Anda di halaman 1dari 16

Teknik radiografi periapikal merupakan jenis proyeksi intra

oral

radiograf

yang

secara

rutin

digunakan

dalam

praktek

kedokteran gigi. Teknik ini digunakan untuk melihat keseluruhan


mahkota

serta

akar

gigi

dan

tulang

pendukungnya

sampai

kedaerah periapikal. Foto periapikal memiliki keuntungan dapat


memberikan gambaran detail tetapi daerah liputan foto tidak
luas hanya terbatas pada beberapa gigi saja (Haring, 2000).
Menurut

Whaites

dan

Cawson

(2003)

pemakaian

radiografi

periapikal bertujuan untuk mendapatkan gambaran gigi-gigi secara


individual beserta jaringan sekitarnya. Radiografi yang dihasilkan
dapat menggambarkan dua sampai empat gigi. Radiografi yang
dihasilkan juga sudah cukup memberikan informasi yang detail dari
gigi

dan

jaringan

sekitarnya.

Dalam

pembuatan

radiografi

periapikal, untuk mendapatkan hasil yang memuaskan harus


memperhatikan dua hal yaitu teknik atau cara pembuatan dan
menafsirkan radiografi tersebut (Margono, 2002).
Beberapa indikasi klinis penggunaan radiografi periapikal
antara lain: mendeteksi infeksi pada apikal gigi, mendapatkan
status
gigi

kesehatan
dan

tulang

jaringan periodontal,
alveolar

setelah

mengetahui

hubungan

trauma, mengetahui ada

tidaknya dan posisi erupsi gigi, mengetahui morfologi akar sebelum


diekstraksi,

memantau

perawatan endodontik,

mengevaluasi

preoperative dan postoperative dari bedah apikal, evaluasi dari


kista periapikal dan lesi yang berhubungan dengan alveolar
serta untuk mengetahui posisi dan prognosis dari perawatan
implant ( Whaites dan Cawson, 2003).
Hal-hal
pemotretan

yang

perlu

dan

penting

rontgen periapikal

adalah

diperhatikan

dalam

sebelum melakukan

pengambilan foto periapikal, pasien harus melepas alat-alat di


daerah

yang

akan

diperiksa, misalnya

alat

orthodonsi,

gigi

tiruan lepasan atau kaca mata. Posisi kepala penderita diatur


sedemikian
sejajar

rupa, untuk

lantai,

dengan

rahang
demikian

atas

garis

hidung

telinga

pada waktu pasien membuka

mulut, bidang oklusi rahang atas sejajar lantai, sedangkan untuk


rahang bawah garis ujung bibir telinga sejajar lantai, dengan
demikian pada waktu pasien membuka mulut, bidang oklusi sejajar
lantai. Pemotretan gigi regio

anterior

atas

biasanya

ditahan

dengan ibu jari, regio anterior bawah, posterior kiri atas dan
bawah ditahan dengan telunjuk kanan, regio posterior kanan atas
dan

bawah

ditahan

dengan

pasien untuk menahan


bergerak

selama

Teknik

film

telunjuk
tanpa

kiri.

Perintahkan

menekan

dan

pada
tidak

pemotretan (Haring, 2000).

ideal dalam pembuatan

radiografi periapikal adalah

posisi gigi yang diamati dan film yang digunakan saling kontak
atau

sedapat

mungkin

saling menempel.

Film

dan

sumbu

panjang gigi harus sejajar satu sama lain. Film ditempatkan


pada posisi vertikal untuk gigi anterior dan posisi horisontal untuk
gigi posterior serta film cukup untuk mendapatkan gambaran
apikal

dan

jaringan sekitarnya. Tube head X ray diatur dengan

benar sehingga sinar yang mengenai gigi dan film mempunyai


sudut penyinaran yang benar (Supriyadi dan Juwono, 2002).
Menurut Margono (1998), Radiograf

proyeksi

periapikal

dikembangkan dalam dua teknik, teknik bidang bagi (bisecting


technique)

dan

teknik

kesejajaran (paralleling technique)

(Supriyadi dan Fatmawati, 2003). Kedua teknik diatas memiliki


kelebihan masing-masing.

