Anda di halaman 1dari 13

PETUNJUK EVOLUSI BERDASARKAN BUKTI ARTIFICIAL

MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah Evolusi
yang dibina oleh Bapak Dr. H. Abdul Gofur, M.Si
Oleh:
Kelompok 3
Amalina Listyarso
130341614794
Endah Wahyuningtyas130341603381
Santy Faiqotul H
130341603399

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2016

KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulilah penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul

Petunjuk Evolusi Berdasarkan Bukti

Artificial.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa pembuatan makalah ini tidak lepas dari
peran serta beberapa pihak yang telah memberikan saran, bimbingan, pengarahan,
dan petunjuk serta fasilitas. Oleh karena itu, didalam kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. H. Abdul Gofur, M.Si Dosen matakuliah Evolusi yang telah

memberikan pengarahan, bimbingan, serta petunjuk dalam penyelesaian


makalah ini.
2. Petugas perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang dan Biologi
Referensi yang telah menyediakan referensi untuk penulis.
3. Teman-teman dan semua yang telah membantu dalam menyelesaikan
tugas ini.
Penulis menyadari bahwa makalah yang telah penulis buat ini tidak lepas dari
kekurangan dan jauh dari sempurna, maka dengan segala kerendahan hati penulis
mengharap kritik, saran, dan masukan dari semua pihak demi perbaikan.
Semoga apa yang penulis sajikan dapat bermanfaat guna menambah ilmu
pengetahuan dan wawasan.

Malang, 31 Januari 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Evolusi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari
tentang segala perubahan perubahan yang terjadi pada makhluk
hidup Perubahan yang terjadi pada makhluk hidup menurut teori evolusi
terjadi secara berangsur-angsur menuju ke arah yang sesuai dengan masa
dan tempat (Widodo, 2003). Terjadinya evolusi ini dapat dibuktikan dengan
adanya petunjuk evolusi, baik bukti fosil maupun bukti artificial.
Petunjuk evolusi berdasarkan fosil dapat mendukung teori evolusi
karena dengan adanya fosil ini petunjuk yang ada dapat dibandingkan antara
fosil yang telah ditemukan dan diyakini sebagai fosil makhluk terdahulu
dengan makhluk hidup sekarang. Namun adakalanya petunjuk berdasarkan
fosil meragukan karena biasanya fosil yang ditemukan sudah dalam keadaan
tidak utuh lagi dan banyak terjadi pemalsuan atau manipulasi yang
dilakukan oleh beberapa pihak.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat
serta pengaruh dari globalisasi ilmu pengetahuan sangat mendukung
semakin berkembangnya pencarian bukti teori evolusi yang tidak hanya
mengandalkan dari fosil yang telah ditemukan. Dalam konteks biologi
modern, evolusi yang terjadi tidak hanya merubah suatu individu menjadi
spesies yang lain namun terjadinya perubahan frekuensi gen dalam suatu
spesies saja sudah dapat dikatakan sebagai bentuk dari sebuah evolusi.
Akumulasi perubahan gen ini menyebabkan terjadinya perubahan pada
makhluk hidup. Selain dengan bukti fosil, evolusi dapat dibuktikan dengan
adanya petunjuk artificial. Petunjuk evolusi berdasarkan artifisial
merupakan petunjuk hasil buatan manusia, yaitu petunjuk yang dibuat oleh
manusia melalui kerja laboratorium. Hasil dari penelitian berupa eksperimen
ini lebih dapat diterima dan dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Adanya petunjuk artificial ini perlu dikaji lebih lanjut untuk
membuktikan kebenaran teori evolusi. Dengan demikian, penulis menyusun
makalah dengan judul, Petunjuk Evolusi Berdasarkan Bukti Artificial.

B.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat dibuat rumusan masalah sebagai


berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan petunjuk evolusi berdasarkan bukti
artifisial?
2. Apa sajakah bukti artificial yang menjadi petunjuk evolusi?

