Anda di halaman 1dari 52

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DIAGNOSA MEDIS

KATARAK DI RUANG MELATI (MATA) RSUD DR. SOETOMO


SURABAYA

Disusun oleh:
Kelompok 6
Apriliya Dani Eka Susanti S.Kep

131613143012

Alfita Nadziir S.Kep

131613143016

Rio Cristianto S.Kep

131613143050

Sevina Ramahwati S.Kep

131613143062

Elfrida Kusuma Putri S.Kep

131613143079

Corry Kristianti S.Kep

131613143109

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS (P3N)


FAKULTAS KEPERAWATANUNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016

LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Asuhan keperawatan pada pasien dengan katarak di Ruang bedah
Melati (Mata), yang telah dilaksanakan mulai tanggal 5 September sampai 16
September 2016 dalam rangka pelaksanaan profesi Keperawatan Dasar
Telah disetujui untuk melaksanakan seminar Profesi Keperawatan dasar.

Disahkan tanggal, 26 September 2016

Menyetujui,
Pembimbing Akademik

Pembimbing Klinik

Erna Dwi Wahyuni, S.Kep.,Ns., M.Kep


NIP. 198402012014042001

Endang Yulianingsih S.Kep., Ns


NIP. 197007121994032007

Mengetahui,
Kepala Ruangan Bedah Melati (Mata)

Supinah Poniman, S.ST


NIP. 195704021980022001

ii

DAFTAR ISI
Halaman
Cover
i
Lembar Pengesahan .................................................................................................... ii
Daftar isi
iii
BAB 1 PENDAHULUAN......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Tujuan Umum ....................................................................................... 3
1.3 Tujuan Khusus ...................................................................................... 3
BAB 2 RESUME KASUS ........................................................................................ 4
2.1 Definisi Katarak .................................................................................... 4
2.2 Klasifikasi Katarak ............................................................................... 4
2.3 Etiologi Katarak ................................................................................... 7
2.4 Patofisiologi Katarak ............................................................................ 7
2.5 WOC (Web Of Caution) Katarak ......................................................... 8
2.6 Manifestasi Klinis Katarak ................................................................... 8
2.7 Pemeriksaan Diagnostik Katarak ......................................................... 9
2.8 Tatalaksana Katarak ........................................................................... 11
2.9 Pencegahan katarak ............................................................................ 12
2.10 Prognosis Katarak................................................................................ 13
2.11 Asuhan Keperawatan Teori ............................................................... 13
2.12 Asuhan Keperawatan Kasus ............................................................... 23
BAB 3 PEMBAHASAN ......................................................................................... 44
BAB 4 PENUTUP .................................................................................................. 47
Daftar Pustaka .......................................................................................................... 48
Lampiran ................................................................................................................. 49

iii

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mata adalah indera pengelihatan (visual) yang merupakan penerima
stimulus yang berperan dalam pembentukan persepsi. Sehingga, jika ada
gangguan pada mata akan menganggu penerimaan stimulus yang kita butuhkan.
Katarak merupakan salah satu gangguan pada mata yang akan kami bahas pada
makalah ini.
Berdasarkan studi, prevalensi katarak pada usia 65 tahun adalah 50% dan
prevalensi ini meningkat hingga 70% pada usia lebih dari 75 tahun. Katarak
merupakan masalah penglihatan yang serius karena dapat mengakibatkan
kebutaan. Menurut WHO pada tahun 2002 katarak merupakan penyebab
kebutaan paling utama di dunia sebesar 48% dari seluruh kebutaan di dunia.
Indonesia sebagai negara berkembang, tidak luput dari masalah kebutaan,
disebutkan, saat ini terdapat 45 juta penderita kebutaan di dunia 60%
diantaranya berada di negara miskin atau berkembang. Indonesia, dalam catatan
WHO berada di urutan krtiga dengan terdapat angka kebutaan sebesar 1,47%.
Untuk Indonesia, survei pada 1995/1996 menunjukkan prevalensi kebutaan
mencapai 1,5% dengan 0,78% diantaranya disebabkan oleh katarak (Felizio,
2013).
Kata katarak berasal dari kata latin yaitu cataracta yang berarti air terjun,
atau yang dalam bahasa yunani kataraktes yang berarti terjun seperti air. katarak
adalah suatu keadaan patologik lensa di mana lensa rnenjadi keruh akibat
hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa. Kekeruhan ini terjadi akibat
gangguan metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada berbagai usia
tertentu (Ilyas, 2009). Ada katarak kongenital, juvenil, presenil dan senil.
Katarak dapat menimbulkan gangguan penglihatan seperti penglihatan yang
kabur, pengelihatan bagian sentral akan hilang dan menjadi buta setelah 10-20
tahun setelah terjadi kekeruhan pada lensa mata.
Penyebab utama kebutaan adalah katarak (0,78%). Menurut DepKes hasil
survei Nasional Kesehatan Indera di 8 provinsi tahun 1993 1996).

Sehubungan dengan peran perawat sebagai care giver, counsellor, educator dan,
change agent. Seorang perawat harus memiliki pengetahuan dan keahlian dalam
merawat pasien dengan penyakit katarak dan sehingga dapat melakukan asuhan
keperawatan yang efektif dan efisien yang akan berpengaruh pada status
penderita katarak menjadi lebih baik. Kebutuhan dasar manusia menjadi hal
yang sangat penting untuk dipenuhi oleh pasien. Kebutuhan dasar manusia
merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh manusia dalam mempertahankan
keseimbangan fisiologis maupuan psikologis, yang tentunya bertujuan untuk
mempertahankan kehidupan dan kesehatan. Kebutuhan dasar manusia menurut
Abraham Maslow dalam teori Hirarki. Kebutuhan menyatakan bahwa setiap
manusia memiliki lima kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisiologis, keamanan,
cinta, harga diri, dan aktualisasi diri. Dalam mengaplikasikan kebutuhan dasar
manusia (KDM) yang dapat digunakan untuk memahami hubungan antara
kebutuhan dasar manusia pada saat memberikan perawatan. Dan beberapa
kebutuhan manusia tertentu lebih mendasar daripada kebutuhan lainnya. Oleh
karana itu beberapa kebutuhan harus dipenuhi sebelum kebutuhan lainnya.
Kebutuhan dasar manusia seperti makan ,air, keamanan dan cinta merupakan
hal yang penting bagi manusia. Dalam mengaplikasikan kebutuhan dasar
manusia tersebut dapat digunakan untuk memahami hubungan antara kebutuhan
dasar manusia dalam mengaplikasikan ilmu keperawatan di dunia kesehatan.
walaupun setiap orang mempunyai sifat tambahan, kebutuhan yang unik, setiap
orang mempunyai kebutuhan dasar manusia yang sama. &esarnya kebutuhan
dasar yang terpenuhi menentukan tingkat kesehatan dan posisi pada rentang
sehat-sakit. Hirarki kebutuhan dasar manusia menurut maslow adalah sebuah
teori yang dapat digunakan perawat untuk memahami hunbungan antara
kebutuhan dasar manusia pada saat memberikan perawatan. Menurut teori ini,
beberapa kebutuhan manusia tertentu lebih dari pada kebutuhan lainnya, oleh
karena itu, beberapa kebutuhan harus dipenuhi sebelum kebutuhan yang lain.
Misalnya, orang yang lapar akan lebih mencari makanan daripada melakukan
aktivitas untuk meningkatkan harga diri. Oleh karena itu, upaya yang harus
dilakukan oleh perawat adalah memberikan asuhan kperawatan pada pasien
gangguan penglihatan secara komprehensif tidak hanya fokus pada masalah

peglihatannya saja tetapi juga memberikan asuhan keperawatan yang mengacu


pada kebutuhan dasar manusia.

1.2 Tujuan Umum


Mahasiswa Keperawatan UNAIR mengetahui dan memahami tentang
penyakit katarak dimulai dari konsep serta asuhan keperawatan dasar melalui
pendekatan teori pemenuhan kebutuhan dasar Henderson secara komprehensif
di Ruang Melati (Mata) RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

1.3 Tujuan Khusus


1. Menjelaskan definisi katarak
2. Menjelaskan klasifikasi katarak
3. Menjelaskan etiologi katarak
4. Menjelaskan patofisiologi katarak
5. Menjelaskan WOC (Web Of Caution) katarak.
6. Menjelaskan manifestasi klinis katarak
7. Menjelaskan pemeriksaan diagnostik katarak
8. Menjelaskan tatalaksana katarak.
9. Menjelaskan pencegahan katarak
10. Menjelaskan prognosis katarak
11. Menjelaskan asuhan keperawatan katarak

BAB 2
RESUME KASUS

2.1 Definisi Katarak


Katarak adalah kekeruhan pada lensa mata yang menyebabkan gangguan
penglihatan (Mo`otapu, 2015). Katarak merupakan keadaan patologik lensa
dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein
lensa, sehingga pandangan seperti tertutup air terjun atau kabut merupakan
penurunan progresif kejernihan lensa, sehingga ketajaman penglihatan
berkurang (Corwin, 2008). Definisi lain katarak adalah suatu keadaan
patologik lensa di mana lensa rnenjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa, atau
denaturasi protein lensa. Kekeruhan ini terjadi akibat gangguan metabolisme
normal lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu (Iwan, 2009).