Radiografi periapikal merupakan teknik radiografi intraoral


yang digunakan untuk memperoleh suatu gambaran daerah apikal
akar gigi dan struktur sekitarnya (Suharjo dan Sukartini, 1994:41).
Pada pemeriksaan gigi secara individual, pemeriksaan gigi geligi
secara rutin, pada beberapa jenis perawatan gigi, foto ini lebih
banyak dilakukan. Tiap film dapat menunjukkan dua sampai empat
elemen gigi dan memberikan informasi secara detail mengenai
gigi beserta jaringan tulang alveolar disekitarnya (Whaites dan
Cawson, 2003:75).
Beberapa indikasi klinis penggunaan radiografi periapikal
antara lain mendeteksi infeksi pada apikal gigi, mendapatkan
status kesehatan jaringan periodontal,

mengetahui

gigi

trauma, mengetahui ada

dan

tulang

alveolar

setelah

hubungan

tidaknya dan posisi erupsi gigi, mengetahui morfologi akar


sebelum

diekstraksi,

memantau

perawatan

endodontik,

mengevaluasi pra operasi dan pasca operasi dari bedah apikal,


evaluasi dari kista periapikal dan lesi yang berhubungan dengan
alveolar

serta

untuk

mengetahui

posisi

dan

prognosis

dari

perawatan implant ( Whaites dan Cawson, 2003:75).


Teknik ideal dalam pembuatan radiografi periapikal adalah
posisi gigi yang diamati dan film yang digunakan saling kontak
atau sedapat mungkin saling menempel. Film dan sumbu panjang
gigi harus sejajar satu sama lain. Film ditempatkan pada posisi
vertikal untuk gigi anterior dan posisi horisontal untuk gigi
posterior serta film cukup untuk mendapatkan gambaran apikal

dan jaringan sekitarnya. Tube head X-ray diatur dengan benar


sehingga sinar yang mengenai gigi dan film mempunyai sudut
penyinaran yang benar. Proyeksi ideal dalam pembuatan radiograf
periapikal hampir tidak mungkin dapat menghasilkan radiograf
yang memuaskan pada pasien. Hal ini disebabkan angulasi gigi dan
bentuk anatomi rongga mulut pasien yang bervariasi. Radiograf
proyeksi periapikal dikembangkan dalam dua teknik, yaitu teknik
kesejajaran dan teknik bidang bagi (Supriyadi dan Juwono, 2002).

Teknik foto rontgen periapikal merupakan jenis proyeksi


intra

oral radiograf yang secara rutin digunakan dalam praktek

kedokteran gigi. Proyeksi ini menggunakan film ukuran standart


(4x3cm) yang dapat memuat 3 4 gambar gigi serta

jaringan

pendukungnya. Teknik ini digunakan untuk melihat keseluruhan


mahkota

serta

akar

gigi

dan

tulang

pendukungnya

sampai

kedaerah periapikal. Foto periapikal memiliki keuntungan dapat


memberikan gambaran detail tetapi daerah liputan foto tidak
luas hanya terbatas pada beberapa gigi saja (Haring, 2000).
Hal-hal

yang

pemotretan

perlu

dan

penting

rontgen periapikal

adalah

diperhatikan

dalam

sebelum melakukan

pengambilan foto periapikal, pasien harus melepas alat-alat di


daerah

yang

akan

diperiksa, misalnya

alat

orthodonsi,

gigi

tiruan lepasan atau kaca mata. Posisi kepala penderita diatur


sedemikian
sejajar

rupa, untuk

lantai,

dengan

rahang
demikian

atas

garis

hidung

telinga

pada waktu pasien membuka

mulut, bidang oklusi rahang atas sejajar lantai, sedangkan untuk


rahang bawah garis ujung bibir telinga sejajar lantai, dengan

demikian pada waktu pasien membuka mulut, bidang oklusi sejajar


lantai. Pemotretan gigi regio

anterior

atas

biasanya

ditahan

dengan ibu jari, regio anterior bawah, posterior kiri atas dan
bawah ditahan dengan telunjuk kanan, regio posterior kanan atas
dan

bawah

ditahan

dengan

pasien untuk menahan


bergerak

selama

film

telunjuk
tanpa

kiri.

