utama rendahnya cakupan imunisasi pentavalen di
wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam.
2. Menemukan upaya pemecahan masalah dan alternatif pemecahan masalah
cakupan imunisasi pentavalen di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam
dapat mencapai target yang ditetapkan Puskesmas Tanah Garam.
3. Menyusun Plan of Action dalam upaya peningkatan imunisasi pentavalen di
wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam.

1.3.

Manfaat
1. Plan of Action diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pihak
Puskesmas dalam melaksanakan upaya peningkatan cakupan imunisasi
pentavalen di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam.
2. Sebagai bahan pembelajaran dan menambah pengetahuan penulis dalam
menganalisa permasalahan dan memberikan solusi pada permasalahan yang
ditemui di Puskesmas Tanah Garam.

1.4.

Ruang Lingkup
Seluruh balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Garam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Imunisasi

Imunisasi merupakan cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang


secara aktif suatu Ag, sehingga bila ia terpapar pada Ag yang serupa tidak
terjadi penyakit. Upaya imunisasi dilakukan dengan pemberian vaksin:

Vaksin adalah mikroorganisme yang diubah sedemikian rupa sehingga


patogenitas atau toksisitasnya hilang tapi masih mengandung sifat

antigenitas.
Antigen dapat merangsang pembentukan antibody dan sistem imun
dalam tubuh.

Pembagian Imunitas (kekebalan) :

Kekebalan aktif
o Kekebalan dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpapar pada Ag
seperti pada imunisasi atau terpapar secara ilmiah.
o Berlangsung lama.
Kekebalan pasif
o Kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh, bukan oleh individu
itu sendiri, misalnya kekebalan bayi yang diperoleh dari
ibunya, setelag pemberian Ig serum.
o Tidak berlangsung lama.

2.2. Respon Imun


Respon tubuh terhadap Ag, untuk mengeliminasi Ag tersebut.

Primer
o Respon imun yang terjadi pada paparan pertama kali dengan
Ag
o Ab yang terbentuk IgM dengan titer yang rendah
Sekunder
o Respon imun yang terjadi pada paparan setelah paparan
pertama kalinya dengan Ag yang serupa.
o Anti bodi yang terbentuk IgG dengan titer yang tinggi sel
memori mengalami transformasi, proliferasi, deferensiasi.

Keberhasilan imunisasi tergantung faktor status penjamu :

Adanya antibody spesifik pada penjamu yang mengakibatkan


keberhasilan vaksinasi, mis :
o Campak pada bayi

o Kolustrum ASI, yang dapat menyebabkan menurunnya IgA

Polio.
Maturasi gen imunologik, dimana pada neonatus fungsi makrofag
menurun, dimana kadar komplemen mengaktifasi opsonin menjadi
rendah.

Pembentukan Antibodi spesifik terhadap Ag kurang, hasil vaksin menurun


sehingga ditunda hingga umur 2 bulan.

Cakupan imunisasi semaksimal mungkin,


Frekuensi penyakit meningkat menyebabkan dampak pada neonatus

berat sehingga imunisasi dapat diberikan pada neonatus,


Status imunologik menurun menyebabkan respon terhadap vaksin

menjadi kurang.
Faktor genetik, dimana secara genetik respon imun manusia terhadap
Ag tertentu baik, cukup, atau rendah. Jadi keberhasilan vaksinasi tidak

100 %
Kualitas dan kuantitas vaksin..

2.3. Jadwal Imunisasi Pada Anak

Imunisasi Rutin, pada bayi


o Hepatitis B, Polio, BCG, DPT, Campak pada anak sekolah :
DT/Td, Campak BIAS (Bulan imunisasi anak sekolah).
Diharuskan pada bulan agustus (campak) dan november (DT).

Imunisasi tambahan
o HIb Meningitis
o Pneumokokus Pneumonia
o Rotavirus Diare
o Influenze Influenza
o Varilrix Varisela
o MMR Measles, Mumps, Rubella
o Typhim Typhus
o Havrix Hepatitis A
o HPV Kanker Servix

Imunisasi ulangan
o Sering tidak diperhatikan
o Meningkatkan titer Ab yang mulai turun.

1. Imunisasi Hepatitis B
Memberikan kekebalan terhadap infeksi virus hepatitis B.
Vaksin berisi HbsAg murni
Diberikan sedini mungkin setelah lahir oleh karena Indonesia daerah

endemis Hepatitis B
Suntikan secara Intra Muskular didaerah paha, dosis 0,5 ml
penyimpanan vaksin pada suhu 2-8 oC
bayi lahir dari ibu HbsAg (+) diberikan immunoglobulin hepatitis B 12

jam setelah lahir ditambah dengan imunisasi Hepatitis B


Dosis kedua 1 bulan berikutnya.
Dosis ketiga 6 bulan berikutnya
Imunisasi ulangan 5 tahun kemudian
Kadar pencegahan anti HbsAg > 10 mikrogram/ ml
Produksi vaksin hepatitis B di Indonesia, mulai program imunisasi pada
th 1997.

2. Imunisasi Polio
Memberikan kekebalan terhadap polio
Vaksin dari virus polio yang dilemahkan
Vaksin berbentuk cairan dengan kemasan 1 cc atau 2 cc dalam flacon,

pipet
Pemberian secara oral sebanyak 2 tetes (0,1 ml)
Vaksin polio diberikan 4 kali, interval 4-6 minggu.
Imunisasi ulangan, 1 tahun berikutnya, SD kelas I, VI
Anak diare gangguan penyerapan vaksin.
Ada 2 jenis vaksin
o IPV Salk : virus dimatikan
o OPV Sabin : virus hidup dilemahkan
Penyimpanan pada suhu 2-8 oC

3. Imunisasi BCG
Vaksin BCG tidak dapat mencegah seseorang terhindar dari infeksi
M.tuberculosa 100 % tapi dapat mencegah penyebaran penyakit lebih

lanjut.
Berasal dari bakteri hidup yang dilemahkan
Ditemukan oleh Calmette Guerin

Diberikan optimal pada usia 2-3 bulan


Disuntikkan Intra kutan didaerah insertion M. Deltoid kanan dengan

dosis 0,05 ml, anak > 1 th 0,1 ml.


