Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Al-Quran diturunkan oleh Allah Swt melalui Rasul-Nya yang
berisikan pedoman untuk dijadikan petunjuk, baik pada masyarakat yang
hidup di masa turunnya, maupun sesudahnya. Petunjuk-petunjuk al-Qur-an
tersebut seharusnya dapat dikaji, dianalisis dan dipermasalahkan segala isi dan
kandungannya sehingga kita dapat mengetahui kebenaran-kebenaran hidup.
Pengkajian dan analisis tersebut bertalian dengan hidup dan kehidupan
manusia, baik yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi di
abad modern maupun yang bertalian dengan ilmu metafisika (ghaib).
Sebagaimana diketahui al-Quran adalah kitab suci yang universal dan
sesuai dengan setiap masa dan tempat. Keuniversalan tersebut dapat dilihat
dari sudut pandang adanya al-Quran itu diturunkan tidak hanya untuk
kalangan masyarakat Islam saja, melainkan untuk seluruh umat manusia
(Hudanlinnas), kapan dan di mana saja. Dengan kata lain bahwa al-Quran
turun untuk berdialog dan memberikan pencerahan, meskipun hidup di
tengah-tengah masyarakat modern dengan teknologi yang canggih.
Al-Quran sebagai kitab wahyu yang turun ke bumi untuk mengangkat
derajat para ilmuan baik dari kalangan muslim maupun non muslim. AlQuran telah membawa manusia dari kegelapan menuju peradaban ilmu
pengetahuan. Orang-orang Arab sebelum turunnya al-Quran atau disebut

zaman jahiliyah. Kehidupan mereka telah nyata tentang khufarat atau


dongeng-dongeng sebagai bagian dari kepercayaan masyarakat Arab saat itu.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Dr. Ahmad Amin dalam bukunya Fajr alIslam yang dikutip oleh Abdul Razak Naufal:
Orang-orang Arab telah ketinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan
dari orang disekitarnya. Kehidupan Badui menguasai mereka dan
kebanyakan hidup kabilah yang berpindah-pindah, tidak berada dalam
satu tempat dan tidak berhubungan (mengolah) tanah secara baik di
tempat yang mereka tinggali sebagaimana para petani pada umumnya.
Bahkan mereka hanya menunggu musim hujan saja.
Mereka, laki-laki atau perempuan termasuk juga untanya keluar
mencari gembala. Mereka tidak mencurahkan kesungguhan
intelektualnya dalam mengatur lingkungannya sebagaimana dilakukan
oleh orang yang sudah maju. Mereka hanya mengandalkan bumi dan
langit, kepada alam secara murni. Jika hujan baru mereka mengembala,
jika tidak hujan mereka hanya menunggu takdir.1
Pendapat tersebut di atas jelas bahwa masa jahiliyah hampir identik
dengan tradisionalisme yang memiliki pemahaman naturalis (alami). Artinya,
pemahaman tersebut cenderung mengandalkan takdir Tuhan. Pengetahuan
inilah akan membawa pada pola berfikir mereka menuju khufarat dan
kesesatan. Namun yang penting dan perlu dipahami bahwa tradisionalisme
sudah mengakar daan bahkan sudah menjadi budaya pada masyarakat tertentu.
Barometer dari pemahaman tersebut dapat dijelaskan bahwa Islam dengan
kitab suci al-Quran masuk di kalangan orang Quraisy yang sarat dengan
nilai-nilai tradisionalisme. Pemahaman tersebut didukung oleh Firman Allah
(QS al-Jumuah [62]: 2) sebagai berikut:

Terjemahnya:
1Abdul Razak Naufal, Umat Islam dan Sains Modern (Cet. I; Bandung: Husaini, 1987), h. 3.

