Anda di halaman 1dari 70

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.

S
DENGAN DIAGNOSA MEDIS CEDERA OTAK SEDANG (COS) +
EDEMA SEREBRI+ ICH BASAL GANGLION
DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN ADL: DEFISIT PERAWATAN
DIRI DAN RASA NYAMAN: NYERI AKUT DI RUANG BEDAH ASTER
RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA
TANGGAL 5 -14 SEPTEBER 2016

Disusun Oleh:
Kelompok 1

1. Nuril Lailil Mursyidah

(131613143002)

2. Viky Rohmantisa Putra

(131613143095)

3. Sri Rezeki Amanda

(131613143009)

4. Ahmad Fadili

(131613143014)

5. Ika Pratiwi

(131613143019)

6. Chiza Ulazzuharo

(131613143106)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS (P3N)


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
2016

Lembar Pengesahan

Laporan Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Cedera Otak Sedang


(COS)+ Edema serebri+ ICH Basal Ganglion yang telah dilaksanakan mulai
tanggal 5 September sampai dengan 16 September 2016 dalam rangka
pelaksanaan Profesi Keperawatan Dasar.
Telah disetujui untuk dilaksanakan seminar Profesi Keperawatan Dasar.

Disahkan tanggal, 21 September 2016

Menyetujui,

Pembimbing Klinik,

Pembimbing Klinik,

(Candra Panji A, S.Kep.Ns., M.Kep.)

(Tri Juningaju A, Skep. Ns)

NIP. 139131742

NIP. 197005121994032007

Mengetahui,
Kepala Ruangan
Ruang Bedah Aster

(Adi Sukrisno, S.Kep.Ns)


NIP. 197410061996031001

ii

DAFTAR ISI
Halaman Judul................................................................................................................. i
Lembar Pengesahan ........................................................................................................ ii
Daftar Isi.......................................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN .............................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 1
1.2 Tujuan Penulisan ....................................................................................................... 2
BAB 2 RESUME KASUS .............................................................................................. 3
2.1

Anatomi Fisiologi Kepala ...................................................................... 3

2.2

Autoregulasi di Kepala ......................................................................... 12

2.3

Definisi Trauma Kepala........................................................................ 14

2.4

Manifestasi Klinis ................................................................................. 14

2.5

Klasifikasi ............................................................................................. 15

2.6

Etologi .................................................................................................. 24

2.7

Patofisiologi .......................................................................................... 25

2.8

Web of Causation Cedera Kepala ......................................................... 65

2.9

Pemeriksaan Diagnostik ....................................................................... 28

2.10

Penatalaksanaan .................................................................................... 31

2.11

Komplikasi............................................................................................ 37

2.12

Prognosis .............................................................................................. 39

2.13

Konsep Dasar Teori Virginia Henderson ............................................. 39

BAB 3 PEMBAHASAN ................................................................................................ 47


ASUHAN KEPERAWATAN KASUS.......................................................................... 50
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 67

iii

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Trauma kepala merupakan suatu kegawatan yang paling sering dijumpai di
unit gawat darurat suatu rumah sakit.No head injury is so serious that it
should be despaired of, nor so trivial as to be lightly ignored, menurut
Hippocrates bahwa tidak ada cedera kepala yang perlu dikhawatirkan serius
yang bisa kita putus harapan dan tidak ada juga keluhan yang dapat kita
abaikan. Setiap tahun di Amerika Serikat mencatat 1,7 juta kasus trauma
kepala, 52.000 pasien meninggal dan selebihnya dirawat inap. Trauma kepala
juga merupakan penyebab kematian ketiga dari semua jenis trauma yang
dikaitkan dengan kematian (CDC, 2010). Menurut penelitian yang dilakukan
oleh National Trauma Project di Islamic Republic of Iran bahwa diantara
semua jenis trauma tertinggi yang dilaporkan yaitu sebanyak 78,7% trauma
kepala dan kematian paling banyak juga disebabkan oleh trauma kepala
(Karbakhsh, Zandi, Rouzrokh, Zarei, 2009).
Rata-rata rawat inap pada lelaki dan wanita akibat terjatuh dengan
diagnosa trauma kepala sebanyak 146,3 per100.000 dan 158,3 per100.000
(Thomas, 2006). Angka kematian trauma kepala akibat terjatuh lebih tinggi
pada laki-laki dibanding perempuan yaitu sebanyak 26,9 per100.000 dan 1,8
per100.000. Bagi lansia pada usia 65 tahun ke atas, kematian akibat trauma
kepala mencatat 16.000 kematian dari 1,8 juta lansia di Amerika yang
mangalami trauma kepala akibat terjatuh (CDC, 2005).
Cedera kepala akan memberikan gangguan yang sifatnya lebih kompleks
bila dibandingkan dengan trauma pada organ tubuh lainnya. Hal ini
disebabkan karena struktur anatomic dan fisiologik dari isi ruang tengkorak
yang majemuk, dengan konsistensi cair, lunak dan padat yaitu cairan otak,
selaput otak, jaringan syaraf, pembuluh darah dan tulang (Retnaningsih,
2008).
Pasien cedera kepala dengan keterbatasan fisik membutuhkan banyak
aspek untuk membantu memperbaiki kualitas hidup termasuk kebutuhan dasar
pasien.Henderson melihat manusia sebagai individu yang membutuhkan

bantuan untuk meraih kesehatan, kebebasan atau kematian yang damai, serta
bantuan untuk meraih kemandirian (Wahyudi, 2013).

Manusia memiliki

komponen- komponen kebutuhan yaitu kebutuhan biologis, psikologis,


sosiologis dan spiritual.
Berdasarkan latar belakang, penulis ingin menggambarkan kebutuhan
dasar pada pasien dengan cedera/ trauma kepala melalui pendekatan teori
pemenuhan kebutuhan dasar Henderson.
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1

Tujuan Umum
Menganalisis dan menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien dengan

cedera kepala terutama pada asuhan keperawatan dasar melalui pendekatan


teori pemenuhan kebutuhan dasar Henderson secara komprehensif di Ruang
Bedah Aster RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
1.2.2

Tujuan Khusus

1. Menjelaskan definisi cedera kepala


2. Menjelaskan klasifikasi cedera kepala
3. Menjelaskan manifestasi klinis cedera kepala
4. Menjelaskan etiologi cedera kepala
5. Menjelaskan patofisiologi cedera kepala
6. Menggambarkan Web of Causation cedera kepala
7. Menjelaskan pemeriksaan diagnostic cedera kepala
8. Menjelaskan penatalaksanaan cedera kepala
9. Menjelaskan komplikasi cedera kepala
10. Menjelaskan prognosis cedera kepala
11. Menjelaskan asuhan keperawatan dasar Henderson
12. Menganalisis kasus pasien dengan cedera kepala di Ruang Bedah Aster
13. Menjelaskan standar operasional prosedur tindakan yang dilakukan pada
pasien cedera kepala

BAB 2
RESUME KASUS

2.14 Anatomi Fisiologi Kepala


a. Kulit Kepala
Kulit kepala memiliki 5 lapisan yang disebut dengan SCALP
yaitu; skin ataukulit,connective

tissue atau

jaringan

penyambung,

aponeurosis atau galea aponeurotika, loose conective tissue atau jaringan


penunjang longgar danpericranium.

Gambar 1 Lapisan Kranium (www.annehira.com)


b. Tengkorak
Tengkorak adalah tulang kerangka kepala yang disusun menjadi
dua bagian yaitu cranium terdiri dari atas delapan tulang dan kerangka
wajah yang terdiri dari atas 14 tulang.Rongga tengkorak mempunyai
permukaan atas yang dikenal sebagai kubah tengkorak, licin pada
permukaan luar dan pada permukaan dalam ditandai dengan gili-gili dan
lekukan supaya dapat sesuai dengan otak dan pembuluh darah.
Tengkorak dibentuk oleh gabungan beberapa tulang yang disambung oleh
sutura.Sutura dibentuk pleh selapis tipis jaringan fibrosa yang mengunci
piringan tulang yang bergerigi.Sutura mengalami osifikasi setelah umur 35
tahun. Fungsi tengkorak :
1) Melindungi otak dan indra penglihatan dan pendengaran
2) Sebagai tempat melekatnya otot yang bekerja pada kelapa

3) Sebagai tempat penyangga gigi


Tulang tengkorak terdiri dari os frontale, os parietale dextra dan sinistra,
os occipital, os temporal dextra dan sinistra, os ethmoidale, os
sphenoidale, maxilla, mandibula, os ozygomaticum dextra dan sinistra, os
palatinum dextra dan sinistra, os nasale dextra dan sinistra, os lacrimale
dextra dan sinistra, vomer dan concha dextra dan sinistra.

Gambar 2 Anatomi Tengkorak (www.annehira.com)


Permukaan bawah rongga dikenal sebagai dasar tengkorak atau
basis kranii.Permukaan ini ditembusi banyak lubang supaya dapat dilalui
serabut saraf dan pembuluh darah.
c. Meninges
Meninges adalah lapisan pelindung otak terdiri dari rangka tulang
bagian luar dan tiga lapisan jaringan ikat.Lapisan meningeal terdiri dari pia
mater, lapisan araknoid, dan dura mater.

Gambar 3 Diagram Meninges (www.annehira.com)


1. Pia Mater
Pia mater adalah lapisan terdalam yang halus dan tipis, serta melekat erat
pada otak.Lapisan ini mengandung banyak pembuluh darah untuk
mensuplai jaringan saraf.Pia meter merupakan membran vaskular dan
berhubungan dengan permukaan luar otak dan medulla spinalis.
2. Lapisan Araknoid
Lapisan araknoid terletak di bagian eksternal pia mater dan mengandung
sedikit pembuluh darah. Memiliki ruang subaraknoid yang berfungsi untuk
memisahkan lapisan araknoid dari pia meter dan mengandung cairan
serebrospinalis, pembuluh darah, serta jaringan penghubung seperti selaput
yang mempertahankan posisi araknoid terhadap pia meter di bawahnya.
Ada juga berkas kecil jaringan araknoid, vili araknois, menonjol ke dalam
sinus vena (dural) dura mater.
3. Dura Mater
Dura mater merupakan lapisan terluar yang tebal dan terdiri dari dua
lapisan.Lapisan ini biasanya terus bersambungan, tetapi terputus pada
beberapa sisi spesifik. Kedua lapisan tersebut antara lain:
a. Lapisan Periosteal Luar
Lapisan periosteal luar pada dura mater melekat di permukaan dalam
kranium dan berperan sebagai periosteum dalam tulang tengkorak.
b. Lapisan Meningeal Dalam
Lapisan meningeal dalam pada dura mater tertanam sampai kedalam
fisura otak dan terlipat kembali ke arahnya untuk membentuk bagianbagian berikut:
(1) Falks serebrum

Falks serebrum terletak dalam fisura longitudinal antar hemisfer


serebral. Bagian ini melekat pada krista galli tulang etmoid.
(2) Falks serebelum
Falks serebelum membentuk bagian pertengahan antar hemisfer
serebelar.
(3) Tentorium serebelum
Merupakan pemisah serebrum dari serebelum
(4) Sela diafragma
Bagian yang memanjang di atas sela tursika, tulang yang
membungkus kelenjar hipofisis.
c. Pada beberapa regia, kedua lapisan ini dipisahkan oleh pembuluh
darah besar, sinus vena yang mengalirkan darah keluar dari otak.
d. Ruang Subdural
Ruang subdural merupakan ruang yang memisahkan dura mater dari
araknois pada regia kranial dan medulla spinalis.
e. Ruang Epidural
Ruang epidural adalah ruang potensial antara periosteal luar dan
lapisan meningeal dalam pada dura maer di regia medulla spinalis.
d. Otak
Otak merupakan suatu alat tubuh yang sangat penting karena merupakan
pusat komputer semua alat tubuh, bagian dari semua saraf sentral yang
terletak di dalam rongga tengkorak (kranium) yang dibungkus oleh selaput
otak yang kuat.

Gambar 4 Bagian-Bagian dari Otak (www.annehira.com)

Otak dibagi menjadi empat bagian, yaitu:


1. Cerebrum (Otak Besar)
Cerebrum adalah bagian terbesar dari otak manusia yang juga
disebut dengan nama cerebral cortex, forebrain atau otak depan. Cerebrum
merupakan

bagian

otak

yang

membedakan

manusia

dengan

binatang.Cerebrum membuat manusia memiliki kemampuan berpikir,


analisa, logika, bahasa, kesadaran, perencanaan, memori dan kemampuan
visual.Kecerdasan intelektual atau IQ Anda juga ditentukan oleh kualitas
bagian ini.
Cerebrum secara terbagi menjadi 4 (empat) bagian yang disebut
lobus.Bagian lobus yang menonjol disebut gyrus dan bagian lekukan yang
menyerupai parit disebut sulcus. Keempat lobus tersebut masing-masing
adalah: lobus frontal, lobus parietal, lobus occipital dan lobus temporal.
a. Lobus frontal merupakan bagian lobus yang ada dipaling depan dari
otak besar. Lobus ini berhubungan dengan kemampuan membuat
alasan, kemampuan gerak, kognisi, perencanaan, penyelesaian masalah,
memberi penilaian, kreativitas, kontrol perasaan, kontrol perilaku
seksual dan kemampuan bahasa secara umum.
b. Lobus parietal berada di tengah, berhubungan dengan proses sensor
perasaan seperti tekanan, sentuhan dan rasa sakit.
c. Lobus temporal berada di bagian bawah berhubungan dengan
kemampuan pendengaran, pemaknaan informasi dan bahasa dalam
bentuk suara.
d. Lobus occipital ada di bagian paling belakang, berhubungan dengan
rangsangan visual yang memungkinkan manusia mampu melakukan
interpretasi terhadap objek yang ditangkap oleh retina mata.

