Anda di halaman 1dari 7

SABUN

Sabun merupakan merupakan suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari reaksi
saponifikasi. Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa lemah
(misalnya NaOH). Hasil lain dari reaksi saponifikasi ialah gliserol. Selain C12 dan C16,
sabun juga disusun oleh gugus asam karboksilat. Prinsip utama kerja sabun ialah gaya tarik
antara molekul kotoran, sabun, dan air. Kotoran yang menempel pada tangan manusia
umumnya berupa lemak. Untuk mempermudah penjelasan, mari kita tinjau minyak goreng
sebagai contoh. Minyak goreng mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Asam lemak
jenuh yang ada pada minyak goreng umumnya terdiri dari asam miristat, asam palmitat,
asam laurat, dan asam kaprat. Asam lemak tidak jenuh dalam minyak goreng adalah asam
oleat, asam linoleat, dan asam linolena. Asam lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau
asam karboksilat berderajat tinggi (rantai C lebih dari 6).
1.1 BAHAN BAKU
Bahan baku adalah bahan utama yang digunakan dengan persentase komposisi
terbesar yang membentuk bagian integral dari suatu produk jadi. Bahan baku untuk
pembuatan sabun adalah :
Minyak
Jumlah minyak atau lemak yang digunakan dalam proses pembuatan sabun harus
dibatasi karena berbagai alasan, seperti : kelayakan ekonomi, spesifikasi produk (sabun
tidak mudah teroksidasi, mudah berbusa, dan mudah larut), dan lain-lain. Beberapa jenis
minyak atau lemak yang biasa dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya :
1. Tallow. Lard. Lard merupakan minyak babi
2. Palm Oil (minyak kelapa sawit). Coconut Oil (minyak kelapa).
3. Palm Oil Stearine (minyak sawit stearin).
4. Marine Oil. Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut.
5. Castor Oil (minyak jarak).
6. Olive oil (minyak zaitun).
7. Campuran minyak dan lemak. Industri pembuat sabun umumnya membuat sabun
yang berasal dari campuran minyak dan lemak yang berbeda. Minyak kelapa sering
dicampur dengan tallow karena memiliki sifat yang saling melengkapi. Minyak
kelapa memiliki kandungan asam laurat dan miristat yang tinggi dan dapat membuat
sabun mudah larut dan berbusa. Kandungan stearat dan dan palmitat yang tinggi dari
tallow akan memperkeras struktur sabun.

Alkali

Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH, KOH,
Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines. NaOH, atau yang biasa dikenal dengan soda kaustik
dalam industri sabun, merupakan alkali yang paling banyak digunakan dalam pembuatan
sabun keras. KOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun cair karena sifatnya yang
mudah larut dalam air. Na2CO3 (abu soda/natrium karbonat) merupakan alkali yang murah

dan dapat menyabunkan asam lemak, tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida (minyak
atau lemak). Ethanolamines merupakan golongan senyawa amin alkohol. Senyawa tersebut
dapat digunakan untuk membuat sabun dari asam lemak. Sabun yang dihasilkan sangat
mudah larut dalam air, mudah berbusa, dan mampu menurunkan kesadahan air. Sabun yang
terbuat dari ethanolamines dan minyak kelapa menunjukkan sifat mudah berbusa tetapi sabun
tersebut lebih umum digunakan sebagai sabun industri dan deterjen, bukan sebagai sabun
rumah tangga. Pencampuran alkali yang berbeda sering dilakukan oleh industri sabun dengan
tujuan untuk mendapatkan sabun dengan keunggulan tertentu.
Bahan Tambahan
Bahan Tambahan adalah bahan yang digunakan dalam membantu kelancaran proses produksi
dan bahan ini termasuk bagian dari produk. Adapun bahan tambahan yang digunakan adalah
sebagai berikut:
Parfum
Fungsi : Sebagai pemberi aroma pada sabun
Pewarna
Fungsi : Sebagai pembentuk warna pada sabun
Vaselin / petroleum
Fungsi : Sebagai pelembab pada sabun
Sodium Silikat
TCC (Three Chloro Carbon) dan Irgasan
Fungsi : Sebagai anti bakteri pada sabun kesehatan
Bahan Penolong
Bahan penolong adalah bahan yang digunakan secara tidak langsung dalam produk dan
bukan merupakan komposisi produk, tetapi digunakan sebagai pelengkap produk. Adapun
yang menjadi bahan tambahan antara lain : Water (H2O) Fungsi : Sebagai kebutuhan proses
untuk pengenceran. Produk : Pada proses pembuatan sabun terdapat produk utama dan
produk samping, produk utamanya adalah sabun dan produk sampingannya adalah gliserin,
yang merupakan hasil dari hidrolisis lemak oleh air.
REAKSI KIMIA
Reaksi 1 (Pemisahan lemak)
(RCOO)3C3H5 + 3H2O 3RCOO.H + C3H5(OH)3
triglyceride