Imunisasi ulang tidak perlu
Vaksin BCG berbentuk bubuk kuning harus dilarutkan dengan 1cc

NaCl 0,9%
Setelah dilarutkan harus segera dipakai dalam waktu 3 jam, sisanya

dibuang
Penyimpanan pada suhu < 5oC terhindar dari sinar matahari
Cara penyuntikkan BCG :
1. Bersihkan lengan dengan kapas air
2. Letakkan jarum hampir sejajar dengan lengan anak dengan ujung
jarum yang berlubang menghadap keatas.
3. Suntikkan 0,05 ml vaksin intrakutan
Merasakan tahanan
Benjolan kulit yang pucat dengan pori-pori yang jelas diameter

4-6 mm.
Reaksi sesudah imunisasi BCG
1. Reaksi normal Lokal
2 minggu indurasi, eritema kemudian menjadi pustule
3-4 minggu pustula pecah menjadi ulkus (tidak perlu
pengobatan)
8- 12 minggu ulkus menjadi scar diameter 3-7 mm
2. Reaksi pada kelenjar
Merupakan respon selular pertahanan tubuh
Kadang terjadi di kelenjar axilla dan supraklavikula
Timbul 2-6 bulan setelah imunisasi
Kelenjar berkonsistensi padat, tidak nyeri, demam (-)
Akan mengecil 1-3 bulan kemudian tanpa pengobatan
Komplikasi
1. Abses ditempat suntikan
Abses bersifat tenang (cold abses) tidak perlu terapi
Oleh karena suntikan subkutan
Jika Abses matang lakukan aspirasi
2. Limfadenitis supurativa
Oleh karena suntikan subkutan atau dosis tinggi
Terjadi 2-6 bulan sesudah imunisasi
Bila telah matang aspirasi
Terapi tuberkulostatika mempercepat pengecilan.

4. Imunisasi DPT
Terdiri dari :
Merupakan vaksin cair, jika didiamkan sedikit berkabut endapan putih

didasarnya
Shake test untuk melihat vaksin sudah membeku, vaksin akan rusak

dengan pembekuan
Diberikan pada bayi > 2 bulan oleh karena reaktogenitas pertusis pada

bayi kecil
Dosis 0,5 ml secara intra muscular dibagian luar paha oleh karena

ototnya paling besar pada bayi


Imunisasi dasar 3x, dengan interval 4-6 minggu, ulangan usia 18 bulan,

6 tahun
Vaksin mengandung alumunium fosfat jika diberikan subkutan

menyebabkan iritasi lokal, peradangan dan nekrosis setempat.


Reaksi pasca imunisasi :
o Demam, nyeri pada tempat suntikan 1-2 hari diberikan analgetik
antipiretik
o Bila ada reaksi berlebihan pasca imunisasi demam >40 oC kejang,
syok imunisasi selanjutnya DT atau DPaT atau diberi antipiretik
+ antikonvulsan oral

5. Imunisasi Hib
Untuk mencegah infeksi SSP oleh karena Hemofilus Influenza tipe B
Diberikan pada umur 2-4-6 bulan ulangan 15-18 bulan, pada anak >1

tahun. Diberi 1 kali


Vaksin dalam bentuk beku kering dan 0,5 ml pelarut dalam semprit
Dosis 0,5 ml diberikan intra muscular
Disimpan pada suhu 2-8 0C
Di asia belum diberikan rutin
Imunisasi rutin diberikan di Negara Eropa, Amerika, Australia.

6. Imunisasi Campak
Vaksin dari virus hidup yang dilemahkan
Berbentuk beku kering, dilarutkan dalam 5cc pelarut aquades

Diberikan pada bayi umur 9 bulan, oleh karena masih ada antibody bayi

yang diperoleh dari ibu.


Dosis 0,5 ml, diberikan subkutan di lengan kiri
Disimpan pada suhu 2-8 0C
Efek samping demam, ruam setelah 7-12 hari pasca imunisasi
Vaksin yang telah dilarutkan hanya tahan 8 jam pada suhu 2-8 0 C
Jika ada wabah, imunisasi bisa diberikan usia 6 bulan, diulangi 6 bulan
kemudian.

7. Imunisasi Hepatitis A
Imunisasi diberikan pada anakumur > 2 tahun
Imunisasi dasar 2x dengan interval 6 bulan
Dosis vaksin 0,5 ml secara intra muscular dip aha atau daerah deltoid
Sediaan vaksin : Havrix, Avaxim. Vaqta
8. Imunisasi Pentavalen
1) Definisi
Vaksin Pentavalen (DPT+ HB + HiB) adalah vaksin DPT-HB
ditambah HiB.
2) Penyakit yang Dapat Dicegah Pentavalen
Difteri
Tetanus
Hepatitis
Radang Otak ( Meningitis )
Batuk rekjan/ batuk 100 hari
3) Cara Pemberian
Disuntikkan secara intramuskuler di anterolateral paha atas pada bayi

dan lengan kananpada anak usia 1,5 tahun.


Tidak dianjurkan pada :
o Bagian bokong anak karena dapat menyebabkan luka saraf
siatik.
o Pemberian intrakutan dapat meningkatkan reaksi lokal.
Satu dosis adalah 0,5 ml

4) Waktu Pemberian
Pentavalen tidak boleh digunakan pada bayi baru lahir.

Pemberian pentavalen merupakan bagian dari imunisasi dasar pada


bayi. Diberikan pada bayi usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan dan pada anak

usia 1,5 th
Vaksin ini aman dan efektif diberikan bersamaan dengan vaksin BCG,

campak, polio (OPV atau IPV ) dan suplemen vitamin A


Jika vaksin ini diberikan bersamaan dengan vaksin lain, harus
disuntikkan pada lokasi yang berlainan.

5) Efek Samping
Jenis dan angka kejadian reaksi simpang yang berat tidak berbeda
secara bermakna dengan vaksin DPT, hepatitis B dan Hib yang diberikan
secara terpisah.
6) Kontraindikasi
Kontraindikasi absolute dosis berikutnya :
Hipersensitif terhadap komponen vaksin, atau reaksi berat
terhadap dosis vaksin kombinasi sebelumnya atau bentuk bentuk reaksi

sejenis lainnya.
Kontraindikasi dosis pertama DPT
Kejang atau gejala kelainan otak pada bayi baru lahir atau

kelainan saraf serius lainnya.


7) Peringatan dan Perhatian
Vial vaksin harus dikocok sebelum digunakan untuk menghomogen

suspense
Gunakan alat suntik steril untuk setiap kali penyuntikan
Vaksin ini tidak boleh dicampur dalam satu vial atau syringe dengan

vaksin lain
Sebelum vaksin digunakan, informasi pada gambar Vaccine Vial
Monitor (VVM) harus diikuti

8) Penyimpanan
Pentavalen harus disimpan dan di transportasikan pada suhu antara

+20C sampai dengan +80C.


Vaksin DPT HB HiB tidak boleh dibekukan
Vaksin dari kemasan vial dosis ganda yang sudah diambil satu dosis
ataulebih dalam satu sesi imunisasi, dapat digunakanuntuk sesi
imunisasi, dapat digunakan untuk sesi imunisasi berikutnya selama
maksimal sampai 4 minggu, jika kondisi berikut terpenuhi :

o Tidak melewati batas kadaluarsa


o Vaksin disimpan dalam kondisi rantai dingin yang tepat
o Tutup vial tidak terendam air
o Semua dosis diambil secara aseptis
o VVM tidak memcapai discard point
9) Kemasan
1 dus @ 10 vial @ 2,5 ml (5 dosis)
10) Keuntungan Pentavalen
Lima perlindungan satu kemasan
Mudah digunakan karena vaksin HiB sudah tergabung dalam bentuk

cairan.
Efisiensi biaya hingga 66,6% karena menghemat penggunaan jarum

suntik (dari 12 menjadi 4 jarum suntik saja)


Menurukan angka drop out.

