Anda di halaman 1dari 26

LABORATORIUM KIMIA FARMASI

JURUSAN FARMASI FIKES


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

LAPORAN LENGKAP
FISIKA DASAR
PERCOBAAN
PENGUKURAN DAN KETIDAKPASTIAN

KELOMPOK

: III (TIGA)

GOLONGAN

: II (DUA)

ASISTEN

: RINA ASTUTY SIDIK

SAMATA GOWA
2011/ 2012

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Asas semua cabang ilmu adalah pengamatan atau observasi.
Pengamatan atas suatu besaran fisika biasanya berupa pengamatan kuantitas
atau pengukuran. Kumpulan pengukuran yang diperoleh dari berbagai sumber
diolah dan disentralisasikan menjadi suatu model atau teori suatu gejala alam.
Agar berguna, teori harus dapat menerangkan semua peristiwa alam yang
dikenal waktu itu, bahkan harus dapat meramalkan berbagai hal baru yang
benar tidaknya dibuktikan dengan percobaan dan pengukuran baru.
Pengukuran kuantitas merupakan dasar utama. Dalam pengukuran ini
dicari korelasi atau interpretasi dan sering pua diadakan perbandingan dengan
prediksi teoritis. Hal-hal yang meliputi pengukuran kuantitas ini adalah system
satuan internasional dan di singkat sistm SI (System Internasional) atau sistm
satuaan matrik.
Setiap pengukuran yang kita lakukan mungkin lebih besar atau lebih
kecil dari yang kita yang kita catat. Oleh karena itu, pemberian hasil dari suatu
pengukuran harus disertai estmasi ketidakpastian.
Pengukuran dalam arti yang luas adalah membandingkan suatu besaran
dengan besaran standar. Besaran standar tersebut harus memenuhi syaratsyarat, yakni dapat didefinisikan secara fisik, jelas dan tidak berubah dengan
waktu dan dapat digunakan sebagai pembanding, dimana saja di dunia ini.

Hubungan antaara pengukuran dengan farmasi adalah dalam hal


pengukuran bahan-bahan atau zat kimia, seorang ahli farmasi dalam
mencampur atapun pembuatan sediaan-sediaan farmasi harus teliti dalam
menghitung tekaran zat-zat atau bahan yang dibutuhkan.
B. Maksud dan Tujuan Percobaan
1. Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami pengukuran dan ketidakpastian dengan
menggunakan beberapa alat ukur.
2. Tujuan Percobaan
a. Menentukan massa kelereng, kubus, balok, silinder berongga dengan
menggunakan neraca ohaus
b. Menentukan volume dari kelereng, kubus, balok, silinder berongga
c. Menentukan massa jenis dari kelereng, kubus, balok, silinder berongga
C. Prinsip Percobaan
Penentuan ketidakpastian suatu pengukuran terhadap beberapa sempel
yaitu kubus dengan menggunakan jangka sorong, kelereng menggunakan
micrometer sekrup, balok menggunakan jangka sorong, dan silinder berongga
menggunakan jangka sorong. Setelah itu dilanjutkan dengan penentuan
volume,
analitik.

massa jenis sampel, massa sampel dengan menggunakan nerac

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum
Pengukuran dalam ilmu fisika merupakan aspek penting mengingat
suatu hukum dapat diberlakukan kalau telah terbukti secara eksperimental,
dan eksperimental tidak dapat dipisahkan dari pengukuran. Ketepatan
pengukuran juga merupakan bagian penting dari fisika. Tidak pengukuran
yang presisi secara mutlak, tedapat ketidakpastian sehubungan dengann setiap
pengukuran (Universitas Hasanuddin, 2011).
Pengukuran dalam arti luas adalah membandingkan suatu besaran
dengan besaran standar. Besaran standar tersebut harus memenuhi syaratsyarat sebagai berikut (Doerwanto: 2008):
1. Dapat didefinisikan secara fisik
2. Jelas dan tidak berubah dengan waktu
3. Dapat digunakan sebagai pembanding, di mana saja di dunia ini
Besaran fisika yang umum dan sering dipakai adalah panjang, massa,
waktu, gaya, kecepatan, kerapatan (dansitas), resishvitas, temperatur, itensitas
cahaya (Gabriel,1996).
Pada tahun 1971, secara internasional konfrensi umum mengenai
Barat dan ukuran dan menetapkan 7 besaran sebagai dasar. Besaran tersebut
merupakan asar bagi satuan Sistem Internasional, di singkat SI ( Mediarman,
2005).

