Anda di halaman 1dari 18

Anak dengan Kelainan Mental Emosional

Anak berkelainan mental adalah anak yang memiliki penyimpangan kemampuan berpikir
secara kritis dan logis dalam menanggapi dunia sekitarnya.
Klasifikasi anak berkebutuhan khusus yang mengalami kelainan mental emosional, yaitu
anak tunagrahita, dan tunalaras.
TUNAGRAHITA

1.

Ada beberapa klasifikasi atau pengelompokkan tunagrahita berdasarkan berbagai


tinjauan diantaranya:
a. Berdasarkan kapasitas intelektual (sekor IQ)

Tunagrahita ringan IQ 50 70

Tunagrahita sedang IQ 35 50

Tunagrahita berat IQ 20 35

Tunagrahita sangat berat memiliki IQ di bawah 20

b. Berdasarkan kemampuan akademik

Tunagrahita mampudidik

Tunagrahita mampulatih

Tunagrahita perlurawat

c. Berdasarkan tipe klini pada fisik

Downs Syndrone (Mongolism)

Macro Cephalic (Hidro Cephalic)

Micro Cephalic

Pengklasifikasian anak tunagrahita perlu dilakukan untuk memudahkan guru dalam


menyusun program layanan/ pendidikan dan melaksanakannya secara tepat. Perlu
diperhatikan bahwa perbedaan individu (individual deferences) pada anak tunagrahita
bervariasi sangat besar, demikian juga dalam pengklasifikasi terdapat cara yang sangat
bervariasi tergantung dasar dalam pengelompokannya.
Klasifikasinya adalah sebagai berikut:
1. Klasifikasi yang berpandangan medis
Dalam bidang ini memandang variasi anak tunagrahita dari keadaan tipe klinis.
Tipe klinis pada tanda anatomik dan fisiologik yang mengalami patologik atau
penyimpangan. Kelompok tipe klinis di antaranya:
a. Down Syndrom (dahulu disebut Mongoloid)
Pada tipe ini terlihat raut rupanya menyerupai orang Mongol dengan ciri:
mata sipit dan miring, lidah tebal dan terbelah-belah serta biasanya menjulur keluar, telinga
kecil, tangan kering, semakin dewasa kulitnya semakin kasar, pipi bulat, bibir tebal dan
besar, tangan bulat dan lemah, kecil, tulang tengkorak dari muka hingga belakang tampak
pendek.
b. Kretin
Pada tipe kretin nampak seperti orang cebol dengan ciri: badan pendek,
kaki tangan pendek, kulit kering, tebal, dan keriput, rambut kering, kuku pendek
dan tebal.
c. Hydrocephalus
Gejala yang nampak adalah semakin membesarnya Cranium (tengkorak kepala)
yang disebabkan oleh semakin bertambahnya atau bertimbunnya cairan Cerebro-spinal
pada kepala. Cairan ini memberi tekanan pada otak besar (cerebrum) yang menyebabkan
kemunduran fungsi otak.
d. Microcephalus, Macrocephalus, Brachicephalus dan Schaphocephalus

Keempat

istilah tersebut

menunjukkan

kelainan

bentuk dan

ukuran

kepala, yang masing-masing dijelaskan sebagai berikut:


Microcephalus

: bentuk ukuran kepala yang kecil.

Macrocephalus

: bentuk ukuran kepala lebih besar dari ukuran normal.

Brachicephalus

: bentuk kepala yang melebar.

Schaphocephalus : memiliki ukuran kepala yang panjang sehingga

menyerupai

menara.
e. Cerebral Palsy (kelompok kelumpuhan pada otak)
Kelumpuhan pada otak mengganggu fungsi kecerdasan, di samping kemungkinan
mengganggu pusat koordinasi gerak, sehingga kelainan cerebral palsy terdiri tunagrahita
dan gangguan koordinasi gerak. Gangguan koordinasi

gerak menjadi kajian bidang

penanganan tunadaksa, sedangkan gangguan kecerdasan menjadi

kajian

bidang

penanganan tunagrahita.
f. Rusak otak (Brain Damage)
Kerusakan otak berpengaruh terhadap berbagai kemampuan yang dikendalikan oleh pusat
susunan saraf yang selanjutnya dapat terjadi gangguan kecerdasan, gangguan pengamatan,
gangguan tingkah laku, gangguan perhatian, gangguan motorik.
2. Klasifikasi yang berpandangan pendidikan,
Memandang variasi anak tunagrahita dalam kemampuannya mengikuti pendidikan.
Kalangan American Education (Moh. Amin, 1995:21) mengelompokkan menjadi Educable
mentally retarded, Trainable mentally retarded dan totally/ costudial dependent yang
diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia: mampu didik, mampu latih, dan perlu rawat.
Pengelompokan tersebut sebagai berikut:
a. Mampu didik