C.

Tujuan
Tujuan berdasarkan rumusan masalah di atas adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui pengertian petunjuk evolusi berdasarkan bukti artifisial.
2. Untuk mengetahui bukti-bukti artificial yang menjadi petunjuk evolusi.

BAB II
PEMBAHASAN
Evolusi, sebagai cabang Biologi dalam rumpun Sains, adalah ilmu yang
mempelajari tentang perubahan yang terjadi secara berangsur-angsur menuju
kesesuaian dengan waktu dan tempat (Henuhili, 2012). Teori evolusi mempelajari
tentang proses perubahan yang terjadi pada makhluk hidup. Perubahan yang
terjadi pada makhluk hidup menurut teori evolusi terjadi secara berangsur-angsur
menuju ke arah yang sesuai dengan masa dan tempat (Widodo, 2003).
Evolusi makhluk hidup merupakan salah satu teori yang dikaji atau
dipelajari oleh Biologi. Teori ini sebenarnya telah dipersoalkan sejak
perkembangan ilmu di masa Romawi dan Yunani kuno, namun secara ilmiah teori
ini baru dikemukakan oleh Charles Robert Darwin yang ditulis dalam buku yang
berjudul : The Origin of Species by Means of Natural Selection or the
Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life, yang edisi pertamanya
dengan judul The Origin of Species diterbitkan 24 Nopember 1859. Dengan
demikian, perubahan yang merupakan hasil perkembangan itu berlangsung dalam
waktu yang amat panjang, yaitu jutaan tahun seiring dengan evolusi alam semesta
(Henuhili, 2012).
Petunjuk evolusi berdasarkan fosil adalah petunjuk yang mendukung teori
evolusi karena dapat dibandingkan antara fosil terdahulu dengan makhluk hidup
sekarang. Namun adakalanya petunjuk berdasarkan fosil meragukan karena
biasanya tidak utuh dan banyak terjadi pemalsuan oleh beberapa pihak. Saat ini
perkembangan jaman sangatlah pesat. Seiring dengan majunya ilmu pengetahuan
dan teknologi, petunjuk dan pembuktian teori evolusi juga semakin berkembang.
Salah satunya adalah melalui pembuktian artifisial.
Petunjuk evolusi berdasarkan artifisial merupakan petunjuk hasil buatan
manusia. Yang dimaksud dengan hasil buatan manusia adalah manusia melakukan
berbagai macam penelitian dan eksperimen di laboratorium guna membuktikan
teori evolusi. Di laboratorium, peneliti dapat mengkondisikan lingkungan dan
mengontrol banyak variabel. Eksperimen dilakukan untuk mengetahui bagaimana
semua organisme dapat berbeda-beda satu sama lain. Hasil dari penelitian berupa
eksperimen ini lebih dapat diterima dan dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Beberapa pembuktian teori evolusi melalui bukti artifisial antara lain
dengan cara:

a. Anatomi perbandingan
b. Organ yang mengalami rudimentasi
c. Embriologi perbandingan
d. Perbandingan fisiologi
e. Petunjuk secara biokimia
f.

