Anda di halaman 1dari 34

HUKUM LINGKUNGAN

Hukum lingkungan berbicara mengenai hubungan antara manusia dengan lingkungannya.


Hubungan mengenai pemanfaatan sumber daya alam yang tidak menimbulkan pencemaran
atau perusakan terhadap lingkungan.
Pemanfaatan sumber daya alam: Dilarang mengeksploitasi secara maksimal, tapi
dibolehkan mengeksploitasi secara optimal.
Tujuan:
-

Agar dalam mengeksploitasi tidak terjadi penyimpangan (pencemaran dan perusakan).

Melindungi fungsi lingkungan hidup.

Maksimal: sebanyak-banyaknya.
Optimal: banyak, tapi tetap memperhatikan fungsi lingkungan hidup.
Fungsi lingkungan hidup:
1. Daya Dukung
Daya dukung adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung peri kehidupan
makhluk hidup.
Semakin sedikit kemampuan lingkungan untuk menghidupi makhluk hidup, semakin
kecil daya dukungnya.
2. Daya Tampung
Daya tampung adalah kemampuan untuk menyerap zat-zat energi yang masuk dari luar.
3. Daya Lenting
Daya lenting adalah kemampuan lingkungan untuk pulih kembali setelah ia mengalami
gangguan. Hasilnya bisa berupa adaptasi.
Jika ketiganya terpenuhi maka pemanfaatan sumber daya alam dapat dikatakan optimal.
Prof. Munajat : Alam adalah karunia Tuhan untuk makhluk di dunia.
Alam harus dimanfaatkan untuk keseimbangan tapi jangan merusaknya dasar sifat
lingkungan.
Fungsi lingkungan : Menjaga daya batas agar tidak dilanggar manusia.
Pembangunan berwawasan lingkungan : Usaha sadar secara terencana yang memadukan
unsur lingkungan dan pembangunan untuk membangun dengan tidak mengabaikan
kelestarian lingkungan hidup.
Konvensi internasional lingkungan hidup:
-

Merupakan evaluasi pembangunan jangka panjang 20 tahun tahap I.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

Setiap negara mengirimkan utusan untuk mengemukakan pendapat tentang lingkungan


hidup.

Deklarasi Stockholm 1972:


Menghasilkan 26 asas pengelolaan lingkungan diantaranya hak untuk mendapatkan
lingkungan hidup yang baik dan sehat.
Asas State Responsibility : Negara berhak mengambil sumber daya alamnya tapi ia
mempunyai kewajiban untuk melestarikannya.
Tema : Masalah-masalah lingkungan
Hukum lingkungan masuk dari internasional baru ke hukum nasional, berbeda seperti
hukum lain yang lahir dari hukum masyarakat nasional, baru ke internasional.
Perkembangan hukum lingkungan dimulai dari perjanjian Stockholm 1972 Rio de
Janeiro 1992 KTT Bumi.
Munajat Danusaputro Bapak hukum lingkungan Indonesia, membagi hukum lingkungan
dalam 2 golongan:
a. Hukum lingkungan klasik
Dari jaman Belanda, hider ordonantie.
Orientasinya melindungi kepentingan manusia dalam mengeksploitasi sumber daya
alam.
Secara klasik lahir sebelum deklarasi Stockholm.
b. Hukum lingkungan modern
Orientasinya melindungi sumber daya alam sebagai akibat eksploitasi manusia.
Kebanyakan lahir setelah perjanjian Stockholm.
Hasil Deklarasi Stockholm:
-

26 asas pengelolaan lingkungan.

109 rekomendasi aksi lingkungan hidup.

Perlu adanya sarana penunjang (dana dan hukum).

Menetapkan 6 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup sedunia United Nation


Environmental Program.

Indonesia menyatakan pentingnya peraturan hukum tentang lingkungan.


Deklarasi

Stockholm

menghasilkan

pembangunan

berwawasan

lingkungan

pembangunan untuk meningkatkan taraf hidup memajukan unsur pembangunan dan


unsur lingkungan.
Pembangunan pada prinsipnya terjadi perubahan dari tradisional modern, tidak punya
punya.
Bahan baku pembangunan: sumber daya alam.
Konsep lingkungan menjadi penghalang pembangunan karena terjadi konflik maksud
pembangunan antara negara maju dan berkembang.
Tahun 1992, Deklarasi Rio de Janeiro, dihasilkan:

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

1. 27 prinsip dasar pengelolaan lingkungan (penyempurnaan sebelumnya).


2. 4 konvensi tentang:
-

pokok-pokok kehutanan

keanekaragaman hayati

perubahan iklim

pelestarian sumber daya alam

Pembangunan berkelanjutan bukan hanya pembangunan berwawasan lingkungan (ada


perkembangan).
Stockholm: hasil pembangunan hanya untuk generasi saat ini.
Rio: hasil pembangunan harus berkelanjutan, bukan cuma masyarakat saat ini, tapi juga
untuk masa datang.
Cita-cita pembangunan berkelanjutan: secara ekonomi, sosial, ekologi.
Jika 3 hal tersebut belum tercapai, berarti pembangunan belum berhasil.
Indikator: jika kita membangun lintas generasi akan terjamin sosial dan ekologi, setidaknya
untuk generasi selanjutnya.
Pembangunan dikatakan berkelanjutan jika sumber daya alam tidak habis untuk generasi
yang akan datang setidaknya untuk generasi yang akan datang (berikutnya) KTT Bumi I
masih membahas pembangunan berkelanjutan, tapi mekanismenya masih sulit untuk
dirumuskan.
Tantangan: permasalahan-permasalahan lingkungan:
1. Kemiskinan
Kemiskinan tradisional: dampaknya tidak terlalu luas.
Kemiskinan modern: dampaknya luas.
Kemiskinan berisiko untuk mencemari dan merusak lingkungan hidup.
2. Kependudukan
Unsur pencemar paling banyak: limbah rumah tangga.
Semakin banyak penduduk, semakin banyak limbah rumah tangga.
Banyaknya penduduk mendukung / mempengaruhi daya dukung lingkungan untuk
memenuhi kebutuhan hidup.
Penduduk 1 / daya dukung lingkungannya (berbanding terbalik).
3. Perusakan
Yaitu upaya-upaya untuk menghilangkan fungsi lingkungan hidup (daya tampung, daya
dukung, daya lenting).
Faktor sengaja untuk merusak lingkungan.
4. Kebijakan
Akibat kebijakan yang tidak tepat maka terjadi dampak lingkungan, yaitu rusaknya
lingkungan hidup., contoh: lahan gambut 1 juta ha akibat hutannya gundul.
Pemerintah harus mempunyai tolok ukur untuk menetapkan pemberian ijin dengan
pertimbangan lingkungan hidup, kependudukan, sosial-ekonomi, keamanan.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

Alat ukur: AMDAL dokumen


dokumen yang berisi informasi apakah suatu kegiatan usaha dapat memberikan
dampak terhadap perusakan lingkungan atau tidak.
kajian ilmiah mengenai dampak yang besar dan penting tentang suatu kegiatan /
usaha.
terdiri dari:
1. Dokumen kerangka acuan (KA)
Berisi mengenai proses pelingkupan / proses untuk mengkaji dampak-dampak
mana yang akan menimbulkan kerusakan lingkungan hidup, kegiatan apa saja
yang akan dikaji.
2. Dokumen andal bagian dari AMDAL
Bahan-bahan pendirian bangunan (dari proses pembebasan tanah, pra konstruksi
dari mana bahannya, apakah merusak pengurungan tanah, pemasangan
konstruksi), pasca konstruksi, perjalanan usaha / kegiatan usaha.
Tentang sosial ekonominya.
3. Dokumen rencana kelola lingkungan (RKL)
Dikaji mengenai upaya-upaya untuk meminimalisir dampak-dampak yang ada
di dokumen andal, misalnya:
-

cara mengatasi petani yang akan kehilangan pekerjaan sebagai petani jika
lahannya akan dijadikan lahan industri tidak diterima negatif.

efek

limbah

amoniak,

bagaimana

caranya

supaya

efeknya

dapat

diminimalisir.
Semakin banyak ditulis negatif tentang andal, maka usaha tersebut semakin
tidak ramah lingkungan.
4. dokumen rencana pemantauan lingkungan (RPL)
Rencana perusahaan memantau unsur lingkungan disekitarnya (agar tidak
berdampak negatif).
Masing-masing dokumen berdiri sendiri.
Kesimpulan:
1. layak
2. tidak layak
3. revisi
Rekomendasi ke gubernur / walikota / bupati, apakah layak atau tidak, jika tidak layak
maka wajib ditolak.
Komisi Amdal terdiri dari:
-

LSM

Pakar masyarakat

Lembaga-lembaga yang terkait

Wakil di masyarakat sekitar

Amdal dibuat dan dinilai sebelum kegiatan dilaksanakan / dilakukan.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

5. Pembangunan
Pembangunan bahan bakunya adalah sumber daya alam, jika tidak memadukan unsur
lingkungan maka resikonya besar.
Harus mengikuti konsep pembangunan yang berkelanjutan (ekonomi, sosial, ekologi,
terpelihara sampai masa yang akan datang).
Kriteria penentuan dampak:
1. Luas persebaran dampak.
Contoh peternakan babi, pabrik tahu.
2. Jumlah manusia yang terkena dampak.
Contoh pabrik kapur Cipatat, Bangas, Palimanan menghirup udara kotor sisa
pembakaran kapur.
3. Sifat kumulatif dari dampak tersebut jika berkumpul maka akan berbahaya.
Contoh deterjen..
4. Pengenalan jasa klenik baru / varietas baru dari tumbuhan / hewan.
Contoh :

- pengenalan species yang tidak ada di Indonesia, misal kangguru.


