Anda di halaman 1dari 19

TUGAS UJIAN

PARASTESIA

Disusun oleh:
Paramita Deniswara

G4A015017

Jatmiko Edy Nugroho

G4A015018

SMF ILMU SARAF


RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016
LEMBAR PENGESAHAN

[Type text]

TUGAS UJIAN
PARASTESIA

Diajukan untuk memenuhi syarat mengikuti Kepanitraan Klinik


Di bagian SMF Saraf
RSUD Prof. Margono Soekarjo Purwokerto

Disusun Oleh :
Paramita Deniswara

G4A015017

Jatmiko Edy Nugroho

G4A015018

Purwokerto, Agustus 2016

TINJAUAN PUSTAKA

[Type text]

2.1

Definisi
Paresthesia adalah salah satu jenis nyeri neuropatik yang

timbul

sebagai sensasi spontan maupun sensasi abnormal. Permasalahannya


adalah anomali parastesi yang bisa terjadi di mana saja di sepanjang jalan
sensorik saraf perifer hingga korteks sensorik (Luwemi et al., 2012).
Paresthesia sering digambarkan sebagai nyeri atau sensasai seperti ditusuk
tusuk jarum. Paresthesia jenis tertentu dapat dilihat pada sistem saraf pusat
(SSP) sebagai bentuk dari : kejang fokal sensorik dengan lesi kortikal,
nyeri spontan pada sindrom talamus, atau munculnya paresthesia bawah
bagian punggung atau lengan selama leher fleksi (Lhermitte) pada pasien
dengan multiple sclerosis (MS) atau gangguan servikal sumsum tulang
belakang. Tingkat cedera tulang belakang dapat menyebabkan munculnya
sensasi seperti diikat, kesadaran yang berubah samar-samar pada sensasi
sekitar perut. kerusakan akar saraf atau lesi perifer yang terisolasi dapat
menyebabkan

paresthesia,

namun

parestesia paling intens dan

mengganggu disebabkan oleh beberapa neuropati perifer simetris


(Polineuropati). Paresthesia bisa bersifat sementara (setelah kaki ditekuk)
dan tidak terkait dengan kelainan neurologis. Namun, jika paresthesia
tidak bersifat sementara, adanya sistem sensorik abnormal harus
dipertimbangkan (NINDS, 2015).
Kebanyakan orang-orang memilki pengalaman parestesia secara
berkala, perasaan seperti ditusuk-tusuk jarum, dan pada saat mereka duduk
dengan menyilangkan kaki telalu lama, atau tertidur dengan tangan
tertindih dibawah kepala. Hal tersebut terjadi ketika adanya tekanan pada
saraf yang berada pada area tersebut. Perasaan tersebut secara cepat
menghilang saat tekanan dihilangkan (Alhoeseni et al., 2012).
Parestesia kronik sering menjadi gejala dasar pada penyakit neurologis
atau kerusakan akibat trauma saraf. Parastesi bisa disebabkan oleh
gangguan afektif dari system saraf pusat, seperti stroke dan serangan
iskemik (mini stroke), multiple sclerosis, myelitis transversa, dan
enchepalitis. Sebuah tumor atau lesi vascular yang terjadi pada otak atau

[Type text]

spinal bisa juga menyebabkan parastesia. Syndrome saraf entrapment,


seperti carpal tunnel syndrome, bisa merusak nervus perifer dan
menyebabkan parastesia

yang bersangkutan dengan nyeri. Evaluasi

diagnostic didasarkan pada perbedaan kondisi dasar yang menyebabkan


sensasi parastesi. Riwayat kesehatan seorang individu, pemeriksaan fisik,
dan test laboratorium merupakan kebutuhan untuk penegakkan diagnosis
(NINDS, 2015).
2.2

Anatomi
Reseptor

sensory

merupakan

struktur

yang

befungsi

mengkonversikan rangsangan dari lingkungan menjadi stimulus potensial


aksi untuk ditransmisikan ke otak. Anatomi dan klasifikasi saraf sensoris
kutaneues telah dibedakan menajdi dua kelompok: saraf epidermal dan
dermal. Saraf epidermal terdiri dari bagian akhir bebas dari saraf (misalnya
sel merkel). Bagian bebas tersebut merupakan penyebaran akson yang
masih terdiri dari sel sel perineural termasuk sitoplasma sel Schwann, dan
organel sel lainnya. Pada bagian dermal, kita memiliki bagian bebas
akhiran saraf , rambut serabut saraf penghubung (Pinkus disc), dan akhiran
tanpa kapsul (Ruffini, Meissner, Krause, Vater Pacini (Vibrasi), dan sel-sel
mucocutaneus.