Mampudidik merupakan istilah pendidikan yang digunakan untuk mengelompokan


tunagrahita ringan. Mampudidik memiliki kapasitas intelegensi antara 50-70 pada skala
Binet maupun Weschler. Anak mampudidik kemampuan maksimalnya setara dengan anak
usia 12 tahun atau kelas 6 sekolah dasar, apabila mendapat pelayanan dan bimbingan
belajar yang sesuai maka anak mampudidik dapat lulus Sekolah dasar. Tunagrahita
mampudidik umumnya tidak disertai dengan kelainan fisik baik sensori maupun motoris,
sehingga kesan lahiriah anak mampudidik tidak berbeda dengan anak normal sebaya,
bahkan sering anak mampudidik dikenal dengan terbelakang mental 6 jam, hal ini
dikarenakan anak terlihat terbelakang mental sewaktu mengiuti pelajaran akademik di
sekolah saja, yang mana jam sekolah adalah 6 jam setiap hari.

b. Mampu latih
Tunagrahita mampu latih secara fisik sering memiliki atau diserati dengan kelainan
fisik baik sensori maupun motoris, bahkan hampir semua anak yang memiliki kelainan
dengan tipe klinik masuk dalam kelompok mampulatih sehingga sangat mudah untuk
mendeteksi anak mampu latih, karena penampilan fisiknya (kesan lahiriah) berbeda dengan
anak normal sebaya. Anak mampulatih memiliki kapasitas intelegensi (IQ) berkisar 30-50,
kemampuan tertingginya setara dengan anak normal usia 8 tahun atau kelas 2 SD.
Kemampuan akademik anak mampulatih tidak dapat mengikuti pelajaran yang bersifat
akademik walaupun secara sederhana seperti membaca, menulis dan berhitung. Anak
mampulatih hanya mampu dilatih dalam keterampilan mengurus diri sendiri dan aktivitas
kehidupan sehari-hari.
c. Perlu rawat
Anak perlu rawal adalah klasifikasi anak tunagrahita yang paling berat, jika pada
istilah kedokteran disebut dengan idiot Anak perlu rawat memiliki kapasitas inteligensi di
bawah 25 dan sudah tidak mampu dilatih keterampilan. Anak ini hanya mampu dilatih

pembiasaan (conditioning) dalam kehidupan sehiri-hari. Seumur hidupnya tidak dapat lepas
dari orang lain.
3. Klasifikasi yang berpandangan sosiologis
Memandang variasi tunagrahita dalam kemampuannya mandiri di masyarakat,

atau peran

yang dapat dilakukan masyarakat. Menurut AAMD (Amin, 1995:22-24) klasifikasi itu
sebagai berikut:
a.

Tunagrahita

ringan;

Tingkat kecerdasan (IQ) mereka berkisar 50-70, dalam


maupun bergaul, mampu menyesuaikan diri pada

lingkungan

penyesuaian

sosial

sosial yang lebih

luas dan mampu melakukan pekerjaan setingkat semi terampil.


b.

Tunagrahita sedang;
Tingkat kecerdasan (IQ) mereka berkisar antara 30- 50;

mampu

melakukan

keterampilan mengurus diri sendiri (self-help); mampu mengadakan adaptasi sosial


di lingkungan terdekat; dan mampu mengerjakan

pekerjaan

rutin

yang

perlu

pengawasan atau bekerja di tempat kerja terlindung (sheltered work-shop).


c.

Tunagrahita berat dan sangat berat,


Mereka sepanjang kehidupannya selalu tergantung bantuan dan perawatan

orang lain. Ada yang masih mampu dilatih mengurus sendiri dan berkomunikasi
secara

sederhana dalam batas tertentu, mereka memiliki tingkat kecerdasan (IQ)

kurangdari 30.
4. Klasifikasi yang dikemukakan oleh Leo Kanner (Amin, 1995:22-24), dan ditinjau dari
sudut tingkat pandangan masyarakat sebagai berikut:
0. Tunagrahita absolut,
Termasuk kelompok tunagrahita yang jelas nampak ketunagrahitannya baik berada
di pedesaan maupun perkotaan, di masyarakat petani maupun masyarakat industri, di

lingkungan sekolah, lingkungan keluarga dan di tempat pekerjaan. Golongan ini


penyandang tunagrahita kategori sedang.
b. Tunagrahita relatif,
Termasuk kelompok tunagrahita yang dalam masyarakat tertentu
tunagrahita,

tetapi

di

tempat

dianggap

masyarakat lain tidak dipandang tunagrahita. Anak

tunagrahita dianggap demikian ialah anak tunagrahita ringan karena masyarakat perkotaan
yang maju dianggap tunagrahita

dan

di masyarakat

pedesaan

yang

masih

terbelakang dipandang bukan tunagrahita.


