Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN GANGGUAN PRILAKU

Disusun Oleh :

1. I Putu Supriyadi
2. Kadek Puspita Sari
3. Retno Soyra

(30.01.13.0000)
(30.01.13.0000)
(30.01.13.0000)

Dosen Pembimbing :

Ns.Novita Anggraini,S.kep,M.kes
Tugas ini dikerjakan untuk memenuhi penilaian komunitas III

FAKUTAS ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI S1


KEPERAWATAN UNIVERSITAS KATOLIK MUSI
CHARITAS PALEMBANG
2015
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................

ii

DAFTAR ISI .................................................................................

iii

BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang .....................................................................
B. Rumusan masalah ................................................................
C. Tujuan .................................................................................

1
1
2

BAB II Tinjauan Pustaka


Konsep Teori Lansia
A. Konsep teori lansi ................................................................. .
1. Batas lansia ................................................................
2. Proses menua .............................................................
B. Teori Psikososial Lansia .........
1. Definisi .......................................................................
2. Faktor-faktor yang empengaruhi Kesehatan
ganggan prilaku Psikososial Lansia ...........................
3. Perubahan Psikososial yang terjadi pada lansia .........
4. Macam-macam masalah keperawatan
Psikologi dan Psikososial ..........................................
Konsep Keperawatan
A. Pengkajian .
B. Diagnosa .
C. Intervensi
D. Implementasi
E. Evaluasi

`5
5

17
17
18
23
24

BAB III Penutup


A. Kesimpulan .
B. Saran

10
10

DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,sehingga saya dapat
menyelesaikan pembuatan tugas ini dengan judul Asuhan Keperawatan Pada ansia dengan
ganggan perilaku. Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah

Komunitas III. Dalam tugas ini kami membahas tentang mempromosikan kesehatan
semoga tugas ini bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya.
Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang konstruktif sangat saya
harapkan dari para pembaca guna peningkatan pembuatan tugas yang lain pada waktu
mendatang.

Palembang, Oktober 2016

Kelompok 7

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Lanjut usia adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang yang
dikarunia usia panjang, terjadi tidak bisa dihindari oleh siapapun, namun manusia dapat
berupaya untuk menghambat kejadiannya (Arya, 2008). Proses menua (aging) adalah proses
alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling
berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah
kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia (Kuntjoro, 2002).
Lansia tidak hanya meliputi aspek biologis, tetapi juga psikologis dan sosial. Lansia
banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan
terintegrasi (Akhmadi, 2009).Menurut Laksamana (1983:77), perubahan yang terjadi pada
lansia dapat disebut sebagai perubahan `senesens` dan perubahan 'senilitas'. Perubahan
`senesens' adalah perubahan-perubahan normal dan fisiologik akibat usia lanjut. Perubahan
'senilitas' adalah perubahan-perubahan patologik permanent dan disertai dengan makin
memburuknya kondisi badan pada usia lanjut. Sementara itu, perubahan yang dihadapi lansia
pada umumnya adalah pada bidang klinik, kesehatan jiwa dan problema bidang sosio
ekonomi. Oleh karena itu lansia adalah kelompok dengan resiko tinggi terhadap problema
fisik dan mental.
Lansia sebagai tahap akhir dari siklus kehidupan manusia, sering diwarnai dengan kondisi
hidup yang tidak sesuai dengan harapan. Oleh karena itu dalam pendekatan pelayanan
kesehatan pada kelompok lansia sangat perlu ditekankan pendekatan yang dapat mencakup
sehat fisik, psikologis, spiritual dan sosial. Hal tersebut karena pendekatan dari satu aspek
saja tidak akan menunjang pelayanan kesehatan pada lansia yang membutuhkan suatu
pelayanan yang komprehensif.
B.

Rumusan Masalah

Bagaimanakah asuhan keperawatan lansia yang mengalami gangguan prilaku ?

C.

Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui dan mempelajari tentang asuhan keperawatan lansia yang
mengalami gangguan prilaku.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tentang Konsep Teori Lansia
b. Mengetahui tentang Teori Psikososial Lansia
c. Mengetahui tentang Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Psikososial
Lansia
d. Mengetahui tentang Perubahan Psikososial pada Lansia
e. Mengetahui tentang Macam-macam Masalah Keperawatan Psikososial
f. Mengetahui tentang Tahap-tahap Asuhan Keperawatan Lansia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Teori Lansia
1. Batasan Lansia
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Lanjut Usia meliputi:
a. Usia pertengahan (Middle Age) ialah kelompok usia 45 sampai 59
tahun.
b. Lanjut usia (Elderly) ialah kelompok usia antara 60 dan 74 tahun.
c. Lanjut usia tua (Old) ialah kelompok usia antara 75 dan 90 tahun.
d. Usia sangat tua (Very Old) ialah kelompok di atas usia 90 tahun.
2. Proses Menua
Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti
seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa kanak-kanak,
masa dewasa dan masa tua (Nugroho, 1992). Tiga tahapan ini berbeda baik
secara biologis maupun secara psikologis. Memasuki masa tua berarti
mengalami kemunduran secara fisik maupun secara psikis. Kemunduran fisik
ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut putih, penurunan pendengaran,
penglihatan menurun, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital,
sensitivitas emosional meningkat.
B. Teori Psikososial Lansia
1. Definisi
Perkembangan psikososial lanjut usia adalah tercapainya integritas diri
yang utuh. Pemahaman terhadap makna hidup secara keseluruhan membuat
lansia berusaha menuntun generasi berikut (anak dan cucunya) berdasarkan
sudut pandangnya. Lansia yang tidak mencapai integritas diri akan merasa
putus asa dan menyesali masa lalunya karena tidak merasakan hidupnya
bermakna (Anonim, 2006). Sedangkan menurut Erikson yang dikutip oleh
Arya (2010) perubahan psikososial lansia adalah perubahan yang meliputi
pencapaian keintiman, generatif dan integritas yang utuh.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan ganggan prilaku Psikososial


Lansia. Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan
psikososial lansia menurut Kuntjoro (2002), antara lain:
a. Penurunan Kondisi Fisik
Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai
dihinggapi adanya kondisi fisik yang bersifat patologis berganda
(multiple pathology), misalnya tenaga berkurang, energi menurun,
kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh, dsb.
Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa
lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini semua
dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik
maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan
ketergantungan kepada orang lain.
Dalam kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik
yang sehat, maka perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik
dengan kondisi psikologik maupun sosial, sehingga mau tidak mau
harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang bersifat memforsir
fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara hidupnya dengan
baik, misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang.
b. Perubahan Aspek Psikososial
Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia
mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif
meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian
dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi
makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi halhal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan,
tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang
cekatan.

Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga


mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan
keadaan kepribadian lansia. Beberapa perubahan tersebut dapat
dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia sebagai berikut:

1) Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy),


biasanya tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan
mantap sampai sangat tua.
2) Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe
ini ada kecenderungan mengalami post power sindrome,
apalagi jika pada masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang
dapat memberikan otonomi pada dirinya
3) Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada
tipe ini biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga,
apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa
lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal
maka pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana,
apalagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya.
4) Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe
ini setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan
kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-kadang tidak
diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan kondisi
ekonominya menjadi morat-marit.
5) Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada
lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya
sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat susah
dirinya.
c. Perubahan Yang Berkaitan Dengan Pekerjaan
Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun.
Meskipun tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat
menikmati hari tua atau jaminan hari tua, namun dalam kenyataannya
sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering diartikan sebagai
kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status
dan harga diri. Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih
tergantung dari model kepribadiannya seperti yang telah diuraikan
pada point tiga di atas.
Bagaimana menyiasati pensiun agar tidak merupakan beban
mental setelah lansia? Jawabannya sangat tergantung pada sikap
mental individu dalam menghadapi masa pensiun. Dalam kenyataan
ada menerima, ada yang takut kehilangan, ada yang merasa senang
memiliki jaminan hari tua dan ada juga yang seolah-olah acuh terhadap

