Anda di halaman 1dari 31

CASE REPORT

Appendisitis
Disusun Oleh :
DRYAN ARIAPRATITA
1102010083

Pembimbing :
dr. Hadiyana Suryadi , Sp.B

Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Bedah


Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Slamet
Garut
2016

STATUS PASIEN

IDENTITAS
Nama

: Tn.R

Umur

: 14 th

Jenis kelamin
Status
Alamat
Suku

: Laki-laki
: Pelajar
: Pataruman
: Sunda

Agama

: Islam

No. CM

: 71-02-16

Tanggal masuk RS : 12 Februari 2016

ANAMNESIS
Dilakukan secara
Tempat

: Autoanamnesis pada tanggal 16 februari 2016


: Topaz

Keluhan Utama
Nyeri pada perut sejak 2 hari SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD dr Slamet Garut dengan keluhan nyeri perut sejak 2
hari SMRS.Nyeri perut seperti ditekan dirasakan hilang timbul. Keluhan
disertai demam, mual, pusing yang semakin memberat sejak 2 hari SMRS.
BAB lancar BAK lancar. Pasien belum pernah mengalami keluhan ini
sebelumnya.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat penyakit yang sama sebelumnya disangkal pasien.
Riwayat Gastritis diakui pasien.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidaka riwayat penyakit seperti ini pada keluarga pasien.

Riwayat Alergi

Alergi terhadap makanan, minuman, obat-obatan dan lain lain disangkal.

Anamnesis Sistem Organ Tubuh


Kulit

: Tidak ada keluhan.

Kepala

: Tidak ada keluhan.

Mata

: Tidak ada keluhan.

Telinga

: Tidak ada keluhan.

Hidung

: Tidak ada keluhan.

Mulut

: Tidak ada keluhan.

Tenggorokan

: Tidak ada keluhan.

Leher

: Tidak ada keluhan.

Thoraks ( Jantung/Paru)

: Sesak (-), batuk kering (-), nyeri dada (-).

Abdomen

: Nyeri tekan (+), mual (-), muntah (-)

Saluran kemih / kelamin

: Nyeri saat BAK (-), nocturia (-)

Muskuloskeletal

: Nyeri otot (-)

Ekstremitas

: Edema kedua tungkai (-)/(-)

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tandi vital

: Tekanan Darah 120/80mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Respirasi

: 24 x/menit

Suhu

: 36.5 oC

Tinggi badan

: 145 cm

Berat Badan

: 36 kg

Status Gizi

: Cukup

IMT

: 22,49

Edema
ekstremita

: Ascites (-), ekstremitas bawah (-)/(-),

(-)/(-).
Mobilitas

: Aktif

Aspek kejiwaan
Tingkah laku

: Wajar

Alam Perasaan

: Biasa

Proses berpikir

: Wajar

Kulit
Warna

: Sawo matang

Jaringan Parut

: Tidak ditemukan

Pembuluh darah

: Tampak umum

Keringat

: Tampak umum

Lapisan Lemak

: Cukup

Efloresensi

: Tidak ditemukan

Pigmentasi

: Tidak ditemukan

Suhu Raba

: Hangat

Kelembapan

: Biasa

Turgor

: Baik

Kepala
Bentuk

: Oval, simetris

Ekspresi wajah

: Wajar

Simetris Muka

: Simetris

Rambut

: Hitam, lurus, tidak mudah dicabut

Mata
Ekshoftalmus

: -/-

Enofhtalmus

: -/-

Kelopak

: Tidak ada kelainan

Konjungtiva Anemis

: -/-

Sklera Ikterik

: -/-

Lapang penglihatan

: visus normal 6/6

Deviatio Konjugae : Tidak diperiksa


Lensa

: Normal

Reaksi cahaya
Visus

: +/+
:6/6

Tekanan bola mata : Tidak diperiksa

Telinga
Lubang
Serumen

: Normal
: Tidak diperiksa

Selaput Pendengaran

: Tidak diperiksa

Cairan

: Tidak tampak ada cairan

Penyumbatan

: Tidak diperiksa

Perdarahan

: Tidak diperiksa

Hidung
Pernafasan cuping hidung : Tidak tampak
Septum deviasi

: Tidak tampak

Sekret

: Tidak tampak

Epistaksis

: Tidak tampak

Krepitasi

: Tidak teraba

Mulut
Bibir

: Lembab

Langit langit

: Tidak hiperemis

Faring

: Tidak hiperemis

Sianosis Peroral
Tonsil

: Tidak tampak
: Tidak membesar, tidak hiperemis

Leher
Trakea

: Berada ditengah tidak deviasi

KGB

: Tidak teraba pembesaran

Kelenjar tiroid
JVP

: Tidak teraba pembesaran


: 5 + 2 cm H2O

Thorax
Cor
Inspeksi

: iktus kordis tidak terlihat.