c. Tunagrahita semu (pseudo mentally retarded)
Yaitu anak tunagrahita menunjukan penampilan sebagai penyandang tunagrahita
tetapi sesungguhnya ia mempunyai kapasitas kemampuan
yang normal. Misalnya
seorang anak dikirim ke sekolah khusus karena menurut hasil tes kecerdasannya rendah,
tetapi setelah mendapat pengajaran remedial dan bimbingan khusus menjadikan
kemampuan belajar dan adaptasi sosialnya normal.

2.

TUNALARAS
Anak tunalaras adalah anak-anak yang mengalami gangguan perilaku, yang

ditunjukkan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun dalam


lingkungan sosialnya. Pada hakikatnya, anak-anak tunalaras memliki kemampuan
intelektual yang normal, atau tidak berada di bawah rata-rata. Kelainan lebih banyak terjadi
pada perilaku sosialnya.
A. Karakterisktik Tunalaras

Beberapa karakterisktik yang menonjol dari anak-anak berkebutuhan khusus yang


mengalami kelainan perilaku sosial ini adalah :
Kekacauan perilaku memperlihatkan ciri-ciri: suka berkelahi, memukul, menyerang,

mengamuk membangkang, menantang, merusak milik sendiri atau milik orang lain,

kirang ajar, lancang, melawan, tidak mau bekerja sama, tidak mau memperhatikan,
memecah belah, rebut, tidak bias diam, menolak arahan, cepat marah, menganggab
entengg, sok aksi, ingin menguasai orang lain, mengancam, pembohong, tidak dapat
dipercaya, suka berbicara kotor, cemburu, suka bersoal jawab, tak sanggub berdikari,
mencuri, mengejek, menyangkal, berbuat salah, egois, dan mudah terpengaruh untuk
berbuat salah.
Menarik diri (withdrawll) dengan ciri-ciri khawatir, cemas, ketakutan, kaku, pemalu,
segan, menarik diri, terasing, tak berteman, rasa tertekan, sedih, terganggu, rendah diri,
dingin, malu, kurang percaya diri, mudah bimbang, sering menangis, pendiam, suka
berahasia.
Ketidakmatangan (immaturity) dengan ciri-ciri, yaitu pelamun, kaku, berangan-angan,
pasif, mudah dipengaruhi, pengantuk, pembosan, dan kotor.
Agresi sosial dengan ciri-ciri, yaitu mempunyai komplotan jahat, mencuri bersama
kelompoknya, loyal terhadap teman nakal, berkelompok dengan geng, suka diluar rumah
sampai larut malam, bolos sekolah, dan minggat dari rumah.
B. Klasifikasi Anak Tunalaras
Secara garis besar anak tunalaras dapat diklasifikasikan sebagai anak yang
mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, dan yang
mengalami gangguan emosi. Tiap jenis kelainan anak tersebut dapat ditinjau dari segi
gangguan atau hambatan dan klasifikasi berat ringan nya kenakalan, dengan penjelasan
sebagai berikut:
1.
a.

Menurut jenis ganguan atau hambatan


Gangguan emosi, anak tunalaras yang mengalami hambatan atau gangguan emosi

terwujud dalam tiga jenis perbuatan yaitu, senang-sedih, lambat-cepat marah, dan rilekstekanan. Secara umum emosinya menunjukkan sedih, cepat tersinggung atu marah, rasa
tertekan dan merasa cemas.
b.
Gangguan sosial, anak ini mengalami gangguan atu merasa kurang senang
menghadapi pergaulan. Mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan hidup
bergaul. Gejala-gejala perbuatan ini adalah seperti sikap bermusuhan, agresif, bercakap

kasar, menyakiti hati orang lain, keras kepala, menentang, menghina orang lain, berkelahi,
merusak milik orang lain, dan lain sebagainya. Perbuatan mereka sangat mengganggu
ketentraman orang lain.
2. Klasifikasi berat-ringan nya kenakalan
a. Besar-kecilnya gangguan emosi, artinya semakin tinggi memiliki perasaan negatif

b.