Gambar 1. Mata Normal dan Mata Katarak

2.2 Klasifikasi Katarak


Klasifikasi katarak, yakni sebagai berikut (Ilyas, 2009):
1.

Katarak kongenital
Katarak congenital adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera
setelah lahir dan bayi berusia 1 tahun. Katarak ini dapat terjadi karena
kesalahan metabolism bawaan, infeksi rubella ibu pada trisemester
pertama, anomali kongenital, dan penyebab genetik yang biasanya
dominan autosomal.

2.

Katarak juvenil
Katarak yang terjadi pada anak muda, usia 1-40 tahun. Katarak juvenil
biasanya merupakan kelanjutan katarak kongenital. Prevalensi pada negara
berkembang sekitar 2-4 tiap 10.000 kelahiran hidup. Katarak juvenil
biasanya merupakan penyulit penyakit sistemik atau metabolik dan
penyakit lainnya seperti (Mutiarasari, 2011):
1) Katarak metabolik
(1) Katarak diabetik dan galaktosemik (gula)
(2) Katarak hipokalsemik (tetanik)
(3) Katarak defisiensi gizi
(4) Katarak

aminoasiduria

(termasuk

sindrom

Lowe

dan

homosistinuria)
(5) Penyakit Wilson
(6) Katarak berhubungan dengan kelainan metabolic lain
2) Otot
Distrofi miotonik (umur 20 sampai 30 tahun)
3) Katarak traumatik
4) Katarak komplikata
1) Kelainan

kongenital

dan

herediter

(siklopia,

koloboma,

mikroftalmia, aniridia, pembuluh hialoid persisten, heterokromia


iridis).
2) Katarak degenerative (dengan miopia dan distrofi vitreoretinal),
seperti Wagner dan retinitis pigmentosa, dan neoplasma).
3) Katarak anoksik
4) Toksik (kortikosteroid sistemik atau topikal, ergot, naftalein,
dinitrofenol, triparanol, antikholinesretase, klorpromazin, miotik,
busulfan, dan besi)
5) Lain-lain kelainan congenital, syndrome tertentu,disertai kelainan
kulit (sindermatik), tulang (disostosis kraniofasial, osteogenesis
inperfekta, khondrodistrifia kalsifikans kongenita pungtata) dan
kromosom.

6) Katarak radiasi
Gejala katarak juvenil:
1) Berupa pandangan kabur
2) Silau
3) Penurunan tajam penglihatan
4) Bayangan ganda
5) Selain itu kadang dapat ditemukan gejala awal seperti diplopia
monokular
3.

Katarak presenil
Katarak yang terjadi pada usia 40-50 tahun.

4.

Katarak senil
Katarak yang terjadi setelah usia 50tahun akibat adanya perubahan kimia
protein lensa pada pasien lansia, terdapat 4 stadium dalam katarak senil
(Ilyas, 2004).
Tabel 1. Stadium pada katarak senil
Insipien Imatur

Matur

Hipermatur

Kekeruhan

Ringan Sebagian

Seluruh

Masif

Cairan Lensa

Normal Bertambah Normal

Berkurang

Iris

Normal Terdorong

Normal

Tremulans

Bilik mata depan Normal Dangkal

Normal

Dalam

Sudut bilik mata

Normal Sempit

Normal

Terbuka

Shadow test

(-)

(+)

(-)

+/-

Visus

(+)

<

<<

<<<

Penyulit

(-)

Glaukoma

(-)

Uveitis+glaucoma

Katarak berdasarkan lokasi terjadinya adalah:


1. Katarak inti (nuclear)

Katarak yang paling banyak terjadi, lokasinya terletak pada nucleus atau
bagian tengah dari lensa. Biasanya karena proses penuaan.
2. Katarak kortikal
Katarak yang biasanya terjadi pada korteks. Mulai dari kekeruhan putih
dari tepi lensa dan berjalan ke tengah sehingga mengganggu penglihatan.
Banyak terjadi pada penderita DM.
3. Katarak subkapsular
Mulai dengan kekeruhan kecil di bawah kapsul lensa. Tepat pada layar
jalan sinar masuk. DM, renitis pigmentosa, dan pemakaian kotikosteroid
dalam jangka waktu yang panjang dapat mencetuskan kelainan ini.
Biasanya dapat terlihat pada kedua mata.

2.3 Etiologi Katarak


Pada bayi, etiologi pembentukan katarak yang mungkin adalah:
1) Infeksi
2) Kelaianan perkembangan
3) Herediter
4) Cedera mata traumatik
5) Ketidakseimbangan kimiawi misalnya galaktosemia dan diabetes.
Pada orang dewasa, semua hal di atas dapat menimbulkan katarak,
ditambah dengan:
1) Terpajan sinar ultraviolet berkepanjangan
2) Beberapa obat (misal obat-obatan yang digunakan untuk glaukoma)
3) Bagian dari proses penuaan normal.

2.4 Patofisiologi Katarak


Pada penderita, lensa berisi 65% air, 35% protein dan mineral penting.
Katarak adalah kondisi penurunan ambilan oksigen, penurunan air,
peningkatan kandungan kalsium dan berubahnya protein yang dapat larut.
Pada proses penuaan, lensa secara bertahap akan kehilangan air dan
mengalami peningkatan dalam ukuran dan densitasnya. Peningkatan densitas
disebabkan oleh kompresi sentral serat lensa yang lebih tua. Disaat serat lensa

yang baru diproduksi pada korteks, serat lensa ditekan menuju sentral. Seratserat lensa yang padat, lama-lama menyebabkan hilangnya transparansi lensa
yang tidak terasa nyeri dan sering bilateral.
Selain itu, penyebab-penyebab katarak tersebut menyebabkan gangguan
metabolism pada lensa mata. Dimana gangguan metabolism ini menyebabkan
perubahan kandungan bahan-bahan yang ada di dalam lensa yang pada
akhirnya memyebabkan kekeruhan pada lensa. Kekeruhan tersebut dapat
berkembang di berbagai bagaian lensa maupun kapsulnya. Pada gangguan ini,
sinar yang masuk melalui kornea dihalangi oleh lensa yang mengalami
kekeruhan atau buram. Kondisi ini mengaburkan bayangan semu yang sampai
pada

retina.

Sehingga

berakibat

otak

menginterpretasikan

sebagai

pengelihatan bayangan yang berkabut. Pada kagtarak yang tidak dilakukan


tindakan, lensa mata akan menjadi berwarna seperti putih susu, lalu berubah
kuning, bahkan menjadi berwarna cokelat atau hitam dank penderita akan
mengalami kesulitan dalam membedakan warna.

2.5. WOC
Terlampir

2.6 Manifestasi Klinis Katarak


Gejala subjektif dari pasien dengan katarak antara lain:
1. Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau
serta gangguan fungsional yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan
tadi.
2. Menyilaukan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari
Gejala objektif biasanya meliputi:
1. Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan
tampak dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya
akan dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi
bayangan terfokus pada retina. Hasilnya adalah pandangan menjadi kabur
atau redup.

2. Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih. Pengelihatan
seakan-akan melihat asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih.
3. Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar
putih,sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif.
Gejala umum gangguan katarak meliputi:
1. Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
2. Gangguan penglihatan bisa berupa
a. Peka terhadap sinar atau cahaya.
b. Dapat melihat dobel pada satu mata (diplobia).
c. Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
d. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
3. Kesulitan melihat pada malam hari.
4. Melihat lingkaran di sekeliling cahaya atau cahaya terasa menyilaukan
mata.
5. Penurunan ketajaman penglihatan ( bahkan pada siang hari ).
Gejala lainya adalah :
1. Sering berganti kaca mata.
2. Penglihatan sering pada salah satu mata. Kadang katarak menyebabkan
pembengkakan lensa dan peningkatan tekanan di dalam mata ( glukoma )
yang bisa menimbulkan rasa nyeri.

