Anda di halaman 1dari 13

STUDI FASIES FORMASI HALANG DAN RAMBATAN BERDASARKAN DATA

PENAMPANG STRATIGRAFI DAN ANALISIS FORAMINIFERA PADA DAERAH


JATINEGARA, KABUPATEN TEGAL, PROVINSI JAWA TENGAH
FACIES STUDY OF HALANG AND RAMBATAN FORMATIONBASED ON
MEASURED SECTION AND FORAMINIFERA ANALYSIS OF JATINEGARA AREA,
TEGAL, EAST JAVA PROVINCE
Jaka Nurhidayat 1) , Agung Mulyo 2)
1

Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran


Laboratorium Geologi Teknik, Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran

Sari
Studi fasies diambil berdasarkan data pengukuran penampang stratigrafi terukur pada
stasiun J.84 yang terletak pada Kali Cacaban Wetan, Desa Capar, dan stasiun J.90 yang
terletak pada Kali Layak, Desa Tonggara, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa tengah.
Berdasarkan Peta Geologi Regional lembar Majenang (Kastowo dan Suwarna, 1996), daerah
penelitian merupakan bagian Formasi Halang (J.84), dan Formasi Rambatan (J.90). Dari hasil
penelitian, menunjukkan pada stasiun J.84 litologi yang dominan berkembang berupa
batupasir dengan besar butir dari pasir sedang sampai pasir kasar, dan batulempung.
Sedangkan pada stasiun J.90 litologi yang dominan berkembang berupa batupasir dengan
besar butir dari pasir sedang sampai pasir sangat halus, dan batulempung. Berdasarkan hasil
pengukuran penampang stratigrafi batuan di lapangan dan melalui analisis fasies serta
analisis studio berupa analisis foraminifera, Berdasarkan model Mutti dan Ricci Lucchi
(1972) yang disebandingkan dengan model Gary Nihols (2009), analisis lingkungan
pengendapan pada lintasan penampang stratigrafi J.84 termasuk pada lingkungan
pengendapan kipas laut dalam bagian tengah (middle fan), dan J.90 termasuk pada
lingkungan pengendapan kipas laut dalam bagian luar (outer fan). Zona paleobatimetri yang
didapat dari analisis foraminifera menunjukkan lingkungan dengan zona batimetri neritik
tengah.
Kata Kunci : Studi fasies, Formasi Halang, Formasi Rambatan, Kipas tengah, Kipas Dalam

Abstract
The facies study obtained from measured section on station J.84 which located in
Cacaban Wetan River, Capar village, and station J.90 which located in Layak River,
Tonggara Village, Tegal, East Java Province. Based on Regional Geological Map of
Majenang (Kastowo dan Suwarna, 1996), study object is part of Halang Formation (J.84)
and Rambatan Formation (J.90). From the field analysis and laboratory analysis, J.84 shows
that the dominant lithologies are medium to coarse grained sandstone and mudstone. And
J.90 shows that the dominant lithologies are medium to very-fine grained sandstone and
mudstone. From the stratigraphic measured section on the field, facies analysis, and
foraminifera analysis, compared to Mutti and Ricci Lucchi Model (1972) and correlated with
Gary Nichols Model (2009), depositional environment analysis on J.84 included in middle
1

fan and J.90 included in outer fan. The paleobathymetry obtained from foraminifera analysis
shows that the bathymetry zone of study object located in middle neritic.
Keyword : Facies study, Halang Formation, Rambatan Formation, Middle Fan, Outer Fan