c.
d.
e.

f.

terhadap orang lain makin dalam rasa negatif semakin berat tingkat kenakalan anak
tersebut.
Frekuensi tindakan, artinya frekuensi tindakan semakin sering dan tidak
menunjukkan sikap penyesalan terhadap perbuatan yang kurang baik semakin berat
kenakalan nya.
Berat-ringan nya pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan dapat diketahui dari
sangsi hukum.
Tempat atau situasi kenakalan yang dilakukan atinya anak berani berbuat kenakalan
dimasyarakat sudah menunjukkan berat, dibandingkan dengan apabila dia dirumah.
Mudah-sukarnya dipengaruhi untuk bertingkah laku baik. Para pendidik atau orang
tua dapat mengetahui sejauh mana dengan segala cara memperbaiki anak. Anak
bandel dan keras kepala sukar mengikuti petunjuk termasuk kelompok berat.
Tunggal atu ganda ketunaan yang dialami, apabila seorang anak tunalaras juga
mempunyai ketunaan lain maka dia termasuk golongan berat dalam pembinaan
nya.

Selain itu, William M. Cruickshank (1975 : 567) mengemukakan

bahwa

mereka

yang mengalami hambatan sosial dapat diklasifikasikan kedalam kategori sebagai berikut :
1.

The semi-socialize child.


Anak yang termasuk kelompok ini dapat mengadakan hubungan sosial, tetapi

terbatas pada lingungan tertentu, misalnya: keluarga dan kelompoknya. Keadaan ini terjadi
pada anak yang datang dari lingkungan yang menganut norma-norma tersendiri, yang mana
norma tersebut bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
2.

Children arrested at a primitive level or socialization

Anak pada kelompok ini dalam perkembangan sosialnya berhenti pada level atau
lingkaran yang rendah. Mereka adalah anak yang tidak pernah mendapat bimbingan ke arah
sikap sosial dan terlantar dari pendidikan, sehingga ia melakukan apa saja yang
dikehendakinya. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya perhatian dari orang tua yang
berakibat dari perilaku anak kelompok ini cenderung dikuasai oleh dorongan nafsu saja.
3.

Children with minimum socialization capacity


Anak kelompok ini tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk belajar sikap-

sikap sosial. Ini disebabkan oleh pembawaan kelainan atau anak tidak pernah mengenal
hubungan kasih sayang sehingga anak pada golongan ini banyak bersifat apatis dan egois.
Demikian pula anak yang mengalami gangguan emosi dapat diklasifikasikan
menurut berat/ ringannya masalah atau gangguan yang dialaminya. Anak ini mengalami
kesulitan dalam menyesuaikan tingkah laku dengan lingkungan sosialnya karena ada
tekanan-tekanan dari dalam dirinya, adapun anak yang mengalami gangguan emosi
diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Neorotic behaviour (perilaku neurotik).
Anak pada kelompok ini masih bisa bergaul dengan orang lain akan tetapi mereka
mempunyai permasalahan pribadi yang tidak mampu diselesaikannya. Mereka sering dan
mudah sekali dihinggapi perasaan sakit hati, perasaan marah, cemas dan agresif, serta rasa
besalah. Disamping juga kadang-kadang mereka melakukan tindakan lain seperti yang
dilakukan oleh anak Unsocialized (mencuri, bermusuhan), anak pada kelompok ini dapat
dibantu dengan terapi seorang konselor.
Keadaan neurotik ini biasanya disebabkan oleh keadaan atau sikap keluarga yang
menolak atau sebaliknya, terlalu memanjakan anak serta pengaruh pendidikan yaitu karena
kesalahan pengajaran atau juga adanya kesulitan belajar yang besar.
b.

Children with psychotic processes

Anak pada kelompok ini mengalami gangguan yang paling berat sehingga
memerlukan penanganan yang lebih khusus. Mereka sudah menyimpang dari kehidupan
yang nyata, sudah tidak memiliki kesadaran diri serta tidak memiliki identitas diri. Adanya
ketidaksadaran ini disebabkan oleh gangguan pada sistem syaraf sebagai akibat dari
keracunan, misalnya minuman keras dan obat-obatan.
C. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Ketunalarasan

1.

