Anda di halaman 1dari 8

Tujuan

kesempatan
mendapatkan
pendidikan
diutamakan
pada anakanak
bangsawan
bumi putera
serta tokohtokoh
terkemuka dan
pegawai
kolonial
yang
diharapkan
kelak mereka
akan menjadi
penyambung
tangan-tangan
penjajah
sebagai upaya
Belanda untuk
memerintah
secara tidank
langsung
kepada
masyarakat dan
bangsa
Indonesia.

Pendidikan
yang
diberlakukan
pada era
pendudukan
Jepang di
Indonesia
adalah adalah
pendidikan
semi milter
dengan
menerapkan
latihan fisik,
kemiliteran,
dan
indoktrinasi
ketat.

Pendidikan
pada waktu itu
dirumuskan
untuk mendidik
warga negara
yang sejati,
sedia
menyumbangka
n tenaga dan
pikiran untuk
negara dan
masyarakat.
Dengan kata
lain tujuan
pendidikan
pada masa itu
penekanannya
pada
Adapun Tujuan penanaman
Jepang ke
semanagat
Indonesia
patriotisme.
ialah
Penanaman
menjadikan
semangat
Indonesia
patriotisme
sebagai
sebagai tujuan
sumber bahan pendidikan
mentah dan
memang sesuai
tenaga
dengan situasi
manusia yang pada
sangat besar
waktu itu.

Tujuan
pendidikan
nasional yang
pertamakali
ditetapkan sejak
era Orde Baru
berkuasa di
Indonesia
adalah melalui
Ketetapan MPRS
Nomor XXVII
Tahun 1966
Bab II Ayat 3. Di
dalamnya
disebutkan
bahwa tujuan
utama
pendidikan di
Indonesia
adalah untuk
mempersiapkan
manusia yang
berjiwa
Pancasila
sebagaimana
yang tertuang
dalam
pembukaan
UUD 1945

Pendidikan pada
zaman reformasi
mengutamakan
pada
perkembangan
peserta didik yang
lebih terfokus pada
pengelolaan
masing masing
daerah (otonomi
pendidikan).

System
pendidikan

pendidikan
sebagai cermin
dari sistem

artinya bagi
kelangsungan
perang Pasifik
hal ini
sesuai dengan
cita-cita politik
ekspansinya.
Bebagai cara
yang
dilakukan oleh
Jepang dalam
mengelabuhi
bangsa
Indonesia
untuk
kepentingan
politiknya.
Demi
kepentingan
perang,
Jepang
mengambil
pasukan dari
Indonesia
dengan
menyuguhkan
pendidikan
kemiliteran
Sistem
pendidikan
pada masa

Negara dan
bangsa
Indonesia
sedang
mengalami
perjuangan fisik
dan
sewaktu-waktu
pemerintah
kolonial
Belanda masih
berusaha untuk
menjajah
kembali negara
Indonesia. Maka
dengan
semanat itu,
kemerdekaan
dapat di
pertahankan
dan diisi

Sistem
persekolahan
sesudah

Undang-Undang
sistem
pendidikan pada No. 20 Tahun
2003 diuraikan
era Orde Baru

ekonomi
kolonial yang
bersifat
penghisapan
bangsa atas
bangsa.
Pendidikan
dirancang
oleh kekuasaan
politik
kolonialisme
yang bersifat
diskriminatif.
Pendidikan
dapat
diklasifikasikan
menjadi dua
jenis yaitu
pendidikan bagi
kaum kolonialis
dan
pendidikan bagi
bangsa terjajah
atau kaum
pribumi

pendudukan
Jepang
tersebut
adalah
sebagai
berikut: (1)
Pendidikan
Dasar
(Kokumin
Gakko /
Sekolah
Rakyat), lama
studi 6
tahun.
Termasuk SR
(Sekolah
Rakjat) adalah
Sekolah
Pertama yang
merupakan
konversi nama
dari Sekolah
dasar 3 atau 5
tahun bagi
pribumi di
masa Hindia
Belanda; (2)
Pendidikan
Lanjutan,
yang terdiri
dari Shoto