Apabila diuraikan lebih detail, setiap lobus masih bisa dibagi


menjadi beberapa area yang punya fungsi masing-masing, seperti terlihat
pada gambar di bawah ini.

Gambar 5 Pembagian Area pada Lobus Otak (www.annehira.com)


Selain dibagi menjadi 4 lobus, cerebrum (otak besar) juga bisa dibagi
menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kanan dan belahan otak
kiri.Kedua belahan itu terhubung oleh kabel-kabel saraf di bagian
bawahnya.Secara umum, belahan otak kanan mengontrol sisi kiri tubuh,
dan belahan otak kiri mengontrol sisi kanan tubuh.Otak kanan terlibat
dalam kreativitas dan kemampuan artistik.Sedangkan otak kiri untuk
logika dan berpikir rasional.
2. Cerebellum (Otak Kecil)
Otak kecil atau cerebellum terletak di bagian belakang kepala, dekat
dengan ujung leher bagian atas. Cerebellum mengontrol banyak fungsi
otomatis otak, diantaranya: mengatur sikap atau posisi tubuh, mengkontrol
keseimbangan, koordinasi otot dan gerakan tubuh. Otak kecil juga
menyimpan dan melaksanakan serangkaian gerakan otomatis yang
dipelajari seperti gerakan mengendarai mobil, gerakan tangan saat
menulis, gerakan mengunci pintu dan sebagainya.Jika terjadi cedera pada
otak kecil, dapat mengakibatkan gangguan pada sikap dan koordinasi
gerak otot.Gerakan menjadi tidak terkoordinasi, misalnya orang tersebut
tidak mampu memasukkan makanan ke dalam mulutnya atau tidak mampu
mengancingkan baju.
3. Brainstem (Batang Otak)
Batang otak (brainstem) berada di dalam tulang tengkorak atau
rongga kepala bagian dasar dan memanjang sampai ke tulang punggung

atau sumsum tulang belakang. Bagian otak ini mengatur fungsi dasar
manusia termasuk pernapasan, denyut jantung, mengatur suhu tubuh,
mengatur proses pencernaan, dan merupakan sumber insting dasar
manusia yaitu fight or flight (lawan atau lari) saat datangnya bahaya.
Batang otak terdiri dari empat bagian, yaitu:
a. Diensepalon adalah bagian batang otak paling atas, terdapat diantara
serebellum dengan mesensepalon.
b. Mesensepalon atau otak tengah (disebut juga mid brain) adalah bagian
teratas dari batang otak yang menghubungkan otak besar dan otak kecil.
Otak tengah berfungsi dalam hal mengontrol respon penglihatan,
gerakan mata, pembesaran pupil mata, mengatur gerakan tubuh dan
pendengaran.
c. Medulla oblongata adalah titik awal saraf tulang belakang dari sebelah
kiri badan menuju bagian kanan badan, begitu juga sebaliknya. Medulla
mengontrol funsi otomatis otak, seperti detak jantung, sirkulasi darah,
pernafasan, dan pencernaan.
d. Pons merupakan stasiun pemancar yang mengirimkan data ke pusat
otak bersama dengan formasi reticular. Pons yang menentukan apakah
kita terjaga atau tertidur.
4. Limbic System (Sistem Limbik)

Gambar 6 Lokasi Sistem Limbik (www.annehira.com)


Sistem limbik terletak di bagian tengah otak, membungkus batang
otak ibarat kerah baju. Limbik berasal dari bahasa latin yang berarti
kerah. Komponen limbik antara lain hipotalamus, thalamus, amigdala,
9

hipocampus dan korteks limbik.Sistem limbik berfungsi menghasilkan


perasaan, mengatur produksi hormon, memelihara homeostasis, rasa
haus, rasa lapar, dorongan seks, pusat rasa senang, metabolisme dan juga
memori jangka panjang.
Bagian terpenting dari sistem limbik adalah hipotalamus yang salah
satu fungsinya adalah bagian memutuskan mana yang perlu mendapat
perhatian dan mana yang tidak.Sistem limbik menyimpan banyak
informasi yang tak tersentuh oleh indera.Dialah yang lazim disebut
sebagai otak emosi atau tempat bersemayamnya rasa cinta dan kejujuran.
Carl Gustav Jung menyebutnya sebagai "Alam Bawah Sadar" atau
ketidaksadaran kolektif, yang diwujudkan dalam perilaku baik seperti
menolong orang dan perilaku tulus lainnya. LeDoux mengistilahkan
sistem limbik ini sebagai tempat duduk bagi semua nafsu manusia,
tempat bermuaranya cinta, penghargaan dan kejujuran.
e. Cairan Serebrospinalis
Cairan serebrospinalis adalah cairan yang mengelilingi ruang
subaraknoid di sekitar otak dan medulla spinalis.Cairan ini juga mengisi
ventrikel dalam otak.
1. Komposisi
Cairan serebrospinalis menyerupai plasma darah dan cairan interstisial
tetapi hanya mengandung sedikit protein. Jumlah totalnya kira-kira 120 ml
dengan tekanan 60-150 mmH2O mengandung 200-300 mg protein/l dan
sekitar 2,8-4,4 mmol glukosa/l. Jumlah ini dapat berubah jika terjadi
penyakit.
2. Produksi
Cairan serebrospinalis dihasilkan oleh:
a. Pleksus koroid
Pleksus koroid adalah jaring-jaring kapilar berbentuk bunga kol yang
menonjol dari pia mater ke dalam dua ventrikel otak.

10

b. Sekresi oleh sel-sel ependimal


Sekresi oleh sel-sel ependimal yang mengitari pembuluh darah serebral
dan melapisi kanal sentral medulla spnalis.
3. Sirkulasi

Gambar 7 Sisi Lateral Ventrikel Otak


Sirkulasi cairan bergerak dari ventrikel lateral melalui foramen
interventrikular (Munro) menuju ventrikel ketiga otak, tempat cairan
semakin banyak karena ditambahkan oleh pleksus koroid ventrikel ketiga.
Pada ventrikel ketiga, cairan mengalir melalui akuaduktus serebrall
(Sylvius) menuju ventrikel keempat, tempat cairan ditambahkan kembali
dari pleksus koroid.Cairan kemudian direabsorpsi di villi araknoid
(granulasi) ke dalam sinus vena pada dura mater dan kembali ke aliran
darah tempat asal produksi cairan tersebut.
Reabsorpsi cairan serebrospinalis berlangsung secepat produksinya
dan hanya menyisakan sekitar 125 ml pada sirkulasi.Reabsorpsi normal
berada di bawah tekanan ringan, yaitu 10 mmHg sampai 20 mmHg. Jika
ada hambatan saat reabsorpsi berlangsung maka cairan akan bertambah
dan keadaan intra cranial akan semakin besar.
4. Fungsi
Fungsi cairan serebrospinalis adalah sebagai bantalan air untuk jaringan
lunak otak dan medulla spinalis, media pertukaran nutrien dan zat buangan
antara darah dan otak serta medulla spinalis. Fungsi lain dari cairan
serebrospinalis adalah untuk mempertahankan tekanan di dalam tengkorak
konstan.

11

2.15 Autoregulasi di Kepala


1) Tekanan intracranial
Berbagai proses pataologi pada otak dapat meningkatkan tekanan
intracranial yang selanjutnya dapat mengganggu fungsi otak yang
akhirnya berdampak buruk terhadap penderita. Tekanan intracranial yang
tinggi dapat menimbulkaan konsekwensi yang mengganggu fungsi
otak.TIK Normal kira-kira sebesar 10 mmHg, TIK lebih tinggi dari
20mmHg dianggap tidak normal. Seamkin tinggi TIK seteelah cedera
kepala, semakin buruk prognosisnya (American college of surgeon,
1997)
2) Hukum Monroe-Kellie
Konsep utama Volume intrakranial adalah selalu konstan karena sifat
dasar dari tulang tengkorang yang tidak elastik. Volume intrakranial
(Vic) adalah sama dengan jumlah total volume komponen-komponennya
yaitu volume jaringan otak (V br), volume cairan serebrospinal (V csf)
dan volume darah (Vbl).
Vic = V br+ V csf + V bl (American college of surgeon, 1997)
3) Tekanan Perfusi otak
Salah satu hal yang penting dalam TIK adalah perfusi serebral/cerebral
perfusion pressure (CPP). CPP adalah jumlah aliran darah dari sirkulasi
sistemik yang diperlukan untuk memberi oksigen dan glukosa yang
adekuat (Black & Hawks, 2005). CPP dihasilkan dari tekan arteri sitemik
rat-rata dikurangi tekanan intracranial dengan rumus CPP = MAP-ICP.
CPP norma; pada rentang 60-100 mmHG. Jika CPP diatas 100 mmHg,
maka potensial terjadi PTIK.Jika kurang dari 60 mmHg, aliran darah ke
otak tidak adekuat sehingga hipoksia dan kematian sel otak dapat terjadi
(Morton et.al, 2005). Jika MAP dan ICP sama, berarti tidak ada CPP dan
perfusi serebral berhenti, sehingga penting untuk mempertahankan
kontrol ICP dan MAP (Black & Hawks, 2005).
a. Mean Arterial Pressure (MAP)
Mean Arterial Pressure atau biasa disebut MAP adalah hitungan rata-rata
tekanan darah arteri yang dibutuhkan agar sirkulasi darah sampai ke otak.

12

Tekanan yang membawa darah ke otak tidak boleh kuran tidak boleh
juga lebih dikarenakan jika tekanannya kurang maka suplai makanan ke
otak akan berkurang. dalam kondisi ini tubuh akan lemas, mudah
mengantuk dan akan cenderung tidak sadar. kondisi ini akan diikuti
dengan akral tubuh yang dingin, heart rate tachikardi, hipotensi dan
respirasi meningkat gunai suplai oksigen ke otak tercukupi. Resiko
terbesar apabila tekanan darah ke otak tinggi adalah pecahnya pembuluh
darah otak, disini disebabkan pembuluh darah diotak begitu halus dan
rapuh, sehingga mudah pecah.Oleh karena itu tekanan darah yang
mengalir ke otak harus stabil dan tepat. MAP yang dibutuhkan agar
pembuluh darah elastis dan tidak pecah serta otak tidak kekurangan
oksigen / normal MAP adalah 70-100 mmHg. Apabila <70 atau >100
maka tekanan rerata arteri itu harus diseimbangkan yaitu dengan
meningkatkan atau menurunkan tekanan darah pasien tersebut. MAP
adalah rat-rata tekakan selama siklus kardiak. MAP = Tekanan Sistolik +
2X tekanan diastolik dibagi 3.
b. Intracranial Pressure (ICP)
ICP normal adalah 5 - 15 mmHg.Tidak ada set point yang ditentukan di
mana pengobatan untuk hipertensi intrakranial harus dimulai, namun
tingkat di atas 20 mmHg biasanya diobati.Brain Trauma Foundation
(BTF) merekomendasikan pemantauan ICP untuk memandu terapi
ICP/CPP yang diarahkan setelah Trauma Brain Injury (TBI) parah pada
semua pasien dengan hasil CT-scan kranial abnormal, dan pada orang
dengan hasil CT-scan normal tetapi jika di ikuti dua atau lebih dari
persyaratan seperti usia > 40 tahun, unilateral atau bilateral motor
posturing; atau tekanan darah sistolik < 90 mmHg.
Pemantauan ICP sedang digunakan dalam pengaturan klinis perdarahan
subarachnoid (SAH) dan intracerebral haemorrhage (ICH).Biasanya ICP
dianggap memerlukan pengobatan jika > 20-25 mmHg dan hipertensi
intracranial berhubungan secara signifikan dengan TBI.
c. Cranial Perfusion Pressure (CPP)

13

CPP berbubungan dengan ICP dan MAP.Pedoman konsensus saat


menyarankan CPP harus dipertahankan antara 50 dan 70 mm Hg setelah
TBI.CPP> 70 mmHg harus dihindari karena tingginya insiden Acute
Lung Injury (ALI) sangat mungkin bahwa ambang CPP ada secara
individual dan bahwa CPP optimal dapat diidentifikasi dengan
monitoring multimodal .
4) Aliran darah otak (ADO)
ADO normal kira-kira 50 ml/100 gr jaringan otak permenit. Bila ADO
menurun sampai 20-25ml/100 gr/menit maka aktivitas EEG akan
menghilang. Apabila ADO sebesar 5ml/100 gr/menit maka sel-sel otak
akan mengalami kematian dan kerusakan yang menetap (American
college of surgeon, 1997).

