Anda di halaman 1dari 10

HADITS

Hadits Ditinjau dari Aspek Kuantitas Rawi


Dosen Pengampu : Baldi Anggara, M.Pd.I

Disusun oleh :
Rizki Suhertini (14222153)

Program Studi Pendidikan Biologi


Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hadits dapat ditinjau dari segi jumlah perawinya (kuantitasnya), semakin
banyak orang yang meriwayatkan suatu hadits maka semakin valid hadits
tersebut dari segi kuantitas. Kuantitas perawinya mulai dari sahabat, tabiin
sampai kepada perawi yang meriwayatkan suatu hadits dalam jumlah yang
seimbang pada setiap tingkatan (thabaqat). Dengan jumlah yang banyak dan
seimbang tersebut, maka mustahil mereka menurut kebiasaan akan
berbohong.
Hadits-hadits yang mutawattir yang tergolong hadits yang maqbul dan
wajib diterima dan diamalkan, sedangkan hadits masyhur atau hadits Ahad,
maka ia bisa saja berstatus shahih, hasan, ataupun dhaif, tergantung kualitas
masing-masing hadits tersebut. Adapun makalah ini terbatas hanya membahas
hadits dari segi kuantitas perawinya, tidak membahas hadits secara kualitas.
1.2 Tujuan
Adapun tujaun dari dibuatnya makalah ini adalah untuk mengetahui
pembagian hadits yang ditinjau dari aspek kuantitas rawinya.

Hadits | 2

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Hadits Ditinjau dari Aspek Kuantitas Rawi.
Pembagian hadits ditinjau dari segi kuantitas (jumlah perawi) yang menjadi
sumber menurut sebagian ulama Ushul seperti Abu Bakar al-Jassas (305-307 H)
berpendapat bahwa secara kuantitas hadits dibagi menjadi tiga bagian yaitu hadits
mutawatir, masyhur dan ahad. Sedangkan menurut segolongan ulama lain
(kebanyakan ulama ushul dan ulama kalam) membaginya menjadi dua, yakni
hadits mutawatir dan ahad. Ulama golongan pertama menjadikan hadits masyhur
berdiri sendiri tidak termasuk pada bagian hadits ahad sedangkan ulama golongan
kedua berpendapat bahwa hadits masyhur bukan merupakan hadits yang berdiri
sendiri, namun ia merupakan bagian dari hadits ahad. 1
2.1.1 Hadits Mutawatir
Mutawatir, menurut bahasa berarti : suatu yang datang secara bariringan,
tanpa perselangan antara yang satu dengan yang lainnya. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat batasannya (tarif atau definisi) yang diberikan oleh para ulama
yaitu Hadits mutawatir adalah hadits tentang sesuatu yang mahsus (yang
dapat ditangkap oleh panca indera), yang disampaikan oleh sejumlah besar
rawi yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat
untuk berdusta. 2
Ajjaj al-Khatib mendefinisikan hadits mutawatir sebagai hadits yang
diriwayatkan oleh sejumlah besar orang yang menurut adat, mustahil mereka
bersepakat terlebih dahulu untuk berdusta. Sejak awal sanad sampai akhir
sanad pada setiap tingkatan (tabaqat).
Pendapat lain mengatakan, hadits mutawatir adalah hadits yang
diriwayatkan oleh perawi yang banyak pada setiap tingkatan sanadnya menurut
akal tidak mungkin para perawi tersebut sepakat untuk berdusta dan

