Anda di halaman 1dari 44

1

Tugas 7
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN BAHAN AJAR NON CETAK

Oleh
RISKA WAHYUNI
15175036

DOSEN :
Prof. Dr. Festiyed, M.S

PROGRAM PASCA SARJANA PENDIDIKAN FISIKA


UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan hidayahNya, saya dapat menyusun tugas ini dengan judul Pengembangan dan pemafaatan bahan ajar
non cetak
Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak mendapat masalah, namun hal
tersebut dapat diatasi dengan bimbingan dan dan dukungan dari berbagai pihak. Maka penulis
mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Pengembangan Bahan Ajar
Fisika, pengarang buku serta pembuat blog (internet) yang sangat membantu sebagai
pencarian bahan dalam pembuatan tugas ini, dan teman-teman yang secara langsung atau
tidak langsung terlibat dalam pembuatan makalah ini.
Tugas ini telah diusahakan untuk dapat diselesaikan dengan sebaik mungkin, namun
saya sebagai penyusun menyadari bahwa tidak ada karya yang sempurna. Untuk itu semua
kritik dan saran dari pembaca sangat saya harapkan, sebagai bahan penyempurnaan dimasa
yang akan dating. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua serta mendapat Ridho
disisi Allah dan dapat menjadi salah satu referensi dalam ilmu pengetahuan.

Padang, Oktober 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................... i
DAFTAR ISI.............................................................................................................. ii
BAB I...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN....................................................................................................... 1
A.

LATAR BELAKANG......................................................................................... 1

B.

PROSEDUR PENGEMBANGAN BAHAN AJAR.....................................................4

C.

BAHAN AJAR NON CETAK POWER POINT.........................................................7

D.

Model ADDIE.................................................................................................. 8

BAB III.................................................................................................................. 16
PEMBAHASAN....................................................................................................... 16
A.

MATRIKS KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BAHAN AJAR NON CETAK.............16

B.

MATRIKS PROSEDUR PENYUSUNAN BAHAN AJAR.........................................18

C. MATRIKS PROSEDUR PENGAMBANGAN BAHANA AJAR DENGAN


MENGGUNAKAN MODEL ADDIE..........................................................................20
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 24

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Permendikbud No 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran Pada Pendidikan
Dasar Dan Pendidikan Menengah menyatakan bahwa proses pembelajaran
diselenggarakan secara interaktif, menyenangkan, menantang, inspiratif, memotivasi
peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan perkembangan
fisik serta psikologis peserta didik. Demi tercapainya amanat peraturan kementrian
pendidikan nasional itu, kurikulum 2013 telah memberikan ruang melalui kegiatan
saintifik dalam kegiatan pembelajaran. untuk itu, setiap satuan pendidikan harus berupaya

untuk melakasanakan pendidikan yang mampu memebrikan stimulus kepada peserta didik
untuk berperan aktif, dan kreatif dalam melaksanakan pembelajaran.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menstimulus peserta didik belajar aktif,
kreatif dan mandiri adalah melalui penyediaan bahan ajar. Bahan ajar merupakan alat yang
dapat membantu guru dalam menyampaikan pembelajaran agar lebih bermakna. Melalui
bahan ajar, guru dapat memfasilitasi peserta didik untuk melihat secara nyata apa yang
sedang dipelajari. Baik itu berupa gambar, maupun berupa video. Dengan menggunakan
bahan ajar interaksi anatara guru, dan peserta didik akan lebih terarah, begitu juga
interaksi antar peserta didik, karena mereka telah mempunyai informasi yang cukup dalam
berdiskusi tentang pembelajaran yang sedang dipelajari.
Secara umum, bentuk bahan ajar ada dua yaitu bahan ajar cetak dan bahan ajar non
cetak. Bahan ajar non cetak juga banyak bentuknya, seperti bahan ajar dengar (audio),
bahan ajar pandang dengar (audio visual), bahan ajar multimedia interaktif. Salah satu
bahan ajar non cetak yang biasa digunakan membantu proses belajar mengajar dan bisa
mengaktifkan peserta didik adalah power point yang termasuk dalam bahan ajar non cetak
audio visual.
B. TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui pengembangan bahan ajar non cetak
2. Mengetahui cara pengembangan power point
C. MANFAAT PENULISAN
1. Dapat dijadikan pengalaman dan bekal ilmu pengetahuan bagi pembaca
khususnya untuk tenaga pendidik kedepannya.
2. Membantu mahasiswa memahami pengembangan bahan ajar non
3. Memenuhi persyaratan untuk mengikuti mata kuliah pengembangan model
pembelajaran program studi pendidikan Fisika Fakultas pascasarjana Universitas
Negeri Padang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. BAHAN AJAR NON CETAK
1. Bahan Ajar Dengar (Audio)
Audio adalah sesuatu yang berkaitan dengan indra pendengar, dimana pesan yang
disampaikan dituangkan dalam lambang-lambang auditif, baik verbal (kedalam kata-kata atau
bahasa lisan) maupun non verbal (musik, instrumen, dsb). Program audio dapat dimanfaatkan
dalam pembelajaran individual, berkelompok, maupun massal. Tetapi pembelajaran yang
menggunakan bahan ajar dengar akan kurang efektif jika didalam sekolah tersebut dihadapkan
dengan peserta didik yang mengalami gangguan pada pendengarannya. Karena peserta didik yang
mengalami gangguan tersebut akan sangat merasa kesulitan dalam mengikuti pelajaran dengan
cara mendengar dan memahami. Beda halnya dengan peserta didik yang normal atau tidak
mengalami gangguan dalam pendengarannya, maka peserta didik tersebut bisa mengikuti pelajaran
dengan mudah khususnya ketika guru menggunakan bahan ajar dengar. (Sukitman, 2014)

2. Bahan Ajar Pandang Dengar (Audiovisual)


Bahan ajar pandang dengar merupakan bahan ajar yang mengombinasikan dua materi, yaitu
visual dan auditif. Materi auditif ditujukan untuk merangsang indra pendengaran sedangkan visual
untuk merangsang indra penglihatan. Dengan kombinasi keduanya, pendidik dapat menciptakan
proses pembelajaran yang lebih berkualitas.Hal itu berdasarkan bahwa peserta didik cenderung
akan lebih mudah mengingat dan memahami suatu pelajaran jika mereka tidak hanya
menggunakan satu jenis indra saja, apalagi jika hanya indra pendengaran saja.
Bahan ajar pandang dengar mampu memperlihatkan secara nyata sesuatu yang pada
awalnya tidak mungkin bisa dilihat di dalam kelas menjadi mungkin dilihat. Selain itu juga dapat
membuat efek visual yang memungkinkan peserta didik memperkuat proses belajar. Bahan ajar
pandang dengar antara lain adalah video dan film.

