Anda di halaman 1dari 17

1.

Definisi
N

PERTANYAAN

O
1.

Hipertensi dicirikan dengan peningkatan tekanan darah

2.

diastolik dan sistolik yang intermiten atau menetap.


Hipertensi merupakan suatu penyakit dimana tekanan darah

3.

mencapai 140mmHg
Hipertensi dibagi menjadi 3 yaitu Hipertensi Primer,

4.

Hipertensi Sekunder dan Hipertensi Tersier


Hipertensi/ darah tinggi merupakan tanda awal penyakit

5.

jantung dan stroke.


Semakin tua kita, tekanan darah semakin meningkat

BENA

SALA

BENA

SALA

BENA

SALA

2. Penyebab
N

PERTANYAAN

O
1.
2.

Hipertensi dapat disebabkan karena keturunan.


Penyebab hipertensi dibagi menjadi 2 kelompok yaitu tidak

3.

dapat dikontrol dan dapat dikontrol


Merokok merupakan salah satu faktor yang dapat

4.

menyebabkan hipertensi
Stres merupakan penyebab hipertensi yang tidak dapat

5.

dikontrol
Kelebihan berat badan tidak dapat meningkatkan resiko
hipertensi/ darah tinggi.

3. Penatalaksanaan
N

PERTANYAAN

O
1.

Penggunaan garam berlebih tidak berpengaruh pada

2.
3.

tekanan darah.
Hipertensi hanya bisa diobati dengan obat dokter
Obat Hipertensi hanya diminum saat merasa pusing dan

4.

tengkuk sakit
Makanan tinggi buah, tinggi sayuran dan produk susu yang
rendah lemak merupakan makanan yang dianjurkan pada

5.

penderita hipertensi
Pola makan rendah lemak baik untuk mengontrol tekanan

6.

darah.
Aktifitas fisik seperti jalan cepat secara rutin setiap hari

7.
8.

dapat menurunkan tekanan darah


Olahraga tidak baik untuk penderita Hipertensi.
Berhenti merokok sangat dianjurkan bagi penderita

9.

hipertensi
Mengurangi Konsumsi alcohol dan kopi dapat membantu

10.

menurunkan tekanan darah


Penurunan berat badan tidak mempengaruhi penurunan
tekanan darah

MATERI HIPERTENSI

1. Definisi Hipertensi
Menurut Joint National Commite on Prevention Detection, Evaluation, and
Treatment of High pressure VII, 2003; hipertensi adalah suatu keadaan seseorang
mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal, yaitu tekanan darah sistolik
140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik 90 mmHg. Hipertensi adalah tekanan
darah tinggi yang abnormal dan diukur paling tidak pada 3 kesempatan yang berbeda.
Tekanan darah normal bervariasi sesuai usia, sehingga setiap diagnosis hipertensi
harus bersifat spesifik usia. Pada umumnya, tekanan yang dianggap optimal adalah
kurang dari 120 mmHg untuk tekanan sistolik dan 80 mmHg untuk tekanan diastolik,
sementara tekanan yang dianggap hipertensif adalah lebih dari 140 mmHg untuk
sistolik dan lebih dari 90 mmHg untuk diastolik. Istilah prahipertensi adalah tekanan
darah antara 120 dan 139 mmHg untuk sistolik dan 80 dan 89 mmHg untuk diastolik
(Corwin, 2009: Price, 2005).
Hipertensi merupakan penyakit kronis yang dapat menjadi salah satu faktor risiko
langsung terhadap kejadian infark miokard atau serangan jantung dan CVA
(cerebrovascular accidents) atau yang dikenal dengan stroke. Hipertensi adalah
peningkatan tekanan sistole, yang tingginya tergantung umur individu yang terkena.
Tekanan darah berfluktuasi dalam batas-batas tertentu, tergantung posisi tubuh, umur,
dan tingkat stres yang dialami. Hipertensi dengan peningkatan tekanan sistole tanpa
disertai peningkatan tekanan diastole lebih sering pada lansia, sedangkan hipertensi
peningkatan tekanan diastole tanpa disertai peningkatan tekanan sistole lebih sering
pada dewasa muda.
2. Klasifikasi Hipertensi
Beberapa klasifikasi tentang hipertensi dari berbagai sudut pandang ahli
dikelompokkan menjadi bermacam-macam.
A. Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan Penyebabnya:
a. Hipertensi primer (esensial)
Sekitar 20% dari populasi dewasa mengalami hipertensi; lebih dari 90%
dari mereka mengalami hipertensi esensial (primer), yang tidak mempunyai
penyebab medis yang dapat dikenali. Pada suatu ketika hipertensi timbul
mendadak dan parah serta terjadi proses malignan yang menyebabkan
penyimpangan kondisi dengan cepat. Gangguan emosional, obesitas, konsumsi
alkohol berlebih, dan stimulasi berlebihan dengan kopi, tembakau, dan obatobat stimulator memegang peranan dalam munculnya hipertensi. Hipertensi
tipe ini sangat bersifat familial dan menyerang lebih banyak wanita daripada