2.4. Cold Chain (Rantai Dingin)

Vaksin harus disimpan dalam keadaan dingin mulai dari pabrik sampai

ke sasaran.
Simpan vaksin dilemari es pada suhu yang tepat 2-8 0C
Pintu lemari harus selalu tertutup, terkunci
Simpan thermometer untuk memonitori lemari es
Taruh vaksin polio, campak pad rak I dekat freezer
Untuk membawa vaksin ke posyandi harus menggunakan vaccine

carrier / termos yang berisi es


Kerusakan Vaksin, vaksin sensitif beku
Table 1. vaksin sensitif beku
Vaksin
Hepatitis B, DPT-HB
DPT,DT,TT
DPT, DPT-HB,DT

Pada Suhu
-0,50C
-50C s/d -100C
Beberapa0C diatas suhu
udara

Hepatitis B dan TT

luar

Dapat Bertahan selama


Max jam
Max 1,5 2 jam
14 hari

(ambient

temperature < 34 0C)


Beberapa 0C diatas suhu 30 hari
udara

luar

(ambient

temperature < 34 0C)

Vaksin

Vaksin sensitif Panas


Pada Suhu

Dapat Bertahan Selama

10

Beberapa 0C diatas suhu 2 hari

Polio

udara
Campak dan BCG

luar

(ambient

temperature < 34 0C)


Beberapa 0C diatas suhu 7 hari
udara

luar

(ambient

temperature < 34 0C)

Cara pemeriksaan vaksin


Pemeriksaan vaksin dengan menggunakan uji kocok ( shake
test ) dilakukan untuk meyakinkan apakah vaksin tersangka beku
masih layak digunakan atau tidak.

Penanganan vaksin rusak


Vaksin yang disebut rusak adalah :
1. Vaksin yang sudah menunjukkan indicator VVM pada tingkat
C dan D berarti sudah rusak dan tudak dapat digunakan lagi
2. Vaksin yang sudah lewat tanggal kadaluarsa
3. Vaksin yang beku
4. Vaksin yang pecah
Vaksin yang rusak dikeluarkan dari dari lemari es, kemudian
dilaporkan kembali kepada atasan petugas. Jika sedikit dapat
dimusnahkan sendiri oleh puskesmas, tetapi bila banyak dapat
dikumpulkan ke Dinas kabupaten / kota dengan dibuat berita acara
pemusnahan.

Penanganan vaksin sisa


Sisa vaksin yang telah dibuka pada pelayanan posyandu tidak boleh
digunakan lagi. Sedangkan pelayanan imunisasi statis ( di Puskesmas,
Poliklinik) sisa vaksin dapat dipergunakan lagi dengan ketentuan
sebagai berikut :
1. Vaksin tidak melewati tanggal kadaluarsa
2. Tetap disimpan pada suhu +20C 80C
3. Kemasan tidak pernah tercampur atau terendam dengan air
4. VVM tidak menunjukkan indikasi terkena paparan panas yang
merusak vaksin
5. Pada label ditulis tanggal pada saat vial pertama kali dipakai/
dibuka

11

6. Vaksin DPT, DT, TT, Hepatitis B, dan DPT-HB dapat


digunakan kembali hingga minggu sejak vial vaksin dibuka
7. Vaksin polio dapat digunakan kembali hingga 3 minggu sejak
vial dibuka
8. Vaksin campak karena tidak mengandung zat pengawet hanya
boleh digunakan tidak lebih dari 8 jam sejak dilarutkan,
sedangkan vaksin BCG hanya boleh digunakan 3 jam setelah
dilarutkan
2.4. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)
1. Definisi KIPI
KIPI adalah semua kejadian sakit atau kematian yang terjadi dalam
masa 1 bulan setelah imunisasi.
Pada kejadian tertentu, lama pengamatan KIPI dapat mencapai masa
42 hari (arthritis kronik pasca vaksinasi rubella ) atau sampai enam bulan
(infeksi virus campak vaccine strain pada resipien non imunodefisiensi atau
resipien imunodefisiensi pasca vaksinasi polio)
2. Etiologi KIPI
Tidak semua kejadian KIPI disebabkan oleh imunisasi karena
sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi. Oleh
karena itu untuk menentukan KIPI, diperlukan keterangan mengenai :
a. Besar frekuensi kejadian KIPI pada pemberian vaksin tertentu
b. Sifat kelainan tersebut lokal atau sistemik
c. Apakah penyebab dapat dipastikan, diduga, atau tidak terbukti
d. Apakah dapat disimpulkan bahwa KIPI berhubungan dengan
vaksin, kesalahan produksi atau kesalahan prosedur.
3. Klasifikasi KIPI (WHO, 1999)
a. Reaksi Vaksin
Gajala KIPI yang disebabkan induksi vaksin umumnya sudah
dapat diprediksi terlebih dahulu karena karena merupakan reaksi
simpang vaksin dan secara klinis biasanya ringan. Walaupun
demikian dapat saja terjadi gejala klinis hebat seperti reaksi
anafilaksis sistemik dengan resiko kematian.
b. Kesalahan Program (Programmatic Error)

12

Sebagian besar kasus KIPI berhubungan dengan masalah


program dan teknik pelaksanaan imunisasi yang meliputi kesalahan
program penyimpanan, pengelolaan, dan tata laksana pemberian
vaksin.
Kesalahan tersebut dapat terjadi pada berbagai tingkatan
prosedur imunisasi, misalnya : dosis antigen (terlalu banyak), lokasi
dan cara penyuntikan, sterilisasi syringe dan jarum, jarum bekas
pakai, tindakan aseptic dan antiseptic, kontaminasi vaksin dan alat
suntik, penyimpanan vaksin, pemakaian sisa vaksin, jenis dan
jumlah pelarut, tidak memperhatikan petunjuk produsen (petunjuk
pemakaian, indikasi, kontra, dll)
Kecurigaan terhadap tatalaksana perlu diperhatikan apabila
terdapat kecenderungan kasus KIPI berulang pada petugas yang
sama
c. Kebetulan (coincidental)
Kejadian terjadi setelah imunisasi tapi tidak disebabkan oleh
vaksin. Indikator faktor kebetulan ditemukannya kejadian yang
sama disaat bersamaan pada kelompok populasi setempat dengan
karakter serupa tetap tidak mendapat imunisasi.
d. Penyebab tidak diketahui
Bila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum dapat
dikelompokan kedalam salah satu penyebab maka untuk sementara
dimasukkan kedalam kelompok ini sambil menunggu informasi
lebih lanjut.
Biasanya dengan kelengkapan informasi tersebut akan dapat
ditentukan kelompokkan penyebab KIPI
4. Gejala Klinis KIPI
Reaksi (kecuali anafilaksis) tidak terjadi bila anak sudah kebal
( kurang lebih 90% anak yang menerima dosis kedua) anak umur diatas 6
tahun jarang mengalami kejang demam.
Resiko VAPP (Vaccine associated paralitic poliomyelitis) lebih
tinggipada penerima dosis pertama ( 2 per 1,4-3,4 juta dosis), sedangkan
resiko penerima dosis-dosis selanjutnya 1 per 6,7 juta per dosis.