3. Bahan Ajar Interaktif (Interactive Teaching Material)


Bahan ajar interaktif adalah bahan ajar yag mengombinasikan beberapa media pembelajaran
(audio, video, teks atau grafik) yang bersifat interaktif untuk mengendalikan suatu perintah atau
perilaku alami dari suatu presentasi. Bahan ajar interaktif memungkinkan terjadinya hubungan dua
arah antara bahan ajar dan penggunanya, sehinnga peserta didik akan terdorong untuk lebih aktif.
Bahan ajar interaktif dapat ditemukan dalam bentuk CD interaktif, yang dalam proses
pembuatan dan penggunaannya tidak dapat trelepas dari perangkat komputer. Maka dari itu, bahan
ajar interaktif juga termasuk bahan ajar berbasis komputer

B. PROSEDUR PENGEMBANGAN BAHAN AJAR


Pengembangan bahan ajar perlu dilakukan secara sistematik berdasarkan langkahlangkah yang saling terkait untuk menghasilkan bahan ajar yang bermanfaat. Penatar
seringkali mengabaikan prosedur pengembangan bahan ajar yang sistematik ini karena
berasumsi, jika sudah dibuat dengan baik sesuai dengan materi yang akan diajarkan, maka
bahan ajar dapat digunakan dengan efektif dalam proses pembelajaran. Padahal ada beberapa
langkah yang harus dilakukan penatar sebelum sampai pada kesimpulan bahawa bahan ajar
sudah dikembangkan dengan baik, serta bahan ajar yang digunakan memang baik. Paling
tidak ada lima langkah utama dalam prosedur pengembangan bahan ajar yang baik, sebagai
berikut:
1. Analisis
Pada tahap ini dicoba untuk mengenali siapa peserta diklat, dengan perilaku awal
dan karakteristik yang dimiliki. Perilaku awal berkenaan dengan penguasaan dan
kemampuan bidang ilmu atau mata tataran yang sudah dimiliki peserta. Seberapa jauh
peserta sudah menguasai mata tataran itu? Sementara itu karakteristik awal
memberikan informasi tentang ciri-ciri peserta.
Jika informasi tentang peserta sudah diketahui, maka inplikasi terhadap rancangan
bahan ajar dapat ditentukan, dan bahan ajar dapat segera dikembangkan. Pengenalan
yang baik terhadap perilaku awal dan karakteristik awal peserta sangat diperlukan
untuk menentukan kebutuhan peserta dan kemudian merancang bahan ajar yang
bermanfaat bagi peserta.
2. Perancangan
Dalam tahap perancangan, ada beberapa hal yang harus dilakukan atau
diperhatikan yaitu:
a

Perumusan tujuan pembelajaran berdasarkan analisis,


Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, akan diperoleh peta atau diagram
tentang kompetensi yang akan dicapai peserta baik kompetensi umum maupun
kompetensi khusus. Kompetensi umum dan kompetensi khusus, jika dirumuskan
kembali dengan kaidah-kaidah yang berlaku, akan menjadi tujuan pembelajaran
umum dan tujuan pembelajaran khusus. Adapun kaidah yang berlaku, antara lain
dengan melengkapi komponen tujuan pembelajaran yaitu Audience, Behavior,
Condition, Degree

5
b

Pemilihan topik mata tataran


Jika tujuan pembelajaran sudah ditetapkan dan analisis sudah dilakukan, maka
peserta sudah mempunyai gambaran tentang kompetensi yang harus dicapai oleh
peserta melalui proses belajar. Dengan demikian petatar juga dapat segera
menetapkan topik mata tataran dan isinya. Apa saja topik, tema isu yang tepat untuk
disajikan dalam bahan ajar, sehingga peserta dapat belajar dan mencapai kompetensi
yang telah ditetapkan? Apa saja teori, prinsip atau prosedur yang perlu didiskusikan
dalan bahan ajar?
Acuan utama pemilihan topik mata tataran adalah silabus dan analisis
instruksional yang telah penatar miliki. Selanjutnya penatar juga dapat menggunakan
berbagai buku dan sumber belajar serta melakukan penelusuran pustaka, yaitu
mengkaji buku-buku tentang mata tataran termasuk encyclopedia atau majalah yang
ada di perpustakaan atau buk.

Pemilihan media dan sumber


Pemilihan media dan sumber belajar harus dilakukan setelah penatar memiliki
analisis instruksional dan mengetahui tujuan pembelajaran. Penatar diharapkan tidak
memilih media hanya karena media tersebut tersedia bagi penatar, disamping itu
penetar diharapkan juga tidak langsung terbujuk oleh kesediaan beragam media
canggih yang sudah semakin pesat berkembang saat ini seperti komputer. Yang perlu
diingat, media yang dipilih adalah untuk digunakan oleh peserta dalah proses belajar.
Jadi pilihlah media yang dibutuhkan untuk menyampaikan topik mata tataran, yang
memudahkan peserta belajar, serta yang menarik dan disukai peserta. Kata kuncinya
adalah: Media yang dapat membelajarkan peserta. Media itulah yang perlu
dipertimbangkan untuk dipilih

Pemilihan strategi pembelajaran


Tahap pemilihan strategi pembelajaran merupakan tahap ketika merancang
aktivitas belajar. Dalam merancang urutan penyajian harus berhubungan dengan
penentuan tema/isu/konsep/teori/prinsip/prosedur utama yang harus disajikan dalam
topik mata tataran. Hal ini tidaklah terlalu sulit jika sudah memiliki peta konsep dari
apa yang ingin dibelajarkan. Jika sudah mengetahuinya maka bagaimana materi itu
disajikan, secara umum dapat dikatakan bagaimana struktuk bahan ajarnya.
Berbagai urutan penyajian dapat dipilih berdasarkan urutan kejadian atau
kronologis, berdasarkan lokasi, berdasarkan sebab akibat dan lain sebagainya.

