Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN HIDROSEFALUS

A. DEFINISI HIDROSEFALUS
Hidrosefalus adalah

akumulasi

cairan

serebro

spinal

dalam

ventrikelserebral, ruang subarachnoid atau ruang subdural (Suriadi dan


Yuliani, 2014).
Hidrosefalus merupakan keadaan patologis otak yang mengakibatkan
bertmbahnya cairan serebro spinalis tanpa atau pernah dengan tekanan
intracranial yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat
mengalirnya cairan serebro spinal (Ngastiyah,2015).
Hidrosefalus merupakan sindroma klinis yang dicirikan dengan dilatasi
yang progresif pada system ventrikuler cerebral dan kompresi gabungan dari
jaringan jaringan serebral selama produksi CSF berlangsung yang
meningkatkan kecepatan absorbsi oleh vili arachnoid. Akibat berlebihannya
cairan serebrospinalis dan meningkatnya tekanan intrakranial menyebabkan
terjadinya peleburan ruang ruang tempat mengalirnya liquor (Mualim,
2014).

Jenis Hidrosefalus dapat diklasifikasikan menurut:


1. Waktu Pembentukan
a. Hidrosefalus Congenital, yaitu Hidrosefalus yang dialami sejak
dalamkandungan dan berlanjut setelah dilahirkan
b. Hi drosefalus Akuisita, yaitu Hidrosefalus yang terjadi setelah
bayidilahirkan atau terjadi karena faktor lain setelah bayi dilahirkan
(Harsono,2015).
2. Proses Terbentuknya Hidrosefalus
a. Hidrosefalus

Akut,

yaitu

Hidrosefalus

yang

tejadi

secara

mendadak yang diakibatkan oleh gangguan absorbsi CSS (Cairan


Serebrospinal)
b. Hidrosefalus Kronik, yaitu Hidrosefalus yang terjadi setelah
cairanCSS mengalami obstruksi beberapa minggu (Anonim,2013)
3. Sirkulasi Cairan Serebrospinal
a. Communicating, yaitu kondisi Hidrosefalus dimana CSS masih
biaskeluar dari ventrikel namun alirannya tersumbat setelah itu.
b. Non Communicating, yaitu kondis Hidrosefalus dimana
sumbatanaliran CSS yang terjadi disalah satu atau lebih jalur sempit
yangmenghubungkan ventrikel-ventrikel otak (Anonim, 2013).

4. Proses Penyakit

a. Acquired,

yaitu

Hidrosefalus

yang

disebabkan

oleh

infeksi

yangmengenai otak dan jaringan sekitarnya termasuk selaput


pembungkusotak (meninges).
b. Ex-Vacuo, yaitu kerusakan otak yang disebabkan oleh stroke atau
cederatraumatis yang mungkin menyebabkan penyempitan jaringan
otak atauathrophy (Anonim, 2013).

B. ETIOLOGI HIDROSEFALUS
Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran CSS pada salah
satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan
tempat absorbsi dalam ruang subarackhnoid. akibat penyumbatan, terjadi
dilatasi ruangan CSS diatasnya. Penyumbatan aliran CSS sering terdapat pada
bayi dan anak ialah:
1. Kongenital : disebabkan gangguan perkembangan janin dalam rahim,atau
infeksi intrauterine meliputi :
a. Stenosis aquaductus sylvi
b. Spina bifida dan kranium bifida
c. Syndrom Dandy-Walker
d. Kista arakhnoid dan anomali pembuluh darah

2. Didapat : disebabkan oleh infeksi, neoplasma, atau perdarahan


a. Infeksi
Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen. secara
patologis terlihat penebalan jaringan piameter dan arakhnoid sekitar

sisterna basalis dan daerah lain. penyebab lain infeksi adalah


toksoplasmosis.
b. Neoplasma
Hidrosefalus oleh obstruksi mekanik yang dapat terjadi di
setiap tempat aliran CSS. pada anak yang terbanyak menyebabkan
penyumbatan ventrikel IV / akuaduktus sylvii bagian terakhir
biasanya suatu glioma yang berasal dari cerebelum, penyumbatan
bagian depan ventrikel III disebabkan kraniofaringioma.
c. Perdarahan
Perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak, dapat
menyebabkan fibrosis leptomeningfen terutama pada daerah basal
otak, selain penyumbatan yang terjakdi akibat organisasi dari darah
itu sendiri.

C. FISIOLOGI CAIRAN CEREBRO SPINALIS


a.