1 Baldi, Anggara.2015. Studi Ilmu Hadits. Palembang: NoerFikri, hal 53.


2 Baldi Anggara, Studi Ilmu Hadits..., hal 54

Hadits | 3

memalsukan hadits dan mereka bersandar dalam meriwayatkan pada sesuatu


yang dapat diketahui dengan indera seperti pendengaran dan semacamnya. 3
Jadi, dapat disumpulkan bahwa hadits mutawatir adalah hadits yang
diriwayatkan oleh perwawi berjumlah banyak yang dapat ditangkap oleh
pancaindera seperti pendengaran dan sebagainya. Sehingga tidak terjadi
penyimpangan dalam periwayatan hadits karena mustahil mereka bersepakat
terlebih dahulu untuk berbuat dusta.
Suatu hadits baru dapat dikatakan hadits mutawatir bila hadits itu
memenuhi tiga syarat, yaitu :
a. Hadits yang diriwayatkan itu haruslah mengenai sesuatu dari Rasulullah
SAW yang dapat ditangkap oleh panca indra seperti sikap dan perbuatan
yang dapat dilihat dengan mata-kepala atau sabdanya yang dapat didengar
dengan telinga. Bila hadits itu bukan tentang sesuatu yang dapat ditangkap
oleh panca indera walaupun itu datang dari Rasulullah, maka hadits itu tidak
dapat dikatakan mutawatir.
b. Para rawi haruslah mencapai sejumlah yang menurut kebiasaan (adat),
mustahil mereka bersepakat untuk berbohong. Tentang berapa jumlah
minimal para rawi tersebut, terdapat perbedaan dikalangan para ulama.
Sebagian menetapkan 10 orang rawi, sebagian orang rawi, sebagian lagi
menentukan 20, 40 dan 70 orang rawi.
c. Jumlah rawi dalam setiap tingkatan tidak boleh kurang dari jumlah minimal
seperti yang diterapkan pada syarat kedua.4
Selain dari syarat di atas, hadits mutawatir baru bisa dikatakan mutawatir
bila jumlah suatu thabaqat dengan thabaqat lain ada keseimbangan. Dengan
demikian bila suatu hadits diriwayatkan oleh 20 orang perawi sahabat,
kemudian 10 orang perawi tabiin dan 5 orang tabiat tabiin, maka hadits
tersebut tidak dapat digolongkan sebagai hadits mutawatir. Akan tetapi ada
juga yang berpendapat bahwa keseimbangan jumlah perawi pada tiap thabaqat

3 Baldi, Anggara.2015. Studi Ilmu Hadits. Palembang: NoerFikri, hal 54.


4 Baldi Anggara, Studi Ilmu Hadits..., hal 54-55.

Hadits | 4

tidaklah terlalu penting sebab yang diinginkan dengan banyaknya perawi


adalah terhindarnya kemungkinan berbohong.5
Keadilan dan kedhabitan dari para perawi hadits mutawatir ini sudah tidak
diragukan lagi, sehingga mereka tidak mungkin untuk berbohong dalam
membawa berita dari Nabi SAW. Karena itu para ulama sepakat bahwa hadits
mutawatir harus diterima secara pasti dan yakin.6
Sebagian para ulama berpendapat bahwa hadits mutawatir terbagi ke
dalam dua bentuk yakni hadits mutawatir lafzi dan maknawi. Sedangkan ulama
lain membaginya menjadi tiga kelompok yakni hadits mutawatir lafzi,
maknawi dan amali.
a. Hadits mutawatir lafzi adalah hadits yang mutawatir lafaz dan maknanya.
Jumlah hadits yang termasuk hadits mutawatir lafzih sangat sedikit.
Diantara contoh yang diberikan oleh jumhur ulama adalah sebagai
berikut : Rasulullah SAW bersabda Siapa yang sengja berdusta
terhadapku, maka hendaklah dia mendudukan dalam neraka (H.R
Bukhari dan lain-lain).
b. Hadits mutawatir maknawi adalah hadits yang maknanya mutawatir
sedangkan lafaznya tidak. Jumlah hadits-hadits yang termasuk hadits
mutawatir maknanya jauh lebih banyak dari hadits mutawatit lafzhi.
Contohnya : Rasulullah SAW pada waktu berdoa tidak mengangkat
tangannya begitu tinggi sehingga terlihat kedua ketiaknya yang putih,
kecuali pada waktu berdoa memohon hujan (Hadits ini disepakati oleh
Bukhari dan Muslim).7
Hadits seperti ini dijumpai dengan jumlah tidak kurang dari 30
buah dalam bentuk kalimat yang berbeda namun memiliki maksud umum
yang sama yang menunjukan bahwa Rasul mengangkat tangan ketika
berdoa.

5 Baldi, Anggara.2015. Studi Ilmu Hadits. Palembang: NoerFikri, hal 54.


6 Baldi Anggara, Studi Ilmu Hadits..., hal 55-56
7 Baldi Anggara, Studi Ilmu Hadits..., hal 56-57

Hadits | 5

c. Hadits mutawatir amali adalah hadits mutawatir yang menyangkut


perbuatan Rasulullah SAW yang disaksikan dan ditiru tanpa perbedaan
oleh banyak orang untuk kemudian juga dicontoh dan diperbuat tanpa
perbedaan oleh orang banyak pada generasi-generasi berikutnya.8
Cotohnya dari mutawatir amali ini cukup banyak seperti shalat, puasa,
3

sedekah dan sebagainya.