3. Pengembangan
Persiapan

dan

perancangan

yang

matang

sangat

diperlukan

untuk

mengembangkan bahan ajar dengan baik. Beberapa saran yang dapat membantu untuk
memulai pengenbangan bahan ajar:
a

Tulislah apa dapat ditulis, mungkin berbentuk LKS, bagian dari penyususnan buku
atau panduan praktik

Jangan merasa bahwa bahan ajar harus ditulis secara berurutan

Tulis atau kembangkan bahan ajar untuk peserta yang telah dikenal

Ingat bahan ajar yang dikembangkan harus dapat memeberikan pengalaman belajar
kepada peserta

Ragam media, sumber belajar, aktivitas dan umpan balik merupakan komponen
penting dalam memperoleh bahan ajar yang menarik, bermanfaat dan efektif bagi
peserta
Ragam contoh, alat bantu belajar, ilustrasi serta pengemasan bahan ajar juga

berperan dalam membuat bahan ajar


g

Gaya penulisan untuk bagian tekstual, naratif, explanatory, deskriptif, argumentatif


dan perintah sangat penting agar peserta dapat memahami maksud penatar.

4. Evaluasi Dan Revisi


Evaluasi merupakan proses untuk memperoleh beragam reaksi dari berbagai
pihak terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Reaksi ini hendaknya dipandang
sebagai masukan untuk memperbaiki bahan ajar dan menjadikan bahan ajar lebih
berkualitas. Evaluasi sangat diperlukan untuk melihat efektifitas bahan ajar yang
dikembangkan. Apakah bahan ajar yang dikembangkan memang dapat digunakan untuk
belajar-dimengerti, dapat dibaca dengan baik dan dapat membelajarkan peserta. Di
samping itu evaluasi diperlukan untuk memperbaiki bahan ajar sehingga nmenjadi
bahan ajar yang baik.
Secara umum ada 4 cara untuk mengevaluasi bahan ajar yaitu
a

Telaan oleh ahli materi (lebih ditekankan pada validitas keilmuan serta ketepatan
cakupan)

7
b

Uji coba satu-satu (Salah seorang peserta mengkaji bahan ajar, kemudian diminta
untuk memberikan komentar tentang keterbacaan, bahasa, ilustrasi, perwjahan dan
tingkat kesukaran)

Uji coba kelompok kecil (Satu kelompok kecil mengkaji bahan ajar, kemudian
diminta untuk memberikan komentar tentang keterbacaan, bahasa, ilustrasi,
perwjahan dan tingkat kesukaran)

Uji coba lapangan ( Untuk memperoleh informasi apakah bahan ajar dapat mencapai
tujuan?. Apakah bahan ajar dianggap memadai dan seterusnya.
Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan maka perbaikan bahan ajar yang

mungkin dilakukan antara lain:


a

menghilangkan bagian-bagian yang dianggap tidak perlu

Memperluas penkelasan dan uraian atas suatu konsep atau topik yang dianggap
masih kurang

Menambah latihan dan contoh-contoh yang dianggap perlu

Memilah bahan ajar menjadi bagian-bagian yang lebih mudah dicerna peserta

Memeperbaiki kalimat, istilah, serta bahasa yang digunakan untuk meningkatkan


keterbacaan

Menambah analogi, ilustrasi dan contoh kasus yang dianggap lebih efektif

Menambah penggunaan media lain yang dianggap dapat memperjelas dan


membantu peserta belajar

Perlu diingat bahwa pada komponen yang satu harus diikuti oleh perbaikan dan penyesuaian
pada komponen bahan ajar yang lain, sehingga diperoleh bahan ajar yang utuh dan terpadu
C. BAHAN AJAR NON CETAK POWER POINT
Bahan ajar interaktif adalah bahan ajar yang mengkombinasikan beberapa media
pembelajaran (audio, video, teks atau grafik) yang bersifat interaktif untuk mengendalikan
suatu perintah atau perilaku alami dari suatu presentasi. Bahan ajar interaktif
memungkinkan terjadinya hubungan dua arah antara bahan ajar dan penggunanya,
sehingga peserta didik akan terdorong untuk lebih aktif. Bahan ajar interaktif dapat
ditemukan dalam bentuk CD interaktif, powerpoint, dsb yang dalam proses pembuatan
dan penggunaannya tidak terlepas dari perangkat komputer. Maka dari itu, bahan ajar
interaktif juga termasuk bahan ajar berbasis komputer

Kemendiknas (2010) menjelaskan bahwa secara umum pengembangan bahan ajar


non cetak dilakukan melalui beberapa tahap kegiatan. Tahap kegiatan tersebut dapat
digambarkan melalui gambar 1.

Gambar 1. Tahap kegiatan bahan ajar non cetak


Secara detil kegiatan pengembangan bahan ajar non cetak perlu dilakukan dengan
tahap-tahap sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Pemilihan materi
Pemilihan GBPM (Garis Besar Program Media)
Review GBPM
Revisi GBPM
Penulisan naskah
Review naskah
Produksi program/bahan ajar
Review program
Revisi program
Implementasi

Kegiatan pengembangan bahan ajar non cetak dapat dilihat pada Gambar 2.

Pemilihan Materi

Produksi

Penulisan GBPM

Review dan Revisi Produk

D. Model ADDIE
ADDIE merupakan singkatan dari Analysis, Design, Development or Production,
Implementation or Delivery and Evaluations. Menurut langkah-langkah pengembangan
produk, model penelitian dan pengembangan ini lebih rasional dan lebih lengkap daripada

Rev

model 4D. Model ini memiliki kesamaan dengan model pengembangan sistem basisdata yang
telah diuraikan sebelumnya. Inti kegiatan pada setiap tahap pengembangan juga hampir sama.
Oleh sebab itu, model ini dapat digunakan untuk berbagai macam bentuk pengembangan
produk seperti model, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, media dan bahan ajar.
Model ADDIE dikembangkan oleh Dick and Carry (1996) untuk merancang sistem
pembelajaran.
ADDIE telah banyak diterapkan dalam lingkungan belajar yang telah dirancang sesuai
dengan tujuan pembelajaran. Berdasarkan landasan filosofi pendidikan penerapan ADDIE
harus bersifat student center, inovatif, otentik dan inspriratif. Konsep pengembangannya
sudah diterapkan sejak terbentuknya komunitas sosial. Pembuatan sebuah produk
pembelajaran dengan menggunakan ADDIE merupakan sebuah kegiatan yang menggunakan
perangkat yang efektif. ADDIE yang membantu menyelesaikan permasalah pembelajaran
yang komplek dan juga mengembagkan produk-produk pendidikan dan pembelajaran.
Allah SWT berfirman dalam Quran Surat An-Nahl ayat yang berbunyi 125,