- pengembangan hewan ternak hasil kloning.

5. Lamanya dampak berlangsung.


6. Berbalik atau tidaknya
-

berkaitan dengan pengaruh zat kimia (radio aktif)

fenomena alam

Proses di Indonesia:
1. Pemohon / pemrakarsa kegiatan / usaha mengajukan ijin kepada menteri, presiden,
gubernur, wakil walikota (pihak yang berwenang)
2. Penapisan oleh pihak yang berwenang berdasar keenam kriteria di atas.
Kedudukan pemberian ijin sebagai alat ukur.
Sifat dokumen amdal:
-

terbuka: boleh diketahui umum (Anglo Saxon).

tertutup: tidak boleh diketahui umum merupakan rahasia perusahaan.

di Indonesia bersifat terbuka untuk umum, siapapun boleh mengakses amdal


perusahaan, tapi pada kenyataannya berbeda.
Audit lingkungan bersifat tertutup / rahasia tidak wajib ada.
Kadaluarsa amdal:
1. Setelah 3 tahun disetujui tapi kegiatan tidak dilaksanakan.
2. Apabila ternyata kegiatan usaha dengan kenyataan berbeda dengan dokumen.
3. Perusahaan mengalami perluasan / pemisahan.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

Hukum Lingkungan dan Implikasinya


Bicara mengenai amdal berarti berbicara mengenai ijin.
Pajak dan retribusi adalah pungutan dalam lingkungan hidup.
Pajak (dalam bentuk undang-undang): pungutan pajak adalah wajib dimana pihak yang
memungut pajak tidak mempunyai kewajiban pemeliharaan terhadap subjek yang
dipungutnya.
Retribusi (dalam bentuk Perda) pungutan didasari dari prestasi dari orang yang memungut
(ada jasa).
Contoh pajak lingkungan: pajak pembuangan limbah. Tujuan: agar orang yang mau
membuang limbah / menggunakan bahan pencemar berpikir 2 kali.
Pajak berfungsi sebagai faktor penekan agar dapat mengurangi polusi.
Konferensi Johanesburg 2002 lebih menekanakan pada pembangunan berkelanjutan.
Retribusi pembuangan limbah cair ke lingkungan dibolehkan untuk tujuan pemulihan
lingkungan.
Peran Serta Masyarakat dalam Kelola Lingkungan
-

sangat penting

Manfaat: ada persetujuan dari masyarakat tentang suatu kejahatan.


Salah satu komponen penting dari peran serta masyarakat:
1. ikut merencanakan
2. ikut mengawasi
3. ikut mengajukan pendapat keberatan / dukungan
Tidak semua masyarakat dilibatkan, yang dilibatkan adalah:
a. Terutama masyarakat yang akan terkena dampak, mengenai studi amdal.
b. LSM yang mewakili masyarakat yang terkena dampak. Peran serta masyarakat harus
didukung asas keterbukaan dan informasi.
c. Para pakar. Penetapannya haruslah bagi para pakar yang kompeten. Biasanya pakar
yang dituakan, bisa dijadikan doktrin. Para pakar ikut menandatangani perijinan amdal.
Penegakan Hukum Lingkungan
Upaya untuk mewujudkan / menerapkan asas-asas / kaidah-kaidah yang mengatur
kehidupan masyarakat dalam kehidupan (Mochtar K.).
Berupaya untuk mewujudkan kaidah-kaidah / asas-asas lingkungan hidup yang berfungsi
bagi pelestarian lingkungan hidup.
Contoh penegakan pada lingkungan hidup:
i.

Pra sengketa (sebelum sengketa terjadi)


Pentaatan / compliance (upaya agar orang taat)
- Insentif: memberikan rangsangan kepada para pengusaha untuk memberikan
rewards, tidak harus berupa cash money, tapi fasilitas.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

- Disinsentif: memberikan hukuman / punishment, contoh tidak boleh menjual


hasil produk ke pasar nasional / internasional, atau penambahan pajak.
- Perijinan: jika tidak taat maka ijinnya dicabut. Ada perbedaan pendapat, bahwa
perijinan juga masuk pada saat sengketa.
- Audit lingkungan: terjadi apabila diduga suatu perusahaan telah melanggar
ketentuan dibidang lingkungan hidup.
Merupakan upaya untuk mengetahui apakah suatu perusahaan sudah
mengetahui ketentuan lingkungan hidup atau belum.
Jika diduga bahwa perusahaan tersebut tidak memenuhi persyaratan
lingkungan maka pemerintah berhak untuk menindak.
Untuk mengetahui apakah suatu perusahaan sudah memenuhi ketentuan atau
belum.
Dilakukan oleh auditor lingkungan yang sudah mempunyai sertifikat (punya
keahlian khusus tersebut dan ikut pelatihan auditor lingkungan hidup).
ii.

Sengketa
-

pengadilan:

perdata

pidana

HAN

luar pengadilan

negosiasi

konsiliasi

mediasi

arbitrasi

Amdal: syarat untuk memperoleh ijin, kegiatan belum dilaksanakan.


Audit lingkungan: kegiatan sudah dilaksanakan tapi ternyata diduga ada pelanggaran
sehingga menteri bisa menyuruh perusahaan tersebut untuk membuat audit lingkungan
untuk menjelaskan salah tidaknya. Contoh: Freeport, PT Inti Indorayon.
Auditor merupakan suatu tim, seperti komisi amdal, pada auditor terdapat beberapa pakar.
Pokok Bahasan UTS
1. Apa dasar pengakuan amdal di Anglo Saxon dan Eropa Kontinental? (sebut negaranya!)
2. Apa isi dokumen amdal di negara Anglo Saxon dan Eropa Kontinental?
3. Masa kadaluarsa amdal?
4. Para pihak dalam penyusunan amdal?
5. Siapa yang berwenang untuk melakukan penilaian amdal?
6. Kegiatan-kegiatan apa saja yang wajib dilengkapi dokumen amdal?
7. Bagaimana proses / prosedur amdal?
8. Bagaimana kedudukan amdal dalam pemberian ijin?

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

9. Bagaimana sifat dokumen amdal (tertutup / terbuka)?


Proses Peradilan Bagi Sengketa Lingkungan :
1. Publik
Hakim adalah hakim karir, dari lembaga pemerintah.
Kita tidak dapat tahu kredibilitas publik.
2. Privat
Oleh arbitrase, dimana para pihak bebas untuk tidak memilih hakim karier (untuk kasus
perdata), hakim minimal 35 tahun, telah menguasai bidangnya selama 15 tahun.
Bentuk arbitrase:

Institusional: contoh Badan Arbitrase Indonesia.

Ad Hoc: dibentuk seketika saat itu, berakhir saat kasusnya selesai.

Keuntungan: hakim dan tempat bisa memilih.


Sengketa pidana lingkungan
Pokok persoalan: perusakan lingkungan hidup (pidana 15 tahun, jika menimbulkan
kematian denda 320 juta, 15 tahun penjara, jika menimbulkan luka 5 tahun, hanya
kerusakan lingkungan 5 tahun, pencemaran lingkungan pidana penjara + denda,
pelanggaran ijin UU No. 27 / 2000.
Perusakan lingkungan:
Perubahan secara langsung dan tidak langsung terhadap sifat fisik dari lingkungan tersebut,
barangsiapa yang telah melakukan perubahan sifat fisik lingkungan baik langsung maupun
tidak langsung dapat dipidana.
Pencemaran lingkungan: dimasukkannya zat atau komponen lain sehingga kualitas
lingkungan turun pada waktu tertentu (ditentukan kualitas baku mutu).
Untuk dikatakan tercemar:
1. Kualitas lingkungan turun pada waktu tertentu.
2. Peruntukan / fungsi lingkungan berubah.
Perbuatan melawan hukum:
-

melawan hak

melawan peraturan perundangan

Melanggar ijin: impor limbah B3


Sengketa perdata
Bisa lewat arbitrase
Pasal 1365 BW ganti rugi
Sengketa Administrasi Negara
Berkaitan dengan perijinan lingkungan

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

Yang diperhatikan: kebijakan terhadap lingkungan, jika merugikan dapat dituntut ke PTUN.
Lawan peradilan : konsensus
Penyelesaian sengketa alternatif (MAP) melalui mediasi, negosiasi, konsiliasi.
Mediasi: musyawarah dengan meminta bantuan pihak ke-3 tentang ganti rugi, biasanya
oleh LSM.
Konsiliasi: mediator mempunyai kewenangan khusus dan cara khusus untuk kasus Ambon,
kesepakatan Malino.
Class Action
Merupakan gugatan kelompok
Gugatan dimana sekelompok orang melakukan gugatan dengan mengatasnamakan
sekelompok orang lain / masyarakat lain yang lebih besar, dalam hal ini adalah masyarakat
korban.
Terdapat 2 kelompok:
-

Yang mewakili: jumlahnya lebih sedikit dari yang diwakili = perwakilan = member of
presentative orang yang mengatasnamakan masyarakat korban.

