Anda di halaman 1dari 21

I.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kesehatan merupakan

bagian

terpenting

dari

pembangunan

nasional.Tujuan diselenggarakannya pembangunan kesehatan adalah


meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap

orang

agar

terwujud

derajat

kesehatan

masyarakat

yang

optimal.Menuju tercapainya tujuan pembangunan kesehatan tersebut


diselenggarakan

berbagai

upaya

kesehatan

secara

menyeluruh

(komperhensif) yang meliputi pelayanan promotif, preventif, kuratif dan


rehabilitatif secara berjenjang dan terpadu.
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten
atau kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan
kesehatan di suatu wilayah kerja. Puskesmas berperan menyelenggarakan
sebagian dari tugas teknis operasional dinas kesehatan kabupaten atau kota
dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak
pembangunan kesehatan di Indonesia termasuk memberikan pelayanan
kesehatan terhadap pasien. (Sulastomo, 2007).
Berdasarkan Kepmenkes No. 128 tahun 2004, Puskesmas adalah
penanggung jawab penyelenggara upaya kesehatan untuk jenjang tingkat
pertama. Puskesmas merupakan unit organisasi pelayanan kesehatan
terdepan yang mempunyai misi sebagai pusat pengembangan pelayanan,
yang

melaksanakan

pembinaan

dan

pelayanan

kesehatan

secara

menyeluruh dan terpadu untuk masyarakat yang tinggal disuatu wilayah


kerja tertentu. Wilayah kerja puskesmas pada mulanya ditetapkan satu
kecamatan, kemudian dengan semakin berkembangnya kemampuan dana
yang dimiliki oleh pemerintah untuk membangun puskesmas, wilayah
kerja puskesmas ditetapkan berdasarkan jumlah penduduk di satu
kecamatan, kepadatan dan mobilitasnya.
Visi Puskesmas Kebasen yang ditetapkan sejak tahun 2010 adalah
Terwujudnya Pelayanan Prima dan Masyarakat Sehat Mandiri dan

Berkeadilan Menuju Kecamatan Sehat Tahun 2015. Untuk mewujudkan


visi tersebut maka ditetapkan misi yang antara lain :
Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar paripurna yang
bermutu, merata, terjangkau, dan berkeadilan kepada seluruh lapisan
masyarakat.
1. Meningkatkan kinerja dan kompetensi sumber daya manusia.
2. Meningkatkan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai.
3. Mendorong peran serta dan kemandirian perorangan, keluarga, dan
masyarakat untuk hidup sehat.
4. Membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat kepada seluruh lapisan
masyarakat.
5. Menjalin kemitraan dengan berbagai pihak terkait dengan kesehatan.
6. Meningkatkan kesejahteraan seluruh karyawan puskesmas.
Puskesmas sebagai pelayanan kesehatan dasar pada masyarakat,
dalam pelaksanaan kegiatannya dijalankan dalam bentuk 6 program
pokok Puskesmas.Namun pada umumnya program pokok Puskesmas ini
belum dapat dilaksanakan secara optimal. Adanya keterbatasan dan
hambatan baik di Puskesmas maupun masyarakat dalam pelaksanaan
program pokok Puskesmas maka untuk mengatasinya harus berdasarkan
skala prioritas sesuai permasalahan yang ada, dengan memanfaatkan
potensi yang ada di masyarakat dengan melakukan pemberdayaan
masyarakat.
Salah satu hal yang menjadi masalah di puskesmas Kebasen adalah
program Pemberantasan Penyakit Menular (P2M). Program P2M memiliki
tujuan menemukan kasus penyakit menular sedini mungkin, dan
mengurangi

berbagai

faktor

resiko

lingkungan

masyarakat

yang

memudahkan terjadinya penyebaran suatu penyakit menular. Permasalahan


yang muncul pada bagian Pemberantasan Penyakit Menular berdasarkan
10 penyakit menular salah satu yang tertinggi di Puskesmas Kebasen dari
bulan Januari-Desember tahun 2015 yaitu penyakit diare sebanyak 1226
kasus. Data terbaru tahun 2016 bulan Januari sampai Februari jumlah
2

penderita diare sebanyak 224 baik dari rawat jalan maupun rawat inap.
Berdasarkan masalah diatas maka perlu dianalisa ulang mengenai
kekurangan dalam pelaksanaan program-program puskesmas terutama
program P2M mengenai penyakit diare di Puskesmas Kebasen.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mampu menganalisa masalah kesehatan dan metode pemecahan
masalah kesehatan di Puskesmas Kebasen
2. Tujuan Khusus
a.

