Anda di halaman 1dari 4

A.

Latar belakang
Stres adalah kejadian yang penting serta tidak dapat dihindari dari kehidupan sehari-hari
(Nandamuri & Ch, 2011). Berdasarkan penelitian World Health Organitation (WHO), diberbagai
negara menunjukkan sebesar 20-30% pasien yang datang dipelayanan kesehatan dasar
menunjukkan gejala gangguan jiwa dan bentuk yang paling sering adalah kecemasan dan depresi
(Sundari, 2012). Data WHO (2011) menunjukkan bahwa sebanyak 450 juta penduduk di dunia
mengalami gangguan kesehatan akibat stres (Larasaty, 2012). Menurut Yosep I (2010)
menyebutkan stres sebagai reaksi fisik, mental, dan kimiawi dari tubuh terhadap situasi yang
menakutkan, membingungkan, membahayakan, dan merisaukan seseorang. Dikatakan pula Stres
merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya.
Dalam Wulandari, 2012, membagi stres dalam beberapa tingkatan, yaitu: stres ringan, stres
sedang, stres berat.
Mahasiswa dalam kegiatannya juga tidak terlepas dari stres. Stresor atau penyebab stres
pada mahasiswa dapat bersumber dari kehidupan akademiknya, terutama dari tuntutan eksternal
dan tuntutan dari harapannya sendiri. Tuntutan eksternal dapat bersumber dari tugas-tugas
kuliah, beban pelajaran, tuntutan orang tua untuk berhasil di kuliahnya dan penyesuaian sosial di
lingkungan kampusnya. Tuntutan ini juga termasuk kompetensi perkuliahan dan meningkatnya
kompleksitas materi perkuliahan yang semakin lama semakin sulit. Tuntutan dari harapan
mahasiswa dapat bersumber dari kemampuan mahasiswa dalam mengikuti pelajaran (Heiman &
Kariv, 2005).
Berbagai penelitian telah mendokumentasikan stres di kalangan mahasiswa kedokteran
dan menunjukkan adanya stres yang sangat tinggi apabila dibandingkan dengan program studi
lain di sektor non-medis (Navas, 2012). Salah satu Penelitian tentang stres pada mahasiswa
kedokteran yang dilakukan di salah satu Universitas di Indonesia oleh Carolin (2010) yaitu
dengan diambil sampel 90 mahasiswa kedokteran dan didapatkan gambaran tingkat stres pada
mahasiswa kedokteran sebesar 71%. Secara keseluruhan, prevalensi stres pada mahasiswa
fakultas kedokteran masih cukup tinggi, yaitu berkisar 30-70%.
Stres dapat dianggap sebagai ancaman yang dapat menyebabkan kecemasan, depresi,
disfungsi sosial bahkan niat untuk mengakhiri hidup (Nandamuri & Ch,2011). Kondisi depresi
dan kecemasan adalah hal yang tidak diinginkan dalam suatu komunitas pendidikan. Siswa yang
prestasi akademiknya kurang berhasil, dilaporkan memiliki tingkat stres yang tinggi. Dampak