Yang diwakili : member of class.

Class Action merupakan pengaruh dari Anglo Saxon.


Di Indonesia dasarnya adalah UU PLN No. 23 / 1997.
Keuntungan class action:
Tidak perlu minta surat kuasa dari orang yang mewakili, tapi ada kewajiban dari yang
menyatakan bahwa dia sedang mengajukan gugatan. Masyarakat diberi kesempatan untuk
atau tidak, jika ikut tidak usah menandatangani pernyataan keluar (op out).
Op in: masyarakat harus mengisi form yang menyatakan ia ikut gugatan class action.
Op out: baru diisi jika ia tidak ikut kelas yang diwakili, sehingga jika kalah maka ia tidak
terikat.
Kedua sistem ini menentukan berapa banyak masyarakat yang ikut diwakili oleh
organisasi / orang tersebut.
Syarat class action: mempunyai kepentingan, masalah, tergugat sama.
Standing Toesseau
Atas nama lingkungan (organisasi lingkungan).
Pasal 38: organisasi lingkungan hidup boleh mengajukan untuk dan atas nama lingkungan
hidup.
Hanya organisasi lingkungan dengan syarat:
1. Berbentuk badan hukum.
2. Telah mengusahakan dan menyisihkan hartanya demi lingkungan hidup.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

3. Dalam anggaran dasar mencantumkan tujuan utama untuk pelestarian lingkungan


hidup.
4. Telah melaksanakan upaya pelestarian lingkungan hidup secara aktif.
Hak gugat organisasi lingkungan hidup berhubungan dengan Legal Standing.
Strict Liability
Asas tanggung jawab mutlak
Tanggung jawab seketika, saat itu juga untuk menghentikan perusakan / pencemaran
lingkungan hidup.
Penerapan ini berarti penerapan asas pembuktian terbalik, tapi tidak otomatis.
Pihak yang berwenang dapat melaksanakan penghentian saat itu juga untuk mencegah
kerugian yang lebih besar meski perusahaan tersebut belum diajukan ke pengadilan,
perusahaan tersebut dapat ke pengadilan untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah,
tetapi dia harus menghentikan dahulu pencemaran seperti yang diminta oleh pihak yang
berwenang. Jika menolak, maka yang menolak harus datang ke Jakarta Pusat.
Class action wajib ada pemberitahuan kepada masyarakat umum.
KASUS-KASUS LINGKUNGAN HIDUP
1. Cenderawasih
T melakukan tindak pidana pencemaran lingkungan hidup UU lingkungan hidup No. 4 /
1982.
Merupakan pidana lingkungan hidup yang pertama kali diterapkan di Indonesia.
Yang menarik: delik kerusakan lingkungan menurut UU No. 4 / 1982 tidak jauh
berbeda dengan UU No. 23 / 1997.
Kerusakan lingkungan: terjadi perubahan secara langsung / tidak langsung terhadap
fisik lingkungan yang mengakibatkan kerusakan.
Kesalahan T:
-

merusak ekosistem dengan menangkap cenderawasih.

tanpa ijin

2. Limbah Tahu Sidoarjo


Masalah:
Terdapat 2 perusahaan: Sidomakmur (tahu) dan Sidomulyo (kandang babi)
Bila hujan maka limbah kedua perusahaan tersebut mencemari sungai.
T dibebaskan atas dasar pengambilan keputusan yang lebih meringankan T.
Kesimpulan / catatan / saran:
Harus ada satu badan / lab yang memeriksa akses lingkungan agar tidak terjadi
dualisme hasil penyelidikan terhadap dampak lingkungan yang terjadi sebagai akibat /
pengaruh dari adanya suatu perusahaan.
Laboratorium lingkungan hidup dan saksi ahli merupakan unsur yang fundamental
dalam kasus lingkungan hidup.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

10

3. PT Inti Indorayon Utama


Bukan peradilan TUN, tapi gugatan perdata.
T: BKPN

Departemen Industri

Depdagri

Menteri Lingkungan Hidup

Gubernur

RI (Menteri Kehutanan)

WALHI menyatakan kegiatan PT Inti merusak lingkungan, diantaranya:


-

kerusakan hutan

menurunkan debit air sungai

penggalian batu dan pasir

Hakim menolak semua gugatan penggugat dasar putusan tidak terbukti adanya
perusakan hutan.
PT Inti berdiri secara legal tapi tanpa AMDAL.
Catatan:
a. Seharusnya agar gugatan diproses, maka WALHI mengajukan gugatan terhadap PT
Inti dengan gugatan pendirian tanpa AMDAL
b. Seharusnya WALHI mengajukan gugatan pembatalan ijin bukan ganti rugi,
sebaiknya ganti rugi diajukan nanti.
c. Sebaiknya lapor ke penyidik bukan langsung ke gugatan perdata.
4. Kebakaran Hutan Bob Hasan
1997 pada saat WLH dilakukan.
Merupakan kelalaian manusia.
Kasus posisi:
Pembukaan lahan melalui pembakaran hutan karena ini adalah cara yang paling murah,
dinamakan pembakaran terkendali (sebelum tahun 1997, hal tersebut merupakan hal
yang legal, aman dan cepat).
Pada tahun 1997 terjadi kesalahan, terjadinya el nino (gelombang panas), sehingga:
-

pembakaran tidak terhenti untuk hujan.

pemadaman hanya pada lapisan atas saja tapi karena panas maka pembakaran
masuk ke lapisan dalam yang isinya kaya akan batu bara yang hanya dapat padam
oleh hujan lebat, tapi hujan tidak turun.

titik api sulit dicari untuk memadamkan api di batu bara sehingga menimbulkan
asap.

Soeharto menyatakan ini sebagai bencana, jadi Indonesia tidak digugat oleh
internasional atas pencemaran udara ke negara tetangga.
WALHI, HMI, dan LSM lain mengajukan gugatan CA terhadap Akpindo dimana
ketuanya adalah Bob Hasan.
Berdasarkan UU No. 23 / 1977, gugatan diajukan dengan mengatasnamakan
masyarakat korban (Sumatera Utara) organisasi tersebut tidak perlu tertanda kuasa.
Kasus ini dikabulkan oleh hakim meski ada eksepsi, Bob Hasan dihukum dan
membayar ganti rugi 50 M.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

11

Tingkat banding, Bob Hasan menang (dikabulkan) tapi pada tingkat kasasi Bob Hasan
kalah (rezim ganti).
Hal ini merupakan pertama kalinya hakim mengabulkan gugatan CA (dulu selalu
ditolak dengan alasan tidak ada dasar hukumnya) meski prosedurnya belum diterapkan.
5. PT Freeport
WALHI mengajukan gugatan CA tahun 1995, UU Lingkungan Hidup belum
diberlakukan sehingga tidak ada dasar hukumnya.
Jika tidak ada dasar hukumnya, sebenarnya hakim dapat melakukan konstruksi hukum
dengan alasan kepentingan masyarakat.
Hakim tidak mengabulkan karena tidak melakukan / memenuhi syarat-syarat CA
(faktanya).
Ada pengakuan hakim bahwa WALHI dikukuhkan sebagai organisasi lingkungan hidup
yang dapat mengajukan gugatan atas nama lingkungan hidup, tuntutan bukan berupa
ganti rugi tapi untuk biaya pemulihan lingkungan.
Dalam CA orang yang mewakili masyarakat haruslah yang juga jadi korban.
Jika gugatan meminta ganti rugi (yang diajukan melalui legal standing) berdasar CA,
maka itu bukanlah gugatan berdasar CA melainkan gugatan berdasar surat kuasa biasa.
6. Kalitapak
Merupakan penyelesaian sengketa secara alternatif metode konsiliasi.
Konsiliatur: pemerintah.
NEGARA ANGLO SAXON (AMERIKA SERIKAT)
1. Dasar pengaturan : National Environment Policy Act of 1969 pasal 2 ayat 2 c.
2. Isi dokumen Amdal :
a. pengaruh kegiatan terhadap lingkungan
b. tindakan yang dapat merusak lingkungan harus dicegah atau tidak boleh
dilaksanakan
c. harus ada alternatif apabila proyek yang pertama tidak diperbolehkan
d. ada hubungan antara penggunaan lingkungan jangka pendek dan pemeliharaan hasil
produksi jangka panjang
e. komitmen-komitmen yang tidak dapat diubah atau diperbaiki dari suatu sumber
daya yang dilibatkan dalam suatu tindakan harus pula disertakan
3. Masa kadaluarsa : ditetapkan oleh pemerintah
4. Para pihak yang dalam penyusunan Amdal:
a. pihak yang menentukan kebijakan-kebijakan dari peraturan-peraturan yaitu kongres
b. pihak yang mengidentifikasi, membangun metode, prosedur yang selanjutnya
dikonsultasikan pada dewan kualitas lingkungan yaitu pemerintah federal
c. di Amerika Serikat (Anglo Saxon) terdapat otoritas-otoritas atau pemisahan
wewenang