13

Kejang umum diawali dengan demam, frekuensinya tergantung pada


riwayat kejang sebelumnya, riwayat dalam keluarga serta umur, dengan
resiko lebih tinggi pada bayi-bayidiatas umur 4 bulan.
Mengingat tidak ada satupun jenis vaksin yang aman tanpa efek
samping maka apabila seorang anak telah mendapatkan imunisasi perlu
diobservasi beberapa saat, sahingga dipastikan tidak terjadi KIPI (reaksi
cepat)
Berapa lama observasi sebenarnya sulit ditentukan, tetapi pada
umumnya setelah pemberian setiap jenis imunisasi harus dilakukan
observasi selama 15 menit untuk menghindarkan keracunan maka gejala
klinis yang dianggap sebagai KIPI dibatasi dalam jangka waktu tertentu
timbulnya gejala klinis.

BAB III
HASIL KEGIATAN

3.1 Gambaran Umum Puskesmas Tanah Garam


3.1.1 Profil Puskesmas Tanah Garam
Puskesmas Tanah Garam berdiri tahun 1975, terletak di kelurahan VI Suku,
kecamatan Lubuk Sikarah. Rencana pembangunan awal Puskesmas Tanah Garam
adalah di Kelurahan Tanah Garam, namun adanya tanah hibah dari masyarakat
kelurahan VI Suku, maka dibangunlah Puskesmas di Kelurahan VI Suku, tetapi

14

nama tetap Puskesmas Tanah Garam. Puskesmas Tanah Garam dibangun dengan
luas tanah 1010 m2.
Topografi kota Solok, yaitu sungai Batang Lembang, sungai Batang Gawan
dan sungai Batang Air Binguang. Suhu udara berkisar 26,1C sampai 28,9C.
Dilihat dari jenis tanah 21,76 tanah di kota Solok merupakan tanah sawah dan
sisanya 78,24% berupa tanah kering.
Hasil registrasi penduduk Kota Solok tahun 2008 tercetat sebanyak 59.172
jiwa, terdiri atas 28.989 laki-laki dan 30.173 perempuan, dengan sex ratio sebesar
0,96. Ini berarti setiap 1.000 perempuan berbanding 960 laki-laki. Dengan luas
wilayah 5.764 km2, kepadatan penduduk Kota Solok adalah sebanyak 1.026
jiwa/km2. Kecamatan Tanjung Harapan adalah kecamatan dengan kepadatan
penduduk tertinggi yaitu sebesar 1.223 jiwa/km2.
Batas wilayah Puskesmas Tanah Garam adalah Utara Kecamatan Nagari
Tanjuang Bingkuang, Aripan dan Kuncir Kabupaten Solok.
Tingkat pendidikan yang paling besar adalah universitas 9,68%, SLTA
33,64%, SLTP 18,94% dan tamat SD/MI 15,78%. Masih ada 16,68% penduduk
tidak/belum tamat SD.
Sementara iyu, penduduk kota Solok dihuni oleh suku Minang, Jawa Batak,
tetapi yang lebih dominan adalah suku Minang. Upacara-upacara keagamaan di
kota Solok masih ada, seperti acara tolak bala, adat dalam kematian, dan upacara
adat perkawinan Solok.
3.1.2 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Garam

15

Gambar 3.1: Peta Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Garam


3.1.3 Visi dan Misi Puskesmas
a. Visi
Terwujudnya Puskesmas Tanah Garam yang informatif dengan
pelayanan pada masyarakat secara profesional dan bermutu dibidang
pelayanan kesehatan dasar dalam rangka menuju Puskesmas terbaik di
Indonesia tahun 2020.

b. Misi
1. Memperlancar kegiatan proses pelayanan kesehatan dasar yang
bermutu bagi perorangan (Private Goods) serta pelayanan kesehatan
masyarakat (Public Goods).
2. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses layanan kesehatan
dasar di Puskesmas melalui perbaikan yang berkesinambungan.
3. Memastikan akurasi data pasien dan pelanggan melalui sistem
pendokumentasian yang divalidasi dan abdating data.
4. Menghasilkan produk-produk layanan kesehatan dasar yang
berinovasi.
5. Menyosialisasikan tentang kegiatan layanan kesehatan prima dan
kepuasan pelanggan.

16

6. Meningkatkan pemberdayaan potensi sumber daya organisasi.


7. Merencanakan dan melaksanakan setiap program dengan
bersumber pada evidence base (data berdasarkan fakta).
1.1.4 Sarana dan Prasarana serta Keadaan Tenaga
1. Fasilitas Puskesmas
a. Gedung Puskesmas
Satu buah gedung Puskesmas Tanah Garam yang terletak di
Kelurahan VI Suku, Kecamatan Lubuk Sikarah Kota Solok.
Data sarana dan prasarana kesehatan di Puskesmas Tanah Garam
tahun 2015 :
- Rekam Medik
- Poli Umum
- Poli Gigi
- UGD 24 jam
- Laboratorium Klinik
- Farmasi
- Klinik Gizi
- Klinik Sanitasi
- Klinik TB, VCT, dan IMS
- Poli Ibu
- Poli Anak
- Poli KB
- Poli Imunisasi
- Klinik PKPR
- Klinik Tumbuh Kembang
- Rawatan Ibu dan Anak
- Rawatan Dewasa
b. Puskesmas Pembantu dan Poskeskel
Puskesmas Tanah Garam mempunyai lima Puskesmas Pembantu
dan tiga Poskeskel, yaitu :
1) Pustu Payo
2) Pustu Bandar Pandung
3) Pustu Gurun Bagan
4) Pustu Sawah Piai
5) Pustu Bancah
6) Poskeskel Tanah Garam
7) Poskeskel Gurun Bagan
8) Poskeskel Sinapa Piliang
c. Transportasi Puskesmas Tanah Garam
Transportasi Puskesmas Tanah Garam berupa :
1) Kendaraan roda 4 : 2 unit
2) Kendaraan roda 2 : 21 unit
d. Keadaan Tenaga Puskesmas

17

Tabel 3.1 : SDM Puskesmas Tanah Garam


NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26

JENIS TENAGA
S2 Kesehatan Masyarakat
Dokter Umum
Dokter Gigi
Sarjana Kesehatan Masyarakat
S1 Keperawatan
Dokter Spesialis Anak
D3 Bidan
D3 Kesling
D3 Gizi
D3 Labor
D3 Gigi
D3 Apikes
D3 Refraksi
D3 Fisiotherapi
D3 Atem
D1 Kebidanan
Perawat SPK
Perawat Gigi
Asisten Apoteker
Analis Labor
SMF
D3 Perawat
Sopir
Petugas Jaga Malam
Kebersihan
Radiologi
JUMLAH