pria, tetapi pria Afrika-Amerika kurang mampu mentoleransi penyakit ini


(Baughman, 2000).
b. Hipertensi sekunder
Hipertensi dapat terjadi akibat penyakit yang tidak diketahui. Bila faktor
penyebab dapat diatasi, tekanan darah dapat kembali normal. Pada bentuk
sekunder dari hipertensi, penyakit parenkim dan penyakit renovaskular adalah
faktor penyebab paling umum. Kontrasepsi oral telah dihubungkan dengan
hipertensi ringan yang berhubungan dengan peningkatan substrat renin dan
peningkatan kadar angiotensin II dan aldosteron. Jadi, dapat disimpulkan
bahwa hipertensi jenis ini adalah hipertensi yang diakibatkan karena gangguan
fisiologis atau penyakit dalam tubuh sebelumnya.
1. ISH (Isolated Systolic Hypertension), IDH (Isolated Diastolic Hypertension),
SDH (Systolic Diastolic Hypertension)
Dewasa dan dewasa muda (<30 tahun) dengan peningkatan tekanan
darah dapat mengalami gangguan hemodinamik yaitu peningkatan stroke
volume, dimana PVR relatif normal. Dengan menjaga kondisi fisiologis, ISH
umumnya terbentuk dari hipertensi yang diamati pada kaum muda. Sebaliknya,
pada pertengahan usia (30-50 tahun), cardiac output normal atau mengalami
penurunan, tetapi gangguan hemodinamik terlihat menonjol yang ditandai
dengan peningkatan PVR (Peripheral Vascular Resistance). Isolated diastolic
hypertension (IDH) or mixed (systolic/ diastolic) hypertension (SDH) adalah
bentuk utama dari hipertensi yang diamati pada individu. SDH umumnya dilihat
sebagai hipertensi esensial yang menetap. Pada dewasa tua (>50 tahun), ISH
adalah bentuk utama dari hipertensi. Bagaimanapun juga, berbeda dengan
kondisi pada individu yang lebih muda, pengerasan pembuluh darah adalah
penyebab gangguan hemodinamik.
2. Isolated office (white-coat) hypertension
Isolated office (white-coat) hypertension adalah kondisi dimana pasien
dengan tekanan darah yang secara konsisten meningkat tetapi normal pada
lain waktu. Isolated office hypertension kira-kira diderita oleh 10-15% pasien
hipertensi. Tenaga kesehatan harus menentukan tujuan untuk mengidentifikasi
peningkatan tekanan darah yang terjadi dengan menggunakan pengukuran di
rumah. Ada juga dampak potensial dari fenomena ini pada biaya pengobatan
anti-hipertensi. Hal ini masih diperdebatkan apakah Isolated office (white-coat)
hypertension adalah fenomena yang murni atau apakah itu membawa
peningkatan risiko kardiovaskular. Keputusan untuk memulai pengobatan harus

berdasarkan faktor risiko keseluruhan pasien individu dan adanya kerusakan


organ target (Rahman., et. al, 2008).
B. Klasifikasi Hipertensi Menurut Tingginya Tekanan Darah:
Tabel 2.1 Perbedaan Klasifikasi Hipertensi versi JNC VII dan JNC VI
JNC 6

Nilai Tekanan Darah

JNC 7

Sistolik/Diastolik (mmHg)
Optimal
Normal

<120/80
120-129/80-84
130-139/85-89

Normal
Prehipertensi

Borderline
Hipertensi

140/90

Hipertensi

Stage 1: hipertensi

140-159/90-99

Stage 1: hipertensi

Stage 2: hipertensi

160-179/100-109

Stage 3: hipertensi

180/110

Stage 2: hipertensi

C. Klasifikasi Hipertensi Menurut Kelompok Umur:


Tabel 2.2 Hipertensi Menurut Kelompok Umur
Kelompok Usia

Normal (mmHg)

Hipertensi (mmHg)