Perintahkan

menekan

pemotretan (Haring, 2000).

dan

pada
tidak

a. Bisecting angle technique (Teknik membagi dua sudut)


Teknik

ini menggunakan prinsip posisi film sedekat mungkin

dengan permukaan lingual gigi,


film. Dengan

teknik

ini,

tanpa menyebabkan deformasi

tidak

akan ada

kesejajaran

antara

bidang film dan sumbu gigi, dan sinar tidak dapat diarahkan
tegak lurus kedua objek. Oleh karena itu sinar diarahkan tegak
lurus terhadap garis tengah imajiner kedua objek (bisecting plane)
(Garg dan Garg, 2007: 73).
Dengan

teknik

ini, bagian koronal gigi dekat dengan

sementara puncaknya terletak


Penyimpangan

hasil

lebih

pada

terlihat

jarak

yang

pada apikal

cukup

film,
jauh.

akar. Hal

ini

terutama berlaku dalam kasus gigi rahang atas dan rahang


bawah anterior. Jika sinar X-ray tidak diarahkan tegak lurus ke
arah bisecting angle, tegak lurus terhadap bidang film, gambar
gigi

akan muncul

lebih pendek.

Namun,

apabila

sinar

X-ray

diarahkan tegak lurus dengan sumbu gigi, gambar akan muncul


memanjang (Castellucci, 2004: 80-81).
Bisecting Technique Radiography juga disebut dengan short
cone technique yang mengacu pada teori geometris yaitu apabila
ada suatu sudut dibuat garis bagi dan pada salah satu kakinya
dibuat suatu titik, dari titik tersebut dibuat garis yang tegak lurus
dengan garis bagi tersebut sehingga terjadi segitiga sama kaki
(Supriyadi dan Juwono, 2002).
Teknik

ini menggunakan prinsip posisi film sedekat mungkin

dengan permukaan lingual gigi,


film. Dengan

teknik

ini,

tidak

tanpa menyebabkan deformasi


akan ada

kesejajaran

antara

bidang film dan sumbu gigi, dan sinar tidak dapat diarahkan

tegak lurus kedua objek. Oleh karena itu sinar diarahkan tegak
lurus terhadap garis tengah imajiner kedua objek (bisecting plane)
(Garg dan Garg, 2007: 73). Dengan menggunakan prinsip segitiga
sama

sisi,

panjang

gigi

sebenarnya

dapat terproyeksi

sama

besarnya pada film. Penentuan sudut vertikal tabung sinar x


adalah sudut yang dibentuk dengan menarik garis lurus titik
sinar

terhadap bidang oklusal. Penentuan sudut horisontal

tabung sinar x, ditentukan oleh bentuk lengkung


posisi

gigi.

Dalam

diarahkan melalui

bidang

horizontal

titik

rahang

pusat

dan

sinar

titik kontak interproksimal, untuk menghindari

tumpang tindih satu gigi dengan gigi sebelahnya. Untuk film yang
digunakan diusahakan diletakkan sedekat mungkin dengan gigi
yang akan diperiksa tanpa menyebabkan film tertekuk (Haring,
2000).
Menurut Margono (1998), hal-hal yang perlu diperhatikan pada
Bisecting Technique Radiography adalah sebagai berikut:
a. Saklar dari alat radiografi dinyalakan, kemudian petunjuk
pada alat radiografi diatur untuk gigi depan atau belakang, rahang
atas atau bawah disesuaikan dengan petunjuk yang ada pada alat
tersebut.
b. Posisi kepala penderita diatur :
1) Bidang vertikal atau sagital, dibuat tegak lurus bidang
horisontal.
2) Bidang oklusal sejajar dengan bidang horisontal, untuk
rahang atas diimajinasikan garis yang dibuat dari ala nasi ke tragus
dan bidang ini sejajar dengan bidang horisontal. Rahang bawah
diimajinasikan garis yang ditarik dari sudut mulut ke tragus dan
garis ini sejajar dengan bidang horisontal.

