Anda di halaman 1dari 15

PERKEMBANGAN SISTEM DAN WAHANA

Penginderaan jauh pada awalnya dikembangkan dari teknik interpretasi foto udara.
Pada tahun 1919 telah dimulai upaya pemotretan melalui pesawat terbang dan
interpretasi foto udara (Howard, 1990). Meskipun demikian, teknik interpretasi foto
udara untuk keperluan sipil (damai) sendiri baru berkembang pesat setelah Perang
Dunia II, karena sebelumnya foto udara lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan
militer. Dalam tiga puluh tahun terakhir, penggunaan teknologi satelit dan teknologi
komputer untuk menghasilkan informasi keruangan (atau peta) suatu wilayah semakin
dirasakan manfaatnya. Penggunaan teknik interpretasi citra secara manual, baik
dengan foto udara maupun citra non-fotografik yang diambil melalui wahana selain
pesawat udara dan sensor selain kamera hingga saat ini telah cukup mapan dan diakui
manfaat dan akurasinya. Di sisi lain, pengolahan atau pemrosesan citra satelit secara
digital telah taraf operasional untuk seluruh aplikasi di bidang survei-pemetaan.
Hampir bersamaan dengan perkembangan teknik analisis data keruangan melalui
teknologi SIG, kebutuhan akan citra digital yang diperoleh melalui perekaman sensor satelit
sumberdaya pun semakin meningkat. Perolehan data penginderaan jauh melalui satelit
menawarkan beberapa keunggulan dibandingkan melalui pemotretan udara, antara lain dari
segi harga, periode ulang perekaman daerah yang sama, pemilihan spektrum panjang
gelombang untuk mengatasi hambatan atmosfer, serta kombinasi saluran spektral (band)
yang dapat diatur sesuai dengan tujuan.

Di Indonesia, penggunaan foto udara untuk survei-pemetaan sumberdaya telah


dimulai oleh beberapa lembaga pada awal tahun 1970-an. Pada periode yang sama,
ketika berbagai lembaga di Indonesia masih belajar memanfaatkan foto udara, Amerika
Serikat pada tahun 1972 telah meluncurkan satelit sumberdaya ERTS-1 (Earth
Resources Technology Satellite - 1), yang kemudian diberi nama baru menjadi Landsat1. Satelit ini mampu merekam hampir seluruh permukaan bumi pada beberapa spektra
panjang gelombang, dan dengan resolusi spasial sekitar 80 meter. Sepuluh tahun
kemudian, Amerika Serikat telah meluncurkan satelit sumberdaya Landsat-4 (LandsatD) yang merupakan satelit sumberdaya generasi kedua, dengan memasang sensor

baru Thematic Mapper yang mempunyai resolusi yang jauh lebih tinggi daripada
pendahulunya, yaitu 30 meter pada enam saluran spektral pantulan dan 120 meter
pada satu saluran spektral pancaran termal. Pada tahun yang hampir bersamaan itu
pula, beberapa lembaga di Indonesia baru mulai memasang sistem komputer pengolah
citra digital satelit, dan menjadi salah satu negara yang termasuk awal di Asia Tenggara
dalam penerapan sistem pengolah citra digital. Meskipun demikian, tampak nyata
bahwa

Indonesia

sebagai

negara

berkembang

cenderung

tertinggal

dalam

pengembangan dan pemanfaatan teknologi.