JUMLAH
1
5
1
5
2
1
32
2
5
2
1
1
1
2
1
5
2
1
3
1
2
33
5
5
5
1
126

KETERANGAN

2. Sarana Pendukung di Luar Puskesmas


a. Sarana Pendidikan
Sarjana pendidikan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tanah
Garam adalah PAUD, 4 taman kanak-kanak, 2 SLB Autis, 13 Sekolah
Dasar, 3 SLTP/MTsN, 4 SMU/SMK, dan 1 Akper.
b. Sarana Kesehatan
Tabel 3.2 : Data Sarana dan Prasarana Kesehatan di Wilayah Kerja
Puskesmas Tanah Garam
No
1

JENIS SARANA
Poliklinik Swasta

JUMLAH
1

18

2
3
4

Bidan Praktek Swasta


Dokter Prakter Swasta
Apotik

3. Sasaran
a. Data Kependudukan
Jumlah penduduk
Jumlah Bulin
Jumlah Buteki
Jumlah Bayi
Jumlah Anak Balita
Jumlah PUS
Jumlah Bumil
Jumlah WUS
Jumlah Anak Remaja Sekolah
b. Peran serta Masyarakat
Jumlah Posyandu
Jumlah Kader Posyandu
Jumlah TOGA
Jumlah Posyandu Lansia
Jumlah Kelompok Dana Sehat
Jumlah UKK
Jumlah KK Miskin
3.2 Gambaran

Umum

10
3
1

: 21.942 orang
: 415 orang
: 396 orang
: 4.383 orang
: 1.206 orang
: 3.628 orang
: 458 orang
: 5.114 orang
: 3.444 orang
: 25 buah
: 92 orang
: 3 kelurahan
: 10 buah
: - buah
: - buah
: 644 KK

Program-program

Kesehatan

Masyarakat

di

Puskesmas Tanah Garam


Dalam pelaksanaan program pelayanan kesehatan masyarakat di Puskesmas
Tanah Garam terdapat 2 program Puskesmas yaitu program wajib dan program
pengembangan, dimana pencapaian target pada masing-masing program wajib di
tahun 2015 adalah :
1. Promosi Kesehatan
Kegiatan :
1. Promosi kesehatan di dalam gedung Puskesmas Tanah Garam.
2. Promosi kesehatan di luar gedung, berupa :
a. Usaha Kesehatan Sekolah
- Skrining murid kelas 1 SD/SLTP/SLTA
- Pembinaan sekolah sehat
- Pelatihan dokter kecil/kader kesehatan/PKPR
b. Pembinaan kelurahan model PHBS dan KTR (kawasan tanpa
c.
d.
e.
f.

rokok)
Poskeskel (Pos Kesehatan Kelurahan)
Penyuluhan Posyandu
Pelaksanaan kegiatan kelurahan siaga
Saka Bakti Husada

19

Tabel 3.3 : Hasil Kegiatan Penyuluhan Promosi Kesehatan


Januari-November 2015
No.
1
2

Kegiatan
Penyuluhan di dalam gedung
UKS :
- Pembinaan
UKS
-

Pencapaian
8 kali
serta 27 kali

pelatihan dokter kecil


Skrining siswa baru masuk

(100%) 1 kali dalam

setahun
Penyuluhan di Posyandu
36 kali
Penyuluhan Keliling
10 kali
Penyuluhan di Kantor Camat Lubuk
2 Kali

3
4
5

Sikarah
2. KIA dan KB
Kegiatan Program Kesehatan Ibu :
a. Kelas Ibu Hamil
b. Pelayanan ANC
c. Kunjungan Bumil Resti
d. Kunjungan Nifas
e. Pemantauan Stiker P4K/ANC Berkualitas
f. Otopsi verbal
g. Pembinaan BPJS
h. Pembinaan GSI
Kegiatan Program Kesehatan Anak
a. DDTK
b. Kelas Ibu Balita
c. Kunjungan rumah balita bermasalah
d. LBI
Kegiatan Keluarga Berencana (KB)
a. Pelayanan dan konseling
b. Penanganan komplikasi ringan
Tabel 3.4 : Hasil Kegiatan Program KIA Januari-November 2015
No Program
1

Ibu

Pencapaian

Kegiatan
K1
K4
Persalinan

(%)
91%
68%
oleh

kesehatan
Kunjungan Nifas

tenaga

71%
56%

Target

Target

Sept

2015

(%)
75%
71%
67,5%

(%)
100%
95%

67,5%

90%

90%

20

Deteksi resiko tinggi ibu


hamil

oleh

tenaga 35%

kesehatan
Deteksi resiko tinggi ibu
hamil oleh masyarakat
Kematian ibu hamil atau
2

bersalin atau nifas


Jumlah KN 1
Jumlah KN Lengkap
DDTK 4 kali/tahun
Pelayanan bayi
DDTK 2 kali/tahun
Yankes anak balita
Jumlah kematian neonatus
Jumlah kematian bayi
Jumlah kematian balita

Anak

60%

1%
64,3%
62,2%
60%
61,1%
60%
70,7%
1

80%
60%
67,5%
67,5%
67,5%
65%
63%
62%
-

80%
90%
90%
90%
87%
85%
83%
-

Tabel 3.5 : Hasil Kegiatan PUS KB Januari-November 2015


Target
No
1
2
3
4
5
6
7

Kegiatan
Jumlah PUS
Peserta KB Baru
Peserta KB Aktif
DO
KB paska salin
PUS Gakin
KB aktif gakin

Pencapaian

November

6,3%
70,7%
7,4%
0,3%
22,1%

(%)
52,5%
52,5%

Target 2015
(%)
3670
70%
70%

3. Perbaikan Gizi Masyarakat


Kegiatan :
a. Penimbangan masal dan pemberian vitamin A (bulan Februari dan
b.
c.
d.
e.

Agustus)
Pengukuran status gizi murid TK/PAUD
Pengukuran status gizi siswa SLTP dan SLTA
Pemantauan status gizi sekolah yang mendapat PMT-AS
Kunjungan rumah balita gizi kurang dan gizi buruk serta Bumil

f.
g.
h.
i.

KEK
Pemantauan Posyandu
Pemberian PMT pemulihan
TFC
Pengambilan sampel garam RT untuk survey GAKI

21

j.
k.
l.
m.

Kelas gizi
Pemberian vitamin A
Pemberian tablet Fe
Pemantauan pertumbuhan balita

Tabel 3.6 : Hasil Kegiatan Tahunan Perbaikan Gizi Masyarakat


No.

Indikator Kerja

1
2
3

Pencapaian (%)
2012
2013
Persentase balita dengan gizi buruk
0,7
0,6
Persentase balita dengan gizi kurang
5,8
4,6
Persentase balita gizi buruk yang 100
100

2014
0,4
3,8
100

1,9%
16 %
100%

mendapatkan perawatan
Persentasi bayi usia

mendapatkan ASI ekslusif


Cakupan
rumah
tangga

0-6

Target

bulan 74,18

88,7

84,3

80%

yang 90,1

91,1

100

90%

menkonsumsi garam beryodium


Persentase anak umur 6-59 bulan 88,5

88,7

87,9

85%

yang mendapatkan kapsul vitamin A


Persentase ibu hamil mendapatkan Fe 95

95,9

98

85%

8
9

90 Tablet
Persentase survailance gizi
100
Persentase balita ditimbang berat 67,7

100
57,6

100
59,5

100%
85%

10

badannya (D/S)
Persentase penyediaan bufferstok MP- 100

100

100

100%

ASI untuk daerah bencana

Tabel 3.7 : Hasil Kegiatan Pelayanan Gizi Januari-November


Tahun 2015
No.