pensiun (pasrah). Masing-masing sikap tersebut sebenarnya punya


dampak bagi masing-masing individu, baik positif maupun negatif.
Dampak positif lebih menenteramkan diri lansia dan dampak negatif
akan mengganggu kesejahteraan hidup lansia.
Agar pensiun lebih berdampak positif sebaiknya ada masa
persiapan pensiun yang benar-benar diisi dengan kegiatan-kegiatan
untuk mempersiapkan diri, bukan hanya diberi waktu untuk masuk
kerja atau tidak dengan memperoleh gaji penuh. Persiapan tersebut
dilakukan secara berencana, terorganisasi dan terarah bagi masingmasing orang yang akan pensiun. Jika perlu dilakukan assessment
untuk menentukan arah minatnya agar tetap memiliki kegiatan yang
jelas dan positif.
Untuk merencanakan kegiatan setelah pensiun dan memasuki
masa lansia dapat dilakukan pelatihan yang sifatnya memantapkan arah
minatnya masing-masing. Misalnya cara berwiraswasta, cara membuka
usaha sendiri yang sangat banyak jenis dan macamnya. Model
pelatihan hendaknya bersifat praktis dan langsung terlihat hasilnya
sehingga menumbuhkan keyakinan pada lansia bahwa disamping
pekerjaan yang selama ini ditekuninya, masih ada alternatif lain yang
cukup menjanjikan dalam menghadapi masa tua, sehingga lansia tidak
membayangkan bahwa setelah pensiun mereka menjadi tidak berguna,
menganggur, penghasilan berkurang dan sebagainya.

d. Perubahan Dalam Peran Sosial Di Masyarakat


Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan,
gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau
bahkan kecacatan pada lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk,
pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur dan sebagainya
sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah
dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang
bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau
diasingkan.

Karena jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk


berkomunikasi dengan orang lain dan kdang-kadang terus muncul
perilaku

regresi

seperti

mudah

menangis,

mengurung

diri,

mengumpulkan barang-barang tak berguna serta merengek-rengek dan


menangis bila ketemu orang lain sehingga perilakunya seperti anak
kecil.
Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada
umumnya lansia yang memiliki keluarga bagi orang-orang kita
(budaya ketimuran) masih sangat beruntung karena anggota keluarga
seperti anak, cucu, cicit, sanak saudara bahkan kerabat umumnya ikut
membantu

memelihara

(care)

dengan

penuh

kesabaran

dan

pengorbanan. Namun bagi mereka yang tidak punya keluarga atau


sanak saudara karena hidup membujang, atau punya pasangan hidup
namun tidak punya anak dan pasangannya sudah meninggal, apalagi
hidup dalam perantauan sendiri, seringkali menjadi terlantar.
Disinilah pentingnya adanya Panti Werdha sebagai tempat
untuk pemeliharaan dan perawatan bagi lansia di samping sebagai long
stay rehabilitation yang tetap memelihara kehidupan bermasyarakat.
Disisi lain perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa hidup
dan kehidupan dalam lingkungan sosial Panti Werdha adalah lebih baik
dari pada hidup sendirian dalam masyarakat sebagai seorang lansia.

3. Perubahan Psikososial yang terjadi pada Lansia


Ada beberapa macam perubahan psikososial yang terjadi pada lansia menurut
Anonim (2006) antara lain :
a. Perubahan fungsi sosial
Perubahan yang dialami oleh lansia yang berhubungan dengan
aktivitas-aktivitas sosial pada tahap sebelumnya baik itu dengan
lingkungan keluarga atau masyarakat luas.
b. Perubahan peran sesuai dengan tugas perkembangan
Kesiapan lansia untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri
terhadap tugas perkembangan usia lanjut dipengaruhi oleh proses
tumbuh kembang pada tahap sebelumnya. Apabila pada tahap
perkembangan sebelumnya melakukan kegiatan sehari-hari dengan
teratur dan baik serta membina hubungan yang serasi dengan orang di

sekitarnya, maka pada usia lanjut ia akan tetap melakukan kegiatan


yang biasa ia lakukan pada tahap perkembangan sebelumnya.
c. Perubahan tingkat depresi
Tingkat depresi adalah kemampuan lansia dalam menjalani
hidup dengan tenang, damai, serta menikmati masa pensiun bersama
anak dan cucu tercinta dengan penuh kasih sayang.
d. Perubahan stabilitas emosi
Kemampuan orang yang berusia lanjut untuk menghadapi
tekanan atau konflik akibat perubahan perubahan fisik, maupun
sosial psikologis yang dialaminya dan kemampuan untuk mencapai
keselarasan antara tuntutan dari dalam diri dengan tuntutan dari
lingkungan, yang disertai dengan kemampuan mengembangkan
mekanisme psikologis yang tepat sehingga dapat memenuhi kebutuhan
kebutuhan dirinya tanpa menimbulkan masalah baru.