2.7 Pemeriksaan Diagnostik


1. Pemeriksaan visus dengan kartu snellen atau chart projector dengan
koreksi terbaik serta menggunakan pinhole.

Gambar 2. Kartu Snellen dan Chart

2. Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen posterior

Gambar 3. Slit Lamp


3. Tekanan intraocular (TIO) diukur dengan tonometer non contact, aplanasi
atau Schiotz

Gambar 4. Tonometer Schizotz


Jika TIO dalam batas normal (< 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil
dengan tetes mata Tropicanamide 0.5%. setelah pupil cukup lebar
dilakukan pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat serajat kekeruhan
lensa apakah sesuai dengan visus pasien.
1) Derajat 1 : nukleus lunak, biasanya visus masih lebih baik dari 6/12,
tampak sedikit kekeruhan dengan warna agak keputihan. Refluks
fundus masih mudah diperoleh. Usia penderitanya biasanya kurang
dari 50 tahun.
2) Derajat 2 : Nukleus dengan kekerasan ringan, biasanya visus antara
6/12 6/30, tampak nucleus mulai sedikit berawarna kekuningan.

10

Refleks fundus masih mudah diperoleh dan paling sering memberikan


gambaran seperti katarak subkapsularis posterior.
3) Derajat 3 : nukleus dengan kekerasan medium, biasanya visus antara
6/30 3/60, tampak nukleus berwarna kuning disertai kekeruhan
korteks yang berwarna keabu-abuan
4) Derajat 4: nukleus keras, biasanya visus antara 3/60 1/60, tampak
nukleus berwarna kuning kecoklatan. Reflex fundus sulit dinilai
5) Derajat 5 ; nukleus sangat keras, biasanya visus hanya 1/60 atau lebih
jelek. Usia penderita sudah di atas 65 tahun. Tampak nucleus
berawarna kecoklatan bahkan sampai kehitaman, katarak ini sangat
keras dan disebut juga sebagaiBrunescence cataract atau black
cataract.
4. Pemeriksaan funduskopi jika masih memungkinkan
5. Pemeriksaan penunjang : USG untuk menyingkirkan adanya kelainan lain
pada mata selain katarak
6. Pemeriksaan menggunakan oftalmoskop, mengkaji struktur internal
okuler, mencatat atropi lepeng optik, papiledema, pendarahan retina,dan
mikroaneurisme. Dilatasi dan pemeriksaan belahan-lampu memastikan
diagnosa katarak.
7. Pemeriksaan dengan retinometri: mengetahui prognosis tajam penglihatan
setelah operasi.
8. Pemeriksaan biometri untuk mengukur kekuatan IOL pada saat akan
dioperasi katarak.

2.8 Tatalaksana Katarak


Tatalaksana pada klen dengan katarak adalah sebagai berikut (Ilyas,
2009):
1. Umum
Sebelum dilakukan pembedahan, kacamata dan lensa kontak dapat
membantu memperbaiki penglihatan. Kacamata hitam saat cahaya terang
dan lampu terang dapat memberi cahaya reflektif bukan cahaya langsung
yang mengurangi silau dan membantu penglihatan.

11

2.

Pengobatan

Pemberian obat anti-inflamasi nonsteroid, seperti ketorolak

dan

bromfenak.
3.

Pembedahan
1)

Pembedahan ekstraksi lensa dan implantasi lensa intraokuler

2)

Ekstrasi katarak ekstrakapsular (ECCE)


Standar ECCE atau planned ECCE dilakukan dengan mengeluarkan
lensa secara manual setelah membuka kapsul lensa. Tentu saja
dibutuhkan sayatan yang lebar sehingga penyembuhan lebih lama.

3)

Ekstrasi katarak intrakapsular (ICCE)


Ekstrasi katarak intrakapsular

yaitu dengan mengangkat semua

lensa termasuk kapsulnya.


4)

Fakoemulsifikasi
Fekoemulsifikasi (Phaco Emulsification). Bentuk ECCE yang terbaru
dimana menggunakan getaran ultrasonic untuk menghancurkan
nucleus sehingga material nucleus dan kortek dapat diaspirasi melalui
insisi 3 mm. Operasi katarak ini dijalankan dengan cukup dengan
bius lokal atau menggunakan tetes mata anti nyeri pada kornea (selaput
bening mata), dan bahkan tanpa menjalani rawat inap. Sayatan sangat
minimal, sekitar 2,7 mm. Lensa mata yang keruh dihancurkan
(Emulsifikasi) kemudian disedot (fakum) dan diganti dengan lensa
buatan yang telah diukur kekuatan lensanya dan ditanam secara
permanen. Teknik bedah katarak dengan sayatan kecil ini hanya
memerlukan waktu 10 menit disertai waktu pemulihan yang lebih
cepat.

2.9 Cara menghambat terjadinya katarak


1. Cara utama adalah mengontrol penyakit yang berhubungan dengan
katarak dan menghindari factor-faktor yang mempercepat terbentuknya
katarak.

12

2. Menggunakan kacamata hitam ketika berada di luar ruangan pada siang


hari biasanya bisa mengurangi jumlah sinar ultraviolet yang masuk ke
dalam mata.
3. Berhenti merokok.

2.10 Prognosis
Dengan tehnik bedah yang mutakhir, komplikasi atau penyulit menjadi
sangat jarang. Hasil pembedahan yang baik dapat mencapai 95%. Pada
bedah katarak resiko ini kecil dan jarang terjadi. Keberhasilan tanpa
komplikasi pada pembedahan dengan ECCE atau fakoemulsifikasi
menjanjikan prognosis dalam penglihatan dapat meningkat hingga 2 garis
pada pemeriksaan dengan menggunakan snellen chart.

2.11 Asuhan Keperawatan Teori


Pengkajian
1. Anamnesa
1) Identitas
Nama, usia, jenis kelamin, agama, suku, bangsa, pekerjaan, nomor
rekam medik, diagnosa masuk, tanggal MRS.
Katarak dapat terjadi pada semua usia, tetapi pada umumnya terjadi
pada usia lanjut, pekerja laboratorium, atau berhubungan dengan
bahan kimia atau terpapar radio aktif atau sinar X memiliki rsiko
lebih tinggi terhadap katarak.
2) Keluhan utama: penurunan ketajaman pengelihatan, mata seperti
berkabut
3) Riwayat penyakit sekarang
4) Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat penyakit sistemik yang dimiliki oleh klien; diabetes
mellitus
5) Riwayat kesehatan keluarga
Adanya riwayat DM atau katarak pada keluarga klien
6) Riwayat penggunaan obat-obatan
Beberapa jenis obat dapat menimbbulkan katarak; kortikosteroid
7) KDM
(1) Oksigenasi: tidak ada masalah
(2) Nutrisi dan cairan: intake nutrisi dan cairan, porsi yang
dihabiskan, kebutuhan mual dan muntah, perubahan pola makan
setelah sakit.
13

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

Eliminasi urin dan alvi


Aktivitas dan mobilisasi
Istirahat dan tidur: tidak ada masalah
Berpakaian: membutuhkan sedikit bantuan
Personal higiene: membutuhkan bantuan untuk membersihkan
diri seperti menyiapkan alat-alat dan ke kamar karena penurunan
ketajaman penglihatan.
(8) Caring, komunikasi, promkes: klien membutuhkan informasi
mengenai katarak yang dialaminya beserta penanganannya.
(9) Monitoring TTV
(10) Medikasi: Antibiotik dan analgesik (setelah pembedahan)
(11) Patient safety, aseptik, dan pengendalian infeksi: perlu mengatur
tata letak arang di tempat yang mudah dijangkau klien dan
mempertahanan lingkungan aman serts cuci tangan.
(12) Perawatan perioperatif dan perawatan luka
(13) Manajemen nyeri
(14) Kebutuhan rekreasi
8) Pemeriksaan fisik
(1) Inspeksi
Bagian-bagian mata yang perlu diamati adalah dengan melihat
lensa mata menggunakan penlight (penyinaran miring 45 dari
poros mata). Pemeriksaan ini dapat dinilai dari kekeruhan lensa
dengan mengamati lebar pinggir iris pada lensa yang keruh (iris
shadow) bila letak bayangan jauh dan besar berarti kataak imatur,
sebliknya bila bayangan dekat dan kecil berarti katarak matur.
(2) Pemeriksaan visus dengan kartu snellen
(3) Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior
(4) Pemeriksaan dengan USG untuk menegakkan adanya kelainan
lain pada mata
(5) Tes glukosa darah: kontrol DM

14

2) Analisa Data
Pre-operasi
No
Data
.
1.
DS:
-Klien
menengeluh
mata terasa seperti
berkabut
-Klien
mengeluh
pengelihatan menjadi
kurang tajam

2.

