Anda di halaman 1dari 26

f\LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN PERSALINAN NORMAL

ANATOMI FISIOLOGI PADA SAAT KEHAMILAN


1.
Uterus
Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah pengaruh estrogen dan
progesteron.
Pembesaran disebabkan oleh:
1.
2.
3.

Peningkatan vaskularisasi dan dilatasi pembuluh darah,


Hiperplasia dan hipertrofi,
Perkembangan desidua.

Uterus bertambah berat sekitar 70-1100 gram selama kehamilan. Ukuran


uterus mencapai umur kehamilan aterm adalah 30 x 25 x 20 cm dengan kapasitas >
4000

cc. Perubahanbentuk

pertama uterus berbentuk

dan

seperti

posisi uterus antara


alpukat,

bulan

lain:
berbentuk

bulan
bulat,

akhir kehamilan berbentuk bujur telur. Rahim yang tidak hamil/rahim normal sebesar
telur ayam, pada umur 2 bulan kehamilan sebesar telur bebek dan umur 3
bulan kehamilan sebesar telur angsa.
Selama kehamilan,

dinding-dinding otot rahim menjadi

elastis. Fundus padaservik mudah fleksi

disebut tanda Mc

kuat

dan

Donald. Korpus

uteri dan servik melunak dan membesar pasca umur kehailan minggu ke 8 yang
disebut tanda Hegar. Sedangkan posisirahim pada awal kehamilan adalah antefleksi
atau retrofleksi,

pada

umur kehamilan 4

bulan kehamilan rahim berada

dalam

rongga pelvis dan setelahnya memasuki ronggaperut

2.

Serviks Uteri
Jaringan ikat pada servik (banyak mengandung kolagen) lebih banyak dari

jaringan otot yang hanya 10 %. Estrogen meningkat, bertambah hipervaskularisasi


serta meningkatnya suplai darah maka konsistensi servik menjadi lunak atau disebut
tanda Goodell.Peningkatan aliran darah uterus dan limpe mengakibatkan kongesti
panggul dan oedema. Sehingga uterus , servik dan ithmus melunak secara progressif
dan servik menjadi kebiruan. Pada post partum servik menjadi berlipat-lipat dan
tidak menutup.

3.
Vagina dan vulva
Hipervaskularisasi pada vagina dann vulva mengakibatkan lebih merah, kebirubiruan (livide) yang disebut tanda Chadwick. Warna portio tampak livide. Selama
hamil pH sekresi vagina menjadi lebih asam, keasaman berubah dari 4 menjadi 6,5.
Rentan terhadap infeksi jamur
.
4.
Ovarium
Sampai kehamilan 16 mg masih terdapat korpus luteum graviditas dengan diameter 3
cm yang memproduksi estrogen & progesteron. Lebih dari 16 mg plasenta sudah
terbentuk dan korpus luteum mengecil, sehingga produksi estrogen dan progesteron
digantikan oleh plasenta.

PAYUDARA

Mammae akan membesar dan tegang akibat hormon somatomamotropin, estrogen


dan progesteron tapi belum mengeluarkan ASI. Sommatomamotropin mempengaruhi
sel-sel asinus dan menimbulkan perubahan dalam sel-sel sehingga terjadi pembuatan
kasein, laktalbumun, dan laktoglobulin sehingga mammae dipersiapkan untuk laktasi.
Hiperpigmentasi pada areolla (menjadi lebih hitam dan tegang). Terdapat tuberkel
montgomery (hipertropi kelenjar sebasea/lemak yang muncul di areola primer.
Peningkatan suplai darah membuat pembuluh darah di bawah kulit berdilatasi.

B. PERSALINAN NORMAL

1. DEFINISI
Persalinan adalah suatu proses yang dialami, peristiwa normal, namun apabila
tidak dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi abnormal (Mufdillah &
Hidayat, 2008).
Persalinan adalah suatu proses terjadinya pengeluaran bayi yang cukup bulan
atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput
janin dari tubuh ibu (Mitayani, 2009).
Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi
belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada
ibu maupun pada janin (Prawirohardjo, 2006).
2. SEBAB-SEBAB PERSALINAN
Penyebab persalinan belum pasti
menghubungkan

dengan

faktor

diketahui,namun
hormonal,struktur

beberapa

teori

rahim,sirkulasi

rahim,pengaruh tekanan pada saraf dan nutrisi (Hafifah, 2011).


a. Teori penurunan hormone
1-2 minggu sebelum partus mulai, terjadi penurunan hormone
progesterone dan estrogen. Fungsi progesterone sebagai penenang otot
otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah
sehingga timbul his bila progesterone turun.
b. Teori placenta menjadi tua
Turunnya kadar hormone estrogen dan progesterone menyebabkan
kekejangan pembuluh darah yang menimbulkan kontraksi rahim.
c. Teori distensi Rahim

Rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan iskemik otototot rahim sehingga mengganggu sirkulasi utero-plasenta.
d. Teori iritasi mekanik
Di belakang servik terlihat ganglion servikale(fleksus franterrhauss). Bila
ganglion ini digeser dan di tekan misalnya oleh kepala janin akan timbul
kontraksi uterus.
e. Induksi partus
Dapat pula ditimbulkan dengan jalan gagang laminaria yang dimasukan
dalam

kanalis

servikalis

dengan

tujuan

merangsang

pleksus

frankenhauser, amniotomi pemecahan ketuban), oksitosin drip yaitu


pemberian oksitosin menurut tetesan perinfus.