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

12

d. pihak pemohon izin untuk mendirikan usahanya


5. Pihak yang berwenang melakukan penilaian Amdal:
a. pemerintah federal : mereka mengidentifikasi, menyusun metode, lalu berkonsultasi
dengan dewan kualitas lingkungan, apakah proyek tersebut pantas diberi izin atau
tidak jika melihat Amdal-nya merusak lingkungan atau tidak. Pada akhirnya yang
memutuskan diberi izin atau tidaknya proyek tersebut adalah pemerintah federal
yang berwenang secara hukum (jurisdiction), di mana tiap-tiap negara bagian
mempunyai pemerintahannya sendiri.
b. sebelumnya di Amerika diadakan public participation, seperti polling, apakah
proyek tersebut layak dilanjutkan atau tidak. Hal ini menjadi salah satu bahan
pertimbangan bagi pemerintah federal dalam pemberian izin.
6. Kegiatan-kegiatan yang harus dilengkapi dokumen Amdal :
a. kegiatan-kegiatan usaha yang dapat diperkirakan memiliki dampak besar dan
penting terhadap lingkungan hidup
b. dapat dilihat pada (Ottosumarwoto, AMDAL, hal 93) :
i.

luas persebaran dampaknya, contohnya limbah tempe, ternak sapi

ii.

jumlah manusia yang akan terkena dampak

iii.

pengenalan jasad renik baru

iv.

sifat kumulatif dampak tersebut

v.

lamanya dampak berlangsung

vi.

berbalik atau tidaknya dampak

vii.

efek negatif yang serius

viii.

dapatkah masalah ditanggulangi

c. jenis proyek yang harus dilengkapi AMDAL (Ottosumarwoto, AMDAL, hal 95) :
i.

industri atau pertambangan : besi baja, pulp and paper, pariwisata, peleburan
logam, petrokimia, pupuk, semen, tekstil

ii.

energi : listrik (PLTU, PLTP, PLTN, PLTD, PLTA)

iii.

kependudukan : KB, transmigrasi

iv.

lalu lintas atau pengangkutan : Bandar udara, jalan raya, pelabuhan,


transmisi listrik, tegangan tinggi

v.

limbah : limbah bahan beracun dan berbahaya

vi.

pertanian / perikanan / peternakan / kehutanan

d. lokasi proyek yang harus dilengkapi AMDAL :


i.

daerah yang dilindungi : cagar alam, hutan lindung, cagar budaya

ii.

daerah yang mengandung atau dekat dengan lokasi bersejarah, arkeologis,


religius atau cultural

iii.

terumbu karang dan daerah perikanan utama

iv.

daerah yang punya keindahan luar biasa atau bersifat khas

v.

pantai (termasuk daerah hutan bakau, pantai rekreasi, danau dan rawa)

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

13

7. Prosedur AMDAL : di negara Anglo Saxon : metode penapisan bertahap


Semua proyek

Penapisan Tingkat I

Kel 1 : Proyek punya

Kel 2 : keraguan apakah

Kel 3 : Proyek tidak

dampak penting

proyek berdampak penting

berdampak penting

Penapisan Tingkat II

Proyek berdampak

Proyek tidak

Dilakukan AMDAL

Tidak perlu dilakukan AMDAL

NEGARA EROPA KONTINENTAL (JERMAN)


1. Dasar

pengaturan

Environmental

Impacts

Assessment

(gesetz

uber

die

umweltvertraglichkeitsprufung, UVPE)
2. Isi dokumen Amdal :
a. gambaran proyek dengan penjelasan : desain, ukuran dari proyek dan luas tanah
yang dibutuhkan
b. gambaran tipe dan jumlah emisi dan zat sisa yang diperkirakan, selain itu juga
mengenai polusi udara, limbah, limbah perairan dan informasi lainnya untuk
menganalisa sejauh mana pengaruh proyek terhadap lingkungan
c. perkiraan ukuran sejauh mana lingkungan dapat terpengaruhi oleh proyek.
Pengurangan kapasitas proyek apabila suatu hari mengganggu alam sekitarnya.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

14

3. Masa kadaluarsa dokumen AMDAL : 3 minggu


4. Para pihak dalam penyusunan AMDAL :
a. pihak yang berwenang :
-

menentukan kebijakan

mengidentifikasi,

membangun

metode,

mengkonsultasikan

pada dewan

lingkungan
b. pihak pemohon izin untuk mendirikan uasahanya
5. Yang berwenang menilai AMDAL : dilakukan oleh pemerintah. Semua proses-proses
yang ada dari awal sampai akhir dilakukan oleh pemerintah tanpa ada badan lain atau
pun public participation yang berwenang dalam menilai atau memberi izin.
6. Kegiatan-kegiatan yang harus dilengkapi dokumen AMDAL :
a. kegiatan-kegiatan usaha yang diperkirakan memiliki dampak besar dan penting
terhadap lingkungan hidup
b. dapat dilihat pada (Ottosumarwoto, AMDAL, hal 93) :
i.

luas persebaran dampaknya, contohnya limbah tempe, ternak sapi

ii.

jumlah manusia yang akan terkena dampak

iii. pengenalan jasad renik baru


iv. sifat kumulatif dampak tersebut
v.

lamanya dampak berlangsung

vi. berbalik atau tidaknya dampak


vii. efek negatif yang serius
viii. dapatkah masalah ditanggulangi
c. jenis proyek yang harus dilengkapi AMDAL (Ottosumarwoto, AMDAL, hal 95) :
i.

industri atau pertambangan : besi baja, pulp and paper, pariwisata, peleburan
logam, petrokimia, pupuk, semen, tekstil

ii.

energi : listrik (PLTU, PLTP, PLTN, PLTD, PLTA)

iii.

kependudukan : KB, transmigrasi

iv.

lalu lintas atau pengangkutan : Bandar udara, jalan raya, pelabuhan,


transmisi listrik, tegangan tinggi

v.

limbah : limbah bahan beracun dan berbahaya

vi.

pertanian / perikanan / peternakan / kehutanan

d. lokasi proyek yang harus dilengkapi AMDAL :


i.

daerah yang dilindungi : cagar alam, hutan lindung, cagar budaya

ii.

daerah yang mengandung atau dekat dengan lokasi bersejarah, arkeologis,


religius atau cultural

iii.

terumbu karang dan daerah perikanan utama

iv.

daerah yang punya keindahan luar biasa atau bersifat khas

v.

pantai (termasuk daerah hutan bakau, pantai rekreasi, danau dan rawa)

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

15

Secara formal konsep Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), berasal


dari UU NEPA 1969 di Amerika Serikat. Dalam undang-undang ini AMDAL dimaksudkan
sebagai alat untuk merencanakan tindakan preventif terhadap kerusakan lingkungan yang
mungkin akan ditimbulkan oleh suatu aktivitas pembangunan yang sedang direncanakan.
Didalam undang-undang, baik dalam UU No. 4 tahun 1982, maupun dalam NEPA
1969, dampak diartikan sebagai pengaruh aktivitas manusia dalam pembangunan terhadap
lingkungan.
Konsep AMDAL yang mempelajari dampak pembangunan terhadap lingkungan dan
dampak lingkungan terhadap pembangunan juga didasarkan pada konsep ekologi secara
umum didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi antara makhluk hidup dengan
lingkungannya. AMDAL merupakan bagian ilmu ekologi pembangunan yang mempelajari
hubungan timbal balik atau interaksi antara pembangunan dan lingkungan.
Didalam AMDAL, kita menjumpai dua jenis batasan dampak, yaitu :
Dampak pembangunan terhadap lingkungan ialah perbedaan kondisi lingkungan
sebelum ada pembangunan dan yang akan diperkirakan akan ada setelah ada
pembangunan.
Dampak pembangunan terhadap lingkungan ialah perbedaan antara kondisi
lingkungan yang akan diperkirakan akan ada tanpa adanya pembangunan dan
yang diperkirakan akan adanya pembangunan tersebut.
AMDAL lahir di Amerika Serikat tahun 1969, dan karena AMDAL dirasakan oleh
banyak pihak sebagai alat yang ampuh untuk menghindari terjadinya kerusakan lingkungan
yang lebih parah oleh umat manusia, dengan cepat AMDAL ini menyebar dari Amerika
Serikat ke banyak negara, bahkan menyebar juga sampai ke negara sedang berkembang.
Penyebaran AMDAL yang sangat cepat ini, membawa akibat tidak dikajinya dengan
seksama apa sebenarnya AMDAL itu. Oleh karena itu banyaklah terjadi kekeliruan dalam
penggunaan AMDAL.
AMDAL diperuntukkan bagi suatu rencana. Oleh karena itu menurut undangundang tidaklah benar menggunakan AMDAL bagi proyek yang telah selesai dan telah
operasional, misalnya proyek pabrik semen Gresik, Hotel Nusa Dua di Denpasar atau Jalan
Raya Jagorawi. Akan tetapi apabila proyek tersebut direncanakan untuk diperluas, dapatlah
dilakukan AMDAL untuk rencana perluasan tersebut.
Di Indonesia AMDAL secara resmi baru diakui pada tahun 1982 dengan
diundangkannya UU tentang Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU No. 4
Tahun 1982). Walaupun demikian AMDAL sudah dipakai sebelum berlakunya undangundang itu, yaitu dalam hal proyek yang mendapatkan bantuan dana dari pemerintah atau
badan asing yang mengharuskan dilakukannya AMDAL sebagai syarat untuk mendapatkan
bantuan tersebut.
AMDAL yang berlaku di Anglo Saxon dan Eropa Kontinental sendiri terdapat
beberapa persamaan dan perbedaan. Berikut ini akan dibahas mengenai persamaan dan

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

16

perbedaan antara keduanya, dalam hal ini diambil contoh untuk negara yang menganut
sistem hukum Anglo Saxon adalah Amerika Serikat dan Eropa Kontinental adalah Jerman.
I.

