Anda di halaman 1dari 9

REAKSI SAPONIFIKASI SERTA PENGUJIAN SIFAT SURFAKTAN SABUN DAN DETERGEN

INTISARI
Sabun merupakan camouran dari anion asam karboksilat dan kation unisolvent dengan bantuan
alkali. Sedangkan deterjen adalah campuran dari beberapa zat kimia. Percobaan ini bertujuan
Mempelajari proses soponifikasi lemak dengan menggukanan kalium hidroksida (KOH), dan natrium
hidroksida (NaOH) serta Mempelajari sifat sabun dan detergen.
Percobaan ini diawali dengan pembuatan sabun kalium dan natrium, selanjutnya analisis dari sabun,
kemudian sifat sabun dan detergen kemampuan surfaktan. Campuran KOH-etanol 10% dicampur
minyak dan dipanaskan. Hasilnya ditambah NaCl jenuh. Percobaan kedua mencampur sabun natrium
dan kalium dengan HCl dan aseton, serta minyak ditambah aseton. Ketiganya diuji kelarutannya.
Percobaan ketika dilakukan pengujian kemampuan sabun kalium, natrium, dan detergen dengan
meneteskan minyak. Percobaan keempat melarutkan ion sadah dalam sabun kalium, natrium, dan
detergen dalam tabung reaksi.
Hasil yang diperoleh
Kata kunci: Surfaktan, Sabun, Saponifikasi, detergen.

REAKSI SAPONIFIKASI SERTA PENGUJIAN SIFAT SURFAKTAN SABUN DAN DETERGEN


I.

Tujuan Percobaan
I.1. Mempelajari proses soponifikasi lemak dengan menggukanan kalium hidroksida
(KOH), dan natrium hidroksida (NaOH).
I.2. Mempelajari sifat sabun dan detergen.

II.

Dasar Teori
II.1. Trigliserida
Trigliserida merupakan ester dari gliserol dan tiga molekul asam lemak menurut reaksi
sebagai berikut :

Bila R1=R2=R3 ataut ketiganya asam lemak penyusunnya sama maka trigliserida ini
disebut trigiserida, dan bila tidak sama disebut trigliserida campuran.
Asam lemak merupakan rantai hidrokarbon yang setiap atom karbonnya mengikat suatu
lebih hydrogen. Asam lemak yang pada rantai karbonnya terrdapat ikatan rangkap disebut
lemak tidak jenuh. Apabila tidak ada ikatan rangkap pada rantai karbonnya disebut asam
lemak jenuh. Berikut struktur asam lemak jenuh dan tidak jenuh.

Makin jenuh molekul asam lemak dalam meolekul trigliserida makin tinggi titik beku
atau titik lebur minyak tersebut. Sehingga pada suhu kamar biasanya pada fase padat.
Sebaliknya semakin tidak jenuh asam lemak dalam molekul trigliserida maka makin rendah
titik beku atau titik leburnya sehingga pada suhu kamar berada pada fase cair (Pasaribu,
2004) Randi.
II.2. Reaksi Saponifikasi

SAponifikasi adalah hidrolisis alkali dengan trigliserida, membentuk gliserol dan


campuran antara garam dengan asam karboksilat rantai panjang. Hasil saponifikasi adalah
sabun, dan reaksi saponifikasi adalah cara yang paling banyak digunakan untuk
memproduksi sabun.

(sikinibs dan fryhle, 2011). randi


II.3. Surfaktan
Surfaktan (surface avtive agent) adalah zat seperti detergen yang ditambahkan pada
cairan untuk meningkatkan sifat penyebaran atau pembasahan dengan menurunkan
tegangan permukaan cairan khususnya air. Seurfaktan mempunyai struktur molekul yaitu
gugus liofil dan liofob. Gugus liofob adalah gugus yang sedikit tertarik pada solven
sedangkan gugus liofil adalah gugus yang tertarik pada solven. (Kirik dan Othmer, 1981)
vita.
Cara kerja surfaktan adalah dengan menurunkan tegangan permukaan air dengan
mematahkan ikatan-ikatan hydrogen pada permukaan. Adanya rantai hidrokarbon pada
molekul surfaktan, sebuah molekul surfaktan secara keseluruhan tidaklah benar-benar larut
dalam air, tetapi akan tersuspensi di dalam air (furi dan coniwanti, 2012) vita.
II.4. Sabun Kalium dan Natrium Deterjen
Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan,
sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebut sabun batang karena sejarah dan
bentuk umumnya (naomi dkk, 2013) vita.
Sabun terbagi menjadi 2jenis yaitu sabun kalium dan sabun natrium. Sabun kalum
(RCOOK) terbuat dari asam lemah dan KOH. Sabun kalium bersifat lunak dengan struktur
C17H35COOK, sedangkan sabun natrium (RCOONa) terbuat dari asam lemah dan NaOH.
Sabun natrium bersifat lebih keras dengan struktur C17-H35-COONa (Solomon dan
Michael 2004) vita.
Detergen adlah camouran dari beberapa bahan kimia, yakni zat pembersih utama yang
dikenal sebagai surfaktan, bahan pengawet busa (builder), bahan pemutih, bahan pewarna,
bahan pengisi alam bahan-bahan yang dapat menghalangi kotoran masuk lagi kedalam
barang-barang yang sudah dibersihkan (Fessenden, 1982) vita.
Sabun dan deterjen memliki gugus fungsi yang berbeda-beda. Sabun memiligi gugus
fungsi (COO-), sedangkan deterjen memiliki gugus fungsi ion sulfonate (SO3-) atau ion
sulfat (O-SO3-)