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di
antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,
mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As
Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam
kesesatan yang nyata. (Q.S al-Jumuah [62]: 2)2
Pada konteks pemahaman nilai-nilai al-Quran dalam budaya modern
ditinjau dalam aspek mutasyabihat (hal-hal yang belum jelas penafsirannya).
Bila kedudukan ayat membutuhkan penafsiran tentunya mengandung nilainilai tentang masalah tersebut kemungkinan diperlukannya pemahaman yang
lebih rinci ditemukan dalam al-Quran maupun Sunnah Nabi Muhammad
Saw.
Untuk lebih jelasnya pemahaman modernitas tentang al-Quran,
berikut dikemukakan pandangan Hodgson dan membandingkan Islam dengan
agama-agama sebelumnya dalam menghadapi zaman modern, sebagaimana
dikutip oleh Nurcholish Madjid:
Barangkali bahkan dapat ditambahkan bahwa Islam dengan Kitab Suci
al-Quran lebih jelas mengandung ciri-ciri intelektual yang moral
peradaban di banding dengan dogma dan ritual yang kompleks dari
kaum-kaum sebelumnya. Al-Quran dalam hal ini nilai-nilai ajaran
Islam acapkali memberi kepuasan suatu sapihan dari masa lampau
yang lebih terang di bidang mental dan spritual. Kosmopolitanisme
Islam telah menjadi hal yang amat penting. Akhirnya adalah
kosmopolitanismenya itu yang disajikan Islam sebagai suatu respons
positif dan amat kuat terhadap tantangan modernitas.3
Kompleksitas akibat dari kemoderenan tidak hanya merupakan
masalah yang kecil, melainkan nilai-nilai al-Quran menjadi membumi dalam
kehidupan sehari-hari. Artinya, ajaran dari nilai-nilai al-Quran dapat
2Departemen Agama R.I, Al-Quran dan Terjemahnya (Ed. Revisi: Semarang: Toha Putra, 1989),
h. 932.
3Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban (Cet. II; Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina,
1992), h. 522.

diimplementasikan dalam kehidupan nyata dengan memberikan motif


pemikiran modern pada asas-asas al-Quran yang sebenarnya.
Dengan demikian maka jelas bahwa antara tradisionalisme maupun
modernisme pembudayaan nilai-nilai al-Quran hanyalah terletak pada
pemahaman terhadap konteks ayat yang sesungguhnya. Perbedaan pandangan
para ulama tafsir dalam memahami makna ayat-ayat yang ada, disebabkan
oleh makna bahasan dan kondisi masyarakat Artinya, ayat-ayat disebabkan
oleh sebab kondisi masyarakat saat itu dan yang akan datang.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka Penulis mengemukakan pokok
permasalahan dalam judul skripsi ini adalah Pembudayaan Nilai-Nilai alQuran Antara Tradisionalisme dan Modernisme di Maesa Kecamatan Parigi
Kabupaten Parigi Moutong
Setelah penulis mengemukakan pokok masalah tersebut di atas, maka
permasalahan pembahasan skripsi ini adalah:
1. Bagaimana pembudayaan nilai-nilai al-Quran menurut pemikiran
tradisionalisme dan modernisme di Maesa Kecamatan Parigi
Kabupaten Parigi Moutong?
2. Di mana letak perbedaan pandangan kaum tradisionalisme dan
modernisme tentang pembudayaan nilai-nilai al-Quran di Maesa
Kecamatan Parigi Kabupaten Parigi Moutong?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan penulis dalam pembahasan skripsi ini
adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui pembudayaan nilai-nilai al-Quran menurut
pemikiran tradisionalisme dan modernisme di Maesa Kecamatan
Parigi Kabupaten Parigi Moutong.
b. Untuk

mengetahui

letak

perbedaan

pandangan

kaum

tradisionalisme dan modernisme tentang pembudayaan nilai-nilai


al-Quran di Maesa Kecamatan Parigi Kabupaten Parigi Moutong.
2. Manfaat
Adapun yang menjadi manfaat dari penulisan skripsi ini adalah:
a. Kegunaan ilmiah, yaitu memahami secara substansial tentang
pembudayaan

nilai-nilai

al-Quran,

baik

dalam

wacana

pengetahuan tradisional maupun dalam paradigma kontemporer.


b. Kegunaaan praktis, yaitu sebagai kontribusi pemikiran terhadap
kaum tradisionalis dan modernis dalam membudayakan nilai-nilai
al-Quran kepada masyarakat pada umumnya dana masyarakat
Maesa Kecamatan Parigi Kabupaten Parigi Moutong pada
khususnya.
D. Penegasan Istilah
Agar tidak terjadi interpretasi yang keliru dari pembaca terhadap judul
skripsi ini, maka penulis memberikan pengertian beberapa kalimat penting
judul skripsi ini sebagai berikut;

Dalam

Kamus

Besar

Bahasa

Indonesia

dikemukakan

bahwa

pembudayaan adalah: proses dari perbuatan atau cara memajukan budaya.