Palpasi
sinistra

: iktus kordis teraba pada ICS V linea mid clavicula

Perkusi

: Batas jantung kanan pada linea sternalis dextra ICS III


Batas jantung kiri pada linea mid clavicula sinistra ICS IV
Batas pinggang jantung pada linea parasternalis sinistra ICS

III
Auskultasi

: Bunyi jantung 1 dan 2 murni reguler


Gallop (-), Murmur (-)

Pulmo
Depan

Inspeksi
statis dan

: Hemitorax simetris kanan dan kiri dalam keadaan

dinamis. Retraksi sela iga (-/-)


Palpasi

: Fremitus vokal dan taktil asimetris kanan lebih lemah

dibandingkan kiri.
Perkusi

: Sonor pada semua lapang paru.

Auskultasi

: vesikuler kanan sama dibandingkan kiri.

ronki (-/-), wheezing (-/-).


Belakang
Inspeksi
statis dan

: Hemitorax simetris kanan dan kiri dalam keadaan

dinamis.
Palpasi
: Fremitus vokal dan taktil simetris kanan dan kiri.
Tidak teradapat nyeri tekan
Perkusi
Auskultasi

: Sonor pada semua lapang paru.


: vesikuler kanan sama dengan kiri.

ronki (-/-), wheezing (-/-).

Abdomen
Status Lokalis

Ekstremitas
Superior
Inferior

Status Lokalis

: Akral hangat (+/+), Edema (-/-), Sianosis (-/-)


: Akral hangat (+/+), Edema (-/-), Sianosis (-/-)

Inspeksi
Auskultasi

: Cekung, keriput , tidak ada sikatrik


: Bising usus (+) melemah.

Perkusi

: Timpani pada sembilan kuadran abdomen.

Palpasi
: Hepar tidak teraba membesar, Lien tidak teraba
membesar, Nyeri tekan pada abdomen (+), Nyeri Tekan Lepas (+), Mc
Burney (+), Tidak teraba massa.
Rectal Touche

: (-) Tidak diperiksa.

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan lab
Hematologi (11/02/2016)
Darah rutin:
Hemoglobin : 13,2mg/dl

(13.0 18.0)

Hematokrit : 46 %

(40 52 %)

Leukosit

: 17,740 /mm3

(3.800-10.600)

Trombosit

: 284,000 /mm3

(150.000-440.000)

: 3.40 juta/mm3

Eritrosit

Urine
Albumin

:+

Reduksi
Bilirubin

::-

Urobilin

: Normal

Sedimen
Leukosit

: Banyak

Eritrosit

:0-1

PH

:5

Berat Jenis

: 1.030

(3.5 6.5)

Kimia Klinik
a. SGOT

: 12 U/L

s/d 31

b. SGPT

: 15 U/L

s/d 31

c. Gula Darah Sewaktu

: 103

70 ~ 110

Widal
Salmonella Typhi H : 1/160
Salmonella Typhi O : Negatif

Diagnosis Klinik
Abdominal Pain ec Susp App Akut

Diagnosis Banding
Perforasi App

PENATALAKSANAAN

Infus Ringer laktat 20 tpm


Cefotaxime 2 x 1gr (IV)
Ranitidin 2 x 1 amp (IV)
Ketorolac 3 x 1 tab (PO)
Paracetamol 3 x 500mg (PO) (bp)

Rencana Operasi
Operasi Appendictomi a/I Abdominal Pain ec Susp App Akut

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad sanationam: ad bonam


Quo ad functionam : ad bonam

FOLLOW UP RUANGAN

Tangga
l

11 / 02
/ 2016

- Nyeri pada perut

KU : Sakit Sedang

Pd :

- Demam

KS : CM

- Abdominal
Pain ec
Susp App
Akut

T : 120 / 70 mmHg

Cek Lab
Rontgen thorax AP

N : 132 x / menit

Rontgen BNO

R : 24 x / menit

Pt :

