Anda di halaman 1dari 232

BAB II

MEKANIKA RESERVOIR

2.1. Sifat Fisik Batuan Reservoir


Batuan reservoir yang berisi minyak dan gas ternyata secara kuantiti
terperangkap di dalam rongga rongga batuan, kemampuan fluida untuk mengalir
melewati batuan dan lainnya berhubungan dengan sifat fisik batuan (Physical
Properties). Sifat fisik batuan reservoir merupakan sifat penting batuan reservoir
dan hubungannya dengan fluida reservoir yang mengisinya dalam kondisi statis
dan dinamis (jika ada aliran). Berikut ini akan dibicarakan mengenai sifat fisik
batuan reservoir baik yang tidak dipengaruhi fluida reservoir maupun yang
dipengaruhi fluida reservoir yang meliputi porositas, kompressibilitas, tegangan
permukaan, wettabilitas, tekanan kapiler, saturasi fluida, dan permeabilitas.
2.1.1. Sifat Fisik Batuan
2.1.1.1. Porositas
Porositas ( ) didefinisikan sebagai fraksi atau persen dari volume ruang
poripori terhadap volume batuan total (bulk volume). Besarkecilnya porositas
suatu batuan akan menentukan kapasitas penyimpanan fluida reservoir. Secara
matematis porositas dapat dinyatakan sebagai :

Vb Vg
Vp
x100%
x100% .................................................... (2-1)
Vb
Vb

keterangan :
= porositas, (%)
Vb = volume batuan total (bulk volume)
Vg = volume butir batuan (volume grain)
Vp = volume ruang poripori batuan.

2.1.1.1.1. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Besarnya Porositas


Faktor yang mempengaruhi besarnya porositas pada batuan sedimen
klastik adalah:
1. Keseragaman ukuran butiran
Semakin seragam dan bundar butiran yang menyusun batuan sedimen
klastik, maka porositasnya akan semakin besar. Jika terdapat partikel
kecil dari silt atau clay bercampur di dalam butiran pasir yang
berukuran besar, maka effective porosity (intercommunicating) akan
menurun.
2. Tingkat sementasi dan konsolidasi
Tingkat semen yang tinggi pada batu pasir akan menurunkan porositas,
dan batupasir lunak (unconsolidated sandstone) memiliki porositas
yang tinggi.
3. Besarnya kompaksi selama dan setelah pengendapan
Pada umumnya, porositas batuan akan semakin kecil apabila batuan
terserbut terbentuk pada lingkungan pengendapan yang semakin
dalam.
4. Metode packing
Bentuk

packing

butiran

yang

membentuk

batupasir

sangat

mempengaruhi besarnya porositas. Ada dua jenis packing butiran yaitu


cubic dan rhombohedral. Packing cubic memiliki porositas yang lebih
besar dibandingkan rhombohedral.

Gambar 2.1.
Faktor yang mempengaruhi besarnya porositas
(Bigelow Ed. L, 1995, Introduction to Wireline Log Analysis)

2.1.1.1.1.1. Porositas pada Batu Pasir


Porositas batu pasir dipengaruhi oleh packing, sorting, dan sementasi.
Packing menggambarkan susunan butir butir pasir relatif terhadap yang lain.
Gambar 2.2 menunjukkan tiga tipe ideal packing untuk butir butir pasir
spherical dan porositasnya secara teori. Cubic packing memiliki porositas sebesar
47.6%; hexagonal packing memiliki porositas sebesar 39.5% dan rhombohedral
packing memiliki porositas sebesar 25.9%.

Gambar 2.2.
Pengaruh packing terhadap porositas pada butir butir spherical
yang seragam
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Batu pasir yang mempunyai well sorted terdiri dari butir butir yang
mempunyai ukuran yang sama sedangkan batu pasir yang mempunyai poorly
sorted terdiri dari butir butir yang mempunyai ukuran butir yang berbeda.
Pemilahan yang buruk (poor sorting) menurunkan porositas batu pasir seperti
yang terlihat pada Gambar 2.3.
Tabel II-1 menunjukkan percobaan pengukuran porositas dengan berbagai
variasi artificial sandpacks. Sebagai catatan bahwa secara umum penurunan
porositas dengan pemilahan yang buruk berlaku untuk semua ukuran butir dan
perkiraan porositas pada batu pasir extremely well sorted berlaku untuk semua
ukuran butir.

Gambar 2.3.
Pengaruh pemilahan terhadap porositas. (A) ukuran yang tidak seragam,
(B) butir butir spherical yang ideal (from Tiab and Donaldson, 2004)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Tabel II-1.
Pengukuran porositas artificial sandpacks (from Beard and Weyl, 1973)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Pada batuan yang kompak, butir butir pasir tersementasi bersama sama
biasanya dengan kuarsa atau karbonat. Sementasi mengurangi porositas batu pasir
seperti yang terlihat pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4.
Pengaruh sementasi terhadap porositas
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

2.1.1.1.1.2. Porositas pada Batuan Karbonat


Pada batuan karbonat, porositas sekunder biasanya lebih penting
dibandingkan porositas primer. Sumber utama porositas sekunder meliputi
rekahan, larutan dan penggantian senyawa kimia.
Rekahan membuat retakan dalam batuan. Gambar 2.5 menunjukkan
rekahan formasi yang ideal dimana butir butir yang keras dan rekahan
membentuk ruang pori. Meskipun porositas rekahan pada umumnya kecil,
seringkali 1-2%, rekahan sangat berguna dalam mengalirkan fluida untuk
mengalir lebih mudah dalam batuan. Sehingga, rekahan dapat meningkatkan
kapasitas aliran batuan.

Gambar 2.5.
Batuan rekah ideal dengan porositas rekahan yang rendah
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Larutan merupakan reeaksi kimia dimana air dengan karbon dioksida


terlarut bereaksi dengan kalsium karbonat untuk membentuk kalsium bikarbonat
yang dapat dipecah. Reaksi ini meningkatkan porositas limestone. Reaksi kimia :
CO2 + H2O = H2CO3
H2CO3 + CaCO3 = Ca(HCO3)2
Penggantian kimia adalah sebuah reaksi kimia dimana salah satu tipe dari
ion mengganti ion ion yang lainnya dengan menghasilkan penyusutan ukuran
butir dalam batuan. Sebagai contoh adalah dolomitisasi dimana ion ion kalsium
dalam kalsium karbonat diganti oleh ion ion magnesium untuk membentuk

kalsium

magnesium

karbonat

(dolomit).

Penggantian

ini

menyebabkan

penyusutan sekitar 12 sampai 13% volume butir, hal ini menyebabkan


meningkatnya porositas sekunder. Reaksi kimia :
2CaCO3 + MgCl2 = CaMg(CO3)2 + CaCl2
2.1.1.1.2. Klasifikasi Porositas Berdasarkan Aspek Engineering
Ditinjau dari aspek engineering, porositas batuan reservoir dapat
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
1. Porositas absolut, adalah persen volume poripori total terhadap volume
batuan total (bulk volume).

Volume pori total


100% ...............................................
bulk volume

(2-2)

2. Porositas efektif, adalah perbandingan volume poripori yang saling


berhubungan terhadap volume batuan total (bulk volume).

Volume pori yang berhubungan


100% ........................
bulk volume

(2-3)

Gambar 2.6 menunjukkan perbandingan antara porositas efektif, non


efektif dan porositas total dari suatu batuan. Untuk selanjutnya, porositas efektif
digunakan dalam perhitungan karena dianggap sebagai fraksi volume yang
produktif.

Gambar 2.6.
Porositas effektif, non effektif dan porositas total
(Bigelow Ed. L, 1995, Introduction to Wireline Log Analysis)

10

2.1.1.1.2. Klasifikasi Porositas Berdasarkan Aspek Geologi


Berdasarkan waktu terjadinya, cara terjadinya dan hubungan dari pori
pori batuan (aspek geologi), maka porositas dapat diklasifikasikan menjadi dua ,
yaitu :
1. Porositas primer, adalah porositas yang terbentuk pada waktu batuan
sedimen diendapkan, seperti: Intercrystalline, Intergranular or
interparticle, Bedding planes, Miscellaneous (vug, cavernous dan pori
pori yang disebabkan organisme).
2. Porositas sekunder, adalah porositas batuan yang terjadi setelah proses
pengendapan batuan, seperti akibat proses pelarutan, dolomitisasi,
rekahan dan lain - lain.

Porositas larutan, adalah ruang poripori yang terbentuk karena


adanya proses pelarutan batuan.

Rekahan, celah, kekar, yaitu ruang poripori yang terbentuk karena


adanya kerusakan struktur batuan sebagai akibat dari variasi beban,
seperti: lipatan, sesar, atau patahan. Porositas tipe ini sulit untuk
dievaluasi atau ditentukan secara kuantitatif karena bentuknya
tidak teratur.

Dolomitisasi,

dalam

proses

ini

batugamping

(CaCO3)

ditransformasikan menjadi dolomit ( CaMg( CO3 )2 ) atau menurut


reaksi kimia :
2CaCO3 + MgCl2 CaMg (CO3)2 + CaCl2
Menurut para ahli, batugamping yang terdolomitasi mempunyai
porositas yang lebih besar dari pada batu gampingnya sendiri.
Batuan sedimen klastik batupasir merupakan jenis batuan reservoir yang
mempunyai porositas primer. Tipe Porositas sekunder biasanya terbentuk pada
batuan karbonat.

11

2.1.1.2. Kompressibilitas
Kompressibilitas batuan didefinisikan sebagai perubahan volume yang
disebabkan karena adanya perubahan tekanan. Menurut Geerstma (1957) ada tiga
konsep tentang kompressibilitas batuan, antara lain :
a. Kompressibilitas matriks batuan, yaitu fraksi perubahan volume
material padatan (grains) terhadap satuan perubahan tekanan.
b. Kompressibilitas bulk batuan, yaitu fraksi perubahan volume bulk
batuan terhadap satuan perubahan tekanan.
c. Kompressibilitas pori-pori batuan, yaitu fraksi perubahan volume poripori batuan terhadap satuan perubahan tekanan.
Kompressibilitas poripori batuan dianggap yang paling penting dalam
teknik reservoir khususnya. Batuan yang berada pada kedalaman tertentu akan
mengalami dua macam tekanan, yaitu :
a. Internal Stress, yang berasal dari desakan fluida yang terkandung di
dalam pori-pori batuan (tekanan hidrostatik fluida formasi).
b. Eksternal Stress, yang berasal dari pembebanan batuan yang ada di
atasnya (tekanan overburden)
Pengosongan fluida dari ruang pori-pori batuan reservoir akan
mengakibatkan perubahan tekanan dalam batuan, sehingga resultan tekanan pada
batuan akan mengalami perubahan pula. Adanya perubahan tekanan ini akan
mengakibatkan perubahan pada butir-butir batuan, pori-pori dan volume total
(bulk) batuan reservoir.
Perubahan bentuk volume bulk batuan dapat dinyatakan sebagai
kompressibilitas Cr atau :

Cr

1 dVr
... (2-4)
.
Vr dP

Sedangkan perubahan bentuk volume pori-pori batuan dapat dinyatakan


sebagai kompressibilitas Cp atau :

Cp

1 dVp
.
... (2-5)
V p dP*

keterangan :

12

Vr

= volume padatan batuan (grains)

Vp

= volume pori-pori batuan

= tekanan hidrostatik fluida di dalam batuan

= tekanan luar (tekanan overburden).

2.1.1.2.1. Kompressibilitas Formasi


Fatt melaporkan hasil percobaan terhadap jumlah terbatas dari beberapa
sampel batuan yang kompak dan sandpack. Gambar 2.7 menunjukkan
kompressibilitas volume pori sebagai fungsi net overburden pressure untuk
batupasir yang mengandung butir butir yang poorly sorted, 20% - 40% semen.
Kompressibilitas tersebut lebih besar dibandingkan dengan yang diberikan pada
Gambar 2.8, yang mana untuk batu pasir yang mengandung butir butir yang
well sorted dan hanya mengandung 10% - 30% semen.
Brandt mendefinisikan bahwa net overburden pressure sebagai external
pressure, , dikurangi 85% dari internal fluid pressure. Angka tersebut tergantung
dari struktur batuan, berkisar antara 75% sampai 100% dengan rata rata 85%.

Gambar 2.7.
Pengaruh net overburden pressure terhadap kompressibilitas volume pori
untuk batu pasir yang tidak kompak dengan poorly sorted, kurva A ( =
0.36) dan batu pasir, kurva B ( = 0.13), C ( = 0.15), E dan D ( = 0.12)
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

13

Gambar 2.8.
Pengaruh net overburden pressure terhadap kompressibilitas volume pori
untuk batu pasir dengan butir butir well sorted
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

Gambar 2.9.
Hubungan antara kompressibilitas efektif batuan dan porositas
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

14

Hasil percobaan Fatt menunjukkan hubungan korelasi antara data


kompressibilitas dan porositas. Hasil ini berlawanan dengan kesimpulan yang
dikemukakan oleh Hall, menyatakan bahwa, dengan turunnya tekanan reservoir,
kompressibilitas pori setiap batuan reservoir adalah hasil dari dua faktor yang
berbeda : ekspansi butir butir batuan secara individual dan penambahan kompasi
formasi yang diakibatkan karena fluida reservoir kurang efektif dalam menahan
berat dari overburden. Dari kedua faktor tersebut, berdasarkan Hall,
kecenderungan penurunan porositas ditunjukkan pada Gambar 2.9.
2.1.1.2.2. Pengaruh Kompressibilitas Pori terhadap Perhitungan Cadangan
Pada saat reservoir pertama kali diproduksikan, volume cadangan minyak
mula mula adalah hal yang pertama dan parameter yang terpenting
diperhitungkan oleh seorang reservoir engineer. Pada dasarnya, metode perkiraan
cadangan minyak mula mula (oil in place) dari data penurunan tekanan pada
reservoir undersaturated diatas tekanan bubble point, mengasumsikan kondisi
volumetric, yaitu :
(2-6)
Keterangan :
N

= initial oil in place, bbl

Np

= Produksi minyak selama penurununan tekanan P, bbl

= Pi P

= Tekanan reservoir

ce

= Kompressibilitas efektif reservoir, dalam bentuk :


ce = ct/ So (2-7)
ct = coSo + cgSg + cwSwc + cf .... (2-8)

Keterangan : co, cg dan cw, merupakan kompressibilitas dari minyak, gas


dan air, dan So, Sg, dan Sw merupakan saturasi minyak, gas, water connate. Cf
merupakan kompressibilitas formasi, yang sama dengan kompressibilitas pori, cp
dan ct adalah kompressibilitas total. Jika N dan Np dalam satuan Stock Tank
Barrel (STB), maka persamaan (2-6) menjadi :

15

. (2-9)
Dimana Bo dan Boi merupakan faktor volume formasi minyak pada
tekanan P dan Pi.
Pada saat reservoir minyak undersaturated diproduksikan, tekanan pori
menurun, memungkinkan fluida reservoir untuk ekspansi dan menyediakan
energy untuk produksi. Sebagai tambahan, kompakasi formasi sebagai akibat
meningkatnya net overburden pressure, menyediakan penambahan energi untuk
mengalirkan fluida reservoir. Hall menunjukkan bahwa pengaruh kompressibilitas
formasi tersebut, jika diabaikan, dalam beberapa kasus perhitungan oil in place
akan berkisar antara 30% - 100% lebih besar dibandingkan oil in place yang
sesungguhnya.
2.1.2. Sifat Fisik Batuan terhadap Fluida Reservoir
2.1.2.1. Tegangan Permukaan dan Antar Permukaan
2.1.2.1.1. Tegangan Permukaan
Tegangan permukaan merupakan kecenderungan zat cair untuk menegang
sehingga pada permukaan zat cair seolah olah terdapat selaput atau lapisan yang
tegang , sehingga dapat menahan benda. Hal ini terjadi karena adanya gaya tarik
menarik antara partikel zat cair (kohesi). Kohesi adalah gaya tarik-menarik antar
molekul yang sama. Salah satu aspek yang memengaruhi daya kohesi adalah
kerapatan dan jarak antar molekul dalam suatu benda. Kohesi berbanding lurus
dengan kerapatan suatu benda, sehingga bila kerapatan semakin besar maka
kohesi yg akan didapatkan semakin besar.
Dalam hal ini, benda berbentuk padat memiliki kohesi yang paling besar;
dalam bentuk cair lebih lemah, dan dalam bentuk gas yang memiliki kohesi yang
paling lemah. Sedangkan, adhesi adalah gaya tarik menarik antara partikelpartikel yang tidak sejenis. Gaya adhesi akan mengakibatkan dua zat akan saling
melekat bila dicampurkan.
Ada 3 kondisi yg mungkin terjadi jika kita mencampurkan 2 macam zat:

16

Jika gaya kohesi antar partikel zat yang berbeda lebih besar daripada gaya
adhesinya, kedua zat tidak akan bercampur.
Jika gaya adhesi antar partikel zat yang berbeda sama besar dengan gaya
kohesinya, kedua zat akan bercampur merata.
Jika gaya adhesi antar partikel zat yang berbeda lebih besar daripada gaya
kohesinya, kedua zat akan saling menempel.
Gaya adhesi maupun kohesi disebabkan oleh ikatan kimia, yaitu ikatan
kovalen. Ikatan kovalen yaitu ikatan yang terjadi karena pemakaian pasangan
electron secara bersama. Ikatan kovalen terbentuk antara sesama bukan logam
(sama-sama ingin menangkap electron), yang meliputi fluida (cair dan gas) dan
padatan. Ikatan kovalen dapat dibagi menjadi ikatan kovalen polar dan non-polar.
Pada ikatan kovalen polar, pasangan electron ikatan (PEI) tertarik lebih kuat ke
salah satu atom, yaitu atom yang keelektronegatifannya lebih besar. Semakin
besar selisih keelektronegatifan, ikatan makin polar. Dengan kata lain, pada ikatan
kovalen polar, atom-atom pembentuknya mempunyai gaya tarik yang tidak sama
terhadap elektron pasangan persekutuannya. Hal ini terjadi karena beda
keelektronegatifan antara atom-atom penyusunnya. Akibatnya terjadi pemisahan
kutub positif dan negatif. Sementara pada ikatan kovalen non-polar, pasangan
electron ikatan (PEI) tertarik sama kuat ke semua atom. Dengan kata lain, pada
ikatan kovalen non-polar, titik muatan negatif elekton persekutuan berhimpit
karena beda keelektronegatifan yang kecil atau tidak ada.
Tegangan permukaan merupakan gaya yang bekerja pada antarmuka liquid
dan udara. Tegangan permukaan membuat permukaan liquid menurun bertindak
seperti sebuah membrane. Gaya tersebut disebabkan oleh perilaku molekul yang
tidak sama dari partikel partikel fluida pada permukaan seperti yang ditunjukkan
pada Gambar 2.10. Gaya per unit panjang ( = Force/ Length) yang cenderung
untuk berkontraksi terhadap permukaan dari liquid merupakan sebuah pengukuran
tegangan permukaan dari liquid. Satuannya sering dinyatakan dalam unit dynes/
cm.

17

Tegangan permukaan dari air murni pada 70 F adalah 72.5 dynes/ cm, dan
pada 200 F adalah 60.1 dynes/ cm. Tegangan permukaan dari minyak mentah
pada 70 F berkisar antara 24 sampai 38 dynes/ cm. Temperatur yang tinggi dan
gas terlarut cenderung untuk menurunkan tegangan permukaan dari minyak
mentah. Tabel II-2 menunjukkan tegangan permukaan dari beberapa liquid.

Gambar 2.10.
Kenampakan surface film disebabkan karena perilaku yang berbeda dari
molekul molekul permukaan dari liquid
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Tabel II-2.
Tegangan permukaan dari beberapa liquid murni
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

18

Faktor faktor yang mempengaruhi tegangan permukaan dari liquid


meliputi tekanan, temperature dan konsentrasi larutan. Peningkatan tekanan
menyebabkan turunnya tegangan permukaan dari liquid. Hal ini terjadi karena
tekanan mendesak ketahanan/ compressive force pada permukaan yang
menurunkan/ meregangkan ikatan dari permukaan. Peningkatan temperature
menyebabkan

menurunnya

tegangan

permukaan

dari

liquid.

Dengan

meningkatnya temperature menyebabkan meningkatnya ketidakteraturan susunan


molekul pada permukaan yang menyebabkan meningkatnya entropi permukaan.
Hal ini dapat ditunjukkan dari themodinamika dimana tegangan permukaan yaitu :
................................................................. (2-10)
Dimana Ss merupakan entropi permukaan dan T adalah temperature. Ini
cukup jelas dari persamaan (2-10) bahwa tegangan permukaan menurunkan akibat
naiknya temperature. Gambar 2.11 menunjukkan variasi tegangan permukaan
hidrokarbon dengan temperature.

Gambar 2.11.
Variasi tegangan permukaan dari hidrokarbon dengan temperature
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

19

Pengaruh konsentrasi larutan pada tegangan permukaan dari liquid


tergantung pada liquid dan kealamian dari larutan tersebut. Terdapat empat
penyebab mumu yang dapat diidentifikasi.
1. Liquid mempunyai nilai tegangan permukaan yang mendekati baik.
Umumnya, tegangan permukaan dari beberapa campuran diperkirakan dekat
dengan komposisinya. Sebagai contoh, untuk campuran acetone dan
kloroform

pada

18

C,

tegangan

permukaan

meningkat

dengan

komposisinya (mole % kloroform) dari 22 dynes/ cm untuk acetone murni


sampai 27 dynes/ cm untuk kloroform murni.
2. Liquid mempunyai nilai tegangan permukaan yang berbeda. Pada
umumnya, tegangan permukaan dari liquid menurun cukup signifikan
dengan ditambahnya liquid yang mempunyai tegangan permukaan yang
rendah, tetapi hanya naik sedikit dengan penambahan liquid yang
mempunyai tegangan permukaan yang tinggi. Sebagai contoh, penambahan
etanol kedalam air meyebabkan penurunan secara cepat tegangan
permukaan dari air dengan konsentrasi etanol. Sedangkan, penambahan air
kedalam benzene meningkatkan tegangan permukaannya dari 28.2 hanya
sampai 29.3 dynes/ cm.
3. Larutan elektrolit inorganic. Pada umumnya, tegangan permukaan
menungkat dengan adanya konsentrasi larutan. Sebagai contoh, tegangan
permukaan air pada 20 C akan meningkat dengan penambahan sodium
klorit dari 72.8 dynes/ cm sampai 80 dynes/ cm pada konsentrasi 5 mole
sodium klorit per liter larutan.
4. Larutan elektrolit colloidal (rantai panjang). Pada umumnya, tegangan
permukaan menurun dengan konsentrasi larutan. Sebagai contoh, tegangan
permukaan air pada 25 C akan berkurang dengan penmbahan sodium lauryl
sulfate dari 72 dynes/ cm ke 40 dynes cm pada konsentrasi 0.01 mole per
liter larutan.
Penggunaan persamaan empiric yang sering digunakan untuk menghitung
tegangan permukaan adalah konsep parachor. Persamaan parachor yaitu :

20

(2-11)
Dimana merupakan parachor, M adalah berat molekul liquid, adalah
tegangan permukaan liquid dalam dynes/ cm, L adalah densitas saturated liquid
dalam g/ cm3 dan g adalah densitas vapor saturated dalam g/ cm3. Parachor
memiliki nilai untuk spesifik atom dan struktur. Parachor diprediksi dari struktur
molekul atau dapat dihitung untuk zat murni dan campuran dari pengukuran
tegangan permukaan pada tekanan atmosfer. Parachor untuk zat murni diberikan
pada Tabel II-3. Korelasi untuk parachor dengan berat molekul ditunjukkan pada
Gambar 2.12 dan 2.13. Densitas saturated liquid dan uap untuk berbagai macam
liquid diberikan pada Gambar 2.14. Persamaan untuk menghitung tegangan
permukaan yaitu :
... (2-12)

Tabel II-3.
Parachor untuk menghitung tegangan permukaan dan antar permukaan
(Katz et al., 1959)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

21

Gambar 2.12.
Parachor untuk menghitung tegangan antar permukaan untuk hidrokarbon
normal paraffin (Katz et al., 1959)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Gambar 2.13.
Parachor untuk fraksi berat untuk menghitung tegangan antar permukaan
reservoir liquid (Firoozabadi et al., 1988)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

22

Gambar 2.14.
Densitas saturated liquid dan uap untuk berbagai zat
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

2.1.2.1.2. Tegangan Antar Permukaan


Tegangan antar permukaan merupakan gaya per unit satuan panjang yang
terdapat pada antarmuka dua fluida yng tidak saling campur (immiscible fluid)
seperti minyak dan air (Gambar 2.15). Gaya yang bekerja pada permukaan
molekul molekul sama dengan system liquid vapor. Energi bebas yang
dibutuhkan untuk membentuk antar permukaan yang fresh diperoleh sebagai

23

energy bebas antarmuka berlebih. Spesifik energy bebas antarmuka berlebih


adalah secara dimensional dan numeric sama dengan tegangan antar permukaan.
Seperti tegangan permukaan, satuan untuk tegangan antar permukaan adalah
dynes/ cm.

Gambar 2.15.
Penampakan surface film yang disebabkan oleh perilaku yang berbeda dari
molekul molekul pada antarmuka dua liquid
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Butanol (C4H9OH) dengan tegangan permukaan 24 dynes/ cm dalam


kontak dengan air (H2O) dengan tegangan antar permukaan 72 dynes/ cm. Dalam
system ini, tegangan antar permukaannya adalah 1.8 dynes/ cm. Tegangan antar
permukaan yang rendah mengindikasikan bahwa molekul molekul butanol
berpusat pada antarmuka, menurunkan kecenderungan berkontraksi antarmuka.
Pada 20 C, tegangan permukaan ethanol adalah 22.39 dynes/ cm dan air sebesar
72.80 dynes/ cm. Tegangan antar permukaan antara ethanol dan air adalah nol
karena ethanol dan air bercampur. Contoh ini menunjukkan bahwa tidak terdapat
hubungan yang simple antara tegangan permukaan liquid dan tegangan antar
permukaannya. Tabel II-4 menunjukkan tegangan antar permukaan untuk berbagai
jenis liquid terhadap air.
Terdapatnya komponen

ketiga dapat

mengurangi

tegangan antar

permukaan dua liquid. Sebagai contoh, tegangan antar permukaan air dan iso

24

pentanol adalah 4.4 dynes/ cm. Jika etanol ditambahkan kedalam system, molekul
molekul etanol akan menyerab pada antarmuka, sehingga mengurangi tegangan
antar permukaan antara air dan iso pentanol. Jika 25% berat etanol ditambahkan,
tegangan antar permukaan akan berkurang sampai nol. Sistem kemudian menjadi
miscible dan membentuk satu fasa.
Tabel II-4.
Tegangan antar permukaan antara air dan liquid murni
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Tegangan antar permukaan fluida reservoir (air) dan minyak mentah telah
diukur untuk sejumlah reservoir dan diperoleh nilai yang berkisar dari 15 sampai
35 dynes/ cm pada 70 F, 8 sampai 25 dynes/ cm pada 100 F, dan 8 sampai 19
dynes/ cm pada 130 F. Tabel II-5 menunjukkan hasil pengukuran tegangan antar
permukaan untuk beberapa fluida.
Tegangan antar permukaan antara minyak dan gas dapat dihitung
menggunakan parachor :

25

.. (2-13)
Dimana adalah tegangan antar permukaan antara minyak dan gas dalam
dynes/ cm, i adalah komponen ke-i parachor, xi adalah fraksi mol komponen ke-i
dalam liquid, ML adalah berat molekul liquid, L adalah densitas saturated liquid
dalam g/ cm3, yi adalah fraksi mol komponen ke-i dalam gas, Mg adalah berat
molekul gas, N adalah total jumlah komponen dalam campuran dan g adalah
densitas saturated gas dalam g/ cm3.
Tabel II-5.
Tipe tegangan antar permukaan dan sudut kontak untuk beberapa fluida
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Banyak fenomena reservoir bergantung pada tegangan antar permukaan


antara fluida reservoir dan batuan reservoir. Tegangan antar permukaan air dan
minyak dapat dikurangi secara signifikan dengan penambahan surface active
agent (surfactant) baik pada minyak ataupun air. Beberapa surfaktan ini terbentuk
secara alami dalam minyak mentah.
Saturasi minyak residual untuk pendesakan tak tercampur dalam media
berpori adalah fungsi tegangan antar permukaan antara fluida fluida,
wettabilitas, viscositas fluida dan laju pendesakan. Sehingga dapat ditulis :
. (2-14)

26

Dengan menggunakan analisis dimensional dapat ditunjukkan bahwa


urutan matriks dimensional diperoleh dari empat variable yaitu cos , nw, w,
dan v. Sehingga, dua kelompok dimensional tidak tergantung dapat diturunkan
dari empat variable. Hal ini dapat ditunjukkan bahwa :

. (2-15)
Dengan menggunakan x3 = -1, x4 = 0. Kelompok dimensionless diberikan :
.. (2-16)
Selanjutnya, dengan harga x3 = x4 = 1. Kelompok dimensionless menjadi :
(2-17)
Kelompok dimensionless dalam persamaan (2-17),

atau

Dalam kasus pembasahan yang sempurna, dikenal sebagai capillary number.


Capillary number merupakan ratio dari kekentalan gaya/ tekanan kapiler.
Sehingga :
. (2-18)
Hubungan fungsional antara saturasi minyak residual dan dua kelompok
dimensionless dapat ditulis sebagai berikut :
(2-19)
Untuk ratio viskositas tetap :
.... (2-20)
Oil recovery, yaitu :
... (2-21)

27

Gambar 2.16 menunjukkan tipe tipe korelasi untuk saturasi residual


versus capillary number untuk fluida wetting mendesak fluida nonwetting dan
untuk fluida nonwetting mendesak fluida wetting. Seperti korelasi yang biasanya
diperoleh sebagai capillary desaturation curves (CDC). Pertimbangan bahwafluida
wetting mendesak fluida nonwetting seperti injeksi air (water flooding) dalam
suatu reservoir water wet. Ini dapat dilihat bahwa terdapat capillary number
critical dibawah yang mana fluida nonwetting residual adalah konstan dan tidak
tergantung terhadap capillary number. Normal waterflood biasanya tepat berada
dalam kisaran capillary number. Diatas titik kritis capillary number, saturasi
minyak residu menurun sebagai akibat meningkatnya capillary number. Sehingga,
fasa nonwetting residu dapat bergerak dan dipindahkan dengan meningkatnya
pergerakan capillary number. Capillary number dapat ditingkatkan dengan
meningkatkan w dan v. Sedangkan cara yang paling efektif untuk meningkatkan
capillary number dengan menurunkan tegangan antar permukaan antara fasa
wetting dan fasa nonwetting dengan menggunakan surfaktan. Tegangan antar
permukaan kurang dari 0.1 dyne/ cm dapat diperoleh. Dalam batasannya, jika
tegangan antar permukaan dapat diturunkan sampai nol, fluida dapat menjadi
miscible (tercampur) dan tidak ada saturasi residu. Tentu, dalam praktiknya
memerlukan proses, tegangan antar permukaan tidak dapat dikurangi sampai nol
kecual dalam proses miscible.
Pertimbangan kasus fluida nonwetting mendesak fluida wetting, seperti
waterflood dalam reservoir oil wet. Capillary desaturation curve (CDC) adalah
sama untuk fluida nonwetting residu kecuali nilai kritis capillary number lebih
tinggi. Ini dapat dicatat bahwa nilai numeric saturasi residu diberikan pada
Gambar 2.16 untuk gambaran tujuan. Ini tidak dapat diasumsikan bahwa
waterfolld selalu mempunyai saturasi minyak residu sebesar 30%, ataupun dilihat
dari gambar bahwa ini lebih efisien untuk mendesak fluida wetting dengan fluida
nonwetting. Saturasi minyak residu dapat lebih besar atau lebih kecil dari 30%
tergantung pada faktor faktor seperti mobilitas ratio dari pendesakan dan sifat
sifat dari media berpori seperti struktur pori, distribusi ukuran pori, permeabilitas
dan wettabilitas. Dan juga, pada umunya lebih sulit untuk fluida nonwetting

28

mendesak fluida wetting dibandingkan fluida wetting mendesak fluida


nonwetting.

Gambar 2.16.
Tipe korelasi saturasi fasa residu nonwetting dan fasa wetting dengan
capillary number (Lake, 1989)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Gambar 2.17 menunjukkan data percobaan capillary desaturation dari


Abrams (1975) diperoleh pada sampel core yang sama tetapi ratio viskositas yang
berbeda. Dengan jelas dapat dilihat bahwa penurunan saturasi minyak residu
akibat meningkatnya capillary number. Gambar 2.18 menunjukkan plot data yang
sama terhadap modified capillary number yang meliputi ratio viskositas,
Terdapatnya ratio viskositas dapat memperbaiki korelasi.

29

Gambar 2.17.
Capillary desaturation data (Abrams, 1975)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Gambar 2.18.
Capillary desaturation data dengan pengaruh terdapatnya ratio viskositas
(Abrams, 1975)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

30

2.1.2.1.3. Pengukuran Tegangan Permukaan dan Antar Permukaan


2.1.2.1.3.1. Capillary Rise Experiment
Ketika pipa kapiler dimasukkan liquid wetting, liquid secara spontan akan
membentuk seperti cekungan seperti yang terlihat pada Gambar 2.19.

