Anda di halaman 1dari 7

TUGAS KDM

CENTRAL VENOUS PRESSURE

OLEH:
1
2
3
4
5

CINTYA INDAH PERMATA


NOVIKA YULISMA
SULASTRI H.D
OGI SAPUTRA
YOVA YUSNITA

DOSEN PEMBIMBING
SYAFRIDAWATI SSt S,Kep Msi

AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN


PADANG PARIAMAN
TAHUN AJARAN
2014/2015

Pengertian
CVP merupakan prosedur memasukkan kateter intravena yang fleksibel ke
dalam vena sentral pasien dalam rangka memberikan terapi melalui vena sentral.
Ujung dari kateter berada pada superior vena cava. Tekanan vena central (central
venous pressure) adalah tekanan darah di atrium kanan atau vena kava. Ini
memberikan informasi tentang tiga parameter volume darah, keefektifan jantung
sebagai pompa, dan tonus vaskular.

Indikasi
Indikasi Pemasangan CVP :
1. Pasien dengan trauma berat disertai dengan perdarahan yang banyak yang dapat
menimbulkan syok.
2. Pasien dengan tindakan pembedahan yang besar seperti open heart, trepanasi.
3. Pasien dengan kelainan ginjal (ARF, oliguria).
4. Pasien dengan gagal jantung.
5. Pasien terpasang nutrisi parenteral (dextrosa 20% aminofusin).Pasien yang
diberikan tranfusi darah dalam jumlah yang besar (transfusi masif).

Tujuan
Tujuan pemasangan CVP :
1. Terapi pada pasien yang mengalami gangguan keseimbangan cairan.
2. Sebagai pedoman penggantian cairan pada kasus hipovolemi.
3. Mengkaji efek pemberian obat diuretik pada kasus-kasus overload cairan.
4. Sebagai pilihan yang baik pada kasus penggantian cairan dalam volume yang
banyak.
Tujuan Perawatan pasien dengan CVP :
Perawatan akan menangani atau mengurangi komplikasi dari emboli darah.

Komplikasi
Komplikasi dari pemasangan CVP antara lain :
1. Perdarahan.
2. Tromboplebitis (emboli thrombus,emboli udara, sepsis).
3. Pneumothorak, hematothorak, hidrothorak.
4. Pericardial effusion.
5. Aritmia
6. Infeksi.
7. Perubahan posisi jalur.

Intervensi
A. Persiapan Alat :
1.

Kateter CVP sesuai ukuran, dan sesuai dengan jenis lumen (single, double,
atau triple, tergantung dari kondisi pasien).

2.

Handsoen steril.

3.

Set jahit luka.

4.

Set rawat luka.

5.

Needle intriducer.

6.

Syringe.

7.

Mandrin (guidewire).

8.

Duk steril

B. Persiapan Pasien :
1. Menjelaskan prosedur kepada pasien untuk mengurangi kecemasan dan
mengharapkan kerjasama dari pasien.
2. Mengatur posisi pasien, yaitu posisi trendelenburg, yang mungkin akan sangat
membuat pasien merasa tidak nyaman.
3. Menjaga prinvacy pasien dengan menutup sampiran.

Implementasi
Teknik pemasangan yang sering digunakan adalah teknik Seldinger, caranya
adalah dengan menggunakan mandrain yang dimasukkan melalui jarum, jarum
kemudian dilepaskan, dan kateter CVP dimasukkan melalui mandarin tersebut. Jika
kateter sudah mencapai atrium kanan, mandrain ditarik, dan terakhir kateter
disambungkan pada IV set yang telah disiapkan dan lakukan penjahitan daerah
insersi.
Langkah Pemasangan :
1. Mendekatkan peralatan disamping tempat tidur pasien (mudah dijangkau).
2. Mencuci tangan dengan teknik steril.
3. Memakai handscoen steril.
4. Menentukan daerah yang akan dipasang : Vena subklavia atau Vena jugularis
interna.
Tempat lain yang bisa digunakan sebagai tempat pemasangan CVP adalah vena
femoralis dan vena fossa antecubiti.
5. Mengatur posisi pasien trendelenberg, atur posisi kepala agar vena jugularis
interna maupun vena subklavia lebih terlihat jelas, untuk mempermudah
pemasangan.
6. Melakukan desinfeksi pada daerah penusukan dengan cairan antiseptic.
7. Memasang duk lobang yang steril pada daerah pemasangan.
8. Sebelum penusukan jarum / keteter, untuk mencegah terjadinya emboli udara,
anjurkan pasien untuk bernafas dalam dan menahan nafas.
9. Dokter memasukkan jarum / kateter secara perlahan dan pasti, ujung dari kateter
harus tetap berada pada vena cava, jangan sampai masuk ke dalam jantung.
10. Menghubungkan dengan IV set dan selang untuk mengukur tekanan CVP.
11. Dokter melakukan fiksasi / dressing pada daerah pemasangan, agar posisi kateter
terjaga dengan baik.
12. Merapikan peralatan.
13. Mencuci tangan.