Mengetahui gambaran umum keadaan kesehatan di wilayah


kerja Puskesmas Kebasen

b.

Mengetahui secara umum program dan cakupan program P2M


Diare di Puskesmas Kebasen

c.

Mengetahui pelaksanaan dan keberhasilan program P2M Diare


di Puskesmas Kebasen

d.

Menganalisis kekurangan dan kelebihan pelaksanaan program


P2M Diare di Puskesmas Kebasen

C. MANFAAT PENULISAN
1.

Menjadi bahan pertimbangan bagi Puskesmas dalam melakukan

2.

evaluasi kinerja P2M terutama penyakit Diare di Puskesmas Kebasen.


Menjadi dasar ataupun masukan bagi Puskesmas dalam mengambil

3.

kebijakan jangka panjang dalam upaya pencegahan penyakit Diare


Menjadi bahan pertimbangan bagi Puskesmas untuk mencari alternatif
pemecahan masalah sehingga dapat meningkatkan kinerja 6 program

4.

pokok PuskesmasKebasen khusunya pada bagian P2M.


Menjadi salah satu wacana untuk meningkatkan mutu pelayanan
kepada masyarakat pada umumnya dan individu pada khususnya di

5.

wilayah kerja Puskesmas Kebasen.


Menjadi bahan kajian pustaka dan pertimbangan untuk melakukan
penelitian serupa.
3

II.
A.

ANALISIS POTENSI DAN IDENTIFIKASI ISU STRATEGIS

GAMBARAN UMUM PUSKESMAS KEBASEN


1.
Keadaan Geografis
Kecamatan Kebasen merupakan salah satu bagian wilayah
Kabupaten Banyumas dengan luas wilayah 53,99 km2. Kecamatan
Kebasen terdiri dari 12 desa dengan batas-batas sebagai berikut :
a.

Sebelah Utara

b.

Sebelah Selatan

: Kecamatan Patikraja
: Kecamatan Sampang dan Kecamatan
Kroya KabupatenCilacap

c.

Sebelah Timur

: Kecamatan Banyumas dan

Kecamatan
Kemranjen
d.

Sebelah Barat

: Kecamatan Rawalo

Gambar 1. Denah Wilayah Puskesmas Kebasen


Pemanfaatan lahan di Kecamatan Kebasen dapat dirinci sebagai
berikut :

2.

a. Tanah Sawah

: 1.049,60 Ha (19,43 %)

b. Tanah Pekarangan/ Bangunan

: 1.542,33 Ha (28,56 %)

c. Tanah Tegal/ Kebun

: 1.041,66 Ha (19,29 %)

d. Tanah Kebasen

: 10,800 Ha (0,20 %)

e. Tanah Hutan Negara

: 916,000 Ha (16,96 %)

f. Tanah Perkebunan Rakyat

: 565,100 Ha (10,44 %)

g. Lain-lain

: 274,025 Ha (5,09 %)

Keadaan Demografi
a.
Pertumbuhan Penduduk
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kecamatan Kebasen
tahun 2015, jumlah penduduk Kecamatan Kebasen adalah 66.080 jiwa
terdiri dari 33.540 jiwa laki-laki (50,76 %) dan 32.540 jiwa
perempuan (49,24 %) yang tergabung dalam 16.530 rumah
tangga/KK. Jika dibandingkan dengan tahun 2014, jumlah penduduk
pada tahun 2015 mengalami peningkatan. Jumlah penduduk tahun
2015 yang tertinggi di desa Cindaga sebanyak 11.221 jiwa, sedangkan
terendah di desa Tumiyang 1.607 jiwa. Kepadatan penduduk
b.

Kecmatan Kebasen sebesar 1.224/ km2


Tingkat Pendidikan
5

Badan Pusat Statistik Kecamatan Kebasen tahun 2015 mencatat


jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan adalah sebagai
berikut :
Jenis Kelamin
No

1
2
3
4
5
6

Jenis Pendidikan

Tidak/Belum
Tamat
SD/MI
Tamat SD/MI
SLTP/Sederajat
SLTA/Sederajat
Diploma III
Universitas

Perempua Jumlah
Laki-laki
n

7.806

7.866

15.672

9.960
3.481
1.997
392
248

10.197
2.836
1.432
311
158

20.157
6.317
3.429
703
406

(Sumber: Profil Puskesmas Kebasen Tahun 2015)

B.

PENCAPAIAN PROGRAM KESEHATAN


Untuk melihat gambaran dari derajat kesehatan masyarakat di wilayah
Puskesmas Kebasen, dapat dilihat dari angka kematian (mortalitas), angka
kesakitan (morbiditas) dan status gizi.
1.