negatif dari stress emosional pada mahasiswa kedokteran akan mengganggu perkuliahan serta
menganggu kinerja mereka. Mahasiswa yang mengalami kondisi stres yang ekstrem atau depresi
membutuhkan perhatian serius, jika mahasiswa tidak mampu mengatasi stres dari proses
pendidikan yang mereka terima akan berdampak buruk terhadap dirinya pribadi dan profesinya
kelak sebagai dokter (Navas, 2012).
Menurut Chappy (2008) dalam Mahaning (2011), terdapat berbagai cara untuk
mengurangi kecemasan dan stres, diantaranya adalah latihan fisik. Latihan fisik atau yang lebih
dikenal dengan olahraga adalah tindakan fisik untuk meningkatkan kesehatan atau memperbaiki
deformitas fisik (Balqish 2011), melakukan latihan fisik minimal 30 menit dapat menstimulasi
pelepasan hormon endorfin dan menurunkan kadar hormon kortisol di dalam tubuh.
Berkurangnya kadar kortisol di dalam tubuh akan menyebabkan terciptanya keseimbangan
mental. Menurut Departemen Kesehatan RI (2007), latihan fisik juga sangat penting bagi
pemeliharaan kesehatan fisik, mental dan mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat dan
bugar sepanjang hari. Salah satu jenis olahraga ringan yang mudah di aplikasikan dan hemat
biaya adalah berlari dengan santai atau yang lebih dikenal dengan jogging. Jogging berarti
berlari dengan kecepatan yang tidak lebih dari delapan mil per menit (Chattin, 2005).
Potensi kejadian stres pada mahasiswa juga terjadi di Fakultas Kedokteran Universitas
Jenderal Soedirman Angkatan 2013. Sebagai seorang mahasiswa tentunya memiliki sejumlah
beban akademik maupun non-akademik. Jadwal akademik yang padat mengakibatkan mahasiswa
sibuk dan berpotensi mengakibatkan mahasiswa menjadi stres. Persiapan menjelang pembuatan
skripsi pun tengah dilakukan. Beberapa faktor pencetus timbulnya stres pada mahasiswa juga
dapat berupa kerumitan dalam proses pembelajaran yang semakin komplek materi perkuliahan
yang diberikan semakin lama semakin sulit.
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat disimpulkan bahwa tingkat stres pada
mahasiswa kedokteran masih cukup tinggi dan dapat membawa pengaruh yang kurang baik
terhadap proses pembelajaran dan prestasi mahasiswa. Maka penulis memandang perlu untuk
dilakukan penelitian untuk menggali sejauh mana pengaruh intensitas jogging dengan tingkat
stres pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman Angkatan 2013.

DAPUS
WHO. 2011. Global Recommendations on Physical Activity for Health. Diakses dari
http://whqlibdoc.who.int/publications/2010/9789241599979_eng.pdf pada 3 Desember
2015
Larasaty, R. (2012). Hubungan tingkat stres dengan kejadian sleep paralysis pada mahasiswa
FIK UI angkatan 2008.http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20308815-S%2043112
Hubungan%20tingkat-full%20text.pdf, diakses 2 Desember 2015
Yosep, I. (2010). Keperawatan Jiwa.Bandung:PT Refika Aditama
Sundari, J. (2012). Hubungan antara tingkat stres dengan intensitas olahraga pada mahasiswa
reguler 2008 fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam universitas
Indonesia.http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20311330-S42941- Hubungan%20antara.pdf
Departemen Kesehatan RI, 2007. Rumah Tangga Sehat dengan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat. Diakses dari
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ca
d=rja&ved=0CCsQFjAA&url=http%3A%2F%2Fwww.promkes.depkes.go.id
%2Findex.php%2Fmediaroom%2Fpublikasi-dan-mediapromosi%
3Fdownload%3D14%3Aposter-dan-mediapublikasi&
ei=D60YUbepMc3jrAex9YCwCQ&usg=AFQjCNGPaH0WSmGp
7odvvaivazkd_LFDiw&bvm=bv.42080656,d.bmk pada 3 Desember 2015
Carolin. 2010. Gambaran Tingkat Stres pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Sumatera Utara
[skripsi]. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Navas, Shah. 2012. Stress among medical students. Kerala Medical Journal, 2(2):5-7.
Nandamuri PP, Ch G. 2011. Sources of Academic Stress A Study on Management Students. J.
Management and Science, 1: 31-42.
Mahaning, 2011. Pengaruh Yoga Hatha Terhadap Tingkat Kecemasan pada Peserta Yoga
Kelompok Usia Dewasa Muda di Pasraman Yogadhiparamaguhya Bali Tahun 2011.
Skripsi. Bali: Universitas Udayana Denpasar Bali.
Chattin, Shane. 2005. The Intense Trainer Program. United Stated of America: iUniverse.
Balqish, Nabila. 2011. Tingkat Pengetahuan Mahasiswa FK USU Angkatan 2007 Mengenai
Manfaat Konsumsi Minuman Isotonik Pada Aktivitas Olahraga, (Online), Skripsi.
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23317/4/Chapter%20II.pdf, diakses: 9
Desember 2015.

Heiman & Kariv. 2005. Task-oriented versus emotion-oriented coping strategies: the case of
college students. College Student Journal, 39(1):72-89.
Wulandari, R.P. (2012). Hubungan tingkat stres dengan gangguan tidur pada mahasiswa skripsi
disalah satu fakultas rumpun science-technology UI.
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20313206-S43681-Hubungan%20tingkat.pdf, diakses
tanggal 2 Desember 2015