Anda di halaman 1dari 25

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Al-Quran


1. Pengertian Al-Quran
Al-Quran merupakan kitab suci yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad Saw. didalamnya mengandung inti ajaran pokok agama Islam dan
petunjuk kepada seluruh umat manusia di muka bumi.
Kata Quran dari segi isytiqaq-nya terdapat beberapa pandangan antara
lain seperti yang di sadur dalam bukunya Muhammad Bin Muhammad Abu
Syahbah, bahwa kata Quran dapat diartikan sebagai berikut:
a. Quran adalah bentuk mashdar dari kata kerja qaraa yang berarti
bacaan. Kata ini selanjutnya berarti kitab suci yang diturunkan Allah
Swt. kepada Nabi Muhammad Saw.
b. Quran adalah kata sifat dari kata al-qaru yang bermakna al-jamu
atau kumpulan. Selanjutnya kata ini digunakan sebagai salah satu nama
bagi kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, karena
al-Quran terdiri dari sekumpulan surah dan ayat yang memuat kisahkisah, perintah, larangan dan mengumpulkan inti sari dari kitab-kitab
yang diturunkan sebelumnya.
c. Kata al-Quran adalah ism alam, bukan kata bentukan dan sejak awal
digunakan sebagaimana bagi kitab suci umat Islam.1
1Lihat Muhammad Ali al-Shabuni. Al-Madkhal li Diraasah Alquran al-Karim (Beirut:
Dar al-Jil, 1992), h. 19-20.

10

Sebenarnya sulit mendefinisikan Al-Quran secara terminology. Manna


Khalil al-Qattan mengatakan:
Quran memang sulit diberikan batasan dengan definisi-definisi logika
yang mengelompokkan segala jenis, bagian-bagian serta ketentuanketentuan khususnya, mempunyai genus, differentia dan propium,
sehingga definisi Quran mempunyai batasn yang benar-benar konkrit.
Definisi yang konkrit untuk Quran ialah menghadirkannya dalam pikiran
atau realita seperti misalnya kita menunjuk Quran kepada yang tertulis di
dalam mushaf atau terbaca dengan lisan.2
Namun para ulama dan cendekiawan muslim mencoba mendefinisikan AlQuran secara terminologi untuk kebutuhan diskursus Al-Quran secara akademis.
Nasruddin Razak mendefinisikan Al-Quran:
Al-Quran itu ialah Kitab Suci yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi
Muhammad Saw. sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia dalam hidup
dan kehidupannya.3
T.M. Hasbi Ash Shiddieqy mendefinisikan Al-Quran:



.
Artinya:
Kalamullah yang diturunkan kepada Muhammad Saw. yang ditulis dalam
mushaf yang berbahasa Arab yang telah dinukilkan (dipindahkan) kepada
kita dengan jalan mutawatir, yang dimulai dengan Surah al-Fatihah disudahi
dengan Surah al-Nas.4

2Manna Khalil al-Qattan, Mabaahits fii Uluun al-Quraan, ditermahkan oleh Mudzakir A.S.
dengan judul Studi Ilmu-Ilmu Quran (Cet. V; Jakarta: Pustaka Litera AntarNusa, 2000),
h. 17.
3Nasruddin Razak, Dienul Islam, Penafsiran Kembali Islam Sebagai Suatu Aqidah dan Way of
Life (Cet. IV; Bandung: Al-Maarif, 1981), h. 86.
4T.M. Hasbi Ash Shiddiegy, Pengantar Hukum Islam, Jilid I (Cet. VI; Jakarta: Bulan Bintang,
1980), h. 188.

Pengertian al-Quran yang lain dikemukakan oleh Manna Khalil al-Qattan


Quran adalah Kalam atau Firman Allah yang diturunkan kepada Muhammad
Saw. yang pembacaannya suatu ibadah.5
Berdasarkan uraian tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa
pengertian al-Quran adalah Kitab Suci berupa firman Allah Swt. yang diturunkan
berbahasa Arab yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw yang dimulai
dari Surah al-Fatihah dan diakhir dengan Surah al-Nas, diriwayatkan secara
mutawatir dan bacaannya adalah ibadah.
Definisi al-Quran ini menurut penulis cukup memadai karena dapat
membedakan al-Quran secara distingtif dengan lainnya, antara lain:
1. Al-Quran adalah kitab suci (holy book). Hal ini membedakan al-Quran
dengan buku biasa, majalah atau literatur karena dipandang sakral
keberadaannya oleh umat Islam yang meyakini kesucian al-Quran.
Kesucian al-Quran ini ditandai dengan tidak bolehnya mushaf al-Quran
disentuh oleh orang yang berhadats, baik junub, haid, nifas atau batal
wudhunya, sehingga orang tersebut bersuci.6 Sebagaimana firman Allah
Swt. dalam (QS. al-Waqiah [56]: 79) sebagai berikut:

Terjemahnya:
Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. (Q.S. alWaqiah [56]: 79) 7
5Manna al-Khalil Qattan, loc.cit.
6Muhammad Ali al-Shabuni, Rawaiu al-Bayaan Tafsir Ayaat al-Ahkaam Min Alquran,
diterjemahkan oleh Muammal Hamidy, et.al. dengan judul Tafsir Ayat Ahkam Ash Shabuni, Jilid
III (Cet. I; Surabaya: Bina Ilmu, 1987), h. 146.
7Departemen Agama R.I, Alquran dan Terjemahnya (Ed. Revisi: Semarang: Toha Putra, 1989), h.
897.