Mortalitas
a.

Angka Kematian Bayi


Berdasarkan tabel 4 dalam lampiran buku profil ini, pada
tahun 2015 di Kecamatan Kebasen ada 955 lahir hidup, dengan 15
lahir mati dan jumlah bayi mati sebesar 0 bayi. Angka kematian
bayi (AKB) di Kecamatan Kebasen sebesar 15,7 per 1000 lahir
hidup, sehingga AKB dilaporkan sebesar 15,7. Sedangkan AKB
tahun 2014 sebesar 3,1. Dengan demikian ada peningkatan AKB
sebesar 12,6 . Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kematian
bayi yang tidak terpengaruh oleh jumlah kelahiran hidup pada
tahun 2015. Jika dibandingkan dengan IIS 2015 AKB di
Kecamatan Kebasen masih terhitung rendah (IIS 2014 = 40 per
1000 kelahiran hidup). Untuk itu perlu didukung oleh peningkatan
kualitas pelayanan dengan bertambahnya kemampuan tenaga medis
dan paramedis untuk penanggulangan kegawatdaruratan lewat
pelatihan atau diklat yang diikuti.
Tingginya

angka

kematian

bayi

menunjukkan

masih

rendahnya status kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang dapat
disebabkan oleh masih rendahnya akses dan kualitas pelayanan
kesehatan masyarakat khususnya pelayanan kesehatan ibu dan
anak, perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat khususnya ibu
saat hamil serta lingkungan masyarakat yang belum sepenuhnya
mendukung pentingnya kesehatan.

b. Angka kematian balita


Angka kematian balita (AKABA) merupakan jumlah
kematian anak balita (1 th 5 th) per 1000 kelahiran hidup dalam
kurun

waktu

tahun.

AKABA

menggambarkan

tingkat

permasalahan kesehatan anak balita, tingkat pelayanan KIA,


tingkat keberhasilan program KIA dan kondisi lingkungan.
Berdasarkan Tabel 5 lampiran profil kesehatan tahun 2015, angka
kematian balita ada 2, dibandingkan tahun 2014 ada 2,1 . Hal ini
berarti pada tahun 2015 menunjukan ada penurunan kasus kematian
balita dibanding tahun 2014.
Upaya yang sudah dilakukan dalam rangka menurunkan
angka kematian balita adalah pengembangan upaya kesehatan
bersumber masyarakat seperti pos pelayanan terpadu (posyandu),
penerapan

PHBS

dalam

setiap

tatanan

rumah

tangga,

penanggulangan kurang energi protein (KEP), pendidikan gizi,


penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar serta pencegahan
dan pemberantasan penyakit melalui surveilans dan imunisasi, serta
optimalisasi kegiatan kelas ibu balita dalam rangka meningkatkan
kemandirian keluarga dan masyarakat dalam merawat dan
memelihara kesehatan dan tumbuh kembang balita.
c. Angka Kematian Ibu
Berdasarkan Tabel 6 dalam lampiran buku profil ini, pada
tahun 2015 di Kecamatan Kebasen jumlah kematian ibu hamil 1,
ibu bersalin 0 dan ibu nifas sebanyak 0 orang. Angka Kematian Ibu
(AKI) di Kecamatan Kebasen pada tahun 2015 sebesar 104 per
100.000 kelahiran hidup.
Menurut IIS 2015 AKI sebesar 150 per 100.000 kelahiran
hidup, dengan demikian AKI di Kecamatan Kebasen dibawah AKI
menurut IIS 2014. Penyebab dari kematian ibu hamil di wilayah
kecamatan Kebasen karena penyakit kronis yang diderita oleh ibu
hamil yaitu penyakit jantung dan adanya keterlambatan dalam

sistem rujukan. Perlu adanya peningkatan kompetensi tenaga


kesehatan dalam pendeteksian risiko tinggi dari ibu hamil dan
penguatan tim penangan kesehatan Ibu dan anak, peningkatan
akses pelayanan kesehatan (rujukan), peningkatan kerjasama lintas
sektor, dan peningkatan frekuensi pelatihan skill/ kompetensi dari
tenaga kesehatan.
2.