Memasuki awal sasrawarsa (milenium) ketiga ini, telah beredar banyak jenis
satelit sumberdaya yang diluncurkan oleh banyak negara. Dari negara maju seperti
Amerika Serikat, Kanada, Perancis, Jepang, dan Rusia, hingga negara-negara besar
namun dengan pendapatan per kapita yang masih relatif rendah seperti India dan
Republik Rakyat Cina. Berbagai satelit sumberdaya yang diluncurkan itu menawarkan
kemam-puan yang bervariasi, dari resolusi sekitar satu meter atau kurang (IKONOS,
OrbView, QuickBird dan GeoEye milik perusahaan swasta Amerika Serikat), 10 meter
atau kurang (SPOT milik Perancis, COSMOS milik Rusia, IRS milik India dan ALOS
milik Jepang), 15-30 meter (ASTER yang merupakan proyek kerjasama Jepang dan
NASA, Landsat 7 ETM+ milik Amerika Serikat, yang sayangnya mengalami kerusakan
sejak tahun 2003), 50 meter (MOS, milik Jepang), 250 dan 500 meter (MODIS milik
Jepang) hingga 1,1 km (NOAA-AVHRR milik Amerika Serikat).
Banyak negara di Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, Asia, dan bahkan Afrika
telah memanfaatkan citra satelit itu untuk pembangunan, baik dalam pengelolaan
sumberdaya maupun mitigasi bencana alam. Tahun-tahun belakangan ini, negeranegara berkembang seperti Thailand, Malaysia, Nigeria dan Indonesia pun menyusul
untuk meluncurkan dan mengoperasikan satelit penginderaan jauh berukuran kecil.
Sensor-sensor satelit baru tidak hanya beroperasi pada wilayah multispektral. Saluran
pankromatik dengan resolusi spasial yang lebih tinggi daripada saluran spektral lain
pada sensor yang sama juga dioperasikan oleh berbagai sistem. Sensor aktif seperti
radar juga telah dioperasikan oleh berbagai satelit seperti JERS (Jepang), ERS dan
Envisat (Uni Eropa), Radarsat (Kanada); sementara sistem sensor aktif berbasis
teknologi laser (Lidar) terus dikembangkan untuk memperoleh informasi ketinggian

permukaan kanopi pepohonan dan ketinggian permukaan tanahnya sekaligus. Sistem


satelit Modis, Envisat dan EO-1 juga mengangkut sensor hiperspektral dengan ratusan
saluran spektral untuk memperoleh informasi yang lebih spesifik mengenai objek,
termasuk komposisi kimia mineral dan spesies organisme.

PERKEMBANGAN

APLIKASI

Penginderaan jauh sekarang tidak hanya menjadi alat bantu dalam menyelesaikan
masalah. Begitu luasnya lingkup aplikasi penginderaan jauh sehingga dewasa ini bidang
tersebut telah menjadi semacam, kerangka kerja (framework) dalam menyelesaikan
berbagai masalah terkait dengan aspek ruang (lokasi, area), lingkungan (ekologis) dan
kewilayahan (regional). Perkembangan ini meliputi skala sangat besar (lingkup sempit)
hingga skala sangat kecil (lingkup sangat luas). Gambar 1.4 memberikan deksripsi visual
tentang hubungan antara bidang aplikasi dengan resolusi spasial (kerincian ukuran atau
detil informasi terkecil yang diekstrak) dan resolusi spasial (kerincian informasi dari sisi
frekuensi perekaman atau observasi ulang).
Penginderaan jauh di awal perkembangannya berasosiasi dengan aplikasi militer,
karena gambaran wilayah yang dapat disajikan secara vertikal mampu memberikan
inspirasi bagi pengembangan strategi perang yang lebih efektif daripada peta. Efektivitas
ini khususnya menyangkut pemantauan posisi dan pergerakan musuh, serta peluang
penyerbuan dari titik-titik tertentu. Kemajuan teknologi pemotretan yang melibatkan film
peka sinar inframerah dekat juga telah mendukung analisis militer dalam membedakan
kenampakan kamuflase objek militer dari objek-objek alami seperti misalnya pepohonan.

Penggunaan teknologi foto inframerah akhirnya juga dimanfa-atkan untuk aplikasi


pertanian, khususnya dalam konteks perkiraan kerapatan vegetasi, biomassa dan
aktivitas fotosintesis, karena kepekaan pantulan sinar inframerah dekat ternyata
berkaitan dengan struktur interal daun dan kerapatan vertikal vegetasi. Foto udara
inframerah juga terbukti efektif pembedaan objek air dan bukan air, sehingga
pemetaan garis pantai pun sangat terbantu oleh teknologi ini.