Artinya: 125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah [845] dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu
Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang
lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Langkah-langkah desain model ADDIE

Analysis (analisa)
Analisis merupakan tahap pertama yang harus dilakukan oleh seorang pengembang

pembelajaran. Shelton dan Saltsman menyatakan ada tiga segmen yang harus dianalisis
yaitu siswa, pembelajaran, serta media untuk menyampaikan bahan ajarnya. Langkahlangkah dalam tahapan analisis ini setidaknya adalah: menganalisis siswa; menentukan

10

materi ajar; menentukan standar kompetensi (goal) yang akan dicapai; dan menentukan
media yang akan digunakan (Fadli, 2012). Langkah analisis melalui dua tahap, yaitu :
a

Analisis Kinerja
Analisis Kinerja dilakukan untuk mengetahui dan mengklarifikasi apakah

masalah kinerja yang dihadapi memerlukan solusi berupa penyelenggaraan program


pembelajaran atau perbaikan manajemen (Alik, 2010).
Contoh :
-

Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan menyebabkan rendahnya kinerja


individu dalam organisasi atau perusahaan, hal ini diperlukan solusi berupa

penyelenggaraan program pembelajaran.


Rendahnya motivasi berprestasi, kejenuhan, atau kebosanan dalam bekerja
memerlukan solusi perbaikan kualitas manajemen.Misalnya pemberian insentif
terhadap prestasi kerja, rotasi dan promosi, serta penyediaan fasilitas kerja yang

memadai (Alik, 2010).


b. Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan merupakan langkah yang diperlukan untuk menentukan
kemampuan-kemampuan atau kompetensi yang perlu dipelajari oleh siswa untuk
meningkatkan kinerja atau prestasi belajar. Oleh karena itu, output yang akan kita
hasilkan adalah berupa karakteristik atau profile calon peserta belajar, identifikasi
kesenjangan, identifikasi kebutuhan dan analisis tugas yang rinci didasarkan atas
kebutuhan.
2

Design (desain/perancangan)
Tujuan dalam tahap desain ini adalah Memverifikasi kinerja yang akan dicapai dan

pemilihan metode tes yang sesuai.


Dalam tahap desain ini ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama,
merumuskan tujuan pembelajaran yang SMAR (spesifik, measurable, applicable, dan
realistic). Selanjutnya menyusun tes, dimana tes tersebut harus didasarkan pada tujuan
pembelajaran yag telah dirumuskan tadi. Kemudian tentukanlah strategi pembelajaran
media danyang tepat harusnya seperti apa untuk mencapai tujuan tersebut. Selain itu,
dipertimbangkan pula sumber-sumber pendukung lain, semisal sumber belajar yang
relevan, lingkungan belajar yang seperti apa seharusnya, dan lain-lain. Semua itu tertuang
dalam sautu dokumen bernama blue-print yang jelas dan rinci. Desain merupakan langkah
kedua dari model desain sistem pembelajaran ADDIE. Langkah ini merupakan:

11

1) Inti dari langkah analisis karena mempelajari masalah kemudian menemukan


alternatif solusinya yang berhasil diidentifikasi melalui langkah analisis kebutuhan.
2) Langkah penting yang perlu dilakukan untuk, menentukan pengalaman belajar yang
perlu dimilki oleh siswa selama mengikuti aktivitas pembelajaran.
3) Langkah yang harus mampu menjawab pertanyaan, apakah program pembelajaran
dapat mengatasi masalah kesenjangan kemampuan siswa?
4) Kesenjangan kemampuan disini adalah perbedaan kemampuan yang dimilki siswa
dengan kemampuan yang seharusnya dimiliki siswa. Contoh pernyataan
kesenjangan kemampuan:
Siswa tidak mampu mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan setelah

mengikuti proses pembelajaran.


Siswa hanya mampu mencapai tingkat kompetensi 60% dari standar kompetensi
yang telah digariskan.
Pada saat melakukan langkah ini perlu dibuat pertanyaan - pertanyaan kunci

diantaranya adalah sebagai berikut :

Kemampuan dan kompetensi khusus apa yang harus dimilki oleh siswa setelah

menyelesaikan program pembelajaran?


Indikator apa yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan siswa dalam

mengikuti program pembelajaran?


Peralatan atau kondisi bagaimana yang diperlukan oleh siswa agar dapat
melakukan unjuk kompetensi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap - setelah

mengikuti program pembelajaran?


Bahan ajar dan kegiatan seperti apa yang dapat digunakan dalam mendukung
program pembelajaran?

Development (pengembangan)
Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print alias desain tadi menjadi

kenyataan. Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa multimedia
pembelajaran, maka multimedia tersebut harus dikembangkan. Satu langkah penting
dalam tahap pengembangan adalah uji coba sebelum diimplementasikan. Tahap uji coba
ini memang merupakan bagian dari salah satu langkah ADDIE, yaitu evaluasi.
Pengembangan merupakan langkah ketiga dalam mengimplementasikan model
desain sistem pembelajaran ADDIE. Langkah pengembangan meliputi kegiatan membuat,
membeli, dan memodifikasi bahan ajar. Dengan kata lain mencakup kegiatan memilih,
menentukan metode, media serta strategi pembelajaran yang sesuai untuk digunakan

12

dalam menyampaikan materi atau substansi program. Dalam melakukan langkah


pengembangan, ada dua tujuan penting yang perlu dicapai. Antara lain adalah :
1) Memproduksi, membeli, atau merevisi bahan ajar yang akan digunakan untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan sebelumnya.
2) Memilih media atau kombinasi media terbaik yang akan digunakan untuk mencapai
tujuan pembelajaran.
Pada saat melakukan langkah pengembangan, seorang perancang akan membuat
pertanyaan-pertanyaan kunci yang harus dicari jawabannya, Pertanyaan-pertanyaannya
antara lain :
1) Bahan ajar seperti apa yang harus dibeli untuk dapat digunakan dalam mencapai
tujuan pembelajaran?
2) Bahan ajar seperti apa yang harus disiapkan untuk memenuhi kebutuhan siswa yang
unik dan spesifik?
3) Bahan ajar seperti apa yang harus dibeli dan dimodifikasi sehingga dapat digunakan
untuk memenuhi kebutuhan siswa yang unik dan spesifik?
4) Bagaimana kombinasi media yang diperlukan dalam menyelenggarakan program
pembelajaran?
4