Perawatan Pasien dengan CVP :


1. CVP digunakan untuk mengukur tekanan pengisian jantung bagian kanan.
Tekanan CVP normal berkisar antara 2 5 mmHg atau 3 8 cmH20.
2. Bila hasil pengukuran CVP dibawah normal, biasanya terjadi pada kasus
hipovolemi, menandakan tidak adekuatnya volume darah di ventrikel pada saat
akhir diastolic untuk menghasilkan stroke volume yang adekuat. Untuk
mengkompensasinya guna meningkatkan cardiac output, maka jantung
meningkatkan heart ratenya, meyebabkan tachycardi, dan akhirnya juga akan
meningkatkan konsumsi 02 miokard.
3. Bila hasil pengukuran CVP diatas normal, biasanya terjadi pada kasus overload,
untuk mengkompensasinya jantung harus lebih kuat berkontraksi yang juga
akan meningkatkan konsumsi O2 miokard.
4. Standar pengukuran CVP bisa menggunakan ukuran mmHg atau cmH2O,
dimana 1 mmHg = 1,36 cmH2O.
5. Pengkajian :
Mengkaji adanya tanda-tanda komplikasi yang ditimbulkan oleh pemasangan
alat :
a. Keluhan nyeri, napas sesak, rasa tidak nyaman
b. Frekuensi napas, suara napas.
c. Tanda kemerahan / pus pada lokasi punksi.
d. Adanya gumpalan darah / gelembung udara pada cateter.
e. Kesesuaian posisi jalur infus set.
f. Tanda-tanda vital, perfusi.
g. Tekanan CVP.
h. Intake dan out put.
6. Rencana :
a. Mengkonsultasikan dengan dokter untuk pemberian obat heparin dosis
rendah bagi pasien yang beresiko tinggi sampai ia ambulasi,(terapi heparin
dosis rendah akan mengakibatkan viskositas darah dan daya ikat trombosis
menurun dan memungkinkan resiko terjadinya embolisme).
b. Mengobservasi tanda-tanda dan gejala embolisme pulmonal, antara lain :

1) Nyeri dada akut dan jelas.


2) Dispnea, kelelahan, sianosis.
3) Penurunan saturasi oksigen.
4) Takikardia.
5) Distensi vena jugularis.
6) Hipotensi.
7) Dilatasi ventrikel kanan akut tanpa penyakit parenkim (pada rontgen
dada).
8) Kekacauan mental.
9) Disritmia jantung (oklusi arteri pulmonal mengganggu aliran darah ke
paru-paru bagian distal mengakibatkan hipoksia).
Jika manifestasi ini terjadi, lakukan protokol pada syok :
a)

Pertahankan kateter IV (untuk pemberian cairan dan obat-obatan).

b) Berikan pengobatan pemberian cairan sesuai dengan protocol.


c)

Pasang kateter indwelling (foley) (untuk memantau volume sirkulasi melalui


haluaran urine).

d) Lakukan pemantauan EKG dan pemantauan invasif hemodinamik (untuk


mendeteksi disritmia dan pedoman pengobatan).
e)

Berikan vasopressor untuk meningkatkan ketahanan perifer dan meningkatkan


tekanan darah.

f)

Berikan natrium bikarbonat sesuai indikasi (untuk mengoreksi asidosis


metabolik).

g) Berikan obat-obat digitalis, diuretik IV dan agen aritmia sesuai indikasi.


h) Berikan morfin dosis rendah secara IV (menurunkan ansietas dan menurunkan
kebutuhan metabolisme ).
i)

Siapkan pasien untuk prosedur angiografi dan/ atau skaning perfusi paru-paru
(untuk memastikan diagnosis dan mendeteksi luasnya atelektasis). (Karena
kematian akibat embolisme pulmonal masif terjadi dalam 2 jam pertama
setelah awitan, intervensi segera adalah sangat penting).

j)

Berikan terapi oksigen melalui kateter nasal dan pantau saturasi oksigen.
(dengan tindakan ini akan meningkatan sirkulasi oksigen secara cepat).

k) Pantau nilai elektrolit, GDA, BUN, DL (pemeriksaan laboratorium ini


membantu menentukan status perfusi dan volume).
l)

Lakukan pengobatan trombolisis, mis : urokinase, streptokinase sesuai dengan


program dokter (trombolisis dapat menyebabkan lisisnya emboli dan
meningkatkan perfusi kapiler pulmonal).

m) Setelah pemberian infus trombolisis, lakukan pemberian pengobatan dengan


heparin. (IV secara terus menerus atau intermitten). (Heparin dapat
menghambat atau memperlambat proses terbentuknya trombus dan membantu
mencegah pembentukan dan berulangnya pembekuan.

Evaluasi
1. Setelah dipasang, sebaiknya dilakukan foto rontgent dadauntuk memastikan
posisi ujung kateter yang dimasukkan, serta memastikan tidak adanya
hemothorax atau pneumothorax sebagai akibat dari pemasangan.
2. Mengobservasi respon pasien sebelum, selama, dan sesudah pemasangan CVP.
3. Mengobservasi kepatenan fiksasi secara periodik.
4. Mengukur tekanan CVP secara periodik.

DOKUMENTASI
1. Mencatat laporan pemasangan, termasuk respon pasien (tanda-tanda vital,
kesadaran, dll), lokasi pemasangan, petugas yang memasang, dan hasil
pengukuran CVP serta cairan yang digunakan.
2. Mencatat jenis dan ukuran set CVP yang digunakan.
3. Mencatat tanggal dan waktu pelaksanaan prosedur.
4. Mencatat respon an toleransi pasien selama prosedur.