2. Al-Quran adalah firman Allah Swt. Hal ini membedakan Al-Quran


dengan perkataan makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt, seperti
perkataan malaikat, manusia atau jin.8
3. Al-Quran berbahasa Arab. Hal ini membedakan Al-Quran dengan kitab
suci lain yang diturunkan oleh Allah Swt. yang menggunakan bahasa lain,
seperti Kitab Taurat, Zabur dan Injil yang diturunkan dalam bahasa
Ibrani.9 Firman Allah Swt. dalam (QS. Yusuf [12]: 2)

.
Terjemahnya:
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa
Arab, agar kamu memahaminya. (Q.S. Yusuf [12]: 2)10
4. Al-Quran merupakan

kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi

Muhammad Saw. Hal ini membedakan Al-Quran dengan ilham atau


mimpi karena cara turunnya melalui wahyu yang dibawa oleh Malaikat
Jibril a.s untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw.
5. Al-Quran dimulai dengan Surah al-Fatihah dan diakhiri dengan Surah
al-Nas. Definisi ini menegaskan bahwa al-Quran yang dimaksud
sebagaimana yang terdapat dalam susunan urutan surah dan ayat dalam
Mushaf Utsmani karena ada beberapa mushaf al-Quran yang yang cara
penulisannya berbeda dengan Mushaf Utsmani, namun telah dibakar pada
zaman Khalifah Utsman bin Affan untuk menyatukan cara penulisan
al-Quran, seperti Mushaf Ali bin Abi Thalib r.a. yang dimulai dengan

8Manna Khalil al-Qattan, loc.cit.


9Nasruddin Razak, op.cit, h. 153-154.
10Departeman Agama R.I, op.cit, h. 348.

Surah al-Baqarah dan dan diakhiri dengan Surah al-Ikhlas, atau Mushaf
Abdullah bin Abbas yang diawali dengan Surah al-Alaq dan diakhiri
dengan Surah al-Nas.11
6. Al-Quran diriwayatkan secara mutawatif atau diriwayatkan oleh orang
sangat

banyak,

sehingga

mustahil

mereka

berbohong.

Hal

ini

membedakan al-Quran dengan Hadits Qudsi, walaupun merupakan firman


Allah yang didapatkan melalui mimpi oleh Rasulullah Saw, tetapi banyak
yang diriwayatkan secara ahad (satu sampai tiga orang).12
7. Membaca al-Quran adalah ibadah. Hal ini membedakan al-Quran dengan
Hadits atau perkataan ulama yang membacanya tidak dinilai sebagia
ibadah.13
Allah menurunkan al-Quran agar dijadikan undang-undang bagi umat
manusia dan petunjuk atas kebenaran rasul serta penjelasan atas kenabian dan
kerasulannya, juga sebagai hujjah yang kuat di hari kemudian bahwa Al-Quran
itu benar-benar diturunkan dari Allah Swt.
Al-Quran pertama kali diturunkan tepatnya pada tangga l7 Ramadhan
tahun ke-40 kelahiran Nabi Muhammad Saw. ketika beliau sedang bertahannust
atau beribadah di Gua Hira. Pada saat itulah turun wahyu dengan perantaraan
Malaikat Jibril dengan membawa beberapa ayat al-Quran Surah pertama yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Adalah QS. al-Alaq [96]: 1-5, yakni
sebagai berikut:
11Ibrahim al-Abyadi, Tarikh Alquran, diterjemahkan oleh Halimuddin dengan judul Sejarah
Alquran (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1991), h. 47-51.
12Manna Khalil al-Qattan, op.cit, h. 26-27.
13Ibid, h. 25-26.

Terjemahnya:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang
Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia
mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al-Alaq
[96]: 1-5)14
Al-Quran merupakan kitab petunjuk bagi umat manusia, hal ini sesuai
dengan firman Allah Swt. (QS. Al-Baqarah [2]: 185

....
Terjemahnya:
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di
dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia
dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang
hak dan yang bathil). (Q.S. Al-Baqarah [2]: 18515
Al-Quran mempunyai beberapa nama yang kesemuanya menunjukkan
bahwa kedudukan al-Quran itu sangat tinggi dan luhur. Secara mutlak menurut
Muhammad Ali al-Shabuni bahwa al-Quran itu adalah kitab samawi yang paling
mulia. Kitab samawi itu dinamai dengan: al-Quran, al-Furqan, al-Tanzil, al-Zikr,
dan al-Kitab.16 Alasan penanaman al-Quran ini, antara lain:
1. Alasan dinamai dengan al-Quran karena banyak kata-kata al-Quran
terdapat dalam ayatnya, antara lain (QS. Qaaf [50]: 1) sebagai berikut:

.
Terjemahnya:
Qaaf. Demi al-Quran yang sangat mulia. (Q.S. Qaaf [50]: 1)17

14 Departemen Agama R.I, op.cit, h. 1079.


15 Ibid, h. 45.
16 Muhammad Ali al-Shabuni, al-Madkhal li Diraasah..... op.cit, h. 21.
17
Departemen Agama R.I, op.cit, h. 761.

2. Alasan dinamai al-Furgan sebagaimana tertera dalam (QS. al-Furqan


[25]: 1) sebagai berikut:

.
Terjemahnya:
Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada
hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.
(Q.S. al-Furqan [25]: 1)18
3. Alasan al-Quran dinamai dengan at-Tanzil, sebagaimana tertera dalam
(QS. Asy-Syuaraa [26]: 192-193) sebagai berikut:

Terjemahnya:
Dan sesungguhnya al-Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta
alam. Dia dibawa turun oleh al-Ruh al-Amin.(QS. Asy-Syuaraa [26]: 192193)19
4. Alasan diberi nama dengan al-Zikr, sebagaimana terdapat dalam al-Quran
(QS. al-Hijr [15]: 9)

Terjemahnya:
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran, dan Sesungguhnya
Kami benar-benar memeliharanya.(Q.S. al-Hijr [15]: 9)20
5. Alasan diberi nama dengan al-Kitab sebagaimana terdapat dalam alQuran, (QS. al-Dukhan [44]: 1-3)

Terjemahnya:
18
Ibid, h. 516.