2.16 Definisi Trauma Kepala


Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang
disertai atau tanpa disertai perdarahan interstitial dalam substansi otak tanpa
diikuti terputusnya kontinuitas otak (Muttaqin 2008).
Menurut Brain Injury Assosiation of America, 2006.Cedera kepala
adalah suatu kerusakan pada kepala bukan bersifat congenital ataupun
degenerative, tetapi disebabkan serangan/benturan fisik dari luar yang dapat
mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan
kemampuan kognitif dan fungsi fisik.Cedera kepala atau trauma kepala
adalah gangguan fungsi normal otak karena trauma baik trauma tumpul
maupun trauma tajam. Defisit neurologis terjadi karena robeknya substansia
alba, iskemia dan pengaruh massa karena hemoragig, serta edema cereblal
disekitar jaringan otak (B.Batticaca, 2008).

2.17 Manifestasi Klinis


Tanda dan gejala trauma kepala dapat dikelompokkan dalam 3
kategori utama (Hoffman et. al. 1996):
1.

Tanda dan gejala fisik/somatik: nyeri kepala, dizziness, nausea, vomitus

14

2.

Tanda dan gejala kognitif: gangguan memori, gangguan perhatian dan


berfikir kompleks

3.

Tanda dan gejala emosional/kepribadian: kecemasan, iritabilitas


Menurur Reissner (2009), gejala klinis trauma kepala berat adalah

sebagai berikut :
1.

Simptom atau tanda-tanda cardinal yang menunjukkan peningkatan di


otak menurun atau meningkat.

2.

Perubahan ukuran pupil (anisokoria).

3.

Triad Cushing (denyut jantung menurun, hipertensi, depresi pernafasan).

4.

Apabila meningkatnya tekanan intrakranial, terdapat pergerakan atau


posisi abnormal ekstrimitas.

5.

Terjadi 48 jam setelah trauma, nilai GCS < 9

2.18 Klasifikasi
Cedera kepala dapat diklasifikasikan dalam berbagai aspek yang
secara deskripsi dapat dikelompokkan berdasar mekanisme, morfologi,
dan beratnya cedera kepala (IKABI, 2004).
1. Berdasarkan mekanisme cedera kepala dikelompokkan menjadi dua yaitu:
a. Cedera Kepala Tumpul
Cedera kepala tumpul biasanya berkaitan dengan kecelakaan lalu
lintas, jatuh/pukulan benda tumpul.Pada cedera tumpul terjadi
akselerasi dan decelerasi yang menyebabkan otak bergerak didalam
rongga kranial dan melakukan kontak pada protuberas tulang
tengkorak.
b. Cedera Tembus
Cedera tembus disebabkan oleh luka tembak atau tusukan.
2. Berdasarkan morfologi cedera kepala
Cedera kepala dapat terjadi diarea tulang tengkorak yang meliputi
a. Laserasi Kulit Kepala
Laserasi kulit kepala sering didapatkan pada pasien cedera kepala.
Kulit kepala/scalp terdiri dari lima lapisan (dengan akronim SCALP)
yaitu skin, connective tissue dan perikranii. Diantara galea aponeurosis

15

dan periosteum terdapat jaringan ikat longgar yang memungkinkan


kulit bergerak terhadap tulang.Pada fraktur tulang kepala, sering terjadi
robekan pada lapisan ini.Lapisan ini banyak mengandung pembuluh
darah dan jaringan ikat longgar, maka perlukaan yang terjadi dapat
mengakibatkan perdarahan yang cukup banyak.
b. Fraktur Tulang Kepala
Fraktur tulang tengkorak berdasarkan pada garis fraktur dibagi menjadi
1) Fraktur linier
Fraktur linier merupakan fraktur dengan bentuk garis tunggal atau
stellata pada tulang tengkorak yang mengenai seluruh ketebalan
tulang kepala. Fraktur lenier dapat terjadi jika gaya langsung yang
bekerja pada tulang kepala cukup besar tetapi tidak menyebabkan
tulang kepala bending dan tidak terdapat fragmen fraktur yang
masuk kedalam rongga intrakranial.
2) Fraktur diastasis
Fraktur diastasis adalah jenis fraktur yang terjadi pada sutura
tulang tengkorak yang mengababkan pelebaran sutura-sutura
tulangkepala.Jenis fraktur ini sering terjadi pada bayi dan balita
karena sutura-sutura belum menyatu dengan erat. Fraktur diastasis
pada usia dewasa sering terjadi pada sutura lambdoid dan dapat
mengakibatkan terjadinya hematum epidural.
3) Fraktur kominutif
Fraktur kominutif adalah jenis fraktur tulang kepala yang meiliki
lebih dari satu fragmen dalam satu area fraktur.
4) Fraktur impresi
Fraktur impresi tulang kepala terjadi akibat benturan dengan tenaga
besar yang langsung mengenai tulang kepala dan pada area yang
kecal.Fraktur impresi pada tulang kepala dapat menyebabkan
penekanan atau laserasi pada duremater dan jaringan otak, fraktur
impresi dianggap bermakna terjadi, jika tabula eksterna segmen
yang impresi masuk dibawah tabula interna segmen tulang yang
sehat.

16

5) Fraktur basis kranii


Fraktur basis kranii adalah suatu fraktur linier yang terjadi pada
dasar tulang tengkorak, fraktur ini seringkali diertai dengan
robekan

pada

durameter

yang

merekat

erat

pada

dasar

tengkorak.Fraktur basis kranii berdasarkan letak anatomi di bagi


menjadi fraktur fossa anterior, fraktur fossa media dan fraktur fossa
posterior.Secara anatomi ada perbedaan struktur di daerah basis
kranii dan tulang kalfaria. Durameter daerah basis krani lebih tipis
dibandingkan daerah kalfaria dan durameter daerah basis melekat
lebih erat pada tulang dibandingkan daerah kalfaria.Sehingga bila
terjadi

fraktur

durameter.Hal

daerah
ini

basis

dapat

dapat

menyebabkan

menyebabkan

kebocoran

robekan
cairan

cerebrospinal yang menimbulkan resiko terjadinya infeksi selaput


otak (meningitis).Pada pemeriksaan klinis dapat ditemukan
rhinorrhea dan raccon eyes sign (fraktur basis kranii fossa
anterior), atau ottorhea dan batles sign (fraktur basis kranii fossa
media). Kondisi ini jugadapat menyebabkan lesi saraf kranial yang
paling

sering

terjadi

adalah

gangguan

saraf

penciuman

(N,olfactorius). Saraf wajah (N.facialis) dan saraf pendengaran


(N.vestibulokokhlearis).Penanganan dari fraktur basis kranii
meliputi pencegahan peningkatan tekanan intrakranial yang
mendadak misalnya dengan mencegah batuk, mengejan, dan
makanan yang tidak menyebabkan sembelit.Jaga kebersihan sekitar
lubang hidung dan telinga, jika perlu dilakukan tampon steril
(konsultasi

ahli

THT)

otorrhea/otoliquorrhea.Pada

pada

penderita

bloody/otorrhea/otoliquorrhea

penderita

tanda
dengan
tidur

bloody/
tanda-tanda

dengan

posisi

terlentang dan kepala miring ke posisi yang sehat.


c. Cedera Kepala di Area Intrakranial.
Diklasifikasikan menjadi cedera otak fokal dan cedera otak difus,
yaitu:
1) Cedera otak fokal yang meliputi:

17

a) Perdarahan epidural atau epidural hematoma (EDH)


Epidural hematom (EDH) adalah adanya darah di ruang
epidural yaitu ruang potensial antara tabula interna tulang
tengkorak

dan

durameter.

Epidural

hematom

dapat

menimbulkan penurunan kesadaran adanya interval lusid


selama beberapa jam dan kemudian terjadi defisit neorologis
berupa hemiparesis kontralateral dan gelatasi pupil itsilateral.
Gejala lain yang ditimbulkan antara lain sakit kepala, muntah,
kejang dan hemiparesis.
b) Perdarahan subdural akut atau subdural hematom (SDH) akut
Perdarahan subdural akut adalah terkumpulnya darah di ruang
subdural yang terjadi akut (6-3 hari).Perdarahan ini terjadi
akibat

robeknya

cerebri.Perdarahan

vena-vena
subdural

kecil

dipermukaan

biasanya

menutupi

korteks
seluruh

hemisfir otak.Biasanya kerusakan otak dibawahnya lebih berat


dan prognosisnya jauh lebih buruk dibanding pada perdarahan
epidural.
c) Perdarahan subdural kronik atau SDH kronik
Subdural hematom kronik adalah terkumpulnya darah diruang
subdural lebih dari 3 minggu setelah trauma.Subdural hematom
kronik diawali dari SDH akut dengan jumlah darah yang
sedikit. Darah di ruang subdural akan memicu terjadinya
inflamasi sehingga akan terbentuk bekuan darah atau clot yang
bersifat tamponade. Dalam beberapa hari akan terjadi infasi
fibroblast ke dalam clot dan membentuk noumembran pada
lapisan dalam (korteks) dan lapisan luar (durameter).
Pembentukan neomembran tersebut akan di ikuti dengan
pembentukan kapiler baru dan terjadi fibrinolitik sehingga
terjadi proses degradasi atau likoefaksi bekuan darah sehingga
terakumulasinya cairan hipertonis yang dilapisi membran semi
permeabel. Jika keadaan ini terjadi maka akan menarik likuor
diluar membran masuk kedalam membran sehingga cairan

18

subdural bertambah banyak. Gejala klinis yang dapat


ditimbulkan oleh SDH kronis antara lain sakit kepala, bingung,
kesulitan berbahasa dan gejala yang menyerupai TIA (transient
ischemic attack), disamping itu dapat terjadi defisit neorologi
yang berfariasi seperti kelemahan otorik dan kejang
d) Perdarahan intra cerebral atau intracerebral hematom (ICH)
Intra cerebral hematom adalah area perdarahan yang homogen
dan konfluen yang terdapat didalam parenkim otak. Intra
cerebral hematom bukan disebabkan oleh benturan antara
parenkim otak dengan tulang tengkorak, tetapi disebabkan oleh
gaya

akselerasi

dan

deselerasi

akibat

trauma

yang

menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang terletak lebih


dalam, yaitu di parenkim otak atau pembuluh darah kortikal
dan subkortikal. Gejala klinis yang ditimbulkan oleh ICH
antara lain adanya penurunan kesadaran. Derajat penurunan
kesadarannya dipengaruhi oleh mekanisme dan energi dari
trauma yang dialami.
e) Perdarahan subarahnoit traumatika (SAH)
Perdarahan subarahnoit diakibatkan oleh pecahnya pembuluh
darah kortikal baik arteri maupun vena dalam jumlah tertentu
akibat trauma dapat memasuki ruang subarahnoit dan disebut
sebagai

perdarahan

subarahnoit

(PSA).Luasnya

PSA

menggambarkan luasnya kerusakan pembuluh darah, juga


menggambarkan buruknya prognosa. PSA yang luas akan
memicu

terjadinya

vasospasme

pembuluh

darah

dan

menyebabkan iskemia akut luas dengan manifestasi edema


cerebri.
2) Cedera otak difus
Cedera kepala difus adalah terminologi yang menunjukkan
kondisi parenkim otak setelah terjadinya trauma. Terjadinya cedera
kepala difus disebabkan karena gaya akselerasi dan deselarasi gaya
rotasi dan translasi yang menyebabkan bergesernya parenkim otak

19

dari

permukaan

terhadap

parenkim

yang

sebelah

dalam.

Fasospasme luas pembuluh darah dikarenakan adanya perdarahan


subarahnoit traumatika yang menyebabkan terhentinya sirkulasi
diparenkim otak dengan manifestasi iskemia yang luas edema otak
luas disebabkan karena hipoksia akibat renjatan sistemik,
bermanifestasi sebagai cedera kepala difus.
a) Cedera akson difus (difuse aksonal injury)
Difus axonal injury adalah keadaan dimana serabut subkortikal
yang menghubungkan inti permukaan otak dengan inti
profunda otak (serabut proyeksi), maupun serabut yang
menghubungkan inti-inti dalam satu hemisfer (asosiasi) dan
serabut yang menghbungkan inti-inti permukaan kedua
hemisfer (komisura) mengalami kerusakan. Kerusakan sejenis
ini lebih disebabkan karena gaya rotasi antara initi profunda
dengan inti permukaan.
b) Kontsuio cerebri
Kontusio cerebri adalah kerusakan parenkimal otak yang
disebabkan karena efek gaya akselerasi dan deselerasi.
Mekanisme lain yang menjadi penyebab kontosio cerebri
adalah adanya gaya coup dan countercoup, dimana hal tersebut
menunjukkan besarnya gaya yang sanggup merusak struktur
parenkim otak yang terlindung begitu kuat oleh tulang dan
cairan otak yang begitu kompak. Lokasi kontusio yang begitu
khas adalah kerusakan jaringan parenkim otak yang berlawanan
dengan arah datangnya gaya yang mengenai kepala.
c) Edema cerebri
Edema cerebri terjadi karena gangguan vaskuler akibat trauma
kepala.Pada edema cerebri tidak tampak adanya kerusakan
parenkim otak namun terlihat pendorongan hebat pada daerah
yang mengalami edema.Edema otak bilateral lebih disebabkan
karena episode hipoksia yang umumnya dikarenakan adanya
renjatan hipovolemik.