Gambar 2.19.
Capillary rise experiment
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Ketinggian ditentukan dengan keseimbangan antara gaya isap kapiler dan


tarikan gravitasi. Gaya kapiler bergerak ke atas dan untuk pipa kapiler sirkular
berlaku :
. (2-22)
Gaya gravitasi bekerja kebawah sesuai dengan persamaan :
(2-23)
Gaya yang kebawah juga dapat dinyatakan dalam kondisi tekanan pada
bagian yang berlawanan :
... (2-24)

31

Pada kesetimbangan, Gaya keatas sama dengan gaya kebawah. Persamaan


(2-22) dan (2-23) memberikan :
... (2-25)
Persamaan (2-25) dapat disusun menjadi :
... (2-26)
Tegangan permukaan, , dapat diperkirakan dengan mengukur variable
pada bagian kanan dari persamaan (2-26) dalam capillary rise experiment.
Percobaan tersebut dapat disederhanakan dengan menggunakan udara sebagai fasa
nonwetting dan menjaga pipa kapiler seperti pipa tersebut dibasahi sempurna oleh
fluida wetting. Dalam hal ini, nw << w, = 0 dan cos = 1. Persamaan (2-26)
menjadi :
... (2-27)
Dengan mengukur r, h dan w, perkiraan tegangan permukaan dapat
dengan mudah diperoleh dari persamaan (2-27).
Persamaan (2-27) dapat digunakan untuk menjelaskan karakteristik skala
panjang kapiler sebagai :
(2-28)
Untuk air pada temperature 25 C, = 72 dynes/ cm, w = g/ cm3dan g =
981 cm/ s2. Sehingga, untuk air :

Konstanta untuk capillary rise experiment :


.. (2-29)
Konstanta a2 adalah sifat fluida wetting. Untuk air pada 25 C, a2 = 0.1468
cm2. Persamaan (2-27) menjadi :
a2 = rh . (2-30)
Beberapa peneliti telah melakukan studi tentang capillary rise experiment dan
telah melakukan perbaikan persamaan untuk menjelaskan capillary rise

32

dibandingakan persamaan (2-30). Jurin (1718) memberikan persamaan capillary


rise sebagai berikut :
. (2-31)
dimana r/3 koreksi untuk volume liquid. Hagen dan Desains (19xx)
mendesain :
(2-32)
Rayleigh (1915) mendefinisikan lebih lanjut persamaan (2-32) menjadi :
. (2-33)
Persamaan (2-22), (2-23), (2-24) memberikan :
(2-34)
Dapat diperhatikan dari persamaan (2-34), perbedaan tekanan untuk
capillary rise experiment bernilai positif, yang berarti bahwa tekanan fasa
nonwetting lebih besar dibandingkan fasa wetting. Persamaan (2-34) menjadi :
.. (2-35)
2.1.2.1.3.2. Sessile Drop Method
Sessile drop method menentukan tegangan permukaan liquid terbagi atas
pengukuran jumlah penurunan liquid yang jatuh dari akhir instrument kapiler dan
permukaan liquid dengan nilainya diatur dari yang tertinggi ke nilai yang terendah
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.20. Prinsip metoda ini berdasarkan fakta
bahwa ukuran keluarnya liquid berbanding lurus terhadap tegangan permukaan
liquid. Ukuran keluarnya liquid dijangkau ketika tegangan permukaan tidak
sanggup lagi menahan beratnya. Untuk perkiraan pertama :
. (2-36)
Dimana Wideal adalah berat liquid yang turun, r adalah radius external pipa
dan adalah tegangan permukaan. Gambar 2.21 menunjukkan rangkaian bentuk
keluarnya yang terlepas dari bagian ujung. Terlepasnya keluarnya liquid
meninggalkan beberapa liquid sisa dibelakangnya. Sehingga, berat actual dari
keluarnya yang diukur lebih rendah dibandingkan berat idealnya. Untuk
menghitung ini, persamaan (2-36) dimodifikasi sebagai berikut :
(2-37)

33

dimana f adalah faktor koreksi yang dapat dituliskan sebagai fungsi dari
r/V1/3, dimana V adalah volume keluarnya liquid. Tabel II-6 menunjukkan faktor
koreksi untuk berbagai r/V1/3.

Gambar 2.20.
Sessile drop method untuk mengukur tegangan permukaan
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Gambar 2.21.
Rangkaian bentuk dari keluarnya liquid
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

34

Tabel II-6.
Faktor koreksi untuk Sessile drop Method (Adamson, 1982)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

2.1.2.1.3.3. Pendant Drop Method


Pendant drop method mengukur tegangan permukaan atau antar
permukaan tergantung pada densitas fluida dan dimensi dari keluarnya liquid.
Gambar 2.22 menunjukkan pendant drop dan dimensi yang relevan.

Gambar 2.22.
Pengukuran tegangan permukaan dengan pendant drop method
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

35

Tegangan permukaan atau antar permukaan dihitung dengan :


(2-38)
dimana adalah tegangan permukaan, de adalah diameter maksimum
keluarnya liquid, L adalah densitas uap, H adalah konstanta sebagai fungsi dari
de/ds dan g adalah kecepatan gravitasi. Pendant drop method dapat digunakan
untuk mengukur tegangan permukaan atau antar permukaan. Ini juga dapat
disesuaikan untuk mengukur pada tekanan dan temperature tinggi.
2.1.2.1.3.4. Ring Method
Ring method menentukan tegangan permukaan atau antar permukaan
tergantung pada pengukuran gaya yang dibutuhkan untuk menarik cincin bebas
antar permukaan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.23. Teorinya, tegangan
permukaan atau antar permukaan ditentukan dengan :
... (2-39)
dimana adalah tegangan permukaan atau antar permukaan. F adalah gaya
yang dibutuhkan untuk menarik cincin bebas dari antarmuka dan L adalah keliling
dari cincin. Faktor 2 menandakan bahwa terdapat dua permukaan disekeliling
cincin. Dalam praktiknya, koreksi dibutuhkan untuk menghitung massa liquid
yang ditinggal oleh cincin yang keluar melewati antarmuka seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.24. Seperti koreksi diperoleh dengan instrument.
Gambar 2.25 menunukkan tipe dari instrument, dikenal sebagai du Nouy
tensiometer, yang menggunakan ring method untuk menentukan tegangan
permukaan atau antar permukaan.

36

Gambar 2.23.
Pengukuran tegangan permukaan dengan ring method
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

37

Gambar 2.24.
Kondisi permukaan liquid pada saat breaking point
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Gambar 2.25.
Du Nouy tensiometer

(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

38

2.1.2.1.3.5. Spinning Drop Method


Spinning drop method menentukan tegangan permukaan atau antar
permukaan berdasarkan pada pengukuran bentuk dari keluarnya liquid atau
gelembung gas dalam liquid yang lebih berat terkandung dalam pipa putar
horizontal. Keluarnya atau gelembung adalah tipe rotasi pada kecepatan 1,200
sampai 24,000 revolution per minute (RPM). Dibawah rotasi, keluaran spherical
yang asli atau gelembung menjadi lebih panjang kedalam bentuk silinder seperti
yang ditunjukkan pada Gambar 2.26. Tegangan antar permukaan ditentukan
dengan :
.. (2-40)
dimana adalah tegangan permukaan atau antar permukaan, dynes/cm,
adalah perbedaan densitas antara dua fluida dalam g/ cm3, adalah kecepatan
anguler dalam radian/ s dan r adalah radius silinder dari keluaran dalam cm.
Sebuah instrument/ alat berdasarkan spinning drop method telah didesain
dan dipatenkan oleh Universitas Texas di Austin oleh Schechter dan Wade
(Gambar 2.27). Alat ini terutama sesuai untuk mengukur tegangan antar
permukaan yang rendah dan digunakan ekstensif untuk penelitian surfaktan.
Tegangan antar permukaan dibawah 10-6 dyne/ cm telah sukses diukur dengan
menggunakan alat ini.
2.1.2.2. Wettabilitas
Wettabilitas didefinisikan sebagai suatu ukuran atau kemampuan
permukaan batuan untuk cenderung dibasahi oleh fluida, jika diberikan dua fluida
yang tak saling campur (immiscible). Wetabilitas merupakan bentuk yang
digunakan untuk menggambarkan adhesi dari dua fluida atau suatu permukaan
padatan. Salah satu fluida akan bersifat lebih membasahi batuan daripada fluida
lainnya di dalam suatu reservoir kecenderungan suatu fluida untuk membasahi
batuan disebabkan adanya gaya adhesi, yaitu gaya tarik-menarik partikel yang
berlainan, yang merupakan faktor tegangan permukaan antara batuan dan fluida.
Dalam sistem reservoir digambarkan sebagai air dan minyak (atau gas) yang ada
diantara matrik batuan.

39

Gambar 2.26.
Keluaran liquid dalam bentuk silinder dalam spinning drop apparatus. (A)
benzene-water system pada 20,000 RPM, (B) octane-surfactant system pada
6,000 RPM (Cayias et al., 1975)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Gambar 2.27.
Skema spinning drop tensiometer (Cayias et al., 1975)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

40

Gambar 2.28.
Kesetimbangan Gaya-Gaya Pada Batas Air-Minyak-Padatan.
(Amyx, J. W., Petroleum Reservoir Engineering-physical Properties, 1960)

Wettabilitas ini penting peranannya dalam kinerja reservoir, sebab akan


menimbulkan tekanan kapiler yang akan memberikan dorongan sehingga minyak
atau gas dapat bergerak. Besaran wettabilitas ini sangat dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu:
1. Komposisi kimia batuan reservoir
2. Ukuran butir batuan, semakin halus ukuran butir batuan maka semakin
besar gaya adhesi yang terjadi
3. Komposisi kimia hidrokarbon
Hal ini seperti yang terlihat pada Gambar 2.29 dimana sudut yang
terbentuk berbeda tergantung komposisi kimia batuan reservoir dan komposisi
kimia hidrokarbon.
Wettabilitas terbagi menjadi dua kategori berdasarkan pada jenis
komponen yang mempengaruhi, yaitu :
1. Water wet
Water wet terjadi jika suatu batuan mempunyai sudut kontak fluida
(minyak dan air) terhadap batuan itu sendiri lebih kecil dari 90o ( <
90o). Kejadian ini terjadi sebagai akibat dari gaya adhesi yang lebih
besar pada sudut lancip yang dibentuk antara air dengan batuan

41

dibandingkan gaya adhesi pada sudut yang tumpul yang dibentuk


antara minyak dan batuan. Selain itu disebabkan juga karena tegangan
permukaan antara minyak dengan batuan lebih besar dibandingkan
dengan tegangan permukaan antara air dengan batuan.
2. Oil wet
Oil wet terjadi jika suatu batuan mempunyai sudut kontak antara fluida
(minyak dan air) terhadap batuan itu sendiri dengan sudut lebih besar
dari 900 ( > 900). Selain itu disebabkan juga karena tegangan
permukaan antara minyak dengan batuan lebih kecil dibandingkan
dengan tegangan permukaan antara air dengan batuan. Karakter oil wet
pada kondisi batuan reservoir tidak diharapkan sebab akan
menyebabkan jumlah minyak yang tertinggal pada batuan reservoir
saat diproduksi lebih besar daripada water wet.

Gambar 2.29.
Sudut Kontak Antara Air, Padatan dan Hidrokarbon
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

42

a. Oil Wet

b. Water Wet

Pore space occupied by H O


Rock matrix
Pore space occupied by Oil

Gambar 2.30.
Pembasahan Fluida Dalam Pori-pori Batuan

(Amyx, J. W., Petroleum Reservoir Engineering-physical Properties, 1960)

Reservoir pada dasarnya mempunyai karakter water wet sehingga air akan
lebih cenderung untuk melekat pada batuan, dimana posisi minyak akan berada
diantara fasa cair. Posisi ini mengakibatkan minyak tidak mempunyai gaya tarik
menarik dengan batuan sehingga akan lebih mudah untuk bergerak (mengalir).
Fluida yang mempunyai sifat membasahi dapat dilihat dari besarnya sudut kontak
yang terbentuk. Gaya yang mengakibatkan air lebih bersifat membasahi padatan
(adhesi tension) untuk sistem air-minyak dan padatan adalah :
AT = so - sw = wo. cos wo ............................................................ (2-41)
keterangan :
AT = adhesi tension, dyne/cm
so = tegangan permukaan minyak-benda padat, dyne/cm.
sw = tegangan permukaan air-benda padat, dyne/cm.
wo = tegangan permukaan minyak-air, dyne/cm.
wo = sudut kontak minyak-air.
Jika tabung gelas kapiler ditempatkan dalam suatu tempat yang terbuka
besar yang berisi air, kombinasi dari tegangan permukaan dan wetabilitas dari
tabung ke air akan menyebabkan air naik ke dalam tabung diatas level air yang
terdapat diluar tabung, lihat Gambar 2.31.

43

Gambar 2.31.
Hubungan tekanan dalam tabung kapiler.
(Ahmed Tarek, 2000, Reservoir Engineering)

Tinggi kenaikan fluida pembasah pada pipa kapiler tergantung pada adhesi
tension, diameter pipa kapiler dan perbedaan densitas antar kedua sistem tersebut
(air dan udara). Terdapat dua gaya yang bekerja pada sistem tersebut, yaitu gaya
ke atas (akibat tegangan adhesi) dan gaya ke bawah (akibat berat kolom fluida).

Fup (2r ) ( gw ) (cos ) ........................................................... (2-42)


Fdown (r 2 ) ( w a ) g h .................................................... (2-43)
Kesetimbangan terjadi bila gaya ke atas (Fup) sebanding dengan gaya ke bawah
(Fdown).

Fup

Fdown

(2r ) ( gw ) (cos ) (r 2 ) ( w a ) g h) ........................ (2-44)

aw

r ( w a ) gh
............................................................ (2-45)
2 cos

Sedangkan untuk sistem minyak-air adalah sebagai berikut :

gw

r ( w g ) gh
2 cos

............................................................ (2-46)

44

Keterangan :
gw = tegangan permukaan antara gas dan air, dyne/ cm
ow = tegangan permukaan antara minyak dan air, dyne/ cm
w

= densitas air, gr/cc

= densitas minyak, gr/cc

= jari-jari pipa kapiler, cm

= sudut kontak, derajat

2.1.2.2.1. Penentuan Wettabilitas


2.1.2.2.1.1. Contact Angle Method
Sudut kontak merupakan salah satu parameter yang terpenting digunakan
untuk mengevaluasi wettabilitas reservoir. Pengukuran sudut kontak pada
dasarnya untuk membuktikan baik atau tidaknya reservoir minyak mengandung
surfaktan yang dapat membuat secara alami permukaan mineral water wet
menjadi oil wet. Pengukuran sudut kontak ditunjukkan dengan cell sudut kontak
menggunakan alat yang disebut goniometer. Permukaan mineral dibenamkan
dalam brine/ air asin (atau minyak) dan diizinkan sampai setimbang. Keluarnya
minyak (atau air asin) lalu diketahui pada permukaan dengan hypodermic syringe
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.32. Sudut kontak kemudian diukur
diakhir waktu. Pengujian dapat berlangsung beberapa minggu tergantung pada
waktu yang dibutuhkan untuk menjangkau adsorpsi. Peralatan dapat disesuaikan
untuk pengukuran sudut kontak pada tekanan dan temperature tinggi.
Dua sudut kontak normalnya diukur : sudut kontak advancing dan
receding. Sudut kontak advancing (A) adalah sudut kontak yang diperoleh ketika
air menjadi setimbang dengan permukaan sebelumnya dalam kontak dengan
minyak seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.33. Sudut kontak receding (R)
adalah sudut kontak yang diperoleh ketika minyak menjadi setimbang dengan
permukaan sebelumnya dalam kontak dengan air. Sudut kontak advancing selalu
lebih besar dibandingkan sudut kontak receding. Normalnya, sudut kontak
advancing yang dilaporkan sebagai sudut kontak dalam uji wettabilitas.

45

Gambar 2.32.
Sudut kontak cell

(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Gambar 2.33.
Sudut kontak advancing dan receding
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Gambar 2.34. menunjukkan hasil pengujian sudut kontak. Pada saat awal
pengukuran sudut kontak menunjukkan batuan adalah water wet. Namun, dengan
berjalannya waktu, derajat kebasahan batuan berkurang. Akhirnya, setelah
kesetimbangan adsorpsi diperoleh batuan ditemukan menjadi oil wet. Sebagai
catatan untuk pengujian ini, setelah 30 hari maka aging diperlukan untuk
membuktikan kesetimbangan adsorpsi.

46

Gambar 2.34.
Proses menjangkau sudut kontak yang setimbang (Craig, 1971)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

2.1.2.2.1.2. Amott Wettability Test


Amott wettability index diperoleh dengan mengkombinasikan imbibition
displacement test pada sampel core reservoir menggunakan minyak hasil
penyulingan dan brine sintetik. Setelah sampel core reservoir dijenuhi dengan
brine untuk saturasi minyak residu dan untuk menghilangkan gas, berikut langkah
langkah dari pengujian ini :
1. Core dicelupkan dalam minyak (seperti kerosene) dan volume brine
didesak dengan imbibisi minyak diukur setelah 20 jam dalam cell
imbibisi seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.35.
2. Core ditekan/ diberikan gaya centrifugal didalam kerosin dan
penambahan brine yang didesak oleh gaya centrifugal diukur.
3. Core dicelupkan dalam brine dan volume minyak didesak oleh imbibisi
brine diukur setelah 20 jam
4. Core diberikan gaya centrifugal dalam brine dan penambahan minyak
yang didesak oleh gaya centrifugal diukur.

47

Gambar 2.35.
Imbibition cell

(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Index wettabilitas air (WIw) dan minyak (WIo) dihitung dengan :


... (2-47)
.. (2-48)
Amott wettability index dan angka dimensionless berkisar dari 0 sampai 1.
Jika batuan adalah water wet, WIo akan bernilai 0 dan WIw > 0. Semakin besarnya
derajat kebasahan air batuan, maka WIw akan mendekati sampai 1. Sama halnya,
jika batuan adalah oi wet, WIw akan bernilai 0 dan WIo > 0. Semakin besarnya
derajat kebasahan minyak batuan, WIo akan mendekati harga 1. Untuk batuan
yang wettabilitasnya intermediate atau netral, WIw dan WIo akan bernilai 0 atau
mendekati 0. Terkadang, perbedaan harga WIw - WIo digunakan sebagai
pengukuran wettabilitas. Dalam hal ini, indeks wettabilitas berkisar dari -1 sampai
+1. Indeks -1 mengindikasikan batuan strong oil wet sedangkan indeks +1
mengindikasikan batuan strong water wet.

48

2.1.2.2.1.3. United States Bureau of Mines (USBM) Wettability Index


USBM wettability index diperoleh dengan menentukan total gaya
percobaan pendesakan air dan minyak menggunakan centrifuge. Hasilnya seperti
percobaan yang ditunjukkan pada Gambar 2.36. Pada saat mula mula sample
disaturasi dengan air. Kemudian air didesak dengan minyak untuk membuat
saturasi air tidak dapat bergerak (irreducible) menggunakan centrifuge. Proses ini
ditandai dengan I dalam setiap gambar. Selanjutnya, sample yang mengandung
saturasi minyak initial dan saturasi air irreducible diberikan gaya centrifugal
dalam air untuk saturasi minyak residu. Proses ini ditandai dengan II dalam setiap
gambar. Sample yang sekarang mengandung air dan saturasi minyak residu
kemudian diberi gaya centrifugal dalam minyak untuk saturasi air irreducible.
Proses ini ditandai dengan III dalam setiap gambar. USBM wettability index
dihitung dengan sebagai berikut :
(2-49)
dimana A1 dan A2 merupakan area dibawah kurva tekanan kapiler
ditunjukkan dalam setiap gambar.
Area dibawah kurva tekanan kapiler mewakilkan kerja thermodinamik
yang dibutuhkan untuk pendesakan. Pendesakan fasa nonwetting dengan fasa
wetting membutuhkan sedikit kerja dibandingkan pendesakan fasa wetting dengan
fasa nonwetting. Sehingga, ratio area dibawah kurva tekanan kapiler, (A1/ A2),
adalah suatu pengukuran derajat wettabilitas dari media berpori. Sehingga, USBM
wettability index untuk water wet medium akan bernilai positif seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.36A, dan untuk oil wet medium akan bernilai
negative seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.36B dan yang wettabilitas netral
medium akan bernilai 0 seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.36C. USBM
wettability index berkisar antara -1 untuk batuan strongly oil wet sampai +1 untuk
batuan strongly water wet. Nilai absolut indeks adalah suatu pengukuran derajat
wettabilitas. Nilai wettabilitas index bernilai 0 mengindikasikan tidak ada
pembahasan oleh fluida.
Gambar 2.37 membandingkan USBM wettability index dan Amott
wettability index, (WIw WIo), empat puluh tiga outcrop rock sample dan tiga

49

sample batuan reservoir. Terdapat korelasi yang kuat antara dua pengukuran
wettabilitas. Terutama, kedua metode menunjukkan tiga sample batuan reservoir
menjadi oil wet diindikasikan dengan nilai negative untuk kedua indeks
wettabilitas.

Gambar 2.36.
Penentuan USBM wettability index (Donaldson et al., 1969)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

50

Gambar 2.37.
Perbandingan USBM wettability index dengan Amott wettability index untuk
beberapa sample core (Donaldson et al., 1969)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

2.1.2.2.2. Pengaruh Wettabilitas terhadap Interaksi Batuan Fluida


2.1.2.2.2.1. Pengaruh Wettabilitas terhadap Oil Recovery
Tahap produksi primer (primary oil recovery) dipengaruhi oleh wettabilitas
system karena system water wet akan memperbesar perolehan minyak pada tahap
primer, tetapi hubungan antara primary recovery dan wettabilitas belum
dikembangkan. Studi tentang pengaruh wettabilitas terhadap oil recovery
dikembangkan untuk waterflooding dan analisis perilaku kurva permeabilitas
relative. Perubahan dalam perilaku waterflood sebagai system wettabilitas
ditunjukkan pada Gambar 2.38. Donaldson et al., mentreatment core cukup lama
dengan berbagai jumlah organochlorosilane untuk perubahan secara progressive
wettabilitas dari outcrop core dari water wet (USBM Iu = 0.649) sampai strongly
water wet (Iu = -1.333). Setelah menentukan wettabilitas, menggunakan bagian
kecil dari core, sample tersebut disimulasikan dengan melakukan waterfloods,
menggunakan minyak mentah. Hasilnya menunjukkan bahwa system menjadi
lebih oil wet, sedikit minyak yang diperoleh pada setiap injeksi air. Hasil ini juga
sama dengan percobaan yang dilakukan oleh Emercy et al. dan Kyre et al.

51

Gambar 2.39.
Recovery efficiency sebagai fungsi injeksi air dan wettabilitas
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

Kurva permebilitas relative digunakan untuk evaluasi secara kuantitatif


dari performance waterflood, dan pengaruh wettabilitas dapat dipelajari dalam
perubahan yang terjadi pada kurva permeabilitas relative (Gambar 2.40). Dalam
kasus wettabilitas tercampur, permeabilitas relative dari beberapa fasa sebagai
fungsi distribusi saturasi dari dua fasa dalam batuan.
Terdapat faktor lain yang mempengaruhi/ merusak trend normal dari kurva
permeabilitas relative. Aliran relative dari fluida fluida adalah sebagai fungsi
distribusi ukuran pori, sehingga, setiap perubahan dari distribusi ini karena
blocking akan merubah kurva permeabilitas relative. Penggunaan tekanan
overburden untuk core dalam laboratorium mengubah ukuran pori dan distribusi
ukuran pori, mengurangi ukuran dari pori pori yang lebih besar, yang juga
merubah porositas. Lebih lanjut, ukuran pori yang lebih kecil akan meningkatkan
saturasi air irreducible dalam batuan water wet saturasi minyak residu, sehingga
saturasi minyak mobile akan menurun. Peningkatan temperature menyebabkan
wettabilitas untuk berubah menjadi lebih water wet system. Sehingga, core floods
untuk penentuan permeabilitas relative harus disimulasikan pada kondisi reservoir
terhadap tekanan overburden, tekanan pori, dan temperature untuk menghasilkan
kurva permeabilitas relative untuk mewakilkan kondisi reservoir.

52

Gambar 2.40.
Tipe kurva permeabilitas relative untuk (a) water wet dan (b) oil wet system
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

Dalam system water wet, air terjebak pada pori pori yang kecil dan yang
terpenting melapisi pori pori yang besar dengan lapisan tipis. Permeabilitas
relative air sangat rendah, bahkan ketika saturasi minyak telah turun sampai sor,
karena minyak residual dalam pori pori yang besar tersisa sampai cukup efektif
untuk menghadang aliran air (Gambar 2.40). Ketika core water wet diinjeksi air
dari saturasi initial sama dengan saturasi irreducible (siw), hanya minyak yang
diproduksi sampai saturasi kritis air rata rata dicapai dimana water breakthrough

53

dimulai. Water breakthrough mengindikasikan ketika air terproduksi pertama kali


di sumur produksi. Sebelum terjadi water breakthrough, terjadi pendesakan
terhadap minyak yaitu piston like displacement karena untuk setiap volume air
yang diinjeksikan sama dengan volume minyak yang diproduksikan. Hanya
setelah water breakthrough, ratio produksi air minyak meningkat secara
signifikan, menjangkau titik dimana produksi minyak hampir berhenti dan saturasi
minyak residu tercapai. Untuk mencapai saturasi minyak residu yang sebenarnya
(ultimate) membutuhkan waterflooding yang secara berkelanjutan sampai
produksi minyak seluruhnya berhenti. Batas ini membutuhkan seratus volume pori
yang diinjeksi air, sehingga batasan sor hanya diinvestigasi untuk aplikasi
penelitian yang special. Untuk system strongly water wet dengan ratio viscositas
minyak/ air moderate, ketiga saturasi rata-rata saturasi breakthrough, sor, dan
ultimate sor adalah sama. Untuk intermediate atau system oil wet, ketiga saturasi
dapat berbeda.
Dalam system oil wet, secara teoritis, lokasi dari dua fluida dibalik.
Bahkan pada saturasi air yang rendah, permeabilitas efektif minyak sangat rendah
dibandingkan system water wet (pada setiap saturasi yang diberikan) karena air
dalam pori pori yang besar menghadang aliran minyak. Ini menjadi lebih berat
sebagai meningkatnya saturasi air selama injeksi air., dan pada akhirnya
menghasilkan saturasi minyak akhir lebih besar dibandingkan dalam system water
wet (Gambar 2.40). Permeabilitas efektif air seharusnya lebih tinggi dalam system
oil wet karena, secara teoritis, minyak terdapat dalam pori pori yang kecil dan
melapisi pori pori yang besar dengan lapisan tipis dan tidak terlalu mengganggu
aliran air. Permeabilitas relative dikontrol oleh distribusi fluida dalam pori pori
batuan. Permeabilitas relative fluida pada setiap saturasi adalah sebagai fungsi
mobilitinya, dimana sejalan sebagai fungsi ukuran kapiler dan wettabilitas. Fasa
wetting mempunyai mobilitas lebih rendah jika terdapat dalam pori pori yang
kecil dan menempel pada permukaan batuan. Dalam system oil wet, water
breakthrough terjadi pada saat permulaan flooding, pada faktanya, hal ini dapat
terjadi sebelum minyak terproduksi jika ratio viskositas air/ minyak sangat

54

rendah. Setelah water breakthrough, produksi minyak berkelanjutan dengan


meningkatnya ratio produksi air minyak.

Gambar 2.41.
Ultimate recovery sebagai fungsi wettabilitas. Perolehan minyak maksimum
diperoleh pada saat batuan netral atau slightly oil wet
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

Pentingnya pengukuran wettabilitas digambarkan dengan performance


waterflood untuk system pada berbagai variasi wettabilitas. Donaldson et al.
mentreatment sample batu pasir sepanjang 30 cm dengan meningkatkan
konsentrasi senyawa organosilane untuk membuat sample core lebih bersifat oil
wet. Kemudian core disaturasi dengan brine dan mengurangi saturasi air
irreducible dengan pendesakan brine oleh minyak. Bagian kecil dari beberapa core
dihapus dan diuji untuk wettabilitas, dan waterflood dilakukan menggunakan sisa
core yang sepanjang 25 cm (Gambar 2.39). Wettabilitas berkisar dari 0.649
(strongly water wet) sampai -1.333 (strongly water wet) diperoleh, dan waterflood
menunjukkan bahwa system strongly water wet akan mengalami water
breakthrough setelah produksi minyak telah diperoleh dan sangat sedikit produksi
minyak akan diperoleh setelah water breakthrough. System menjadi lebih oil wet,
water breakthrough terjadi pada permulaan flooding dan produksi berkelanjutan
untuk periode yang cukup panjang setelah water breakthrough pada ratio produksi

55

air/ minyak yang cenderung konstan. Percobaan yang sama juga ditunjukkan oleh
Emery et al., menggunakan oil wet sandpack dengan mengvariasikan waktu aging
dari core, pada 71 C dan tekanan 7 MPa, dari 5 sampai 1000 jam (Gambar 2.42).
Hasilnya juga menunjukkan bahwa untuk jumlah yang spesifik injeksi air, sedikit
minyak diperoleh setelah water breakthrough karena system menjadi lebih bersifat
oil wet.

Gambar 2.42.
Pengaruh aging pada system batuan - air - minyak terhadap efisiensi
perolehan minyak
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

2.1.2.2.2.2. Pengaruh Salinitas Air Asin terhadap Oil Recovery


Peningkatan perolehan minyak telah terjadi dalam beberapa kasus ketika
salinitas air asin yang diinjeksikan diturunkan secara substansial. Tang dan
Morrow menyimpulkan dari data percobaan bahwa beberapa kondisi dibutuhkan :
1. Reservoir harus system wettabilitas tercampur dimana minyak residu sisa
immobile dalam pori pori oil wet yang besar dan water connate secara
principal menjadi lebih kecil, pori pori water wet.
2. Batuan mengandung potensi partikel mobile clay dan mineral lainnya yang
menempel pada dinding pori pori.

56

3. Distribusi ukuran partikel lebih sedikit dibandingkan distribusi ukuran


pori. Sehingga, ketika partikel dikeluarkan sehingga dapat ditransportasi
dalam batuan dengan injeksi air asin tanpa membahayakan porositas dan
permeabilitas
Dalam system wettabilitas tercampur, senyawa surfaktan dalam minyak
cenderung bermigrasi ke antar permukaan minyak batuan dan melapisi
permukaan partikel. Ketika injeksi brine mempunyai salinitas air yang sama
dengan connate water, bagian oil wet yang muncul dari partikel partikel
menahan keluarnya minyak dari beberapa pori pori dan lapisan dari minyak
yang mengisi sebagian besar pori pori. Ketika salinitas injeksi brine dirurunkan,
keseimbangan lapisan double elektrikal (dalam air antara partikel partikel)
meningkat, menyebabkan ekspansi lapisan berlapis dan sehingga menghasilkan
partikel partikel dari dinding pori. Ketika minyak menghasilkan partikel
partikel pada lapisan, injeksi brine mendesak partikel partikel dengan membawa
minyak (dan lapisan minyak mengisi pori pori). Kumulatif mobilisasi partikel
partikel dan minyak dapat meningkatkan perolehan minyak secara signifikan.
Penurunan sepuluh kali lipat salinitas injeksi brine menaikkan perolehan minyak
pada saat water breakthrough dari 56.0% sampai 61.9% dan ultimate recovery
waterflood dari 63.6% sampai 73.2%.
2.1.2.2.2.3. Pengaruh Wettabilitas terhadap Saturasi Air Irreducible
Ini telah dikaji bahwa saturasi air irreducible dalam batuan reservoir oil
wet cenderung untuk lebih rendah dibandingkan batuan reservoir water wet. Craig
(1971) memberikan rule-of-thumb saturasi air irreducible untuk reservoir water
wet dan oil wet. Untuk reservoir water wet, saturasi air irreducible biasanya lebih
besar dari 20% sampai 25% sedangkan untuk reservoir oil wet pada umumnya
lebih rendah dibandingkan 15% dan frekuensinya lebih rendah dari 10% dari
volume pori.

57

2.1.2.2.2.4. Pengaruh Wettabilitas terhadap Sifat Kelistrikan Batuan


Wettabilitas mempengaruhi eksponen saturasi, n, dalam persamaan indeks
resistivitas Archie. Untuk batuan water wet, eksponen saturasi biasanya sekitar 2.
Sedangkan, untuk batuan oil wet, eksponen saturasi dapat meningkat samapi nilai
yang agak tinggi sebagai penurunan saturasi air. Tabel II-7 menunjukkan hasil
laboratorium pengukuran n sebagai fungsi saturasi air dalam batu pasir oil wet. Ini
dapat dipelajari bahwa dibawah saturasi air tertentu, eksponen saturasi meningkat
diatas nilai yang biasanya yaitu 2. Eksponen saturasi meningkat sampai 9 yang
diukur dalam percobaan.
Tabel II-7.
Eksponen saturasi Archie dalam batuan oil wet (Mungan and Moore, 1968)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Gambar 2.43 menunjukkan pengaruh wettabilitas terhadap indeks


resistivitas core karbonat. Dalam studi ini, core dibuat sebagai water wet dengan
memanaskan sampai 500 F dan oil wet yang dicuci dengan asam organic.
Pengukuran juga dibuat pada core core yang memiliki wettabilitas netral.
Klasifikasi wettabilitas berdasarkan pada uji imbibisi. Persamaan menghubungkan
indeks resistivitas dan saturasi air untuk core netral dan water wet yaitu I = Sw-1.92
dan I = Sw-1.61, emberikan eksponen saturasi yaitu 1.92 dan 1.61. Data untuk core
oil wet dipisahkan kedalam dua trend yang berbeda dijelaskan dengan persamaan
I = 0.000027Sw-12.27 untuk trend pertama dan I = 0.375Sw-8.09 untuk trend yang
kedua, memberikan eksponen saturasi 12.27 dan 8.09. Pemisahan data oil wet
dilakukan untuk membedakan distribusi ukuran pori core.

58

Gambar 2.43.
Pengaruh wettabilitas pada indeks resistivitas core karbonat
(Sweeney and Jennings, 1960)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

2.1.2.3. Tekanan Kapiler


Tekanan kapiler didefinisikan sebagai perbedaan tekanan yang terjadi
diantara permukaan dua fluida yang tidak saling bercampur (cairan-cairan atau
cairan-gas) dimana keduanya dalam keadaan statis di dalam sistem kapiler.
Perbedaan tekanan dua fluida ini adalah perbedaan tekanan antara fluida nonwetting (Pnw) dengan fluida wetting (Pw).
Tekanan kapiler secara matematis dapat dituliskan :
Pc = Pnw - Pw .. (2-50)
Pada Gambar 2.44b, dua fluida membasahi dinding kapiler untuk luas
yang sama, dan tekanan setiap fluida yang sama. Sehingga, antar permukaan
antara fluida tak tercampur yaitu tegak lurus (90) dan tekanan kapiler sama

59

dengan nol. Jika tekanan dalam air lebih besar dibandingkan minyak, kurva antar
permukaan diarahkan kepada minyak dan tekanan kapiler bernilai positif (Gambar
2.44c).