Hadits Ahad
Al-Ahad merupakan jamak dari ahad yaitu menurut bahasa berarti wahid
atau satu. Sedangkan menurut istilah, hadits ahad adalah hadits yang belum
memenuhi hadits mutawatir.9 Adapun batasan yang diberikan oleh para ulama
mengenai pengertian hadits ahad antara lain berbunyi : Hadits ahad adalah
hadits yang para perawinya tidak mencapai jumlah rawi hadits mutawatir,
baik rawinya itu satu, dua, tiga, empat, lima dan setesunya, tetapi tidak
memberi pengertian bahwa hadits dengan jumlah rawi tersebut masuk dalam
kelompok hadits mutawatir.
Di samping itu ada juga ulama yang mendefinisikan hadits ahad secara
singkat yakni Hadits yang sanadnya sah dan bersambung hingga sampai
kepada sumbernya (nabi) tetapi kandungannya memberikan pengertian zanni
(tidak jelas, tidak pasti, atau samar-samar) dan tidak sampai kepada qatI (jelas
atau pasti) dan yakni.10
Menurut para ulama ahli hadits syarat dari hadits ahad adalah hadits yang
tidak memenuhi syarat-syarat hadits mutawatir seperti yang telah dituliskan
diatas syarat dari hadits mutawatir, bila suatu hadits tidak memenuhi syarat
rawi mutawatir maka hadits itu termasuk dalam kelompok hadits ahad. 11

8 Baldi, Anggara.2015. Studi Ilmu Hadits. Palembang: NoerFikri, hal 57.


9 Baldi Anggara, Studi Ilmu Hadits..., hal 57.
10 Baldi Anggara, Studi Ilmu Hadits..., hal 58.
11Al 'Asqalaniy, Al Hafizh ibnu Hajar. 2011. Buluqhul Maram min Adillatil Ahkam. Bandung :
Sygma Publishing, hal 70

Hadits | 6

Jadi, dapat disumpulkan bahwa hadits ahad adalah hadits yang sanadnya
sah dan diriwayatkan oleh perwawi tetapi perwawinya tidak sampai pada
jumlah rawi hadits mutawatir sehingga dapat dibedakan dengan hadits
mutawatir.
Secara garis besar, muhaditsin membagi hadits ahad menjadi dua yakni :
1. Hadits Masyur
Masyur menurut bahasa berarti al-intisyar wal al-zuyu, yakni sesuatu
yang sudah tersebar dan populer. Sedangkan menurut istilah dan secara
ringkasnya, hadits masyur adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang
rawi atau lebih dan belum mencapai derajat hadits mutawatir. Hadits ini pun
ada yang berstatus shahih, hasan dan dhaif.12 Contoh hadits masyur adalah
hadits bertikut ini :
Sesungguhnya Allah tidak mematikan ilmu dengan mencabutnya secara
langsung dari para hamba, tetapi Allah mematikan ilmu dengan mengambil
nyawa para ulama, sehingga apabila sudah tidak ada lagi orang alim,
maka manusia akan mengangkut pemimpin-pemimpin yang bodoh, lalu
para pemimpin itu akan ditanya dan memberikan fatwa dengan tanpa ilmu,
pada akhirnya para pemimpin itu akan tersesat dan menyesatkan (Shohih
Bakteri, no. 100, Shohih Muslim no. 2673, Sunan Turmudzi no. 2652,
Sunan Ibnu Majahm no. 52).
Ulama hanafiyah menyatakan bahwa hadits masyur menghasilkan
ketenangan hati, dekat kapada keyakinan dan wajib diamalkan, namun bagi
yang menolak untuk mengamalkannya tidak dinyatakan kafir.13
2. Hadits Ghair Mansyur
Para ulama membagi hadits ini menjad dua bagian yakni :
a. Hadits Azizi
Kata aziz secara bahasa berarti la yakadu yujadu atau qalla
wanadar (sedikit atau jarang adanya). Sedangkan secara istilah hadits
yang parawinya tidak kurang dari 2 orang dalam semua thabaqat
sanad.14 Labih lanjut Mahmud Thahan menjelaskan bahwa sekalipun
dalam sebagian thabaqat terdapat perawi tiga orang atau lebih, tidak ada
12 Baldi, Anggara.2015. Studi Ilmu Hadits. Palembang: NoerFikri, hal 58-59.
13 Baldi Anggara, Studi Ilmu Hadits..., hal 59.