Morbiditas
a. Penyakit Malaria
Berdasarkan Tabel 22 dalam lampiran buku profil, pada tahun
2015 terjadi kasus Malaria positif sebanyak 1 kasus atau Angka
Kesakitan Malaria (API) 0,0151 per 1000 penduduk. Sedangkan
kejadian kasus Malaria positif pada tahun 2014 sebanyak 4 kasus
atau Angka Kesakitan Malaria (API) sebesar 0,0655 per 1000
penduduk. Hal tersebut menunjukan tidak terjadi peningkatan
kejadian kasus malaria positif. Hal ini bisa dipertahankan dengan
peran aktif tenaga medis, paramedis, petugas surveilans, promkes,
bidan desa dalam preventif dan promotifnya dan juga dibantu oleh
juru malaria desa. Daerah endemis malaria di Kecamatan Kebasen
masih berada di Desa Kalisalak.
b. Kesembuhan penderita TB Paru BTA (+)
Dari Tabel 8 dalam buku profil, pada tahun 2015 ditemukan
kasus baru TB Paru BTA positif sebanyak 23 kasus, klinis 26
dengan perkiraan jumlah kasus BTA positif sebanyak 65 kasus.
Angka Penemuan Penderita TB Paru BTA positif (CDR) di
Kecamatan Kebasen sebesar 35,38%. Dibanding periode yang
sama pada tahun 2014 ditemukan kasus baru BTA positif sebanyak
25 kasus dengan perkiraan jumlah kasus BTA positif sebanyak 65
kasus dengan CDR sebesar 38,46 %. Dengan demikian ada
penurunan CDR pada tahun 2015 dibanding tahun 2014. Hal ini
dimungkinkan karena kurangnya skrining dari pemegang program

atau kurang aktifnya pemegang program, medis dan paramedis


untuk melakukan penjaringan di keluarga dengan BTA (+).
Angka kesembuhan penderita TB Paru BTA (+) dievaluasi
dengan melakukan pemeriksaan dahak mikroskopis pada akhir
pengobatan dengan hasil pemeriksaan negatif. Dinyatakan sembuh
bila hasil pemeriksaan dahak pada akhir pengobatan ditambah
minimal satu kali pemeriksaan sebelumnya (sesudah fase awal atau
satu bulan sebelum akhir pengobatan) hasilnya negatif. Bila
pemeriksaan follow up tidak dilaksanakan, namun pasien telah
menyelesaikan pengobatan, maka evaluasi pengobatan pasien
dinyatakan sebagai pengobatan lengkap.
Sesuai Tabel 9, Angka Kesembuhan (Cure Rate) TB paru di
Kecamatan Kebasen tahun 2015 sebesar 100 %, nilai ini bisa
dipertahankan seperti tahun 2014 yaitu 100%. Hal ini menunjukan
bahwa sudah berjalannya petugas PMO dengan baik dan kunjungan
rumah yang sudah rutin dilakukan oleh pemegang program.
Persentase Balita dengan Pneumonia
Tabel 10 lampiran buku profil menunjukan kasus pneumonia
di wilayah Kecamatan Kebasen tahun 2015 ada 21 kasus
pneumonia dengan sasaran yang seharusnya ada 379 orang.
Dibandingkan dengan tahun 2014 ada 19 kasus, menunjukan ada
peningkatan penemuan kasus biarpun masih jauh dari angka
sasaran. Hal ini menunjukan masih sangat rendahnya penemuan
kasus

pneumonia

dan

bisa

disebabkan

masih

kurangnya

pemahaman diagnosis tentang pneumonia. Dengan demikian


perlunya penambahan dari kompetensi medis dan paramedis dalam
screening atau penjaringan kasus pneumonia.

c. HIV
Dari Tabel 11 dalam buku profil, pada tahun 2015 di
Kecamatan Kebasen tidak ditemukan kasus HIV, walaupun untuk
angka laporan dari kabupaten ada sekitar 3-5 kasus. Hal ini
dimungkinkan karena tidak adanya open status dari pihak rumah
sakit ataupun dari DKK, terutama untuk pasien yang dirujuk ke
Rumah Sakit dengan suspek HIV. Begitu pula di tahun 2013 adalah
0 kasus.
d. Acute Flaccid Paralysis
Standar penemuan kasus polio adalah 2 per 100.000
penduduk usia kurang dari 15 tahun. Target penemuan kasus di
Kabupaten banyumas adalah 2 kasus. Bila dilihat dari tabel 18
dalam buku profil ini, di Kecamatan Kebasen pada tahun 2015
tidak ditemukan kasus AFP.
e. Demam Berdarah Dengue
Dari Tabel 21 dalam buku profil, jumlah kasus DBD di
Kecamatan Kebasen pada tahun 2015 sebanyak 8 kasus dengan
angka kesakitan DBD sebesar 12,1 per 100.000 penduduk.
Sedangkan pada tahun 2014 jumlah kasus DBD sebanyak 9 kasus
dengan angka kesakitan DBD sebesar 14,7 per 100.000 penduduk.
Dengan demikian terjadi penurunan kasus DBD pada tahun 2015
dibanding tahun 2014. Untuk Insidence rate terhitung masih tinggi.
Hal ini dapat disebabkan oleh semakin tingginya mobilitas
penduduk,