Persamaan:
1.

Dalam hal tujuan, kedua sistem tersebut sama-sama bertujuan untuk melakukan
pencegahan dan perlindungan terhadap perusakan lingkungan hidup, yang
didalamnya terdapat manusia, hewan, tumbuhan, tanah, udara, cuaca, lahan bebas,
termasuk didalamnya saling berhubungan antara satu sama lain.

2.

Kedua sistem tersebut mempunyai maksud untuk menerapkan perencanaan


untuk mengatasi dampak-dampak yang dapat muncul dari suatu kegiatan terhadap
lingkungan dengan cara menyajikan informasi yang memadai dan tepat waktu, serta
uraian yang memungkinkan diambilnya pilihan yang terbaik bagi lingkungan.

3.

Dalam proses AMDAL, dilibatkan juga publik, dalam hal ini yang dimaksud
dengan publik adalah mereka yang mempunyai keahlian khusus di bidang yang
berkaitan erat dengan proses tersebut.

4.

Setiap kegiatan / usaha yang menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan


/ significantly impact wajb disertai dengan AMDAL.

II.

Perbedaan:
1.

Amerika Serikat, pada masalah otoritas dimana Kongres mempunyai peranan


yang cukup urgent / penting, dalam menentukan kebijakan-kebijakan, peraturanperaturan, mengenai lingkungan sedangkan pemerintah federal mempunyai fungsi
untuk mengidentifikasi, membangun metode, serta prosedur yang kemudian
dikonsultasikan kepada Dewan yang mengatur Kualitas Lingkungan yang kemudian
hasilnya dipakai sebagai bahan pertimbangan bagi kongres dalam mengambil
kebijakan. Sedangkan di Jerman, tidak ditemukan perbedaan otoritas, karena yang
berwenang dalam hal identifikasi, prosedur, serta pengambilan kebijakan ialah
Pemerintah.

2.

Di Amerika Serikat, dari proses awal penganalisisan, terhadap suatu proyek


dilibatkan unsur public participation, dimana bentuknya seperti polling, apakah
proyek tersebut layak untuk dilanjutkan atau tidak. Pengertian public disini ialah
masyarakat umum. Sedangkan di Jerman, public participation dalam proses awal
analisis itu hanya terbatas pada sekelompok orang yang duduk dalam suatu komisi
khusus.

3.

Jika timbul suatu masalah, dalam penyelesaiannya di Amerika Serikat yang


menganut sistem Anglo Saxon mengenal public opinion, dimana masyarakat
umum mempunyai peranan penting yang menentukan dalam pengambilan
keputusan. Sedangkan di Jerman yang menganut sistem Eropa Kontinental, dalam
masalah penyelesaian sengketa, tidak mengenal adanya public opinion.

4.

Di dalam UU mengenai AMDAL di Amerika Serikat, tidak secara rinci


disebutkan mengenai batasan significantly impact yang timbul sebagai akibat dari

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

17

proyek, karena sifatnya yang case per case. Sedangkan di Jerman, dalam UU
AMDAL-nya disebutkan mengenai batasan dampak yang ditimbulkan dari suatu
proyek. Intinya ialah mengenai batasan significantly impact ini dimana di dalam
UU AMDAL Amerika Serikat tidak disebutkan secara tegas, tetapi di dalam UU
AMDAL Jerman disebutkan batasannya secara tegas.
THE NATIONAL ENVIRONMENTAL POLICY ACT OF 1969
The National Environmental Policy Act of 1969, as amanded by Pub. L. 91-190, 42 U.S.C.
4321-4347, January 1. 1970, as amanded by Pub. L. 94-52, July 3, 1975, and Pub. L. 94-83,
August 9, 1975.
An Act to establish a national policy for the environment, to provide for the establishment
of a Council on Environmental Quality, and for other purposes.
Be it enacted by the Senate and House of Representatives of the United States of America
in Congress assembled. That this Act may be cited as the National Environmental Policy
Act of 1969.
PURPOSE
Sec. 2. The purposes of this Act are: To declare a national policy which will
encourage productive and enjoyable harmony between man and his environment and
biosphere and stimulate the health and welfare of man; to enrich the understanding of the
ecological system and natural resources important to the Nation; and to establish a Council
on Environmental Quality.
TITLE
DECLARATION OF THE NATIONAL ENVIRONMENTAL POLICY
Sec. 101.
(a) The Congress, recognizing the profound impact on mans activity on the interrelations
of all components of the natural environment, particularly the profound influences of
population

growth,

high-density

urbanization,

industrial

expansion,

resource

exploitation, and new expanding technological advances and recognizing further the
critical importance of restoring and maintaining environmental quality to the overall
welfare and development of man, declares that it is the continuing policy of the Federal
Government, in cooperation with State and local governments, and other concerned
public and private organizations, to use all practicable means and measures, including
financial and technical assistance, in a manner calculated to foster and promote the

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

18

general welfare, to create and maintain conditions under which man and nature can
exist in productive harmony, and fulfill the social, economic, and other requirements of
present and future generations of Americans.
(b) In order to carry out the policy set forth in this Act, it is continuing responsibility of the
Federal Government to use all practicable means, consistent with other essential
considerations of national policy, to improve and coordinate Federal plans, functions,
programs, and resources to the end that the Nation may
(1) fulfill the responsibilitiesof each generation as trustee of the environment for
succeeding generations;
(2) assure for all Americans safe, healthful, productive, and esthetically culturally
pleasing surroundings;
(3) attain the widest range of beneficial uses of the environment without degradation,
risk to health or safety, or other undesirable and unintended consequences;
(4) preserve important historic, cultural, and natural aspects of our national heritage,
and maintain, wherever possible, an environment which supports diversity, and
variety of individual choice;
(5) achieve a balance population and resource use which will permit high standards of
living and a wide sharing of lifes amenities; and
(6) enhance the quality of renewable resources and approach the maximum attainable
recycling of depletable resources.
(c) The Congress recognizes that each person should enjoy a healthful environment and
that each person has a responsibility to contribute to the preservation and enhancement
of the environment.
Sec 102. The Congress authorizes and directs that, to the fullest extent possible:
(1) the policies, regulations, and public laws of the United States shall be interpreted and
administered inaccordance with the policies set forth in this Act, and
(2) all agencies of the Federal Government shall
(A) Utilize a systematic, interdisciplinery approach which will insure the integrated use
of the natural and social sciences and the environment design arts in planning and
in decision making which may have an impact on mans environment;
(B) Identify and develop methods and procedures, in consultation with the Council on
Environmental Quality established by title II of this Act, which will insure that
presently unquantified environmental amenities and values may be given
appropriate consideration in decision making along with economic and technical
considerations.
(C) Include in every recommendation or report on proposals for legislation and other
major Federal actions significantly affecting the quality of the human environment,
a detailed statement by the responsible official on-(i)

The environment impact of the proposed action,

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

19

(ii)

Any adverse environmental effects which cannot be avoided should the


proposal be implemented,

(iii)

Alternatives to the proposed action,

(iv)

The relationship between local short-term uses of mans environment and


the maintenance and enhancement of long-term productivity, and

(v)

Any irreversible and irretrievable commitments of resources which would be


involved in the proposed action should it be implemented.

Prior to making any detailed statement, the responsible Federal official shall consult
with and obtain the comments of any Federal agency which has jurisdiction by law
or special expertise with respect to any environmental impact involved. Copies of
such statement and the comments and view of the appropriate Federal, State, and
local agencies, which are authorized to develop and enforce

environmental

standards, shall be made available to the President, the Council on Environmental


Quality and to the public as provided by section 552 of title 5, United States Code,
and shall accompany the proposal trough the existing agency review processes;
(D) Any detailed statement required under subparagraph (c) after January 1, 1970, for
any major Federal action funded under a program of grants to States shall not be
deemed to be legally insufficient solely by reason of having been prepared by a
State agency or official, if:
(i)

the State agency or official has statewide jurisdiction and has the
responsibility for such action,

(ii)

the responsible Federal official furnishes guidance and participates in such


preparation,

(iii)

the responsible Federal official independently evaluates such statements


prior to its approval and adoption and

(iv)

after January 1, 1976, the responsible Federal official provides early


notification to, and solicits the views of, any other State or any Federal land
management entity of any action or any alternative there to which may have
significant impacts upon such State or affected Federal land management
entity and, if there is any disagreement on such impacts, prepares a written
assessment of such impacts and views for incorporation into such detailed
statement.