Dalam perkembangan selanjutnya, sensor-sensor ini merambah ke wilayah spektra


panjang gelombang yang lebih luas, seperti misalnya inframerah tengah, jauh dan
termal, serta gelombang mikro. Rambahan ini memerlukan jenis sensor dan detektor
yang berbeda dengan kamera, namun sekaligus memperluas bidang aplikasi
penginderaan jauh, sehingga semakin banyak jenis objek dan fenomena yang dapat
dikaji melalui citra hasil perekaman yang diperoleh. Setiap eksperimen yang sukses
dengan rancangan sensor baru kemudian diuji-cobakan dengan wahana yang berbeda,
untuk kemudian dioperasionalisasikan ke sistem satelit, yang mampu melakukan
perekaman secara kontinyu dan sekaligus memiliki cakupan global. Berbeda dari
pendahulunya yang hanya beroperasi dengan kamera dengan hasil perekamana
berupa citra analog, sensor-sensor baru beroperasi dengan sistem opto-elektronik yang
lebih maju dan citra yang dihasilkan pun berformat digital. Beda tinggi orbit, kecepatan
mengorbit dan sistem teleskop maupun sistem opto-elektronik detektor akhirnya juga
menentukan resolusi temporal, resolusi spasial serta resolusi spektral data yang
dihasilkan.

PERGESERAN PENERAPAN TEKNOLOGI: DARI PEMERINTAH KE


SWASTA
Pada tahun 1994, pemerintah Amerika Serikat mengambil keputusan untuk
mengijinkan perusahaan sipil komersial untuk memasarkan data penginderaan
jauh resolusi tinggi, yaitu antara 1-4 meter (Jensen, 1996). Hal ini kemungkinan
berkaitan dengan berakhirnya era Perang Dingin. Dua perusahaan swasta, yaitu Earth
Watch dan Space Imaging segera menanggapi keputusan ini dengan mengeluarkan
produk mereka, masing-masing adalah Earlybird dan Quickbird (Earth Watch) dan
Ikonos (Space Imaging). Earlybird memberikan resolusi spasial 3 meter untuk citra
pankromatik dan 15 meter untuk citra multispektral meskipun proyek ini kemudian
gagal; sedangkan Quick Bird dan Ikonos mampu memberikan citra dengan resolusi
spasial yang lebih tinggi, yaitu masing-masing 0,6 dan 1 meter untuk pankromatik 2,4
dan 4 meter untuk multispektral. GeoEye saat ini mampu memberikan data pada
resolusi sekitar 40 cm, meskipun Pemerin-tah Amerika Serikat membatasi distribusi dan
penggunaan citra resolusi spasial tinggi hanya sampai dengan 50 cm.

Pada aras pengguna, semakin banyak perusahaan swasta yang bergerak di bidang
penginderaan jauh. Lingkup kegiatan ini bukan hanya pada penguasaan pengolahan
data awal hingga pemasaran pada tingkat hulu seperti EOSAT, SpaceImaging dan
DigitalGlobe, melainkan juga penyediaan jasa konsultansi untuk berbagai kegiatan
seperti pekerjaan umum, kehutanan, pembukaan lahan transmigrasi, hingga lahan
yasan (real estate). Pergesaran ini membawa implikasi pada kemampuan akses data
penting kewilayahan yang sebelumnya hanya dikuasai oleh negara (khususnya militer)
ke pihak swasta. Pertukaran dan jual-beli data resolusi tinggi saat ini semakin sulit
untuk diawasi dan diatur oleh negara, mengingat bahwa lalu lintas data telah dapat
dilakukan secara bebas melalui jaringan internet. Banyak perusahaan pemasaran data
satelit sumberdaya dan cuaca dewasa ini menyediakan fasilitas download data melalui
internet.

PERKEMBANGAN TEKNIK ANALISIS


Dari

Manual

ke

Digital

Ketika berbagai negara berkembang masih memiliki akses terbatas ke sistem


komputer untuk pengolahan citra digital, pemanfaatan produk penginderaan jauh satelit
masih berupa citra tercetak (hard copy) yang diinterpretasi secara visual atau manual.
Teknik interpretasi semacam ini telah berkembang pesat dalam penginderaan jauh
sistem fotografik, dan hingga saat ini merupakan teknik yang dipandang mapan.
Prinsip-prinsip interpretasi fotografis dapat diterapkan pada citra satelit yang telah
dicetak, dan memberikan banyak informasi mengenai fenomena spasial di permukaan
bumi pada skala regional. Citra-citra satelit yang telah tercetak ini memberikan
keuntungan terutama dalam hal (a) kemudahan analisis regional secara cepat (karena
dimungkinkannya synoptic overview pada satu lembar citra berukuran 60 km x 60 km
sampai dengan 180 km x 185 km), dan (b) kemudahan pemindahan hasil interpretasi
(plotting) ke peta dasar, karena tidak memerlukan banyak lembar dengan skala yang
berbeda-beda dan mempunyai distorsi geometri yang relatif lebih rendah dibandingkan
foto udara.
Sejalan dengan perkembangan teknologi komputer yang semakin pesat dewasa ini --di
mana banyak perusahaan telah melakukan downsizing (beralih dari komputer mainframe ke
komputer mini, dan dari komputer mini ke komputer mikro/PC) maka akses berbagai
kelompok praktisi dan akademisi ke otomasi pengolahan citra digital pun semakin besar.
Semakin banyak paket perangkat lunak pengolah citra digital dan SIG yang dioperasikan
dengan PC dan bahkan komputer jinjing (laptop). Di sisi lain, berbagai jenis PC dan laptop