3.

DO:
-Lensa mata keruh
DS:
-Klien mengeluh takut
dengan operasi yang
akan dilakukan
DO:
-Klien tampak gelisah,
wajah tegang, panic,
dan tangan meremasremas
DS:
Klien sering bertanya
tentang penyakitnya
DO:
Wajah klien
bingung

terlihat

Post-operasi
No
Data
.
1.
DS:
-Klien
menengeluh
mata kanan sakit

2.

DO:
P: Nyeri
Q: tumpul
R: mata
S: 1-10
T: terus-menerus
DS:-

Etiologi
Katarak

Masalah
Keperawatan
Resiko
jatuh
(00155)

Sinar atau cahaya


terhalang masuk ke
kornea
Pengelihatan
menurun
Resiko jatuh
Katarak

Ansietas
(00126)

Sinar atau cahaya


terhalang masuk ke
kornea
Pembedahan
Ansietas
Katarak
Kurang informasi
tentang katarak

Kurang
pengetahuan
(00126)

Kurang pengetahuan

Etiologi
Katarak

Masalah
Keperawatan
Nyeri
akut
(00132)

Pembedahan
Diskontinuitas
jaringan
Nyeri akut

Katarak

15

Risiko infeksi
(00004)

DO:
-Konjungtiva hiperemi
-Palpebra edema
-Suhu > 37,5C

Pembedahan
Terbentuknya port de
entry bakteri
Risiko infeksi

3) Diagnosa keperawatan
Pre operasi
1) Resiko jatuh (00155) berhubungan dengan penurunan ketajaman
pengelihatan
2) Kecemasan (00146) berhubungan dengan pembedahan yang akan
dialami
3) Kurang pengetahuan (00126) berhubungan dengan kurangnya
informasi
Post operasi
1) Nyeri akut (00132) berhubungan dengan diskontinuitas jaringan
2) Resiko infeksi (00004) berhubungan dengan diskontinuitas jaringan

16

4) Intervensi Keperawatan
Pre-Operasi
DX KEP

RENCANA PERAWATAN
NOC

NIC

Resiko jatuh Tujuan:


(00155)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama Fall Prevention (6490):

berhubungan

1x24 jam klien dapat terhindar dari risiko jatuh.

dengan

1. Review riwayat jatuh klien


R/ sebagai acuan intervensi keperawatan selanjutnya

penurunan

Fall Prevention Behavior (1909)

2. Obsevasi karakteristik lingkungan

ketajaman

1. Meminta asistensi (5)

R/ Karakteristik lingkungan seperti lantai licin dan

penglihatan

2. Modifikasi lingkungan : lantai, pencahayaan

kurangnya penerangan meningkakan potensi resiko

dan tata letak barang (5)

jatuh pada klien

3. Menggunakan alas kaki yang pas (5)

3. Atur tata letak barang ditempat yang mudah

4. VOD 6/60 & VOS 5/5 (5)

dijangkau klien

5. TTV normal(5)

R/ meningkatkan kemanan klien


4. Instruksikan klien untuk meminta dampingan
keluarga/ perawat saat kekamar mandi dan lain-lain
R/ meningkatkan kemanan klien
5. Sediakan pencahayaan yang adekuat

17

R/ meningkatkan jarang penglihatan klien


6. Pastikan klien menggunakan alas kaki yang pas
R/ menurunkan resikon jatuh pada klien
7. Observasi TTV
R/ mengetahui perkembangan kesehatan
8. Kolaborasi tindakan pembedahan: OD disisi aspirasi
+ IOL
R/ mempertahankan atau meningkatkan ketajaman
penglihatan
Kecemasan

Tujuan:

(00146)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1. Gunakan pendekatan yang menenangkan

berhubungan

1x24 jam kecemasan orang tua klien terkontrol/

dengan

berkurang.

Anxiety Reduction (5820):

R/ BHSP dengan orang tua klien


2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap klien dan

pembedahan

orang tua

yang

R/ Klien dan orang tua mengerti harapan perawat

dialami

akan Anxiety Self Control (1402)


1. Orang tua

klien

mampu

mengungkapkan

perasaannya (5)

sehingga dapat kooperatif


3. Dorong orang tua klien mengungkapkan perasaannya

2. Orang tua klien mengerti tentang pembedahan


yang akan dilakukan pada anaknya (5)

R/ mengetahui dengan jelas apa yang dirasakan orang


tua klien

18

3. Menggunakan

teknik

relaksasi

untuk 4. Dengarkan dengan penuh perhatian

mengontrol kecemasan (5)

R/ orang tua klien merasa diperhatikan

4. Postur tubuh dan bahasa tubuh menunjukkan 5. Jelaskan


berkurangnya kecemasan (5)

mengenai

pembedahan

yang

akan

dilakukan: pengertian, tujuan, persiapan, komplikasi

5. TTV orang tua klien normal (5)

yang

mungkin

terjadi,

tanggal

dan

tempat

pembedahan
R/ orang tua paham dengan prosedur pembedahan
sehingga dapat mengurangi kecemasan
6. Instruksikan orang tua klien untuk menggunakan
teknik relaksasi seperti nafas dalam
R/ nafas dalam dapat mengurangi kecemasan
7. Observasi TTV orang tua klien
R/ mengetahui perkembangan kesehatan orang tua
klien
Kurang
pengetahuan
(00126)
berhubungan
dengan
kurangnya
informasi

Tujuan:

Teaching: Diseae Process (5602):

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1. Review pengetahuan klien tentang penyakitnya
1x24 jam klien mengetahui tentang penyakitnya.

R/ mengetahui seberapa jauh klien mengetahui


tentang penyakitnya

Knowledge: Acute Illness Management (1844):


1. Klien mengetahui tanda dan gejala penyakitnya
19

2. Jelaskan perubahan fisik yang dialami klien

2. Klien mengetahui penyebab penyakitnya


R/ klien mengetahui perubahan fisik akibat dari
3. Klien mengetahui pilihan terapi untuk
penyakitnya
menyakitnya
4. Klien mengetahui komplikasi dari penyakitnya 3. Jelaskan tanda dan gejala peyakit yang dialami klien
R/ klien mengetahui tanda dan gejala peyakit yang
dialami klien
4. Jelaskan penyebab yang melatarbelakangi timbulnya
penyakit
R/ klien mengetahui penyebab yang melatarbelakangi
timbulnya penyakit
5. Jelaskan terapi untuk mengatasi peyakitnya
R/ klien mengetahui terapi yang akan dilakukan
kepadanya
6. Jelaskan

komplikasi

yang

dapat

timbul

dari

penyakitnya
R/ klien mengetahui komplikasi yang dapat timbul
dari penyakitnya

20

Post-Operasi
DX KEP

RENCANA PERAWATAN
NOC

Nyeri

NIC

akut Tujuan:

Pain Management (1400):

(00132)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama

berhubungan

1x24 jam klien dapat mengontrol nyeri.

lokasi, skala, durasi dan faktor penyebab nyeri

dengan

R/ mengetahui perkembangan klien tentang nyerinya

diskontinuitas Pain Control (1605):


jaringan

1. Observasi nyeri secara menyeluruh meliputi kualitas,

2. Anjurkan klien untuk mengistirahatkan mata dengan

1. Mengenal kualitas, lokasi, skala dan durasi


nyeri (5)

R/ untuk mengurangi nyeri

2. Mengenal penyebab nyeri (5)

3. Mengajarkan teknik non farmaka seperti nafas dalam

3. Skala nyeri berkurang (5)


4. Tindakan

memejamkan mata/tidur

non

farmaka:

dan mendengarkan musik


nafas

dalam

mendengarkan musik (5)

R/ klien tidak fokus pada nyerinya dan dapat


mengurangi nyeri

5. Tindakan farmaka: analgesik (5)

4. Kolaborasi pemberian analgesik


R/ untuk mengurangi nyeri

Resiko

Tujuan:

infeksi

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1. Lakukan perawatan mata secara aseptik dan

(00004)

1x24 klien dapat terhindar dari risiko infeksi.