3. PATOFISIOLOGI

Kehamilan 37-42 mgg

Tanda tanda
infartu
Proses persalinan

Kala
I

Kala
II

Kontraksi
uterus partum

Kala
III

PROSES
PENGELUARAN
JANIN
NYERI

Pelepasan
plasenta
Kerusakan
integritas

jaringan

nyer
i
ansieta
s

Kala
IV

Resiko Ruptur
perinium /
jalan lahir

Terlalu
lama
(>30

Post partum

kelelaha
n
Anggota
baru

Resiko
perdarahan
Kekurangan cairan
dalam tubuh

Resiko kerusakan
integritas
integritas jarinag

Perubahan
ikatan
anggota

4. TANDA-TANDA MULAINYA PERSALINAN


Tanda-tanda permulaan persalinan adalah Lightening atau settling atau
dropping yang merupakan kepala turun memasuki pintu atas panggul
terutama pada primigravida. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
Perasaan sering-sering atau susah buang air kecil karena kandung kemih
tertekan oleh bagian terbawah janin. Perasaan sakit diperut dan dipinggang
oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah diuterus (fase labor pains). Servik
menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah bisa bercampur
darah (bloody show) (Haffieva, 2011).
Tanda-Tanda In Partu :
a. Rasa sakit oleh adanya his yang dating lebih kuat, sering dan teratur.

b. Keluar lendir dan bercampur darah yang lebih banyak, robekan kecil
pada bagian servik.
c. Kadang-kadang ketuban pecah
d. Pada pemeriksaan daam, servik mendatar.

5. FAKTOR PERSALINAN
a. Passage (Jalan Lahir)
Merupakan jalan lahir yang harus dilewati oleh janin terdiri dari rongga
panggul, dasar panggul, serviks dan vagina. Syarat agar janin dan
plasenta dapat melalui jalan lahir tanpa ada rintangan, maka jalan lahir
tersebut harus normal. Passage terdiri dari:
1). Bagian keras tulang-tulang panggul (rangka panggul)
a). Os. Coxae
-

Os illium

Os. Ischium

Os. Pubis

b). Os. Sacrum = promotorium


c). Os. Coccygis
2). Bagian lunak : otot-otot, jaringan dan ligamen-ligamen
Pintu Panggul
a)

Pintu atas panggul (PAP) = Disebut Inlet dibatasi oleh

promontorium, linea inominata dan pinggir atas symphisis.


b) Ruang tengah panggul (RTP) kira-kira pada spina ischiadica,
c)

disebut midlet.
Pintu Bawah Panggul (PBP) dibatasi simfisis dan arkus pubis,

d)

disebut outlet.
Ruang panggul yang sebenarnya (pelvis cavity) berada antara
inlet dan outlet.

Bidang-bidang:
a)

Bidang Hodge I : dibentuk pada lingkaran PAP dengan bagian

b)

atas symphisis dan promontorium.


Bidang Hodge II : sejajar dengan Hodge I setinggi pinggir

c)

bawah symphisis.
Bidang Hodge III : sejajar Hodge I dan II setinggi spina

d)

ischiadika kanan dan kiri.


Bidang Hodge IV : sejajar Hodge I, II dan III setinggi os
coccygis

b. Power
Power adalah kekuatan atau tenaga untuk melahirkan yang terdiri dari
his atau kontraksi uterus dan tenaga meneran dari ibu. Power merupakan
tenaga primer atau kekuatan utama yang dihasilkan oleh adanya
kontraksi dan retraksi otot-otot rahim.
Kekuatan yang mendorong janin keluar (power) terdiri dari:
1) His (kontraksi otot uterus)
Adalah kontraksi uterus karena otot otot polos rahim bekerja
dengan baik dan

sempurna. Pada waktu kontraksi otot otot

rahim menguncup sehingga menjadi tebal dan lebih pendek.


Kavum uteri menjadi lebih kecil serta mendorong janin dan
kantung amneon ke arah segmen bawah rahim dan serviks.
2) Kontraksi otot-otot dinding perut
3) Kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan
4) Ketegangan dan ligmentous action terutama ligamentum
rotundum.
Kontraksi uterus/His yang normal karena otot-otot polos rahim bekerja
dengan baik dan sempurna mempunyai sifat-sifat:
1) Kontraksi simetris
2) Fundus dominan
3) Relaksasi
4) Involuntir : terjadi di luar kehendak
5) Intermitten : terjadi secara berkala (berselang-seling).
6) Terasa sakit
7) Terkoordinasi
8) Kadang dapat dipengaruhi dari luar secara fisik, kimia dan psikis
Perubahan-perubahan akibat his:
1) Pada uterus dan servik, Uterus teraba keras/padat karena
kontraksi. Tekanan hidrostatis air ketuban dan tekanan intrauterin
naik serta menyebabkan serviks menjadi mendatar (effacement)
dan terbuka (dilatasi).
2) Pada ibu Rasa nyeri karena iskemia rahim dan kontraksi rahim.
Juga ada kenaikan nadi dan tekanan darah.
3) Pada janin Pertukaran oksigen pada sirkulasi utero-plasenter
kurang, maka timbul hipoksia janin. Denyut jantung janin
melambat (bradikardi) dan kurang jelas didengar karena adanya
iskemia fisiologis.
Dalam melakukan observasi pada ibu ibu bersalin hal hal yang
harus diperhatikan dari his:
1) Frekuensi his Jumlah his dalam waktu tertentu biasanya permenit
atau persepuluh menit.
2) Intensitas his Kekuatan his diukurr dalam mmHg. intensitas dan
frekuensi kontraksi uterus bervariasi selama persalinan, semakin