Hadits | 7

masalah, asalkan dari sekian thabaqat terdapat satu thabaqat yang


jumlah perawinya hanya dua orang. Dalam hal ini Ibnu Hibban
menjelaskan bahwa hadits aziz yang diriwayatkan dari dan kepada dua
orang perawi ini tidak mungkin terjadi karena sulit dibuktikan,
meskipun secara teori ada kemungkinan terjadi.15 Contoh hadis aziz:








()
Artinya: Rasulullah SAW, bersabda, kita adalah orang-orang yang
paling akhir (di dunia) dan yang palinh terdahulu di hari kiamat.
(H.R. Hudzaifah dan Abu Hurairah).16
b. Hadits Gharib
Sebagian ulama mentarufkannya sebagai berikut :
Hadits Gharib ialah
yang bersendiri perawinya

dalam

meriwayatkannya, dari orang-orang yang kumpul hadits lantaran kuat


ingatannya

dan

keadilannya,

seumpama

Az-Zuhri

dan

yang

seumpamanya
Adapun menurut Musthalah, gharib itu ditunjukan kepada : Suatu
hadits yang diriwayatkan hanya dengan satu sanad. Tegasnya, satu
hadits yang seorang rawi bersendiri dalam meriwayatkannya, yaitu
tidak ada orang lain menceritakannya, melainkan dia.17

14 Baldi Anggara, Studi Ilmu Hadits..., hal 60.


15 Baldi, Anggara.2015. Studi Ilmu Hadits. Palembang : NoerFikri, hal 60.
16 Suyitno. 2013. Studi Ilmu-Ilmu Hadits. Yogyakarta : Idea Pres, hal 57.
17 Baldi Anggara, Studi Ilmu Hadits..., hal 60-61.

Hadits | 8

BAB III
SIMPULAN
Hadits ditinjau dari segi kuantitas (jumlah perawinya) dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Hadits Mutawatir
Hadits mutawatir adalah hadits tentang sesuatu yang mahsus (yang dapat
ditangkap oleh pancaindra), yang disampaikan oleh sejumlah besar rawi
yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk
berdusta. Suatu hadits dapat dikatakan hadits mutawatir bila memenuhi 3
syarat yaitu :
a. Hadits yang diriwayatkan itu haruslah mengenai sesuatu dari Rasulullah
SAW yang dapat ditangkap oleh panca indra.
b. Para rawi haruslah mencapai sejumlah yang menurut kebiasaan (adat),
mustahil mereka bersepakat untuk berbohong
c. Jumlah rawi dalam setiap tingkatan tidak boleh kurang dari jumlah
minimal seperti yang diterapkan pada syarat kedua.
Adapun pembagian hadits mutawatir adalah :
a. Mutawatir Lafzhi
b. Hadits Mutawatir Maknawi
2. Hadit Ahad
Hadits ahad adalah hadits yang para perawinya tidak mencapai jumlah
rawi hadits mutawatir, baik rawinya itu satu, dua, tiga, empat, lima dan
setesunya, tetapi tidak memberi pengertian bahwa hadits dengan jumlah
rawi tersebut masuk dalam kelompok hadits mutawatir. Hadits ahad dibagi
menjadi 2 yaitu :
a. Hadits Masyur
b. Hadits azizi
Hadits azizi dibagi menjadi 2 yaitu :
i.
Hadits azizi
ii. Hadits Gharib

Hadits | 9

DAFTAR PUSTAKA
Anggara, Baldi. 2015. Studi Ilmu Hadits. Palembang : NoerFikri.
Al 'Asqalaniy, Al Hafizh ibnu Hajar. 2011. Buluqhul Maram min Adillatil Ahkam.
Bandung : Sygma Publishing.
Suyitno. 2013. Studi Ilmu-Ilmu Hadits. Yogyakarta : Idea Pres.

Hadits | 10