Dimensi dari satuan besaran fisis adalah cara menyatakan suatu


besaran dasar (besaran pokok). Besaran dasar adalah besaran yang
dimensinya ditentukan secara definisi seperti table berikut (Universitas
Hasanuddin,2010):
Tabel Besaran dasar da Satuan Fundamental SI
No

Besaran Dasar

Satuan

Lambang

Simbol
Dimensi

1 Panjang

meter

[L]

2 Massa

kilogram

kg

[M]

3 Waktu

sekon

[T]

4 Arus Listrik

ampere

[I]

5 Suhu

Kelvin

[]

6 Jumlah Zat

Mole

mol

[N]

7 Intensitas Cahaya

kandela

cd

[J]

8 Sudut Dasar

radian

rad

9 Sudut Ruang

Steradian

sr

Besaran Tambahan

Macam-macam masalah pengukuran dapat dipecahkan dengan


menggunakan

pengukuran

linear.

Untuk

melaksanakan

jenis-jenis

pengukuran ini maka dapat dibuat bermacam-macam alat ukur masingmasing dengan cara pemakaian tertentu (Poerwanto; dkk, 2008).
Berdasarkan sifat dari alat ukur maka dikenal 5 macam alat ukur yaitu
(Poerwanto; dkk, 2008):
1. Alat ukur langsung, yang mempunyai skala yang telah dikalibrasi. Hasil
pengukuran dapat langsung dibaca pada skala tersebut.

2. Alat ukur pembanding, yaitu mempunyai skala ukur yang telah


dikalibrasi. Karena daerah skala ukurnya terbatas, alat ini hanya
digunakan sebagai pembacaan besarnya selisih suatu dimensi terhadap
ukuran standar.
3. Alat ukur standar, yang mampu memberikan atau menunjukkan suatu
harga ukuran tertentu.
4. Alat ukur pembatas (kaliber), yang mampu menunjukkan apakan suatu
dimensi terletak di dalam atau di luar daerah toleransi ukuran.
5. Alat ukur bantu, bukan merupakan alat ukur dalam arti yang tetapi
peranannya adalah penting sekali dalam melaksanakan suatu pengukuran.
Beberapa cara melakukan pengukuran adalah sebagai berikut
(Poerwanto; dkk, 2008):
1.

Pengukuran lansung

2.

Pengukuran tak langsung

3.

Pengukuran dengan .keliber batas dan


Pengukuran dengan cara membandingkan dengan bentuk standar.

Pada abad ini seiring dengan pertumbuhan ilmu kedokteran, bilangan


ketelitian dari pengukuran kuantitas dalam praktis klinik sangat ditingkatkan.
Hal ini karena hasil pengukuran itu dapat memberikan informasi yang sangat
berharga tentang gambaran keadaan tubuh dri hasil pengukuran itu dipakai
sebagai bahan perbandingan. Dalam pengukuran gisik dibagi dalam 2 (dua)
grup yaitu (Gabriel,1996):
1. Proses pengukuran pengulangan

Pada proses ini biasanya melibatkan sejumlah pengulangan perdetik,


permenit, perjam dan sebagainya.
2.

Proses pengukuran yang tidak ulang


Proses pengukuran hanya dilakukan sekali terhadap individu.
Berikut ini adalah beberapa jenis ketidakpastian beserta sumbernya

yang bisa kita jumpai (Djonoputro,1984):


1.