20

d) Iskemia cerebri
Iskemia cerebri terjadi karena suplai aliran darah ke bagian
otak

berkurang

atau

terhenti.Kejadian

iskemia

cerebri

berlangsung lama (kronik progresif) dan disebabkan karena


penyakit degeneratif pembuluh darah otak.

Cedera kepala yang sudah di uraikan di atas, menurut Judikh


Middleton(2007) akan menimbulkan gangguan neurologis / tanda-tanda
sesuai dengan area atau tempat lesinya yang meliputi:
a. Lobus frontal atau bagian depan kepala dengan tanda-tanda adanya
gangguan pergerakan bagian tubuh (kelumpuhan)
1. Ketidakmampuan untuk melkukan gerakan rumit yang di
perlukan untuk menyelesaikan tugas yang memiliki langkahlangkah, seperti membuat kopi
2. Kehilangan spontanitas dalam berinteraksi dengan orang lain
3. Kehilangan fleksibilitas dalam berpikir
4. Ketidakmampuan fokus pada tugas
5. Perubahan kondisi kejiwaan (mudah emosional)
6. Perubahan dalam perilaku sosial
7. Perubahan dalam personalitas
8. Ketidakmampuan dalam berpikir (kehilangan memory)
b. Lobus parietal, dekat bagian belakang dan atas dari kepala
1. Ketidakmampuan untuk menghadirkan lebih dari satu obyek pada
waktu yang bersamaan
2. Ketidakmapuan untuk memberi nama sebuah obyek (anomia)
3. Ketidakmampuan untuk melokalisasi kata-kata dalam tulisan
(agraphia)
4. Gangguan dalam membaca (alexia)
5. Kesulitan menggambar obyek
6. Kesulitan membedakan kiri dan kanan
7. Kesulitan mengerjakan matematika (dyscalculia)

21

8. Penurunan kesadaran pada bagian tubuh tertentu dan/area disekitar


(apraksia) yang memicu kesulitan dalam perawatan diri
9. Ketidakmampuan fokus pada perhatian fisual/penglihatan

c. Lobus oksipital, area paling belakang, di belakang kepala


1. Gangguan pada penglihatan (gangguan lapang pandang)
2. Kesulitan melokalisasi obyek di lingkungan
3. Kesulitan mengenali warna (aknosia warna)
4. Teriptanya halusinasi
5. Ilusi visual-ketidakakuratan dalam melihat obyek
6. Buta kata-ketidakmampuan mengenali kata
7. Kesulitan mengenali obyek yang bergambar
8. Ketidakmampuan mengenali gerakan dari obyek
9. Kesulitan membaca dan menulis
10. Kesulitan koordinasi mata dan tangan
d. Lobus temporal : sisi kepala di atas telinga
1. Kesulitan mengenali wajah (prosoprognosia)
2. Kesulitan memahami ucapan (afasiawernicke)
3. Gangguan perhatian selektif pada apa yang dilihat dan didengar
4. Kesulitan identifikasi dan verbalisai obyek
5. Hilang ingatan jangka pendek
6. Gangguan memori jangka panjang
7. Penurunan dan peningkatan ketertarikan pada oerilaku seksual
8. Ketidakmampuan mengkategorikan onyek (kategorisasi)
9. Kerusakan lobus kanan dapat menyebabkan pembicaraan yang
persisten
10. Peningkatan perilaku agresif
e. Batang otak : dalam di otak
1. Penurunan kapasitas vital dalam bernapas, penting dalam berpidato
2. Menelan makanan dan air (dysfagia)
3. Kesulitan dalam organisasi/persepsi terhadap lingkungan
4. Masalah dalam keseimbangan dan gerakan

22

5. Sakit kepala dan mual (vertigo)


6. Kesulitan tidur (insomnia, apnea saat tidur)

f. Cerebellum : dasar otak


1. Kehilangan kemampuan untuk mengkoordinasi gerakan halus
2. Kehilangan kemampuan berjalan
3. Ketidakmampuan meraih obyek
4. Bergetar (tremors)
5. Sakit kepala (vertigo)
6. Ketidakmampuan membuat gerakan cepat
3. Klasifikasi cedera kepala berdasarkan beratnya
Cedera kepala berdasarkan beratnya cedera, menurut (Mansjoer, 2000)
dapat

diklasifikasikan

penilaiannya

berdasarkan

skor

GCS

dan

dikelompokkan menjadi:
a. Cedera kepala ringan dengan nilai GCS 14 15.
1) Pasien sadar, menuruti perintah tapi disorientasi.
2) Tidak ada kehilangan kesadaran
3) Tidak ada intoksikasi alkohol atau obat terlarang
4) Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing
5) Pasien dapat menderita laserasi, hematoma kulit kepala
6) Tidak adanya criteria cedera kepala sedang-berat
b. Cedera kepala sedang dengan nilai GCS 9 13.
Pasien bisa atau tidak bisa menuruti perintah, namun tidak memberi
respon yang sesuai dengan pernyataan yang di berikan.
1) Amnesia paska trauma
2) Muntah
3) Tanda kemungkinan fraktur cranium (tanda Battle, mata rabun,
hemotimpanum, otorea atau rinorea cairan serebro spinal)
4) Kejang
c. Cedera kepala berat dengan nilai GCS sama atau kurang dari 8.
1) Penurunan kesadaran sacara progresif

23

2) Tanda neorologis fokal


3) Cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi cranium

2.19 Etologi
2.6.1 Mekanisme Terjadinya Kecederaan
Beberapa mekanisme yang timbul terjadi trauma kepala adalah seperti
translasi yang terdiri dari akselerasi dan deselerasi. Akselerasi apabila
kepala bergerak ke suatu arah atau tidak bergerak dengan tiba-tiba suatu
gaya yang kuat searah dengan gerakan kepala, maka kepala akan mendapat
percepatan (akselerasi) pada arah tersebut. Deselerasi apabila kepala
bergerak dengan cepat ke suatu arah secara tiba-tiba dan dihentikan oleh
suatu benda misalnya kepala menabrak tembok maka kepala tiba-tiba
terhenti gerakannya. Rotasi adalah apabila tengkorak tiba-tiba mendapat
gaya mendadak sehingga membentuk sudut terhadap gerak kepala.
Kecederaan

di

bagian

muka

dikatakan

fraktur

maksilofasial

(Sastrodiningrat, 2009).

2.6.2 Penyebab Trauma Kepala


Menurut Brain Injury Association of America, penyebab utama trauma
kepala adalah karena terjatuh sebanyak 28%, kecelakaan lalu lintas
sebanyak 20%, karena disebabkan kecelakaan secara umum sebanyak 19%
dan kekerasan sebanyak 11% dan akibat ledakan di medan perang
merupakan penyebab utama trauma kepala (Langlois, Rut land-Brown,
Thomas, 2006).
Kecelakaan lalu lintas dan terjatuh merupakan penyebab rawat inap
pasien trauma kepala yaitu sebanyak 32,1 dan 29,8 per100.000 populasi.
Kekerasan adalah penyebab ketiga rawat inap pasien trauma kepala
mencatat sebanyak 7,1 per100.000 populasi di Amerika Serikat
(Coronado, Thomas, 2007).

2.6.3 Penyebab utama terjadinya trauma kepala adalah seperti berikut:

24

a)Kecelakaan Lalu Lintas


Kecelakaan lalu lintas adalah dimana sebuah kenderan bermotor
bertabrakan dengan kenderaan yang lain atau benda lain sehingga
menyebabkan kerusakan atau kecederaan kepada pengguna jalan raya
(IRTAD, 1995).
b) Jatuh
Menurut KBBI, jatuh didefinisikan sebagai (terlepas) turun atau
meluncur ke bawah dengan cepat karena gravitasi bumi, baik ketika
masih di gerakan turun maupun sesudah sampai ke tanah.
c) Kekerasan
Menurut KBBI, kekerasan didefinisikan sebagai suatu perihal atau
perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau
matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik pada barang atau
orang lain (secara paksaan).
Menurut Rosjidi(2007), penyebab cedera kepala antara lain:
1.Kecelakaan pada saat olah raga
2.Cedera akibat kekerasan.
3.Benda tumpul, kerusakan terjadi hanya terbatas pada daerah dimana
dapat merobek otak.
4.Kerusakan menyebar karena kekuatan benturan, biasanya lebih berat
sifatnya.
5.Benda tajam, kerusakan terjadi hanya terbatas pada daerah dimana
dapat merobek otak, misalnya tertembak peluru atau benda tajam.
2.20 Patofisiologi
Cedera

memang

beratringannya

peranan

yang

sangat

konsekuensi

besar

dalam

patofisiologis

menentukan

dari

suatu

kepala.Cederapercepatanaselerasiterjadi jika benda yang sedang bergerak


membenturkepala yangdiam, seperti trauma akibat pukulan benda tumpul,
atau

karenakena

lemparanbenda

tumpul.Cedera

perlambatan

deselerasiadalah bilakepala membenturobjek yang secara relatif tidak


bergerak, seperti badan mobilatau tanah.Kedua kekuatan ini mungkin terjadi
secara bersamaan bila terdapat gerakankepala tiba-tiba tanpa kontak

25

langsung, seperti yang terjadi bila posisibadandiubah secara kasar dan cepat.
Kekuatan ini bisa dikombinasi denganpengubahan posisi rotasi pada kepala,
yang menyebabkan trauma regangandanrobekan pada substansi alba dan
batang otak.
Berdasarkan patofisiologinya, kita mengenal dua macam cedera otak,yaitu cedera
otak primer dan cedera otak sekunder.
a. Cedera otak primer
cedera yang terjadi saat atau bersamaan dengan kejadian trauma, dan
merupakan suatu fenomena mekanik. Umumnya menimbulkan lesi
permanen.Tidak banyak yang bisa kita lakukan kecuali membuat fungsi
stabil, sehinggasel-sel yang sedang sakit bisa mengalami proses
penyembuhan yang optimal.Cedera primer, yang terjadi pada waktu
benturan, mungkin karena memarpada permukaan otak, laserasi substansi
alba, cedera robekan atau hemoragikarena terjatuh, dipukul, kecelakaan
dan trauma saat lahir yang bisamengakibatkan terjadinya gangguan pada
seluruh sistem dalam tubuh.
b. Cedera otak sekunder
merupakan hasil dari proses yang berkelanjutan sesudah atau berkaitan
dengan cedera primer dan lebih merupakan fenomena metabolik sebagai
akibat, cedera sekunder dapat terjadi sebagai kemampuan autoregulasi
serebral dikurangi atau tak ada pada area cedera.

Cedera kepala terjadi karena beberapa hal diantanya, bila trauma ekstra
kranial akan dapat menyebabkan adanya leserasi pada kulit kepala selanjutnya
bisa perdarahan karena mengenai pembuluh darah. Karena perdarahan yang
terjadi terus- menerus dapat menyebabkan hipoksia, hiperemi peningkatan
volume darah pada area peningkatan

permeabilitas kapiler, serta

vasodilatasiarterial, semua menimbulkan peningkatan isi intrakranial, dan


akhirnya peningkatan tekanan intrakranial (TIK), adapun, hipotensi(Soetomo,
2002). Namun bila trauma mengenai tulang kepala akan menyebabkanrobekan
dan terjadi perdarahan juga. Cidera kepala intra kranial dapatmengakibatkan
laserasi, perdarahan dan kerusakan jaringan otak bahkan bisaterjadi kerusakan

26

susunan syaraf kranial tertama motorik yang mengakibatkanterjadinya


gangguan dalam mobilitas (Brain, 2009)

2.7.1 Benturan pada kepala dapat terjadi pada 3 jenis keadaan yaitu:
1. Kepala diam dibentur oleh benda yang bergerak
Kekuatan benda yang bergerak akan menyebabkan deformitas akibat
percepatan, perlambatan dan rotasi yang terjadi secara cepat dan tiba-tiba terhadap
kepala dan jaringan otak. Trauma tersebut bisa menimbulkan kompresi dan
regangan yang bisa menimbulkan robekan jaringan dan pergeseran sebagian
jaringan terhadap jaringan otak yang lain.
2.Kepala yang bergerak membentur benda yang diam
Kepala yang sedang bergerak kemudian membentur suatu benda yang
keras, maka akan terjadi perlambatan yang tiba-tiba, sehingga mengakibatkan
kerusakan jaringan di tempat benturan dan pada sisi yang berlawanan. Pada
tempat benturan terdapat tekanan yang paling tinggi, sedang pada tempat yang
berlawanan terdapat tekanan negatif paling rendah sehingga terjadi rongga dan
akibatnya dapat terjadirobekan.
3.Kepala yang tidak dapat bergerak karena menyender pada benda lain dibentur
oleh benda yang bergerak (kepala tergencet).
Pada kepala yang tergencet pada awalnya dapat terjadi retak atau hancurnya
tulang tengkorak.Bila gencetannya hebat tentu saja dapat mengakibatkan
hancurnya otak.
2.7.2 Mekanisme timbulnya lesi pada Cedera Kepala.
Ada beberapa hipotesis yang mencoba menerangkan terjadinya lesi pada pada
jaringan otak dan selaput otak pada cedera kepala.
1. Getaran otak.
Trauma pada kepala menyebabkan seluruh tengkorak beserta isinya
bergetar.Kerusakan yang terjadi tergantung pada besarnya getaran. Makin
besar getarannya makin besar kerusakan yang ditimbulkannya.