S : 38.7 o C

Infus Ringer laktat 20 tpm


Cefotaxime 2 x 1gr (IV)
Ranitidin 2 x 1 amp (IV)
Ketorolac 3 x 1 tab (PO)
Ondansentron 3 x 4mg
(IV)
Parasetamol 3 x 500mg
(PO)

12/02/
16

Nyeri Perut

KU : Sakit Sedang
Adominal

KS : CM
T : 80/20 mmHg

Pain ec
Susp App
Akut

Pd :
Pt :

N :100 x / menit

Infus Ringer laktat 20 tpm

R : 20 x / menit

Cefotaxime 2 x 1gr (IV)

S : 36,8 o C

Ranitidin 2 x 1 amp (IV)


Ketorolac 3 x 1 tab (PO)
Ondansentron 3 x 4mg
(IV)
Parasetamol 3 x 500mg
(PO)

13/02/
16

Sedikit nyeri pada


perut

KU : Sakit Sedang
KS : CM
T : 180/20 mmHg
N : 110 x / menit

Abdominal
Pain ec
Susp App
Akut

Pd :
Cito Operasi Hari ini

R : 20 x / menit

Pt :

S : 37 o C

Infus Ringer laktat 20 tpm


Cefotaxime 2 x 1gr (IV)
Ranitidin 2 x 1 amp (IV)
Ketorolac 3 x 1 tab (PO)
Ondansentron 3 x 4mg
(IV)
Parasetamol 3 x 500mg

(PO)

2. TINJAUAN PUSTAKA

Appendicitis Akut

2.1 Definisi

Apendisitis merupakan peradangan dari apendiks vermiformis, yang lebih


dikenal dengan sebutan infeksi usus buntu dan ini merupakan penyakit
yang sering dijumpai. Meskipun sebagian besar pasien dengan apendisitis
akut dapat dengan mudah didiagnosis tetapi tanda dan gejalanya cukup
bervariasi, sehingga diagnosis secara klinis dapat menjadi sulit
ditegakkan, untuk itu dokter harus mempunyai pengetahuan yang baik
untuk mengenal apendisitis

2.2 Anatomi

Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm


dan berpangkal di sekum. Lumennya menyempit di bagian proksimal dan
melebar di bagian distal. Namun demikian pada bayi apendiks berbentuk
kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit kearah ujungnya.
Apendiks terletak di ileosekum dan merupakan pertemuan ketiga tinea
koli. Untuk mencarinya cukup dicari pertemuan 2 tinea tersebut.
Didekatnya terdapat valvula Bauhini. Apendiks juga dapat terbentang
retrocaecal, retroileal, dan pelvic.
Apendiks menerima aliran darah dari cabang apendikuler dari
a.ileocoelica. Arteri ini berasal dari ileum terminalis superior memasuki

mesoapendiks dekat dasar apendiks. Cabang arteri kecil berjalan melalui


a. caecal.
Sistem limfe apendiks berjalan menuju nodus limfatik yang terbentang
sepanjang ileocoelica.
Persarafan apendiks berasal dari persarafan simpatis yang berasal dari
plexus mesenterikal superior (T10-L1), dan parasimpatis yang aferennya
berasal dari n.vagus.

2.3 Fisiologi

Meskipun fungsi apendiks sampai saat ini tidak jelas, tetapi mukosa
apendiks seperti mukosa lainnya mampu menghasilkan sekresi cairan,
musin, dan enzim proteolitik.
Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated
Lymphoid Tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk
apendiks, ialah IgA. Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung
terhadap

infeksi.

Namun

demikian

pengangkatan

apendiks

tidak

mempengaruhi sistem imun karena jumlah kelenjar limfe disini sedikit


sekali jika dibandingkan jumlahnya di saluran cerna atau di seluruh tubuh.

Gambar 2.1 Anatomi Appendiks

2.4 Etiologi
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteri. Faktor-faktor yang dapat
menjadi pencetus apendisitis akut :
1. Obsruksi

lumen

menyebabkan

apendiks
distensi

:
pada

Obstruksi
apendiks

ini

akan
karena

terkumpulnya cairan intraluminal. Obstruksi ini dapat


disebabkan oleh :
- Masuknya fekalit
- Kerusakan mukosa dan adanya tumor
- Terdapat bekuan darah
- Sumbatan oleh cacing ascaris

Pengendapan

barium

di

pemeriksaan

x-ray

sebelumnya.
2. Anatomi apendiks
a. Apendiks merupakan bagian dari sekum secara
embriologis.