Ketidakpastian Bersisitem
a. Kesalahan Kalibrasi
Cara memberi nilai skala pada waktu pembuatan alat tidak tepat
sehingga berakibat setiap kali digunakan, suatu ketidakpastian melekat
pada hasil pengukuran. Kesalahan ini dapat diketahui dengan cara
membandingkan alat tersebutdengan alat baku. Alat baku, meskipun
buatan manusia juga, dinggap sempurna; padanya hamper tidak
terdapat kesalahan apapun.
b.

Kesalahan Titik Nol


Titik nol skala alat tidak berimpit dengan titik nol jarum petunjuk.
Atau jarum tidak kembali tepat tepat pada angka nol.

c.

Kesalahan Komponen Alat


Misalnya dengan pegas: pegas yang telah di pakai beberapa lama
dapat agak melembek hingga dapat mempengaruhi gerak jarum
petunjuk.

d.

Gesekan

Gesekan selalu antara bagian yang satu dengan yang bergerak


terhadap bagian alat yang lain.
e.

Paralak
Kesalahan yang timbul apabila pada waktu membca skala, pengamat
pengamat tidak tegak lurus di atas jarum petunjuk.

f.

Keadaan Saat Bekerja


Pemakaian alat dalam keadaan yang berbeda pada waktu alat di
kalibrasi (jadi, pada suhu, tekanan, dan kelembabanudara yang
berbeda) akan menyebabkan terjadinya kesalahan.

2.

Ketidakpastian Rambang
a. Gerak Brown Molekul Udara
Gerak ini pada saat-saat yang tidak dapat ditentukan mengalami
fluktuasi dalam arti jumlah molekul yang berkerak ke suatu arah
senantiasa secara tiba-tiba dapat menjadi besar atau kecil. Ini
menyebabkan penunjukan jarum alat yang sangat halus (seperti mikrogalvano-meter) terganggu karena tumbukan udara.
b. Fluktuasi Pada Tegangan Jarum Listrik
Tegangan PLN atau yang kita peroleh dari aki atau baterai selalu
berfluktuasi, yaitu mengalami perubahan kecil yang tidak teratur
(rambang) dan berlalu sangat cepat. Ini jelas mengganggu pengukuran
besaran listrik.
c.

Landasan Yang Bergetar

Alat yang sangat peka (seperti halnya seismograf) dapat terganggu


oleh landasan yang bergetar. Seperti kerak bumi selalu berada dalam
keadaan bergetar karena hampasan ombak samudra yang terus
menerus dan kesibukan lau lintas.
d.

Bising
Gangguan yang selalu kita dapatkan pada saat elektronik berupa
frekuensi yang cepat pada tegangan dalam alat karena komponen alat
bersuhu.

e.

Radiasi latar-belakang
Radiasi kosmos dari angkasa luar dapat merupakan gangguan pada
pengukuran dengan alat pencacah karena akan terhitung sewaktu kita
mengukur dengan pencacah elektronik.

3.

Kesalahan Pengamat
Sekarang adalah zaman teknologi. Banyak peralatan modern yang
rumit operasinya sudah masuk laboraturium. Pemakaiannya secara tepat
memerlukan ketangkasan dan keterampilan tinggi. Banyak harus diatur
sebelum alat siap dipakai dan makin banyak yang harus makin besar
kemungkinan orang membuat kesalahan.
Jadi dalam proses pengukuran perlu diperhatikan ketelitian dan

kebenaran. Ketelitian dan kebenaran mempunyai arti yang sangat berbeda


dengan pengukuran. Ketelitian menunjukkan pengkuran yang bagaimana
memberikan pendekatan untuk memperoleh suatu standar. Untuk memperoleh

ketelitian diperlukan suatu pengukuran berkali-kali, kemudian dicari rata-rata


(Djonoputro,1984).
B. Prosedur Kerja
1. Siapkan semua alat ukur dan bahan.
2. Ukur massa benda (kubus, balok, silinder pejal, kelereng dan silinder
berongga) dengan menggunakan neraca ohaus.
3. Ukur diameter kelereng, menggunakan jangka sorong.
4. Ukur sisi-sisi kubus menggunakan jangka sorong.
5. Ukur panjang, lebar dan tinggi balok menggunakan jangka sorong.
6. Ukur diameter dan tinggi silinder pejal menggunakan jangka sorong.
7. Ukur diameter dalam, diameter luar dan tinggi silinder.
8. Ulangi pengukuran sebanyak 3 kali yang berbeda-beda.
9. Hitung volume dan massa jenis dari masing-masing benda.
(Tim Penyusun, 2011)