Bayi

80/40

Normal

Anak usia 7-11 tahun

100/60

120/80

Remaja 12-17 tahun

115/70

130/80

Dewasa (20-45 tahun)


(45-65 tahun)
(>65 tahun)

120-125/75-80
135-140/85
150/85

135/90
140/90-160/95
160/95

D. Klasifikasi Hipertensi Menurut Perjalanan Penyakitnya:


Penggolongan hipertensi menurut perjalanan penyakitnya ini dibagi
menjadi dua, yakni :
1. Hipertensi Benigna, bila timbulnya kenaikan tekanan darah terjadi secara
berangsur,
2. Hipertensi Maligna, bila tekanan darah naik secara progresif dan cepat dan
biasanya disertai dengan banyak komplikasi seerti GGk, CVA, hemoragi
retina, dan ensefalopati (Tambayong, 2000).

E. Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan Kegawatan :


1. Hipertensi Emergensi, jika TD diastolik >120 mmHg, disertai dengan
kerusakan organ target dan apabila ada keterlambatan dalam penanganan
dapat berakibat pada kematian,
2. Hipertensi Urgensi, jika TD Diastolik >120 mmHg dan tidak disertai dengan
tanpa kerusakan organ namun dalam penanganannya tekanan darah harus
diturunkan dalam 24 jam sejak onset.
F. Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan Bentuknya :
1. Hipertensi Diastolik
Hipertensi diastolik (diastolic hypertension) yaitu peningkatan tekanan diastolik
tanpa diikuti peningkatan tekanan sistolik, biasanya jenis hipertensi ini
ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda.
2. Hipertensi Sistolik
Hipertensi sistolik (isolated systolic hypertension) yaitu peningkatan tekanan
sistolik tanpa diikuti peningkatan tekanan diastolik, umumnya ditemukan pada
usia lanjut.
3. Hipertensi campuran
Hipertensi campuran (sistol dan diastol yang meninggi) yaitu kombinasi dari
peningkatan tekanan darah pada sistol dan diastol. (Gunawan, 2001)

3. Penyebab Hipertensi
Institut Jantung, Paru dan Darah memperkirakan separuh orang yang menderita
hipertensi tidak sadar akan kondisinya. Sekitar 20% populasi dewasa mengalami
hipertensi, lebih dari 90% diantaranya menderita hipertensi esensial (primer), dimana
tidak dapat ditentukan penyebab medisnya (Smeltzer, 2002 & Rubenstein, 2007).
Etiologinya mungkin multifaktorial. Yang termasuk faktor predisposisi diantaranya
bertambahnya usia, obesitas, asupan alkohol berlebihan. Sedangkan hipertensi
sekunder bisa timbul akibat penyakit ginjal, penyakit endokrin (sindrom Cushing,
sindrom Conn, feokromoditoma, akromegali), pil kontrasepsi oral, eklampsia, dan
koaktasio aorta (Rubenstein, 2007).
A. Stenosis arteri ginjal
Stenosis arteri ginjal adalah suatu keadaan yang harus mendapat perhatian
khusus. Penyempitan arteri yang memasok darah ke ginjal (stenosis arteri ginjal)
menyebabkan tekanan darah menjadi tinggi. Keadaan ini dapat diperbaiki dengan
pembedahan atau dilatasi (melebarkan arteri).
B. Gagal ginjal
Penderita gagal ginjal biasanya juga membutuhkan perawatan tekanan darah
tinggi. Tekanan darah yang tinggi pada penderita ini terutama disebabkan oleh
kegagalan ginjal dalam mengatur jumlah garam dan air dalam tubuh. Apabila
penderita menjalankan dialisis, penderita masih tetap harus minum obat untuk
menjaga tetap normal.
C. Kelebihan noradrenalin
Penyebab tekanan darah tinggi lainnya adalah gangguan kelenjar adrenal.
Penyebab ini jarang dijumpai. Namun, bila ada kasus, termasuk gangguan yang
dapat disembuhkan. Kelenjar adrenal terdapat tepat di atas tiap-tiap ginjal. Kelenjar
adrenal mempunyai lapisan dalam dan luar yang dapat mengeluarkan berbagai
hormon ke dalam aliran darah. Bagian dalam kelenjar disebut medula yang
mengeluarkan adrenalin atau hormon yang dihasilkan sebagai rasa takut, marah,
dan latihan. Adrenalin dapat meningkatkan denyut jantung. Selain itu, medula juga
menghasilkan hormon noradrenalin yang juga menyebabkan kontraksi otot arteri
dan meningkatkan tekanan darah. Hipertensi akibat terlalu banyak noradrenalin
dapat dikendalikan dengan obat, tetapi untuk kesembuhannya diperlukan tindakan
bedah.
D. Sindroma cushing dan aldosteronisme
Sindrom ini merupakan keadaan yang sangat jarang terjadi. Keadaan ini sebagai
akibat adanya tumor atau pertumbuhan yang berlebihan dari lapisan luar kelenjar
adrenal. Pada keadaan ini, dihasilkan hormon stres lain yaitu kortisol atau hormon