Infection Control (6540):

21

mengganti bebat mata

berhubungan
dengan

R/ mencegah infeksi
2. Observasi tanda dan gejala infeksi

Risk Control: Infection Procces (1924):

diskontinuitas 1. Perawatan mata secara aseptik (5)


jaringan

R/ monitoring kondisi klien untuk pencegahan infeksi

2. Mengtahui tanda dan gejala infeksi (5)

3. Cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh klien

3. Tindakan mengurangi infeksi: cuci tangan (5)


4. Moniror lingkungan (5)

R/ pencegahan transmisi bakteri ke klien


4. Ajarkan cara cuci tangan yang benar

5. TTV normal (5)

R/ perawatan kesehatan personal untuk mencegah


infeksi
5. Batasi pengunjung bila perlu
R/ pnecegahan tranmisi bakteri
6. Pertahankan lingkungan yang bersih di sekitar klien
R/ lingkungan bersij mencegah tumbuh kembang
bakteri
7. Observasi TTV
R/ mengetahui tanda dan gejala infeksi
8. Kolaborasi pemberian antibiotik
R/ untuk menekan atau menghentikan perkembangan
bakteri

22

2.12

Asuhan Keperawatan Kasus

PENGKAJIAN
1. Identitas
1) Identitas Klien

2) Identitas Penanggung Jawab

Nama

: An. E

Nama

: Tn. N

Umur

: 9 tahun

Umur

: 36 tahun

Agama

: Islam

Hub. dengan klien: Ayah

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan

: Wiraswasta

Status

: Belum Menikah

Alamat

: Banyuwangi

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

:-

Suku Bangsa

: Indonesia

Alamat

: Banyuwangi

Tanggal MRS

: 5-9-2016

Tgl Pengkajian

: 6-9-2016

No.Register

: 1249xxxx

Diagnosa Medis : ODS Katarak


Juvenil

2. Status Kesehatan
1) Status Kesehatan Saat ini
(1) Keluhan Utama:
Saat MRS : Tidak ada keluhan
Saat ini

: Tidak ada keluhan (TAO/ Tunggu Acara Operasi)

(2) Upaya yang dilakukan untuk mengatasi: 2) Riwayat Kesehatan Sekarang


Mata An. E terlihat muncul putih sejak awal April 2016, sehingga pihak
keluarga membawa ke RS Banyuwangi untuk dilakukan pemeriksaan mata
dan didiagnosia katarak. Lalu klien dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo pada
tanggal 5 September 2016 dan didiaagnosa ODS katarak juvenil.
3) Status Kesehatam Masa Lalu
(1) Penyakit yang pernah dialami

23

: tidak ada

(2) Kebiasaan : Klien tidak pernah minum alkohol


(3) Riwayat penyakit keluarga

: Tidak ada keluarga yang menderita

katarak
(4) Diagnosa medis dan terapi

:-

3. Pola Kebutuhan Dasar


1) Pola Bernafas
Sebelum sakit : Normal
Saat sakit

: Normal

2) Pola Makan dan Minum


Sebelum sakit : Porsi makan klien habis dan dalam sehari minum 700 mL
Saat sakit

: Porsi makan klien habis dan dalam sehari klien


minum600 mL

3) Pola Eliminasi
Sebelum sakit : BAB dan BAK normal
Saat sakit

: BAB dan BAK normal

4) Pola Aktivitas dan Latihan


Sebelum sakit : Klien setiap hari bermain
Saat sakit

: Klien sering jalan-jalan keluar ruangan

5) Pola Istirahat dan Tidur


Sebelum sakit : Klien tidur 8 jam sehari
Saat sakit

: Klien tidur 7 jam sehari

6) Pola Berpakaian
Sebelum sakit : Klien ganti pakaian 2x sehari dan rapi
Saat sakit

: Klien ganti pakaian 2x sehari dan rapi

7) Pola Rasa Nyaman


Sebelum sakit : Klien merasa nyaman berada dilingkungan tempat
tinggalnya
Saat sakit

: Tidak tampak dampak hospitalisai pada klien, ditunjukkan


dengan klien tampak senang dan mengajak bercanda saat
perawat datang

24

8) Pola Aman
Sebelum sakit : Klien merasa terlindungi karena tinggal bersama orang
tuanya
Saat sakit

: Klien merasa terlindungi karena ditunggu orangtua dan


saudara

9) Pola Kebersihan Diri


Sebelum sakit : Klien mandi 2x sehari, gosok gigi 3x sehari dan kuku
bersih
Saat sakit

: Klien mandi 2x sehari, gosok gigi 3x sehari dan kuku


bersih, klien tamapk bersih

10) Pola Komunikasi


Sebelum sakit : Klien berkomunikasi dengan baik dan santun dengan
semua orang
Saat sakit

: Sangat kooperatif

11) Pola beribadah


Sebelum sakit : Klien kadang-kadang beribadah
Saat sakit

: Klien tidak pernah beribadah

12) Pola Produktivitas: 13) Pola Rekreasi


Sebelum sakit : Klien jalan-jalan dengan orangtua saat libur sekolah
Saat sakit

: Klien senang jalan-jalan keluar ruangan bersama ayahnya

14) Pola Kebutuhan belajar


Sebelum sakit : Klien tidak pernah bolos sekolah dan rajin belajar
Saat sakit

: Klien izin tidak masuk sekolah selama MRS dan tidak


pernah belajar

4. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum
Tingkat kesadaran

: Komposmentis

GCS

: 456

2) TTV

: N=90x/menit, S=37,3C, RR=22x/menit

25

3) Keadaan fisik
(1) Kepala dan leher

: Normal

(2) Dada
a. Paru

: Normal

b. Jantung

: Normal

(3) Payudara dan ketiak


(4) Abdomen

: Normal

: Normal

(5) Genetalia : Normal


(6)

Integumen

: Normal

(7) Ekstremitas
a. Atas

: Normal

b. Bawah : Normal
(8) Neurologis
a. Status mental dan emosi

: Normal

b. Pengkajian saraf kranial

: Normal

c. Pemeriksaan refleks : Normal

5. Pemeriksaan Penunjang
1) Hasil laboratorium tanggal 6-9-2016:
(1) Na : 124 mMol/L (135-145 mMol/L)
(2) Cl : 99 mMol/L (101-111mMol/L)
(3) Ca : 9,8 mMol/L (3,6-2,62 mMol/L)
(4) Ig M & Ig G Rubella positif
(5) Ig G CMV positif
2) Pemeriksaan mata tanggal 6-9-2016
(1)

Palpebra

: Edema -/-

(2)

Konjungtiva

: hiperemi -/-

(3)

Kornea

: Jernih +/+

(4)

BMD

: Dalam +/+

(5)

Pupil

: Bulat +/+

(6)

Lensa

: Keruh +/+

26

WOC KATARAK An. E


Infeksi virus rubella dari ibu pada
masa kehamilan
Menular ke janin melalui plasenta

Gangguan metabolisme pada lensa mata

Perubahan kandungan
bahan-bahan lensa
Lensa Keruh

Pre-operasi:
Kecemasan orang tua
(00146)

Katarak Juvenil

Pembedaan

Sinar terhalang

Post-Operasi:
1. Nyeri
akut
(00132)
2. Resiko
infeksi
(00004)

masuk ke lensa

Mengabutkan bayangan
semu yang sampai pada
retina

Penglihatan

Pre-operasi:
Risiko jatuh
(00155)

Otak menginterpretasikan
sebagai pengelihatan
bayangan yang berkabut

27

ANALISA DATA
No
Data
.
1.
DS:
-tidak ada keluhan
DO:
-Lensa mata keruh
-VOD 1/300 VOS 5/5
-TTV:
N=90x/menit
S=37,3C
R=22x/menit
2.

DS:
-Orang
tua
klien
mengeluh takut dengan
operasi yang akan
dilakukan oleh anaknya
DO:
-Orang
tua
klien
tampak gelisah, wajah
tegang

Etiologi
Katarak

Masalah
Keperawatan
Resiko
jatuh
(00155)

Sinar atau cahaya


terhalang masuk ke
kornea
Pengelihatan
menurun
Resiko jatuh
Katarak
Sinar atau cahaya
terhalang masuk ke
kornea
Pembedahan anak
Ansietas orang tua

28

Ansietas orang
tua (00126)

DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN/ MASALAH KOLABORATIF BERDASARKAN PRIORITAS

NO.