4. Macam-macam Masalah Keperawatan Psikologi dan Psikososial


a. Depresi
1. Pengertian
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang
berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya,
termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu rnakan, psikomotor,
konsentrasi, keielahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan
bunuh diri (Kap'an dan Sadock, 1998).
2. Tanda Dan Gejala Depresi
Perilaku yang berhubungan dengan depresi menurut Kelliat (1996)
meliputi beberapa aspek seperti:
a. Afektif
Kemarahan, ansietas, apatis, kekesalan, penyangkalan perasaan,
kemurungan, rasa bersalah, ketidakberdayaan, keputusasaan, kesepian,
harga diri rendah, kesedihan.
b. Fisiologis
Nyeri abdomen, anoreksia, sakit punggung, konstipasi, pusing,
keletihan, gangguan pencernaan, insomnia, perubahan haid, makan
berlebihan/kurang, gangguan tidur, dan perubahan berat badan.

c. Kognitif
Ambivalensi, kebingungan, ketidakmampuan berkonsentrasi,
kehilangan minat dan motivasi, menyalahkan diri sendiri, mencela diri
sendiri, pikiran yang destruktif tentang diri sendiri, pesimis,
ketidakpastian.
d. Perilaku
Agresif, agitasi, alkoholisme, perubahan tingkat aktivitas,
kecanduan obat, intoleransi, mudah tersinggung, kurang spontanitas,
sangat tergantung, kebersihan diri yang kurang, isolasi sosial, mudah
menangis, dan menarik diri.

e. Berduka Cita
Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah
dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada,
baik terjadi sebagian atau keseluruhan. Periode duka cita merupakan
suatu periode yang sangat rawan bagi seorang penderita lanjut usia.
Meninggalnya pasangan hidup, seorang teman dekat atau bahkan
seekor hewan yang sangat disanyangi bias mendadak memutuskan
ketahanan kejiwaan yang sudah rapuh dari seorang lansia, yang
selanjutnya akan memicu terjadinya gangguan fisik dn kesehatannya.
Periode 2 tahun pertama setelah ditinggal mati pasangan hidup atau
teman dekat tersebut merupakan periode yang sangat rawan.
Pada periode ini orang tersebut justru harus dibiarkan untuk
dapat mengekspresikan dukacita tersebut. Sering diawali dengan
perasaan kosong, kemudian diikuti dengan menangis dan kemudian
suatu periode depresi. Depresi akibat duka-cita pada usia lanjut
biasanya tidak bersifat self limiting. Dokter atau petugas kesehatan
harus memberi kesempatan pada episode tersebut berlalu. Diperlukan
pendamping yang dengan penuh empati mendengarkan keluhan,
memberikan hiburan dimana perlu dan tidak membiarkan tiap episode
berkepanjangan dan berjalan terlalu berat. Apabila upaya diatas tidak
berhasil, bahkan timbul depresi berat, konsultasi psikiatrik mungkin
diperlukan, dengan kemungkinan diberikan obat anti depresan.
e. Kesepian

Kesepian atau loneliness, biasanya dialami oleh seseorang


lanjut usia pada saat meninggalnya pasangan hidup atau teman dekat,
terutama bila dirinya sendiri saat itu juga mengalami berbagai
penurunan status kesehatan, misalnya menderita berbagai penyakit
fisik berat, gangguan mobilitas atau gangguan sensorik, terutama
gangguan pendengaran (Brocklehurts-Allen, 1987).

Harus dibedakan antara kesepian dengan hidup sendiri. Banyak


di antara lansia hidup sendiri tidak mengalami kesepian, karena
aktivitas social yang masih tinggi, tetapi dilain pihak terdapat lansia
yang walaupun hidup di lingkungan yang beranggotakan cukup
banyak, tohh mengalami kesepianPada penderita kesepian ini peran
dari organisasi social sangat berarti, karena bias bertindak menghibur,
memberikan motivasi untuk lebih meningkatkan peran social
penderita, di samping memberikan bantuan pengerjaan pekerjaan di
rumah bila memang terdapat disabilitas penderita dalam hal-hal
tersebut.