fatty acid : glycerine

Reaksi 2 (Safonifikasi)
R.COO.H + MOH RCOO.M + H2O
Dimana M adalah unsure K atau Na

1.2 KLASIFIKASI PROSES


Sabun dapat dibuat melalui proses batch atau kontinu.
a. Pada proses batch, lemak atau minyak dipanaskan dengan alkali (NaOH atau KOH)
berlebih dalam sebuah ketel. Jika penyabunan telah selesai, garam garam ditambahkan
untuk mengendapkan sabun. Lapisan air yang mengandung garam, gliserol dan
kelebihan alkali dikeluarkan dan gliserol diperoleh lagi dari proses penyulingan.
Endapan sabun gubal yang bercampur dengan garam, alkali dan gliserol kemudian
dimurnikan dengan air dan diendapkan dengan garam berkali-kali. Akhirnya endapan
direbus dengan air secukupnya untuk mendapatkan campuran halus yang lamakelamaan membentuk lapisan yang homogen dan mengapung. Sabun ini dapat dijual
langsung tanpa pengolahan lebih lanjut, yaitu sebagai sabun industri yang murah.

Beberapa bahan pengisi ditambahkan, seperti pasir atau batu apung dalam pembuatan
sabun gosok. Beberapa perlakuan diperlukan untuk mengubah sabun gubal menjadi
sabun mandi, sabun bubuk, sabun obat, sabun wangi, sabun cuci, sabun cair dan sabun
apung (dengan melarutkan udara di dalamnya).
b. Pada proses kontinu, yaitu yang biasa dilakukan sekarang, lemak atau minyak hidrolisis
dengan air pada suhu dan tekanan tinggi, dibantu dengan katalis seperti sabun seng.
Lemak atau minyak dimasukkan secara kontinu dari salah satu ujung reaktor besar.
Asam lemak dan gliserol yang terbentuk dikeluarkan dari ujung yang berlawanan
dengan cara penyulingan. Asam-asam ini kemudian dinetralkan dengan alkali untuk
menjadi sabun.
Pada umumnya, alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun pada umumnya
hanya NaOH dan KOH, namun kadang juga menggunakan NH4OH. Sabun yang dibuat
dengan NaOH lebih lambat larut dalam air dibandingkan dengan sabun yang dibuat
dengan KOH. Sabun yang terbuat dari alkali kuat (NaOH, KOH) mempunyai nilai pH
antara 9,0 sampai 10,8 sedangkan sabun yang terbuat dari alkali lemah (NH4OH) akan
mempunyai nilai pH yang lebih rendah yaitu 8,0 sampai 9,5.
1.3 URAIAN PROSES
Dari diagram alir di atas, maka dapat diuraikan proses pembuatan sabun, yaitu sebagai
berikut :
1.

