Anda di halaman 1dari 25

1

Tugas 8
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

VALIDITAS, REABILITAS DAN PRAKTIKALITAS


BAHAN AJAR CETAK

Oleh
RISKA WAHYUNI
15175036

DOSEN :
Prof. Dr. Festiyed, M.S

PROGRAM PASCA SARJANA PENDIDIKAN FISIKA


UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan hidayahNya, saya dapat menyusun tugas ini dengan judul Validitas, reabilitas dan praktikalitas
bahan ajar cetak
Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak mendapat masalah, namun hal
tersebut dapat diatasi dengan bimbingan dan dan dukungan dari berbagai pihak. Maka penulis
mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Pengembangan Bahan Ajar
Fisika, pengarang buku serta pembuat blog (internet) yang sangat membantu sebagai
pencarian bahan dalam pembuatan tugas ini, dan teman-teman yang secara langsung atau
tidak langsung terlibat dalam pembuatan makalah ini.
Tugas ini telah diusahakan untuk dapat diselesaikan dengan sebaik mungkin, namun
saya sebagai penyusun menyadari bahwa tidak ada karya yang sempurna. Untuk itu semua
kritik dan saran dari pembaca sangat saya harapkan, sebagai bahan penyempurnaan dimasa
yang akan dating. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua serta mendapat Ridho
disisi Allah dan dapat menjadi salah satu referensi dalam ilmu pengetahuan.

Padang, Oktober 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................... i
DAFTAR ISI.............................................................................................................. ii
BAB I...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN....................................................................................................... 1
A.

Latar Belakang.................................................................................................. 1

B.

Rumusan Masalah.............................................................................................. 1

C.

Tujuan Penulisan............................................................................................... 1

D.

Manfaat Penulisan............................................................................................. 2

BAB II..................................................................................................................... 3
TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................ 3
A.

Bahan Ajar Cetak............................................................................................... 3

B.

Bahan Ajar Cetak Lembar Kerja Siswa....................................................................8

C.

Validitas........................................................................................................ 11

D.

Reabilitas...................................................................................................... 15

E.

Praktikalitas................................................................................................... 16

BAB III.................................................................................................................. 19
PEMBAHASAN....................................................................................................... 19
A.

Matriks kisi-kisi instrumen validitas bahan ajar cetak lembar kerja siswa (LKS)...............19

B.

Instrumen validitas lembar kerja siswa (LKS)..........................................................22

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 24

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu
guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan ajar dapat
berupa bahan ajar cetak dan non cetak. Bahan ajar cetak contohnya modul, buku teks,
lembar kerja siswa (LKS), model/maket, dan lain-lain. Bahan ajar non cetak contohnya
bahan ajar audio,bahan ajar audio visual, media video interaktif.
2

Seorang pendidik terutama guru diharapkan dapat mengembangkan bahan ajar yang
akan digunakan di sekolah. Sebelum digunakan, bahan ajar yang yang telah dikembangkan
tentunya harus memenuhi syarat validitas, reabilitas dan praktikalitas. Validitas berkenaan
dengan ketepatan alat ukur terhadap konsep yang diukur, sehingga betul-betul mengukur
apa yang seharusnya diukur. Validitas tidak berlaku universal sebab bergantung pada
situasi dan tujuan penelitian. Instrumen yang telah valid untuk suatu tujuan tertentu belum
otomatis akan valid untuk tujuan yang lain. Reabilitas berkenaan dengan derajat
konsistensi dan stabilitas data atau temuan. Setelah instrumen divalidasi dan dikatakan
valid, maka tahap selanjutnya harus dilakukan uji praktikalitas yang hasilnya
menunjukkan perangkat yang dikembangkan praktis untuk digunakan.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian pada latar belakang, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana menilai validitas bahan ajar cetak?
2. Bagaimana menilai reabilitas bahan ajar cetak?
3. Bagaimana menilai praktikalitas bahan ajar cetak?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui cara menilai validitas bahan ajar cetak
2. Mengetahui cara menilai reabilitas bahan ajar cetak
3. Mengetahui cara menilai praktikalitas bahan ajar cetak
D. Manfaat Penulisan
1. Dapat dijadikan pengalaman dan bekal ilmu pengetahuan bagi pembaca khususnya
untuk tenaga pendidik kedepannya.
2. Membantu mahasiswa memahami validitas,reabilitas dan praktikalitas bahan ajar cetak
3. Memenuhi persyaratan untuk mengikuti mata kuliah pengembangan bahan ajar
program studi pendidikan Fisika Fakultas pascasarjana Universitas Negeri Padang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Bahan Ajar Cetak


Bahan ajar atau materi pembelajaran adalah segala hal yang digunakan oleh para
guru atau para siswa untuk memudahkan proses pembelajaran. Bahan ajar bisa berupa
kaset, video, CD-Room, kamus, buku bacaan, buku kerja, atau fotokopi latihan soal. Bahan
juga bisa berupa koran, paket makanan, foto, perbincangan langsung dengan
mendatangkan penutur asli, instruksi-instruksi yang diberikan oleh guru, tugas tertulis atau
kartu atau juga diskusi antar siswa (Akhmad Sudrajat, 2008).
Dan E. Mulyasa (2006) menjelaskan bahan ajar atau materi pembelajaran secara
garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa
dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Bahan ajar memiliki
posisi amat penting dalam pembelajaran, yakni sebagai representasi (wakil) dari
penjelasan guru di depan kelas. Keterangan-keterangan guru, uraian-uraian yang harus
disampaikan guru, dan informasi yang harus disajikan guru dihimpun di dalam bahan ajar.
Dengan demikian, guru juga akan dapat mengurangi kegiatannya menjelaskan pelajaran,
memiliki banyak waktu untuk membimbing siswa dalam belajar atau membelajarkan
siswa.
Berdasarkan teknologi yang digunakan, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Atas (2008) mengelompokkan bahan ajar menjadi empat kategori, yaitu bahan ajar cetak
(printed) antara lain handout, buku, modul, lembar kegiatan siswa, brosur, leaflet,
wallchart, foto/gambar, dan model/maket. Bahan ajar dengar (audio) antara lain kaset,
radio, piringan hitam, dan compact disk audio. Bahan ajar pandang dengar ( audio visual)
seperti video compact disk, dan film. Bahan ajar multimedia interaktif (interactive
teaching material) seperti CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk (CD)
multimedia pembelajaran interaktif dan bahan ajar berbasis web (web based learning
material)
Bahan ajar cetak dapat ditampilkan dalam berbagai bentuk. Jika bahan ajar cetak
tersusun secara baik maka bahan ajar akan mendatangkan beberapa keuntungan seperti
yang dikemukakan oleh Steffen Peter Ballstaedt, (1994) yaitu:
1. Bahan tertulis biasanya menampilkan daftar isi, sehingga memudahkan bagi seorang
guru untuk menunjukkan kepada peserta didik bagian mana yang sedang dipelajari.
2. Biaya untuk pengadaannya relatif sedikit.
3. Bahan tertulis cepat digunakan dan dapat dipindah-pindah secara mudah.
3