Petunjuk melalui artificial selection

A. Anatomi Perbandingan

Anatomi perbandingan adalah ilmu yang mempelajari mengenai


persamaan dan perbedaan anatomi dari makhluk hidup.Ilmu ini berkaitan erat
dengan biologi evolusi dan filogeni (ilmu evolusi pada spesies-spesies). Dengan
adanya studi anatomi perbandingan ini dapat mengamati persamaan an perbedaan
dari hewan hewan pada kelas yang berbeda, dengan demikian dapat diketahui
apakah memang hewan dari kelas yang lebih rendah akan berevolusi menjadi
hewan yang memiliki kelas yang lebih tinggi. Hal tersebut dapat diketahui dengan
melihat alat alat fungsional yang dimiliki oleh masing-masing hewan. Dari studi
anatomi perbandingan dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. Homologi
Petunjuk tentang adanya evolusi dapat dipelajari dari studi tentang
struktur organ berbagai makhluk hidup yang memiliki kesamaan. Misalnya
anggota tubuh yang dimiliki oleh vertebrata. Semua anggota gerak vertebrata
berupa sepasang tangan, kaki, sayap. Anggota gerak tersebut memiliki jari, adanya
tulang radius, dan ulna, dan sebagainya. Anggota gerak tersebut dimiliki oleh
semua kelompok vertebrata. Kesamaan anggota gerak tidak hanya meliputi tulang,
tetapi juga otot, saraf, persendian dan pembuluh darah. Semua kesamaan
menunjukkan bahwa organ tersebut berasal dari struktur yang sama dan biasanya
kita kenal dengan istilah homolog (Widodo, dkk. 2003).

Gambar 2.1 Struktur homolog alat gerak depan mamalia.


Analogi
Anggota gerak depan cecak dan kadal untuk berjalan, sayap burung dan
sayap kelelawar untuk terbang, keseluruhan anggota gerak tersebut homolog
dengan kaki depan kuda atau tangan manusia. Berlainan halnya dengan sayap
serangga atau kaki udang. Struktur sayap burung dan sayap kelelawar berbeda
dengan sayap serangga maupun kupu-kupu, meskipun fungsinya sama. Hal ini
2.

disebabkan karena asal-usul organ tersebut tidak sama. Kesamaan fungsi namun
berbeda asalnya disebut analog (Widodo, dkk. 2003). Analogi ditandakan dengan
alat-alat tubuh yang mempunyai bentuk dasar yang berbeda namun karena
perkembangan evolusi, alat-alat tersebut mempunyai fungsi yang sama.
Gambar 2.2 Struktur analogi pada sayap.
Organ yang Mengalami Rudimentasi
Rudimentasi organ merupakan petujuk adanya evolusi. Organ yang
berguna pada suatu makhluk hidup, pada makhluk hidup lain kurang berfungsi.
Contoh tulang ekor pada manusia kurang berfungsi, namun pada kelompok
mamalia lain sangat berkembang dan berfungsi sebagai ekor (Widodo, dkk. 2003).
Seleksi alam cenderung menguntungkan individu yang memiliki organ dalam
bentuk tereduksi, dan dengan demikian cenderung akan menghilangkan struktur
yang tidak berfungsi lagi.
Organ yang mengalami rudimentasi juga disebut dengan organ
vestigial. Kata vestigial merujuk pada bagian anatomi hewan yang memiliki
fungsi minimal ataupun sama sekali tidak berfungsi. Struktur yang tidak berfungsi
ini merupakan sisa-sisa organ tubuh leluhur yang pernah berfungsi. Misalnya pada
ikan paus, paus memiliki tulang vestigial yang tampak seperti sisa tulang kaki
leluhur paus yang berjalan di daratan. Manusia juga memiliki struktur vestigial,
contohnya tulang ekor dan umbai cacing pada usus. Organ yang mengalami
rudimenter hakikatnya sudah tidak berguna lagi, namun masih dapat dijumpai
pada tubuh organisme.
Data fosil untuk kelompok kuda dan primata cukup lengkap untuk dapat
mendiskripsikan evolusi yang terjadi pada dua kelompok hewan tersebut. Namun
selengkap-lengkapnya data fosil masih belum dapat menerangkan secara lengkap
apa yang terjad pada masa silam. Dasar deskripsi evolusi kuda, para ahli
menggunakan metode pendekatan dengan membandingkan perubahan struktur
dari makhluk hidup yang paling erat kaitannya dengan makhluk hidup sasaran
(Widodo, dkk. 2003).
B.