The procedures in this subparagraph shall not relieve the Federal official of his
responsibilities for the scope, objectivity, and content of the entire statement or of
any other responsibility under this Act; and further, this subparagraph does not
affect the legal sufficiency of statements prepared by State agencies with less than
statewide jurisdiction.
(E) Study, develop, and describe appopriate alternatives to recommended courses of
action in any proposal which involves unresolved conflicts concerning alternative
uses of availableresources;

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

20

(F) Recognize the worldwide and long-range character of environmental problems and,
and where consistent with the foreign policy of the United States, lend appopriate
support to initiatives, resolutions, and programs designed to maximize international
cooperation in anticipating and preventing a decline in the quality of mankinds
world environment;
(G) Make available to States, counties, municipalities, institutions, and individuals,
advice and information useful in restoring, maintaining, and enhancing the quality
of the environment;
(H) Initiate and utilize ecological information in the planning and development of
resource-oriented projects; and
(I) Assist the Council on Environmental Quality established by title II of this Act.
Sec. 103. All agencies of the Federal Government shall review their present statutory
authority, administrative regulations, and current policies and procedures for the purpose of
determining whether there are any deficiencies or inconsistencies there in which prohibit
full compliance with the purposes and provisions of this Act and shall propose to the
President not later than July 1, 1971, such measures as may be necessary to bring their
authority and policies into conformity with the intent, purposes, and procedures set fotrh in
this Act.
Sec. 104. Nothing in section 102 or 103 shall in any way affect the specific statutory
obligations of any Federal agency
(1) to comply with criteria or standards of environmental quality,
(2) to coordinate or consult with any other Federal or State agency, or
(3) to act, of refrain from acting contingent upon the recommendations or
certification of any other Federal or State agency.
Sec. 105. The policies and goals set forth in this Act are supplementary to those set forth in
existing authorizations of Federal agencies.

Environmental Impacts Assessment Act (Gesetz ber die


Umweltvertrglichkeitsprfung, UVPG) Excerpts
Long title: Act on the Assessment of Environmental Impacts
In the version published on 12 February 1990 (Federal Law Gazette I, p. 205), as last
amanded by an Act of 18 August 1997 (Federal Law Gazette I p. 2081)
Tanslation provided by inter Nationes and reproduced with kind permission.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

21

Table of Contents
Article 1 Purpose of the Act
Article 2 Definitions
Article 3 Area of Application
Article 4 Primacy of other Statutory Provisions
Article 5 Information on the Probable Scope of Examination
Article 6 Documents of the Developer
Article 7 Participation of other Authorities
Article 8 participation of Authorities of other Countries
Article 9 Involvement of the Public
Article 10 Maintenance of Secrecy and Data Protection
Article 11 Summarised Description of Environmental Impacts
Article 12 Assessment of Environmental Impacts and Taking them into Account during the
Resulting Decision-Making
Article 13 Provisional Decision (Vorbescheid) and Partial Approvals (Teilzulassungen)
Article 14 Authorisation of a Project by Several Authorities
Article 15 Defining General Routing and Consent for the Development of Airports
Article 16 Regional Planning Procedures and Authorisation Procedures
Article 17 Preparation of Construction Plans
Article 18 Procedures under Mining Law
Article 19 Procedures on the Consolidation of Farmland (Flurbereinigungsverfahren)
Article 20 Administrative Regulations
Article 1 Purpose of the Act
The purpose of this Act is to ensure that for the projects set out in the Appendix to Article 3
in order to guarantee effective preventative environmental protection on the basis of
uniform principles:
1. the effects on the environment are identified, described and assessed in time and
comprehensively,
2. the results of the environmental impact assessment are taken into account as
early as possible in all cases in which authorities decide upon the approval of
projects.
Article 2 Definitions
(1) The environmental impact assessment represents an integral part of procedures applied
by authorities when deciding upon the approval of projects. Environmental impact

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

22

assessment comprises identification, description and assessment of a projects effects


on
1. human beings, animals and plants, soil, water, air, climate and landscape including
the individual interaction that may occur,
2. cultural goods and other material assets.
Environmental impact assessments are conducted with the involvement of the public. If
approval of the project is decided upon by several procedures, the individual
assessments carried out in these procedures are compiled to provide an overall
assessment of all environmental impacts, including interactions.
(2) Pursuant to the Appendix to Article 3, projects mean
1. construction works which are to be installed or operated,
2. other plants which are to be installed or operated,
3. other interventions in the natural surroundings and landscape,
4. considerable alterations to a plant pursuant to subparas 1 and 2 as far as they have
significant effects on the environment.
(3) For the purposes of para. 1, sentence 1 decisions mean
1.

Licence

(Bewilligung),

permission

(Erlaubnis),

development

consent

(Genehmigung), plan approval (Planfeststellungsbeschlu) and other decisions on


the approval of projects taken by authorities within the framework of an
administrative procedure, except for notification procedures,
2.

General routing provisions and decisions in advance procedures, which are of


significance for subsequent procedures,

3.

Resolutions pursuant to Article 10 of the Town and Country Planning Code


(Baugesetzbuch) on the drawing up, alterations to or additions to the development
plan which may provide the basis for decisions on the approval of projects within
the meaning of the Appendix to Article 3, as well as resolutions pursuant to Article
10 of the Town and Country Planning Code on development plans which replace
plan approvals for projects within the meaning of the Appendix to Article 3.

Article 3 Area of Application


(1) Projects mentioned in the Appendix to this Act are subject to an assessment of their
environmental impacts. The Federal Government shall be empowered by means of
statutory ordinances with the consent of the Bundesrat
1. to include in the Appendix projects which may have significant effects on the
environment,
2. to remove from the Appendix project which, according to present findings, do not
involve significant effects on the environment, in compliance with any legal
instrument of the Council or Commission of the European Communities.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

23

Statutory ordinances issued on the basis of this entitlement require the consent of the
Bundestag. The consent shall be deemed to be given if the Bundestag does not refuse to
give the Federal Government consent within three weeks of session after after receipt of the
paper.
Article 4 Primacy of other Statutory Provisions
This Act shall apply as far as Federal or Lnder statutory provisions do not define
assessment of environmental impacts more closely or as far as their provisions do not meet
the requirements of this Act. Statutory provisions containing more stringent requirements
shall not be affected.
Article 5 Information on the Probable Scope of Examination
As soon as the developer informs the competent authority on the planned project this
authority shall discuss with him subject, extent and methods of the environmental impact
assessment as well as other questions of significance for the conduct of the assessment
according to the respective state of planning and on the basis of suitable documents
provided by the developer. For this purpose other authorities, experts and third parties may
be called in. The competent authority shall inform the developer on the probable scope of
the assessment as well as on the type and scope of the documents probably to be provided
according to Article 6. If the competent authority has information as its disposal which is of
use for the provision of the documents pursuant to Article 6 it shall make this information
available to the developer.
Article 6 Documents of the Developer
(1) The developer shall present to the competent authority the documents which are of
significance for a decision on the projects environmental impacts at the beginning of
the procedure during which the environmental impacts are assessed. If beginning the
procedures requires a written application, the presentation of a plan of other action by
the developer, the documents required pursuant to sentence I shall be submitted early
enough for them to be presented along with the other documents.
(2) The contents and extent of the documents pursuant to para. I shall be defined by
statutory provisions which are authoritative for decisions on the approval of the project.
Paras 3 and 4 shall be applied as far as the documents mentioned in these paragraphs
have not been defined in detail by statutory provisions.
(3) The documents pursuant to para. I shall contain at least the following information:
1. a description of the project giving details on the site, design and size of the project
as well as the amount of land required,

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

24

2. a description of the type and the quantity of the emissions and residual substances to
be expected, in particular of the air pollutants, wastes and waste water as well as
other information which is necessary for determining and assessing significant
impacts on the environment by the project,
3. a description of measures by which significant impacts on the environment may be
prevented, reduced or set off as far as possible, as well as of substituting measures
in the case of interventions in the natural surroundings and landscape which cannot
be set off but which have priority nonetheless.
4. a description of the significant effects of the project on the environment which pays
regard to the general level of knowledge and the generally acknowledged
assessment methods.
A generally comprehensible summary of the information given in subparas 1 to 4 shall
be enclosed.
(4) The documents pursuant to para. I shall also contain the following information as far as
the type of projects makes them necessary for the assessment of environmental impacts
and provision of them by the developer can reasonably be expected:
1. a description of the most important characteristics of the applied technical
procedures,
2. a description of the environment and its elements which pays regard to the general
level of knowledge and the generally acknowledged assessment methods, as far as
this is necessary for determining and assessing all other significant effects of the
project which are of relevance for the projects approval,
3. an overview of the most important alternative projects assessed by the developer
and information on the essential grounds for selecting the relevant project with
regard being paid in particular to the projects effects on the environment,
4. an indication of difficulties encountered when compiling the information, e.g.
technical gaps or lack of knowledge.
The generally comprehensible summary pursuant to para. 3 sentence 2 also has to
include the information contain in subparas 1 to 3.
(5) Paras 1 to 4 shall be applied mutatis mutandis if the competent authority acts on behalf
of that corporate body under public law which is the developer of the project.
Article 7 Participation of other Authorities
Article 8 Participation of Authorities of other Countries
(1) If a project might have significant effects on the assets worth being protected, which are
mentioned in Article 2 para. 1 sentence 2, of another member state of the European
Communities, the authorities determined by the member state shall be informed of the
project at the same time and to the same extent as the authorities involved pursuant to

