Anda di halaman 1dari 6

Intrusi Air Laut

Pengertian
Intrusi air laut adalah naiknya batas antara air tanah dengan air laut ke arah daratan.
Intrusi air laut diakibatkan tekanan air tanah yang lebih kecil di bandingkan tekanan air
laut pada kedalaman yang sama. Perbedaan tekanan ini menyebabkan batas antara air
tanah dan air laut naik ke daratan. Intrusi akan terjadi karena adanya aksi, dalam hal ini
pengambilan air tanah. Intrusi adalah reaksi dari aksi tersebut dan mengubah
keseimbangan hidrostatik alami antar muka air tanah tawar dan air asin. Dalam kondisi
normal (tidak ada gangguan tekanan), air laut sudah mengintrusi ke daratan karena masa
jenis air laut lebih besar di bandingkan air tanah. Namun bila tekanan air tanah turun
dapat menyebabkan intrusi air laut ke daratan semakin jauh kearah daratan.

Gambar 1. Penampang Melintang Pertemuan Airtanah dan Air Laut

Proses terjadinya intrusi air laut


Air laut memiliki berat jenis yang lebih besar dari pada air tawar akibatnya air laut akan
mudah mendesak airtanah semakin masuk. Secara alamiah air laut tidak dapat masuk
jauh ke daratan sebab airtanah memiliki piezometric yang menekan lebih kuat dari pada
air laut, sehingga terbentuklah interface sebagai batas antara airtanah dengan air laut.
Keadaan tersebut merupakan keadaan kesetimbangan antara air laut dan airtanah.

Gambar 2. Kondisi Interface yang Alami dan Sudah Mengalami Intrusi

Masuknya air laut ke sistem akuifer melalui dua proses, yaitu intrusi air laut dan
upconning. Intrusi air laut di daerah pantai merupakan suatu poses penyusupan air asin
dari laut ke dalam airtanah tawar di daratan. Zona pertemuan antara air asin dengan air
tawar disebut interface. Pada kondisi alami, airtanah akan mengalir secara terus menerus
ke laut. Berat jenis air asin sedikit lebih besar daripada berat jenis air tawar, maka air
laut akan mendesak air tawar di dalam tanah lebih ke hulu. Tetapi karena tinggi tekanan
piezometric airtanah lebih tinggi daripada muka air laut, desakan tersebut dapat
dinetralisir dan aliran air yang terjadi adalah dari daratan kelautan, sehingga terjadi
keseimbangan antara air laut dan airtanah, sehingga tidak terjadi intrusi air laut. Intrusi
air laut terjadi bila keseimbangan terganggu. Aktivitas yang menyebabkan intrusi air laut
diantaranya pemompaan yang berlebihan, karakteristik pantai dan batuan penyusun,
kekuatan airtanah ke laut, serta fluktuasi airtanah di daerah pantai. Proses intrusi makin
panjang bisa dilakukan pengambilan airtanah dalam jumlah berlebihan. Bila intrusi
sudah masuk pada sumur, maka sumur akan menjadi asing sehingga tidak dapat lagi
dipakai untuk keperluan sehari-hari.

Rumus Persamaan intrusi


Menurut konsep Ghyben Herzberg, air asin dijumpai pada kedalaman 40 kali tinggi
muka airtanah di atas muka air laut. Fenomena ini disebabkan akibat perbedaan berat
jenis antara air laut (1,025 g/cm3) dan berat jenis air tawar (1,000 g/cm3).

sehingga didapat nilai z = 40 hf


keterangan:
hf = elevasi muka airtanah di atas muka air laut (m)
z = kedalaman interface di bawah muka air laut (m)
s = berat jenis air laut (g/cm3)
f = berat jenis air tawar (g/cm3)
Upconning adalah proses kenaikan interface secara lokal akibat adanya pemompaan pada
sumur yang terletak sedikit di atas interface. Pada saat pemompaan dimulai, interface
dalam keadaan horisontal.

Makin lama interface makin naik hingga mencapai

sumur. Bila pemompaan dihentikan sebelum interface mencapai sumur, air laut akan
cenderung tetap berada di posisi tersebut daripada kembali ke keadaan semula.
Intrusi air laut dapat dikenali dengan melihat komposisi kimia airtanah. Perubahan ini
terjadi dengan cara
1. Reaksi kimia antara air laut dengan mineral-mineral akuifer.
2. Reduksi sulfat dan bertambah besarnya konsentrasi karbon atau asam lemah lain.
3. Terjadi pelarutan dan pengendapan.
Revelle menggunakan nilai rasio antara klorida dan bikarbonat untuk mengevaluasi
adanya intrusi air laut. Penggunaan klorida dikarenakan klorida merupakan ion dominan
pada air laut dan bikarbonat merupakan ion dominan pada air tawar.

Semakin tinggi nilai rasio, berarti pengaruh intrusi air laut makin besar, sedangkan bila
nilai rasio rendah maka pengaruh intrusi air laut kecil.
Di tahun 1960 an, investigasi intrusi air laut di lakukan dengan analisis kimia dengan
mengambil sample airtanah dan menyelidiki pola alirannya berdasarkan piezometric
level. Saat ini metode geofisika lebih penting dan akurat digunakan untuk investigasi
intrusi air laut. Perolehan data lebih cepat dengan teknik drilling.
Konduktivitas dan temperatur air dapat digunakan untuk estimasi intrusi air laut. Zat cair
memiliki kemampuan untuk mengalirkan arus listrik oleh gerakan ion. Gerakan ion
dapat

diukur

melalui

konduktivitas.

