Anda di halaman 1dari 4

Konvergensi Akuntansi sebagai Sarana Penyelarasan Diversitas Akuntansi

Sejak awal tahun 1960-an, telah dirasakan bahwa arus modal lintas negara mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun. Sehubungan dengan hal itu maka semakin dibutuhkan pula
laporan keuangan yang merupakan sumber informasi keuangan yang dibutuhkan oleh
investor dalam pengambilan keputusan ekonomi yang terkait dengan investasi yang
dilakukan. Idealnya, investor mengarahkan modalnya ke perusahaan-perusahaan yang paling
produktif dan efisien secara global, sehingga akan mengoptimalkan kesejahteraan investor
dan juga kesejahteraan dunia. Hakikat pengambilan keputusan investasi adalah pemilihan
alternatif investasi yang terbaik dari berbagai alternatif yang tersedia. Karena pemilihan
hanya dapat dilaksanakan jika dapat dilakukan pembandingan, maka untuk dapat dilakukan
pengambilan keputusan investasi yang tepat diperlukan laporan keuangan yang menyajikan
informasi keuangan yang komparabel (dapat diperbandingkan). Dengan kata lain,
komparabilitas laporan keuangan merupakan prasyarat bagi pengambilan keputusan investasi.
Semakin tinggi komparabilitas, semakin berkualitas keputusan yang diambil.
Komparabilitas informasi keuangan yang disajikan di dalam laporan keuangan
berhubungan terbalik dengan diversitas akuntansi. Semakin tinggi diversitas, semakin rendah
komparabilitas, dan ini berarti semakin tebal tembok penghalang yang merintangi arus dana
internasional dan dengan demikian semakin besar upaya yang diperlukan untuk
menghilangkan rintangan tersebut. Ini berarti semakin besar biaya-biaya yang harus
dikeluarkan. Dari perspektif investor, upaya untuk menghilangkan rintangan tersebut akan
menurunkan return yang diperoleh, sedangkan dari perspektif perusahaan upaya tersebut akan
memperbesar biaya modal (cost of capital). Semakin mengglobal bisnis dan investasi,
semakin besar tuntutan untuk menghilangkan atau setidaknya memperkecil rintangan
tersebut. Dan untuk itulah konvergensi akuntansi dilaksanakan.
Pada awalnya, dilaksanakannya konvergensi akuntansi dipelopori oleh badan-badan
politik dan organisasi-organisasi akuntansi profesional. Setelah itu, dorongan konvergensi
berasal dari penyusun dan kelompok-kelompok pengguna laporan keuangan. Mereka itu
adalah perusahaan multinasional yang menyusun laporan keuangan, regulator yang
memonitor pasar modal, industri sekuritas (termasuk bursa efek) yang menganggap dirinya
secara signifikan terkena dampak dari perbedaan akuntansi antar negara, dan negara-negara
berkembang yang sering mengalami kelangkaan sumber untuk mengembangkan standar
akuntansinya sendiri. Banyak dari investasi baru tersebut terjadi di negara-negara
berkembang. Ini mengakibatkan perusahaan multinasional mengorbankan lebih banyak
sumber untuk menyusun laporan keuangan konsolidasian yang disebabkan karena perbedaan
antara laporan keuangan di negara domisilinya dan di negara di mana sebagian investasinya
berada.
Organisasi-organisasi Internasional Pendorong Konvergensi
Ada sejumlah organisasi internasional yang berperan penting dalam konvergensi
akuntansi, di samping International Accounting Standards Board (IASB) yaitu :
1. Commision of the Europe Union, yang disebut Europe Commision (EC)
2. International Organization of Securities Commision (IOSCO)
3. International Federation of Accountants (IFAC)
4.
United Nations Intergovermental Working Group of Experts on International
Standards of Accounting and Reporting (ISAR), bagian dari United Nations Conference on
Trade and Development (UNCTAD)
5. Organization for Economic Cooperation and Development Working Group on
Accounting Standards (OECD Working Group)