BAB III
METODE KERJA

A. Alat dan Bahan


1. Alat
Alat yang digunakan adalah jangka sorong (Tricle Brand), mikrometer
sekrup (Tricle Brand) dan neraca ohaus (Quadruple Beam Balance MB311).
2. Bahan
Bahan yang digunakan adalah balok, kelereng, kubus, dan silinder
berongga.

B. Cara Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Ditimbang masing-masing sampel dengan menggunakan neraca ohaus.
3. Diukur sisi kubus yang berbeda sebanyak tiga kali.
4. Diukur panjang, lebar dan tinggi balok dengan menggunakan jangka
sorong dan pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali pada posisi yang
berbeda.
5. Diukur diameter kelereng dengan mnggunakan mikrometer sekrup.
6. Diukur diameter dan tinggi silinder pejal dengan menggunakan jangka
sorong sebanyak tiga kali dengan posisi yang berbeda.

7. Diukur diameter dalam dan diameter luar dan tinggi silinder berongga
dengan menggunakan jangka sorong sebanyak tiga kali.
8. Dihitung volume dan massa jenis dari masing-masing sampel.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN

A. Tabel
1.

Kelereng

Massa
2.

No

d2

d3

1,647

2,712

4,467

1,642

2,696

4,427

1,641

2,692

4,419

1,643

2,700

4,437

: 5,41 gram

Kubus
No.

S1

S2

S3

S12

S22

S32

5,64

5,53

5,67

31,80

30,58

32,14

5,23

5,27

5,57

27,35

27,77

31,02

5,56

5,23

5,53

30,91

27,35

30,53

5,47

5,34

5,59

30,02

28,56

31,32

Massa

: 67,28 gram

3.

Balok
No.

p2

l2

t2

10,03

4,06

4,05

100,60

16,48

16,48

10,04

4,02

4,03

100,80

16,16

16,24

10,02

4,06

4,08

100,40

16,48

16,64

10,03

4,04

4,05

100,60

16,37

16,45

Massa
4.

: 119,07 gram

Silinder Berongga
No.

dl

dd

dl2

dl2

t2

2,67

2,45

9,01

7,12

6,00

81,81

2,67

2,34

9,42

7,12

5,47

88,73

2,55

2,34

9,82

6,50

5,47

96,43

2,63

2,37

9,41

6,91

5,64

88,78

Massa

: 14,14 gram

B. Perhitungan
1. Kubus
a. Volume
V1

= S13
= (5,56)3
= 171,87 cm3

V2

= S23
= (5,34)3
= 152, 27 cm3

V3

= S33
= (5,59)3
= 174,67

=
=
=
= 166,27 cm3

b. Massa Jenis
=
= 0,40 gr /cm3
2. Kelereng
a. Volume
V1

= .

. d3

= . 3,14 . ( 4,467 cm3)


= 2,337 cm3
V2

= .

. d3

= . 3,14 . ( 4,427cm3)
= 2,316 cm3
V3

= .

. d3

= . 3,14 . ( 4,419 cm3)


= 2,312 cm3

=
=
= 2,321 cm3

b. Massa Jenis
=
= 2,330

3. Balok
a. Volume
V1

=pl t
= 10,03 4,06 4,05
= 164, 92 cm3

V2

=pl t
= 10,04 4, 06 4,03
= 162, 65 cm3

V3

= 10,02 4, 06 4,08
= 162, 97 cm3

=
=
=
= 164, 51 cm3

b. Massa Jenis
=
= 0,723 gr / cm3
4. Silinder Berongga
a. Volume
V1

= (dl2 dd2) t
= (3,14) (7,12 6,00) 9,01
= (31,68)
= 7,92 cm3

V2

= (3,14) (7,12 5,47 ) 9,42


=

(48,8)

= 12,2 cm3
V3

= (3,14) (6,50 5,47 ) 9,82

= (31,75)
= 7,93 cm3
V

=
=
= 9,35 cm3

b. Massa Jenis
=
= 1,512

BAB V
PEMBAHASAN

Pengukuran adalah pengamatan atas suatu besaran fisika, biasa juga


disebut dengan pengamatan kuantitas.