4. Susunannya menawarkan kemudahan secara luas dan kreativitas bagi individu.


5. Bahan tertulis relatif ringan dan dapat dibaca di mana saja.
6. Bahan ajar yang baik akan dapat memotivasi pembaca untuk melakukan aktivitas,
seperti menandai, mencatat, membuat sketsa
7. Bahan tertulis dapat dinikmati sebagai sebuah dokumen yang bernilai besar
8. Pembaca dapat mengatur tempo secara mandiri
Menurut Bandono (2009) penyusunan bahan ajar cetak memperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Susunan tampilan
Bahasa yang mudah
Menguji pemahaman
Stimulan
Kemudahan dibaca
Materi instruksional
Banyak sekali jenis bahan ajar cetak yang bisa digunakan dalam proses

pembelajaran, antara lain adalah handout, modul, buku teks, lembar kegiatan siswa, model
(maket), poster dan brosur.
1. Handout
Menurut Andi Prastowo (2012) handout merupakan bahan pembelajaran yang
sangat ringkas, bersumber dari beberapa literatur yang relevan terhadap kompetensi
dasar dan materi pokok yang diajarkan kepada peserta didik. Pada umumnya handout
berfungsi untuk membantu peserta didik agar tidak perlu mencatat, sebagai pendamping
penjelasan pendidik, sebagai bahan rujukan peserta didik, memotivasi peserta didik
agar lebih giat belajar, pengingat pokok-pokok materi yang diajarkan, memberi umpan
balik dan menilai hasil belajar.
2. Modul
Modul adalah sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik dapat
belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru, sehingga modul berisi paling
tidak tentang:
Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
Kompetensi yang akan dicapai
Content atau isi materi
Informasi pendukung
Latihan-latihan
Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK)
Evaluasi
Balikan terhadap hasil evaluasi
Pembelajaran dengan modul juga memungkinkan peserta didik yang memiliki
kecepatan tinggi dalam belajar akan lebih cepat menyelesaikan satu atau lebih
4

kompetensi dasar dibandingkan dengan peserta didik lainnya. Selain itu, juga
meningkatkan kemampuan peserta didik untuk belajar sendiri tanpa tergantung kepaga
kehadiran pendidik.
3. Buku Teks (Buku Guru dan Buku siswa )
Buku teks pelajaran pada umumnya merupakan bahan tertulis yang menyajikan
ilmu pengetahuan atau buah pikiran dari pengarangnya yang disusun secara sistematis
berdasarkan kurikulum yang berlaku. Buku teks berguna untuk membantu pendidik
dalam melaksanakan kurikulum karena disusun berdasarkan kurikulum yang berlaku,
menjadi pegangan guru dalam menentukan metode pengajaran dan memberikan
kesempatan bagi peserta didik untuk mengulangi pelajaran atau mempelajari pelajaran
baru.
Buku Panduan Guru Untuk Mata Pelajaran IPA disusun untuk mempermudah dan
memperjelas penggunaan buku bagi peserta didik yang diterbitkan oleh Pemerintah.
Buku ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama berisi tentang petunjuk umum
pembelajaran IPA, keterampilan proses dalam pembelajaran IPA, serta penilaian dalam
pembelajaran IPA. Bagian kedua menguraikan strategi pembelajaran IPA tiap topik,
sesuai Kurikulum 2013 dan buku peserta didik. Uraian setiap topik disajikan untuk
setiap rencana tatap muka. Pada setiap tatap muka berisi materi pengayaan untuk guru
beserta potensi miskonsepsi pada peserta didik pada topik itu, pembelajarannya, serta
alternatif penilaiannya.
Dengan model pengorganisasian seperti ini, diharapkan guru mendapatkan
kemudahan dalam pemahaman lebih dalam terhadap materi ajar, cara pembelajarannya,
serta cara penilaiannya. Juga, guru mendapatkan gambaran terhadap rumusan indikator
pencapaian kompetensi dasar (terutama untuk KD pada KI III dan KI IV). Sebagai
muaranya, panduan pembelajaran IPA ini diharapkan dapat membantu guru dalam
memberikan kesempatan peserta didik untuk belajar secara optimal, sehingga peserta
didik mampu mencapai Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pada satuan pendidikan
tertentu.
Sesuai dengan konsep Kurikulum 2013, buku

siswa disusun mengacu pada

pembelajaran IPA secara terpadu dan utuh, sehingga setiap pengetahuan yang diajarkan,
pembelajarannya harus dilanjutkan sampai membuat siswa terampil dalam menyajikan
pengetahuan yang dikuasainya secara konkret dan abstrak, dan bersikap sebagai
makhluk yang mensyukuri anugerah alam semesta yang dikaruniakan kepadanya
melalui pemanfaatan yang bertanggung jawab.