Gambar. 1. Kulit dan sel-sel reseptor sensorik


Studi

[Type text]

neurofisiologi,

telah

menemukan

banyak

tambahan

klasifikasi

fungsional

saraf

sensori

berdasaran

dari

respon

mechanoreceptor cutaneus. Saraf sensori bisa di subdivisakn menjadi 4


group. Serbut A (12-22 mm) yang tinggi akan myelin dengan
kemampuan konduksi cepat (70-120 m/2) dan berhubungan dengan otototot spindle dan tendon organ. Serat A merupakan serat dengan myelin
moderate (6-12mm) dan menangkap respetor sentuhan. Serat A
merupakan serat dengan myelin tipis (1-5 mm), dengan kecepatan
konduksi (4-30 m/s), dan secara umum berbentuk polymodal. Serabut C
merupakan serabut saraf dengan konduksi lambat (0.5-2 m/s) tanpa myelin
dan berukuran kecil (0/2-1/5 mm). Serabut A 80% membentuk saraf
sensori primer yang menyebar dari ganglia dorsal, dengan serat C
membentuk sebanyak 20% sebagai afferent primer. Di samping itu,
aktivasi tresshold serabut A lebih tinggi daripada serabut C. Pada level
molecular, distribusi reseptor spesifik menajdi penting untuk beberapa
fungsi dari subtype saraf sensori. Contohnya, mekanoreseptor secara
eksklusif mengekspresikan Ca channel Calcium tipe T pada reseptor serat
rambut (D-hair) akar ganglion dorsal (DRG). Blokade secara farmakologi
mengindikasikan bahwa reseptor ini penting untuk resptor D-hair normal
termasuk mekanosensitivitas. Namun, perbedaan mekanisme sepertinya
membawahi fungsi mekanosensory pada berbagai jaringan. Kulit
diinervasi oleh somatic afferent dengan serabut tipe C (tanpa myelin)
maupun serabut tipe A, sebagai saraf afferent yang mentransmisi sensor
stimulus (perubahan temperature, kimia, mediator inflamasi, perubahan
pH) melalui akar ganglia dorsal dan spinal cord ke spesifik area pada
CNS, hasilnya terdapat persepsi nyeri, terbakar, maupun gatal. Kulit
tersebut berbicara pada otak melalui serabut afferent primer mengenai
informasi kondisi yang terjadi di perifer, seperti nyeri, gatal, dan inflamasi
local (Luwimi et al., 2012).

[Type text]

Gambar 3. Struktur-struktur di Medula Spinalis

[Type text]

Gambar 4. Medula spinalis, Serabut saraf sensory, dan motorik

Gambar 5. Alur penerimaan rangsang dari luar ke ganglion dorsal medulla spinalis

2.3

Fisiologi
A. Transduksi sensorik yang berhubungan dengan anatomi
Reseptor sensoris melalui sensorik transduksi mengkonversi
rangsangan dari lingkungan potensial aksi untuk transmisi ke otak.
Studi neurophysiological membagi klasifikasi fungsional saraf
sensorik yang berdasarkan jenis dari reseptor mechanoreceptor. Saraf

[Type text]

sensorik dapat dibagi menjadi empat kelompok: serabut A (12-22


mm) myelinisasi tinggi dan disebarkan dengan kecepatan konduksi
cepat (70-120 m/s), dan berhubungan dengan otot dan tendon organ.
serabut A dengan moderate myelin (6-12 mm) dan reseptor sentuhan.
Serabut A merupakan myelin selubung tipis (1 5 mm), kecepatan
konduksi menengah (4-30 m/s), dan biasanya polymodal. Serabut C
konduksi lambat (0,5-2m/s) tidak bermielin dan kecil (0,2-1.5 mm).
Serabut A hampir 80% dari saraf sensorik primer yang tumbuh dari
ganglia akar dorsal, sedangkan serabut C hampir 20% dari afferents
primer. Selain itu, ambang aktivasi A serabut lebih tinggi daripada C
serabut. Mekanisme yang berbeda tampaknya mendasari fungsi
mechanosensory di berbagai jaringan. Kulit dipersarafi oleh saraf
somatik aferen dengan serabut syaraf afferen primer baik yang tidak
bermielin (C) atau yang bermielin (A) mentransmisikan rangsangan
sensorik melalui ganglion akar dorsal dan medulla spinalis ke spesifik
area di sistem syaraf pusat (Roosterman, et al., 2006).
B. Proses nyeri
Pembentukan dari hubungan listrik abnormal antara akson
bedekatan yang tidak bermielin. Hubungan tersebut