meningkat waktu persalinan semakin maju. Telah diketahui bahwa


aktifitas uterus bertambah besar jika wanita tersebut berjalan
jalan sewaktu persalinan masih dini.
3) Durasi atau lama his Lamanya setiap his berlangsung diukur
dengan detik, misalnya selama 40 detik.
4) Datangnya his Apakah datangnya sering, teratur atau tidak.
5) Interval Jarak antara his satu dengan his berikutnya, misalnya his
datang tiap 2 sampe 3 menit.
6) Aktivitas his Frekuensi x

amplitudo

diukur

dengan

unit

Montevideo.
His Palsu
His palsu adalah kontraksi uterus yang tidak efisien atau spasme usus,
kandung kencing dan otot-otot dinding perut yang terasa nyeri. His
palsu timbul beberapa hari sampai satu bulan sebelum kehamilan
cukup bulan. His palsu dapat merugikan yaitu dengan membuat lelah
pasien sehingga pada waktu persalinan sungguhan mulai pasien
berada dalam kondisi yang jelek, baik fisik maupun mental.
Kelainan kontraksi Otot Rahim
a) Inertia Uteri
1) His yang sifatnya lemah, pendek dan jarang dari his yang
normal yang

terbagi menjadi: Inertia uteri primer: apabila

sejak semula kekuatannya sudah lemah.


2) Inertia uteri sekunder: His pernah cukup kuat tapi kemudian
melemah. Dapat ditegakkan dengan melakukan evaluasi pada
pembukaan, bagian terendah terdapat kaput dan mungkin
ketuban telah pecah. His yang lemah dapat menimbulkan
bahaya terhadap ibu maupun janin sehingga memerlukan
konsultasi atau merujuk penderita ke rumah sakit, puskesmas
atau ke dokter spesialis.
b) Tetania uteri
His yang terlalu kuat dan terlalu sering, sehingga tidak terdapat
kesempatan reaksi otot rahim. Akibat dari tetania uteri dapat
terjadi :
1) Persalinan Presipitatus
2) Persalinan yang berlangsung dalam waktu tiga jam. Akibat

mungkin fatal

3) Terjadi persalinan tidak pada tempatnya


-

Terjadi trauma janin, karena tidak terdapat persiapan


dalam persalinan.

Trauma jalan lahir ibu yang luas dan menimbulkan


perdarahan inversion uteri.

Tetania uteri menyebabkan asfiksia intra uterin sampai


kematian janin dalam Rahim.

c) Inkoordinasi otot Rahim


Keadaan Inkoordinasi kontraksi otot rahim dapat menyebabkan
sulitnya

kekuatan

otot

rahim

untuk

dapat

meningkatkan

pembukaan atau pengeluaran janin dari dalam rahim. Penyebab


inkoordinasi kontraksi otot rahim adalah:
1)

Faktor usia penderita elative tua

2)

Pimpinan persalinan

3)

Karena induksi persalinan dengan oksitosin

4)

Rasa takut dan cemas

c. Passanger
Passanger terdiri dari janin dan plasentaa. Janin merupakan passangge
utama dan bagian janin yang paling penting adalah kepala karena bagian
yang paling besar dan keras dari janin adalah kepala janin. Posisi dan
besar kepala dapat mempengaruhi jalan persalinan.
Kelainan kelainan yang sering menghambat dari pihak passangger
adalah kelainan ukuran dan bentuk kepala anak seperti hydrocephalus
ataupun anencephalus, kelainan letak seperti letak muka atau pun letak
dahi, kelainan kedudukan anak seperti kedudukan lintang atau letak
sungsang.
d. Psikis (Psikologis)
Perasaan positif berupa kelegaan hati, seolah-olah pada saat itulah benarbenar terjadi realitas kewanitaan sejati yaitu munculnya rasa bangga
bias melahirkan atau memproduksi anaknya. Mereka seolah-olah
mendapatkan kepastian bahwa kehamilan yang semula dianggap sebagai
suatu keadaan yang belum pasti sekarang menjadi hal yang nyata.

Psikologis meliputi:
1) Melibatkan psikologis ibu, emosi dan persiapan intelektual
2) Pengalaman bayi sebelumnya
3) Kebiasaan adat
4) Dukungan dari orang terdekat pada kehidupan ibu
Sikap negatif terhadap peralinan dipengaruhi oleh:
1) Persalinan sebagai ancaman terhadap keamanan
2) Persalinan sebagai ancaman pada self-image
3) Medikasi persalinan
4) Nyeri persalinan dan kelahiran
e. Penolong
Peran dari penolong persalinan dalam hal ini Bidan adalah mengantisipasi
dan menangani komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan janin.
Proses tergantung dari kemampuan skill dan kesiapan penolong dalam
menghadapi proses persalinan.
6. KALA PERSALINAN
Persalinan dibagi dalam empat kala menurut Prawirohardjo (2006) yaitu:
a. Kala I (kala pembukaan)
In partu (partu mulai) ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah,
servik mulai membuka dan mendatar, darah berasal dari pecahnya
pembuluh darah kapiler, kanalis servikalis.
Kala pembukaan dibagi menjadi 2 fase:
a) Fase laten
Pembukaan

servik

berlangsung

lambat,

sampai

pembukaan

berlangsung 8-12 jam.


b) Fase aktif
Berlangsung selama 6-8 jam dibagi atas 3 sub fase:
a) Periode akselerasi : berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4
cm.
b) Periode dilatasi maksimal (steady) selama 2 jam, pembukaan
berlangsung 2 jam, cepat menjadi 9 cm.
c) Periode deselerasi berlangsung lambat dalam waktu 2 jam
pembukaan menjadi 10 cm.