masih

kurangnya

kesadaran

masyarakat

untuk

melakukan pencegahan dengan kegiatan PSN secara rutin dan


berkesinambungan, dan kurangnya pengetahuan dari masyarakat
tentang DBD dan pemberantasannya. Masyarakat mengetahui
untuk penatalaksaan pemberantasan DBD hanya dengan fogging
tanpa PSN, mungkin kurangnya preventif dan promotif dari
petugas kesehatan ke masyarakat.

f. Kasus Diare Ditangani


Penyakit diare terjadi ketika terjadi perubahan konsistensi
feses selain dari frekuensi buang air besar. Diare merupakan
penyakit endemis di kabupaten Banyumas dan merupakan penyakit
potensial KLB yang sering disertai dengan kematian terutama pada
daerah yang pengendalian faktor risikonya masih rendah. Kasus
diare di kecamatan Kebasen tahun 2015 jumlah perkiraan
penemuan kasus 1.414 kasus dan yang mendapat penanganan 1.226
kasus. Dibandingkan tahun 2014 dari perkiraan penemuan kasus
578 kasus yang mendapat penanganan 925 kasus. Hal ini
menunjukan sudah adanya peningkatan dalam penanganan kasus
diare.
g. Persentase penderita kusta selesai berobat
Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular, yang
disebabkan

oleh

infeksi

bakteri

Mycobacterium

leprae.

Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kerusakan


permanen pada saraf, kulit, anggota gerak dan mata serta dapat
menimbulkan masalah yang sangat komplek, bukan hanya bagi
segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial ekonomi.
Penemuan penderita kusta di kecamatan kebasen tahun 2015
Tabel 14 terdapat 2 kasus dengan angka prevalensi per 10000
penduduk 0,3 ( tipe multibasiler). Dibandingkan pada tahun 2014
ditemukan 2 kasus dengan angka prevalensi per 10000 penduduk
0,3 ( tipe multibasiler) hal ini menunjukan tidak ada peningkatan
kasus, dengan penatalaksanaan 100%.
h. Kasus penyakit filariasis ditangani
Di Kecamatan Kebasen di tahun 2015 dari Tabel 23 tidak di
dapatkan adanya kasus filariasis , begitu juga di tahun 2014.

Jumlah kasus dan angka kesakitan penyakit yang dapat dicegah


dengan imunisasi (PD3I).
Penyakit yang termasuk dalam PD3I adalah polio, campak,
difteri, pertussis, tetanus neonatorum, tetanus non neonatorium.
Dalam upaya untuk membebaskan Indonesia dari penyakit tersebut
diperlukan komitmen global untuk menekan turunnya angka
kesakitan dan kematian yang dikenal dengan eradikasi polio
(ERAPO), Reduksi campak (REDCAM), dan eliminasi tetanus
neonatorium (ETN). Pada tahun 2015 Tabel 20 tidak ditemukan
kasus penyakit PD3I yang berarti kecamatan Kebasen sudah
terbebas dari kasus / penyakit PD3I.
3.

Status gizi
a. Presentase berat bayi lahir rendah
Berat bayi lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat
badan kurang dari 2500 gram, terjadinya kasus BBLR ini
disebabkan antara lain oleh ibu hamil mengalami anemia,
kurangnya suplai gizi sewaktu dalam kandungan atau terlahir
belum cukup bulan. Bayi BBLR ini perlu penanganan serius karena
pada kondisi ini bayi mudah sekali mengalami hipotermia dan
belum sempurnanya pembentukan organ-organ tubuhnya yang
biasanya akan menjadi penyebab utama kematian bayi.
Jumlah bayi BBLR di kecamatan Kebasen tahun 2015 Tabel
37 ada 52 kasus atau 5,4 %. Dibandingkan tahun 2014 terdapat 19
kasus atau 2,0%, hal ini menunjukan adanya peningkatan jumlah
bayi BBLR ditahun 2015. Perlu adanya peningkatan promotif dan
preventif pada setiap pertemuan di posyandu ataupun di kelas ibu
baik oleh bidan desa, bidan puskesmas, petugas gizi, promkes
ataupun medis.
b. Presentase balita dengan gizi buruk
Dari Tabel 44 dalam buku profil, pada tahun 2015 terdapat
1057 bayi dan 7759 anak balita dengan bayi mendapat vitamin A

satu kali sebanyak 1057 bayi (100%), anak balita mendapat vitamin
A dua kali sebanyak 7759 (100%). Dan pada Tabel 48 ditemukan
kasus balita gizi buruk 2 kategori BB/U dan semuanya sudah
mendapat PMT pemulihan dari anggaran APBN (BOK), dengan
pengawasan dan evaluasi dari petugas kesehatan baik medis,
pemegang program gizi dan dibantu oleh bidan desa akhirnya 6
yang terkategori gizi buruk mengalami peningkatan BB yang
signifikan.