Implementation (implementasi/eksekusi)
Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan sistem pembelajaran yang

sedang kita buat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah dikembangkan diinstal atau
diset sedemikian rupa sesuai dengan peran atau fungsinya agar bisa diimplementasikan.
Implementasi atau penyampaian materi pembelajaran merupakan langkah keempat dari
model desain sistem pembelajaran ADDIE. Tujuan utama dari langkah ini antara lain :
1) Membimbing siswa untuk mencapai tujuan atau kompetensi.
2) Menjamin terjadinya pemecahan masalah / solusi untuk mengatasi kesenjangan hasil
belajar yang dihadapi oleh siswa.
3) Memastikan bahwa pada akhir program pembelajaran, siswa perlu memilki
kompetensi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap - yang diperlukan. Pertanyaanpertanyaan kunci yang harus dicari jawabannya oleh seorang perancang program
pembelajaran pada saat melakukan langkah implementasi yaitu sebagai berikut :
Metode pembelajaran seperti apa yang paling efektif utnuk digunakan dalam
penyampaian bahan atau materi pembelajaran?

13

Upaya atau strategi seperti apa yang dapat dilakukan untuk menarik dan
memelihara minat siswa agar tetap mampu memusatkan perhatian terhadap
penyampaian materi atau substansi pembelajaran yang disampaikan?

Evaluation (evaluasi/ umpan balik)


Evaluasi yaitu proses untuk melihat apakah sistem pembelajaran yang sedang

dibangun berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak. Sebenarnya tahap evaluasi bisa
terjadi pada setiap empat tahap di atas. Evaluasi yang terjadi pada setiap empat tahap di
atas itu dinamakan evaluasi formatif, karena tujuannya untuk kebutuhan revisi.
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari model desain sistem pembelajaran
ADDIE. Evaluasi adalah sebuah proses yang dilakukan untuk memberikan nilai terhadap
program pembelajaran. Evaluasi terhadap program pembelajaran bertujuan untuk
mengetahui beberapa hal, yaitu :
1) Sikap siswa terhadap kegiatan pembelajaran secara keseluruhan.
2) Peningkatan kompetensi dalam diri siswa, yang merupakan dampak dari
keikutsertaan dalam program pembelajaran.
3) Keuntungan yang dirasakan oleh sekolah akibat adanya peningkatan kompetensi
siswa setelah mengikuti program pembelajaran. Beberapa pertanyaan penting yang
harus dikemukakan perancang program pembelajaran dalam melakukan langkahlangkah evaluasi, antara lain :
a) Apakah siswa menyukai program pembelajaran yang mereka ikuti selama ini?
b) Seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh siswa dalam mengikuti program
pembelajaran?
c) Seberapa jauh siswa dapat belajar tentang materi atau substansi pembelajaran?
d) Seberapa besar siswa mampu mengaplikasikan pengetahuan, ketrampilan, dan
sikap yang telah dipelajari?
e) Seberapa besar kontribusi program pembelajaran yang dilaksanakan terhadap
prestasi belajar siswa?
Implementasi model desain sistem pembelajaran ADDIE yang dilakukan secara
sistematik dan sistemik diharapkan dapat membantu seorang perancang program, guru,
dan instruktur dalam menciptakan program pembelajaran yang efektif, efisien, dan
menarik.
Konsep Penting Dalam Desain Instruksional Model ADDIE
a. Tahap Analisis

14

Kosep menarik dari tahap ini adalah bagaimana seorang perancang


instruksional melakukan analisis kinerja untuk mengetahui dan mengklarifikasi
apakah masalah kinerja yang dihadapi memerlukan solusi berupa penyelenggaraan
program pembelajaran atau perbaikan manajemen, apakah masalah tersebut adalah
benar-benar masalah dan membutuhkan upaya untuk penyelesaian. Disamping itu
kemampuan menganalisis kebutuhan, juga merupakan langkah yang sangat penting
untuk menentukan kemampuan-kemampuan atau kompetensi yang perlu dipelajari
oleh pemelajar untuk meningkatkan kinerja atau prestasi belajar.
b. Tahap Desain
Langkah penting yang dilakukan dalam tahap desain adalah bagaimana
seorang perancang instruksional mampu menetapkan pengalaman belajar atau
learning experience seperti apa yang perlu dimiliki oleh pemelajar selama mengikuti
aktivitas pembelajaran. Hal tersebut berkaitan juga dengan akltifitas mendesain,
daftar tugas, Perangkat pembelajaran, dan penyusunan strategi tes, dan rancangan
investasi program.
c. Tahap Pengembangan
Konsep penting dalam tahap ini adalah bahwa seorang perancang instruksional
harus memiliki kemampuan mencakup kegiatan memilih dan menentukan metode,
media, serta strategi pembelajaran yang sesuai untuk digunakan dalam
menyampaikan materi atau substansi program pembelajaran.
d. Tahap Implementasi
Konsep penting pada tahap implementasi, adalah bagaimana perancang
instruksional mampu memilih metode pembelajaran seperti apa yang yang paling
efektif dalam menyampaikan bahan atau materi pembelajaran. Bagaimana upaya
menarik dan memelihara minat pemelajar agar mampu memusatkan perhatian pada
penyampaian materi.
e. Tahap Evaluasi
Konsep penting dari tahapan evaluasi model ADDIE adalah bagaimana seorang
perancang instruksional mampu melakukan evaluasi keseluruhan model, dari tahap
awal sampai akhir. Langkah-langkah yang penting dalam evaluasi model ADDIE

15

adalah bagaimana menentukan kriteria evaluasi, memilih alat untuk evaluasi, dan
mengadakan Evaluasi itu sendiri. Kegiatan evaluasi setidaknya mampu menjawab
pertanyaan sebagai berikut: bagaimana sikap pemelajar terhadap kegiatan
pembelajaran secara keseluruhan, bagaimana peningkatan kompetensi dalam diri
pemelajar

yang

merupakan

dampak

dari

keikutsertaan

dalam

program

pembelajaran, dan keuntungan apa yang dirasakan oleh sekolah akibat adanya
peningkatan kompetensi pemelajar setelah mengikuti program pembelajaran

16

BAB III
PEMBAHASAN

A. MATRIKS KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BAHAN AJAR NON CETAK

Matriks Kelebihan dan Kekurangan Jenis Bahan Ajar Noncetak


Jenis Bahan Ajar

Kelebihan

Kekurangan Non Cetak

1. Penggunaan proyektor yang 1. Membutuhkan alat yang


dapat dioperasikan dapat di
khusus untuk
kontrol langsung oleh
mengoperasikannya.
pengajar.
OHT
(Overhead
Transparancies)

2. Hanya membutuhkan sedkit


persiapan

2. Proyektornya terlalu besar


jika dibandingkan dengan
proyektor lainya.