Pembentukan CSF
Normal CSF diproduksi + 0,35 ml / menit atau 500 ml / hari dengan

demikian

CSF di perbaharui setiap 8 jam. Pada anak dengan hidrosefalus, produksi


CSF ternyata berkurang + 0, 30 / menit. CSF di bentuk oleh PPA;
1.

Plexus choroideus (yang merupakan bagian terbesar

2.

Parenchym otak

3.

Arachnoid

b.

Sirkulasi CSF
Melalui pemeriksaan radio isotop, ternyata CSF mengalir dari tempat

pembentuknya ke tempat ke tempat absorpsinya. CSF mengalir dari II


ventrikel lateralis melalui sepasang foramen Monro ke dalam ventrikel III,
dari sini melalui aquaductus Sylvius menuju ventrikel IV. Melalui satu pasang
foramen Lusckha CSF mengalir cerebello pontine dan cisterna prepontis.
Cairan yang keluar dari foramen Magindie menuju cisterna magna. Dari sini
mengalir kesuperior dalam rongga subarachnoid spinalis dan ke cranial
menuju cisterna infra tentorial.Melalui cisterna di supratentorial dan kedua
hemisfere cortex cerebri. Sirkulasi berakhir di sinus Doramatis di mana
terjadi absorbsi melalui villi arachnoid.

D. PATOFISIOLOGI HIDROSEFALUS
Jika terdapat obstruksi pada system ventrikuler atau pada ruangan
subarachnoid,
ventrikuler

ventrikel

mengkerut

serebral
dan

melebar,

merobek

garis

menyebabkan

permukaan

ependymal. White

mater

dibawahnya akan mengalami atrofi dan tereduksi menjadi pita yang tipis.
Pada gray matter terdapat pemeliharaan yang bersifat selektif, sehingga
walaupun ventrikel telah mengalami pembesaran gray matter tidak
mengalami gangguan. Proses dilatasi itu dapat merupakan proses yang tiba
tiba / akut dan dapat juga selektif tergantung pada kedudukan penyumbatan.
Proses akut itu merupakan kasus emergency. Pada bayi dan anak kecil sutura
kranialnya melipat dan melebar untuk mengakomodasi peningkatan massa

cranial. Jika fontanela anterior tidak tertutup dia tidak akan mengembang dan
terasa tegang pada perabaan.Stenosis aquaductal (Penyakit keluarga /
keturunan yang terpaut seks) menyebabkan titik pelebaran pada ventrikel
lateral dan tengah, pelebaran ini menyebabkan kepala berbentuk khas yaitu
penampakan dahi yang menonjol secara dominan (dominan Frontal blow).
Syndroma dandy walkker akan terjadi jika terjadi obstruksi pada foramina di
luar pada ventrikel IV. Ventrikel ke IV melebar dan fossae posterior menonjol
memenuhi sebagian besar ruang dibawah tentorium. Klein dengan type
hidrosephalus diatas akan mengalami pembesaran cerebrum yang secara
simetris dan wajahnya tampak kecil secara disproporsional.
Pada orang yang lebih tua, sutura cranial telah menutup sehingga
membatasi ekspansi masa otak, sebagai akibatnya menujukkan gejala :
Kenailkan ICP sebelum ventrikjel cerebral menjadi sangat membesar.
Kerusakan dalam absorbsi dan sirkulasi CSF pada hidrosephalus tidak
komplit. CSF melebihi kapasitas normal sistim ventrikel tiap 6 8 jam dan
ketiadaan absorbsi total akan menyebabkankematian.
Pada pelebaran ventrikular menyebabkan robeknya garis ependyma
normal yang pada didning rongga memungkinkan kenaikan absorpsi. Jika
route kolateral cukup untuk mencegah dilatasi ventrikular lebih lanjut maka
akan terjadi keadaan kompensasi.

Pathway HIDROSEFALUS

E. MANIFESTASI KLINIS HIDROSEFALUS


Manifestasi klinis Hidrosefalus dibagi menjadi 2 yaitu : anak dibawah
usia 2 tahun, dan anak diatas usia 2 tahun.
1. Hidrosefalus dibawah usia 2 tahun
a. Sebelum usia 2 tahun yang lebih menonjol adalah pembesaran kepala.
b. Ubun-ubun besar melebar, terba tegang/menonjol dan tidak berdenyut.
c. Dahi nampak melebar dan kulit kepala tipis, tegap mengkilap dengan
pelebaran vena-vena kulit kepala.
d. Tulang tengkorak tipis dengan sutura masih terbuka lebar cracked pot
sign yakni bunyi seperti pot kembang yang retak pada perkusi.
e. Perubahan pada mata.