Pembudayaan dapat pula diartikan sebagai proses dari gejala sosial budaya
suatu adat atau pranata sosial yang mantap.4
Yang dimaksud dengan al-Quran adalah:
Kalam Allah yang tiada tandingannya (Mujizat), diturukan kepada
Nabi Muhammad saw, penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantara
malaikat Jibril alaihi salam, dituliskan dalam mushaf-mushaf yang
disampaikan kepada kita secara mutawatir (oleh orang banyak), serta
mempelajarinya merupakan suatu ibadah, dimulai dengan surah alFatihah dan ditutup dengan surah al-Naas.5
Definisi al-Quran di atas telah disepakati oleh para ulama dan ahli
ushul. Allah menurunkan al-Quran adalah untuk menjadi undang-undang
bagi umat manusia dan petunjuk serta sebagai tanda atas kebenaran Rasul dan
penjelas atas kenabian dan kerasulannya, juga sebagai alasan atau hujjah yang
kuat kemudian dimana akan dinyatakan bahwa al-Quran itu benar-benar
diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Terpuji.
Tradisionalisme, yaitu: Paham atau ajaran dan sebagainya yang
berdasar pada tradisi6
Sedangkan modernisme, itu: Suatu paham dan cara berpikir serta
bertindak sesuai dengan tuntutan zaman.7

4Departemen Pendidikan dan Kebudayaan R.I, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. III; Jakarta:
Balai Pustaka, 1990), h. 131.
5Muhammad Ali al-Shabuni, al-Tbyaan fi Uluun al-Quran, diterjemahkan oleh M.
Chudlori Umar dengan judul Pengantar Studi al-Quran (Bandung: Al-Marif, 1987), h. 18.

6 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan R.I, op. Cit, h. 959.


7 Ibid, h. 589

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa pembudayaan nilainilai al-Quran antara tradisionalisme dan modernisasi adalah suatu proses
atau perbuatan yang dilakukan manusia dengan cara memajukan budaya.
Pembudayaan tersebut merupakan adat atau pranata sosial yang mengandung
nilai-nilai ajaran al-Quran yang merupakan Kalam Allah atau mujizat atas
kerasulan dan kenabian Muhammad saw. Pengertian tersebut memberikan
pemahaman tentang pembudayaan nilai-nilai

al-Quran baik dari paham

atau ajaran yang berdasarkan kepada tradisi atau pola berfikir masyarakat
yang sesuai dengan tuntutan zaman.
E. Garis-Garis Besar Isi Skripsi
Untuk mempermudah pemahaman bagi para pembaca terhadap
pembahasan skripsi ini, maka penulis secara garis besar menjelaskan sebagai
berikut:
Pembahasan bab pertama, adalah Penulis mengemukakan beberapa hal
pokok dengan mengetangahkan landasan dasar pembahasan ini. Hal tersebut
terlihat pada latar belakang, selain itu juga dikemukakan pokok permasalahan
dari rumusan

dan batasan masalah yang diajukan. Untuk memberikan

pemahaman yang jelas maka penulis kemukakan tujuan dan manfaat


penelitian, pengertian judul, dan garis besar isi yang turut mendukung
terselesaikannya tulisan ini.
Pembahasan bab kedua penulis mengetengahkan tinjauan umum
tentang al-Quran, ciri-ciri masyarakat tradisionalisme dan modernisme, serta

pemahaman

al-Quran

di

kalangan

masyarakat

tradisionalisme

dan

modernisme.
Pembahasan bab ketiga mengemukakan tentang tradisionalisme,
modernisme, dan permasalahannya. Isi pembahasan mengenai,

Pendekatan

penelitian, rancangan penelitian, lokasi penelitian, sumber data, teknik


pengumpulan data, teknik pengolahan data, teknik analisa data dan pengecekan
keabsahan data.
Pembahasan bab keempat merupakan inti dari pembahasan ini yang
mengetengahkan

tentang

gambaran

umum

Maesa

Kecamatan

Parigi

Kabupaten Parigi Moutong, pembudayaan nilai-nilai al-Quran menurut


pemikiran tradisionalisme dan modernisme di Maesa Kecamatan Parigi
Kabupaten Parigi Moutong, letak perbedaan pandangan kaum tradisionalisme
dan modernisme tentang pembudayaan nilai-nilai al-Quran di Maesa
Kecamatan Parigi Kabupaten Parigi Moutong.
Pembahasan bab kelima merupakan bab penutup yang isinya
memberikan
dikemukakan

kesimpulan-kesimpulan
implikasi

penelitian

dari
berupa

bab

ke

bab.

saran-saran

Selanjutnya

yang

sifatnya

konstruksif dan memberikan konstribusi yang sehat bagi kesempurnaan


skripsi ini.