lain yang disebut aldosteron hormon yang mengakibatkan ginjal menahan garam
(atau sodium) dan melepaskan kalium.
E. Alkohol
Hipertensi dikaitkan dengan konsumsi alkohol berlebihan dan hipertensi
cenderung turun bila konsumsi alkohol dihentikan atau dibatasi.
F. Stres
Mungkin hanya sedikit orang yang tidak segera menghubungkan hipertensi
dengan stres. Namun, peranan stres sebagai faktor penyebab hipertensi tidak
diragukan lagi. Stres dapat meningkatkan tekanan darah
4. Faktor Resiko Hipertensi
Dengan perubahan fisiologis normal penuaan, faktor resiko hipertensi lain
meliputi diabetes ras riwayat keluarga jenis kelamin faktor gaya hidup seperti obesitas
asupan garam yang tinggi alkohol yang berlebihan.
Faktor resiko yang mempengaruhi hipertensi yang dapat atau tidak dapat
dikontrol, antara lain:
a. Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol:
Faktor risiko yang tidak dapat diubah, seperti riwayat keluarga (genetik
kromosomal), umur (pria : > 55 tahun; wanita : > 65 tahun), jenis kelamin pria
atau wanita pasca menopause.
a. Jenis kelamin
Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama dengan wanita.Namun
wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler sebelum menopause. Wanita
yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang
berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kadar
kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah
terjadinya proses aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen dianggap
sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada usia premenopause. Pada
premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen
yang selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan. Proses ini terus
berlanjut dimana hormon estrogen tersebut berubah kuantitasnya sesuai
dengan umur wanita secara alami, yang umumnya mulai terjadi pada wanita
umur 45-55 tahun.
Dari hasil penelitian didapatkan hasil lebih dari setengah penderita hipertensi
berjenis kelamin wanita sekitar 56,5%.Hipertensi lebih banyak terjadi pada
pria bila terjadi pada usia dewasa muda. Tetapi lebih banyak menyerang
wanita setelah umur 55 tahun, sekitar 60% penderita hipertensi adalah

wanita. Hal ini sering dikaitkan dengan perubahan hormon setelah


menopause.
b. Umur
Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi tekanan darahnya, jadi orang
yang lebih tua cenderung mempunyai tekanan darah yang tinggi dari orang
yang berusia lebih muda. Hipertensi pada usia lanjut harus ditangani secara
khusus. Hal ini disebabkan pada usia tersebut ginjal dan hati mulai menurun,
karena itu dosis obat yang diberikan harus benar-benar tepat. Tetapi pada
kebanyakan kasus , hipertensi banyak terjadi pada usia lanjut. hipertensi
sering terjadi pada usia pria : > 55 tahun; wanita : > 65 tahun. Hal ini
disebabkan terjadinya perubahan hormon sesudah menopause. Hanns Peter
(2009) mengemukakan bahwa kondisi yang berkaitan dengan usia ini adalah
produk samping dari keausan arteriosklerosis dari arteri-arteri utama,
terutama

aorta,

dan

akibat

dari

berkurangnya

kelenturan.

Dengan

mengerasnya arteri-arteri ini dan menjadi semakin kaku, arteri dan aorta itu
kehilangan daya penyesuaian diri.
c. Keturunan (Genetik)
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akanmenyebabkan keluarga itu
mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan dengan
peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium
terhadap sodium Individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai
risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada orang yang
tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Seseorang akan
memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang
tuanya adalah penderita hipertensi.
b. Faktor resiko yang dapat dikontrol:
1. Obesitas
Pada usia + 50 tahun dan dewasa lanjut asupan kalori mengimbangi
penurunan kebutuhan energi karena kurangnya aktivitas. Itu sebabnya berat
badan meningkat. Obesitas dapat memperburuk kondisi lansia. Kelompok
lansia dapat memicu timbulnya berbagai penyakit seperti artritis, jantung dan
pembuluh darah, hipertensi. Indeks masa tubuh (IMT) berkorelasi langsung
dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik. Risiko relatif untuk
menderita hipertensi pada orang obes 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan
seorang yang berat badannya normal. Pada penderita hipertensi ditemukan
sekitar 20-30% memiliki berat badan lebih.
2. Kurang Olahraga.

Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit tidak menular,


karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang
akan menurunkan tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih otot jantung
sehingga menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan pekerjaan yang
lebih berat karena adanya kondisi tertentu Kurangnya aktivitas fisik menaikan
risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk.
Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak jantung lebih
cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih keras pada setiap
kontraksi, semakin keras dan sering jantung harus memompa semakin besar
pula kekuaan yang mendesak arteri.
3. Kebiasaan Merokok
Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Perokok berat dapat
dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna dan risiko
terjadinya stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis.
4. Mengkonsumsi garam berlebih
Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization

(WHO)

merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko


terjadinya hipertensi. Kadar sodium yang direkomendasikan adalah tidak
lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram sodium atau 6 gram garam) perhari.
Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam
cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya cairan intraseluler
ditarik

ke

luar,

Meningkatnya

sehingga

volume

volume

cairan

cairan

ekstraseluler

ekstraseluler
tersebut

meningkat.

menyebabkan

meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada timbulnya


hipertensi.
5. Minum alkohol
Banyak penelitian membuktikan bahwa alkohol dapat merusak jantung dan
organ-organ lain, termasuk pembuluh darah. Kebiasaan minum alkohol
berlebihan termasuk salah satu faktor resiko hipertensi.
6. Minum kopi
Faktor kebiasaan minum kopi didapatkan dari satu cangkir kopi mengandung
75 200 mg kafein, di mana dalam satu cangkir tersebut berpotensi
meningkatkan tekanan darah 5 -10 mmHg.
7. Stress
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf
simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten
(tidak menentu). Stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan

darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti akan tetapi angka
kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di
pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami
kelompok masyarakat yang tinggal di kota. Menurut Anggraini (2009)
mengatakan stres akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan
curah jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatis. Adapun
stres ini dapat berhubungan dengan pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan
karakteristik personal.
5. Patofisiologi Hipertensi(Terlampir)
6. Manifestasi Klinis Hipertensi
Hipertensi primer sedang atau berat sebagian besar tanpa gejala selama
bertahun-tahun sehingga sering disebut dengan silent killer. Gejala yang paling sering,
sakit kepala, juga sangat spesifik. Sakit kepala suboccipital, terjadi di awal pagi dan
mereda pada siang hari, dikatakan karakteristik, tetapi setiap jenis sakit kepala dapat
terjadi. Hipertensi dipercepat dikaitkan dengan mengantuk, kebingungan, gangguan
penglihatan, mual dan muntah (hipertensi ensefalopati). Selain gejala tersebut gejala
lainnya seperti pusing, kelelalahan atau jika hipertensi sudah berlangsung hipertensi
menahun akan muncul gejala mual, muntah, sesak nafas, gelisah, pandangan kabur.
Tidak jarang pula, pasien sering mengalami penurunan kesadaran/pingsan bahkan
koma.
Hipertensi pada pasien dengan pheochromocytomas yang mengeluarkan
dominasi norepinephrine biasanya dipertahankan tetapi mungkin episodik. Serangan
khas berlangsung dari menit sampai jam dan berhubungan dengan sakit kepala,
kecemasan, palpitasi, keringat banyak, pucat, tremor, dan mual dan muntah. Tekanan
darah meningkat, dan angina atau edema paru akut dapat terjadi. Dalam
aldosteronisme primer, pasien mungkin memiliki kelemahan otot, poliuria, dan nokturia
karena hipokalemia, hipertensi maligna jarang terjadi. Hipertensi kronis sering
menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri, yang mungkin berhubungan dengan diastolik
atau, dalam tahap akhir, disfungsi sistolik.
Penyebab keterlibatan serebral (1) stroke akibat trombosis atau (2) perdarahan
kecil atau besar dari microaneurysms menembus arteri intrakranial. Hipertensi
ensefalopati mungkin disebabkan oleh kongesti kapiler akut dan eksudasi dengan
edema serebral. Temuan biasanya reversibel jika perawatan yang memadai diberikan

segera. Tidak ada hubungan yang ketat tekanan darah diastolik dengan hipertensi
ensefalopati, tetapi biasanya melebihi 130 mm Hg.
Tabel 2.3 Gambaran klinis-manifestasi organ target yang berhubungan dengan
hipertensi darurat (Torre et al., 2009)
Organ Target
Sistem Saraf Pusat

