Anda di halaman 1dari 20

TUGAS OBAT ASLI INDONESIA

LIMA JENIS TUMBUHAN YANG DIGUNAKAN


SEBAGAI OBAT TRADISIONAL OLEH
MASYARAKAT DAYAK NGAJU KALIMANTAN TENGAH

Nama: Dewita Fitri W.


Nim: J1E113066

Dosen Pengampu Mata Kuliah:


Dr. Sutomo, S.Si., M.Si., Apt

PROGRAM STUDI S-1 FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015
DAFTAR ISI

Cover
Daftar Isi .....................................................................................1
Bab I Pendahuluan
1. 1...........................................................................................La
tar Belakang ........................................................................2
1. 2...........................................................................................M
anfaat Tanaman ..................................................................3
Bab II Pembahasan
2. 1...........................................................................................B
awang Lemba ......................................................................4
2. 2...........................................................................................A
kar Kuning ...........................................................................6
2. 3...........................................................................................S
arang Semut .......................................................................7
2. 4...........................................................................................D
aun Gelinggang ...................................................................9
2. 5...........................................................................................P
enawar Sampai
.............................................................................................
11
Bab III Penutup
3. 1...........................................................................................K
esimpulan
.............................................................................................
13
Daftar Pustaka
.............................................................................................
14

BAB I
PENDAHULUAN
1. 1.

Latar Belakang
Di Indonesia terdapat berpuluh-puluh bahkan beratus

suku bangsa yang tersebar di seluruh kepulauan mulai dari


Sabang sampai Merauke. Dayak adalah salah satu kelompok
besar penduduk asal atau sering disebut penduduk asli
pulau Kalimantan. Kehidupan orang Ngaju sepertinya tidak
terpisahkan dari hutan yang ada di sekitarnya, hal ini
tercemin dari berbagai pengetahuan tradisional tentang
pemanfaatan tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya sehari-hari dalam hal bahan pangan, obat-obatan,
kosmetika, bahan bangunan, dan lain-lain (Setyowati et al.,
2005).
Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat herbal atau
herbal medicine dan food supplement tumbuh dengan
pesatnya pada akhir-akhir ini. Melonjaknya harga obat
sintetis dan efek sampingnya bagi kesehatan meningkatkan
kembali penggunaaan obat tradisional oleh masyarakat
dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di
sekitarnya. Pemanfaatan tumbuhan untuk obat tradisional
atau sediaan herbal di industri jamu masih berdasarkan data
empiris. Sementara itu, tumbuhan hutan rawa gambut yang
berkhasiat obat yang dikenal luas selama ini hanya terbatas
pada beberapa jenis saja, sementara masih banyak jenis
lainnya yang belum dikenal dan dikembangkan (Andriani et
al., 2010).
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil
tanaman obat yang potensial karena memiliki
keanekaragaman hayati yang tinggi. Sekitar 3.689 spesies
tanaman obat tumbuh di hutan tropika Indonesia, namun
menurut Dirjen POM, dari jumlah tersebut baru 283 spesies

yang sudah digunakan dalam industri obat tradisional. WHO


merekomendasikan penggunaan obat tradisional untuk
pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan
pengobatan penyakit, terutama untuk kanker, penyakit
kronis dan pe degeneratif (Rahayu & Tyas, 2010).

1. 2.

Manfaat Tanaman
Manfaat tanaman-tanaman yang dibahas dalam

makalah ini diharapkan dapat digunakan sebagai panduan


alternatif pengobatan tradisional pada berbagai macam
jenis penyakit.

BAB II
PEMBAHASAN
2. 1.
Bawang Lemba
Gambar 1. Bawang Lemba

Gambar 2. Contoh brosur produk ramuan tradisional bawang


lemba di pasaran
Klasifikasi:
4

Kingdom

: Plantae (tumbuhan)

Subkingdom :

Tracheobionta (berumbi)

Superdivisio :

Spermatophyta (menghasilkan biji)

Divisio

: Magnoliophyta (berbunga)

Kelas

: Liliopsida (berkeping satu atau monokotil)

Subkelas

: Lilidae

Ordo

: Liliales

Familia

: Iridaceae

Genus

: Eleutherina

Spesies

: Eleutherina americana Merr.

(Indrawati & Razimin, 2013).