Indonesia
merdeka yang
berdasarkan
satu
jenis sekolah
untuk tiga
tingkat
pendidikan
seperti pada
zaman Jepang
tetap
diteruskan
sedangkan
rencana
pembelajaran
pada umumnya
sama dan
bahasa
Indonesia
ditetapkan
sebagai bahasa
pengantar
untuk sekolah.

sebenarnya
mengadopsi
ajaran dari Ki
Hadjar
Dewantara
(Makmuri
Sukarno,
2008: 113).
Pendiri Taman
Siswa ini
merumuskan
Pendidikan
Kemasyarakata
n,
Pendidikan
Umum, dan
Pendidikan
Khusus.
Pemerintah
Orde Baru
mengikuti
rumusan
pendidikan hasil
pemikiran Ki
Hadjar
Dewantara ini
dengan nama
Tiga
Jalur Sistem
Pendidikan
Nasional yang

dalam indikatorindikator akan


keberhasilan
atau
kegagalannya,
maka lahirlah
Peraturan
Pemerintah No.
19 Tahun 2005
tentang Standar
Nasional
Pendidikan yang
kemudian
dijelaskan dalam
Permendiknas RI.

Chu Gakko
(Sekolah
Menengah
Pertama)
dengan lama
studi 3 tahun
dan Koto Chu
Gakko
(Sekolah
Menengah
Tinggi) juga
dengan lama
studi 3 tahun;
(3) Pendidikan
Kejuruan,
mencakup
sekolah
lanjutan yang
bersifat
vokasional
antara lain di
bidang
pertukangan,
pelayaran,
pendidikan,
teknik, dan
pertanian; (4)
Pendidikan
Tinggi

ditetapkan
melalui UndangUndang
Tahun 1982.
Meskipun
demikian, ada
perbedaan jelas
antara sistem
pendidikan
Taman
Siswa yang
digagas oleh Ki
Hadjar
Dewantara
dengan konsep
Tiga Jalur
Sistem
Pendidikan
Nasional versi
pemerintah
Orde Baru. Jika
Ki Hadjar
Dewantara
menempatkan
Pendidikan
Kemasyarakata
n sebagai pilar
utama dalam
sistem
pendidikan
nasional pada

saat itu, rezim


Orde Baru justru
memposisikann
ya
sebagai elemen
yang dianggap
paling tidak
penting.
Pemerintah
Orde Baru
mereduksi
Pendidikan
Kemasyarakata
n hanya
menjadi sekadar
pelengkap
dalam
sistem
pendidikan
nasional (Sarino
Mangoenpranot
o, 1984: 102).
Peserta didik

pemerintah
Hindia Belanda
menerapkan
kebijakan
bahwa
kesempatan
mendapatkan
pendidikan

semua lapisan
masyarakat
pribumi
diberikan hak
untuk dapat
mengakses
pendidikan

Perjuangan
setiap warga
kemerdekaan
Negara republic
menghasilkan
Indonesia.
kemerdekaan RI
tahun
1945. Segera
setelah
kemerdekaan,

setiap warga
Negara republic
Indonesia.

diutamakan
pada anakanak
bangsawan
bumi putera
serta tokohtokoh
terkemuka dan
pegawai
kolonial
yang
diharapkan
kelak mereka
akan menjadi
penyambung
tangan-tangan
penjajah
sebagai upaya
Belanda untuk
memerintah
secara tidank
langsung
kepada
masyarakat dan
bangsa
Indonesia.

para pemimpin
Indonesia
menjadikan
pendidikan
sebagai hak
setiap warga
negara,
mencerdaskan
kehidupan
bangsa
menjadi tujuan
nasional.

kualitas siswa
pada era
Jepang bisa
dikatakan
lebih rendah
dari

pada masa
Hindia
Belanda. Guru
misalnya
kualitasnya
menurun
karena
pelatihan
yang diberkan
tidak
maksimal, dan
tenaga guru
sangat
terbatas.
Selain itu,
guru dan
siswa
memdapat
beban
tambahan.
Beban
tambahan
tersebut
menjadikan
siswa dan
guru tidak
benar-benar
berkosentrasi
dalam
pelajaran di
kelas. Beban

tambahan
yang diberikan
pada guru dan
siswa seperti
melakukan
kerja bakti
atau kinro
hoshi