C.

INPUT
1.

Tenaga Kesehatan
Jumlah tenaga Puskesmas Kebasen yang ada menurut data tahun 2015
berjumlah 8 orang dengan rincian sebagai berikut:

2.

a.

Dokter Umum

: 3 orang

b.

Dokter Gigi

: 1 orang

c.

Perawat

: 11 orang

d.

Perawat gigi

: 1 orang

e.

Bidan

: 24 orang

f.

Ahli Gizi

: 1 orang

g.

Sanitasi

: 2 orang

h.

Promkes

: 3 orang

i.

Laborat

: 1 orang

j.

Rontgen

: 1 orang

k.

Akuntansi

: 1 orang

Sarana Kesehatan
Berdasarkan profil Puskesmas Kebasen tahun 2015, jumlah sarana
pelayanan kesehatan yang ada di Kecamatan Kebasen pada tahun
2015 terdiri dari :
a. Puskesmas rawat inap

:1

b. Puskesmas Pembantu

:1

c. Poli/BP Swasta

:2

d. Praktik dokter umum

:5

e. Apotek

:2

f. Polindes

: 12

g. PKD

: 12

h. Posyandu

: 78

1) Posyandu Pratama

:0

2) Posyandu Madya

:0

3) Posyandu Purnama

: 70

4) Posyandu Mandiri

:8

i. Usaha kecil obat tradisional : 1


3.

Pembiayaan Kesehatan
Penyelenggaraan pembiyaan untuk keluarga miskin dan
masyarakat rentan di Kecamatan Kebasen tahun 2015 meliputi BPJS
dan KBS. Jumlah masyarakat miskin sebesar 29618 jiwa, yang
mendapat pelayanan kesehatan meliputi rawat jalan 21596 (34,4%),
yang mendapat pelayanan rawat inap sebanyak 795 (2,9%).
Dibandingkan dengan standar pelayanan minimal angka tersebut
masih dibawah target yaitu 15% dari total masyarakat miskin, yang
berarti belum semua keluarga miskin tercakup dalam pelayanan
kesehatan Gakin dan Masyarakat rentan. Akan tetapi hal tersebut bisa
terjadi karena masyarakat miskin tidak memanfaatkan hak untuk
berobat karena tidak adanya keluhan kesehatan.

D.

Analisis Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT)


1.

Strength

Aspek kekuatan dari program Pemberantasan Penyakit Menular


(P2M) Diare terdapat pada aspek input dan aspek proses
(perencanaan).
Input
a.

Man
Puskesmas Kebasen memiliki 3 dokter umum, 11 perawat
umum, dan 3 pelaksana kesling berdasarkan data profil Puskesmas
Kebasen. Dalam pelaksanaan sehari-hari di Puskesmas Kebasen,

terdapat

tenaga

kesehatan

yang

berpengalaman

dalam

menjalankan program P2M Diare.


b. Money
Sumber dana dalam pelaksanaan program P2M Diare sudah
disiapkan dari pemerintah, yaitu sumber Dana Bantuan Operasional
Kesehatan dan Badan Layanan Umum Daerah. Dana ini dari
Kementerian Kesehatan. Sumber dana ini dapat digunakan untuk
kegiatan promotif dan preventif seperti penyuluhan, kegiatan
penelitian epidemiologiserta dapat digunakan untuk menambah
sarana dan prasarana Puskesmas Kebasen untuk program P2M.
c. Material
Puskesmas Kebasen memiliki sarana dan prasarana untuk
menangani

kegawatdaruratan

penyakit

Diare,

pemeriksaan

laboratorium lengkap, serta 2 unit ambulan.