19 Ibid, h. 542
20 Ibid, h. 364

Haa Miim. Demi Kitab (Al-Quran) yang menjelaskan. Sesungguhnya kami


menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. (Q.S. al-Dukhan [44]: 1-3)21
Al-Quran sebagaimana diketahui diturunkan oleh Allah Swt. Dalam
bahasa Arab baik lafal maupun uslubnya, suatu bahasa yang kaya akan kosa kata
dan sarat maknanya. Kendati al-Quran berbahasa Arab, tidak semua orang Arab
atau orang mahir dalam bahasa Arab dapat memahami al-Quran secara rinci,
bahkan para sahabat mengalami kesulitan untuk memahami kandungan al-Quran.
Al-Quran terdiri dari 114 surah dan susunannya ditentukan oleh Allah
dengan cara tauqifi yang tidak menggunakan metode sebagaimana penulisan
karya-karta ilmiah yang lain. Al-Quran diturunkan oleh Allah Swt. Secara
bertahap. Para ulama membagi sejarah turunnya Al-Quran menjadi dua periode,
yakni periode sebelum hijrah dan periode sesudah hijrah. Ayat-ayat yang turun
pada periode pertama dinamai ayat-ayat madaniyyah.
a. Periode pertama sebelum hijrah
Pada periode pertama kandungan Al-Quran diturunkan berisikan hal-hal
yang berkenaan dengan pendidikan Rasulullah Saw. dalam membentuk
kepribadiannya. Hal ini dapat digambarkan dalam al-Qur,an pada (QS. AlMudatsir [74]: 1-7) sebagai berikut:

Terjemahnya:
Hai orang yang berselimut. Bangunlah berikanlah peringatan. Dan
Tuhanmu besarkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Perkara yang tidak
suci hindarkanlah. Dan janganlah memberi karena berharap memperoleh
banyak darinya. Dan untuk memenuhi perintah Tuhan hendaklah engkau
berhati teguh. (Q.S. Al-Mudatsir [74]: 1-7)22
21 Ibid, h. 728
22 Ibid, h. 868.

Periode pertama ini juga turun berkenaan dengan pengetahuan dasar


mengenai sifat dan afal Allah yang berkaitan dengan tauhid dan keterangan yang
berkenaan dengan dasar-dasar akhlak Islamiah serta bantahan-bantahan secara
umum mengenai pandangan hidup masyarakat jahiliah ketika itu, misalnya pada
(QS. at-Takatsur [102]: 1-8) sebagai berikut:

Terjemahnya:
Kamu dilalaikan oleh berlomba-lomba memperbanyak kekayaan,
sampai kamu mengunjungi kuburan, jangan begitu! Nanti kamu akan
mengetahui, sekali lagi jangan! Nanti kamu akan mengetahui dengan
pengetahuan yang pasti. Tentulah kamu akan melihat neraka, sekali
lagi, tentulah kamu akan melihatnya dengan pemandangan yang pasti,
di kemudian hari itu sudah tentu kamu akan ditanyai tentang
kesenangan. (Q.S. at-Takatsur [102]: 1-8)23
Ayat-ayat di atas sebagai ancaman terhadap orang-orang yang menumpuk
harta dan (QS. al-Maauun [107]: 107)

Terjemahnya:
Tahukah kamu orang yang mendustakan agama, itulah orang yang mengusir
anak yatim, dan tidak menganjurkan untuk memberikan makanan kepada
orang miskin, sebab itu celaka untuk orang yang shalat, yang lalai dalam
shalatnya, yang mengerjakan kebaikan untuk dilihat orang, dn enggan
membayar zakat. (QS. al-Maauun [107]: 107)24
Ayat tersebut menerangkan kewajiban terhadap fakir miskin dan anak yatim
serta pandangan agama mengenai hidup bergotong royong.
Periode pertama ini menimbulkan bermacam-macam dan beraneka ragam
reaksi di kalangan masyarakat Arab ketika itu. Reaksi-reaksi itu terdiri dari tiga
23 Ibid, h. 928.

24 Ibid, h. 932.

10

hal pokok yakni; pertama; segolongan kecil dari mereka menerima dengan baik
ajaran Al-Quran, kedua; sebagian besar dari masyarakat Arab menolak ajaran AlQuran karena kebodohan mereka, keteguhan mereka terhadap adat istiadat dan
ketiga; dakwah Islam mulai melebar melampaui perbatasan Mekkah menuju
daerah-daerah sekitarnya.
b. Periode Kedua Setelah Hijrah
Periode kedua dari turunnya al-Quran, di mana terjadi pertarungan hebat,
antara gerakan Islam dan Jahiliyah. Pada masa ini Rasulullah Saw, berhijrah ke
Madinah. Masa inilah ayat-ayat al-Quran turun dengan menerangkan kewajibankewajiban prinsipil penganutnya sesuai dengan kondisi dakwah ketika itu. Ayatayat al-Quran turun dalam konteks ancaman yang pedas kepada kaum musyrik
yang berpaling kepada kebenaran. Selain itu turun juga ayat mengandung
argumentasi mengenai keesaan Tuhan dan kepastian hari kiamat berdasarkan
tanda-tanda yang dapat mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Quran turun diperuntukkan kepada semua umat manusia, tidak
mengkhususkan pembicaraannya kepada bangsa tertentu, kelompok tertentu atau
kepada agama tertentu al-Quran mengarahkan pembicaraan kepada seluruh umat
manusia tanpa mengenai bangsa, agama dan suku.
Al-Quran yang mulai memuat tujuan kepada umat manusia dengan
sempurna, kesempurnaan itu meliputi seluruh pandangan realistis tentang alam,
akhlak dan perbuatan-perbuatan hukum lainnya. Al-Quran merupakan kitab yang
abadi, karena al-Quran yang mulai merupakan perkataan (kalam) seperti halnya
perkataan lain yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi diantara