Gambar 2.44.
Variasi kondisi pembasahan untuk air dan minyak dalam suatu kapiler,
menggunakan metoda sudut kontak
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

2.1.2.3.1. Penurunan Persamaan Tekanan Kapiler


Tekanan permukaan fluida yang lebih rendah terjadi pada sisi pertemuan
permukaan fluida immiscible yang cembung. Air pada umumnya merupakan fasa
yang membasahi (fasa wetting) di dalam suatu reservoir, sedangkan minyak dan
gas sebagai fasa tak membasahi (fasa non-wetting).

60

Gambar 2.45.
Kenaikan permukaan fluida
akibat tegangan permukaan pada pipa kapiler

(Amyx, J. W., Petroleum Reservoir Engineering-physical Properties, 1960)

Gaya-gaya yang bekerja pada sistem minyak-air tersebut adalah :


1. Besar gaya tarik keatas adalah 2row(cos), dimana r adalah jari-jari
pipa kapiler.
2. Sedangkan besarnya gaya dorong ke bawah adalah r2hg(w-o).
Pada kesetimbangan yang tercapai kemudian, gaya ke atas akan sama
dengan gaya ke bawah yang menahannya yaitu gaya berat cairan. Secara
matematis dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut :

2 r ow cos r 2 h g ( w o ) ...................................... (2-51)


atau :

2 ow cos
....................................................................... (2-52)
r ( w o ) g

Sedangkan untuk sistem udara-air, dapat dinyatakan dalam persamaan


berikut:

2 gw cos
r ( g o ) g

....................................................................... (2-53)

Keterangan :
h

= ketinggian cairan di dalam pipa kapiler, cm

= jari-jari pipa kapiler, cm.

w = massa jenis air, gr/cc

61

o = massa jenis minyak, gr/cc


g

= percepatan gravitasi, cm/dt2

Dengan memperlihatkan permukaan fasa minyak dan air dalam pipa


kapiler maka akan terdapat perbedaan tekanan yang dikenal dengan tekanan
kapiler (Pc). Besarnya Pc sama dengan selisih antara tekanan fasa air dengan
tekanan fasa minyak, sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut :
Pc = Po Pw = (o - w) g h .............................................................. (2-54)
Tekanan kapiler dinyatakan berdasarkan sudut kontak dalam hubungan
sebagai berikut :

Pc

2. . cos
. g . h .............................................................. (2-55)
r

Keterangan :
Pc = tekanan kapiler
= tegangan permukaan minyak-air
= sudut kontak permukaan minyak-air
r

= jari-jari pipa kapiler

= perbedaan densitas dua fluida, gr/cc.


g = percepatan gravitasi, cm/sec2.
h = tinggi kolom fluida, cm.
Sedangkan tekanan kapiler pada pori batuan untuk sistem butiran yang
teratur dan seragam, Plateau menyatakan bahwa tekanan kapiler merupakan
fungsi tegangan antar muka dan jari-jari lengkungan bidang antar muka seperti
yang terlihat pada gambar 2.46. Persamaan tekanan kapiler dapat dinyatakan
sebagai berikut :

1
1
........................................................................ (2-56)
P c

R
R
1
2
Keterangan :
R1 dan R2 = jari-jari dari lengkungan bidang antar muka dalam sistem
fluida dalam pori batuan, inch

= tegangan permukaan, lb/inch

62

Ganbar 2.46.
Kontak Ideal Antara Wetting phase dan Grain

(Amyx, J. W., Petroleum Reservoir Engineering-physical Properties, 1960)

Penentuan harga R1 dan

R2, dilakukan dengan perhitungan jari-jari

kelengkungan rata-rata (Rm), yang didapatkan dari perbandingan persamaan 2-55


dengan persamaan 2-56. Dari perbandingan tersebut didapatkan persamaan
perhitungan jari-jari kelengkungan rata-rata sebagai berikut :

1
1
1 2 cos g h

......................................... (2-57)
Rm
R
R
rt

2
1
Dari Persamaan (2-57) ditunjukkan bahwa h akan bertambah jika
perbedaan densitas fluida berkurang, sementara faktor lainnya tetap. Hal ini
berarti bahwa reservoir gas yang terdapat kontak gas-air, perbedaan densitas
fluidanya bertambah besar sehingga akan mempunyai zona transisi minimum.

2.1.2.3.2. Capillary Rise


Ketika pipa kapiler dimasukkan system dua fasa, bentuk fluida tak
tercampur dalam kapiler akan :

63

1. Berbentuk cekung, yang akan naik diatas antar permukaan antara dua
liquid diluar kapiler
2. Berbentuk lurus dan level dengan antar permukaan fluida total
3. Berbentuk cekung dan dibawah antar permukaan fluida total
sebagaimana diilustrasikan pada Gambar 2.47.

Gambar 2.47.
Bentuk dari kapiler mempunyai perbedaan wettabilitas
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

Bentuk dan tinggi dari body kapiler tergantung dari pengaruh yang relatif
gaya kohesif molekul dan gaya adesif molekul antara liquid dan dinding kapiler.
Liquid yang lebih berat membasahi batuan ketika sudut kontak kurang dari 90o
(Gambar 2.47a). Ketika sudut kontak adalah 0o, gaya molekul seimbang dan dua
fluida sama sama membasahi dinding (Gambar 2.47b). Ketika sudut kontak
lebih besar dari 90o, fluida yang lebih berat membasahi dinding kapiler ke bagian
yang lebih sedikit dibandingkan fluida yang lebih ringan (Gambar 2.47c).
Fluida yang lebih berat akan nail dalam kapiler sampai berat kolom fluida
menyeimbangkan perbedaan tekanan sepanjang tubuh atau body kapiler. Gaya
tekan kebawah (W), dinyatakan dalam dynes (1 dyne adalah 1.019716 x 10-3 g x
cm/ s2) karena gravitasi adalah :
.................................................... (2-58)

64

Keterangan :
w = densitas air dalam g/ cm3
o = densitas minyak dalam g/ cm3
gc = kecepatan gravitasi = 981 cm/ s2

Gaya tekan kebawah ini dilawan oleh gaya karena tekanan kapiler :
................................................................. (2-59)
Menyamakan kedua gaya tersebut menghasilkan persamaan (2-60) :
.......................................................................... (2-60)
Dimana Pc dinyatakan dalam dyne/ cm2 = mN/ m2 = Pa (10-1).
2.1.2.3.3. Capillary Pressure J Function
Leverett mengemukakan J Function untuk spesifik reservoir yang
menjelaskan

karakteristik

heterogenitas

batuan,

lebih

cukup

dengan

mengkombinasikan porositas dan permeabilitas dalam suatu parameter untuk


korelasi. J Function menghitung perubahan permeabilitas, porositas, dan
wettabilitas reservoir selama sisa geometri porinya secara umum konstan.
Sehingga, perbedaan tipe batuan menggambarkan perbedaan korelasi J-Function.
Semua data tekanan kapiler dari spesifik formasi biasanya dapat dikurangi untuk
single J-Function versus kurva saturasi. Ini diilustrasikan pada Gambar 2.48,
dimana Rose dan Bruce menyiapkan korelasi J-Function untuk enam formasi dan
membandingkannya ke data yang diperoleh dari sebuah core alundum dan
korelasi Leverett untuk unconsolidated sand.
J-Function dapat diturunkan dengan analisa dimensional atau dengan
substitusi persamaan tekanan kapiler kedalam persamaan Carman-Kozeny.
Permeabilitas mempunyai dimensi L2 dan porositas adalah dimensionless.
Sehingga, (k/ )1/2 disubstitusi untuk radius dalam persamaan tekanan kapiler
(Persamaan 2.55) dan disusun kembali sebagai berikut :
...................................................................................... (2-61)
Atau
..................................................................................... (2-62)

65

Secara alternatif, ini dapat diturunkan dari persamaan Carman Kozeny :


.................................................................... (2-63)
Keterangan :
Kz = Konstanta Kozeny
L

= panjang media berpori, cm

Lc = panjang aliran fluida sepanjang media berpori, cm


P

= tekanan, g/ cm2

rH = jarak rata rata hydraulic, cm


u

= kecepatan, cm/ s

= viskositas, dyne x s/ cm2 = g/ cm x s = Pa x s

Disusun kembali :
.................................................................... (2-64)
Keterangan :
As = area permukaan batuan
d

= diameter pori rata rata

Gambar 2.48.
Tipe perilaku dimensionless J-Function versus saturasi untuk core batupasir
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

66

Radius rata rata hydraulic (rH) didefinisikan sebagai area permukaan


dibagi dengan porositas per cubic centimeter sample. Mensubstitusi / As untuk
rH, persamaan Darcy untuk kecepatan fluida, dan disusun sebagai berikut :
......................................................................... (2-65)
dimana k adalah permeabilitas ansolut media berpori. Mensubstitusi
persamaan tekanan kapiler untuk diameter pori rata rata dan disusun sebagai
berikut :
......................................................................... (2-66)
atau
...................................................................................... (2-67)
2.1.2.3.4. Hubungan Tekanan Kapiler Saturasi dalam Media Berpori
Sebelum mempelajari hubungan antara tekanan kapiler versus saturasi
dalam media berpori, penting untuk dipelajari hubungan untuk media ideal yang
terdiri dari gabungan tabung kapiler berbagai variasi radius atau jari-jari. Dalam
hal ini, hubungan tekanan kapiler versus saturasi fasa wetting dapat dihitung.
Biarkan gabungan media tabung kapiler dicelupkan kedalam fasa wetting dan
mencapai kesetimbangan kapiler seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.49.
Fluida wetting akan naik untuk beberapa elevasi (z) diatas free wetting fluid level
dalam beberapa tabung tergantung pada radiusnya seperti yang ditunjukkan pada
gambar. Model tersebut terbagi atas sepuluh tabung kapiler dengan radiusnya
masing masing yang ditunjukkan pada Tabel II-8. Fluida wetting menjadi air
dengan tegangan permukaan 72 dynes/cm dan memiliki sudut kontak 0 dengan
padatan. Fasa non-wetting adalah udara. Ketinggian equilibrium air dalam setiap
tabung kapiler dapat dihitung dengan persamaan (2-68) yaitu :
....................................................................... (2-68)
Tekanan kapiler di setiap tabung dihitung dengan persamaan Laplace,
yaitu :
.............................................................. (2-69)
Saturasi fasa wetting sebagai fungsi elevasi z dihitung dari dimensi tabung
kapiler dan ditunjukkan pada Tabel 2.8.

67

Gambar 2.49.
Capillary rise experiment untuk gabungan media tabung kapiler
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Tabel II-8.
Tekanan Kapiler versus Saturasi fasa wetting untuk gabungan
model tabung kapiler
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

68

Gambar 2.50 dan 2.51 menunjukkan tekanan kapiler versus saturasi fasa
wetting untuk media ideal. Pada Gambar 2.50, tekanan kapiler ditunjukkan
sebagai ketinggian dalam cm diatas free water level sedangkan pada Gambar 2.51,
tekanan kapiler diberikan dalam psi. Keduanya valid dan dapat digunakan untuk
tujuan yang berbeda. Penjelasan pada Gambar 2.50 yaitu distribusi saturasi air
sebagai fungsi ketinggian diatas free water level. Penjelasan tipe ini dapat
digunakan untuk menentukan distribusi saturasi air dalam reservoir minyak yang
mulai dari free water level atau dibawah oil water contact sampai ke atas
reservoir. Penjelasan pada Gambar 2.51 adalah penggunaan untuk menghitung
distribusi ukuran pori.

Gambar 2.50.
Tekanan kapiler dinyatakan sebagai ketinggian air diatas free water level
versus saturasi fasa wetting
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

69

Gambar 2.51.
Tekanan kapiler dalam psi versus saturasi fasa wetting
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Gambar 2.52 menunjukkan percobaan kenaikan kapiler untuk dua media


berpori yang mempunyai perbedaan ukuran butir (ukuran pori). Fasa wetting akan
meningkat lebih cepat dalam media berpori yang memiliki butiran halus
dibandingkan media yang berbutir kasar. Seperti percobaan-percobaan yang lebih
luas digunakan dalam ilmu tanah untuk menentukan kurva tekanan kapiler untuk
tanah yang tidak kompak. Tanah yang dikemas dalam tabung decelupkan kedalam
air dan dibiarkan sampai beberapa hari atau minggu untuk mencapai
kesetimbangan kapiler. Tabung sering diinstrumentasikan untuk mengukur
resistivitas media dalam hal menghitung saturasi air sepanjang kolom dengan
menggunakan persamaan Archie. Tekanan kapiler dihitung sebagai ketinggian air
diatas free water level .

70

Gambar 2.52.
Percobaan kenaikan kapiler untuk dua media berpori yang memiliki
perbedaan ukuran butir
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Dalam media berpori yang sesungguhnya, seperti pada batuan reservoir,


kompleksitas struktur pori dan susunan antarpermukaan fluida mencegah
penggunaan persamaan Laplace untuk menghitung tekanan kapiler. Selanjutnya,
kompleksitas ini juga mencegah perhitungan saturasi fasa wetting dari susunan
antarpermukaan fluida yang telah diterapkan untuk gabungan percobaan tabung
kapiler. Padahal, hubungan tekanan kapiler versus saturasi fasa wetting diukur
dengan percobaan. Gambar 2.53 mendemostrasikan percobaan untuk media
berpori menggunakan media pori yang ideal. Biarkan air menjadi fasa pembasah
dan udara sebagai fasa non-pembasah dalam percobaan. Media berpori terdiri dari
satu pori, yaitu tabung kapiler dengan 3 jari-jari seperti yang ditunjukkan pada
gambar. Jari-jari dan panjang setiap bagian dari pori ditunjukkan pada Tabel II-9.
Media, yang merupakan strongly water wet ( = 0o), mula-mula disaturasi oleh air.
Media diletakkan pada tempat yang semi-permeable dibawah rangkaian atau

71

apparatus. Tempat semi-permeable ini dibuat seperti bahwasanya sangat halus dan
pori-pori yang seragam. Ini strongly water wet dan sepenuhnya disaturasi oleh air.
Ini akan mengizinkan air untuk mengalir melewatinya tetapi karena pori-porinya
yang halus akan mencegah udara mengalir melewatinya. Mula-mula, Apparatus
dibuka sehingga air dalam core, semi-permeable plate dan bejanapenghubung
dibawah plate semi-permeable berada pada tekanan atmosferik. Gas dimasukkan
ke dalam apparatus pada tekanan rendah (Pg). Jika Pg lebih rendah dibandingkan
2cos/r1, tidak akan terjadi apa-apa. Tekanan gas tidak cukup tinggi agar gas
mendorong air dari pori yang terbesar. Tekanan gas kemudian dinaikkan menjadi
Pg1 sampai sama dengan 2cos/r1 dan bagian dari pori dengan radius r1 akan
terkuras airnya. Pengurasan air akan berhenti setelah menguras pori yang terbesar
karena Pg1 tidak cukup tinggi untuk menguras pori dengan radius r2. Selanjutnya,
Tekanan gas ditingkatkan menjadi Pg2 sama dengan 2cos/r2 dan bagian dari pori
dengan radius r2 akan dikuras. Akhirnya, tekanan gas ditingkatkan menjadi Pg3
sama dengan 2cos/r3 dan bagian dari pori dengan radius r3 akan dikuras. Volume
air yang dikuras pada setiap tekanan kapiler diukur dan digunakan untuk
menghitung saturasi air dalam media. Grafik Pgi versus saturasi air memberikan
kurva tekanan kapiler dari media berpori. Untuk media berpori yang simple, kurva
tekanan kapiler dapat dihitung menggunakan persamaan Laplace dan dimensi pori
ditunjukkan pada Gambar 2.54. Sebagai catatan bahwa bentuk kurva tekanan
kapiler menggambarkan distribusi ukuran pori dari media berpori. Ini merupakan
dasar untuk menghitung distribusi ukuran pori media berpori dari kurva tekanan
kapiler pengurasannya (drainage).
Gambar 2.55 menunjukkan pengaruh wettabilitas pada kurva tekanan
kapiler untuk media berpori yang ideal. Ini membandingkan kurva tekanan kapiler
untuk sudut kontak 0o dan sudut kontak 75o. Sehingga, jika media adalah kurang
water wet, pengaruh tekanan kapiler akan berkurang pada setiap saturasi fasa
wetting dibandingkan ketika medianya lebih water wet.

72

Gambar 2.53.
Pengukuran tekanan kapiler untuk media berpori ideal
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Tabel II-9.
Kurva tekanan kapiler untuk media berpori ideal
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

73

Gambar 2.54.
Kurva tekanan kapiler untuk media berpori ideal
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Gambar 2.55.
Pengaruh wettabilitas pada kurva tekanan kapiler untuk media berpori ideal
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

74

2.1.2.3.5. Kurva Drainage Tekanan Kapiler


Gambar 2.56 menunjukkan kurva tekanan kapiler, yaitu kurva drainage
tekanan kapiler diperoleh dengan pendorongan fasa wetting dari media berpori
dengan fasa non-wetting. Proses dimana saturasi fasa wetting menurun disebit
drainage sedangkan proses kebalikannya dimana saturasi fasa wetting meningkat
disebut imbibition. Kurva drainage tekanan kapiler mempunyai beberapa
karakteristik. Kurva menunjukkan bahwa tekanan positif minimum (Pd) harus
digunakan untuk fasa non-wetting dalam hal untuk kondisi mula-mula drainage.
Tekanan minimum ini, yang disebut sebagai displacement pressure, batasan
tekanan atau tekanan masuk, ditentukan dengan ukuran pori yang terbesar
berhubungan ke permukaan media. Ini dapat diperkirakan dengan persamaan
Laplace dimana r adalah radius pori yang terbesar berhubungan ke permukaan.
Jika batuan tidak mempunyai wettabilitas yang kuat untuk mensaturasi fluida
mula-mula, lalu displacement pressure akan bernilai nol. Jika batuan mempunyai
wettabilitas yang kuat untuk menorong fluida, lalu tidak ada tekanan yang
dibutuhkan mula-mula untuk pendorongan karena ini akan terjadi secara spontan.
Dalam hal ini, tekanan kapiler akan mulai pada saturasi fluida mula-mula kurang
dari 1. Semakin meningkatnya tekanan fasa non-wetting, pori-pori yang terkecil
terinvasi oleh fluida non-wetting. Akhirnya, fasa wetting menjadi diskontinu dan
tidak dapat lama-lama didorong dari media dengan meningkatnya tekanan kapiler.
Sehingga, saturasi fasa wetting irreducible diperoleh untuk media berpori pada
tekanan kapiler yang tinggi. Pada saturasi fasa wetting irreducible, kurva tekanan
kapiler menjadi sedikit vertikal. Saturasi fasa wetting irreducible adalah fungsi
ukuran butir (ukuran pori), wettabilitas dari media dan tegangan antarpermukaan
antara fluida wetting dan non-wetting.

75

Gambar 2.56.
Tipe kurva drainage tekanan kapiler
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Jika suatu batuan reservoir mempunyai permeabilitas yang lebih tinggi


dibandingkan yang lain, kita tahu bahwa batuan yang mempunyai permeabilitas
yang lebih tinggi akan mengizinkan fluida mengalir dengan cepat, dibandingkan
dengan batuan yang memiliki permeabilitas yang lebih kecil. Sehingga, batuan
dengan permeabilitas yang lebih tinggi akan lebih diinginkan sebagai batuan
reservoir dibandingkan batuan dengan permeabilitas yang lebih kecil. Jika suatu
reservoir mempunyai porositas yang lebih tinggi dibandingkan yang lain, kita tahu
bahwa batuan yang memiliki porositas yang lebih besar akan menyimpan
cadangan yang lebih dibandingkan batuan dengan porositas yang lebih kecil.
Sehingga, batuan yang memiliki porositas yang lebih tinggi akan lebih diinginkan
sebagai batuan reservoir dibandingkan batuan dengan porositas yang lebih kecil.

76

2.1.2.3.6. Konversi Data Laboratorium Tekanan Kapiler ke Kondisi


Reservoir
Pada dasarnya, kurva tekanan kapiler diukur di laboratorium menggunakan
fluida-fluida lain dibandingkan fluida reservoir. Hal ini tidak biasa untuk
mengukur kurva tekanan kapiler untuk digunakan dalam menganalisis reservoir
minyak-air menggunakan udara dan air atau merkuri dan udara di laboratorium.
Ketika ini telah dilakukan, ini menjadi dibutuhkan untuk mengkonversi data
laboratorium ke kondisi reservoir. Konversi ini dilakukan menggunakan
persamaan Laplace dibawah ini.
(2-70)
. (2-71)
Dimana rm merupakan radius rata-rata kurva antarmuka dalam batuan pada
saturasi fluida. Mengeliminasi rm dari persamaan (2-70) dan (2-71) memberikan:
.. (2-72)
2.1.2.3.7. Perata-rataan Data Tekanan Kapiler
Kurva tekanan kapiler untuk sample batuan dari reservoir yang sama yang
mempunyai permeabilitas yang berbeda akan berbeda. Ini sering membutuhkan
untuk perata-rataan data tekanan kapiler untuk core dari reservoir yang sama
untuk mempunyai struktur pori yang sama dalam hal memperoleh satu kurva
tekanan kapiler yang dapat digunakan untuk analisis perilaku reservoir. Peratarataan ini dapat dilakukan dengan menggunakan Leverett J-Function, dimana
merupakan fungsi dimensionless tekanan kapiler (Leverett, 1941).
Leverett J-Function dapat diturunkan dengan analisis dimensional sebagai
berikut. Kurva tekanan kapiler sebuah media berpori merupakan fungsi dari
beberapa variable seperti yang ditunjukkan pada persamaa (2-73).
.. (2-74)

77

Dimana Pc merupakan tekanan kapiler, Sw adalah saturasi fasa wetting,


merupakan fungsi dimensionless struktur pori yang dihitung dari distribusi ukuran
pori., tortuosity, sementasi, merupakan porositas, merupakan tegangan
antarpermukaan, merupakan sudut kontak, k adalah permeabilitas absolut dari
media berpori, w adalah densitas fasa wetting, nw adalah densitas fasa
nonwetting dan g adalah kecepatan gravitasi. Saturasi fasawetting (Sw) dan fungsi
struktur pori ( ) merupakan dimensionless dan harus diset dari analisis
dimensional sampai akhir. Kita membentuk hasil dimensionless dengan variable
tersisa yaitu sebagai berikut :
.. (2-75)
Dengan pendekatan analisis dimensional berikut dibawah ini solusi
permasalahan analisis dimensional :
. (2-76)

Dengan memasukkan nilai x3 = 1 dan x4 = 0. Maka hasil dari kelompok


dimensionless yaitu :
. (2-77)
Selanjutnya, dengan harga x3 = 0 dan x4 = 1. Kelompok dimensionless
yaitu :
... (2-78)
Dari analisis dimensional, kita dapat menulis :
.. (2-79)
Kelompok dimensionless yang diberikan sebagai 2 dalam persamaan (277) merupakan ratio gaya gravitasi terhadap gaya kapiler pada skala pori. Pada
skala pori, gaya kapiler mendominasi gaya gravitasi. Sehingga, 2 akan bernilai

78

kecil dan dapat diabaikan. Sebagai contoh, untuk kurva tekanan kapiler udara-air,
= 72 dynes/ cm, w = 1 g/ cm3, = 0o, g = 981 cm/ s2. Untuk media berpori
dengan permeabilitas 1 darcy dan porositas sebesar 25%, 2 adalah 10-7. Untuk
kurva tekanan kapiler merkuri-udara, sama dengan 10-6. Persamaan (2-79)
menjadi :
.... (2-80)
Dimana J(Sw,

) merupakan fungsi dimensionless tekanan kapiler yang

diketahui sebagai Leverett J-Function. Persamaan (2-80) mengindikasikan bahwa


media yang mempunyai struktur porositas yang sama tetapi berbeda permeabilitas
dan porositas akan mempunyai Leverett J-Function yang sama. Sehingga, jika
perbedaan kurva tekanan kapiler dari media berpori diskalakan kembali sebagai
Leverett J-Function, maka harus diplot sebagai satu kurva. Kurva tersebut berarti
bahwa adalah data tekanan kapiler rata-rata.
Gambar 2.57 menunjukkan Leverett J-Function untuk Sembilan batupasir
yang tidak kompak dengan perbedaan permeabilitas berkisar dari 0.057 sampai
2160 darcy. Ini sangat kompleks bahwa data diplot pada satu kurva. Gambar 2.58
menunjukkan J-Function untuk batuan karbonat. Jika media berpori mempunyai
struktur pori yang berbeda, lalu Leverett J-Function untuk batuan yang berbeda
akan berbeda dan tidak akan diplot pada satu kurva seperti yang dapat dilihat pada
Gambar 2.59.

79

Gambar 2.57.
Leverett J-Function untuk batupasir tidak kompak (Leverett, 1941)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

80

Gambar 2.58.
Leverett J-Function untuk batuan karbonat; (a) semua core; (b) limestone
core; (c) dolomite core; (d) microgranular limestone core; (e) coarse-grained
limestone core (Brown, 1951)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

81

Gambar 2.59.
Leverett J-Function untuk tipe batuan yang berbeda (Rose and Bruce, 1949)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

2.1.2.3.8. Capillary Pressure Hysteresis


Gambar 2.60 menunjukkan tipe kurva drainage dan imbibisi kurva tekanan
kapiler untuk media berpori yang sama. Pada setiap saturasi fasa wetting, drainage
tekanan kapiler lebih tinggi dibandingkan imbibisi tekanan kapiler. Pada tekanan
kapiler sama dengan nol, kurva imbibisi berakhir pada saturasi fasa wetting yang
mungkin atau tidak mungkin sama untuk saturasi fasa non-wetting residual yang
sebenarnya tergantung pada wettabilitas batuan. Jika batuan mempunyai

82

preferensi yang kuat untuk fasa wetting, lalu saturasi fasa wetting dimana kurva
imbibisi berakhir akan mendekati saturasi fasa non-wetting residual yang
sebenarnya, Sor, dimana sama dengan (1-Swro). Hal ini ditunjukkan pada Gambar
2.60. Jika batuan tidak mempunyai preferensi yang kuat untuk fasa wetting,
kemudian saturasi fasa wetting pada tekanan kapiler sama dengan nol pada kurva
imbibisi tidak akan sama untuk saturasi fasa non-wetting residual yang
sebenarnya. Ini berarti bahwa (1-Swro) akan lebih besar dibandingkan Sor.
Penambahan minyak dapat didesak dari batuan, dapat dikatakan proses centrifuge
sample dalam air. Ini ditunjukkan pada Gambar 2.61. Cabang dari kurva imbibisi
ditandai 3 pada gambar yaitu gaya imbibisi kurva tekanan kapiler batuan. Sebagai
catatan bahwa cabang ini merupakan tekanan kapiler negative. Catatan juga
bahwa saturasi fasa non-wetting residual yang sebenarnya (Sor) dalam hal ini
hanya dapat ditentukan dengan gaya pendesakan bukan dengan imbibisi yang
spontan.
Gambar 2.62 menunjukkan beberapa siklus pengukuran tekanan kapiler
pada batuan yang sama. Kurva drainaige yang utama ditandai 1 yang bergerak
pertama, diikuti dengan kurva imbibisi spontan dengan label 2. Kurva drainage
yang kedua ditandai 3 bergerak setelah pengukuran imbibisi spontan. Sebagai
catatan bahwa kurva drainage yang kedua akan lebih sedikit dibandingkan kurva
drainage yang pertama di setiap saturasi fasa wetting. Ini aspek lain dari capillary
pressure hysteresis. Jika percobaan imbibisi spontan dihentikan dan pengukuran
dibalik, kemudian perbedaan kurva drainage akan seperti yang ditunjukkan kurva
4. Jika percobaan drainage dihentikan dan dibalik, kemudian perbedaan kurva
imbibisi akan seperti yang ditunjukkan kurva 5. Kurva 4 dan 5 membentuk loop
yang dikenal sebagai scanning curve. Sebagai catatan bahwa area dibawah kurva
drainage kedua merupakan salah satu area yang digunakan untuk mendefinisikan
USBM wettability index.

83

Gambar 2.60.
Kurva tekanan kapiler drainage dan imbibisi. (1) kurva drainage, (2) kurva
imbibisi (Killins et al., 1953)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Capillary pressure hysteresis dapat dijelaskan dalam berbagai cara. Dari


pertimbangan energy bahwa kerja yang lebih dibutuhkan oleh fasa non-wetting
untuk mendesak fasa wetting dibandingkanoleh fasa wetting untuk mendesak fasa
non-wetting. Ini berarti bahwa pada setiap level saturasi, kerja yang lebih
dibutuhkan selama pengukuran drainage tekanan kapiler dibandingkan selama
pengukuran imbibisi. Karena kerja selama pengukuran tekanan kapiler adalah
PcV, dimana V merupakan volume fluida yang didorong pada tekanan kapiler,
tekanan kapiler pada siklus drainage akan lebih besar dibandingkan siklus
imbibisi untuk mendorong volume fluida yang sama.

84

Gambar 2.61.
Kurva tekanan kapiler drainage dan imbibisi. (1) kurva drainage, (2) kurva
imbibisi, (3) kurva gaya imbibisi (Killins et al., 1953)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Sudut kontak hysteresis merupakan bagian dari capillary pressure


hysteresis. Selama drainage, fasa wetting menyusut dari media berpori dan sudut
kontak adalah sudut kontak yang surut, R. Selama proses imbibisi, fasa wetting
mengembang ke dalam media berpori dan sudut kontak adalah sudut kontak yang
mengembang, A. Karena R lebih kecil dibandingkan A, 2cos R/ rm, drainage
tekanan kapiler, lebih besar dibandingkan 2cos A/ rm, imbibisi tekanan kapiler
pada setiap saturasi.

85

Gambar 2.62.
Siklus pengukuran tekanan kapiler. (1) primary drainage, (2) spontaneous
imbibition, (3) secondary drainage, (4-5) scanning curve
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Gambar 2.63 menunjukan bagaiman kurva imbibisi tekanan kapiler dapat


digunakan dengan kurva drainage untuk menentukan tipe fluida yang akan
diproduksi pada berbagai kedalaman reservoir. Jika sumur diperforasi diatas zona
transisi, hanya minyak bersih (minyak tanpa air) akan diproduksi pertama. Jika
sumur diproduksi dalam bagian teratas zona transisi, minyak dan air akan
diproduksi dari hari pertama. Jika sumur diperforasi di dalam bagian bawah zona
transisi, hanya air yang akan diproduksi meskipun zona mengandung saturasi
minyak. Saturasi minyak dalam zona ini merupakan saturasi minyak sisa.

86

Gambar 2.63.
Kurva drainage dan imbibisi tekanan kapiler menunjukkan kedalaman
produksi minyak tanpa air (Archer and Wall, 1986)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

2.1.2.3.9. Capillary Imbibition


Mempertimbangkan suatu reservoir terbagi atas dua lapisan dengan
perbedaan permeabilitas dan kurva tekanan kapiler yang ditunjukkan pada
Gambar 2.64 (a) dan (b). Mula-mula, kedua lapisan pada keseimbangan kapiler
pada masing-masing saturasi air irreducible. Sampai keseimbangan ini diganggu
oleh waterflooding. Air yang diinjeksikan akan lebih lanjut ke lapisan yang lenih
permeable (Gambar 2.64 (c)). Tekanan minyak dan air secara berkelanjutan
melewati batas antara dua lapisan. Sehingga, pada batas atau boundary,
Po1 = Po2 (2-81)
Dan
Pw1 = Pw2 (2-82)

87

Mengurangi persamaan (2-82) dari (2-81) memberikan kondisi setimbang,


yaitu :
Pc1 = Pc2 . (2-83)
Sehingga, pada kesetimbangan, tekanan kapiler dalam dua media berpori
akan sama pada boundary-nya.
Pada Gambar 2.64c, section A dan D dan C dan F merupakan
kesetimbangan kapiler, jadi tidak ada perpindahan fluida yang akan terjadi antara
section-section tersebut. Section B dan E bukan berada pada kesetimbangan
kapiler, jadi perpindahan fluida akan terjadi dalam usaha untuk mencapai
kesetimbangan kapiler. Section E akan kehilangan air ke section B dan
memperoleh minyak dari B sedangkan section B akan memperoleh air dari E dan
kehilangan minyak ke E sampai kesetimbangan kapiler yang baru tercapai.
Sehingga, air akan terimbibisi kedalam lapisan kurang permeable ke lapisan yang
lebih permeable dan minyak akan dikeluarkan dari lapisan yang kurang permeable
ke lapisan yang lebih permeable untuk pendesakan berikutnya. Perpindahan fluida
ini menguntungkan dalam proses perolehan minyak. Sedangkan, proses imbibisi
sangat lambat. Sehingga, laju injeksi air harus cukup lambat agar imbibisi
membantu dalam waterflooding pada lapisan dengan permeabilitas rendah.