Masyarakat setempat menggunakan bawang lemba
dengan khasiat mengobati amandel, menyembuhkan tumor
kangkee, miom/kista, stroke, diabetes, ambeyen/wasir,
berak darah, disentri, menurunkan kolesterol, tekanan, gula
darah, dan mengatasi penyakit jantung. Cara penggunaan
oleh masyarakat setempat yakni dengan mencucinya
terlebih dahulu, kemudian dibagi menjadi 3 bagian lalu
diseduh atau direbus dengan air panas diminum tiga kali
sehari sesudah makan.
Berdasarkan hasil uji fitokimia, senyawa aktif yang
terdapat dalam bawang dayak yakni alkaloid, steroid,
glikosida, flavonoid, fenolik, tanin dan saponin (Indrawati &
Razimin, 2013). Jika berdasarkan riset yang telah dilakukan,
bawang dayak ini antara lain mampu menghambat
pertumbuhan sel kanker (Fitri et al., 2014), antioksidan
(Kuntorini & Astuti, 2010), antidiabetik dalam pencegahan
dan perlindungan terhadap penyakit diabetes mellitus
(Febrinda et al., 2013). Sedangkan berdasarkan review oleh
Insanu et al. (2014), suku Dayak menggunakan umbinya
untuk meningkatkan produksi ASI serta pengobatan kanker
payudara, stroke, dan kelainan seksual. Di daerah lain

ditemukan untuk menyembuhkan luka, mengobati kelainan


jantung koroner, dan digunakan sebagai diuretik, emetik,
pencahar, menurunkan protrombin, antifertilitas,
antihipertensi, antimikrobial, antiinflamasi, antivirus,
antidiabetes, antidermatophyta dan antimelagenosis, dan
memiliki aktivitas sitotoksis.

2. 2.

Akar Kuning

Gambar 3. Akar Kuning


Gambar 4. Contoh brosur produk ramuan tradisional akar

kuning di pasaran
Klasifikasi:
Kingdom
Divisi
Kelas
Ordo

: Plantae
: Magnoliophyta
: Magnoliopsida
: Ranunculales

Famili
: Menispermaceae
Genus
: Fibraurea
Spesies
: Fibraurea chloroleutica Miers.
(SITH ITB).
Akar kuning dapat digunakan dengan mencucinya
terlebih dahulu, kemudian diseduh dengan air panas atau
direbus. Air rebusan diminum tiga kali sehari, sesudah
makan. Akar bisa dipakai berulang hingga habis rasa. Secara
turun-temurun dipercaya dapat mengobati malaria, tipus,
maag kronis, kolesterol, liver, hepatitis, bengkak hati, batu
empedu dan batu maren. Akar kuning juga memiliki nama
ilmiah lain yakni Arcangelisia flava Merr., dari genus
Arcangelisia.
Struktur kimiawi senyawa bioaktif dari akar kuning
diidentifikasi sebagai 8-oxoprotoberberine (Wahyuono et al.,
2006). Akar kuning positif mengandung metabolit sekunder
alkaloid, saponin, terpenoid, dan flavonoid. Dapat digunakan
sebagai antimikrobial (Maryani et al., 2013). Sedangkan
berdasarkan review Siswoyo et al. (2005), bagian akar
efektif untuk menyembuhkan bronkitis, obat cacing,
depurative, disentri, sifilis, diabetes, maag, dan hepatitis;
bunga yang baik untuk disentri; tangkai baik untuk cacar air,
demam, dan sariawan; buahnya efektif untuk sariawan;
daun untuk anemia dan sariawan; sedangkan kayu untuk
afrodisiaka, antiseptik, maag, obat cacing, iritasi kulit,
malaria, meningkatkan enzim pencernaan, anti infeksi, sakit
perut, disinfektan, analgesik, yang menawar rasa sakit,
rematik, hepatitis, dan sariawan.
2. 3.
Sarang Semut
Klasifikasi:
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom :
Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi :
Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi
: Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas
: Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)

Sub Kelas : Asteridae


Ordo
: Rubiales
Famili
: Rubiaceae (suku kopi-kopian)
Genus
: Myrmecodia
Spesies
: Myrmecodia sp.
(Plantamor1).
Gambar 5a. dan 5b. Dua Jenis Spesies Sarang Semut