3. Persiapan mudah dan


murah.
4. Khususnya bermanfaat
untuk kelas besar

Audio

1. Mudah dipersiapkan dengan 1. Ada kecenderungan


menggunkan tape biasa.
penggunaannya berlebihan.
2. Dapat diaplikasikan
dihampir semua mata
pelajaran
3. alat yang digunakan
kompak, mudah dibawa,
dan mudah dioperasikan.
4. Fleksibel dan mudah
diadaptasi, baik secara
sendiri atau terkait dengan
bahan-bahan lainnya.

2. Aliran informasi yang


disampaikan sangat fixed.

17

Jenis Bahan Ajar

Kelebihan

Kekurangan Non Cetak

5. Mudah diperbanyak dan


murah.
1. Bermanfaat untuk
menggambarkan gerakan,
keterkaitan, dan
memberikan dampak
terhadap topik yang
dibahas.

1. Ongkos produksinya
mahal.
2. Tidak kompatibel untuk
beragam format video.

Video

2. Dapat diputar ulang.


3. Dapat dimasukan teknik
film lain, seperti animasi.
4. Dapat dikombinasikan
antara gambar diam dengan
gerakan.
1.

Slide Berwarna dan subjeknya


asli.

1. Membutuhkan alat khusus


untuk mengoperasikannya.
2. Sekuen dapat terganggu

2.

Slide

Mudah
direvisi dan diperbaharui.

3.

Dapat
dikombinasikan dengan
audio.

4.

Dapat
dimanfaatkan untuk
kelompok atau individu

jika dioperasikan secara


individual.

18

Jenis Bahan Ajar

Kelebihan

1. Interaktif dengan siswa.


2. Dapat diadaptasi sesuai
kebutuhan siswa.
3. Dapat mengontrol hardware
media lain.
Computer Based
Material

Kekurangan Non Cetak

1. Memerlukan computer dan


pengetahuan programmer.
2. Membutuhkan hardware
khusus untuk proses
pengembangan dan
penggunaannya.
3. Hanya efektiv bila
digunakan untuk
penggunaan seseorang
atau beberapa orang dalam
kurun waktu tertentu.

19

B. MATRIKS PROSEDUR PENYUSUNAN BAHAN AJAR


C. Matrik prosedur penyusunan bahan ajar non cetak (power point)
E. Pr
os
ed
ur
Pe
ny
us
un
an
Ba
ha
n
Aj
ar
I.

J. Pe
mi
lih
an
M
ate
ri

F. In
di
ka
to
r

G. Su
b
In
di
ka
to
r

H. In
str
u
m
en

K. M
ate
ri
dis
es
ua
ik
an
de
ng
an

L. Pe
mi
lih
an
m
ate
ri
dis
es
ua
ik

M. M
ate
ri
ya
ng
ak
an
dit
a
m
pil

20

E. Pr
os
ed
ur
Pe
ny
us
un
an
Ba
ha
n
Aj
ar

F. In
di
ka
to
r

G. Su
b
In
di
ka
to
r

H. In
str
u
m
en

tuj
ua
n
pe
m
be
laj
ar
an
/k
o
m
pe
te
nsi
ya

an
de
ng
an
ko
m
pe
te
nsi
ya
ng
in
gi
n
di
ca

ka
n
da
la
m
sli
de
pr
es
en
tas
i
ha
ru
s
m

21

E. Pr
os
ed
ur
Pe
ny
us
un
an
Ba
ha
n
Aj
ar

F. In
di
ka
to
r

ng
in
gi
n
di
ca
pa
i

G. Su
b
In
di
ka
to
r

pa
i

H. In
str
u
m
en

en
ca
pa
i
ko
m
pe
te
nsi
da
n
tuj
ua
n
pe
m

22

E. Pr
os
ed
ur
Pe
ny
us
un
an
Ba
ha
n
Aj
ar

F. In
di
ka
to
r

G. Su
b
In
di
ka
to
r

H. In
str
u
m
en

be
laj
ar
an
N.

O. Pe
nu
lis
an
Ga
ris
Be
sar
Pe
ng

a. Mencantumkan informasi
identifikasi GBPM secara
lengkap
b. Standar Kompetensi
program sesuai dengan
silabus
c. Kompetensi dasar
menunjang pencapaian
kompetensi inti
d. Kompetensi dasar ditulis
dengan lengkap dan benar

a. Mencantumkan informasi
identifikasi GBPM secara
lengkap
b. Standar Kompetensi
program sesuai dengan
silabus
c. Kompetensi dasar
menunjang pencapaian
kompetensi inti
d. Kompetensi dasar ditulis
dengan lengkap dan benar

a. Informasi yang
ditampilkan sudah
ditampilkan secara
lengkap sesuai dengan
GBPM
b. Standar Kompetensi yang
ingin dicapai sesuai
dengan silabus
c. Kompetensi Dasar sudah
menunjang kompetensi
inti

23

E. Pr
os
ed
ur
Pe
ny
us
un
an
Ba
ha
n
Aj
ar
e
m
ba
ng
an
M
ed
ia
(G
B
P
M
)
Po
we
rp

F. In
di
ka
to
r

G. Su
b
In
di
ka
to
r

e. Teknik penyampaian isi


program tepat
f. Mencantumkan informasi
rujukan atau referensi

e. Teknik penyampaian isi


program tepat
f. Mencantumkan informasi
rujukan atau referensi

P.