88

Gambar 2.64.
Capillary imbibition; (a) reservoir sebelum waterflooding; (b) kurva tekanan
kapiler untuk kedua lapisan; (c) reservoir setelah waterflooding
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

2.1.2.3.10. Pengukuran Tekanan Kapiler


2.1.2.3.10.1. Metode Restored State (Porous Plate Method)
Pada metode ini, tekanan kapiler diukur dengan menempatkan sample,
disaturasi mula-mula dengan fluida wetting, dalam sebuah bejana yang diisi
dengan fluida non-wetting. Bagian bawah bejana terbagi atas semi-permeable
plate, yang memungkinkan pendesakan fasa wetting dari sample. Perpanjangan
dari porous plate adalah sebuah pipa yang memungkinkan volume dari
pendesakan fasa wetting diukur seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.65.
Dengan sample yang ditempatkan, tekanan fluida non-wetting dinaikkan secara
bertahap dan system diizinkan untuk mencapai kesetimbangan setelah tekanan
diubah. Volume dari fasa wetting yang didesak pada setiap tekanan yang diukur.
Tekanan kapiler adalah tekanan fasa non-wetting dikurangi tekanan fasa wetting
pada setiap tahap. Saturasi fasa wetting dari sample ditentukan dari volume fasa

89

wetting yang didesak pada setiap tekanan untuk memperoleh hubungan antara
tekanan kapiler versus saturasi.

Gambar 2.65.
Perangkat porous plate tekanan kapiler (Welge and Bruce, 1947)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

2.1.2.3.10.2. Metode Injeksi Merkuri


Pada metode ini, tekanan kapiler diukur dengan menginjeksikan merkuri,
yaitu sebagai fasa non-wetting, kedalam sample. Perangkat yang digunakan dalam
pengukuran ditunjukkan pada Gambar 2.66. Alat tersebut terbagi atas sample cell
dan sebuah pompa injeksi merkuri. Sebuah sample kering dimasukkan kedalam
cell merkuri yang selevel dengan batas yang ditentukan pada gelas kapiler
bertekanan tinggi diatas sample chamber. Tekanan nitrogen kemudian digunakan
dalam setiap langkah, merkuri diinjeksikan untuk menjaga level merkuri pada
kapiler. Dari volume cell dan volume merkuri dibutuhkan untuk mengisi cell
dengan sample sebelum merkuri diinjeksikan kedalam sample, volume bulk

90

sample dapat ditentukan. Hubungan tekanan kapiler merkuri-udara versus saturasi


dihitung dari volume merkuri yang ditekan kedalam ruang pori sample sebagai
fungsi penggunaan tekanan nitrogen.

Gambar 2.66.
Cell tekanan kapiler untuk injeksi merkuri (Purcell, 1949)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Metode injeksi merkuri sangat cepat. Kurva tekanan kapiler dapat


diperoleh dalam beberapa jam. Kurva imbibisi dapat diperoleh sangat mudah
dengan menurunkan tekanan nitrogen dan menarik merkuri dari system. Gambar
2.67 menunjukkan tipe kurva tekanan kapiler yang diperoleh dari injeksi merkuri,
penarikan merkuri dan penginjeksian kembali merkuri.

91

Gambar 2.67.
Kurva tekanan kapiler merkuri-udara
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Brown (1951) telah menunjukkan bahwa metode injeksi merkuri dapat


memberikan kurva tekanan kapiler yang sama dengan metode restored state
kecuali untuk scaling factor. Gambar 2.68 dan 2.69 membandingkan kurva
tekanan kapiler yang diperoleh dengan injeksi merkuri dan metode restored state
untuk core batupasir dan limestone. Scaling factor untuk batupasir dan limestone
yaitu masing-masing 7.5 dan 5.5.
Kelemahan utama dari metode injeksi merkuri yaitu bahwa core tidak
dapat digunakan lebih lama untuk test lainnya setelah merkuri diinjeksikan.
Metode ini juga tidak bisa digunakan untuk menentukan saturasi fasa wetting
irreducible.

92

Gambar 2.68.
Perbandingan kurva tekanan kapiler air-nitrogen dan merkuri-udara untuk
core batupasir (Brown, 1951)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

93

Gambar 2.69.
Perbandingan kurva tekanan kapiler air-nitrogen dan merkuri-udara untuk
core limestone (Brown, 1951)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

2.1.2.3.10.3. Metode Centrifuge


Pada metode ini, sample disaturasi dengan fluida wetting yang
ditempatkan dalam centrifuge cup yang mengandung fluida non-wetting seperti
yang ditunjukkan pada Gambar 2.70 dan 2.71. Sample dirotasi pada rangkaian
kecepatan angular konstan dan jumlah dari fluida wetting yang didesak pada
kesetimbangan di setiap kecepatan diukur dengan bantuan stroboscopic light. Data
yang diukur secara langsung dengan metode ini adalah volume fluida wetting
yang didesak dan kecepatan rotasi centrifuge. Data tersebut dapat digunakan
untuk memperoleh hubungan tekanan kapiler versus saturasi dari media berpori.

94

Gambar 2.70.
Posisi core dan graduated tube dalam centrifuge untuk mengukur kurva
tekanan kapiler minyak-mendesak-air (Donaldson et al., 1980)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

95

Gambar 2.71.
Posisi core dan graduated tube dalam centrifuge untuk mengukur kurva
tekanan kapiler air-mendesak-minyak (Donaldson et al., 1980)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Metode centrifuge cukup cepat dan memungkinkan penukuran tekanan


kapiler dapat diselesaikan dalam sehari atau kurang. Metode ini bagus untuk
menentukan saturasi air irreducible. Gambar 2.72 menunjukkan perbandingan
kurva tekanan kapiler dengan sample yang sama dari pengukuran dengan
centrifuge dan dengan metode restored state yang diperoleh oleh Hassler dan
Brunner (1945). Gambar 2.73 menunjukkan perbandingan kurva tekanan kapiler
untuk sample yang sama yang diukur dengan metode restored state (diaphragm),
injeksi merkuri dan centrifuge.

96

Gambar 2.72.
Perbandingan tekanan kapiler yang diperoleh dengan metode centrifuge dan
restored state (Hassler and Brunner, 1945)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

97

Gambar 2.73.
Perbandingan tekanan kapiler yang diperoleh dengan metode centrifuge,
injeksi merkuri, dan restored state (Hermansen et al., 1991)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

2.1.2.3.11. Model Empirik Tekanan Kapiler


2.1.2.3.11.1. Model Tekanan Kapiler Brooks-Corey
Model tekanan kapiler yang popular dalam industry perminyakan dan ilmu
tanah adalah model Brooks-Corey (Brooks and Corey, 1966). Berdasarkan
evaluasi dari beberapa kurva drainage tekanan kapiler untuk media berpori yang
kompak, Brooks dan Corey mengamati bahwa semua kurva drainage tekanan
kapiler dapat direpresentasikan sebagai fungsi linear, yaitu :
. (2-84)
.. (2-85)
Dengan pilihan yang tepat dari saturasi fasa wetting irreducible, dimana
Sw* adalah saturasi fasa wetting yang didefinisikan sebagai
(2-86)

98

Persamaan(2-84) dan (2-85) memberikan model drainage tekanan kapiler


dalam bentuk
. (2-87)
Brooks dan Corey juga merumuskan model imbibisi tekanan kapiler dalam
bentuk
.. (2-88)
Dimana Se adalah saturasi efektif fasa wetting yang didefinisikan sebagai
... (2-89)
Dimana Snwr merupakan saturasi fasa non-wetting residual. Untuk
melengkapi model ini untuk mengukur data drainage tekanan kapiler, dibuat loglog plot data drainage tekanan kapiler yaitu ln Sw* versus ln Pc atau sebagai ln Pc
versus ln Sw*. Jika plot nonlinear, kemudian Swirr diatur sampai plot linear. Pc
ditentukan dari plot log-log linear pada Sw* = 1 dan ditentukan dari kemiringan
garis lurus. Dua parameter tersebut kemudian disubstitusi ke dalam persamaan (287) dan (2-88) untuk menghitung kurva drainage dan imbibisi tekanan kapiler.
2.1.2.3.11.2. Model Tekanan Kapiler Van Genuchten
Model empiric tekanan kapiler yang merupakan bentuk kurva tekanan
kapiler pada saturasi fasa wetting yang tinggi dirumuskan oleh van Genuchten
(1980). Model ini lebih luas digunakan dalam ilmu tanah dan hidrologi. Model
tersebut yaitu
... (2-90)

2.1.2.3.12. Capillary Trapping dalam Media Berpori


Capillary trapping memastikan bahwa pendesakan immiscible pada
tegangan antarmuka dan laju yang normal tidak akan sempurna. Selalu ada fasa
residual yang terjebak. Beberapa model telah dirumuskan untuk menjelaskan

99

capillary trapping. Disisni akan dijelaskan dua model yaitu: model pore doublet
dan model snap-off.
2.1.2.3.12.1. Model Capillary Trapping Pore Doublet
Gambar 2.74 menunjukkan model pore doublet, yang terbagi atas dua pori
yang tergabung pada akhir dari inlet dan outlet, dengan satu pori yang lebih besar
dibandingkan yang lain. Pore doublet mula-mula diisi dengan fasa non-wetting.
Suatu fasa wetting lalu diinjeksikan dengan rate q untuk mendesak fasa nonwetting dari kedua cabang pore doublet. Masalahnya adalah untuk menentukan
yang mana dua antarpermukaan dalam pipa kapiler akan sampai terlebih dahulu
pada outlet (Point B). Kita akan mengasumsikan bahwa satu antarpermukaan
dalam suatu pipa kapiler telah sampai di B, fasa non-wetting dalam pipa yang lain
akan terjebak. Untuk menentukan antarmuka yang mana akan sampai di B
pertama kali, kita perlu untuk menurunkan kecepatan antarmuka sebagai fungsi
parameter relevan dari

model. Meskipun ini

tidak dibutuhkan untuk

melakukannya, mari kita asumsikan bahwa fasa wetting dan non-wetting


mempunyai viskositas yang sama untuk analisis.

Gambar 2.74.
Model Pore Doublet. (a) dalam media berpori; (b) pipa kapiler
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

100

Kehilangan tekanan disepanjang pipa kapiler, yaitu :


.. (2-91)
Dimana Pw dan Pnw merupakan tekanan disetiap bagian dari antarmuka.
Dari hokum Hagen-Poisseuille,
.. (2-92)
.. (2-93)
Dimana L1 adalah jarak antarmuka dari akhir inlet dan L adalah total
panjang pore doublet dari A ke B. Mensubstitusikan persamaan (2-92) dan (2-93)
ke persamaan (2-91) dan (Pnw Pw) adalah tekanan kapiler, menghasilkan:
(2-94)
Hal yang sama, untuk pipa kapiler yang kedua,
... (2-95)
Menyamakan persamaan (2-94) dan (2-95) dan disusun kembali,
menghasilkan:
... (2-96)
Dimana persamaan Laplace telah digunakan untuk menggantikan tekanan
kapiler. Mengamsusikan fluida incompressible,
q1 + q2 = q .. (2-97)
Persamaan (2-96) dan (2-97) merupakan dua persamaan linear yang
simultan dalam q1 dan q2, yang dapat dengan mudah diselesaikan untuk
memperoleh:
. (2-98)

101

.. (2-99)

Membagi persamaan (2-99) dengan (2-98) menghasilkan:


..... (2-100)

Kecepatan antarmuka, yaitu:


(2-101)
... (2-102)
Kemudian,
(2-103)
... (2-104)
Mensubstitusikan persamaan (2-101) sampai

(2-104) ke (2-100)

menghasilan rasio kecepatan antarmuka, yaitu:


. (2-105)

Persamaan (2-105) dapat digunakan untuk menentukan kondisi dibawah


dibawah fasa non-wetting akan terjebak dalam pori yang lebih kecil atau pori
yang lebih besar. Jika
..... (2-106)
fasa non-wetting akan terjebak dalam pori yang lebih kecil. Mensubstitusi
persamaan (2-105) ke (2-106) menghasilkan kondisi untuk terjebak dalam pori
yang lebih kecil, yaitu:

102

.. (2-107)
Jika
.... (2-108)
fasa non-wetting akan terjebak dalam pori yang lebih besar. Mensubstitusikan
persamaan (2-105) ke (2-108) menghasilkan kondisi untuk fasa non-wetting yang
terjebak dalam pori yang lebih besar, yaitu:
.. (2-109)
Nilai kritis Nvcap untuk penjebakan di pori yang lain, yaitu:
. (2-110)
Untuk nilai tetap dari r1, r2, cos, dan L, Nvcap akan tergantung pada rate q. Jika
q bernilai rendah, pendesakan akan didominasi oleh gaya kapiler dan fasa nonwetting akan terjebak dalam pori yang lebih besar menghasilkan efisisensi
pendesakan yang rendah. Jika q bernilai tinggi, pendesakan akan didominasi oleh
gaya viscous dan fasa non-wetting akan terjebak dalam pori yang lebih kecil
menghasilkan efisiensi pendesakan yang tinggi. Pengamatan ini merupakan secara
kualitatif dengan observasi makroskopik dalam coreflood. Gambar 2.75
menunjukkan breakthrough oil recovery sebagai fungsi vL yang diperoleh oleh
Rapport dan Leas (1953). Breakthrough oil recovery disini adalah perolehan
minyak pada waktu dimana air sampai pada akhir outlet dari core. Sebagai contoh,
dalam suatu pengukuran efisiensi pendesakan. Harus diamati bahwa vL
berbanding lurus dengan versi makroskopik Nvcap. Sehingga, efisiensi pendesakan
meningkat dengan meningkatnya vL atau Nvcap
prediksi model pore doublet.

dalam penyesuaian dengan

103

Gambar 2.75.
Breakthrough oil recovery versus Rapaport and Leas scaling coefficient, vL
(Rapoport and Leas, 1953)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

2.1.2.3.12.2. Model Capillary Trapping Snap-Off


Gambar 2.76 menunjukkan minyak sedang didesak dalam dua pori, satu
dengan rasio aspek yang rendah dan yang lain dengan rasio aspek yang tinggi.
Aspek rasio didefinisikan sebagai:
.. (2-111)
Dimana D1 dan D2 merupakan diameter tubuh pori dan diameter saluran
pori. Pada Gambar 2.76a, aspek rasio adalah rendah dan minyak didesak
sepanjang pori tanpa penjebakan. Pada Gambar 2.76b, aspek rasio adalah tinggi
dan ketidakstabilan kapiler minyak yang terdesak dan terpisah pada saluran pori
dan terjebak.

104

Gambar 2.76.
Capillary trapping dengan mekanisme snap off dalam single pore. (a) aspek
rasio rendah; (b) aspek rasio tinggi (Chatzis et al., 1983)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Gambar 2.77 menunjukkan penurunan fluida non-wetting disepanjang


penyempitan pori yang seragam. Penurunan akan menjadi tidak stabil dan terpisak
ketika tekanan kapiler pada leher pori melebihi tekanan kapiler pada bagian
pinggir yang turun. Kondisi untuk snap off, yaitu:
... (2-112)
Gambar 2.78 menunjukkan injeksi merkuri yang sekuen dan tertarik ke
dalam system pori. Gambar 2.78A menunjukkan tekanan kapiler hysteresis loop
sedangkan Gambar 2.78B menunjukkan penjebakan merkuri oleh snap off.

105

Gambar 2.77.
Snap-off dalam media berpori (Stegemeier, 1976)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

2.1.2.3.12.3. Mobilisasi Fasa Non-wetting residual


Ketika suatu fasa telah terperangkap, gradient tekanan dibutuhkan untuk
mnggerakkannya secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan yang
dihasilkan kondisi flooding. Perhitungan gradient tekanan yang dibutuhkan untuk
menggerakkan

gumpalan

minyak

yang

terperangkap

dalam

waterflood

ditunjukkan pada Gambar 2.79. Untuk gumpalan agar keluar melalui saluran pori,
penurunan tekanan disepanjang pinggiran harus melebihi tekanan yang masuk
atau tekanan pendesakan dari saluran pori. Sehingga, kondisi untuk gumpalan
minyak keluar melalui saluran pori, yaitu:
.. (2-113)
Dari persamaan Laplace,
.. (2-114)

106

Gambar 2.78.
Snap-off dalam injeksi merkuri. A: capillary pressure scanning curve; B;
corresponding mercury trapping by snap-off (Stegemeier, 1976)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

107

Mengurangi persamaan (2-114) dari (2-113) menghasilkan:


... (2-115)
atau
.... (2-116)
Karena PB = PA, persamaan (2-116) menjadi:
.... (2-117)
Gradien tekanan yang dibutuhkan untuk menggerakkan gumpalan minyak, yaitu:
... (2-118)

Gambar 2.79.
Gumpalan minyak yang terperangkap
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Berikut estimasi gradient tekanan yang dibutuhkan untuk menggerakkan


gumpalan minyak yang terperangkap dalam suatu normal waterflood pada suatu
reservoir menggunakan tipe nilai dari parameter yang relevan.
r1 = 10 m
r2 = 50 m
L = 50 m
= 30 dyne/ cm

108

=0
kw = 500 mD
w = 1 cp
vw = 1 ft/ day
Gradien tekanan yang dibutuhkan untuk menggerakkan gumpalan minyak, yaitu:

atau

Ini merupakan gradient tekanan yang dibutuhkan. Gradien tekanan yang


dihasilkan dari waterflood dihitung dengan hokum Darcy, yaitu:

Dapat dilihat bahwa gradient tekanan yang dihasilkan dengan waterflood tidak
cukup untuk menggerakkan gumpalan minyak. Sehingga, minyak tersebut tetap
terperangkap.
2.1.2.3.12.4. Oil migration
Gambar 2.80 menunjukkan migrasi gelembung minyak dari batuan induk
ke reservoir yang mula-mula disaturasi penuh oleh air. Perpindahan gelembung
minyak telah sampai batasan pada saluran pori yaitu radius rH. Dalam hal agar
migrasi terus berlanjut, ujung kepala gelembung (A) harus menekan sepanjang
saluran pori. Asumsi bahwa ujung A dan B dari gelembung adalah hemispherical
dengan B mempunyai radius rB, satu dapat menghitung panjang dari gelembung
minyak yang dibituhkan untuk gelembung agar keluar melalui batasan atau
restriksi dan selanjutnya migrasi keatasnya. Untuk keluar melalui restriksi,
tekanan kapiler pada ujung pinggir dari gelembung harus melebihi tekanan

109

pendesakan dari restriksi. Sehingga, kondisi untuk migrasi keatas melalui restriksi
yaitu:
(2-119)
Persamaan Laplace
(2-120)
Dari hidrostatik melalui air,
(2-121)

Gambar 2.80.
Migrasi lapisan minyak
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

110

Dari hidrostatik melalui minyak,


.... (2-122)
Mengurangi persamaan (2-121) dari (2-122) menghasilkan
...... (2-123)
Mensubstitusi persamaan (2-120) ke (2-123) dan disusun kembali, sehingga:
(2-124)
Mensubstitusi persamaan (2-124) ke (2-119) menghasilkan kondisi untuk migrasi
keatas, yaitu:
.. (2-125)
atau
. (2-126)
Contoh:
rH = 10 m
rB = 50 m
= 30 dyne/ cm
w = 1.00 g/ cm3
o = 0.70 g/ cm3
Panjang minimum gelembung minyak untuk selanjutnya migrasi ketasa yaitu:

2.1.2.3.13. Pengaruh Wettabilitas dan Tegangan Antarmuka pada Kurva


Tekanan Kapiler
Pengaruh wettabilitas dan tegangan antarmuka pada kurva tekanan kapiler
dapat dengan mudah diketahui dari persamaan Laplace. Pengaruh wettabilitas
pada kurva tekanan kapiler ditunjukkan secara kualitatif pada Gambar 2.81.

111

Derajat wettabilitas yang dikurangi, kurva tekanan kapiler akan menurun.


Pengaruh tegangan antarmuka pada tekanan kapiler ditunjukkan secara kualitatif
pada Gambar 2.82. Penurunan tekanan kapiler sebagai akibat turunnya tegangan
antarmuka fluida.

Gambar 2.81.
Pengaruh wettabilitas pada kurva tekanan kapiler
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

112

Gambar 2.82.
Pengaruh tegangan antarmuka pada kurva tekanan kapiler
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

2.1.2.4. Saturasi Fluida


Saturasi fluida batuan didefinisikan sebagai perbandingan antara volume
pori-pori batuan yang ditempati oleh suatu fluida tertentu dengan volume poripori total pada suatu batuan berpori. Batuan reservoir pada umumnya terdapat
lebih dari satu macam fluida, kemungkinan terdapat air, minyak, dan gas yang
tersebar ke seluruh bagian reservoir. Secara matematis, besarnya saturasi untuk
masing-masing fluida dituliskan dalam persamaan berikut :
a. Saturasi minyak (So) adalah :

So

volume pori pori yang diisi oleh minyak


.......................... (2-127)
volume pori pori total

b. Saturasi air (Sw) adalah :

Sw

volume pori pori yang diisi oleh air


................................. (2-128)
volume pori pori total

113

c. Saturasi gas (Sg) adalah :

Sg

volume pori pori yang diisi oleh gas


................................ (2-129)
volume pori pori total

Jika pori-pori batuan diisi oleh gas-minyak-air maka berlaku hubungan :


Sg + So + Sw = 1 ............................................................................... (2-130)
Sedangkan jika pori-pori batuan hanya terisi minyak dan air, maka :
So + Sw = 1 ...................................................................................... (2-131)
Faktor-faktor penting yang harus diperhatikan dalam mempelajari saturasi
fluida antara lain adalah :
1. Saturasi fluida akan bervariasi dari satu tempat ke tempat lain dalam
reservoir, saturasi air cenderung untuk lebih besar dalam bagian batuan
yang kurang porous. Bagian struktur reservoir yang lebih rendah relatif
akan mempunyai Sw yang tinggi dan Sg yang relatif rendah, demikian
juga untuk bagian atas dari struktur reservoir berlaku sebaliknya. Hal
ini disebabkan oleh adanya perbedaan densitas dari masing-masing
fluida.
2. Saturasi fluida akan bervariasi dengan kumulatif produksi minyak. Jika
minyak diproduksikan maka tempatnya di reservoir akan digantikan
oleh air dan atau gas bebas, sehingga pada lapangan yang
memproduksikan minyak, saturasi fluida berubah secara kontinyu.
3. Saturasi minyak dan saturasi gas sering dinyatakan dalam istilah poripori yang diisi oleh hidrokarbon. Jika volume batuan adalah V, ruang
pori-porinya adalah .V, maka ruang pori-pori yang diisi oleh
hidrokarbon adalah :
So V + Sg V = (1 Sw ) V ................................................ (2-132)
Sebagian fluida hidrokarbon masih tertinggal di dalam reservoir ketika
fluida hidrokarbon diproduksikan ke permukaan, hal ini akibat adanya volume
fluida yang terdapat dalam pori-pori batuan tidak dapat bergerak lagi. Saturasi
minimum dimana fluida sudah tidak mampu lagi bergerak disebut saturasi sisa
(residual saturation).

114

Hubungan saturasi fluida dalam batuan reservoir dipengaruhi oleh


beberapa faktor yaitu disamping tekanan dan temperatur reservoir juga
dipengaruhi oleh sifat-sifat fisik batuan dan fluida reservoir. Saturasi air yang
merupakan fluida pembasah akan semakin besar pada harga porositas yang kecil
karena terjadinya gaya kapiler.
Tekanan kapiler berhubungan dengan ketinggian di atas permukaan air
bebas (oil-water contact), sehingga data tekanan kapiler dapat dinyatakan menjadi
plot antara h versus saturasi air (Sw), seperti pada Gambar 2.83. Perubahan ukuran
pori-pori dan densitas fluida akan mempengaruhi bentuk kurva tekanan kapiler
dan ketebalan zona transisi.
Ketinggian atau h akan bertambah jika perbedaan densitas fluida
berkurang, sementara faktor lainnya tetap. Hal ini berarti bahwa reservoir gas
yang terdapat kontak gas-air, perbedaan densitas fluidanya bertambah besar
sehingga akan mempunyai zona transisi minimum. Demikian juga untuk reservoir
minyak yang mempunyai API gravity rendah maka kontak minyak-air akan
mempunyai zona transisi yang panjang.
Ukuran pori-pori batuan reservoir sering dihubungkan dengan besaran
permeabilitas yang besar akan mempunyai tekanan kapiler yang rendah dan
ketebalan zona transisinya lebih tipis dari pada reservoir dengan permeabilitas
yang rendah.
Ukuran pori pori reservoir sering dihubungkan dengan permeabilitas.
Batuan reservoir yang memiliki permeabilitas yang tinggi akan mempunyai zona
transisi yang lebih pendek dari pada reservoir yang memiliki permeabilitas yang
rendah. Lihat gambar 2.84, no 1 adalah Sandstone (k : 100-200 mD), no 2 adalah
Limestone (k : 15-25 mD), no 3 adalah Dolomit (k : 10 mD).

115

Gambar 2.83.
Kurva Tekanan Kapiler

(Cole, F.W., Reservoir Engineering Manual, -Texas, 1969.)

Gambar 2.84.
Kurva distribusi fluida reservoir
(Ahmed Tarek, 2000, Reservoir Engineering)

Leverett (1941) mendiskripsikan hubungan antara tekanan kapiler,


porositas dan permeabilitas melalui J-function. J-function dapat lebih baik
menggambarkan karakteristik heterogenitas batuan suatu reservoir, dari pada
kombinasi porositas dan permeabilitas dalam suatu parameter untuk korelasi.

116

J-function memiliki nilai yang berubah ubah jika porositas, permeabilitas


dan wetabilitas dari suatu reservoir berubah, sepanjang geometri pori pori yang
tersisa konstan. Oleh karena itu, perbedaan jenis batuan akan menunjukkan bentuk
korelasi J-function yang berbeda. Data tekanan kapiler dari suatu formasi bisa
diturunkan ke suatu kurva single J-function versus saturasi. Pada gambar 2.85,
dimana Rose dan Bruce (1949) memperbaiki korelasi J-function untuk enam
formasi dan mereka membandingkan data yang didapat dari suatu alundum core
dan korelasi Leveretts untuk batupasir uncosolidated.

Gambar 2.85.
Tipe J-function versus Saturasi untuk Core dari Batupasir

(Amyx James. W, JR. Daniel M. Bass, and Whiting Robert L, 1960, Petroleum Engineering, Physical Properties)

J-function dapat diperoleh dari analisa dimensional atau dari penurunan


persamaan tekanan kapiler ke dalam persamaan Carman-Konzeny. Sehingga
diperoleh persamaan J-function :

117

J ( Sw) 0.21645

Pc k

................................................................. (2-133)

Keterangan :
Pc = tekanan kapiler, psi
k

= Permeabilitas, md

= tegangan permukaan minyak-air, dyne/cm


= sudut kontak permukaan minyak-air,( 0 )
= porositas, %
2.1.2.4.1. Hubungan Saturasi Fluida dengan Tekanan Kapiler
Untuk membuat suatu harga rata-rata kurva tekanan kapiler dari data
pengukuran laboratorium pada beberapa sampel batuan dapat digunakan metode
Leverett J-Function. Ini adalah fungsi dimensi yang mengkolerasikan tekanan
kapiler dengan parameter reservoir lainnya termasuk permeabilitas, porositas,
tegangan antarmuka dan sudut kontak.
Karena masing-masing grafik tekanan kapiler berhubungan dengan nilai
spesifik dari Swc, maka nilai saturasi harus dinormalisasi terlebih dahulu, yaitu:
Sw* =

..... (2-134)

Dimana Sw* adalah normalisasi saturasi air (Gambar 2.86).

Gambar 2.86.
Grafik J-Function versus Normalisasi Sw
(Gomaa,E.E., 2009)

118

2.1.2.4.2. Analisa Zona Transisi


Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pada reservoir minyak dan gas
menunjukkan zona transisi saturasi air diatas OWC. Luasan dan bentuk dari zona
ini bervariasi dari satu reservoir dengan reservoir lainnya dan berhubungan
dengan grafik drainase tekanan kapiler dari batuan reservoir. Nilai saturasi air dari
log harus merefleksikan fenomena ini dan mengindikasikan konsisten dengan
pengukuran tekanan kapiler pada core di laboratorium.
Hubungan antara zona transisi dan drainase tekanan kapiler minyak-air
ditunjukkan oleh persamaan (2-135), yaitu:
Pc = h(w o)g ... (2-135)
Keterangan:
Pc = Tekanan kapiler, Pa
h = Tinggi diatas OWC, m
w = densitas air formasi, kg/ m3
o = densitas minyak, kg/ m3
g = gravitasi, m/ s2
Jika disubstitusikan ke dalam persamaan Leverett J-Function maka akan diperoleh
persamaan:
J=

(2-136)

Adapun prosedur untuk melakukan analisa zona transisi adalah:


1. Menghitung nilai Swc dengan Swc transform
2. Setelah itu dibuat pula plot antara Sw* vs J-Function
3. Selanjutnya dibuat cross-plot (Jcos) versus Sw*. Plot ini harus menunjukkan
kesamaan bentuk dengan plot J-Function dan Sw versus kedalaman
4. Gunakan nilai ( cos) untuk mengestimasi besarnya sudut kontak yang
dapat mewakili indikasi dari wettabilitas batuan. Nilai ini juga dapat digunakan
untuk menghitung kurva tekanan kapiler pada kondisi reservoir dan J-Function
dibutuhkan untuk mengestimasi penyebaran Sw pada model geologi 3-D.

119

2.1.2.5. Permeabilitas
Selain porous, suatu batuan reservoir harus memiliki kemampuan untuk
mengijinkan fluida hydrocarbon mengalir melalui pori pori yang saling
berhubungan (interconnected). Permeabilitas didefinisikan sebagai suatu bilangan
yang menunjukkan kemampuan dari suatu batuan untuk mengalirkan fluida.
Permeabilitas batuan tergantung dari porositas effektif. Oleh karena itu, besarnnya
permeabilitas dipengaruhi oleh ukuran butir, bentuk butiran, kebundaran, packing
butiran dan tingkat sementasi dan konsolidasinya.
Henry Darcy (1856, french engineer) mengembangkan persamaan aliran
fluida dalam media berpori dengan bentuk differensial.

q
k dP
........................................................................ (2-137)

Ac
dL

dimana :
V

= kecepatan aliran, cm / sec

= lajur alir, cm3/s

Ac

= Cross-sectional Area dari batuan, cm2

= viskositas fluida yang mengalir, cp

dP / dL = gradien tekanan dalam arah aliran, atm / cm


k

= permeabilitas media berpori.

Tanda negatif dalam persamaan 2-137 menunjukkan bahwa bila tekanan


bertambah dalam satu arah, maka arah alirannya berlawanan dengan arah
pertambahan tekanan tersebut.
Beberapa anggapan yang digunakan oleh Henry Darcy dalam persamaan
2-137 yaitu:
1. Alirannya mantap (steady state)
2. Fluida yang mengalir satu fasa
3. Viskositas fluida yang mengalir konstan
4. Kondisi aliran isothermal
5. Formasinya homogen dan arah alirannya mendatar (horizontal)
6. Fluidanya incompressible

120

Penentuan permeabilitas batuan adalah hasil percobaan yang dilakukan


oleh Henry Darcy. Dia menggunakan batu pasir tidak kompak yang dialiri air.
Batu pasir silindris yang porous ini 100 % dijenuhi cairan dengan viskositas ,
dengan luas penampang A, dan panjangnya L. Kemudian dengan memberikan
tekanan masuk P1 pada salah satu ujungnya maka terjadi aliran dengan laju
sebesar Q, sedangkan P2 adalah tekanan keluar. Hasil percobaan menunjukkan
bahwa

QL
adalah konstan dan akan sama dengan harga permeabilitas
A ( P1 P2 )

batuan yang tidak tergantung dari cairan, perbedaan tekanan dan dimensi batuan
yang digunakan. Gambar skema dari percobaan Darcy ditunjukkan pada Gambar
2.87.

Gambar 2.87.
Gambar Skema Percobaan Pengukuran Permeabilitas
(Amyx, J. W., Petroleum Reservoir Engineering-physical Properties, 1960)

121

Hasil percobaan Darcy dapat dirumuskan

Q..L
.............................................................................. (2-138)
A.(P1 P2 )

Dimana :
K

= Darcy

= cm3/sec

= cp (centipoise)

= cm

= cm2

= atm

Persamaan di atas dapat dikembangkan untuk berbagai kondisi aliran yaitu


aliran linier dan radial, masingmasing untuk fluida yang kompresibel dan
inkompresibel. Berdasarkan persamaan (2-138), maka dapat didefinisikan 1 Darcy
adalah dimana fluida dengan kekentalan (viskositas) sebesar 1 centipoise mengalir
dengan laju sebesar 1 cm3/detik melalui sebuah penampang sebesar 1 cm2 dengan
gradien tekanan sebesar 1 atm per cm.

Dari persamaan (2-138) dapat

dikembangkan untuk berbagai kondisi aliran yaitu aliran linier dan radial, masingmasing untuk fluida yang compressible dan incompressible.
Permeabilitas yang diperoleh dari persamaan (2-137) dan (2-138) adalah
permeabilitas absolute. Pori-pori batuan reservoir umumnya terisi oleh lebih dari
satu fluida sehingga permeabilitas dibedakan menjadi tiga, yaitu :
1. Permeabilitas absolut, adalah permeabilitas dimana fluida yang
mengalir melalui media berpori tersebut hanya satu fasa, misal hanya
minyak atau gas saja.
2. Permeabilitas efektif, adalah permeabilitas batuan dimana fluida yang
mengalir lebih dari satu fasa, misalnya minyak dan air, air dan gas, gas
dan minyak atau ketigatiganya.
3. Permeabilitas relatif, adalah perbandingan antara permeabilitas efektif
dengan permeabilitas absolut. Contoh , krg = kg /k, atau kro = ko /k.