Gambar 6. Contoh brosur produk ramuan tradisional sarang


semut di pasaran
Masyarakat Dayak menggunakan sarang semut sebagai
ramuan tradisonal. Terdapat dua jenis sarang semut yang
digunakan yakni Myrmecodia pendens Merr & Perry, dan
Myrmecodia tuberosa Merr. Sarang semut dipercaya mampu
mengobati jantung, tumor, kanker, darah itnggi, leukimia,
prostat, kolesterol, asam urat, rematik, hernia, asma, stroke,
diabetes, maag, migrain, gondok, dan masih banyak lagi.
Cara penggunaannya yakni dengan mengambil setengahnya
dari ramuan lalu direbus dengan air 3 gelas menjadi 1 gelas,
diminum 3-4 kali sehari segelas.
Sarang semut mengandung glikosida, vitamin, mineral,
flavonoid, tokoferol, polifenol dan lain-lain. Selain itu, sarang

semut mengandung senyawa aktif seperti kalium, besi,


fosfor, magnesium, natrium, protein, dan fenol (Mangan,
2009). Menurut riset yang telah dilakukan ekstrak sarang
semut ternyata mempunyai potensi antara lain sebagai
imunostimulator dan sitostatika, tampak penurunan aktivitas
proliferasi dan peningkatan indeks apoptosis pada sel
adenokarsinoma kanker payudara dengan dosis tertentu
(Sumarno, 2010), menurunkan kadar asam urat (Tayeb et
al., 2012).
Berdasarkan efek farmakologis yang dihasilkan yakni
meningkatkan dasya tahan tubuh, memberikan energi,
menghentikan nyeri, mengatasi rematik, melancarkan
pembuluh darah, menghambat ezim oksidase sehingga
mencegah radikal bebas dan menghambat kerja enzim
dimustase, glutation, dan redukatse. Sementara itu, tanin
digunakan untuk pengobatan diare, homeostatik
(menghentikan pendarahan), dan wasir. Flavonoid
mengandung hormon penting untuk merangsang dan
melancarkan air susu ibu, mencegah kanker payudara.
Tokoferol sebagai antioksidan dan antikanker dengan
menangkal serangan radikal bebas (Mangan, 2009).
2. 4.
Daun Gelinggang
Klasifikasi:
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom :
Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Superdivisi : Spermatophyta (meenghasilkan biji)
Divisi
: Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas
: Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
Subkelas : Rosidae
Ordo
: Fabales
Famili
: Fabaceae (suku polong-polongan)
Genus
: Cassia
Spesies
: Cassia alata L.

10

(Plantamor2).
Gambar 7. Daun Gelinggang
Masyarakat meyakini daun gelinggang dapat digunakan
untuk penyakit kolesterol dan hipertensi dengan merebus
daun gelinggang (tidak lebih dari 8 lembar) bersama air
sebanyak 3 gelas hingga menjadi 1 gelas diminum sebanyak

1 atau 2 kali seminggu, untuk penyakit panu, kurap, kutu air,


dengan mencampurkan daun gelinggang dan minyak tanah
yang kemudian ditumbuk sampai halus. Cara pemakaian
cukup dioleskan minimal dua kali sehari, dilakukan selama
beberapa hari hingga sembuh (Dwi, 2011).
Daun gelinggang diketahui memiliki kandungan
flavonoid, polifenol, saponin dan alkaloid yang dapat
dijadikan sebagai antibiotik, antivirus, dan antiinflamasi
(Kurniawan & Aryana, 2015). Berdasarkan riset penelitian
yang telah dilakukan daun Cassia alata menunjukkan
aktivitas antijamur (Bahi et al., 2014), meningkatkan
aktivitas dan kapasitas fagositosis sel makrofag dan sebagai
imunostimulator dalam dosis tinggi (Kusmardi et al., 2007).
2. 5.

Penawar Sampai

11

Gambar 8. Penawar Sampai


Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Divisi
: Magnoliophyta

Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Ranunculales
Famili
: Menispermaceae
Genus
: Tinospora
Spesies
: Tinospora crispa (L.) Hook, F & T
(Ilham, 2013).
Penawar sampai atau yang lebih dikenal dengan
brotowali, oleh masyarakat sekitar dapat digunakan untuk
menurunkan demam dengan cara mencuci batang
secukupnya, dan direbus dengan air mendidih. Setelah
didinginkan, ramuan boleh ditambah madu untuk
mengurangi rasa pahit. Air rebusan diminum beberapa kali
sehari sampai demamnya hilang. Sedangkan untuk
mengatasi sakit pinggang, batang penawar diambil dan
dicuci bersih lalu dicincang halus dengan bentuk potongan
bulat. Telan bulatan dengan dibantu air minum.
Tanaman ini mengandung unsur kimia berupa zat pahit
pikroretin (terutama batang), alkaloida golongan berberina
(akar, batang), kolumbina (akar), palmatina (batang),
glikosida berupa pikroretosida (batang, daun), saponin