1. Pendahuluan
Formasi
Halang
tersusun
atas
perselingan batupasir, batulempung, napal,
dan tuf dengan interkalasi breksi. Formasi
ini
diendapkan
dalam
lingkungan
submarine fan pada kedalaman neritik,
berumur Miosen (N15 N18) Kastowo
dan Suwarna (1996).
Formasi Rambatan terdiri atas litologi
yang didominasi oleh lempung gampingan,
setempat sisipan batupasir gampingan dan
batulanau. Formasi ini diendapkan oleh
mekanisme arus turbid dari suatu sistem
kipas bawah laut, yang berumur Miosen
Akhir
Pliosen
Awal
(N12-N15).
Kartanegara, Uneputty, dan Asikin (1987),
Pada daerah Jatinegara, Kecamatan
Jatinegara, Kabupaten Tegal, Provinsi
Jawa tengah, tersingkap perselingan
batupasir dan batulempung dan batupasir
sisipan batupasir dari Formasi Halang.
Serta tersingkap batulempung sisipan
batupasir karbonatan pada Formasi
Rambatan. Peneliti berasumsi adanya
perbedaan fasies pengendapan antara
Formasi
Halang
dengan
Formasi
Rambatan pada daerah penelitian, yang
mendorong peneliti melakukan penelitian
pada daerah tersebut didukung dengan
studi pustaka menurut Kastowo dan
Suwarna (1996).
2. Lokasi Penelitian
Daerah penelitian secara geografis
terletak antara 109 11' 12,1524" BT-109
16' 38,5788" BT dan 7 4' 37,344" LS-6

59' 13,5888" LS. Secara administratif


termasuk
Kecamatan
Jatinegara,
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah dengan
luas 100 km2. Lokasi pengambilan data
stratigrafi terukur dilakukan pada Kali
Cacaban Wetan, dan Kali. Daerah
penelitian termasuk kedalam lembar Peta
Geologi
Regional
Purwokerto-Tegal
(Djuri, 1996). Sedangkan pada Peta Rupa
Bumi
Indonesia
daerah
penelitian
termasuk kedalam Lembar Randudongkal
(No.1308 - 643), Lebaksiu (No.1308 634), Slawi (No.1309 - 312), dan Sukareja
(No. 1309 - 321).
3. Geologi Daerah
Sekitarnya

Jatinegara

dan

Berdasarkan hasil pemetaan geologi


yang telah dilakukan sebelumnya di daerah
Jatinegara, Kabupaten Tegal, Provinsi
Jawa Tengah, dapat diketahui litologi,
susunan stratigrafi dan struktur geologi
yang berkembang pada daerah penelitian.
Stratigrafi pada daerah penelitian
tersusun atas tiga satuan dimulai dari
satuan yang berumur paling tua ke satuan
yang berumur paling muda diantaranya:
Satuan Batulempung (Tmbl), Satuan
Batupasir (Tmbp), dan Satuan Breksi
Vulkanik (Tmbv) (Nurhidayat, 2015).
Struktur geologi yang berkembang
pada daerah penelitian diantaranya berupa
enam struktur lipatan, empat struktur kekar
dengan arah gaya relatif utara-selatan, dan
satu sesar mendatar (Nurhidayat, 2015).
Analisis penampang stratigrafi terukur
pertama dilakukan pada stasiun J.84 di
Kali Cacaban Wetan, tersingkap Satuan
2

Batulempung (Tmbl) yang merupakan


bagian dari Formasi Rambatan, dan stasiun
J.90 di Kali Layak, tersingkap satuan
batupasir (Tmbp). Satuan Batupasir dan
Satuan Batulempung memiliki hubungan
stratigrafi selaras.
4. Maksud dan Tujuan Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk
mengetahui perbedaan fasies pengendapan
yang terdapat pada Formasi Halang dan
Formasi Rambatan melalui pendekatan
studi pada data penampang stratigrafi
terukur yang diambil pada stasiun J.84
(Formasi Rambatan), dan stasiun J.90
(Formasi Halang) dengan mengkorelasikan
dengan model yang telah dibuat oleh Mutti
dan
Ricci
Lucchi
(1972)
yang
disebandingkan dengan model Gary Nihols
(2009). Serta didukung oleh data analisis
fosil foraminifera planktonik dan bentonik.
Adapun tujuan dari penelitian ini
adalah :
1. Mengetahui karakteristik penampang
stratigrafi stasiun J.84.
2. Mengetahui karakteristik penampang
stratigrafi stasiun J.90.
3. Mengetahui umur dan lingkungan
pengendapan berdasarkan analisis
fosil pada stasiun J.84.
4. Mengetahui umur dan lingkungan
pengendapan berdasarkan analisis
fosil pada stasiun J.90.
5. Mengetahui
fasies
pengendapan
berdasarkan asosiasi fasies dan
kandungan fosil foraminifera.
5. Metode Penelitian
Beberapa metode dilakukan dalam
penelitian ini untuk menentukan fasies
pengendapan pada Formasi Halang dan