11

sesama manusia. Bahasa al-Quran memberikan petunjuk yang jelas terhadap


makna-makna dan gambaran yang dimaksudkannya, mudah di pahami dan
dimengerti dari kata-kata dan kalimatnya.
2. Keontetikan dan Kebenaran Al-Quran
Al-Quran al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan
sifat. Salah satu diantaranya adalah al-Quran merupakan kitab yang
keotentikannya dijamin oleh Allah dan kitab yang selalu dipelihara. sepanjang
masa. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya, (QS. al-Hijr [15]: 9)

Terjemahnya:
'Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya
Kami benar-benar memeliharanya. (Q.S. al-Hijr [15]: 9)25
Ayat diatas merupakan jaminan keotentikan al-Quran. Hak ini merupakan
jaminan atas dasar kemahakuasaan dan kemahatauan Allah Swt. Serta bakat upaya
yang dilakukan oleh makhluk-makhluknya terutama manusia. Dengan jaminan
ayat diatas setiap muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan di dengar sebagai
al-Quran tidak berbeda sedikitpun dengan apa yang pernah dibaca oleh
Rasulullah Saw.
Ada dua metode yang ditempuh oleh Rasulullah saw, para sahabat, tabiin
sampai umat Islam yang hidup pada zaman modern ini dalam menjaga
keotentikan Al-Quran, yaitu:
a. Metode Hafalan (al-Thaariqah Hifdziyyah)

25Ibid, h. 364

12

Metode hafalan, yaitu metode menjaga keotentikan al-Quran dengan


menghafal redaksi ayat-ayatnya, baik sebagian maupun keseluruhan al-Quran.
Metode ini telah dipraktekkan oleh Rasulullah Saw. melalui bimbingan langsung
malaikat Jibril as. Setiap ayat yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. maka
beliau langsung menghafalnya. Malaikat Jibril as. tidak akan meninggalkan
Rasulullah Saw. sebelum hafalan tersebut diselesaikan.
Suatu ketika Rasulullah Saw. terlalu tergesa-gesa dalam menyelesaikan
hafalannya karena ingin segera menguasai wahyu yang baru diterimanya,
sehingga Allah Swt. Menegur langsung beliau. Hal ini menjadi sebab turunnya
(asbab al-Nuzul)26 (QS. al-Qiyamah [75]: 16)

Terjemahnya:
'Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Quran karena
hendak cepat-cepat (menguasai) nya. (Q.S. al-Qiyamah [75]: 16)27
Dengan kata lain, prinsip kehati-hatian diterapkan dalam menghafal alQuran, sehingga setiap huruf dan kata dalam ayat al-Quran mampu dikuasai oleh
Rasulullah Saw. seperti yang diinginkan oleh Allah Swt.
Setelah Rasulullah Saw. menghafalnya maka ayat al-Quran ini akan
diajarkan kepada para sahabat dan mereka pun akan menghafalnya dengan
bimbingan Rasulullah Saw. para sahabat berkali-kali mengulang-ulang bacaan
mereka di hadapan Rasulullah Saw. sampai mereka mantap dalam menghafalnya.
Mereka akan bertanya kepada Rasulullah Saw. "Adakah aku telah menghafalnya
seperti apa yang telah diturunkan? Mereka baru berhenti jika Rasulullah Saw.
26Qamaruddin Shaleh, et.al, Asbabun Nuzul, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat
Alquran (Cet. XV; Bandung: Diponegoro, t.th), h. 561.
27Departemen Agama R.I, op.cit, h . 999

13

membenarkannya. Jika para sahabat telah menghafalkan al-Quran maka mereka


akan menyebarluaskan hafalannya kepada orang lain, baik isteri maupun anakanak mereka, sehingga hampir seluruh Kota Madinah akan menghafalkan ayatayat al-Quran yang baru diturunkan tersebut.28
Diantara para sahabat yang menghafal al-Quran, yaitu: Abu Bakar alShiddiq, 'Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Tsabit, Muadz bin Jabal,
Abu Zaid, Abu Darda, Abdullah bin Umar, Ubadah bin Shamit, Abu Ayyub alAnshari, Ustman bin 'Affabm Sa'ad bin Ubaid, Abu Tamim, Mujammi' bin
Jariyah, Abu Musa al-Asyari, Qais Abi Sha'sha'ah, Abdullan bin Mas'ud, Ummu
Waraqah, Hafshah bin Umar, 'Aisyah, Salim bin Ma'qil, Abdullan bin 'Abbas, dan
sebagainya. Generasi tabin juga melanjutkan tradisi menghafal Al-Quran di
bawah bimbingan para sahabat.29
Diantara generasi tabiin yang menghafal al-Quran, yaitu: Ibnu
Musayyab, Urwah, Umar bin Abdul Aziz, Sulaiman bin Yasar, Ibnu Syihab alZuhri, Abdurrahman bin Hurmuz, Muadz bin Harits, 'Atha', Mujahid, Thawus,
Ikrimah, Ibnu Abi Mulaikah, Ubaid bin Umar, Amir bin Abdul Qais, Abu 'Aliyah,
Nashr bin 'Ashim, Yahya bin Mamar, Ruba'I bin Khaitam, Harits bin Qais, Umar
bin Syurahbil, Amar bin Maimun, Abu Abdurrahman al-Sulami, Ubaid bin

28 Abu Abdullah al-Zanjani, Tarikh Alquran, diterjemahkan oleh Kamaluddin Marzuki


Anwar, et.al. dengan judul Wawasan Baru Tarikh Alquran (Cet. III; Bandung: Mizan, 1993), h.
59-60.

29Ahsin W. Al-Hafidz, Bimbingan Praktis Menghafal Alquran (Cet. I; Jakarta : Bumi Aksara,
1994), h. 15.