12

(batang, daun), tanin (batang, daun) dan amilum (batang)


(Santa & Pragojo, 1998). Brotowali memiliki sifat analgetik,
antipiretik, melancarkan cairan limpa, meningkatkan sekresi
salifa, dan efek sedatif (Rahayu & Tyas, 2010). Jika
berdasarkan penelitian yang dilakukan, penawar sampai
dapat digunakan untuk menurunkan demam typhoid berupa
penurunan suhu dan penurunan titer antibodi dalam darah
(Hidayati, 2011), memiliki efek antipiretik (Widyaningsih et
al., 2009), dan menurunkan tingkat parasitemia sehingga
dapat digunakan sebagai antimalaria dengan khasiat kurang
lebih setara klorokuin (Sawitri, 2006).

13

BAB III
PENUTUP
3. 1.
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh antara lain:
1. Bawang lemba dapat digunakan untuk menghambat
pertumbuhan sel kanker, antioksidan, antidiabetik,
diuretik, emetik, pencahar, menurunkan protrombin,
antifertilitas, antihipertensi, antimikrobial, antiinflamasi,
antivirus, antidiabetes, antidermatophyta dan
antimelagenosis, dan memiliki aktivitas sitotoksis.
2. Akar kuning efektif untuk menyembuhkan bronkitis, obat
cacing, depurative, disentri, sifilis, diabetes, maag, dan
hepatitis; bunga yang baik untuk disentri; tangkai baik
untuk cacar air, demam, dan sariawan; buahnya efektif
untuk sariawan; daun untuk anemia dan sariawan;
sedangkan kayu untuk afrodisiaka, antiseptik, maag, obat
cacing, iritasi kulit, malaria, meningkatkan enzim
pencernaan, anti infeksi, sakit perut, disinfektan,
analgesik, yang menawar rasa sakit, rematik, hepatitis,
dan sariawan.
3. Sarang semut sebagai imunostimulator dan sitostatika,
terapi kanker payudara, menurunkan kadar asam urat,
memberikan energi, menghentikan nyeri, mengatasi
rematik, melancarkan pembuluh darah, menghambat
ezim oksidase sehingga mencegah radikal bebas dan
menghambat kerja enzim dimustase, glutation, dan
redukatse.
4. Daun gelinggang antijamur (panu, kurap, kutu air),
antihipertensi, meningkatkan aktivitas dan kapasitas
fagositosis sel makrofag dan sebagai imunostimulator.
5. Penawar sampai sebagai analgetik, antipiretik,
melancarkan cairan limpa, meningkatkan sekresi salifa,
dan antimalaria.

14

15

DAFTAR PUSTAKA
Andriani, S., A. Akbar, W. Halwany, & F. Lestari. 2010. Eksplorasi
Tumbuhan Hutan Berkhasiat Obat di Kalimantan Selatan dan
Kalimantan Tengah. Banjarbaru: Balai Penelitian Kehutanan
Banjarbaru.
Bahi. M., R. Mutia, Mustanir, & E. Lukitaningsih. 2014. Bioassay
on n-Hexane Extract of Leaves Cassia alata againts Candida
albicans. Jurnal Natural. 14(1): 5-10.
Dwi, A. 2011. Tumbuhan Gelinggang (Cassia quaderialata).
http://hyeqie.blogspot.com/2011/08/tumbuhan-gelinggangcassia-quaderialata.html
Diakses pada tanggal 7 Juni 2015
Febrinda, A. E., M. Astawan, T. Wresdiyati, & N. D. Yuliana. 2013.
Kapasitas Antioksidan dan Inhibitor Alfa Glukosidae Ekstrak
Umbi Bawang Dayak. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan.
24(2): 161-167.
Fitri, Y., Rosidah, & E. Suwarso. 2014. Effects of Inhibition Cell
Cycle and Apoptosis of Sabrang Onion Extract (Eleutherine
bulbosa (Mill.) Urb.) on Breast Cancer Cells. PharmTech. 6(4):
1392-1396.
Hidayati, W. 2011. Pengaruh Ekstrak Batang Brotowali (Tinospora
crispa (L) Miers) terhadap Demam Typhoid pada Tikus Putih
(Racus novergicus L.). Skripsi. Jember: Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember.
Ilham, M. 2013. Brotowali.
http://hernaldankesehatan.com/2013/11/17/brotowali/
Diakses pada tanggal 6 Juni 2015

