Anda di halaman 1dari 20

Pengertian Teori Adh-Dhororu Yuzalu, Dasar Hukumnya, dan Kaidah Minor

Di Dalamnya.
Makalah Ini Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Kaidah Fiqhiyah

Oleh :
1. Mufid Abdillah

(C01215006)

2. Bilqis

(C91215110)

3. Elvin Mahari Firmansyah (C91215120)

Dosen Pengampu :
H. M. Ghufron, LC., M.HI.

PRODI HUKUM KELUARGA


FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2016

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, berkat rahmat, hidayah dan inayah Allah kami dapat
merampungkan makalah ini. Walaupun banyak hal yang harus ditempuh
sebelumnya, namun hasil akhirnya sudah membanggakan kami secara pribadi.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad
SAW sebagai pembawa agama islam. Shalawat dan salam juga semoga
tercurahkan kepada sahabat dan kerabat yang telah membantu perjuangan
penyebaran agama islam.
Pada kesempatan ini sesuai dengan tugas yang diberikan, maka kami
membuat dan menyusun makalah yang berisikan tentang PENGERTIAN TEORI
ADH-DHORORU YUZALU, DASAR HUKUMNYA, DAN KAIDAH MINOR
DI DALAMNYA.
Dalam proses membuat dan menyusun ada kiranya terdapat kesalahan, baik
dalam teknik hal penulisan, penyampaian materi, ataupun dalam hal isi. Semuanya
tak lebih dari proses belajar bersama menuju sesuatu yang baik ke depannya.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan mungkin juga dapat diperbaiki oleh
penyaji berikutnya.

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................ii
DAFTAR ISI................................................................................................iii
BAB I Pendahuluan......................................................................................1
A. Latar Belakang.................................................................................1
B. Rumusan Masalah.............................................................................1
C. Tujuan...............................................................................................1
BAB II Pembahasan.....................................................................................2
A. Pengertian Adh-Dhororu Yuzalu.......................................................2
B. Dasar Hukum Adh-Dhororu Yuzalu..................................................3
C. Kaidah Minor Di Dalam Adh-Dhororu Yuzalu.................................7
BAB III Penutup.........................................................................................16
A. Kesimpulan.....................................................................................16
Daftar Pustaka............................................................................................18

iii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagaimana diketahui bahwa syariat yang diawa oleh nabi
Muhammad SAW, adalah syariat yang bersifat tidak memberatkan dan mudah
untuk dilaksanakan, kemudian apabila ada hal-hal yang dapat dikategorikan
sebagai sesuatu yang memberatkan umat dalam menjalankannya, maka hal-hal
tersebut harus dihindari atau dihilangkan.
Sesuai dengan pokok bahasan kali ini, yaitu:

Kemudharatan Itu Harus Dihilangkan, sebagai kaidah pokok fiqih yang keempat dari lima kaidah pokok yang ada, penulis akan berusaha menyajikan
pembahasan sekitar dalil yang mendasari kaidah ini, perincian kaidah (kaidahkaidah yang berada dalam lingkup kaidah asal ini), dan beberapa contoh
masalah yang berhubungan dengannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Adh-Dhororu Yuzalu ?
2. Bagaimana dasar hukumnya Adh-Dhororu Yuzalu ?
3. Bagaimana kaidah minor di dalam Adh-Dhorotu Yuzalu ?
C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui pengertian Adh-Dhororu Yuzalu.
2. Untuk Mengetahui dasar hukum Adh-Dhororu Yuzalu.
4. Untuk Mengetahui kaidah minor di dalam Adh-Dhororu Yuzalu.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Adh-Dhororu Yuzalu.