C. Tahap-tahap Asuhan Keperawatan Lansia


1. Pengkajian
Proses pengumpulan data untuk mengidentifikasi masalah keperawatan
meliputi aspek Observasi, wawancara, dan pemeriksaan status mental (menurut
folstein) Informasi yang meliputi : Fungsi kognitif, Fungsi psikomotor,
pandangan dan penalaran, serta kontak dengan realita (Black, 1990)
Observasi dilakukan secara biasa (natural), tidak bersifat mengancam, serta
dengan mempertimbangkan aspek etnik (adat istiadat). Rincian tentang item
item yang dilakukan dalam pengkajian secara menyelruh pada klien lansia,
meliputi hal hal sebagai berikut :
a. apakah pasien dapat bermanuver secara aman dan bertujuan, dengan pengertian
tidak ragu ragu, maju mundur, serta tidak memperlihatkan postur atau gerakan
gerakan yang agresif.
b. Apakah pasien menunjukan kontak mata, menampilkan ekspresi wajah secara
tepat.
c. Apakah ekspresinya menunjukan ansietas, nyeri, apatis, bermusuhan, takut, dan
mudah beralih perhatian.
d. Observasi mengenai ekspresi wajah, antara lain ditujukan pada eye contact, klien
tampak arif di mana menampilkan ekspresi yang tepat sesuai dengan materi
percakapan. Kadang kadang tampak seperti ada bayangan gelap disekitar mata.
e. Klien kadang kadang menyembunyikan mulut dengan tangan, takut,
merintih/nyeri, pucat, berkeringat.
f. Ada tidaknya gambaran asimetris akibat paralisis, kontraktur, atro otot.
g. Dalam hal bicara, apakah terdapat kesulitan dalam merespons pernyataan /
instruksi instrksi yang diajukan oleh perawat. Kadang kadang klien terlalu
banyak bicara, atau bila mengelak, dilakukan berulang ulang. Artikulasi :
terdapat bunyi khusus pada saat bicara. Amati apakah variasi topik bicaranya
tepat. Apakah ada keragu raguan / gagap / atau bicara monoton.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Isolasi sosial berhubungan dengan menarik diri
Tujuan :
1) Pasien mampu mengekspresikan perasaannya.
2) Pasien mampu kembali bersosialisasi dengan lingkungan.
Intervensi :
-

Bina hubungan saling percaya


Bantu klien menguraikan kelebihan dan kekurangan interpersonal.
Bantu klien membina kembali hubungan interpersonal yang positf /
adaptif dan memberikan kepuasan timbal balik :
a. Beri penguatan dan kritikan yang positif
b. Dengarkan semua kata-kata klien dan jangan menyela saat klien

bertanya.
c. Berikan penghargaan saat klien dapat berprilaku yang positif
d. Hindari ketergantungan klien
- Libatkan dalam kegiatan ruangan.
- Ciptakan lingkungan terapeutik
- Libatkan keluarga/system pendukung untuk membantu mengatasi
masalah klien.
b. Gangguan mobilitas

fisik berhubungan

dengan gangguan

konsep

diri dan depresi


Tujuan :
1) Pasien mampu berpartisipasi dalam memutuskan perawatan dirinya
2) Pasien mampu melakukan kegiatan dalam menyelesaikan
masalahnya.
Intervensi :
- Bicara secara langsung dengan klien, hargai individu dan ruang
-

pribadinya jika tepat


Beri kesempatan terstruktur bagi klien untuk membuat pilihan

perawatan
Beri kesempatan bagi pasien untuk bertanggung jawab terhadap
perawatan dirinya

Beri kesempatan menetapkan tujuan perawatan dirinya. Contoh :


minta

pasien memilih apakah mau mandi, sikat gigi atau gunting

kuku.
Beri kesempatan untuk menetapkan aktifitas perawatan diri untuk
mencapai tujuan. Contoh : Jika pasien memilih mandi, bantu pasien
untuk menetapkan aktifitas untuk mandi (bawa sabun, handuk,

pakaian bersih)
Berikan pujian jika pasien dapat melakukan kegiatannya.
Tanyakan perasaan pasien jika mampu melakukan kegiatannya.
Sepakati jadwal pelaksanaan kegiatan tersebut secara teratur.
Bersama keluarga memilih kemampuan yang bisa dilakukan pasien

saat ini
Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan

yang masih dimiliki pasien.