122

Reservoir

hydrocarbon

mempunyai

primary

permeability

(matrix

permeability) dan secondary permeability. Primary permeability terbentuk pada


waktu pengendapan dan litifikasi dari batuan sedimen. Secondary permeability
dihasilkan dari alterasi matrik batuan yang disebabkan oleh kompaksi, sementasi,
perekahan, dan pelarutan.
Berdasarkan arah aliran, permeabilitas dalam batuan terbagi dua jenis,
yaitu permeabilitas vertikal (kv) dan permeabilitas horizontal (kH). Pada
umumnya, permeabilitas horizontal (kH) lebih besar dibandingkan permeabilitas
vertikal (kv). Besarnya perbandingannya tersebut dipengaruhi oleh lingkungan
pengendapan dari batuan reservoirnya.
Hubungan antara permeabilitas dengan porositas adalah kualitatif dan
secara tidak langsung kuantitatif dimanapun (lihat gambar 2.88). Porositas yang
besar mungkin memiliki zero permeabilitas, hal ini terjadi pada batu Apung
(pumice), Clay, dan Shale (porositas effektif mendekati nol). Jadi besarnya
permeabilitas sangat dipengaruhi oleh porositas effektif (lihat gambar 2.89).
Menurut Konzeny hubungan antara permeabilitas dan porositas dapat
ditunjukkan dengan persamaan sebagai berikut (dengan asumsi ukuran butir
batuan sama):

r2
8

......................................................................................... (2-139)

atau

1 3

.................................................................. (2-140)
k
5svgr 2 8 1 2

Dimana :
K

= permeabilitas, mD

= porositas, %

= jari jari pori, cm

svgr

= specific surface are of a porous material, cm-1

123

Gambar 2.88.
Hubungan antara Permeabilitas dengan Porositas
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

Gambar 2.89.
Hubungan antara Permeabilitas dengan Porositas di beberapa jenis batuan
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

124

Hubungan antara harga permeabilitas efektif minyak dan air terhadap


harga saturasinya digambarkan oleh suatu kurva grafik yang ditunjukkan gambar
2.90.

Gambar 2.90.
Hubungan antara Permeabilitas Efektif Minyak dan Air dengan Saturasinya
(Pirson, S.J., Oil Reservoir Engineering,1958)

Gambar tersebut dapat menguraikan beberapa hal penting berkenaan


dengan kedua besaran tersebut, yaitu :
1. Harga ko pada Sw = 0 dan So = 1 serta kw pada Sw = 1 dan So = 0
besarnya

akan

sama

dengan

permeabilitas

absolutnya,

yang

dikonotasikan pada titik A dan titik B.


2. Harga ko akan turun dengan bertambahnya nilai Sw dari 0 demikian
pula sebaliknya untuk kw akan turun dengan berkurangnya Sw dari
satu. Laju aliran minyak akan berkurang untuk So yang kecil karena
mempunyai harga ko yang kecil, demikian halnya dengan air.
3. Harga keff suatu fluida mencapai nol, saturasi fluida dalam batuan
masih ada (titik C dan D) namun dalam hal ini sudah tidak mampu
bergerak lagi. Saturasi ini sering disebut saturasi sisa suatu fluida, untuk
minyak dikonotasikan dengan Sor (residual oil saturation) dan air
dikonotasikan Swirr (irreducible water saturation).

125

4. Besarnya harga keff suatu fluida akan selalu lebih kecil dibandingkan
permeabilitas absolut (kecuali pada kondisi titik A dan B) sehingga
berlaku hubungan ko + kw k.
2.1.2.5.1. Klinkenberg Effect
Penelitian Klinkenberg pada pengukuran permeabilitas terjadi perbedaan
antara pengukuran menggunakan udara dengan pengukuran permeabilitas
menggunakan cairan, hasilnya pengukuran permeabilitas dengan menggunakan
udara memberikan hasil yang berbeda dibandingkan dengan menggunakan cairan,
berdasarkan pengukuran laboratorium hal ini disebabkan pada cairan memberikan
kecepatan aliran nol pada permukaan butiran pasir. Pengukuran tekanan ini
didefinisikan sebagai penjumlahan antara aliran upstream dan downstream Pm =
(P1 + P2)/ 2, jika plotting antara 1/ Pm dimana kita ekstrapolasi 1/ Pm = 0, yang
berarti Pm = infinity yang berarti sama dengan permeabilitas cairan, lihat Gambar
2.91.

Gambar 2.91.
Effect Klinkenberg pada pengukuran gas permeability
(Tarek Ahmed, Third Edition, 2006)

126

2.1.2.5.2. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Besarnya Permeabilitas


2.1.2.5.2.1. Kompaksi
Seperti halnya kompaksi mengurangi porositas, ini juga berlaku pada
permeabilitas. Semakin besar kompaksi, permeabilitas batuan cenderung untuk
menurun dengan kedalaman yang semakin dalam.
2.1.2.5.2.2. Bentuk dan Ukuran Pori
Secara umum, untuk batupasir, permeabilitas berbanding lurus dengan
rata-rata ukuran pori. Untuk batupasir dengan pemilahan yang baik, ukuran pori
akan berbanding lurus dengan ukuran butir. Sehingga, untuk batupasir dengan
pemilahan yang baik, permeabilitas akan berbanding lurus dengan ukuran butir.
Maka, untuk batupasir dengan pemilahan yang baik dengan ukuran butir yang
terbesar akan mempunyai permeabilitas yang lebih tinggi dibandingkan batupasir
yang pemilahan baik dengan ukuran butir yang lebih kecil (Tabel II-10).
Tabel II-10.
Pengukuran porositas dan permeabilitas dari artificial sandpack
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Untuk melihat mengapa ukuran butir mempengaruhi permeabilitas suatu


media, mari kita bandingkan area permukaan yang basah per unit bulk volume
(spesifik surface area) untuk aliran melalui sebuah pipa tanpa butir-butiran dan
melalui media dengan dua ukuran butir. Gambar 2.92 menunjukkan sebuah kubus
dari beberapa media dengan volume L3 meter3. Media berpori terbagi atas butiran

127

pasir spherical yang seragam dengan radius r meter dan porositas . Area
permukaan yang basah yaitu pipa per unit bulk volume (S), yaitu:
. (2-141)

Gambar 2.92.
Perbandingan aliran dalam sebuah pipa dengan aliran dalam suatu
media berpori
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Untuk media berpori, jumlah butiran, N, terkandung dalam L3 meter3 bulk


volume, yaitu:
... (2-142)
Area permukaan yang basah, yaitu:
.. (2-143)
Area basah per unit bulk volume (specific surface area), yaitu:
(2-144)
Jika batuan yang besar dan butiran mendatar seragam disusun dengan
dimensi horizontal yang memanjang, seperrti yang diillustrasikan pada Gambar
2.93,

permeabilitas

horizontalnya

(kH)

akan

sangat

tinggi,

sedangkan

permeabilitas vertikal (kv) akan bernilai sedang sampai besar. Jika batuan yang

128

besar dan dan butiran membulat, permeabilitasnya akan tinggi dan berpengaruh
yang sama dalam arah keduanya, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.94.
Permeabilitas batuan reservoir secara umum lebih rendah, khususnya arah
vertikal, jika butiran pasir berukuran kecil dan bentuknya tidak teratur (Gambar
2.95). Banyak batuan reservoir masuk dalam kategori ini. Reservoir dengan
permeabilitas berarah disebut dengan anisotropi. Anisotropi berpengaruh besar
terhadap karakteristik aliran fluida dalam batuan.

Gambar 2.93.
Pengaruh butiran besar mendatar terhadap permeabilitas
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

Gambar 2.94.
Pengaruh butiran besar membulat terhadap permeabilitas
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

129

Gambar 2.95.
Pengaruh butiran yang kecil dan tidak beraturan terhadap permeabilitas
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

2.1.2.5.2.3. Pemilahan
Pemilahan yang buruk akan menurunkan ukuran pori dan sebagai
akibatnya mengurangi permeabilitas batuan (Tabel 2.10).
2.1.2.5.2.4. Sementasi
Sementasi
permeabilitas

mengurangi

batuan.

ukuran

Walaupun

pori

dan

akibatnya

mengurangi

kompaksi

dan

sementasi

mengurangi

permeabilitas, seperti yang ditunjukkan Gambar 2.96, rekahan dan pelarutan


cenderung untuk menaikkan permeabilitas. Pada beberapa reservoir, terutama
karbonat dengan porositas yang rendah, terdapatnya porositas sekunder
menyediakan saluran untuk mingrasi fluida, seperti di Lapangan Ellenburger,
Texas.

130

Gambar 2.96.
Pengaruh material cementing clay terhadap porositas dan permeabilitas
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

2.1.2.5.2.5. Perlapisan
Permeabilitas dapat berbeda dalam arah yang berbeda. Karena perlapisan
dalam batuan sedimen, permeabilitas horizontal dalam batuan reservoir cenderung
untuk lebih besar dibandingkan permeabilitas dalam hal tidak terdapatnya rekahan
secara vertikal.
2.1.2.5.2.6. Clay Swelling
Banyak batupasir yang kompak mengandung clay dan silt, seperti arkose
dan greywacke. Karena tipe clay montmorillonite mengasorbsi fresh water dan
mengembang, permeabilitas seperti batupasir akan menurun besar ketika diukur
dengan fresh water. Penambahan salt, seperti sadium klorida atau potassium
klorida, mencegah pengembangan clay.
2.1.2.5.3. Tipe Harga Permeabilitas Reservoir
Permeabilitas reservoir memiliki harga yang bervariasi, dari 0.001 mD
untuk tight gas sand di East Texas sampai 4000 mD untuk unconsolidated sand di
Delta Nigeria.

131

Berikut kisaran harga permeabilitas reservoir:


Very low: k < 1 mD
Low: 1 mD < k < 10 mD
Fair: 10 mD < k < 50 mD
Average: 50 mD < k < 200 mD
Good: 200 mD < k < 500 mD
Excellent: k > 500 mD
Karena viskositas gas yang rendah, reservoir gas dengan permeabilitas kurang dari
1 mD masih dapat diproduksi pada laju ekonomis jika reservoir tersebut dilakukan
hydraulic fracturing. Karena viskositas minyak yang lebih tinggi dibandingkan
viskositas gas, reservoir minyak dengan permeabilitas yang kurang dari 1 mD
tidak dapat diproduksi pada laju ekonomis walaupun dilakukan hydraulic
fracturing.
2.1.2.5.4. Perhitungan Permeabilitas dari Kurva Drainage Tekanan Kapiler
2.1.2.5.4.1. Perhitungan Permeabilitas Absolut dari Kurva Drainage Tekanan
Kapiler
Tujuan dari perhitungan ini adalah untuk memperkirakan permeabilitas
suatu media berpori dari kurva drainage tekanan kapiler berdasarkan model pipa
kapiler dari media berpori. Disini, kita mengestimasi permeabilitas absolut dari
media media berpori berdasarkan fungsi probabilitas densitas untuk radius saluran
pori yang diperoleh dari injeksi merkuri porosimetri.
Jika fungsi probabilitas densitas untuk radius saluran pori yaitu (R),
dimana R adalah radius saluran pori. Kemudian, untuk media berpori,
(2-145)
Total fraksional dari pori dengan jarak antara R dan R+dR adalah (R)dR. Total
pori dengan jarak antara R dan R+dR adalah N (R)dR, dimana N adalah jumlah
total dari pori yang membuat media berpori. Area cross-sectional pori dengan
jarak antara R dan R+dR, yaitu:

132

(2-146)
Area cross-sectional dibentuk oleh semua pori yang dapat diperoleh dari
mengintegralkan persamaan (2-146), sehingga diperoleh:
... (2-147)
Dimana AT adalah area cross-sectional dari media berpori dan adalah porositas
dari media berpori. Kemudian,
.. (2-148)
Persamaan (2-148) dapat ditulis sebagai:
..... (2-149)
Laju aliran volumetric untuk pori-pori dengan radius antara R dan R+dR
dihitung dengan hokum Hagen-Poiseuille, yaitu:
... (2-150)
dimana (R) adalah tortuosity dari media berpori dan L adalah pangang dari
media. Sebagai catatan bahwa tortuosity adalah fungsi dari ukuran saluran pori, R.
Fasa wetting terdapat pada pori dengan radius kurang dari R. Laju aliran
volumetric fasa wetting diperoleh dari mengintegralkan persamaan (2-150), yaitu
sebagai berikut:
. (2-151)
Permeabilitas efektif untuk fasa wetting dihitung berdasarkan hokum Darcy, yaitu:
.. (2-152)
Volume pori dari media berpori, yaitu:
. (2-153)

133

Pada kesetimbangan kapiler, fasa wetting terdapat pada semua pori dengan radius
kurang dari R yang diperoleh dari tekanan kapiler, yaitu:
.. (2-154)
Volume fasa wetting, yaitu:
. (2-155)
Saturasi fasa wetting, yaitu:
... (2-156)
Persamaan (2-156) dapat disusun kembali sebagai berikut:
. (2-157)
dimana R merupakan variable integral tergantung, yang dipengaruhi oleh radius
saluran pori R, batas atas dari integral. Menurunkan persamaan (2-157),
menghasilkan:
(2-158)
Bagian kanan dari persamaan (2-158) dapat dievaluasi menggunakan aturan
Leibnitz untuk menurunkan definite integral, sebagai berikut:
..... (2-159)
Hasil dari integral pada bagian kanan dari persamaan (2-159) adalah nol.
Sehingga, persamaan (2-159) dapat disederhanakan menjadi:
.. (2-160)
Mensubstitusikan persamaan (2-160) ke (2-158) menghasilkan:
.. (2-161)

134

Mensubstitusikan persamaan (2-149) dan (2-161) kedalam persamaan (2-152)


menghasilkan permeabilitas efektif untuk fasa wetting, sebagai berikut:
.. (2-162)
R dalam persamaan (2-162) adalah ukuran pori yang terbesar yang diisi oleh fasa
wetting. Ini dapat diperoleh dari kurva tekanan kapiler, yaitu:
.. (2-163)
Berikut perkiraan tortuosity dalam bentuk fungsi:
(2-164)
Dimana a dan merupakan konstanta numeric. Fungsi ini memiliki persyaratan
bahwa peningkatan tortuosity karena menurunnya ukuran pori. Mensubstitusikan
persamaan (2-163) dan (2-164) ke dalam persamaan ((2-162) menghasilkan
permeabilitas efektif untuk fasa wetting sebagai berikut:
...... (2-165)
Permeabilitas absolut dari media berpori dapat diperoleh dari persamaan (2-165)
untuk media yang disaturasi penuh oleh fasa wetting, yaitu:
... (2-166)
Harga = 0 dan 1/ a = F1. Mensubstitusi nilai tersebut ke persamaan (2-166)
menghasilkan permeabilitas absolut dari media berpori, yaitu:
. (2-167)
Jika tekanan kapiler dalam psi, permeabilitas dalam milidarcy dan tegangan
permukaan dalam dyne/ cm, persamaan (2-167) menjadi (setelah konversi satuan):
..... (2-168)
Dalam hal ini injeksi merkuri, = 480 dyne/ cm dan = 140o. Mensubstitusikan
nilai tersebut ke dalam persamaan (2-168) menghasilkan permeabilitas:

135

... (2-169)
Persamaan (2-169) merupakan persamaan Purcell dimana F1 adalah faktor
litologi untuk menghitung tortuosity dari media berpori. Purcell (1949)
menunjukkan pengukuran pada sample core dan menghitung faktor litologi yang
membuat pengukuran permeabilitas sama dengan pengukuran permeabilitas dari
kurva drainage tekanan kapiler dari sample. Hasilnya ditunjukka pada Tabel II-11.
Permeabilitas dari sampel 17 dan 18 sangat rendah untuk diukur tapi diperkirakan
kurang dari 0.1 mD. Faktor litologi yang dihitung berkisar dari 0.085 sampai
0.363, dengan niai rata-rata 0.216. Dia menyarankan untuk menggunakan nilai
rata-rata 0.216 untuk memperkirakan permeabilitas batuan dari kurva drainage
tekanan kapilernya. Sedangkan, sebagaimana yang ditunjukkan pada Gambar
2.97, terdapat korelasi positif antara faktor litologi dan permeabilitas. Lebih
jelasnya, permeabilitas yang lebih tingi, faktor litologi yang lebih tinggi pula.
Sama halnya, semakin rendah permeabilitas, faktor litologi yang juga semakin
rendah. Sehingga, korelasi positif antara faktor litologi dan permeabilitas sangat
diharapkan. Karena dari korelasi ini, penggunaan rata-rata faktor litologi yaitu
0.216 untuk menghitung permeabilitas dari semua media berpori dapat untuk
perkiraan permeabilitas dari yang terbagus sampai terjelek. Gambar 2.98
membandingkan pengukuran permeabilitas dengan pengukuran permeabilitas
menggunakan rata-rata faktor litologi 0.216 yang diplot pada skala log. Korelasi
antara dua set data terlihat sangat kuat. Sedangkan, ketika data yang sama diplot
pada skala linear ditunjukkan pada Gambar 2.99, korelasi ini lebih lemah
dibandingkan pada Gambar 2.98.

136

Tabel II-11.
Faktor litologi untuk berbagai macam sampel core (Purcell, 1949)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

137

Gambar 2.97.
Korelasi antara faktor litologi dan permeabilitas (Purcell, 1949)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

Gambar 2.98.
Perbandingan pengukuran permeabilitas dan perhitungan permeabilitas
menggunakan rata-rata faktor litologi yaitu 0.216 yang diplot pada skala log
(Purcell, 1949)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

138

Gambar 2.99.
Perbandingan pengukuran permeabilitas dan perhitungan permeabilitas
menggunakan rata-rata faktor litologi yaitu 0.216 yang diplot pada
skala linear (Purcell, 1949)
(J.Peters Ekwere, Petrophysics)

2.1.2.5.4.2. Perhitungan Permeabilitas Relatif dari Kurva Drainage Tekanan


Kapiler
Permeabilitas relative untuk fasa wetting, yaitu:
... (2-170)
Permeabilitas relative untuk fasa non-wetting, yaitu:
(2-171)
Jika = 0, persamaan (2-170) dan (2-171) menjadi:
(2-172)

139

dan
.. (2-173)

Kelemahan dari model permeabilitas relative diatas yaitu bahwa (krw + krnw) = 1,
yang tidak sesuai dengan percobaan experimental dari fungsi permeabilitas
relative. Percobaan menunjukkan bahwa, secara umum, (krw + krnw) < 1.
Kekurangan ini tidak sesuai dengan percobaan karena tortuosity dari media
berpori diabaikan. Kenyataannya, tortuosity dari media dalam hadirnya fasa
multifasa adalah sebagai fungsi saturasi. Lebih lanjut, model tersebut tidak
mengizinkan untuk saturasi residual dari fasa wetting dan non-wetting.
2.1.3. Hubungan antara Permeabilitas dan Porositas
Gambar 2.100 menunjukkan plot permeabilitas versus porositas yang
diperoleh dari total sejumlah sampel dari formasi batupasir. Meskipun formasi ini
secara umum mempertimbangkan kesamaan dan homogeny, ini tidak secara
spesifik mendefinisikan trendline antara nilai permeabilitas dan porositas. Dalam
hal ini, hubungan antara permeabilitas dan porositas adalah secara kualitatif dan
bukan secara kuantitatif baik langsung maupun tidak langsung. Seringkali terdapat
korelasi antara permeabilitas dan porositas dalam satu formasi, seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.101.
Chilingarian menunjukkan bahwa komposisi granulometrik dari batupasir
mempengaruhi hubungan antara permeabilitas dan porositas. Gambar 2.102
adalah plot semilog dari permeabilitas versus porositas untuk (1) butiran sangat
kasar (very-coarsed), (2) butiran kasar dan sedang, (3) butiran halus, (4) silt, dan
(5) clayey sandstone. Gambar 2.103 menunjukkan tipe trend permeabilitas dan
porositas untuk berbagai jenis batuan. Hubungan ini sangat berguna dalam
memahami aliran fluida dalam media berpori.

140

Gambar 2.100.
Hubungan permeabilitas - porositas
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

Gambar 2.101.
Hubungan permeabilitas - porositas
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

141

Gambar 2.102.
Pengaruh ukuran butir terhadap hubungan antara permeabilitas dan
porositas
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

Gambar 2.103.
Tipe hubungan permeabilitas-porositas untuk berbagai jenis batuan
(courtesy of Core Laboratories)
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

142

2.1.3.1. Korelasi Kozeny


Penurunan Kozeny salah satu korelasi yang popular dalam menghasilkan
permeabilitas

sebagai

fungsi

porpsitas

dan

spesifik

area

permukaan.

Mempertimbangkan sampel batuan yang porous dengan area cross-sectional A dan


panjang L dalam total, n, pipa kapiler yang lurus disusun parallel, dengan ruang
antara penjepit pipa dengan material semen. Jika semua pipa kapiler mempunyai
radius yang sama r (cm) dan panjang L (cm), laju alir q (cm3/ s) sepanjang pipa,
berdasarkan persamaan Poiseuille, yaitu:
. (2-174)
Dimana kehilangan tekanan P dengan panjang L dinyatakan dalam dyne/ cm2.
Hukum Darcy juga dapat emperkirakan aliran fluida sepanjang pipa kapiler
tersebut, yaitu:
... (2-175)
Dimana Ac adalah total dari area cross-sectional, meliputi zona semen, kumpulan
dari pipa kapiler.
Persamaan (2-174) dan (2-175) diselesaikan dan diperoleh harga k:
. (2-176)
Dengan mendefinisikan porositas:
. (2-177)
Mensubstitusi Ac = nr2/ dari persamaan (2-177) kedalam persamaan (2-176),
diperoleh hubungan yang sederhana antara permeabilitas dan porositas untuk poripori yang memiliki ukuran yang sama dan radius yang sama untuk r:
(2-178)
Dimana k = adalah dalam cm2 (1 cm2 = 1.013 x 108 darcy) atau dalam m2 (1 mD
= 9.871 x 10-4 m2) dan dalam fraksi.

143

Svp merupakan area permukaan internal per satuan volume pori, dimana area As
untuk n pipa kapiler adalah n(2rL) dan volume pori Vp adalah n(r2L):
. (2-179)
SVgr merupakan area spesifik permukaan dari material berpori atau total area yang
nampak dalam ruang pori per unit volume butiran. Untuk rangkaian pipa kapiler,
total area yang Nampak, At, adalah ekivalen dengan area permukaan internal As;
dan volume butiran, Vgr adalah sama dengan AcL(1 ). Sehingga:
. (2-180)
Mengkombinasikan persamaan (2-179) dan (2-180) menghasilkan:
... (2-181)
Persamaan (2-178) dapat ditulis menjadi:
(2-182)
Mensubstitusi sVp dari persamaan (2-182) menghasilkan:
.. (2-183)
Setelah area spesifik permukaan per satuan volume pori, sVp, ditentukan dari data
kapiler atau petrographic image analysis (PIA), kemudian persamaan (2-181)
digunakan untuk memperoleh sVgr.
2.1.3.2. Konsep Flow Unit
Dari beberapa definisi, Flow Unit memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Flow Unit merupakan volume spesifik reservoir, tersusun dari satu atau
lebih litologikualitas reservoir.
2. Flow Unit bersifat korelatif dan dapat dipetakan pada skala interval.
3. Penzonaan Flow Unit dapat dikembangkan pada wire-line log.
4. Flow Unit merupakan komunikasi dengan unit aliran lainnya.

144

Gunter et al, memperkenalkan metode secara grafis untuk mengidentifikasi


flow unit suatu reservoir berdasarkan kerangka geologi, sifat fisik batuan,
kapasitas penyimpanan, kapasitas alira, kecepatan proses reservoir. Berdasarkan
parameter

tersebut,

berikut

lima

langkah

untuk

mengidentifikasi

dan

mengkarakterisasi flow unit:


1. Mengidentifikasi batuan dan mengilustrasikan dengan cross plot
porositas-permeabilitas Withland (Gambar 2.104).
2. Membuat stratigraphic modified Lorenz plot (SMLP) dengan
menghitung pada dasar kaki-kaki persen kapasitas aliran (ketebalan
permeabilitas) dan persen penyimpanan aliran (ketebalan porositas)
(Gambar 2.105).
3. Memilih interval flow unit berdasarkan titik infleksi dari SMLP.
Langkah ini harus diverifikasi menggunakan kurva SFP geologic
framework R35 (menghitung radius saluran pori pada 35% saturasi
merkuri) dan rasio K/ .
4. Mempersiapkan final stratigraphic flow profile (SFP) dengan kurva
korelasi, porositas-permeabilitas rasio k/ , R35, persen penyimpanan,
dan persen kapasitas.
5. Merekonstruksi MLP (modified Lorenz Plot) dengan menggunakan
final flow unit dalam menurunkan unit kecepatan (FUS).

Gambar 2.104.
Sketsa plot permeabilitas-porositas Withland
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

145

Gambar 2.105.
Sketsa stratigraphic modified Lorenz plot (SMLP)
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

2.1.3.3. Teori Matematis Flow Unit


Konsep hydraulic flow unit didefinisikan sebagai volume yang mewakili
volume total batuan reservoir yang termasuk sifat-sifat geologi, dimana sifat ini
mengontrol aliran fluida yang secara internal berbeda dan dapat diperkirakan
perbedaan tersebut dengan sifat fisik batuan lainnya. Jadi, flow unit dibedakan
berdasarkan sifat petrofisika dan parameter geologi tertentu. Hydraulic unit
berhubungan dengan penyebaran fasies geologi akan tetapi tidak selalu bertepatan
dengan batas fasies. Bagaimanapun juga hydraulic unit fapat terdiri dari beberapa
tipe lithofacies batuan tertentu, tergantung dari tekstur pengendapan dan
kandungan mineraloginya. Pengelompokan batuan berdasar pada prinsip geologi
dalam atribut aliran merupakan dasar dari klasifikasi hydraulic unit.
Parameter utama yang mempengaruhi aliran fluida adalah atribut geometri
pori. Pada gilirannya, geometri pori dipengaruhi oleh mineraloginya (tipe, lokasi
dan pelimpahan) serta tekstur dari batuannya (ukuran butir, bentuk butir, sorting,
dan packing). Pendekatan dengan menggunakan konsep jari-jari hidrolik rata-rata
(mean hydraulic radius, rmh) menjadi model untuk mengkorelasi porositas,
permeabilitas, dan tekanan kapiler dengan persamaan (2-184) sebagai berikut:

rmh = = ... (2-184)

146

Untuk saluran pori model tabung silinder digunakan persamaan:

rmh = 2 .. (2-185)
Dengan mengambil konsep rmh ini, Kozeny dan Carman menganggap
bahwa pori reservoir sebagai kumpulan pipa-pipa kapiler. Mereka menggunakan
Hukum Poisseuille dan darcy untuk menurunkan hubungan antara porositas dan
permeabilitas. Asumsi utama yang dipakai adalah bahwa waktu tempuh elemen
fluida di dalam pipa kapiler sama dengan waktu tempuh elemen fluida dalam
satuan elemen volume di reservoir, serta porositas yang dipakai adalah porositas
efektif, yang dinyatakan dalam persamaan:
k = er2 / 8r2 = (e / 2r2) x (r/ 2)2 = (ermh2) / 2r2 . (2-186)
Substitusi persamaan (2-186) ke dalam persamaan (2-185), Kozeny dan
Carman memperoleh persamaan (2-187).
k = [e2 / (1- e)2] x [(1/ 22Sgv2)] ... (2-187)
Secara umum persamaan Kozeny Carman ditulis sebagai berikut:
k = [e2 / (1- e)2] x [(1/ Fs2Sgv2)] .. (2-188)
Dimana Fs adalah faktor bentuk (shape factor) yang bernilai 2 untuk
model silinder. Suku Fs2 disebut dengan Konstanta Cozeny, yang dalam
kenyataannya merupakan konstanta yang jadi variable, konstan pada unit yang
sama tetapi berubah pada unit yang berbeda. Variabilitas konstanta Cozeny ini
bervariasi mulai dari 5 hingga 100 pada batuan di reservoir.
2.1.3.4. Specific Surface Area
Specific surface area dapat diperkirakan setidaknya dengan tiga cara:
metode adsorpsi gas, petrographic image analysis (PIA), dan nuclear magnetic
resonance (NMR). Metoda dasar untuk mengukur area permukaan (surface area)
dari teknik adsorpsi gas melibatkan penentuan kuantitas gas inert, seperti nitrogen,
argon, atau krypton, dibutuhkan untuk membentuk ketebalan lapisan satu molekul

147

pada permukaan dari suatu sampel pada temperature kriogenik. Area dari sampel
kemudian dihitung dengan menggunakan area yang diketahui, dari pertimabangan
lainnya, terdapat beberapa molekul gas pada kondisi tersebut. Metode adsorpsi
gas lebih luas digunakan dalam penentuan specific surface area suatu material.
Sedangkan, terbatas untuk media berpori yang tidak mempunyai spesifik
permukaan yang besar, dan dimana butiran matriksnya halus dan teratur, seperti
sphericity > 0.7 dan roundness > 0.5, seperti yang ditunjukkan pada Gambar
2.106.

Gambar 2.106.
Perbedaan bentuk roundness dan sphericity
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

Metode

petrographyc

image

analysis

(PIA)

digunakan

untuk

mengkarakterisasi pori-pori batuan jika ketersediaan sampel lengkap. Spesifik


permukaan pori dapat ditentukan dari:
.. (2-189)
Dimana Lp dan Ap merupakan pori perimeter dan pori cross-section.
Menggunakan PIA, planar pore shape factor fps dapat ditentukan sebagai berikut:
. (2-190)

148

Faktor fps ditunjukkan dalam Tabel II-12. Kisaran harga fps adalah 3.75 sampai
5.84. Tidak terdapat hubungan praktis antara faktor bentuk pori 2D fps, dan faktor
bentuk pori 3D Kps. Untuk ideal pori spherical fps = 1 dan Kps = 6.
Tabel II-12.
Faktor bentuk pori 2D PIA

(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

Pendekatan metode nuclear magnetic resonance atau NMR saat sekarang


ini merupakan metode yang paling akurat untuk memgestimasi specific surface
area. Dalam hal ini, specific surface area sVgr dan spv diperoleh dari:
SVgr = ANMR m . (2-191)
1

Spv = (

) ANMR m ... (2-192)

Keterangan:
ANMR = NMR surface area dari material kering, m2/ g
m

= densitas butiran matrix, g/ cm3

SVgr = specific surface area per unit volue butiran, m2/ cm3
Nilai spv dan sVgr yang diperoleh dari NMR secara umum lebih tinggi
dibandingkan nilai yang diperoleh dari PIA atau metode adsorpsi gas. Beberapa

149

kajian menemukan bahwa bahwa specific surface area, yang diukur dengan ketiga
metode tersebut, berhubungan dengan saturasi air irreducible atau saturasi air
dengan hubungannya secara umum, yaitu:
Spv = aebsw (2-193)
Dimana a dan b merupakan konstanta korelasi. Zemanek menginvestigasi
reservoir batupasir yang memiliki resistivitas rendah dan menemukan area
permukaan yang diukur dengan metode NMR secara kuantitatif tepat dengan
sayurasi air irreducible dari data kurva tekanan kapiler. Gambar 2.107 dan 2.108
menunjukkan korelasi yang baik antara spv dan sw dan swi, masing-masing:
Spv = 66.894e0.0224swi ... (2-194)
Spv = 66.493e0.0339swi ... (2-195)
Dimana Sw dan Swi dinyatakan dalam persen dan Spv dalam m2/ cm3. Nilai dari
Spv yang digunakan dalam Gambar 2.107 dan 2.108 yang diperoleh dari
persamaan (2-192).

Gambar 2.107.
Saturasi air irreducible sebagai fungsi surface area (spv) dalam
formasi batupasir
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

150

Gambar 2.108.
Saturasi air sebagai fungsi surface area (spv) dalam formasi batupasir
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

2.1.3.5. Faktor Faktor Karakteristik Flow Unit


2.1.3.5.1. Reservoir Quality Index (RQI)
Amaefule et al. juga memperkenalkan konsep indeks kualitas reservoir
(RQI), (k/ )1/2, mempertimbangkan saluran pori, distribusi pori dan butiran, dan
skala makroskopik lainnya. Membagi kedua bagian persamaan (2-196) dengan
porositas dan mengakarkan kedua bagian persamaan, menghasilkan persamaan (2197).
.. (2-196)
Keterangan:
K

= permeabilitas, m2

= porositas efektif

sVgr

= specific surface area per satuan volume butiran

= tortuosity dari alur aliran

KT

= efektif zoning faktor

151

... (2-197)
Jika permeabilitas dinyatakan dalam milidarcy dan porositas dalam fraksi, maka
persamaan (2-197) dapat menghasilkan parameter baru, yang didefinisikan
sebagai reservoir quality index (RQI), RQI yang merupakan parameter yang
ditulis dalam persamaan (2-198) mendefinisikan derajat kualitas batuan reservoir
berdasarkan nilai permeabilitas dan porositas batuannya.
... (2-198)
2.1.3.5.2. Flow Zone Indicator (FZI)
Indikator zona aliran (FZI) didefinisikan sari persamaan (2-197) sebagai:
. (2-199)
Sehingga persamaan (2-197) dapat ditulis menjadi:
RQI = FZI(z) .... (2-200)
Dimana z merupakan rasio volume pori terhadap volume butiran :
.. (2-201)
Dengan menggolaritmakan persamaan (2-200) di kedua bagiannya menghasilkan:
Log (RQI) = log (z) + log (FZI) ... (2-202)
Persamaan (2-202) menghasilkan garis lurus pada plot log-log dari RQI versus z
dengan suatu slope atau kemiringan. Intersepsi dari garis lurus ini pada z = 1
merupakan

indicator

zona

aliran.

Slope

yang

lebih

besar

dari

satu

mengindikasikan dormasi shaly.