Optalmologi

Ginjal
Kardiovaskular

Hematologi

Manifestasi Klinis
Perubahan status mental
Kejang
Cerebrovascular accident
Sakit kepala
Perdarahan intrakranial
Penglihatan kabur
Diplopia
Perdarahan retina
Papilledema
GGA dan hematuria
Angina (nyeri dada)
Congestive heart failure
Pulmonary edema
Aortic dissection
Microangioplasthic hemolytic anemia

7. Pencegahan dan Penatalaksanaan Hipertensi


A. Manajemen Non Farmakologi
Managemen non farmakologi (modifikasi gaya hidup terapeutik) memainkan
peranan

penting dalam

managemen hipertensi.

Ini mungkin satu-satunya

pengobatan yang diperlukan dalam tahap satu hipertensi. Sayangnya data dari studi
cross-sectional menunjukkan bahwa pengobatan non-farmakologis untuk pasien
dengan hipertensi masih belum memadai. Beberapa manajemen non farmakologi
dalam mengontrol tekanan darah antara lain :
1. Penurunan berat badan
Penurunan berat badan adalah yang paling menguntungkan bagi pasien
yang mempunyai lebih dari 10% kelebihan berat badan. BMI yang ideal untuk
orang Asia sekitar 18,5-23,5 kg/m2. Target praktis untuk pasien kelebihan berat
badan adalah pengurangan minimum 5% berat badan. Namun penurunan berat
badan sebesar 4,5 kg secara signifikan mengurangi TD.
2. Mengurangi Konsumsi Sodium
Pengaruh pembatasan natrium dalam hipertensi dapat bervariasi. Subyek
lansia lebih sensitif terhadap asupan natrium. Rata-rata, pengurangan 4 mmHg
sistolik dan diastolik 2 mmHg dicapai dengan pembatasan natrium. Konsumsi
<100 mmol natrium atau 6g natrium klorida sehari dianjurkan (setara dengan
<1/4 sendok teh garam atau 3 sendok teh monosodium glutamat).
3. Menghindari konsumsi alkohol berlebihan

Alkohol memiliki efek akut dalam meningkatkan TD. Saran standar untuk
membatasi asupan tidak lebih dari 21 unit untuk pria dan 14 unit untuk wanita
per minggu (1 unit setara dengan 1/2 gelas bir atau 100 ml anggur atau 20ml
wiski). Pasien hipertensi yang menjadi peminum berat lebih cenderung memiliki
hipertensi resisten terhadap obat. Satu-satunya cara untuk mengurangi TD
pasien efektifnya adalah dengan mengurangi atau menghentikan konsumsi
alkohol. Mengurangi alkohol dapat menurunkan tekanan sistolik 10 mmhg dan
diastolik 7 mmhg.
4. Olahraga secara teratur
Jenis latihan aerobik lebih efektif daripada latihan yang melibatkan
pelatihan resistensi, (misalnya angkat besi). Saran umum kesehatan jantung
olahraga ringan, seperti jalan cepat selama 30-60 menit setidaknya 3 kali
seminggu.
5. Pengaturan diet
Diet yang kaya buah-buahan, sayuran dan produk susu dengan
penurunan lemak jenuh dan jumlah lemak dapat menurunkan TD (11/6 mmHg
pada penderita hipertensi dan 4/2 mmHg pada pasien dengan TD normal).
Jenis diet ini juga memiliki efek menguntungkan pada keseluruhan kesehatan
jantung. Modifikasi diet atau pengaturan diet sangat penting pada klien
hipertensi, tujuan utama dari pengaturan diet hipertensi adalah mengatur
tentang makanan sehat yang dapat mengontrol tekanan darah tinggi dan
mengurangi penyakiit kardiovaskuler. Secara garis besar, ada empat macam
diet untuk menanggulangi atau minimal mempertahankan keadaan tekana
darah, yakni : diet rendah garam, diet rendah kolestrol, lemak terbatas serta
tinggi serat, dan rendah kalori bila kelebihan berat baadan (Astawan, 2002).
Diet rendah garam diberikan kepada pasien dengan edema atau asites
serta hipertensi. Tujuan diet rendah garam adalah untuk menurunkan tekanan
darah dan untuk mencegah edema dan penyakit jantung (lemah jantung).
Adapun yang disebut rendah garam bukan hanya membatasi konsumsi garam
dapur tetapi mengkonsumsi makanan rendah sodium atau natrium (Na).Oleh
karena itu yang sangat penting untuk diperhatikan dalam melakukan diet
rendah garam adalah komposisi makanan yang harus mengandung cukup zat
zat gizi, baik kalori, protein, mineral maupun vitamin dan rendah sodium dan
natrium (Gunawan, 2001).
Sumber sodium antara lain makanan yang mengandung soda kue,
baking powder, MSG (Mono Sodium Glutamat), pengawet makanan atau