Buku ini menjabarkan usaha minimal yang harus dilakukan siswa untuk mencapai
kompetensi yang diharapkan. Sesuai dengan pendekatan yang dipergunakan dalam
Kurikulum 2013, siswa diberanikan untuk mencari dari sumber belajar lain yang
tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. Peran guru sangat penting untuk
meningkatkan dan menyesuaikan daya serap siswa dengan ketersediaan kegiatan pada
buku ini. Guru dapat memperkayanya dengan kreasi dalam bentuk kegiatan-kegiatan
lain yang sesuai dan relevan yang bersumber dari lingkungan sosial dan alam.
4. Lembar Kegiatan Siswa
Lembar kegiatan siswa (student work sheet) adalah lembaran-lembaran berisi
tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar kegiatan biasanya berupa
petunjuk atau langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Suatu tugas yang
diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas kompetensi dasar yang akan
dicapainya. LKS berfungsi untuk meminimalkan peran pendidik dan mengaktifkan
peran peserta didik, mempermudah peserta didik untuk memahami materi yang
diberikan dan kaya akan tugas untuk berlatih.
5. Model (Maket)
Model (maket) merupakan bahan ajar yang berupa tiruan benda nyata untuk
menjembatani berbagai kesulitan yang bisa ditemui, apabila menghadirkan objek atau
benda tersebut langsung ke dalam kelas, sehingga nuansa asli dari benda tersebut masih
bisa dirasakan oleh peserta didik tanpa mengurangi struktur aslinya, sehingga
pembelajaran menjadi lebih bermakna.
6. Brosur
Brosur adalah bahan informasi tertulis mengenai suatu masalah yang disusun
secara bersistem atau cetakan yang hanya terdiri atas beberapa halaman dan dilipat
tanpa dijilid atau selebaran cetakan yang berisi keterangan singkat tetapi lengkap
tentang perusahaan atau organisasi (Kamus besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Balai
Pustaka, 1996). Dengan demikian, maka brosur dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar,
selama sajian brosur diturunkan dari kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa.
Mungkin saja brosur dapat menjadi bahan ajar yang menarik, karena bentuknya yang
menarik dan praktis. Agar lembaran brosur tidak terlalu banyak, maka brosur didesain
hanya memuat satu kompetensi dasar saja. Ilustrasi dalam sebuah brosur akan
menambah menarik minat peserta didik untuk menggunakannya
7. Foto/Gambar
Foto/gambar memiliki makna yang lebih baik dibandingkan dengan tulisan.
Foto/gambar sebagai bahan ajar tentu saja diperlukan satu rancangan yang baik agar
6

setelah selesai melihat sebuah atau serangkaian foto/gambar siswa dapat melakukan
sesuatu yang pada akhirnya menguasai satu atau lebih kompetensi dasar.
Menurut Weidenmann dalam buku Lehren mit Bildmedien menggambarkan
bahwa melihat sebuah foto/gambar lebih tinggi maknanya dari pada membaca atau
mendengar. Melalui membaca yang dapat diingat hanya 10%, dari mendengar yang
diingat 20%, dan dari melihat yang diingat 30%. Foto/gambar yang didesain secara
baik dapat memberikan pemahaman yang lebih baik. Bahan ajar ini dalam
menggunakannya harus dibantu dengan bahan tertulis. Bahan tertulis dapat berupa
petunjuk cara menggunakannya dan atau bahan tes
8. Leaflet
A separate sheet of printed matter, often folded but not stitched (Websters New
World, 1996) Leaflet adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat tapi tidak
dimatikan/dijahit.

Agar terlihat menarik biasanya leaflet didesain secara cermat

dilengkapi dengan ilustrasi dan menggunakan bahasa yang sederhana, singkat serta
mudah dipahami.

Leaflet sebagai bahan ajar juga harus memuat materi yang dapat

menggiring peserta didik untuk menguasai satu atau lebih KD.


9. Diagram
Diagram adalah suatu gambaran sederhana uang dirancang untuk memperlihatkan
hubungan timbal balik terutama dengan garis-garis. Bahkan diagram lebih unggul
daripada bagan. Sebuah diagram yang baik adalah sangat sederhana yakni hanya
bagian-bagian terpenting saja yang diperlihatkan.
10. Grafik
Grafik mungkin dapat didefenisikan sebagai penyajian data berangka. Suatu table
gambar dapat mempunyai nilai informasi yang sangat berfaedah, namun grafik dari
data yang sama menggambarkan intisari informasi sekilas akan lebih efektif. Lebih
jauh, grafik menggambarkan hubungan penting dari suatu data.Grafik merupakan
keterpaduan yang lebih menarik dari sejumlah tabulasi data yang tersusun dengan baik.
11. Poster
Poster yang baik harus dinamis, menonjolka kualitas. Poster harus sederhana
tidak memerlukan pemikiran bagi pengamat secara terinci, harus cukup kuat untuk
menarik perhatian, bila tidak, akan hilang kegunaannya.
Pada prinsipnya poster itu merupakan gagasan yang dicetuskan dalam bentuk
ilustrasi gambar yang disederhanakan yang dibuat dalam ukuran besar, bertujuan untuk
menarik perhatian,membujuk, memotivasi atau mmperingatkan pada gagasan pokok,
7

fakta atau peristiwa tertentu. Disain sebuah poster adalah merupakan perpaduan antara
kesederhanaan serta dinamika.Berbgaia warna yang mencolok dan kontras seringkali
dipakai dalam poster
B. Bahan Ajar Cetak Lembar Kerja Siswa
Menurut Dhari dan Haryono (1988) yang dimaksud dengan lembar kerja siswa
adalah lembaran yang berisi pedoman bagi siswa untuk melakukan kegiatan yang
terprogram. Setiap LKS berisikan antara lain: uraian singkat materi, tujuan kegiatan, alat/
bahan yang diperlukan dalam kegiatan, langkah kerja pertanyaan-pertanyaan untuk
didiskusikan, kesimpulan hasil diskusi, dan latihan ulangan.
Jadi, Lembar Kerja Siswa ( LKS) bisa diartikan lembaran-lembaran yang digunakan
peserta didik sebagai pedoman dalam proses pembelajaran, serta berisi tugas yang
dikerjakan oleh siswa baik berupa soal maupun kegiatan yang akan dilakukan peserta
didik. Prinsipnya lembar kerja siswa adalah tidak dinilai sebagai dasar perhitungan rapor,
tetapi hanya diberi penguat bagi yang berhasil menyelesaikan tugasnya serta diberi
bimbingan bagi siswa yang mengalami kesulitan. Mengandung permasalahan (problem
solving) sehingga siswa dapat mengembangkan pola pikir mereka dengan memecahkan
permasalahan tersebut.
Lembar kerja siswa merupakan bahan pembelajaran cetak yang yang paling
sederhana karena komponen isinya bukan pada materi ajar tetapi pada pengembangan
soal-soalnya serta latihan. LKS sangat baik dipergunakan dalam rangka strategi heuristik
maupun ekspositorik. Dalam strategi heuristik LKS dipakai dalam metode penemuan
terbimbing, sedangkan dalam strategi ekspositorik LKS dipakai untuk memberikan latihan
pengembangan.. Selain itu LKS sebagai penunjang untuk meningkatkan aktifitas siswa
dalam proses belajar dapat mengoptimalkan hasil belajar.
1. Karakteristik LKS
LKS memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dengan bahan ajar lainnya,
yakni sebagai berikut:
a. LKS memiliki soal-soal yang harus dikerjakan siswa, dan kegiatan-kegitan seperti
percobaan atau terjun ke lapangan yang harus siswa lakukan.
b. Merupakan bahan ajar cetak.
c. Materi yang disajikan merupakan rangkuman yang tidak terlalu luas pembahasannya
tetapi sudah mencakup apa yang akan dikerjakan atau dilakukan oleh peserta didik.
d. Memiliki komponen-komponen seperti kata pengantar, pendahuluan, daftar isi, dll