EC, OECD Working Group dan ISAR merupakan entitas-entitas politik yang
memperoleh kewenangan dari persetujuan internasional. Kegiatan utama IFAC meliputi
penerbitan petunjuk teknis dan profesional dan mendorong adopsi pengumuman IFAC dan
IASB. Sementara kegiatan IOSCO adalah mendorong standar regulasi yang tinggi, yang
meliputi konvergensi disklosur dan standar-standar akuntansi untuk perdagangan dan
pemerolehan modal lintas negara. Di samping itu, World Federation of Exchanges (WFE)
mendorong perkembangan bisnis pasar keuangan yang profesional dengan menetapkan
standar-standar yang harmonis yang diperlukan dalam proses bisnis (termasuk disklosur dan
pelaporan keuangan). Sementara organisasi-organisasi akuntansi regional juga berpartisipasi
dalam penyusunan standar lintas negara di daerah masing-masing.
International Accounting Standards Board (IASB)
Skenario untuk melaksanakan harmonisasi/ konvergensi global akuntansi dampaknya
adalah adopsi standar-standar yang diterbitkan oleh IASC (yang sekarang bernama IASB).
Tetapi, karena badan tersebut tidak mempunyai otoritas, maka standar-standar tersebut harus
disetujui oleh International Organization of Securities Commision (IOSCO). IASC didirikan
pada tahun 1973 oleh organisasi-organisasi akuntansi profesional di sembilan negara dan
merupakan badan penyusun standar sektor swasta yang independen. Pada tahun 2001, IASC
direstrukturisasi menjadi International Accounting Standards Board (IASB) dan bertujuan
untuk :
1. Menyusun satu set tunggal standar-standar akuntansi global yang berkualitas tinggi,
dapat dipahami dan dapat dilaksanakan yang menuntut agar informasi yang disajikan dalam
laporan keuangan dan pelaporan keuangan yang lain berkualitas tinggi, transparan dan
komparabel sehingga dapat membantu para partisipan pasar modal dunia serta para pemakai
lain dalam pengambilan keputusan ekonomi.
2. Mendorong penggunaan dan aplikasi secara cermat standar-standar tersebut.
3.
Memenuhi tujuan-tujuan yang terkait butir (1) dan (2) dan setepat mungkin
memperhatikan kebutuhan entitas-entitas kecil dan menengah serta ekonomi yang baru
muncul.
4. Melaksanakan konvergensi standar-standar akuntansi nasional dan standar-standar
akuntansi internasional serta standar-standar pelaporan keuangan internasional.
IASB mewakili organisasi-organisasi akuntansi yang ada pada kurang lebih 100 negara.
Badan ini mendapat dukungan yang amat luas, yang menunjukkan besarnya kebutuhan akan
konvergensi akuntansi. Pada awalnya, yaitu selama dasawarsa pertama dan masih bernama
IASC, badan ini menyusun standar-standar yang mengkodifikasi praktik-praktik nasional
yang serupa dan membuang praktik-praktik yang tidak lazim. Standar-standar yang disusun
ini lebih deskriptif daripada preskriptif. Pada dasawarsa ke dua, IASC mulai membahas isuisu yang lebih sulit dan merespon keluhan-keluhan yang menyatakan bahwa standar-standar
IASC menyajikan terlalu banyak alternatif perlakuan akuntansi serta tidak cukup ketat. Pada
bulan Juni 1995, Komite Teknik IOSCO menyetujui rencana kerja IASC untuk memproduksi
satu set standar yang komprehensif dan berkualitas tinggi. Ini diselesaikan dengan
disetujuinya SAI 39 pada bulan Desember 1998 dan pada tahun 2000 IOSCO mengesahkan
standar-standar IASC untuk listing dan penawaran lintas negara.
Pada awalnya, IASC menyusun standar-standar berbasis aturan dan standar-standar
yang diterbitkan oleh IASC ini disebut standar akuntansi internasional (International
Accounting Standards, IAS), yang berbasis pada aturan. Setelah berstruktur baru dan
bernama IASB, standar-standar yang disusun didasarkan atas prinsip dan disebut standar
pelaporan keuangan internasional (International Financial Reporting Standards, IFRS).

Sebelum direstrukturisasi, IASC telah menerbitkan 41 IAS dan sampai dengan 30 Januari
2007, IASB telah menerbitkan 8 IFRS (Sunardi dan Sunyoto, 2011:83).
Pengakuan dan Dukungan terhadap IASB
IFRS sekarang ini diterima secara luas oleh negara-negara di dunia. Adapun bentukbentuk pengakuan dan dukungan tersebut adalah sebagai berikut :
1.
Standar-standar tersebut digunakan oleh banyak negara sebagai dasar menyusun
standar-standar akuntansi mereka atau diadopsi sepenuhnya.
2.
Standar-standar tersebut diterima oleh banyak bursa efek dan para regulator yang
mengizinkan baik perusahaan asing maupun domestik untuk menyusun laporan keuangan
yang sesuai dengan IFRS.
3.
Standar-standar tersebut diakui oleh masyarakat Eropa (European Community,
EC) dan badan-badan supranasional lain. Pada tahun 1995, EC mengesahkan IFRS. Daripada
mengandemen instruksi-instruksi yang ada, EC lebih memilih untuk berasosiasi dengan
upaya-upaya IASC/ IASB dan IOSCO dalam melaksanakan konvergensi standar-standar
akuntansi. Sekarang, dalam menyusun laporan keuangan konsolidasian, perusahaanperusahaan Uni Eropa yang terdaftar pada bursa-bursa efek ternama menggunakan IFRS.
Kendala dalam Penyelarasan Diversitas Akuntansi
Jika tujuan utama dari pelaporan keuangan oleh tiap-tiap negara beraneka ragam,
karena itu menjadi masuk akal bahwa laporan yang dihasilkan tentu juga beraneka ragam.
Penyelarasan menjadi berguna bila pengguna laporan keuangan yang sama yang menerima
informasi dari beberapa perusahaan di beberapa negara. Menjadi relevan bila perusahaanperusahaan tersebut menggunakan dua standar aturan pelaporan, yaitu standar lokal dan
standar internasional, atau laporan induk dan laporan konsolidasian.
Kendala selanjutnya adalah nasionalisme. Hal ini dapat diterjemahkan sebagai
keengganan negara untuk menerima penyesuaian-penyesuaian dalam praktik akuntansinya
dengan praktik akuntasi dari negara lain. Keengganan ini bisa terjadi di kalangan para
akuntan dan perusahaan atau negara-negara yang tak ingin kehilangan kedaulatannya. Bentuk
lain nasionalisme bisa jadi kurangnya pengetahuan atau minat terhadap praktek akuntansi
lain. Dengan kata lain, adanya anggapan dalam pikiran dan pandangan bahwa sulit untuk
mengubah ke standar yang ditetapkan oleh negara lain.
Kendala lain adalah adanya konsekuensi ekonomi dalam standar akuntansi.
Konsekuensi ini berbeda pada tiap negara, berdasarkan pada negara mana yang menyusun
standar. Kendala ini dan kendala-kendala yang telah disebutkan sebelumnya dapat memaksa
terjadinya disharmonisasi.
Dampak Pengadopsian IFRS yang Tejadi di Beberapa Negara
Saat ini, lebih dari 100 (seratus) negara telah mengacu pada pelaporan IFRS atau
memutuskan menggunakan standar-standar ini dalam waktu dekat. Literatur akuntansi
internasional membuktikan bahwa dampak pengadopsian IFRS melibatkan 3 (tiga) unsur,
yaitu; informasi yang dihasilkan oleh laporan keuangan, keefisienan pasar dan keselarasan
akuntansi. Bahkan sebelum IFRS menjadi suatu kewajiban, beberapa perusahaan di dunia
telah dengan sukarela mengadopsi atau berubah ke IFRS. Hasil penelitian-penelitian dalam
studi literatur Rusu (2012) mendeskripsikan tujuan pengadopsian perusahaan tersebut sebagai
berikut :
a. untuk mencari akses modal asing,