10

Akhir kala I servik mengalami dilatasi penuh, uterus servik dan vagina
menjadi saluran yang continue, selaput amnio ruptur, kontraksi uterus
kuat tiap 2-3 menit selama 50-60 detik untuk setiap kontraksi, kepala
janin turun ke pelvis.
b. Kala II (pengeluaran janin)
His terkoordinir cepat dan lebih lama, kira-kira 2-3 menit sekali, kepala
janin telah turun dan masuk ruang panggul, sehingga terjadilah tekanan
pada otot-otot dasar panggul yang secara reflek menimbulkan rasa ngedan
karena tekanan pada rectum sehingga merasa seperti BAB dengan tanda
anus membuka. Pada waktu his kepala janin mulai kelihatan, vulva
membuka dan perineum meregang. Dengan his mengedan yang terpimpin
akan lahir dan diikuti oleh seluruh badan janin. Kala II pada primi 1.5-2
jam, pada multi 0.5 jam.
Mekanisme persalinan:
Janin dengan presentasi belakang kepala, ditemukan hampir sekitar 95 %
dari semua kehamilan.Presentasi janin paling umum dipastikan dengan
palpasi abdomen dan kadangkala diperkuat sebelum atau pada saat awal
persalinan dengan pemeriksaan vagina (toucher). Pada kebanyakan kasus,
presentasi belakang kepala masuk dalampintu atas panggul dengan sutura
sagitalis melintang. Oleh karena itu kita uraikan dulu mekanisme
persalinan dalam presentasi belakang kepala dengan posisi ubun-ubun
kecil melintang dan anterior.
Karena panggul mempunyai bentuk yang tertentu , sedangkan ukuranukuran kepala bayi hampir sama besarnya dengan dengan ukuran dalam
panggul, maka jelas bahwa kepala harus menyesuaikan diri dengan
bentuk panggul mulai dari pintu atas panggul, ke bidang tengah panggul
dan pada pintu bawah panggul, supaya anak dapat lahir. Misalnya saja
jika sutura sagitalis dalam arah muka belakang pada pintu atas panggul,
maka hal ini akan mempersulit persalinan, karena diameter antero
posterior adalah ukuran yang terkecil dari pintu atas panggul. Sebaliknya
pada pintu bawah panggul, sutura sagitalis dalam jurusan muka belakang

11

yang menguntungkan karena ukuran terpanjang pada pintu bawah


panggul ialah diameter antero posterior.
Gerakan-gerakan utama dari mekanisme persalinan adalah:
1)

Penurunan kepala.

2)

Fleksi.

3)

Rotasi dalam ( putaran paksi dalam)

4)

Ekstensi.

5)

Ekspulsi.

6)

Rotasi luar ( putaran paksi luar)

Dalam kenyataannya beberapa gerakan terjadi bersamaan, akan tetapi


untuk lebih jelasnya akan dibicarakan gerakan itu satu persatu.
1)

Penurunan Kepala.
Pada primigravida, masuknya kepala ke dalam pintu atas panggul
biasanya sudah terjadi pada bulan terakhir dari kehamilan, tetapi
pada multigravida biasanya baru terjadi pada permulaan persalinan.
Masuknya kepala ke dalam PAP, biasanya dengan sutura sagitalis
melintang dan dengan fleksi yang ringan. Masuknya kepala
melewati pintu atas panggul (PAP), dapat dalam keadaan
asinklitismus yaitu bila sutura sagitalis terdapat di tengah-tengah
jalan lahir tepat di antara simpisis dan promontorium.
Pada sinklitismus os parietal depan dan belakang sama tingginya.
Jika sutura sagitalis agak ke depan mendekati simpisis atau agak
ke belakang mendekati promontorium, maka dikatakan kepala
dalam keadaan asinklitismus, ada 2 jenis asinklitismus yaitu:
-

Asinklitismus posterior:

Bila sutura sagitalis mendekati

simpisis dan os parietal belakang lebih rendah dari os parietal


depan.
-

Asinklitismus anterior:

Bila sutura sagitalis mendekati

promontorium sehingga os parietal depan lebih rendah dari os


parietal belakang.
Derajat sedang asinklitismus pasti terjadi pada persalinan normal,
tetapi kalau berat gerakan ini dapat menimbulkan disproporsi
sepalopelvik dengan panggul yang berukuran normal sekalipun.