Konduktivitas

sangat

bergantung

pada

temperatur. Pengukuran terhadap kedua variabel tersebut merupaka faktor penting untuk
mendeteksi

perilaku

zona

transisi

dan

interface

antara

air

asin

dan

air

tawar. Menggunakan Solinst Model 101 Water Level dengan penyelidikan P4, C4
Conductivity Sleeve dan T4 Temperature Sleeve, salinitas dapat diestimasi melalui
pembacaan konduktivitas dan temperatur pada kedalaman yang sama. Sebagai contoh,
pembacaan konduktivitas 25,000 S/cm dan temperatur 20C, estimasi salinitas sebesar
17 ppt. Melalui metode ini investigasi salinitas dapat digunakan untuk melacak fluktuasi
interface antara muka air asin dan muka air tawar.

Reklamasi Rawa
Lahan rawa memiliki peranan yang sangat penting baik ditinjau dari segi ekonomi
maupun ekologi. Lahan rawa kaya akan hasil hutan yang berupa kayu dan beraneka
ragam tanaman lainnya, berfungsi sebagai penyimpanan air untuk mengendalikan
banjir, serta kawasan tersebut juga sangat berperan penting sebagai pengendali iklim
karena kemampuannya untuk menyerap karbon.
Indonesia mempunyai lahan rawa yang terdiri dari lahan rawa pasang surut dan rawa
lebak kurang lebih seluas 39 juta ha, yang tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan
Irian Jaya. Dari luasan tersebut sebagian besar merupakan lahan pasang surut.
Berdasarkan
data
dari
Badan
Litbang,
Balitrawa
tahun
2005,
saat ini di Indonesia terdapat areal lahan rawa pasang surut seluas 34,2 juta ha. Dari
luasan tersebut, lahan yang telah diusahakan untuk lahan pertanian seluas 1,53
juta ha. Namun
demikian berdasarkan
kenyataan yang
ada lahanlahan belum dapat diusahakan secara insentif dan terus-menerus, sehingga belum
dapat memberikan produktivitas yang lebih tinggi.

Reklamasi Lahan Rawa adalah suatu upaya pemanfaatan lahan rawa yang telah diusahakan
untuk usaha pertanian melalui perbaikan prasarana dan sarana pertanian di kawasan tersebut
sehingga meningkatkan kualitas dan produktivitas lahan.
Tujuan :
1. Meningkatkan fungsi dan pemanfaatan rawa melalui teknologi hidrolik untuk
kepentingan umum dan kesejahteraan masyarakat luas dengan cara membangun
jaringan reklamasi rawa, mengeringkan rawa, dan menimbun rawa.
2. Memperbaiki ekosistem lahan rawa melalui perbaikan infrastruktur dan penyediaan
sarana produksi dalam rangka peningkatan perluasan areal tanam dan peningkatan
produktivitas lahan.
3. Mencapai terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui penyiapan prasarana dan
sarana bagi keperluan lahan pemukiman, pertanian, perkebunan, perikanan, industri,
dan perhubungan, serta pariwisata.
4. Mencapai terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui penyiapan prasarana dan
sarana bagi keperluan lahan pemukiman, pertanian, perkebunan, perikanan, industri,
dan perhubungan, serta pariwisata.
5. Melestarikan rawa sebagai sumber daya air, mendukung produktivitas lahan dalam
rangka meningkatkan produksi pangan, dan mendukung pengembangan wilayah
berbasis pertanian.
Reklamasi rawa adalah upaya meningkatkan fungsi dan pemanfaatan rawa untuk
kepentingan masyarakat luas dengan cara membangun jaringan reklamasi rawa,
mengeringkan rawa, dan menimbun rawa.
Reklamasi daerah rawa akan terdiri atas 4 langkah penting serta 4 kondisi yang
mengikutinya, yaitu :
1.
2.
3.
4.

Penurunan elevasi muka air tanah.


Peningkatan kemampuan infiltrasi air.
Pelindihan dan pengenceran bahan toxic dari dalam tanah.
Pengelolaan tanah yang cerdas.

Membangun jaringan rawa dimaksudkan untuk membuang air yang berlebihan dan
memberi suplesi air yang sesuai dengan yang dibutuhkan dengan membuat saluran yang
dapat berfungsi sebagai saluran drainase pada saat air surut dan suplesi pada saat air
pasang.

Contoh Reklamasi Rawa


Proyek proyek pengembangan rawa yang pernah dilakukan di Indonesia antara lain
Manajemen Air dan Lahan Rawa Pasang Surut (Land and Water Management Tidal
Lowlands LWMTL) dan reklamasi Pantai Indah Kapuk, Reklamasi Rawa di Kabupaten
Tanah Laut Propinsi Kalimantan Selatan.

TUGAS

PENGEMBANGAN DAN MANAJEMEN SUMBER


DAYA AIR

Nama :
Nurrosyid abdurrohman
(5140811173)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA
2016