Embriologi Perbandingan
Embrio hewan bersel banyak mengalarni kesamaan perkembangan
embrio, berawal dari zygot menjadi blastula lalu gastrula, kemudian mengalami
diferensiasi sehingga terbentuk bermacam-macam alat tubuh. Ernest Haeckel,
mengatakan tentang adanya peristiwa ulangan ontogeni yang serupa dengan
C.

peristiwa filogeninya, disebut teori rekapitulasi. Contoh adanya rekapitulasi


adalah perkembangan terjadinya jantung pada mamalia yang dimulai dengan
perkembangan yang menyerupai ikan, selanjutnya menyerupai embrio amfibi,
selanjutnya menyerupai perkembangan embrio reptil.
Contoh informasi dari perbandingan pertumbuhan adalah adanya celah
insang pada embrio vertebrata. Celah-celah insang pada ikan dewasa akan tumbuh
menjadi insang, sedangkan pada reptilian, aves dan mamalia dewasa tidak tumbuh
menjadi insang, kecuali pada beberapa amfibia, kesamaan juga diperlihatkan pada
perkembangan embrio vertebrata. Ditunjukkan bahwa hampir semua embrio
mempunyai struktur dasar yang sama. Hal ini dapat diterangkan dengan homologi.
Meskipun semua vertebrata memiliki banyak ciri perkembangan embrio
yang sama, tidak benar bahwa mamalia pertama-tama mengalami tahapan
perkembangan ikan, kemudian tahapan amphibian dan seterusnya. Ontogeni dapat
memberikan petunjuk untuk filogeni, tetapi penting untuk diingat bahwa semua
tahapan perkembangan itu bisa berubah sepanjang proses rentetan proses evolusi
yang panjang.

Gambar 2.3 Perkembangan embrio vertebrata


D. Perbandingan Fisiologi

Perbandingan fisiologi membandingkan perbandingan kemiripan dalam


hal faal berbagai makhluk hidup mulai dari mikroorganisme sampai manusia.
Kesamaan faal atau proses fisiologis contohnya adalah proses respirasi semua

organisme yang membutuhkan oksigen. Selain itu, pembentukan ATP dan


kegunaannya dalam proses metabolisme relatif sama pada semua organisme.
Adanya kesamaan faal atau proses fisiologis organisme menunjukan kekerabatan
antar organisme.
E.

Petunjuk Secara Biokimia


Hubungan evolusi diantara spesies dicerminkan dalam DNA dan

proteinnya, dalam gen dan produk gennya. Jika dua spesies memiliki pustaka gen
dan protein dengan urutan monomer yang sangat bersesuaian, urutan itu pasti
disalin dari nenek moyang yang sama. Organisme yang secara taksonomi berbeda
jauh, seperti manusia dan bakteri memiliki beberapa protein yang sama, misalnya
sitokrom c, suatu protein yang terlibat dalam respirasi seluler pada semua spesies
aerob. Mutasi telah menggantikan asam amino di beberapa tempat pada protein
tersebut selama perjalanan panjang evolusi, tetapi molekul sitokrom c pada semua
spesies sangat mirip dalam struktur dan fungsi. Tidak jauh berbeda, perbandingan
jumlah asam amino yang berbeda dalam hemoglobin pada beberapa vertebrata
memperkuat bukti-bukti paleontologi dan anatomi perbandingan mengenai
hubungan evolusioner diantara spesies-spesien tersebut.
Kekerabatan antara berbagai jenis makhluk hidup dapat diuji secara
biokimia. Salah satu percobaan biokimia yang dapat digunakan untuk mengetahui
tingkat kekerabatan berbagai organisme adalah uji presipitin oleh Natael. Dasar
percobaan ini adalah adanya presipitin atau endapan pada suatu reaksi antigenantibodi. Banyak sedikitnya endapan yang terbentuk dapat digunakan untuk
menentukan jauh dekatnya kekerabatan antara suatu organisme yang satu dengan
organisme yang lainnya. Percobaan tersebut adalah sebagai berikut : kelinci
disuntik dengan serum manusia berulang kali. Selang beberapa waktu kemudian,
serum kelinci diambil dan dianalisis.
Ternyata telah mengandung zat anti ini terbentuk karena adanya antigen
yang masuk, yaitu serum darah manusia. Serum kelinci yang telah mengandung
zat anti disuntikkan ke dalam berbagai jenis makhluk hidup, berturut-turut
manusia, gorila, orang hutan, babon, kucing, anjing, banteng, dan lain-lain. Selang