Formasi Rambatan di daerah penelitian.


Metode tersebut diantaranya adalah :
a. Pengamatan
data
penampang
stratigrafi pada stasiun J.84.
b. Pengamatan
data
penampang
stratigrafi pada stasiun J.90.
c. Analisis
mikropaleontologi
pada
stasiun J.84.
d. Analisis
mikropaleontologi
pada
stasiun J.90.
e. Analisis fasies pengendapan dengan
mengkorelasikan dengan model fasies.
6. Hasil dan Pembahasan
6.1 Karakteristik Penampang
Stratigrafi Stasiun J.84
Secara umum lintasan penampang ini
terdiri atas 2 jenis litologi yang
berkembang pada lintasan ini, yaitu
batulempung dengan sisipan batupasir
karbonatan dengan besar butir dari pasir
sedang sampai pasir sangat halus. Pada
batulempung memiliki warna segar abuabu terang, warna lapuk abu-abu
kecoklatan, karbonatan, kilap dull,
menyerpih, memiliki tingkat kekerasan
lunak. Sedangkan batupasir sedangbatupasir
sangat
halus
memiliki
karakteristik, warna segar abu-abu terang,
warna lapuk abu-abu kecoklatan, besar
butir pasir halus- sedang, bentuk butir
rounded-subrounded, kemas tertutup,
permeabilitas sedang, pemilahan baik,
karbonatan, memiliki tingkat kekerasan
agak keras. Terdapat struktur sedimen
gradded bedding dengan bidang sentuh
berangsur, dan parallel laminasi dengan
bidang sentuh tegas.
6.2 Karakteristik Penampang
Stratigrafi Stasiun J.90
Lintasan penampang stratigrafi ini
secara geografis berada pada 109 12'
3

23,3" BT dan 06 59' 34,7" LS . Lintasan


ini berada di bagian utara pada daerah
penelitian tepatnya pada Kali Layak dan
lintasan ini berada pada elevasi 245 mdpl
serta dibuat kurang lebih 20 m ke arah
utara.
Secara umum lintasan penampang ini
terdiri atas 2 jenis litologi yang
berkembang pada lintasan ini, yaitu
batupasir dengan besar butir dari pasir
sedang
sampai
pasir
kasar, dan
batulempung. Pada batupasir sedang- kasar
memiliki karakteristik, warna segar abuabu, warna lapuk abu- kecoklatan, besar
butir pasir sedang - kasar, bentuk butir
subrounded- subangular, kemas tertutup,
permeabilitas baik, memilahan baiksedang, agak keras, dibeberapa tempat
terdapat stuktur sedimen graded bedding
dengan bidang sentuh berangsur, parallel
laminasi dengan bidang sentuh tegas, wave
laminasi dengan bidang sentuh tegas,
convolute, dan slump. Batulempung
dengan karakteristik, warna segar abu
gelap, warna lapuk coklat keabuan, kilap
tanah, karbonatan lemah, dibeberapa
tempat menyerpih, agak keras.

6.3 Analisis Foraminifera pada Stasiun


J.84
Lintasan penampang stratigrafi ini
secara geografis berada pada 109 12'
24,7" BT dan 07 2' 47,6" LS . Lintasan ini
berada di sebelah barat daya pada daerah
penelitian tepatnya pada Kali Cacaban
Wetan dan lintasan ini berada pada elevasi
175 mdpl serta dibuat kurang lebih 50 m
ke arah utara.
Analisis mikropaleontologi dilakukan
untuk
menentukan
lingkungan
pengendapan berdasarkan zona batimetri

serta untuk menentukan umur dari satuan.