2.1.3.5.3. Tiab Flow Unit Characterization Factor (HT)
Sneider dan King menunjukkan bahwa sifat fisik batuan dari batupasir dan
konglomerat dapat berhubungan dengan ukuran butir dan pemilahan, derajat
kekompakan batuan, sementasi, ukuran pori, dan pori yang berhubungan.
Persamaan (2-196) dapat ditulis menjadi:

152

.. (2-203)
HT disebut sebagai Tiab Flow Unit Characterization Factor. Mensubstitusi untuk
KT = Kps dan sVgr (persamaan 2-189), HT menjadi:
... (2-204)
Tortuosity dapat diperkirakan dari:
= 1-m .... (2-205)
Mensubtitusi ke dalam persamaan (2-204) menghasilkan persamaan umum
untuk Tiab Flow Unit Characterization Factor:
... (2-206)
Faktor karakteristik Tiab Flow Unit mengkombinasikan semua sifat-sifat
petrofisik dan geologi yang disebutkan diatas oleh Snyder dan King. Sebagai
catatan bahwa HT dan FZI dihubungkan dengan persamaan berikut:
... (2-207)
Bagian kanan dari persamaan (2-203) juga disebut sebagai HT, yaitu:
.. (2-208)
HT yang diperoleh dari persamaan (2-206) merefleksikan sifat mikroskopik
petrofisik, sedangkan HT yang dihitung dar persamaan (2-208) merefleksikan flow
unit pada skala makroskopik. Jika parameter petrofisik dalam persamaan (2-206)
dapat diukur dengan akurat, kemudian plot log-log dua parameter HT dapat
digunakan untuk menormalisasi data. Mensubstitusi HT (persamaan 2-206) ke
dalam persamaan (2-203) dan penyelesaian untuk permeabilitas adalah:
.. (2-209)

153

2.1.3.5.3. Free Fluid Index (FFI)


Volume bulk air biasanya digunakan untuk mengindikasikan baik atau
tidaknya saturasi air irreducible suatu reservoir. Ini sama dengan hasil total
porositas dan saturasi air, Sw:
BVW = Sw (2-210)
Reservoir dengan saturasi air sama dengan saturasi air irreducible atau connate
memproduksi air bebas hidrokarbon karea air terdapat pada pori yang kecil dan
disebabkan oleh tegangan permukaan dan tekanan kapiler. Dalam hal bulk volume
air didefinisikan sebagai bulk water volume irreducible (BVI) dan diperkirakan
dengan:
BVI = Swir (2-211)
Indeks fluida bebas (FFI) didefinisikan sebagai hasil dari saturasi
hidrokarbon dan porositas. Ini merupakan suatu pengukuran movable liquid,
minyak dan/ atau air, sehingga ini dihubungkan dengan flow unit. Ini diperoleh
dari peralatan MNL. Secara matematika, dinyatakan:
FFI = (1 Swir) ... (2-212)
Coates dan Denoo menghubungkan permeabilitas dengan FFI sebagai berikut:
(2-213)

2.1.3.6. Pengaruh Packing terhadap Permeabilitas


Slichter merupakan yang pertama dalam mendemonstrasikan bentuk
matematis dari pengaruh packing dan ukuran butir terhadap permeabilitas.
Persamaan semi-empirik nya, yaitu:
... (2-214)

154

Dimana k merupakan permeabilitas dalam Darcy, dgr merupakan diameter butiran


spherical dalam mm, dan ap merupakan konstanta packing, yang dapat
diestimasikan dari:
ap = 0.97-3.3 ... (2-215)
Mensubstitusikan persamaan (2-215) ke dalam persamaan (2-214) menghasilkan:
k = 10.5dgr-3.3 (2-216)
Korelasi ini berlaku terutama untuk formasi batupasir.
2.1.3.7. Pengaruh Saturasi Air terhadap Permeabilitas
Wylline dan Rose menginvestigasi pengaruh saturasi air irreducible dan
porositas terhadap permeabilitas absolut, dan mengembangkan korelasi empiric
berikut:
... (2-217)
Dimana awr merupakan konstanta yang tergantung pada densitas hidrokarbon.
Untuk berat medium minyak awr = 250 dan untuk gas kering awr = 79, k dalam
Darcy, dan dan Swi dalam fraksi. Dengan 2502 10 x 792, persamaan (2-217)
mengindikasikan bahwa, untuk harga dan Swi yang sama, ko 10 kg.
Persamaan (2-217) hanya digunakan dalam terdapatnya sedimen klastik.
Persamaan yang sama yang diturunkan oleh Timur, yaitu:
.... (2-218)
Dimana permeabikitas dalam mD dan Swi dan dinyatakan dalam persen.
Persamaan (2-218) tidak tergantung pada tipe atau jenis hidrokarbon dalam media
berpori.
Persamaan (2-214) sampai (2-218) biasanya digunakan untuk memperoleh
estimasi distribusi permeabilitas dari well log data. Jika porositas dan saturasi air
irreducible digunakan dalam bentuk fraksi, persamaan (2-218) menjadi:
. (2-219)

155

2.1.3.8. Hubungan Permeabilitas Porositas dalam Batuan Karbonat


Hubungan antara permeabulitas dan porositas dalam formasi batuan
karbonat berhubungan dengan ukuran butir dari matriks batuan, ukuran dari ruang
intergranular pori, jumlah dari unconsolidated vug (rekahan dan larutan), dan ada
atau tidak adanya connected vug. Gambar 2.109 merupakan plot log-log dari
hibungan permeabilitas porositas untuk berbagai kelompok ukuran partikel
dalam batuan uniformly cemented nonvuggy. Plot ini mengindikasikan bahwa
terdapat alasan yang bagus mengenai hubungan antara 3 buah parameter sifat fisik
batuan dan, sehingga, jika ukuran partikel dan matriks porositas diketahui,
permeabilitas (dalam milidarcy) dari bagian nonvuggy batuan karbonat dapat
diestimasi dari:
.... (2-220a)
Keterangan:
ma

= matriks porositas, fraksi

Agr

= koefisien ukuran butir, dimensionless

Amcp

= koefisien sementasi kompaksi, dimensionless

Nilai dari koefisien koefisien tersebut berhubungan dengan diameter


rata-rata partikel dgr, sebagai berikut:
1. Untuk dgr kurang dari 20 m, nilai dari Agr dan Amcp adalah 1.5 x 103
dan 4.18
2. Untuk dgr dalam n yang berkisar dari 20 sampai 100, Agr = 2.60 x 105
dan Amcp = 5.68
3. Untuk dgr lebih besar dari 100 m, nilai dari Agr dan Amcp adalah 8.25
x 108 dan 8.18
Jika distribusi dari sementasi atau kompaksi tidak seragam, konstanta
Amcp akan terpengaruh. Sementasi Patchy cemderung untuk menghasilkan nilai
yang lebih tinggi dari Amcp, sehingga menurunkan permeabilitas.
Untuk mengetahui pengaruh rekanan yang tidak kompak dan ronggarongga pada porositas inter-partikel, Lucia menguji jumlah yang besar dari batuan

156

karbonat dan mengukur secara visual fraksi dari total matriks porositas
berdasarkan tipe dari vug nya. Dia menemukan bahwa pengaruhnya adalah
meningkatkan inter-partikel matriks porositas dengan sedikit atau tidak
meningkatkan permeabilitas matriks. Berikut dibawah ini prosedur untuk
memperkirakan permeabilitas dalam batuan karbonat yang mengandung
unconnected vug:
1. Mengukur total porositas (inter-partikel dan unconnected vug), t, dari
well log atau core analysis
2. Memperkirakan secara visual porositas unconnected vug, u
3. Menghitung intergranular porosity matriks (ma), yaitu:
... (2-220b)
4. Memperkirakan ukuran rata-rata partikel, dgr, mengguakan kompaktor
atau micrometer
5. Menghitung permeabilitas dari matriks nonvuggy, kma, menggunakan
persamaan (2-220).
Craze dan Bagrintseva mendemonstrasikan pengaruh litologi terhadap
hubungan porositas dan permeabilitas. Berdasarkan data core dari cretaceous
Edward limestone (Gambar 2.110), Craze mencatat bahwa akibat perubahan
tekstur dari mikrogranular ke butiran kasar, permeabilitas meningkatkan porositas.
Chilingarian et al. menggunakan data Bagrintseva dan menurunkan
beberapa korelasi antara permeabilitas dan porositas dengan mempertimbangkan 2
variable tambahan, yaitu saturasi fluida irreducible dan specific surface area.
Persamaan umum dari korelasi tersebut, yaitu:
.. (2-221)
Keterangan:
K

= permeabilitas, mD

Swr

= saturasi air residual, %

Svp

= specific surface area

= porositas terbuka, %

157

Gambar 2.109.
Pengaruh ukuran partikel terhadap hubungan permeabilitas porositas
dalam uniformly cemented nonvuggy carbonate
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

158

Gambar 2.110.
Hubungan antara porositas dan permeabilitas untuk berbagai jenis
cretaceous Edward limestone
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

2.1.3.8.1. Perkiraan Permeabilitas pada Batuan Karbonat


Meskipun porositas absolut yang disediakan oleh rekahan alami diabaikan
(< 3%), porositas efektif dipertimbangkan karena rekahan berhubungan dengan
volume pori yang ada. Akibatnya, permeabilitas reservoir dan perolehan minyak
akan meningkat. Banyak metode yang dikembangkan untuk mengestimasi
permeabilitas rekahan, meliputi model parallel plate, electric analog system, core
analysis, well logging, analisa tekanan transien.
Persamaan untuk laju alir volumetric antara dua plate, dikombinasikan
dengan hokum Darcy, menghasilkan pendekatan mendasar untuk memperkirakan
permeabilitas rekahan dan pengaruhnya terhadap aliran fluida dalam batuan rekah
alam. Parson menggunakan pendekatan ini untuk menyatakan permeabilitas total
dari system rekahan matriks dimana rekahan vertikal terdapat dalam ruang yang
khusus dan mendasar secara relative pada gradient tekanan secara keseluruhan.
Murray menggunakan model parallel plate dan pendekatan geometric untuk
melipat batuan untuk mendemonstrasikan bahwa, dalam lipatan dengan rekahan

159

normal sampai bedding dan parallel sampai lipatan axis, porositas rekahan dan
permeabilitas merupakan fungsi dari ketebalan dasar (bed) dan curvature. Dia
mengasumsikan bahwa perpanjangan rekahan dari dalam sampai luar lapisan.
Murray mengaplikasikan pendekatan ini di sebuah kolam Spanish di McKenzie
Country, North Dakota, dan mendemonstrasikan hubungan antara area maksimum
curvature dan area productivity yang tinggi.
Aliran fluida melalui media berpori secara langsung analog dengan aliran
listrik. McGuire dan Sikora menggunakan analog ini dan menunjukkan bahwa
lebar dari rekahan buatan lebih penting dibandingkan panjangnya dalam
mempengaruhi komunikasi disepanjang rekahan alami.
Permeabilitas rekahan tidak dapat diperkirakan secara langsung dari well
log. Cara modern adalah mengkombinasikan parameter core dengan data log hasil
pemrosesan computer untuk membuktikan hubungan statistic antara permeabilitas
dari system rekahan matriks dan berbagai parameter, melipiti distribusi
permeabilitas, dapat ditarik dari data log sumur dalam sumur-sumur atau zona
tanpa data core. Dalam formasi karbonat, dimana strukturnya heterogenitas dan
perubahan structural merupakan hal yang biasa, dan hanya sedikit dari sumursumur yang dilakukan analisa core karena sulit dan biayanya yang mahal, aplikasi
korelasi penurunan statistik sangat terbatas. Watfa dan Youssef mengembangkan
model teoritis yang berhubungan secara langsung terhadap panjang arah aliran
(tortuosity), perubahan jari-jari pori, porositas, dan faktor sementasi m. Model
mengasumsikan bahwa:
1. Suatu media berpori dapat direpresentasikan sebagai rangkaian pipapipa, yang ditunjukkan pada Gambar 2.111
2. Area cross sectional disetiap pipa, Aa, adalah konstan
3. Arah aliran dan arah listrik sama dan konduktivitas yang sebenarnya,
yaitu resistivitas, dari rangkaian pipa adalah:
Ctr = Cwm (2-222)
Dimana Cw adalah konduktivitas air dan m adalah faktor sementasi.

160

Gambar 2.111.
Model rangkaian pipa-pipa

(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

Karena konduktivitas apparent Ca yaitu sebuah blok yang mempunyai area crosssectional A dan panjang L yang berhubungan dengan konduktivitas yang
sebenarnya Ctr dinyatakan dalam:
(2-223)
Dimana A merupakan area cross-sectional dari semua pipa, kemudian:
. (2-224)
Mengasumsikan bahwa model rangkaian pipa-pipa mengandung n pipa,
konduktivitas pipa (Ci) dapat didefinisikan sebagai:
(2-225)
dimana Li merupakan panjang dari pipa.
Porositas dari pipa adalah seragam. Konduktivitas apparent dari blok
adalah total dari konduktivitas masing-masing yang dimiliki oleh semua pipa,
sehingga:
... (2-226)
Dengan mengasumsikan A2 adalah konstan:
. (2-227)

161

Dengan definisi:
.... (2-228)
Mengkombinasikan persamaan (2-222) dan (2-225) menghasilkan:
(2-229)
Dan tortuosity adalah:
= 1-m .... (2-230)
Menggunakan pendekatan yang sama, pengaruh arah aliran terhadap
permeabilitas dapat dievaluasi. Mengaplikasikan persamaan Poiseiulle untuk pipa,
laju aliran dalam pipa, qi, sama dengan:
.... (2-231)
Dimana rpai, , dan P masing masing, merupakan jari-jari pipa, viskositas
fluida, dan penurunan tekanan sepanjang unit blok. Untuk n pipa, laju total aliran
q adalah:
. (2-232)
Dan, mengasumsikan A2 adalah konstan, laju alir adalah:
... (2-234)
Mengaplikasikan hukum Darcy untuk unit blok, laju alir sama dengan:
... (2-235)
Mengkombinasikan persamaan (2-228), (2-229). (2-231), (2-232), dan (2-233),
sehingga diperoleh permeabilitas apparent dari blok, ka:
. (2-236)
Mengkombinasikan persamaan (2-236) dan (2-228) menghasilkan:
. (2-237)

162

Mengasumsikan = (FR)2, dimana FR adalah faktor resistivitas formasi,


persamaan (2-237) menjadi:
.. (2-238)
Dan, untuk = (FR)2, persamaan (2-237) menjadi:
. (2-239)
Persamaan ini dengan jelas mengindikasikan bahwa tidak ada korelasi tunggal
yang dapat digunakan untuk menentukan permeabilitas formasi hanya dari log.
Jika ka dinyatakan dalam mD, rpa dalam m, persamaan (2-237) menjadi:
.. (2-240)
Gambar 2.112 merupakan plot semilog dari hubungan ini. Axis Cartesian
pada plot ini adalah m. Hal yang penting meliputi dimensi dari flow channel
dalam mengembangkan hubungan k untuk karbonat dengan jelas
didemonstrasikan dari plot ini. Persamaan (2-240) juga dapat diterapkan untuk
batupasir, diturunkan pada dasar bahwa jari-jari pori rata-rata dari flow channel
adalah konstan sepanjang unit blok. Sperti yang ditunjukkan pada Gambar
2.113(A), sedangkan, jari-jari pori yang sebenarnya berubah sepanjang arah
aliran. Pengaruh perubahan area cross-sectional sepanjang arah aliran dapat
dievaluasi dengan mempertimbangkan system dari Gambar 2.113(B) sebagai dua
resistor dalam rangkaian. Konduktivitas total C dari system ini berhubungan
dengan dua konduktivitas C1 dan C2 dengan konduktivitas parallel, persamaannya:
. (2-241)
Mensubstitusi persamaan (2-225) ke dalam persamaan diatas, ini dapat
menunjukkan bahwa perubahan konduktivitas disebabkan oleh perubahan jari-jari
pori, yaitu sebagao berikut:
.. (2-242)

163

Gambar 2.112.
Variasi ka, m, dan rpa untuk system ideal rangkaian pipa
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

Gambar 2.113.
Variasi A dan B dalam panjang arah aliran dan jari-jari pori dengan variasi
ukuran butir
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

Dimana Lr = L1/ L (Gambar (2.113B), Ar = 1 A1/ Aa, dan Ca adalah


konduktivitas apparent dari blok. Mengkombinasikan persamaan Darcy dan
Poiseuille, ini dapat menunjukkan bahwa pengaruh perubahan jari-jari pori pada
permeabilitas yang sebenarnya k adalah:
(2-243)

164

Dimana kR merupakan rasio permeabilitas apparent terhadap permeabilitas


absolut. Mengasumsikan P = P1 + P2 dan AaL = A1L1 + A2L2, persamaan (2240) menjadi:
.. (2-244)

Menambahkan rpe, jari-jari pori efektif, sama dengan rpaR , persamaan (2-244)
menjadi:
... (2-245)
Nilai dari rpe dapat berbagai pertimbangan dari nilai jari-jari rata-rata,
tergantung pada tekstur dan heterogenitas dalam system. Mempertimbangkan dua
system dengan perbedaan ukuran butir dan tidak ada vug atau rekahan (Gambar
2.114). Karena:
1. Arah yang muncul menunjukkan tortuosity inter-matrix yang sebenarnya
2. Tortuosity merupakan fungsi ukuran butir dan biasanya menurun dengan
menurunnya ukuran butir
3. Harga rpe bervariasi dengan variasi ukuran butir
4. Hubungan antara dan rpe harus terdapat untuk formasi yang utama.
Menggunakan data eksperimental rpa, m, , dan k, Wafta dan Youssef
menunjukkan rpe dan berhubungan seperti yang ditunjukkan berikut:
. (2-246)

Gambar 2.114.
Dua system dengan perbedaan ukuran butir dan jari-jari pori
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

165

Dimana koefisien a1 dan a2 dapat ditentukan berdasarkan prosedur berikut:


a) Memperoleh nilai m dan 0 dari log sumur dan k dari analisa core
b) Menentukan faktor sementasi dari matriks mm dari:
.. (2-247)
Dimana IS2 merupakan indeks porositas sekunder, SPI, yaitu, t SL,
dimana t dan SL merupakan porositas total dan porositas log sonig.
Gambar 2.115 menunjukkan bagaimana untuk memperoleh mm dari
plot sementasi m versus SPL. Untuk mengganti pengaruh rekahan, data
point untuk IS2 < 1% tidak digunakan untuk memperoleh mm. Dalam
bentuk kurva yang tidak linear, dibutuhkan ketelitian ketika
mengekstrapolasi kurva untuk harga IS2 = 1 untuk memperoleh mm
pada axis m.
c) Menentukan harga dari jari-jari pori efektif rpe dari persamaan (2-245).
d) Menghitung tortuosity
e) Membuktikan data bank untuk rpe dan , dan plot log rpe versus .
f) Menggambar garis lurus yang tepat. Bentuk umum dari garis ini
diberikan dari persamaan (2-247).
g) Menentukan koefisien korelasi a2 dari rpe log-axis pada = 0 dan a1
dari axis pada rpe = 1.

Gambar 2.115.
Estimasi harga faktor inter-matriks Archie (mm) dari cross plot faktor Archie
(m) dan indeks porositas sekunder (IS2)
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

166

2.1.3.9. Permeabilitas Berarah


Dalam reservoir yang homogeny, permeabilitas diasumsikan sama untuk
setiap arahnya. Sedangkan, dalam reservoir yang heterogen, permeabilitas dalam
arah horizontal dipertimbangkan berbeda dengan permeabilitas dalam arah y dan
z. Akibatnya adalah perubahan permeabilitas dalam arah yang berbeda pada
perolehan alami suatu reservoir dan efisiensi dari proyek waterflood sangat
penting secara signifikan. Analisa horizontal uji sumur dan pemilihan teknik zona
uji sumur menyediakan perkiraan permeabilitas absolut.
2.1.3.9.1. Anisotropi
Permeabilitas berarah sering digunakan untuk menunjukkan derajat
heterogenitas dalam formasi. Dari sudut engineering, pengaruh anisotropi
menurunkan atau menaiikan permeabilitas efektif suatu batuan reservoir. Seperti
turun

atau

naiknya

permeabilitas

efektif

terjadi

karena

meningkatnya

permeabilitas dalam satu arah dan turunnya permeabilitas dalam arah yang lain;
dengan demikian menghasilkan permeabilitas rata-rata selalu kurang dari
permeabilitas yang lebih tinggi dalam setiap arah dalam suatu reservoir. Sebagai
contoh, reservoir dengan rekahan vertikal mempunyai permeabilitas rekahan yang
lebih tinggi dalam arah vertikal dan permeabilitas matriks yang rendah dalam arah
horizontal. Sebagai variasi dalam permeabilitas disebut sebagai anisotropi.
.. (2-248)
Permeabilitas horizontal (kH) dan permeabilitas vertikal (kV) ditentukan
dari anlisa core. kH dan kV dapat lebih akurat ditentukan dari uji interference.
Pemilihan anlisis zona uji sumur dalam lubang sumur yang sama digunakan untuk
memperkirakan permeabilitas vertikal. Untuk menembus sumur, secara instan,
biasanya

dikembangkan

aliran

spherical;

yang

dapat

dianalisa

untuk

memperkirakan permeabilitas vertikal dan horizontal seperti yang ditunjukkan


Gambar 2.116.
Hubungan antara perbedaan sifat-sifat fisik batuan dan saturasi fluida
dengan jelas ditunjukkan untuk batuan clean sandstone. Beberapa model empiric

167

telah dikembangkan untuk menghitung saturasi air, dan semua parameter yang
dibutuhkan untuk evaluasi clean reservoir. Permeabilitas vertikal dalam formasi
normalnya berbeda dari permeabilitas horizontal, bahkan ketika sistemnya
homogeny. Sebagai anisotropi vertikal mempengaruhi secara umum hasil
pengendapan lingkungan dan sejarah kompaksi setelah pengendapan dari formasi.
Seperti yang didiskusikan diawal, dalam formasi batupasir tanpa shale ukuran
butir, faktor bentuk, dan orientasi partikel merupakan faktor yang paling penting
dalam hubungan kV kH (Gambar 2.117).

Gambar 2.116.
Kurva tekanan dan derivative tekanan mengindikasikan aliran spherical
dari penentuan permeabilitas vertikal
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

168

Gambar 2.117.
Orientasi atau core plug yang digunakan untuk mengukur permeabilitas
horizontal dan vertikal
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

2.1.3.9.2. Hubungan antara KH dan KV


2.1.3.9.2.1. Formasi Clean Sandstone
Tiab et al. mengkorelasikan permeabilitas horizontal dan permeabilitas
vertikal untuk lower Devonian sandstone dari Cekungan Illizi, Algeria, seperti
yang ditunjukkan pada Gambar 2.118, dan memperoleh korelasi berikut:
.. (2-249)
Keterangan:
kV

= permeabilitas vertikal, mD

kH

= permeabilitas horizontal, mD

= porositas efektif, fraksi

Persamaan ini mengindikasikan hubungan yang kuat antara jari-jari hydraulic


rata-rata dan permeabilitas vertikal. Gambar 2.119 mengindikasikna korelasi yang

169

sangat bagus antara perhitungan harga kV, menggunakan persamaa (2-249), dan
pengukuran core kV.
Gambar 2.120 menunjukkan plot dari harga permeabilitas vertikal versus
hasil diameter rata-rata butiran dan radius rata-rata hydraulic. Kurva antara dua
parameter tersebut, yaitu sebagai berikut:
. (2-250)
Model Coated an Denoo memasukkan dalam perhitungan porositas dan saturasi
air irreducible dalam perkiraan permeabilitas horizontal. Korelasi tersebut untuk
memperkirakan permeabilitas horizontal dari porositas dan saturasi air irreducible,
yaitu:
. (2-251)
Mensubstitusi persamaan (2-251) ke dalam persamaan (2-249) menghasilkan:
.. (2-252)
Persamaan (2-252) dapat digunakan untuk mengembangkan profile permeabilitas
vertikal dalam sumur, menggunakan Swi dan dari log dalam batuan clean
sandstone.

Gambar 2.118.
Hubungan antara radius rata-rata hydraulic dan permeabilitas vertikal
dalam lower Devonian sanstone dari Cekungan Illizi, Algeria
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

170

Gambar 2.119.
Hubungan antara pengukuran permeabilitas vertikal pada sample core dan
prediksi permeabilitas vertikal dari persamaan (2-249)
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

Gambar 2.120.
Hubungan antara permeabilitas vertikal dan hasil diameter rata-rata
butiran dan radius rata-rata hydraulic dalam lower Devonina sandstone dari
Cekungan Illizi, Algeria
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

171

2.1.3.9.2.2. Formasi Shaly Sandstone


Permeabilitas dalam formasi shale heterogen dipengaruhi oleh distribusi
shale secara alami dalam batuan. Shale terdapat dalam bentuk dispersi dan
laminasi. Secara keseluruhan kualitas reservoir dalam batuan heterogen dikontrol
oleh diagenesis, dissolusi feldspar dan karbonat, crystal feeding, redistribusi
mineralogy dari clay, variasi proses sementasi. Tiab dan Zahaf menghubungkan
permeabilitas vertikal dengan radius rata-rata hydraulic. Mereka mendefinisikan
tiga bentuk umum korelasi antara permeabilitas vertikal dan permeabilitas
horizontal sebagai berikut:
a) Permeabilitas vertikal sebagai fungsi radius rata-rata hydraulic:
.. (2-253)
b) Permeabilitas vertikal sebagai fungsi clay content:
(2-254)
c) Permeabilitas vertikal sebagai fungsi ukuran butir rata-rata:
. (2-255)
Dimana A1, A2, A3, B1, dan B3 merupakan koefisien dan harus ditentukan
untuk formasi yang spesifik.
2.1.3.10. Heterogenitas Reservoir
Heterogenitas reservoir dapat terjadi pada suatu reservoir, dimana kondisi
seperti ini paling ideal dan paling banyak didapatkan di reservoir. Variasi
parameter reservoir dapat diidentifikasikan antara lain dengan cara interpretasi
log.
2.1.3.10.1. Pengertian Heterogenitas Reservoir
Heterogenitas reservoir adalah tingkat ketidakseragaman suatu reservoir
dalam hal karakteristik batuan dan fluida reservoir dari suatu tempat dengan
tempat lain dalam reservoir yang sama.

172

Heterogenitas reservoir dapat terjadi dalam skala ukuran pori ataupun


ukuran daerah regional reservoir. Perubahan tersebut dapat terjadi baik secara
alamiah maupun buatan akibat adanya invasi lumpur bor, stimulasi atau akibat
oleh adanya penginjeksian fluida dari permukaan.
2.1.3.10.2. Klasifikasi Heterogenitas Reservoir
Berdasarkan skala atau ukuran dari ketidakseragaman yang terdapat di
dalam reservoir, maka heterogenitas reservoir dapat diklasifikasikan menjadi tiga
yaitu :
2.1.3.10.2.1. Heterogenitas Reservoir Skala Mikroskopis
Heterogenitas reservoir skala mikroskopis merupakan pencerminan dari
ukuran pori pori, bentuk dan ukuran butiran material penyusun batuan serta
distribusinya. Pengendapan primer dikontrol oleh adanya besar butir, pemilahan,
kandungan material clay, derajat sementasi dan kompaksi batuannya. Pada batuan
reservoir sedimen klastik yang dangkal terlihat tekstur pengendapan primer dan
dipakai untuk mengontrol karakteristik pori pori.
Diagenesa merupakan proses perubahan dalam batuan sedimen pada
temperatur rendah setelah litifikasi. Litifikasi merupakan proses perubahan
depossisi sedimen menjadi batuan keras. Adapun faktor faktor pengontrol
heterogenitas reservoir skala mikroskopis, adalah sebagai berikut :
1. Pelarutan CaCO3
CaCO3 + H2O + CO2 Ca(HCO3 )2 + H2O
Air yang melalui celah batuan (terutama batuan karbonat), akan
melarutkan limestone dan meningkatkan porositas batuan.
2. Kristalisasi Ca(HCO3)2
Pembentukan kristal Ca(HCO3 )2 dari CO2 dan H2O pada
temperature tinggi akan mengakibatkan turunnya porositas batuan.
3. Dolomitasi
CaCO3 + MgCl2 CaMg(CO3 )2 + Cl2
Pembentukan dolomite CaMg(CO3 )2 dari CaCO3 mengakibatkan
pengkerutan (shrinkage), sehingga meningkatkan porositas batuan.

173

4. Fracturing
Bila rekahan tak disertai oleh sementasi, maka dapat menaikkan
porositas batuan.
5. Kompaksi
Kompaks dapat mengakibatkan pengkerutan mineral dan secara
langsung akan menurunkan porositas.
Heterogenitas skala mikro penting dalam menentukan distribusi saturasi
minyak sisa (residual oil saturation ) dan mempengaruhi distribusi saturasi minyak
yang terlampaui ( by passed ) atau yang tidak ikut terdesak.
2.1.3.10.2.2. Heterogenitas Reservoir Skala Makroskopis
Heterogenitas skala makroskopis ini meliputi susunan lithologi antar
beberapa sumur yang diidentifikasikan dengan adanya tekstur primer dalam
struktur sedimen yang terdapat dalam batuan reservoir.
Heterogenitas skala makroskopis dipengaruhi oleh adanya besar butir,
pemilihan dan perlapisan. Meskipun pada perlapisan (cross bedding) aliran fluida
telah dianalisa maka distribusi minyak sisa pada struktur sedimen sangat sulit
untuk diidentifikasi. Dalam hal korelasi antar sumur, sifat batuan maupun
lithologi serupa dipakai dasar korelasi antar sumur, selama masih dalam reservoir
yang sama.
Dipandang dari sudut mekanika, heterogenitas skala makroskopis
dipengaruhi gaya viscous-capillary-gravity regime dalam menentukan perilaku
dinamik aliran fluida multifasa. Heterogenitas skala makro sangat berperan dalam
menentukan recovery, sebab berpengaruh pada efisiensi penyapuan vertical.
Adapun contoh heterogenitas skala makro adalah variasi porositas dan
permeabilitas pada tubuh batupasir endapan pantai (non marine fluviatile
sandstone) dan delta (bar sand, channel sand).
2.1.3.10.2.3. Heterogenitas Reservoir Skala Megaskropis
Heterogenitas reservoir skala megaskropis merupakan heterogenitas
dengan skala terbesar dan deskripsinya melalui lithologi, stratigrafi, dan

174

lingkungan pengendapan. Heterogenitas ini merupakan akibat dari gaya gaya


geologi yang telah bekerja padanya, selama ataupun setelah proses pengendapan
berlangsung

dilingkungan

pengendapan

tertentu.

Proses

tersebut

akan

menghasilkan distribusi material pembentuk batuan reservoir, yang pada tahap


berikutnya menunjukkan sifat sifat batuan tersebut.
Mr. Robinson (1971) memberikan gambaran aliran dalam reservoir dan
faktor pengontrolnya, sebagai berikut :
1. Permeabilitas rata- rata digunakan untuk melakukan peramalan perilaku
reservoir. Dan tingkat perbedaan harga permeabilitas yang diakibatkan oleh
tingkat pengendapan yang berbeda.
2. Ketidakseragaman permeabilitas mempengaruhi aliran antar lapisan, dan
adanya daya dorong air pada saat injeksi air dilakukan.
3. Lapisan shale mempengaruhi ulah kerja reservoir, akibat sifatnya mudah
mengembang bila terkena air, maka dapat menurunkan mobilitas fluida yang
dikandung.
2.1.3.10.3. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Heterogenitas Reservoir
Faktor faktor yang mengontrol adanya heterogenitas reservoir, antara
lain sedimentasi tektonik regional, komposisi dan tekstur batuan serta geometri
pori pori.
2.1.3.10.3.1. Sedimentasi Tektonik Regional
Sedimentasi tektonik regional menyebabkan terjadinya ketidakseragaman,
karena dalam suatu reservoir dimungkinkan adanya bermacam macam
lingkungan pengendapan, misalnya laut, transisi, dan darat. ketidakseragaman ini
didukung oleh proses diagenesa yang menyertainya. Proses diagenesa tersebut
terjadi setelah pengendapan sehingga menyebabkan perubahan terhadap porositas
maupun permeabilitas.
Proses tektonik antara lain patahan, pengangkatan dan ketidakselarasan
yang menyebabkan perubahan struktur reservoir. Dengan demikian faktor
sedimentasi tektonik regional, diagenesa, dan struktur merupakan kontrol geologi
untuk mengetahui adanya ketidakseragaman secara regional (megaskropis).

175

2.1.3.10.3.2. Komposisi Dan Tekstur Batuan


Komposisi dan tekstur batuan merupakan pengontrol geologi untuk
mengontrol ketidakseragaman reservoir, terutama antara batuan penyusun
reservoir (makro), karena perubahan yang terjadi merupakan perubahan komposisi
lithologi dan mineralogi yang mempengaruhi besar ukuran butir maupun batuan
reservoir sebelumnya sehingga menimbulkan ketidakseragaman parameter
reservoir.
Demikian pula dengan tekstur batuan, karena tekstur batuan yang terdiri
dari ukuran butir, sortasi, dan kekompakkan yang berpengaruh terhadap volume
maupun ukuran pori yang akan mempengaruhi terhadap besar kecilnya
kemampuan batuan untuk mengalirkan kembali fluida yang dikandungnya. Hal
tersebut dapat dipakai sebagai pengontrol heterogenitas dalam skala makroskopis.
2.1.3.10.3.3. Geometri Pori Pori
Geometri dapat berupa ukuran rongga pori, ukuran tubuh pori, peretakan
dan kekasaran butir matrik, akan mempengaruhi terhadap besarnya porositas
maupun permeabilitas batuan reservoir, dan sekaligus parameter di atas
menunujukkan besarnya cadangan yang dapat ditampung dan diproduksikan. Oleh
karena itu, geometri pori pori dapat digunakan sebagai pengontrol heterogenitas
reservoir dalam skala mikroskopis.
2.1.3.10.4. Penyebaran Heterogenitas Reservoir
Berdasarkan arah penyebarannya, heterogenitas reservoir dapat dibedakan
menjadi :
2.1.3.10.4.1. Heterogenitas Reservoir Vertikal
Untuk mengetahui heterogenitas arah vertikal, maka perlu diperhatikan
parameter parameter penentu heterogenitas skala megaskropis, makroskopis,
dan mikroskopis. Tipe vertikal pada skala megaskropis dicirikan adanya
lingkungan

pengendapan

yang

berbeda,

diagenesa

dan

struktur

yang

mempengaruhi komposisi, mineralogi (butiran, matriks, dan semen), serta tekstur

176

seperti butir, sortasi, kekompakan dan kemas di dalam batuan akan menyebabkan
reservoir menjadi heterogen.
Ukuran butir pada channel dari atas ke bawah semakin besar dan untuk
deltaic bar terjadi sebaliknya, kemudian untuk porositasnya semakin ke atas
semakin kecil dan ukuran pori pori semakin ke atas semakin halus, sehingga
permeabilitasnya semakin ke atas semakin rendah. Sedangkan untuk saturasi
airnya semakin ke atas semakin besar, hal ini disebabkan karena kontinuitasnya
semakin ke atas semakin buruk. Untuk lingkungan pengendapan deltaic bars akan
terjadi kebalikan dari channel, baik ukuran butir, sortasi, porositas, ukuran pori,
permeabilitas dan saturasi air maupun kontinuitasnya.
Pengaruh heterogenitas vertikal disamping mempengaruhi harga porositas,
permeabilitas dan saturasi air secara mikroskopis, juga mempengaruhi bentuk
kurva tekanan kapiler (Pc) versus saturasi air (Sw).
Pada gilirannya tekanan kapiler yang dikombinasikan dengan saturasi air
tersebut akan mempengaruhi ketinggian Water Oil Contact (WOC), sehingga
perbedaannya akan mengakibatkan miringnya WOC. Pada permeabilitas tinggi
akan didapatkan zona transisi (h) yang sempit, sedangkan pada permeabilitas
rendah akan terjadi sebaliknya, seperti terlihat pada Gambar 2.121.
Demikian juga bila formasi yang ditembus sumur pemboran yang
dipengaruhi oleh adanya perlapisan. Dimana setiap lapisan mempunyai tekanan
kapiler, sehingga didapatkan kurva tekanan kapiler atau ketebalan zona transisi
versus saturasi air yang berbeda untuk setiap lapisan.
Heterogenitas vertikal ini akan mempengaruhi kurva tekanan kapiler
versus saturasi air, dan akan mempengaruhi zona transisi sehingga mempengaruhi
produksi dan komplesinya.