16

Indrawati, N. L., & Razimin. 2013. Bawang Dayak Si Umbi Ajaib


Penakluk Aneka Penyakit. Jakarta: Penerbit PT AgroMedia.
Insanu, M., S. Kusmardiyani, & R. Hartati. 2014. Recent Studies
on Phytochemicals and Pharmacological Effects of
Eleutherine americana Merr. Procedia Chemistry 13 Elsevier.
Hal.: 221-228.
Kuntorini, E. M., & M. D. Astuti. 2010. Penentuan Aktivitas
Antioksidan Ekstrak Etanol Bulbus Bawang Dayak
(Eleutherine americana Merr.). Sains dan Terapan Kimia.
4(1): 15-22.
Kurniawan, B., & W. F. Aryana. 2015. Binahong (Cassia alata L.) as
Inhibitor of Escherichia coli Growth. Journal Majority. 4(4):
100-104.
Kusmardi, S. Kumala, & E. E. Triana. 2007. Efek Imunostimulator
Ekstrak Daun Ketepeng Cina (Cassia alata L.) terhadap
Aktivitas dan Kapasitas Fagositosis Makrofag. Makara
Kesehatan. 11(2): 50-53.
Mangan, Y. 2009. Solusi Sehat Mencegah dan Mengatasi Kanker.
Jakarta: Penerbit PT AgroMedia.
Maryani, Marsoedi, H. Nursyam, & Maftuch. 2013. The
Phytochemistry and The Anti-Bacterial Activity of Yellow Root
(Arcangelisia flava Merr.) againts Aeromonas hydrophila.
Journal Biology and Life Science. 4(2): 180-190.
Plantamor1
http://www.plantamor.com/index.php?plant=884
Diakses pada tanggal 5 Juni 2015
Plantamor2

17

http://www.plantamor.com/index.php?plant=283
Diakses pada tanggal 6 Juni 2015
Rahayu, T., & D. A. Tyas. 2010. Pemanfaatan Tanaman Obat dalm
Pengobatan Penyakit Diabetes Mellitus dan Kolesterol.
Agronomika. 6(2): 98-106.
Santa, IGP., & B. Pragojo. 1998. Studi Taksonomi Brotowali
[Tinospora crispa (L.) ex Hook F. & Thoms]. Warta Tumbuhan
Obat Indonesia. 4(2): 27-29.
Sawitri, R. 2006. Pengaruh Pemberian Ekstrak Batang Tinospora
crispa dibandingkan dengan Klorokuin terhadap Tingkat
Parasitemia Mencit Swiss yang diinfeksi Plasmodium
berghei. Artikel Karya Tulis Ilmiah. Semarang: Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro.
Setyowati, F. M., S. Riswan, & S. Susiarti. 2005. Etnobotani
Masyarakat Dayak Ngaju di Daerah Timpah Kalimantan
Tengah. Jurnal Teknik Lingkungan. 8(3): 502-510.
Siswoyo, S. S. Achmadi, I. Batubara, & Y. Lestari. 2005.
Cultivation of Forest Medicinal Plants. Technical Report. 3(1)
3-20.
SITH ITB.
http://www.sith.itb.ac.id/herbarium/index.php?
c=herbs&view=detail&spid=238710
Diakses pada tanggal 5 Juni 2015
Sumarno. 2010. Pengaruh Ekstrak Sarang Semut (Myrmecodia
pendens Merr. & Perry) terhadap Aktifitas Proliferasi Sel dan
Indeks Apoptosis Kanker Payudara Mencit C3H. Majalah
Patologi. 19(3): 22-31.

18

Tayeb, R., V. Amelia, & Usmar. 2012. Pengaruh Pemberian Infus


Sarang Semut (Myrmecodia pendens) terhadap Kadar Asam
Urat Darah pada Kelinci (Oryctogalus cuniculus). Majalah
Farmasi dan Farmakologi. 16(1): 31-36.
Wahyuono, S., J. Setiadi, D. Saniosa, M. S. Hartati, Soekotjo, S.
Muslimah, W. Prihatiningtias. 2006. Identifikasi Struktur
Senyawa Bioaktif dari Akar Kuning (Fibraurea chloroleutica
Miers.) (#03-SBK-029) Koleksi dari Hutan Kalimantan Tengah.
Jurnal Farmasi. 1-8.
Widyaningsih, W., Y. Widyarini, A. Agustina, & V. Sofia. 2009. Efek
Antipiretik dari Fraksinasi Ekstrak Etanol Batang Brotowali
(Tinospora crispa L.) pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar.
Media Farmasi. 8(1): 33-38.

19