1. bola mata berotasi kebawah olek karena ada tekanan dan


penipisan tulang supra orbita. Sclera nampak diatas iris, sehingga
2.
3.
4.
5.
6.

iris seakan-akan seperti matahari yang akan terbenam


strabismus divergens
nystagmus
refleks pupil lambat
atropi N II oleh karena kompensi ventrikel pada chiasma optikum
papil edema jarang, mungkin oleh sutura yang masih terbuka.

2. Hydrochepalus pada anak diatas usia 2 tahun.


Yang lebih menonjol disini ialah gejala-gejala peninggian tekanan intra
kranial oleh karena pada usia ini ubun-ubun sudah tertutup
F. KOMPLIKASI HIDROSEFALUS
a. Peningkatan tekanan intrakranial
b. Kerusakan otak
c. Infeksi: septikemia, endokarditis, infeksiluka, nefritis, meningitis,
ventrikulitis, obses otak.
d. Shunt tidak berfungsi dengan baik akibat obstruksi mekanik.
e. Hematomi subdural, peritonitis,adses abdomen, perporasi organ dalam
rongga abdomen,fistula,hernia, dan ileus.
f. Kematian

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG HIDROSEFALUS


1. Pemeriksaan fisik:
a. Pengukuran lingkaran kepala secara berkala. Pengukuran ini penting
untuk melihat pembesaran kepala yang progresif atau lebih dari
normal
b. Transiluminasi
2. Pemeriksaan darah:
a. Tidak ada pemeriksaan darah khusus untuk hidrosefalus
3. Pemeriksaan cairan serebrospinal:

a. Analisa cairan serebrospinal pada hidrosefalus akibat perdarahan


atau meningitis untuk mengetahui kadar protein dan menyingkirkan
kemungkinan ada infeksi sisa

4. Pemeriksaan radiologi:
a. X-foto kepala: tampak kranium yang membesar atau sutura yang
melebar.
b. USG kepala: dilakukan bila ubun-ubun besar belum menutup.
c. CT Scan kepala: untuk mengetahui adanya pelebaran ventrikel dan
sekaligus mengevaluasi struktur-struktur intraserebral lainnya
H. PENTALAKSANAAN MEDIS HIDROSEFALUS
1. Pencegahan
Untuk mencegah timbulnya kelainan genetic perlu dilakukan penyuluhan
genetic, penerangan keluarga berencana serta menghindari perkawinan
antar keluarga dekat. Proses persalinan/kelahirandiusahakan dalam batasbatas fisiologik untuk menghindari trauma kepala bayi. Tindakan
pembedahan Caesar suatu saat lebih dipilih dari pada menanggung resiko
cedera kepala bayi sewaktu lahir.
2. Terapi Medikamentosa
Hidrosefalus dewngan progresivitas rendah dan tanpa obstruksi pada
umumnya tidak memerlukan tindakan operasi. Dapat diberi asetazolamid
dengan dosis 25 50 mg/kg BB. Pada keadaan akut dapat diberikan
menitol. Diuretika dan kortikosteroid dapat diberikan meskipun hasilnya
kurang memuaskan. Pembarian diamox atau furocemide juga dapat

diberikan. Tanpa pengobatan pada kasus didapat dapat sembuh spontan


40 50 % kasus.
3. Pembedahan :
Tujuannya untuk memperbaiki tempat produksi LCS dengan tempat
absorbsi. Misalnya Cysternostomy pada stenosis aquadustus. Dengan
pembedahan juga dapat mengeluarkan LCS kedalam rongga cranial yang
disebut :
a. Ventrikulo Peritorial Shunt
b. Ventrikulo Adrial Shunt
Untuk pemasangan shunt yang penting adalajh memberikan pengertian
pada keluarga mengenai penyakit dan alat-alat yang harus disiapkan
(misalnya

kateter

shunt

obat-obatan

darah)

yang

biasanya

membutuhkan biaya besar.