III.

(sunarya, 2007).vita
II.5 Kesadahan Air
Secara umum air sadah tidak berbahaya bagi kesehatan seseorang, tetapi dapat
menyebabkan masalah serius dalam bidang industry yang berhubungan dengan air.
Kesadahan air ditentukan oleh konsentrasi dari Kation multivalent (muatan lebih dari 1)
dalam air. Kation yang paling sering ditemukan dalam air sadah adalah Ca2+ dan Mg2+.
Kehadiran mineral karbonat terlarut (CaCo3 dan MgCO3) menyebabkan kesadahan
sementara yang dapat dihilangkan dengan pemanasan. Kehadiran menral klorida terlarut
(CaCl2 dan MgCl2) menyebabkan kesadahan tetap/permanen yang tidak dapat dihilangkan
dengan mudah. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengidentifikasi kesadahan tetap
pada air sebelum digunakan (dalam industry) (dey dkk, 2013) randi.
Metode Percobaan
III.1. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah 1buah kakitiga, 15 buah tabung reaksi,
2 buah gelas beker 50mL, 3 buah cawan arloji, 1 buah corong, 1 bunsen, 1 buah batang
pengaduk, dan rak tabung reaksi. Sedangkan bahan yang digunakan adalah minyak kelapa,
larutan KOH-etanol, larutan 10% HCl jenuh, akuades, larutan sabun kalium, larutan sabun
natrium, larutan HCl pengasaman, larutan MgCl 0,1%, larutan FeCl2 0,1%, larutan aseton,
larutan CaCl2 0,1% larutan detergen, dan air keran.
III.2. Cara Kerja
III.2.1. Pembuatan Sabun Kalium
Minyak diambil sebanya 3mL kemudian dimasukkan ke dalam gelas beker 50mL.
Kemudian KOH-etanol 10% ditambahkan sebanyak 20mL, lalu dipanaskan sambil diaduk.
Selanjutnya, teteskan hasil reaksi kedalam air untuk menguji kesempurnaannya dengan
tidak adanya lemak. Lalu, sabun kalium terbentuk sampai terjadi cairan kental. Kemudian
ditambah aquades sebanyak 25mL. Campuran dibagi menjadi dua, setengahbagian sebagai
sabun kalium dan setengah bagian lagi untuk pembuatan sabun natrium.
III.2.2. Pembuatan Sabun Natrium
NaCl jenuh ditambahkan pada hasil sabun kalium yang telah didapat, kemudian diaduk
sampai rata, dan padatan(sabun natrium) yang terbentuk disaring menggunakan kertas
saring. Selanjutnya padatan natrium akan terbentuk. Kemudian hasil sabun kalium dan
natrium ditampung ditempat yang tersedia.
III.2.3. Analisis Asam Lemak dan Sabun
Lima mL sabun kalium, sabun natrium, dan minyak dimasukkan kedalam 3 tabung
reaksi. Lalu ditambahkan HCl setetes-setetes hingga suasanya menjadi asam menggunakan
uji kertas kalmus. Padatan yang terbentuk diambil dan dimasukkan kedalam aseton 2mL.
lalu diamati kelarutannya.
III.2.4. Sifat sabun dan detergen

Pengujian kemamouan sabun dan detergen sebagai surfaktan diawali dengan diteteskan
masing-masing 1 tetes minyak pada 3 gelas arloji. Gelas arloji pertama diberikan 3 tetes
larutan sabun kalium. Gelas gelas arloji kedua diberikan 3 tets sabun natrium. Gelas arloji
ketiga diberikan 3 tetes detergen. Diamati kebersihan gelas arloji dari minyak.
Pengujian surfaktan pada ion sadah diawali dengan disiapkan 12 tabung reaksi. Empat
tabung pertama diisi dengan 1mL larutan sabun kalium, empat tabung kedua diisi dengan
1mL larutan sabun natrium, dan empat tabung terakhir diisi dengan 1mL larutan detergen.
Setiap sabun diatambahkan 1mL larutan CaCl2 0,1%, MgCl2 0,1%, FeCl2 0,1% dan air
kran. Kemudian masing-masing tabung diamati apakah terjadi endapan atau tidak.
IV.