Faktor Internal
a. Kondisi/Keadaan Fisik
Kondisi fisik ini dapat berupa kelainan atau kecacatan baik tubuh maupun
sensoris yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Kecacatan yang dialami
seseorang mengakibatkan timbulnya keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan baik
berupa kebutuhan fisik-biologis maupun kebutuhan psikisnya.
Masalah ini menjadi kompleks dengan adanya sikap atau perlakuan negatif
dari lingkungan. Sebagai akibatnya, timbul perasan rendah diri, perasaan tidak
berdaya/tidak mampu, mudah putus asa, dan merasa tidak berguna sehingga
menimbulkan kecenderungan menarik diri dari lingkungan pergaulan atau
sebaliknya, memperlihatkan tingkah laku agresif, atau bahkan memanfaatkan
kelainannya untuk menarik belas kasihan lingkungan. Dengan demikian jelaslah
bahwa kondisi/keadaan fisik yang dinyatakan secara langsung dalam ciri-ciri
kepribadian atau secara tidak langsung dalam reaksi menghadapi kenyataan memiliki
implikasi bagi penyesuaian diri seseorang.
b.

Masalah Perkembangan
Erikson (dalam Singgih D. Gunarsa, 1985:107) menjelaskan bahwa setiap
memasuki fase perkembangan baru, individu dihadapkan pada berbagai tantangan
atau krisis emosi. Anak biasanya dapat mengatasi krisis emosi ini jika pada dirinya
tumbuh kemampuan baru yang berasal dari adanya proses kematangan yang
menyertai perkembangan. Apabila ego dapat mengatasi mengatasi krisis ini, maka
perkembangan ego yang matang akan terjadi sehingga individu dapat mnyesuaikan
diri dengan lingkungannya. Sebaliknya apabila individu tidak berhasil

menyelesaikan masalah tersebut maka akan menimbulkan gangguan emosi dan


tingkah laku. Konflik emosi ini terutama terjadi pada masa kanak-kanak dan
pubertas.
Adapun ciri yang menonjol pada masa kritis ini adalah sikap menentang dan
keras kepala. Kecenderungan ini disebabkan oleh karena anak yang sedang
menemukan aku-nya. Anak jadi marasa tidak puas dengan otoritas lingkungan
sehingga timbul gejolak emosi yang meledak-ledak, misalnya: marah, menentang,
memberontak, dan keras kepala.
c. Keturunan
Salah satu hasil penelitian spektakuler di bidang biologi tentang rekayasa
genetika telah dibuat mendell. Hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa keturunan
mempunyai peranan kuat dalam meahirkan generasi berikutnya.implementasi teori
tersebut dalam identifikasi ketunalarasan bahwa keturunan memberikan banyak
bukti bayi yang dilahirkan dalam keadaan abnormal berasal dari keturunan yang
abnormal pula. Keabnormalan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh orang
tuanya memberikan konstribusi ketunalarasan kepada generasi berikutnya (Patton,
1991). Beberapa perilaku menyimpang tersebut diantaranya kawin sedarah, seks
maniak, alkoholisme, kleptomania, gangguan kepribadian, dan lain-lain.
d. Faktor Psikologis
Meier dalam penelitiannya, menghubungkan antara variabel frustasi dengan
perilaku abnormal memperoleh kesimpulan bahwa seorang yang mengalami
kesulitan memecahkan persoalan akan menimbulkan perasaan frustasi. Akibat
frustasi tersebut akan timbul konflik kejiwaan. Bagi individu yang memiliki
stabilitas kepribadian yang baik, konflik psikologis tersebut dapat diselesaikan
dengan baik. Namun, bagi mereka yang memiliki kepribadian neurotik, konflik
tersebut tidak dapat diselesaikan dengan baik. Akibatnya, timbul perilaku
menyimpsng sebagai defence mechanism. Perilaku-perilaku tersebut diantaranya
agresivisme (suka memberontak, mencela, memukul, merusak), regresivisme
(perilaku yang kekanak-kanakan), resignation (perilaku yang kehilangan arah
karena ketidakmampuan mewujudkan keinginannya karena tekanan otoritas).
e. Faktor Biologis