Karena

itu

ada

hubungan

mikroorganisme antar keduanya.


b. Sirkulasi dari cabang ileocoelica saja (satu arah)
sehingga bila ada bagian yang buntu maka begian
yang terletak dibawahnya akan mati.
c. Apendiks merupakan tabung yang ujungnya buntu
pada satu tempat dan satu tempat lagi ada valvula
atau

klep

dan

lumennya

relatif

kecil,

tapi

memproduksi mucus. Kalau ada obstruksi mucus


tetap diproduksi
tekanan akan meningkat pecah nekrosis.
3. Ras dan makanan
a. Lebih banyak pada orang barat.
b. Makan daging kemungkinannya lebih besar.
4. Konstipasi dan pemakaian laksatif
Flora usus normal apatogen menjadi patogen.
5. Fokal infeksi dari tempat lain yang manjalar secara
hematogen.

2.5 Patofisiologi
Dalam pathogenesis appendisitis akut urutan kejadiannya adalah :
1. Obstruksi lumen menyebabkan sekresi mucus dan cairan
yang menyebabkan peningkatan tekanan intraluminal
2. Ketika

tekanan

intrauminal

meningkat,

tekanan

dalam

mukosa venula dan limfatik meningkat, aliran darah dan limfe


terhambat

karena

tekanan

meningkat

pada

dinding

apendiceal.
3. Ketika tekanan kapiler meningkat, terjadi iskemia mukosa
inflamasi dan ulserasi kemudian bakteri tumbuh pesat
didalam

lumen

dan

bakteri

menyerang

mukosa

dan

submukosa sehingga terjadi inflamasi transmural, edema,


vascular stasis, dan nekrosis dari muscular. Perforasi mungkin
dapat terjadi.

Pada perjalanan penyakitnya, penyakit apendisitis akut dapat berubah


menjadi :
1. Phlegmon 2-3 hari perforasi, 3-5 hari peritonitis difusasepsis.
Phlegmon ialah proses penahanan dalam jaringan ikat
longgar, Pada orang dewasa, terjadi karena keterlambatan
dalam menegakkan diagnosa, sedangkan pada anak kecil
disebabkan apendiks kecil dan kurang komunikatif.
2. Mikroperforasi massa/infiltrate periappendiks.

Mikroperforasi adalah suatu peradangan oeh omentum dan


jaringan sekitarnya. Tubuh melokalisir perforasi oleh karena
daya tahan tubuh meningkat (dengan pemberian antibiotik).
Jika peradangan tidak sempurna, dapat terjadi penyebaran
pus dari ruangan omentum.
2.6 Manifestasi Klinis
Appendisitis akut mempunyai gejala klinis yang banyak ekali dan
menyerupai

penyakit

lain.

Pada

bebrapa

kasus

appendiks

tidak

mempunyai tanda utama, gejala, maupun tes diagnostik yang akurat


Gejala klinis appendisitis akut adalah nyeri abdomen. Secara klasik nyeri
timbul pertama kali ditengah bagian bawah epigastrium atau daerah
umbilicus, menetap, kadang disertai rasa kram yang intermitten. Setelah
periode 12 jam, biasanya antara 4-6 jam lokasi nyeri terlokalisir di kuadran
kanan bawah di titik McBurney. Kadang tidakada nyeri epigastrium, tetapi
terdapat
pencahar.

konstipasi
Tindakan

sehingga
itu

penderita

dianggap

merasa

berbahaya

memerlukan

karena

obat

memermudah

terjadinya perforasi.
Variasi letak appendiks akan menyebabkan letak nyeri yang bervariasi
juga. Appendiks yang terletak retrosekal akan menyebabkan nyeri peda
daerah sisi dan nyeri punggung, sedangkan appendiks yang terletak pelvic
akan menyebabkan nyeri pada suprapubis, serta yang terletak retroileal
dapat menyebabkan nyeri pada daerah testis.
Bila terjadi peritonitis, dapat ditemukan nyeri tekan yang difus, defence
muskuler, bising usus yang menurun atau hilang pada distensi abdomen.