Makna dari kaidah

adalah

Kemudharatan harus

dihilangkan. Maksudnya ialah jika sesuatu itu dianggap sedang atau akan
bahkan memang menimbulkan kemadharatan, maka keberadaanya wajib
dihilangkan.1
Menurut etimologi, kata ( dharar) berarti kekurangan yang terdapat
pada sesuatu, batasan adalah keadaan yang membahayakan yang dialami
manusia atau masyaqqah yang parah yang tak mungkin mampu dipikul
olehnya.2 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa
kemudaratan adalah sesuatu yang tidak menguntungkan, rugi atau kerugian
secara adjectiva ia berarti merugikan dan tidak berguna. Maka kemudharatan
dapat dipahami sebagai sesuatu yang membahayakan dan tidak memiliki
kegunaan bagi manusia.
Dan, kata dharar sendiri, mempunyai tiga makna pokok, yaitu lawan dari
manfaat (dhid al-nafi), kesulitan/kesempitan (syiddah wa dhayq), dan
buruknya keadaan (su`ul haal). Sedangkan, kata dharurah, dalam kamus AlMujam Al-Wasith mempunyai arti kebutuhan (hajah), sesuatu yang tidak
dapat dihindari (laa madfaa lahaa), dan kesulitan (masyaqqah).3
Kata ( yuzaal) berasal dari kata zaala-yaziilu-zaalatan kata ini dalam
bentuk majhul dengan wazan fual yang berarti dihilangkan. Maka setiap
kemudharatan yang ada harus dihilangkan.4
Jadi konsepsi kaidah ini memberikan pengertian bahwa manusia harus
dijauhkan dari idhrar (tindak menyakiti), baik oleh dirinya maupun orang lain,
((


))

dan tidak semestinya ia menimbulkan bahaya

(menyakiti) pada orang lain.5


Menurut istilahnya, dharurah (darurat) mempunyai banyak definisi yang
hampir sama pengertiannya, beberapa pengertian diantaranya yaitu:
1. Dharar ialah posisi seseorang pada suatu batas dimana kalau tidak mau
melanggar sesuatu yang dilarang maka bisa mati atau nyaris mati. Hal
1
2
3
4
5

Muchlis Usman, Kaidah-kaidah ushuliyah dan fiqhiyyah, (Jakarta: PT


RajaGrafindo persada, 2002), hal.132
Djuzuli, Kaidah-Kaidah Fikih, Cet.2, (Jakarta: Kencana, 2007), hal.68
Kamus Al-Mujam Al-Wasith hal. 538
Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, cet. 14,
(Surabaya: Penerbit Pustaka Progressif, 1997), hal. 819
Muchlis Usman, Op.cit, hal. 133

seperti ini, memperbolehkan ia melanggarkan sesuatu yang diharamkan


dengan batas batas tertentu.
2. Abu Bakar Al Jashas, mengatakan Makna Dharar disini adalah ketakutan
seseorang pada bahaya yang mengancam nyawanya atau sebagian anggota
badannya karena ia tidak makan.
3. Menurut Ad Dardiri, Dharar ialah menjaga diri dari kematian atau dari
kesusahan yang teramat sangat.
4. Menurut sebagian ulama dari

Madzhab

Maliki,

Dharar

ialah

mengkhawatirkan diri dari kematian berdasarkan keyakinan atau hanya


sekedar dugaan.
5. Menurut Asy Suyuti, Dharar adalah posisi seseorang pada sebuah batas
dimana kalau ia tidak mengkonsumsi sesuatu yang dilarang maka ia akan
binasa atau nyaris binasa.
Berdasarkan pendapat para ulama di atas dapat diambil kesimpulan bahwa
Dharar adalah kesulitan yang sangat menentukan eksistensi manusia, karena
jika ia tidak diselesaikan maka akan mengancam agama, jiwa, nasab, harta
serta kehormatan manusia.6
B. Dasar Hukum Adh-Dhororu Yuzalu.
Kaidah ini menunjukkan bahwa kemadharatan yaitu jika sesuatu itu
dianggap sedang atau akan bahkan memang menimbulkan kemadharatan,
maka keberadaanya wajib dihilangkan. Kaidah ini mengambil dalil dari firman
Allah SWT dan Hadist Nabi Muhammad SAW, yaitu sebaagai berikut:7
1. Firman Allah SWT dalam surat al-Araf ayat 56:

Artinya: dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah


(Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut
(tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya
rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S alaraf: 56).
2. Surat al-Qashash ayat 77:
6 Ibid, hal. 134
7 Muchtar Kamal, Ushul Fiqh, (Yogyakarta: CV Imaji Cipta, 1995), hal.203

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Q.S al-Qashash:
77).
3. Firman Allah SWT QS al-Baqarah: 173







Artinya: Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai,
darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama)
selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya)
sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas,
maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. (Q.S al-Baqarah: 173).

4. Firman Allah SWT QS al-Baqarah: 231


Artinya: Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati
akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma'ruf, atau
ceraikanlah mereka dengan cara yang ma'ruf (pula). Janganlah kamu
rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian

kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh


ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan
hukum-hukum Allah permainan, dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan
apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah
(As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang
diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah
bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S al-Baqarah:
231).
5. Firman Allah QS ath-Thalaaq: 6.

Artinya: Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat


tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan
mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri
yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka
nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan
(anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan
musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika
kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak
itu) untuknya. (Q.S al-Talaq: 6).
6. Hadits nabi SAW yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Ibnu Majah
dari Ibnu Abbas:

"Tidak diperbolehkan membuat kemadharatan pada diri sendiri dan


kemadharatan pada orang lain".
7. Sabda Rasulullah SAW.

Tidak boleh memudharatkan dan di mudaratkan, barang siapa yang


memudharatkan, maka Allah akan memudharatkannya, dan barang siapa
saja yang menyusahkan, maka Allah akan menyusahkannya. (HR.Imam
Malik)
Istilah mudharat dalam ayat-ayat tersebut bermakna kemudharatan,
kesempitan, kesengsaraan dan setiap hal yang mendatangkan bahaya. Ayatayat tersebut juga menjadi sumber hukum yang menunjukan bahwasanya
kemudharatan itu harus dihindari dan dihilangkan dalam kehidupan seharihari. Apalagi jika kemudharatan tersebut mengancam kehidupan manusia
maka ia harus dihilangkan.
Dalam ayat yang lainnya Allah taala telah memberikan batasan-batasan
yang harus diikuti oleh umat Islam, namun jika dalam keadaan darurat atau
terpaksa maka hal tersebut boleh saja dilakukan sebagaimana firmanNya:












Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya
atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. QS. Al-Anam: 119.
Adapun hadits Nabi yang menjadi dasar kaidah ini diantaranya :














Allah mengharamkan dari orang mukmin, darahnya, hartanya dan
kehormatannya, dan tidak menyangka kecuali dengan sangkaan yang baik.
(HR. Muslim.)
Dalam riwayat lainnya Rasulullah bersabda:










Sesungguhnya darah-darah kamu semua, harta-harta kamu semua, dan
kehormatan kamu semua adalah haram di antara kamu semua. (HR.
Muslim.)

Kedua hadits tersebut menunjukan bahwasanya harta, darah dan


kehormatan seorang muslim itu tidak boleh untuk dilanggar sehingga
memunculkan kemudharatan kepada seorang muslim yang sangat dilarang
dalam Islam.
C. Kaidah Minor Di Dalam Adh-Dhororu Yuzalu.
Qaidah ke empat ini merupakan pembina dasar fiqh-islami. Sebagai mana
kita ketahui bahwa dalam bagian muamalat, jinayat dan munakahat jiwa dari
qaidah tersebut memegang peranan utama.
Pengembalian sesuatu barang yang telah dibeli karena terdapat cacat,
diadakan khiar dalam jual-beli karena adanya perbedaan sifat-sifat yang telah
disepakatinya, adanya perwalian bagi orang-orang yang tidak cakap
mentransaksikan harta milik, adanya hak syufah (jual-beli utama) bagi
seorang tetangga dan lain sebagainya adalah sekian contoh-contoh untuk
menghindarkan kemudharatan para pihak yang mengadakan muamalat
bersama.8
Syara mengadakan hukuman qishash, hudud, kafarat, ganti rugi,
menghalalkan kepada penguasa untuk memerangi kaum pemberontak dan lain
sebagainya untuk membuat kemaslahatan