c. Cara meletakkan film


1) Gigi depan: sumbu panjang film diletakkan secara vertikal.
2) Gigi belakang: sumbu panjang film diletakkan secara
horisontal.
3) Gigi yang dibuat foto radiograf periapikal harus berada di
tengah-tengah film dan jarak oklusal gigi dan pinggir film berjarak 3
mm.
d. Arah konus untuk gigi rahang atas adalah sebagai berikut:
a) Tegak lurus pada bidang bagi.
b) Untuk gigi depan :
1) Insisivus pertama, konus diarahkan pada ujung hidung
2) Insisivus kedua, konus diarahkan pada lubang hidung
3) Kaninus, konus diarahkan pada cuping hidung
c) Untuk gigi belakang, konus diarahkan pada garis yang
menghubungkan tragus ke ala nasi.
Dokter gigi seringkali menemui kesulitan dalam pembuatan
radiografi periapikal dengan bisecting technique. Kesulitan yang
sering dilaporkan adalah bagaimana menentukan sudut dan posisi
konus

dalam

menentukan

arah

yang

tepat

supaya

dapat

menghasilkan radiograf yang tidak mengalami perubahan panjang


dan

tidak

terpotong

bagian

apikalnya

pada

gigi

yang

diinterpretasikan (Margono, 2002).


Menurut

Whaites

dan

Cawson

(2003),

keuntungan

dari

bisecting technique ini antara lain adalah posisi film biasanya


nyaman untuk pasien di semua area dalam rongga mulut,
penempatan film relatif sederhana dan cepat, serta jika semua
sudut benar maka akan didapatkan gambaran yang sama dengan

gigi sebenarnya meskipun tidak ideal tapi merupakan gambaran


adekuat untuk tujuan diagnosa. Seain itu teknik ini relatif nyaman
untuk pasien, karena tidak ada alat tambahan lain kecuali
film. Tidak perlu sterilisasi khusus, karena tidak menggunakan alat
bantu tambahan berupa film holder (Ghom, 2008).
Teknik biseksi ini sering juga disebut metode garis bagi. Dasar
teori teknik pemotretan radiografis metode garis bagi adalah,
sudut yang dibentuk antara sumber panjang gigi dan sumbu
panjang film dibagi dua sama besar yang selanjutnya disebut
garis bagi. Tabung sinar x diarahkan tegak lurus pada garis
bagi ini, dengan titik pusat sinar x diarahkan kedaerah apikal
gigi. Dengan menggunakan prinsip segitiga sama sisi, panjang
gigi sebenarnya dapat terproyeksi sama besarnya pada film.
Penentuan sudut vertikal tabung sinar x adalah sudut yang
dibentuk dengan menarik garis lurus titik sinar x terhadap
bidang

oklusal.

Penentuan

sudut

horisontal

tabung

sinar

x,

ditentukan oleh bentuk lengkung rahang dan posisi gigi. Dalam


bidang

horizontal

titik

pusat

sinar

x diarahkan melalui

titik

kontak interproksimal, untuk menghindari tumpang tindih satu gigi


dengan gigi sebelahnya (Gb.2.1). Untuk film yang digunakan
diusahakan diletakkan sedekat mungkin dengan gigi yang akan
diperiksa tanpa menyebabkan film tertekuk (Haring, 2000).
Keuntungan teknik biseksi
Keuntungan
yaitu,

yang

relatif nyaman

dapat
untuk

diperoleh

pasien,

dari

karena

teknik
tidak

biseksi

ada

alat

tambahan lain kecuali film. Untuk penentuan posisi relatif lebih


sederhana

dan

cepat.