Anoreksia hampir selalu menyertai appendicitis. Vomitus terjadi pada kirakira 75% pasien tetapi tidak terus menerus, sebagian besar pasien
mengalami vomitus hanya 1-2 kali.
Obstipasi sebagian besar terjadi sebelum nyeri abdomen dan merasa
bahwa defekasi dapat mengurangi rasa nyeri perutnya. Diare dapat terjadi
pada beberapa pasien.

2.7 Pemeriksaan Klinis


Tanda-tanda

vital

tidak

mengalami

perubahan

yang

banyak

pada

appendicitis yang sederhana. Kenaikan temperature jarang melebihi 1 0C.


Kecepatan nadi dapat normal atau sedikit meningkat.
Palpasi
Pada palpasi didapatkan nyeri yang terbatas pada regio iliaka
kanan, bisa disertai nyeri lepas. Defans muskuler menunjukkan
adanya rangsangan peritoneum parietale. Nyeri tekan dan nyeri
lepas secara klasik di kuadran kanan bawah pada appendiks letak
anterior yang mengalami inflamasi. Nyeri tekan yang maksimal
terletak pada atau dekat titik McBurney. Nyeri tekan pada perut
kanan ini merupakan kunci diagnosis. Pada penekanan perut kiri
bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah (tanda
Rovsing). Pada appendisitis retrosekal atau retroileal diperlukan
palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri. Karena terjadi
pergeseran sekum ke

kraniolateral dorsal oleh uterus, keluhan

nyeri pada appendiks sewaktu hamil trimester I dan III akan


bergeser ke kanan sampai ke pinggang kanan. Anda pada

kehamilan trimester I tidak berbeda dengan orang tidak hamil,


karena itu harus dibedakan apakah nyeri berasal dari appendiks
atau uterus, bila penderita miring ke kiri, nyeri akan berpindah
sesuai dengan pergeseran uterus, terbukti proses bukan berasal
dari appendiks.
Peristaltik usus sering normal,peristaltik dapat hilang karena
ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat appendisitis
perforata.

Rectal Toucher
Pada rectal toucher menyebabkan nyeri bila daerah infeksi
dapat dicapai dengan jari telunjuk, misalnya pada appendisitis
pelvika, pada appendisitis pelvika, tanda perut sering meragukan
maka kunci diagnosis adalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan rectal
toucher.
Pada pemeriksaan rectal toucher, akan didapatkan :
-

Nyeri tekan positif pada arah jam 9-11.

Pada yang mengalami komplikasi, ampula teraba


distensi/cenderung kolaps.

Gambar 2.2 Pemeriksaan Rectal Toucher


Pada anak-anak, tidak diperlukan rectal toucher, karena
appendiksnya berbentuk konus atau pendek.
Pemeriksaan tambahan (pemeriksaan khusus)
1.

Rovsings Sign :
Dengan

cara

penekanan

pada

kuadran

kiri

bawah

menyebabkan refleks nyeri pada daerah kuadran kanan


bawah.

Gambar 2.3 Pemeriksaan Rovsings sign

2.

Psoas sign :
Mengindikasikan adanya iritasi ke muskulus psoas. Tes ini
dilakukan

dengan

rangsangan

otot

psoas

dengan

hiperekstensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi


panggul kanan, kemudian paha ditahan. Tes ini dilakukan
dengan cara pasien terlentang. Secara perlahan tungkai
kanan pasien diekstensikan kearah kiri pasien sehingga
menyebabkan

peregangan

m.

psoas.

Rasa

nyeri

pada

maneuver ini menandakan tes positif.

Gambar 2.4 Pemeriksaan Psoas sign

3.

Obturator sign
Dilakukan untuk melihat apakah appendiks yang meradang
kontak dengan m. Obturator internus yang merupakan
dinding panggul kecil. Gerakan fleksi dan endorotasi sendi
panggul pada posisi terlentang akan menimbulkan nyeri pada

appendisitis pelvika. Positif dari nyeri hipogastrik pada


peregangan m. Obturator internus yang menandakan iritasi
pada daerah tersebut. Tes dilakukan dengan cara pasien
berbaring terlentang, tungkai kanan difleksikan dan dilakukan
rotasi interna secara pasif.

Gambar 2.5 Pemeriksaan Obturator sign


2.8 Pemeriksaan Penunjang
Pada appendicitis akut tanpa komplikasi, pemeriksaan laboratorium
menemukan leukositosis (10.000-18.000/mm3) dengan peningkatan
PMN. Jika leukosit > 18.000, dengan adanya shift to the left, harus
dipikirkan telah terjadi perforasi atau penyakit infeksi lain.