2. Komponen-Komponen LKS
Lembar Kerja Siswa atau yang biasa disebut dengan LKS tersusun dengan
komponen-komponen sebagai berikut:
a. Kata pengantar
b. Daftar isi
c. Pendahuluan (berisi analisis / daftar dari tujuan pembelajaran dan indikator
ketercapaian berdasarkan hasil analisis dari GBPP)
d. Bab 1 berisi tentang ringkasan materi/penekanan materi dari pokok bahasan tersebut.
e. Lembar kerja: berisi berbagai soal ataupun penugasan yang akan dikerjakan oleh
siswa
f. Bab 2 berisi tentang ringkasan materi/penekanan materi dari pokok bahasan tersebut.
g. Lembar kerja dst.
h. Daftar pustaka
3. Prosedur Penyusunan LKS
Dalam pembuatan lembar kerja siswa perlu diperhatikan beberapa syarat dan halhal yang penting, diantaranya sebagai berikut.
a. Mempunyai tujuan yang ingin dicapai berdasarkan GBPP, AMP, dan buku
pegangan/paket, mengandung proses dan kemampuan yang dilatih, serta
mengutamakan bahan-bahan yang penting.
b. Tata letak harus dapat menunjukkan urutan kegiatan secara logis dan sistematis,
menunjukan bagian-bagian yang sudah diikuti dari awal sampai akhir, serta
desainnya menarik dan indah.
c. Susunan kalimat dan kata-kata memenuhi kriteria berikut: sederhana dan mudah
dimengerti, singkat dan jelas, istilah baru hendaknya diperkenalkan, serta
informasi/penjelasan yang panjang hendaknya dibuat dalam lembar catatan peserta
didik.
d. Gambar ilustrasi dan skema sebaiknya membantu peserta didik, menunjukkan cara,
menyusun, dan merangkai sehingga membantu anak didik berpikir kritis.
Agar lebih spesifik lagi pembahasan tentang cara pembuatan Lembar Kerja Siswa
(LKS) maka diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Syarat didaktik
Lembar Kerja Siswa (LKS) sebagai salah satu bentuk sarana berlangsungnya
proses belajar-mengajar haruslah memenuhi persyaratan didaktik, artinya suatu LKS
harus mengikuti asas belajar-mengajar yang efektif, yaitu : memperhatikan adanya
perbedaan individual, sehingga LKS yang baik itu adalah yang dapat digunakan baik
oleh siswa yang lamban, yang sedang maupun yang pandai, menekankan pada proses
9

untuk menemukan konsep-konsep sehingga LKS dapat berfungsi sebagai petunjuk jalan
bagi siswa untuk mencari tahu, memiliki variasi stimulus melalui berbagai media dan
kegiatan siswa, dapat mengembangkan kemampuan komunikasi sosial, emosional,
moral, dan estetika pada diri siswa, pengalaman belajarnya ditentukan oleh tujuan
pengembangan pribadi siswa (intelektual, emosional dan sebagainya), bukan ditentukan
oleh materi bahan pelajaran.
2. Syarat konstruksi
Syarat konstruksi adalah syarat-syarat yang berkenaan dengan penggunaan
bahasa, susunan kalimat, kosa kata, tingkat kesukaran, dan kejelasan yang pada
hakikatnya haruslah tepat guna dalam arti dapat dimengerti oleh peserta didik.
Menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat kedewasaan peserta didik,
menggunakan struktur kalimat yang jelas, memiliki taat urutan pelajaran yang sesuai
dengan tingkat kemampuan peserta didik menghindari pertanyaan yang terlalu terbuka,
tidak mengacu pada buku sumber yang diluar kemampuan keterbacaan, peserta didik
menyediakan ruangan yang cukup untuk memberi keleluasaaan pada peserta didik
untuk menulis maupun menggambarkan pada LKS, menggunakan kalimat yang
sederhana dan pendek, lebih banyak menggunakan ilustrasi daripada kata-kata,
sehingga akan mempermudah peserta didik dalam menangkap apa yang diisyaratkan
LKS, memiliki tujuan belajar yang jelas serta manfaat dari pelajaran itu sebagai sumber
motivasi, mempunyai identitas untuk memudahkan administrasinya.
3. Syarat teknis
Dari segi teknis LKS memiliki beberapa pembahasan yaitu:
1) Tulisan
Menggunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf latin atau romawi,
menggunakan huruf tebal yang agak besar, bukan huruf biasa yang diberi garis bawah,
menggunakan tidak lebih dari 10 kata dalam satu baris, menggunakan bingkai untuk
membedakan kalimat perintah dengan jawaban peserta didik, mengusahakan agar
perbandingan besarnya huruf dengan besarnya gambar serasi.
2) Gambar
Gambar yang baik untuk LKS adalah yang dapat menyampaikan pesan/isi dari
gambar tersebut secara efektif kepada penguna LKS. Yang lebih penting adalah kejelasan
isi atau pesan dari gambar itu secara keseluruhan.
10