Indikator Kerja

Pencapaian Target

1
2
3

(%)
Persentase balita dengan gizi buruk
0,83
Persentase balita dengan gizi kurang
3,07
Persentase balita gizi buruk yang 100

per

Tahun 2015
1,8%
15%
100%

mendapatkan perawatan

22

Persentasi

bayi

usia

0-6

mendapatkan ASI ekslusif


Cakupan
rumah
tangga

mengonsumsi garam beryodium


Persentase anak umur 6-59 bulan 83,8%

87%

yang mendapatkan kapsul vitamin A


Persentase ibu hamil mendapatkan Fe 74%

89%

8
9

90 Tablet
Persentase survailance gizi
100%
Persentase balita ditimbang berat 52,8%

100%
90%

10

badannya (D/S)
Presentase
balita

90%

naik

bulan 74,99

85%

yang 95,56%

95%

berat 61,3%

badannya(N/D)

4. Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit


Kegiatan :
Tabel 3.7 : Program P2M
No
1

Program
Imunisasi

P2M

TB

Kegiatan
a. Pelayanan imunisasi
b. BIAS
c. TT WUS
d. Sweeping
e. Pelacakan KIPI
a. Sosialisasi P2PM dan Surveilans
b. Survey dan pemetaan wilayah TB
c. Penyegaran kader TB
d. Penyuluhan HIV/AIDS, IMS dan
TB untuk pemuda
e. PTM
f. Posbindu
a. Pelacakan kasus kontak

23

4
5

Rabies
DBD

6
7
8

Pneumonia
Kusta
HIV/AIDS

b. PMO
Pelacakan kasus
a. Sosialisasi DBD
b. Pemantauan jentik
c. PE
Penemuan dan penanganan kasus
Penemuan dan penanganan kasus
dan Penjaringan

IMS

Hasil kegiatan :
Tabel 3.8 : Hasil Kegiatan P2M Februari-November 2015
Program

P2M

Kegiatan
Penemuan Kasus
Penemuan kasus BTA (+)
3 orang
triwulan II
Angka bebas jentik (ABJ)
Penemuan kasus pneumonia 28 orang
681 orang
Pengobatan diare
20 orang
Penanganan kasus DBD
Penemuan kasus kusta
2373 orang
Penemuan kasus ISPA
36 orang
Rabies : kasus gigitan
15 orang
Pemberian VAR/SAR
IVA : diperiksa hasil (+)
262
HIV/AIDS : kunjungan
AFP

Program
Imunisasi

HIV (+)
Kegiatan
Imunisasi lengkap
HB 0
BCG
Polio 1
DPT + HB + HiB 1
Polio 2
DPT + Hb + HiB 2
Polio 3
DPT + HB + HiB 3

Target
9 orang
95%
212 orang
682 orang
2/100.000

jmlh pddk <15

2
Pencapaian
63,1%
77,7%
77,7%
77,2%
75,55%
67,9%
63,1%
71,6%
64,8%

th
Target
60%
66,6%
66,6%
66,6%
66,6%
60%
60%
60%
60%

24

Polio 4
Campak
Campak (booster)
DPT + HB + HiB (booster)

58,3%
64,4%
23,9%
49,5%

60%
60%
60%
60%

5. Kesehatan Lingkungan
Kegiatan :
1. Dalam gedung
a. Klinik sanitasi
b. Pengawasan limbah medis
2. Luar gedung
a. Kunjungan rumah
b. Pengawasan kualitas air minum
c. Inspeksi sanitasi
d. Pengawasan kualitas air
e. Pengawasan dan pembinaan TTU (tempat-tempat umum) : SD,
SMP, SMA, PT, PAUD/TK, Masjid/musholla, dan Salon/pangkas
rambut.
f. Pengawasan hygiene sanitasi tempat pengolahan makanan (TPM)
g.
h.
i.
j.

:
Rumah makan/ampere
Makanan jajanan
Penyuluhan kesehatan di sekolah
Pemeliharaan dan pengawasan kualitas lingkungan

Hasil kegiatan :
Tabel 3.9 : Hasil Kegiatan Kesling Triwulan II Tahun 2015
No
1

Program
Akses

Bersih
Jamban

TG
Air 100

VI SUKU
100

SNP
100

Pencapaian
100

Target (%)
100

67,91

85,75

100

84,6

100

Keluarga
Pengel.

57,16

56,92

57,69

57,12

100

Limbah
Pengel.

57,86

55,19

52,56

56,53

100

5
6
7
8

Sampah
Rumah Sehat
TTU
TPM
Klinik Sanitasi

69,55
-

80,98
-

83.65
-

74,55
100
86,67
1,1

95
80
85
10

25

6. Program Pengembangan
Upaya pengembangan yang dilakukan di Puskesmas Tanah Garam adalah
sebagai berikut.
Tabel 3.10 : Program Pengembangan
di Puskesmas Tanah Garam
1
2
3

Kesehatan Jiwa
a. Penemuan dini dan penanganan kasus jiwa
b. Rujukan kasus jiwa
Kesehatan Indra Mata dan Telinga
a. Penemuan dan penanganan kasus
b. Rujukan
PKPR
a. Pelatihan kader PKPR
b. Penyuluhan dan konsultasi remaja
c. Penyulluhan dan konsultasi ke sekolah
Kesehatan Lansia
a. Pelayanan di dalam dan luar gedung
b. Pembinaan kelompok lansia
c. Senam lansia
d. Penyuluhan kesehatan lansia
e. Deteksi dini kesehatan lansia
Kesehatan Gigi dan Mulut
a. Dalam gedung
e. Pelayanan kedaruratan gigi
f. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut dasar
g. Pelayanan medik gigi dasar
b. Luar gedung
h. UKGS
i. UKGM

3.3 Fokus Kajian Program Kesehatan Masyarakat


3.3.1 Identifikasi Masalah Kesehatan Masyarakat
Proses identifikasi masalah dilakukan melalui observasi, laporan, dan
wawancara dengan penanggung jawab program di puskesmas. Beberapa masalah
di Puskesmas Tanah Garam tahun 2015.
1. Rendahnya cakupan N/D wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam
Januari-November 2015

26

90
80
70
60
50
tanah garam
40

VI suku

30

sinapa piliang
puskesmas

20
10
0

Diagram Cakupan N/D wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam JanuariNovember 2015
2. Rendahnya penjaringan BTA positif di wilayah kerja Puskesmas Tanah
Garam tahun 2015.