saat ini ditawarkan dengan harga yang semakin murah namun dengan arsitektur prosesor
yang semakin canggih dan kemampuan pengolahan maupun penyimpanan data yang
semakin tinggi.
Teknologi SIG sebenarnya telah dimulai pada akhir tahun 1960-an, antara lain oleh
Tomlinson (Marble dan Pequet, 1990). Kemudian pada dekade 1970-an beberapa negara
bagian di Amerika Serikat telah memulai untuk menerapkan SIG dalam pengelolaan
sumberdaya lahan dan perencanaan wilayah. Pada sekitar tahun 1979, Jack Dangermond
mengawali pengembangan paket perangkat lunak SIG yang sangat terkenal, yaitu Arc/Info
untuk mengisi pasar komersia (Rhind et al., 2004). Setelah itu, puluhan --bahkan ratusan
macam paket perangkat lunak SIG, yang sebagian besar di antaranya dioperasikan untuk
PC, membanjiri pasar dunia. Kebutuhan akan fasilitas pengolahan citra digital yang
sekaligus dilengkapi dengan fasilitas SIG telah membuka kemungkinan-kemungkinan baru
dalam analisis data spasial. Sistem pengolah citra satelit dapat memberikan masukan pada
SIG berupa peta-peta tematik hasil ekstraksi informasi dari citra digital satelit. Di sisi lain,
fasilitas analisis spasial dari SIG mampu mempertajam kemampuan analisis penglohan
citra, terutama dalam hal pemanfaatan data bantu untuk meningkatkan akurasi hasil
klasifikasi multispektral (Jensen, 2005).

Dari Multispektral ke Multisumber dan Hiperspektral


Pada awal perkembangannya, kamera hanya mampu menghasil-kan foto hitamputih. Hal yang sama diberikan oleh foto yang dipasang pada pesawat udara untuk
kebutuhan pengintaian dalam aplikasi miltiter. Kehadiran film berwarna pun secara cepat
berimbas pada penggunaan yang lebih intensif dalam penginderaan jauh berbasis foto
udara.

Ketersediaan film inframerah kemudian mendorong perkembang-an kamera

multisaluran (multiband), yang pada umumnya memuat empat lensa dalam satu badan
kamera, dengan kepekaan yang berbeda-beda untuk wilayah spektral berikut: biru, hijau,
merah dan inframerah dekat. Tahap ini menandai perkembangan sistem pemotretan dari
yang bersifat unispektral (saluran tunggal) dan berjulat spektral lebar misalnya dari biru
hingga merah ke

sistem pemotretan multispektral.

Analisis visual foto udara

pankromatik, baik hitam-putih maupun berwarna pun kemudian bergeser ke analisis

multispektral

sederhana,

dengan

memanfaatkan

alat

pemadu

warna

elektrik

seperti additive colour viewer (ACV).