12

Penurunan kepala lebih lanjut terjadi pada kala I dan kala II


persalinan. Hal ini disebabkan karena adanya kontraksi dan retraksi
dari segmen atas rahim, yang menyebabkan tekanan langsung
fundus pada bokong janin. Dalam waktu yang bersamaan terjadi
relaksasi dari segmen bawah rahim, sehingga terjadi penipisan dan
dilatasi servik. Keadaan ini menyebabkan bayi terdorong ke dalam
jalan lahir. Penurunan kepala ini juga disebabkan karena tekanan
cairan intra uterine, kekuatan mengejan atau adanya kontraksi otototot abdomen dan melurusnya badan anak.
-

Sutura sagitalis terdapat di tengah-tengah jalan lahir tepat di


antara simpisis dan promontorium.

Sutura sagitalis mendekati simpisis dan os parietal belakang


lebih rendah dari os parietal depan.

Sutura sagitalis mendekati promontorium sehingga os parietal


depan lebih rendah dari os parietal belakang

2)

Fleksi
Pada awal persalinan, kepala bayi dalam keadaan fleksi yang
ringan. Dengan majunya kepala biasanya fleksi juga bertambah.
Pada pergerakan ini dagu dibawa lebih dekat ke arah dada janin
sehingga ubun-ubun kecil lebih rendah dari ubun-ubun besar hal ini
disebabkan karena adanya tahanan dari dinding seviks, dinding
pelvis dan lantai pelvis. Dengan adanya fleksi, diameter
suboccipito

bregmatika

(9,5

cm)

menggantikan

diameter

suboccipito frontalis (11 cm). sampai di dasar panggul, biasanya


kepala janin berada dalam keadaan fleksi maksimal.

3) Rotasi Dalam (Putaran Paksi Dalam)


Putaran paksi dalam adalah pemutaran dari bagian depan
sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian depan janin
memutar ke depan ke bawah simpisis. Pada presentasi belakang
kepala bagian yang terendah ialah daerah ubun-ubun kecil dan
bagian inilah yang akan memutar ke depan kearah simpisis. Rotasi

13

dalam penting untuk menyelesaikan persalinan, karena rotasi dalam


merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan posisi kepala dengan
bentuk jalan lahir khususnya bidang tengah dan pintu bawah
panggul.
4)

Ekstensi
Sesudah kepala janin sampai di dasar panggul dan ubun-ubun kecil
berada di bawah simpisis, maka terjadilah ekstensi dari kepala
janin. Hal ini di sebabkan karena sumbu jalan lahir pada pintu
bawah panggul mengarah ke depan dan ke atas sehingga kepala
harus mengadakan fleksi untuk melewatinya. Kalau kepala yang
fleksi penuh pada waktu mencapai dasar panggul tidak melakukan
ekstensi maka kepala akan tertekan pada perineum dan dapat
menembusnya.
Subocciput yang tertahan pada pinggir bawah simpisis akan
menjadi pusat pemutaran (hypomochlion), maka lahirlah berturutturut pada pinggir atas perineum: ubun-ubun besar, dahi, hidung,
mulut dan dagu bayi dengan gerakan ekstensi.

5)

Rotasi Luar (Putaran Paksi Luar)


Kepala yang sudah lahir selanjutnya mengalami restitusi yaitu
kepala bayi memutar kembali ke arah punggung anak untuk
menghilangkan torsi pada leher yang terjadi karena putaran paksi
dalam. Bahu melintasi pintu dalam keadaan miring. Di dalam
rongga panggul bahu akan menyesuaikan diri dengan bentuk
panggul yang dilaluinya, sehingga di dasar panggul setelah kepala
bayi lahir, bahu mengalami putaran dalam dimana ukuran bahu
(diameter bisa kromial) menempatkan diri dalam diameter
anteroposterior dari pintu bawah panggul. Bersamaan dengan itu
kepala bayi juga melanjutkan putaran hingga belakang kepala
berhadapan dengan tuber ischiadikum sepihak.

6) Ekspulsi

14

Setelah putaran paksi luar, bahu depan sampai di bawah simpisis


dan menjadi hipomochlion untuk kelahiran bahu belakang. Setelah
kedua bahu bayi lahir, selanjutnya seluruh badan bayi dilahirkan
searah dengan sumbu jalan lahir.
Dengan kontraksi yang efektif, fleksi kepala yang adekuat, dan
janin dengan ukuran yang rata-rata, sebagian besar oksiput yang
posisinya posterior berputar cepat segera setelah mencapai dasar
panggul, dan persalinan tidak begitu bertambah panjang. Tetapi
pada kira-kira 5-10 % kasus, keadaan yang menguntungkan ini
tidak terjadi. Sebagai contoh kontraksi yang buruk atau fleksi
kepala yang salah atau keduanya, rotasi mungkin tidak sempurna
atau mungkin tidak terjadi sama sekali, khususnya kalau janin
besar.
c. Kala III (pengeluaran plasenta)
Setelah bayi lahir, kontraksi, rahim istirahat sebentar, uterus teraba keras
dengan fundus uteri sehingga pucat, plasenta menjadi tebal 2x
sebelumnya. Beberapa saat kemudian timbul his, dalam waktu 5-10
menit, seluruh plasenta terlepas, terdorong kedalam vagina dan akan lahir
secara spontan atau dengan sedikit dorongan dari atas simpisis/fundus
uteri, seluruh proses berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir.
Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah kira-kira 100-200
cc.
d. Kala IV
Pengawasan, selama 2 jam setelah bayi dan plasenta lahir, mengamati
keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan post partum. Dengan
menjaga kondisi kontraksi dan retraksi uterus yang kuat dan terusmenerus. Tugas uterus ini dapat dibantu dengan obat-obat oksitosin.
7. PEMERIKSAAN PENUNJANG
-

USG

Pemeriksaan Hb

Ureum kreatinin

15

HbSag

8. PENATALAKSANAAN
Menurut Wiknjosastro (2005), penatalaksanaan yang diberikan untuk
penanganan plasenta previa tergantung dari jenis plasenta previanya yaitu:
a. Kaji kondisi fisik klien
b. Menganjurkan klien untuk tidak coitus
c. Menganjurkan klien istirahat
d. Mengobservasi perdarahan
e. Memeriksa tanda vital
f. Memeriksa kadar Hb
g. Berikan cairan pengganti intravena RL
h. Berikan betametason untuk pematangan paru bila perlu dan bila fetus

masih premature.
PERSIAPAN PERSALINAN
a.