177

Gambar 2.121.
Kemiringan Water Oil Contac (WOC) Dikarenakan Perbedaan
Permeabilitas
(Amyx, J.W., D.M. Bass, Jr. and R.L. Whiting, 1960)

2.1.3.10.4.2. Heterogenitas Reservoir Horizontal


Heterogenitas jenis ini dapat terjadi baik dalam skala megaskropis,
makroskopis maupun mikroskopis. Dalam skala megaskropis, terlihat bahwa
reservoir terbatas luasnya, strukturnya dan akibat diagenesa mengakibatkan
heterogenitas secara horizontal dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya.
Heterogenitas tersebut dapat berupa porositas, permeabilitas, atau
kontinuitas, sehingga akan mempengaruhi perilaku reservoir yang bersangkutan.
Bila dilihat dalam skala makroskopis, baik untuk komposisi dan tekstur yang
terdiri dari lithologi, mineralogi, dan tekstur yang terdiri dari ukuran butir, sortasi,
kekompakan dan fabrik akan berpengaruh secara horizontal.
2.1.3.10.5. Penentuan Heterogenitas Reservoir
2.1.3.10.5.1. Heterogenitas Vertikal (vertical heterogenity)
Derajat

heterogenitas

properti

reservoir

adalah

suatu

jumlah

penyimpangan karakteristik batuan dari keseragaman atau konstansi yang diukur

178

pada suatu ketebalan reservoir tertentu. Suatu formasi dikatakan mempunyai


keseragaman (homogen) apabila keseragaman properties reservoir konstan
melewati suatu ketebalan reservoir (koefisien keseragamannya nol). Jika koefisien
keseragaman menunjukkan besaran tertentu diantara nol dan satu, maka reservoir
tersebut dideskripsikan sebagai reservoir yang heterogen.
Terdapat dua metode pendeskripsian heterogenitas vertikal formasi yang
sering digunakan, yaitu :
1. Dykstra-Parsons permeability variation (V)
2. Lorenz Coefficient (L)
2.1.3.10.5.1.1. Dykstra-Parsons permeability variation (V)
Dykstra-Parsons (1950) memperkenalkan konsep koefisient variasi
permeabilitas

(V)

yang

merupakan

suatu

pengukuran

secara

statistik

ketidakseragaman suatu set data. Melalui pendiskripasian koefisien variasi


permeabilitas (V) tersebut dapat ditentukan koefisien keseragaman formasi pada
interval tertentu.
Metode Dykstra-Parsons permeability variation (V), diukur dengan
menggunakan log normal. Penentuan koefisien (V) dalam metode ini,
memerlukan beberapa tahap, yaitu :
Tahap 1

: Menyusun data permeabilitas dari besar kekecil yang diperoleh dari


sample core.

Tahap 2

: Menghitung persen (%) ketebalan data permeabilitas dari sample.

Tahap 3

: Memplot nilai permeabilitas dalam skala log (y) dan persen (%)
ketebalan dalam skala probabilitas (x), menggunakan kertas grafik
log-probabilitas.

Tahap 4

: Menggambar trend line dari data yang di plot.

Tahap 5

: Membaca nilai permeabilitas pada 84.1 % dan 50 % dari ketebalan.


Dua angka ini merupakan nilai dari k84.1 dan k50.

Tahap 6

: Menghitung nilai dari Dykstra-Parsons permeability variation (V),


dengan menggunkan persaman dibawah ini.

179

...................................................................... (2-256)
Contoh :
Berikut ini merupakan data hasil analisa konvensional core yang tersedia
dari 3 well, yaitu :

Tabel II-13.
Hasil Analisa Pengukuran Core
(Ahmed Tarek., 2001, Reservoir Engineering Handbook)

Penyelesaian :
Tahap 1

: Menyusun data permeabilitas yang diperoleh dari sample core, dari


besar ke kecil, dan menghitung % perbandingan ketebalan disetiap
harga permeabilitas dengan harga ketebalan total.

180

Tabel II-14.
Susunan Data Permeabilitas
(Ahmed Tarek., 2001, Reservoir Engineering Handbook)

Tahap 2

: Plot permeabilitas versus % ketebalan dalam skala log probabilitas


yang ditunjukkan gambar 2.122 , dan baca harga :
k 50 = 68 md
k 84,5 = 29.5 md

181

Gambar 2.122.
Plot Permeabilitas Versus Ketebalan

(Ahmed Tarek, 2001, Reservoir Engineering Handbook)

Tahap 3

: Menghitung harga V, dengan menggunakan persamaan 2-256.

Harga v akan nol (0) apabila harga permeabilitas di setiap ketebalan


reservoir sama. Hal tersebut menu

njukkan sifat reservoir yang homogen. Hasil

perhitungan diatas menunjukkan bahwa reservoir bersifat heterogen.


2.1.3.10.5.1.2. Lorenz Coefficient (L)
Schmalz dan Rahme (1950) memperkenalkan suatu single parameter yang
dapat menggambarkan derajat heterogenitas reservoir di dalam suatu bagian pay
zone. Parameter tersebut dinamakan sebagai Lorenz Coefficient (L), dan harganya

182

berkisar antara nol (0) sampai dengan 1. Jika berharga nol (0), maka reservoir
tersebut di definisikan sebagai reservoir yang homogen, sedangkan jika L nya
berharga 1, maka reservoir tersebut seluruhnya heterogen.
Metode perhitungan Lorenz Coefficient (L) dibagi menjadi beberapa
tahapan, yaitu :
Tahap 1

: Menyusun data permeabilitas dari besar kekecil yang diperoleh dari


sample core.

Tahap 2

: Menghitung kumulatif kapasitas permebilitas kh dan kumulatif


kapasitas volume h.

Tahap 3

: Menormalisasi kedua kumulatif kapasitas (0 1).

Tahap 4

: Plot kumulatif kapasitas permeabilitas yang sudah dinormalisasi


versus kumulatif kapasitas volume yang telah dinormalisasi pada
suatu grafik kartesian.

Lihat gambar 2.123, menunjukkan suatu distribusi kapasitas aliran. Suatu


reservoir yang homogen yang memiliki permeabilitas yang sama diseluruh bagian
reservoir akan memberikan plot garis lurus (straight line). Semakin menyimpang
plot yang dihasilkan dari garis lurus (lengkungan dipojok atas), maka akan
semakin tinggi tingkat heterogenitas reservoir. Plot tersebut dapat digunakan
untuk menggambarkan heterogenitas reservoir secara kuantitatif melalui
penghitungan Lorenz Coefficient (L). Persamaan Lorenz Coefficient (L), sebagi
berikut :
... (2 -257)

Keterangan :
0 = completely homogeneous
1 = completely heterogeneous

183

Gambar 2.123.
Plot Metode Lorenz

(Ahmed Tarek, 2001, Reservoir Engineering Handbook)

Waren dan Price (1960) menggambarkan log-normal hubungan antara


variasi permeabilitas (V) dengan Lorenz Coefficient (L) (lihat Gambar 2.124).
Hubungan tersebut juga dapat di gambarkan melalui persamaan matematika
sebagai berikut.
(2-258)
(2-259)

184

Gambar 2.124.
Variasi Permeabilitas dengan Lorenz Coefficient
(Ahmed Tarek, 2001, Reservoir Engineering Handbook)

Contoh :
Melalui data tabel pada contoh, maka hitunglah Lorenz Coefficient (L) dengan
asumsi harga porositasnya sama.
Penyelesaian :
Tahap 1

: Tabulasi data permeabilitas dari besar ke kecil yang diperoleh dari


sample core, hitung kumulatif kapasitas permebilitas kh dan
kumulatif kapasitas volume h yang telah dinormalisasi. Lihat pada
tabel berikut :

185

Tabel II-15.
Hasil Perhitungan kh dan h
(Ahmed Tarek., 2001, Reservoir Engineering Handbook)

Tahap 2

: Plot kumulatif kapasitas permebilitas kh dan kumulatif kapasitas


volume h yang telah dinormalisasi ke dalam skala kartesian (lihat
gambar 2.125).

Tahap 3

: Menghitung harga Lorenz Coefficient (L), melalui perbandingan luas


diatas garis lurus (A) dengan luas dibawah garis lurus (B).
Menghasilkan Lorenz Coefficient (L) sebesar 0.42

186

Gambar 2.125.
Lorenz Chart

(Ahmed Tarek, 2001, Reservoir Engineering Handbook)

Plot kh versus h tanpa dinormalisasi biasanya dilakukan untuk


memperhitungkan permeabilitas rata rata untuk suatu layer reservoir. Jika
interval ketebalan telah ditetapkan untuk suatu layer reservoir, maka dapat
dihitung permeabilitas rata rata dari masing masing layer reservoir.
Perhitungan tersebut dilakukan dengan membandingkan penambahan kh dengan
penambahan ketebalan h. Lihat gambar 2.126 berikut.

Gambar 2.126.
Penentuan Harga Permeabilitas Rata rata Sebagai Fungsi dari Ketebalan
(Ahmed Tarek, 2001, Reservoir Engineering Handbook)

187

2.1.3.10.5.2. Heterogenitas Areal


Tingkat heterogenitas secara lateral sangat dipengaruhi oleh lingkungan
pengendapan batuan reservoir. Seperti bar pada delta, semakin mendekati laut,
maka permeabilitas dan porositasnya semakin besar.
Penentuan harga porositas dan permeabilitas reservoir secara lateral sulit
untuk didapatkan melalui pengukuran langsung di lapangan. Hal tersebut
disebabkan karena setiap lubang bor yang merupakan tempat pengkuran sifat fisik
batuan reservoir tidak tersebar dikedalaman setiap feet reservoir. Teknik
penentuan distribusi properties reservoir (porositas dan permeabilitas) secara
geostatistik telah dikembangkan. Salah satu metode geostatistik yang terbaik
dalam penentuan distribusi properties reservoir adalah metode interpolasi dan
ekstrapolasi. Interpolasi dan ekstrapolasi diantara data yang diketahui dilakukan
untuk mengetahui harga data disekitarnya.
Terdapat beberapa metode iterpolasi dan ekstrapolasi konvensional yang
bisa di terapkan untuk menentukan nilai pada posisi lokasi yang berbeda.
Sebagian besar metode ini menggunakan persamaan berikut ini:

................................................................ (2-260)
Dengan

.................................................................................. (2-261)

Keterangan :
Z* (x)

: perkiraan nilai dari variabel pada lokasi x

Z (xi)

: nilai yang telah diukur disuatu daerah variable pada posisi xi

: weight factor

: jumlah dari data disekitar

Tiga metode sederhana interpolasi dan atau ekstrapolasi yang sering


digunakan dalam menentukan harga disekitar data yang diketahui, meliputi :

188

1. Metode Polygon (The Polygon Method)


Teknik ini pada dasarnya, dalam penentukan harga suatu titik yang belum
diketahui harganya, tergantung pada nilai yang telah diukur didekatnya. Ini
berarti semua weighting factor (i) di set nol kecuali weighting factor (i) yang
dekat dengan titik data (diset 1). Persamaan weighting factor (i) dapat dilihat
sebagai berikut.
Sehingga hal tersebut menyebabkan harga yang diperoleh akan sama
dengan data yang terdapat didekat titiknya.
2. Metode Inverse Distance (The Inverse Distance Method)
Interpolasi dengan menggunakan metode inverse distance dipengaruhi
dari suatu relatif titik data pada penurunan lain dengan jarak dari lokasi yang
dimaksud.
Metode inverse distance ditandai dengan suatu weighting factor (i)
untuk mengukur tiap variable yang telah diketahui melalui inverse distance
antara nilai yang telah diukur dengan titik yang diperkirakan, atau

........................................................................ (2-262)

Keterangan :
di = jarak antara nilai yang telah diukur dengan lokasi yang diselidiki
n = nilai data dari titik yang paling dekat
3. Metode Inverse Distance Squared (The Inverse Distance Square Method)
Metode inverse distance square ditandai dengan suatu weighting factor
(i) untuk mengukur tiap variable yang telah diketahui melalui inverse distance
square antara nilai yang telah diukur dengan titik yang diperkirakan, yaitu :

.................................................................. (2-263)

Saat metode ini memperhitungkan untuk semua properties disekitar well,


ini akan memberikan suatu nilai yang lebih tepat di sekitar well dari pada
metode lainnya.

189

2.1.3.11. Distribusi Permeabilitas dan Porositas


2.1.3.11.1. Koefisien Lorenz (LK)
Percobaan pertama untuk menganalisa statistic fluktuasi sifat-sifat batuan
dilakukan oleh Law. Dia mendemostrasikan bahwa porositas memiliki frekuensi
distribusi yang normal dan bahwa permeabilitas memiliki distribusi frekuensi lognormal. Menggunakan Gambar 2.127, Schmalz dan Rahme merumuskan koefisien
Lorenz, LK, untuk mengkarakterisasi distribusi permeabilitas:
(2-264)
Harga LK berkisar dari nol sampai satu. Reservoir dipertimbangkan mempunyai
keseragaman distribusi permeabilitas jika LK 1. Koefisien ini, sedangkan,
merupakan tidak unik untuk reservoir yang utama karena perbedaan permeabilitas
dapat menghasilkan harga LK yang sama.

Gambar 2.127.
Distribusi flow capacity

(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

190

2.1.3.11.2. Koefisien Dykstra Parsons (VK)


Dykstra dan Parsons menggunakan distribusi log-normal permeabilitas
untuk mendefinisikan koefisien variasi permeabilitas, VK.
. (2-265)
Dimana s dan adalah standart deviasi dan harga rata-rata k. Standart deviasi
untuk kelompok n data point adalah:
.. (2-266)
Dimana adalah permeabilitas rata-rata aritmetik, n merupakan jumlah data point,
dan ki permeabilitas dari sampel core individu. Dalam suatu distribusi yang
normal, harga k yaitu 84.1% permeabilitas kurang dari + s dan 15.9% dari harga
k kurang dari - s.
Koefisien variasi permeabilitas Dykstra Parsons, VK, dapat diperoleh
secara grafik dengan memplot harga permeabilitas pada kertas log, seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.128, dan kemudian menggunakan persamaan berikut:
(2-267)
Keterangan:
K50

= harga permeabilitas dengan kemungkinan 50%

K84.1

= permeabilitas pada 84.1% dari kumulatif sampel.

Koefisien Dykstra Parsons adalah cara yang sangat baik untuk


mengkarakterisasi derajat heterogenitas reservoir. Pengertian VK juga disebut
sebagai Reservoir Heterogenity Index.
Kisaran dari index ini yaitu 0 < VK < 1:
VK = 0, Reservoir homogen ideal
0 < VK < 0.25, Slightly heterogen, dapat diperkirakan dengan model
homogeny dalam simulasi reservoir dengan error minimal

191

0.25 < VK < 0.50, reservoir heterogen, teknik perata-rataan geometric dapat
dilakukan. Jika index mendekati 0.50 run numerical simulator dengan
model heterogen
0.5 < VK < 0.75, reservoir sangat heterogen, dibutuhkan suatu kombinasi
teknik perata-rataan geometric dan harmonic
0.75 < VK < 1, reservoir extremely heterogen, tidak ada teknik peratarataan konvensional (aritmetik, geometric, dan harmonic) dapat dilakukan
dalam kisaran ini
VK = 1, reservoir heterogen dengan sempurna (perfectly heterogeneous
reservoir).

Gambar 2.128.
Log-normal permeability distribution
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

2.1.3.11.3. Teknik Perata-rataan


Tiga metode permeabilitas rata-rata yang digunakan dalam pendekatan di
Average Absolute Permeability dalam system homogeny, diantaranya adalah
Weight average permeability, Harmonic average permeability dan Geometric
average permeability.

192

2.1.3.11.3.1. Weight Average Permeability


Metode ini digunakan untuk merata-ratakan permeabilitas dalam system
lapisan parallel yang mempunyai permeabilitas yang berbeda-beda seperti terlihat
pada Gambar 2.129, aliran tiap lapisan dapat dihitung menggunakan persamaan
Darcy dengan didasarkan pada persamaan linier.

Gambar 2.129.
Aliran untuk lapisan parallel
(Tarek Ahmed, Third Edition, 2006)

Lapisan 1
... (2-268)
Lapisan 2
.. (2-269)
Lapisan 3
.. (2-270)

193

Total aliran untuk setiap system adalah:


. (2-271)
Keterangan:
qt

= total laju alir

Kavg

= permeabilitas rata-rata untuk setiap model

= ketebalan formasi

= P 1 P2

ht

= total ketebalan

Total laju alir qt adalah sama dengan jumlah laju alir untuk masing
masing lapisan:
qt = q1 + q2 + q3 ... (2-272)
Kombinasi persamaan tersebut:
(2-273)
Atau
.. (2-274)
... (2-275)
Permeabilitas absolut rata-rata untuk system lapisan parallel dapat dinyatakan
dalam persamaan:
.. (2-276)

Persamaan (2-276) diatas digunakan untuk mendefinisikan permeabilitas


rata-rata dari data analisa core. Gambar 2.130 memperlihatkan system lapisan
dengan variable ketebalan lapisan, asumsi yang digunakan tidak ada cross flow
antara lapisan, permeabilitas rata-rata dapat dinyatakan dengan persamaan:

194

. (2-277)

Keterangan:
Aj

= hjwj

Aj

= cross sectional area lapisan j

Wj

= ketebalan setiap lapisan j

Gambar 2.130.
Aliran setiap lapisan dengan variable area
(Tarek Ahmed, Third Edition, 2006)

195

2.1.3.11.3.2. Harmonic Average Permeability


Variasi permeabilitas dapat terjadi secara lateral dalam reservoir, dimana
dapt diilustrasikan dalam Gambar 2.131. Aliran fluida merupakan kombinasi dari
lapisan lapisan dengan permeabilitas yang berbeda. Untuk aliran steady state,
dimana aliran konstan dan total penurunan tekanan.
... (2-278)
Persamaan yang digunakan dalam metode ini yaitu:
. (2-279)
... (2-280)

.. (2-281)

Keterangan:
Li

= panjang masing masing lapisan

Ki

= permeabilitas absolut masing masing lapisan

Untuk system radial (Gambar 2.132) maka besarnya permeabilitas dapat


ditentukan menggunakan persamaan:
. (2-282)

196

Gambar 2.131.
Aliran untuk lapisan seri
(Tarek Ahmed, Third Edition, 2006)

Gambar 2.132.
Aliran untuk system radial
(Tarek Ahmed, Third Edition, 2006)

197

2.1.3.11.3.3. Geomteric Average Permeability


Metode ini digunakan untuk kondisi heterogen, dimana system
mempunyai permeabilitas sama dengan geometric average, didefinisikan:
(2-283)

Keterangan:
ki

= permeabilitas sampel batuan i

hi

= ketebalan sampel batuan i

= total jumlah sampel

Jika ketebalan (hi) untuk semua contoh batuan adalah sama, maka:
.. (2-284)

2.1.4. Pengaruh Stress terhadap Sifat Fisik Batuan Reservoir


2.1.4.1. Pengaruh Stress terhadap Data Core
2.1.4.1.1. Pengaruh Stress terhadap Porositas
Data hasil percobaan yang dilakukan oleh Dobrynin terhadap sejumlah
besar sampel batupasir (Gambar 2.133) memperlihatkan bahwa antara tekanan
minimum tertentu Pm dan suatu tekanan maksimum tertentu PM, hubungan antara
kompressibilitas pori dan tekanan pori logaritma dapat diperkirakan dengan garis
lurus, yang dapat dinyatakan dalam bentuk matematik sebagai berikut:
... (2-285)
Kompressibiliti pori maksimum cpM dapat ditentukan dengan mengekstrapolasi
kurva eksperimen sampai tekanan nol menggunakan koordinat Cartesian. Tekanan
minimum pm ditentukan dengan mengasumsikan bahwa tidak terdapat perubahan
dalam kompressibilitas pori dengan kisaran yang kecil tekanan dari 0 sampai pm.
Sebenarnya, pm, berarti bahwa data pertama dimana kurva cp memulai sampai

198

decline dengan meningkatkan tekanan net overburden seperti yang ditunjukkan


pada Gambar 2.133. Harga pM diperoleh dari mengekstrapolasi grais lurus sampai
cp = 0. Untuk tujuan tertentu, pM merupakan tekanan diatas yang mengubah
kompressibilitas pori yang dapat diabaikan. Dobrynin menemukan bahwa pm
adalah antara 150 dan 300 psi, dan pM adalah antara 25,000 dan 30,000 psi.

Gambar 2.133.
Kompressibilitas pori sebagai fungsi net overburden pressure
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

Kombinasi hubungan antara cb, cr, dan cp:


Cb = cp + (1 ) cr ... (2-286)
Perubahan relatif porositas terhadap tekanan overburden dapat dinyatakan
sebagai berikut:
.. (2-287)
Dimana Vp/ Vp dan Vb/ Vb merupakan perubahan relative volume pori dan
volume bulk. Kompressibilitas matriks batuan diasumsikan untuk tidak tergantung
tekanan dalam kisaran 0 sampai 20,000 psi, yaitu 0 < p < pm, perubahan relative
volume bulk secara esensial linear dengan perubahan relative volume pori:

199

. (2-288)
Mengkombinasikan persamaan (2-287) dan (2-288) menghasilkan:
(2-289)
Dengan kisaran tekanan 0 < p < pm, perubahan relative volume pori dapat
ditentukan:
... (2-290)
Mensubstitusi cp dari persamaan (2-285), diperoleh:
.... (2-291)
Yang dapat ditulis, setelah integral, sebagai berikut:
.... (2-292)
Dimana Dobrynin fungsi tekanan D(pp) adalah:
... (2-293)
Mensubstitusi persamaan (2-292) ke dalam persamaan (2-289) menghasilkan:
(2-294)
Gambar 2.134 memperlihatkan data experimental yang mengilustrasikan
pengaruh net overburden pressure terhadap rasio / untuk lima nilai yang
berbeda dari cpM, dan nilai porositas 5%, 10%, dan 20%. Ini membuktikan bahwa
data experimental sesuai dengan kurva yang dihitung menggunakan persamaan (2294). Nilai rata-rata pm dan pM yaitu 200 dan 25,000 psi.

200

Gambar 2.134.
Pengaruh net overburden pressure terhadap perubahan porositas untuk lima
masing-masing kompressibilitas pori
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

2.1.4.1.2. Pengaruh Stress terhadap Permeabilitas


Mengasumsikan bahwa perubahan permeabilitas karena perubahan
tekanan pori tergantung terutama dari kontraksi channel pori, Dobrynin
menurunkan persamaan semi-empirical berikut:
... (2-295)
Dimana fps merupakan faktor bentuk pori. Gambar 2.135 memperlihatkan
perbandingan data eksperimental dengan kurva yang dihitung menggunakan
bentuk praktis lain dari persamaan (2-295):
. (2-296)
Dimana kp adalah permeabilitas actual terhadap tekanan, yaitu k - k, dan k
adalah permeabilitas terhadap nol tekanan. Hubungan perkiraan berikut antara
koefisien bentuk pori fps dan kompressibilitas pori maksimum cpM untuk batupasir
dengan pemilahan buruk yang diperoleh dari data eksperimental:
(2-297)

201

Untuk distribusi ukuran pori yang seragam atau untuk kompressibilitas pori yang
sangat tinggi, fps = 0.33. Ini dapat dilihat dengan jelas bahwa permeabilitas
formasi menurun dengan meningkatnya nilai stress. Fakta ini seharusnya
dimasukkan kedalam perhitungan ketika mengintepretasi hasil test tekanan
transien, drawdown, atau build up. Sebagai contoh, stress pada pengaruh yang
maksimum disekitar sumur, karena deplesi fluida reservoir dan mempengaruhi
penurunan tekanan dengan cepat dan menurunkan permeabilitas dalam zona yang
sama, dapat menghitung untuk efek skin, yang tidak sesuai disebabkan oleh invasi
mud filtrate. Gambar 2.136 memperlihatkan bahwa penurunan permeabilitas
dengan cepat pada stress yang rendah dan stabilisasi dengan meningkatnya
overburden stress.

Gambar 2.135.
Perbandingan data eksperimental dan perhitungan menunjukkan perubahan
permeabilitas batupasir sebagai fungsi net overburden pressure
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

202

Gambar 2.136.
Kurva data permeabilitas vs net stress
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

2.1.4.1.3. Pengaruh Stress terhadap Resistivitas


Untuk menginvestigasi hubungan antara resistivitas dan tekanan, Dobrynin
menggunakan persamaan Archie berkaitan dengan faktor formasi F dan porositas
(asumsi a = 1):
. (2-298)
Dimana m adalah eksponen sementasi. Mengasumsikan (a) merubah resistivitas
batuan berpori, ketika dikenai stress, terutama tergantung dari penyusutan channel
pori yang terkecil, yang terutama diisi dengan air irreducible, dan (b) material
baik yang terdapat dalam pori pori atau channel yang kecil, persamaan (2-298)
menjadi:

203

. (2-299)
Membagi persamaan (2-299) dengan persamaan (2-298) dan mengasumsikan
bahwa m dan sangat kecil seperti bahwa ( - )m = m
... (2-300)
Jika eksponen sementasi diperkirakan 2, seperti dalam batupasir low-porosity dan
limestone, yang cenderung untuk mempunyai sementasi yang tinggi, lalu (/)2
= 0 dan persamaan (2-300) menjadi:
.. (2-301)
Mensubstitusi persamaan (2-294) ke dalam persamaan (2-301) menghasilkan:
... (2-302)
Gambar 2.137 mengilustrasikan pengaruh net overburden pressure terhadap m.
Gambar ini membuktikan bahwa kurva dengan karakter yang sama, akibatnya, ini
memungkinkan untuk membedakannya dengan perubahan maksimum m.
Mengasumsikan (1) perubahan maksimum ini, mM, tergantung dari total flow
channel, dan (2) persentasi clay content control dari flow channel. Dobrynin
membuat secara eksperimen, dua grafik pada Gambar 2.138. Grafik tersebut
memperlihatkan tipe FRP/ FR sebagai fungsi net overburden pressure, porositas,
relative clay content.
Kesimpulannya, perubahan sifat-sifat fisik dari batupasir terhadap tekanan
overburden ditentukan oleh kompressibilitas pori, yang dapat dicirikan dengan
cpM, dan net overburden pressure (pp) dalam kisaran 0 sampai 20,000 psi.

204

Gambar 2.137.
Pengaruh net overburden pressure terhadap eksponen m
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

Gambar 2.138.
Faktor Formasi Relative sebagai fungsi net overburden pressure, porositas,
dan relative clay content
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

205

2.1.4.2. Hubungan antara Porositas Permeabilitas Stress


Menggunakan uji core laboratorium terhadap sampel batupasir, batubara,
clay, dan granite, McKee et al. menemukan bahwa kurva teoritical untuk
permeabilitas dan porositas sebagai fungsi stress, seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 2.139, 2.140, dan 2.141. Gambar 2.141 memperlihatkan plot data
pengukuran laboratorium void ratio versus efektif stress untuk sampel pasir dan
clay dari sebuah Lapangan Minyak di Venezuela. Ini dapat dilihat dari gambar
tersebut bahwa kurva teoritis sesuai dengan data eksperimental sumur dengan
tingkat akurasi yang baik.

Gambar 2.139.
Pengukuran laboratorium Permeabilitas vs efektif stress dan teoritical match
menggunakan variable kompressibilitas untuk sampel batubara dari
kedalaman 2,767 ft
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

206

Gambar 2.140.
Pengukuran laboratorium Permeabilitas vs efektif stress dan teoritical match
menggunakan variable kompressibilitas untuk sampel batupasir
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

Gambar 2.141.
Pengukuran laboratorium void ratio vs efektif stress untuk sampel core pasir
dan clay
(Tiab D. and Donaldson Erle. C, 2004, Petrophysics)

207

2.2. Fluida Reservoir


Fluida reservoir merupakan komponen reservoir yang mengisi pori-pori
batuan berupa air, minyak, dan gas yang memiliki sifat dan komposisi tertentu.
Fluida yang terdapat dalam reservoir pada tekanan dan temperatur tertentu, secara
alamiah merupakan campuran yang kompleks dalam komposisi kimianya. Sifatsifat dari fluida hidrokarbon perlu dipelajari untuk memperkirakan cadangan
akumulasi hidrokarbon, menentukan laju aliran minyak atau gas dari reservoir
menuju dasar sumur, mengontrol gerakan fluida dalam reservoir dan lain-lain.
2.2.1. Komposisi Kimia Fluida Reservoir
Fluida reservoir terdiri atas hidrokarbon dan air formasi. Hidrokarbon
terbentuk di alam, dapat berupa gas, zat cair atau zat padat. Sedangkan air formasi
merupakan air yang dijumpai bersama-sama dengan minyak. Sedangkan
hidrokarbon sendiri, selain mengandung hidrogen (H) dan karbon (C) juga
mengandung unsur-unsur senyawa lain, terutama belerang, nitrogen dan oksigen.
Hidrokarbon merupakan senyawa alamiah, dapat berupa gas, cair atau
padatan tergantung dari komposisinya serta tekanan dan temperatur yang
mempengaruhinya. Hidrokarbon yang berbentuk cair dikenal sebagai minyak
bumi, sedangkan yang berbentuk gas dikenal sebagai gas bumi.
Hidrokarbon adalah senyawa yang terdiri atas atom karbon dan hidrogen.
Senyawa karbon dan hidrogen mempunyai banyak variasi, yang berdasarkan jenis
rantai ikatannya dibagi menjadi dua golongan, yaitu:
2.2.1.1. Golongan Parafin (Asiklik)
Hidrokarbon jenis ini mempunyai rantai ikatan antar atom yang terbuka,
terdiri atas hidrokarbon jenuh dan hidrokarbon tak jenuh. Golongan asiklis atau
alifat disebut juga alkan atau parafin. Golongan asilklis dapat dibagi menjadi dua
golongan, yaitu golongan hidrokarbon jenuh dan tak jenuh.
2.2.1.1.1. Hidrokarbon Jenuh
Seri homolog dari hidrokarbon ini mempunyai rumus umum CnH2n+2 dan
mempunyai ciri dimana atom-atom karbon diatur menurut rantai terbuka dan
masing-masing atom dihubungkan oleh ikatan tunggal, dimana tiap-tiap valensi
dari satu atom C berhubungan dengan atom C disebelahnya. Seri homolog

208

hidrokarbon ini biasanya dikenal dengan nama alkana (Inggris: alkene) dimana
penamaan anggota seri homolog ini disesuaikan dengan jumlah atom karbon
dalam sebutan Yunani dan diakhiri dengan akhiran ana (Inggris : ane).
Contoh dari senyawa hidrokarbon golongan alkana dapat dilihat pada Gambar
2.142.

Gambar 2.142.
Contoh Seri Homolog Alkana

(Clark, J.C.,Elements of Petroleum Reservoirs, 1969)

Senyawa hidrokarbon sering dijumpai molekul yang berlainan susunannya,


tetapi rumus kimianya sama, atau dengan kata lain senyawa hidrokarbon dapat
mempunyai rumus molekul sama tetapi rumus bangun berbeda. Keadaan
semacam ini disebut sebagai isomeri, sedangkan masing-masing senyawa
hidrokarbon yang mempunyai sifat tersebut dikenal dengan isomer. Seri n-alkana
yang diberikan pada Tabel II-16 memperlihatkan gradasi sifat-sifat fisik yang
tidak begitu tajam.

209

Tabel II-16.
Sifatsifat Fisik n-Alkana

(McCain, Jr., W.D., The Properties of Petroleum Fluids,1973)

Pada tekanan dan temperatur normal (60 oF, 14.7 psia) empat alkana yang
pertama (C1 sampai C4) berbentuk gas. Sebagai hasil meningkatnya titik didih
(boiling point) karena penambahan jumlah atom karbon maka mulai pentana
(C5H12) sampai hepta dekana (C17H36) merupakan cairan. Sedangkan alkana yang
mengandung 18 atom karbon atau lebih merupakan padatan (solid). Alkana
dengan rantai bercabang memperlihatkan gradasi sifat-sifat fisik yang berlainan
dengan n-alkana, dimana untuk rantai bercabang memperlihatkan sifat-sifat fisik
yang kurang beraturan. Perubahan dalam struktur menyebabkan perubahan
didalam gaya antar molekul (inter molekuler force) yang menghasilkan perbedaan
pada titik lebur dan titik didih diantara isomer-isomer alkana.