ACV merupakan suatu antarmuka (interface) yang dapat digunakan untuk


menampilkan diapositif film multispektral dengan penyinaran warna primer (merah, hijau
dan biru) untuk masing-masing saluran. Melalui teknik ini, empat saluran yang tersedia
dalam empat frame diapositif dapat disajikan sebagai foto udara komposit warna semu
atau warna asli, tergantung pada pemilihan kombinasi sinar merah, hijau dan biru pada
diapositif saluran yang berbeda-beda. Interpretasi visual atas citra analog dilakukan di
atas kaca tempat memproyeksikan sorotan komposit diapositif tersebut.
Dengan tersedianya sistem perekam citra digital, maka citra multispektral pun diolah
dengan komputer, dan setiap kombinasi warna dalam bentuk citra komposit bisa
dihasilkan dengan mudah. Analisis multispektral dapat dilakukan secara lebih teliti
dengan membaca nilai-nilai piksel pada berbagai saluran spektral secara serentak,
untuk diperbandingkan, dikombinasi melalui transformasi, maupun diekstrak melalui
berbagai analisis statistik multivariat yang rumit, di mana setiap saluran berfungsi
sebagai satu variabel informasi spektral. Dari awal tahun 1970-an hingga saat buku ini
ditulis, telah berkembang banyak metode analisis multispektral, yang dapat dibaca di
Adams dan Gilespie (2006), Liu dan Mason (2008), dan juga Gao (2010).
Kehadiran teknologi informasi spasial melalui SIG telah memperluas jangkauan
analisis citra, sehingga kemudian berkembanglah metode-metode ekstraksi informasi
objek atau fenomena di permukaan bumi dengan memasukkan data yang bersifat nirspektral, sepertu misalnya jenis tanah, bentuklahan, kemiringan lereng, elevasi, dan
juga peta-peta berisi objek-objek spasial lain. Tentu saja, peta-peta ini harus disimpan
dan diproses dalam format data digital. Dengan demikian, perkembangan metode yang
sudah berlangsung sekitar 25 tahun ini kemudian semakin mengarah ke klasifikasi
multisumber.
Beberapa tulisan awal yang mengintegrasikan penginderaan
jauh (khususnya pengolahan citra) dan SIG angara lain yang ditulis oleh Verbyla dan
Nyquist (1987), Srinivasan dan Richards (1990), Danoedoro (1993). Sementara tulisan
yang relatif baru untuk topik-topik ini, dengan teknik-teknik yang juga baru, antara lain
bisa dijumpai di Weng (2010).
Perkembangan analisis multispektral juga mengarah ke penambahan jumlah
saluran dan lebar setiap saluran. Sistem hiperspektral mampu mencitrakan fenomena
di permukaan bumi dengan jumlah saluran spektral yang mencapai ratusan dan dengan

lebar setiap saluran yang hanya beberapa nanometer. Analisis citra semacam ini, yang
disebut dengan spectral cube (kubus spektral) berkembangan dengan pendekatan yang
berbeda, mengingat bahwa metode-metode analisis multispektral tidak akan efisien dari
sisi waktu pemrosesan dan akurasi hasilnya. Tulisan-tulisan van der Meer dan de Jong
(2003) serta Jensen (2007) dapat dijadikan rujukan awal untuk keperluan ini.

Dari

Per-piksel

ke

Per-objek

Perkembangan sistem penginderaan jauh satelit telah menghasilkan citra-citra


digital yang tidak pernah dibayangkan oleh praktisi di tahun 1980-an, yaitu citra
multispektral dengan kualitas detil yang mendekati atau bahkan menyamai foto udara.
Hal ini tidak lepas dari berakhirnya era Perang Dingin di awal 1990-an dan keputusan
Presiden Bill Clinton untuk mengijinkan perusahaan-perusahaan swasta
mengoperasikan satelit penginderaan jauh dengan teknoogi satelit mata-mata. Pada
tahun 1999 muncullah perusahaan Space Imaging yang meluncurkan satelit Ikonos
dengan resolusi spasial hingga 1 meter, disusul oleh Quickbird dengan resolusi spasial
hingga 0,6 meter, serta satelit-satelit lain seperti OrbView. Saat ini, satelit GeoEye telah
mampu menghasilkan citra digital dengan resolusi spasial sekitar 40 cm, meskipun
undang-undang di Amerika Serikat hanya mengijinkan citra tersebut diproses dan
digunakan oleh publik pada resolusi spasial 50 cm atau lebih kasar.
Kehadiran citra resolusi spasial tinggi telah menantang para analis citra untuk
mengembangkan metode ekstraksi informasi tematik yang berbeda dengan klasifikasi
multispektral yang biasa diterapkan pada citra resolusi spasial menengah dan rendah.
Metode ini dikenal dengan nama klasifikasi berbasis objek (object-based classification).
Di Indonesia, citra resolusi spasial tinggi lebih banyak diperlakukan seperti foto udara
karena para analis mengalami kesulitan dalam menerapkan klasifikasi multispektral
terhadap citra semacam itu. Pada klasifikasi multispektral citra resolusi tinggi, satu
piksel merupakan bagian dari objek penutup lahan yang umumnya berukuran jauh lebih
besar, sehingga hasil klasifikasi cenderung merupakan kumpulan piksel yang tidak
berkaitan langsung dengan kategorisasi objek yang dikembangkan dalam klasifikasi
(Danoedoro, 2006). Untuk mengatasi masalah ini, dalam kurun 10 tahun terakhir mulai
berkembang metode klasifikasi berbasis objek, yang memanfaatkan teknik segmentasi
citra (Baatz dan Schappe, 2000; Ranasinghe, 2006; Navulur, 2007).