14

Fadhalah, Abu Mur'ah bin Amr, Sa'id bin Jabir, Mughirah bin Abu Shihab alMakhzumi, Khulaib bin Sa'id, dan sebagainya.30
Pada masa Bani Umaiyah dan Abbasiyah, hafalan al-Quran bahkan telah
menjadi kurikulum yang wajib dipelajari pada tingkat sekolah dasar yang disebut
al-Kuttab, sehingga banyak anak-anak kecil yang lulus dari al-Kuttab sudah
menghafal al-Quran.31
Tradisi menghafal al-quran terus berlanjut sampai zaman modern.
Lembaga-lembaga pendidikan yang mewajibkan hafalan al-Quran 30 juz tumbuh
subur di mana-mana. Berbagai madrasah dan Universitas di Timur Tengah
mewajibkan siswa dan mahasiswanya menghafal al-Quran, seperti Universitas
Al-Azhar, Kairo, Mesir; Universitas King Abdul Aziz, Riyadh dan Universitas
Umm al-Qurra, Madinah, di Arab Saudi. Di Indonesia tumbuh pula berbagai
lembaga pendidikan yang mengajarkan hal yang sama, seperti Institut Ilmu alQuran (IIQ) Jakarta; Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta; Pondok Pesantren
Ummul Quran Singosari, Jawa Tengah; Pondok Pesantren Al-Fatah, Magetan,
Jawa Timur, dan sebagainya.
Melimpahnya jumlah penghafal al-Quran di dunia menyebabkan kesalahan
dalam menulis al-Quran atau tindakan menghilangkan sebagian dari ayat alQuran, merubah letak hurufnya atau merubah maknanya akan langsung diketahui,
sehingga otentitas al-Quran akan tetap terjaga.
b. Metode Penulisan (al-Thaariqah al-Kitaabah)

30Ibid, h. 18
31Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam (Cet. VI; Jakarta: Hidakarya Agung, 1990), h. 35.

15

Metode penulisan, yaitu metode menjaga keotentikan al-Quran dengan


menuliskan ayat al-Quran atau mengkodifikasikannya dalam bentuk mushaf.
Rasulullah Saw. walaupun seorang yang ummi (tidak dapat membaca dan
menulis) sadar akan pentingnya memelihara otentitas al-Quran dalam bentuk
tulisan, sehingga setiap ayat yang telah diwahyukan kepadanya maka segera ia
memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya dalam berbagai media yang
terpisah-pisah, seperti kulit, tulang-belulang, kain, pelepah kurma dan sebagainya.
Para penulis wahyu pada zaman Rasulullah Saw. terdiri dari 34 orang, diantaranya
adalah: Abu Bakar al-Shiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin 'Affan, 'Ali bin Abi
Thalib, Zaid bin Tsabit, Abu Sufyan, Said bin Al-Ash, Aban bin Said, Khalid bin
Said, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin Abi Waqqash, Amar
bin Fahairah, Abudullan bin al-Arqam, Abdullah bin Rawahah, Abdullah bin Said
bin Abi al-Sarh, Ubai bin Kaab, Tsabit bin Qais, Hanzalah bin al-Rabi, Syurahbil
bin Hasanah, Ala bin Hadhrami, Khalid bin Walid, Amr bin al-Ash, Mughirah
bin Syubah, Muaiqib bin Abi Fathimah al-Dusi, Khuzaifah bin al-Yaman, dan
Huwaithib bin Abdil Uzza al-Amiri. Diantara mereka yang paling banyak
menuliskan al-Quran untuk Rasulullah Saw. adalah Zaid bin Tsabit dan Ali bin
Abi Thalib.32
Upaya penulisan al-Quran tidak bercampur dengan yang lain maka
Rasulullah Saw. melarang para sahabatnya menulis al-Hadits, sebagaimana
sabdanya:

:
, :
32Abu Abullah al-Zanjani, op.cit, h. 63-64

16


( )
Artinya:
'Dari Abu Said al-Khudri, bahwa Rasulullah Saw. bersabda: "Janganlah
kemu tulis dari aku. Barang siapa menuliskan dari aku selain Al-Quran
hendaklah dihapus. Dan ceritakan apa yang dariku, dan itu tiada halangan
baginya. Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, ia akan
menempati tempatnya pada api neraka."
Sekalipun ada beberapa orang sahabat yang diizinkan oleh Rasulullah
untuk menulis al-Hadits, namun perintah tersebut berlaku umum, sehingga
kondifikasi al-Hadits nanti dilakukan ketika kodifikasi al-Quran benar-benar
sudah kukuh, tepatnya pada masi Bani Umayyah ketika Umar bin 'Abdul Aziz
menjadi khalifah.33
Kodifikasi al-Quran dalam bentuk mushaf terwujud pada zaman Khalifah
Abu Bakar al-Shiddiq atas usul dari Umar bin Khattab. Khalifah Abu Bakar alShiddiq membentuk panitia kodifikasi al-Quran yang diketuai oleh Zaid bin
Tsabit. Dalam mengkodifikasi al-Quran, Zaid bin Tsabit menempuh metode cross
check, yaitu mengecek hafalannya sendiri, diperbandingkan dengan minimal dua
orang penghafal al-Quran yang lain, serta diperbandingkan pula dengan tulisa AlQuran yang tersebar pada berbagai media yang ditulis pada zaman Rasulullah
Saw. Kodifikasi al-Quran tersebut akhirnya dapat diselesaikan dan diserahkan
kepada Hafsah umm al-mukminin untuk disimpan. Pada masa Utsman bin 'Affan,

Abi al-Husain Muslim bin Jajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi, Shahih Muslim, Juz I (Beirut: Dar alFikr, 1413 H / 1993 M), h. 4
33 Manna Khalil al-Qattan, op.cit. h. 3