TANGGAL/ JAM

DIAGNOSA KEPERAWATAN

DITEMUKAN
Pre-op:

6-9-2016/

Risiko jatuh (00155) berhubungan dengan penurunan ketajaman penglihatan

10.00 WIB

6-9-2016/

Kecemasan orang tua (00146) berhubungan dengan pembedahan yang akan dialami anak

10.30 WIB

29

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

HARI/

NO DX

RENCANA PERAWATAN

TGL
Selasa/
6-9-16

NOC
00035

NIC

Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama Fall Prevention (6490):
1x24 jam klien dapat terhindar dari risiko jatuh.

1. Review riwayat jatuh klien


R/ sebagai acuan intervensi keperawatan selanjutnya
2. Obsevasi karakteristik lingkungan

Fall Prevention Behavior (1909)

R/ Karakteristik lingkungan seperti lantai licin dan

1. Meminta asistensi (5)


2. Modifikasi lingkungan : lantai, pencahayaan

kurangnya penerangan meningkakan potensi resiko jatuh


pada klien

dan tata letak barang (5)

3. Atur tata letak barang ditempat yang mudah dijangkau

3. Menggunakan alas kaki yang pas (5)

klien

4. VOD 6/60 & VOS 5/5 (5)

R/ meningkatkan kemanan klien

5. TTV normal(5)

4. Instruksikan klien untuk meminta dampingan keluarga/


perawat saat kekamar mandi dan lain-lain
R/ meningkatkan kemanan klien
5. Sediakan pencahayaan yang adekuat
R/ meningkatkan jarang penglihatan klien

30

6. Pastikan klien menggunakan alas kaki yang pas


R/ menurunkan resikon jatuh pada klien
7. Observasi TTV
R/ mengetahui perkembangan kesehatan
8. Kolaborasi tindakan pembedahan: OD disisi aspirasi +
IOL
R/ mempertahankan atau meningkatkan ketajaman
penglihatan
Selasa/
6-9-16

00146

Tujuan:

Anxiety Reduction (5820):

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1. Gunakan pendekatan yang menenangkan


1x24 jam kecemasan orang tua klien terkontrol/

2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap klien dan orang


tua
R/ Klien dan orang tua mengerti harapan perawat

berkurang.

Anxiety Self Control (1402)

sehingga dapat kooperatif

1. Orang tua klien mampu mengungkapkan


perasaannya (5)

3. Dorong orang tua klien mengungkapkan perasaannya


R/ mengetahui dengan jelas apa yang dirasakan orang

2. Orang tua klien mengerti tentang pembedahan


yang akan dilakukan pada anaknya (5)
3. Menggunakan

R/ BHSP dengan orang tua klien

teknik

relaksasi

tua klien
4. Dengarkan dengan penuh perhatian

untuk

mengontrol kecemasan (5)

R/ orang tua klien merasa diperhatikan


5. Jelaskan mengenai pembedahan yang akan dilakukan:

31

4. Postur tubuh dan bahasa tubuh menunjukkan


berkurangnya kecemasan (5)

pengertian, tujuan, persiapan, komplikasi yang mungkin


terjadi, tanggal dan tempat pembedahan

5. TTV orang tua klien normal (5)

R/ orang tua paham dengan prosedur pembedahan


sehingga dapat mengurangi kecemasan
6. Instruksikan orang tua klien untuk menggunakan teknik
relaksasi seperti nafas dalam
R/ nafas dalam dapat mengurangi kecemasan
7. Observasi TTV orang tua klien
R/ mengetahui perkembangan kesehatan orang tua klien

32

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

NO
DX

HARI
TGL/

TINDAKAN KEPERAWATAN

EVALUASI PROSES

EVALUASI

TTD

JAM
Selasa/ Pre-op

00035

6-916/

Fall Prevention (6490):

12.00

1. Mereview riwayat jatuh klien

1. Klien tidak pernah mempunyai S


riwayat jatuh

12.05

2. Mengiobservasi

karakteristik 2. Lantai tidak licin

7-9-16

Klien meminta didampingi


kekamar mandi dll

lingkungan
12.15

3. Mengatur tata letak barang 3. Benda-benda yang dibutuhkan O


ditempat yang mudah dijangkau

ada disamping klien seperti Lantai

klien

tisu, air putih, susu, buah- pencahayaan cukup, barangbuahan dan hp

12.30

barang

tidak

mudah

licin,

djangkau

4. Menginstruksikan klien untuk 4. Klien didampingi orang tua klien, klien menggunakan
meminta dampingan keluarga/

12.35

kemanapun akan pergi

alas kaki yang pas

perawat saat kekamar mandi

N= 86x/menit

dan lain-lain

S=36,9C

5. Menyediakan

pencahayaan 5. Pencahayaan ruangan adekuat

33

RR=18x/menit

07.00

April

yang adekuat
12.40

6. Klien menggunakan alas kaki VOD=1/300

6. Memastikan

klien

yang pas

VOS=5/5

menggunakan alas kaki yang

Lensa keruh +/+

pas
12.45

7. Observasi TTV

7. N=

86x/menit,

S=36,9C, A : Masalah teratasi

RR=18x/menit
12.55

8. Kolaborasi

sebagian

tindakan 8. Dijadwalkan tanggal 7-9-2016

pembedahan: OD disisi aspirasi

jam 08.00 WIB

P : Lanjutkan intervensi

+ IOL
00146

nomor 8

6-9-16

Anxiety Reduction (5820):

7-9-16

13.00

1. Menggunakan pendekatan yang 1. Klien dan orang tua menerima S:


menenangkan
2. Menyatakan

13.10

kedatangan perawat
dengan

1. Orang

jelas 2. Klien dan orang tua mengerti

harapan terhadap klien dan

kecemasan

perhatian

tua

klien

mengungkapkan kecemasan

4. Mendengarkan dengan penuh 4. Orang


13.20

klien

2. Orang tua klien mengerti

3. Mendorong orang tua klien 3. Orang


mengungkapkan perasaannya

tua

mengungkapkan

harapan perawat

orang tua

13.15

07.15

tua

klien

semakin

terbuka dengan perawat

5. Jelaskan mengenai pembedahan 5. Orang tua mengerti apa yang O:

34

tentang
yang

pembedahan
akan

pada anaknya

dilakukan

Fita

13.30

yang

tua

klien

pengertian, tujuan, persiapan,

mempraktikan

nafas

komplikasi

mungkin

dalam

tempat

2. Wajah

terjadi,

akan

dilakukan:

yang

tanggal

dan

dijelaskan

1. Orang

pembedahan
6. Menginstruksikan
13.40

klien

untuk

terlihat

lebih

tenang
orang

tua 6. Orang tua klien mempraktikan 3. TD=130/70 mmHg, N=

menggunakan

nafas dalam

91x/menit

teknik relaksasi seperti nafas

RR=19x/menit

dalam
7. Observasi TTV orangtua klien
13.50

7. TD=130/70

mmHg,

91x/menit, RR=19x/menit

N= A:

Masalah

teratasi

sepenuhnya

P: Hentikan intervensi

35

DATA FOKUS POST-OPERASI


PENGKAJIAN
1.

Pola Kebutuhan Dasar


1)

Pola Bernafas
Normal

2) Pola Makan dan Minum


Porsi makan klien habis dan dalam sehari klien minum 700 mL
3) Pola Eliminasi
BAB dan BAK normal
4) Pola Aktivitas dan Latihan
Klien sering duduk dan tiduran ditempat tidur
5) Pola Istirahat dan Tidur
Klien tidur 9 jam sehari
6) Pola Berpakaian
Klien ganti pakaian 1x sehari dan rapi
7) Pola Rasa Nyaman
Klien mengeluh mata kanan nyeri
8) Pola Aman
Klien merasa terlindungi karena ditunggu orangtua dan saudara
9) Pola Kebersihan Diri
Klien diseka 2x sehari, gosok gigi 2x sehari dan kuku bersih, klien tampak
bersih
10) Pola Komunikasi
Sangat kooperatif
11) Pola beribadah
Klien tidak pernah beribadah
12) Pola Produktivitas
Tidak ada
13) Pola Rekreasi
Klien senang mendengarkan musik dari Hp
14) Pola Kebutuhan Belajar
Klien tidak pernah belajar

36

2. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum
Tingkat kesadaran

: Komposmentis

GCS

: 456

2)

TTV

: N=86x/menit, S=37,4C,

RR=20x/menit
3) Keadaan fisik
(1)

Kepala dan leher

(2)

Dada

: Normal

a.

Paru

: Normal

b.

Jantung

: Normal

(3)

Payudara dan ketiak

(4)

Abdomen

(5)

Genetalia

(6)

Integumen

(7)

Ekstremitas

: Normal
: Normal

: Normal
: Normal

a.

Atas : Normal

b.

Bawah

: Normal

(8) Neurologis
a.