27

2. Deformasi tengkorak.
Benturan pada tengkorak menyebabkannya menggepeng pada tempat benturan
itu. Tulang yang menggepeng ini akan membentur jaringan dibawahnya dan
menimbulkan kerusakan pada otak. Pada sisi seberangnya, tengkorak bergerak
menjauh dari jaringan otak dibawahnya sehingga timbul ruangan vakum yang
dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah
3. Pergeseran otak.
Benturan pada kepala menyebabkan otak bergeser mengikuti arah gaya
benturan.

Gerakan

geseran

lurus

ini

disebut

juga

gerakan

translasional.Geseran ini dapat menimbulkan lesi bila permukaan dalam


tengkorak kasar seperti yang terdapat di dasar tengkorak.Kelambanan otak
karena konsistensinya yang lunak menyebabkan gerakannya tertinggal
terhadap gerakan tengkorak. Di daerah seberang gerakan otak akan
membentur tulang tengkorak dengan segala akibatnya
4. Rotasi otak
Pada tahun 1865 Alquie pada percobaannya pada mayat dan hewan telah
mengetahui bahwa pada saat benturan kepala, otak mengalami rotasi
sentrifugal

yang

mengakibatkan

benturan

otak

pada

tabulainterna

tengkorak.Holbourn (1943) mengatakan bahwa rotasi otak dapat terjadi pada


bidang sagital, horizontal, koronal dan kombinasinya.Gerakan berputar ini
tampak disemua daerah kecualidi daerah frontal dan temporal.Di daerah
dimana otak dapat bergerak, kerusakan otak yang terjadi sedikit atau tidak ada,
Kerusakan terbesar terjadi di daerah yang tidak dapat bergerak atau terbatas
gerakannya, yaitu daerah frontal di fossa serebri anterior dan daerah temporal
di fossa serebri media.Karena sulit bergerak, jaringan otak di daerah ini
mengalami regangan yang mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah
dan serat-serat saraf.

2.21 Web of Causation Cedera Kepala (terlampir)


2.22 Pemeriksaan Diagnostik
1. Sinar X

28

Lakukan pemeriksaan sinar-x pada kepala dan servikal untuk mendeteksi


lokasi dan parahnya fraktur
2. Scan CT
CT scan berguna untuk mengenali adanya hematoma intrakranial.
3. Pungsi lumbal
Berfungsi

untuk

memastikan

adanya

meningitis

bila

pasien

memperlihatkan tanda-tanda iritasi meningial (demam, rigiditas nukal,


kejang).
4. BAER (Brain Eauditory Evoked)
Menentukan fungsi dari kortek dan batang otak.
5. Angiografi serebral
Menunjukkan kelainan sirkulasi serebral seperti pergeseran jaringanotak
akibat edema, perdarahan, dan trauma.
6. Kimia/elektrolit darah
Mengetahui ketidakseimbangan yang berpengaruh dalam peningkatan
TIK.
Hb, leukosit, diferensiasi sel
Penelitian di RSCM menunjukkan bahwa leukositosis dapat dipakai
sebagai salah satu indikator pembeda antara kontusio (CKS) dan komosio
(CKR). Leukosit >17.000 merujuk pada CT scan otak abnormal,5
sedangkan angka leukositosis >14.000 menunjukkan kontusio meskipun
secara klinis lama penurunan kesadaran <10 menit dan nilai SKG 13-15
adalah acuan klinis yang mendukung ke arah komosio.6 Prediktor ini bila
berdiri sendiri tidak kuat, tetapi di daerah tanpa fasilitas CT scan otak,
dapat dipakai sebagai salah satu acuan prediktor yang sederhana.

29

Ureum dan kreatinin


Pemeriksaan

fungsi

ginjal

perlu

karenamanitol

merupakan

zat

hiperosmolaryang pemberiannya berdampak padafungsi ginjal.Pada fungsi


ginjal yang buruk,manitol tidak boleh diberikan.
7. GDA
Mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenasi yang dapat
meningkatkan TIK.Hiperglikemia reaktif dapat merupakanfaktor risiko
bermakna untuk kematiandengan OR 10,07 untuk GDS 201-220mg/dL
dan OR 39,82 untuk GDS >220 mg/dL.
Analisis gas darah
Dikerjakan pada cedera kranioserebraldengan kesadaran menurun.pCO2
tinggidan pO2 rendah akan memberikan luaranyang kurang baik. pO2
dijaga tetap >90mm Hg, SaO2 >95%, dan pCO2 30-35 mmHg
Elektrolit (Na, K, dan Cl)
Kadar elektrolit rendah dapat menyebabkanpenurunan kesadaran.
Albumin serum (hari 1)
Pasien CKS dan CKB dengan kadar albuminrendah (2,7-3,4g/dL)
mempunyairisiko kematian 4,9 kali lebih besardibandingkan dengan kadar
albuminnormal.
Trombosit, PT, aPTT, fi brinogen
Pemeriksaan dilakukan bila dicurigai adakelainan hematologis.Risiko late
hematomasperlu

diantisipai.Diagnosis

kelainan

hematologis

ditegakkanbila trombosit <40.000/mm3, kadarffi brinogen <40mg/mL, PT


>16 detik,dan aPTT >50 detik.

30

2.23 Penatalaksanaan
Menurut American College of Surgeon Committe on Trauma
dalam Advanced Trauma Life Support for Doctors :
Penatalaksanaan

cedera

kepala

tergantung

pada

tingkat

keparahannya, berupa cedera kepala ringan, sedang, atau berat.Prinsip


penanganan awal meliputi survei primer dan survei sekunder.Pada
penderita cedera kepala khususnya dengan cedera kepala berat survei
primer sangatlah penting untuk mencegah cedera otak sekunder dan
mencegah homeostasis otak.
a. Penatalaksanaan cidera kepala ringan GCS 14-15
Pasien

sadar,

mungkin

memiliki

riwayat

periode

kehilangan

kesadaran.Amnesia retrograd terhadap peristiwa sebelum kecelakaan


cukup signifikan.
Indikasi untuk rontgen tengkorak :
2) Hilang kesadaran atau amnesia
3) Tanda-tanda neurologis
4) Kebocoran LCS
5) Curiga trauma tembus
6) Intoksikasi alkohol
7) Sulit menilai pasien
Indikasi rawat :
1. Kebingungan atau GCS menurun
2. Fraktur tengkorak
3. Tanda-tanda neurologis atau sakit kepala atau muntah
4. Sulit menilai pasien
5. Terdapat masalah medis yang menyertai
6. Kondisi sosial yang tidak adekuat atau tidak ada orang dewasa
yang dapat mengawasi pasien
Indikasi untukmerujuk ke bagian bedah saraf :
1. Fraktur tengkorak dan bingung atau penurunan GCS
2. Tanda-tanda neurologis fokal atau kejang
3. Menetapnya tanda-tanda neurologis atau kebingungan >12 jam

31

4. Koma setelah resusitasi


5. Curiga cedera terbuka pada tengkorak
6. Fraktur tekanan pada tengkorak
7. Terdapat perburukan

32

Gambar Algoritma Cedera Otak Ringan


b. Penatalaksanaan Cedera Otak Sedang GCS 9-13
Penanganan pertama selain mencakup anamnesia (seperti kasus cidera
otak ringan) dan pemeriksaan fisik serta foto polos tengkorak, juga
mencakup pemeriksaan sken tomografi computer otak (CT-Scan).Pada
tingkat ini semua kasus mempunyai indikasi untuk dirawat. Selama
satu hari pertama perawatan dirumah sakit perlu dilakukan
pemeriksaan neurologis setiap setengah jam sekali, sedangkan follow
up sken tomografi computer otak pada hari ke tiga atau bila ada
perburukan neurologis.
Apa bial ada Tindakan di UGD :

Anamnese singkat

Stabilisasi kardiopulmoner dengan segera sebelum pemeriksaan


neulorogis

Pemeriksaan CT scan

Penderita harus dirawat untuk diobservasi

Penderita dapat dipulangkan setelah dirawat bila :

33

Status neulologis membaik

CT scan berikutnya tidak ditemukan adanya lesi masa yang


memerlukan pembedahan

Penderita jatuh pada keadaan koma, penatalaksanaanya sama


dengan cedera kepala berat.

Airway harus tetap diperhatikan dan dijaga kelancarannya


(Satyanegara, 2010).

Gambar Algoritma Cedera Otak Sedang

34

c. Penatalaksanaan Cedera Otak Berat GCS 3-8


Dalam penatalaksanaan survei primer hal-hal yang diprioritaskan
antara lain airway, breathing, circulation.
1. Airway
Intubasi* jika:
a. Jalan napas atau ventilasi tidak adekuat
b. Pasien tetap tidak responsif (tidak bisa melindungi jalan nafas)
c. Pasien membutuhkan sedasi untuk manuver diagnostik
*jika dicurigai cedera tulang belakang, intubasi harus dilakukan
oleh orang berpengalaman yang tersedia. Menggunakan teknik yang
menyebabkan sedikit gerakan kepala dan leher.
Cara mengecek:

Look: Lihat apakah ada gerakan dada (gerakan bernapas),


apakah gerakan tersebut simetris?

Listen: Dengarkan apakah ada suara nafas normal, dan apakah


ada suara nafas tambahan yang abnormal (bisa timbul karena
ada hambatan sebagian)

Feel: Rasakan dengan pipi pemeriksa apakah ada hawa napas


dari korban?

Teknik pembebasan jalan nafas:


Selain Teknik Angkat Dagu Tekan Dahi dalam Bantuan Hidup
Dasar, cara lain untuk membuka jalan nafas adalah dengan Teknik
Perasat Pendorongan Rahang Bawah (Jaw Thrust Maneuver).
Teknik ini hanya dilakukan untuk korban yang mengalami
trauma atau cedera pada kepala, leher maupun tulang belakang atau
pun yang dicurigai mengalami trauma tersebut.Teknik ini cukup sulit
dilakukan, namun kepala dan leher korban dibuat dalam posisi alami
/ normal.
Teknik:
1) Berlutut disisi atas kepala korban, letakkan kedua siku
penolong sejajar dengan posisi korban, kedua tangan
memegang sisi kepala.

35

2) Kedua sisi rahang bawah dipegang (jika korban anak atau bayi
gunakan dua atau tiga jari pada sisi rahang bawah).
3) Gunakan kedua tangan untuk menggerakkan rahang bawah ke
posisi depan secara perlahan. Gerakan ini mendorong lidah ke
atas sehingga jalan nafas terbuka.
4) Pertahankan posisi mulut korban tetap terbuka
2. Breathing
a. Pertahankan PCO2 pada tingkat normal (35-45 mmHg)
b. Dapatkan sinar X dada sesegera mungkin
c. Periksa ABGs atau End Tidal CO2 secara teratur
3. Circulation
1. Syok biasanya disebabkan oleh perdarahan dari sumber lain
2. Kontrol perdarahan
3. Syok akan memperburuk cedera kepala (pertahankan tekanan darah
sistolik >90 mmHg)
Terapi medikamentosa pada penderita cedera kepala dilakukan untuk
memberikan suasana yang optimal untuk kesembuhan.Hal-hal yang dilakukan
dalam terapi ini dapat berupa pemberian cairan intravena, hiperventilasi,
pemberian manitol, steroid, furosemid, barbitirat dan antikonvulsan.

36

Algoritma Penatalaksanaan Cidera Otak Berat


2.24 Komplikasi
1. Kejang Pasca Trauma
Kejang yang terjadi setelah masa trauma yang dialami pasien merupakan
salah satu komplikasi serius. Insidensinya sebanyak 10%, terjadi di awal
cedera 4-25% (dalam 7 hari cedera), terjadi terlambat 9-42% (setelah 7
hari trauma). Faktor risikonya adalah trauma

penetrasi, hematom

(subdural, epidural, parenkim), fraktur depresi kranium, kontusio serebri,


GCS <10.
2. Demam Menggigil
Demam dan mengigil akan meningkatkan kebutuhan metabolisme dan
memperburuk outcome.Sering terjadi akibat kekurangan cairan, infeksi,
37

efek sentral.Penatalaksanaan dengan asetaminofen, neuro muskular


paralisis. Penanganan lain dengan cairan hipertonik, koma barbiturat,
asetazolamid.
3. Hidrosephalus
Berdasarkan lokasinya, penyebab obstruksi dibagi menjadi komunikan dan
non komunikan.Hidrosefalus komunikan lebih sering terjadi pada cedera
kepala dengan obstruksi, kondisi ini terjadi akibat penyumbatan di sistem
ventrikel.Gejala klinis hidrosefalus ditandai dengan muntah, nyeri kepala,
papil odema, demensia, ataksia dan gangguan miksi.
4. Spastisitas
Spastisitas adalah fungsi tonus yang meningkat tergantung pada kecepatan
gerakan.Membentuk

ekstrimitas

pada

posisi

ekstensi.