17

kodifikasi al-Quran tersebut diperbanyak untuk penyatuan cara membaca dan


menulis Al-Quran.34
Dengan adanya mushaf al-Quran yang ditulis dengan sangat teliti maka
menjadi salah satu media yang paling baik untuk menjaga keotentikan al-Quran
bersamaan dengan metode hafalan. Apabila hafalan seseorang melenceng dari teks
yang sebenarnya akan mudah di cross check melalui mushaf al-Quran, sedangkan
kesalahan penulisan mushaf al-Quran akan langsung dapat diketahui oleh para
penghafal al-Quran yang hafalannya telah sesuai dengan mushaf al-Quran yang
benar.
Berkenaan dengan keotentikan al-Quran tersebut maka menurut Abdul
Halim Mahmud mengatakan: Para orientalis yang dari saat kesaat berusaha
menunjukkan kelemahan al-Quran tidak mendapatkan celah untuk meragukan
keotentikannya.35 Syed Mahmudunnasir mengatakan:
Ia muncul di lingkungan orang-orang paling niraksara (buta huruf). Pada
waktu itu, seluruh dunia seni menulis baru sejak lahir. Daya ingatan
manusia merupakan satu-satunya pemelihara sejarah masa silam, dan hal
ini merugikan bagi keaslian catatan-catatan seperti itu. Karena itulah
hampir semua Kitab Suci tidak bisa mempertahankan teks aslinya. AlQuran pada tahap sejarah ini, menyatakan bahwa ia akan tetap terbebas
dari segala penyimpangan dari keasliannya; dan dewasa ini kita melihat
ramalan itu terpenuhi seluruhnya. Ia disusun menurut syarat-syarat yang
paling bersih dan paling otoritatif, dan ia hanya bisa datang dari Dia yang
memiliki pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang, dan
juga memiliki kekuasaan menciptakan hal-hal yang akan membuat katakata-Nya menjadi kenyataan.36

34 Abu Abdullah al-Zanjani, op.cit, h. 86-93


35 M. Quraish Shihab, Membumikan Alquran, Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Masyarakat
(Bandung: Mizan, 1994), h. 41.
36 Departemen Agama R.I, op.cit, h. 12

18

Pernyataan tersebut dinyatakan oleh bukti-bukti kesejarahan

al-Quran

yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, tidak mempunyai keraguan dan
kelemahan sedikitpun dimana al-Quran adalah wahyu yang bersifat mutlak dan
absolut. Pada hakekatnya al-Quran memperkenalkan dirinya sebagai firmanfirman Allah dan membuktikan hal tersebut dengan menentang siapapun untuk
menyusun seperti keadaannya. Allah Swt. Berfirman dalam (QS. al-Baqarah [2]:
23) sebagai berikut:

Terjemahnya:
'Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami
wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang
semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika
kamu orang-orang yang benar. (Q.S. al-Baqarah [2]: 23) 37
Dalam konteks ini, Manna Khalil al-Qattan mengatakan:
Sejarah menyaksikan, ahli-ahli bahasa telah terjun ke dalam medan
festival bahasa dan mereka memperoleh kemenangan. Tetapi tidak
seorangpun di antara mereka yang berani memproklamirkan dirinya
menantang al-Quran, melainkan ia hanya mendapat kehinaan dan
kekalahan. Bahkan sejarah mencatat, kelemahan bahasa ini terjadi justru
pada masa kejayaan dan kemajuannya ketika al-Quran diturunkan. Saat itu
bahasa Arab telah mencapai puncaknya dan memiliki unsur-unsur
kesempurnaan dan kehalusan di lembaga-lembaga dan pasar bahasa. Dan
al-Quran berdiri tegak di hadapan para ahli bahasa dengan sikap
menantang, dengan berbagai bentuk tantangan.38
Menurut Mustafa Mahmud yang dikutip oleh M. Quraish Shihab
mengatakan:

al-Quran

sendiri

terdapat

bukti-bukti

sekaligus

jaminan

keotentikannya.39
37Syed Mahmudunnasir, Islam: Its Concepts and History, diterjemahkan oleh Tim Redaksi
Remaja Rosdakarya dengan judul Islam : Konsepsi dan Sejarahnya (Cet. I; Bandung: Remaja
Rosdakarya, t.th.), h. 444-445.
38Manna Khalil al-Qattan, op.cit, h . 380.
39M. Quraish Shihab, op.cit, h. 22

19

Huruf-huruf hijaiyah yang terdapat pada beberapa surah dalam al-Quran


adalah jaminan keutuhan al-Quran sebagaimana diterima oleh Rasulullah Saw.
Tidak lebih dan tidak kurang satu huruf pun dari kata-kata yang digunakan alQuran. Menurut M. Quraish Shihab yang disadur dalam bukunya Membumikan
Al-Quran bahwa ada beberapa faktor pembuktian otentitsitas al-Quran, yakni
bahwa:
1. Masyarakat Arab yang hidup pada masa turunnya al-Quran adalah
masyarakat yang tidak mengenal baca tulis. Karena satu-satunya
andalan masyarakat Arab adalah hafalan yang sangat kuat.
2. Masyarakat Arab pada masa turunnya al-Quran dikenal adalah
masyarakat yang sederhana dan bersahaja.
3. Masyarakat Arab sangat gandrung dan membanggakan kesusastraan
bahkan kesusastraan diperlombakan pada bidang-bidang tertentu.
4. Al-Quran dari segi bahasa sangat mengagumkan dan sangat indah
bagi orang-orang mukmin tetapi juga orang kafir.
5. Al-Quran dianjurkan oleh Rasulullah untuk diperbanyak dibaca dan
dipelajari dan anjuran tersebut mendapat sambutan hangat.
6. Ayat-Ayat al-Quran turun dengan berdialog dengan mereka,
mengomentari keadaan dan peristiwa yang dialami oleh masyarakat
Arab.
7. Dalam al-Quran ditemukan petunjuk yang mendorong para
sahabatnya untuk selalu bersikap teliti dan hati-hati salah
menyampaikan berita.40
B. Ciri-Ciri Masyarakat Tradisionalisme dan Masyarakat Modernisme
Perkembangan dan pembaharuan pemikiran di dunia Islam, sangat
mempengaruhi corak dan karakteristik masyarakat muslim. Sebagaimana yang
diistilahkan kepada kaum tradisionalis bahwa pemikiran tradisionalisme
merupakan faham klasik yang dipolarisasikan dengan tradisi lokal yang sesuai
dengan realitas sosialnya. Maka karakteristik dari masyarakat tradisionalisme
adalah masyarakat agraris yang secara sosiologis merupakan komunitas pedesaan
yang menafsirkan Islam berdasarkan tradisi dan kebudayaan lokalnya.
40Ibid,h. 23