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

25

Article 7. If the other member state has not determined the authorities to be involved,
the member states highest authority responsible for environmental protection shall be
informed,
(2) If a project might have significant effects on the assets worth being protected, which are
mentioned in Article 2 para. 1 sentence 2, of another neighbouring state of the Federal
Republic of Germany which is not a member state of the European Communities, para.
I shall apply mutatis mutandis the requirements of the principels of reciprocity and
equivalence,
(3) Consultations held with the authorities of the other member state on the basis of
information pursuant to para. 1 or with the authorities of the neighbouring state
pursuant to para. 2 shall be held in accordance with the principles of reciprocity and
equivalence. The principle of equivalence shall apply to procedures and assessment
criteria which are used in the Federal Republic of Germany and the other member states
or in the neighbouring state,
(4) Obligations of the Federation and the Lnder under International law shall not be
affected.
Article 9 Involvement of the Public
(1) The competent authority shall hear the public on the projects environmental impacts
on the basis of the documents presented pursuant to Article 6. The hearing procedure
shall be conducted pursuant to the requirements of Article 73 paras 3 to 7 of the Act on
Administrative Procedures (Verwaltungsverfahrensgesetz). If the developer alters the
documents required pursuant to Article 6 in the course of the procedures, the public
need not be heard a second time as long as no additional or other significant effects on
the environment are to be feared.
(2) The competent authority shall make available the decision on the approval of the
project and the grounds for decision to those concerned, where names are known, and
those on whose objections a decision was made. If the project is dismissed those
concerned whose names are known and those who made objections shall be informed.
(3) Notwithstanding paras 1 and 2 the public shall be involved in the advance procedure by
1. the project being announced publicly,
2. the documents required pursuant to Article 6 being made available for inspection for
a reasonable period of time,
3. an opportunity being given for the public to express its opinion,
4. the public being informed about the decision.
Involving the public does not constitute legal claims. Pursuit of claims in subsequent
approval procedures shall not be affected.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

26

Article 10 Maintenance of Secrecy and Data Protection


Article 11 Summarised Description of Environmental Impacts
The competent authority shall summarise the projects impacts on the assets worth being
protected which are mentioned in Article 2 para. 1 sentence 2, including ineractions, on the
basis of the documents pursuant to Article 6, the statements made by authorities pursuant to
Articles 7 and 8, as well as on the basis of opinions voiced by the public in line with Article
9. The results of investigations carried out by the competent authority itself shall be
incorporated. The summarising description shall be prepared, if possible, no less than one
month after the consultations during the hearing procedure pursuant to Article 9 para. 1
sentence 2 have been completed. The summarising description may be given with the
grounds for the decision on the projects approval.
Article 12 Assessment of Environmental Impacts and Taking them into Account
during the Resulting Decision-Making
The competent authority shall assess the projects environmental impacts on the basis of the
summarised representation pursuant to Article 11 and shall take into account this
assessment when deciding upon approval of the project with regard to efficient prevention
of environmental damage pursuant to Articles 1, 2 para. 1 sentence 2 and 4 pursuant to the
applicable laws.
Article 13 Provisional Decision (Vorbescheid) and Partial Approvals (Teilzulassungen)
Article 14 Authorisation of a Project by Several Authorities
Article 15 Defining General Routing and Consent for the Development of Airports
Article 16 Regional Planning Procedures and Authorisation Procedures
Article 17 Preparation of Construction Plans
Article 18 Procedures under Mining Law
Article 19 Procedures on the Consolidation of Farmland (Flurbereinigungsverfahren)
Article 20 Administrative Regulations

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

27

UU No. 23/1997

Pencemaran kali Sidoarjo, di lingkungan pencemaran bandingkan dengan UU No. 23 /


1997?

Hal positif dalam legal standing kasus PT Inti?

Pencemaran limbah Singapura?

PT Banyumas Washing Centre, sarana hukuman yang diterapkan (administrasi, perdata,


pidana)?

Lembaga-lembaga yang dapat digunakan dalam menyelesaikan sengketa lingkungan


hidup di luar peradilan kenapa?

Perbedaan hasil Konferensi Stockholm 1972 dan Rio de Janeiro 1992?

Pembangunan berkelanjutan?

AMDAL, kriteria-kriteria untuk menentukan adanya dampak besar dan penting bagi
lingkungan tersebut?

Strict Liability dan Absolute Liability, syarat-syarat penerapan dalam kasus lingkungan
hidup?

Kedudukan manusia dalam ekosistem?

Hubungan masalah-masalah kemiskinan, kependudukan, kerusakan, kebijaksanaan


dengan lingkungan hidup?

Dikotomi lingkungan hidup menurut Prof. Munajat?

Daya dukung lingkungan, daya tampung lingkungan, daya lenting lingkungan dan baku
mutu lingkungan dari ekologi, lingkungan, pencemaran lingkungan dan perusakan
lingkungan?

Pengertian lingkungan hidup dan ekosistem dan istilah-istilahnya?

Pelestarian fungsi lingkungan hidup? Hubungkan dengan menjelaskan tentang daya


tampung, daya dukung dan daya lenting!

Faktor-faktor pertambahan dan perkembangan lingkungan hidup? Sistem hukum


lingkungan nasional yang terbentuk?

Metode pendekatan dalam penyelesaian masalah lingkungan hidup .. pendekatan


secara komprehensif / utuh menyeluruh? (skema)

UU lingkungan hidup No. 22 / 1997 pasal 5 ayat 1. Lingkungan hidup yang sehat, tata
cara pembakaran hutan, tata cara membentuk lingkungan hidup untuk perkebunan
(tidak boleh menggunakan pembakaran), tanggung jawab pasal 35?

Beda perusakan dan pencemaran lingkungan?

Asas-asas hukum yang timbul akibat perusakan lingkungan?

Beda tuntutan dalam pasal 5 ayat 1 dengan pasal 315?

Class action (aspek yuridis), gugatan perwakilan? Sama atau tidak?

Perbedaan kehilangan sumber penghidupan (subsistence use / mata pencaharian) dan


kerugian yang disebabkan terbakarnya kekayaan petani (economic loss)?

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

28

Apa semua LSM bisa jadi pihak dalam sengketa lingkungan?

Maksud think globally act locally?

4 permasalahan dalam hukum lingkungan dan keterkaitan diantaranya?

Perubahan UU No. 23 / 1997 terhadap UU No. 4 / 1982, pertama bagian yang


melatarbelakangi perubahan tersebut?

Hubungan UU lingkungan hidup dan UU lain dalam penerapan masalah lingkungan


hidup?

Hambatan penegakan hukum lingkungan?

Apa yang dimaksud dengan:

Ius stardi

Eco labelling

Audit lingkungan

Strict liability

Syarat-syarat organisasi lingkungan hidup agar dapat menggugat atas nama lingkungan
hidup?

Kedudukan UU lingkungan hidup dalam sistem perundang-undangan nasional dengan


lingkungan hidup?

Pembangunan berwawasan lingkungan bedanya dengan pembangunan konvensional?

Aspek-aspek hukum dalam UU lingkungan hidup?

Ruang lingkup hukum lingkungan:


-

Ruang tempat RI melaksanakan kedaulatannya

Hak berdaulat

Jurisdiksi

Badan hukum lingkungan klasik dan modern?

Akibat hukum jika UU sektoral tidak sesuai dengan UU lingkungan hidup?

. Lingkungan, kenapa beda (misal bukan melawan hukum dalam hukum


lingkungan)?

Kenapa UU lingkungan hidup tahun 1982 disebut sebagai Ketentuan Patung?

Action Plan: Stockholm?

Hubungan kewajiban memelihara lingkungan dengan tanggung jawab mutlak dan


kewajiban bayar ganti rugi BW?

Legal standing?

Penyelesaian sengketa di pengadilan, kenapa penegakan hukumnya dianggap lebih


memungkinkan?

Kenapa, siapa, bentuk substansi tata cara peran suatu masyarakat dalam pengendalian
lingkungan hidup?

Sengketa lingkungan hidup?

Audit lingkungan hidup?

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

29

Hubungan baku mutu lingkungan hidup dengan pengertian pencemaran?

Kewajiban bayar ganti rugi seperti pada pasal 34 dan 35 UU No. 23 / 1997?

CA diterapkan dalam ? Dasar hukum?

Isi dokumen AMDAL? Peranan AMDAL dalam pembangunan?

Pengertian lingkungan hidup sebagai suatu kesatuan ekosistem yang penanganannya


memerlukan pendekatan secara komprehensif integral?

Faktor-faktor penyebab timbulnya masalah lingkungan hidup?

Fungsi dan peran hukum dalam upaya pengelolaan lingkungan hidup?

Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan oleh kalangan hukum dalam upaya untuk
mewujudkan keseimbangan antara manfaat dan resiko pemanfaatan sumber-sumber
kekayaan alam dan lingkungan hidup?

Proses transformasi dari prinsip-prinsip ilmu pengetahuan sampai jadi norma hukum
positif di bidang lingkungan hidup?