Bila

penentuan

sudut horizontal dan

vertikalnya benar, gambaran radiografis yang dihasilkan akan sama


besar dengan yang sebenarnya dan memadai untuk hampir
semua indikasi pemotretan. Tidak perlu sterilisasi khusus, karena
tidak menggunakan alat bantu tambahan (Ghom, 2008).
Sedangkan kerugian yang didapat dari teknik biseksi ini yaitu
kemungkinan

distorsi

pada

gambaran

radiografis

yang

dihasilkan sangat besar, kesalahan sudut vertikal mengakibatkan


pemanjangan atau pemendekan gambar. Tinggi tulang periodontal
tidak dapat dilihat dan dinilai dengan baik,b ayangan tulang
zygomatik sering tampak menutupi region akar gigi molar.
5. Sudut vertikal dan horizontal dapat berbeda-beda setiap
pasien, dengan demikian untuk menghasilkan gambaran yang
baik, diperlukan operator yang terampil dan berpengalaman.
6. Tidak bisa mendapatkan gambaran dengan kondisi dan
posisi

yang

sama, pada gigi yang sama diwaktu yang berbeda,

karena tidak ada alat bantu yang dapat digunakan sebagai patokan.
7. Dapat terjadi cone cutting bila titik pusat sinar x tidak
tepat dipertengahan film.
8.

Kesalahan

penentuan

sudut

horizontal

dapat

menyebabkan tumpang tindih mahkota dan akar antara gigi yang


berdekatan.
9.

Sulit

mendeteksi

karies

proksimal,

pada

gambaran

radiografis mahkota gigi yang mengalami distorsi.


10. Gambaran radiografis pada akar bukal gigi premolar dan
molar rahang atas sering mengalami pemendekan (Ghom, 2008).

b. Paralleling technique (Teknik kesejajaran)


Paralelling Technique Radiography juga disebut dengan long
cone technique karena

pada

teknik

pembuatannya

biasanya

menggunakan konus panjang. Pada teknik ini, posisi film di dalam


mulut penderita diletakkan sejajar dengan sumbu panjang gigi dan
arah sinar tegak lurus terhadap dataran film dan sumbu panjang
gigi (Margono, 1998). Paralelling Technique Radiography dibuat
dengan sudut penyinaran 900 dari permukaan fasial gigi (Walton
dan Torabinejad, 1998).
Teknik

ini

didasarkan

pada

prinsip

menempatkan

film

sejajar dengan sumbu panjang gigi. Dengan mengarahkan sinar


tegak

lurus

sumbu ini

(lebih mudah diverifikasi dibandingkan

dengan mencari tegak lurus terhadap garis bagi pada bisecting


tecnique),

secara otomatis

mereka

juga

akan

terhadap bidang film (Castellucci, 2004: 83).

tegak

lurus

Tujuan utama dari

Paralleling Technique Radiography adalah untuk memperoleh suatu


gambaran radiografi yang sebenarnya dari gigi dengan jaringan
pendukungnya. Hal ini diperoleh dengan penempatan film sejajar
dengan sumbu panjang gigi. Keadaan sejajar diperoleh dengan
menggerakkan

film

menjauh

dari

mahkota

gigi,

sementara

pinggiran film pada jaringan lunak pada posisi yang kira-kira sama
di palatum atau dasar mulut seperti halnya bisecting technique
radiography (Suharjo dan Sukartini, 1994). Akan

tetapi

kondisi

anatomis palatum dan lengkung rahang yang berbentuk kurva,


menyebabkan film dan

gigi

tidak

dapat

ditempatkan

secara

paralel dan dalam keadaan saling berkontak (ada jarak antara


film dengan gigi yang diperiksa). Dengan adanya jarak antara
film

dengan

gigi

ini

menyebabkan

pembesaran

gambaran

radiografis yang dihasilkan. Untuk mengatasi keadaan ini maka


digunakan konus panjang dengan jenis Long Cone (Haring, 2000).
Keuntungan

menggunakan

teknik

kesejajaran

adalah

ketepatan gambar yang didapat lebih baik, meminimalisisr dosis


radiasi,

serta

margin

tulang,

regio interproksimal,

dan

regio

molar maksila tergambar lebih baik.