natrium benzoat (Biasanya terdapat didalam saos, kecap, selai, jelly), makanan
yang dibuat dari mentega serta obat yang mengandung natrium (obat sakit
kepala). Bagi penderita hipertensi, biasakan penggunaan obat dikonsultasikan
dengan dokter terlebih dahulu. ( Hayens, 2003 ).
Diet rendah kolestrol dan lemak terbatas. Di dalam tubuh terdapat tiga
bagian lemak yaitu: kolestrol, trigeserida, dan fospolipid. Tubuh memperoleh
kolestrol dari makanan sehari hari dan dari hasil sintesis dalam hati. Kolestrol
dapat berbahaya jika dikonsumsi lebih banyak dari pada yang dibutuhkan oleh
tubuh, peningkatan kolestrol dapat terjadi karena terlalu banyak mengkonsumsi
makanan yang mengandung kolestrol tinggi dan tubuh akan mengkonsumsi
sekitar 25 50 % dari setiap makanan (Amir, 2002 ).
Diet tinggi serat sangat penting pada penderita hipertensi, serat terdiri
dari dua jenis yaitu serat kasar (Crude fiber) dan serat kasar banyak terdapat
pada sayuran dan buahbuahan, sedangkan serat makanan terdapat pada
makanan karbohidrat yaitu : kentang, beras, singkong dan kacang hijau. Serat
kasar dapat berfungsi mencegah penyakit tekanan darah tinggi karena serat
kasar mampu mengikat kolestrol maupun asam empedu dan selanjutnya
membuang bersama kotoran. Keadaan ini dapat dicapai jika makanan yang
dikonsumsi mengandung serat kasar yang cukup tinggi ( Mayo, 2005 ).
6. Berhenti merokok
Hal ini penting dalam manajemen keseluruhan dari pasien dengan
hipertensi dalam mengurangi risiko kardiovaskular. Dengan berhenti merokok
tekanan darah akan turun secara perlahan , disamping itu jika masih merokok
maka obat yang dikonsumsi tidak akan bekerja secar optimal dan dengan
berhenti merokok efektifitas obat akan meningkat ( Santoso, 2001 ).
7. Lainnya
Ini termasuk managemen stres, perubahan mikronutrien dan suplemen
makanan dengan minyak ikan, kalium, kalsium, magnesium dan serat (Rahman
et al., 2008).
Tabel 2.4 Modifikasi gaya hidup untuk mencegah dan managemen hipertensi (JNC
VII, 2003)
Modifikasi

Rekomendasi

Penurunan

TD

Penurunan berat badan

Mempertahankan berat badan

Sistolik
5-20 mmHg/10 kg

Diet DASH

normal (BMI 18.5-24.9 kg/m2


Mengkonsumsi banyak buah,

8-14 mmHg

sayur, dan
lemak
Penurunan

produk

dengan

rendah

penurunan

lemak jenuh dan lemak total


konsumsi Penurunan konsumsi sodium

sodium/natrium

2-8 mmHg

tidak lebih dari 100 mmol per


hari (2.4 g sodium atau 6 g

Olahraga

sodium chloride)
Aktivitas aerobik biasa seperti

4-9 mmHg

jalan cepat (kurang lebih 30


Alkohol

menit per hari)


Batasi konsumsi tidak lebih
dari 2 minuman (24 oz beer,
10 oz wine, atau 3 oz 80
whiskey) per hari pada lakilaki, dan tidak lebih dari 1
minuman per hari pada wanita
dan