Hidrolizer.
Hidrolizer digunakan sebagai tempat terjadinya reaksi antara asam lemak dengan air.
Bahan baku berupa trigliserin masuk ke dalam kolom hidrolizer dengan penambahan katalis
ZPO, akan terjadi proses hidrolisis dengan ditambahkannya uap air panas yang masuk pada
suhu 230-250C dan tekanan 40-45 atm, sehingga trigliserin terpisah menjadi asam lemak
dan triglserin. Reaksi yang terjadi yaitu :
(RCOO)3C3H5 + 3H2O 3RCOO.H + C3H5(OH)3
2.

Flash Tank

Steam flash Tank digunakan untuk pemanasan dengan tekanan uap yang tinggi. Asam
lemak yang terbentuk lalu dimasukkan ke dalam flash tank agar suhunya turun dan asam
lemak yang dihasilkan menjadi lebih pekat.
3.

High Vacuuum Still


Kemudian dimasukkan ke kolom high vacuum still hingga proses destilasi, pada proses
ini asam lemak akan menguap sedangkan zat yang tidak diharapkan akan keluar melalui
bawah kolom.
4.
Cooler & Holding Tank
Uap asam lemak yang terbentuk kemudian dilewatkan ke dalam cooler sehingga
dihasilkan asam lemak yang berbentuk pasta murni lalu produk ini disimpan dalam holding
tank.
5.
Mixer
Pada proses pembuatan sabun, bahan baku merupakan lemak yang dipompakan ke dalam
mixer, lalu ditambahakn NaOH dan diaduk dengan kecepatan tinggi sehingga terjadi proses
saponifikasi atau penyabunan. Reaksi yang terjadi adalah :

R.COO.H +NaOH RCOO.Na + H2O


Lalu dimasukkan ke dalam blender dengan kecepatan rendah agar campuran homogeny.
Pada blender terjadi pencampuran dengan bahan-bahan lain yang dibutuhkan, seperti parfum,
TCC, dan sebagainya. Kemudian produk sabun telah jadi, dan untuk finishing diteruskan
dengan dipompa melalui jalur dipanaskan ke bar sabun untuk sabun batangan dengan
menggunakan tekanan, untuk menghasilkan detergen menggunakan pengering semprot
sehingga diperoleh sabun berupa serbuk atau bubuk , dan untuk sabun cair yang dikeluarkan
dari bagian bawah alat secara langsung kemudian diikuti dengan operasi pengemasan.

Untuk kelanjutan pembuatan sabun

FUNGSI ALAT

a. Hidrolizer dugunakan sebagai tempat terjadinya reaksi antara asam lemak dengan
air.
b. High Vacuum still digunakan untuk penampungan bahan dengan tekanan vakum
agar diperoleh uap dari bagian top alat.
c. Kondensor digunakan untuk proses pendinginan bahan.
d. Pompa digunakan untuk mengalirkan zat ke dalam wadah tertentu dengan cara
tekanan.
e. Steam flash Tank dihunakan untuk pemanasan dengan tekanan uap yang tinggi.
f. Holding tank digunakan untuk tempat penampungan hasil kondensasi asam lemak
yang masih belum murni yang akan dijadikan sebagai bahan baku pembuatan
sabun dan detergen.
g. Mixer digunakan sebagai tempat pencampuran dalam sistem emulsi sehingga
menghasilkan suatu dispersi yang homogen.
h. Blender digunakan sebagai tempat untuk memperhalus ukuran partikel agar sesuai
dengan yang diinginkan.
DETERJEN
Detergent merupakan garam natrium dari asam sulfonat. Rantai hidrokarbon, R,
di dalam molekul sabun di atas mungkin rantai hidrokarbon yang lurus atau
rantai hidrokarbon yang bercabang. Bahan utama detergent ialah garam natrium
yaitu asam organik yang dinamakan asam sulfonik. Asam sulfonik yang
digunakan dalam pembuatan detergent merupakan molekul berantai panjang
yang mengandungi 12 hingga 18 atom karbon per molekul
Deterjen tersusun oleh beberapa bagian yaitu :
1. Bahan Aktif (Active Ingredient)
2. Bahan pengisi (filler) CTH : Sodium sulfate
3. Bahan penunjang (builder)
4. Bahan tambahan (aditif) cth : Enzyme, Borax, Sodium chloride, Carboxy
Methyl Cellulose (CMC) dipakai agar kotoran yang telah dibawa oleh deterjent ke
dalam larutan tidak kembali ke bahan cucian pada waktu mencuci (anti
redeposisi). Wangi wangian atau parfum dipakai agar cucian berbau harum,
sedangkan air sebagai bahan pengikat. Natrium Silicate digunakan untuk
mencegah terjadinya korosi
5. Bahan pewangi atau parfum
6. Antifoam