Foto polos abdomen

Dapat membantu dalam mendiagnosis appendicitis akut,


tetapi gambaran radiologis yang didapatkan kadang tidak spesifik
dan harus diinterpretasikan dengan baik.
Beberapa petunjuk dalam menilai foto polos abdomen , menurut
Brooks dan Killen (1965) :
1. Adanya fluid level yang terlokalisir dalam sekum dan ileum
terminal, menandakan suatu inflamasi lokal pada abdomen
kanan bawah.
2. Ileus yang terlokalisir dengan gas didalam sekum, kolon
ascenden dan ileum terminal.
3. Garis panggul kanan yang tidak jelas (kabur), dimana garis
radioluscen timbul akibat adanya lemak diantara peritoneum
dan m. tranversus abdominis.
4. Bertambahnya densitas jaringan lunak pada kuadran kanan
bawah.
5. Adanya fekalit pada fossa iliaka kanan.
6. Bayangan psoas yang tidak jelas (kabur) pada sisi kanan.
7. Terisinya appendiks oleh gas
8. Adanya bayangan udara bebas intraperitoneum.
9. Adanya deformitas bayangan gas sekum karena berdekatan
dengan

massa

yang

meradang

(hal

ini

sulit

untuk

diinterpretasikan, karena mungkin terganggu oleh gas sekal


dari cairan intraluminal atau feses.

Ultrasonograf

Dapat membantu dalam menegakkan diagnosis appendiks


akut.

Peradangan

appendiks

ditujukkan

dengan

pembesaran

diameter terluar lebih dari 6 mm, tidak tertekan, berkurangnya


peristaltik

ataupun

akumulasi

cairan

disekitar

periappendikal.

Appendiks yang meradang dapat ditunjukkan secara tepat pada


86% kasus, sehingga dapat menurunkan appendektomi yang tidak
perlu sekitar 7% dan penundaan operasi yang lebih dari 6 jam,
sebanyak 2%. USG menunjukkan sensitifitas 75%, spesifisitasnya
100%. Laparoskopi dapat digunakan sebagai alat diagnostik,
sekaligus terapi. Alat ini dapat membedakan kelainan ginekologis
dan ileitis dengan appendisitis. Bila diagnosis appendisitis akut
dapat ditegakkan, maka dapat langsung dilakukan appendektomi
per laparoskopi.

CT scan
Dapat digunakan untuk diagnosis appendisitis. Pada CT scan
appendiks yang mengalami inflamasi tampak berdilatasi (lebih
besar dari 5 cm) dan dindingnya lebih tipis. Fekalit dapat mudah
dilihat, tetapi kehadirannya tidak patognomonis pada diagnosis
appendisitis.

2.9 Diagnosis
Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan teliti,
diagnosis klinis apendisitis akut masih mungkin salah pada sekitar 1520%

kasus.

Kesalahan

diagnosis

lebih

sering

pada

perempuan

dibanding lelaki. Hal ini dapat disadari mengingat pada perempuan


terutama yang masih muda sering timbul gangguan yang mirip
apendisitis akut. Keluhan itu berasal dari genitalia interna karena
ovulasi, menstruasi, radang di pelvis, atau penyakit ginekologik lain.
Untuk menegakkan diagnosis appendisitis akut didahului dengan
anamnesis yang lengkap, diikuti dengan pemeriksaan fisik dan
diperkuat dengan pemeriksaan penunjang.

2.10 Diagnosis Banding


Terdapat banyak penyakit akut abdomen yang mempunyai tanda
dan gejala yang mirip dengan apendisitis akut :
a. Gastroenteritis
Pada gastroenteritis, mual, muntah, dan diare mendahului rasa
sakit. Sakit perut lebih ringan dan tidak berbatas tegas.
Hiperperistalsis sering ditemukan. Panas dan leukositosis
kurang menonjol dibandingkan apendisitis akut.
b. Demam Dengue
Demam Dengue dapat dimulai dengan sakit perut mirip
peritonitis. Di sini didapatkan hasil tes positif untuk Rumple
Leede, trombositopenia, dan hematokrit yang meningkat.
c. Limfadenitis Mesenterika
Limfadenitis

mesenterika

yang

biasanya

didahului

oleh

enteritis atau gastroenteritis ditandai dengan nyeri perut,

terutama kanan disertai dengan perasaan mual, nyeri tekan


perut samar, terutama kanan.