Mikrofosil yang digunakan berasal dari
fosil foraminifera bentonik untuk zona
batimetri dan foraminifera planktonik
untuk penentuan umur relatif.
Pada lintasan Kali Cacaban Wetan
diambil sampel untuk dilakukan analisis
mikopaleontologi.
Hasilnya
adalah
ditemukan
foraminifera
bentonik
Heterolepa ornata pada stasiun J.84,
mencerminkan zona batimetri neritik luar
dengan kedalaman 177 274 meter.
Untuk analisis foraminifera planktonik
pada satuan ini ditemukan Sphaeraldinella
Subdehiscens , Globigerina Venezuela,
Globigerina
praebulloides
(Blow),
Globigerina
Stakensis,
Globigerina
Immaturus sehingga dapat disimpulkan
bahwa lingkungan ini diendapkan pada
umur Miosen Tengah (N13-N14), dalam
klasifikasi yang dibuat oleh Postuma
(1971).
6.4 Analisis Foraminifera pada Stasiun
J.90
Analisis mikropaleontologi dilakukan
untuk
menentukan
lingkungan
pengendapan berdasarkan zona batimetri
serta untuk menentukan umur dari satuan.
Mikrofosil yang digunakan berasal dari
fosil foraminifera bentonik untuk zona
batimetri dan foraminifera planktonik
untuk penentuan umur relatif.
Pada lintasan Kali Layak diambil
sampel
untuk
dilakukan
analisis
mikopaleontologi.
Hasilnya
adalah
ditemukan
foraminifera
bentonik
Ditambah
dengan
penemuan
Pseudononian granuloumbilicatum Zheng
dan Laevidentalina translucens pada
stasiun J.90, mencerminkan zona batimetri
4

neritik tengah, dengan kedalaman 55 dan


95m.
Untuk analisis foraminifera planktonik
pada satuan ini ditemukan Globigerina
nephentes
dan
Sphaeroidinella
subdehiscens, serta pemunculan akhir
Globorotalia siakensis pada kisaran umur
N14, dan kepunahan Globorotalia
plesiotumida pada N19 satuan ini berumur
relatif Miosen Tengah - Miosen Akhir
dalam klasifikasi yang dibuat oleh
Postuma (1971).
6.5 Fasies Pengendapan dengan
Mengkorelasikan pada Model
Fasies.
Berdasarkan model Mutti dan Ricci
Lucchi (1972) yang disebandingkan
dengan model Gary Nihols (2009), analisis
lingkungan pengendapan pada lintasan
penampang stratigrafi stasiun J.84
termasuk pada fasies kipas laut dalam
bagian outer fan. Dilihat dari pola
penampang stratigrafi pada lintasan ini
litologi batulempung lebih mendominasi
dan hanya terdapat sisipan- sisipan tipis
dari litologi batupasir karbonatan, serta
keterdapatan struktur sedimen graded
bedding, wave lamination, dan parallel
lamination menjadi penciri endapan
turbidit bagian distal dengan arus dan
energi yang lebih tenang.
Berdasarkan model Mutti dan Ricci
Lucchi (1972) yang disebandingkan
dengan model Gary Nihols (2009), analisis
lingkungan pengendapan pada lintasan
penampang stratigrafi stasiun J.90
termasuk pada fasies kipas laut dalam
bagian middle fan. Dilihat dari pola
penampang stratigrafi pada lintasan ini
litologi batupasir lebih mendominasi dan
hanya terdapat sisipan- sisipan tipis dari