Hasil dan Pembahasan


IV.1. Hasil
Jenis sabun
Sabun kalium
Sabun natrium
Sampel
Sabun kalium
Sabun natrium
Minyak
Sampel
Sabun kalium
Sabun natrium
Minyak

Wujud
Gel
Padatan

Warna
Kuning pucat
Putih

Bau
Tidak berbau
Tidak berbau

Kelarutan dalam aseton


Sedikit Larut
Larut
Tidak Larut
Uji membersihkan lapisan minyak pada gelas arloji
Agak kotor
Kotor
Paling bersih

IV.2. Pembahasan
Penambahan KOH untuk melarutkan asam lemak (trigliserida). Namun pencampuran
sulit terjadi karena KOH polar sedangkan minyak nonpolar, maka diberikan juga etanol
sebagai emulgator. Etanol yang bersifat semi polar dapat bertindak sebagai perantara untuk
pencampuran zat polar dan nonpolar. Disamping itu etanol yang mudah menguap dengan
titik didih yang redah pada pemanasan saat reaksi, maka etanol akan membantu zat
tercampur saja. Zat direaksikan dengan pemanasan serta pengadukan agar homogen. Zat
yang dihasilkan diuji dengan cara meneteskannya dalam air. Jika tidak ada lemak yang
terlihat maka minyak bereaksi sempurna. Produk yang dihasilkan memiliki struktur gel,
berwarna kuning pucat, dan tidak berbau. Sabun yang dihasilkan dibagi menjadi dua dan
setengahnya yang telah dipisah digunakan untuk membuat sabun natrium. Sabun natrium
dibuat dengan menambahkan NaCl jenuh yang berfungsi untuk memisahkan produk sabun
dan gliserin. Gliserin tidak mengendap karena kelarutannya tinggi, namun tidak untuk
sabun. Sabun yang strukturnya padat dank eras akan mengendap. Sabun natrium yang
diperoleh disaring di kertas saring kemudian dipindahkan ke wadah. Sabun natrium yang
diperoleh memiliki wujud padat, berwarna putih, dan tidak berbau. Reaksi yang terjadi
dalam pembuatan sabun natrium

Percobaan kedua dilakukan analisis asam lemak dari sabun, percobaan ini dimulai
dengan penambahan HCl kedalam sabun kalium, sabun natrium, dan minyak. Penambahan
HCl bertujuan untuk menetralkan sifat basa yang masih ada pada sabun. Kertas lakmus
merah berubah jadi biru, digunakan sebagai tanda untuk mengetahui kenetralannya. Larutan
diaduk hingga homogeny dan bereaksi sempurna. Berikut reaksi sabun kalium dan natrium
dengan HCl

Kemudian padatan yang terbentuk diambil dan direaksikan dengan aseton untuk
menguji kelarutannya. Aseton merupakan pelarut turunan keton yang bersifat nonpolar yang
dapat melarutkan zat non polar lainnya atau zat yang memiliki kemiripan kepolaran. Hasil
yang diperoleh bahwa sabun kalium sedikit larut dalam aseton, sabun natrium larut
sempurna dalam aseton, dan minyak tidak dapat larut dalam aseton.
Percobaan ketiga dilakukan pengujian sabun dan detergen sebagai surfaktan. Percobaan
ini dimulai dengan menetesi gelas arloji dengan minyak. Kemudian dibersihkan dengan
masing-masing sabun kalium, sabun natrium, dan detergen. Hasil yang diperoleh bahwa
sabun kalium dapat memberihkan minyak dengan baik. Sabun natrium kurang bersih.
Sedangkan detergen dapat membersihkan minyak dengan paling baik. Hasil ini sama
dengan teori bahwa sabun kalium dapat membersihkan lebih baik dibandingkan dengan
sabun natrium. Ini disebabkan oleh wujud sabun natrium yang berbentuk padatan sehingga
sulit untuk bercampur dengan minyak. Sedangkan sabun kalium yang berbentuk cair dapat
bercampur dengan minyak dengan baik sehingga dapat membersihkan minyak lebih baik
dari sabun natrium yang padatan. Detergen dapat membersihkan minyak dengan baik karena
detergen dapat mengemulsi minyak secara sempurna dengan adanya gugus nonpolar dari
ujung-ujung hidrokarbon pada detergen hingga minyak teremulsi.