d. Metode
Metode kegiatan program P2M Diare di Puskesmas Kebasen
meliputi kegiatan yang dilakukan di dalam puskesmas maupun di
luar puskesmas. Kegiatan di dalam Puskesmas seperti Penemuan
kasus diare pada pasien yang berobat di rawat jalan ataupun rawat
inap Puskesmas Kebasen. Kegiatan di luar puskesmas meliputi
kegiatan penelitian epidemiologi (PE) yaitu melihat secara
langsung kondisi rumah penderita diare dan kondisi lingkungan
sekitar tempat tinggal penderita. Kegiatan luar lainnya adalah
penyuluhan kesehatan yang sasarannya adalah kader di tiap desa.
e. Minute
Kegiatan program P2M Diare baik kegiatan di dalam puskesmas
maupun di luar puskesmas sudah rutin dilakukan. Kegiatan di luar
puskesmas seperti penyuluhan kader dan kunjungan rumahuntuk
penelitian epidemiologi sudah rutin dilakukan paling tidak tiga kali
dalam satu bulan.Kegiatan di dalam puskesmas juga rutin
dilakukan setiap hari kerja puskesmas.
f. Market

Sasaran kegiatan program P2M Diare meliputi seluruh desa di


wilayah kerja Puskesmas Kebasen.
Proses
Perencanaan: program P2M Diare sudah memiliki perencanaan yang
baik, yaitu agar tercapainya kesembuhan pasien Diare berdasarkan
Standar Pelayanan Minimal (SPM) Puskesmas Kebasen, serta
terputusnya rantai penularan Diare di masyarakat Kebasen.
2.

Weakness
Aspek kelemahan dari program Pemberantasan Penyakit Menular
(P2M) Diare terdapat pada aspek input dan proses (penggerakan dan
pelaksanaan program, serta pengawasan dan pengendalian kegiatan).
Input
Man: Terdapat petugas khusus di bidang diare tetapi petugas P2M
diare juga menjabat bidang lain sehingga kurang focus.
Proses
a. Penggerakan dan pelaksanaan program
Kader kesehatan di desa kurang aktif dalam menjalankan
promosi kesehatan khususnya tentang penyakit diare, sehingga
informasi kesehatan yang diperoleh dari penyuluhan kesehatan dari
pihak puskesmas tidak tersampaikan dengan baik kepada
masyarakat. Faktor lain yang ikut berperan yaitu kesadaran
masyarakat yang masih kurang dalam menjalankan PHBS di
lingkungannya.
b. Pengawasan dan pengendalian kegiatan
Pengawasan dan pengendalian kegiatan di tingkat puskesmas
dan dinas kesehatan Banyumas sudah baik, hanya saja kurangnya
pengawasan dari tingkat tiap desa di Kecamatan Kebasen.
Dapat disimpulkan dari aspek proses, kelemahan program P2M
Diare dikarenakan:
Kurangnya sumber daya manusia untuk menangani P2M
Diare secara khusus.

Kurangaktifnya kader kesehatan dalam menjalankan kegiatan


luar
Kurangnya kerjasama lintas sektoral, seperti antara petugas
puskesmas dengan bidan wilayah, kader kesehatan di desa
atau para petinggi desa, dalam menangani program P2M
diare.
Output
Jumlah kasus diare di Kecamatan Kebasen pada tahun 2014 sebanyak
898 kasus.Sedangkan pada tahun 2015 jumlah kasus diare sebanyak
1226 kasus. Sedangkan untuk cakupan penemuan dan penanganan
penderita diare sebesar 56,70 % pada tahun 2015. Angka tersebut
belum memenuhi target cakupan yaitu 70% pada tahun 2010.
3.

Opportunity
Kesempatan untuk mengatasi permasalahan program P2M diare antara
lain Dinas Kesehatan yang turut aktif dalam pemberantasan penyakit
menular.

4.

Threat
Ancaman kasus Diare terjadi di Kecamatan Kebasen masih tinggi.
Banyak juga warga Kecamatan Kebasen yang belum menyadari pentingnya
penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kehidupan seharihari.Masyarakat sulit diajak kerja sama dalam kegiatan pemberantasan
penyakit menular. Berdasarkan data per Januari

2015 angka kejadian

penyakit diare merupakan masalah yang utama untuk di selesaikan, hal ini
sesuai dengan jumlah angka kejadian diare sebanyak 1226 kasus. Jumlah
penderita diare selalu ada dan memiliki jumlah yang signifikan pada setiap
tahun.

III.