RemoteSensing,Teledetection,Telesensing,Penginderaan Jauh

Definisi : - ilmu dan teknologi yang mempelajari sifat2 fisik (mengukur,


menghitung/menyelidiki) suatu benda, tanpa menyentuh atau berada ditempat benda
tersebut, tidak terbatas waktu dan tempat, melalui media image /citra/potret udara
hasil rekaman gelombang elektromagnetik.
Perkembangan Remote Sensing
Awal mula: kerajaan di Eropa mengutus pionir untuk naik diatas ketinggian bukit melihat
apakah ada pasukan musuh yang datang.
Akhir abad ke 19 : mempergunakan balon terbang untuk mengintai kekuatan dan strategi
musuh dan keadaan medan.
Dipergunakan juga oleh para raja/bangsawan untuk menentukan batas tanah miliknya.
Ahli geologi yang berada diatas bukit melihat pola sungai, struktur dsb.
Perkembangan Wahana/platform :
Penemuan Pesawat Terbang
Penemuan alat fotografi dan film
Teknologi luar angkasa/ satelit
Teknologi prosesing/komputer/digital/program
Memungkinkan orang dapat melakukan pengukuran sifat fisik dengan tidak terikat waktu
dan tempat oleh orang lain.
---Pekerjaan Penafsiran/interpretasi-------Perkembangan platform pesawat terbang :
1 Des. 1783 : peluncuran balon berpenumpang pertama di Paris (sebelumnya ditemukan
balon hidrogen oleh Alexander Charles (1746-1822).
Otto Lilienthal (1848-1896) melakukan percobaan terbang dengan pesawat layang dari
atas bukit, jatuh, meninggal
Wright bersaudara pemilik bengkel speda (Orviles + Wilbur) th 1903 percobaan
menerbangkan pesawat bermesin selama 12 detik pd ketinggian 35 meter.
Perkembangan wahana satelit :
1960 Satelit cuaca (VOA-2, ESSA 9,Nimbus.

Peluncuran satelit sputnik (Uni Sovyet)


explorer,vanguard,tiros,itos,nimbus ATS

keluar

angkasa

th

1975.

satelit

Tahun 1980 satelit/pesawat ruang angkasa berpenumpang : Mercury, Gemini,


Appolo/yang mendaratkan manusia di bulan 1979.
Satelit pengindra ERTS yang kemudian berubah nama jadi Landsat (Amerika), SPOT
(Perancis), Ikonos (Sovyet), JERSS (Jepang), Radarsat (Canada)
Tahapan penyelidikan :
Multi stage : tergantung ketinggian terbang, resolusi citra (teknologi lensa) :
Tahap perintis (exploratory),
Tahap Peninjauan (reconnaissance),
Tahap Terperinci (systematic, detailed),
Tahap Khusus (spesific detailed study).
Multi Purpose :
Kebumian : Geologi, geografi, kehutanan, pertanian, hidrografi, ocenanografi,
meteorologi, astronomi
Teknik sipil, planologi, perikanan, kelautan, militer, kepolisian.
Hasil interpretasi menjadi tergantung latar belakang ilmu yang dikuasainya.
Bentuk Pengumpulan data jarak jauh (remotely colletected data)
1. Geofisika : pengukuran besaran penyebaran gravity.
2. Sonar/gelombang akustik dalam sistim navigasi.
3. Sensor mata mengumpulkan data gelombang elektromagnetik.
Ctt : 1 dan 2 tdk termasuk remote sensing karena bukan mempergunakan gelombang EMR
Gelombang elektromagnetik (EMR)
Termasuk EMR : sinar nyata, gelombang radio, panas, ultraviolet, sinar X
Gelombang berjalan membentuk sinusoidal, saling tegak lurus antara gelombang elektro
dan gelombang magnetik.