merupakan

ephaptic pnenomenom. Neuron afferen primer dengan kerusakan


akson perifer dapat pengeluaran dari afferen lain. Akson demielinisasi
dapat memberikan refleks impuls. Mekanisme yang berhubungan
dengan sintesis dari asam arakidonat sebagi hasil dari aksi
phospolipase A2 pada membran lipid. Asam arakidonat dengan cyclo
oxygenease menjadi sintesis prostaglandin secara langsung aktivasi
untuk serabut C dan A- . Bagian dari cedera, mediator inflamasi
termasuk histamin, bradikinin, leukotrine dikeluarkan tambahan ke
prostaglandin (Dib-Haji & Drenth, 2007, Leone, et al., 2011).

[Type text]

Gambar 6. Mekanisme Nyeri


C. Peran sitokin
Sitokin-sitokin pro inflamasi (pICs) seperti Interleukin 1- (IL1), Interleukin-6 (IL-6) dan faktor nekrosis tumoral- (TNF )
merupakan sekelompok besar mediator inflamasi dan memainkan
peran penting dalam sensitisasi nyeri. Sitokin-sitokin pro inflamasi
meningkatkan aktivitas TRPV1 (reseptor transient potensial subtype
V1) (Kawasaki et al., 2008), menginduksi ekspresi gen pronociceptive
di neuron akar dorsal ganglion (Fehrenbacher dan al., 2005; von
Banchet dan Al, 2005 di Kawasaki et al, 2008) dan masih
meningkatkan aktivitas spontan neuron ganglion akar dorsal (Schafers
et al., 2003; Kawasaki et al, 2008). Sitokin-sitokin pro inflamasi juga
meningkatkan rasa nyeri melalui mekanisme pusat. Pertama, sitokinsitokin pro inflamasi diinduksi di medula spinalis, terutama dalam sel
glia (astrosit dan mikroglia), di bawah kondisi nyeri kronis yang
berbeda. Kedua, injeksi intrathecal sitokin-sitokin pro inflamasi telah
terbukti meningkatkan rasa nyeri. Ketiga, blokade spinal dari sitokinsitokin pro inflamasi meredakan nyeri kronis. Mneurut Kawasaki

[Type text]

(2008), sitokin-sitokin pro inflamasi menginduksi sensitisasi sentral


dan hyperalgesia dengan jelas dan bersamaan dengan mekanisme
sinaptik dalam neuron di cornu posterior superfisial, baik dengan
meningkatkan transmisi sinaps eksisatori, baik dengan mengurangi
transmisi sinaps inhibitor.
Blokade signal sitokin-sitokin pro inflamasi bisa menjadi cara
yang efektif untuk menekan pusat sensitisasi dan mengurangi rasa
nyeri kronis. Berbagai pengaturan protein terlihat dari sensitisasi
perifer, cedera saraf perifer yang disebabkan oleh perubahan ekspresi
channel potensial reseptor transient (TRP). TRP channel adalah
channel kation-permeabel nonselektif yang penting untuk proses
signaling sensorik dalam sistem saraf perifer. Vanilloid reseptor 1
(TRPV1),