3) Penampilan
Penampilan adalah hal yang sangat penting dalam sebuah LKS. Apabila suatu
LKS ditampilkan dengan penuh kata-kata, kemudian ada sederetan pertanyaan yang
harus dijawab oleh peserta didik, hal ini akan menimbulkan kesan jenuh sehingga
membosankan atau tidak menarik. Apabila ditampilkan dengan gambarnya saja, itu
tidak mungkin karena pesannya atau isinya tidak akan sampai. Jadi yang baik adalah
LKS yang memiliki kombinasi antara gambar dan tulisan.
C. Validitas
Harun Rasyid dan Mansur (2007) mengatakan bahwa validitas didefenisikan sebagai
ukuran seberapa cermat suatu tes melakukan fungsi ukurnya. Tes hanya dapat melakukan
fungsinya dengan cermat kalau ada sesuatu yang diukurnya. Sedangkan Suharsimi
Arikunto (1995) menjelaskan bahwa validitas adalah keadaan yang menggambarkan
tingkat instrumen bersangkutan yang mampu mengukur apa yang akan diukur.
Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data
(mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur
apa yang seharusnya diukur. Dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel
dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan
reliabel (Sugiyono,2011).
Menurut Harun Rasyid dan Mansur (2007) validitas dapat dibagi menurut berbagai
tipe, tergantung pada pendekatannya. Secara garis besar ada dua macam validitas yaitu
validitas logis dan validitas empiris.
1. Validitas logis
Istilah validitas logis mengandung kata logis berasal dari kata logika yang
berarti penalaran. Dengan makna demikian maka validitas logis untuk sebuah
instrumen evaluasi menunjuk pada kondisi bagi sebuah instrumen yang memenuhi
persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran. Kondisi valid tersebut dipandang
terpenuhi karena instrumen yang bersangkutan sudah dirancang secara baik, mengikuti
teori dan ketentuan yang ada. Sebagaimana pelaksanaan tugas yang lain misalnya
membuat karangan, jika penulis sudah mengikuti aturan mengarang, tentu secara logis
karangannya sudah baik. Berdasarkan penjelasan tersebut maka instrumen yang sudah
disusun berdasarkan teori penyusunan instrumen, secara logis sudah valid. Dari
penjelasan tersebut kita dapat memahami bahwa validitas logis dapat dicapai apabila
instrumen disusun mengikuti ketentuan yang ada. Dengan demikian dapat disimpulkan

11

bahwa validitas logis tidak perlu di uji kondisinya tetapi langsung diperoleh sesudah
instrumen tersebut selesai di susun.
Ada dua macam validitas logis yang dapat dicapai oleh sebuah instrumen yaitu:
validitas isi dan validitas konstrak.
a. Content validity (validitas isi)
Content validity (validitas isi) suatu tes harus menjawab pertanyaan sejauh
mana butir-butir tes itu mencakup keseluruhan kawasan yang ingin diukur oleh tes
tersebut. Sejauh mana suatu tes memiliki content validity ditetapkan menurut
analisis rasional terhadap isi tes, yang penilaiannya didasarkan atas pertimbangan
subjektif individual. Aleks Maryunis (2007) mengatakan validitas isi biasanya
dikaitkan dengan kisi-kisi alat pengumpul data yang menggambarkan ruang lingkup
dan aspek tingkah laku yang diukur. Dengan kisi-kisi instrumen itu maka pengujian
validitas dapat dilakukan dengan mudah dan sistematis (Sugiyono,2011).
Sebuah tes di katakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus
tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Oleh karena
materi yang diajarkan tertera pada kurikulum maka validitas isi sering juga disebut
validitas kurikuler. Validitas isi dapat diusahakan tercapainya sejak saat penyusunan
dengan cara memerinci materi kurikulum atau materi buku pelajaran. Bagaimana
cara memerinci materi untuk kepentingan diperolehnya validitas isi sebuah tes akan
dibicarakan secara lebih mendalam pada waktu menjelaskan cara penyusunan tes.
b. Construct validity ( validitas konstruk)
Construct validity ( validitas konstruk) menunjukkan sejauh mana suatu tes
mengukur konstruk teori yang menjadi dasar penyusunan tes itu. Menurut Sugiyono
(2007) untuk menguji validitas konstruk, dapat digunakan pendapat dari ahli
(judgment experts). Dalam hal ini setelah instrumen dikonstruksi tentang aspekaspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu, maka selanjutnya
dikonsultasikan dengan ahli. Para ahli diminta pendapatnya tentang instrumen yang
telah disusun itu. Mungkin para ahli akan memberi keputusan : instrumen dapat
digunakan tanpa perbaikan, ada perbaikan, dan mungkin dirombak total.
Sebuah tes di katakan memiliki validitas konstruksi apabila butir-butir soal
yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berpikir seperti yang
disebutkan dalam tujuan instruksional khusus. Dengan kata lain jika butir-butir soal
mengukur aspek berpikir tersebut sudah sesuai dengan aspek berpikir yang menjadi
tujuan instruksional
12