d. Kelainan ovulasi
Folikel ovarium yang pecah (ovulasi) mungkin memberikan
nyeri peurt kana bawah pada pertengahan siklus menstruasi.
Pada anamnesis, nyeri yang sama pernah timbul lebih dahulu.
Tidak ada tanda radang, dan nyeri biasa hilang dalam waktu
24 jam, tetapi mungkin dapat mengganggu selama dua hari.
e. Infeksi panggul
Salpingitis akut kanan sering di kacaukan dengan apendisitis
akut. Suhu biasanya lebih tingi daripada apendesitis dan nyeri
perut bagian bawah perut lebih difus. Infeksi panggul pada
wanita biasanya disertai keputihan dan infeksi urin. Pada colok
vagina,

akan

timbul

nyeri

hebat

dipanggul

jika

uterus

diayunkan. Pada gadis dapat dilakukan colok dubur bila perlu


untuk diagnosis banding
f. Kehamilan diluar kandungan
Hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang
tidak menentu. Jika ada ruptur tuba atau abortus kehamilan
diluar rahim dengan perdarahan, akan timbul nyeri yang
mendadak difus didaerah pelvis dan mungkin terjadi syok
hipovolemik. Pada pemeriksaan vaginal didapatkan nyeri dan
penonjolan

rongga

dapatkan darah.

Douglas

dan

pada

kuldosentesis

di

g. Kista ovarium terpuntir


Timbul nyeri mendadak dengan intensitas yang tinggi dan
teraba massa dalam rongga pelvis pada pemeriksaan perut,
colok vaginal, atau colok rektal. Tidak terdapat demam.
Pemeriksaan ultrasonografi dapat menetukan diagnosis.
h. Endometriasis eksterna
Endometrium diluar rahim akan memberikan keluhan nyeri
ditempat

endometriosis

berada,

dan

darah

menstruasi

terkumpul ditempat itu karena tidak ada jalan keluar.


i. Urolitiasis pielium/ureter kanan
Batu ureter atau batu ginjal kanan. Adanya riwayat kolik dari
pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan merupakan
gambaran yang khas. Eritrosituria serung ditemukan. Foto
perut polos atau urografi intravena dapat meyakinkan penyakit
tersebut. Pielonefritis sering disertai dengan demam tinggi,
menggigil, nyeri kostovertebral disebelah kanan, dan piuria.
j. Penyakit saluran cerna lainnnya
Penyakit lain yang perlu dipikirkan adalah peradangan diperut,
seperti divertikulitis Meckel, perforasi tukak duodenum atau
kolon, obstruksi usus awal, perforasi kolon, demam tifoid
abdominalis, karsinoid, dan mukokel apendiks.
2.11 Komplikasi
Komplikasi yang paling sering ditemukan adlah perforasi. Baik berupa
perforasi

bebas

maupun

perforasi

pada

apendiks

yang

telah

mengalami perdindingan sehingga berupa massa yang terdiri atas


kumpulan apendiks, sekum, dan lekuk usus halus.

Komplikasi apendisitis akut diantaranya :


-

Apendisitis abses

Apendisitis perforata

Apendisitis kronis

2.12 Penatalaksanaan
Terapi pilihan satu-satunya : Pembedahan ( Apendektomi)
Pada appendisitis dengan abses atau phlegmon , dianjurkan
untuk drainase abses dan appendektomi dilakukan 6-10 minggu
kemudian.
Pada appendisitis dengan perforasi perlu dilakukan laparotomi.
Sebelum pembedahan perlu dilakukan perbaikan keadaan umum
dengan infus, pemberian antibiotik untuk kuman gram negatif dan
positif serta kuman anaerob , dan pemasangan pipa nasogastrik.

DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidjat. R, De Jong. W, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2, EGC;


Jakarta. 2004
Seymor I. Schwartz, Appendix, in Principles of Surgery, 8 th ed, Mc
Graw Hill inc; USA. 2005.

Sugandi . W, Referat Appendisitis, Sub Bagian Bedah Digestif, Fk


UNPAD-RSHS; Bandung. 2005.

Tek, J.K, Referat Appendisitis, Sub Bagian Bedah Digestif, Fk UNPADRSHS,;Bandung . 2003.