Pengukuran secara luas yaitu

membandingkan suatu besaran dengan dengan besaran standar. Besaran standar


tersebut harus memenuhi syarat-syarat yakni dapat didefinisikan secara fisik, jelas
dan tidak berubah dengan waktu dan dapat digunakan sebagai pembanding
dimana saja di dunia ini. Mengukur merupakan usaha untuk memperoleh nilai
dengan bantuan alat ukur. Dalam pengukuran terdapat ketidakpastian yaitu
kesalahan yang mungkin terjadi dalam pengukuran yang di evaluasi setelah ada
hasil pengukuran yang di ukur, dimana kesalahan itu terjadi karena kesalahan
kalibrasi, kesalahan titik nol, kesalahan komponen alat dan gesekan. Di samping
itu, terdapat juga kesalahan pengamatan oleh orang yang mengukur.
Dalam pengukuran diperlukan alat ukur. Macam-macam alat ukur
yaitu alat ukur panjang biasanya mistar, jangka sorong, dan mikrometer sekrup.
Alat ukur massa yaitu neraca analitik dan neraca ohaus. Alat ukur waktu biasanya
disebut jam atau stopwatch. Pada percobaan. Pada percobaan kali ini sampel yang
digunakan yakni balok, kubus, kelereng, dan silinder berongga.
Jangka sorong suatu alat ukur panjang yang mempunayai tiga fungsi
penkuran. Pertama yaitu panjan bagian luar benda, kedua panjang bagian dalam
benda, dan ketiga pengukuran kedalaman lubang dalam benda. Jangka sorong
mempunayai skala nonius sebesar 0,1 mm atau 0,01 cm. Mikrometer sekrup

digunakan untuk mengukur panjang benda yang memiliki ukuran maksimum 2,5
cm yang mempunyai skala nonius 0,01 mm.
Dalam percobaan ini sampel yang digunakan yaitu balok, kubus,
kelereng, dan silinder berongga. Sampel pertama yaitu balok, balok di ukur
dengan menggunakan jangka sorong. Bagian-bagian yang di ukur yaitu panjang,
lebar dan tinggi balok, masing-masing di ukur sebanyak tiga kali. Sampel edua
yaitu kubus, tiga sisinya yang di ukur menggunakan jangka sorong, pengukuran
dilakukan sebanyak tiga kali. Sampel keiga yaitu kelereng, diameternya di ukur
sebnayak tiga kali pada posisi yang berbeda, pengukurannya dilakukan dengan
menggunakan micrometer sekrup. Sampel terakhir yaitu siinder berongga, diukur
dengan menggunakan jangka sorong. Pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali,
bagian yang di ukur yaitu diameter rongga bagian dalam dan diameter rongga
bagian luar,dan yang terkhir di hitung tinggi silinder berongga.
Cara kerja dalam percobaan kali ini, pertama-tama disiapkan alat dan
bahan (sampel) yang akan digunakan. di timbang masing-masing sampel dengan
menggunakan neraca ohaus. Di ukur sisi kubus yang berbeda sebanyak tiga kali
dengan menggunakan jangka sorong, di ukur sisi kubus yang berbeda
dimaksudkan untuk membuktikan mengetahui apakah semua sisi sama atau tidak.
Di ukur panjang, lebar dan tinggi balok dengan menggunka jangka sorong yang
dilakukan sebanyak tiga kali dengan posisi yang berbeda. Di ukur diameter dalam,
diameter luar dan tinggi (kedalaman) silinder berongga dengan menggunakan
jangka sorong di ukur sebanyak tiga kali pada posisi yang berbeda. Kemudian di
ukur diameter kelereng dengan menggunakan mikrometr sekrup ssebanyak tiga