bersama dan menghindari

kemudharatan.
Islam membolehkan adanya perceraian dalam keadaan yang sangat
diperlukan demi ketentraman rumah tangga yang sudah begitu kacau dan
memberikan kuasa kepada hukum untuk memfasakhkan nikah sesorang
lantaran suami sudah tidak dapat menunaikan tugas berumah tangga dengan
baik, demi untuk menghilangkan kemudharatan bagi mereka yang tersiksa.
Sebagai kaidah pokok, ada beberapa kaidah yang menginduk pada kaidah
ini, yaitu:9
1.

8
9

Abu Hurairah Addaylami, Qawaid Fiqhiyah, (Sapeken: Pesantren PERSIS


Abu Hurairah, 1991), hal. 27
M. Yahya Chusnan Manshur, Ats- Tsamarot Al-Mardliyyah Ulasan Nadhom
Qowaid Fiqhiyyah al-Faroid al-Bahiyyah, (Jombang: Pustaka Al-Muhibbin,
2011), hal 82

Keadaan dlorurot dapat memperbolehkan sesorang melakukan perkara


yang asalnya dilarang.
Dasar nash dari kaidah di atas adalah firman Allah:












Dan sesunguhnya Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang
diharamkan-Nya

atasmu

kecuali

apa

yang

terpaksa

kamu

memakannya. (QS. al-Anam:119)10







Maka barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya)
sedangkan ia tidak menginginkannya, serta tidak melampaui batas maka
tiada dosa baginya. (QS.Al-Baqarah:173)11
Melihat ayat di atas, tidak semua keterpaksaan itu memperbolehkan
yang haram, namun keterpaksaan itu dibatasi dengan keterpaksaan yang
benar-benar tidak ada jalan lain kecuali hanya melakukan itu, dalam
kondisi ini maka yang haram dapat diperbolehkan memakainya. Misalnya
seseorang di hutan tiada menemukan makanan sama sekali kecuali babi
hutan dan bila ia tidak memakannya akan mati, maka babi hutan itu dapat
dimakan sebatas keperluannya.
Batasan kemadharatan adalah suatu hal yang mengancam
eksistensi manusia, yang terkait dengan panca tujuan yaitu: memelihara
agama, memelihara jiwa, memelihara akal, memelihara keturunan, dan
memelihara kehormatan atau harta benda. Dengan demikian Dharar itu
terkait dengan dharuriyah, bukan hajiyah dan tahsiniyah. Sedangkan hajat
(kebutuhan) terkait dengan hajiyah dan tahsiniyah.12
Contoh-contoh :

10 Al Quran dan terjemahan, (Bandung: PT. Syamil Cipta Media, 2005)


11 Ibid.
12
Abdul Wahab Khallaf, Kaidah-Kaidah Hukum
Fiqih), (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2000), hal. 76