Ibu
1) Gurita, 3 buah
2) Baju tidur, 3 buah
3) Underware secukupnya
4) Handuk, sabun, shampoo, sikat gigi dan pasta gigi
5) Pembalut khusus, 1 bungkus
6) Under pad (dapat dibeli di apotik), 3 lembar

b.

Bayi
1) Popok dan gurita bayi, 1-2 buah.

2) Baju bayi, 1-2 buah


3) Diaper (popok sekali pakai) khusus new baby born, 1-2 buah.

4) Selimut,topi dan kaos kaki bayi


5) Perlengkapan Resusitasi bayi baru lahir
c.

Penolong
1) Memakai APD, terdiri dari : Sarung Tangan steril, Masker, Alas

kaki, celemek.
2) Menyiapkan tempat persalinan, perlengkapan dan bahan

16

Penolong persalinan harus menilai ruangan dimana proses


persalinan akan berlangsung. Ruangan tersebut harus memiliki
pencahayaan atau penerangan yang cukup. Tempat tidur dengan
kasur yang dilapisi kain penutup yang bersih, kain tebal, dan pelapis
anti bocor. Ruangan harus hangat (tetapi jangan pamas), harus
rersedia meja atau permukaan yang bersih dan mudah dijangkau
untuk meletakkan peralatan yang diperlukan.
3) Menyiapkan tempat dan lingkungan kelahiran bayi.
Memastikan bahwa rungan tersebut bersih, hangat (minimal 25 oC,
pencahayaan cukup dan bebas dari tiupan angin.
4) Alat
Partus Set (didalam wadah stenis yang berpenutup):
a) 2 klem Kelly atau 2 klem kocher
b) Gunting tali pusat
c) Benang tali pusat
d) Kateter nelaton
e) Gunting episiotomy
f) Alat pemecah selaput ketuban
g) 2 psang sarung tangan dtt
h) Kasa atau kain kecil
i) Gulungan kapas basah
j) Tabung suntik 3 ml dengan jarum i.m sekali pakai
k) Kateter penghisap de lee (penghisap lender)
l) 4 kain bersih
m) 3 handuk atau kain untuk mengeringkan bayi
5) Bahan
a) Partograf
b) Termometer
c) Pita pengukur
d) Feteskop/ dopler
e) Jam tangan detik
f) Stetoskop
g) Tensi meter
h) Sarung tangan bersih
6) Obat-Obatan

17

Ibu
a) 8 Ampul Oksitosin 1 ml 10 U (atau 4 oksitosin 2ml U/ml.
b) 20 ml Lidokain 1% tanpa Epinefrin atau 10ml Lidokain 2%
tanpa Epinefrin.
c) 3 botol RL
d) 2 Ampul metal ergometrin maleat ( disimpan dalam suhu 2-8 0C

Bayi
a) Salep mata tetrasiklin
b) Vit K 1 mg
9. ASUHAN KEPERAWATAN
a. Kala I (Fase Laten)
1) Pengakajian
a) Integritas ego
Klien tampak tenang atau cemas.
b) Nyeri atau ketidaknyamanan

Kontraksi regular, terjadi peningkatan frekuensi durasi atau keparahan.


c) Seksualitas
Servik dilatasi 0-4 cm mungkin ada lender merah muda kecoklatan
atau terdiri dari flek lendir.
2) Diagnosa Keperawatan
a) Ansietas b/d krisis situasi kebutuhan tidak terpenuhi.
3) Intervensi
NO
1.

DIAGNOSA

NOC
NIC
KEPERAWATAN
Ansietas b/d krisisSetelah dilakukan asuhan a. Orientasikan
situasi

kebutuhankeperawatan selama ..1

tidak terpenuhi.

x15

menit

diharapkan

pada lingkungan, staf


dan prosedur.

ansietas pasien berkurang b. Berikan


18

klien

informasi

dengan kriteria hasil:


a.

TTV normal

b.

Pasien

tentang

dapat

mengungkapkan

perubahan

psikologis

dan

fisiologis

pada

persalinan.

perasaan cemasnya. c. Kaji


c.

Lingkungan

tingkat

dan

penyebab ansietas.

sekitar pasien tenang d. Pantau tekanan darah


dan kondusif

dan

nadi

sesuai

indikasi.
e. Anjurkan

klien

mengungkapkan
perasaannya.
f.