Status mental dan emosi

: Normal

b.

Pengkajian saraf kranial

: Normal

c.

Pemeriksaan refleks

: Normal

3. Penatalaksanaan
Operasi: OD disisi osperasi + IOL implant dengan GA tanggal 7 September
2016
4. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan mata tanggal 8 September 2016:
VOD :1/60
VOS : 5/5

37

Palpebra

Edema +/-

Konjungtiva

Hiperemi +/-

Kornea

Jernih +/-

BMO

Dalam +/+

Pupil

Bulat +/+

Lensa

Keruh -/+

5. Terapi
1) Diet TKTP
2) Infus D5 NS 60 cc/jam
3) Parasetamol 4x400 mg intravena
4) Lavofloxacin 1x250mg intravena
5) Dexametason 2 x 500 mg intravena

ANALISA DATA
No
Data
.
1.
DS:
-Klien
menengeluh
mata kanan sakit

2.

DO:
P: Nyeri
Q: tumpul
R: mata
S: 3
T: terus-menerus
DS:DO:
-Konjungtiva hiperemi
-Palpebra edema
-Suhu 37,4C

Etiologi
Katarak

Masalah
Keperawatan
Nyeri
akut
(00132)

Pembedahan
Diskontinuitas
jaringan
Nyeri akut

Katarak
Pembedahan
Terbentuknya port de
entry bakteri
Risiko infeksi

38

Risiko infeksi
(00004)

DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN /MASALAH KOLABORATIF BERDASARKAN PRIORITAS

NO.

TANGGAL/ JAM

DIAGNOSA KEPERAWATAN

DITEMUKAN
Post-op:

7-9-2016/

Nyeri akut (00155) berhubungan dengan diskontinuitas jaringan

15.00 WIB

7-9-2016/

Risiko infeksi (00146) berhubungan dengan diskontinuitas jaringan

15.30 WIB

39

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

HARI/

NO DX

RENCANA PERAWATAN

TGL
Kamis/
7-9-16

NOC
00132

NIC

Tujuan:

Pain Management (1400):

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1. Observasi nyeri secara menyeluruh meliputi kualitas,
1x24 jam klien dapat mengontrol nyeri.

lokasi, skala, durasi dan faktor penyebab nyeri


R/ mengetahui perkembangan klien tentang nyerinya
2. Anjurkan klien untuk mengistirahatkan mata dengan

Pain Control (1605):


1. Mengenal kualitas, lokasi, skala dan durasi
nyeri (5)

R/ untuk mengurangi nyeri

2. Mengenal penyebab nyeri (5)

3. Mengajarkan teknik non farmaka seperti nafas dalam

3. Skala nyeri berkurang (5)


4. Tindakan

memejamkan mata/tidur

non

farmaka:

dan mendengarkan musik


nafas

dalam

mendengarkan musik (5)

R/ klien tidak fokus pada nyerinya dan dapat


mengurangi nyeri

5. Tindakan farmaka: analgesik (5)

4. Kolaborasi pemberian analgesik: parasetamol 4x400 mg


intravena
R/ untuk mengurangi nyeri

40

Selasa/
7-9-16

00146

Tujuan:

Infection Control (6540):

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1. Lakukan perawatan mata secara aseptik dan mengganti
1x24 klien dapat terhindar dari risiko infeksi.

bebat mata
R/ mencegah infeksi
2. Observasi tanda dan gejala infeksi
R/ monitoring kondisi klien untuk pencegahan infeksi

Risk Control: Infection Procces (1924):


1. Perawatan mata secara aseptik (5)

3. Cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh klien

2. Mengtahui tanda dan gejala infeksi (5)


3. Tindakan mengurangi infeksi: cuci tangan (5)

R/ pencegahan transmisi bakteri ke klien


4. Ajarkan cara cuci tangan yang benar

4. Moniror lingkungan (5)

R/ perawatan kesehatan personal untuk mencegah infeksi

5. TTV normal (5)

5. Batasi pengunjung bila perlu


R/ pnecegahan tranmisi bakteri
6. Pertahankan lingkungan yang bersih di sekitar klien
R/ lingkungan bersij mencegah tumbuh kembang bakteri
7. Observasi TTV
R/ mengetahui tanda dan gejala infeksi
8. Kolaborasi pemberian antibiotik: Lavofloxacin 1x250mg
intravena dan Dexametason 2 x 500 mg intravena
R/ untuk menekan atau menghentikan perkembangan
bakteri

41

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
No
Dx

Hari/

00132

7-9-16

Pain Management (1400):

19.00

1. Observasi

Tgl

Evaluasi
Tindakan Keperawatan

nyeri

Evaluasi Proses

TTD

secara 1. P : nyeri

S:

menyeluruh meliputi kualitas,

Q : tumpul

Klien mengetahui penyebab

lokasi, skala, durasi dan faktor

R : mata (D)

nyeri yaitu pembedahan

penyebab nyeri

S:2

O:

T : terus-menerus

1. P : nyeri
O : tumpul

Penyebab: pembedahan
19.10

2. Mengajarkan

teknik

non 2. Klien

farmaka seperti nafas dalam

menggunakan

teknik

3. Kolaborasi

22.15

4. Anjurkan

parasetamol

4x400mg intravena
klien

untuk 4. Klien

mengistirahatkan mata dengan

memejamkan

8-9-16

Infection Control (6540):

08.00

1. Mencuci tangan sebelum dan

mata

2. Klien
mendengarkan
musik
untuk
mengurangi nyeri
A : masalah teratasi
sepenuhnya

sambil tiduran.

P : Hentikan intervensi

memejamkan mata/tidur
00004

R : mata (D)

T : kadang-kadang

pemberian 3. Diberikan

analgesik

Rio

S:1

mendengarkan musik

dan mendengarkan musik


22.00

9-9-16
08.00

1. Mencuci tangan sebelum dan S : tidak ada keluhan

42

9-9-16
08.30

Sevin

sesudah menyentuh klien


08.05

2. Lakukan perawatan mata

sesudah menyentuh klien

O:

2. Dilakukan 3 hari sekali

1. Perawatan mata secara

secara aseptik dan mengganti

aseptik

bebat mata
08.30

3. Menobservasi tanda dan gejala


infeksi

08.35

4. Mengajarkan cara cuci tangan


yang benar

2. konjuntiva hiperemi dan


3. Edema

palpebra

dan

konjungtiva hiperemi
4. Klien

mengerti,

menirukan

edema palpebra
3. Klien

dapat

layanan

dan

5. Membatasi pengunjung

5. Klien

ditunggu

oleh

6. Mempertahankan lingkungan
yang bersih di sekitar klien

12.00

7. Mengobservasi TTV

6. Lingkungan

disekitar

antibiotic

masalah

teratasi

klien sepenuhnya

bersih
7. RR : 78 x/menit

P: Hentikan intervensi

N : 81 x/menit
8. Kolaborasi pemberian

dan

adik,

S : 36,9 C

12.10

kesehata

mengajari cuci tangan.

orangtua dan saudara


09.05

pemberi

melakukan

mengimplementasikannya
09.00

dan

8. Lefloxamin 1x250mg intravena,


dexametason 2x500 mg intra
vena

43

BAB 3
PEMBAHASAN

Katarak adalah kekeruhan yang terjadi pada lensa mata, sehingga


menyebabkan penurunan atau gangguan penglihatan. Secara umum penyebab
katarak yaitu usia lanjut dan proses penuaan, kongenital atau bisa diturunkan,
cedera mata, penyakit metabolik seperti Diabetes Mellitus serta obat-obatan.
Katarak juga dapat disebabkan karena infeksi dan paparan sinar radiasi.
Klasifikasi dari katarak sendiri ada 4, antara lain katarak kongenital, juvenil,
presenil dan senil. Katarak yang dialami An. E merupakan katarak juvenil karena
klien termasuk kedalam usia muda yaitu masih berusia 9 tahun. Penyebab Katarak
juvenil pada An. E disini karena infeksi virus rubella yang diturunkan oleh ibu
saat masa kehamilan.
Manifestasi klinis dari katarak berupa penurunan tajam penglihatan, silau,
susah melihat pada malam hari, gangguan penglihatannya muncul secara bertahap
yang kadang menyebabkan pembengkakan lensa dan peningkatan tekanan
didalam mata, tidak ada tanda-tanda radang kecuali katarak komplikata, lensa
mata keruh dan iris shadow. Mata An. E terlihat keruh sejak awal April 2016.
Sehingga pihak keluarga membawa An. E ke RS Banyuwangi untuk dilakukan
pemeriksaan mata dan didiagnosa katarak, lalu dirujuk pada tanggal 5 September
2016 ke RSUD Dr. Soetomo dan didiagnosa ODS katarak juvenil dan dirawat
diRuang Melati untuk acara TAO (Tunggu Acara Operasi). An. E. dijadwalkan
dilakukan pembedahan yaitu disisi aspirasi+IOL pada tanggal 7 September 2016.
Setelah dilakukan pengkajian sejak tanggal 6-9 September 2016 pada
An.E secara berkala ditemukan masalah keperawatan pre-operasi yaitu risiko
jatuh dan kecemasan orang tua serta masalah keperawatan post-operasi yaitu nyeri
akut dan risiko infeksi. masalah keperawatan resiko injuri muncul pada An. E
karena terjadi kekeruhan pada lensa yang mengakibatkan sinar terhalang masuk
kedalam lensa dan penglihatan An. E menurun. Hal in didukung dengan hasil
pemeriksaan visus yaitu VOD 1/300 dan VOS 5/5. Masalah keperawatan
kecemasan orang tua muncul karena orang tua merasa cemas dan takut terhadap