Islam

(Ilmu

Ushulul

a. Orang yang di landa bahaya kelaparan di perkenankan makan


binatang-binatang yang di haramkan, misalnya : babi dan anjing.
b. Diperbolehkan merusak gedung dan alat-alat perlengkapan perang
milik musuh dalam suatu pertempuran.
c. Diperbolehkan membongkar

kuburan untuk memandikan

atau

menghadapkan kiblat mayat yang berada di dalamnya yang ketika di


kubur belum di mandikan atau belum di hadapkan kiblat.
d. Bahwa darah para pejuang Islam ketika perang dianggap suci untuk
dipakai shalat, tetapi bila mengenai orang lain dianggap najis, dan
sebagainya.
Di kalangan ushul fiqih yang dimaksud dengan keadaan darurat yang
membolehkan seseorang melakukan hal-hal yang dilarang adalah keadaan
yang memenuhi syarat sebagai berikut:13
a. Kondisi darurat itu mengancam jiwa dan anggota badan.
b. Keadaan darurat hanya dilakukan sekedarnya dalam arti tidak
melampaui batas.
c. Tidak ada jalan lain yang halal kecuali dengan melakukan yang
dilarang.
Kiranya perlu ditegaskan disini bahwa ada tiga hal yang menjadi
pengecualian kaidah ini, yakni kufur, membunuh, dan berzina. Ketiga jenis
perbuatan tersebut tidak boleh dilakukan dalam kondisi apapun termasuk
kondisi dlorurot. Artinya, ketiga hal tersebut dalam kondisi apapun tetap
diharamkan.
Kebolehan berbuat atau meninggalkan sesuatu karena darurat
adalah untuk memenuhi penolakan terhadap bahaya, bukan selain ini.
Dalam kaitan ini Dr. Wahbah az-Zuhaili membagi kepentingan manusia
akan sesuatu dengan 5 klasifikasi, yaitu : 14
a. Darurat, yaitu kepentingan manusia yang diperbolehkan menggunakan
sesuatu yang dilarang, karena kepentingan itu menempati puncak
13 Ibid, hal. 78
14 Abdul Mudjib, Kaidah-kaidah Ilmu Fiqih (al-Qowaidul al-Fiqhiyyah),
(Jakarta: Kalam Mulia, 2008), hal. 108

kepentingan kehidupan manusia, bila tidak dilaksanakan maka


mendatangkan kerusakan. Kondisi semacam ini memperbolehkan
segala yang diharamkan atau dilarang, seperti orang yang sudah sangat
lapar, dia tidak boleh tidak harus memakan apa yang dapat dimakan,
sebab kalau tidak, dia akan mati atau hampir mati.
b. Hajat, yaitu kepentingan manusia akan sesuatu yang bila tidak
dipenuhi mendatangkan kesulitan atau mendekati kerusakan. Kondisi
semacam ini tidak menghalalkan yang haram. Misalnya, seseorang
yang tidak mampu berpuasa maka diperbolehkan berbuka dengan
makanan halal, bukan makanan haram.
c. Manfaat, yaitu kepentingan manusia untuk menciptakan kehidupan
yang layak. Maka hukum diterapkan menurut apa adanya karena
sesungguhnya hukum itu mendatangkan manfaat. Misalnya, makan
makanan pokok seprti beras, ikan, sayur-mayur, lauk pauk, dan
sebagainya.
d. Zinah, yaitu sesuatu yang dimaksudkan untuk mencari suatu kepuasan
dan kesenangan (tingkatannya berlebihan namun tetap halal), seperti
ingin membeli pakaian sutra padahal pakaian biasa sudah cukup, dan
ingin membeli perhiasan.
e. Fudlul, yaitu kepentingan manusia hanya sekedar untuk berlebihlebihan, yang memungkinkan mendatangkan kemaksiatan atau
keharaman. Kondisi semacam ini dikenakan hukum Saddud Dzariah,
yakni menutup segala kemungkinan yang mendatangkan kerusakan.
2.