sinar nyata (pelangi) adalah EMR yg mempunyai panjang gelombang 0,4 07


micronmeter. Biru 0,4 0,5; hijau 0,5 0,6; merah 0,6 0,7. ultra violet <> 0,7. thermal
infra red;
Interaksi EMR dan Atmosfer
Scattrering (terpencar) : Rayleigh scatter / molekul atmosfer, butir halus. Karena itu
Langit nampak berwarna biru. Mye Scatter / butir air/ embun.
Absorption (terserap) : butir air, carbon dioxide, ozone. Atmospheric windows/ jendela
atmosfer :1) jendela merah infra dekat 0,7 2,4 mikronmeter, 2) merah infra menengah
3,5 5,5; 3) merah infra jauh 750 1000.
Interaksi EMR dg. Permukaan bumi
Reflected/pantul : sempurna : cermin, permukaan licin, air laut yang tenang; sangat
tergantung geomorfologi (kasar akan terbaur maka rona menjadi gelap).
Absorbed/diserap : misal pada permukaan air yang kotor, sinar merah infra pada pohon
yang sakit.
Transmitted/diteruskan.
Spektrum gelombang EMR
Yang mempunyai panjang gelombang lebih pendek dari sinar nyata (cosmis, sinar lamda,
X. Ultra Violet), sementara yang lebih panjang dari visible light ( infrared pantul, thermal
infra red, microwave, televisi dan radio)
Visible light (gelombang sinar nyata)
Ultra violet (<>
Sinar biru ( 0,4 0,5 )
Sinar Hijau ( 0,5 0,6 )
Sinar Merah ( 0,6 0,7 )
Sinar merah infra pantul ( > 0,7 )
Sinar thermal infra red ( >> 0,9 )
Kemampuan mata manusia terbatas 0,4 0,7.
Contoh interaksi EMR dg. flora

Sinar nyata : Flora sehat : mengandung banyak klorofil, menyerap gelombang biru dan
merah, sehingga yang dipantulkan adalah gelombang hijau (terlihat oleh mata).
Sinar merah infra pantul : Flora sehat memancarkan >50 % sinar merah infra, oleh karena
itu pada citra merah infra tanaman sehat nampak merah cerah, yang sakit tdk.
Memantulkan sinar merah infra shg. berwarna gelap. Rumput asli merah cerah, rumput
palsu berwarna gelap.
Interaksi EMR dengan batuan
Batuan yang berkomposisi asam : mineral felsic yang dominan, maka pemantulan lebih
besar dibanding penyerapan, maka batuan asam nampak cerah pada citra.
Batuan yang berkomposisi basa : komposisi mineral ???
Hasil pantulan gelombang EMR yang diterima citra ada dalam berbagai tingkat warna yang
disebut rona (tone) : cerah, abu-abu, bergradasi sampai gelap, tergantung komposisi batuan.
Proses pencampuran warna :
Didalam prosesing citra satelit dikenal Proses Additive : merah, biru dan hijau disatukan maka
keluar warna putih. Antara biru dan merah terjadi warna cyan, sedangkan biru dan hijau terjadi
warna magenta, merah dan hijau terjadi warna kuning.
Proses Substractive : cyan dengan kuning terjadi merah, magenta dengan cyan terjadi warna biru,
kuning dengan magenta terjadi warna hijau.
Sinoptyc view
Adalah suatu keadaan dimana kemampuan mata untuk melihat permukaan bumi yang luas dapat
sekaligus ditampilkan. Sementara kemampuan di lapangan terbatas hanya mengamati singkapan
yang berukuran terbatas. Maka gejala geologi dapat dihubungkan satu dengan lainnya. Misalnya
kenampakan struktur regional, penyebaran batuan, dsb.
Interaksi EMR dengan permukaan benda
1.

Pemantulan

2.

Penyerapan

3.