2. Validitas empiris
Istilah validitas empiris memuat kata empiris yang artinya pengalaman. Sebuah
instrumen dapat dikatakan memiliki validitas empiris apabila sudah di uji dari
pengalaman. Sebagai contoh sehari-hari, seseorang dapat diakui jujur oleh masyarakat
apabila dalam pengalaman dapat di buktikan bahwa orang tersebut memang jujur. Dari
penjelasan dan contoh-contoh tersebut diketahui bahwa validitas empiris tidak dapat
diperoleh hanya dengan menyusun instrumen berdasarkan ketentuan seperti halnya
validitas logis, tetapi harus dibuktikan melalui pengalaman.
Validitas empiris terdapat 2 macam, yaitu validitas empiris dan validitas
kongruen.
a. Validitas prediktif merupakan validitas tes berdasarkan kriteria. Umumnya tes
yang akan diuji validitasnya disebut prediktor. Statistik yang diperlukan untuk
pengujian validitas ini adalah koefisien korelasi antara skorn tes sebagai prediktor
dan skor suatu kriteria.
b. Validitas kongruen pada dasarnya dalam menyusun dan mengembangkan
instrumen psikologi. Untuk keperluan pengujian validitasnya, instrumen yang
mau diuji validitas konkruennya harus diambil dari kelompok subjek yang sama
dengan instrumen yang telah teruji validitasnya
Sukardi (2008) mengatakan bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil
tes evaluasi tidak valid. Beberapa faktor tersebut secara garis besar dapat dibedakan
menurut sumbernya, yaitu faktor internal dari tes, faktor eksternal tes, dan faktor yang
berasal dari siswa yang bersangkutan.
1) Faktor yang berasal dari dalam tes
a. Arahan tes yang disusun dengan makna tidak jelas sehingga dapat mengurangi
validitas tes.
b. Kata-kata yang digunakan dalam struktur instrumen evaluasi, tidak terlalu sulit.
c. Item tes dikonstruksi dengan jelas.
d. Tingkat kesulitan item tes tidak tepat dengan materi pembelajaran yang diterima
siswa.
e. Waktu yang dialokasikan tidak tepat, hal ini termasuk kemungkinan terlalu
kurang atau terlalu longgar.
f. Jumlah item terlalu sedikit sehingga tidak mewakili sampel.
g. Jawaban masing-masing item evaluasi bisa diprediksi siswa.
2) Faktor yang berasal dari administrasi dan skor tes
a. Waktu pengerjaan tidak cukup sehingga siswa dalam memberikan jawaban dalam
situasi tergesa-gesa.
13

b. Adanya kecurangan dalam tes sehingga tidak membedakan antara siswa yang
c.
d.
e.
f.

belajar dengan melakukan kecurangan.


Pemberian petunjuk dari pengawas yang tidak dapat dilakukan pada semua siswa.
Teknik pemberian skor yang tidak konsisten.
Siswa tidak dapat mengikuti arahan yang diberikan dalam tes baku.
Adanya joki (orang lain bukan siswa) yang masuk dalam menjawab item tes yang
diberikan.

3) Faktor yang berasal dari jawaban siswa


Seringkali terjadi bahwa interpretasi terhadap item-item tes evaluasi tidak valid,
karena dipengaruhi oleh jawaban siswa dari pada interpretasi item-item pada tes
evaluasi
D. Reliabilitas
Kata reliabillitas dalam bahasa Indonesia di ambil dari reliability dalam bahasa
inggris, berasal dari kata, reliable yang artinya dapat di percaya. reliabilitas merupakan
kata benda, sedangkan reliable merupakan kata sifat atau keadaan.
Reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata
rely dan ability. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran
yang

reliabel

(reliable).Walaupun

reliabilitas

mempunyai

berbagai

arti

seperti

kepercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan dan konsistensi, namun ide pokok yang
terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dapat
dipercaya.
Menurut Thorndike dan Hagen (1977), reliabilitas berhubungan dengan akurasi
instrumen dalam mengukur apa yang diukur, kecermatan hasil ukur dan seberapa akurat
seandainya dilakukan pengukuran ulang. Hopkins dan Antes (1979) menyatakan
reliabilitas sebagai konsistensi pengamatan yang diperoleh dari pencatatan berulang baik
pada satu subjek maupun sejumlah subjek.
Kerlinger memberikan batasan tentang reliabilitas yaitu :
1) Reliabilitas dicapai apabila kita mengukur himpunan objek yang sama berulang kali
dengan instrumen yang sama atau serupa akan memberikan hasil yang sama atau
serupa.
2) Reliabilitas dicapai apabila ukuran yang diperoleh dari suatu instrumen pengukur
adalah ukuran yang sebenarnya untuk sifat yang diukur.
3) Reliabilitas dicapai dengan meminimalkan galat pengukuran yang terdapat pada
suatu instrumen pengukur.

14

Jadi, dari berbagai definisi reliabilitas dapat disimpulkan bahwa reliabilitas


berhubungan dengan kemampuan alat ukur untuk melakukan pengukuran secara cermat.
Reliabilitas merupakan akurasi dan presisi yang dihasilkan oleh alat ukur dalam
melakukan pengukuran.
Menurut Sukardi (2008) koefisien reliabilitas dapat dipengaruhi oleh waktu
penyelenggaraan tes-retes. Interval penyelenggaraan yang terlalu dekat atau terlalu jauh,
akan mempengaruhi koefisien reliabilitas. Faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi
reliabilitas instrument evaluasi diantaranya sebagai berikut :
a) Panjang tes, semakin panjang suatu tes evaluasi, semakin banyak jumlah item
materi pembelajaran diukur.
b) Penyebaran skor, koefisien reliabilitas secara langsung dipengaruhi oleh bentuk
sebaran skor dalam kelompok siswa yang di ukur. Semakin tinggi sebaran, semakin
tinggi estimasi koefisien reliabel.
c) Kesulitan tes, tes normatif yang terlalu mudah atau terlalu sulit untuk siswa,
cenderung menghasilkan skor reliabilitas rendah.
d) Objektifitas, yang dimaksud dengan objektif yaitu derajat dimana siswa dengan
kompetensi sama, mencapai hasil yang sama
E. Praktikalitas
Dalam kamus besar bahasa Indonesia kepraktisan diartikan sebagai suatu yang
bersifat praktis atau efisien. Suharsimi Arikunto (2010) mengartikan kepraktisan dalam
evaluasi pendidikan merupakan kemudahan-kemudahan yang ada pada instrument
evaluasi baik dalam mempersiapkan, menggunakan, menginterpretasi/ memperoleh hasil,
maupun kemudahan dalam menyimpanya.
Kepraktisan juga merupakan salah satu ukuran suatu instrumen evaluasi dikatakan
baik atau tidak. Bila guru menggunakan esay tes untuk mengukur tanggapan siswa
terhadap suatu produk pembelajaran, dan jumlah siswa yang dibimbingnya mencapai dua
ratus orang, maka upaya ini cenderung tidak praktis. Diperlukan cara lain untuk menilai
tanggapan siswa tersebut, misalnya dengan tes lisan terhadap hasil diskusi kelompok.
Kepraktisan diartikan pula sebagai kemudahan dalam penyelenggaraan, membuat
instrumen, dan dalam pemeriksaan atau penentuan keputusan yang objektif, sehingga
keputusan tidak menjadi bias dan meragukan. Kepraktisan dihubungkan pula dengan
efisien dan efektifitas waktu dan dana. Sebuah tes dikatakan baik bila tidak memerlukan
15

waktu yang banyak dalam pelaksanaannya, dan tidak memerlukan dana yang besar atau
mahal.
Kepraktisan sebuah alat evaluasi lebih menekankan pada tingkat efisiensi dan
efektivitas alat evaluai tersebut, beberapa kriteria yang dikemukakan oleh Gerson, dkk
dalam mengukur tingkat kepraktisan, diantaranya adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Waktu yang diperlukan untuk menyusun tes tersebut