Hubungan faktor biologis secara khusus dengan keadaan kelainan perilaku


dan emosi sangat jarang ditemukan, sebab kelainan perilaku dan kelainan emosi
tidak dapat dideteksi melalui kerusakan biologis. Adakalanya perilaku anak
termasuk normal, tetapi yang bersangkutan mengalami kerusakan biologis serius;
dan sebaliknya anak secara fisik normal, tetapi menunjukkan gangguan emosi dan
perilaku secara serius. Hal yang pasti adalah anak lahir dengan kondisi fisik biologis
tertentu akan menentukan style perilaku (temperamen). Anak yang mengalami
kesulitan menempatkan temperamennya, akan memberikan kecenderungan untuk
berkembangnya kondisi kelainan perilaku dan emosi. Faktor-faktor yang
memberikan konstribusi terhadap buruknya temperamen seseorang antara lain
penyakit, malnutrisi, trauma otak (Hallahan & Kauffman, 1991).
2. Faktor eksternal
a. Faktor Psikososial
Sigmund Freud melaui psikoanalisisnya menjelaskan bahwa ketunalarasan
disebabkan pengalaman anak pada usia awal. Pengalaman tidak menyenangkan
pada usia awal mengakibatkan anak menjadi tertekan dan secara tidak disadari
berpengaruh pada penyimpangan perilaku. Pengalaman anak di rumah seperti
kualitas hubungan antara ayah, ibu, serta saudara sekandungnya memberikan
pengaruh yang besar pada perilaku anak. Hubungan interaksional dan transaksional
menyebabkan saling memengaruhi antara anak dengan orang tua, sehingga jika
pada anak terdeteksi mengalami masalah kelainan perilaku dapat dialamatkan pada
orang tuanya (Sameroff, Steifer, Zax, 1982) Orang tua yang lemah dalam
menegakkan disiplin anak, yang ditandai dengan penolakan, bermusuhan,
kekejaman, dapat menumbuhkan perilaku yang menyimpang seperti agresif atau
kejahatan lainnya (Hallahan & Kauffman, 1991).
b. Lingkungan Keluarga
Keluarga adalah peletak dasar perasaan aman (emitional security) pada anak,
dalam keluarga pula anak memperoleh pengalaman pertama mengenai perasaan dan
sikap sosial. Lingkungan keluarga yang tidak mampu memberikan dasar perasaan
aman dan dasar untuk perkembangan sosial dapat menimbulkan gangguan emosi
dan tingkah laku pada anak. Faktor yang terdapat dalam keluarga yang berkaitan
dengan ganguan emosi dan tingkah laku, diantaranya yaitu:

a.

Kasih sayang dan perhatian


Kasih sayang dan perhatian orang tua dan anggota keluarga lain sangat
dibutuhkan oleh anak. Kurangnya kasih sayang dan perhatian orang tua
mengakibatkan anak mencarinya diluar rumah. Dia bergabung dengan kawankawanya dan membentuk suatu kelompok anak yang merasa senasib. Mengenai
hal ini Sofyan S. Willis (1981) dalam mengemukakan bahwa mereka berkelompok
untuk memenuhi kebutuhan yang hampir sama, antara lain untuk mendapatkan
perhatian dari orang tua dan masyarakat.
Selain sikap diatas, tidak jarang diantara orang tua justru memberikan kasih

sayang, perhatian, dan bahkan perlindungan yang berlebihan. Sikap memanjakan


menyebabkan ketergantungan pada anak sehingga jika anak mengalami kegagalan
dalam mencoba sesuatu ia lekas menyerah dan merasa kecewa, sehingga pada
akhirnya akan timbul rasa tidak percaya diri/rendah diri pada anak.
b.
Keharmonisan keluarga
Berdasarkan hasil studinya, Hetherington (dalam Kirk & Gallagher, 1986)
dalam menyimpulkan bahwa hampir semua anak yang mengalami perceraian orang
tua mengalami masa peralihan yang sangat sulit. Orang tua yang sering berselisih
paham dalam menerapkan peraturan atau disiplin dapat menimbulkan keraguan
pada diri anak akan kebenaran suatu norma, sehingga anak akhirnya mencari jalan
sendiri dan hal ini dapat saja menjadi awal dari terjadinya gangguan tingkah laku.
c.
Kondisi ekonomi
Lemahnya kondisi ekonomi keluarga dapat pula menjadi salah satu
penyebab tidak terpenuhinya kebutuhan anak, padahal seperti kita ketahui pada diri
anak timbul keinginan-keinginan untuk dapat menyamai temannya yang lain,
misalnya: dalam berpakaian, kebutuhan akan hiburan, dan lain-lain. Tidak
terpenuhinya kebutuhan tersebut dalam keluarga dapat mendorong anak mencari
jalan
sendiri
yang kadang kadang mengarah pada tindakan antisosial. G.W. Bawengan (1977) me
nyatakan bahwa kondisi-kondisi seperti kemiskinan atau pengangguran secara
relatif dapat melengkapi rangsangan-rangsangan untuk melakukan pencurian,
penipuan, dan perilaku menyimpang lainnya.
d. Lingkungan Sekolah