Beberapa

penanganan ditujukan pada : pembatasan fungsi gerak, nyeri, pencegahan


kontraktur, dan bantuan dalam memposisikan diri. Terapi primer dengan
koreksi posisi dan latihan ROM, terapi sekunder dengan

splinting,

casting, dan terapi farmakologi dengan dantrolen, baklofen, tizanidin,


botulinum dan benzodiazepin.
5. Agitasi
Agitasi pasca cedera kepala terjadi > 1/3 pasien pada stadium awal dalam
bentuk delirium, agresi, akatisia, disinhibisi, dan emosi labil.Agitasi juga
sering terjadi akibat nyeri dan penggunaan obat-obat yang berpotensi
sentral. Penanganan farmakologi antara lain dengan menggunakan
antikonvulsan,

antihipertensi,

antipsikotik,

buspiron,

stimulant,

benzodiazepin dan terapi modifikasi lingkungan


6. Mood
Tingkah Laku dan Kognitif Gangguan kognitif dan tingkah laku lebih
menonjol dibanding gangguan fisik setelah cedera kepala dalam jangka
lama. Penelitian Pons Ford,menunjukkan 2 tahun setelah cedera kepala
masih terdapat gangguan kognitif, tingkah laku atau emosi termasuk
problem daya ingat pada 74%, gangguan mudah lelah (fatigue) 72%,
gangguan kecepatan berpikir 67%. Sensitif dan Iritabel 64%, gangguan
konsentrasi 62%. Cicerone (2002) meneliti rehabilitasi kognitif berperan

38

penting untuk perbaikan gangguan kognitif.Methyl phenidate sering


digunakan pada pasien dengan problem gangguan perhatian, inisiasi dan
hipoarousal.Dopamine, Amantadinae dilaporkan dapat memperbaiki
fungsi perhatian dan fungsi luhur.Donepezil dapat memperbaiki daya ingat
dan tingkah laku dalam 12 minggu.Depresi mayor dan minor ditemukan
40-50%.Faktor risiko depresi pasca cedera kepala adalah wanita, beratnya
cedera kepala, pre morbid dan gangguan tingkah laku dapat membaik
dengan antidepresan. Sindroma Post Kontusio merupakan komplek gejala
yang berhubungan dengan cedera kepala 80% pada 1 bulan pertama, 30%
pada 3 bulan pertama dan 15% pada tahun pertama: Somatik : nyeri
kepala, gangguan tidur,

vertigo/dizzines, mual, mudah lelah, sensitif

terhadap suara dan cahaya, kognitif: perhatian, konsentrasi, memori,


Afektif: iritabel, cemas, depresi, emosi labil.
2.25 Prognosis
Prognosis pada cedera kepala mengacu pada tingkat keparahan yang
dialami. Nilai GCS saat pasien pertama kali datang ke rumah sakit memiliki
nilai prognosis yang besar. Nilai GCS antara 3-4 memiliki tingkat mortalitas
hingga 85%, sedangkan nilai GCS diatas 12 memiliki nilai mortalitas 510%. Gejala-gejala yang muncul pasca trauma

juga perlu diperhatikan

seperti mudah letih, sakit kepala berat, tidak mampu berkonsentrasi dan
irritable.
2.26 Konsep Dasar Teori Virginia Henderson
Dalam tulisan Virginia Henderson edisi ke-6 dengan judul The Principles
and Practice of Nursing, ia mengutip beberapa definisi dari sumber termasuk
satu dari piagam WHO. Dia memandang kesehatan dalam kaitan demgan
kemampuan pasien untuk memenuhi 14 komponen kebutuhan dasar hidup
untuk memandirikan pasien. 14 komponen kebutuhan dasar hidup tersebut
meliputi :
1. Bernafas dengan normal
2. Makan dan minum cukup.
3.

Pembuangan eliminassi tubuh

4. Bergerak dan mempertahankan posisi yang nyaman.

39

5. Tidur dan istirahat.


6. Memilih pakaian pantas, berpakaian dan menanggalkan pakaian.
7. Mempertahankan

suhu

tubuh

dalam

kondisi

normal

dengan

memodifikasi lingkungan.
8. Menjaga kebersihan tubuh dan memelihara kesehatan dan melindungi
kulit
9. Menghindari bahaya dilingkungannya dan menghindari cedera yang
lain.
10. Komunikasi dengan orang lain dalam pernyataan emosi, kebutuhan,
ketakutan dan pendapat.
11. Beribadah menurut kepercayaan seseorang.
12. Bekerja sedemikian rupa sehingga ada rasa pemenuhan akan
kebutuhan.
13. Belajar, menemukan atau mencukupi keingintahuan akan pertumbuhan
dan kesehatan yang normal dan dapat memanfaatkan fasilitas
kesehatan yang tersedia.
14. Bermain atau kebutuhan rekreasi
Menurut Henderson, ke-14 kebutuhan dasar yang wajib menjadi fokus
tersebut dipengaruhi oleh :
1.

Usia

2.

Kondisi emosional (mood & temperamen)

3.

Latar belakang sosial dan budaya.

4.

Kondisi fisik dan mental, termasuk berat badan, kemampuan dan

ketidakmampuan

sensorik,

kemampuan

dan

ketidakmampuan

lakomotif, dan status mental

Henderson juga menekankan pada pentingnya merencanakan askep.


Didalam modelnya ia menggambarkan rencana keperawatan, metode skematik
untuk pengawasan asuhan. Perencanaan yang cermat akan mengklarifikasikan halhal berikut :
1.

Urutan aktifitas yang wajib dilakukan.

2.

Aktifitas perawat yang wajib dan tidak boleh dilakukan

40

3.

Perubahan-perubahan yang telah dibuat.

Sebagai ringkasannya, prinsip-prinsip dasar dari model Henderson


adalah sebagai berikut ;
1.

Fungsi unik dari perawat

2.

Upaya pasien kearah kemandirian

3.

Askep dasar berdasarkan kebutuhan dasar manusia

4.

Perencanaan yang akan diberikan.

Prinsip-prinsip

dasar

tersebut

menandai

era

baru

bagi

keperawatan.Perawat menyadari fungsi dan keunikannya, dan kesadaran ini


menandai era baru ketika profesi keperawatan mulai menelaah sifat aktual dari
kerja keperawatan secara lebih kritis dari sebelumnya.Komitmen menuju
kemandirian dan autonomi pada pasien juga menandai era tersebut.Sebelumnya,
terdapat kecenderungan bagi perawat untuk mencoba melakukan semuanya bagi
pasien. Secara umum,aktifitas keperawatan wajib didukung atau ditentukan oleh
tindakan terpeautik dokter.
2.13.1 Asumsi Asumsi Pada Teori Virginia Henderson
1. Keperawatan (nursing)
a. Perawat mempunyai keunikan untuk membantu individu sehat atau sakit.
b. Fungsi perawat adalah sebagai salah satu team medis.
c. Fungsi perawat adalah mandiri, terpisah dari dokter, tetapi mendukung
program program dokter.
d. Perawat wajib mempunyai pengetahuan yang cukup baik dari segi atau
sosial.
e. Perawat wajib dapat mengkaji kebutuhan dasar manusia.
f. Keempat belas komponen dasar kebutuhan manusia wajib dapat tercover
semua oleh fungsi perawat.
2. Pasien / person (pasien)
a. Pasien wajib mampu mempertahankan keseimbangan fisiologis dan
emosional.
b. Perasaan dan tubuh pasien adalah sesuatu yang tidak dapat terpisahkan.
c. Pasien wajib dibantu agar dapat mandiri.

41

d. Pasien dan keluaraga adalah satu kesatuan.


e.

Kebutuhan pasien wajib dapat terpenuhi dengan ke-14 komponen dari

keperwatan
3. Kesehatan (health)
a. Kesehatan adalah kualitas dari kehidupan.
b. Kesehatan adalah dasar dari fungsi manusia.
c. Kesehatan diperlukan secara mandiri dan saling menggantungkan.
d. Peningkatan keshehatan lebih penting dari perawatan orang sakit.
e. Seseorang dapat memperoleh kesehatan jika dia mempunyai kekuatan,
kemauan, dan pengetahuan
4. Lingkungan (environment)
a. Individu yang sehat mampu mengontrol lingkungannya, tetapi penyakit akan
menurunkan kemampuan untuk mempengaruhi lingkungan.
b. Perawat wajib mampu memberikan pendidikan kesehatan.
c. Perawat wajib melindungi pasien dari kecelakaan akibat lingkungan.
d. Perawat wajib mampu mencegah terjadinya kecelakaan melalui rekomendasi
terkait dengan konstruksi bangunan dan penempatan alat.
e. Dokter memanfaatkan hasil kerja perawat untuk menentukan tindakan
terbaik dalam mencegah kecacatan
f. Perawat wajib mengetahui tentang sosial budaya dan praktek keagamaan
pasien.

2.13.2 The Oretical Assertions


1. Hubungan Perawat dengan Pasien
Ada tiga tingkat hubungan antara perawat dengan pasien yang
diindetifikasioleh Henderson dari hubungan ketergantungan sampai
ketidaktergantungan.
Hubungan tersebut meliputi:
a) Perawat sebagai pengganti pasien (substitute). Pada saat sakit perawat
menggantikan kebutuhan pasien yang diakibatkan oleh karena
kehilangan

kekuatan

fisik,

ketidakmauan

dan

kurangnya

pengetahuan.Henderson mengungkapkan hal ini statmennya bahwa

42

Perawat, kesadaran bagi ketidaksadaran, kehidupan dari kematian,


tangan dari orang yang teramputasi, mata bagi orang buta, pemberi
kehangatan bagi bayi, juru bicara bagi orang bisu, dan sebagainya.
b) Perawat sebagai pembantu pasien (helper). Selama kondisi tidak sadar,
perawat membantu pasien menemukan kemandiriannya. Henderson
mengatakan Kemandirian adalah suatu hal yang relative, tidak satupun
kita tidak bergantung pada orang lain, tetapi kita mencoba memberi
kemandirian dalam kesehatan, bukan ketergantungan dalam kesakitan.
c) Perawat merupakan sebagai teman pasien (partner). Sebagai partner,
pasien

dan

perawat

bersama-sama

memformulasikan

rencana

keperawatan kebutuhan dasar yang didiagnosis. Juga dimodifikasi


sesuai kondisi, usia, temperamen, emosi, status sosial, kebudayaan,
Perawat juga wajib dapat mengatur lingkungan sekitar bila diperlukan.
Henderson percaya Perawat yang tahu reaksi fisiologis dan patologis
dari

perubahan

temperature,

pencahayaan,

tekanan

gas,

bau,

kebisingan, bau zat kimia, dan organisme akan mengorganisasikan


lingkungan dan memaksimalkan fungsi fasilitas, Perawat dan pasien
wajib selalu bekerja sama untuk mencapai tujuan, baik dalam
mencapai kemandirian atau kematian yang tenang. Salah satu tujuan
perawat adalah menjaga aktifitas sehari-hari pasien senormal mungkin.
Peningkatan status kesehatan adl tujuan penting dari perawatan.
Menurut Henderson, lebih penting membantu seseorang bagaimana
menjadi sehat daripada mengobati ketika sakit.
2. Hubungan perawat dengan dokter
Henderson menyatakan bahwa perawat mempunyai fungsi yang unik,
berbeda dengan dokter, dimana keperawatan, diatur oleh perawat dan
pasien bersama-sama saling mendukung dengan rencana atau program
therapy dokter.Henderson menekankan, Perawat tidak hanya mengikuti
perintah dokter.Suatu pertanyaan Mengapa dokter selalu memberi
perintah kepada pasien atau tenaga kesehatan lain?.Bahkan perawat
mampu membantu pasien ketika dokter tidak ada.Henderson juga
menyatakan bahwa perawat ataupun dokter sangat melebihi batas.

43

3. Perawat sebagai anggota Team Kesehatan


Perawat bekerja saling bergantung pada tenaga kesehatan yang lain.
Perawat dan tenaga kesehatan lain membantu menjalankan seluruh
program perawatan pasien. Henderson mengingatkan bahwa diantara team
kesehatan mempunyai sumbangsih yang sama dalam perawatan pasien.
Tak ada yang lebih besar, masing-masing mempunyai fungsi unik sendirisendiri.
2.13.3 Aplikasi Model Virginia Henderson dalam Pemberian Asuhan
Keperawatan
1. Pengkajian
Yang perlu dikaji adalah:
a. Core/inti
Data diri pasien yang terdiri dari: umur, pendidikan, jenis kelamin, agama,
nilai-nilai keyakinan serta riwayat timbulnya penyakit.
b.

14 komponen kebutuhan dasar manusia / pasien meliputi:


1.

Pernafasan

2.

Kebutuhan makan dan minum

3.

Eliminassi

4.

Posisioning

5.

Kebutuhan tidur dan istirahat

6.

Kebutuhan dalam berpakaian

7.

Cara mempertahankan suhu tubuh dan memodifikasi lingkungan

8.

Kebersihan tubuh

9.