Sedangkan kelemahan dari teknik ini antara lain kesulitan
dalam mengatur pasien dengan posisi bayangan yang tetap,
dan dapat menimbulkan reflek muntah (Garg dan Garg, 2007:
73). Penggunaan film holder yang dapat menyebabkan rasa tidak
nyaman

pada

pasien,

terutama

region

posterior,

menyebabkan rasa ingin muntah tersebut. Selain itu

yang

kerugian

yang di dapat dari teknik parallel ini yaitu sulit menggunakan


film holder bagi operator yang tidak berpengalaman, kondisi
anatomis dalam rongga mulut sering menyulitkan teknik ini,
misalnya palatum yang datar dan dangkal, apeks gigi kadang
tampak sangat dekat dengan tepi film, sulit menggunakan film
holder untuk region molar tiga rahang bawah, dan film

holder

harus selalu disterilisasi dengan autoclave (Ghom, 2008).

Meskipun relatif mudah untuk mencapai kesejajaran seperti


pada

rahang bawah dengan mempertahankan kontak yang baik

antara gigi dan film, hal tersebut tidak dapat diperoleh pada
rahang atas tanpa posisi film menjauh dari gigi. Meskipun telah
diupayakan menjaga kesejajaran antara sumbu gigi dan bidang
film, hasilnya pada beberapa film mengalami perbesaran gambar

dan hilangnya definisi dengan meningkatkan penumbra. Untuk


mengurangi efek yang tidak diinginkan, sangat disarankan untuk
meletakkan cone dengan jarak yang lebih panjang, sehingga
terjadi peningkatan jarak antara sinar X-ray dan objek. Hal
tersebut meminimalisir
perbesaran

serta

efek

penyimpangan

dalam

hal

meningkatkan ketajaman gambar dan resolusi

(Castellucci, 2004: 83).


Paralelling Technique Radiography juga disebut dengan long
cone technique karena

pada

teknik

pembuatannya

biasanya

menggunakan konus panjang. Pada teknik ini, posisi film di dalam


mulut penderita diletakkan sejajar dengan sumbu panjang gigi dan
arah sinar tegak lurus terhadap dataran film dan sumbu panjang
gigi (Margono, 1998). Paralelling Technique Radiography dibuat
dengan sudut penyinaran 900 dari permukaan fasial gigi (Walton
dan Torabinejad, 1998). Untuk membuat keadaan film sejajar
dengan sumbu panjang dari gigi diperlukan penolong. Alat ini dapat
sederhana atau alat yang sudah siap pakai, yang sederhana
misalnya cotton roll, dan balok gigit yang dibuat khusus. Alat yang
sudah siap pakai misalnya stabe bite block, XCT dengan ring
localizing, snap ray dan hemostat (Margono, 1998). Konus yang
digunakan pada teknik ini adalah konus panjang. Sedangkan konus
pendek tidak dapat digunakan pada teknik kesejajaran karena jarak
objek terhadap film telah lebih jauh dengan kompensasi geometrik
terjadi ketidaktajaman dan pembesaran bayangan radiografik
(Langland, 1985).
Tujuan utama dari Paralel Technique Radiography adalah untuk
memperoleh suatu gambaran radiografi yang sebenarnya dari gigi
dengan

jaringan

pendukungnya.