anggota

keluarga

TRP, diketahui

berperan

dalam

pengembangan nyeri neuropatik. Perubahan fisiologis yang terlihat


dalam jaringan yang mengalami inflamasi atau terinfeksi (yaitu panas
dan pH asam) diketahui dapat mengaktifkan reseptor TPRV-1 dan
meningkatkan kepekaan rasa nyeri. Molekul-molekul lain dalam
nosiseptor yang dikenal dapat meningkatkan transmisi nyeri termasuk
substansi-P dan calcitonin gen related peptida (CGRP). Kedua faktor
ini sering dirilis secara bersamaan dalam sel. Substansi P
mengaktifkan second order neuron untuk mengirim sinyal 'nyeri' ke
otak, sementara CGRP berkontribusi inflamasi neurogenik dengan
menyebabkan vasodilatasi dan terjadi perabaan hangat, kemerahan
dan pembengkakan (Neil, 2011). Biasanya, badan sel ganglion akar
dorsal menerima melalui substansi sinyal saraf terminal, yang
memodifikasi transkripsi gen dan sintesis protein. Setelah kerusakan
saraf, molekul-molekul ini akan hilang. Jadi, kerusakan syaraf melalui
mekanisme signaling kompleks (cAMP-dependent PKA dan Ca2 /
fosfolipid dependent PKC) memodulasi transkripsi gen (Hudmon et
al., 2008, Stamboulian et al., 2010, Leon, et al., 2011).
D. Sensitisasi sentral
Badan sel dari serabut perifer aferen nyeri keduanya A- dan

[Type text]

jenis C ditempatkan di ganglia

akar dorsal, ekstensi sentral dari

proyeksi sel-sel saraf melalui akar dorsal ke cornu posterior medulla


spnalis. Nyeri afferents terutama menempati bagian lateral Root entry
zone. Dalam medula spinalis, banyak dari serabut tipis (serabut C)
membentuk bundel diskrit, traktus dari Lissauer (Ropper & Samuels,
2009).
E. Cornu posterior
Serabut aferen nyeri, setelah melintasi traktus Lissauer,
berakhir di substansia grissea posterior atau cornu posterior,
terutamanya di zona marginal. Sebagian besar serabut berakhir dengan
segmen masuk ke dalam medula spinalis, beberapa memperpanjang ke
ipsilateral, satu atau dua berdekatan segmen caudal dan rostral dan
beberapa proyeksi melalui commissura anterior ke kontralateral cornu
posterior. Second order neuron, bagian dari pada serabut sensorik di
cornu posterior, disusun dalam serangkaian lapisan yang dikenal
sebagai Rexed laminae. Rexed's laminae I, II, dan V memainkan peran
dalam modulasi transmisi nosiseptif. serabut A- berakhir terutama
dalam lamina I dari Rexed (lapisan sel marginal Waldeyer) dan juga di
bagian terluar dari lamina II, beberapa serabut nyeri A- menembus
substansia grissea dorsal dan berakhir di bagian lateral lamina V.
Serabut C yang tidak bermielin berakhir di lamina II (substansia
gelatinosa). Namun sel-sel lain yang merangsang nyeri pada kulit
terletak di cornu anterior laminae VII dan VIII. Neuron

akhir

responsif terhadap impuls descending dari nukleus batang otak


sebagai impuls sensorik segmental. Lamina IX terletak disekeliling
canalis sentralis. Dari

sel-sel yang berakhir, second order akson

berhubungan dengan cornu anterior dan posterior dan berdekatan


dengan segmen spinal dan menjadikan refleks somatik dan otonom.
Bundel

utama

neuron

kedua

memproyeksikan

sensasi

nyeri

kontralateral untuk tingkat yang lebih tinggi, merupakan traktus


spinothalamikus. Sebagian besar traktus spinothalamikus akhirnya
naik ke nukleus ventroposterolateral dari thalamus. Namun, beberapa

[Type text]