Kondisi lingkungan

10. Komunikasi
11. Ibadah dan keyakinan
12. Pekerjaan sehari-hari
13. Kebutuhan bermain dan rekreasi
14. Kebutuhan belajar dan memanfaatkan fasilitas keseahatan
Perawat mengkaji ke-14 komponen dasar, komponen pertama dinilai secara penuh
kemudian menuju pada komponen selanjutnya. Untuk mengkaji data dari ke-14

44

komponen ini, perawat membutuhkan pengetahuan dari apa yang normal dalam
kesehatan, juga pengetahuan tentang apa-apa saja yang telah menyebabkan orang
sakit.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa dirumuskan berdasarkan dari analisis data dari ke-14 komponen
kebutuhan dasar manusia / pasien.
3. Intervensi Keperawatan
Perencanaan melibatkan pembuatan rencana agar sesuai dengan keb individu,
memperbaharui jika diperlukan, dan menjamin bahwa ini sesuai dengan yang
ditentukan dokter.sebuah rencana yang baik mengintregasikan pekerjaan dari
semua yang ada dalam tim kesehatan.
4. Implementasi
Perawat membantu pasien melaksanakan aktifitas untuk memelihara kesehatan,
untuk menyembuhkan dari sakit, atau untuk membantu dalam kematian yang
tenang.bersifat individu, tergantung pada prinsip fisiologis, umum, latar
belakang budaya, keseimbangan fisik dan intelektual.
5.Evaluasi
Menurut Henderson, perawat akan melakukan evaluasi berdasar pada tingkatan
dimana pasien dapat mandiri.

2.13.4 Manfaat Teori Virginia Henderson Pada Praktek Keperawatan


Teori Virginia Henderson memberikan pernyatan tentang profesi perawat yang
unik, terlepas dari profesi kedokteran, sehingga perawat dapat menentukan
rencana keperwatannya dengan mandiri tanpa menunggu instruksi dari
dokter.Melengkapi model konseptual keperawatan yang telah ada.

2.13.5 Kekuatan dan Kelemahan Teori Virginia Henderson


1.Kekuatan
a.Henderson adalah ahli teori keperawatan yang memberi pengaruh besar pada
keperawatan sebagai profesi yang mendunia. Henderson adalah orang
pertama yang mencari fungsi unik dari profesi perawat.

45

b.Teori Henderson didasari oleh keanekaragaman pengalaman yang ia miliki


selama karir keperawatannya, bukan teori / model yang abstrak semata.
c. Henderson mendefinisika profesi keperawatan: bahwa profesi keperawatan
adalah profesi yang mandiri yang tidak hanya tergantung pada instruksi
dokter.
d.Asumsi Henderson mempunyai validitas karena mempunyai keserasian
dengan riset ilmuan dibidang yang lain seperti konsep Maslow.
2.Kelemahan
a. Pandangan dan pendapatnya hanya berfokus pada satu pihak yaitu pada
penyembuhan fisik semata atau pada upaya memandirikan pasien.
b. Teori minus pragmatis.

46

BAB 3
PEMBAHASAN
Cedera kepala merupakan proses dimana terjadi trauma langsung atau
deselerasi terhadap kepala yang menyebabkan kerusakan tengkorak dan otak.
Cedera dibagi menjadi 2 yaitu cedera otak primer dan sekunder.Cedera otak
primer merupakan kerusakan yang terjadi pada otak segera setelah trauma.Cedera
otak sekunder meerupakan kerusakan yang berkembang kemudian sebagai
komplikasi.

Penyebab

utama

dari

cedera

kepala

adalah

kecelakaan

lalulintas.Namun penyebab lain dari trauma kepala adalah kecelakaan industry,


kecelekaan olahraga, kecelakaan karena terkena tembakan dan bom, kecelakaan
karena kejatuhan benda tumpul, kecelakaan terjatuh maupun membentur benda
keras. Pada kasus Tn. S terjadinya cedera kepala disebabkan karena kecelakaan
pada mobil yang dinaiki oleh Tn. S pada saat berangkat kerja, ada kemungkinan
juga pada saat terjadi kecelakaan kepala Tn. S membentur benda yang keras
sehingga terjadi cedera kepala. Berdasarkan dari klasifikasi cedera kepala Tn. S
termasuk cedera kepala sedang, karena nilai GCS dari Tn. S adalah 12 dan juga
terjadi hilang ingatan tetapi kurang dari 30 menit.
Manifestasi klinis cedera kepala meliputi terjadi kehilangan kesadaran,
periode kebingungan, somnolen, muntah, perubahan status mental, tanda-tanda
peningkatan TIK, cedera kulit pada area kepala. Pasien Tn. B pada saat MRS di
IRD RSUD Dr. Soetomoe dating dengan keluhan pasien tidak sadar, terdapat luka
pada kepala dan juga ada beberapa luka dibagian ekstermitas yaitu tangan dan
kaki. Riwayat penyakit sebelumnya adalah pasien tidak pernah dirwat di rumah
sakit.

47

Setelah dilakukan pengkajian pada tanggal 5-14 september 2016 Tn. S


ditemukan masalah keperawatan dasar antara lain: 1) Gangguan pemenuhan ADL
:Defisit perawatan diri; 2) Gangguan kenyamanan: Nyeri. Masalah utama yang
muncul pada Tn. S adalah deficit perawatan diri. Hal ini terjadi karena cedera
kepala yang menyebabkan terputusnya kontinuitas jaringan kulit, otot, dan
vaskuler sehingga akan terjadi perdarahan dan hematoma. Kemudian akan
menyebabkan perubahan sirkulasi ke otak dan terjadi peningkatan TIK, kondisi ini
akan membuat lobus temporalis tergeser sehingga terjadi herniasi dan
messencefalon tertekan dan terjadi gangguan kesadaran. Gangguan kesadaran ini
salah satunya akan mengakibatkan imobilisasi sehingga terjadi deficit perawatan
diri. Masalah kedua pada Tn. S adalah nyeri akut. Nyeri akut yang terjadi karena
trauma jaringan akan menyebabkan spasme otot dan merangsang saraf nyeri
sehingga pasien akan mengalami nyeri akut.
Pemeriksaan penting yang merupakan gold standart bagi Tn. S adalah CT
scan kepala untuk dapat mengetahui adanya gambaran abnormal yang sering
menyertai cedera kepala. Foto CT scan akan tampak sebagai penampang
melintang dari objeknya. Dengan CT scan isi kepala secara anatomis akan tampak
dengan jelas.
Rencana intevensi yang sudah diimplementasikan pada Tn. S dengan
masalah keperawatan dasar gangguan pemenuhan ADL : deficit perawatan diri
antara lain 1) Intervensi mandiri : melakukan edukasi kepada keluarga dan pasein
tentang pentingnya melakukan perawatan diri dengan tujuan untuk menjaga
personal hygiene yang baik, melakukan log roll kepada pasien dengan tujuan
untuk melakukan seka pada pasien terutama di area punggung dan bokong pasien,

48

melakukan penggantian pempers untuk kebutuhan BAB dan mengganti underpad.


2) intervensi monitoring : memonitoring tanda-tanda terjadinya decubitus pada
pasein Tn. S karena tirah baring yang lama. Setelah dilakukan intervensi
keperawatan terkait pemenuhan ADL personal hygiene dapat dievaluasi, Tn. S
dan keluarga pasien mengatakan lebih nyaman setelah dibantu melakukan
perawatan diri namun pasien masih belum bisa melakukannya secara mandiri
sehingga harus diatasi dengan melanjutkan intervensi tersebut.
Intervensi pada masalah nyeri pada Tn. S yang telah diberikan kepada
pasien adalah 1)intervensi mandiri: mengajarkan kepada pasien dan keluarga
mengenai teknik non farmakologi napas dalam dan distraksi dengan cara
memberikan edukasi kepada Tn. S dan keluraga dan setelah itu pasien
diperintahkan menirukan. 2) Intervensi kolaboratif: melakukan kolaborasi
pemberian

obat analgetik sesuai indikasi dan advis dokter. 3) intervensi

monitoring : mengkaji nyeri secara komprehensif (PQRST), mengobservasi


respon nonverbal terhadap nyeri, menjaga lingkungan yang nyaman dan tenang
hal ini bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh Tn. S. Dan juga
melakukan monitoring TTV. Setelah dilakukan implementasi intervensi
keperawatan terkait manajemen nyeri dapat dievaluasi bahwa nyeri pada TN. S
berkurang namun dapat muncul kembali sewaktu-waktu pada saat pasien
melakukan gerakan sehingga harus diatasi dengan melanjutkan intevensi tersebut.

49

FORMAT LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN


BERDASARKAN FORMAT HENDERSON

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.S


DENGAN DIAGNOSA MEDIS COS+ EDEMA SEREBRI+ ICH BASAL
GANGLION
DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN ADL: DEFISIT PERAWATAN
DIRI DAN RASA NYAMAN: NYERI AKUT DI RUANG BEDAH ASTER
RSUD Dr. SOETOMOE
TANGGAL 5 -14 SEPTEBER 2016
PENGKAJIAN
1. Identitas
a. Identitas Pasien
Nama
: Tn.S
Umur

: 50 tahun

Agama

: Islam

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Status

: Sudah menikah

Pendidikan

:Tamat SLTA

Pekerjaan

: Petani

Suku Bangsa

:Indonesia

Alamat

: JL. Sumber Arum Kenek Tuban, RT 003/ RW 003

Tanggal Masuk

: 25-08-2016

Tanggal Pengkajian : 05-09-2016


No. Register

: 1252xxxx

Diagnosa Medis

: .COS+Edema Serebri+ICH Basal Ganglion

b. Identitas Penanggung Jawab


Nama
: Tn M
Umur

: 28 tahun

Hub. Dengan Pasien : Anak


Pekerjaan

: Swasta

Alamat

: Tuban

50

2. Status Kesehatan
a. Status Kesehatan Saat Ini
1) Keluhan Utama (Saat MRS dan saat ini)
Saat MRS : Klien tidak sadar
Saat ini : Nyeri pada kepala
2) Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya
Pasien istirahat ditempat tidur.

b. Satus Kesehatan Masa Lalu


1) Penyakit yang pernah dialami : Tidak pernah
Pernah dirawat : tidak pernah
Alergi : tidak ada
2) Kebiasaan (merokok/kopi/alkohol dll) : merokok
3) Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada
4) Diagnosa Medis dan therapy : Tidak ada
3. Pola Kebutuhan Dasar ( Data Bio-psiko-sosio-kultural-spiritual)
a. Pola Bernapas
Sebelum sakit :Normal
Saat sakit : Bernafas spontan
b. Pola makan-minum
Sebelum sakit

:Normal 3 kali/hari

Saat sakit

Sebelum operasi melalui NGT 5 kali/hari sesuai jadwal, post operasi disuapin 5
kali/hari
c.

Pola Eliminasi

Sebelum sakit

: Normal spontan

Saat sakit

Sebelum operasi memakai selang kateter, post operasi setelah bladder training
pada hari kamis 15 september 2016 BAK Spotan
d. Pola aktivitas dan latihan
Sebelum sakit

: Aktif beraktifitas yaitu bekerja

Saat sakit

: terbaring ditempat tidur (tidak aktif)

51

e.

Pola istirahat dan tidur

Sebelum sakit

: 8 jam sehari

Saat sakit

:Tidak tentu sekitar 1 jam

f.

Pola Berpakaian

Sebelum sakit

: normal memakai baju sendiri

Saat sakit

: dibantu oleh perawatn dan keluarga

g.

Pola rasa nyaman

Sebelum sakit

: normal nyaman

Saat sakit

: tidak nyaman Karena sakit dan nyeri

h. Pola Aman
Sebelum sakit

: Aman dari resiko jatuh

Saat sakit

: kurang aman dari resiko jatuh karena pasien terbaring di

tempat tidur dan sering bergerak.


i.

Pola Kebersihan Diri

Sebelum sakit

: normal mandi minimal 2 kali sehari

Saat sakit

:tidak bisa sama sekali melakukan personal hygiene yaitu

oral hygiene, potong rambut, potong kuku dan mandi secara mandiri.
j.

Pola Komunikasi

Sebelum sakit

: normal berkomunikasi

Saat sakit

: kurang berkomunikasi karena kesadaran menurun dengan

GCS 345
k. Pola Beribadah
Sebelum sakit

: normal dilakukan sesuai kewajiban

Saat sakit

: tidak melakukan ibadah

l.

Pola Produktifitas

Sebelum sakit

: produktif bekerja

Saat sakit

: tidak produktif, hanya terbaring di atas tempat tidur

m. Pola Rekreasi
Sebelum sakit
Saat sakit

: hiburan menonton tv
: hanya berbaring ditempat tidur dan dihibur oleh anaknya

dan istrinya saja

52

n. Pola Kebutuhan Belajar


Sebelum sakit

.................................................................................................................................
Saat sakit

...........................................................................................................................

4. Pengkajian Fisik
a. Keadaan umum :
Tingkat kesadaran : somnolen
GCS : verbal:4.Psikomotor:5.Mata :3..
b. Tanda-tanda Vital : Nadi = 67, Suhu = 35,5, TD =110/50, RR= 16
c.