Cara kerja detergen berbeda dengan sabun, dimana detergen memiliki dua gugus yang
masing-masing berada di ujung rantai hidrokarbon. Gugus yang pertama yaitu gugus
hidrofiklik sedangkan gugus yang kedua yaitu gugus hidrofobik. Ini yang dapat
menyebabkan detergen tidak dapat larut sempurna dalam air namun dapat tersuspensi dalam
air karena membentuk misel, yaitu kumpulan molekul sabun yang rantai hidrokarbonnya
mengelompok dengan ujung-ujung ionnya menhadap air. Sabun dapat mengemulsi minyak
apabila dibilas. Pertama ujung anion molekul sabun tertarik ke air sedangkan rantai
hidrokarbonnya larut dalam zat non polar. Ujung anion molekul sabun yang tertarik ke air
ditolak oleh ujung-ujung molekul sabun yang menye****** pada tetesan minyak lain.
Karena adanya tolak menolak antar tetes-tetes sabun dan minyak, maka minyak tidak dapat
teremulsikan tetapi dapat tersuspensi.
Percobaan keempat dilakukan pengjian sifat sabun dan detergen sebagai surfaktan (efek
ion-ion sadah). Percobaan ini dimulai dengan menambahkan CaCl2, MgCl2, FeCl2, dan air
kran kedalam sabun natrium, kalium, dan detergen. Reaksi yang terjadi pada sabun kalium
sebagai berikut :

Hasil yang diperoleh bahwa ada endapan yang terbentuk pada reaksi sabun dengan ion
Ca2+ dan Mg2+, namun tidak ada endapan pada reaksi sabun dengan Fe2+ dan air kran.
Reaksi yang terjadi pada sabun natrium sebagai berikut :

Hasil yang diperoleh bahwa terdapat endapan pada semua hasil reaksi antara sabun
natrium dan ion sadah serta air kran. Reaksi yang terjadi pada detergen sebagai berikut :

Hasil yang diperoleh bahwa terdapat endapan pada hasil reaksi antara sabun natrium dan
ion Ca2+, namun untuk Mg2+, Fe2+, dan air kran tidak terdapat endapan.
V.

Kesimpulan
I.1. Mempelajari proses soponifikasi lemak dengan menggukanan kalium hidroksida
(KOH), dan natrium hidroksida (NaOH).
I.2. Mempelajari sifat sabun dan detergen.
1. Proses saponifikasi adalah reaksi antara asam lemak dan alkali (KOH atau NaOH) yang
menghasilkan sabun dan gliserol. Kabun kalium diperoleh dari KOH dengan wujud gel
berwarna kuning pucat dan tidak berbau. Sabun natrium diperoleh dari NaOH dengan
wujud padatan berwarna putih dan tidak berbau.

2. Detergen dapat membersihkan kotoran dengan baik namun sabun kalium maupun
natrium tidak dapat membersihkan kotoran dengan baik. Deterrgen dapat digunakan
secara efektif pada air sadah karena tidak mengendap pada air sadah dan air kran kecuali
air sadah dengan ion Ca2+.
VI.

Daftar Pustaka
Pasaribu, N., 2004, Minyak Kelapa Sawit, Jurnal FMIPA USU, Sumatera Utara.
Solomons, T.W.G., dan Fryhle, C.R., 2011, Organic Chemistry, 10th Ed., John Wiley &
Sons, USA.
Furi, T.A., dan Coniwanti, P., 2012, Pengaruh Perbedaan Ukuran Partikel dari Ampas Tebu
dan Konsentrasi Natrium Bisulfit (NaHSO3) pada Proses pembuatan Surfaktan,
Jurnal Teknik Kimia, 18(4), 49-58.
Kirk, R.E. dan Othmer, O.F., 1981, Encyclopedia of Chemical Engineering Technology,
John Wiley & Sons, New York.
Solomon, dan Michael, R., 2004, Consumer Behavior Buying Having and Being, Pearson
Education, New Jersey.
Fessenden, R.J., dan Fessenden, J.S., 1982, Kimia Organik Jilid 2, Erlangga, Jakarta.
Sunarya, Y., 2007, Kimia Dasar, Alkemi Grafisindo Press, Bandung.
Dey, D., Bhattacharjee, D., Chakraborty, S., Hussain, S. A., 2013, Development of Hard
water Sensor Using Fluorescene Energy Transfer, Sensor Actual B-Chem, 184, 268273.

VII.

Lampiran