Berikan
yang

lingkungan
tenang

dan

nyaman untuk pasien.

a. Kala I (Fase Aktif)


1) Pengkajian
a) Aktivitas istirahat
Klien tampak kelelahan.
b) Integritas ego
Klien tampak serius dan tampak hanyut dalam persalinan ketakutan
tentang kemampuan mengendalikan pernafasan.
c) Nyeri atau ketidaknyamanan
Kontraksi sedang, terjadi 2, 5-5 menit dan berakhir 30-40 detik.
d) Keamanan
Irama jantung janin terdeteksi agak di bawah pusat, pada posisi
vertexs.
e) Seksualitas
Dilatasi servik dan 4-8 cm (1, 5 cm/jam pada multipara dan 1,2/ jam
pada primipara).
2) Diagnosa Keperawatan

19

a) Nyeri akut berhubungan dengan tekanan mekanik dari bagian


presentasi.
3) Intervensi
NO
1.

DIAGNOSA
KEPERAWATAN
Nyeri
akutSetelah
berhubungan

asuhan

dengan tekanan

selama

NOC
dilakukan a. Kaji
keperawatan
1x20

mekanik dari bagiandiharapkan


presentasi.

NIC

terkontrol

ketidaknyamanan

menit,

secara

nyeri

verbal

dan

nonverbal.

dengan b. Pantau dilatasi servik

criteria hasil:

c. Pantau tanda vital dan

a. TTV dalam batas


normal
b. Pasien

derajat

DJJ.
d. Bantu

dapat

teknik pernapasan dan

mendemonstrasika
n kontrol nyeri

penggunaan

relaksasi.
e. Bantu

tindakan

kenyamanan seperti:
f. Gosok

punggung,

kaki
g. Anjurkan

pasien

berkemih 1-2 jam.


h. Berikan

informasi

tentang

ketersediaan

analgesic
i.

Dukung
klien

keputusan
menggunakan

obat-obatan/tidak.
j. Berikan

lingkungan

yang tenang
c. Kala II
1) Pengkajian
a) Aktivitas/ istirahat
- Melaporkan kelelahan.

20

- Melaporkan ketidakmampuan melakukan dorongan sendiri/ teknik


relaksasi.
- Lingkaran hitam di bawah mata.
b) Sirkulasi
Tekanan darah meningkat 5-10 mmHg
c) Integritas ego
Dapat merasakan kehilangan kontrol / sebaliknya
d) Eliminasi
Keinginan untuk defekasi, kemungkinan terjadi distensi kandung
kemih
e) Nyeri / ketidaknyamanan
- Dapat merintih / menangis selama kontraksi
- Melaporkan rasa terbakar / meregang pada perineum
- Kaki dapat gemetar selama upaya mendorong
- Kontraksi uterus kuat terjadi 1,5 2 menit
f) Pernafasan
Peningkatan frekwensi pernafasan
g) Seksualitas
-

Servik dilatasi penuh (10 cm).

Peningkatan perdarahan pervagina

Membrane mungkin rupture, bila masih utuh

Peningkatan pengeluaran cairan amnion selama kontraksi

2) Diagnosa Keperawatan
a) Nyeri akut b/d tekanan mekanis pada bagian presentasi
b) Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas jaringan b/d pada interaksi
hipertonik.
3) Intervensi
NO
1.

DIAGNOSA
NOC
NIC
KEPERAWATAN
Nyeri akut b/d tekananSetelah dilakukan asuhana. Identifikasi
mekanis pada bagiankeperawatan selama 1x15
presentasi

derajat

ketidaknyamanan.

menit, diharapkan nyerib. Berikan tanda/ tindakan


terkontrol dengan kriteria

kenyamanan

hasil:

perawatan

a. TTV dbn

perineal dan alat-alat tahun

21

seperti
kulit,

mulut,

b. Pasien

dapat

mendemostrasikan
dalam

yang kering.

c. Bantu

mengontrol

pernafasan dan teknik

pasien

memilih

posisi yang nyaman untuk


mengedan.

mengejan yang benar d. Pantau tanda vital ibu dan


DJJ.
e. Kolaborasi

2.

kateter dan anastesi.


asuhana. Bantu klien dan pasangan

Risiko tinggi terhadapSetelah


kerusakan
jaringan

integritaskeperawatan selama 1x15


b/d

padamenit,

interaksi hipertonik

pemasangan

diharapkanb.

integritas

jaringan

pada posisi tepat.


Bantu

klien

sesuai

kebutuhan.

terkontrol dengan kriteriac.

Kolaborasi

hasil:

garis tengah atau medic

a. Luka

perineum

tertutup (epiostomi). d.

epiostomi

lateral.
Kolaborasi

terhadap

pemantauan

kandung

kemih dan kateterisasi.

d. Kala III
1) Pengkajian
a) Aktivitas / istirahat
Klien tampak senang dan keletihan
b) Sirkulasi
- Tekanan darah meningkat saat curah jantung meningkat dan
kembali normal dengan cepat.
- Hipotensi akibat analgetik dan anastesi.
- Nadi melambat
c) Makan dan cairan
Kehilangan darah normal 250 300 ml.
d) Nyeri / ketidaknyamanan
Dapat mengeluh tremor kaki dan menggigil
e) Seksualitas
- Darah berwarna hitam dari vagina terjadi saat plasenta lepas
- Tali pusat memanjang pada muara vagina.
2) Diagnosa Keperawatan
22

a) Risiko tinggi (AKTUAL) terhadap kekurangan volume cairan b/d


kurang masukan oral, muntah.
b) Kerusakan integritas jaringan b/d dorongan mengedan terlalu kuat
.
3) Intervensi
NO
1.