PEMBAHASAN ISU STRATEGIS DAN ALTERNATIF


PEMECAHAN MASALAH

A. Pembahasan Isu Strategis


Dari hasil analisis SWOT, dapat disimpulkan permasalahan yang
terjadi dalam program P2M diare berasal dari aspek input, dan proses.
Kekuatan yang dimiliki Puskesmas dalam upaya meningkatkan program
P2M diare adalah memiliki 3 dokter umum, 11 perawat umum, dan 3
pelaksana kesling. Dalam pelaksanaan sehari-hari di Puskesmas Kebasen,
terdapat 1 tenaga kesehatan yang berpengalaman dalam menjalankan
program P2M diare. Selain itu Puskesmas Kebasen memiliki sarana dan
prasarana yang digunakan untuk menangani kegawatdaruratan dan
laboratorium sederhana, memiliki sarana transportasi yang memadai yaitu
mempunyai dua unit mobil Puskesmas, serta adanya dana yang didapat
dari Dana Bantuan Operasional Kesehatan dan dana dari Badan Layanan
Umum Daerah. Metode P2M diare sudah rutin dilakukan, meliputi
kegiatan di dalam Puskesmas dan di luar Puskesmas yang meliputi
penelitian epidemiologi (PE) yang dilakukan dengan kunjungan langsung
ke rumah penderita danpenyuluhan kepada kader kesehatan di setiap desa.
Hal yang menjadi kendala adalah kader kesehatan yang kurang aktif dalam
menjalankan promosi kesehatan khususnya tentang penyakit diare,
sehingga informasi kesehatan yang diperoleh dari penyuluhan kesehatan
dari pihak puskesmas tidak tersampaikan dengan baik kepada masyarakat.
Faktor lain yang ikut berperan yaitu kesadaran masyarakat yang masih
kurang dalam menjalankan PHBS di lingkungannya. Tidak adanya petugas
khusus di bidang diare menyebabkan petugas menjadi sulit fokus, karena
petugas juga menjabat bidang lain, sehingga diperlukan penambahan
tenaga kerja untuk menangani program P2M diare.

B. Alternatif Pemecahan Masalah


Dalam peningkatan program P2M Diare ini harus lebih berorientasi
pada peran serta masyarakat, maka diperlukan strategi utama dan strategi
alternatif untuk mengatasi masalah ini. Melihat hasil analisis SWOT,

didapatkan isu strategis yang dapat dilakukan untuk mendapatkan alternatif


pemecahan masalah, meliputi :
1. Penambahan tenaga petugas Penyehatan Lingkungan, agar:
a. Sistem pendataan lebih efisien, karena bisa menghemat waktu bila
dikerjakan dengan jumlah tenaga yang lebih banyak dan juga lebih
memperluas ruang gerak pendataan.
b. Dapat menambah frekuensi penyuluhan tentang P2M sehingga
penyampaian informasi lebih maksimal yang berimbas kepada
peningkatan kesadaran masyarakat akan Kesehatan Lingkungan.
2. Memberi reward pada tenaga pembantu dalam program promosi
kesehatan, yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja petugas P2M.
3. Menambah frekuensi penyuluhan kepada masyarakat agar selalu menjaga
kebersihan lingkungan sekitar.
4. Peningkatan kesadaran masyarakat melalui penjaringan kader diare desa
5. Peningaktan kerjasama antar sektor seperti kerja sama melalui sekolah dan
komunitas lain di masyarakat.

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Program P2M diare dipilih sebagai salah satu masalah dalam program
Puskesmas Kebasen karena berdasarkan 10 penyakit menular salah
satu yang tertinggi di Puskesmas Kebasen dari bulan JanuariDesember tahun 2015 yaitu penyakit diare sebanyak 1226 kasus.
2. Beberapa hal yang menjadi sebab kurang tercapainya program P2M
diare di Puskesmas Kebasen adalah :

a. Kurangnya sumber daya manusia untuk menangani P2M Diare


secara khusus.
b. Kurangaktifnya kader kesehatan dalam menjalankan kegiatan luar
c. Kurangnya kerjasama lintas sektoral, seperti antara petugas
puskesmas dengan bidan wilayah, kader kesehatan di desa atau
para petinggi desa, dalam menangani program P2M diare.
B. Saran
1. Untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan adalah dengan
melaksanakan sosialisasi secara terus-menerus kepada masyarakat
yang dilaksanakan oleh petugas Puskesmas bekerja sama dengan lintas
program dan lintas sektoral.
2. Monitoring dan evaluasi kegiatan secara rutin untuk dapat diketahui
perkembangan

kegiatan

yang

telah

dilaksanakan

dan

segera

mengetahui permasalahan yang ditemukan dalam bentuk laporan.


3. Meningkatkan koordinasi lintas program dan sektoral dan penguasaan
data bagi masing-masing pemegang program, sehingga dalam
pemecahan masalah dan penyusunan rencana kegiatan bisa sesuai
dengan kebutuhan yang ada.