b. meningkatkan pengakuan konsumen,


c. mengurangi biaya politis,
d. hanya memiliki sedikit akun rekonsiliasi.
Lama sebelum diterbitkannya IFRS, telah muncul isu Big GAAP dan Little GAAP.
Standar-standar IFRS ditujukan untuk perusahaan besar, bukan usaha kecil dan menengah
(UKM, atau small and medium enterprises, SME). Bagi UKM, penerapan standar-standar
tersebut adalah terlalu mahal, tidak efisien dan juga tidak efektif. Biayanya besar, demikian
pula waktu yang mereka gunakan untuk menyusun laporan keuangan. Oleh karena itus,
diperlukan standar khusus untuk UKM. Menyadari hal ini, IASB melakukan suatu proyek
penyusunan standar yang sesuai dengan kondisi UKM. Rancangan ini dimaksudkan untuk
menyederhanakan IFRS yang telah ada yang memang dirancang untuk perusahaan besar. Ada
dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, definisi UKM tidak meliputi perusahaan yang
melakukan listing maupun perusahaan yang signifikan secara ekonomi. Kedua, jika untuk
sebuah masalah ekonomi bagi UKM tidak atau belum dibuatkan standarnya, disarankan agar
UKM menggunakan IFRS penuh yang sudah ada. Pada 15 Februari 2007, Draft IFRS untuk
UKM telah diterbitkan. Standar untuk UKM yang mengeliminasi lebih dari 85% standar
IFRS penuh ini diberlakukan mulai tahun 2008.
Perkembangan Standar Akuntansi di Indonesia
Indonesia memutuskan untuk melaksanakan konvergensi terhadap IAS/ IFRS pada
tahun 1994. Sampai dengan disusunnya Standar Akuntansi Keuangan 2007, Dewan Standar
Akuntansi Keuangan (DSAK) telah menerbitkan 57 standar dengan rincian, 28 standar
mengacu IAS/ IFRS, 20 standar mengacu PABU AS, 1 standar mengacu standar akuntansi
Bahrain dan 8 standar dibuat. Jadi, sampai saat ini PSAK telah banyak berkiblat pada IAS.
Lalu, perlukah Indonesia mengadopsi IAS/ IFRS? Tentu saja perlu, agar standar pelaporan
keuangan Indonesia mendapat pengakuan yang tinggi. Tetapi ada dua hal penting yang harus
diperhatikan. Yang pertama, kesadaran akuntan untuk berperilaku profesional dan
menjunjung tinggi etika profesi. Semakin pandai seorang akuntan, semakin berbahaya jika
tidak menjunjung tinggi profesi. Yang kedua, adanya regulator yang mempunyai daya paksa
terhadap semua perusahaan dan semua akuntan untuk mematuhi regulasi yang telah
ditetapkan. Tanpa kekuatan pemaksa, regulasi atau aturan apapun tidak akan mempunyai
manfaat dalam upaya pencapaian tujuan yang diinginkan. Adopsi IFRS adalah untuk
meningkatkan kualitas dan daya banding informasi keuangan, namun tanpa regulatory
oversight yang ketat tujuan tersebut tidak akan tercapai.

Anda mungkin juga menyukai