seseorang

yang

mempunyai berat badan lebih


ringan
B. Manajemen Farmakologi
Menurut Muttaqin (2009), pengobatan farmakologi hipertensi terdiri dari:
1. Diuretik
Hidroklorotiazid adalah diuretik yang paling sering diresepkan untuk
mengobati hipertensi ringan. Dapat diberikan sendiri pada klien dengan
hipertensi ringan atau klien yang baru. Banyak obat antihipertensi dapat
menyebabkan retensi cairan; karena itu, sering kali diuretik diberi bersama
antihipertensi.
2. Simpatolitik (menekan simpatetik)
Penghambat (adrenergik bekerja di sentral simpatolitik), penghambat
adrenergik alfa, dan penghambat adrenergik beta, juga dianggap sebagai
simpatolitik dan menghambat reseptor beta.
3. Vasodilator arteriol yang berkerja langsung
Vasodilator yang bekerja langsung adalah obat tahap III yang bekerja
merelaksasikan otot-otot polos pembuluh darah, terutama arteri, sehingga
menyebabkan vasodilatasi. Dengan terjadinya vasodilatasi, tekanan darah akan
turun dan natrium serta air tertahan sehingga terjadi edema perifer.
4. Antagonis angiotensin (ACE inhibitor)

Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEi) menghambat secara


kompetitif pembentukan angiotensin II dari prekursor angiotensin I yang inaktif,
yang terdapat pada darah, pembuluh darah, ginjal, jantung, kelenjar adrenal dan
otak. Angiotensin II merupakan vasokonstriktor kuat yang memacu penglepasan
aldosteron

dan

aktivitas

simpatis

sentral

dan

perifer.

Penghambatan

pembentukan angiotensin II ini akan menurunkan tekanan darah. Jika sistem


angiotensinreninaldosteron teraktivasi (misalnya pada keadaan penurunan
sodium, atau pada terapi diuretik) efek antihipertensi ACEi akan lebih besar.
5. Penghambat saluran kalsium (blocker calcium antagonis)
Blokir jalur kalsium akan memperlambat gerakan kalsium ke dalam sel-sel
pembuluh darah jantung dan darah, karena kalsium menyebabkan kontraksi
jantung

kuat,

maka

obat

ini

mudah

membuat

kontraksi

jantung

dan

mengendurkan pembuluh darah.


8. Komplikasi Hipertensi
A. CVA (Cerebrovascular Attack)
Stroke dapat timbul akibat perdarahan tekanan tinggi di otak, atau akibat
embolus yang terlepas dari pembuluh non otak yang terpajan tekanan tinggi.
Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang memperdarahi
otak mengalami hipertropi dan menebal, sehingga aliran darah ke daerah-daerah
yang diperdarahinya berkurang. Arteri-arteri otak yang mengalami arterosklerosis
dapat melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma
(Corwin, 2000). Gejala terkena stroke adalah sakit kepala secara tiba-tiba, seperti,
orang bingung, limbung atau bertingkah laku seperti orang mabuk, salah satu
bagian tubuh terasa lemah atau sulit digerakan (misalnya wajah, mulut, atau
lengan terasa kaku, tidak dapat berbicara secara jelas) serta tidak sadarkan diri
secara mendadak (Santoso, 2006).
B. IMA (Infark Miokard Akut)
Infark Miokard dapat terjadi apabila arteri koroner yang arterosklerosis tidak
dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk trombus
yang menghambat aliran darah melalui pembuluh darah tersebut. Karena
hipertensi kronik dan hipertensi ventrikel, maka kebutuhan oksigen miokardium
mungkin tidak dapat terpenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang
menyebabkan infark. Demikian juga hipertropi ventrikel dapat menimbulkan
perubahan-perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi

disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan resiko pembentukan bekuan (Corwin,


2000).
C. Gagal Ginjal
Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi
pada kapiler-kepiler ginjal, glomerolus. Dengan rusaknya glomerolus, darah akan
mengalir keunit-unit fungsional ginjal, nefron akan terganggu dan dapat berlanjut
menjadi hipoksia dan kematian. Dengan rusaknya membran glomerolus, protein
akan keluar melalui urin sehingga tekanan osmotik koloid plasma berkurang,
menyebabkan edema yang sering dijumpai pada hipertensi kronik (Corwin, 2000).
D. Gagal Jantung
Gagal jantung atau ketidakmampuan jantung dalam memompa darah yang
kembalinya kejantung dengan cepat mengakibatkan cairan terkumpul di paru,kaki
dan jaringan lain sering disebut edma.Cairan didalam paru paru menyebabkan
sesak napas,timbunan cairan ditungkai menyebabkan kaki bengkak atau sering
dikatakan edema (Amir, 2002)
E. Ensefalopati
Ensefalopati dapat terjadi terjadi terutama pada hipertensi maligna
(hipertensi yang cepat). Tekanan yang tinggi pada kelainan ini menyebabkan
peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke dalam ruang intertisium
diseluruh susunan saraf pusat. Neron-neron disekitarnya kolap dan terjadi koma
serta kematian (Corwin, 2000).