Hal

ini

diperoleh

dengan

penempatan film sejajar dengan sumbu panjang gigi. Keadaan


sejajar diperoleh dengan menggerakkan film menjauh dari mahkota
gigi, sementara pinggiran film pada jaringan lunak pada posisi yang
kira-kira sama di palatum atau dasar mulut seperti halnya bisecting
technique radiography. Pembesaran bayangan sebagai akibat 10
pergerakkan film yang menjauhi obyek dapat dihindari dengan
menggunakan sebuah tabung panjang sehingga akibatnya sinar
yang membentur obyek mendekati sinar sentral dan sinar yang
sejajar menyebabkan pembesaran dan pemanjangan bayangan
sangat dibatasi (Suharjo dan Sukartini, 1994).
Keuntungan dari teknik kesejajaran ini adalah gambar yang
dihasilkan jauh lebih baik, gambar yang dihasilkan lebih mendekati
kebenaran ukurannya dibandingkan dengan teknik bidang-bagi
(Bisecting Technique Radiography). Keuntungan lain dari teknik ini
adalah apabila dipergunakan untuk pembuatan rontgen gigi molar
atas, maka tidak terjadi superimposed dengan tulang zygomaticus
dan dasar dari sinus maksilaris.
Sedangkan kerugian dari teknik kesejajaran ini adalah susah
meletakkan alat yang cukup besar ukurannya, terutama pada anakanak dengan ukuran mulut yang kecil dan palatum yang dangkal.
Teknik ini pelaksanaannya cukup sulit, akan tetapi apabila sudah
cukup berpengalaman maka dengan teknik ini bisa dihasilkan
kualitas gambar yang cukup memuaskan (Margono, 1998).
Teknik ini juga disebut dengan teknik kesejajaran. Teori
prinsip pemotretan
pada

film

holder

periapikal

parallel

adalah

film

diletakkan

dan ditempatkan dalam mulut, pada posisi

parallel terhadap sumbu panjang gigi yang diperiksa. Tube head

(cone) diarahkan tegak lurus terhadap gigi dan film. Dengan


menggunakan film holder yang memiliki pemegang film dan
penentu arah tube head, teknik

ini dapat diulang dengan posisi

dan kondisi yang sama pada waktu yang berbeda (reproducible)


(Gb.2.2).

Pengaturan

mendapatkan posisi

posisi

ini

memenuhi persyaratan untuk

ideal penempatan

film

terhadap gigi yang

diperiksa pada teknik pemotretan radiografis periapikal. Akan


tetapi

kondisi anatomis palatum dan lengkung rahang yang

berbentuk kurva, menyebabkan film dan


ditempatkan

secara

paralel

dan

gigi

dalam

tidak

dapat

keadaan

saling

berkontak (ada jarak antara film dengan gigi yang diperiksa).


Dengan

adanya jarak antara film dengan gigi

pembesaran

gambaran

radiografis

yang

ini menyebabkan
dihasilkan.

Untuk

mengatasi keadaan ini maka digunakan konus panjang dengan


jenis Long Cone (Haring, 2000).
Keuntungan teknik parallel
Adapun
parallel

keuntungan

adalah

dengan

sedikit

gambar.

Tulang

yang

: Gambaran
sekali

dapat

yang

diperoleh

dihasilkan

lebih

kemungkinan terjadinya

zygomatik

tampak

berada

dari

teknik

geometris

pembesaran

diatas

apeks gigi

molar atas (Ghom, 2008).


1.

Tinggi puncak tulang periodontal dan jaringan periapikal

dapat terlihat jelas.


2. Mahkota

gigi

dapat

tampak

dengan

jelas

sehingga

karies proksimal dapat dideteksi dengan baik.


3.

Sudut vertikal dan horizontal, sudah ditentukan oleh

lingkaran penentu posisi cone pada film holder.

4. Arah sinar x sudah ditentukan pada pertengahan film


sehingga dapat menghindari cone cutting.
5. Dapat membuat beberapa foto radiografis dengan posisi
dan kondisi yang sama pada waktu yang berbeda.
Kerugian teknik parallel
Selain itu kerugian yang di dapat dari teknik parallel ini
yaitu penggunaan film holder dapat menyebabkan rasa

tidak

nyaman pada pasien, terutama region posterior, karena dapat


menyebabkan rasa ingin muntah, sulit menggunakan film holder
bagi operator yang tidak berpengalaman, kondisi anatomis dalam
rongga mulut sering menyulitkan teknik ini, misalnya palatum
yang datar dan dangkal, apeks gigi kadang tampak sangat dekat
dengan tepi film, sulit menggunakan film holder untuk region molar
tiga rahang bawah, dan film

holder

dengan autoclave (Ghom, 2008).

harus

selalu

disterilisasi