kali. Dilakukan pengukuran sebanyak tiga dimaksudkan untuk memperoleh data


yang lebih akurat. Setelah itu, di hitung massa jenis dan volume dari masingmasing sampel. Lalu dicatat datanya.
Dari hasil pengamatan di peroleh data, yaitu untuk kelereng diperoleh
massa 5,41 gram, massa jenis 2,330 gr / cm3 dan volume 2,321 cm3. Untuk balok
diperoleh massa 119,07 gram, massa jenis 0,723 gr /cm3, dan volume 164,51 cm3.
Untuk kubus diperoleh massa 67,28 gram, massa jenis 0,40 gr / cm3, dan volume
166,27 cm3. Sedangkan untuk silinder berongga diperoleh massa 14,14 gram,
massa jenis 1,512 gr / cm3, dan volume 9,35 cm3.
Hubungan antar pengukuran dengan farmasi, yaitu dalam hal
pengukuran bahan sediaan yang harus teliti dalam menghitung takaran bahan yang
dibutuhkan seperti neraca ohaus dapat menimbang bahan atau obat. Selain itu,
pembuatan obat dalam jumlah besar memerlukan pengukuran yang teliti karena
walaupun dalam jumlah besa dosis obat harus tetap diperhatikan.
Namun, dalam percobaan ini terdapat perbedaan dalam pengukuran
disebabkan oleh beberapa factor kesalahan, seperti bahan yang digunakan tidak
simetris contohnya kubus, dari setiap sisi yang di ukur hasilnya berbeda-beda,
kesalahan ini karena komponen alat. Kemudian pengetahuan beberapa praktikan
dalam penggunaan alat belum terlalu dikuasai sehingga praktikan tidak terlalu
tertib dalam melakukan pengukuran, kesalahan ini disebabkan oleh pengamat.

BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan di peroleh data sebagai berikut :
1. Kelereng
a) Massa

: 5,41 gram

b) Massa jenis

: 2,330 gr / cm3

c) Volume

: 2,321 cm3

2. Balok
a) Massa

: 119,07 gram

b) Massa jenis

: 0,723 gr / cm3

c) Volume

: 164,51 cm3

3. Kubus
a) Massa

: 67,28 gram

b) Massa jenis

: 0,40 gr / cm3

c) Volume

: 166,27 cm3

4. Silinder berongga
a) Massa

: 14,14 gram

b) Massa jenis

: 1,512 gr / cm3

c) Volume

: 9,35 cm3

B. Saran
1. Laboratorium
Mohon lengkapi alat yang akan digunakan sehingga praktikan tidak
menunggu terlalu lama mendapat giliran mengukur.
2. Asisten
Mohon bimbingannya pada saat praktikan melakukan peercobaan dan
penjelasan penggunaan alat sebelum melakukan percobaan.

DAFTAR PUSTAKA
Djonoputro, Darmawan. Teori Ketidakpastian Menggunakan Satuan SI, Bandung:
ITB. 1984, 3-5.
Gabriel. Fisika Kedoteran, Jakarta : Kedokteran EGC. 1996, 2.
Mediarman, Bernad. Fisika Dasar, Yogyakarta : Grahas Ilmu. 2005, 11.
Poerwanto. Industri Alat Ukur, Medan : Grahas Ilmu. 2007, 25-27.
Tim Asisten Fisika Dasar. Penuntun Praktikum Fisika Dasar, Samata : Farmasi
FIKES UIN Alauddin Makassar. 2011, 8.
Tim Penyusun Fiska Dasar. Fisika Dasar, Makassar : Universitas Hasauddin.
2010, 1-4.

LAMPIRAN

Alat dan Bahan


1. Alat
a. Jangka Sorong

b. Mikrometer Sekrup

c. Neraca Ohaus

2. Bahan
a. Balok

b. Kelereng

c. Kubus

d. Silinder Berongga