akson menghentikan semata-mata di daerah bulbar, yang kemudian


mengirimkan proyeksi ke nukleus thalamus (Ropper & Samuels,
2009)
Biasanya, sensibilitas rasa nyeri kembali setelah periode
beberapa waktu, mungkin konduksi dilakukan oleh jalur yang terletak
di luar kuadran anterolateral medula spinalis yang secara bertahap
meningkatkan impuls konduksi nyeri. Salah satunya adalah bundle
polisinaps longitudinal dari serabut mielin kecil pada pusat cornu
posterior, terdiri dari akson lamina I berjalan ke bagian dorsal
funiculus lateral (Ropper & Samuels, 2009). Second order neuron
nociceptive terdiri dari neuron nociceptive-spesifik dan neuron
dinamis yang luas (Craig, 2006, D'Mello, 2008, Leone, et al., 2011).
neuron nociceptive-spesifik yang terletak di lapisan luar (laminae I-II)
cornu posterior, neuron dinamis luas terletak di lamina lebih dalam
(sebagian besar lamina V). Respon selektif neuron nociceptivespesifik untuk menyampaikan rangsangan berbahaya oleh serabut A dan C. Neuron dinamis luas membangkitkan rangsangan berbahaya
dan tidak berbahaya, menerima serabut A- serta serabut A dan C.
Neuron dinamis luas dapat menyandikan dan memproyeksi jenis yang
berbeda dari informasi sensorik, nociceptive dan non-nociceptive.
Proses dasar sensitisasi sentral adalah mengeluarkan neuron
aferen primer yang berikatan dengan reseptor NMDA yang
mengakibatkan masuknya kalsium dan kalium. Hal ini menyebabkan
depolarisasi saraf dan sensitivitas yang meningkat untuk peredaran
neurotransmiter. Reseptor N-metil D-adenin (NMDA) ditemui secara
luas dalam SSP tapi jelas bagiannya dalam ganglion akar dorsal. Hasil
dari masuknya ion kalsium melalui reseptor NMDA mengikuti
depolarisasi

membran

cornu

posterior.

Kalsium

intraseluler

mengaktifkan sejumlah kinase antara lain protein kinase C (PKC)


yang memiliki peran penting. PKC meningkatkan reseptor NMDA.
Aktivasi neurotransmitter dari reseptor-Channel NMDA menghasilkan
peningkatan intraseluler Ca2 + dan konsentrasi cAMP, mengaktifkan

[Type text]

protein kinase. Protein kinase terdiri dari cascade signaling yang


memodulasi transkripsi gen (yaitu c-fos, c-jun) (Ji et al., 2003, Willis
et al., 2002, Leone et al., 2011).

Gambar 7. Rexeds Lamina


F. Peran kalsium dalam nyeri neuropatik
Pengaturan Ca2+ dalam berbagai proses sel terjadi di dalam
neuron. Kontribusi patogen mengubah terus menenerus masuknya
Ca2+ melalui tegangan kanal Ca2+ di neuron sensorik setelah cedera
saraf perifer. Rendah tegangan diaktifkan terus menenerus dengan
masuknya Ca2+ dihilangkan oleh cedera saraf perifer. Sebagai hasil
dari

perubahan-perubahan membran,

tegangan

membran

yang

menunjukkan peningkatan durasi potensial aksi dan berkurang setelah


hiperpolarisasi. Kemampuan eksitasi meningkat, mengindikasikan
depolarisasi potensial membran dan menurunnya arus litrik

untuk

inisiasi potensial aksi. Transient sitoplasma Ca2+ berkurang. Neuron


ganglion akar dorsal mengekspresikan voltage-gate channel Ca2+.
Neuron ganglion akar dorsal memperlihatkan aktivasi peningkatan
tegangan channel Ca2+. Fungsi mengubah dari kontribusi channel
membran ion berkontribusi pada gangguan membran biofisik setelah
cedera syaraf, termasuk perubahan substans pada voltage-gate channel
Na+ dan K+ (Hogan, 2007).

[Type text]

G. Peran sel glia dalam nyeri neuropatik


Sel-sel glia, termasuk mikroglia, astrosit, termasuk sel yang
tidak berneuron dan memiliki fungsi yang berbeda di medula spinalis.
Struktur tersebut berperan dalam dukungan fisik, pelepasan mediator
yang memodulasi aktivitas saraf dan mengubah pertumbuhan axonal
dan dendritik. Aktivasi sel glia yang tidak terkendali pada kondisi
nyeri neuropatik menginduksi pelepasan sitokin pro-inflamasi dan zatzat lainnya yang memfasilitasi transmisi nyeri. Selain itu, sel glia
meningkatkan pelepasan substansi P dan eksisatori asam amino dari
terminal saraf, termasuk afferent primer di medula spinalis. Aktivasi
tersebut juga dapat menyebabkan perubahan sistem opioid. Nyeri
neuropatik juga menginduksi protein yang bernama fractalkine,
termasuk mengekspresi dari neuron. Bagian larut dari fractalkine
tersebar dan mengikat serta mengaktifkan sel-sel glia (Chapman 2000,
Leone et al., 2011).
H. Serabut nyeri dari proyeksi thalamus
Divisi lateral traktus spinothalamikus berakhir di nucleus
kelompok ventrobasal dan posterior. Serabut spinoreticulothalamikus
proyeksi

ke

nukleus

thalamus

intralaminar

medial

(terutama

parafascicular dan centrolateral). Proyeksi dari nukleus kolumna


dorsalis mempengaruhi modulasi dari transmisi rasa nyeri, terutama
berakhir di kelompok nukleus ventrobasal dan ventroposterior (Ropper
& Samuels, 2009).
I.