Keadaan fisik

1) Kepala dan leher


: terpasang collar brass
2) Dada :
Paru ; normal simetris, tidak ada suara tambahan
Jantung : normal s1/s2 tunggal
3) Payudara dan ketiak : normal
4) Abdomen
: normal
5) Genetalia
: kurang bersih (kotor)
6) Integumen : kurang bersih
7) Ekstremitas
:
Atas
Terpasang gibs di lengan sebelah kiri
Bawah
Bisa bergerak
8) Neurologis
:
Status mental dan emosi : sumnolen
Pengkajian saraf kranial : fungsi saraf kranial dalam batas normal
Pemeriksaan refleks : refleks normal
d. Pemeriksaan Penunjang
1) Data laboratorium yang berhubungan : DL, Kimia Klinik
2) Pemeriksaan radiologi : CT scan, MRI
3) Hasil konsultasi
....................................................................................................................................
4) Pemeriksaan penunjang diagnostic lain
....................................................................................................................................

53

5. ANALISA DATA
DATA
DS : kelurga
mengatakan pasein
tidak mampu
melakukan perawatan
diri secara mandiri.
DO : bau badan dan
bau mulut pasien tidak
sedap, keadaan mulut
pasien terlihat kotor
Aktivitas mandi,
berpakaian dan makan
klien dibantu
sepenuhnya oleh
keluarga dan petugas
kesehatan di rumah
sakit

DS :
Klien bersuara
meringik kesakitan

INTERPRETASI
(Sesuai dengan patofisiologi)
Cedera kepela

MASALAH
Defisit perawatan
diri

Penurunan kesadaran

Kelemahan fisik

ADL terganggu

Defisit perawatan diri

Cedera kepala

Nyeri akut`

Trauma jaringan
DO : ada luka di
kepala,
pasientempak terlihat
meringis kesakitan
sambil memegang
kepala.
Skala nyeri 6
GCS 345
Klien terpasang restrain
(tangan dan kaki)

Reflex spasme otot

Merangsang saraf nyeri

Nyeri akut

54

DS :
Klien bersuara
meringik kesakitan

Cedera kepala

Resiko gangguan
perfusi serebral

Perdarahan otak
DO : kesadaran pasien
menurun GCS 345,
perubahan TTV (TD
meningkat, nadi kuat
dan lambat)
Adanya edema cerebral

Kompresi dan bendungan


pembuluh darah disekitarnya

Resiko terjadinya PTIK

Resiko gangguan perfusi


serebral

55

DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN /MASALAH KOLABORATIF BERDASARKAN PRIORITAS


NO

TANGGAL / JAM
DITEMUKAN

1.

05-09-2016/ 10.00 WIB

Deficit perawatan diri berhubungan


dengan kelemahan fisik

2.

05-09-2016/ 10.00 WIB

Nyeri akut berhubungan dengan


trauma jaringan dan spasme otot

3.

05-09-2016/ 10.00 WIB

Resiko gamgguan perfusi cerebral


berhubungan dengan kompresi dan
bendungan pembuluh darah
disekitarnya

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TANGGAL
TERATASI

Ttd

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


Hari/
Tgl

No
Dx

Selasa, 06-

1.

09-2016

Ttd

Rencana Perawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil
NOC : self care : NIC : Self Care Assistance

Rasional
1. Untuk

Activity Daily Living 1. Monitoring kebutuhan klien terkait dengan


(ADL)

ADL

Setelah

dialakukan 2. Motivasi

klien

dan

keluarga

untuk

melakukan dan membantu pasien dalam

pasien

pemenuhan kebutuhan perawatan diri.

melaksanakan
perawatan

3. Ajarkan

diri

kebersihan

dan

keluarga

dalam

pemenuhan

kebutuhan perawatan diri klien.

pasien 4. Bantu oral hygiene pasien

terjaga, kriteria hasil :

5. Bantu BAB dan BAK pasien

1. Klien mampu 6. Bantu membuang balance cairan pasien


melakukan
oral

hygiene

dengan
bantuan

kebutuhan ADL klien.


2. Untuk memberi semangat

tindakan keperawatan
mampu

pemenuhan

7. Waspada resiko jatuh.

dan

percaya

diri

pada

pasien dan keluarga


3. Tindakan

mandiri

yang

kemudian akan dilakukan.


4. Untuk kebersihan mulut
pasien
5. Untuk kebutuhn eliminasi
pasien
6. Untk keseimbangan cairna
pasien
7. Menghindari resiko cedera
berulang

57

2. Klien mampu
melakukan
grooming
dengan
bantuan
3. Klien mampu
melakukan
oral

hygiene

dengan
bantuan

58

Selasa, 0609-2016

2.

NOC : Pain level


Setelah
tindakan

NIC : Pain Management

dilakukan 1. Kaji secara komprehensif terhadap nyeri

1. Untuk mengetahui tingkat


nyeri

keperawtan 2. Observasi ketidaknyamanan secara verbal 2. Untuk

pasien

dapat

mengontrol

nyeri 3. Komunikasi terapeutik

dengan kriteria hasil :


1. Ekspresi

6. Hilangkan factor presipitasi

3. Pasien tidak agitasi.


tidak

merintih dan tidak


menangis
5. Tanda-tanda

ketidaknyamanan
3. Untuk

mengalihkan

perhatian pasien.
4. Untuk mengurangi factor
yang memperburuk nyeri

dapat 7. Ajarkan teknik nonfarmako napas dalam 5. Untuk

istirahat dan tidur.

4. Pasien

4. Tentukan factor yang memperburuk nyeri.

wajah 5. Control lingkungan

pasien tenang.
2. Pasien

dan nonverbal

mengetahui

dan distraksi

mengurangi

ketidaknyamanan.

8. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai 6. Agar nyeri pasien tidak


indikasi dan advis dokter

bertambah.
7. Agar

pasein

menggunakan
vital

dalam batas normal

mamapu
teknik

nonfarmako napas dalam


dan distraksi

59

Selasa, 0609-2016

NOC

setelah NIC :

dilakukan

1. Pantau tanda dan gejala peningkatan

keperawatan
dapat

1. Untuk

pasien
mencegah

komplikasi dari PTIK,


dengan kriteria hasil :
1. Kesadaran stabil

TIK

adanya PTIK
2. Untuk

2. Kaji respon membuka mata, respon


motorik, dan verbal, (GCS)

4. Catat gejala dan tanda-tanda: muntah,

2. Tidak mual

sakit kepala, lethargi, gelisah, nafas

3. Tidak muntah

keras, gerakan tak bertujuan, perubahan


mental

mengetahui

tingkat kesadaran pasien


3. Untuk

3. Kaji perubahan tanda-tanda vital

mengetahui

mengetahui

adanya perubahan TTV


4. Untuk

mengetahui

datangnya PTIK
5. Agar pasien bisa lebih
tenang.

5. Pertahankan lingkungan yang tenang


6. Jika diindikasikan, lakukan protokol

6. Untuk

mengurangi

edeme serebral

atau kolaborasi dengan dokter untuk


terapi obat yang mungkin termasuk
sebagai

berikut:

(menurunkan
serebral),

sedasi,

laju

barbiturat

meta-bolisme

Diuretik

osmotik

(menurunkan edema serebral)

60

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari/

No

Tgl/Jam

Dx

Jumat 09-09-

1.

2016

Tindakan Keperawatan

Evaluasi proses

1. Memberikan edukasi kepada keluarga -

Pasien dan kelurga mengerti

pasien dan juga pasien terkait pentingnya

mengenai pentingnya personal

personal hygiene.

hygiene

2. Menganjurkan keluarga untuk ikut serta dalam memenuhi kebutuhan ADL klien

Ttd

Keluarga pasein melakukan seka


kepada pasein secara mandiri

3. Memonitoring kebutuhan klien untuk


ADL
4. Membantu merubah posisi klien dengan
cara log roll
5. Membantu menseka pasien
6. Mengganti pempers untuk kebutuhan
BAB
7. Membuang urine pasien untuk eliminasi
8. Mengganti underpad

61

Jumat,

09- 2.

09-2016

1. Mengkaji nyeri secara komprehensif -

Pasien dan keluarga mengerti

(PQRST)

cara melakukan napas dalam

2. Mengobservasi

respon

verbal

dan -

Pasien dan keluarga mengerti

nonverbal

cara

mengenalai

tanda-tanda

3. Menggunakan komunikasi terapeutik

nyeri.

4. Menanyakan

Pasien dan keluarga mengerti

factor

yang -

memeperburuk nyeri.

teknik

5. Membuat lingkungan yang nyaman dan

nonfarmakologi

napas

dalam dan distraksi

tenang.
6. Mengajarkan teknik napas dalam dan
distraksi.
7. Memberikan obat analgetik sesuai advis
dokter .
Jumat,
09-2016

09- 3

1. Memantau tanda-tanda PTIK

Kesadaran pasien stabil, sudah

2. Mengkaji GCS pasien

mulai bisa diajak

3. Melakukan TTV

berkomunikasi

4. Mencatat

gejala

dan

tanda-tanda:

muntah, sakit kepala, lethargi, gelisah,

Tidak terjadi mula muntah


pada pasien

nafas keras, gerakan tak bertujuan,

62

perubahan mental.
5. Memposisikan kepala pasien atau leher
yang netral, usahakan ada sedikit batal.
Menghindari bantal yang tinggi pada
pasien.

63

Evaluasi Keperawatan
Hari/Tgl
No
jam
1.
Sabtu, 10-09-2016

No Dx
1

Evaluasi

TTd

S:O : rambut klien berkurang kotornya, tidak terdapat bercak darah di


rambut pasien, bau mulut tidak sedap berkurang, kulit tubuh tampak
bersih, seka (+)
A : masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan

2.

Sabtu 10-09-2016

S : klien masih bersuara meringik kesakitan dan gelisah


O : Kepala pasien masih diperban, klien dan keluarga tampak mengerti apa
yang perawat ajarkan dan akan terus melakukannya apabila nyeri datang
A : masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan

3.

Sabtu 10-09-2016

S:O : GCS membaik, TTV normal, tidak ada muntah


P : masalah teratasi sebagian
I : intervensi dilanjutkan

64

WOC CEDERA KEPALA

MK : Resiko Infeksi
Cedera Otak Primer
(Kecelakaan, benturan

Terbukanya Port Dee Entree

secara langsung)

& Kuman Masuk

Tekanan seperti akselerasi


rotasi, kompresi, distensi

MK : Nyeri

Terputusnya kontinuitas

Mengenai tulang tengkorak

jaringan

Parenkim Otak

Pembuluh Darah

Subarachnoid

Subdural

Epidura
l

Epidura
l

Epidural

Peningkatan kerusakan sel otak


MK : Nutrisi kurang dari Kebutuhan
Tubuh

Cedera Otak Sekunder


(Tumor)

Mual dan Muntah


Perdarahan
Stress

Edema

Kerusakan

Iskemia

otak

neuron lanjut

fokal

Peningkatan katekolamin, peningkatan

Kerusakan otak

MK : Gangguan Perfusi Jaringan

sekresi asam lambung

berlanjut

Cerebral

Kerusakan biokimia

Perdarahan petekial otak

Disfungsi Membran Kapiler

Kerusakan pompa

Kerusakan

Na

pompa Ca

Edema sintotoksik

Kerusakan

pembuluh darah di

membrane dan

sekitarnya

sitoskeleton

Kerusakan Mikrosirkulasi

Kompresi dan
bendungan pada

MK : PTIK

Edema vasogenik
Sludging dari sel darah merah dan
trombosit

Hipoksia Otak

Kerusakan sawar darah otak

Penimbunan asam laktat

Gangguan Kesadaran
Peningkatan rangsangan simpatis

Asidosis metabolik

Peningkatan tahanan vaskuler sistemik dan TD

MK : Resiko Injuri
Mual dan Muntah

Penurunan pembuluh darah

MK : Resiko Kekurangan Volume

pulmonal
Peningkatan tekanan hidrostatik

Cairan

pulmonal
Kebocoran cairan kapiler
pulmonal
Oedem Paru

MK : Kurangnya Perawatan Diri

Immobilisasi

MK : Resiko Kerusakan Integritas


Kulit

pulmonal
Difusi O2 terhambat
pulmonal
MK : Gangguan Pertukaran Gas

66

DAFTAR PUSTAKA

American College of Surgeon Committe on Trauma.Cedera kepala. Dalam:


Advanced Trauma Life Support for Doctors. Ikatan Ahli Bedah
Indonesia, penerjemah.Edisi 7.Komisi trauma IKABI; 2004.168-193.
Batticaca Fransisca B. 2008. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan
Sistem Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Hidayat, A.A.A.2011.Pengantar Konsep Dasar Keperawatan.Jakarta: Salemba
Medika
Lyn Basfort & Oliver Slevin.2006.Teori dan Praktek Keoerawatan: pendekatan
Integral pada asuhan pasien.Jakarta:EGC
Mahar Mardjono & Priguna Sidharta. 2004. Neurologi Klinis Dasar, Jakarta :
Dian Rakyat.
Muttaqin, Arif. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. 2008. Salemba Medika Jakarta
Potter & Perry.1999.Fundamental Keperawatan.Jakarta:EGC
Wahyudi, AS, 2013, Hubungan Rumah Sehat Dengan Kejadian TB Paru Di
Kecamatan

Palengaan

Kabupaten

Pamekasan,

http://ejournal.wiraraja.ac.id/index.php/FIK/article/view/42
Wahyudi, A.S, Wahid, A, 2016. Ilmu Keperawatan Dasar, Jakarta: Mitra Wacana
Media.