Pemasangan pintasan dilakukan untuk mengalirkan cairan serebrospinal
dari ventrikel otak ke atrium kanan atau ke rongga peritoneum yaitu
pi8ntasan ventrikuloatrial atau ventrikuloperitonial.
Pintasan terbuat dari bahan bahansilikon khusus, yang tidak menimbulkan
raksi radang atau penolakan, sehingga dapat ditinggalkan di dalam yubuh
untuk selamanya. Penyulit terjadi pada 40-50%, terutama berupa infeksi,
obstruksi, atau dislokasi.
4. Terapi
Pada dasarnya ada 3 prinsip dalam pengobatan hidrosefalus, yaitu :
a) mengurangi produksi CSS

b) Mempengaruhi hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat


absorbsi
c) Pengeluaran likuor ( CSS ) kedalam organ ekstrakranial.
Penanganan hidrosefalus juga dapat dibagi menjadi :
1. Penanganan sementara
Terapi konservatif medikamentosa ditujukan untuk membatasi evolusi
hidrosefalus melalui upaya mengurangi sekresi cairan dari pleksus
khoroid atau upaya meningkatkan resorbsinya.
2. Penanganan alternatif ( selain shunting )
Misalnya : pengontrolan kasus yang mengalami intoksikasi vitamin A,
reseksi radikal lesi massa yang mengganggu aliran likuor atau
perbaikan suatu malformasi. saat ini cara terbaik untuk malakukan
perforasi dasar ventrikel dasar ventrikel III adalah dengan teknik bedah
endoskopik.
3. Operasi pemasangan pintas ( shunting )
Operasi pintas bertujuan mambuat saluran baru antara aliran likuor
dengan kavitas drainase. pada anak-anak lokasi drainase yang terpilih
adalah rongga peritoneum. baisanya cairan ceebrospinalis didrainase
dari ventrikel, namun kadang ada hidrosefalus komunikans ada yang
didrain rongga subarakhnoid lumbar. Ada 2 hal yang perlu
diperhatikan pada periode pasca operasi, yaitu pemeliharaan luka kulit
terhadap kontaminasi infeksi dan pemantauan. kelancaran dan fungsi
alat shunt yang dipasang. infeksi pada shunt meningkatkan resiko akan
kerusakan intelektual, lokulasi ventrikel dan bahkan kematian.

Bagan 1

ASUHAN KEPERAWATAN HIDROSEFALUS


A.
1.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN HIDROSEFALUS


Anamnesa
a. Riwayat penyakit/keluhan utama muntah, gelisah nyeri kepala, lethargi,
lelah apatis, penglihatan ganda, perubahan pupil, kontriksi penglihatan
perifer.
b. Riwayat Perkembangan Kelahiran : prematur. Lahir dengan pertolongan,
pada waktu lahir menangis keras atau tidak. Kekejangan : Mulut dan

perubahan tingkah laku. Apakah pernah terjatuh dengan kepala terbentur.


Keluhan sakit perut.
2.

Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi :
1. Anak dapat melihat keatas atau tidak.
2. Pembesaran kepala.
3. Dahi menonjol dan mengkilat. Sertas pembuluh dara terlihat jelas.
b. Palpasi
1. Ukur lingkar kepala : Kepala semakin membesar.
2. Fontanela : Keterlamabatan penutupan fontanela anterior sehingga
fontanela tegang, keras dan sedikit tinggi dari permukaan tengkorak.
c. Pemeriksaan Mata
1. Akomodasi
2. Gerakan bola mata.
3. Luas lapang pandang
4. Konvergensi.
5. Didapatkan hasil : alis mata dan bulu mata keatas, tidak bisa melihat
keatas.
6. Stabismus, nystaqmus, atropi optic.

3.

Observasi Tanda-Tanda Vital


Didapatkan data data sebagai berikut :
a. Peningkatan sistole tekanan darah.
b. Penurunan nadi / Bradicardia.
c. Peningkatan frekwensi pernapasan.

4.

Diagnosa Klinis
Transimulasi kepala bayi yang akan menunjukkan tahap dan lokalisasi
dari pengumpulan cairan banormal. ( Transsimulasi terang )
a. Perkusi tengkorak kepala bayi akan menghasilkan bunyi Crakedpot
(Mercewens Sign
b. Opthalmoscopy : Edema Pupil.
c. CT Scan Memperlihatkan (non invasive) type hidrocephalus dengan
nalisisi komputer.

d. Radiologi : Ditemukan Pelebaran sutura, erosi tulang intra cranial.

B.

DIAGNOSA KEPERAWATAN HIDROSEFALUS


1. Resiko cidera b.d ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan,
ketidakmampuan mengambil keputusan, ketidakmampuan melakukan
perawatan

sederhana,

ketidak

mampuan

menciptakan

lingkungan

kondusif, ketidakmampuan memanfaatkan fasilitas kesehatan.