Proyeksi Thalamocortical
Kompleks thalamus ventrobasal dan ventroposterior dari
proyeksi nukleus untuk kedua bidang kortikal utama: korteks sensorik
primer (postcentral) dan tepi atas fisura Sylvi. Bagian tersebut menjadi
bagian utama resepsi rangsangan taktil dan stimulasi proprioseptif dan
dengan semua fungsi sensorik diskriminatif, termasuk nyeri (Ropper &
Samuels, 2009).

J.

Sistem modulasi rasa nyeri menurun


Serabut

[Type text]

descending

memainkan

peran

penting

untuk

memodulasi aktivitas di jalur nosiseptif dan inhibisi nyeri neuropatik.


Sistem pengaturan nyeri endogen baik dari korteks frontal dan
hipotalamus dan proyeksi ke sel-sel di wilayah peri-aqueductal otak
tengah (mesencephalon) dan kemudian melewati ke medula
ventromedial. Dari struktur tersebut turun di bagian dorsal dari medula
spinalis fasiculus lateral ke cornu posterior (laminae I, II, dan V).
Penurunan nyeri pada sistem penurunan utama melalui noradrenergic
dan serotonergic, jalur masuk opiat (Ropper & Samuels, 2009).
2.4

Patofisiologi
Eksperimen microneurografi pada manusia telah menunjukkan
bahwa paresthesia merupakan hasil aktivitas menyimpang dari neuron
mechanosensitive, tetapi sedikit yang diketahui tentang mekanisme
molekuler yang mendasari sensasi abnormal tersebut. Hydroxy-sanshool
(sanshool),

yang

merupakan

tanaman

alami

alkalymide

mampu

menginduksi mati rasa dan parestesia kuat pada manusia, digunakan untuk
memberikan informasi tentang mekanisme seluler dan molekuler yang
mendasari parestesia. Hampir 52%

neuron pada akar ganglion dorsal

sangat resoponsif dengan pemberian sanshool secara in vitro (pelebaran


diameter, mengaktifkan mekanoreseptor terhadap sentuhan cahaya). Saraf
lingual, dan neuron dari tanduk dorsal mengkonfirmasi bahwa sanshool
tidak mengaktifkan reseptor sentuhan cahaya. Menariknya, telah
ditemukan bahwa sanshool mungkin dapat membedakan subtipe serat
mechanosensitive. Penggunaan saraf kulit-saphena untuk mengkonfirmasi
serabut saraf aferen primer secara ex vivo menunjukkan bahwa sanshool
memberikan respon mechanoreceptors subtipe spesifik pada kulit.
Sanshool secara potensial mengaktivasi semua serat rambut D yang
ultrasensitif dan pada tingkat lebih rendah, populasi unik serat A yang
sensitive terhadap tekanan, dan serat C yang memiliki kecepatan konduksi
rendah. Dalam semua jenis serat, sanshool meningkatkan potensial
penyebaran, mengingatkan aktivitas serat bermielin yang diamati pada
subyek manusia yang mengalami parestesia. Selain itu, sanshool yang

[Type text]