Sekolah merupakan tempat pendidikan yang kedua bagi anak setelah


keluarga. Tanggung jawab sekolah tidak hanya sekedar membekali anak didik
dengan sejumlah ilmu pengetahuan, tetapi sekolah juga bertanggung jawab
membina kepribadian anak didik sehingga menjadi individu dewasa yang
bertanggung jawab baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap masyarakat yang
lebih luas. Akan tetapi sekolah tidak jarang menjadi penyebab timbulnya gangguan
tingkah laku pada anak seperti dikemukakan Sofyan Willis (1978) bahwa dalam
rangka membina anak didik kearah kedewasaan, kadang-kadang sekolah juga
penyebab dari timbulnya kenakalan remaja.
Timbulnya gangguan tingkah laku yang disebabkan lingkungan sekolah
antara lain disebabkan dari guru sebagai tenaga pelaksana pendidikan, fasilitas
penunjang yang dibutuhkan anak didik. Perilaku guru yang otoriter mengakibatkan
anak merasa tertekan dan takut menghadapi pelajaran. Anak lebih memilih
membolos dan berkeluyuran pada saat ia seharusnya berada dalam kelas.
Sebaliknya, sikap guru yang terlampau lemah dan membiarkan anak didiknya tidak
disiplin mengakibatkan anak didik berbuat sesuka hati dan berani melakukan
tindakan yang menentang peraturan.
Selain guru, fasilitas pendidikan juga berpengaruh pula terhadap terjadinya
gangguan tingkah laku. Sekolah yang kurang mempunyai fasilitas pendidikan
berpengaruh pula terhadap terjadinya gangguan tingkah laku. Sekolah yang kurang
mempunyai fasilitas yang dibutuhkan anak didik utuk menyalurkan bakat dan
mengisi waktu luang mengakibatkan anak menyalurkan aktivitasnya pada hal-hal
yang kurang baik.
e. Lingkungan Masyarakat
Lingkungan tempat anak berpijak sebagai makhluk sosial adalah
masyarakat. Menurut Bandura (dalam Kirk & Gallagher, 1986) salah satu hal yang
nampak mempengaruhi pola perilaku anak dalam lingkungan sosial adalah
keteladanan, yaitu menirukan perilaku orang lain. Disamping pengaruh-pengaruh
yang bersifat positif, di dalam lingkungan masyarakat juga terdapat banyak sumber
yang merupakan pengaruh negatif ditambah hiburan yang tidak sesuai dengan
perkembangan jiwa anak merupakan sumber terjadinya kelainan tingkah laku. Hal

ini terutama terjadi di kota-kota besar dimana berbagai fasilitas tontonan dan
hiburan yang tak tersaring oleh budaya lokal.
Ekspresi lain dari kondisi lingkungan masyarakat sekitar yang berpengaruh
terhadap kelainan perilaku (tunalaras) anak diantaranya daerah yang terlalu padat,
angka kejahatan tinggi, kurangnya fasilitas hiburan/rekreasi, tidak adanya aktivitas
yang terorganisasi (Moerdiani, 1987) kurangnya pengajaran agama oleh
masyarakat,

pengaruh

bacaan/film

video

porno

atau

sadisme,

pengaruh

penyalahgunaan abat-obatan terlarang (nafza), dan minuman keras.


Masuknya pengaruh kebudayaan asing yang kurang sesuai dengan tradisi
yang dianut oleh masyarakat yang diterima begitu saja oleh kalangan remaja dapat
menimbulkan konflik yang sifatnya negatif. Di satu pihak remaja menganggap
bahwa kebudayaan asing itu benar, sementara di pihak lain masyarakat masih
memegang norma-norma yang bersumber adat istiadat dan agama. Selanjutnya
konflik juga timbul pada diri anak sendiri yang disebabkan norma yang dianut di
rumah atau di keluarga bertentangan dengan norma dan kenyataan di dalam
masyarakat. Misalnya: seorang dalam keluarga ditekankan untuk bertingkah laku
sopan dan menghargai orang lain, akan tetapi ia menemukan kenyataan lain dalam
masyarakat dimana banyak ditemukan tindakan kekerasan dan tidak adanya sikap
saling menghargai.
Perkembangan Sosial Anak Tunalaras
Anak tunalaras mempunyai penyusaian yang salah, yang sering disebut dengan maladjustment yang baik dan mal adjusment ditinjau dari psikologi. Dari batasan ini dapat
dikatakan bahwa penyusuaian adalah suatu proses mental dan reaksi dari perilaku individu
untuk menyusuaikan dengan baik terhadap kebutuhan-kebutuhan dari dalam, tekanan,
frustasi, dan konflik, sehingga menjadi satu kesatuan yang harmoni atau selaras antara
dunia batin dan dunia luar untuk mencapai tujuan dalam kehidupan ini.
Dengan demikian orang dikatakan mempunyai penyusuaian yang baik apabila
mempunyai ciri-ciri:

a. Mempunyai kecakapan untuk belajar merealisi dirinya dan lingkungannya


b.
c.
d.
e.
f.