KLASIFIKASI PROSES
Proses pembuatan detergen meliputi :
a. Safonifikasi
Pada proses ini minyak yang sudah dipucatkan (bleaching) dicampur dengan NaOH,
kemudian dipanaskan dan diaduk sehingga terjadi tahap-tahap berikut:
1. Tahap periode inkubasi lambat
2. Tahap eksotermik cepat
3. Tahap penyelesaian (completion)
Safonifikasi dianggap selesai jika terbentuk sabun yang kental, kemudian ditambah
garam kering supaya terjadi pemisahan antara sabun padat dan alkali.

b. Pencucian
Untuk memisahkan sisa gliserol dalam sabun dilakukan dengan cara menambahkan
air garam panas (85C) pada sabun.
c. Fitting
Sabun yang didapatkan setelah mengalami pencucian selanjutnya mengalami
pemanasan dan penambhan air sedikit demi sedikit sehingga didapatkan bentuk yang
dikehendaki. Penentuan menggunakan trowel test. Setelah penyabunan lengkap,
lapisan air yang mengandung gliserol dipisahkan dari gliserol dipulihkan dengan
penyulingan. Gliserol digunakan sebagai pelembab dalam tembakau, industri farmasi
dan kosmetik. (Sifat kelembaban timbul dari gugus-gugus hidroksil yang dapat
berikatan hidrogen dengan air dan mencegah penguapan air itu). Sabunnya
dimurnikan dengan mendidihkan dalam air bersih untuk membuang lindi yang
berlebih, NaCl dan gliserol. Zat tambahan (additive) seperti batu apung, zat warna dan
sparfum kemudian ditambahkan. Sabun padat lalu dilelehkan dan dituang ke dalam
suatu cetakan.
1.1 URAIAN PROSES

Sulfonasi
Alkilbenzen ini diperkenalkan terus menerus ke sullfonator dengan jumlah yang
diperlukan dari oleum. Suhu harus dijaga sekitar 55C. Lemak alkohol lemak dan
oleum lebih banyak dimasukkan ke dalam campuran tersulfonasi mixture.The
kemudian dipompa ke sulfater (juga harus beroperasi arroun50-55C)

penetralan
Produk tersulfonasi-sulfat adalah dinetralkan dengan larutan NaOH bawah suhu
dikontrol untuk mempertahankan fluiditas dari bubur surfaktan. Bubur surfaktan
dilakukan untuk penyimpanan.

Uraian proses
Bubur surfaktan, tripolyphostphate natrium dan sebagian besar aditif lain-lain
dimasukkan ke dalam Crutcher. Sejumlah besar air akan dihapus dan paste dikentalkan oleh
reaksi natrium tripolyphostphate hidrasi.
Campuran dipompa ke lantai atas di mana ia disemprotkan di bawah tekanan tinggi ke
dalam menara semprot 24 m tinggi, bertentangan dengan udara panas dari tungku. Butiran
kering dari bentuk dan ukuran diterima dan kepadatan yang cocok terbentuk. Granul kering
dipindahkan ke lantai atas dengan kehidupan udara yang mendingin mereka dari 115C dan
menstabilkan butiran. Mereka kemudian dipisahkan dalam angin topan, disaring, wangi dan
dikemas.