menimbulkan

perilaku

menghindari,

berbeda

dari

perilaku

yang

membangkitkan nyeri, hal tersebut konsisten dengan aktivasi kuat dari


mechanoreceptors pada ambang rendah. Selain itu, telah dibuktikan bahwa
sanshool adalah alat yang berharga untuk menggambarkan fungsi subtipe
neuron mechanosensitive. Dengan demikian, sebagian besar serat yang
diaktifkan oleh sanshool adalah neuron A dan neuron rambut-D yang
terlibat dalam mendeteksi sentuhan cahaya dan rangsangan berbahaya
(Luwimi et al., 2012).
Namun, ada bagian dari serat C yang memberikan respon terhadap
sanshool. Dalam kumpulan serat, sanshool menimbulkan pola penyebaran
potensial aksi. Penyebaran yang paling umum terjadi di antara serat C dan
rambut serat D-sanshoolsensitive, terjadi pada 73 dan 26% pada serat yang
sensitif terhadap sanshool. Serat A besar yang termyelinisasi kurang
menunjukkan penyebaran karena hanya satu serat RA- A yang
terangsang, dan tidak ada serat SA-AB yang terangsang. Menariknya,
adaptasi cepat terjadi pada serat rambut-D dan adaptasi lambat pada serat
C yang ditunjukkan dengan pola penyebaran yang memisah. Adaptasi
cepat serat rambut D (dan serat AD- A) dalam menyebarkan potensial
aksi secara cepat dan dengan interval pendek, sementara adaptasi lambat
pada serat C serat memiliki durasi yang lebih lama dalam menyebarkan
potensial aksi. Akibatnya, rata-rata jumlah potensial aksi per meledak jauh
lebih tinggi dalam serat C daripada serat D atau serat AD- A. Sanshool
adalah agen farmakologis pertama kali yang dapat membedakan antara
himpunan bagian dari neuron mechanosensory yang sering menyebabkan
kesemutan paresthesia pada pasien. Di antara serat A, hampir semua serat
aferen D penuh dengan rangsangan sanshool yang, saat nosisptor
adrenomedulin (AM)

tidak sensitif dalam merespon. Serat rambut-D

aferen adalah yang paling sensitif dari semua mechanoreceptors, dengan


batas mekanik rendah serat rambut D-rambut juga terlibat dalam neuropati
diabetes perifer, yang sering menyebabkan parestesia pada pasien (Luwimi
et al., 2012).
Sansool mengaktivasi secara cepat serat yang termyelinisasi lebih

[Type text]

baik daripada serat yang beradaptasi secara lambat. Aktivitas spontan pada
serabut bermielin yang beradaptasi cepat, telah diimplikasikan pada
kerusakan jaringan dan penyakit yang ditimbulkan oleh paresthesia,
seperti pada post parastesia iskemik, namun subtype neron yang
memediasi parastesia belum teridentifikasi. Sebuah kelompok serat A yang
beradaptasi lambat juga berespon terhadap sanshool., dua penemuan
mensupport gagasan bahwa serabut A yang memiliki sensitivitas lambat
terhadap sanshool adalah tipe SA-II sensor regang kulit. Kedua, Kedua,
serat sanshool sensitif SA AB sekitar fivefold kurang sensitif untuk
menetapkan kekuatan daripada populasi sanshool-insensitif.

Sanshool

mengaktifasi sekelopmpok serat C yang memiliki kecepatan konduksi


lebih rendah dariapda serat C yang lain. Studi sebelumnya dari kesemutan
pada manusia telah gagal untuk melaporkan aktivitas menyimpang dari
serat A atau serat C. Namun, hal ini bisa memberikan laporan kesulitan
teknis dalam melaporkan pengalaman pasien parastesi. Sanshool
memunculkan parastesi melalui aktifasi mekanosensitif dari neuron
somatosensory.Selain itu,konsumsi sanshool gagal untuk memunculkan
respon nosifensive menggosok dan menyeka hidung yang secara umum
terobservasi setelah mengkonsumsi kapsaikin atau minyak mustard.
Sansool memprovokasi perilaku yang lebih kea rah parastesi daripada rasa
nyeri iritasi dan hal ini konsisten dengan aktivasi pola serat A and A
dengan sanshool, seperti hasil dengan dari studi psikophisial manusia yang
mendemonstariskan bahwa sanshool tidak menimbulkan sensasi nyeri.
Namun, sanshool juga mengaktivasi sekelompok serat C, hal ini tidak jelas
apakah serabut C sebenernya mentransmisikan signal nyeri. Beberapa
studi telah melaporkan bahwa kehadiran serabut C yang mentransmisikan
informasi selain rasa nyeri, seperti studi yang mendemosntarsi serat C
tidak bermyelin yang mengkode untuk sensasi sentuhan pada manusia.
Selain itu, serat C yang mentransmisikan sesnsasi penyebaran dan rasa
gatal telah dilaporkan. Label spesifik dari neuron yang mengekspresikan
MrgprB4 ( mass-relatef Gprotein-coupler receptor), mengungkapkan
sebuah populasi unik serat-serat C yang secara spesifik menginervasi kulit