Biaya yang diperlukan untuk menyelenggarakan tes tersebut
Waktu yang diperlukan untuk melaksanakan tes
Tingkat kesulitas menyusun tes
Tingkat kesulitan dalam proses pemeriksaan tes
Tingkat kesulitan melakukan intrepetasi terhadap hasil tes

Dalam Navel Oktaviandy (2012) disebutkan bahwa berkaitan kepraktisan dalam


penelitian pengembangan Van den Akker (1999) menyatakan : Practically refers to the
extent that user (or other expert) consider the intervention as appealing and usable in
normal conditions
Artinya, kepraktisan mengacu pada tingkat bahwa pengguna (atau pakar-pakar
lainnya) mempertimbangkan intervensi dapat digunakan dan disukai dalam kondisi
normal.
Untuk mengukur tingkat kepraktisan yang berkaitan dengan pengembangan
instrument berupa materi pembelajaran, Nieveen (1999) berpendapat bahwa untuk
mengukur kepraktisannya dengan melihat apakah guru (dan pakar-pakar lainnya)
mempertimbangkan bahwa materi mudah dan dapat digunakan oleh guru dan siswa.
Khusus untuk pengembangan model yang dikembangkan dalam penelitian pengembangan,
model tersebutdikatakan praktis jika para ahli dan praktisi menyatakan bahwa secara
teoritis bahwa model dapat diterapkan di lapangan dan tingkat keterlaksanaannya model
tersebut termasuk kategori baik. Istilah baik ini masih memerlukan indikator-indikator
yang diperlukan untuk menentunkan tingkat kebaikan dari keterlaksanaan model yang di
kembangkan.
Berkaitan dengan kepraktisan di tinjau dari apakah guru dapat melaksanakan
pembelajaran di kelas. Biasanya peneliti dan observer mengamati aktivitas yang dilakukan
guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Misalnya, melihat kegiatan guru dalam
mempersiapkan siswa untuk belajar, memeriksa pekerjaan siswa, dll.
Bahan ajar harus memenuhi aspek kepraktisan yaitu pemahaman dan keterlaksanaan
bahan ajar tersebut. Menurut Mudjijo (1995) Salah satu instumen tersebut dapat dan
16

mudah dilaksanakan serta ditafsirkan hasilnya. Selanjutnya Mudjijo juga berpendapat


bahwa kepraktisan menunjukan pada tingkat kemudahan penggunaan dan pelaksanaannya
yang meliputi biaya dan waktu dalam pelaksanaan serta pengelolaan dan penafsiran
hasilnya.
Penilaian produk berdasarkan angket yang telah diisi oleh praktisi dianalisis untuk
mengetahui tingkat kepraktisan dari produk yang dikembangkan. Analisis kepraktisan
menggunakan Skala Likert dengan langkah-langkah:
1. Memberikan skor untuk setiap item jawaban sangat baik (5), baik (4), cukup (3),
kurang (2) dan sangat kurang (1).
2. Menjumlahakan skor total tiap praktisi untuk seluruh indikator.
3. Pemberian nilai kepraktisan dengan cara menggunakan rumus:
f
P=
N x 100 %
Dimana :
P = Nilai akhir
f = Perolehan skor
N = Skor maksimum
Kategori praktikalitas dapat dilihat pada Tabel 2. Berikut ini
Tabel 2. Tabel Kategori Praktikalitas
No
1
2
3
4
5

Nilai
80% < x 100%
60% < x 80 %
40% < x 60 %
20% < x 40 %
0% < x 20 %

Kriteria
Sangat praktis
Praktis
Cukup praktis
Kurang praktis
Tidak praktis

Dimodifikasi dari (Riduwan:2009).

17

18

BAB III
PEMBAHASAN
A. Matriks kisi-kisi instrumen validitas bahan ajar cetak lembar kerja siswa (LKS)
Tabel 1. Matriks kisi-kisi instrumen validitas bahan ajar cetak lembar kerja siswa (LKS)
No

Prosedur penyusunan

Indikator

Sub Indikator
a. Mengembangkan

Didaktik

a. Perbedaan Individual

kemampuan komunikasi
sosial pada diri siswa
b. Mengembangkan
kemampuan komunikasi
emosional pada diri siswa
c. Mengembangkan
kemampuan komunikasi
moral pada diri siswa
d. Mengembangkan
kemampuan komunikasi
estetika pada diri siswa

Konstruksi

a. Penggunaan bahasa
b. Susunan kalimat

a. Sesuai dengan EYD


b. Susunan kalimat
mengikuti aturan SPOK

Instrumen
LKS dapat mengembangkan
kemampuan komunikasi sosial
melalui diskusi yang
dilakukan
LKS dapat mengembangkan
kepercayaan diri siswa
LKS dapat mengembangkan
karakter religius pada diri
siswa
LKS dapat mengembangkan
nilai estetika pada diri siswa
LKS sudah menggunakan
EYD
Susunan kalimat dalam LKS
mengikuti aturan SPOK

19

No

Prosedur penyusunan

Indikator

Sub Indikator

Instrumen

c. Kata-kata yang
digunakan mudah
c. Kosa kata

dipahami dan
menggunakan kata-kata
baku
d. Soal-soal yang ada di

d. Tingkat kesukaran

e. Kejelasan
3

Teknis

a. Tulisan

LKS bervariasi mulai


dari tingkat paling rendah
sampai tingkat sulit
e. Isi LKS jelas dan
sistematis
a. Menggunakan huruf
cetak
b. Menggunakan huruf tebal
yang agak besar
c. Menggunakan tidak lebih
dari 10 kata dalam satu
baris
d. Menggunakan bingkai