20

Secara kultural kalangan Nahdliyin seringkali dicitrakan dengan


keberagaman yang sinkretis, ortodoks dan relatif tertutup oleh perubahan. Dalam
konteks

tersebut

maka

masyarakat

tradisionalisme

diindentikkan

dalam

dakwahnya sebagai masyarakat yang mewariskan budaya Islam klasik dan tradisi
lokal yang oleh kaum modernisme menyebut sebagai penganut takhayul, bidah
dan khurafat yang merupakan ajaran dan perilaku yang tidak ditemukan dalam
zaman Nabi Muhammad Saw.
Masyarakat tradisionalisme selalu berusaha membangun satu model
keberagaman yang menyantuni tradisi yang ramah. Dalam artian bahwa
masyarakat tradisionalisme menempatkan keislamannya sebagai visi baru
keberagamaan yang masuk ke dalam ruang dengan berbagai penghayatan atas
tradisi dan kepercayaan lama, sehingga Islamisasi dimaknai sebagai dialog
wawasan keagamaan dengan penghayatan lokal.
Berbeda

dengan

masyarakat

tradisionalis,

kaum

modernis

Islam

menganjurkan penafsiran ulang atas Islam secara fleksibel dan berkelanjutan


sehingga kaum muslim dapat mengembangkan institusi pendidikan, hukum dan
politik sesuai dengan kondisi kemodernan.
Modernisme merupakan upaya untuk kembali pada ajaran Islam yang
sebenarnya, seperti halnya yang di praktekan oleh Rasulullah Saw, inilah
kemudian yang menjadi materi dakwah kaum modernis untuk mencari simpati
bagi masyarakat muslim dalam gerakan modernisasi di dunia Islam. Menonjolnya
gerakan modernisme terletak pada liberalisme filsafat dan politik yang dimainkan
oleh pelakunya. Gerakan modernisme dimulai dengan anggapan bahwa dunia

21

Islam telah mengalami kemunduran bila dibandingkan dengan Barat dan gerakan
modernisasi dilakukan dalam rangka mengembalikan keseimbangan antara
kekuatan Eropa dan Barat ke dalam lingkungan dunia Islam. Rujukan dari
pemikiran kaum modernis Islam terkait dengan kebangkitan tradisi filsafat
rasionalis Islam yang membedakan antara pengetahuan yang didapati dari wahyu
dan pengetahuan yang diperoleh melalui olah pikir.
Berdasarkan hal diatas, menurut Faisal Ismail:
Kaum modernis membuktikan gagasannya melalui pendekatan sejarah
dengan mengklaim kembali pada prinsip ajaran Islam. Dalam kaitan ini
modernisme cenderung mengikuti pola abad ke-18 yang menekankan
aspek keimanan yang kuat dan amaliah seperti yang digariskan oleh AlQuran dan Sunnah. Kaum modernis dapat dikelompokkan dalam gerakangerakan skripturalis moderen awal yakni Wahabbiyah di Arab Saudi.
Lingkaran Studi Syah Wali Allah di India dan tarekat-tarekat sufi di
seluruh dunia. Tokoh-tokoh kaum modernis antara lain Jamaluddin alAfghani dan Muhammad Abduh. Gerakan ini muncul karena menyaksikan
banyaknya praktek-praktek tahayul dan khurafat yang dinilai telah
menjurus kepada perbuatan syirik yang terjadi di berbagai wilayah Islam
di tanah Arab.41
Dengan demikian munculnya Muhammad Abduh dengan ide-ide
pembaharuannya untuk memberantas praktek-praktek yang dinilainya tidak
Islami.
Dalam diskursus pemikiran modernisme terdapat beberapa ciri antara lain
dengan menitikberatkan pada ciri apologetic, yakni sikap pembelaan terhadap
Islam dari berbagai tantangan yang datang dari kaum kolonial dan misionaris
Kristen. Apologi ini dimaksudkan untuk memperlihatkan kelebihan Islam atas
peradaban Barat. Pada ciri dan karakteristik yang lain, kaum modernisme
mengharuskan ijtihad dalam masalah-masalah kemasyarakatan dan penolakan
41Faisal Ismail, Pijar-Pijar Islam, Pergumulan Kultur dan Struktur (Jakarta: Litbang Departemen
Agama R.I, 2002) h. 162.

22

terhadap sijak Jumud (kebekuan berfikir) serta taqlid buta (mengikuti seseorang
tanpa mengetahui landasan pemikirannya).
Berdasarkan konteks pemikiran di atas, maka dapat dikatakan bahwa ciri
khas masyarakat tradisionalisme adalah faham masyarakat yang menafsirkan
Islam berdasarkan tradisi pemikiran Islam klasik yang dipolarisasikan dengan
tradisi lokal berdasarkan realitas sosial masyarakatnya, sedangkan masyarakat
modernisme yakni suatu faham masyarakat yang menafsirkan teks Islam kembali
kepada ajaran yang sebenarnya yang sesuai dengan zaman kemodernan.