beberapa waktu, darah manusia dan hewan-hewan yang disuntik dengan serum
kelinci dianalisis ternyata mengandung presipitin yang berbeda-beda kadarnya.
Banyaknya endapan ditentukan oleh jauh dekatnya kerabat antara kelinci
dengan makhluk- makhluk tersebut. Makin jauh kekerabatannya makin banyak
presipitinnya. Lihat Tabel 2.1
Tabel 2.1 Data Kecenderungan Biokimia Mengenai Evolusi

Sumber: (Yusuf,F.,2006)

F.

Petunjuk Melalui Artificial Selection


Manusia telah memodifikasi spesies selama bergenerasi dengan cara

memilih, dan melakukan breeding antar individu-individu yang memiliki sifatsifat (trait) yang diharapkan. Proses ini disebut artificial selection. Sebagai
akibatnya, tumbuhan dan hewan yang telah di-breeding seringkali tidak
menyerupai hewan/ tumbuhan moyangnya. Salah satu contoh artificial selection
adalah domestikasi (Campbell, 2009).
Domestikasi adalah pembudidayaan hewan atau tumbuhan liar sehingga
bermanfaat sesuai dengan keinginan manusia. Domestikasi terkadang dapat
menghasilkan variasi baru atau spesies yang berbeda dengan induknya. Variasi
yang terbentuk dari proses domestikasi menunjukan bahwa suatu organisme dapat
berevolusi.

Mengubah tanaman dan hewan liar menjadi tanaman dan hewan yang
dapat dikuasai dan bermanfaat sesuai dengan keinginan manusia adalah akibat
dari peristiwa domestikasi. Contohnya penyilangan burung-burung merpati,
sehingga dijumpai adanya 150 variasi burung, yang di antaranya begitu berbeda
hingga dapat dianggap sebagai spesies berbeda. Contoh lainnya adalah
menyilangkan tanaman dengan variasi pada berbagai bagian tubuhnya, misalnya
tumbuhan wild mustard dapat menghasilkan tanaman-tanaman yang memiliki ciriciri khusus yang sangat berbeda dengan tanaman aslinya (wild mustard)
(Campbell, 2003).

Gambar 2.4 Artificial selection pada tanaman wild mustard untuk


menghasilkan tanaman-tanaman baru.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Petunjuk evolusi berdasarkan artifisial merupakan petunjuk hasil buatan


manusia, yaitu petunjuk yang dibuat oleh manusia melalui kerja laboratorium.
Beberapa pembuktian teori evolusi melalui bukti artificial antara lain dengan:
anatomi

perbandingan,

organ

yang

mengalami

rudimentasi,

embriologi

perbandingan, perbandingan fisiologi, petunjuk secara biokimia, dan petunjuk


melalui artificial selection.
B.

Saran
Seiring dengan perkembangan zaman maka diharapkan nantinya akan

diketahui lebih banyak lagi cara yang dapat digunakan sebagai tinjauan untuk
membuktikan adanya evolusi pada zaman ini. Dengan demikian studi tentang
petunjuk evolusi berdasarkan petunjuk artificial bias lebih dikembangkan lagi,
penyaji mengkaji tentang topic ini dengan harapan dapat menjadi informasi yang
baru untuk mencapai kelengkapan informasi.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil A, et al. 2009. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Henuhili, V., dkk. 2012. Evolusi. FMIPA UNY.
Widodo, dkk. 2003. Evolusi. Malang : Universitas Negeri Malang.
Yusuf, Frida M. 2006. Bahan Ajar Evolusi. FPMIPA: Universitas Gorontalo.