H. In
str
u
m
en

d. Kompetensi Dasar sudah


ditulis dengan benar dan
sesuai
e. Teknik penyampaian isi
slide powerpoint sudah
tepat
f. Dicantumkan informasi
rujukan atau referensi

24

E. Pr
os
ed
ur
Pe
ny
us
un
an
Ba
ha
n
Aj
ar

F. In
di
ka
to
r

G. Su
b
In
di
ka
to
r

H. In
str
u
m
en

S. M
ela
ku
ka
n
pe
ng
ec
ek
an
da
n

T. Pe
rb
ai
ka
n/r
ev
isi
po
we
rp
oi
nt

U. Po
we
rp
oi
nt
su
da
h
dil
ak
uk
an

oi
nt
Q.

R. Re
vi
ew
da
n
Re
vis
i
G
B
P
M

25

E. Pr
os
ed
ur
Pe
ny
us
un
an
Ba
ha
n
Aj
ar

F. In
di
ka
to
r

G. Su
b
In
di
ka
to
r

m
e
m
pe
rb
ai
ki
ke
m
ba
li
po
p
we
rp
oi

su
da
h
se
su
ai
de
ng
an
sar
an
ya
ng
di
be
rik

H. In
str
u
m
en

re
vis
i
se
su
ai
de
ng
an
sar
an
da
ri
ah
li

26

E. Pr
os
ed
ur
Pe
ny
us
un
an
Ba
ha
n
Aj
ar

F. In
di
ka
to
r

nt

V.

W. Pe
nu
lis
an
Na
sk

X. Pe
nu
lis
an
po
we

G. Su
b
In
di
ka
to
r

H. In
str
u
m
en

an
ol
eh
te
na
ga
ah
li
Y. Pe
nu
lis
an
po
we

Z. Pe
nu
lis
an
po
we

27

E. Pr
os
ed
ur
Pe
ny
us
un
an
Ba
ha
n
Aj
ar
ah

F. In
di
ka
to
r

G. Su
b
In
di
ka
to
r

H. In
str
u
m
en

rp
oi
nt
su
da
h
m
en
un
ju
kk
an
cir
i
pe
m

rp
oi
nt
su
da
h
m
en
un
ju
kk
an
cir
i
pe
m

rp
oi
nt
su
da
h
m
en
un
ju
kk
an
cir
i
pe
m

28

E. Pr
os
ed
ur
Pe
ny
us
un
an
Ba
ha
n
Aj
ar

AA.

AB. R
ev
ie
w

F. In
di
ka
to
r

G. Su
b
In
di
ka
to
r

H. In
str
u
m
en

ak
aia
n
m
ed
ia
ya
ng
ba
ik

ak
aia
n
m
ed
ia
ya
ng
ba
ik

ak
aia
n
m
ed
ia
ya
ng
ba
ik

AC. M
ela
ku
ka

AD. M
ela
ku
ka

AE.
Pe
ng
ec

29

E. Pr
os
ed
ur
Pe
ny
us
un
an
Ba
ha
n
Aj
ar
da
n
Re
vis
i
Pr
od
uk

F. In
di
ka
to
r

G. Su
b
In
di
ka
to
r

H. In
str
u
m
en

n
pe
ng
ec
ek
an
da
n
m
e
m
pe
rb
ai
ki
ke

n
pe
ng
ec
ek
an
da
n
m
e
m
pe
rb
ai
ki
ke

ek
an
da
n
pe
rb
ai
ka
n
na
sk
ah
po
we
rp
oi

30

E. Pr
os
ed
ur
Pe
ny
us
un
an
Ba
ha
n
Aj
ar

F. In
di
ka
to
r

G. Su
b
In
di
ka
to
r

m
ba
li
na
sk
ah
po
we
rp
oi
nt

m
ba
li
na
sk
ah
po
we
rp
oi
nt

H. In
str
u
m
en

nt
su
da
h
dil
ak
uk
an
se
su
ai
de
ng
an
sar
an

31

E. Pr
os
ed
ur
Pe
ny
us
un
an
Ba
ha
n
Aj
ar

F. In
di
ka
to
r

G. Su
b
In
di
ka
to
r

H. In
str
u
m
en

ah
li
da
n
pe
nu
lis
an
m
ed
ia
ya
ng
ba
ik

32

E. Pr
os
ed
ur
Pe
ny
us
un
an
Ba
ha
n
Aj
ar
AF.

AG. P
ro
du
ksi

F. In
di
ka
to
r

G. Su
b
In
di
ka
to
r

H. In
str
u
m
en

AH. P
o
we
rp
oi
nt
ya
ng
di
bu
at
tel
ah
bis
a
di

AI. Po
we
rp
oi
nt
ya
ng
di
bu
at
tel
ah
bis
a
di
gu

AJ. Po
we
rp
oi
nt
ya
ng
di
bu
at
su
da
h
bis
a
di

33

E. Pr
os
ed
ur
Pe
ny
us
un
an
Ba
ha
n
Aj
ar

F. In
di
ka
to
r

gu
na
ka
n
un
tu
k
ke
gi
ata
n
pe
m
be
laj
ar

G. Su
b
In
di
ka
to
r

na
ka
n
un
tu
k
ke
gi
ata
n
pe
m
be
laj
ar

H. In
str
u
m
en

gu
na
ka
n
un
tu
k
ke
gi
ata
n
pe
m
be
laj
ar

34

E. Pr
os
ed
ur
Pe
ny
us
un
an
Ba
ha
n
Aj
ar

F. In
di
ka
to
r

G. Su
b
In
di
ka
to
r

H. In
str
u
m
en

an

an

an

AK.
AL.
AM.

MATRIKS PROSEDUR PENGAMBANGAN BAHANA AJAR DENGAN MENGGUNAKAN MODEL ADDIE


AN. Tahap
an
Model
ADDIE
AQ. Analys
is

AO. Uraian

AS. Pada tahap ini,


kegiatan utama

AP.Powerpoint

AU.

35

AN. Tahap
an
Model
ADDIE

AO. Uraian

AR.

AP.Powerpoint

adalah menganalisis
perlunya
pengembangan
model/metode
pembelajaran baru
dan menganalisis
kelayakan dan
syarat-syarat
pengembangan
model/metode
pembelajaran baru
AT.

AV.Analisis
kurikulu
m

1. Ditinjau dari dokumen kurikulum (buku


guru dan buku siswa)
AW.
AX.
AY.
2. Ditinjau dari Perencanaan, Pelaksanaan, dan
Penilaian

AZ. Berdasarkan buku


guru dan buku
siswa, materi
pembelajaran yang
tersaji dalam buku
siswa belum
mencapai seluruh
kompetensi inti
(kompetensi
religius dan sosial
tidak terlalu
tampak)
BA.