44

pembedahan yang akan dilakukan pada An. E. Kemudian masalah keperawatan


nyeri akut juga muncul karena pembedahan yang telah dilakukan pada mata An.E.
Ketika dilakukan pemeriksaan mata post-op pada An. E didapatkan edema
palpebra dan konjungtiva hiperemi sehingga muncul masalah keperawatan risiko
infeksi.
Rencana intervensi yang sudah diimplementasikan pada An. E dengan
masalah keperawatan resiko injuri adalah 1) Mereview riwayat jatuh klien 2)
Meobservasi karakteristik lingkungan, 3) Mengatur tata letak barang ditempat
yang mudah dijangkau klien, 4) Menginstruksikan klien untuk meminta
dampingan keluarga/ perawat saat kekamar mandi dan lain-lain, 5) Menyediakan
pencahayaan yang adekuat 6) Memastikan klien menggunakan alas kaki yang pas,
7) Observasi TTv, 8) Kolaborasi tindakan pembedahan: OD disisi aspirasi + IOL.
Setelah dilakukan intervensi tersebut, dilakukan evaluasi dengan hasil masalah
teratasi sebagian dan dilanjutkan dengan intervensi nomer 8 sampai masalah
teratasi sepenuhnya.
Intervensi kecemasan pada orang tua yang telah diimplementasikan adalah
Anxiety Reduction (5820): 1) Menggunakan pendekatan yang menenangkan, 2)
Menyatakan dengan jelas harapan terhadap klien dan keluarga, 3) Mendorong
orang tua klien mengungkapkan perasaannya, 4) Mendengarkan dengan penuh
perhatian 5) Menjelaskan mengenai pembedahan yang akan dilakukan,
pengertian, tujuan, persiapan, komplikasi yang mungkin terjadi, tanggal dan
tempat pembedahan, 6) Menginstruksikan orangtua klien untuk menggunakan
teknik relaksasi seperti nafas dalam 7) Observasi TTV orangtua klien. Setelah
dilakukan intervensi, dilakukan evaluasi dengan hasil masalah teratasi
sepenuhnya.
Intervensi pada nyeri akut yang telah diimplementasikan adalah Pain
Management (1400): 1) Observasi nyeri secara menyeluruh meliputi kualitas,
lokasi, skala, durasi dan faktor penyebab nyeri 2) Mengajarkan teknik non
farmaka dan 3) Kolaborasi pemberian analgesik 4) Menganjurkan klien untuk
mengistirahatkan mata/tidur. Setelah dilakukan intervensi, dilakukan evaluasi
dengan hasil masalah teratasi sepenuhnya. Kemudian Intervensi pada risiko
infrksi yang telah diimplementasikan adalah Infection Control (6540):1) Mencuci

45

tangan sebelum dan sesudah menyentuh klien 2) Melakukan perawatan mata dan
mengganti bebat mata Mengobservasi tanda dan gejala infeksi, 3) Mengajarkan
cara cuci tangan yang benar 4) Membatasi pengunjung 5) Mempertahankan
lingkungan yang bersih di sekitar klien 6) Mengobservasi TTV 7) Kolaborasi
pemberian antibiotik dan 8). Setelah dilakukan intervensi, dilakukan evaluasi
dengan hasil masalah teratasi sepenuhnya.

46

BAB 4
PENUTUP

Katarak adalah kekeruhan yang terjadi pada lensa mata, sehingga


menyebabkan penurunan atau gangguan penglihatan. Katarak yang dialami An. E
merupakan katarak juvenil karena klien termasuk kedalam usia muda yaitu masih
berusia 9 tahun yang penyebabnya belum diketahui secara pasti. Tatalaksana
medis pada katarak adalah pembedahan salah satunya yaitu disisi aspirasi+IOL.
Pada An.E terjadwal pada tanggal 7 September 2016 pukul 08.00 WIB.
Implementasi keperawatan pada An.E juga tidak kalah pentingnya dengan
pembedahan yaitu melakukan pencegahan jatuh, pengurangan kecemasan orang
tua, manajemen nyeri dan kontrol infeksi. Implementasi tersebut harus dilakukan
secara berkesinambungan dan holistik sampai masalah dapat teratasi sepenuhnya.

47

DAFTAR PUSTAKA

Builecheck, Gloria M, Butcher, Howard K & Dochterman, Joanne M. 2013.


Nursing Intervention Classification (NIC) Sixth Edition, Eizeiver Sauders.
Corwin, Elizabeth. 2008. Buku Patofisiologi Edisi 3 Revisi. Jakarta: EGC.
Herdman, T. Heather & Kamitsuru, Shigemi. 2004. NANDA Intervention Nursung
Diagnoses: Definitions & Classification, 2015-2017. Oxford: Wiley Black
Well.
Ilyas, Sidarta. 2004. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.
Ilyas, Sidarta. 2009. Ihtisar Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Ilyas, Sidarta. 2009. Dasar-Dasar Pemeriksaan dalam Ilmu Penyakit Mata Edisi
ke-3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Felizio, Jody. 2013. Presentasi kasus katarak modul praktik klinik kesehatan
mata. Jakarta: FK UI.
Moortuad, Sue, Johson, Marion, Maos, Meridean L & Swanson, Elizabeth. 2013.
Nursing Outcome Classification (NOC) Fifth Edition. Elsevier Sauders.
Mo`otapu, Astria, Rompas, Sefti & Bawotong, Jeavery. Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Kejadian Penyakit Katarak di Poli Mata RSUP Prof.
Dr. R.D. Kandou Manado. e-Journal Keperawatan (eKp) Volume 3 Nomor 2.
Mutiasari, Diah & Handayani, Fitriah. (2011). Katarak Juvenil. Jurnal Inspirasi,
No. XIV.
Sudarso, S. (2014). The Influence Risk Factor Of Stroke On Diabetes Melitus In DR.
Moh Anwar Sumenep Hospital. Diakses pada tanggal 07 Desember 2015 dari
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=279774&val=6831&title=T
HE%20INFLUENCE%20RISK%20FACTORS%20OF%20STROKE%20ON%
20DIABETES%20MELLITUS%20IN%20DR%20H.%20MOH%20ANWAR%
20SUMENEP%20HOSPITAL.

Wahyudi, A.S, Wahid, A, 2016. Ilmu Keperawatan Dasar, Jakarta: Mitra Wacana
Media.

48

Lampiran
WOC Katarak
Proses degeneratif
Nukleus menebal
dan mengeras
Lapisan korteks lensa
menghasilkan serat
lensa baru
Komprensi Sentral
(serat) lensa
Ukuran dan
Densitas

Trauma

Infeksi virus
rubella dari ibu
pada masa
kehamilan

Perubahan
serabut lensa

Lensa robek

Ketidakseimbangan
penyerapan protein
lensa
Terbentuknya masa
atau bintil putih di
depan pupil

Hilangnya transparansi

Menular ke janin
melalui plasenta

Gangguan
metabolisme pada
lensa mata

Perubahan
kandungan bahanbahan lensa

Lensa Keruh
MK:
Kecemasan
Orang tua (00146)
Katarak
Pembedaan
Sinar terhalang
masuk ke lensa
Kurang informasi
tentang katarak

Penglihatan / buta

MK: Kurang
Pengetahuan
(00126)

MK: Risiko injuri


(00035)

49

MK:
Nyeri akut (00132)
Risiko
infeksi
(00004)