[Type text]

namun tidak pada bagian visera. Serat-serat tersebut dihipotesiskan


memiliki fungsi sebagai reseptor sentuhan daripada nosiseptor (Luwimi et
al., 2012).
Diantara semusa subtype serat-serat yang sensitive terhadap
sanshool pada umunya terdapat penyebaran potensial aksi, yang
diobservasi sebanyak 29% serat. Penyebaran juga dihubungkan dengan
parasthesia. Laporan dengan microelctrode menunjukkan penyebaran
hebat pada saraf sensori afferent pada orang normal yang mengalami
parastesia. Laporan neuronal dari pasien yang menderita parestesia akibat
seuatu aktifitas menunjukan penyebaran hebat pada serat yang
termyelinisasi, secara cepat beradaptasi dengan mekanoreseptor dan
meningkatan derajat parastesi. Selain itu, juga ditemukan pada model
penelitian hewan pada tikus yang mengalami neuropati diabetikum,
penyebaran hebat dari serat berdiameter medium lebih tinggi pada neuron
diabetic dibandingkan dengan neuron tipe buas. Penyebaran di perantarai
oleh banyak neuron di dalam CNS, sebagaimana pada beberapa neuron
perifer. Pada system neuron perifer, penyebaran telah didiskripsikan pada
serabut afferent trigeminal pada batang otak yang diperkirakan untuk
memainkan peran utama pada pusat pola generator sirkuit yang mengatur
pengunyahan ada tikus. Selain itu, laporan neuronal dari pasien yang
menderita dari parestia yang tergantung oleh aktivitas menunjukkan
penyebaran hebat dari saraf yang bermielin, secara cepat beradaptasi
dengan mekanoreseptor yang meningkatkan derajat parastesi. Pada
akhirnya, pada model percobaan tikus dengan neuropati diabetikum,
penyebaran hebat dari serat berdiameter medium meningkat pada neuron
diabetic

dibandingkan dengan neuron biasa. Hal tersebut telah

didemonstrasikan bahwa serat yang merespon sanshool memiliki angka


kejadian yang sama dan adanya amplitude atau tidak adanya TRPA1 dan
TRPV1 antagonis selektif. Data tersebut memperkirakan bahwa kedua
TRPA1 atau TRPV1 tidak memediasi efek eksisatori dari sanshool.
Sanshool mungkin beraksi sevara langsung pada dua pintu channel
potassium (KCNK) di neuron sensory seperti pada keratinosit, yang

[Type text]

diketahui meningkatkan fungsi neuron sensori untuk menginduksi


parastesi, dan hal tersebut disebabkan pada neuron somatosensorym
ekspresi, dan studi elektropsikologi menunjukkan adanya channel
KCNK18. Dan ekspresi KCNK3 dan KCNK9 belum dipaparkan. Namun,
KCNK3 dan KCNK9 diekspresikan dengan keratinosit pada kulit.
Penyebaran pada neuron trigeminal telah dihubungkan dengan aktivitas
channel KV1. Karakteristik dari mekanoreseptor yang sensitive terhadap
sanshool

menunjukan

sebuah

langkah

awal

esensial

yang

mengidentifikasikan adanya mekanisme selular dan molecular yang


mendasari parastesia yang berhubungan dengan neuropati perifer dan
kerusakan jaringan (Luwimi et al., 2012).

DAFTAR PUSTAKA
Luwimi, A.I., Ammar, A., Awami, M.A. 2012. Pathophysiologi of Parathesia.
Departmen of Neurosurgery and General Surgery. Cardiothoracic and
Vascular Division College of Medicine. University of Dammam, Kingdom
of Saudi Arabia.
NINDS (National Institute of Neurology Disorder and Stroke).2015.Parasthesia.
.Avaialbale:http://www.ninds.nih.gov/disorders/paresthesia/paresthesia.html
Alhoeseini, M.S., Vafa, R.M., Vaccaro, A.R.2012. Underlying Cause of
Parasthesia. Sina Trauma and Surgery Research Center, Tehran University
of Medical Sciences, Tehran, Research Centre for Neural Repair, University
of Tehran, Tehran, Department of Orthopaedic Surgery, Thomas Jefferson
University and Rothman Institute, Philadelphia, PA. Iran. USA

[Type text]