dengan matang.
Bahagia dan mempunyai kepuasan hidup.
Melakukan penyesuaian yang efesien.
Dapat mengatasi konflik, frustasi dan kesukaran sosial dan pribadi tanpa ada
gejala gangguan perilaku.
Relatif bebas dari gejala kecemasan yang kronis, kekhawatiran, obsesi, phobia,
gangguan psikosomatik.
Mempunyai kehidupan yang kreatif, hubungan antara manusia baik, menikmati
kehidupan dan terus menerus berusaha untuk mencapai perkembangan
keperibadian yang ideal yaitu menunaikan aktivalisasi diri.

Sebaliknya, seseorang dikatakan mal-adjustment, apabila mempunyai ciri-ciri


sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Mereaksi lingkungan dan dirinya dengan kekanak-kanakan.


Merasa tidak bahagia dan tidak dapat menikmati hidup.
Tidak efisien dalam melakukan penyusaian.
Kurang dapat mengatasi konflik, frustasi, kesukaran sosial dan pribadi.
Interaksi sosial kurang baik.
Cemburu dan suka berprasangka.
Biasanya tidak disukai oleh teman-temannya.

Perkembangan kepribadian anak tunalaras


Ditinjau dari teori keperibadian dari Freud (dalam Hall & Lindzey, 1979),
menyatakan ada 3 aspek keperibadian yaitu id, ego dan super ego. Id merupakan aspek
biologis, yang berisi nafsu, dan keinginan-keinginan (seperti dorongan untuk makan,
minum, sexual), dimana dorongan-dorongan ini dibawa sejak lahir. Aspek ego, merupakan
aspek psikologis, yang lebih menekankan pada terpenuhinya kebutuhan secara realitas
(nyata). Ego ini yang bertugas memenuhi kebutuhan, atau keinginan-keinginan id dengan

memperhatikan super ego. Aspek super ego ini merupakan wakil dari cita-cita masyarakat.
Ketiga aspek ini mempunyai prinsip kerja sendiri-sendiri, tetapi saling berkaitan dan tidak
dapat dipisah-pisahkan. Manusia juga membutuhkan dunia realitas, yaitu yang ada pada
apek ego, sehingga energi psikis dari id ke ego berjalan secara mekanis, melalui
identifikasi.
Anak-anak tunalaras memiliki super ego yang rendah, sehingga ego dalam
memenuhi kebutuhan id sering tidak diperhatikan norma-norma, atau cita-cita orang tua
dan masyarakat. Akibatnya perilaku ditampilkan keluar adalah perilaku yang diinginkan
saja tanpa kontrol, dengan demikian perilaku menyimpang, tidak selaras merupakan
perilaku yang sering mendominasi anak-anak tunalaras. Kondisi ini yang menyebabkan
anak tunalaras tidak dapat mencapai perkembangan keperibadian yang optimal. Anak
kesulitan menemukan diri, sering berperilaku tidak pantas, egois, dorongan kerja sama
sangat rendah.
Dari penelitian yang dilakukan penulis, ternyata anak tunalaras banyak berasal dari
keluarga yang tidak menguntungkan. Anak kurang mendapatkan pola asuh yang benar. 70%
anak-anak tunalaras berasal dari keluarga yang broken home, dengan pola asuh yang
otoriter dan premissive. Mereka sering disuguhi perilaku-perilaku yang cenderung agresif,
atau sebaliknya. Mestinya orang tua tidak hanya memberikan kasih sayang tetapi juga
menanamkan kedisiplinan, bukan memanjakan, atau memberikan kebebasan tanpa kendali,
tetapi membimbing dengan memperhatikan kebutuhan psikis anak.

Daftar Pustaka

http://mylifeiscounselor.blogspot.co.id/2015/03/klasifikasi-dan-karakteristik-abk-anak.html
http://melyloelhabox.blogspot.co.id/2014/04/karakteristik-anak-berkelainan-mental.html