DIAGNOSA

NOC
NIC
KEPERAWATAN
Risiko tinggi terhadapSetelah dilakukan asuhan a. Instruksikan klien untuk
kekurangan

volumekeperawatan

cairan

kurang1x15menit,

b/d

masukan
muntah.

selama
diharapkan

mendorong

pada

kontraksi.

oral,cairan seimbang denngan b. Kaji tanda vital setelah


kriteria hasil:

pemberian oksitosin.

a. TTV dbn

c. Palpasi uterus.

b. Darah yang keluar d. Kaji tanda dan gejala


200 300 cc.
c.

shock.

Tidak ada tanda tanda e. Massase uterus dengan


dehidrasi

perlahan

setelah

pengeluaran plasenta.
f. Kolaborasi

2.

Kerusakan

pemberian

cairan parentral.
integritasSetelah dilakukan tindakan a. Kaji TTV.

jaringan b/d dorongankeperawatan 1x30 menit b. Kaji tentang derajat luka


mengedan terlalu kuat diharapkan

kerusakan

integritas

jaringan c. Reposisi

luka

terkontrol

modipikasi

Kriteria Hasil

atau perineum

1.

luka

jalan

jalan

atau
lahir

lahir d. Bersihkan luka jahitan

termodifikasi

dengan Nacl kemudian

2.tidak terjadi perdarahan

keringkan dengan kasa

3. TTV dalam batas normal

steril.

e. Kala IV
1) Pengkajian
a) Aktivitas
Dapat tampak berenergi atau kelelahan

23

b) Sirkulasi
Nadi biasanya lambat sampai (50-70x/menit) TD bervariasi, mungkin
lebih rendah pada respon terhadap analgesia/anastesia, atau meningkat
pada respon pemberian oksitisin atau HKK,edema, kehilangan darah
selama persalinan 400-500 ml untuk kelahiran pervagina 600-800 ml
untuk kelahiran saesaria
c) Integritas Ego
Kecewa, rasa takut mengenai kondisi bayi, bahagia
d) Eliminasi
Haemoroid, kandung kemih teraba di atas simfisis pubis
e) Makanan/cairan
Mengeluh haus, lapar atau mual
f) Neurosensori
Sensasi dan gerakan ekstremitas bawah menurun pada adanya anastesi
spinal.
g) Nyeri/ketidaknyamanan
Melaporkan nyeri, missal oleh karena trauma jaringan atau perbaikan
episiotomy, kandung kemih penuh, perasaan dingin atau otot tremor
h) Keamanan
Peningkatan suhu tubuh.
i) Seksualitas
Fundus keras terkontraksi pada garis tengah terletak setinggi
umbilicus, perineum bebas dan kemerahan, edema, ekimosis, striae
mungkin pada abdomen, paha dan payudara.
2) Diagnosa Keperawatan
a)

Kelelahan b/d proses persalinan.

b)

Perubahan ikatan proses keluarga b/d transisi/peningkatan anggota


leluarga.

3) Intervensi
NO
1.

DIAGNOSA

NOC
NIC
KEPERAWATAN
Kelelahan b/d prosesSetelah dilakukan asuhan1. kaji TTV.
persalinan

keperawatan selama 1x22.

anjurkan

ibu

untuk

jam diharapkan kelelahanmenggerakkan kaki / tangan 3.


24

teratasi denagan kriteriaBerikan


hasil:

bantuan

untuk

menekuk tungkai klien

a. klien

mampu4. anjurkan ibu untuk istirahat

bergerak

atauyang cukup

menggerakkan

5. kolaborasi dalam pemberian

kaki

cairan infus

b. klien

mampu

menekuk tungkai
c. TTV dalam batas
2.

normal
ikatanSetelah dilakukan asuhan a. Anjurkan

Perubahan
proses
transisi/

keluarga

b/dkeperawatan selama 1x20

peningkatanmenit, diharapkan proses

anggota keluarga.

keluarga

baik

bayi.

ibu c. Anjurkan

dengan bayi.
menggendong

bayinya

catat

dan

bantu

pemberian

tergantung pada pilihan


d. catat

perilaku

mendemonstrasikan

pengungkapan

perilaku

menunjukkan

kedekatan

dan ikatan yang tepat

dan
yang

kekecewaan/kurang minat
/ kedekatan

DAFTAR PUSTAKA

ASI,

klien.

c. Mampu

25

dan

interaksi bayi.

kedekatan

b. Klien

untuk

menggendong, menyentuh

dengan b. Observasi

kriteria hasil:
a. Ada

klien

Depkes (2008). Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: USAID


Gary dkk. (2006). Obstetri Williams, Edisi 21. Jakarta, EGC.
Mc Closky & Bulechek. (2000). Nursing Intervention Classification
(NIC). United States of America: Mosby.
Meidian, JM. (2000). Nursing Outcomes Classification (NOC). United States
of America: Mosby.
Mitayani. (2009). Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC
Setiono, Wiwing. (2014). Laporan pendahuluan persalinan normal. Dimuat
dalam
http://lpkeperawatan.blogspot.com/2013/11/laporanpendahuluan-persalinan-normal.html#.U_h8ZMWSw0o
(Diakses
tanggal 24 Agustus 2014).
Wiknjosostro. (2002). Ilmu Kebidanan Edisi III. Jakarta: Yayasan Bima
pustaka Sarwana Prawirohardjo.

26