Kata-kata yang ada dalam


LKS mudah dipahami

Soal-soal yang ada di LKS


bervariasi mulai dari yang
mudah sampai yang sulit
Isi LKS jelas dan sistematis
LKS menggunakan huruf
cetak (Times New Roman)
Huruf dalam LKS
menggunakan huruf tebal yang
cukup besar
Maksimal kata dalam satu
baris adalah 10 kata
Terdapat perbedaan yang jelas

untuk membedakan

antara kalimat perintah dengan

kalimat perintah dengan

jawaban dari peserta didik

20

No

Prosedur penyusunan

Indikator

Sub Indikator
jawaban peserta didik
e. Perbandingan besarnya
huruf dengan besarnya
gambar serasi
f. Jelas isi atau pesan dari

b. Gambar

c. Tampilan

gambar secara

Instrumen

Besarnya huruf dengan


besarnya gambar seimbang
Gambar disertai penjelasan

yang jelas
keseluruhan
g. Kombinasi antara gambar Di dalam LKS terdapat
dan tulisan

gambar dan tulisan

21

B. Instrumen validitas lembar kerja siswa (LKS)


C. Lembar validasi
D. Lembar kerja siswa
E.
A. Petunjuk :
1. Bapak/Ibu dapat memberkan penilaian dengan memberikan tanda ceklis ( ) pada kolom
yang tersedia
2. Makna point validitas adalah 1 (tidak baik); 2 (kurang baik); 3 (baik)
B. Penilaian
H. Skala

F.
N

G. Aspek yang dinilai

N.
A

O. Didaktik

S.

T. LKS dapat mengembangkan kemampuan

komunikasi sosial melalui diskusi yang

K.

penilaian
L.
M.

P.

Q.

R.

U.

V.

W.

AA.

AB.

dilakukan
X.
2
AC.
3
AH.
4

Y. LKS dapat mengembangkan kepercayaan diri

Z.

siswa
AD.

LKS dapat mengembangkan karakter

religius pada diri siswa


AI. LKS dapat mengembangkan nilai estetika pada

AE.

AJ.

diri siswa

AM.
B

AN.

Konstruksi

AS.

LKS sudah menggunakan EYD

AX.

Susunan kalimat dalam LKS mengikuti

AR.
1
AW.
2
BB.

AO.

AT.

AY.

aturan SPOK
BC.

Kata-kata yang ada dalam LKS mudah

BD.

AF.

AK.

AP.

AU.

AG.

AL.

AQ.

AV.

AZ.

BA.

BE.

BF.

22

3
BG.
4

dipahami
BH.

Soal-soal yang ada di LKS bervariasi

BI.

BJ.

BN.

BO.

BS.

BT.

BX.

BY.

BZ.

CC.

CD.

CE.

CI.

CJ.

CN.

CO.

CS.

CT.

CW.

CX.

CY.

DB.

DC.

DD.

mulai dari yang mudah sampai yang sulit

BL.
5

BM.

Isi LKS jelas dan sistematis

BR.

Teknis

BW.

LKS menggunakan huruf cetak (Times

BQ.
C
BV.
1
CA.
2
CF.
3
CK.
4

New Roman)
CB.

Huruf dalam LKS menggunakan huruf

tebal yang cukup besar


CG.

Maksimal kata dalam satu baris adalah

10 kata
CL.

CH.

BK.

BP.

BU.

Terdapat perbedaan yang jelas antara

kalimat perintah dengan jawaban dari peserta

CM.

didik
CP.
5

CQ.

Besarnya huruf dengan besarnya gambar

seimbang

CR.

CU.
6
CZ.
7
DE.

CV.

Gambar disertai penjelasan yang jelas

DA.

Di dalam LKS terdapat gambar dan

tulisan

23

DF.DAFTAR PUSTAKA
DG.
DH. Akhmad Sudrajat. 2008. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik dan Model
Pembelajaran. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pendekatan-strategi-metodeteknik-dan-model-pembelajaran (diakses September 2015)

DI. Aleks Maryunis. 2007. Konsep dan Penerapan Statistika dan Teori Probabilitas untuk
Penelitian Pendidikan. Universitas Negeri Padang. Padang
DJ.

Andi Prastowo. 2012. Panduan kreatif membuat bahan ajar inovatif. Yogyakarta : diva press

DK. Akker,J.V. 1999. Principles and Methods of Development Research. In J. vam den
Akker,R Branch,K Gustafson, N Nieveen and Tj.Plomp (Eds). Design Approaches and
Tools in Education and Training (hlm. 1-14). Dodrecht : Kluwer Academic Publisher.
DL.

Bandono. 2009. Pengembangan Bahan Ajar. http://bandono.web.id/2009/04/02/pengembanga-bahan-ajar


(diakses September 2015)

DM. E.Mulyasa. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya

DN.Harun Rasyid dan Mansur. 2007. Penilaian Hasil Belajar. Wacana Prima. Bandung
DO.

Mudjijo. 1995. Tes Hasil Belajar. Jakarta: Bumi Aksara.

DP. Navel Oktaviandy. 2012. Reliabilitas, Kepraktisan, dan Efek Potensial


Suatu Instrumen. https://navelmangelep.wordpress.com/2012/04/03/reliabilitaskepraktisan-dan-efek-potensial-suatu-instrumen/#more-709 diakses oktober 2015
DQ. Nieveen, Nienke.1999. Prototyping to Reach Product Quality. In J. vam den Akker,R
Branch,K Gustafson, N Nieveen and Tj.Plomp (Eds). Design Approaches and Tools in
Education and Training (hlm. 125-136). Dodrecht : Kluwer Academic Publisher
DR.

Riduwan. 2009. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan dan Peneliti
Pemula. Bandung : Alfabeta.

DS. Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Alfabeta. Bandung


DT. Suharsimi Arikunto. 2007. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
DU.
Suharsimi Arikunto. 2010. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara :
Yogyakarta.
DV.

Sukardi.2008. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

DW.