Hal-hal yang diperbolehkan karena dlorurot diukur dengan kadar


(minimal) dlorurot tersebut.15
Contoh kaidah di atas adalah: kebolehan memakan bangkai bagi
seseorang hanya sekadar dalam ukuran untuk mempertahankan hidup,
tidak boleh melebihi. Sulitnya shalat jumat untuk dilakukan pada satu

15 Abdul Wahab Khallaf, Op.cit, hal. 80

10

tempat, maka shalat jumat boleh dilaksanakan pada dua tempat. Ketika
dua tempat sudah dianggap cukup maka tidak diperbolehkan dilakukan
pada tiga tempat. Dan, jika seseorang dimintai pendapat tentang orang
yang dilamar, maka ia tidak boleh mengatakan yang sebenarnya bila sudah
cukup dengan sindiran saja.

3.

Kesulitan tidak dapat dihilangkan dengan kesulitan baru.16


Kaedah ini semakna dengan kaedah:




Kemudharatan tidak boleh dihilangkan dengan kemudharatan yang
sebanding
Maksud kaedah itu adalah kemudharatan tidak boleh dihilangkan
dengan cara melakukan kemudharatan lain yang sebanding keadaannya.
Misalnya, seseorang debitor tidak mau membayar utangnya padahal waktu
pembayaran sudah habis. Maka dalam hal ini tidak boleh kreditor mencuri
barang debitor sebagai pelunasan terhadap hutangnya.
Contoh lain seorang dokter tidak boleh melakukan donor darah dari
satu orang ke orang lain jika hal itu menyebabkan si pendonor menderita
sakit lebih parah dari yang menerima donor.
Contoh lain juga, Iqbal dan Subekti adalah dua orang yang sedang
kelaparan, keduanya sangat membutuhkan makanan untuk meneruskan
nafasnya. Iqbal, saking tidak tahannya menahan lapar nekat mengambil
getuk Manis kepunyaan Subekti yang kebetulan dibeli sebelumnya di
Kantin.

Tindakan

Iqbal

walaupun

dalam

keadaan

yang

sangat

menghawatirkan baginya tidak bisa dibenarkan karena Subekti juga


mengalami nasib yang sama dengannya, yaitu kelaparan.
16 Ibid, hal. 82

11

Atau, Dua orang terapung-apung di atas lautan akibat kapal yang


ditumpangi pecah. Salah seorang dari mereka mendapatkan sekeping
papan untuk mengapung di atas air sekedar bertahan sampai ada team
penolong datang. Tetapi kawannya juga ingin sekali menyelamatkan
jiwanya dari bahaya maut merebut papan tersebut dan karena papan itu
tidak dapat menampung dua orang ia harus mengorbankan kawannya
yang sudah berada di atas papan. Tindakan orang yang merebut karena
darurat terhadap sesuatu yang dianggap darurat pula oleh kawan yang
direbutnya tidak dibenarkan oleh syariat.17
4.

Sesuatu yang diperbolehkan karena udzur batal lantaran hilangnya


udzur.18
Misalnya : Tayammum itu batal, lantaran diketemukan air sebelum
waktu sholat.

5.












Menolak mafsadah (kerusakan) itu lebih diutamakan daripada menarik
kemaslahatan (kebaikan).19
Kandungan qaidah ini menjelaskan bahwa jika terjadi perlawanan
antara kerusakan dan kemaslahatan pada suatu perbuatan, dengan kata lain
jika satu perbuatan ditinjau dari satu segi terlarang karena mengandung
kerusakan dan ditinjau dari segi yang lain mengandung kemaslahatan,
maka segi larangannya yang harus didahulukan untuk di tinggalkan. Hal
itu disebabkan karena perintah untuk melaksanakan kemaslahatan, sesuai
dengan sabda Rasulullah saw:


()

17 Ibid.
18 Abdul Wahab Khallaf, Op.cit, hal. 84
19 Rachmat Syafei, Ilmu USHUL FIQIH Untuk UIN, STAIN, PTAIS Cetakan IV.
(Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2010), hal. 68