Pembelokan arah

4.

polarisasi

Pemantulan (Redirection)
Tergantung : kekasaran/relief permukaan bumi, warna dan jenis batuan, panjang
gelombang EMR, sudut jatuh sinar. Dengan rumus : hubungan h (kekasaran), (panjang
gelombang) dan (sudut jatuh).
Ada 3 jenis pemantulan : Cermin (specular reflectance), membaur (diffused reflectance),
membaur kuat (hight diffused reflectance).
Specular Reflectance
Apabila h < / 8 sin , terjadi pada air yang tenang tidak bergelombang, kaca, beton,
aspal/permukaan licin.
Manifestasi pada citra/potret udara rona terang/ cerah.
Diffussed reflectance
Bila h = / 8 sin , contohnya terjadi pada geomorfologi yang kasar atau air laut yang
bergelombang. Geomorfologi yang telah mengalami erosi atau tektonik yang kuat.
Rona : abu2, tekstur kasar
Pamantulan membaur kuat
Terjadi bila h > / 8 sin , terjadi pada permukaan yang amat kasar. Misalnya
geomorfologi yang mencerminkan tingkat erosi dan tektonik yang sangat kuat, perbedaan
topografi antara lembah dan punggungan sangat besar, kemiringan lereng sangat tajam.
Rona gelap, tekstur sangat kasar
Reflectance envelope (kantong pemantulan)
Jumlah dan arah pembauran dari setiap permukaan bumi , dapat seluruhnya (spt pada
cermin/specular reflectance) atau sebagian (partial).
Benda yang berwarna biru (0,4 0,5 mikronmeter) akan memantulkan warna biru dan menyerap
warna lainnya
Kantong pemantulan geomofologi
Tergantung dari sifat fisik permukaan bumi. Batuan yang berwarna putih/karena
kandungan felsic mineral yang dominan (misal granit atau pasir kuarsa) akan lebih
memantulkan lebih banyak.

Wilayah bertopografi terjal (tektonik kuat), kantong pemantulan yang sangat membaur,
maka EMR yang ditangkap citra akan menyebar.
Penyerapan
Benda yang berwarna gelap lebih banyak menyerap EMR yang dirubah jadi panas.
Batuan yang gelap (batubara, lava basalt) akan menyerap warna lebih banyak, maka akan
memberikan rona gelap pada potret udara atau citra.
Penembusan dan pembelokan
Cn = c/n, dimana Cn adalah kecepatan EMR pd benda, c adalah kecepatan gel. Pd. Ruang
hampa udara, n adalah indeks refraksi.
Bilamana kepadatan benda yang dilalui bertambah besar, kecepatan EMR akan berkurang,
maka terjadi pembelokan.
Bila benda yang terkena EMR bening maka gelombang akan menembusnya (contoh air yang
jernih).
Polarisasi
Muka laut yang rata akan memantulkan komponen EMR yang horizontal saja dan
menyerap yang komponen yang vertikal.
karena sifat fisiknya : Mineral turmalin (mikroskop polarisasi).
Rona/Tone
Rona adalah tingkat2 warna yang terdapat pada citra/potret udara. Digambarkan dalam
tingkat relativitas warna dari mulai putih,abu2 cerah,abu2, abu2 gelap, gelap.
Faktor yang mempengaruhi : topografi, tutupan lahan, litologi.
Tekstur
Kumpulan dari rona. Kalau rona merata maka teksturnya disebut halus, kalau terdiri dari
berbagai tingkat rona disebut tekstur kasar
Geomorfologi yang sangat bergelombang akan memberikan kenampakan tekstur yang
kasar.
Alluvium memberikan tekstur yang halus.
Drainase tekstur

Kasar : drainase relatif jarang


Halus : drainase relatif halus
Drainase keterkaitannya dengan curah hujan, porositas batuan, besaran aliran permukaan
Porositas tinggi, kapasitas infiltrasi tinggi
Porositas rendah kapsitas infiltrasi rendah
Drainese tekstur Kasar
Pola aliran sungai jarang, jarak antar sungai relatif lebar. Air permukaan banyak masuk
(kapasitas infiltrasi tinggi). Jenis batuan berbutir kasar, rongga antar butir.
Jenis batuan sedimen klastis kasar : batupasir kasar, breksi, batuan vulkanik kasar
Drainase Tekstur Halus
Sungai rapat. air limpasan / run off tinggi.
Kapasitas infiltrasi rendah
Batuan berbutir halus, rongga antar butir sedikit. Batuan vulkanik halus (tuff), pasir sangat
halus, lempung.
karakter batuan sedimen
Perlapisan (bedding) : kasar dan halus
Joint : bidang lemah
Resistanse terhadap pelapukan : komposisi
Besar butir :