Anjurkan keluarga untuk membantu pasien melakukan kegiatan

sesuai kemampuan yang dimiliki.


Anjurkan keluarga memberikan pujian jika pasien melakukan
kegiatan sesuai dengan jadwal kegiatan yang sudah dibuat.

c. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ansietas


Tujuan :
1) Pasien mampu mengidentifikasi penyebab gangguan pola tidur
2) Pasien mampu memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur
Intervensi :
-

Identifikasi gangguan dan variasi tidur yang dialami dari pola yang

biasanya
Anjurkan latihan relaksasi, seperti musik lembut sebelum tidur
Kurangi tidur pada siang hari
Minum air hangat/susu hangat sebelum tidur
Hindarkan minum yang mengandung kafein dan coca cola
Mandi air hangat sebelum tidur
Dengarkan musik yang lembut sebelum tidur
Anjurkan pasien untuk memilih cara yang sesuai dengan

kebutuhannya)
Berikan pujian jika pasien memilih cara yang tepat untuk memenuhi

kebutuhan tidurnya
Anjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang tenang untuk
memfasilitasi agar pasien dapat tidur.

d. Resiko perilaku kekerasan berhubungan dengan perasaan tidak berharga dan


putus asa.
Tujuan :
1) Pasien tidak membahayakan dirinya sendiri
2) Pasien mampu memilih alternatif penyelesaian masalah yang
konstruktif
Intervensi :
-

Identifikasi derajat resiko / potensi untuk bunuh diri


Bantu pasien mengenali perasaan yang menjadi penyebab timbulnya

ide bunuh diri.


Ajarkan beberapa alternatif cara penyelesaian masalah yang

konstruktif.
Bantu pasien untuk memilih cara yang palin tepat untuk

menyelesaikan masalah secara konstruktif.


Beri pujian terhadap pilihan yang telah dibuat pasien dengan tepat.
Anjurkan pasien mengikuti kegiatan kemasyarakatan yang ada di

lingkungannya
Lakukan tindakan pencegahan bunuh diri
Mendiskusikan dengan keluarga koping positif yang pernah dimiliki
klien dalam menyelesaikan masalah

e. Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tak efektif sekunder
terhadap respon kehilangan pasangan.
Tujuan :
1) Klien merasa harga dirinya naik.
2) Klien mengunakan koping yang adaptif.
3) Klien menyadari dapat mengontrol perasaannya.
Intervensi :
- Bina hubungan saling percaya dan keterbukaan.
- Maksimalkan partisipasi klien dalam hubungan terapeutik.
- Bantu klien menerima perasaan dan pikirannya.
- Bantu klien menjelaskan konsep dirinya dan hubungannya dengan
orang lain melalui keterbukaan.

Berespon secara empati dan menekankan bahwa kekuatan untuk

berubah ada pada klien.


Mengeksplorasi respon koping adaptif dan mal adaptif terhadap

masalahnya.
Bantu klien mengidentifikasi alternatif pemecahan masalah.
Bantu klien untuk melakukan tindakan yang penting untuk merubah

respon maladaptif dan mempertahankan respon koping yang adaptif.


Identifikasi dukungan yang positif dengan mengaitkan terhadap

kenyataan.
Berikan kesempatan

untuk

menangis

dan

mengungkapkan

perasaannya.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bahwa pelayanan geriatrik di Indonesia sudah saatnya diupayakan di seluruh
jenjang pelayanan kesehatan di Indonesia. Untuk itu pengetahuan mengenai geriatric
harus sudah merupakan pengetahuan yang harus diajarkan pada semua tenaga
kesehatan. Dalam hal ini pengetahuan mengenai psikogeriatri atau kesehatan jiwa
pada usia lanjut merupakan salah satu di antara berbagai pengetahuan yang perlu
diketahui. Tatacara pemeriksaan dasar psikogeriatri oleh karena itu sering disertakan
dalam pemeriksaan/assesmen geriatric, antara lain mengenai pemeriksaan gangguan
mental. Kognitif, depresi dan beberapa pemeriksaan lain.
B. Saran

Melalui makalah ini kami mengharapkan mahasiswa dapat mengetahui


mengenai askep lansia masalah psikososial, mulai dari konsep psikososial, masalah
psikososial pada lansia serta asuhan keperawatan terkait dengan masalah psikososial
tersebut

DAFTAR PUSTAKA