Tabel 3.11 : Data sasaran kegiatan TB Triwulan 1 tahun 2015


jumlah
Pendud
Kelurahan

Perkiraan
Suspe

BTA+

Triwulan 1
Perkiraan
Suspe BTA

Pencapaian
BTA RO

Ana

Kambu

+
5

+
2

+
3

k
0

h
0

3
1
9

1
0
3

1
0
4

0
0
0

0
0
0

uk

Tanah

13249

212

21

k
53

Garam
VI Suku
Sinapan
Puskesmas

6543
1463
21255

105
23
340

10
3
34

26
6
85

Tabel 3.12 : Data sasaran kegiatan TB Triwulan 2 tahun2015


Jumlah

Perkiraan

Triwulan 2

27

Kelurahan
Tanah
Garam
VI Suku
Sinapan
Puskesmas

Pendud

Suspe

BTA+

Perkiraan
Suspe BTA

Pencapaian
BTA RO

Ana

Kambu

uk

13249

212

21

53

6543
1463
21255

105
23
340

10
3
34

26
6
85

3
1
9

1
1
2

1
1
2

0
0
0

0
0
0

3. Rendahnya Kunjungan Pemeriksaan Iva di Wilayah Kerja Tanah Garam


Tahun 2015
20
18
16
14
12
10

Usia <30

Usia 30-39

Usia 40-50

Usia>50

2
0

Diagram

Kunjungan

Pemeriksaan

Iva

di

Wilayah

Kerja

Puskesmas Tanah Gram


Tabel 3.13 Kunjungan Pemeriksaan Iva di Wilayah Kerja
Puskesmas Tanah Garam 2015

Usia

Bulan
Ja Fe

Mare

Apri

Me

Jun

Juli

Agust

Sept

Okt

28

Nov

n
Usia < 30 3

b
1

t
-

l
11

i
9

i
7

Tahun
Usia 30-39 2

18

Tahun
Usia 40-50 2

Tahun
Usia>50

Tahun
Total

7
2
2
35
18
8
1
5
15
4. Rendah Pencapaian Target Jamban Sehat di Wilayah Kerja

Puskesmas Tanah Garam


100
90
80
70
60

Tanah Garam
VI Suku

50

Sinapa

40

Pencapaian

30
20
10
0
Triwulan 1

Triwulan 2

Diagram Pencapaian Target Jamban Sehat di Wilayah Kerja Tanah


Garam
5. Rendahnya Cakupan Imunisasi Pentavalen Dan Boster

29

70.00%
60.00%
50.00%
40.00%

Pencapaian

30.00%

Target

20.00%
10.00%
0.00%
Imunisasi Pentavalen dan Boster

Diagram Cangkupan Imunisasi Pentavalen dan Boster


3.3.2 Penetapan Prioritas Masalah
Tabel 3.15 : Penetapan Prioritas Masalah
N

MASAL

MASAL

MASALA

MASALA

MASAL

MASAL

AH

AH (1)

H (2)

H (3)

AH (4)

AH (5)

Penemua

Rendahny

Rendahny

Rendah

Cakupan

nya

imunisas

Pencapaia

Pencapa

kasus a

BTA

(+) Kunjunga

Rendah

target ian

pemeriksa cakupan
an IVA
KRITER

N/D

jamban
di sehat

posyandu

Tingkat

en

dan

boster
sangat

IA

pentaval

rendah

Urgensi
(U)
2

Tingkat

30

Keseriuas
an (S)
3

Tingkat

16

48

12

48

Perkemba
ngan (G)

U X S X 36
G

31

3.3.3 Penetapan Penyebab Masalah


Berdasarkan Penelitian Prioritas diatas, kami menganggap perlunya modifikasi, analisis, dan upaya pemecahan mengenai Peran
Posyandu dalam Upaya Pemantauan pemberian Imunisasi pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Garam Tahun 2015.
Berdasarkan data dan hasil kegiatan program Imunisasi di atas di tambah hasil wawancara dan diskusi dengan pemegang program
Imunisasi dan penanggung jawab program didapatkan beberapa penyebab masalah rendahnya cakupan imunisasi pentavalen dan boster
diwilayah kerja tanah garam tahun 2015, yakni :

32

3.2.1

Penetapan Penyebab Masalah


MAN

Kurangnya pengetahuan
kader tentang imunisasi
tambahan bagi batita

Kurangnya pengetahuan Orang tua


Batita mengenai imunisasi
tambahan
Tidak adanya brosur
pengenalan imunisasi
pentavalen
Tidak adanya poster
tentang imunisasi
pentavalen
MATERIAL

METHODE

Petugas tidak
mengingatkan ibu batita
yang telah lengkap
imunisasi dasar

Belum ada
anggaran untuk
pembuatan brosur
pentavalen

MONEY

Tidak ada pedoman


untuk pemberian
Imunisasi
pentavalen

Masih adanya
masyarakat yang anti
vaksin

Rendahnya
Persentasi imunisasi
penta valen di
Wilayah Kerja
Tanah Garam
17%

ENVIROMEN
T

Skema 3. Penetapan penyebab masalah

33

BAB IV
PEMBAHASAN
Dari hasil Penyebab Masalah didapatkan berbagai penyebab RENDAHNYA
PERSENTASI IMUNISASI TAMBAHAN bagi Batita di wilayah kerja puskesmas
tanah garam. Dari penemuan penyebab tersebut. Penulis dapat merancang Penetapan
Alternatif Pemecahan Masalah untuk meningkatkan angka pencapaian target
pemeriksaan kualitas air.
4.1.

Penetapan Alternatif Pemecahan Masalah


Tabel 11. Pemecahan Masalah

No
1.

Variabel Penyebab
Faktor Penyebab
Manusia

Alternatif Pemecahan Masalah


Penyebab Masalah
Kurangnya pengetahuan Orang tua Memberikan penyuluhan kepada orang tua

Batita mengenai imunisasi tambahan.


Kurangnya pengetahuan kader tentang

Batita

imunisasi tambahan bagi batita.


Petugas kurang mensosialisasikan ibu
batita yang telah lengkap imunisasi

Metode

imunisasi

tambahan

(imunisasi pentavalen)
Memberikan edukasi berkala kepada para
kader agar kader dapat mengingatkan orang

tua batita
Petugas mengingatkan kepada ibu batita

Tidak adanya pedoman sebagai sumber

yang telah lengkap lima imunisasi dasar


Membuat pedoman tentang imunisasi penta

informasi imunisasi pentavalen

valen, berupa penambahan kolom dalam

dasar
2

mengenai

buku KIA/ KMS


3.
4.
5

Tidak

poster

Pembuatan brosur dan poster tentang

Dana

pengenalan imunisasi pentavalen


Belum ada biaya untuk pembuatan

pengenalan imunisasi pentavalen


Permohonan penambahan dana kepada

Lingkungan

brosur
Masih adanya masyarakat yang anti

APBD untuk pembuatan brosur


Penyuluhan dan sosialisasi kepada seluruh

Material

vaksin

adanya

brosur

dan

masyarakat

tentang

manfaat

keuntungan imunisasi.

34

dan

35

4.2.
4.3.

4.2. Rencana Pelaksana Kegiatan


Table 12. Rencana Kegiatan

4.4.
4.5.

RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN

4.6.

4.7.

4.8.

4.9.