36

AN. Tahap
an
Model
ADDIE

AO. Uraian

AP.Powerpoint

BB. Dalam
pelaksanaannya,
guru kesulitan
dalam
melaksanakan
kegiatan
pembelajaran yang
sesuai dengan
petunjuk dalam
buku guru dan buku
siswa
BC.
a. Analisis Karakteristik Siswa

1. Siswa masih belum kreatif


pembelajaran
2. Siswa tidak mandiri dalam belajar

dalam

BD. Dibutuhkan suatu


Powerpoint yang
mampu
meningkatkan
kreativitas siswa.
BE. Powerpoint dapat
membantu siswa
untuk belajar
mandiri karena
didalam Modul
dilengkapi dengan
info pendukung dan

37

AN. Tahap
an
Model
ADDIE

AO. Uraian

AP.Powerpoint

latihan-latihan
BF.Powerpoint dapat
memuat gambar,
video, grafik,
animasi, dll.
BG.
BH. Desig
n
BI.

a. Membuat garis besar isi LKS

BJ. Desain merupakan


langkah kedua dari
model dan sistem
pembelajaran
ADDIE. Pada
langkah ini
diperlukan adanya
klarifikasi program
pembelajaran yang
didesain sehingga
program tersebut
dapat mencapai
tujuan
pembelajaran
seperti yang
diharapkan
BK.
1. Membuat garis besar isi Handout yang

BL.

BM. Materi dalam

38

AN. Tahap
an
Model
ADDIE
yang berisi berisi tentang
penyajian materi

b. Menyiapkan buku referensi,


gambar, dan materi yang
berkaitan dengan materi yang
akan digunakan untuk
mengembangkan LKS,

AO. Uraian

berisi berisi tentang penyajian materi

2. Menyiapkan buku referensi, gambar, dan


materi yang berkaitan dengan materi yang
akan digunakan untuk mengembangkan
Handout,

AP.Powerpoint

powerpoint
meliputi elastisitas,
hokum Hooke,
penerapan sifat
elastisitas bahan
BN. Adapun sumber
belajar yang akan
digunakan adalah:
BO. Buku:
BP.Marthen kanginan.
2014. Fisika SMA
kelas X. Jakarta:
Erlangga
BQ. Buku siswa
Kurikulum 2013
kelas X
BR. Buku guru
kurikulum 2013
kelas X
BS.Gambar:
BT.
BU.

39

AN. Tahap
an
Model
ADDIE
c. Menentukan spesifikasi LKS

AO. Uraian

3. Menentukan spesifikasi Handout

AP.Powerpoint

BV. Bagian awal


terdiri dari: cover,
judul, video
BW. Bagian isi terdiri
dari: paparan
materi, contoh soal
BX. Bagian penutup:
Latihan, tugas, dan
daftar pustaka

d. Menyusun instrumen penilaian


LKS yang meliputi angket
penilaian untuk ahli materi dan
ahli media, tes hasil belajar
(post-test), dan angket respon
siswa.

BZ. Develo

4. Menyusun instrumen penilaian Handout


yang meliputi angket penilaian untuk ahli
materi dan ahli media, tes hasil belajar
(post-test), dan angket respon siswa.

CA. Develop dalam

BY. Instrumen berupa


angket penilaian
LKS untuk ahli.
Angket penilaian
berbentuk checklist
dengan
menggunakan
skala bertingkat
yang terdiri dari 5
kategori, yaitu skor
5 (sangat valid), 4
(valid), 3 (cukup
valid), 2 (kurang
valid), atau 1 (tidak
valid).
CB. Mengembangkan

40

AN. Tahap
an
Model
ADDIE
p

CE. Imple
mentatio
n

AO. Uraian

model ADDIE
berisi kegiatan
realisasi rancangan
produk.

CF.Implementasi
adalah langkah
nyata untuk
menerapkan sistem
pembelajaran yang
sedang kita buat.
Artinya, pada tahap
ini semua yang
telah dikembangkan
diinstal atau diset
sedemikian rupa
sesuai dengan peran
atau fungsinya agar
bisa

AP.Powerpoint

Powerpoint pada
materi Elastisitas,
CC. dengan tahapan sebagai berikut:
a. Mengembangkan Powerpoint dengan
model ADDIE sesuai dengan hasil
perancangan.
b. Menilai kualitas Powerpoint (validasi
Powerpoint) sebelum diujicobakan.
c. Melakukan revisi awal setelah penilaian
kualitas Powerpoint.
CD.
CH. Pada tahap ini,
peneliti
mengimplementasi
kan hal yang
terkait dengan
pengembangan
Powerpoint pada
materi Elastisitas
yang dikembangkan
dalam kegiatan
pembelajaran fisika
di sekolah.

41

AN. Tahap
an
Model
ADDIE

AO. Uraian

AP.Powerpoint

diimplementasikan
CG.
CI. Evaluati
on

CL.
CM.
CN.

CJ. Evaluasi yaitu


proses untuk
melihat apakah
sistem
pembelajaran yang
sedang dibangun
berhasil, sesuai
dengan harapan
awal atau tidak.

a. melakukan revisi akhir setelah


Powerpoint yang dikembangkan
diimplementasikan dalam pembelajaran
fisika.
b. menghasilkan produk akhir yang layak
digunakan dalam pembelajaran fisika di
sekolah.
CK.

42

CO. DAFTAR PUSTAKA


CP. Akhmad Sudrajat. 2008. Pengembangan bahan ajar.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/24/download-pengembangan-bahanajar/
CQ. Andy-sapta.blogspot.com/2009/01/pengembangan-bahan-ajar-6.html (diakses Oktober
2015)
CR. Arsyad Azhar. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Grafindo Persada.
CS. Depdiknas. 2010. Juknis Pengembangan Bahan Ajar SMA. Jakarta: Direktorat
Pembinaan SMA
CT.Sungkono, dkk. (2003). Pengembangan Bahan Ajar. Yogyakarta:
FIP UN
CU. Thiagarajan, S., Semmel, D. S & Semmel, M. I. 1974. Instructional Development for

Training Teachers of Expectional Children. Minneapolis, Minnesota: Leadership


Training Institute/Special