litologi batulempung, dan pada bagian atas


penampang litologi barulmpung semakin
menebal dan batupasir semakin menipis
(coarsening upward) serta keterdapatan
struktur sedimen seperti parallel laminasi,
wave laminasi, convolute, dan slump.
Merupakan penciri endapan turbidit bagian
middle sampai proximal dengan arus dan
energi yang lebih besar dan kemungkinan
pada daerah slope.
7. Kesimpulan
Stasiun J.84 dan J.90 memiliki
karakteristik terdiri atas 2 jenis litologi
Batupasir halus - kasar, Batupasir
Karbonatan dan Batulempung. Umur dan
lingkungan pengendapan berdasarkan
analisis foraminifera bentonik dan
planktonik pada stasiun J.84 berumur
Miosen Tengah (N13-N14), pada zona
batimetri neritik luar dengan kedalaman
177 274 meter. Dan stasiun J.90 berumur
relatif Miosen Tengah-Miosen Akhir, pada
zona batimetri neritik tengah, dengan
kedalaman
55 dan
95m.
Fasies
pengendapan stasiun J.84 termasuk pada
fasies kipas laut dalam bagian outer fan,
dan J.90 termasuk bagian middle fan.

Daftar Pustaka
Boggs,

Sam, Jr. 1995. Principles of


Sedimentology and Stratigraphy,
second
edition,
Prentice
Hall
Englewood Cliffs, New Jersey.
Bouma, A. 1962. Sedimentology of some
flysch deposits. Amsterdam Elsiever,
Publ., Co., 186 h.
Kastowo dan Suwarna, N. 1996. Peta Geologi
Lembar Majenang, Jawa. Bandung:
Pusat Penelitian dan Pengembangan
Geologi.
Koesoemadinata, R.P. 1985. "Prinsip-Prinsip
Sedimentasi". Bandung: Penerbit ITB
5

Mutti, E. 1992. Turbidites Sandstones. Agip


Instituto di Geologia,Universita di
Parma, Milano.
Nichols, G.J., 2009. Sedimentology and
Stratigraphy:2nd
Edition.
Oxford:
Blackwell Scientific Publication.

Nurhidayat, Jaka. 2015. Laporan Pemetaan


Geologi Lanjut. Program Studi Teknik
Geologi, Universitas Padjadjaran.
tidak dipublikasikan.
Pettijohn, F.J. 1975. Sedimentary Rocks. Third
Edition. Harper & Row Publishers, New
York-Evanston-San Fransisco-London.
Walker, R.G., James, Noel P., 1992. Facies
Models: Response to Sea Level Change,
Geological Association of Canada.

Gambar 1 : Lokasi Daerah Penelitian

J.90

J.84

Gambar 2 : Lintasan penampang stratigrafi pada stasiun J.84 yang merupakan Formasi
Halang, dan J.90 yang merupakan Formasi Rambatan.

Gambar 3 : (A) dan (B) Foto jauh pada stuan batulempung (Formasi Rambatan). (C) Foto dekat
singkapan dengan struktur sedimen parallel lamination dan wave lamination; (D) Foto dekat
singkapan dengan struktur sedimen convolute lamination; (E) Foto dekat singkapan dengan urat
kalsit yang tegak lurus pada bidang perlapisan; (F) Foto dekat singkapan dengan urat kalsit yang
tegak lurus pada bidang perlapisan.

Gambar 4 : Struktur sedimen pada satuan batupasir (Formasi Halang) : (A) parallel
lamination dan wave lamination ; (B convolute lamination; (C) slump, dan parallel lamination;
(D) graded bedding dengan kontak erosional; (E) convolute lamination.

Gambar 5 : Model Fasies pengendapan pada lintasan stratigrafi terukur stasiun J.84 dan

Tabel 1 : Hasil Analisis Foramninifera Bentonik (Formasi Rambatan).

Tabel 2 : Hasil Analisis Fosil Foraminifera Planktonik pada Stasiun J.84 (Formasi Rambatan)
Gambar 6: Model Fasies pengendapan pada lintasan stratigrafi terukur stasiun J.90 dan

Tabel 3 :Hasil Analisis Foramninifera Bentonik (Formasi Halang).

Tabelel 4 : Hasil Analisis Fosil Foraminifera Planktonik pada Stasiun J.90 (Formasi Halang)