4.10.

4.12.
4.13.
4.14.
4.15.4.16.4.17.
4.18.4.19.4.20.4.21.4.22.4.23. 4.24.

TU

SA

PE1 2 3

5 6

10 11

12

4.11.
J

4.25.
4.26.
4.27.
4.28.
4.29.
4.30.

4.31.

4.33.

4.34.

4.37.
4.38.

Pe

Dn Puskesmas
4.39.

4.32.

4.40.
4.41.

Pimpina

4.42.
Petug
as

4.47.
4.49.
4.54.4.59.4.64.
4.69.4.74.4.79.4.84.4.90.4.96. 4.102.
4.48.
4.50.
4.55.4.60.4.65.
4.70.4.75.4.80.4.85.4.91.4.97. 4.103.

imuni

X X
4.51.
4.66.
4.71.4.76.4.81.4.86.4.92.4.98. 4.104.

sasi

4.56.4.61.
4.52.
4.67.
4.72.4.77.4.82.4.87.4.93.4.99. 4.105.

dan
promk
es
puske

4.57.4.62.
4.53.
4.68.
4.73.4.78.4.83.4.88.4.94.4.100.4.106.
4.58.4.63.

4.89.4.95.4.101.4.107.

smas
Tanah

36

Gara
m
4.43.
4.44.
4.45.
4.46.

37

4.35.

4.36.

4.108.4.109.
Pemberian

4.111.

4.112.

4.113.

4.114. P 4.115.

unt

Sel

impinan Petugas

edukasi

puskesm puskesmas

kepada

as tanahprogram

kader

garam

4.116.
4.118.
4.120. 4.122.
4.123.
4.125.
4.127.
4.129.
4.131.
4.132.
4.133.4.134.
4.117.
4.119.
4.121.

4.124.
4.126.
4.128.
4.130.

4.135.

imunisasi dan

tentang

petugas

imunisasi

promosi

tambahan

kesehatan

bagi

38

batita.
4.110.

39

40

4.136.

4.137.

4.138.

4.139.

4.140.
4.141.

Un

Sel

Pn

Pimpina4.142.

4.143.
4.144.
4.145. 4.146.
4.147.
4.148.
4.149.
4.150.
4.151.
4.152.
4.153.4.154.

Petugas
promkes
puskesmas
tanah garam

41

4.155.

4.156.

4.157.

4.158.

4.159.
4.160.

Pimpina4.161.

Ed

Ma

Sn puskesmas

4.162.
4.163.
4.164. 4.165.
4.166.
4.167.
4.168.
4.169.
4.170.
4.171.
4.172.4.173.

Petugas
Promkes
42

Puskesmas
Tanah Garam

4.174.
4.175.
4.176.
4.177. Pembahasan
4.179.

4.178. 4.2.1 Rencana kegiatan dan penanggulangan


a.
Tenaga kesehatan memberikan penyuluhan kepada setiap ibu-ibu yang datang ke Posyandu tentang manfaat imunisasi

pentavalen bagi batita.


4.180.
b.
Tenaga kesehatan memberikan sosialisasi pada tokoh masyarakat tentang imunisasi penta valen
4.181.
c.
Tenaga kesehatan memberikan pengarahan tentang bagaimana cara pemberian imunisasi tambahan yang benar.
4.182.
d.
Tenaga kesehatan memberikan edukasi kepada para kader imunisasi yang bertujuan agar dapat membantu meningkatkan
pemahaman masyarakat
4.183. 4.2.2 Faktor Penghambat dan Permasalahan
43

4.184.
4.185.

a.
b.

Para ibu tidak bersedia untuk mengikuti penyuluhan imunisasi penta valen
Para ibu tidak bersedia anaknya diberikan imunisasi pentavalen karena dikhawatirkan efek sampingnya akan

membahayakan buah hatinya.


4.186.
c.
Ibu batita tidak memiliki waktu untuk membawa anaknya imunisasi
4.187.
4.188.
4.189.
4.190.
4.191.
4.192.
4.193.
4.194.
4.195.
4.196. BAB V
4.197. PENUTUP
4.198.
4.199. 5.1. KESIMPULAN
4.200. Di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam, cakupan imunisasi pentavalen usia batita masih sangat rendah. Data dari bulan
januari hingga juli menunjukkan peningkatan terhadap cakupan imunisasi pentavalen, tetapi masih sangat jauh dari target yang diberikan
oleh Dinas Kesehatan.
4.201. Kendalanya yaitu karena imunisasi pentavalen ini masih tergolong baru sehingga masyarakat belum begitu mengenal dan
para kader juga masih banyak yang belum memahami imunisasi ini, sehingga masih banyak dilakukan edukasi. Untuk
penanggulangannya diharapkan kepada tenaga kesehatan memberikan penyuluhan, sosialisasi, pengarahan dan memberikan edukasi
kepada ibu-ibu yang datang ke posyandu, tokoh masyrakat, dan para kader imunisasi tentang manfaat imunisasi pentavalen bagi balita.
4.202. 5.2. SARAN
o Untuk Puskesmas
44

4.203. Memberi edukasi secara berkala kepada para kader, karena jika kader mengerti dan memahami imunisasi penta valen,
maka para kader imunisasi dapat mengingatkan dan mengajak ibu-ibu yang memiliki anak batita untuk melakukan imunisasi
tambahan pentavalen.
4.204.
4.205.
o Untuk Dinas Kesehatan
4.206. Pembinaan petugas pembina posyandu tentang ilmu pengetahuan tentang pentavalen.an Dinas Kesehatan Kota Solok
diharapkan dapat terus meningkatkan program imunisasi pentavalen ini, agar target akhir tahun 2015 ini dapat tercapai.
Karena apabila tercapai, maka akan menghemat dana imunisasi beberapa persen.
4.207. Dinas kesehatan sebaiknya meningkatkan anggaran dana untuk pembuatan brosur dan poster tentang imunisasi penta
valen, serta mencantumkan jadwal imunisasi pentavalen didalam buku KIA.
4.208.
4.209.
4.210.
4.211.
4.212.
4.213.
4.214.
4.215.
4.216.
4.217.
4.218.
4.219.
4.220.
4.221.
4.222.
4.223.
4.224.
4.225.
4.226.
45

4.227.
4.228.
4.229. DAFTAR PUSTAKA
4.230.
4.231.

Budiyono,

rahman.

2009.

Makalah

Kesehatan

Imunisasi.

http://rahman

budyono.wordpress.com/2009/01/28/makalah-

kesehatan_imunisasi/
4.232. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2005. Pedoman Teknis Imunisasi Tingkat Puskesmas. Jakarta : Unicef
4.233. http://www.4shared.com/document/TEeFZmKi/Makalah_tentang_Imunisasi.html
4.234. http://organisasi.org/arti-definisi-pengertian-imunisasi-tujuan-manfaat-cara-jenis-imunisasi-pada -manusia
4.235. Kus, Lusia Anna. 2010. Imunisasi Terkendala Mitos. Jakarta : Kompas
4.236.
4.237.

46

Anda mungkin juga menyukai