C. Pemahaman Al-Quran Di Kalangan Masyarakat Tradisionalisme dan


Modernisme
Al-Quran merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad Saw. sebagai pedoman bagi manusia dalam menata kehidupannya
agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Konsep-konsep yang
dibawa al-Quran selalu relevan dengan problem yang dihadapi manusia karena alQuran turun untuk berdialog dengan setiap umat yang ditemuinya sekaligus
menawarkan pemecahan terhadap problema manusia tersebut.
Sebagai sumber ajaran agama Islam, al-Quran dalam membicarakan suatu
masalah sangat unik tidak tersusun secara sistematik. Bagi kaum modernis
beranggapan bahwa al-Quran jarang sekali membicarakan suatu masalah secara
rinci kecuali menyangkut aqidah, pidana dan beberapa masalah tentang hukum

23

keluarga. Umumnya al-Quran membicarakan sesuatu secara global. Dalam


realitas historis menurut Amin Abdullah:
Al-Quran memerlukan penafsiran teks kembali, menjadi respon dari
pemikiran kaum modernis. Corak respon dari gerakan keagamaan untuk
kembali ke al-Quran dan Sunnah yang dipelopori kaum modernis yang
terkait erat dengan gerakan ijtihad dan tajdid. Pemahaman terhadap teks
al-Quran oleh kaum modernis selalu mempertautkan antara aspek
normativitas al-Quran dan as-Sunnah dengan aspek historitas kekhalifaan
manusia di muka bumi.42
Secara normatif anjuran ijtihad diharuskan oleh al-Quran. Dalam konteks
tersebut maka kaum modernis memahami al-Quran bukan dalam konteks teks itu
sendiri melainkan teks yang telah menyatu dalam historis pemahaman manusia.
Teks al-Quran yang menekankan perlunya menyantuni anak yatim oleh kalangan
modernis dianggap tidak boleh diperlakukan sebagai teks yang terpisah dari
kegiatan manusia. Teks tersebut lebih-lebih pada konteks norma dan nilai yang
terkandung dalam teks itu perlu dilaksanakan dialam dunia ini, ia harus terkait
langsung dengan realitas historis praksis kekhalifahan manusia. Modernisme
Islam mengalami perkembangan yang pesat dan produktif dalam memahami alQuran.
Sebagaimana corak pemikiran tradisionalisme yang menafsirkan teks alQuran dalam berdasarkan realitas sosialnya yang mengidentifikasikan persoalanpersoalan sosial yang dihadapi manusia dalam konteks lokalnya. Pada konteks ini
kaum tradisionalis melakukan interprestasi teks dengan maksud menemukan suatu
orientasi paradigmatik mengenai pembebasan yang ada dalam teks al-Quran.
Kaum tradisionalis menafsirkan teks dengan membaca realitas dari dalam teks al42M. Amin Abdullah, Dinamika Islam Kultural, Pemetaan Atas Wacana Keislaman Kontemporer
(Cet. I; Bandung: Mizan, 200), h. 29.

24

Quran. Dalam proses interprestasi ini kaum tradisionalis mamahami teks


pewahyuan masa lalu akan tetapi lebih memahami spirit teks pada masa lalu
sebagai pendasaran adanya dinamika kandungan teks dalam bahasa. Setelah
makna-makna linguistik dan keadaan sejarah ditentukan maka penafsiran melalui
generalisasi makna dari situasi sebab ayat al-Quran turun dan situasi sejarah atau
kondisi sosio kultural masa lalu agar dapat dikondisikan dan ditafsirkan pada
konteks dan realitas sosial kekinian. Pada tahap ini akan ditemukan makna baru
dalam rangka menyikapi kasus-kasus tertentu era kontemporer.
Generalisasi yang merupakan langkah kedua dari kegiatan penafsiran teks
akhirnya membuka peluang bagi munculnya kritik praktis terhadap realitas sosial,
sebagaimana disebutkan bahwa makna baru dapat diperoleh dari interprestasi
yang kemudian berfungsi untuk memformulasikan terhadap masalah atau realitas
tertentu. Kaum tradisionalis memahami bahwa dalam banyak kasus ayat-ayat alQuran tidak menjelaskan sesuatu secara detail, saat Nabi masih hidup umat Islam
tidak mendapatkan kesulitan dalam menentukan status hukum yang terkait dengan
masalah-masalah praktis kehidupan. Sebagai penerima wahyu sangat logis jika
Nabi diyakini sebagai orang yang perilaku serta ucapannya bersifat otoritatif.
Karena inilah wajar jika sunnah Nabi dianggap sebagai penjelasan terhadap alQuran, secara sederhana dapat dikatakan bahwa Nabi berbuat sesuai dengan
kehendak

al-Quran. Namun setelah Nabi wafat, tafsir hidup itu tidak ada lagi,

sementara permasalahan sosial terus berkembang dengan demikian maka


kebutuhan yang paling mendesak adalah bagaimana setiap permasalahan yang
muncul mendapatkan legalitas keagamaan.

25

Aspek-aspek terpenting pada masyarakat tradisionalis dalam tradisi


keilmuan untuk memahami al-Quran dengan doktrin keagamaan yang disebut
dengan Aqidah Ahl as-Sunnah wa al-Jamaah. Doktrin tersebut berpangkal pada
tiga dimensi panutan yakni mengikuti paham al-Asariyah dan al-Maturidiyah
dalam bertauhid mengesahkan Allah dan mengakui keutusan Muhammad Saw.
sebagai Nabi. Mengikuti salah satu mazhab figh yang empat. Di bidang tasawuf
sesuai dengan ajaran Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali. Inti dari
tradisi keilmuan yang dianut oleh kaum tradisionalis yakni perpautan organis
antara tauhid, fiqh dan tasawuf yang menumbuhkan pandangan terpautnya sendiri
antara dimensi keduniaan dan dimensi keakhiratan.