2. Resiko gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan b.d
ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan, ketidakmampuan
mengambil keputusan, ketidakmampuan melakukan perawatan sederhana,
ketidak mampuan menciptakan lingkungan kondusif, ketidakmampuan
memanfaatkan fasilitas kesehatan.

C. RENCANA KEPERAWATAN HIDROSEFALUS


NO DIAGNOSA
NOC
NIC
KEPERAWATAN
1.
Resiko cidera
Setelah
dilakukan 1. Kendalikan lingkungan dengan :
kunjungan
diharapkan
mampu
lingkungan

selama

3x Menyingkirkan bahaya yang tampak

keluarga jelas,

mengurangi

potensial

cedera

menciptakan akibat jatuh ketika tidur misalnya


kondusif menggunakan penyanggah tempat tidur,

dengan kriteria hasil:

usahakan posisi tempat tidur rendah,

Keselamatan fisik dapat gunakan


dipertahankan
Adanya

pencahayaan

malam

hari

siapkan lampu panggil

pelindung

dan 2. Jelaskan pada keluarga pentingnya

alat bantu untuk klien

keselamatan

pada

anak

dan

cara

pencegahan untuk cidera.


3. Anjurkan

pada

keluarga

untuk

mengawasi segala aktifitas klien yang


membahayakan keselamatan.
2.

Resiko

gangguan Setelah

nutrisi

dari

kebutuhan diharapkan

tubuh

kurang kunjungan

mampu
perawatan

4. Beri alat bantu misal:tongkat


dilakukan 1. Berikan makanan lunak
selama

tinggi

3x kalori tinggi protein.

keluarga 2.

Berikan klien makan dengan posisi

melakukan semi fowler dan berikan waktu yang


sederhana cukup untuk menelan.

dirumah dengan kriteria 3.


hasil:

Ciptakan suasana lingkungan yang

nyaman dan terhindar dari bau bauan

Berat badan ideal

yang tidak enak..

Tidak muntah

4.

Timbang berat badan bila mungkin.

Tidak

terjadi 5.

Jagalah kebersihan mulut ( Oral

malnutrisi

hygiene)
6.

Berikan makanan ringan diantara

waktu makan
7.

Beri

penjelasan

pada

keluarga

tentang makanan yang baik dikonsumsi

4.

Perubahan

anak
dilakukan 1. Jelaskan

fungsi Setelah

keluarga b.d situasi kunjungan

selama

krisis ( anak dalam diharapkan


catat fisik )

secara

rinci

tentang

3x kondisi penderita, prosedur, terapi dan

Keluarga prognosanya.

menerima

keadaan 2.

anaknya,

mampu perlu dengan contoh bila keluarga

menjelaskan

keadaan belum mengerti

penderita dengan kriteria 3.


hasil:

Klarifikasi kesalahan asumsi dan

misskonsepsi
Keluarga

berpartisipasi
merawat

anaknya

4.

keluarga

dan

dapat

mengerti tentang penyakit


anaknya.

Berikan

dalam untuk bertanya.

secra verbal

Ulangi penjelasan tersebut bila

kesempatan

keluarga

DAFTAR PUSTAKA

Mc Closky & Bulechek. (2015). Nursing Intervention Classification (NIC).


United States of America:Mosby.
Meidian, JM. (2015). Nursing Outcomes Classification (NOC).United States of
America:Mosby.
Mualim. 2013. Askep Hidrosefalus. Diakses pada tanggal tanggal 09 Februari
2016 http://mualimrezki.blogspot.com/2010/12/askep-hydrocephalus.html
Nursalam. 2015. Asuhan Keperawatan BAyi dan Anak (untuk perawat dan bidan).
Jakarta: Salemba Medika.
Price,Sylvia

Anderson.

2015. Patofisiologi;Konsep

klinis

proses-proses

penyakit,Jakarta;EGC.
Riyadi. 2009. Asuhan Keperawatan pada Anak. Yogyakarta: Graha Ilmu
Saharso. 2014. Hydrocephalus. Diakses pada tanggal 09 Februari 2016
http://www.pediatrik.com/isi03.php?
page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=061214sykj201.htm
Vanneste JA. Diagnosis and management of normal-pressure hydrocephalus. J.
Neurol, 2014 ; 247 : 5-14.