12

Apabila aku memerintahkan kepadamu suatu perintah, kerjakanlah


semampumu dan apabila aku melarang kamu sesuatu perbuatan
tinggalkanlah. (HR.Bukhari dan Muslim)
Disyaratkan adanya kesanggupan dalam menjalankan perintah, sedang
dalam meninggalkan larangan tidak disyaratkan demikian, menunjukkan
bahwa tuntutan meninggalkan larangan itu adalah lebih kuat dari pada
tuntutan menjalankan perintah.
Contoh-contoh :
a. Berkumur dengan mengocok air yang berada didalam mulut sampai
kepangkal tenggorokan dan menghirup air lewat hidung dalam
melaksanakan wudhu adalah disunnahkan. Tetapi hal itu dilakukan
oleh orang yang sedang berpuasa dimakruhkan, sebab untuk menjaga
jangan sampai air tersebut terus masuk sampai keperut hingga
membatalkan puasa.
b. Bersuci dengan menekan-nekankan jari basah di sela-sela pangkal
rambut disunnahkan. Tetapi hal itu dimakruhkan bagi orang yang
sedang

menjalankan

ihram,

untuk

menjaga

jangan

sampai

menggugurkan rambut yang menjadi pantangan dalam ihram.

6.

















Apabila dua buah kerusakan saling berlawanan, maka haruslah
dipelihara yang lebih berat mudharatnya dengan melaksanakan yang
lebih ringan daripadanya.20
Menurut qaidah ini jika satu perbuatan mempunyai dua
kemudharatan

atau

lebih,

hendaklah

dipilih

manakah

diantara

kemudharatan-kemudharatan itu yang lebih ringan. Walaupun sebenarnya

20 Ibid, hal. 72

13

kemudharatan itu ringan maupun berat harus dihindarkan, sesuai dengan


firman Allah SWT (QS. Al-Araf: 56).
#$}w w w (#ww ww wwww ww wwww
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.
Namun karena tidak ada jalan lain untuk menghindarkannya selain
dengan memilih yang paling sedikit mudharatnya, maka itulah yang tepat.
Contoh-contoh:
a. Seorang dokter diperbolehkan membedah perut seorang mayat, apabila
ia berkeyakinan bahwa didalam perut itu terdapat seorang bayi yang
diharapkan akan hidup apabila ia berhasil dikeluarkan. Membedah
perut adalah perbuatan merusak sebagaimana halnya membiarkan mati
bayi didalam perut. Tetapi kerusakan akibat dari membedah perut
masih dipandang lebih ringan dibandingkan membiarkan bayi mati
lantaran tidak dikeluarkannya.
b. Seorang memotong pohon orang lain adalah perbuatan merusak. Tetapi
seandainya hal itu tidak dilakukannya, maka pohon yang meliuk
dijendelanya akan mengganggu bergantinya udara di kamarnya hingga
membuat kelembaban udara yang sangat membahayakan kesehatan.
Oleh karena itu, memotong tanaman orang lain yang mengganggu
diperkenankan.

7.














Kebutuhan itu terkadang ditempatkan pada tempat darurat baik
kebutuhan itu bersifat umum atau khusus.21
Kehajatan yang mendesak, menurut qaidah ini, dapat disamakan
dengan keadaan darurat. Apalagi jika kebutuhan itu bersifat umum,
niscaya berubah menjadi darurat.
Contoh kebutuhan yang bersifat umum:
a. Orang laki-laki diperkenankan berhadapan muka dengan wanita yang
bukan

muhrimnya

dalam

pergaulan

hidup

sehari-hari

dalam

bermuamalah, seperti: berjual beli, bekerja dikantor-kantor atau


21 Rachmat SyafeI, Op.cit, hal. 74

14

mengajar. Karena semuanya itu merupakan kebutuhan umum dalam


bermasyarakat.
b. Untuk menjaga kebutuhan orang banyak dalam menghindari spekulasi
para pedagang, pemerintah diperbolehkan membatasi atau menetapkan
harga barang-barang pokok yang diperjual belikan, walaupun
sebenarnya tindakan perintah ini membuat kerugian kepada pihakpihak tertentu.
Contoh yang bersifat khusus :
a. Seorang perempuan membutuhkan satu-satunya dokter laki-laki yang
ahli untuk mengobati penyakitnya yang terletak pada bagian tubuhnya,
adalah diperbolehkan.
b. Karena suatu hajat yang mendesak dan bukan karena hiasan semata,
seseorang diperkenankan menambal bejananya yang retak dengan
bahan dari perak.
c. Sewa