2.2.1.1.2. Hidrokarbon Tak Jenuh


Hidrokarbon ada yang mempunyai ikatan rangkap dua ataupun rangkap
tiga (triple), yang digunakan untuk mengikat dua atom C yang berdekatan. Oleh
karena itu, valensi yang semula tersedia untuk mengikat atom hidrokarbon telah
digunakan untuk mengikat atom C yang berdekatan.
Hidrokarbon yang mempunyai ikatan rangkap dua atau rangkap tiga yang
mengikat dua atom C, maka hidrokarbon seperti ini disebut hidrokarbon tak jenuh
atau disebut juga sebagai keluarga alkena (Inggris: alkene) dengan rumus umum
CnH2n. Hidrokarbon tak jenuh dapat menjadi jenuh dengan penambahan atomatom hidrokarbon pada rantai ikatan tersebut.

210

Secara kimiawi, karena alkena merupakan ikatan rangkap, maka alkena


lebih reaktif bila dibandingkan dengan alkana. Selain ikatan ganda, senyawa
hidrokarbon tak jenuh ada juga yang mempunyai ikatan rangkap tiga (triple bond)
yang dikenal sebagai deretan asetilen. Rumus umum deretan asetilen adalah
CnH2n-2, dimana dalam tiap molekul terdapat ikatan rangkap tiga yang mengikat
dua atom karbon yang berdekatan. Pemberian nama untuk deret ini sama dengan
untuk deret alkena dengan memberi akhiran una (Inggris : une).
Secara garis besar, sifat-sifat fisik alkena sama seperti sifat-sifat fisik
alkana, sifat-sifat fisik alkena dapat dilihat pada Tabel II-7. Sebagaimana pada
alkana, maka untuk alkena terjadi juga peningkatan titik didih dengan
bertambahnya kandungan atom karbon, dimana peningkatannya mendekati 20-30
o

C untuk setiap penambahan atom karbon.

Tabel II-17.
Sifat-sifat Fisik Alkena

(McCain, Jr., W.D., The Properties of Petroleum Fluids,1973)

2.2.1.1.3. Golongan Siklik


Hidrokarbon golongan siklis mempunyai rantai tertutup (susunan cincin).
Golongan ini terdiri atas naftena dan aromatik. Keluarga hidrokarbon dikenal
sebagai seri homolog, anggota dari seri homolog ini mempunyai struktur kimia
dan sifat-sifat fisiknya dapat diketahui dari hubungan dengan anggota deret lain
yang sifat fisiknya sudah diketahui. Sedangkan pembagian tingkat dari seri

211

homolog tersebut didasarkan pada jumlah atom karbon pada struktur kimianya.
Golongan siklis dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan naftena dan
golongan aromatik.
2.2.1.1.3.1.Golongan Naftena
Golongan naftena sering disebut golongan sikloparafin atau golongan
sikloalkana, yang mempunyai rumus umum CnH2n. Golongan ini dicirikan oleh
adanya atom C yang diatur menurut rantai tertutup (berbentuk cincin) dan masingmasing atom dihubungkan dengan ikatan tunggal. Contoh dari senyawa
hodrokarbon golongan naftena dapat dilihat pada Gambar 2.143.

Gambar 2.143.
Contoh Seri Homolog Naftena
(Amyx,James W., Petroleum Reservoir Engineering-Physical Properties, 1960)

Naftena mempunyai sifat yang mirip dengan parafin, sebagaimana terlihat pada
Tabel II-18.

212

Tabel II-18.
Sifat-Sifat Fisik Hidrokarbon Naftena

(McCain, Jr., W.D., The Properties of Petroleum Fluids, 1973)

2.2.1.1.3.2.Golongan Aromatik
Deret ini hanya terdiri atas benzena dan senyawa-senyawa hidrokarbon
lainnya yang mengandung benzena. Rumus umum dari golongan ini adalah CnH2n6,

dimana cincin benzena merupakan bentuk segi enam dengan tiga ikatan tunggal

dan tiga ikatan rangkap dua secara berselang-seling, sebagai berikut :

Gambar 2.144.
n-Benzena

(Amyx, J.ames W., Petroleum Reservoir EngineeringPhysical Properties, 1960)

213

Adanya tiga ikatan rangkap pada cincin benzena seolah-olah memberi


petunjuk bahwa golongan ini sangat reaktif. Tetapi pada kenyataannya tidaklah
demikian, golongan ini tidak sestabil golongan parafin. Jadi deretan benzena tidak
menunjukkan sifat reaktif yang tinggi seperti olefin. Secara sederhana dapat
dikatakan bahwa sifat benzena ini pertengahan antara golongan parafin dan olefin.
Ikatan-ikatan dari deret hidrokarbon aromatik terdapat dalam minyak mentah yang
merupakan sumber utamanya.
Pada suatu suhu dan tekanan standar, hidrokarbon aromatik ini dapat
berada dalam bentuk cairan atau padatan. Benzena merupakan zat cair yang tidak
berwarna dan mendidih pada temperatur 176 oF. Nama hidrokarbon aromatik
diberikan karena anggota deret ini banyak yang memberikan bau harum.

2.2.1.2. Komposisi Kimia Air Formasi


Air formasi atau disebut connate water mempunyai komposisi kimia
yang berbeda-beda antara reservoir yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena
itu analisa kimia pada air formasi perlu sekali dilakukan untuk menentukan jenis
dan sifat-sifatnya. Air formasi rata-rata memiliki kadar garam lebih tinggi
daripada air laut, sehingga studi mengenai ion-ion air formasi dan sifat-sifat
fisiknya ini menjadi penting artinya karena kedua hal tersebut sangat berhubungan
dengan terjadinya penyumbatan pada formasi dan korosi pada peralatan di bawah
dan di atas permukaan. Komposisi ion-ion penyusun air formasi terdiri dari
kation-kation Ca, Mg, Fe, Ba, dan anion-anion chlorida, CO3, HCO3, dan SO4.
Tabel II-19 memperlihatkan contoh hasil analisa air formasi suatu reservoir.
Air formasi tersebut terdiri dari bahan-bahan mineral, misalnya kombinasi
metal-metal alkali dan alkali tanah, belerang, oksida besi, dan aluminium serta
bahan-bahan organis seperti asam nafta dan asam gemuk.

214

Tabel II-19.
Komposisi Kimia Air Formasi

(Burcik, EJ., Properties of Petroleum Reservoir Fluids, 1979)

2.2.2. Sifat Fisik Fluida Reservoir


Fluida reservoir terdiri atas fluida hidrokarbon dan air formasi.
Hidrokarbon sendiri terdiri atas fasa cair (minyak bumi) maupun fasa gas, yang
tergantung dari kondisi (tekanan dan temperatur) reservoir yang ditempati.
Perubahan kondisi reservoir akan mengakibatkan perubahan fasa serta sifat fisik
fluida reservoir.
2.2.2.1. Sifat Fisik Minyak
Pengetahuan tentang sifat fisik minyak sangat penting untuk mengetahui
karakteristik reservoirnya. Minyak bumi dijumpai dalam bentuk cair, sehingga
sesuai dengan sifat cairan pada umumnya, pada fasa cair jarak antara molekulmolekulnya relatif lebih kecil daripada gas. Sifat-sifat minyak bumi yang akan
dibahas adalah densitas, viskositas, faktor volume formasi, kelarutan gas dalam
minyak, dan kompressibilitas.
2.2.2.1.1. Densitas Minyak
Densitas minyak (o) didefinisikan sebagai perbandingan berat minyak (lb)
terhadap volume minyak (cuft). Densitas minyak biasanya dinyatakan dalam
specific gravity minyak (o), yang didefinisikan sebagai perbandingan densitas
minyak terhadap densitas air. Penulisannya secara matematis adalah sebagai
berikut :

215

o
......................................................................................... (2-303)
w

keterangan :
o

= specific gravity minyak

= densitas minyak, lb/cuft

= densitas air, lb/cuft

Industri perminyakan seringkali menyatakan specific gravity minyak dalam satuan


o

API, yang dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :


o

API =

141,5
131,5 ..................................................................... (2-304)
o

Minyak bumi biasanya mempunyai 0API sekitar 47 untuk minyak ringan dan
mempunyai 0API 10 untuk minyak berat.

2.2.2.1.2. Faktor Volume Formasi Minyak


Faktor volume formasi minyak (Bo) didefinisikan sebagai banyaknya
minyak termasuk gas yang terlarut dalam barrel pada kondisi reservoir untuk
mendapat satu stock tank barrel (STB) minyak pada kondisi standar (60 oF dan
14,7 psia) di permukaan. Harga Bo dipengaruhi oleh tekanan, temperatur, jumlah
gas yang terlarut, specific gravity gas, oAPI minyak, dan temperatur.
Hubungan antara faktor volume formasi minyak dengan tekanan
ditunjukkan pada Gambar 2.145. Gambar tersebut menerangkan bahwa pada
kondisi tekanan reservoir berada diatas tekanan gelembung (Pb), harga Bo mulamula naik seiring dengan turunnya tekanan sampai mencapai Pb, sehingga volume
sistem cairan menjadi bertambah sebagai akibat terjadinya pengembangan
minyak. Harga Bo turun seiring dengan turunnya tekanan setelah Pb tercapai.
Penurunan harga Bo ini disebabkan semakin banyaknya gas yang terbebaskan dari
larutannya selama terjadi penurunan tekanan dibawah Pb.

216

Gambar 2.145.
Hubungan Faktor Volume Formasi Minyak Terhadap Tekanan
(Ahmed, Tarek H., Reservoir Engineering Handbook, 2001)

2.2.2.1.3. Kelarutan Gas dalam Minyak


Kelarutan gas dalam minyak didefinisikan sebagai banyaknya gas dalam
satuan standart cubic feet (SCF) yang berada di dalam minyak mentah sebanyak 1
stock tank barrel (STB) ketika minyak dan gas tersebut masih berada dalam
keadaan tekanan dan temperatur reservoir. Kelarutan gas dalam minyak
dipengaruhi oleh tekanan, temperatur, 0API gravity, dan gas gravity.
Prosedur pengukurannya, diambil volume gas dalam keadaan standar (60
O

F dan 14,7 psi) dan volume minyak mentah dalam tangki pengumpul sebanyak 1

barrel, juga pada tekanan dan temperatur standar. Gambar 2.146 memperlihatkan
kurva kelarutan gas sebagai fungsi tekanan, untuk minyak tak jenuh. Gambar
tersebut menunjukkan bahwa apabila penurunan tekanan sampai tekanan tertentu
dimana masih diatas tekanan gelembung, maka kelarutan gas besarnya tetap
sebesar Rsi, sedangkan pada tekanan di bawah tekanan gelembung, kelarutan gas
akan menurun karena gas secara perlahan-lahan akan membebaskan diri dari
minyak.

217

Gambar 2.146.
Grafik Hubungan Kelarutan Gas dalam Minyak dengan Tekanan
(Ahmed, Tarek H., Reservoir Engineering Handbook, 2001)

Banyaknya gas yang keluar dari larutan akan tergantung dari keadaan pembebasan
(liberation), dimana terdapat dua jenis pembebasan, yaitu pembebasan kilat (flash
liberation) dan pembebasan diferensial (differential liberation).

Gambar 2.147.
Harga Kelarutan Gas dalam Minyak
dari Pembebasan Kilat dan Pembebasan Diferensial
(Amyx, J. W., Petroleum Reservoir Engineering-physical Properties, 1960)

218

Pengurangan tekanan dengan jumlah tertentu terjadi pada pembebasan


kilat, dimana gas dibebaskan setelah tercapai sehingga komposisi sistem berubah.
Proses yang terjadi pada pembebasan diferensial adalah gas yang membebaskan
diri dari larutan dipindahkan secara kontinu agar tidak berhubungan dengan
minyak sehingga komposisi sistem berubah.
Pembebasan gas di reservoir lebih mendekati proses pembebasan
diferensial, sedangkan pada tubing dan permukaan lebih mendekati pembebasan
kilat. Harga Rs yang diperoleh dengan dua tipe pembebasan gas ini diperlihatkan
pada gambar 2.147. Gambar di atas menunjukkan bahwa kedua cairan
pembebasan ini memberikan hasil yang berlainan untuk kelarutan gasnya (Rs).
Harga Rs untuk pembebasan kilat ternyata lebih kecil dari harga Rs hasil
pembebasan diferensial pada suatu tekanan tertentu.
Pengaruh tekanan untuk temperatur tetap pada kelarutan gas adalah
meningkatnya tekanan akan menyebabkan kenaikan pada harga Rs, sedangkan
pada temperatur dan tekanan tertentu, kenaikan specific gravity gas akan
memperbesar harga Rs. Pengaruh komposisi minyak adalah pada tekanan dan
temperatur tertentu, yaitu harga Rs meningkat dengan kenaikan oAPI minyak.

2.2.2.1.4. Kompresibilitas Minyak


Kompressibilitas minyak didefinisikan sebagai perubahan volume minyak akibat
adanya perubahan tekanan, secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:

Co V1 dV
dP . (2-305)
Persamaan (2-305) dapat dinyatakan dalam bentuk yang lebih mudah dipahami,
sesuai dengan aplikasi di lapangan, yaitu :

Co

Bob Boi

..... (2-306)
Boi Pi Pb
keterangan:
Bob
= faktor volume formasi pada tekanan bubble point
Boi

= faktor volume formasi pada tekanan reservoir

Pi

= tekanan reservoir

Pb

= tekanan bubble point.

219

Fluida formasi pada tekanan di atas tekanan gelembung berada dalam


sistem satu fasa. Jika tekanan diperbesar maka akan terjadi pengurangan volume
fluida secara tidak linier, tergantung pada temperatur dan komposisinya. Apabila
tekanan diperkecil sampai gas pertama kali muncul (Pb), maka akan terjadi
pengurangan volume. Hal ini dapat terjadi karena sifat kompressibilitas fluida.
Pengaruh kompressibilitas minyak hanya dominan pada tekanan di atas tekanan
gelembung, faktor yang dominan adalah adanya gas bebas. Penurunan tekanan di
bawah tekanan gelembung akan memperkecil volume minyak karena adanya
sejumlah gas yang dibebaskan.

2.2.2.1.5. Viskositas Minyak


Viskositas minyak (o) didefinisikan sebagai ukuran ketahanan minyak
terhadap aliran, atau dengan kata lain viskositas minyak adalah suatu ukuran
tentang besarnya keengganan minyak untuk mengalir, dengan satuan centi poise
(cp) atau gr/100 detik/1cm. Viskositas minyak tergantung dari tekanan,
temperatur, gravity minyak dan kelarutan gas dalam minyak. Kenaikan temperatur
akan menurunkan viskositas minyak, dan dengan bertambahnya gas yang terlarut
dalam minyak maka viskositas minyak juga akan turun.
Gambar 2.148 menunjukkan hubungan antara viskositas minyak dan
tekanan reservoir pada temperatur tetap, kurva tersebut menjelaskan bahwa pada
saat tekanan reservoir berada diatas bubble point (Pb) viskositas minyak akan
mengalami penurunan dari Pi ke Pb. Saat tekanan reservoir di bawah bubble point
viskositas minyak mengalami kenaikan yang disebabkan gas yang terlarut
membebaskan diri dari minyak pada saat penurunan tekanan.

220

Gambar 2.148.
Hubungan antara Viskositas Minyak vs Tekanan Reservoir
(McCain, Jr., W.D., The Properties of Petroleum Fluids, 1973)

Korelasi penentuan viskositas minyak pada tekanan atmosfer dan temperatur


reservoir pada berbagai gravity minyak dapat ditentukan dengan Gambar 2.149.

Gambar 2.149.
Viskositas Minyak pada Tekanan 1 Atmosfer dan Temperatur Reservoir
(McCain, Jr., W.D., The Properties of Petroleum Fluids, 1973)

221

Hubungan antara viskositas minyak pada tekanan bubble point dan viskositas
minyak pada tekanan atmosfer dengan berbagai harga GOR dapat dilihat pada
Gambar 2.150.

Gambar 2.150.
Viskositas Minyak pada Tekanan Saturasi ( Pb ) dan Temperatur Reservoir
(McCain, Jr., W.D., The Properties of Petroleum Fluids, 1973)

2.2.2.2.

Sifat Fisik Gas


Gas merupakan suatu fluida yang homogen dengan densitas dan viskositas

rendah, tidak tergantung pada bentuk dan volumenya, sehingga dapat mengisi
semua ruangan yang ada. Gas yang terdapat pada suatu reservoir mungkin
merupakan gas bebas, gas yang terlarut dalam minyak, gas yang terlarut dalam air
atau sebagian merupakan gas cair (liquid gas). Sifat fisik gas yang akan dibahas
antara lain adalah densitas, viskositas, faktor volume formasi, kompresibilitas gas
dan faktor kompresibilitas

222

2.2.2.2.1. Densitas Gas


Densitas gas (g) didefinisikan sebagai perbandingan berat gas per unit
volume, yang secara matematis dituliskan :

g= m =
V

P Mg
RT

.............. (2-307)

Persamaan 2-31 merupakan persamaan densitas untuk gas ideal, sedangkan untuk
gas nyata, adalah :

g =

P Mg
m
=
............. (2-308)
ZR T
V

Densitas gas biasanya dinyatakan dalam specific gravity gas (g), yang merupakan
perbandingan densitas gas pada kondisi tekanan dan temperatur tertentu terhadap
densitas udara kering pada tekanan dan temperatur yang sama, yang secara
matematis dituliskan :

P Mg

g =

g
u

Mg
Mg
RT
=
=
..................... (2-309)
P Mu
M u 28,97
RT

Rumus diatas hanya berlaku untuk gas berkomponen tunggal, sedangkan dalam
dunia perminyakan gas dijumpai dalam bentuk campuran. Campuran gas berisi
molekul dengan berbagai ukuran, sehingga berat molekul campuran gas
dinyatakan sebagai berat molekul tampak (Ma), serta berlaku hukum gas nyata
sebagai berikut :
Ma = Yi Mi ............ (2-310)
keterangan:
Ma

= berat molekul tampak

Yi

= fraksi mol komponen ke-i dalam suatu campuran gas

Mi

= berat molekul untuk komponen ke-i

Perhitungan campuran gas adalah sebagai berikut :

g =

P Ma
............ (2-311)
ZR T

223

dan

g =

Ma
.............. (2-312)
28,97

keterangan:
g

= specific gravity gas

= densitas gas, lb/cuft

= densitas udara kering, lb/cuft

Mg

= berat molekul gas, lb/lb-mol

Mu

= berat molekul udara kering, lb/lb-mol = 28,97 lb/lb-mol

Ma

= berat molekul tampak, lb/lb-mol

2.2.2.2.2. Faktor Volume Formasi Gas


Faktor volume formasi gas dapat dinyatakan sebagai perbandingan antara
volume yang ditempati oleh gas pada kondisi reservoir dengan jumlah gas yang
sama pada kondisi standar ( 14.7 psi, 60oF ). Faktor volume formasi gas secara
matematis dapat ditulis :
Bg =

Vr
.................. (2-313)
Vsc

keterangan:
Bg = faktor volume formasi gas, Cuft / scf
Vr = volume gas pada kondisi reservoir, cuft
Vsc = volume gas pada kondisi standar , scf
Volume n mol gas pada kondisi standar, Vsc adalah :

Vsc

Z sc n R Tsc
.............................................................................. (2-314)
Psc

Volume n mol gas pada kondisi reservoir , Vr adalah :

Vr

Z r n R Tr
................................................................................. (2-315)
Pr

Harga Bg dari hasil pensubstitusian persamaan (2-313) dan (2-314) ke dalam


persamaan (2-315) adalah :

224

Bg = 0.02829

Bg= 0.00504

Z r Tr

, Cuft / Scf .................................................... (2-316)

Pr
Z r Tr

, Bbl / Scf ....................................................... (2-317)

Pr

keterangan:
Psc = tekanan pada kondisi standart, psi ( 14.7 psi )
Pr = tekanan pada kondisi reservoir , psi
Tsc = temperatur pada kondisi standart, oR ( 520 oR)
Tr = temperatur pada kondisi reservoir , oR
Zsc = faktor kompresibilitas gas pada kondisi standart ( 1 )
Zr = faktor kompresibilitas gas pada kondisi reservoir

2.2.2.2.3. Kompresibilitas Gas


Kompressibilitas gas didefinisikan sebagai fraksi perubahan volume per
unit perubahan tekanan, atau dapat dinyatakan dengan persamaan :

Cg V1 ( dV
dP )

........ (2-318)

Kompressibilitas isothermal dari gas diukur dari perubahan volume per unit
volume dengan perubahan tekanan pada temperatur konstan. Atau dalam
persamaan dapat ditulis menjadi :

1 V

T .............................................................................. (2-319)
V P

Untuk gas ideal,

n.R.T
V
n.R.T
maka (
)T = ................................................ (2-320)
P
P
p2

sehingga

P n.R.T 1

............................................................. (2-321)
n.R.T P 2 P

Sedangkan untuk gas nyata,

Z .n.R.T
.................................................................................... (2-322)
P

225

dimana Z = f(P), maka akan didapat

C
Harga (

1 1 Z
( ) ............................................................................ (2-323)
P Z P

Z
) dapat ditentukan secara analitis, yaitu :
P

Z Z2
Z
)( 1
)
P
P1 P2

Sehingga menjadi:
Cr = C Ppc ......................................................................................... (2-324)
Dimana :

Cr

1
1 Z
(
)T pr ................................................................... (2-325)
Ppr Z Ppr

keterangan:
V = Volume gas, cuft
T = Temperatur, R
n

= Jumlah mol gas

R = Konstanta, harganya 10.732 psia cuft/lb-mol R


Z = Faktor deviasi gas, dimana untuk gas ideal harga Z = 1

2.2.2.2.4. Faktor Kompresibilitas Gas


Faktor Kompresibilitas atau Z faktor merupakan perbandingan antara
volume sebenarnya (aktual) yang ditempati suatu massa gas pada tekanan dan
temperatur tertentu terhadap volume idealnya pada kondisi tekanan dan
temperatur yang sama, sehingga :

Vactual
Videal

.................................................................................. (2-326)

Faktor kompresibilitas tidak berharga konstan namun akan bervariasi dengan


perubahan komposisi gas, temperatur dan tekanan. Untuk gas ideal, faktor
kompresibilitasnya (z faktor) berharga 1, sedangkan untuk gas nyata z berharga
lebih kecil atau lebih besar dari 1 namun dapat juga berharga 1 tergantung dari
tekanan dan suhu yang mempengaruhinya. Gambar 2.151 menunjukkan z sebagai

226

fungsi tekanan pada suhu tetap.Harga z dapat dicari dengan cara menghitung
harga Ppr (Pseudo Reduced-Pressure) dan Tpr (Pseudo Reduced-Temperature). Ppr
dan Tpr dapat dicari dengan menggunakan persamaan (2-327) dan (2-328).

Ppr

P
........................................................................................ (2-327)
Ppc

T pr

T
......................................................................................... (2-328)
T pc

Dimana:

Tpc y j Tcj

Ppc y j Pcj

Gambar 2.151.
Faktor Kompresibilitas Gas Alam

(Ahmed, Tarek H., Reservoir Engineering Handbook , 2001)

227

2.2.2.2.5. Viskositas Gas


Viskositas gas (g) didefinisikan sebagai ukuran ketahanan gas terhadap
aliran, dengan satuan centipoise (cp) atau gr/100 detik/1 cm. Viskositas gas sulit
diukur secara teliti, terutama pada kondisi tekanan dan temperatur reservoir.
Viskositas secara umum dicari dengan menggunakan korelasi seperti yang
dikemukakan oleh Bicher dan Katz, viskositas gas merupakan fungsi dari tekanan,
temperatur dan berat molekul gas. Bertambahnya tekanan dan temperatur
menyebabkan naiknya harga viskositas. Kenaikan tekanan menyebabkan jarak
antara molekul-molekul semakin kecil, sehingga tumbukan antar molekul semakin
sering terjadi. Kenaikan temperatur juga menyebabkan tumbukan antar molekul
menjadi sering terjadi. Grafik korelasi yang dihasilkan oleh Bicher dan Katz
terlihat pada Gambar 2.152 dan Gambar 2.153.

Gambar 2.152.
Viskositas Gas Alam pada suhu 600 F & 1000 F

(Amyx, J. W., Petroleum Reservoir Engineering-physical Properties, 1960)

228

Gambar 2.153.
Viskositas Gas Alam pada suhu 2000 F & 3000 F

(Amyx, J. W., Petroleum Reservoir Engineering-physical Properties, 1960)

Viskositas untuk campuran gas dapat dicari melalui hubungan matematis yang
dikemukakan oleh Herning dan Zipperer (1936) sebagai berikut :
1g=

i Yi M i
.................... (2-329)
Yi M i

keterangan:
1g

= viskositas gas campuran pada tekanan 1 atm, cp

= viskositas komponen ke-i, cp

Yi

= fraksi mol komponen ke-i

Mi

= berat molekul komponen ke-i

229

2.2.2.3.

Sifat Fisik Air Formasi


Fluida reservoir selain minyak dan gas juga mengandung air formasi yang

akan selalu ditemukan baik dalam reservoir minyak, reservoir gas ataupun
keduanya. Air formasi merupakan suatu unsur penting yang harus diperhatikan
baik dalam bidang pemboran, reservoir dan produksi. Lapisan reservoir selalu
terisi oleh air dan hampir tidak pernah ada lapisan yang tanpa air. Air formasi
yang terdapat dalam reservoir minyak disebut juga air konat (connate water).
Sifat-sifat air formasi penting untuk diketahui karena air sering menimbulkan
problem produksi. Sifat fisik minyak yang akan dibahas adalah densitas,
viskositas, kelarutan gas dalam air formasi, faktor volume air formasi, dan
kompressibilitas air formasi.
2.2.2.3.1. Densitas Air Formasi
Densitas air formasi dinyatakan dalam massa per volume, specific volume
yang dinyatakan dalam volume per satuan massa dan specific gravity, yaitu
perbandingan antara densitas zat yang diukur dengan densitas zat tertentu pada
suatu kondisi tertentu yaitu pada tekanan 14,7 psi dan temperatur 60 F.
Persamaan specific gravity air formasi dituliskan :

w =

w
1
0.01604
=
= 0.01604 w =
.......... (2-330)
62,34 Vw
Vw
62,34

keterangan:
w

= specific gravity air formasi

= densitas air formasi, lb/cuft

Vw

= specific volume air formasi, cuft/lb

Densitas air formasi dapat ditentukan dengan cara membandingkannya dengan


densitas air muni pada kondisi tertentu (tekanan 14,7 psi dan temperatur 600 F)
yaitu dengan menngunakan persamaan di bawah ini:

vw

wb Bw ............................................................................... (2-331)
vwb
w
keterangan:
vwb = specific volume air pada kondisi dasar (14,7 psi & 600 F), lb/cuft

230

wb = density dari air pada kondisi dasar (14,7 psi & 600), lb/cuft
Bw = faktor volume formasi air

Oleh karena itu, jika densitas air pada kondisi dasar (standard) dan faktor volume
formasi ada harganya (dari pengukuran langsung), maka densitas air formasi dapat
ditentukan. Faktor yang sangat mempengaruhi densitas air formasi adalah kadar
garam dan temperatur reservoir. Hal ini ditunjukkan pada Gambar 2.154 di bawah
ini

Gambar 2.154.
Pengaruh Konsentrasi Garam dan Temperatur
Pada Densitas Air Formasi

(Amyx, J. W., Petroleum Reservoir Engineering-physical Properties, 1960)

2.2.2.3.2. Faktor Volume Formasi Air Formasi


Faktor volume air formasi (Bw) menunjukkan perubahan volume air
formasi dari kondisi reservoir ke kondisi permukaan. Faktor volume formasi air
formasi ini dipengaruhi oleh tekanan dan temperatur, yang berkaitan dengan
pembebasan gas dan air dengan turunnya tekanan, pengembangan air dengan
turunnya tekanan dan penyusutan air dengan turunnya temperatur.
Hubungan faktor volume air formasi dengan tekanan dan temperatur ditunjukkan
dengan Tabel II-20 dan Tabel II-21 serta Gambar 2.155.

Water Formation Volume Factor, bbl/bbl

231

1,07
1,06
1,05

250 oF

1,04
1,03

200 oF

1,02
1,01

150 oF

1,00

100 oF

0,99
0,98

pure water
pure water and natural gas
0

1000

2000

3000

4000

5000

Pressure, psia

Gambar 2.155.
Faktor Volume Air Formasi Sebagai Fungsi dari Tekanan dan Temperatur
(Amyx, J. W., Petroleum Reservoir Engineering-physical Properties, 1960)

Tabel II-20.
Faktor Volume Air Formasi dengan Kandungan Gas
(Amyx, J. W., Petroleum Reservoir Engineering-physical Properties, 1960)

Tekanan

Faktor Volume Air Formasi, bbl/bbl (pada temperatur, oF)

Saturasi, psia
100

150

200

250

1000

1,0045

1,0183

1,0361

1,0584

2000

1,0031

1,0168

1,0345

1,0568

3000

1,0017

1,0154

1,0330

1,0552

4000

1,0003

1,0140

1,0316

1,0537

5000

0,9989

1,0126

1,0301

1,0522

Tabel II-21.
Faktor Volume Air Formasi tanpa Kandungan Gas
(Amyx, J. W., Petroleum Reservoir Engineering-physical Properties, 1960)

Tekanan

Faktor Volume Air Formasi, bbl/bbl (pada temperatur, oF)

Saturasi, psia

100

150

200

250

1000

1,0025

1,0153

1,0335

1,0560

2000

0,9995

1,0125

1,0304

1,0523

3000

0,9966

1,0095

1,0271

1,0487

4000

0,9938

1,0067

1,0240

1,0452

5000

0,9910

1,0039

1,0210

1,0418

6000

0,9884

1,0031

1,0178

1,0402

232

2.2.2.3.3. Kelarutan Gas dalam Air Formasi


Kelarutan gas dalam air formasi didefinisikan sebagai volume gas yang
terlarut dalam air formasi dengan volume air formasi itu sendiri. Sifat kelarutan
air formasi (dalam gas) akan berpengaruh pada penanganan, pemrosesan, dan
pengangkutan gas alam. Kelarutan gas dalam air formasi tergantung pada tekanan,
temperatur, dan komposisi air formasi dan gas.
Kelarutan gas dalam air formasi adalah lebih kecil dibandingkan dengan
kelarutan gas dalam minyak di reservoir pada kondisi reservoir yang sama. Pada
temperatur tetap kelarutan gas dalam air formasi akan naik dengan naiknya
tekanan, sedangkan pada tekanan yang tetap kelarutan gas mula-mula menurun
sampai harga minimum kemudian naik lagi terhadap naiknya suhu, dan kelarutan
gas dalam air berkurang dengan bertambahnya kadar garam (diperlihatkan oleh
Gambar 2.156)

Gambar 2.156.
Kelarutan Gas Dalam Air Formasi Sebagai Fungsi
Temperatur dan Tekanan
(Amyx, J. W., Petroleum Reservoir Engineering-physical Properties, 1960)

233

2.2.2.3.4. Kompresibilitas Air Formasi


Kompresibilitas air formasi didefinisikan sebagai perubahan volume yang
disebabkan oleh adanya perubahan tekanan yang mempengaruhinya. Besarnya
kompressibilitas air murni (Cpw) tergantung pada tekanan, temperatur dan kadar
gas terlarut dalam air murni, sebagaimana terlihat pada Gambar 2.157.
Secara matematik, besarnya kompressibilitas air murni dapat ditulis sebagai
berikut :

Cwp

1 V

.......................................................................... (2-332)
V P T

keterangan:
Cwp

= kompressibilitas air murni, psi 1

= volume air murni, bbl

V; P = perubahan volume (bbl) dan tekanan (psi) air murni


Subscript T menunjukkan bahwa temperatur dianggap konstan.
Sedangkan pada air formasi yang mengandung gas, hasil perhitungan harga
kompressibilitas air formasi, harus dikoreksi dengan adanya pengaruh gas yang
terlarut dalam air murni. Koreksi terhadap harga kompressibilitas air dapat
dilakukan dengan menggunakan Gambar 2.158.

Gambar 2.157.
Kompresibilitas Air murni berdasarkan Tekanan dan Temperatur
(Amyx, J. W., Petroleum Reservoir Engineering-physical Properties, 1960)

234

Gambar 2.158.
Koreksi Harga Kompresibilitas Air Formasi terhadap kandungan
Gas Terlarut
(Amyx, J. W., Petroleum Reservoir Engineering-physical Properties, 1960)

Secara matematik, koreksi terhadap harga kompressibilitas air (Cw) dapat dihitung
dengan persamaan sebagai berikut :

C w C wp (1 0,0088 R sw ) ......................................................... (2-333)


keterangan:
Cw

= kompresibilitas air formasi, psi-1

Cwp = kompressibilitas air murni, psi-1


Rsw = kelarutan gas dalam air, cu ft/bbl

2.2.2.3.5. Viskositas Air Formasi


Viskositas air formasi (w) akan bervariasi terhadap tekanan, temperatur
dan salinitas. Harga w semakin turun dengan semakin naiknya tekanan dan
temperatur, sedangkan dengan semakin besarnya pengaruh salinitas dalam air
formasi, maka harga w akan semakin tinggi. Hubungan ini ditunjukkan pada
gambar 2.159.
Gambar 2.159. menunjukkan hubungan antara viskositas air formasi
terhadap temperatur pada berbagai tekanan, yang dapat digunakan untuk
menentukan viskositas air formasi tanpa menunjukkan tekanan dan salinitas air
formasi.

235

Wa ter sa linity : 60000 p p m

1,8

a t 14,7 p sia p ressure


a t 14,2 p sia p ressure

Absolut Viscosity, cp

1,6

a t 7100 p sia p ressure


a t va p our p ressure

1,4
1,2
1,0
0,8
0,6
0,4
0,2
0

50

100

150

200

Temp era tur,

250

300

350

Gambar 2.159.
Grafik w vs T Pada Berbagai Tekanan

(Amyx, J. W., Petroleum Reservoir Engineering-physical Properties, 1960)

Anda mungkin juga menyukai