Konferensi Stockholm 1972:


Deklarasi tentang lingkungan hidup, rencana aksi lingkungan hidup yang terdiri atas 109
rekomendasi, dan termasuk didalamnya 18 rekomendasi tentang perencanaan dan
pengelolaan pemukiman manusia. Rekomendasi tentang keuangan dan kelembagaan untuk
menunjang pelaksanaan tersebut. Adapun masalah-masalah pokok yang dirumuskan adalah
masalah kependudukan, pencemaran, kemiskinan dan kebijaksanaan.
Konferensi Rio de Janeiro 1992 (KTT Bumi I), hasilnya:
Pembangunan seluruh bumi, dan perlindungan lingkungan serta adanya semangat baru
yang meliputi 3 dimensi, yaitu ekonomi, intelektual dan politik. Kemudian ada rencana
kerja yang disepakati oleh masyarakat luas yang bertujuan untuk mencapai pembangunan
yang berkelanjutan.
Perbedaannya:
1. Stockholm (1972) menekankan pada pembangunan yang berwawasan lingkungan yang
memadukan unsur pembangunan dengan luar lingkungan.
Rio de Janeiro (1972) terjadi perubahan dan perkembangan konsepsi yaitu
pembangunan berkelanjutan, dimana hasil-hasil pembangunan tersebut hanya dinikmati
oleh generasi sekarang tetapi juga oleh generasi yang akan datang.
2. Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang tidak hanya dinikmati oleh
generasi sekarang, tapi juga oleh generasi yang akan datang.
3. AMDAL adalah kajian yang mempunyai dampak besar dan penting stelah usaha dan /
atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan.
Kriteria-kriteria untuk menentukan dampak lingkungan:
a. jumlah manusia yang terkena dampak
b. luas wilayah penyebaran dampak

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

30

c. intensitas dan lamanya dampak berlangsung


d. banyaknya komponen lingkungan lain yang terkena dampak
e. sifat kumulatif dampak
f. berbalik / tidak berbaliknya dampak
4. Strict Liability
Tanggung jawab mutlak / seketika yang dipegang oleh seseorang ketika ia dituduh
melakukan tindakan pencemaran lingkungan, sampai ia dibuktikan bersalah di
pengadilan.
Absolute Liability
Tanggung jawab mutlak yang memang harus dimiliki oleh seseorang baik ia melakukan
kesalahan maupun tidak (liability without fault).
Contoh penerapan:
Kasus banjir di Jakarta tahun 2002 dimana Gubernur Jakarta, Sutiyoso harus
bertanggung jawab terhadap kerugian yang terjadi sampai dibuktikan oleh pengadilan
(dalam sengketa Class Action antara warga DKI Jakarta vs Gubernur DKI Jakarta).
5. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan, cara ini dilakukan karena dianggap oleh para
pihak yang bersengketa merupakan cara paling cepat dan murah untuk menyelesaikan
sengketa dimana akan tercapai win solution.
Cara penyelesaian sengketa di luar pengadilan:
a. Negosiasi
Penyelesaian sengketa secara musyawarah antara para pihak.
b. Konsiliasi
Penyelesaian sengketa dengan menggunakan pihak ketiga (biasanya pemerintah)
dimana komunikasi antara pihak telah tertutup.
c. Mediasi
Penyelesaian sengketa secara musyawarah yang melibatkan pihak ketiga (mediator)
yang independen dan tidak terikat oleh para pihak.
2000
1.
a) Kasus Pembakaran Hutan 1997 di Kalimantan, dengan terdakwa Bob Hasan melakukan
pembakaran hutan sebagai salah satu upaya perluasan lahan yang terkehendaki /
diizinkan oleh pemerintah. Namun pembakaran hutan tersebut menjadi tidak terkendali
dan menyebabkan kebakaran hutan yang merugikan penduduk setempat. Hal ini
dikarenakan pembakaran hutan dilakukan pada musim kemarau panjang dan saat itu
terjadi badai El Nino (gelombang panas), sehingga pembakaran hutan itu menyebar ke
hutan-hutan lainnya. Keputusan hakim menyatakan Bob Hasan kalah. Kasus ini
pertama kalinya hakim mengabulkan permohonan gugatan secara Class Action.
b) Pasal 37 UU Lingkungan Hidup No. 23 Tahun 1997
Perma No. 1 Tahun 2002

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

31

2.
a) Gugatan melalui legal standing diterapkan dalam kasus perusakan lingkungan oleh PT
Indorayon Utama. PT ini dituntut oleh WALHI.
b) Pasal 38 UU Lingkungan Hidup No. 23 Tahun 1997 bahwa organisasi yang berhak
untuk mengajukan gugatan apabila memenuhi persyaratan:
-

berbentuk badan hukum atau yayasan

dalam anggaran dasar orang lingkungan hidup yang bersangkutan menyebutkan


dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk
kepentingan pelestarian lingkungan hidup

telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya

3.
a) Dalam kasus pencemaran Kali Tapak dengan menggunakan metode konsiliasi. Yaitu
mengenai kasus limbah industri oleh 8 pabrik di desa Dukuh Tapak yang menyebabkan
pencemaran darat (pertanian) dan air (saluran air). Penyelesaian kasus ini melibatkan
tim X [yang terdiri atas Bappedal (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan), Pemda
Semarang, YLBHI, LSM dan pengusaha]. Kasus ini hanya diselesaikan dari segi hukum
lingkungan keperdataan.
b) Lihat tahun 2002 no. 5
Dokumen AMDAL terdiri dari:
-

Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL)

Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)

Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)

Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)

Dokumen KA-ANDAL disusun terlebih dahulu untuk menentukan lingkup studi dan
mengidentifikasi isu-isu pokok yang harus diperhatikan dalam penyusunan ANDAL.
Dokumen ini dinilai dihadapan Komisi Penilai ANDAL. Jika telah disetujui isinya,
penyusunan ANDAL, RKL dan RPL barulah dapat dilaksanakan. ANDAL mengkaji
seluruh dampak lingkungan yang diperkirakan akan terjadi, sesuai dengan lingkup yang
telah ditetapkan dalam KA-ANDAL. Rekomendasi pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup untuk mengantisipasi dampak-dampak yang telah dievaluasi dalam
dokumen ANDAL disusun dalam dokumen RKL dan RPL. Ketiga dokumen ini
diajukan bersama-sama untuk dinilai oleh Komisi Penilai ANDAL. Hasil inilah yang
menentukan suatu rencana / kegiatan usaha tersebut layak secara lingkungan atau tidak.
c) Dengan AMDAL:
Sebagai fungsi kontrol bagi para pengusaha dimanapun mereka membangun usaha
mereka dalam rangka menjaga pelestarian lingkungan hidup.
Pertanyaan
1. Perbedaan Konferensi Stockholm 1972 dan Konferensi Rio de Janeiro 1992
Stockholm:

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

32

a. Deklarasi tentang lingkungan hidup terdiri atas preambule dan 26 asas,


b. Rencana aksi lingkungan hidup: 109 rekomendasi,
c. Rekomendasi tentang keseimbangan keuangan untuk menunjang.
Pelaksanaan rencana aksi lingkungan hidup
Rio de Janeiro:
a. Agenda,
b. Konvensi perubahan iklim dan keanekaragaman hayati
2. Pembangunan berkelanjutan menurut UU No. 23 / 1997 pasal 1 angka 3
Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar
dan terencana yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke dalam
proses pembangunan untuk menjadikan kemampuan kesejahteraan dan mutu hidup
generasi masa kini dan generasi masa depan
3. Jelaskan pengetahuan tentang Analisis mengenai Dampak Lingkungan dan sebutkan
kriteria-kriteria untuk menentukan adanya dampak besar dan penting bagi lingkungan
tersebut!
-

Pengertian AMDAL menurut UU No. 23 / 1997 pasal 1 angka 21


Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan
yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan.

Kriteria-kriteria untuk menentukan adanya dampak besar dan penting:


a. kegiatan yang dilakukan tersebut harus dilihat dari luas persebaran dampak
polusi, ex: pendirian pabrik tahu, peternakan sapi;
b. banyaknya manusia yang terkena dampak;
c. intensitas dampak berlangsung;
d. pengenalan jasad renik baru;
e. berbalik / tidak berbaliknya dampak;
f. sifat komunitas dari dampak.

4. Absolute Liability: tanggung jawab mutlak


Strict Liability: tanggung jawab relatif
Penerapan, misalnya:
Negara A membuat satelit yang dipesan negara B. Kemudian satelit itu dilancarkan
negara C kemudian pada peluncuran terjadi kecelakaan, satelitnya meledak sehingga
kepingan-kepingannya menjadi limbah di negara D. Lalu negara D meminta ganti rugi
karena negaranya mengalami pencemaran lingkungan
5. UU No. 23 / 1997 pasal 31
Penyelesaian sengketa diluar pengadilan dilakukan untuk mencapai kesepakatan
mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan / atau mengenai tindakan tertentu guna
menjamin tidak akan terjadinya atau terulangnya dampak negatif terhadap lingkungan.
Cara-cara:

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

33

a. negosiasi penyelesaian sengketa secara musyawarah antara pihak negosiasi. Jika


gagal diajukan adjudikasi privat / publik
b. konsiliasi kedua pihak memilih seseorang (pihak ketiga) dimana komunikasi
antara para pihak telah tertutup, pihak ketiga biasanya pemerintah
c. mediasi perantara
-

pasif hanya sebagai fasilitator / katalisator untuk menjernihkan masalah.


Hanya menyampaikan keinginan para pihak

aktif penyelesai / pemberi solusi

d. arbitrasi pada umumnya dimasukkan ke non litigasi, dalam ajudikasi privat


(arbitrase) hakimnya ditunjuk sendiri oleh para pihak

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005


Campus in Compact Hukum Lingkungan

34