kamar

mandi/WC

tanpa

ditentukan

waktu

dan

jumlah(banyaknya) air yang digunakan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pengertian Adh-Dhororu Yuzalu.
Adalah Kemudharatan harus dihilangkan. Maksudnya ialah jika
sesuatu itu dianggap sedang atau akan bahkan memang menimbulkan
kemadharatan, maka keberadaanya wajib dihilangkan.
2. Dasar Hukum Adh-Dhororu Yuzalu.
Terdapat dalam firman Allah SWT surat al-Araf ayat 56, surat al-Qashash
ayat 77, surat al-Baqarah ayat 173, surat a-Baqarah ayat 231, surat athThalaaq ayat 6, hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh imam Ahmad
dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas, dan Sabda Rasulullah SAW yang
diriwayatkan oleh Imam Malik.

15

3. Kaidah Minor di Dalam Adh-Dhorotu Yuzalu.


Ada 7 kaidah yang didasarkan pada qoidah ini, yaitu:

Keadaan dlorurot dapat memperbolehkan sesorang melakukan perkara


yang asalnya dilarang.








Hal-hal yang diperbolehkan karena dlorurot diukur dengan kadar
(minimal) dlorurot tersebut.

Kesulitan tidak dapat dihilangkan dengan kesulitan baru.

Sesuatu yang diperbolehkan karena udzur batal lantaran hilangnya


udzur.

Menolak mafsadah (kerusakan) itu lebih diutamakan daripada menarik


kemaslahatan (kebaikan).

Apabila dua buah kerusakan saling berlawanan, maka haruslah

dipelihara yang lebih berat mudharatnya dengan melaksanakan yang


lebih ringan daripadanya.

Kebutuhan itu terkadang ditempatkan pada tempat darurat baik


kebutuhan itu bersifat umum atau khusus.

16

DAFTAR PUSTAKA
Addaylami, Abu Hurairah. 1991. Qawaid Fiqhiyah. Sapeken: Pesantren PERSIS
Abu Hurairah.
Al Quran dan terjemahan. 2005. Bandung: PT. Syamil Cipta Media.
Djuzuli. 2007. Kaidah-Kaidah Fikih, Cet.2. Jakarta: Kencana.
Kamal, Muchtar.1995. Ushul Fiqh. Yogyakarta: CV Imaji Cipta.
Kamus Al-Mujam Al-Wasith.
Khallaf, Abdul Wahab. 2000. Kaidah-Kaidah Hukum Islam (Ilmu Ushulul Fiqih).
Jakarta: PT Raja Grafindo.
Manshur, M. Yahya Chusnan. 2011. Ats-Tsamarot Al-Mardliyyah Ulasan Nadhom
Qowaid Fiqhiyyah al-Faroid al-Bahiyyah. Jombang: Pustaka Al-Muhibbin.
Mudjib, Abdul. 2008. Kaidah-kaidah Ilmu Fiqih (al-Qowaidul al-Fiqhiyyah).
Jakarta: Kalam Mulia.
Munawwir, Ahmad Warson. 1997. Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, cet. 14.
Surabaya: Penerbit Pustaka Progressif.
Syafei, Rachmat. 2010. Ilmu USHUL FIQIH Untuk UIN, STAIN, PTAIS
Cetakan IV. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Usman, Muchlis. 2002. Kaidah-kaidah ushuliyah dan fiqhiyyah. Jakarta: PT
RajaGrafindo persada.

17